Puisi

Puisi Rizka Umami

Bayi-bayi Pabrik

Jam makan siang milik perempuan

dihimpit ruang pabrik yang sesak menekan ubun-ubun

dan bau peluh dari ketiak-ketiak buruh

di gedung sebelah karib-karibnya menjerit

sambil melucuti celana yang penuh air ketuban

pecah, sungsang, buka empat pendarahan pula

tak ada tanda atau bunyi, tak ada ambulance

di jam makan siang yang terik menyengat tubuh

bayi-bayi pabrik menangis kencang meratapi nasib ibu

bayi-bayi menahan lapar di masa harga susu naik tajam

dan buruh perempuan tak dapat cuti bulanan

tak boleh menuntut atau minta jatah tunjangan

di jam makan siang milik perempuan

hanya bungkaman.

21 November 2020


Tasminah

Subuhmu lepas pesat

ditawan keranjang-keranjang tahu mentah yang getir

seperti laku sepuhmu

kau tinggal sembab di depan pawon

menakar terigu dan kacang tanah yang kehilangan kulit

dan kau kehilangan pegangan

masamu lewat diganti keriput tak menawan

di antara dua tungku

kayu bakar yang asapnya membawa sisa mimpimu terbang ke langit-langit dapur

kau koyak dan retak

mirip telur-telur ayam kampung di kandang

hitam pekat dan abu-abu laik masa muda yang sia-sia itu.

22 November 2020


Bocahmu

Dari balik pintu itu

bocahmu mengintip ketakutan

matanya nanar

hanya tangan kirinya bergerak

sambil menutupkan buntalan kaki boneka

pada mulut mungilnya

bocahmu ingin menjerit

melihatmu menggorok bapaknya yang bengis

tapi kau sumpal dengan tangan berdarah-darah

lalu dikisahkan seorang nenek membopong cucunya

menuruni bukit berlari menembus kabut pagi

mencari keadilan di jalan-jalan.

23 November 2020


Kota Muda-mudi

Di kota muda-mudi sengketa cinta bukan tragedi

politik dan hukum kepemilikan bermain fasih

dan semua mafhum, cinta membuat segala jadi buta

lain waktu di kota muda-mudi setia dijual murah

kepercayaan jadi lagu lama yang tak begitu populer dinyanyikan

sebab cinta tak bisa memihak setia dan percaya

lalu di kota muda-mudi yang riuh ramai

semua manusia merasai sepi

kehilangan nurani.

24 November 2020


Jika Tak Ada Orang

Aku adalah aku jika tak ada orang di satu ruang

memakai kemeja, berias dan menari

mengelilingi sudut-sudut peribadatan yang sunyi

seperti bermain di opera

atau menjelma komposer

jika tak ada orang aku menjadi aku

melepas alas kaki dan mengerang semauku

memeluk otoritasku

seperti jasadku

menjelma ruh dan mencintai aku.

25 November 2020


Sepatu Merah

Sepatu merah setengah abad ditikam kusam

keluar dari kardus pitanya

meraih tubuhku

seperti tukang pos meminta bayar beberapa ribu

ongkos kirim dari sepersekian

dimensi waktu

Rasa-rasanya kau reinkarnasi

mewujud Laksmi reformasi ikut meledak

ndakik-ndakik di kejauhan pantang padam selintas jalan

Sepatu merahmu menggoda mata-mata jalang manusia

yang dipikat kehilangan tubuh pongah melulu

menutub aib-aib, mengumpat

Apa kaki bersih mendadak complong?

sebab sadar rupa kaki tangan berakal kosong

berkah kaca, cermin-cermin mengganti posisi.

Desember 2020.


480

Delapan hari

480 mayat siap angkut ke liang

aku bersama seluruh jenazah

tanpa tangis pecah sanak kadang

di samping pembaringan

kulihat liang-liang lain beku

menyerupai wajah peti-peti yang segera ditimbun

ditutup gundukan tanah merah aroma fanbo

aku rebah di hadapan giliran sekian

waktu gerimis membengkokkan hasrat

pendoa yang panik

kami disilakan bergegas turun

membenamkan jasad, menyelamatkan ego.

21 Januari 2021


Pokping

Satu tandan pokping

disisir per biji menunggu tengkulak

pohon terakhir menunggu ajal sepertiga siang yang mamang

Hujan tak jadi hujan

tapi mendung membawa resah

petani-petani menjemur calon nasi menimbun jatah jagung basah

Hujan tak hujan nasib pokping setandan mesti lunas

ditukar pindang atau teri kawat, “harga jatuh, tak mungkin daging.

tak butuh daging buat mengupaya hidup

Satu tandan menguning

di teras menanti jodoh setengah hati

pada pembeli yang meriang, minta selirang

21 Januari 2021


Ada Jasadku di Sampingmu

Sangkar-sangkar diisi penuh jaring laba-laba, sisa belulang serangga

kursi rotan di teras belakang keropos

burung-burung menyisakan bulu di rumah kosong

tapi nyala lilinmu abadi

bertahun-tahun kau melewatinya

melayat pada pinggiran kota yang lusuh

mengubur anak-anak yang tergilas truk-truk

mengabadikan potret tikus-tikus

menyemburkan isi perut dibakar aspal dikubur debu jalan

sampai sirine meraung menemukan aku

di sebelah jasad dan ruhku yang pengelana mengendus maut.

24 Januari 2021


Gimah

Di masa ketiak Gimah mengeluh

pagi-pagi mendadak gerah dan lengket

empat puluh lima kilo bukan soal jarak dan waktu tunggu

tak banyak desing angkot memburu tubuh

orang-orang yang jenak di pinggiran

sebab kaki-kaki bapak tempat bertumpu bermain

kendang kentrung sepanjang terik menyongsong kuasa recopentung

momenmu usah diulang-ulang

pelagu babad tanah jawa, walisongo, nabi-nabi

seorang belia ngentrung bareng bapaknya di lintas kota

tak banyak desing angin menjamah tubuh

orang-orang yang lupa musim dan tanah ibu

dan kaki bapak tak kokoh lagi menyokong cerita-ceritamu

kau, berjalan sorangan

tapi kelak namamu dihiraukan, mbok Gimah

si tukang kentrung pemikul laju mula amanah

pengantar tuntunan yang terseok-seok tontonan.

29 Januari 2021


Rizka Hidayatul Umami, lahir di Tulungagung. Sedang menyukai sastra dan isu-isu perempuan. uku pertamanya berjudul Dongeng Rukmini (2017). Bisa disapa lewat instagram dan twitter @morfo_biru, juga facebook: Tacin.

Puisi

Puisi Rizka Umami

Secangkir yang Luput

Kopi lelet di depan matamu luput kau sruput

Berita kematian saudara-saudara menyergap telinga

Virus-virus baru, makin ngeri kau dengar

Di rumah, kau tak lagi minum dari cangkir bekas anakmu

Kau cuci semua alat makan sisa mereka

Kau tak mau disentuh siapa-siapa

Secangkir lagi, luput dari bibirmu yang basah

Mulai membiru

Kau takutkan maut menjemputmu lebih dulu

Maka kau asing, dari anak istrimu

Mendekam seorang diri

Dalam teralis, ruang tiga kali empat meter persegi

Mulai membiru, sekujur kaku

Tinggal secangkir lagi

Tak mau luput dari bibirmu yang kering

Sudah pecah-pecah, berdarah.


Yang Koyak dalam Ruangmu

Pasca panen kacang ijo bapak remuk

Ruas-ruas jari kaki

Herpes menyerang seluruh tubuh

Merembet ke ketiak, leher, selangkangan

Tak apa, tak apa. Panen kita banyak, Le.

Tapi pasca panen padi bapak hilang, remuk

Diabetes menyerang ruas-ruas jari kaki

Tak bisa jalan beberapa bentar

Diamputasi sudah, kedua jari kakinya

Tak apa, tak apa. Yang penting panen kita banyak, Le.

Tapi bapak hilang, tak seimbang

Tak bisa jalan sepersekian bulan

Peduli apa pada tubuh yang koyak, tinggal remah-remah

Luka-luka nganga

Tak apa, tak apa. Kau bisa gantikan bapak, Le?

Lalu kau tangisi sendiri komplikasi di tubuhmu

Tak bisa lagi mendaratkan cangkul

Hasil panenmu berkurang

Sebab lanangmu tak cakap bertani

Kau koyak dalam ruang imajimu

Mengutuki cita-cita keturunan sudi mengundi nasib jadi petani

Tapi lanangmu pilih sewa orang

Bayar dua kali lipat

Sedang panen makin berkurang, tak seberapa

Kau koyak lagi dalam ruang harap semu, abu-abu

Mengutuk kepincangan

Mengutuki nasib.


Kretek si Mbok

Kubacakan Perempuan dan Kretek

Sedang si Mbok asik mengunyah suruh

Aku menyulut kretek

Dimatikan bapak

Sedang si Mbok menyalakan ulang

Buat apa melarang si genduk ngretek? Kau demikian sama

Sebab kau perempuan, kata bapak

Tapi si Mbok juga perempuan, sanggahku

Lalu si Mbok nyalakan ulang, menghisap dalam-dalam

Memberikannya padaku, sehisapan

Kubacakan lagi Perempuan dan Kretek

Bapak manggut-manggut

Lalu mengunyah suruh, menyalakan kretek buat si Mbok

Kretek si Mbok diberikan padaku, lalu ia mengunyah suruh bersama bapak.


Lintingan Terakhir

Sebelum perang harga, tembakau bapak

dibantai habis

Petani-petani merugi, kalang kabut

Investor bersulang anggur merah di samping istana

Bapak sedia badan

Demo saja, pak…

Berkelit

Petani-petani desa Wates meriang

Pilih menjual ke tengkulak, tapi harga

masih tak manusiawi

Tak dijual, tetap merugi

Dua kali masa panen tak dapati laba pasti

Panen lagi, meriang lagi, rugi

Bapak bisu, menyepi

Ia nglinting dari tembakau hasil panen

Terakhir sampai napas di ujung penghabisan

Lintingan terakhir jadi tempat bapak

Mengukut

Meninggalkan anak istri, dijemput Izrail.


Balkon Kesangsian

Di balkon lantai tiga

Yang luput dari percakapan kita

Disaksikan dua sulur Nephentes, mulai kering

Tapi tak lebih kering dari luka-luka yang kau sembunyikan

Di balkon lantai tiga

Kita sempat menghendaki cerita keutuhan dua manusia

Meski saling sangsi

Pada rasa masing-masing

Bukankah kita, dua organisme yang penuh ketidakpastian?

Lantas memintal harap

Memaksa penuh.


Menimang Ibu

Seperti balita, empat tahun minta ditimang

Ibu baru genap 80

Bungkuk seperti pungguk

Manja seperti gadisku

Tak mau kalah seperti jagoanku

Ibu minta ditimang-timang bapak dan aku

Nenek anak-anak berubah kekanak selepas menua

Sedang kami dipaksa dewasa

Harus mendewasa diri

Sebelum habis masa ibu jadi bayi, lagi.


Kau yang Hilang dari Pelupuk Mata

Koes,

Lelaki yang memaksa pergi dari buaian

Mendaku diri sejati

Pantang pulang sebelum dapat penghasilan

Koes,

Anak sulung tulang punggung

Memangku beban empat saudara kandung

Tiap-tiap waktu kirim uang bulanan

Hampir lupa jalan pulang

Koes,

Jatah sekolah direnggut nasib

Kurang beruntung

Kau hilang di tengah semester

Pilih merantau menyambung hidup

Buat mengisi perut ibu, perut bapak, saudara-saudara sepersusuan

Koes, hilang dari pelupuk mata orang-orang

Pantang pulang sebelum dapat penghasilan, banyak uang

Lelaki malang, rela pergi dari buaian.


Mendoakan Orang-orang yang Kehilangan

Kematian itu, niscaya

Kau kenal baik-baik detail cara membunuh jasad

Wajah-wajah pelayat

Yang pura-pura bersedih

Atau bersusah menghibur mereka yang kehilangan

Kematian itu, niscaya

Kau sekali datang memberi ceramah, khotbah

mendoakan mereka yang terbungkus kafan

mendoakan mereka yang kehilangan

meminta semesta lapang menerima

tubuh-tubuh yang telah dijemput mautnya.


Misi yang Sia-Sia

Dokter Rieux mengamini kesia-siaan

Pergolakan melawan kematian demi kematian

sampai nyawa tak ada sisa

Seperti kisah Maria Zaitun, karya Rendra

Tak ada bekas melawan nasib

Sudah beruntung ajal menjemput daripada hidup dirundung derita

Camus mengotak-atik tokoh utama

Sang dokter tak peduli pada misi yang sia-sia

Jalan terjal kemanusiaan

Memberi tubuh-tubuh yang sakit kesembuhan

Rendra tak memberi Maria berkah kesembuhan

Maria Zaitun mendapat Firdaus bersama lelaki berwajah remuk

Jalan terjal mencecap bahagia

Di akhir misi hidup yang sia-sia


Perempuan di Antara Dua Dewi

Dua sales masih menjajakan Dua Dewi

Meski surup sudah habis mengikis sinar matahari

Tak ada senja-senja atau mega merah muda

Dua sales masih berjalan menembus gang-gang gelap

Menjajakan Dua Dewi di tangan

Perempuan-perempuan dengan rok mini

Berhak sepuluh senti

Lipstik merah darah, bedak tebal

Menghias bibir dan pipi

Tapi  rias tak bisa menghapus payah

Dua Dewi di tangan belum laku terjual

Dua perempuan tak bisa balik ke peraduan

Tapi rias tak bisa menutup duka dari dua bola mata

Dua Dewi terbungkus rapi belum tergadai

Dua perempuan tak bisa balik ke bilik asal

Terus jalan, terus menjual.


Rizka Umami, pengasong di Komunitas Sastra Sadha Tulungagung. Sedang menempuh S2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bisa disapa di facebook Tacin atau Instagram dan twitter @morfo_biru