Puisi

Puisi Kiki Sulistyo

Apakah yang Kau Lihat dari Seekor Lebah?

apakah yang kau lihat dari seekor lebah?

dengung sayap, sayup di kayu atap, sarang

berlapis dari malam dan getah propolis

mencari serbuk sari, nektar bunga, berhektar

daun mahkota di antara duri-duri.

apakah yang kau bayangkan dari seekor lebah?

sebatang puisi dengan putik berisi bintik sepi,

sengat rima merekat dalam irama, bila terperangkap

di jendela kaca, dengarlah upaya, mencapai cahaya,

musik dunia yang mengusik asmaradana.

2020


Burung Firdaus

tiap malam ada siul burung firdaus

dari gugus kaprikornus, seperti dengus,

padi ladang yang meninggi, melepas biji-biji

ke pusat humus, di pusar antariksa 

bila datang pagi, kau akan bernyanyi

meniru bunyi matahari, kaki-kaki akar

resap ke pusat gili, kelahiran berdengung

dalam kantung tanah, saat rampung denah

dan musim tanam dimulai 

burung firdaus turun, hitam seperti ancaman

membawa bangkai bintang, keturunanmu

menamainya iman, api yang nanti

dipakai meledakkan diri, sembari berharap

diri terlontar kembali, ke gili ini, tempat

seekor ular melingkari sebatang puisi

2020


Di Seberang Hotel

di seberang hotel, tunas tomat menempel

pada pagar rumah dinas, keping-keping

kaca masih memantulkan paras orang mati

setelah bunyi sirine dan sisa parade mengubah

kota jadi lembah api

bila nanti dari pucuknya muncul bakal biji

seseorang akan dilahirkan kembali

dengan mata buta dan lisan bagai besi karatan

tak sudi bersaksi bahwa sejarah bergerak

searah ayunan kapak pada tegak tonggak

di lobi hotel rapat akan dimulai, sebentar lagi

lonceng ekonomi berdentang dan seketika

bangunan- bangunan berdiri seperti zombie

harga-harga dan daftar belanja, surga dan pasar

terbuka, tunas tomat menggigil, seakan seorang

eksil, infantil di hadapan mulut bedil

2020


Ranjang Padi

dia sendirian, berbaring di ranjang, antara

nyala lilin dan usia tua, membayangkan kematian

serupa padi yang merunduk hendak menyentuh

bumi; tak ada lagi kelaparan di dunia ini

sebutir beras menghidupkan pucuk malam

sedang lambung anak-anak pengungsi berdengung

di langit merah wabah.

dia pikirkan benua yang jauh, kapal-kapal hantu

sepanjang perairan itu, hendak sampai pantai

para penjaga bagai dinding perbatasan

menampik kedatangan, meniup api di pendiangan

dia sendirian, berbaring di ranjang, bagai berbaring

di kolam mawar, tak ada lagi kelaparan, dia dengar suara

kanak-kanak mengepakkan sayap, membawa benih padi

terbang meninggi, ke ladang bulan, kerlipnya demikian terang

butir-butir beras di hitam marmar

2020  


Kucing Kata

seekor kucing bukan seekor kucing

sebelum dihela dari bahasa

seekor kucing hanya seekor kata

yang mengeong dalam kepala

bulunya bisa berganti-ganti;

hitam serupa malam bila perasaan

sedang muram, merah jambu seperti

rindu, bila parasmu dimerahkan

puisi itu.

sekarang si kucing sedang tertidur

dengkurnya detak jantungmu saat

bermimpi melihat si penyair menyusuri

tebing-tebing bahasa, mencarimu

yang kian basah dan bergetah

di celah-celah kata, o, gerangan

apa membuat gerahammu membuka

hingga terlepas bunyi meong itu

seolah tak sengaja ?

2020


Partitur

        : Em

setiap kali melihat telur, dia tertidur,

seluruh program diundur dan jam-jam

diulang-atur. dia terbujur bagai akan

dikubur, seekor tekukur menghambur

dari dalam sumur, membuat jalur,

seakan hendak mengukur, dibutuhkan

berapa putaran umur, sampai cangkang

itu hancur.

setiap kali tertidur, dilihatnya seekor tekukur

meluncur ke rimbun melur, sulur-sulur

cahaya terjulur dari siulnya yang luhur,

dunia lantas berdebur, nyanyi trubadur,

bunyi mesin tempur, dan keluh buruh

di jam-jam lembur, lebur dalam bunyi

mazmur, membuat limbur, seakan seluruh

partitur, terguyur hujan anggur.

2020     


Fraktal Sentrifugal

                        : bn

betapa tajam duri baiduri ini, melukai daging kata

umpama kebisuan setelah perang, berhenti untuk bertahan

lalu butir darah menitik di batang-batang perdu

angkasa memantulkan merahnya yang gemilang

noktah nebula; kabut bintang dari sisa ledakan dalam kelenjar

nama-nama diembuskan ke permukaan batu 

ular pembujuk melingkar di situ, menyaru bercak bulan

radang cahaya menghidupkan burung-burung hujan

gelombang sentrifugal yang menjauhkan kata dari makna

ucapkan ‘eureka’ ketika semua percobaan telah gagal

nanti di tempat rendah ini, segala sesuatu akan kembali baru

akan kembali kilap, berkilau di dinding-dinding kitab

2020


Kiki Sulistyo, lahir di Kota Ampenan, Lombok.Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020).

Puisi

Puisi Budhi Setyawan

Penyepian

begitu dalam pagut gaduh meracuni urat tahun
dan kepak jelajah kian jauh
dilambai ingin yang terus ulurkan samun
jalanan pun penuh lampu
yang sumbunya mengait ke detak masa depan
dengan rumus yang dikeramatkan

lalu merecik 
kilasan tanya di tubir pasai
ke mana alamat semua arus ini
ketika semua peluk dan ciuman ketergesaan
adalah serombongan tafsir yang banal
dan juga gagal dalam menandai
denyut keberadaan 
di bawah tatapan ruang yang seringai
dan terkaman waktu yang serigala

lalu perlahan dan lirih
ada yang memanggil untuk duduk berdiam
di haribaan hening jam 
mengembalikan hasrat kepada rongga
jeda napas sebelum terbit kata
pukau yang tersapih dari risau
bukan tentang siapa siapa
dan tidak untuk apa apa

Bekasi, 2020 


Silam Haru dan Rudapaksa Kota

sepi
bertandanglah
usapkanlah telapak nirmalamu
ke dadaku yang tirus dan koyak ini
oleh riuh amuk berahi kota
yang rajin kirimkan peluk
dan menciumiku tanpa cinta

ingin kulepas kepercayaan pada langit
saat keniscayaan kata begitu rumit
dan teduh dusun di punggung kanak masa lalu
diam diam menertawakanku

ah, ini kegilaan menggumuliku
sampai tumpas lepas belulang kenang
suaraku pun gawal menyentuh kemurnian waktu
tak ada kesedihan 
hanya ada bisik berkaca kaca
diam diam merayap sendiri
ke ruas napas yang begitu piatu

Bekasi, 2020 


Nujum Cium dari Kota

kota kota adalah tarian para perempuan sintal
yang datang dengan dada setengah terbuka
berlari gegas padamu sembari 
mengabarkan ramalan kebahagiaan
dan mengibarkan bendera
bertuliskan sajak sajak masa depan
tercerabut dari kemarin yang temaram

lenguhannya menikam jantung langit 
mencipta awan yang entah kapan
menjelma hujan
dan rayuannya selalu menjadi penunjuk jalan
bagi kuda hijau usai melepas diri dari istal

mereka merawi hasrat kemakmuran
menjadi kitab ciuman 
yang antarkan musim penghambaan
pada pohon larangan dengan dahannya
memijarkan lampu lampu
sebarkan bayang ketergantungan

kau pun menjadi bagian 
dari yang mengimani kejumudan 
dalam kerubut kesibukan kata kata 
yang mengalir dari pelukan kota berparfum nakal
dan membuatmu lupa pada riwayat muasal

Bekasi, 2020 


Kota Besar

kota besar
adalah sosok asing yang melintas
di depan kita saat menunggu
keajaiban nasib
dari kesialan yang rumit

dengannya tak banyak cakap
tentang nama atau alamat
apalagi ihwal tabiat
namun tetap kita kawini juga ia
sudah kepalang tanggung cumbuan
mesti segera dituntaskan
lebih hunjam
dan ratusan ritual pengulangan

maka lahirlah anak anak
bermata cekung
dengan tatapan nyalang dan sangsi
lalu berkata:
ceritakan pada kami apa itu cinta?

Bekasi, 2020 


Diingatkan Agar Melupakan

lupakan ciumanku,
katamu dari balik bait puisi
di halaman sebuah buku 
yang tekun ikhtisarkan waktu

kalimat bermajas telah berlalu
menuju kemarin yang tenang
tetapi kuraba masih ada tubir retak 
dari hampar kemarau di bibirku

saat kubuka halaman berikutnya
kamu kembali berucap
kau amat bandel ya,
betah bersama lembar perihmu

Bekasi, 2020 


Sebagai Teman

sebagai teman 
izinkan aku menemanimu
membaca puisi 
pelan pelan merunut 
dan menyusup ke sebalik diksi 
mencari cuaca yang lebih teduh dari hari ini
meski ia tak jua tertangkap 
biarlah menjadi buhul dalam ingatan pagi

kembali kita akan jelajahi
setapak rumpil di antara tunjam tunjam majas 
yang sulurnya mengejapkan bermacam warna
detak kita mengejar ruang ruang baru
yang berjela rambatan tafsir
seperti berkelok raih 
gulir usapan jauh dan dekat
meski lagi lagi kita tak mendapatkan buruan
hingga bait penghabisan
dan kata terakhir

sebagai teman
izinkan kutulis puisi untukmu
namun jangan kautanya makna
barangkali saja bisa menjelma sehampar taman
yang tak lupa pada matahari
dan tumbuh rimbun perdu kegembiraan
yang dengan riang akan bilang:
betapa kita tak pernah sendiri

Bekasi, 2020 


Bepergian

ada kalanya kita perlu bepergian
ke tempat terjauh di dalam diri
ke bilik-bilik yang selalu terang
meski tanpa lampu dan matahari

di sana kita bisa merekam detak
membaca napas dan mengusap
pori yang menyimpan getar puisi
dan terlalu lama menunggu sendiri

Bekasi, 2020


Detak Detik

tiba tiba jam dinding
di ruang tengah itu berucap
maaf, aku jalan sendiri dulu

ku tak bisa menunggu

kau kelewat peragu
diammu serupa jarum menusukku
sedangkan kau pun tahu
aku tak punya banyak waktu

Bekasi, 2020


Perempuan Bubu

aku hanyalah ikan kecil
yang riang berenang 
di riak kali kecil
berbatu

lalu kutemu bantaran 
landai dengan sebaran kerikil miring 
dan jeram mungil

kuturut arus
terjun di lubuk tenang
dan cuma satu arah
aku masuk ke sempit pintu
dengan rumbai tajam lidi bambu
tak bisa lagi keluar ke hulu

berputar putar aku
dalam perangkap
bubu

: lingkarwaktu, sintal tubuhmu

Bekasi, 2020 


Pagi Mencakar Dadaku

matahari kabarkan beringas kemarau
teras rumah dipanggang
dan seonggok tubuh luruh
bobi, anak kucing dengan tubuh kaku pergi

tak ada lagi mungil kuku kuku
mencakar kandang
memanjat kaki dan punggungku

kemarin kau melemas
tak mau bersantap
seperti teman temanmu

ah, gegasnya kau 
menancapkan haru 
di pagiku

Bekasi, 2020 


Budhi Setyawan, lahir di Purworejo, 9 Agustus 1969. Mengelola Forum Sastra Bekasi (FSB) dan Kelas Puisi Bekasi (KPB), serta ikut bergabung di komunitas Sastra Reboan dan Komunitas Sastra Kemenkeu (KSK). Buku puisi terbarunya Mazhab Sunyi (2019). Bekerja sebagai dosen. Saat ini tinggal di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.

Puisi

Puisi Moh. Rofqil Bazikh

Di Sebuah Angkringan Kita Hanya

Berusaha untuk Saling Mengenang

sambil kutatap matamu, dari sana

kepedihan yang tidak bisa

diungkapkan lewat kata-kata

berhamburan, berebutan masuk dadaku

kita hanya punya satu cara

;mengenang sebaik mungkin

yang sudah-sudah

kau balas menerobos sepasang mataku

katamu, keteduhan dapat ditemukan

di mana saja, termasuk di mataku.

selanjutnya percakapan kita

lebih sering ditelan bising kendaraan

sementara kau lebih suka pada diam

di angkringan ini, kita sepakat

cara paling baik mencintai

adalah mengakhiri

lalu menjalani hari sendiri-sendiri

selebihnya kita hanya diperbolehkan

untuk saling mengenang

atau berciuman meski hanya

bayang-bayang

Jogjakarta, 2020


Sebelum Kau Pulang

berhari-hari kita meruncingkan percakapan

meramal nasib masing-masing

sesekali membayangkan rumah kita

yang luas untuk menampung kesedihan

tiba-tiba waktu lekas berlalu, aku

seperti tawanan yang kalah di pelukanmu

selanjutnya kita akan mengatur jarak

mengukur batas-batas kepedihan

kalah di hadapanmu jauh lebih mulia

daripada aku harus berjalan sendirian

menelusuri bukit kata-kata

lereng-lereng bahasa

setelah kubuka pintu

setelah jendela tersibak seluas masa lalu

aku tidak menemukan siapa-siapa.

kau gegas pulang, seumpama tanah

ditumbuhi bibit-bibit jelatang

aku sendirian dihunus sepi logam

kita akan bertemu dalam doa

yang hanya kita sebagai isinya

Jogjakarta, 2020


Cinta Kita Tua dan Hanya Mengenal Kata Setia

sama dengan jarak, umur sekadar perhitungan

ketepatan demi ketepatan dan kecepatan

berasal dari ketiadaan.

cintamu yang tua, setua jendela rumah

dan sengaja membiarkan angin jelita

mengusik tidur kepedihan

seumpama kau menengok jendela itu

dan membayangkan betapa menakutkan

seluruh isi rumah, tidak lebih

dari kenangan rapuh kitab-kitab masa lalu

sebetulnya kau hanya menerka yang tiada

setelah benar masuk, kemudian rasakan

keteduhan lain berpilin di dinding.

cintaku yang tua dan hanya mengenal

setia, kata yang menderas dari jiwa.

sambil mempertanyakan, mengapa

kesepian tidak pernah bisa dilawan

meski kita tidak sepenuhnya tunduk

dengan tenang.

Jogjakarta, 2020


Sebuah Kopi, Sepi, Puisi

di pojok timur, dekat pintu masuk

kita berhadapan. kau seperti menghitung

berapa banyak kesedihan yang masuk

dan keceriaan yang dibawa pulang.

meski terlebih harus kita cuci tangan

agar tak ada ketakutan-ketakutan

masuk ke dalam

berikutnya kau akan menyeduh kopi

dan pahit yang kental di sulbi cangkir

seperti hidup kita, pahit terus ada

kau berucap dan hanya pantas

didengar berdua.

aku mulai sibuk dengan puisi-puisi

atau tidak sengaja meninggalkanmu

dihunus sepi yang belati.

di matamu, kesedihan mulai dibangun

di dadaku, sesak perlahan turun.

Jogjakarta, 2020


Mereka Merawat Jarak

orang-orang berkumpul, lari dari kerumunan sepi

di kesengitan hari-hari.

belajar cara paling baik merawat jarak

mengusir dada-dada yang sesak

mereka mencintai kampung halaman

yang separuh terbuat dari masa lalu

separuhnya lagi, dari kenangan

yang menyusup diam-diam

hari ini orang-orang rajin berkumpul

dunia terlalu buruk bagi penyendiri

dunia yang hanya sibuk mengganti

nama hari-hari

mereka sama-sama merawat jarak

hidup hanya bergantung

pada cara perayaan

pada cara mengurai

satu-satu kesakitan

Jogjakarta, 2020


Menunggu

kami akan menunggu, malam lekang

menuju arah-arah subuh

dan pagi kembali terbit dari matamu

sebaris doa, kami racik

mengalir di penjuru aorta

sebetulnya, malam lebih paham

bagaimana mendengarkan

kepedihan, dengan sunyi mencekam

semisal amuk api dalam sekam

sampai matahari terbit dari jalan biasa

dan bumi sudah tidak dibayang

bayangi wajah sepi

kami terus menunggu, sampai jarak

tidak lagi diberhalakan

sampai keramaian bukan sesuatu

yang asing di padang pikiran

Jogjakarta, 2020


Aku Mencintaimu Lagi dan Lagi

sebuah puisi kutulis dan kuyakini

bahwa ia lahir dan kesakitan

kesepian yang menggunung

sementara dadaku sendiri

tidak begitu betah pada sesak

yang lama beranak diam-diam

maka satu-satunya jalan,

puisi ditulis untuk melawan

kepedihan. dan sakit yang terus

kita kutuk sepanjang perjalanan

namun begitu, aku

aku mencintaimu lagi dan lagi

dan kerap membayangkan setiap

puisi yang kutulis sendirian

mendapatkan engkau di dalam

dengan begitu, macam kesakitan

hanya nama lain dari kesepian

dan mencintaimu adalah tugas lain

yang tidak perlu selesai dengan cara

terburu-buru

Jogjakarta, 2020


Usaha Melihat Diri

puisi ini ditulis untuk mewakili kerumitan

yang kutunjukkan, macam-macam kotoran

melekat di dadaku yang temaram

maka, bacalah puisi ini perlahan

selanjutnya kau boleh menerka

;barangkali manusia diciptakan

dari tanah yang berwarna hitam

kau masuki dadaku, sebuah rimba

dengan salak anjing dan igau serigala

kau temukan belukar terbakar

meski menjuntai juga, sebaris kembang

srigading dengan kelopak menyembah

langit kita yang hening, langit bening

puisi-puisi yang kutulis dengan tulus

sebelumnya juga lahir dari dada berkabung

dari kesalahan-kesalahan

yang darinya seolah aku berlindung

Jogjakarta, 2020


Puisi Ini Engkau Baca Diam-diam

setelah puisi ini ditulis dan seluruh isi

adalah engkau. kuserahkan semua

agar dibaca diam-diam

meski tubuh dalam  keadaan demam

diserang macam-macam kesepian

setelah aku meninggalkanmu

puisi ini lebih berarti dari seluruh

yang tercipta di semesta

dari yang terus mengalir

dari jantung kata-kata

kau membaca sambil terpejam

membayangkan bagaimana

kesepian tidak selalu menakutkan

di dalamnya ada doa kita

yang melantun, menerobos

rumpang dada.

setelah puisi ini dibacakan

tiada yang lebih menyedihkan

dari kepulangan yang pelan-pelan

Jogjakarta, 2020


Hari Raya Kesepian

berhari-hari tanpa engkau, tubuhku

dililit batang-batang kesepian

setelah kepulangan, nama hari

berganti pada kesedihan

kau tidak pernah menatap mataku

dan aku merasa lebih tenang

di cinta yang tidak pernah tenteram

sekali-kali belajar bagaimana lelaki

yang hanya menangis untuk

merayakan kepahitan

barangkali matanya lebih teduh

dari mataku dan seluruh

bagian-bagian tubuh

berhari-hari tanpa engkau, dunia

enggan disibukan selain dari ingatan

apa-apa yang menjamur di pikiran

Jogjakarta, 2020


Moh. Rofqil Bazikh, lahir di pulau Giliyang dan sekarang merantau di Yogyakarta. Puisinya termaktub dalam beberapa antologi dan tersiar di pelbagai media cetak dan online.

Puisi

Puisi Gusfahri

Memetik Gitar di Dadamu

Mencintaimu membuatku mengerti banyak hal

Seperti pagi ini yang membawa embun mataku

Pada bunga di halaman dengan meremas dada kiri

Dan berjalan satu kaki.

Aku membaca puisi sebelum membuka pintu

Lalu keluar dan terus membacanya.

Sebab aku percaya langit adalah jendela rumahmu

Meski cuaca belum bisa aku raba.

Jangan selalu bertanya

Mengapa hujan membuatku betah di luar rumah

Serta kemarau menjadikanku tabah pada gerah

Bisa aku jawab sekarang kekasih?

Tidak!

Di matamu aku masih saja rumput

Yang disiram dengan pestisida air matamu

Berperang dan berhijrah dari trauma.

Kau mengatakan hal sama, seperti:

Tulang kita semakin berwarna susu.

Sia-sia kekasih!

Sama halnya bunyi

Saat aku belajar memetik gitar di dadamu.

Lagu itu membuatku mengerti

Bahwa cinta tidaklah sederhana

Ia adalah luka mengasyikan yang

Membuatku menundukkan kepala.

Sekarang apa yang kurasakan

Tangan meremas keras dadaku

Merupakan amin pemetik dadamu.

Mata Pena, 2020.


Menikmati Musim

Langit berkata, aku bisa menangis

Namun matamu lebih awal memulai hujan.

Angin barat dan timur beradu

Awan menunda segala perpindahan

Menghitam. Di langit mataku.

Sedang, sisa sia-sia penyair menjadi cinta.

Dan Tuhan sedang bercanda

Bercanda bersama kita dan kata di kepala.

Kita hari yang berbeda, katamu.

Namun, aku langit

Merindukan sungging pelangi di bibirmu.

Aku membuka almanak yang

Menyimpan angka-angka kusam.

Sama sekali tidak ada kedip matahari.

Puisi menatap jemari yang gigil.

Mataku makin tertuju pada kaki

Yang tercatat di akhir bulan.

Ah! Sekarang musim cinta

Angin sedang membawa angka berwarna.

Mata Pena 2020.


Sebelum Hujan Meninggalkan Bekas

Hari yang basah, dengarlah ritmisku

Menyentuh tanah dan kuyup.

Di jendela, segala renta tersimpan.

Kesah kasih menarik ingin aku kisahkan

Padamu. Seperti, aku yang tak bisa rintik

Namun basah tanpa sengaja.

Aku ingin berlarian di kota

Yang bisa kuartikan mengeja gila.

Gila menjadikanku kekar tangkar

Dari segala yang tengkar, sebelum

Aku membaca rambu-rambu cinta.

Tapi, aku tak berhati-hati pada kata itu.

Aku mencoba keluar dan meratap

Kendaraan yang teramat cemas

Lalu lalang di kepala. Getar kakiku memaksa maju

Meninggalkan kursi, meja, kopi

Dan diriku sendiri di rumah. Di luar sangat bebas,

Aku berteriak mengacungkan bunga puisi.

Berlarian menolak semua bengkak.

Aku semakin riang, meski

Hujan dari tadi menghentikanku.

Membuat segala luka tinggal, mungkin.

Mungkin selamat dari sehat. Atau

Korban kelaparan, sebab

Mengganti mata ibu di saku dada

Dengan mata yang aku tak tahu milik siapa.

Tapi lepas dari semua itu

Tubuh tiba-tiba jatuh di jalan

Yang tak sampai kutempuh separuh. Sial,

Puisi dan aku menjadi medan tabrak lari.

Darah bersimbah menyembah kepulangan.

Aku berminat pulang. Namun,

Hujan lebih dulu menghapus jejak palung.

Meninggalkan pelangi yang tersenyum

Karena indah seorang diri. Sedang

Aku terus menahan pandang,

Memeluk lutut sendiri.

Semenjak itu, kaca adalah sahabat setia.

Aku menatapnya dan tak berhenti hati mengingat.

Pakaian yang kukenakan di waktu itu

Dibiarkan amis darah

Tanpa sesekali mencucinya.

Menunggu hari selanjutnya untuk kupakai.

Di hari ini.

Mata Pena, 2020.


Jejak Anak Palestina

Seorang anak berkepala polos terus meratap langit

Meremas luka di dadanya.

Bangunan kusam tak lagi membentuk sebuah kota

Tertata di sela sakitnya.

Mereka umpama duli di kaki persembunyian,

Masa layang-layang adalah keringat aborsi.

Tubuh sesaat bisa menjadi bidikan

Senapan zionis yang tak kenal bosan.

Derita tanah darah menyimpan anak-anak

Membasuh memar dengan air matanya

Tanpa batas tahun dan waktu.

Seorang anak berkepala polos terus meratap langit

Yang berupa mata ayahnya.

Tatapan terakhir menyusun debar

Aku tidak bisa memberimu masa kecil

Kata ayahnya.

Tubuh yang memutih dan menanggung puluhan lubang

Tergeletak di pangkuan anak itu.

Derita tanah darah menyimpan anak-anak

Mengganti panji pusaka ayahnya.

Kobar jihad tak ada hentinya.

Mata Pena, 2020.


Perjalanan menuju rumahmu

“Kau sedang di mana?”

Suaramu ringkih yang entah asalnya.

Aku sedang berlarian bersama lampu mobil

Mengendus garis putih menuju rumahmu.

Di dalam baja berjendela kaca ini

Aku mengamati kota dengan serius mungkin:

Gedung adalah tubuhmu yang nampak

Pada langit mataku, meski hanya memandang jarak.

Setiap tikungan kulalui dengan klakson

Dan degup dada. Seseorang sering meneriakiku

Agar memasang spion sebelum orang lain

Menyalip dan membekaskan air mata,

Dan itu terus berulang-ulang.

Sesampainya di rumahmu,

Aku memarkirkan diri di halaman

beranjak pelan menuju pintu dan mengetuknya.

Tak ada satu pun yang muncul.

“kau sedang di mana?” aku bertanya balik

“Aku sedang berada di pikiranmu”.

Mata Pena 2020.


Gema Malam Anak Rantau

Malam ini, seseorang menahan diri

Meraba jendela dengan kubangan air mata.

Di kota yang tak menjamin ia lahir

Terus tabah menghidu rindu

Melagukan ninabobo tanpa seorang ibu.

Pikirannya membabi buta

Merekam opera yang terjadi di siangnya:

Memungut uang dari seluruh peluh,

Kepergok orang asing yang tak punya pandang.

Ia menceritakan semua dengan tangis

Sembari mengusap foto keluarga.

Di malam ini, tiada teman selain sajadah

Ringkih tubuh ia putar pada biji tasbih:

Satu putaran berupa doa,

Selanjutnya adalah air mata.

Mata Pena,2020.


Bapak Seorang Petani

Terdapat ladang di keriput kening bapak

Tempat  mencangkul dan membajak,

Menanam kewajiban dengan peluh

Tabah menyiram seluruh.

Ekspedisi hidup berkalang otot dan doa

Selapang hati ia memanennya

Tanpa mempersaksikan air mata.

Mata Pena,2020.


Panggil Aku Merdeka

Cerita dimulai saat aku membuka buku tua

Menyapa seseorang yang matanya masih mengalir darah

Menjelma mata air.

Panggil saja aku merdeka, ungkapnya.

Aku terkesan melihat orang itu

Setiap menulis sajak dengan bambu runcing

Dan membacanya penuh tekad

Tumbuh rimbun pohon di dadaku.

Sampai sekarang pun

Sajaknya menjadi lagu

Bagi tidur anak-anakku.

Mata Pena, 2020.


Di Laut Kutemukan Matamu Tenggelam

Laut mengingatkanku pada kegaduhan

Antara waktu dan tubuhku yang merebut ombak

Aku sering kalah, ringkih kakiku lemah di atas karang-karang

Karang hatimu. Namun aku suka laut.

Nun sebelum aku mengenal tepi

Tak satu pun kutemukan siapa nyala

Dalam pancarona langit

Yang menjadi dongeng paruh baya waktu

Seperti, aku ingin menjadi sampan di tengah ombakmu

Di tepi, karang mengajariku rela

Pada setiap yang pergi

Namun, matamu masih pasang

Seakan lautan kehilangan luas

Aku suka caramu menatap

Bahkan setelah mati

Aku ingin dimumi bersama karang-karang

Dan leluasa  jeremba swastamita matamu.

Mata Pena, 2020.


Sebut Aku

Sebut aku wadah merdeka:

Darah pahlawan adalah segumpal daging

Yang berbiak menjadi aku.

Sebut aku panji suci:

Kibar merah putih serupa zirah

Kukuh di dada.

Sebut aku bambu runcing:

Tekad yang tajam melebihi mata pedang

Tertancap sorak kemakmuran.

Mata Pena, 2020.


Gusfahri atau Gusti Fahriansyah, berasal dari Desa Torbang Batuan Sumenep menggeluti sastra mulai dari Majelis Sastra Mata Pena, SMA Annuqayah, Persatuan Santri Lenteng (Persal), komunitas Tumpah Pena, serta Sanggar Gemilang. Juara1 LCPN SIDERIS INDONESIA. Karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak juga online. Surel: [email protected]

Puisi

Puisi Arida Erwianti

Gadis Sepatu Biru

Sepanjang hari gadis bersepatu jelly hak tinggi

ia merasa bisa menjangkau apa saja

lalu membuka kuku-kukunya dan menulis puisi

pintu kamarnya yang layu setengah terbuka

agar ibunya tahu ia tidak ke mana-mana

karena setiap malam datang

ia menyelinap melalui dinding-dinding  pada bantal

ia terbang ke dalam status dan foto-foto dalam media sosialnya


Sedu

Di dinding kamar kau melukis jendela

setelah membuang nama-nama di jalanan

kepala dan debaran di dadamu sibuk

mengingat yang pernah menjelma menjadi tempat pulang

berulang-ulang

tapi lupa memberi kompas


Kau dalam Diriku

Aku telah lari, darimu

tapi seperti bekerja keras di atas treadmill

ketika jarak direntang jauh dan penuh

aku selalu menjangkaumu di mataku

melupakanmu sedemikan rupa

tapi kau ternyata berada dalam laptop bahkan dalam lemari pendinginku

kubelai-belai wajahmu di layar gawai

berharap menulis ulang matahari

hingga suatu malam seorang tua datang berbisik

untuk menggengam namamu dalam doa, maka kudekap

engkau benar-benar lepas


Di Telingamu

Aku ingin berkirim surat ke telingamu

kutulis dengan tinta berisi lagu favoritmu

aku akan menyusun puzzle di telingamu

kupakai sarung tangan dari madu

aku ingin berbisik di telingamu

dari tempat yang jauh

saksama kutunggu isyarat

angin selalu meniupkan sesuatu yang jujur namun bergegas pergi

dari ruang gelap, aroma jeruk dan juga tentang layang-layang


Api

Di matanya lilin menyala

mataku meraup matanya, haus

besoknya ia bilang, maafkanlah yang penuh angkara

ia bukanlah seorang yang kuat,

ia lemah membiarkan hutan terbakar-bakar di dalam dirinya

lilin di matanya menguar hangat

aku terbaring di sana


Surga dan Medan Perang

Dadamu pernah menjadi medan perang

kau hunus kalimat berakar raksasa

tapi engkau juga

yang napasmu menjelma subuh yang hening

dengan

telapak kaki yang surga

hasratmu meraup dunia

dalam toko furniture berdinding biru, yang akan kau masukkan dalam kotak kaca

tetapi dalam udara kita berbagi

rumah tak bisa dijejali dengan sepuluh meja makan


Metropolitan dan Payung Hitam

Berganti-ganti gawai mereguk daya dari kabel-kabel

sampai tuntas

tapi ternyata orang-orang tetap dahaga

berteriak-teriak di tengah kota metropolitan

berpuluh-puluh tahun

tapi suara raib tertelan gedung beratap kelabu

baju hitam tak lagi berwarna

karena mata-mata buta sebelum membuka

panas meranggas pada getir

payung hitam telah diterbangkan


Cinta

Mencintaimu dengan penuh

karena umur tak utuh

mencintaiku dengan bara, katamu

karena masa tak selamanya benderang

pada tubuhmu padang telaga muda yang ranum

kurengkuh bagai masuk dalam mesin waktu

pada jiwaku jalan panjang berasam garam, katamu

kau tempuh dengan tafakur

cinta tak pernah melukai

karena darinya pisau kita petik

untuk mengupas buahnya, yang lebih dulu


di

di pantai aku melukis rindu berjilid-jilid

di langit aku berbisik, menabur daun-daun

di keheningan kupetik senja setelah hujan yang keemasan

pada getar, aku termenung merapal doa-doa

pada riang, aku telah menari-nari

di kedai kopi aku menulis surat untukmu

dengan alamat yang telah kuketahui bertahun-tahun

di rumahmu kutersesat

setelah memandang matamu, labirin yang biru

di mana aku berujung?

padahal tanya tak pernah dimulai

di mana kita berpisah?

padahal pertemuan tak pernah


Kita tanpa catatan kaki

Jika langit terbentang, hati kita melapang

Jika hutan-hutan menghijau, jiwa kita merimbun

kita adalah kaki-kaki kecil, berjalan melewati semesta

menunggu matahari terbit, dengan menulis buku-buku yang tebal

pada permata kita tak silau

karena mata kita adalah kilau

namun, entah sejak kapan kita menjadi ahli berpatah hati

tapi pencari ulung dalam ruang kesyukuran

pagi ke petang bagai kelopak bunga-bunga

yang kita jahit dengan benang, satu-satu

kita usai, tapi penuh


Arida Erwianti, lahir di Segeri, Sulawesi Selatan. Ibu rumah tangga, dan sedang menempuh pendidikan di Pasca Sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia. Pengajar di STKIP Kusuma Negara. Menulis buku“Mozaik Pemikiran Pendiri Bangsa” (Kumpulan tulisan). Cerpennya pernah dimuat di media. Dapat dijumpai di instagram @ridawianti.

Puisi

Puisi Dadang Ari Murtono

pembuat topeng

maut seperti cahaya fajar yang tak terelakkan, atau

angin dusun yang menyusup melalui bilah gedek

tapi lelaki itu gesit berkelit

dengan lambung bocor dan hati bengkak yang mesti ia

gembol ke mana-mana

“beri aku waktu sedikit lagi, beri aku waktu sedikit lagi,” gumamnya

ketika api neraka serasa dituang di kawasan perutnya

dan ia raut pelan-pelan pangkal bambu

menyerupai wajahnya yang kurus dan nyaris tak berdaging

lantas ia letakkan di tempat di mana ia tahu, maut

akan datang untuk menjemputnya, maut yang kemudian kecewa,

maut yang akan kembali memburunya dengan kemarahan

yang lebih besar, maut yang terus merutuk, “hanya karena

namamu slamet, bukan berarti kau selalu selamat!”

dan ia akan terus kabur, terus bergumam, “beri aku

waktu sedikit lagi, beri aku waktu sedikit lagi”

dengan lambung bocor dan hati bengkak

ada yang belum tunai ia kerjakan dalam hidup

: merasa bahagia meski hanya tiga detik


angin besar

angin besar

turun dari gunung

angin besar

menderakkan dahan-dahan

angin besar

mengelus ubun-ubun lelaki demam

angin besar

menebang dahan-dahan

angin besar

mengusap nisan di kaki gunung


anjing geladak

lima menit sebelum pukul empat petang

hari sudah gelap, udara berat, mereka

tak ingin menyibak selimut

“di kehidupan selanjutnya,” perempuan

itu berkata dengan suara serak

“aku akan lebih dulu menemukanmu”

dan si lelaki menguap

ia tahu, mereka mesti pergi

sebelum ibu anak-anaknya menelepon

“pada waktu itu,” kata si lelaki

“kita akan tinggal di pacet, di mana

waktu merangkak, dan ruang meluas,

agar dingin mengingatkan kita supaya terus

berpelukan, agar angin pegunungan memanjangkan

usia kita, agar hamparan sawah bawang menyegarkan

mata kita, agar…”

“agar kita bahagia,” potong si perempuan

tapi mereka berkemas juga

ketika geluduk pertama terdengar

mereka bukan orang lokal, mereka

tak tahu, di pacet, doa-doa tak lazim

gampang diijabahi

tiga kilometer kemudian, di sela pekat kabut

si lelaki melihat seekor anjing melompat,

ia mendengar decit ban, ia merasa jari perempuan

itu mencengkeram pinggangnya, ia mencium amis darah

ia tak tahu berapa lama terlelap,

namun ketika membuka mata, perempuan

itu begitu dekat dengan dirinya, begitu lekat

“apa yang terjadi?” ia tak mengerti

“kukira,” perempuan itu menjawab

“seekor anjing geladak memakan bangkai kita

dan dalam dirinya, kita kini meneruskan hidup,

bersama, bersama, seperti yang kita inginkan”


di gua jepang cangar

di ranjang tanah yang keras itu maut datang dan mengelus

tubuh mereka, yang muda dan telanjang

udara pengap jadi panas

“apakah ini hawa neraka?” tanya si perempuan

“ini nuansa cinta,” si lelaki melekapkan bibir di leher yang

bersemu hijau

lenguh menggema

dalam gelap yang kekal

lantas rintih

kesakitan

dari tubuh yang ringkih

“aku tak bisa melepasnya”

“tapi kau harus melepasnya”

di samping mereka, maut menari

dengan satu kaki menginjak punggung si lelaki

mereka ingin menjerit

tapi tak sanggup

mereka tak kuasa membayangkan

orang-orang tiba

dan menemukan mereka

masih terpaut

tapi tujuh hari kemudian

orang-orang tetap datang

dan mendapati mereka

saling memeluk dan membusuk

terbungkus udara lembab

di lantai gua yang kotor

“mereka sepasang pezina terkutuk!” kata kiai setempat

“mereka sepasang pecinta yang terberkati,” gumam seorang remaja

yang tengah kasmaran


pulang ke pacet

“minggir, minggir, seorang turis dari kota jauh

mau lewat,” seseorang berteriak, sedikit serak,

sedikit kasar

dingin mengeras dan menegang

jalan membuka dan memanjang

kafe dan pujasera menjulurkan tangan,

pemandian dan arena wisata foto mengenalkan

nama, vila dan hotel tersenyum menyapa ramah

tapi turis yang baru tiba itu hanya ingin

berbicara pada sawah dan padi

dalam kepalanya, kambing dan sapi

dalam kenangannya

ia bukan turis, sesungguhnya

malam membeku

tapi bulan kuning leleh seperti mentega

ia orang lokal, lama terjerat kota

lantas kembali

untuk menjadi orang asing

dan seorang pemandu dengan suara serak,

berteriak sedikit kasar

demi ia

“minggir, minggir, seorang turis dari kota jauh

mau lewat!”


suratman berjalan telanjang tengah malam

enam belas laron sufi

mengerubung nyala sebatang lilin

di puncak musim hujan yang pucat

dari nako jendela, suratman tahu bulan layu

langit kuyup kelam, dan ribuan laron

meredupkan lampu di sepanjang jalan

setelah selarik mantra

orang-orang tiba pada lelap purba,

suratman akan berjalan

perlahan seperti ratapan tobat nasuha

telanjang seperti bayi yang fitrah

berkeliling kampung seperti seorang jagabaya

“berangkatlah,” kata istrinya

dibukanya pintu belakang

dingin mengerutkan buah zakar

angin membawa ujian

mengembus nyala lilin

yang ditudung istrinya dengan dua telapak tangan

dan suratman berjalan

seraya mengenang dua putra tercinta

yang berseteru di jalanan

dengan arit dan maki

sebelum empat orang di warung yu rai

datang dan melerai,

memperseterukan seorang perempuan

yang tak setia; suratman berjalan

seraya mengucap pujian untuk leluhur

sholawat bagi nabi

doa kepada tuhan

juga permintaan pada danyang kampung

di rumah, bersama enam belas laron sufi

istrinya berharap tak ada orang yang

luput dari sirep mandi

dan membuat lilin padam

atau semua akan sia-sia,

bibirnya gemetar memanjatkan harap

perempuan itu tahu

anak-anak akan selamanya kanak-kanak

: berebut mainan sewaktu bocah

berebut perempuan atau warisan

ketika dewasa, dan orangtua selalu orangtua

sabar mendamaikan

dengan cara apa pun

atau bagaimana pun


kematian mak lah

dengan wajah pucat dan mata terpejam dan tubuh dingin,

mak lah ditelentangkan di atas amben di halaman, orang-

orang datang dengan muka masam dan

matahari semakin meninggi

“kenapa ia tidak segera dikuburkan?” tanya orang-orang sambil

berteduh di teras

“apakah kau berani bersaksi bahwa ia sudah benar-

benar mati?”

tak ada yang benar-benar berani bersaksi, mereka

hanya mengingat bagaimana mak lah bangkit ketika

disalatkan di masjid pada kematiannya yang pertama,

dan merayah-rayah dengan tersengal sewaktu tubuhnya

baru diletakkan di liang pada kematiannya yang kedua

orang-orang mulai jengah dan lelah

seseorang mengeluhkan padi yang perlu disiangi

seseorang mengeluhkan sapi yang perlu diransumi

“kenapa ia selalu merepotkan?”

mereka tahu, bagi perempuan itu, kematian hanyalah perjalanan

sepele yang bisa ia ulang aliki sesuka hati

menjelang sore, orang-orang pergi

jagabaya mengatakan agar mak lah tetap dibiarkan di situ

“biar dia segera bangun kalau kedinginan nanti malam”

tapi pada kematiannya yang ketiga itu, mak lah tidak pernah

bangun lagi

dan orang-orang baru meyakininya pada hari keempat, sewaktu

bau tidak sedap mulai menguar dari tubuhnya yang bengkak

dan berair


pagi hijau

untuk ulang tahunnya yang ke-44

ning menginginkan sebuah pagi hijau

ketika biji ditabur sabar di lahan gembur,

kecambah tumbuh tidak tergesa,

dan nyanyian burung menarik matahari pelan-pelan

“agar kau lebih lama bersamaku,” katanya

di cuping telinga lelaki itu

hangat mendesir dan bergema

di liang-liang tubuhnya

tapi yang tak pernah terlambat adalah waktu

dan lelaki itu tahu, ia mesti pergi

maka dikecupnya kening ning

seraya mengingat ulang tahun perempuan itu

yang ke-40

ketika ia mengendus sebilah pisau di kolong meja

dan didengarnya ning yang bingung berujar malas

“kenapa seorang perempuan tidak pernah memiliki

waktu untuk dirinya sendiri, bahkan ketika ia berulang tahun?”

lelaki itu tahu, sebab ia karib dengan dongeng-dongeng,

bahwa ning akan berkata

“andai saja ada yang menemukan pisau itu, bila perempuan

akan kujadikan saudara, bila lelaki akan kujadikan suami”

tapi ning sudah bersuami

dan ia mendengar ning berkata

“andai saja ada yang menemukan pisau itu, bila perempuan

akan kujadikan saudara, bila lelaki akan kujadikan selingkuhan”

ia mengigit pisau itu, seperti anjing-anjing dalam dongeng

dan membawanya ke depan ning yang kebingungan dengan

seikat sayur dan seonggok daging kambing

lantas seperti mukjizat, segera ia menjadi lelaki rupawan

“iblis yang murah hati,” katanya, “memberkahi

nadarmu dengan mengirimku mulai hari ini dan sebelum

matahari meninggi setiap hari ulang tahunmu”

pada hari ulang tahunnya yang ke-44

ning masih saja berduka

ketika lelaki itu mulai kembali menjulurkan lidah


kodok kecil

kodok kecil di pinggir kali

mati terinjak kaki petani

tak jauh darinya,

semak tetap berbunga

rumput masih hijau

kutilang berdendang dari dahan kaliandra

angin mempertemukan serbuk sari dan kepala putik

ikan berenang

matahari bersinar

bumi berputar

seratus empat puluh dua ekor semut

merubung bangkainya,

bersyukur atas kematiannya

dan tak ada air mata atau puisi sedih,

tak ada hujan atau sedikit melankoli


ia menunggumu, yai

ia menunggumu, yai, di sawah tomat

sepanjang hari hidup dan malam padam

ia menunggumu, yai, bahkan ketika

hujan lari atau panas berdesir

ia menunggumu, yai, memberi rasa lain

pada air tomat, memulaskan warna lain

pada kulit tomat, memanjatkan doa-doa

atas mereka yang terbenam sebagai rabuk

bagi lunak tanah sawah itu, mengucapkan

sepatah maaf yang bakal membuatnya

rela memetik tomat-tomat matang

tapi hanya dilihatnya kau yang memandang

dendam tiap kali melewati sawah tomat itu

seraya bergumam, “tomat-tomat itu haram,

sebab hanya rabuk dari bangkai komunis yang

disesapnya”

ia belum pernah mampu memetik tomat-tomat itu,

sebab setiap kali ia hendak memetiknya, ia merasa

hendak memetik secuil demi secuil daging bapaknya

yang belum rela


Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta  Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.