Liang yang Mengalir di Matamu
terlalu deras liang yang mengalir di matamu
kau tahan sepanjang perjalanan mengantar
memasuki hutan
dan pada setiap langkah, kau ingin selalu berhenti
supaya tidak menuju pulang
kita bertemu lagi kali ini
sebentar di panggung rumah,
sebentar di kolong rumah
perasaan-perasaan yang terus berekor
terus memanjang
memenuhi langit
kau berusaha sembunyikan rasa yang tertancap di dada
terlalu sesak
dan semakin dalam liang yang mengalir di matamu
sudahlah sampai kita pada akhir pengantaran
ikatan telah dibuka
kain itu bernyanyi sesaat
siapa yang kan menemani?
tak bisakah lebih lama lagi kita melihat matahari?
deras yang kau tahan
memang untuk sembunyikan perih
kita menyadari hari
waktu yang tiada henti
kita menunggu giliran siapa lagi besok
atau besoknya lagi
baiklah, alirkan saja rasa itu
kesedihan di puncak rambut
peluk doa selekat jarak mata dan bulunya
ada jalan yang harus terus dijalari
di matamu, sekali lagi kusentuh sedih yang menderas
(Bau-Bau, Juni 2021)
Anak Timur
kemarilah, duduk bersandar di bale-bale
terpaan angin siang tak sabar menelusuri masa lalu
tolong ajari saya bagaimana bercerita soal susah yang tak padam
soal mengapa harus berdoa
bukankah tuhan sudah mengerti maksud hati
tanpa harus didoakan
saya hanya rindu akan gelagat tawa usai gulungan topan dulu
menghambur batu segala arah
rasa yang tiba-tiba kehilangan tuan puan
untunglah ada satu dua uluran tangan-tangan kecil
kehilangan cara berucap ialah musibah kecil
menjadikannya sebuah kisah yang sulit
kami anak-anak timur yang sering dikira terbelakang oleh mereka
nyatanya punya ambisi di ujung langit
hari ini sinyal internet tidak terlalu susah
roh-roh terdahulu mudah saja menjadi kompas
mengisi hati supaya hari tidak hilang arti
air mata timur bukanlah milik satu
tapi semua
mari ingat kembali semboyan-semboyan nenek moyang
wahai, yang berdedikasi
marilah duduk bersandar di bale-bale
temani cerita yang tak kunjung berujung
kami mencari mata tuhan
ajari kami menyimpan air mata
menunggu cerita-cerita luar biasa membelah angin
ajari kami menulis surat untuk tuhan
bagaimana cara melihat surganya
yang menurut cerita-cerita orang tua tak bisa digambarkan indahnya
ah, saya lupa
kau bahkan tak mengenal siapa tuhanmu
(Bau-Bau, Juni 2021)
Berkunjung ke Kolowa
pukul tiga sore
waktu untuk berangkat
kapal akan menyeberang ke kolowa
hati sedang berantakan
berusaha tenang bagai laut ini
orang-orang membaca ikan
di tubuh laut
daratan hanya khayalan
android di tangan tidak lepas
mata membujur ke gunung lepas
bahasa-bahasa sudah bermain
sejak menanti di awal keberangkatan
dan ada yang mengingat seseorang
kadang kita sengaja pandai
sembunyi di balik masker
agar tak ada apa-apa
seperti sebuah catatan perjalanan
namun hanya perjalanan, tanpa ada catatan apa–apa
kampung kolowa masih begitu tenang
seperti tahun-tahun dulu
masih terasa dingin yang asri
menusuk tulang yang penat bergerak sepanjang hari
gerhana bulan muncul malu-malu
kami sama-sama tahu ada banyak kerjaan menanti
ini bukan kunjungan untuk menyelami permandian
maka cepatlah…
cepat-cepatlah untuk kembali pulang
kita tunduk seketika
gerhana mulai redup
dan kita benar-benar telah pulang
menyalami tangan yang dulu sempat berkenalan
(Bau-Bau, Mei 2021)
Gadis dalam Gelas
di antara bebatuan laut
seperti ada suara memanggil
gadis yang terperangkap dalam gelas
sepotong hatinya hilang
menuai hangat pembawa berita
bunyi-bunyi yang tidak kukenal
membunuh setiap hewan melintas
hingga tak mampu bersanding lagi
doa yang tengah tengadah
dari mulut gadis kecil
meminta tahun yang berbunga
di sini hanya sebilah gelas
yang dengan dabar menerima nasib
(Bau-Bau, Mei 2021)
Live Instagram
pada bibir-bibir yang basah
saya mencari sebuah makna
celoteh pemuda pengembara
di live instagram
yang sedikit-sedikit menyeruput surya
membentuk asap di ruang sendiri
malam bermukim di matamu
sekadar bertanya apa yang sedang dikerjakan
merangkai setiap komentar penonton
menjawab malu-malu
atau diantara menjelma padi berilmu
yang barangkali sembunyikan kebolehan
menorehkan kata pada angin
kita sempat tertawa
tanpa pernah melihat bagaimana rupaku
lalu kau menyudahinya
dengan sepatah karya
tugu pahlawan tegak temaram
kehilangan tenaga diantara persimpangan
masih kau cari-cari penyebutan kota
tempat kau bertandang
dan saya tertawa lagi sendiri
sembari menyodorkan tanya
puisimu yang tajam melukai garis tangan
“siapa suruh dibaca.”
ujarmu saat live hari berikutnya
apalah daya
daya tarik dalam puisimu lebih menggoda
dari hanya sekadar luka nganga sebab kau
(Bau-Bau, April 2021)
Pertemuan Semalam
sebab pertemuan semalam
kita menjelma kata
sabda yang tak habis di nyanyikan
berkunjung ke rimah hujan
memetik satu demi satu
bait-bait terpencil
seperti dosa di bibirku
yang kerap menunjukkan arah
hilang tak pulang-pulang
ini berbaris merenungi makna
siapa saja yang akan datang
tubuh –tubuh pucat
suara sumbang
daun merana
kehilangan surga
katanya mata ibu adalah rumah
namun tak beratap
bapak berpayung matahari
siapa yang lagi yang tersesat
pikiran terlalu pandai menipu
sebab pertemuan semalam
keindahanku menjadi singkat
bila esok bertemu lagi
bolehkah kita mencuri diri masing-masing
(Bau-Bau, Februari 2021)
Buku Tua
buku tua pada rumah tua
mengambang seketika pengunjung bertitik
menanti gerhana bulan di padang karang
malam itu
mungkin bulan mengalah pada langit
atau mungkin sebaliknya
mereka saling membiarkan
sebab kampung masih bernyawa sepi
telah berbeda memang
namun keasrian itu abadi
dingin yang terus menusuk tulang
tak sampai remuk
cukup membuat lekuk badan
di bawah selimut tua
buku tua pada kampung tua
menghiasi lemari tua
bersama foto-foto tua
dan kaset-kaset tua
waktu tak pernah tua
hanya kita yang terlalu laju berlari
menulis kisah pada buku tua
yang kemudian mengungkap sejarah
(Bau-Bau, Mei 2021)
Pendosa
pendosa mana yang mau disahabati Tuhan
Tuhan pun memilih hambanya
waktu kian melaju
tak pandang pelakon
telah tercatat di semua ayat
petunjuk-petunjuk tuk mendekatiNya
namun kita memang terlalu abai
kaca oppo, vivo, samsung, dan kawan-kawannya
adalah jembata tak jauh
ah, kesadaran ini sungguh terlambat
Tuhan membuka pintu
selalu,
dengan cahaya jutaan watt
tinggal kita yang mencari kunci
lewat kitab-kitab malam
pastikan kita bersih
suci dalam tidur
dan mengunjungi rumahNya
mimpi kan menuntun
saat itu Tuhan tak lagi memilih
hanya saja setan yang terlalu pandai
membangun jarak. mendekati mati tanpa amal
pendosa juga punya tempat di rumahNya.
mungkinkah?
(Bau-Bau, Mei 2021)
Kasturi
aku masih ingat liuk namamu
sewangi kasturi beberapa tahun silam
entah kau di mana saat ini
kita pernah bersepakat untuk membangun kebohongan
mencuri tipis-tipis
“bos juga suka mencuri” lirihmu pelan
untuk menutupi opname yang sebentar lagi terselenggara
ah, kau tahu kita terlahir dari cinta kasih
bukan dari kebohongan nafsu dan birahi semata
namun ajakanmu ada benarnya
kita perlu membalas orang-orang curang
yang sering tersenyum bahagia atas hasil mencuri
atas hasil pembohongan, pembodohan.
sayangnya aku telah melupakan cerita itu
menuju cerita baru membangun rumah sendiri
namun wangi kasturimu
bagai taman yang tumbuh dalam dirimu
melekat menguntitku
dan pagi ini ingatan lumpuh terpaksa keluar
jumpai sepotong sinar di atap rumah
tenang saja, aku tak lupa namamu
juga matamu
kasturimu abadi di mataku
kita perlu sedikit siraman rohani
mengobati cacat hati
yang bertahun-tahun masih tertawa
(Bau-Bau, Mei 2021)
Obrolan Malam
kita bahkan menikmatinya lebih dari tengah malam
obrolan malam seorang peri di danau susu
keluar dari kahyangan
mencari tumbal lelaki haus
sedikit kenakalan manusia dewasa
ah, jam berdenting terlalu cepat
suara kita tanpa sengaja mengetuk pintu keluar
‘jangan sampai ada yang terbangun’
bisikmu lirih
napasmu yang datang satu-satu
mengundang tawa para pengikutmu
hari ini lelahnya terbayar lunas
kita mengulanginya
obrolan malam di layar android
sambil menunggu pagi
sambil tengadah
berharap setiap waktu dapat lepas
mirip burung yang tengah terbang
(Bau-Bau, Mei 2020)

Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Tulisannya pernah dimuat di media cetak dan online.
