Puisi

Puisi Moh. Rofqil Bazikh

Kemah

lihat! malam meninggi menyundul langit, katamu

ombak berlarian dengan kaki-kaki kecilnya

yang sekarang tinggal suara dan dengus gema

kita kemudian menegakkan dua tenda

saling bermuka-muka, di tengah terdapat

kobar api dengan lidah merah menyala

aku mengutuk dingin, ia seperti terlahir dari

ujung daun yang terus melambai nan melandai

ini bulan ke satu, katamu, dingin selalu lewat

dari batas kewajaran manusia di muka bumi

perlahan kita menyederhanakan penyambutan

pada malam. sekadar menolak dingin

mengusir rupa-rupa hening, hingga

mengalungkan hangat di leher masing-masing

sementara lagu-lagu dengan nada berlubang

menusuk kuping. membiarkan kita bertahan

di tengah sengau dingin yang bening

Yogyakarta, 2021


Berpulang

dalam darahku mengalir deru angin

ombak memintal umpama laut kampung halaman

setelah menjauh dan mengunjungi tahun-tahun biru

pulang pelan-pelan, meletakkan batu rindu pertama

aku masih mencintaimu, ternyata

riak-riak kecil di dada meletup

bersorak, benar-benar menyerupai ramai ombak

kulihat kembali, anak kecil di gigir

batu pantai melempar patahan tembikar

ke permukaan laut, mereka menghitung

berapa lompatan sebelum akhirnya

tenggelam sampai dasar

tidak pernah lupa, bendera setengah

robek yang terpancang di tiang sampan

dengan sungguh-sungguh menghantar

pulang seluruh ingatan

Yogyakarta, 2021


Mahabah Bahasa

mula-mula kita menyoal darimana muasal bahasa

kata yang mengendap menjelma epitaf

seumpama duduk termangu mendiamkan angin warna biru

ombak menghapus pegon di kulit karang

lalu mengirim debar atau debur ke dada kita

bahasa paling puitis sejak terlahir ke dunia

—dongeng-dongeng kecil menjelang tidur

sebuah suara lantang dari lubang

yang tidak diketahui sebelumnya

semisal kita senantiasa menggali tanah ini

sejengkal demi sejengkal dan tidak sampai satu depa

tetapi terus digali sampai batas paling bawah

menemukan satu dua batu bercampur tanah merah

;tulang dan arwah pohon yang ditarik pada muasal

kita sering bertanya darimana asal seluruh bahasa

cinta dan kesedihan yang tertampung di tulang iganya

dan bila sedikit kau sentuh, akan kau temukan

ketenangan di sana

Yogyakarta, 2021


Senyum Qamariyah

udara berkabut, dingin menyusup ke tulang punggung, qamariyah

kita berdiri di halaman saling tatap dan sangat lekat

umpama masuk ke lubang yang gelap, meski tak kutemukan

bayang-bayang siapa pun lewat walau sekejap

kau mengerdipkan mata, gerak bintang selatan dan awan-awan

merapat ke pundakmu. mereka mengerubungi kita, sementara

kau bertanya; untuk apa senyum diciptakan?

kutemukan bibirmu hanya di tanggal satu, terus-menerus

menyuntikkan senyum, menggetarkan bulu-bulu dada

dan seluruh bangunan kokoh di dalamnya. namun, udara

tetap berkabut, qamariyah, wajahmu timbul tenggelam

bibirmu seperti tumpul menembus nan menebus kegelapan.

batapa pun dunia hanya tercipta dari liang kefanaan

umapa bibirmu yang sepintas lewat di padang pikiran

Yogyakarta, 2021


Tengah Malam Terjaga dan Terpaksa Berdoa

pekarangan berbalut senyap dan kau mengintipnya

dari balik jendela dengan gorden keemasan

serta ulas abu-abu setengah karat

;bulan rebah di padang rumput

sementara pohon di halaman semaput

kau mengangkat tangan seraya meyakini

doa yang mengental di lubang dada

akan dengan mudah mengetuk angkasa

sebelumnya, kau sengaja merebahkan lelah

di dataran ranjang. lalu mengatupkan mata

pelan-pelan sampai tak terdengar bunyi

kedip kelopak yang bersentuhan

kau benar-benar terjaga, kepalamu

seumpama dirasuki deru mesin pabrik

yang berisik sepanjang hari tanpa jeda

kembali kau angkat tangan

Tuhan sedang melambai, meski

sebatas bayang-bayang

Yogyakarta, 2021


Bersalin

apa yang kau tatap? langit-langit kamar sembap

udara berlindung pada ujung bunga di perut pot

tangan kiri menggenggam ujung selimut

tangan kanan kuciumi sampai larut

napas kau tarik lalu diulur

kau tarik lagi diulur lagi

sebuah dunia keluar masuk dari

lubang hidung yang sempit

hanya cukup mencium bau-bau sengit

‘kau pejamkan mata, mengatupkan bibir

lantas mengerang kuat-kuat

itu desis sampai ke langit paling hakikat

doa saya melata di bawah ranjang tua

beserta doa lain dari manusia di luar ruangan

tangis pecah mengusik ubun-ubun

ini dunia baru, anakku, dunia bertemunya

seluruh kesakitan dari kamar rahim

serta, bagimu, bumi yang asing.

Yogyakarta, 2020


Herbsttag

ini musim gugur, hujan tigakali-empatkali

luruh di barat dan timur kota

lalu terhenti, daun maple berwarna

kuning kunyit mendekati merah nanah

terjatuh di tengah-tengah halimun

yang lurus kepala

kau geser kabut-kabur tipis

pohon di halaman minta disunting

kita mengintip dari bibir jendala beruap

bumi seperti padang luas, selalu

menerima sengat terik dengan ikhlas

tetapi, tidak sering kita menemui

lidah matahari menjilat-jilat.

pergantian dari satu musim ke musim lain

tidak pernah bisa ditaksir dengan tepat

Yogyakarta, 2020


Lidah Ibu

itu lidah api, kata ayah

beberapa jenis rasa sudah mengakar di sana

;kopi yang lebih gula satu inci

bisa dipilah lewat lidah paling peka

ia akan berdiri di mulut tungku

sekali-kali duduk menyilangkan kaki

beserta tabah mengakar di dada, menunggu

air dan lapar yang sama-sama mendidih

asap menyundul wuwungan dapur

berkali-kali menyelup ujung telunjuk

sampai kata-kata melekat di kuku

mendekatkan ke mulut, menjilat pelan

pejamkan mata. rasakan, apa yang

berlebihan!

setelah hangat berlalu, sampai

dingin menepi di piring-piring

ibu menjauh, ia hanya menyediakan

lidahnya bagi lidahku

Yogyakarta, 2020


Bahasa Nama

kita duduk termangu mendiamkan angin warna biru

ombak menghapus epitaf di kulit karang

lalu mengirim debar sekaligus debur pada dada kita

bahasa paling puitis sejak terlahir ke dunia

;dongeng-dongeng kecil menjelang tidur

rumah ombak, amis ikan, deru-deru kapal

menjemput matahari di dermaga yang majal

tetapi kita selalu duduk dan tetap termangu

duakali-tigakali mengangkat dagu

diiringi angin menggelinding dari ujung bukit

mengacak-acak hitam rambutmu

pikiran ditarik ke masa lalu, beberapa

jengkal dari bahasa kepedihan.

diajari bentuk huruf

hingga menyimpul nama kita

sejakitu pula kauhafalnama-nama

;asma lain kesedihan di lubang dada

Yogyakarta, 2021


Bahasa Laut

beberapa bahasa yang disampaikan laut

pada tebing menjulang atau sebuah tanjung

yang tinggi tidak sampai ke puncak matahari

;isyarat debur kecil yang menghentak

permukaan air

lipatan jalan yang digaris pacu sampan

menerobos dari utara ke selatan

kita tidak pernah menemukan, di laut

yang kekal selain pasang dan surut

bahasa laut umpama telunjuk rasi

menuntun di malam berkabut dan beruntun

menolak segala rupa hingga macam takut

ombak menabuh gendang telinga kita

bertalu-talu sampai di hari ketiga

seluruh yang lahir di laut

kerap berlidung di dada

sampai larut

Yogyakarta, 2021


Moh. Rofqil Bazikh, tercatat sebagai mahasiswa Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga sekaligus bergiat di Garawiksa Institute Yogyakarta. Anggitannya telah tersebar di pelbagai media cetak dan online. Bisa ditemui di surel [email protected] atau twitter rofqil@bazikh.

Puisi

Puisi Moh. Rofqil Bazikh

Di Sebuah Angkringan Kita Hanya

Berusaha untuk Saling Mengenang

sambil kutatap matamu, dari sana

kepedihan yang tidak bisa

diungkapkan lewat kata-kata

berhamburan, berebutan masuk dadaku

kita hanya punya satu cara

;mengenang sebaik mungkin

yang sudah-sudah

kau balas menerobos sepasang mataku

katamu, keteduhan dapat ditemukan

di mana saja, termasuk di mataku.

selanjutnya percakapan kita

lebih sering ditelan bising kendaraan

sementara kau lebih suka pada diam

di angkringan ini, kita sepakat

cara paling baik mencintai

adalah mengakhiri

lalu menjalani hari sendiri-sendiri

selebihnya kita hanya diperbolehkan

untuk saling mengenang

atau berciuman meski hanya

bayang-bayang

Jogjakarta, 2020


Sebelum Kau Pulang

berhari-hari kita meruncingkan percakapan

meramal nasib masing-masing

sesekali membayangkan rumah kita

yang luas untuk menampung kesedihan

tiba-tiba waktu lekas berlalu, aku

seperti tawanan yang kalah di pelukanmu

selanjutnya kita akan mengatur jarak

mengukur batas-batas kepedihan

kalah di hadapanmu jauh lebih mulia

daripada aku harus berjalan sendirian

menelusuri bukit kata-kata

lereng-lereng bahasa

setelah kubuka pintu

setelah jendela tersibak seluas masa lalu

aku tidak menemukan siapa-siapa.

kau gegas pulang, seumpama tanah

ditumbuhi bibit-bibit jelatang

aku sendirian dihunus sepi logam

kita akan bertemu dalam doa

yang hanya kita sebagai isinya

Jogjakarta, 2020


Cinta Kita Tua dan Hanya Mengenal Kata Setia

sama dengan jarak, umur sekadar perhitungan

ketepatan demi ketepatan dan kecepatan

berasal dari ketiadaan.

cintamu yang tua, setua jendela rumah

dan sengaja membiarkan angin jelita

mengusik tidur kepedihan

seumpama kau menengok jendela itu

dan membayangkan betapa menakutkan

seluruh isi rumah, tidak lebih

dari kenangan rapuh kitab-kitab masa lalu

sebetulnya kau hanya menerka yang tiada

setelah benar masuk, kemudian rasakan

keteduhan lain berpilin di dinding.

cintaku yang tua dan hanya mengenal

setia, kata yang menderas dari jiwa.

sambil mempertanyakan, mengapa

kesepian tidak pernah bisa dilawan

meski kita tidak sepenuhnya tunduk

dengan tenang.

Jogjakarta, 2020


Sebuah Kopi, Sepi, Puisi

di pojok timur, dekat pintu masuk

kita berhadapan. kau seperti menghitung

berapa banyak kesedihan yang masuk

dan keceriaan yang dibawa pulang.

meski terlebih harus kita cuci tangan

agar tak ada ketakutan-ketakutan

masuk ke dalam

berikutnya kau akan menyeduh kopi

dan pahit yang kental di sulbi cangkir

seperti hidup kita, pahit terus ada

kau berucap dan hanya pantas

didengar berdua.

aku mulai sibuk dengan puisi-puisi

atau tidak sengaja meninggalkanmu

dihunus sepi yang belati.

di matamu, kesedihan mulai dibangun

di dadaku, sesak perlahan turun.

Jogjakarta, 2020


Mereka Merawat Jarak

orang-orang berkumpul, lari dari kerumunan sepi

di kesengitan hari-hari.

belajar cara paling baik merawat jarak

mengusir dada-dada yang sesak

mereka mencintai kampung halaman

yang separuh terbuat dari masa lalu

separuhnya lagi, dari kenangan

yang menyusup diam-diam

hari ini orang-orang rajin berkumpul

dunia terlalu buruk bagi penyendiri

dunia yang hanya sibuk mengganti

nama hari-hari

mereka sama-sama merawat jarak

hidup hanya bergantung

pada cara perayaan

pada cara mengurai

satu-satu kesakitan

Jogjakarta, 2020


Menunggu

kami akan menunggu, malam lekang

menuju arah-arah subuh

dan pagi kembali terbit dari matamu

sebaris doa, kami racik

mengalir di penjuru aorta

sebetulnya, malam lebih paham

bagaimana mendengarkan

kepedihan, dengan sunyi mencekam

semisal amuk api dalam sekam

sampai matahari terbit dari jalan biasa

dan bumi sudah tidak dibayang

bayangi wajah sepi

kami terus menunggu, sampai jarak

tidak lagi diberhalakan

sampai keramaian bukan sesuatu

yang asing di padang pikiran

Jogjakarta, 2020


Aku Mencintaimu Lagi dan Lagi

sebuah puisi kutulis dan kuyakini

bahwa ia lahir dan kesakitan

kesepian yang menggunung

sementara dadaku sendiri

tidak begitu betah pada sesak

yang lama beranak diam-diam

maka satu-satunya jalan,

puisi ditulis untuk melawan

kepedihan. dan sakit yang terus

kita kutuk sepanjang perjalanan

namun begitu, aku

aku mencintaimu lagi dan lagi

dan kerap membayangkan setiap

puisi yang kutulis sendirian

mendapatkan engkau di dalam

dengan begitu, macam kesakitan

hanya nama lain dari kesepian

dan mencintaimu adalah tugas lain

yang tidak perlu selesai dengan cara

terburu-buru

Jogjakarta, 2020


Usaha Melihat Diri

puisi ini ditulis untuk mewakili kerumitan

yang kutunjukkan, macam-macam kotoran

melekat di dadaku yang temaram

maka, bacalah puisi ini perlahan

selanjutnya kau boleh menerka

;barangkali manusia diciptakan

dari tanah yang berwarna hitam

kau masuki dadaku, sebuah rimba

dengan salak anjing dan igau serigala

kau temukan belukar terbakar

meski menjuntai juga, sebaris kembang

srigading dengan kelopak menyembah

langit kita yang hening, langit bening

puisi-puisi yang kutulis dengan tulus

sebelumnya juga lahir dari dada berkabung

dari kesalahan-kesalahan

yang darinya seolah aku berlindung

Jogjakarta, 2020


Puisi Ini Engkau Baca Diam-diam

setelah puisi ini ditulis dan seluruh isi

adalah engkau. kuserahkan semua

agar dibaca diam-diam

meski tubuh dalam  keadaan demam

diserang macam-macam kesepian

setelah aku meninggalkanmu

puisi ini lebih berarti dari seluruh

yang tercipta di semesta

dari yang terus mengalir

dari jantung kata-kata

kau membaca sambil terpejam

membayangkan bagaimana

kesepian tidak selalu menakutkan

di dalamnya ada doa kita

yang melantun, menerobos

rumpang dada.

setelah puisi ini dibacakan

tiada yang lebih menyedihkan

dari kepulangan yang pelan-pelan

Jogjakarta, 2020


Hari Raya Kesepian

berhari-hari tanpa engkau, tubuhku

dililit batang-batang kesepian

setelah kepulangan, nama hari

berganti pada kesedihan

kau tidak pernah menatap mataku

dan aku merasa lebih tenang

di cinta yang tidak pernah tenteram

sekali-kali belajar bagaimana lelaki

yang hanya menangis untuk

merayakan kepahitan

barangkali matanya lebih teduh

dari mataku dan seluruh

bagian-bagian tubuh

berhari-hari tanpa engkau, dunia

enggan disibukan selain dari ingatan

apa-apa yang menjamur di pikiran

Jogjakarta, 2020


Moh. Rofqil Bazikh, lahir di pulau Giliyang dan sekarang merantau di Yogyakarta. Puisinya termaktub dalam beberapa antologi dan tersiar di pelbagai media cetak dan online.