Kemah
lihat! malam meninggi menyundul langit, katamu
ombak berlarian dengan kaki-kaki kecilnya
yang sekarang tinggal suara dan dengus gema
kita kemudian menegakkan dua tenda
saling bermuka-muka, di tengah terdapat
kobar api dengan lidah merah menyala
aku mengutuk dingin, ia seperti terlahir dari
ujung daun yang terus melambai nan melandai
ini bulan ke satu, katamu, dingin selalu lewat
dari batas kewajaran manusia di muka bumi
perlahan kita menyederhanakan penyambutan
pada malam. sekadar menolak dingin
mengusir rupa-rupa hening, hingga
mengalungkan hangat di leher masing-masing
sementara lagu-lagu dengan nada berlubang
menusuk kuping. membiarkan kita bertahan
di tengah sengau dingin yang bening
Yogyakarta, 2021
Berpulang
dalam darahku mengalir deru angin
ombak memintal umpama laut kampung halaman
setelah menjauh dan mengunjungi tahun-tahun biru
pulang pelan-pelan, meletakkan batu rindu pertama
aku masih mencintaimu, ternyata
riak-riak kecil di dada meletup
bersorak, benar-benar menyerupai ramai ombak
kulihat kembali, anak kecil di gigir
batu pantai melempar patahan tembikar
ke permukaan laut, mereka menghitung
berapa lompatan sebelum akhirnya
tenggelam sampai dasar
tidak pernah lupa, bendera setengah
robek yang terpancang di tiang sampan
dengan sungguh-sungguh menghantar
pulang seluruh ingatan
Yogyakarta, 2021
Mahabah Bahasa
mula-mula kita menyoal darimana muasal bahasa
kata yang mengendap menjelma epitaf
seumpama duduk termangu mendiamkan angin warna biru
ombak menghapus pegon di kulit karang
lalu mengirim debar atau debur ke dada kita
bahasa paling puitis sejak terlahir ke dunia
—dongeng-dongeng kecil menjelang tidur
sebuah suara lantang dari lubang
yang tidak diketahui sebelumnya
semisal kita senantiasa menggali tanah ini
sejengkal demi sejengkal dan tidak sampai satu depa
tetapi terus digali sampai batas paling bawah
menemukan satu dua batu bercampur tanah merah
;tulang dan arwah pohon yang ditarik pada muasal
kita sering bertanya darimana asal seluruh bahasa
cinta dan kesedihan yang tertampung di tulang iganya
dan bila sedikit kau sentuh, akan kau temukan
ketenangan di sana
Yogyakarta, 2021
Senyum Qamariyah
udara berkabut, dingin menyusup ke tulang punggung, qamariyah
kita berdiri di halaman saling tatap dan sangat lekat
umpama masuk ke lubang yang gelap, meski tak kutemukan
bayang-bayang siapa pun lewat walau sekejap
kau mengerdipkan mata, gerak bintang selatan dan awan-awan
merapat ke pundakmu. mereka mengerubungi kita, sementara
kau bertanya; untuk apa senyum diciptakan?
kutemukan bibirmu hanya di tanggal satu, terus-menerus
menyuntikkan senyum, menggetarkan bulu-bulu dada
dan seluruh bangunan kokoh di dalamnya. namun, udara
tetap berkabut, qamariyah, wajahmu timbul tenggelam
bibirmu seperti tumpul menembus nan menebus kegelapan.
batapa pun dunia hanya tercipta dari liang kefanaan
umapa bibirmu yang sepintas lewat di padang pikiran
Yogyakarta, 2021
Tengah Malam Terjaga dan Terpaksa Berdoa
pekarangan berbalut senyap dan kau mengintipnya
dari balik jendela dengan gorden keemasan
serta ulas abu-abu setengah karat
;bulan rebah di padang rumput
sementara pohon di halaman semaput
kau mengangkat tangan seraya meyakini
doa yang mengental di lubang dada
akan dengan mudah mengetuk angkasa
sebelumnya, kau sengaja merebahkan lelah
di dataran ranjang. lalu mengatupkan mata
pelan-pelan sampai tak terdengar bunyi
kedip kelopak yang bersentuhan
kau benar-benar terjaga, kepalamu
seumpama dirasuki deru mesin pabrik
yang berisik sepanjang hari tanpa jeda
kembali kau angkat tangan
Tuhan sedang melambai, meski
sebatas bayang-bayang
Yogyakarta, 2021
Bersalin
apa yang kau tatap? langit-langit kamar sembap
udara berlindung pada ujung bunga di perut pot
tangan kiri menggenggam ujung selimut
tangan kanan kuciumi sampai larut
napas kau tarik lalu diulur
kau tarik lagi diulur lagi
sebuah dunia keluar masuk dari
lubang hidung yang sempit
hanya cukup mencium bau-bau sengit
‘kau pejamkan mata, mengatupkan bibir
lantas mengerang kuat-kuat
itu desis sampai ke langit paling hakikat
doa saya melata di bawah ranjang tua
beserta doa lain dari manusia di luar ruangan
tangis pecah mengusik ubun-ubun
ini dunia baru, anakku, dunia bertemunya
seluruh kesakitan dari kamar rahim
serta, bagimu, bumi yang asing.
Yogyakarta, 2020
Herbsttag
ini musim gugur, hujan tigakali-empatkali
luruh di barat dan timur kota
lalu terhenti, daun maple berwarna
kuning kunyit mendekati merah nanah
terjatuh di tengah-tengah halimun
yang lurus kepala
kau geser kabut-kabur tipis
pohon di halaman minta disunting
kita mengintip dari bibir jendala beruap
bumi seperti padang luas, selalu
menerima sengat terik dengan ikhlas
tetapi, tidak sering kita menemui
lidah matahari menjilat-jilat.
pergantian dari satu musim ke musim lain
tidak pernah bisa ditaksir dengan tepat
Yogyakarta, 2020
Lidah Ibu
itu lidah api, kata ayah
beberapa jenis rasa sudah mengakar di sana
;kopi yang lebih gula satu inci
bisa dipilah lewat lidah paling peka
ia akan berdiri di mulut tungku
sekali-kali duduk menyilangkan kaki
beserta tabah mengakar di dada, menunggu
air dan lapar yang sama-sama mendidih
asap menyundul wuwungan dapur
berkali-kali menyelup ujung telunjuk
sampai kata-kata melekat di kuku
mendekatkan ke mulut, menjilat pelan
pejamkan mata. rasakan, apa yang
berlebihan!
setelah hangat berlalu, sampai
dingin menepi di piring-piring
ibu menjauh, ia hanya menyediakan
lidahnya bagi lidahku
Yogyakarta, 2020
Bahasa Nama
kita duduk termangu mendiamkan angin warna biru
ombak menghapus epitaf di kulit karang
lalu mengirim debar sekaligus debur pada dada kita
bahasa paling puitis sejak terlahir ke dunia
;dongeng-dongeng kecil menjelang tidur
rumah ombak, amis ikan, deru-deru kapal
menjemput matahari di dermaga yang majal
tetapi kita selalu duduk dan tetap termangu
duakali-tigakali mengangkat dagu
diiringi angin menggelinding dari ujung bukit
mengacak-acak hitam rambutmu
pikiran ditarik ke masa lalu, beberapa
jengkal dari bahasa kepedihan.
diajari bentuk huruf
hingga menyimpul nama kita
sejakitu pula kauhafalnama-nama
;asma lain kesedihan di lubang dada
Yogyakarta, 2021
Bahasa Laut
beberapa bahasa yang disampaikan laut
pada tebing menjulang atau sebuah tanjung
yang tinggi tidak sampai ke puncak matahari
;isyarat debur kecil yang menghentak
permukaan air
lipatan jalan yang digaris pacu sampan
menerobos dari utara ke selatan
kita tidak pernah menemukan, di laut
yang kekal selain pasang dan surut
bahasa laut umpama telunjuk rasi
menuntun di malam berkabut dan beruntun
menolak segala rupa hingga macam takut
ombak menabuh gendang telinga kita
bertalu-talu sampai di hari ketiga
seluruh yang lahir di laut
kerap berlidung di dada
sampai larut
Yogyakarta, 2021

Moh. Rofqil Bazikh, tercatat sebagai mahasiswa Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga sekaligus bergiat di Garawiksa Institute Yogyakarta. Anggitannya telah tersebar di pelbagai media cetak dan online. Bisa ditemui di surel [email protected] atau twitter rofqil@bazikh.
