Puisi

Puisi Yohan Fikri

pulang ke haribaan pelukmu

lalu di mana muara bagi segenap kembara,

bila tak henti di haribaan pelukmu?

seluruh liku jalan yang kutapak bagai lorong

bercabang banyak — gelap nan basah.

dinding-dinding yang kuraba dengan terbata,

hanya menuntun tatih langkahku

pada kegamangan-kegamangan baru menggapai cahaya.

kecemasan kerap jadi batu, mengantuk

sepasang kakiku menujumu, menujumkan segala rindu.

sambut aku, kasihku. sambut aku serupa

kuntum bunga-bunga seroja yang memekarkan diri,

untuk mencumbu jamah matahari.

pagut bibirku dan lampiaskan gelegak birahi.

peluk erat kesepianku, seakan esok adalah hari terakhir

bagi kata-kata, untuk menulis riwayat kita.

lalu kita hikmati setiap lenguh napas dan desah cemas.

setiap inci sentuhan dan jengkal kemabukan.

bayangkan ini perjumpaan sebagai pungkas pelayaran

: kita arungi samudera birahi, kita garami luka-luka dalam diri.

hingga gelap juntaikan tirai, kita tetap baku-dekap,

melihat malam yang sekarat lumpuh-terkulai

— di atas sepasang tubuh kita: tubuh penuh cinta, yang belia!

2021


pagi yang monokrom #1

di stasiun, menanti kereta tiba, kusaksikan peron kebak

para calon penumpang, mencangking kecemasan masing-masing;

hilir mudik para porter mengusung sejumlah koper,

raut-raut kusut; dan kantuk yang berjelaga di pelupuk mata

adalah komposisi di suatu pagi yang miring.

sejumlah orang duduk mencangkung, selebihnya berdiri mematung,

dan sesekali, melongok ke arah kereta tiba

— walau yang mereka temu, masihlah kekosongan belaka.  

sepasang burung gereja menisik bulu di punggung besi tua,

kemudian melenting ke pucuk ranting pohon trembesi.

pagi yang monokrom, cuaca sedingin logam,

dan langit yang muram, seperti wajah resah yang menunggu,

lalu menangis dalam ritmis rintik gerimis itu.

kenangan merambat di antara rel-rel kereta, pipa-pipa tua saluran air

karat dan menggigir, kaki-kaki kursi dan wajah-wajah lesi

yang jemu menanti. sabar pun perlahan pudar,

pada detik-detik yang gusar. “ya. kita memang gampang tergesa,

dan acap tak sadar, bahwa dalam gegas, kerap memicing mata nestapa.”

lengking kereta terdengar dari jauh, memecah gelisah

yang kecamuk dalam dadaku. fajar gemetar di ufuk,

orang-orang berhambur menuju pintu masuk. dan aku,

masih pula berdiri, merunduk, merapal doa keberangkatan,

memanjat mantra-mantra keselamatan, “betapa kita  kerap lupa

untuk senantiasa awas dan was-was pada segala, sebab pada setiap

hitam-putih kemungkinan, selalu tersimpan waktu-waktu yang rawan!”

2021


pagi yang monokrom #2

“angin apa yang telah sampai membawamu kemari?”

mungkin angin purbani, yang bertiup lembut

dari dengus napasmu dulu. ketika jari-jarinya

menyentuh kulit jangatku, ia tumbuh menjelma badai.

aku, sehelai daun ringkih, kasih, yang ingin tanggal

dan merebah di dadamu yang tandus.

biarlah waktu dan cuaca, musim-musim yang itu juga,

meleburkanku, dan aku akan merupa humus bagi benih-benih kata,

untuk tumbuh memutikkan kuncup-kuncup bunga.

ujarku pada suatu pagi yang monokrom, ketika kusaksikan

sehelai daun getas di selasar peron jatuh-meranggas

diterpa angin bulan november. kurapatkan kerah kemeja,

kukancingkan buah jaketku, kota ini sedang dingin dan berangin, cintaku;

waktu-waktu riskan bagi tubuh yang minim dirahmati pelukan.

perjalanan, barangkali, hanya berkisar pada kedatangan

dan keberangkatan. siapa yang bakal tiba lebih dulu,

cumalah masalah waktu. karenanya, aku ingin kaumenungguku,

di puncak bukit mahasakit, di mana luka telah menyalibmu.

akan aku congkel seluruh kesepian yang telah memaku sepasang lenganmu.

dari jendela sembab-berembun, mataku memandang ngungun

ke titik jauh: hamparan sawah bagai wajah yang tengadah,

dangau-dangau di batang pematang seakan melambai pada pikiran

yang capai dan sangsai, sungai mengular membelah kini dan kiwari,

rumah-rumah berbanjar sepanjang bantar rel kereta api,

pohon-pohon berkelebat ke arah masa lalu: ke arah yang tak pernah

terjangkau oleh genggamanku. segalanya hanya bisu.

bahasa menghilang dari tubuh orang-orang. langit kelabu di luar jendela

seperti ingin memuntahkan banyak bercerita. buku puisi yang kubaca

membentangkan sejuta rahasia. dan hujan pun turun. dan jagad pun basah,

menyentil sisi sentimentil dalam tubuh kerontangku. dan kuyuplah sekujur ingatanku.

2021


hal-hal yang masih mengendap

di sprei motif bunga mawar

rintih dan lenguh, hasrat dan peluh

masih mengendap di sprei motif

bunga mawar, juga di dinding-dinding kamar,

yang kusam dan memar.

sekalipun kini, malam-malam telah jadi asam,

dan sepi, harga yang tak dapat lagi

ditawar-tawar. selalu ada

yang tak akan pernah kuasa kauhapus,

pula oleh telapak tangan waktu: ialah segala gebu nikmat

yang sempat menanam geletar dalam ngilu

sendi-sendimu. gigitan-gigitan kecil bagai jarum-jarum

morphin, menyengatkan semacam gigil yang lain.

tidur meringkuk memeluk diri sendiri,

kaukenang kembali sesuatu yang telah jadi ganih;

ingatan-ingatan yang perlahan malih menjadi buih

: lingerie berenda yang masih lekat di indera peraba,

serta sejumlah kerling nafsu yang pernah memantul

di mata manik-maniknya, seakan menjelma

lembut mulut yang mengulum seluruh kesedihanmu

— sampai ke pangkal batangnya.

2021


interlude        

                        /1/

kau kerap gagal di hadapan sesuatu yang krusial.

semisal, melangkah tabah dan bersiap tanggal,          

ataukah tugur, dan terus memilih tinggal

— meski barangkali, kau paham benar,

dingin itu telah seumpama api biru,

yang membakar harapanmu menjadi abu.

                        /2/

menangislah, cintaku. menangislah seperti gelegak ombak

melampiaskan dendam pada daratan.

air mata akan membuat pandanganmu jernih kembali,

sehingga kau dapat melihat:

betapa setia dan khianat gemar bertukar tempat.

segala yang lekang akan kautemu ulang

kelak di ujung tualang. sebab, di hadapan cinta yang remaja,

kita semua pengembara belaka.

                        /3/

kau (pun aku) mungkin kerap keliru menaruh prasangka.

sebagaimana kita sedang berenang

di sebuah tepi, lalu tergesa menyebutnya menyelam ke lubuk terdalam

— bukankah mencintai pun kadang juga begitu?

tetapi kau selalu percaya, kelak, luka akan menjadi karma

dengan sendirinya. Seseorang yang telah menikamkan pisau sepi

ke punggungmu, akan menanggung seluruh kesunyian paling merah.

                        /4/

pada akhirnya, kau lebih memilih berjalan sendiri,

menamsil nasib yang ganjil,

menyelusur hari-hari yang kabur, dan menafsir rasa getir

seumpama seorang penyair,

menyusun ulang tubuh yang telah retak

menjadi sebuah sajak, sebagai ritus pengampunan

atas seluruh dosa-dosa kesunyian.

2021   


scorpius

: Sindy Novia Larensi

Apa kau tak pernah membayangkan,

sebuah rasi bintang scorpio

menampakkan diri di angkasa bumi kita?

Kau melihatnya dari jendela kamarmu, aku

mengintipnya dari halaman rumahku,

sepasang capitnya, mencengkau namamu dan namaku.

Sedang ekornya menyengat masing-masing

dada kita, sehingga tahulah aku, rindu bekerja

bagai racun, membuat biru seluruh tubuhku.

Aku masih mengamatinya. Apakah kau pun?

Tanpa kita sadari, kita telah jadi sepasang penujum,

menerka sesuatu yang belum kita mafhum,

“Di hari apakah, nasib akan menjatuhkan

nama kita pada peruntungan yang sama?”

2021


sajak tentang sebuah vas bunga

Pada vas bunga

yang menggigir kesepian

di atas meja, di sudut ruang itu

kau bertanya,

apa yang membuatnya bermakna,

selain hanya sesuatu

yang kelak layu,

dan kita berupaya mengekalkannya?

— seperti kenangan,

yang terus-menerus kita segarkan.

Pada vas bunga

yang menggigir kesepian

di atas meja, di sudut ruang itu,

kau tak menemukan apa-apa,

tidak juga jawaban

atas kesuwungan tanda tanya,

selain hanya sesuatu

di dadamu yang memurung tiba-tiba.

2021


malam dalam komposisi

Pilau lampu-lampu kota,

seakan sedang

menerjemahkan cerlang

mata kekasihnya.

Udara gigil, musim yang labil,

merepih kantung kemih,

dan bulan yang limau

di langit pucat memutih.

Di atas bangku tepi jalan,

di hadapan lalu lintas waktu,

ia hendak meraih sebungkus

kenangan di liang saku.

Tetapi ia malah merasa,

seperti ada jemari

yang hangat dan melumer

di genggamannya.

Ia terkenang pada suatu malam

ketika untuk pertama kalinya,

ia ingin waktu berjalan lamban

— atau, ke arah selain masa depan?

Disulutnya kekalutan itu, dan

kesedihan mengepul ke udara.

Sedang air matanya, umpama segumpil

mentega yang meleleh di penggorengan.

2021


le poète maudit

Aku seekor ular yang diam-diam

mengamatimu dari pucuk ranting pohon apel,

membelit kegamangannya sendiri:

antara melata pergi, ataukah menghampirimu?

Sementara ketakutan, sebagaimana tuhan,

gemar menorehkan sejumlah larangan

juga kutukan-kutukan, di tubuhku.

Suatu hari, kupetik jantung sendiri.

Kusihir menjelma sebutir apel merah,

dan menyuguhkannya padamu.

Semoga, begitu kau menggigitnya, kau paham

akulah daging buah yang tabah tubuhnya berdarah,

meski dengan lelaki itu pula

pada akhirnya, kau berbagi rasa manisnya

“Tidakkah kau tahu? Itulah saripati rindu,

yang sepanjang usia waktu, selalu luput dari pagutanmu?”

2021


rencana mengunjungi pasar malam

Bagaimana bila sejenak kau sampurkan air mata di pundakku,

dan mari, kita jalan menyusuri hingar-bingar pasar malam

yang tampak melambai-lambai kepada kita itu?

Akan kuajak kau menonton atraksi roda gila supaya bising suara

kenalpotnya, memecah rasa masygul yang terbuhul di dada.

Atau, mengendarai kuda sembrani di sebuah komidi putar?

Di sana, waktu seperti henti melaju, hidup bukan lagi kejar-mengejar.

Kita akan merasa berjalan, meski tidak ke mana-mana.

Mungkin dengan begitu, kesedihan jadi sesuatu yang tak berarti apa-apa.

Atau barangkali, kau ingin sekadar membeli permen kapas?

Lalu, duduk menikmatinya sambil menyimak dan tergelak

melihat orang-orang jerit-teriak di atas perahu yang limbung disapu ombak?

Juga kincir angin yang berjentera seakan ingin mengajari kita:

naik-turun atas-bawah itu biasa, dan begitulah sewajarnya hidup berkelindan

menjalin warna-warninya? Siapa tahu, rasa legit yang leleh di lidah,

bakal samarkan getir-pahit, sedih, dan gundah.

Lalu, akan kucegat seorang pengamen kecil yang kebetulan lewat agar dipetiknya

senar ukulele, agar ditabuhnya tambun tubuh jimbe, sembari kubacakan

sejudul sajak cinta yang sudah kutulis semenjak lama,

lihatlah rembulan yang menggantung di luas lengkuh kubah angkasa:

“Apatah pantas kau tetaskan tetes air mata? Sedang rembulan itu, bintang gemintang itu,

bahkan selamanya akan tersipu, sembunyikan muka di balik murung gemelung mega

lantaran meski parasmu sedih, rupanya masih gagal ia lampaui keindahannya.”

2021


bersama panchali di suatu

pertunjukan wayang orang

            I

Hastinapura kala itu, mungkin tak ubahnya

panggung trapesium di hadapan kita, Panchali.

Dan kita hari ini, adalah sepasang mata

yang tak ingin melewatkan satu pun adegan;

degup jantung yang tak henti menanti,

dan terus dirundung tanya, “Apa lagi setelah ini?”

Sepasang tirai itu kemudian terbuka

disusul lampu-lampu yang menyala,

lalu kita sama saksikan

lidah Sengkuni yang begitu licin,

menjatuhkan Yudhistira di atas meja judi

: tergelecik muslihat licik,

dan terjengkang nasibnya sendiri.

            II

Sementara Yudhistira telah pertaruhkan segala yang ia miliki:

Kereta dan turangga, Pandhawa dan Indraprastha,

harga diri, hingga kekasihnya,

tidakkah kaulihat ada yang berkilat

di mata Kurupati,

bagai lidah bara yang mengeropok bulu domba?

Ketika nafsu telah menyihir Dharmaputra

yang tak bercela bagai amuk seekor kuda,

kadung lepas dari tali kekangnya?

Lalu, sesal tinggallah gelugut

yang bertebar di tubuh Yudhistira.

Detik pun meruam, dan nasib hanyalah nyala

yang masih berupaya terjaga pada sumbu sejumlah kandil

— yang tampak ngungun dan menggigil, Panchali.

Gedung ini sesak penonton, Panchali,

tetapi, kesunyian seperti dinding kedap yang menyerap

seluruh suara-suara di sekitarku, di sekitar kita.

Genggam tanganku, Panchali

agar dapat kurasakan getar-getar kesedihan

yang menusuki batang nadimu.

            III

Kali ini kita saksikan seorang perempuan

— O, itukah kau, Panchali?

diseret Dursasana ke tengah gelanggang

seumpama rusa buruan,

yang dilempar di atas tungku perapian.

“Adakah seorang raja yang sampai hati melempar seorang istri

ke tengah gelanggang judi? Sedang penjudi paling nista pun tiada pernah tega

menggadai perempuannya — sekalipun toh ia seorang sundal!”

Perempuan itu berseru dengan suara terpatah,

menahan sesak-isak yang membuhul kekata dan lidah.

Suara itu, mata pedang menyayat-nyayat,

lenguh napas kijang menahan sekarat.

Kurasakan jari-jemarimu berkeringat dingin

Kau remas erat genggaman tanganku.

Sandarkan kesedihan itu di tampuk pundakku, Panchali.

“Ini hanyalah sebuah pentas,” ujarku padamu

“dan babak tak lama lagi akan pungkas.”

Tetapi kaubilang, “Kesedihan bukan seperti air mata,

yang dapat mengering hanya dengan diseka sehelai kacu,

yang kaulurkan dari saku bajumu.”

            IV

Dan senja pun penuh, ketika perempuan itu

hanya menatap ngungun ke titik jauh

— ke arah di mana harapan

adalah jarak yang begitu muhal ia sentuh.

Tetapi, kita pun seakan mengerti, Panchali,

“Nasib barangkali tak ubahnya permainan dadu.

Dan kita tak akan pernah tahu angka yang bakal keluar,

sebelum dadu-dadu pungkas dilempar!”

Tirai tertutup kembali, dan lampu-lampu bersusulan mati.

Panggung pun usai, sementara kita, masihlah sepasang penonton

yang sibuk menyeka linang masing-masing,

sebelum ruang jadi hening,

dan sepi pun tumpah, membasah ke tubuh kita.

2021


Yohan Fikri, lahir di Ponorogo, 1 November. Belajar di Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas Negeri Malang. Puisinya tersiar di pelbagai media dan memenangkan beberapa lomba. Bukunya yang bakal terbit bertajuk Tanbihat Sebuah Perjalanan. Dapat disapa melalui akun Instagram @yohan_fvckry.

Puisi

Puisi Vania Kharizma

Air Mata Pogrom

Kelengangan menjelma rimbun legam yang berdiam
menghuni saban doa yang gemar menatah langkah
mereka koyak tafakur ibu dan tidur biyak yang cemas
seperti gema sirene, onar amunisi
aku isak sepanjang degup jantung ibu

di luar maha riuh keriau berkelibang
mengantarkan pesan melalui gemuruh
barangkali jelaga yang mengabu di awan
berkelun gulana menitip pesan:
              

     di sini kami sedang tidak baik-baik saja

pertumpahan biram begitu kemrusung
segenap wahing mengudara tak kenal arah
tapi di sini kaki pun lecet dicumbu borgol
kening kami dibusung pistol tembaga
suara decit pantofel masihlah gemar terdengar dan tibalah
‘GUBRAK!’ dentuman kencang tubuh yang ambruk di tanah
seperti suara bapak

dan ibu menangis
dan aku menangis
kami tunaikan ibadah air mata di hari Minggu

(Solo, 2021)


Membaca Penjara

Kami sepasang onar yang haus,
di tepi barak kubungkus air mata pada setangkup anyelir di pot nakas bangsal.
Himne di sekujur wabah bercokol dalam guruh jemala. Sesuatu melekang––
adalah tendasku tandas tewas, seperti arah mata angin menyebar virus.

Dan betapa bahak tunawicara bising
dirangum tunarungu. Gigil sekujur kungkungan
meramai, seakan berkicau dalam hening penantian,
Akankah segenapnya fana, atau bisakah kami ulik nostalgia?
Seperti impunitas yang gagal panen, kita diborgol wabah silabus

Darinya kita dicangking hanger yang lepuh,
sepuh, berdebu, di punggung koyak pintu kamar
mengeja yojana dan kesunyian yang hidup berdetak
Seperti seorang narapidana, kita abadi di balik jeruji gamang
Kecemasan menyapu ingin, sedang pagebluk ialah niscaya,
segenap mafia semata merapal semoga dalam amin yang ragu

(Solo, 2021)


Pagebluk dalam Jemala Hemodilusi

Kegelisahan tak lain yakni niskala yang kau kulak sembari mengecer sedih di rakung wabah, tatkala kau bergidik nyeri dalam sakit yang kau kebiri
dan tengkuk jemala sekadar memar-lebam, retak tulangnya tak kuasa memberi jalan arteri
sebab persimpangan plasma tumbuh subur yojana berkisar nanometer dari 1.000.000 jiwa
menampakkan betapa sungkawa asri mencagarkan lara dari liuk relung kulawangsa

dan malam itu kita bersaksi tiada seranah selain liur anyir dari hidu darah pagebluk
yang tengkurap enas mengenyam musim bahagia di mana wabah sekepal mangkuk
   : aglutinasi erang sepetak tabah, sepukal jentaka pun linang dari mata keharuan
layaknya eritrosit di tepi abad––menggumpal bak tuak sepekat legam kecemasan

semenjana, kekalutan meneroka berbenggil-benggil gelabah wabah
tunggang-tunggit mandam dalam carut-marut epidemi buas meruah
layaknya denyut monitor pun ingar sirene sepanjang malam menyayat pekak tunarungu
mengisahkan keriau isak dari deru parau kalabendu; dari kembang-kempis kalpataru

   dan adakah kerisauan menjelma setangkup lila dari bangkup sekujur awak?   dari liyan nestapa sonder huru-hara; sonder kelut-melut peredaran darah pagebluk

(Solo, 2021)


Terhadap Warakawuri

Sisakan tumbang kalpataru yang rampung ambruk
selepas sedihmu menewaskan bara anak-anak firdaus
bergemuruh jemala terisak
kembara tiada sempat berpulang
walakin bekal habis sudah, tungkaimu terkilir lebam-lebam
tapi tidak dengan
nelangsa yang menginap
dari dua manikam matamu

Betapa cendayam nayammu gusar menyaksikan
kembang-kembang ditanam dalam tubuh kekasihmu
pesara yang sempat kau dongengkan di waktu malam
perihal kematian dan kerinduan
anak-anak mengurung cemas dalam kesunyian
semacam dering beker yang mengentak kantukmu
dan dari bangunmu, jam pun tak tampak
habis kau dikoyak balada!

telah tandas bahagia
kesepian kini merajut tubuhmu yang gigil
tiap belulangmu bungkam mengaram rintih
seperti sebuah prosopon yang diulang-ulang
aku merindukanmu
aku merindukanmu
jemput aku ayah

seketika, kau lupa rute ibadah dan doa
sebab kesedihanmu ialah niscaya
dan kematian tinggallah menunggu hari

(Solo, 2021)


Mencangking Problematik

Ode begitu mewah tiap kali
asterik tewas di tendasmu terbelah sebelas
menjadi kepingan nebula di mana kau bermalam
sejenak terusik––sejenak menyelinap––sejenak
tafakur diam, hening.

inikah hidup yang kau maksud, bum?
pada bumi, kuredam segenap sambat.

Semenjana dalam simpang yojana
dua gelintir bocah rambu apel sibuk berkutat
ihwal kemerdekaan––ihwal pembebasan dari
rasa lapar pun dahaga, tiap kali mereka ketuk
jendela mobil sekadar menyisakan lambai

inikah hidup yang kau maksud, bum?
pada bumi, kupendam segenap maslahat.

Dalam sembahyang kandidat penumpang kehidupan
mengijabah segenap ketabahan pagi di sepetak kios renta
dalam rutuk tuan gardu, mendeportasi kantuk bohemian
sebab demikianlah tiba waktu mencangking problematik

demikianlah kita ulik enigma kehidupan.

(Solo, 2021)


Menanam Kulawangsa

/1
Sedari ibu tanak akasku dalam sebotol kempung susu
aku kenyang gizi, merimbuni gelak tawa pada binar ibu
yang dahulu gemar muram, mengenyam sendu jua sembilu
semenjana kian ranumlah aku, dimatangkan panci waktu

/2
Ibu tanam aku pada semangkuk tawar air hujan di pagi
barangkali menyerupa air mata, atau dahaga suatu elegi
tapi tidak––ibu sirami pot-pot tubuhku dengan senyum laksmi
betapa juita, aku diayun pada hangat gendongnya yang asri

/3
Ibu beri aku rekah mentari kala gulita semata lelap tertidur
dan aku pesam terkantuk nyenyak di bawah lindung tafakur
seperti ketika ibu berdongeng, aku cendera semalam suntuk
hingga purna lekang kuntumku, tumbuh subur: terbentur dan terbentuk

/4
Sebagaimana sembilan purnama lalu,
ibu menimbunku dalam tanah yang tabah menyeduh kalabendu
agar sesampainya kelak mencagarkan cendayam ibu, rautnya––
kakinya yang tak lagi tangguh; raganya yang tengah separuh renta
sebab kala ibu menanamku, aku tumbuh serupa rumah kulawangsa
menjadi semayam bermalamnya lelah ibu, akan poranda bumantara

Bund, aku tumbuh seperti kembang yang kau tanam
purna merekah bagai kuntum kulawangsa melaram


(Solo, 2021)


Steik Wagyu & Bahagianya
     : buat bohemian dan antek-anteknya

Pagi ini aku memilih cemas dengan radang mengering & kritis di kepala
jalan-jalan yang ditutup ialah keniscayaan rindu memuisikan segenap hela
aku kadung mengutuki terminal yang disepikan suara kerincing koin pengamen
hingga berdiam menyulut waktu pada kepul sigaret pengantar amin

aku berlari mengejar langit yang katanya masih biru
tapi tidak dengan kaca mata hitam di kepalaku yang mengharu
menemui para pengail TPA dengan elegi disenandungkan mereka
& aku menanyai perihal pagi, “Masihkah kau menanti mentari & pelangi?”namun mereka menggeleng & lebih memilih steik wagyu di prospektus
aku memerangi kalut, menggandengnya menjajah resto mahal

di bibirnya sekadar melongo sekelebat menit
ludahnya mengintip di sela lusuh papila legam
aku menelan cemas,
mereka geming––katanya tiada pagi selain hujan yang berpelangi
sedang aku melamun: kekalahan ini ialah maksud dari syukur

(Solo, 2021)


Dimuseumkan Musim Hujan

Rejung yang kejang dibacakan isak sepanjang kemarau mengerang
tapi kita dilautkan dengan gebyur air garam yang menggenang
& tangis di teduh wajahmu sirna dilahap ombak yang liar
hingga melupa sakit apa yang dahulu membara–menguar

aku dipepet senang dengan napas kering akibat gemar tertawa
& memilih meredam lara demi mendapat rangkulmu di rawa
akankah sore menjadi oranye bila kita tiba di lembah?
hingga hadir hujan membekuk kita yang gelebah
terjebak dalam isolir kata yang temaram di waktu senja
kita menantang semesta, masihkah tangismu urung reda?
tiada jawab selain gemuruh dalam ingar jemala

sialnya mataku ialah pagi yang tak mengenal malam
walau dimuseumkan hujan & gigil di sekujur tubuh
mengapa kita tampak seperti bunga dan kupu menganga?
kuncup di kepalamu––aku segan mengecup sekalipun ingin

maka,
kubiarkan saja indah tubuhmu
dimuseumkan musim hujan yang kekal
biar aku tak perlu lagi mengincar dirimu
/ memandangimu dari jauh & dalam diam
sebab kini kau abadi di musim hujan

(Solo, 2021)


Perjamuan Basilika

perkenankanlah tuan dengan jumbai menyapu lantai
kami pegang ikalnya dengan iman & yakin yang dibantai
hingga seorang yang lain menghardik diam––masa bodoh!
tapi kami memilih nekat dengan ingin yang mengaduh

satu-satunya jalan ialah memperkenankan iman kami disumpah
dengan keteguhan diolok––dimaki bak ludah tong sampah
& semata mengangguk bagai seekor guk-guk yang beloon
menyeduh teh & adonan manis perjamuan di sudut peron

masihkah serapah didendang kebodohan?

sebetulnya kami kasihan,
tapi toh dalam basilika kami tak mengenal rintihan
juga lara & bisikan lusifer dari jantung manusia picik
mereka lupa darat––maka duduklah menikmati licik

& tiba di muka orang banyak singgah dengan jubah putih
mereka mengangkat cawan berisikan anggur merah yang
disebut dunia wiski
melampau seni sebuah dosa
tapi aku tak mau mendalami keindahan maut
sebab tibalah perjamuan basilika menyuguh kekudusan

(Solo, 2021)


Sorai Hari Esok

(i)
adakah kau, kelana sepanjang berantah Bekasi–Karawang
kita bersaksi seakan bahagia- begitu subur tumbuh berada
tentang bagaimana kita melupa
          persoalan lusa kemarin atau
               barangkali tahun kalabendu
sebab kala bahagia purna lahir dari rahim sungkawamu –
          sisakan setitik renung untuk
               kubawa pulang …

(ii)
esok kita bertarung kembali seperti bergerilya hari ini
mengijabah perjuangan ibu– dan doa kekasihnya …
sebagaimana cinta merekah
         dari kuntum mawar merah
             menyapu-lenyapkan sedih
                 & segala-gala murungmu

bahagiamu ialah niscaya
nyenyaklah berlibur dalam tidur
kelak gaduh kita tuai bahagia
sebelum akhirnya kau melindur
atas sorak-sorai hari esok …

(Solo, 2021)


Vania Kharizma, lahir di Solo, Jawa Tengah––tahun 2003. Hobi mencuci piring dan mendengarkan lagu. Prestasi terbaik ialah Juara Pertama Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional yang diselenggarakan STAHN Mpu Kuturan Singaraja Bali, dan pemuisi terbaik yang mendapat penghargaan bupati dr. Cellica Nurrachadiana dalam rangka HUT Kab. Karawang. Beberapa dirinya di e-mail: [email protected] ; Instagram: @vaniakharizma.

Puisi

Puisi Sarita Rahel Diang Kameluh

Wanita Jasna Góra

Dara suci, mengapa kau dan Anakmu

bermuka gumul hitam debu, pernis cat mati,

jelaga dari tangis lilin, harum sakramen yang terbakar?

Di dahi itu terpampang gua

yang berisi curah air mata, api yang terbit dan mengawasi

batu altar itu dan jemaat-jemaat kalut.

Setiap kali ke depan altar itu, mereka cium melebihi

ciuman di bibir kekasih dan telapak tangan ibu,

mereka menyendok kemenyan, menabur di arang

yang terbakar dalam wiruk,

asap-asap mengembang bagai persembahan Habel

dan awan-awan Carpathia.

Kemudian mereka berkeliling mendupai, diiringi madah

merdu para malaikat,

sebab, di bingkai emas, di ujung altar itu tubuh Anakmu

ingin menyusu dan menjelma menjadi anggur

dalam cawan.

Seorang pelukis tak tahu cara memperbaiki wajahmu

dengan lilin lebah mendidih. Ia tak mampu

menghapus bekas goresan luka pedang Hussite

di pipi yang sudah kering dari peluh dan garam itu.

Kau dan Anakmu termenung di sana, memberi

penawar sakit pada orang-orang Czestochowa.

Ketika Hussite merajah kau rela dilukai

seakan bersabda “tusuklah aku.

Aku memang hadir di dunia ini untuk ditusuk-tusuk.”

Basilika Jasna Gora, Czestochowa, Maret 2017


Warszawa

Teruntuk surga yang porak-poranda.

Ibunya, berteduh usang, ditopang kemarau wahyu Noah.

Kota ini

semacam abu dari api dan tulang

yang dibangun kembali. Puingan bata itu

masih menangis.

Derai makam bercoreng bintang David

berkisah tentang jeritan

di mana rumah ibadah, ogorky, Chopin dan roti

menjadi pahlawan negara.

Semacam sajak penjara

yang terlahir kembali

dari mata letih para rabi yang masih terluka

setiap pagi, setiap tanggal 27 Januari.

Warszawa, Maret 2018


Orang Telanjang dari Vilnius

Kami, sepasang lapar yang terus

terluka dan menyeru sembap di pasar Kalvariu Turgus

dan sepi. Pasar yang bergerak seperti rasa lapar dengan

mulut putra altar masih menjerit-jerit

di langit, sayap kabutnya terus mengepak. Abu katedral.

Abu sinagoge. Abu sungai Viliya. Abu doa-doa. Abu gunung.

Berhamburan

ditampung mulut sepasang tentara yang terus mengisap

dalam puntung rokoknya. Nyala api di tiap isapnya mengandung 

nyawa-nyawa yang bertempik sedih terperangkap.

DiriMu. Tak hanya diriMu.

Jejak proklamasi yang merampas organ tubuh dan ayatMu.

Salut senapan dan derai baja merampas sunyi

menimbun Kaunas. Trakai mati dalam kenangan abu,

dirajah salju. 

Penjual nyawa di kedai itu menyeringai pohon cemara

dan kandil lilin

“Tiada natal tahun ini. Kristus tak berulang tahun hari ini.”

Aih, kini Ia sedang beragama apa? Beretnis apa?

Kau merah. Kau marah. Letusan bedil

menyunamkan peluru pada yang rindu dengan kayangan.

Aku melepas pasak paku yang ditanam di kedua telapakku

dan tak bisa tersenyum.

Sebab aroma mayat yang menguap

dari alun-alun Stebuklas membuatku merasa Kau tersesat dan mati.

Sedang mereka yang tergelepar, rindu pada ayat-ayat merdeka.

Kau pikir mereka mati?

Mati itu takkan menghentikan doa.

Dan Vilnius, Santo Casimir adalah nyeri

yang berbau mesiu, dikoyak menjadi bersimbah dan pemancar radio,

berabu dan berselubung kain kafan. Bunga-bunga di tamannya

bisu oleh merah. Merah darah. Merah nabi-nabi para tentara.

Surabaya, 22.05.2020.

Mengenang kota Vilnius yang dikunjungi 2018 silam.


Malam Kaca Pecah

Malam lengang, bukan salju merepih di jalan

tetapi tabur kaca, memangku jasad

beraroma kaca.

Mereka yang berbedil berkaca dalam darah,

berkaca dalam mata gugur

yang masih menitik gerimis debu.

Tallit terhempas menyelubungi nyeri Danzig,

mengkafani abu Talmud dan Tuhannya Abram.

Dan mereka yang berbedil selalu ingat

Tubuh-tubuh roboh itu adalah pogrom yang berdoa,

darah yang berdoa. Kaca-kaca yang merintih dalam doa.

Surabaya, 7.12.2020

Mengenang peristiwa pogrom di kota Danzig dan Aachen


Mazurka[1]

Warzawa, kau bertanya aku ingin mati

dengan cara apa.

Aku ingin mati dengan deruman tembaga

plac Kanonia, dan Zygmunt terlilit matahari

memerintah dari tubuh granitnya

dengan suara berdendang mazurka.

Vistula belum cukup menampung air mata

serta abu kawanku yang bersabung dengan elang.

Elang-elang itu memangsa surga dan bangkai,

dworek, bunga madat jagung para ibu.

Darah berbuih di udara. Bertuba mencari mangsa.

Angin menggisar dan daun duduk di beranda,

menatap tubuh-tubuh tanpa keranda.

Karena itulah kau harus mati, Warszawa,

supaya aku tetap bangkit

menjadi abu-abu kisruh ini,

menjadi misa arwahmu ini.

Surabaya, 8.12.2020

Mengenang Fryderyk Chopin, komposer kelahiran Zelazowa Wola, dekat Warszawa. Ia meninggalkan tempat kelahirannya ketika pemberontakan terhadap Rusia meletus di Warszawa. Beberapa temannya ikut berjuang, ia pergi sebagai ekspatriat ke Paris.


Philosophenweg[2]

Kota itu adalah wanita dewi Alcestis yang kedua buah dadanya

dibelah oleh sungai bernama Neckar. Matahari tak segan berkaca

di sana, kapal-kapal bermotor mengarungi sembari orang-orang

bersimbah Bitburger dan Bratwurst berasap. Bata-bata

sepanjang sungai membekukan waktu, berayun-ayun naik dan turun

ditelan Rathaus tua, toko-toko dan gereja yang beku, terbujur kaku

dan dibalsemi oleh wali kotanya seperti mumi Tutankhamun.

Lengket panas udara mengingat Schiller yang menggandeng

lengan Goethe di jembatan usang bertabur gulma, di situ

para filsuf bertanya mengapa bunga-bunga itu indah.

Waktu itu alun-alun kampus berbanjir para pelajar

berbincang tentang Klausuren, kopi dan sepak bola, berhambur

dari Heilgeistkirche dan kafe-kafe yang menyuguhkan

puisi, ledak tawa dan duka Jerman. Hari itu ada orang mabuk

yang menubrukkan truknya di pasar kota lama.

Sepasang kakek dan nenek duduk di bangku halte, menunggu bus

menuju ke Elysium, bersenandung

“teruntuk bahagiaku” “Toll! Toll!” seru kakek itu dengan pembuluh

di kepala tersumbat oleh busa bir dan air mata.

Si nenek yang mencintainya itu terus mengajaknya berbincang

tentang bus surgawi yang mereka tumpangi, melarikan diri

dari para filsuf Heidelberg yang tersesat dalam rimba

yang ditanam oleh para pemimpi kemerdekaan

tiga abad silam.                                              

Puncak Heidelberger Schloss, April 2018


Bella Ciao!

Copernicus dahulu bersetapak dan menimba sumur bintang-bintang

menenun dunia baru di Piazza Maggiore dan lapangan membentang

Alma Mater Studiorium. Manusia berkepala cahaya, jepret kamera,

bekur dan kepak sayap burung dara, peniup buih

dan pengemis bergumul menjilati gelato warna-warni

dan para pelajar duduk melingkar di jantung Piazza, bersenandung

O partigiano, portami via
O bella ciao, bella ciao, bella ciao, ciao, ciao!

Dahulu hanya pangeran dan kardinal yang bersekolah di sana,

kini Piazza dan jalanan dibanjiri mereka yang terbuang dari perang

seperti sampah, lari dari letup bedil dan ledakan ayat suci.

Para pelantun lagu itu takut jika hantu Mussolini

kembali mengintai orang-orang buangan,

jika Caesar dan hantu Romawi-nya kembali bangkit dari kubur,

jika angkuhnya dan keagungan oranye, pohon ara, zaitun

dan matahari Italia menghunus pisau pada mereka.

O bella ciao, bella ciao!

Piazza Maggiore, Bologna. Maret 2018


Renungan tentang Friedhof [3]

Kemarin, ilalang itu masih berdarah hijau,

berdansa bersama angin membentuk sketsa bumi.

Taman ini kini megap-megap berjuang hidup, dipenuhi oleh keriput kering dan uap air mata duka bunga-bunga, yang meratapi kawan dan sanak saudaranya yang nyawanya baru tercabut oleh desau liar angin, menebar lara pada jarak.

Di bawah kalut mendungnya langit yang berkabut, paras elok alam sirna diperbudak waktu, dan suatu saat ia akan terlahir kembali dengan watak dan wujud yang lain, yang belum pernah kau lihat sebelumnya.

Gugurnya daun adalah segenapnya menjadi tua dan sekarat, dan langit yang penuh iba itu tiada kuasa berkabung dalam fajar, menabur dingin di tanah kuburan yang damai.

Auranya sesal, lelah dan sakit-sakitan.

Pohon ini, ingatnya, disampiri oleh daun maple yang teduh. Kini gersang, layu menjadi benalu pertiwi. Gugurnya daun berdakwah pada kita, bahwa kita adalah rumpun alam yang dinamis, dihantui siklus yang fana, kerdil mengerdil di hadapan semesta.

Apa arti diri dan kuasa manusia sepadan oleh alam sendiri yang sanggup melahapnya setiap saat, yang sanggup membusukkan harga diri bergemerlapan bagai kejora itu semasa hayatnya menjadi bongkahan daging dalam tanah, yang lalu mengasupi benih-benih bunga dan pohon yang baru hinggap?

Betapa tercengangnya ia, bahwa batang pohon Eiche di pekarangannya mengandung jiwa banyak manusia yang sudah mati. Dedaunan yang tumbuh dan berkeriput dari gairah dan sakitnya, derita dan tawanya. Dan jikalau pohon mengembuskan oksigen untuk paru-paru, tidakkah berarti tiap tarikan napas adalah bagian dari diri manusia terdahulu.

Bukankah kita jua menghirup desau napas Plato yang diembuskan ketika mengajarkan indahnya dunia, desahan kecewa Caesar sembari bertekuk lutut di Galilea, dan embusan penuh kasih Sang Penebus, para nabi dan para imam yang berkhotbah pada umatnya di awal zaman?       

                                                                                                                                                                                                      Musim gugur 2018, Friedhof, Jülich.


Mengenang Perantauan di Jerman

Untuk setiap manusia yang teralienasi. 

/1./

Lonceng gereja putih menyetubuhi angin subuh,

kumandang landai salat membelit langit

Düren terbengkalai. 

Orang turun dari kereta ketika ingat mencari ramai. 

Orang terjun ke rel seperti debu, ingin lupa pada ramai.

Ramai Aachen yang berkerudung abu knalpot bus merah.

Ramai Köln yang memabuk pada sungai kelabunya.

Ramai Düsseldorf yang menyajikan tawa teh boba

dan lengang besi-besinya. 

Di taman kuburan nan damai itu. Di Friedhof.

Mayat-mayat mengantuk diselimuti bunga-bunga

anyelir dan dilintasi para pelari.

Nisan-nisan tegap itu bertuliskan : Mati diminum Pilsner.

Mati dicekik anggur merah. Mati dilahap Bratwurst.

Mati marah-marah pada orang Turki. Mati dicabik-cabik

mimpi perang. Mati bermimpi nyeri kamp konsentrasi.

Mengapa mataku masih melihat

hantu perawan remaja tersedu di nisannya

menyayat-nyayati pergelangannya yang tiada?

/2./

Masih saja kah tentang lubang menganga itu, Berlin?

Kau berseru lantang: “Enyah kau semua, dunia,

orang-orang, dewa-dewa, hakim alam baka,

halte bus berbanjir kendaraan, gedung koran yang angkuh!”

Semua tahu bahwa nyawaku bahkan tak seharga karcis.

Mereka maniskan hari-hari muda dengan video pendek

penuh permen atau dengan bau pesing Pilsner,

uap rokok menjuntai dari mulut orang Oman

di stasiun kereta penuh graffiti. 

Aih, rindu diriku pada kolam dangkal, utopia cepat saji ini.

Hiasi dinding rumah mayamu dengan kata-kata mutiara,

ciuman sayu nan modis, serta foto dirimu

dan pacar cantikmu, bangga telanjang disepuh emas,

mabuk berlinangan oleh peron dan aspal acuh. 

Katedral Berlin masih tegap dingin dan kosong,

seperti dinding yang disemprot pelangi itu.

Ia membekukan jeritan tahun 1989. Mangkuk penampung

jeritan timur dan barat yang berpilin. Jeritan sungai.

Jeritan abu. Jeritan senjata api. Jeritan merdeka.

Jeritan heroin. Jeritan menggebu sepak bola. Jeritan pahlawan

kelamin Schönenberg dari tepi laut seberang. 

Tetapi tetap saja bocah Jerman-Syria melangkah ke jalan.

Ia menjerit dengan air mata peluru senapan. 

Runtuhnya dinding mengkhianati darah pasirnya.

“Aku terlahir sebagai orang Berlin! Aku tumbuh di jalan

orang-orang asing yang dikurung dinding.”

Mengenang korban serangan teroris di Berlin dan Munich tahun 2017 silam. Mengenang orang-orang yang melarikan diri demi merdeka ketika Berlin masih terbelah.


Requiem Buruh Pabrik dari Carrickfergus

Terinspirasi dari balada rakyat Irlandia yang diterbitkan di abad 19, berjudul “Carrickfergus” dan “On The Dawning of The Day

“Apa kabar anak-anakku?” sahut abu diriku yang tenggorokannya

masih terbakar dan terlilit wiski basi, dan kaki itu

mengayuh roda hingga menjadi bulu. 

Puisi rindu yang ia hadiahkan kini rusak dirayap. Ia tak ingat

bunga anting-anting lembayung

seperti senja yang ditanam Carrickfergus, air mata Tuhan itu. 

“Apa kabar diriku?” ia hanya ingat namanya

adalah roda-roda, yang lama-kelama menggilis bibirnya.

Ia hantu yang terjebak di dinding pabrik,

jarum jam pingsan yang terus berdetik, matahari yang terus

terbenam terbit.

Adakah letih dan duka di dalam seorang matahari? 

Di ujung jalan, Brick Lane yang menganga di mulut malam,

telinganya tampak sebagai calincing kupu membalas dendam.

Kupu-kupu hitam legam. Mungkin kupu itu haus,

haus beterbangan sampai kiamat nanti. 

Kau, anak-anakku, sungguh ingin menangkapnya.

Tapi yang kau tangkap hanyalah suam-suam debu mayat kelelahan. 

Malam itu hening. Meradang ke dalam sisa tidurku.

Dalam hening kusimak malaikat yang tak kukenal

berambut hitam, merajut doa yang berpuing keping,

menjerit: mereka memberontak pada makam-makam

yang berkisah tumpukan abu yang rindu

pada laut merdeka Belfast dan retak dedaunan. 

Andaikan jasadku terbenam di Carrickfergus,

surga yang merintih dengan lagu laparnya itu.

Surabaya, Juli 2020


Sarita Rahel Diang Kameluh, lahir di Surabaya, pada tanggal 10 April. Menempuh pendidikan di jurusan Teknobiomedik di FH Aachen, Jerman. Beberapa karyanya tersiar di media daring dan cetak.


[1] Jenis lagu rakyat Polandia untuk berdansa.

[2] sebuah jalan tua bersejarah sepanjang 2 km di kota Heidelberg di dekat kampus utama, membelah dua sisi kota dan mengarungi sungai Neckar. Jalan ini terkenal sebagai tempat diskusi, merenung dan perolehan ilham para filsuf Jerman ternama.

[3] Friedhof dalam bahasa Jerman berarti “kuburan”. Di dusun Jülich terdapat lahan kuburan yang teduh dan penuh bunga-bunga, mirip dengan taman. Di lahan itu terdapat gereja tua kecil bercat putih dengan menara lonceng menjulang.

Puisi

Puisi Eko Setyawan

Membincangkan dan Mendengar Kitaro: Theme from Silk Road

kau susuri gerbang kematian.

diiringi tangis, juga doa-doa,

lewat bau dupa.

seseorang menghidu bau kehilangan,

seorang yang lain menenangkan,

dan seseorang lagi memalingkan muka

sekaligus mengamini (karena benci?).

akan ada raung sirine

mengiringi kepergian yang tak tahu kapan kembali.

kembali, barangkali sepiring kwetiau atau  mapo doufu di mangkukmu

dan kau lupa melahapnya

sebelum benar-benar pergi.

tibalah waktu kremasi.

di krematorium, segala yang kau punya, segala yang kau miliki,

lenyap.

terbakarlah tubuhmu menjelma abu.

—“kapan waktu terbaik reinkarnasi?” tanyamu.

barangkali ketika karma tak lagi menimpamu.

hingga akhirnya, kau tahu orang-orang yang menangisi, mencintai,

dan membencimu di Thiong Ting hingga persemayaman terakhirmu.

—“mengapa?”

sebab, karma adalah bom waktu.

meledak ketika kau menyadari bahwa kematianmu

tak lain adalah hal yang paling kau tunggu.

setelahnya, hanya tinggal kesedihan semata.

kepergianmu menyisakan duka.

tapi kesendirianmu di ‘dunia lain’

ialah kedukaan sesungguhnya.

matimu, menyusuri jalan ini.

hanya ada sunyi. hanya ada sepi.

(Karanganyar, 2021)


Membincangkan Kemalasan yang Kian Akrab

pernah kujumpai kau dalam lelap.

ketika kau bermata puisi dan bersuara minor.

seperti Buddha tidur,

tak dapat kubaca apa pun

selain puisi-puisi yang kulihat

dan suara yang jauh.

sama halnya di bukit Khao Kala,

tak ada yang benar-benar mustahil.

sebab manusia tak selamanya bicara tentang manusia

tidur tak ubahnya upaya telepati

antara aku, kau, dan ‘ia yang lain’.

atau, sebatas alasan

agar tak terjaga tiba-tiba.

kemalasan kita,

tak terlihat dan tak bernada.

tapi, aku masih setia mengeja

dan tentu, mendengar apa-apa yang tak bersuara.

mimpiku, mimpi paling lengkap

ketika kudapati kau membaca puisi

dan berkhotbah ihwal cinta,

juga pernikahan yang biasa-biasa saja.

(Solo, 2019)


Membincangkan Perpisahan

kata-kata belum selesai disusun

ketika kereta membawamu pergi.

aku memanggilmu,

punggung menjauh yang menjawabku.

ia berkata ‘cinta’

tapi tak tahu cinta macam apa

yang dikatakannya.

semula, kau meminta pergi

tapi pergi, bagiku, ialah memecah waktu.

menjadi remah jumpa

juga jadi air mata setelahnya.

di peron, seekor burung berkicau

merapal namamu.

tanpa nada. tanpa suara.

kau telanjur pergi,

kata cinta yang harusnya kumaklumi

tiba-tiba jadi belati.

mencacah ingatan.

menjadi debu. menjadi batu.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Pernikahan

sejak orang-orang mulai menyusun rencana pernikahan.

semenjak mereka menginginkan.

aku memilih memejamkan mata.

            : untuk tidur lebih awal.

bahwa pernikahan nisbi sebuah agama.

kita bisa saja memeluknya.

namun tak bisa memaksa mengamini.

kelak suatu pagi,

aku dan kau

pergi ke tempat di mana kau biasa memanjatkan doa.

kau memegang kitab suci dan membacakannya untukku.

di hadapan Tuhanmu, kau merapalkan untukku:

Tuhan, ampunilah segala perbedaan.

lantas kusampaikan pada Tuhan,

kami kelaparan

: pelukan.

(Karanganyar, 2018)


Membincangkan Rencana

yang tak dapat kita tata dengan baik adalah rencana.

sebab setiap detiknya, seperti jantung yang bekerja.

berhenti sebentar, mati akan mengunjungi.

sebelum benar-benar kau pergi,

lipatlah kedua lenganmu.

di sana, telah kau rengkuh aku.

mengapa kita masih saja bercakap?

keputusan bukan keputusasaan.

kita berbicara dan masing-masing dari kita

bebas bersuara. dan tentu, bertukar isi kepala ialah jawabnya.

langkahmu langkah yang limbung.

seperti lelaki tua yang mabuk.

anggur merah, jamur, dan sedikit obat sakit kepala

tak bisa menyelamatkan perjalanan kita.

sebab hanya pikiran kita, dan mungkin, cerita-cerita

yang benar-benar mampu memperbaiki keadaan.

tak ada salahnya mengumandangkan omong kosong.

sebab dari sana, cerita-cerita bermula.

kelak, rencana yang kita susun

tak selesai di kata rencana.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Mimpi

langit, kadang jadi laut.

menampung gelisah sekaligus amarah.

seseorang datang dari masa depan berseru,

“gantungkan cita-citamu setinggi langit!”

seseorang itu lupa bahwa Tuhan ada di sana.

cita-cita, hanya dapat terwujud

jika kau kenal Tuhan.

Ia telah mengenalimu

sebelum kau ada.

apa kau demikian adanya?

mimpimu menggulung.

mendamparkan ke tepian.

takdir, barangkali air pasang.

ia menyisihkanmu.

agar kau tahu,

mimpimu ialah aku, kau,

atau sesuatu yang sebenarnya

tak pernah kau kenali sebelumnya.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Suara di Ponselmu

“lekas pulang.

ibu sudah memasak makanan kesukaanmu.”

suara itu masuk ke ponselmu.

di kepalamu, meja makan menanti kedatanganmu.

nasi hangat, sayur bayam,

juga sepotong ingatan yang memudar.

kau mengambil sepiring nasi.

kau mengingat bentang sawah

dan di sana masa kecilmu kau habiskan.

kau menuang kuah sayur bayam.

tapi kau tenggelam.

dalam. semakin dalam.

tenggelam pada hati ibumu.

kau membaca ingatan yang tersisa.

ibumu, telah lama tiada.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Teka-Teki

kau melipat puisi

menjadi subuh.

di langit,

cahaya tiba dibalut suara.

rumah kami porak-poranda.

seseorang, atau beberapa,

mengirim bencana di halaman kami.

kami memungut air mata yang tumpah.

kau memungut tanah.

mereka menjanjikan sumpah serapah.

di langit kami,

cahaya bisa saja jadi neraka.

malaikat tiba begitu terlambat.

rumah kami kadung musnah.

di halaman rumah kami,

Tuhan sedang menyusun teka-teki.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Barzanji

: suara anak-anak Palestina

pernah kudengar gema di langit

dan setelahnya, kembang api mekar.

seketika seluruhnya sirna.

rumah, mimpi, dan kebahagiaan perlahan susut.

runtuh dan gugur satu demi satu.

kuucap dan kurapal doa. tak henti-henti.

tiap detik, tiap menit, tiap detak, dan tiap embusan napas ini.

agar di sini, di tanah ini, kami bisa berbahagia.

kebahagiaan, adalah ketika kau diberi harapan

dan apa yang mereka beri bukan semata janji.

kadang, harapan hanya semata sesaat legawa,

tapi di hari berikutnya, mimpi itu pupus dan kembang api, lagi dan lagi menghujani.

sebab di sini, di tanah ini, ego jauh lebih penting daripada nyawa kami.

mereka menyerukan perdamaian

diiringi dengan mesiu yang terlontar dari senapan.

mereka menyerukan kekerabatan

diiringi kehancuran yang sengaja mereka kirimkan.

tapi di sini, kami tak menanam benci.

sebab hanya Allah yang berhak menghakimi.

hanya doa dan pinta yang tak ada jeda

tiap detik, tiap menit, dari bibir dan hati ini.

juga tak henti kami lafalkan barzanji.

sebab hanya Allah yang mampu melindungi dan menyelamatkan kami.

(Karanganyar, 2021)


Membincangkan Kunjungan Batara Kala

1/

seandainya bencana itu tidak datang, Kunti

barangkali langit akan tetap bergema dan kegelisahan-kegelisahan

yang menyelimutimu tak akan sampai membuatmu putus asa.

sebab dalam kebencian yang telanjur menyebar,

semua harapan yang telah kau bangun pupus.

Batara Kala telanjur tiba.

ia datang entah sebagai hukuman atau ujian.

keduanya tak ada beda.

seluruhnya membuat sengsara.

2/

perang, juga pagebluk,

adalah bentuk lain dari doa yang gagal terjawab.

Kuru telah jadi ladang perang.

kunjungan Batara Kala menjelma kutukan.

ia tiba sebagai wabah yang menjalar.

dalam hatimu, semula ialah taman bunga.

anak-anakmu hidup dan tumbuh di dalamnya.

tapi tak berselang lama, bunga-bunga di hatimu layu.

sebab tabiat anak-anak yang tak sesuai kehendakmu.

—pageblug mayangkara murup mulat-mulat.

3/

kegelisahan bukan hanya semata dalam dirimu, Kunti.

: hati Durna tak jauh beda.

kedamaian pada dirinya menjelma api.

disulut perangai murid-murid yang tak tahu diri.

kini,

kenyataan harus kau terima.

sebab, di seberang sana,

serapah dilafalkan agar kematian lekas datang.

sementara di sini, di tanah yang kau pijak, tak jauh beda,

doa dirangkai sebab benci telanjur tumbuh di hati.

agar kelak, Pandawa berjaya dan Kurawa sirna.

—apakah maksud kedatanganmu Batara Kala?

4/

pertanyaan, adalah jawaban dari tak sempurnanya doa.

dari sana, pertanyaan yang terlontar ialah jawaban itu sendiri.

jawaban tak ubahnya kepingan teka-teki.

bukan hanya kau yang mengajukan tanya, Kunti, Durna juga

: ia tak paham kenapa.

Pandawa dan Kurawa,

tak ubahnya seperti burung yang tak mengenali jalan pulang.

selepas kunjungan Batara Kala.

mereka lupa muasalnya.

lantas Kurusetra membara.

Batara Kala telanjur tiba,

perang dan pagebluk kini nyata di depan mata.

Kunti, kau harus ikhlas untuk seluruhnya.

(Karanganyar, 2021)


Eko setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), & Mengunjungi Janabijana (2020). Buku puisi Mengunjungi Janabijana memperoleh penghargaan Prasidatama 2021 dari Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Antologi Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa baik lokal maupun nasional.

Puisi

Puisi Nafi Abdillah

Tasbih yang Mengepung Kiai As’ad

Usai dawuh Kiai Kholil yang menggetarkan tembok-tembok tempat segala yang tinggal,

butir-butir wirid yang sering berputar dari atau pada wajah-wajah yang serba kias,

mengepung lehermu juga.

“tolong sampeyan antarkan ke tanah Jombang!” begitu kira-kira.

***

Bukankah untuk mencapai haq, kau harus menjadi basmallah dahulu?

Namun, kau tak perlu memahami apa pun, meski itu bukan berarti tak harus.

Sebab napas yang kauembus bukan dari gerak udara dalam parumu.

Sebab kata yang kaulontar bukan dari endap akalmu.

Kau memerlukan wewangian yang tidak terendus oleh hidungmu

sekaligus tanpa memikirkan jenis-jenis pohon yang berbiak.

Barangkali, itu bukanlah berasal dari daftar kitab yang perlu kaubaca.

Tugasmu ialah menjaga tangan santun agar adab tetap seperti bulir air mata

ketika kau merasa berdosa atau kelewat bahagia.

Bahkan, di kedalamanmu telah kaukungkum seluruh keredak api dan perigi.

Semuanya mungkin kaumaksudkan agar tidak ada yang tiris ke dalam makrifatmu.

***

Berderaplah melebihi batas, menjauhi riam,

perasaan janggal, dan batu-batu besar Gunung Geger.

Sementara denting waktu sama halnya wirid jantungmu

yang kerap lupa menyumbat celah-celah cahaya,

mengakibatkan jari-jarimu tak berani menghirup misik

walau sekelebat, apalagi menyentuh.

Ujian, barangkali adalah makanan siap saji bagi perut-perut setan.

Namun sejak awal telah tak kaudengarkan lenguh-peluh

yang sengaja mereka serak-serakkan untuk mengoyak imanmu.

Hinggalah segala lengang terasa lekat begitu saja seperti digulung oleh waktu.

Di atas latar Teburing, tetes keringatmu adalah ritus bagi senyum merdu Kiai Hasyim.

Leher tundukmu berlaku sebagai isyarat serta hal terakhir sebelum pamitmu ialah,

“yaa jabbar, yaa jabbar, yaa jabbar, yaa qohhar, yaa qohhar, yaa qohhar.”


Bukan Mbah Moga yang Menundukkan Banjir

/1/

Di rusuk kali Paingan, saban hari kehambaan lelaki sepuh itu

dihabisi oleh tangan-tangan usia yang cukup fasih

menanggalkan pujian orang ke dinding-dinding bambunya

yang dianyam dari napas-napas Tuhan. Ia selalu yakin

bahwa segala yang liuk-ceruk-merasuk adalah rahmat.

Ia telah sampai pada maqam di mana tidak ditemukan tafsir penolakan.

Di darahnya, penuh doa yang pasrah seperti rigen petani tembakau

yang berharap dirinya tak rapuh di musim hujan.

Yang ia pahami adalah menjauhkan doa dari fungsi tetes pahala

atau imbalan yang tualang ke tegak gubuknya.

Jauh-jauh hari telah ia betulkan suara-suara serak hati

sebagai rayuan kepada Kekasihnya.

Semua ini tidak diartikan sebagai permintaan,

namun mirip seperti kerinduan Kanjeng Nabi

pada suara lembut Bilal yang tak lagi menyentuh telinganya lebih dari 40 hari.

Sepotong cahaya mulai bermekaran dari dalam ruh

laksana sayap Jibril yang menghalau arak-arakan awan mendung

sewaktu pamitnya Nabi. Segala tafsir mengenai jasadnya,

semata-mata adalah benteng agar benang-benang tipis menuju langit tidak terputus.

Namun, ia benar-benar tak berani memasang dirinya

di tengah-tengah gerombolan kepala yang menenteng sekerat tanda tanya.

Sebab baginya, pengakuan adalah noktah-noktah bencana.

/2/

Malam telah lamat-lamat membelalakkan sepenggal amarah yang berahi.

Tidak banyak yang berani lekat-lekat menatap,

meski telah dijanjikan segala perlindungan:

keris keramat; jubah kadim; songkok masyhur; dan jiwa yang maksum.

Semenjak itu, telah sengaja ia kaburkan matanya

terhadap segala poros yang menyamar.

Baginya, surga bukanlah titik tumpu.

Begitu pula, neraka jauh dari lumbung rasa takut dalam dirinya.

Jika sudah cinta, apakah masih tak mampu menikmati seluruh tangis

atau kobaran api yang bakal membungkam segala gelak?

/3/

Hujan begitu dini menggelar pasar malam. Kali Paingan tak lagi mampu memangku.

Namun, di rusuk Kali Paingan lelaki sepuh itu tetap meleburkan

segala yang telah dipasrahkan meski akan disentuh taring-taring air.

Banjir menjadi sekawanan anak kecil yang tak berani melawan orang tua.

Syahdan, seperti Musa membelah lautan, ia menembus lorong-lorong senyap

yang khusus dinubuatkan untuknya.


Sabdo Palon, Noyogenggong

Usai tubuh menjelma ringkik Sembrani yang tak kasat,

lekaslah kami mengabdi pada roh-roh moyang

tanpa harus berpindah dari ladang berenuk

selama mestika belum terbata mendengungkan sabda-sabda.

Dawuhmu, Prabu,

sudah tak dianggap sebatas perkataan di ujung mata tombak Majapahit.

Sebab setelah ini, tak ada yang lebih luhur lagi di antara asap dan cahaya lilin

serta dada-dada yang tertancap oleh tombak adalah segala tunduk yang taksa. 

Meski dari balik busung dadamu

selalu ada nyala api yang luber menyembulkan berahi atau baur arah angin

tetap saja tak sudi kauminum derai-derai darah dari mata airmu sendiri.

Tapi percayalah Prabu, tak ada yang benar-benar merasakan kematian.

Jika itu berarti kau harus menenggelamkan roh dan jasadmu,

kami patuh tanpa harus melebarkan nestapa.

Sebab di tanah-tanah yang lebih subur

dari tanah yang diciptakan Sang Hyang Wenang,

sejatinya nelangsa menolak dilahirkan.

Saat itu, berawal dari khianat yang terkapai-kapai ke poros tirta amertha bumi

hingga Adipati mengatupkan gendang telinga pada bau-bau darahmu,

tetapi kau memilih bersejingkat dari dalam corong senyap ke arah Cetha

meninggalkan segala derap yang kabur dan suara-suara asing di tengah desa.

Berberita kewaskitaan Kanjeng Sunan,

diajaknya kau memangku kembali tanah-tanah moyang.

Namun tetap tak ada yang bergetar kecuali jiwa-jiwa

yang berlayar menuju telaga penahbisan.


Gajah Mada dan Borok-borok yang Niscaya

(1)

Usai tetes darah yang sengaja dibiarkan tumpah

hingga menjelma riwayat sebagai bibit bagi anak turunmu

hanya dianggap sebatas mestika yang karat,

tetap tak sudi kau keluarkan keredak api lewat sumbumu.

“Lebih baik kuteguk darahku daripada kukotori dengan mata airku sendiri,” katamu.

Telah kaupatahkan segala murka yang pelan-pelan mulai bongak pada tirta amartamu.

Kau selalu bersikeras mendekap tulang-tulang Majapahit.

(2)

Semua berawal dari pada rapal yang diadu domba,

yang terus-menerus melekat di tiap-tiap laku,

menjadikan bau-bau mistik tak lagi lapang,

mengakibatkan pucuk-pucuk keris

kelu mendengungkan sabda sebagai usaha mengasah perlawanan.

Seluruh kerajaan merasa tertimpa tempayan nanah

meski kehendak tak pernah melengking dari kidung seluruh arah mata angin.

Namun kau tetap dibentur-benturkan oleh ucapan nanar

yang menyat dari atau ke kecipak waduk Gajahmungkur.

(3)

Setelah Bubat yang tak diinginkan oleh sesiapa

dan belalak mata yang meninggalkan noktah-noktah bencana,

jiwamu mengerucut, merajut benang-benang tipis menuju niskala,

memasrahkan jasad dan rohmu lebur:

lebih tipis dari asap, lebih sunyi dari bisikan.


Menemukan Jati Alas di Selatan

Kalam langit yang tertiup membawa kakinya memijak tanah-tanah Pamantingan.

Gegaslah ia bersila dikelilingi potongan-potongan titah.

Pagi belum usai mengepulkan asap dari kobaran-kobaran api

yang menguar dari dalam celah-celah jati alas.

Sedangkan malam serupa kematian yang sempit dan tak tanggal oleh kebiri waktu.

Kanjeng Sunan meleburkan jasad sebagai tirakat

melewati benang-benang tipis menuju Sang Hyang Agung.

Sebab, resah dan tulah hanyalah sebatas berenuk yang busuk.

Hingga diutuslah Cemara Tunggal menggetarkan suara-suara serak

dari tempat lengang pun juga tak lekat.

“Wahai Kanjeng Sunan Kalijaga, kembalilah menuju selatan.”

Derap-derap langkah dan napas-napas malam tumpah juga pada Gunung Pati.

Di tangan kewaskitaan Kanjeng Sunan, kera-kera mampu mengaburkan diri

dari belalak sepasang mata dan amarah yang berahi.

Sebelum  waktu mencacah jiwa, batang-batang jati telah patuh pada kecup doa.

Dengan detak-detak tangan yang terdengar parau

dan lenguh-peluh yang diasingkan dari tubuh-tubuh, 

jati alas berhasil menancap sebagai saka guru.


Dengan Mengenakan Namamu, Muhammadku

Namamu mendengung dalam pengasingan.

Muasal namamu adalah pakaian bagi jiwa-jiwa telanjang.

Kau kampung halaman yang dirindukan oleh perantau nanar

sebab pulang terbuat dari jarak dan gelisah.

Dari namamu, semesta mampu merentangkan lengan

dan Jibril sanggup mengepakkan sayap.

Setelahmu, tubuh-tubuh memerlukan bumi.

Menampung tetes darah dan deras hujan yang mengguyur mata.

Telah kau siapkan ladang-ladang subur sebagai tempat bercocok tanam.

Tapi besi-besi lebih suka aku kibarkan di atas tanah-tanah basah.

Memang semula berawal dari badai kegembiraan

yang datang  bergantian di musim-musim cerah.

Namun cuaca telah berpindah haluan.

Maka saat ini, yang aku perlukan sebagai arah kembali adalah dirimu.


Di Balik Yarmuk

:Khawlah binti Azwar

Dari Yarmuk, matamu mata pisau melewati batang-batang tamr

dan butir-butir pasir menuju ke sebuah muara di ujung jejak-jejak kaki.

Di belakang punggung mereka, kaurangkai napas-napas

menjadi doa yang berarak memenuhi mega-mega.

Selalu kautorehkan percik-percik air terjun

dari dalam matamu ke atas bebatuan keras

sebelum luka menemu cahaya fajar.

Sebab Dhirar, kau harus merelakan tubuhmu bergetar oleh sentuhan cahaya matahari.

Mungkin kau tak pernah dianggap sebagai gema di kedalaman gua Hasa.

Sebab, di depan zirah orang-orang Romawi telah kautandai arah mata angin

yang menjadi titik temu antara darah dan nanah.

Namamu, seperti tangga langit yang seluruhnya berupa nyanyian serak

hingga berjatuhan air mata malaikat menjadi danau-danau kecil di tengah gurun.

Maka, angin menggiring ringkik kuda menuju getar-gemetar benteng Byzantium.

Tak pernah kau mengerang meski kaudengar deru-deru lonceng besar

bisa mengatupkan gendang telinga.

“Wahai putri-putri Himyar, keturunan-keturunan Thubba’…”

Suaramu merubah pucuk-pucuk pedang hingga kastil menggigil sekali lagi.


Surat ke 18 yang Jatuh ke Bumi

/Haq/

Adakah yang lebih melegakan daripada patahku

dari ranting-ranting Arasy menuju Jumat yang mengerdilkan seluruh kabar haru?

Atas derma-Nya, aku lemparkan dusta jauh dari hadapmu,

kutiupkan wirid-wirid haq ke dalam semesta dirimu.

/Rida/

Akulah pelita yang membimbit potongan-potongan titah

di tengah daur yang payah, di antara masa yang pasrah.

Tuntunlah kepalamu agar terbenam dalam karib doamu,

sebab akulah pemanjang cahaya yang menyertaimu.

/Tobat/

Umpama kauziarahi Al-Aqsa dan Al-Haram,

dan telapakmu bagai tertancap batang-batang tamr dan duri-duri bidara,

biarkan lengan-lenganku yang meredam luka dan dendam

sebab di telaga penahbisan, telah kusertakan doa untuk pengampunan-Nya.

/Batil/

Bersama Al-Baqarah, kudirikan benteng Rumi mengelilingi istanamu

sebagai penghalau ketika hasut dan tamak berusaha mencengkeram tengkukmu.

Maka, kumandangkan lafalku pada tiap embus napas yang membentuk hidup.

Peliharalah zikirku dalam tiap detak jantung sebelum mata benar-benar terkatup.

/Cahaya/

Usai deras doamu yang khidmat dan luhur

kubentangkan jalan panjang melewati saf-saf langit yang tafakur.

Akulah persaksianmu, maka, tak usahlah khawatir

walau Malaikat Israfil meniup sangkakala terakhir.


Sebelum Tiba di Bulan-bulan Janggal

Daun malam berkata dengan busur panah yang membidik mata.

Di antara langit yang telanjang, bau-bau kematian adalah mata pisau.

Kehidupan adalah rempah-rempah yang telah menjadi hidangan langit.

Sedang aku hidup di dapur dengan kayu-kayu yang belum dibakar.

Suatu kali aku menyusuri hutan-hutan gelap

dengan langkah yang tidak bergerak.

Hanya jejak-jejak waktu yang terdengar parau.

Aku pesakitan sebab gendang telinga mengatup perlahan.

Hingga tibalah aku di hadapan unggun api,

bau-bau kematian luber, melelehi ruh-ruh yang memar.

Daun-daun malam mengendus dari permukaan

dan menggantungkan napas-napas.

Dituntunnya aku ke telaga penahbisan.


Ketika Para Perindu Duduk di Suatu Malam

Terang maupun gelap adalah jalan-jalan para perindu

yang tidak pernah abai dari fitrah alam semesta.

Rindu adalah kobaran api yang menjalar hingga terkoyak jiwa-jiwa sunyi.

Tapi mereka tidak mengultuskan pengakuan diri.

Oh, Perancang kampung halaman.

Biarlah nyiur seruling para perindu luruh pada pangkuan-Mu,

sebagai bongkahan es yang tidak bisa mencair kecuali sebab titah-Mu.


Sang Penunjuk

:USC

Dingin malam membekuk tubuhku.

Lalu kata-katamu muncul sebagai akar dari pohon,

tumbuh, bercabang, dan berbuah menjadi cahaya pagi.

Kata-katamu terbit dari langit.

Di persimpangan menuju bulan pernuma, ia tidak tenggelam.


Nafi Abdillah, menulis puisi dan cerpen.Seorang pembelajar di Padepokan Sakron dan bergiat pula di Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar dan Forum Malam Sastra Pandawa. Karya-karyanya pernah tersiar di beberapa media cetak maupun online dan beberapa kali menjuarai ajang perlombaan menulis. Penulis bisa dihubungi melalui surel [email protected] atau akun media sosial Nafi Abdillah.

Puisi

Puisi Joko Rabsodi

Tak Mampu Mengalihkan Perhatian Tuhan

Rey, kita gagal guna menyunting satu kisah

jalan timpang menamatkan tadarus perjumpaan

kita lalui, berulangkali dibenahi tak ubahnya

menyulam petaka dalam tubuh sendiri

sukar dipercaya kita melangkah dalam satu kemungkinan

merubah nasab dari nasib yang diimpikan

menjenguk waktu dari dongeng diary milikmu

empat tahun lama kita mencair persis marie-pierre curie

yang tak tergundahkan

Tak ada yang bisa mengurungkan qada` berjuntai

semangatmu jua tak bakal mampu mengalihkan perhatian

tuhan, kita berhala di tangan ibrahim

terkulai dalam cakaran maut mematikan

Sesal tak perlu kau tambatkan pada sekuntum mawar

engkau pasti mengerti apa makna mawar dalam qoidah 

cinta, ia terlalu banyak meneguk lara

sesampai di istanaNya, ia akan redup dalam goresan cahaya

yang kelud

­­­

Dirimu perempuan paling kusayangi berasa tanda kutip

istimewa bagi hati dan tak bisa dimiliki

panjang perjalanan yang kita lalui tersungkur dalam kabut

bila masih ada maafmu bicaralah di antara kesenyapan mimpi

yang kusediakan, duduklah dekat hati!

sekilas diam atau bercengkerama sekuat tenaga sekalian tertawa

sekeras-kerasnya, sebab ketika fajar terenggut cerita kita tutup

selamanya!

Madura, 30 Agustus 2021


Luka Simbah dalam Peluk

Hilang sudah hasrat memetik bunga di area pipimu

ada kalimat luka simbah dalam pelukku

setahun kita tertahan dalam jarum jam

bergeming di kejauhan

kabar yang kuterima dari sebuah telegram

dirimu telah punya sasana baru

untuk memacu kasih dan meratap senyum

Sejak peninggalanku dari desamu beberapa kurun

kalimat terakhir yang kau pinta, rawatlah rindu

selama persendian waktu tak tentu

araba paghar, bukti yang ditautkan di hadapan tuhan

jangan sekali-kali kau tumpahkan di atas perempuan lain

morse itu yang kukepal hingga detik ini

Melirik potretmu dari pulau kecil yang kubingkai

seakan senapan laras panjang menodong dari belakang

disadap dari instagram seorang teman, dirimu

benar-benar kehilangan akal besar, menjauh ke seberang

melecutkan gusar secemas serangga jalang

pria yang kau pinang adalah peradaban tua yang diikat dendam

menancap kesan sekadar asapan arang

di luar sana, di tanah rantau, aku yang di pingit kâlâkoan

terikat teralis dan hanya mampu

mengulum amanah yang kau tunggakkan

Setelah melumat kebenaran yang tak waras

aku yang katanya kau cintai, harus melepuh 

di tengah kembang api merayakan pesta perkawinan

begitu banyak kejutan menggilis kesucian ritual

perjanjian yang kita pipihkan pada selok kuning keemasan

tak lagi tenteram bersama putar dulang yang kau sepahkan

tivani, andai aku mengerti tentang diriku yang akan hilang

tentu kutolak hari kelahiran, begitu kutahu tulang rusukku

tidak akan pernah melahirkan tubuhmu, pastinya aku tak sanggup

lagi jadi laki-laki

walaupun harus mati hanya iklima yang bisa menemani

menidurkan rintih yang tak pernah kau sadari

suatu saat kau bakal mengerti aku reinkarnasi habil

yang terhalang rindunya sampai babak ini

Madura, 13 September 2021


Biografi Tulang Rusuk

Tak habis pikir bagaimana tuhanku

mencabut tulang rusuk sebelah kiri untuk

merangkai tubuhmu yang segempal itu

alangkah agungnya batin

menyaksikan tuhan bermain-main di lambung kiri

mencalut dada, mengutus maut membongkar segenap rasa

yang sempat kubuka bagi kaum wanita

harus bilang apa pada tuhanku

kenapa tak kucerabut sendiri tulang itu

kutenggelamkan tubuh ke dasar degup

agar rahasia kunikmati penuh sambil menari

di kubang ruh

Otakku melauh ke serat logika

barangkali jawaban tercecar di sana

tak kutemukan apa-apa, sebercak tanya makin bulat

dengan cara apa tuhan merekayasa

wujudmu menjadi gumpalan berahi

– setiap lelaki siap-siap lumpuh

tersesat dalam gerung retorika

kutemui kebingungan luar biasa

tuhan ada-ada saja, kun-Nya menyandarkan

manusia pada kehampaan narasi yang tak asasi

Otakku merauh ke pangkal tasawuf

berupaya dalam hening, menimbun tanya

pada hati yang tak berkata

o, sama tak ada apa-apa, tapi legat tubuh

bisa kusayam dalam kesempurnaan iman

kedangkalan fikir jadi adonan, tuhan kuasa

semesta mulai azali

            –sampai kapan pun aku tak akan bisa apa-apa!

Tak habis pikir engkau mengepul dari sisi rusuk sebelah kiri

pantas tak ada perempuan yang pasrah kuhubungi dan memang

tidak ada yang mau dihubungi

mulai hari ini duduklah di situ dekat tulang rusuk yang kurang satu

agar rantap segala nyeri

sunyi segera terhenti

Madura, 15 September 2021


Rindu di Tengah Peradaban Asing

Meski jarang sekali bertemu

dalam kuntum bunga yang merekah

senyummu yang tak dimiliki setiap wanita

selalu menggoda dinding hati

jarak selisih 10 tahun kiranya jadi seruan

jenjang perbedaan dianggap mengutip bencana

pikirkan sebelum sejarah melewati riwayat musim

sebelum kalam cinta mendefinisikan warnanya

dalam ijab yang kau pahatkan

Radeena, kita diajarkan cara memilih

menentukan masa depan tiada kecemasan

wangi tubuhku yang menghangatkan napasmu

bukan satu alasan lakon adam-hawa akan terjadi lagi

tahun ini

Aku sepakat dengan jiwa-ragamu

berbekal bismillah, harapan tuhan meridhoi

tapi tanah ini memendam sesajen leluhur

keping langit-bumi perlu disuapi harum melati

janur kuning harus melengkung sebagai pemangku

siapa saja yang berkunjung

Tanda tanya selalu kita hinggapi

mengapa upacara di tanah ini begitu dikeramatkan

bahkan persoalan rindu semata mengikuti sirah rasul

selalu berkilang di antara tanggal baik atau buruk

persis dirimu, aku hanya mengangguk diseret

petuah yang tak kukenal asal usulnya

seakan mengaduk logika di tengah peradaban kampung

yang asing

Tanah ini aku berasal

tanah itu pula kamu kembali

sebaiknya kita bungkuk dalam diagram upacara tanah ini

itu saja!

madura, 21 September 2021


Microphone Duka yang Mendalam

Kamis atau mendekati Jumat manis

perempuan desa menjumput matahari ke dalam pusara

tangis hangus diantar azan tandai pertemuan telah usai

magrib bergetar menyambangi kemboja

bekas al-burdah di telinga kanan-kirinya menyerapi

kaki yang makin keras seiring microphone

menyampaikan duka mendalam

Semua berdiri dalam sesengguk tangis

termasuk anak lelakiku yang dibesarkan

tak mampu mengulas

kata-kata telah diganti airmata

Engkau sudah besar sekarang, anakku

pesannya kemarin engkau jangan jadi sikintan

atau semacam legenda batu menangis

perempuan desa itu tak lagi kuat memeluk

bisikkan ke dalam lamunannya dengan segala cinta

yang dialirkan ke rongga napasmu

dialah perempuan yang menjaring matahari di tepi pagi

mengukus bulan tengah malam demi menuntaskan

ikhlasnya padamu

Anakku, perempuan desa itu tentu tak siap berujar

senyumnya tetap mengembang di antara batu nisan

ia mirip toor pekai dalam kisah malala yousafzai

yang meluluhlantakkan

Anakku, kini ia tak ingin diganggu

sendiri menyepi sembari memungut doa

dari jejak fajar yang hengkang

Madura, 23 September 2021


Rapuh Mencari Jalan Pulang

Cukup lama bersanding dalam ceritamu

satu kerinduan yang tak pernah berhenti

menikmati pendar bidadari lepas

dari kremasi rambutmu

setiap kisah yang kau sanggul

pasti kuaminkan sekadar berlama-lama

dalam penantian panjang

-satu ketulusan Audrey junicka pada papanya

Masih kau lanjutkan kisah melintasi tarian moyang

roma patobin[1] letih memikul usia dan hendak dipugar, tukasmu setelah

menjelang pukul sembilan malam

tak terasa tiga jam duduk kita tanpa makna

tak kutemukan jeda untuk mengunduh di mana hatimu

menyimpan namaku

kebiasaan yang kusesali dari setiap perempuan yang telah

berkembang wanginya; menyisakan kebencian mencorat-coret

dunia fana

Ini bukan semestinya, tulang rusuk yang kau pinjam

tempo lalu telah berganti warna

kau dibesarkan tanpa rasa malu dan mencuekkan

setiap rindu yang datang

praduga yang kubangun terkoyak gemuruh

dan rapuh mencari jalan pulang

hidup seperti menuju kematian

Di tanahku langit berkabung

menyematkan penyiksaan

udara menutup diri dari cahaya

lagi-lagi kutapaki traumatika dalam sepatah kata

;saatnya kodratmu meratapi penyesalan

Madura, 24 September 2021


Kematian Tanpa Kisi-Kisi

Kemarin siang engkau masih membelai rambut kedua anakku

menyisir nyanyian tumbuh di belantara usiamu yang hampir

60 tahun, tembang kancil dan romantika nina bobo kau putar

mendayung masa kanak entah mau dibawa kemana

petuah bersambung mengaitkan jiwa untuk berkunjung

ke peradaban yang agung

dipeganglah kedua jari anak-anakku seakan berikrar

untuk tetap hangat dalam angin dan dingin dalam perapian

Emak, jangan kemana-mana dulu

sebelum sajak anak-anakku tuntas menganugerahkan singgasana

kebahagian itu untukmu dan patut bersenggama dalam

wujudmu, aku tak mau lagi derita hurrem dan suleiman

mendiami petang dan terentang di sekujur mimpi

dan akhirnya terbakar tanpa abu

sia-sia menggebu

Kematian yang tiba-tiba

laksana terompah mimpi

pergi tanpa kisi-kisi

Kaget. Terjerat samper[2] bermotif cokelat menutup auratmu

kidung yaa sin berhamburan membalut kedua tangan yang lemas

tangis hancur membedah asar yang belum selesai

mengapa kau ciptakan mantra yang bisu ketika anakmu dan anak-anaku

meringkuk di ujung kaki

siapa yang akan menghapusnya, kata-kata hampa tertutup luka

senandungku hilang di atas gundukan makam yang menghadang

Emak, kami ikut berduka

di atas puisi yang mengentalkan jasadmu

kami telah melupakan dosamu

dan menyisipkan persaksian baik untukmu!

Madura, 26 September 2021


Kertas

Ingat secarik kertas

dirangkai mirip perahu

dalam hujan kita alirkan hajat

bersama perahu menderulah sungai-sungai

penanda kita akan dikekalkan

mata air suci semacam

Madura, 26 September 2021


Aku Diam Seperti Kronos

Dalam perihal ini perlu terus terang

aku hanya kuasa menggenggammu dalam mimpi

bukan dalam buntalan cinta yang mengambang

rasanya sulit dipaksakan untuk membawamu ke musim yang lain

sesuatu yang mustahil, matahari yang kehabisan sinar

kuganti redup dupa di tengah-tengah perselisihan 

adat kampung yang tak kunjung redam

aku dan kamu replika kromosom tua

yang takkan pernah ditulis karena tinta purna

untuk menyusun bait-bait purnama setelah siang

kehabisan kata-kata

Radeena, bisa saja kita bertemu di suatu meja makan

atau di mana pun tapi kondisi sudah tersuruk lesu

jamuan yang tadinya berharap jadi tumpukan reklame

khusus merekatkan hati justru menggigil satu persatu

meski wajahmu masih dalam dekapan mimpi

dan terkadang  kuimpikan kemarau untuk membajak

setiap lelaki yang ingin berteduh di bawah tidurmu

kau berupaya melesat meninggalkan lara

sayapku patah tak kuasa mengawan

Radeena, skenario yang kita unggah untuk menggores rindu

semula dingin-dingin saja, semenjak ibu-bapak menghangati cuaca

dengan sumpah yang ditandukan ke dalam dadamu

pelan-pelan kau bakar botulinum dan aroma sianida

ke dalam kisah Harold knapke-ruth yang haru

sejak itu kau memintaku diam seperti kronos

memakan cintanya sendiri

kerap tidak ada kabar yang engkau kirim

senantiasa aku gelisah menebaknya

            -kita masih pacaran atau mati tanpa pemulasaran

Andaikan toh aku mati dan jasad menyebutnya pahlawan

batu nisan takkan terima, orang-orang sekitar akan berbagi prahara

tak pantas seorang lelaki muda mati tanpa ekspektasi

tapi inilah keputusanmu, seperti benda padat yang tak bisa

menyeduhi bentuk bangun ruang

Madura, 30 September 2021


Suratmu Sudah Terpidana Mati

Dengan darah yang mencair

segera akhiri perjalanan musim semi”

membaca suratmu sore itu

otakku terbakar memori yang terpidana mati.

Mereka mungkin mengerti mengapa aku ingin

sekali menerjemahkan kedalaman sunyi

sejak kepergianmu tempo lalu banyak sekali

pertanyaan-pertanyaan yang tidak selesai

di meja jamuan, sementara dirimu terus berlalu

tanpa bingkisan jejak yang bisa kukenali

kucoba menuliskan surat lamaran

sekadar mengintrogasi pikiran

di mana sebenarnya engkau teduhkan sedih

tak jua ada tanda-tanda senyummu akan kembali

menyelimuti tubuhku

Madura, 30 september 2021


Joko Rabsodi, lahir di Pamekasan, 11 Juni. Santri yang mengabdi di SMA Negeri 4 Pamekasan, Madura. Karyanya terbit di beberapa media cetak dan daring. Antologi terbarunya, “Akatalepsia, 2021”.


[1]Sebutan rumah induk dari sesepuh juga dikenal tongguh

[2]Dalam bahasa jawa disebut jarik.

Puisi

Puisi Ilham Nuryadi Akbar

Tatkala Ruh Ditiupkan

sebelum kau berenang di badan perempuan

dan diselimuti dinding-dinding rahim

terlebih dulu kau berucap sepakat bulat

nun di alam ruh tempat segala muasal.

setelah kau siap untuk perpindahan

Tuhan menidurkanmu berpuluh-puluh hari

hingga jari-jemari, tulang serta daging berkelindan

menjadi wadah yang siap menjalani kehidupan.

tatkala ruh ditiupkan

sempurna-lah seluruh kejadian

kematian, perbuatan, kesengsaraan, kebahagiaan dan rezeki

menjelma janji-janji yang harus dijalani.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Permintaan dalam Mimpi

barangkali, malam ini kau ingin bermandikan mimpi

menemui aku yang belum tentu menjadi kekasih

pada taman terhiasi bunga-bunga tujuh rupa

tempat dahulu, kau mematahkan janji.

jika kau tersesat

aku saja yang datang menghampiri

sebab alibi-mu laiknya ayat-ayat ketiadaan

pantang untuk berpulang

cepatlah, sebelum kita menjumpai rintik-rintik embun

serta matahari yang menyapa ruas-ruas ventilasi

agar pagi tidak menggema gaung sepi

dan malam tidak menjadi wadah untuk aku merenungi

Bekasi, 30 Agustus 2021


Aku Terluka Kau Tertawa

sapu tangan peninggalanmu

telah aku cuci

terbilas air mata

kering oleh luap jelaga

api kecemburuanku

mungkin ada baiknya

aku sobek menjadi dua

seperti diksi-diksi puisi

yang tempo hari

kau robek sejadi-jadinya

dendam itu abadi

abadi dalam hati

hati kini terluka

penuh retisalya

sedang kau, puas tertawa

Bekasi, 30 Agustus 2021


Dirimu adalah Celaka

sementara ombak belum menghantarkan batu-batu kecil

tulislah nama kita di pesisir basah

dengan kayu atau jari telunjukmu

dengan paku atau kau tidak mau?

mantra-mantra sudah aku ucapkan

agar burung-burung camar

datang menyederhanakan keinginan

atau kau masih ingin beralasan?

setiba di pantai kau nanar

seperti manusia gusar

bingung mendengung

apa kau sedang murung?

kau benar-benar jelmaan celaka,

tak pernah bisa aku selamatkan.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Mengajari

setelah jarum dan benang bersenggama

aku akan menenun jala tua di lemari tua

setelah nirmala

ikutlah berpetualang ke sungai-sungai

menjala ikan, udang, bahkan pemikiranmu yang terhimpit

di celah batu besar.

bila terik semakin pirang

aku akan bergegas pulang ke kandang

sebab lambung pasti mengerang

mengingatkan jam makan siang

maka ikutlah ke tungku arang

menanak nasi, sayur, juga umurmu yang belum matang

di hari pernikahan.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Hasrat yang Asat

kini ia hanya sibuk

menyulam hati di malam hari

dengan begitu hasai.

memantik api di puting obor

menuluhi cahaya pada temaram malam
sebatang kara tak ada yang meminang
sunyi ditimang-timang

hanya jelaga yang menyapa
tak ada renjana
tak ada yang memantaskan
tak ada pula yang ingin memperkosa

ia wanita yang telah terpasung

juga terasing

sebab menanggalkan masa-masa muda belia

memilih jantung hidup yang pantas bagi dirinya

hingga lupa, bahwa ia telah menjadi tua.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Lelaki Hibernasi

tepat di kening malam,

partikel-partikel imaji terbang ke sarang pelangi

untuk memetik bunga harapan

diracik menjadi kenyataan.

tepat di siang hari,

seluruh imaji terbungkus di bawah kasur

mantra-mantra meluap dari dinding-dinding kamar

merindukan malam yang jaraknya tidak sedepa.

sementara itu,

seorang lelaki sibuk hibernasi

berteriak bahwa kekayaan akan hinggap sebentar lagi

namun riak-riak suaranya berbiak menjadi mimpi.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Lekaki Jemawa

bumi bulat, sosialmu saja yang datar.

langit itu biru, hatimu saja yang hitam.

wawasan sangatlah luas, pemikiranmu saja yang sempit.

kebaikan sungguh ada, kejahatanmu tampak nyata.

tergugu tapi gemar sawala

kalut tapi tak sadar

sengaja jemawa demi bangga memamerkan dasi

tapi kau tergugu dalam bersulam diksi

Bekasi, 30 Agustus 2021


Ketika Para Lelaki

Suka Pada Satu Hati

aku adalah makna dan perumpamaan basi

hidup dari hal-hal yang dinujumkan

juga teori-teori gila

hingga semua yang bernyawa menuduhku

sebagai hambar paling ranum

acap kali sumpah serapah

dijadikan kotoran untuk menyertai wajahku

begitulah cara mereka menghadirkan hujan

untuk membasahi bunga-bunga mawar yang mulai layu

mensucikan pipi berdebu

serta lorong mata yang memasung pilu

perselisihan ini telah terjadi

semenjak perempuan berwajah lampion

berambut aspal dan berkulit awan

singgah di rumah yang jaraknya beberapa hasta dariku

seandainya kau yang diburu dapat mengetahui

bahwa ini adalah peperangan

kepada siapakah kau akan bersekutu?

Bekasi, 30 Agustus 2021


Tentang Hijrah

tanpa pernah berdoa ke dada-dada langit

setengah dunia telah kudapati

kendati hal itu menjadikanku berada

aku lebih memilih misteri

ihwah kisah silam

aku telah hidup dari puing-puing cerita purba

namun memilih mati sebelum orang-orang berkata:

dia adalah legenda

semua itu aku lakukan

demi bereinkarnasi menjadi masa kini

menembus dosa-dosa yang disengaja

menuju abadi di kebun surga

Bekasi, 30 Agustus 2021


Ilham Nuryadi Akbar, lahir pada 11 Februari 1995 di Banda Aceh. Buku pertama diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau di Matamu Hujan di Mataku, puisi dan cerpennya telah banyak terangkum pada beberapa media.

Puisi

Puisi Dadang Ari Murtono

sehwalilanang

                sakit adalah hambaKu

                yang Kusertakan pada para kekasihKu

di atas buritan, ia kutip apa yang pernah ia ucapkan

pada sang putri, untuk dirinya sendiri, malam bulan gulita

negeri kafiri itu kian lamat, dan malaka masihlah jauh

ia ingin menoleh, seorang perempuan yang ia tinggali

benihnya – sembilan kali – berdiri mematung, menatapnya,

tapi ia tak menoleh

***

mungkin perempuan itu berkata, “jangan pergi,”

sebelum mengingatkannya tentang sebuah masa

ketika tuhan mengirimnya dari jeddah ke jawa,

ke pulau di mana surya siwabudha berkilau

dan ia terkenang sulbi subur itu, susu emas itu, lalu penyakit

yang sembuh oleh kata-kata, hanya kata-kata: bebaskan dirimu dari

bayang-bayang yang merusak, tak ada obat bagimu selain kekuatan

allah

“ingatlah nabi yang meninggalkan umatnya, ingatlah

allah mengasramakannya dalam perut seekor ikan,”

perempuan itu, bekas penyakitan itu, berkata

tapi ia bukan nabi

***

“ini hanya sulap,” ia dengar seseorang berkata,

mungkin sang prabu, mertuanya itu, atau sang patih

di atas meja jamuan, induk babi menguik dan ular sendok

melata, menyebarkan kentut dan memanjatkan syukur ke hadirat

allah yang mengembalikan mereka dari potongan daging sate

dan pepes

mungkin hanya perempuan itu, mempelainya, di ruang hajatan

yang mendengar ia berdoa, meminta tuhan mengirim peringatan

bagi kaum sesat yang merayakan pernikahannya

***

dalam tugur bulan gulita

ia cari apa yang keliru

siang harinya, sang prabu mempersembahkan

kinang sirih dan bunga kepada sebentangyoni perak

dan menyembah matahari terbit, meminta gunung

membuahi putri terkasihnya

“seperti firaun, prabu itu tak bakal tercerahkan”

dalam tugur yang sama

ia tak tahu apa yang membuatnya mesti pergi

: dakwah yang gagal, atau harga diri seorang lelaki

ia mengusap kainnya, lingganya masih berdiri

dengan ujung basah

***

“masuklah, seh,” nakhoda itu berkata

“angin malam tak baik bagi kesehatan”

ia memandang permukaan yang tenang

ia mengusap dadanya

ada sakit yang seperti tak bisa reda di sana,

bahkan oleh kata-kata yang pernah ia yakini


giri

angin tiba-tiba tak ada hari itu, hari di musim pancaroba yang ganas

ketika sebuah kapal menabrak seonggok peti yang terapung lalu terpaku

dan seorang bayi meringkuk di dalamnya, dan sang nakhoda memungutnya,

dan angin kembali berembus, tapi tidak ke bali ke mana semestinya kapal

itu menuju, melainkan kembali ke giri, ke mana kapal itu berasal, dan si janda

pemilik kapal, menjadi ibu tanpa getah susu

***

di blambangan, wabah belum berakhir

orang-orang kemasukan roh asing, dan tulang mereka membara

nyamuk berdengung sepanjang siang, mengirim balita dan lansia

ke negeri kematian

di keraton, nujum tentang seorang bayi yang akan

membakar kerajaan masih menggema

dan seorang raja mengingat tangis pertama cucu pertama

yang tak akan lagi pernah ia saksikan parasnya

telah ia tilasi cerita dari sebuah kitab

untuk memasukkan bayi itu dalam sebuah peti

dan melarungnya ke samudra luas

***

dua belas tahun kemudian, di ampel,

sang sunan menyimak laporan telik sandinya

“setiap pagi, tanah giri mendekat ke surabaya

dan setiap malam, tanah surabaya merapat ke giri

dan santri giri melompat, melompat kecil belaka,”

***

demi kitab-kitab, santri giri pada usia 16

pergi ke mekkah, dan kapal menyinggahkannya di malaka

di mana ia bertemu sehwalilanang

(dan paras mereka begitu mirip)

di mana ia mendapat wejang bahwa segala kejayaan

dan kekejian ada dalam alquran, dan apa yang ada dalam quran

ada dalam alfatihah, dan apa yang ada dalam fatihah ada

dalam bismillahirrahmanirrahim dan apa yang ada dalam basmalah

ada dalam ba dan apa yang ada dalam ba tersurat dalam

tanda titik di bawahnya

“putraku,” seh itu berkata, dan hatinya tergetar, seperti

ia dengar suara bapa yang tak pernah ia ketahui,

“sesungguhnya manusia tidur, dan terbangun ketika mati”

esok harinya, seh itu memberinya sebongkah tanah

dan menyuruhnya pulang ke jawa

***

sebongkah tanah pernah hilang dari giri

dan kini ia kembali bersama santri giri

dan tahun-tahun berlalu

dan sebuah pondok berdiri di giri

dan si santri telah menjadi sang sunan

dan kepadanya, orang-orang jawa, sunda, bugis

hingga ambon dan ternate, datang memohon ilmu

“beliau khalifatullah, dan giri memanglah negeri islamjawa”

***

di majapahit, brawijaya bermimpi tentang pulau-pulau

yang dijalin laut dan selat dan samudra, dan bukan dipisahkan

dan ia terbangun

darah akan mengalir

ia tahu

ia bakal kecewa

ia tak tahu

dan ia kirim sang mahapatih ke giri

tepat ketika sang sunan menyalin ayat dengan kuas

yang beberapa menit kemudian bertintakan darah

dari para penyerang yang kalah

dan begitulah kita, secara harafiah, mengerti bahwa

pena lebih tajam ketimbang pedang

***

segera sesudahnya, sang sunan membuka pintu

dan mendapati hari tak ada lagi

sulung dari sepuluh putranya

menyusul ke rahmatullah begitu diinjaknya

karpet khalifatullah

“gusti telah memilih cucu kanjeng sunan,

begitulah, begitulah”

***

sang cucu, kita menyebutnya sunan giri prapen,

kabur ke arah laut hari itu,

membiarkan orang-orang majapahit menodai

makam leluhur yang namanya ia ambil

sebelumnya, ia dengar amarah itu,

“ia bukan sunan yang mengusir kita dengan sebuah kuas

belaka, meski sebutannya mirip, mirip semata”

ketika nisan diangkat oleh sepasang juru kunci yang lumpuh

ribuan kumbang terbang menyerang, meluru dan memburu

serdadu majapahit, menciptakan tudung malam dan merenggut

matahari buda siwa dari negeri para penakluk itu selamanya

dan sepasang juru kunci itu, yang tiba-tiba sehat kedua kakinya,

sesaat sebelum menyusul sang junjungan ke arah laut, mendengar

seorang serdadu berteriak, “ia pernah mengalahkan kita dengan pena

dan kini dengan kumbang yang berasal dari huruf-huruf”

***

hari sedang senja ketika sunan muda itu tiba

dan menyaksikan puing serta abu

– hanya puing serta abu –

tapi ia tidak bahagia

ia tahu, dari lintang kebiruan yang jatuh di beringin barat halaman keputren

bahwa akan tiba masanya, tak lama lagi,

seseorang dari mataram bakal menaklukkannya

dan tak akan ada pena yang menyelamatkannya, juga huruf-huruf

“sebab pada waktu itu, seseorang yang lain

sedang menyiapkan mereka untuk menyusun sebuah kitab

agung, kitab berisi jalan kejayaan dan kekejian,

kesucian dan kecabulan

: suluk tambangraras”


perang

                bagaimana sembuh dari asmara, kecuali dengan perang?

“sanggama ini, dinda, begitu menyilaukan, begitu langka

dari batas ke batas, maut mendekapku, sebab kau hawa

dan aku tanah, maka di sinilah aku, dikurung lelah dan pahit

dan kita, hanyalah petugas dari peperangan dan birahi jawa”

lelaki itu menggumam, selasakliwon, setelah seorang ratu

dengan kuasa tak terperi kabur dari ranjangnya sebelum azan subuh,

hanya sedikit wangi melati tersisa di sprei kusut, juga nafsu yang perlahan susut

di keraton yang jauh, samar dalam hitamnya samudra padma merah,

sang ratu mengulang khaul, “tak bakal hilang keperawananku sebelum dunia

masuk ke kali yuga, dan bahwa telah kupilih raja islam paling rupawan, paling perkasa

sebagai kekasihku, juga turunannya, segenap penggantinya hingga akhir zaman”

***

siang harinya, lelaki itu, sultan para sultan, berdiri di atas permadani pasir hitam

menggelar tarung macan di alun-alun utara, di halaman selatan ia perintahkan

para punggawa memainkan adu biji kemiri dengan hukum sembelih bagi siapa

yang berlaku curang, sebuah masjid berdiri gagah di sisi barat, sekadar

berdiri dengan gagah, sebab ia lebih suka pergi ke mekah dengan pikirannya

setiap pekan menunaikan salat jumat

dengan kain putih biru, sorjan beludru hitam bermotif daun emas, serta kopiah

dan tongkat kayu pertanda kesalehan, ia titahkan adiknya, ratu pandhansari,

untuk mengirim serdadu ke giri

“sebab mereka begitu sombong, dan penguasanya merasa diri sebagai khalifatullah

tapi aku, sultan agung, tidak mengenal kalifah atau hubungan saudara, maka

sertai suamimu, pangeran pekik yang pengecut, untuk memerangi mereka”

***

menjelang subuh, pangeran dari surabaya itu tiba di giri

tepat ketika sunan prapen beserta santrinya mendaraskan ayat-ayat

alfalaq; katakanlah, aku berlindung kepada tuhan yang menguasai subuh

dari kejahatan makhluknya

hujan berat lebih dulu bertandang

dalam kilatan cahaya kilat, sang pangeran bergidig menyaksikan

bayangan bersimpuh di samping sang sunan

“namanya endrasena, china muda nan pilih tanding

putra angkat kanjeng sunan

dan ia tak gampang digertak”

***

“ini hanya persoalan duniawi, ayahanda,”

jayengresmi, putra mahkota giri itu, berkata

“dan kudengar segala keagungan, segala kemashyuran

ada dalam diri sultan dari mataram, maka sebelum setetes darah tumpah

kenapa kita tidak tunduk?”

sang sunan bergeming

udara dingin

dan sang putra mahkota tahu kemana ia mesti pergi

“endrasena,” sang sunan menurunkan titah

“sendika, ayahanda, kehendakmu jadilah”

maka begitulah dua ratus laskar dengan berteriak

yudhailahi dan pedang dengan gagang berukir asma allah

mengirim takut dan maut ke serdadu surabaya

“malam keburu tiba ayahanda, sebab kalau tidak,

sudah kami ringkus pangeran pekik, dan kami arak ke mataram

hingga perang ini berakhir dengan terhormat,” lapor endrasena

malam itu, di giri, zikir dan syair mengalun merdu

***

kala yang sama, bentang yang sama, merangkul duka

dan suka bersamaan, dalam dekapan pandhansari, pangeran

pekik menumpahkan airmata, juga sesal, juga malu, juga ketakutan

akan beban perang yang ia panggul

“bersabarlah pangeranku,” ratu itu berujar, “biar kubenahi

apa yang tidak bisa kau menangkan”

maka keesokan harinya, seusai sanggama terputus pukulan gong

ia nyalakan harga diri serdadu surabaya, dan dengan rambut berkibar

ia pimpin pasukan yang marah itu

di palagan, ia buntungi endrasena dengan bedilnya: mulanya tangan kanan

lalu tangan kiri, lalu kaki kiri, dan ambruklah sang naga china

sebelum tubuh lumpuhnya dihujani tombak, endrasena meraung

“ini jihad kecil belaka, ratu, dan kita belum pula menempuh gurun roh serta

jurang raga, kemenanganmu bukan penyingkapan ilahi

dan kematianku tak juga pengungkai dunia kegaiban, ini mula jihad besar belaka…”

tubuhnya luluh, seakan larut dalam sanggama agung dengan perempuan pertiwi


pengembaraan

1/ memasuki suluk, hilang dari pandangan suluk

di gunung itu, jayengresmi menyaksikan lidah api

dan ia mengerti tubuhnya membara

lalu suara; bersabar dan kuatlah putra wali

sebab segala kotoran perlu dibasuh

dan tak ada pembasuh yang lebih baik dari bara api

ia tak tahu kemana mesti menuju

ia tak tahu ia telah memasuki suluk

sendiri

sembari meratapi sepasang adik

yang tercebur ke jurang dalam

menghilang dari pandangan suluk

diiringi santri buras

2/ gathakgathuk dan ki purwa

dari sesuluran merambat bunyi

dan dua dugal keluar mengecup kaki jayengresmi

“nama kami gathak dan gathuk

dan seperti yang tersuratkan, kami hambamu belaka”

sekian hari kemudian, pada suatu magrib

mereka menyaksikan api dari gerbang yang mengurung langit

dan puing keraton, dan akar-akar gantung, dan kolam,

dan bunga-bunga

mereka mendengar tembang cangkang kerang

sewaktu bersuci dalam kolam, dan sebuah embusan muram,

setelah tiga rakaat, membimbing mereka ke candi bata susun tiga

di mana sebilah pedang menantang langit di pucuknya

seorang juru kunci menghidupkan tembang dan menyalakan kandil

lalu menyengkelah pisau dan mengepras kepala boneka yang lantas berdarah

“namaku ki purwa, penjaga apa yang tertinggal dari majapahit

dan kukorbankan boneka-boneka itu sebab budha benci persembahan manusia”

malam itu purnama raya, dan ki purwa bercerita tentang bajangratu,

seribu langkah dari situ, di mana sesiapa yang melihatnya bakal hilang

akal dan arah

“tapi aku mencari adikku, dan tak butuh hilang akal dan arah,”

jayengresmi berujar, sebelum memilih mata angin

3/ ratu mas trengganawulan

seusai gempa yang sementara

seorang perempuan yang tersakiti tembang dan sajak,

dengan telanjang dan rambut terurai

menyongsong jayengresmi

“tapamu, duafa luhur, melekatkanmu pada allah

sekaligus merapatkan bencana pada rakyatku”

ia, yang kemudian kita tahu berasma ratu mas trengganawulan,

berujar dengan bibir gemetar

dan ia ajar sang pangeran giri tentang tanda-tanda

kaok gagak, berkah kera keramat yang dianggap bijaksana

oleh kaum nabi dan wali, serta cerita tentang hutan bagor

“tak sanggup aku menerima kesempurnaan ajaran rasul,

sebab aku putri brawijaya, dan budha memberkahiku kuasa

mengatur hutan ini, juga sendang yang kunamai sugihwaras”

juga kalangwan, syair yang mampu menyelamatkan para hina,

mengangkat jiwa pendarasnya dan melarutkannya dalam samudra keindahan

“deminya jiwaku, namun bagiku, siwa menggantinya dengan kicau

burung selangit, dan segala syair kini hanya mengisi hatiku

dengan kesedihan”

menjelang pagi, semak-semak terlepas, ratu mas trengganawulan

tak lagi berbekas, dan ekor seekor kera menyentuh kaki gathakgathuk yang baru

bebas dari mimpi yang lekas

4/ ki wisma, ajisaka dan muhammad, dan penyihir yang tersihir

barangkali hanya dalam cerita ki wisma, ajisaka dan muhammadal mekkah

adalah dua muka keping tembaga, utara dan selatan, siang dan malam, laki-laki dan perempuan,

ying dan yang, senasib sehakikat, sepasang yang terikat

awalnya, seekor raja naga sekarat lantaran orang kehilangan iman kepadanya

dan seorang lelaki miskin, kikures, menghadiahinya semangkuk susu setiap hari

dan sang naga mengganjarnya setahi emas setiap kalinya,

hingga si putra orang papa yang durhaka,

suatu kali berlaku licik dan mati, dan istrinya yang bunting melahirkan anak tanpa bapa

tapi naga itu berkata, “ia putraku belaka, dan ia bernama aji, artinya penyihir, dan kelak

ia akan pergi ke barat, ke mekkah, untuk berguru pada lelaki rupawan bernama muhammad

dan ia bakal bersaudara dengan abu bakar, dengan umar, dengan usman, dengan ali,

hingga suatu kali, ketika wabah menyerang jazirah arab, malaikat yang agung menculiknya,

membawanya ke atas kealiman, ke aras ilahi, tersembunyi di saka guru masjid akbar

tepat ketika muhammad menunaikan salat

dan begitulah berakhirnya guru murid, berganti hubungan yang setara belaka

dan tuhan mengirim seorang bersebut setia untuk melayani muhammad

dan seorang berjuluk setuhu untuk mengabdi pada aji, ajisaka

dan akan tiba suatu masa ketika ajisaka beserta pengiringnya tiba

di medangkemulan, menaklukkan raja para pemangsa bernama dewatacengkar

dengan sehelai surban, sehelai saja, yang melingkupi 5/3 tanah jawa,

dan bertuliskan 20 aksara yang membentang tiada habisnya,

menampung segala ilmu, yang dihargai maupun yang tidak dihargai,

yang telah dan bakal ditemukan

dan setelahnya, seperti yang tertulis dalam kitab-kitab, akan ia kirim

setuhu untuk memungut keris yang tertinggal di mekkah, di mana muhammad

sang nabi telah memerintahkan setia menjaganya hanya untuk diambil kembarannya

belaka, dan begitulah dua abdi itu berkelahi, lalu sama kembali ke alam keabadian”

dan barangkali hanya dalam cerita nyi wisma, ajisaka yang linglung pangling pada

naga bapanya, dan membunuhnya dalam suatu perburuan, sebelum dilihatnya

seorang perempuan bernama rarasati, lalu jatuh birahinya, lalu keluar biji maninya,

dan keluar pula sari sang perempuan, yang keduanya segera ditelan seekor ayam katai

“ajisaka sang penyihir, tersihir oleh cinta, lalu dikutuk malu dan lingganya layu”

namun karena ki wisma adalah penganut budha yang taat, penjaga medangkemulan

yang hanya muncul sewaktu kaki bromo tersungkup kabut, dan ia memberi jayengresmi

beserta gathakgathuk nira serta ketela juga air wudu yang mengucur dari tebasan

 dahan jembul, maka kita mesti percaya apa yang diucapkannya

setidaknya, begitulah sang suluk bercerita

5/  seh siti jenar

seekor anjing buduk, sembari mengusap kerak koreng

dan membatalkan wudu pangeran giri, menggonggong tentang hakikat

yang tak bisa diselaraskan dengan syariat meski hakikat tak akan

memancar tanpa syariat, dan syariat mengalir dari hakikat,

juga tentang surga yang tak berisi kali susu dan madu, melainkan

perjalanan tanpa henti belaka, dan kebangkitan kembali yang tidak

berasal dari kubur dan ditandai tiupan sangkakala, juga cinta yang bukan

ikatan, melainkan kemabukan

ia pernah menjadi manusia sebagai abdul jalil, sebelum berbuat

dosa dan dikutuk menjadi cacing, lalu tersuruk ke dalam sebongkah tanah

penambal perahu, tepat ketika sunan bonang mewedar ilmu manusia semesta

kepada kalijaga, “jagad semesta adalah orang besar, dan manusia adalah jagad kecil”

tapi ia, sebab pernah menjadi cacing, adalah yang selalu dipinggirkan,

maka ia bangun pusat di pinggirnya, dan seorang aulia turunan brawijaya

menimba sekaligus menuang ilmu pada sumurnya, “ia berkata,” katanya, “bahwa kilat

yang terkurung di pintu gerbang, yang ditangkap ki ageng sela, adalah lingga siwa

dan kukatakan kepadanya bahwa petir-pelir itu adalah nur allah, cahaya di atas cahaya

untuk membimbing siapa-siapa yang ia maui”

namun walisanga, yang terusik kekondangannya, menangkapnya pada suatu hari,

dan mengganjarnya hukum penggal, dan dari leher yang koyak, mengalir darah putih belaka,

dan mereka meletakkan jasad itu di atas kafan yang memancarakan lima warna

setiap malam menjelang serta menguarkan seribu wewangian

begitu banyak keajaiban mesti dikaburkan, maka mereka letakkan bangkai

seekor anjing kudisan di atas kafan itu, dan keesokan harinya, mereka gantung bangkai itu

“kalijaga,” katanya, “yang suci itu, kau tahu, berkata padaku bahwa segala perkataanku

benar belaka, namun kata-kata kekasih yang terlalu masyuk mesti dibungkam,

dan beginilah aku, sebagai seekor anjing kurap”

petir menggelegar; meniru ki ageng sela, gathakgathuk mengucap gantri berkali-kali

dan jayengresmi melihat bagaimana anjing itu pudar, juga bayang samar masjid demak

hujan turun, namun tak mampu membasahinya

6/ ki karang

di bekas tapak kakinya, bunga-bunga tumbuh dan mekar

di kanan kiri jalan yang ia tempuh, pohon-pohon merundukkan buah segar

tapi ia tahu, dari cerita orang lama, bahwa ia tak boleh menjamahnya

“jalan masih jauh, puncak gunung salak masih jauh

dan pengganti putra yang hilang menunggu di sana, mungkin dalam jenuh”

dan di sanalah, di balik tirai sawit,

menunggu jayengresmi, dan kata-kata tak lagi bermakna

; guru menemukan muridnya, bapa menemukan anaknya

lalu sebuah perjalanan tak terceritakan

menuju karang yang mengapung di selat sunda, ia, yang karenanya disebut ki karang

mewedar hakikat perahu, nelayan, dan laut tak bertepi

; bukan yang terlalu banyak berhitung yang bakal sampai ke pantai,

melainkan yang mengenali dirinya sendiri, mengenali keluasan samudra ilahi

7/ kembali ke dalam suluk

dengan dua keping tembaga china dari si cantik rara suci

santri buras mengiringi jayengsari dan rancangkapti

keluar dari jerat jurang, kembali ke dalam semesta suluk

di mana mereka bertemu sepasang saudagar dari blambangan

yang tak berputra

“akan kau temukan kakang kalian, jayengresmi,” saudagar itu, kihartati

berujar, dan si nyai, menyingkap rahasia sanggama kepada rancangkapti

sebelum mati keesokan paginya, dan seratus hari kemudian, seperti semua

cerita cinta sejati, menyusul kihartati, meninggalkan sepasang anak yang belum

ia kenal betul perangainya, sepasang anak yang menyedekahkan segala warisan

dan kemudian, beserta buras dan dua keping tembaga china

kembali menyusuri suluk, yang entah kapan sampai

pada tembang terakhir


Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta  Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Ia juga mendapat Anugerah Sabda Budaya dari Universitas Brawijaya tahun 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.

Puisi

Puisi Candrika Adhiyasa

KULTUS

biara-biara selalu terbuka

untuk doa-doa

layangkan pada langit, kata-kata

siapa beranjak dari pusara

tuhan, meski tak bertelinga

ia mendengar semua

bahkan sampai ke palung hati paling

bisu sekalipun

dan kita menerka-nerka, akankah

bahagia

datang sesubuh cahaya

di pagi buta, layaknya fajar pertama

tuhan, meski tak bermata

ia melihat semua

Tasikmalaya, 2019


ANTESEDEN

kusimak sayatan pelan gin dan heineken

kuhela sesak udara andantino dan misty

kukecap sembir seloki eternity dan poison

ada hutan beku di balik bola matamu;

sebuah semesta taiga terhampar

menjadi partitur sejarah yang dingin dan terkucil

Kuningan, 2019


MUSIM ANGIN

sejak kecil, aku terusir

diasingkan dari permainan

sering kutatap permukaan kolam

: akukah si wajah buruk rupa?

kupungut berbagai topeng

memakainya, silih ganti

sesuai musim—

menyembunyikan wajahku

semata-mata, agar aku diterima

dalam kepalsuan itu,

aku tertekan, seraya bertanya-tanya

bolehkah kita; menjadi bukan siapa-siapa saja

tanpa harus merasa kesepian?

Tasikmalaya, 2019


KACA DI BOLA MATAMU RETAK

meluruh di sepanjang kabin

tanpa penjaga. ombak dibuai

langit, awan dimanja cakrawala,

tiang piatu digembala badai

matahari menyinari air mata

berderai menjadi api

rembulan memberi mimpi

pada dendam abadi

laut dalam pigura

kaca di bola matamu retak

Tasikmalaya, 2019


INSTRUMENTAL: NYANYI SUNYI BEETHOVEN

Sonata No. 14 “Moonlight”

in C-Sharp Minor Op. 27 No. 2

ia menggoyangkan kaki-kaki kecilnya

            dan bayang-bayang muncul

            dari permukaan laut yang keruh

sebuah tempat indah terbentang

            nun jauh di kekosongan matanya

            kemudian menundukkan wajah

sekali lagi, ia berharap tak pernah dilahirkan

            ke dunia yang memilukan ini

Tasikmalaya, 2019


REFFRAIN: NYANYI SUNYI JOEP BEVING

                        Le souvenir des temps gracieux

                        in “Prehension”

angin meredupkan sisa bara

            bekas perbincangan semalam. botol berserak

            dan langit masih saja tak berperasaan.

suatu hari kamu akan membaca ulang

mimpi-mimpi yang membuatmu menangis

di antara jengkalan gemerlap laut malam.

Tasikmalaya, 2019


OUTRO: NYANYI SUNYI MILES

“jika aku mati,” ucapmu.

            kamu berkata bahwa kamu akan

            bermukim di sebuah pondok

            yang tersembunyi di dalam kabut.

“jika aku mati,” ucapmu lagi.

            kamu berkata bahwa kamu akan

menyimak kaset-kaset piano lama

            sambil meneguk minuman keras.

“jika aku mati,” ucapmu selalu.

            kamu berkata bahwa kamu akan

menatap langit yang menyala

sambil menghela udara pagi.

“jika aku mati,” ucapmu.

Tasikmalaya, 2019


JAZZ UNTUK GILIMANUK

lama kita berlayar pada kekosongan

mencari pijakan-pijakan—Keftiu?

serupa kapal layar

bersungut-sungut mencari kabar

sekarang, gelombang tiada kentara

redup diliput pekat teramat

telingaku dipenuhi napas Miles

terbaring kaku di geladak

mengikuti laju konstelasi

lama kita berlayar pada kekosongan

mencari kejelasan-kejelasan—lewat

Timaeus dan Critias?

serupa kapal karam

berkaku-kosong menyusur kelam

Bali, 2019


PERTEMUAN

di balik bukit itu bersembunyi ragam

warna jua bentuk

dalam terkaan yatim piatu

dan gersangnya peluk

lalu rinai bunyi-bunyi mekarkan

ilalang bayang-bayang

di langit mimpi yang jauh

dari anak tangga penerimaan

daku bertanya:

apakah sebenarnya yang ada di sana;

gelapkah terangkah

maniskah pahitkah

lama kita tak mengadu nasib rindu

Tasikmalaya, 2019


PERPUSTAKAAN TUA

tak kupetik kata-kata dari langit

yang tangkai-tangkainya begitu

rapuh dan semu seperti bayi-bayi

yang hendak dilahirkan ke bumi

kata-kata dalam puisiku kupetik

dari belantara perasaan rumit

serupa isi kepala para dewasa

di rimba raya dunia tipu daya

sebagai sebab, kamu tetap

semayam pada alam yang tak

terekam, pada ruang yang tak

tertangkap kesadaran seperti

halnya dongengan dalam buku-buku

kusam di pojok perpustakaan tua

Tasikmalaya, 2019


Candrika Adhiyasa, menulis puisi, cerita pendek, novel, dan esai. Belajar ilmu lingkungan di Universitas Gadjah Mada. Instagram @candrimen

Puisi

Puisi Miftachur Rozak

Surga di Matamu

:Alena

Apakah engkau pernah mendengar perihal surga, Alena?

sungai-sungai yang mengalirkan susu,

telaga madu yang manis tak pernah habis,

dan buah-buah matang di pohon, tak satupun membusuk.

Kedengarannya menakjubkan, bukan?

Kini, engkau sudah menikmati surga itu, di bumi,

di matamu sendiri. Setiap yang engkau bayangkan,

ketika matamu terpejam, surga itu menghampirimu:

engkau menaiki perahu, memetik buah, 

menyesap madu, dan meneguk susu.

Kaupun lekas tersenyum sendiri,

dan berbagi tahu, 

bahwa sebenarnya tuhan sudah menciptakan surga, 

di matamu, di mata kita, 

di mata mereka yang mendapati surganya.

Jombang, 2021


Di Sebuah Teras Cafe

hujan menahan kita di sebuah teras café

meja bulat dengan dua kursi saling berhadapan

serta miniatur biola kayu dan bunga kaktus di atasnya

dan engkau lekas memesan seporsi kopi

yang gula dan susunya dipisah: di wadah sendiri

kemudian engkau meraciknya: ala barista italia

sesekali matamu melirik ke arahku,

dan tipis senyum di bibirmu

aku menikmatimu: setiap gerak, lirik, dan senyummu

yang lebur pada aroma kopi, gula, dan susu

dalam hatiku berdoa

agar tuhan tidak menghentikan hujan di sore itu

agar tuhan menaburkan segala perasaan pada kopi itu

dan agar tuhan mengizinkan kita menyatu

seperti kopi, gula, dan susu.

Jombang,  2021


Kau Ingin Aku

Menulis Puisi yang Seperti Apalagi?

Setelah matahari beringsut, 

dan menenggelamkan separuh tubuhnya ke laut

lekas kau berkata,

“Tuliskan puisi untukku, aku sedang rindu.”

Dan kau genggam kedua tanganku

semakin erat. semakin hangat.

Memandangi langit lazuardi

membayangkan kuda bersayap

lengkap dengan tanduk spiral di kepalanya.

Tanpa angin, tanpa hujan.

Namun pelangi pun datang menjemput,

mengikhlaskan tubuhnya sebagai anak tangga, 

dan kita melangit bersama.

Sementara, tubuh kita masih dikoyak

kecemburuan, di bumi, tempat singgah dosa-dosa

yang kita kumpulkan sendiri.

“Kau ingin aku menulis puisi yang seperti apa lagi?”

tanyaku, sembari membalas erat genggamanmu.

Dan kau berbisik,

“Seperti air yang tak sempat menenggelamkan,

seperti api yang tak sempat menghanguskan, 

dan seperti angin yang tak sempat memorakporandakan.

Jombang, 2021


Membaca Pesan di Suatu Pagi

pagi-pagi sekali, sudah berdering tiga kali

padahal matahari masih bersembunyi

di balik bukit, menunggu kidzib berlari

baiklah, kali ini aku mendahulukanmu

bersandar di kamar, dan membaca tiga pesanmu

pesan pertama,

            “jika engkau ingin bertemu,

  temui aku dalam doamu”

pesan kedua,

            “ingat, kita wajib bertemu

  lima kali dalam sehari semalam”

pesan ketiga,

            “berbahagialah, jika besok atau lusa,

  masih ada pesan dariku”

lekas aku beranjak dari kamar tidur

meninggalkan mimpi yang belum rampung

            Subuh, 04.45


Di Sebuah Alam Mimpi

            :Din

mendadak aku dihisap lubang hitam

dan mendarat tepat di halaman mimpimu

skenario yang masih tertumpuk malam

satu per satu kubaca, dan kutemukan sosokku

tayang dalam mimpimu.

betapa bahagianya aku,

sebab, dalam mimpimu kau menginginkan kita beradu.

ah, kali ini aku akan tinggal bersamamu

:dalam alam mimpimu

sebelum matahari beringas, memangkas tidurmu.

                        Jombang, 2021


Dongeng

Konon, Ibu rajin mendongeng

di antara anak-anak, di altar rumah

Lampunya terang cahaya rembulan

musiknya tembang-tembang dolanan

Ketika dongeng sudah menyebut bidadari

dan rembulan rekah bak matahari pagi

Anak-anak berhenti bernyanyi

semua memandangi langit: menyaksikan bidadari

Angan-angannya mulai menari-nari

mengumpamakan bulan, kucing, dan bidadari

“Apakah tahun ini bidadari masih kerasan tinggal di bulan?

ataukah sudah tergantikan?”

Ah, mungkin bidadari sudah turun ke bumi

sibuk merias diri, menjelma smart phone dan televisi

Jombang, 2020


Keringat Dingin

telapak tanganmu selalu menderas keringat dingin,

ketika mataku menyumat pandangan rindu

dan engkau menjelma rumpun putri malu

meski engkau tak berbalas pandangan padaku.

Jombang, Juni 2021


Tanganmu Teramat Dingin

tanganmu teramat dingin untuk kugenggam

sementara aku semakin gigil untuk mengingat-ingat

kapan terakhir kali kau memelukku

dan berucap, “aku akan kembali padamu, 

lengkap dengan sepaket doa tanpa khianat.”

apakah engkau juga masih ingat?

sebab, aku membutuhkan hangat yang amat

mencairkan beku rindu yang nikmat.

Jombang, 2021


Usai Subuh

subuh sudah berlalu

pendar mentari menyusup jendela kayu

kami pulang ditegur waktu

perjumpaan dengan-Mu masih dirindu

sebab jalan-jalan belum kutemu

seperti belukar, menyamarkan mataku

kami pulang digiring mentari

ia berbisik: duha sedang menanti

Jombang, 2020


Terompa

kita sepasang terompa

dari kayu waru berdaun jantung

berserampat karet, tahan karat

bersanding, berpasangan

aku kiri dan engkau kanan

kita sepasang terompa kenangan

berjalan saling bergantian

mengikis jalan-jalan

membunyikan nyanyian-nyanyian

Jombang, 2021


Bunga Bersalawat

sebab, bunga-bunga yang kita tanam

adalah doa-doa yang bersalawatan

dari pucuknya air mata keteduhan

yang saban pagi ia teteskan

Jombang, 2020


Miftachur Rozak, penulis puisi yang aktif di KPB (Kelas Puisi Bekasi). Ia lahir di Jombang Jawa Timur, 03 Februari 1988. Tahun 2011 ia menyelesaikan study S1 PBSI STKIP PGRI di Jombang, dan  kini mengabdi di MTsN 2 Rejoso Jombang. Sedikit karyanya tersiar diberbagai media cetak dan daring. Salah satu puisinya masuk dalam Antologi tiga Negara, Jazirah 5 FSIGB 2020, dan tergabung dalam buku “Sang Acarya” Kumpulan Puisi Guru dan Dosen Komunitas Dari Negeri Poci 2020. Bisa dijumpai di Facebook Miftachur Rozak atau Instagram @arrozak_88.