di luar ketiadaan
di luar ketiadaan, sesuatu yang tak teraba
oleh mata terbuka, menciptakanmu,
menciptakan ruang dan waktu,
nama dan bahasa,
rindu dan cinta,
semesta.
di luar ketiadaan, semesta menjadi
kekosongan. rindu dan cinta lebur,
nama dan bahasa hancur,
ruang dan waktu remuk,
dirimu tak terbentuk.
di luar ketiadaan, tampak
hanya ‘ada’, yang akan
menutupi ‘ketiadaan’ itu sendiri.
kemungkinan
mungkin, di bawah pohon itu,
kita pernah bercengkerama.
soal filsafat dan agama,
soal ada dan tak ada,
soal moral dan dogma,
soal muasal bahasa-bahasa,
soal adam dan hawa,
soal penciptaan dunia,
dan sebagainya.
tapi mungkin tak seperti itu.
kita tak pernah di sana,
tak bercengkerama soal apa pun.
yang ada hanya angin
menggugurkan daun-daun.
distopia
aku terjaga dan tak menemukan diriku
yang sesungguhnya.
berjalan dengan kaki yang tak menginjak
sebagaimana mestinya.
memandang dengan mata yang buta.
ruang sepertinya hanya terbuat dari kegelapan.
duh, tuhan yang menguasai alam,
kenapa mesti ada kebangkitan?
tak ada musik
mengalun di sini,
apalagi cericit burung pagi hari,
apalagi nyanyianmu
(yang di telingaku
kuanggap sebagai kebahagiaan tertentu).
duh, tuhan yang menciptakan bunyi,
kenapa mesti ada sunyi?
sesekali kurasa ada yang memanggil.
pelan-pelan tapi bergema.
mungkin dirimu
tapi tak kutahu itu di mana.
arah jalan semakin lama
semakin bercabang
dan setiap cabang
hanya berisi kekosongan
tuhan, sejak kapan kita berjauhan?
setelah kata-kata tak ada lagi
setelah kata-kata tak ada lagi,
dengan apa kita bicara,
menulis puisi,
dan mengarang cerita?
kepada apa kita musti membaca,
memahami,
dan menduga tanda-tanda?
bagaimana cara berbagi,
berjanji,
dan menjawab tanda tanya?
setelah kata-kata tak ada lagi,
mungkin hanya hening,
dan kita menjadi batu,
bisu,
mungkin hanya dingin
yang lain.
lekas peluk aku
lekas, lekas peluk aku dan tenangkan
keriuhan di kepalaku. makin hari,
bumi makin lupa cara menerima
manusia. kota makin membara,
dan hujan jatuh lebih sering dalam
bentuk melankolia. duh, manisku,
aku mencintaimu di tengah-tengah
kepadatan penduduk, di sekitar
kerumunan buruh harian, anak
jalanan, gerombolan tunawisma,
dan sebagainya. aku mencintaimu
pada zaman di mana aparat
tak pernah bersahabat, pada waktu
di mana pemerintah lupa menaruh
nuraninya. lekas peluk aku dan
tenangkan keriuhan di kepalaku.
sebab negara tak pernah memeluk
penduduknya. tak menjamin
ketenangan rakyatnya.
hatiku gelombang
hatiku gelombang:
bergemuruh
dalam pencarian.
dan kau pantai:
menunggu
dalam keheningan.
untuk dapat bertemu,
keakuanku perlu selesai.
perlu lebur menjadi buih.
hancur menjadi kekasih.
cara terbaik membuka mata
setelah kehilanganmu
aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,
setelah waktu pelan-pelan jadi gerbong kereta,
membawamu ke arah yang tak ada aku di sana.
aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,
setelah bertahun-tahun sebelumnya, aku terjaga
dalam keadaan jatuh cinta.
aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,
setelah aku paham kau melambaikan tangan,
yang bukan untuk sapaan.
aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu.
cara yang sama sekali belum pernah kupelajari,
sebelum kau memilih pergi.
percintaan kuli bangunan
o astaga, di ruang ini kita cuma berdua.
selain itu; kalender tahun lalu,
gitar tua, jendela yang tak terlalu
beres engselnya, dan jam dinding
yang kelihatan lain. kamu mau
kutandai lehermu? atau telinga?
atau… tutup pintunya. dalam
percintaan kita, jangan ada
yang boleh masuk, apalagi aturan
negara. di luar, biar berkecamuk,
biar kota sibuk merawat polusi
dan polisi (dua hal yang amat
mengganggu ini). biarin aja.
keringat kita, pelan dan amat pelan,
menyusun bahasa, yang tidak
dipahami oleh para pembenci;
oknum partai, pemegang kekuasaan,
ustaz palsu, pendakwah gadungan,
aparat taik, kontraktor taik, bos taik.
o gendaanku yang paling yoi,
jangan tidur malam ini. kita
main sampai pagi. sampai pagi.
aku akan memelukmu
aku akan memelukmu dalam
bentuk bayangan tidak utuh,
asing dan jauh. lalu cerita
soal hidup dalam kesia-siaan
dan kematian dari orang yang
terlupakan. aku akan menyiram
pohonan yang subur di tubuhmu
dengan air mata kedukaanku:
selain kebahagiaan, kesedihan
juga butuh dibagikan.
aku ingin menyudahi kesedihanku
aku ingin menyudahi kesedihanku
sebagai manusia
yang kerap gagal memaknai
jalur-jalur hidupnya.
menjadi batu, misalnya,
atau cemara atau keheningan beranda.
diam dan mengamati
bagaimana cara manusia
meluaskan kebodohannya sendiri.

Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan puisi se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya pernah tayang di media cetak dan online. Buku kumpulan puisinya, agaknya mau terbit tahun ini.
