pembuat topeng
maut seperti cahaya fajar yang tak terelakkan, atau
angin dusun yang menyusup melalui bilah gedek
tapi lelaki itu gesit berkelit
dengan lambung bocor dan hati bengkak yang mesti ia
gembol ke mana-mana
“beri aku waktu sedikit lagi, beri aku waktu sedikit lagi,” gumamnya
ketika api neraka serasa dituang di kawasan perutnya
dan ia raut pelan-pelan pangkal bambu
menyerupai wajahnya yang kurus dan nyaris tak berdaging
lantas ia letakkan di tempat di mana ia tahu, maut
akan datang untuk menjemputnya, maut yang kemudian kecewa,
maut yang akan kembali memburunya dengan kemarahan
yang lebih besar, maut yang terus merutuk, “hanya karena
namamu slamet, bukan berarti kau selalu selamat!”
dan ia akan terus kabur, terus bergumam, “beri aku
waktu sedikit lagi, beri aku waktu sedikit lagi”
dengan lambung bocor dan hati bengkak
ada yang belum tunai ia kerjakan dalam hidup
: merasa bahagia meski hanya tiga detik
angin besar
angin besar
turun dari gunung
angin besar
menderakkan dahan-dahan
angin besar
mengelus ubun-ubun lelaki demam
angin besar
menebang dahan-dahan
angin besar
mengusap nisan di kaki gunung
anjing geladak
lima menit sebelum pukul empat petang
hari sudah gelap, udara berat, mereka
tak ingin menyibak selimut
“di kehidupan selanjutnya,” perempuan
itu berkata dengan suara serak
“aku akan lebih dulu menemukanmu”
dan si lelaki menguap
ia tahu, mereka mesti pergi
sebelum ibu anak-anaknya menelepon
“pada waktu itu,” kata si lelaki
“kita akan tinggal di pacet, di mana
waktu merangkak, dan ruang meluas,
agar dingin mengingatkan kita supaya terus
berpelukan, agar angin pegunungan memanjangkan
usia kita, agar hamparan sawah bawang menyegarkan
mata kita, agar…”
“agar kita bahagia,” potong si perempuan
tapi mereka berkemas juga
ketika geluduk pertama terdengar
mereka bukan orang lokal, mereka
tak tahu, di pacet, doa-doa tak lazim
gampang diijabahi
tiga kilometer kemudian, di sela pekat kabut
si lelaki melihat seekor anjing melompat,
ia mendengar decit ban, ia merasa jari perempuan
itu mencengkeram pinggangnya, ia mencium amis darah
ia tak tahu berapa lama terlelap,
namun ketika membuka mata, perempuan
itu begitu dekat dengan dirinya, begitu lekat
“apa yang terjadi?” ia tak mengerti
“kukira,” perempuan itu menjawab
“seekor anjing geladak memakan bangkai kita
dan dalam dirinya, kita kini meneruskan hidup,
bersama, bersama, seperti yang kita inginkan”
di gua jepang cangar
di ranjang tanah yang keras itu maut datang dan mengelus
tubuh mereka, yang muda dan telanjang
udara pengap jadi panas
“apakah ini hawa neraka?” tanya si perempuan
“ini nuansa cinta,” si lelaki melekapkan bibir di leher yang
bersemu hijau
lenguh menggema
dalam gelap yang kekal
lantas rintih
kesakitan
dari tubuh yang ringkih
“aku tak bisa melepasnya”
“tapi kau harus melepasnya”
di samping mereka, maut menari
dengan satu kaki menginjak punggung si lelaki
mereka ingin menjerit
tapi tak sanggup
mereka tak kuasa membayangkan
orang-orang tiba
dan menemukan mereka
masih terpaut
tapi tujuh hari kemudian
orang-orang tetap datang
dan mendapati mereka
saling memeluk dan membusuk
terbungkus udara lembab
di lantai gua yang kotor
“mereka sepasang pezina terkutuk!” kata kiai setempat
“mereka sepasang pecinta yang terberkati,” gumam seorang remaja
yang tengah kasmaran
pulang ke pacet
“minggir, minggir, seorang turis dari kota jauh
mau lewat,” seseorang berteriak, sedikit serak,
sedikit kasar
dingin mengeras dan menegang
jalan membuka dan memanjang
kafe dan pujasera menjulurkan tangan,
pemandian dan arena wisata foto mengenalkan
nama, vila dan hotel tersenyum menyapa ramah
tapi turis yang baru tiba itu hanya ingin
berbicara pada sawah dan padi
dalam kepalanya, kambing dan sapi
dalam kenangannya
ia bukan turis, sesungguhnya
malam membeku
tapi bulan kuning leleh seperti mentega
ia orang lokal, lama terjerat kota
lantas kembali
untuk menjadi orang asing
dan seorang pemandu dengan suara serak,
berteriak sedikit kasar
demi ia
“minggir, minggir, seorang turis dari kota jauh
mau lewat!”
suratman berjalan telanjang tengah malam
enam belas laron sufi
mengerubung nyala sebatang lilin
di puncak musim hujan yang pucat
dari nako jendela, suratman tahu bulan layu
langit kuyup kelam, dan ribuan laron
meredupkan lampu di sepanjang jalan
setelah selarik mantra
orang-orang tiba pada lelap purba,
suratman akan berjalan
perlahan seperti ratapan tobat nasuha
telanjang seperti bayi yang fitrah
berkeliling kampung seperti seorang jagabaya
“berangkatlah,” kata istrinya
dibukanya pintu belakang
dingin mengerutkan buah zakar
angin membawa ujian
mengembus nyala lilin
yang ditudung istrinya dengan dua telapak tangan
dan suratman berjalan
seraya mengenang dua putra tercinta
yang berseteru di jalanan
dengan arit dan maki
sebelum empat orang di warung yu rai
datang dan melerai,
memperseterukan seorang perempuan
yang tak setia; suratman berjalan
seraya mengucap pujian untuk leluhur
sholawat bagi nabi
doa kepada tuhan
juga permintaan pada danyang kampung
di rumah, bersama enam belas laron sufi
istrinya berharap tak ada orang yang
luput dari sirep mandi
dan membuat lilin padam
atau semua akan sia-sia,
bibirnya gemetar memanjatkan harap
perempuan itu tahu
anak-anak akan selamanya kanak-kanak
: berebut mainan sewaktu bocah
berebut perempuan atau warisan
ketika dewasa, dan orangtua selalu orangtua
sabar mendamaikan
dengan cara apa pun
atau bagaimana pun
kematian mak lah
dengan wajah pucat dan mata terpejam dan tubuh dingin,
mak lah ditelentangkan di atas amben di halaman, orang-
orang datang dengan muka masam dan
matahari semakin meninggi
“kenapa ia tidak segera dikuburkan?” tanya orang-orang sambil
berteduh di teras
“apakah kau berani bersaksi bahwa ia sudah benar-
benar mati?”
tak ada yang benar-benar berani bersaksi, mereka
hanya mengingat bagaimana mak lah bangkit ketika
disalatkan di masjid pada kematiannya yang pertama,
dan merayah-rayah dengan tersengal sewaktu tubuhnya
baru diletakkan di liang pada kematiannya yang kedua
orang-orang mulai jengah dan lelah
seseorang mengeluhkan padi yang perlu disiangi
seseorang mengeluhkan sapi yang perlu diransumi
“kenapa ia selalu merepotkan?”
mereka tahu, bagi perempuan itu, kematian hanyalah perjalanan
sepele yang bisa ia ulang aliki sesuka hati
menjelang sore, orang-orang pergi
jagabaya mengatakan agar mak lah tetap dibiarkan di situ
“biar dia segera bangun kalau kedinginan nanti malam”
tapi pada kematiannya yang ketiga itu, mak lah tidak pernah
bangun lagi
dan orang-orang baru meyakininya pada hari keempat, sewaktu
bau tidak sedap mulai menguar dari tubuhnya yang bengkak
dan berair
pagi hijau
untuk ulang tahunnya yang ke-44
ning menginginkan sebuah pagi hijau
ketika biji ditabur sabar di lahan gembur,
kecambah tumbuh tidak tergesa,
dan nyanyian burung menarik matahari pelan-pelan
“agar kau lebih lama bersamaku,” katanya
di cuping telinga lelaki itu
hangat mendesir dan bergema
di liang-liang tubuhnya
tapi yang tak pernah terlambat adalah waktu
dan lelaki itu tahu, ia mesti pergi
maka dikecupnya kening ning
seraya mengingat ulang tahun perempuan itu
yang ke-40
ketika ia mengendus sebilah pisau di kolong meja
dan didengarnya ning yang bingung berujar malas
“kenapa seorang perempuan tidak pernah memiliki
waktu untuk dirinya sendiri, bahkan ketika ia berulang tahun?”
lelaki itu tahu, sebab ia karib dengan dongeng-dongeng,
bahwa ning akan berkata
“andai saja ada yang menemukan pisau itu, bila perempuan
akan kujadikan saudara, bila lelaki akan kujadikan suami”
tapi ning sudah bersuami
dan ia mendengar ning berkata
“andai saja ada yang menemukan pisau itu, bila perempuan
akan kujadikan saudara, bila lelaki akan kujadikan selingkuhan”
ia mengigit pisau itu, seperti anjing-anjing dalam dongeng
dan membawanya ke depan ning yang kebingungan dengan
seikat sayur dan seonggok daging kambing
lantas seperti mukjizat, segera ia menjadi lelaki rupawan
“iblis yang murah hati,” katanya, “memberkahi
nadarmu dengan mengirimku mulai hari ini dan sebelum
matahari meninggi setiap hari ulang tahunmu”
pada hari ulang tahunnya yang ke-44
ning masih saja berduka
ketika lelaki itu mulai kembali menjulurkan lidah
kodok kecil
kodok kecil di pinggir kali
mati terinjak kaki petani
tak jauh darinya,
semak tetap berbunga
rumput masih hijau
kutilang berdendang dari dahan kaliandra
angin mempertemukan serbuk sari dan kepala putik
ikan berenang
matahari bersinar
bumi berputar
seratus empat puluh dua ekor semut
merubung bangkainya,
bersyukur atas kematiannya
dan tak ada air mata atau puisi sedih,
tak ada hujan atau sedikit melankoli
ia menunggumu, yai
ia menunggumu, yai, di sawah tomat
sepanjang hari hidup dan malam padam
ia menunggumu, yai, bahkan ketika
hujan lari atau panas berdesir
ia menunggumu, yai, memberi rasa lain
pada air tomat, memulaskan warna lain
pada kulit tomat, memanjatkan doa-doa
atas mereka yang terbenam sebagai rabuk
bagi lunak tanah sawah itu, mengucapkan
sepatah maaf yang bakal membuatnya
rela memetik tomat-tomat matang
tapi hanya dilihatnya kau yang memandang
dendam tiap kali melewati sawah tomat itu
seraya bergumam, “tomat-tomat itu haram,
sebab hanya rabuk dari bangkai komunis yang
disesapnya”
ia belum pernah mampu memetik tomat-tomat itu,
sebab setiap kali ia hendak memetiknya, ia merasa
hendak memetik secuil demi secuil daging bapaknya
yang belum rela
Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.