Puisi

Puisi Miftachur Rozak

Surga di Matamu

:Alena

Apakah engkau pernah mendengar perihal surga, Alena?

sungai-sungai yang mengalirkan susu,

telaga madu yang manis tak pernah habis,

dan buah-buah matang di pohon, tak satupun membusuk.

Kedengarannya menakjubkan, bukan?

Kini, engkau sudah menikmati surga itu, di bumi,

di matamu sendiri. Setiap yang engkau bayangkan,

ketika matamu terpejam, surga itu menghampirimu:

engkau menaiki perahu, memetik buah, 

menyesap madu, dan meneguk susu.

Kaupun lekas tersenyum sendiri,

dan berbagi tahu, 

bahwa sebenarnya tuhan sudah menciptakan surga, 

di matamu, di mata kita, 

di mata mereka yang mendapati surganya.

Jombang, 2021


Di Sebuah Teras Cafe

hujan menahan kita di sebuah teras café

meja bulat dengan dua kursi saling berhadapan

serta miniatur biola kayu dan bunga kaktus di atasnya

dan engkau lekas memesan seporsi kopi

yang gula dan susunya dipisah: di wadah sendiri

kemudian engkau meraciknya: ala barista italia

sesekali matamu melirik ke arahku,

dan tipis senyum di bibirmu

aku menikmatimu: setiap gerak, lirik, dan senyummu

yang lebur pada aroma kopi, gula, dan susu

dalam hatiku berdoa

agar tuhan tidak menghentikan hujan di sore itu

agar tuhan menaburkan segala perasaan pada kopi itu

dan agar tuhan mengizinkan kita menyatu

seperti kopi, gula, dan susu.

Jombang,  2021


Kau Ingin Aku

Menulis Puisi yang Seperti Apalagi?

Setelah matahari beringsut, 

dan menenggelamkan separuh tubuhnya ke laut

lekas kau berkata,

“Tuliskan puisi untukku, aku sedang rindu.”

Dan kau genggam kedua tanganku

semakin erat. semakin hangat.

Memandangi langit lazuardi

membayangkan kuda bersayap

lengkap dengan tanduk spiral di kepalanya.

Tanpa angin, tanpa hujan.

Namun pelangi pun datang menjemput,

mengikhlaskan tubuhnya sebagai anak tangga, 

dan kita melangit bersama.

Sementara, tubuh kita masih dikoyak

kecemburuan, di bumi, tempat singgah dosa-dosa

yang kita kumpulkan sendiri.

“Kau ingin aku menulis puisi yang seperti apa lagi?”

tanyaku, sembari membalas erat genggamanmu.

Dan kau berbisik,

“Seperti air yang tak sempat menenggelamkan,

seperti api yang tak sempat menghanguskan, 

dan seperti angin yang tak sempat memorakporandakan.

Jombang, 2021


Membaca Pesan di Suatu Pagi

pagi-pagi sekali, sudah berdering tiga kali

padahal matahari masih bersembunyi

di balik bukit, menunggu kidzib berlari

baiklah, kali ini aku mendahulukanmu

bersandar di kamar, dan membaca tiga pesanmu

pesan pertama,

            “jika engkau ingin bertemu,

  temui aku dalam doamu”

pesan kedua,

            “ingat, kita wajib bertemu

  lima kali dalam sehari semalam”

pesan ketiga,

            “berbahagialah, jika besok atau lusa,

  masih ada pesan dariku”

lekas aku beranjak dari kamar tidur

meninggalkan mimpi yang belum rampung

            Subuh, 04.45


Di Sebuah Alam Mimpi

            :Din

mendadak aku dihisap lubang hitam

dan mendarat tepat di halaman mimpimu

skenario yang masih tertumpuk malam

satu per satu kubaca, dan kutemukan sosokku

tayang dalam mimpimu.

betapa bahagianya aku,

sebab, dalam mimpimu kau menginginkan kita beradu.

ah, kali ini aku akan tinggal bersamamu

:dalam alam mimpimu

sebelum matahari beringas, memangkas tidurmu.

                        Jombang, 2021


Dongeng

Konon, Ibu rajin mendongeng

di antara anak-anak, di altar rumah

Lampunya terang cahaya rembulan

musiknya tembang-tembang dolanan

Ketika dongeng sudah menyebut bidadari

dan rembulan rekah bak matahari pagi

Anak-anak berhenti bernyanyi

semua memandangi langit: menyaksikan bidadari

Angan-angannya mulai menari-nari

mengumpamakan bulan, kucing, dan bidadari

“Apakah tahun ini bidadari masih kerasan tinggal di bulan?

ataukah sudah tergantikan?”

Ah, mungkin bidadari sudah turun ke bumi

sibuk merias diri, menjelma smart phone dan televisi

Jombang, 2020


Keringat Dingin

telapak tanganmu selalu menderas keringat dingin,

ketika mataku menyumat pandangan rindu

dan engkau menjelma rumpun putri malu

meski engkau tak berbalas pandangan padaku.

Jombang, Juni 2021


Tanganmu Teramat Dingin

tanganmu teramat dingin untuk kugenggam

sementara aku semakin gigil untuk mengingat-ingat

kapan terakhir kali kau memelukku

dan berucap, “aku akan kembali padamu, 

lengkap dengan sepaket doa tanpa khianat.”

apakah engkau juga masih ingat?

sebab, aku membutuhkan hangat yang amat

mencairkan beku rindu yang nikmat.

Jombang, 2021


Usai Subuh

subuh sudah berlalu

pendar mentari menyusup jendela kayu

kami pulang ditegur waktu

perjumpaan dengan-Mu masih dirindu

sebab jalan-jalan belum kutemu

seperti belukar, menyamarkan mataku

kami pulang digiring mentari

ia berbisik: duha sedang menanti

Jombang, 2020


Terompa

kita sepasang terompa

dari kayu waru berdaun jantung

berserampat karet, tahan karat

bersanding, berpasangan

aku kiri dan engkau kanan

kita sepasang terompa kenangan

berjalan saling bergantian

mengikis jalan-jalan

membunyikan nyanyian-nyanyian

Jombang, 2021


Bunga Bersalawat

sebab, bunga-bunga yang kita tanam

adalah doa-doa yang bersalawatan

dari pucuknya air mata keteduhan

yang saban pagi ia teteskan

Jombang, 2020


Miftachur Rozak, penulis puisi yang aktif di KPB (Kelas Puisi Bekasi). Ia lahir di Jombang Jawa Timur, 03 Februari 1988. Tahun 2011 ia menyelesaikan study S1 PBSI STKIP PGRI di Jombang, dan  kini mengabdi di MTsN 2 Rejoso Jombang. Sedikit karyanya tersiar diberbagai media cetak dan daring. Salah satu puisinya masuk dalam Antologi tiga Negara, Jazirah 5 FSIGB 2020, dan tergabung dalam buku “Sang Acarya” Kumpulan Puisi Guru dan Dosen Komunitas Dari Negeri Poci 2020. Bisa dijumpai di Facebook Miftachur Rozak atau Instagram @arrozak_88.

Puisi

Puisi Miftachur Rozak

Jam di Tangan Sudah Mati

jam di tangan sudah mati

masih melingkar di tangan kiri

namun, kata-kata tetap berdetak

mengulur waktu mentashih sajak.

dan terkadang pikiran kelayapan

mencari-cari alasan kebenaran

menyalahkan waktu, tak tahu jalan.

bus kota pun lekas datang

membawa seratus penumpang

namun aku tidak jadi pulang

sebelum sajak yang kau tulis

menjadi penerang jalan.

Jombang, April 2020


Membagi Waktu

diam-diam mataku membagi waktu

pada hujan membunyikan sendu

pada daun-daun  lotus di altar rumah

pada nyala kerlip lilin dan kasturi di atas tanah

berkecipak bulir menerpa kendi liat

sebagai bunga berpijak: lotus merah jambu

tatkala bayangmu sekelebat datang

di pembagian waktu

melewati sela hujan yang ragu-ragu

menari-nari di antara insomnia dan rindu

berliku-liku dalam angan sajak bisu

yang setiap malam datang mengganggu

mataku menuliskan peristiwa itu: sajak masalalu

di balik daun lotus kering dan kelopak warna ungu

sajak-sajak itu tersimpan rapi

pada nyalang album puisi

dan akan kuberikan padamu

ketika engkau sedang rindu

seperti aku yang bertengadah untukmu

Jombang, 2020


Pingsut

gajah marah pada telunjuk

yang menunjuk-nunjuk

ketika semut sibuk menggaruk

pada telinga lebar, hingga terkapar.

namun, semut pun kandas; tertindas

oleh jari telunjuk; saling menunjuk.

dan batu pun mulai geram

pada gunting; hingga berkeping-keping.

namun ia merinding ketika kertas merunding,

apalagi jika tertempel materai iming-iming.

hompipa alaihum gambreng!

mayoritas terkapar

minoritas berlayar.

suuuut jleeng..!

gajah marah

telunjuk menunjuk

dan kelingking melengking.

Jombang, Desember 2020


Kereta Pukul Dua Siang

kereta datang tepat pukul dua siang

saat hujan menahan air matanya berlinang

pada gemawan menghitam

di atas stasiun membawa pesan

ihwal skenario digariskan.

seseorang telah datang

dengan gaun merah marun menjuntai

berkerlip kunang. sepatu tanpa hak

warna biru  genitri cukup terang.

lihatlah, perempuan itu

yang tiap malam datang bersama secawan

harapan rindu. melilit di setiap detak waktu

hidup dalam liku diksi-diksi kelu.

lihatlah, ia sedang berjalan ke arahku

seperti yang telah dikabarkan tuhan

dalam mimpiku

perihal kekasih yang turun

dari gerbong nomor tujuh

ketika hujan datang, air matanya jatuh dan luruh.

Jombang – Jogja, 2019 – 2020


Terkadang  Ingin Menjadi Air

terkadang aku ingin menjadi air

menyucikan segala hadas

yang membatalkan segala rindu.

terkadang aku merindukan air

meredakan segala haus

pada tandus.

terkadang aku membenci air

yang tiba-tiba datang

menghanyutkan segala kenang.

dan terkadang,  aku merenungi air

segala takdir adalah takrir

bagi yang berpikir.

Jombang, Juni 2020


Selaksa Api

lukaku adalah api

menyala pada puisi-puisi.

kadang murka dan membakar

pada sajak-sajak sunyi

pada muskil janji-janji .

kadang menyinari

pada lanskap kalbu

pada gelombang muasal rindu.

lukaku adalah api

nyalang  abadi di bulan Juni.

Jombang, Juni 2020


Meniup Seruling

enam lubang oktaf sudah kau tutup

namun lengking masih saja meletup

masihkah kau terus meniup

menemukanku pada nada

yang tak kau anggap hidup

Jombang,  Agustus 2020


Kelopak Anggrek

ia sudah tak berbunga

semenjak kau patahkan kelopaknya

kemarau membuatnya risau

sementara hujan buatan

hanya ada pada tangisan

maukah engkau menangis

pada bunga yang rindu gerimis

Jombang,  Desember 2020


Halaman-Halaman Pertemuan

pada halaman pertama aku mencium

bau parfummu yang legit vanila

lantas aku sibak pada halaman kedua

aku menemukan bercak lipstikmu

merah buah delima

dan selanjutnya,

dan selanjutnya

hingga aku temukan dirimu

di akhir bait yang beku

pada halaman terakhir sekumpulan puisi

dan seikat narasi, tentang penantian yang kini

menjadi semacam tali, mengikat janji di jemari

Jombang, September 2020


Matahari Mekar Berbunga

  :Kinan

matahari sedang mekar berbunga, kinan

ia bersolek di ujung timur,  langit arunika

pohon-pohon pinus sontak terbangun

dari tidur panjang semalaman

dan mereka mulai berdesis

melantunkan zikir pagi

di setiap daun-daun

dimandikan percik matahari

dan dibelai-belai desir angin

sementara,  engkau masih bersembunyi

di balik kalut jendela kayu mahoni

menghirup semerbak biji-biji puisi

yang ditulis para lelaki

apakah engkau masih takut, kinan

memilih sebiji puisi paling menawan

menggenapi puisimu yang perawan

matahari sedang mekar berbunga,  kinan

seperti engkau yang semakin perawan

Jombang, September 2020


Sarung

sarung yang dipakai ibu

sebenarnya milik bapakku

bukan karena ibu tak bisa membeli baru

namun ada tenun rindu: 

dari harum parfum bapakku

benangnya halus, sutra buih samudra

coraknya berkilau, pualam mutu manikam

hangat dari pelukan malam

sejuk dari embusan siang.

sarung yang dipakai ibu

kini diwariskan padaku

terdapat tiga jahitan baru

dari benang-benang rindu.

Jombang, April 2020


Miftachur Rozak, tinggal dan lahir di Jombang, 03 Februari 1988. Ia alumnus PBSI STKIP PGRI Jombang tahun 2011, kini mengabdi di MTsN 2 Rejoso Jombang sebagai guru Bahasa Indonesia. Selain menggemari vespa dan kopi, ia juga menyibukkan diri menulis cerpen dan puisi. Karya-karyanya tersiar di pelbagai media cetak dan daring. Puisinya Masuk dalam antologi tiga negara, Jazirah 5 FSIGB 2020, dan tergabung dalam buku Sang Acarya. Kumpulan Puisi Guru dan Dosen Komunitas Dari Negeri Poci 2020. Bisa dijumpai di Facebook: Miftachur Rozak atau Instagram: @arrozak_88.