Cerpen

Nasib

Cerpen Drew Andre A. Martin

“Perhatikan mereka,” bisik Maria ke telingaku dengan bola matanya melihat seseorang yang dibicarakan. Mendengarnya, aku terkekeh seraya menelangkupkan telapak tangan ke bibirku. “Benar, kan?!” Kembali Maria berucap dengan cukup lantang dan percaya diri, sembari kami melanjutkan perjalanan.

Kalina, namaku. Sedangkan Maria, temanku sejak kami balita. Usia kami tak terpaut tahun. Aku, lahir di bulan Mei, sedangkan Maria di bulan Desember. Berbeda dengan usia kami yang terpaut jauh oleh bulan, nasib kami amat sama. Aku bekerja sebagai penyemir sepatu dan pelukis jalanan. Sedangkan Maria, pengamen. Rute jalan menuju kantor—salah satu cara kami mencintai nasib—berlawanan arah saat sampai di perempatan jalan. Maria, ke arah barat. Sedangkan aku ke timur.

Menjadi penyemir sepatu bukanlah perkara mudah di akhir-akhir ini. Orang-orang beralih dari sepatu kulit ke sepatu canvas. Kadang juga, satu per satu langgananku, mulai menyemir sepatunya sendiri di rumah, apalagi harga semir tak begitu mahal akibat turunnya peminat. Karenanya, aku mencoba menjadi pelukis jalanan. Biasanya aku pergi ke kantor hanya membawa sikat sepatu dan semir, sekarang aku juga membawa peralatan lukis di dalam tasku. Sempat terpikir olehku, untuk melukis gambar di sepatu-sepatu canvas, mungkin nanti.

Sesampainya di kantorku—tempat biasa aku berhenti untuk menawarkan jasa semir sepatu dan melukis—seorang laki-laki yang kutaksir usianya empat puluhan, menghampiriku. Bertanya dia. “Mbaknya sudah nggak nyemir lagi?”

“Masih, Pak.”

“Tolong semirkan sepatu saya.”

“Silakan duduk di sini, Pak.”

Bapak itu duduk. Bersandar dia di tempat duduknya. Sepatu yang dikenakannya bertumpu ke kursi kecil. Sengaja kupersiapkan agar sepatu tak perlu dilepas.

“Kamu melukis juga?” tanya bapak itu dengan matanya yang terfokus di layar ponselnya.

“Iya, Pak,” jawabku sembari tetap fokus menyemir. “Kalau Bapak mau, saya bisa melukis sesuai keinginan Bapak.” Berharap, si bapak tersebut mengiyakan.

“Boleh, tapi …” Sebentar dia, melihat arloji di lengan kirinya. “Ah, tidak masalah. Untuk harga, murah, ‘kan?”

“Bagi Bapak, tentulah murah,” jawabku setelah menyelesaikan pekerjaan menyemir sepatunya, sembari mendongakkan kepala dan tersenyum.

“Berapa?”

Kedua matanya nyaris keluar saat melihat daftar harga melukisku. Seolah ada yang salah soal harga. Kujawab, tentulah tidak, Pak. Itu sudah benar.

“Terlalu mahal kurasa dengan harga lima belas ribu, nyaris sepadan dengan harga jasa semir sepatumu.”

“Itu sangat murah bagi Bapak.” Tak lupa aku memuji penampilannya dengan sangat baik di hari ini. Kata Maria, aku harus melakukan pujian, karena orang-orang yang berada tak seperti kami, amatlah suka bila diberi pujian, apalagi dibesarkan segala kebaikannya, meski sebenarnya tak baik.

Menurut Maria, hanya itu yang bisa membuat mereka membeli apa yang sebenarnya tak ingin mereka beli. Ibarat kata, mereka membayar pujian yang sudah kadung, ketimbang membeli produk barang atau jasa. Imbuh Maria, orang-orang rendahan, orang-orang miskin di mata mereka, kepalang tanggung kalau tidak memerankan nasib yang sudah jadi nasibnya.

“Kau gila! Apa kau tak ingin memiliki nasib seperti mereka?” Aku menghardik Maria.

“Kau sama saja seperti mereka.” Maria melirik dengan tawa menyebalkan. “Kau mengataiku gila, sedangkan kau pun gila. Mana mungkin, aku tidak mau jadi seperti mereka? Tentulah aku mau.”

“Ucapan adalah doa. Kau sendiri, ‘kan yang mengajarkan itu kepadaku? Termasuk idemu menyebut kantor untuk tempat kita bekerja.” Aku kesal, Maria menjadi munafik.

Maria tertawa dengan jeda, lalu membuang muka, lanjut meludah. “Cara untuk bahagia, ya …, dengan cara itu. Mencintai nasib. Dan saat kau sudah mencintai nasib dengan baik, maka amatlah kepalang tanggung, jika kau tidak totalitas memerankannya.”

“Memerankan nasib atau memanfaatkan keadaan?” tanyaku dengan merendahkan intonasi.

“Memerankan nasib.”

Berulang kali aku mencoba memerankan nasibku.

Sejujurnya memerankan nasib, nyatanya membuahkan hasil di tiap harinya. Namun, tidak dengan hari ini. Entah aku kurang totalitaskah? Atau, bukan hariku? Atau, justru bapak itulah yang lebih totalitas memerankan nasibnya?

“Kalau sepuluh ribu, mungkin aku mau. Itu pun kalau kamu mengiyakan,” ujar bapak tersebut.

“Boleh, Pak. Setidaknya bisa membuat Bapak senang.”

“Tidak-tidak, akulah yang justru membutamu senang. Selain aku membeli jasa semir, aku juga membeli produk lukisanmu.”

“Terima kasih, Pak.” Aku menahan emosi.

Sejak hari itu, aku menjadi tahu apa yang pernah dibicarakan Maria kepadaku. Jika ingin tidak kena masalah, jangan sekali-kali adu nasib dengan orang-orang yang beruntung, Harga dirimu bisa dibelinya.

Soal harga diri yang dibelinya itu, menurut dia tidaklah sama dengan merendahkan diri untuk mendapatkan keuntungan. Aku menyipitkan mata, kemudian disusul dengan melipat kedua lengan, jari telunjuk kanan, mengetuk lengan kiri. Kau akan tahu sendiri. Kau tak akan mengerti yang kumaksud Kalina, kalau kau tak mengalaminya sendiri nanti. Penjelasanku yang berupa ucap kata ini, tak akan mampu dicerna dengan baik oleh lambung di kepalamu. Maria tertawa puas. Aku, mencoba ikut tertawa juga, setidaknya aku mencoba tak cukup keras dengan diri dan nasib yang perlahan-lahan sedang kucoba nikmati dan kucintai sepenuhnya.

Diulurkan oleh si bapak sekerat foto yang sedikit usang. “Lukislah ini. Nanti pukul lima sore, aku ambil.”

“Kalau besok pagi diambilnya bagaimana?”

“Aku bisanya sore ini. Kalau kamu tidak bisa, ya, tidak apa-apa. Aku urungkan.”

“Baik, akan selesai hari ini.”

Bapak itu tersenyum tipis, lalu pergi meninggalkan kantorku.

Mendengkus lalu aku. Ditolak tidaklah mungkin, karena butuh uang. Tak ditolak pun, harga bayar jasa tak sepadan dengan usaha melukis foto dengan kondisi gambar yang tidak memungkinkan. Kalau sudah begini, kata terakhir yang sekaligus meredakan sesal, kesal, amarah, ialah kata-kata Maria yang kemudian kulontarkan dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kedua telingaku. “Mari kita memerankan peran kita dengan totalitas!”

Datang lalu seorang ibu. Membawa tas keresek besar, berisi lima pasang sepatu milik anak laki-lakinya.

“Tak jadi masalah jika tidak bisa selesai hari ini. Aku hanya minta kau selesaikan sepasang saja, bisa, ‘kan?” pinta ibu yang baru datang ke kantorku, setelah kukatakan alasanku tidak bisa menyelesaikan menyemir hari itu.

“Boleh, Bu. Tapi untuk empat pasang, benar-benar boleh saya selesaikan besok?”

“Iya, tidak apa-apa.”

Selesai kusemir, ibu tersebut pergi. Dia membayarnya lunas. Bahkan memberikan tips yang lumayan banyak. “Terimalah semua.”

Kudongakkan kepalaku melihat hamparan langit biru di atas dengan senyum yang terkembang, sembari ucap, “barangkali ini adalah usaha memerankan dan mencintai nasib dengan benar.”

Sejenak sebentar, aku merasa geli. Lama-lama bahasaku, agaklah seperti Maria. Tapi, tak salah juga. Dengan cara itu, aku tak terlalu keras dengan nasib. Tak pula marah menyalak kepada ibu dan bapak, yang tak memberikan kewajibanku sebagai seorang anak, sepertinya, yang kini berhasil menjadi seorang manusia yang benar-benar mencintai dengan ikhlas pada nasib sendiri.

***

“Hei! Kau juga belum pulang? Untung saja di perempatan jalan tadi, aku tak langsung menuju rumah. Ke sini, mampir beli es teh langgananku.” Maria melihat wajahku dengan wajah simpan tanda tanya.

“Lembur.”

“Aduh, duh, rezeki besar nih!” Maria menepuk bahuku.

“Syukurlah. Kau tidak ingin bertanya, berapa ongkos lukisan ini?”

“Berapa memangnya?”

“Sepuluh ribu.” Aku tertawa.

Bukannya ikut tertawa, Maria tercengang. Untungnya dia tak marah seperti bisanya. “Kau serius? Sedetail ini? Melukis gambar dua orang, ditambah lagi dengan pepohonan rindang dan rerumputan, sepuluh ribu?” Maria masih tidak percaya.

“Apa aku terlihat sedang berbohong?”

Maria menggeleng.

“Kau gila!”

“Kau pun juga gila!”

Kami tertawa bersama-sama.

“Bukankah begini harusnya memerankan nasib? Sedikit banyak harus kita iyain, selain nikmatin?”

“Kau terlalu gila, Kalina! Kau banting harga dirimu di bawah rata-rata kerendahan status sosialmu.” Maria tertawa, lantas terdiam sejenak. “Maksudku, rata-rata kerendahan status sosial kita. Ya, kerendahan status sosial kita, Kalina!” Maria tersenyum garis dan memelukku.

“Sekali, dua atau tiga kali, tak masalah, ‘kan?” tanyaku sembari merapikan alat-alat semir dan lukis.

“Lima, enam atau berkali-kali juga tidak masalah. Asal jangan terlalu sering juga, laaah! Itung-itung sebagai, jeda lelah.”

“Jeda lelah? Kurasa tidak.” Aku menyangkal.

“Lalu?”

“Membuat bahagia orang-orang yang ngakunya berduit, kaya raya, tapi aslinya kere!”

“Udah pinter nih, Kalina!”

Kami tertawa lagi dan lagi. Tak peduli banyak orang melihat ke arah kami.

“Tunggu-tunggu.”

“Kenapa, Maria?”

“Bukan aslinya, kere sih.”

“Terus?”

“Yaaa, emang kere!” Maria tertawa paling keras.

“Garing!”

“Enggak … Enggak. Ini serius, Kalina.”

“Awas kalau garing!”

“Ya, emang …” Maria menggantungkan ucapannya.

“Kere, lagi!”

“Bukan-bukan.” Ada jeda sebentar saat dia selesaikan tawa gelinya. “Ya, karena dia tidak siap aja jadi kere. Kebutuhan pamer ke orang-orang aja, harganya tinggi, tak sebanding dengan  kemampuan daya beli barang yang benar-benar miliki kualitas! Dia takut, uangnya habis sedikit demi sedikit karena gengsinya, sih yah.”

“Terus yang kere siapa dong?” tanyaku.

“Nggak perlu dijawab, udah taulah kau.”

Lima menit setelah aku selesai membereskan alat-alat kerjaku, bapak pemesan lukisan datang.

“Cukup bagus juga, sebagai pelukis jalanan,” ujar si bapak sembari memperhatikan lukisanku dengan foto miliknya yang kukembalikan padanya. “Bisa kusarankan nanti, ke teman-teman kantorku. Kalau perlu kita bisa kerja sama. Bisa, ‘kan?” tanya si bapak sembari memberikan dua lembar uang kertas yang bernilai sepuluh ribu.

Kuanggukkan kepala, meski tak begitu yakin bisa bekerja sama dengannya.

“Paaak!” Maria memanggil si bapak.

Kembali lagi dia ke arah kami.

“Kau, kenapa panggil dia lagi!” aku lumayan gusar.

“Diam, kau. Diam!” pinta dengan memejamkan kedua matanya, dan menaruh telunjuknya ke bibirnya yang mengatup.

“Ini, Pak.” Maria memberi dua lembar yang bernilai sepuluh ribu, ke bapak tersebut. “Lukisan itu gratis untuk Bapak. Kalina, yang melukis foto Bapak tadi, hari ini sedang berbahagia.”

“Wah, sering-sering bahagia, yah.  Biar aku dapat gratis lagi!” pekik bapak dengan mata berbinar-binar.

Kuanggukkan kepala.

“Kau gila?” Aku memarahi Maria, setelahnya si bapak pergi. “Aku tidak mau gratisin dia!”

“Membahagiakan orang kok setengah-setengah. Sekalianlah.” Nada bicara Maria terdengar selengekan.

Kubayar sepuluh ribu ke Maria, sebagai gantinya.

“Kau, ‘kan tadi sudah membuatnya bahagia. Nah, sekarang aku ingin membuatnya bahagia.” Maria tak mau menerimanya.

“Kurasa kita tidak membuatnya bahagia, Mar. Melainkan mempermalukannya!” geramku.

“Malu? Kau yakin dia malu?” tanya Maria dengan wajah merah padam, menahan tawanya. “Tidak ada malu yang tampak di wajahnya itu, justru yang tampak urat malunya sudah putus, seperti urat malu milik kita.” Maria kemudian lepaskan pingkal tawanya amat keras. kalau sudah terpingkal seperti itu, air matanya pasti keluar. Sampai aku tak bisa membedakan, apakah dia benar-benar terpingkal, atau justru, dia sedang menertawai lelahnya.

________________________

Drew Andre A. Martin. Lahir di Jawa. Karya tunggal pertamanya; Virama Dvasasa, yang berisi dua belas judul cerita pendek. Selain sebagai penulis dan pengarang, Drew juga sebagai, cartomancer dan numerologist.

Sosial media miliknya:

Facebook dan Instagram: @drewandreamartin

X: @drwandreamartin.

Cerpen

Alisa

Cerpen Depri Ajopan

Kampung terpencil dengan dua jembatan gantung yang tampak menyeramkan. Awal Alisa tinggal di situ, selalu ketakutan saat melewati dua jembatan yang bergoyang-goyang itu. Untung ada Sakib yang menemani jika suaminya berhalangan.

Selama ini Sakib tidak tergolong laki-laki kurangajar di kampung itu. Tidak pernah sekali pun ia membuat keributan, apalagi gara-gara perempuan. Ia tidak genit, seperti kebanyakan pemuda di situ. Ia tidak pernah buat onar. Itulah yang membuatnya terpilih jadi ketua pemuda. Mengenai ia yang jarang bicara kecuali yang penting-penting, justru rmenaikkan derajatnya di mata masyarakat, menjadikan ia dipandang sebagai pemuda berwibawa. Ia jarang masuk warung duduk bersama orang-orang pencerita yang suka membual.

Tapi setelah kedatangan Alisa, perempuan dari Bekasi, Sakib tersihir pada kecantikan perempuan itu. Ia jadi bahan omongan di kampungnya karena ketahuan telah bermain api dengan Alisa.

Selama ini ia tak pernah terseok-seok perihal cinta. Bahkan mungkin ia tak begitu pahan apa itu cinta. Ia berubah seketika setelah kenal Alisa, perempuan bermata lentik, kulit bersih dan putih. Badannya tidak terlalu tinggi. Alis matanya seksi, bibirnya tipis bergaris, rambutnya lurus dan panjang. Sakib yang terpesona tidak bisa membendung perasaannya. Hal itu adalah pertama kalinya ia mencintai perempuan. hanya saja perempuan itu sudah bersuami. Anehnya ia terus mengikuti jalan salah itu, jatuh cinta pada istri orang. Apakah ia harus siap-siap kehilangan cintanya sebelum mendapatkan cinta itu?

Ia sudah pernah berterus terang tentang hasrat hatinya. Hal itu terjadi ketika ia dan Alisa bersama putranya yang masih berumur tiga tahun jalan-jalan ke pasar malam. Suami Alisa tidak pernah menaruh  curiga sedikit pun. Ia sering ke luar kota karena ada keperluan.

Namun, saat itu Alisa tak pernah menggubris. Dan kali ini Sakib kembali berusaha mengutarakannya, dan ia ingin mendengarkan jawaban jujur dari perempuan itu. “Aku serius mencintaimu Alisa,” ucapnya sambil memegang tangan Alisa dalam keramaian. Cepat-cepat Alisa melepasnya.

“Cinta?” sahut Alisa lantas tertawa sembari menutup mulut dengan tangan kanannya. Sementara tangan yang satu lagi, tetap memegang anaknya.

“Kenapa kau tertawa?”

Sakib merasa dipermainkan. Ia tak menerima perlakuan perempuan itu, karena selama ini mereka sering jalan berdua, dan pulang larut malam saat suaminya tidak di rumah. Sakib juga pernah memeluk perempuan itu jika ada kesempatan. Bahkan ia pernah mencium bibirnya. Alisa sendiri pun sering membalasnya dengan melumat bibir Sakib.

Sakib memang tidak pernah melakukan lebih dari itu, walaupun ia yakin jika ia minta Alisa pasti akan menurutinya. Ia merasa cocok mengobrol apa saja dengan perempuan itu, dan obrolan mereka selalu nyambung. Ia merasa semakin hari hidupnya semakin berwarna. Karenanya ia menyimpulkan bahwa mereka saling cinta. Mengenai perempuan bermata lentik yang sudah bersuami, ia tak peduli. Sakib yakin cintanya yang kuat tidak akan bisa terjadi pada perempuan lain, sampai akhir hayatnya. Dan sudah tergambar dalam imajinasinya, bagaimana ia nanti akan terus mencintai perempuan itu.

Namun, tawa perempuan itu, sungguh-sungguh melukai hatinya. “Kau ini aneh Alisa. Apa kau menganggapku bercanda?”

 “Yang aneh itu kamu, Mas. Bukan aku,” jawab Alisa masih dalam keadaan tertawa. Tapi kali ini ia tidak lagi menutup mulutnya seperti tadi. Tawanya lepas begitu saja.

“Kenapa kau bilang begitu?”

“Yalah Mas. Aku kan sudah bersuami, sudah punya anak juga. Jadi tak pantas jika Mas bilang begitu padaku.”

Sakib menggaruk-garuk kepalannya. Ia membayangkan apa yang telah mereka lakukan selama ini. Ia ingin mempertanyakan itu pada Alisa.

“Terus,” kata Alisa.

“Terus apa?” Sakib ingin mengatakan sesuatu, tapi ia tahan karena tak berani.

“Mungkin Mas mau bilang, terus kenapa kamu mau aku peluk, cium kening, bahkan lebih dari itu?” lanjut Alisa sembari menggoyang-goyang tubuhnya.

“Iya,” jawab Sakib.

“Jawabannya tidak sekarang, yang penting kita jalani saja.”

“Sampai kapan?”

“Sampai bosan.”        

Sakib mendesah, tapi tetap ia belum mau membawa pulang perempuan dengan anaknya itu. Ia belum percaya keputusan Alisa, ia anggap Alisa tidak serius.                                               

* * *

Suami Alisa baru saja pulang dari luar kota. Ia mendapat kabar dari orang-orang tentang istrinya telah bermain serong dengan laki-laki bernama Sakib di kampung itu. Ia bilang tak kenal dengan Sakib, dan ia tidak ada niat untuk menuntutnya. Cerita miring itu tidak mengganggu pikirannya. Dan ketika ia berduaan di meja makan dengan Alisa, ia cerita tentang apa yang disampaikan orang-orang. Alisa terkejut dan ketakutan. Ia berpikir tidak ada harapan lagi bisa bertemu Sakib pemuda yang sebenarnya ia cintai selain suaminya. Bahkan ia berpikir, suaminya akan menceraikannya saat itu juga. Ia semakin deg-degan, menunggu keputusan apa yang akan diambil suaminya setelah mendengar cerita itu. Ia pura-pura tak merasakan apa-apa, seolah ia tak bersalah. Padahal hatinya bergetar.

“Aku percaya denganmu Alisa. Aku tidak mau direpotkan, apalagi bikin pusing gara-gara cerita-cerita sampah yang tidak ada pembuktiannya. Aku juga tidak ada niat untuk menelusurinya, benar atau tidaknya cerita itu. Aku percaya padamu sepenuh hatiku, kau pasti menjaga cinta kita seperti janjimu dulu.”

Alisa yang semula merasa napasnya seperti terhenti, akhirnya bisa bernapas dengan lega sembari menuju dapur. Tak lama kemudian ia membawa secangkir kopi, meletaknya di meja. Suaminya yang duduk santai di kursi mengaduk secangkir kopi yang asapnya masih mengepul terbang diseret angin. Ia tak berkata apa-apa lagi. Ia juga tak membahas tentang yang lain, tentang perkembangan bisnisnya yang sebenarnya hampir hancur. Setelah menghidupkan TV, suami Alisa menghidupkan rokoknya, mengisapnya dalam, dan sesekali mencicipi cemilan yang dihidangkan Alisa.

“Kenapa semudah itu percaya padaku, Mas?” tanya istrinya berhati-hati..

“Sudah kubilang, aku tidak mau pusing gara-gara mendengar cerita menjijikkan seperti itu.” Alisa mengangguk-angguk.

“Bagaimana kalau cerita itu benar?”

Pertanyaan itu membuat suaminya terperanjat. Ia terbayang pada seorang perempuan bernama Finka, perempuan selingkuhannya, mantan kekasihnya dulu. Setiap kali ia pergi ke luar kota, Finka selalu hadir di sana. Mereka menginap berdua di homestay.

Dan kini ketika ia mendengar berita tentang istrinya, ia diam saja. Bahkan jika berita itu benar, ia memang sudah rencana tak akan marah pada istrinya. Karena ia merasa dirinya juga telah mengkhianatinya. Bahkan ia lebih dulu melakukan perselingkuhan sebelum istrinya melakukannya. Ia menyadari akan risiko yang harus ia hadapi. Ia berpikir, Alisa mungkin sudah mengerti kenapa ia tidak cemburu ketika ia mendengar kabar tentang apa yang dilakukan Alisa.

______________________

Depri Ajopan. Lulusan Pesantren Musthafawiyah Purba-Baru, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Menyelesaikan S-1 Program Studi Sastra Indonesia di Universitas Negeri Padang. Menulis fiksi dan diterbitkan di sejumlah media. Novel terbarunya Pengakuan Seorang Novelis. Ia bergiat di Komunitas Suku Seni Riau dan mengajar di Pesantren Basma Darul Ilmi Wassa’dah, Kepenuhan Barat Mulya, Rokan Hulu, Riau, sebagai guru Bahasa Indonesia.

Cerpen

Helena

Cerpen Yulputra Noprizal

Sudah mulai gelap di seantero kota. Sinar lampu-lampu merkuri menyiram jalan dan trotoar. Lampu di teras-teras toko dan di dalamnya pun mulai menyala seluruhnya. Suara orang yang berjalan kaki di trotoar terdengar sedang bercanda. Angin malam semilir meniup lembut pori-pori. Selepas makan di sebuah rumah makan di pinggiran Kota JT tadi, mereka memutuskan kembali ke kedai itu.

“Aku tak mau menyesal seumur hidup karena mengabaikan Helen dulu,” kata Syaf sembari berjalan ke kulkas dan mengeluarkan dua botol soft drink dari dalamnya. Ia membuka kedua tutup botol soft drink di depan kulkas. Lantas, ia letakkannya di meja dan mengeluarkan sebungkus rokok serta korek gas.

“Kan memang tradisi kampus kita. Sehabis ospek, dijodoh-jodohkan. Ini berjodoh dengan ini, itu berjodoh dengan itu. Ini gebet ini, itu gebet itu,” kata Ramli. Ia mengambil bungkus rokok, mengeluarkannya sebatang dengan tangan yang mengunting, lantas memantik korek gas, menyalakannya.

“Helen sudah mengajakmu kenalan. Sudah tahu banyak latar-belakangmu. Sudah tebar pesona di depanmu. Mengajakmu jalan bareng. Kau malah tak acuh,” lanjut Ramli.

“Aku merasa rendah diri di hadapan Helen. Aku orang dusun, orang jauh. Dari Sumatera. Merantau ke Jawa, kuliah di universitas besar pula. Belum paham tradisi kampus kita. Bisa kuliah saja sudah kemewahan bagiku. Helena kan anak Bandung. Mustahil dia tidak punya mantan. Aku pikir waktu itu, aku akan dijadikannya pelarian saja dari cintanya yang mungkin kandas sewaktu SMA,” kata Syaf. Ia mencabut sebatang rokok dari bungkusnya, menyalakan korek gas, dan menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Tapi kau kan suka pada Helen,” kata Ramli.

“Waktu itu belum. Belum cinta pada pandangan pertama. Tapi seiring waktu aku menyukainya, setelah ia jadian dengan Yogi.

“Kau menghindar dari Helena. Membiarkan Helena jadian dengan Yogi adalah kesalahanmu. Lantas, kau jauh dari kami, teman-teman kelasmu. Menjalani hari-hari dengan berandal kampus yang tak jelas juntrungannya. Menurutku mereka berasal dari keluarga yang bermasalah,” kata Ramli.

Kendaraan berlalu-lalang dan klakson sesekali berbunyi. Seorang mahasiswa dengan tas di punggung nampak berjalan di trotoar. Mungkin sehabis mengerjakan tugas dari rumah kawannya. Angin bertiup tambah semilir, dan udara mulai terasa agak dingin.

“Aku berkawan dengan Sadi. Aku tidak tahu ia baru ditolak cintanya oleh Rini. Katanya hampir seharian mereka di atas mobil Sadi. Entah tujuan ke mana. Ketika Rini menanyakan mau ke mana, Sadi mengecup bibir Rini. Rini mengelak. Membentak, minta mobil berhenti. Berpisahlah mereka dengan cara yang tak baik. Ah, Sadi. Belum juga jadian, sudah main cium saja. Terlalu pede orangnya, menurutku,” kata Syaf.

“Dengan Sadi itulah lantas kau dekat. Juga dengan Supri dan Riko. Mereka berandal semua. Orang-orang ‘gila’,” kata Ramli, lantas menyesap soft drink-nya.

“Aku tidak tahu Sadi orangnya begitu,” kata Syaf. “Sehabis cintanya ditolak Rini, ia jadi beringas. Setiap malam aku, Supri, dan Riko diajak keliling Kota B. Mencari perempuan-perempuan kesepian. Kadang bersama pelacur-pelacur menghabiskan malam dengan vodka. Aku tahu belakangan, sehabis dari kota B, sementara aku pulang ke kosan. Mereka juga mengisap ganja di kosan Supri. Tapi sumpah, aku tak pernah bersetubuh dengan perempuan kesepian, apalagi pelacur,” kata Syaf sambil mengangkat dua jari tangan kanannya. “Pernah suatu malam Sadi mengajak kami ke Kota G untuk mengunjungi sebuah tempat wisata. Bertemu dengan beberapa perempuan malam di sana. Menyewa kamar. Aku tidak ikut masuk dan menginap malam itu. Aku kembali ke Kota JT, naik bus. Melihat mereka–Sadi, Supri, dan Riko–dengan tiga orang perempuan malam aku jadi tahu mereka sudah terbiasa dengan hal itu. Ketika suatu ketika aku datang ke kosan Sadi, di kamarnya, banyak koleksi fotonya sedang berciuman dan berpelukan tanpa baju dan celana dengan perempuan yang berbeda-beda. Semua ia pajang di dinding.”

“Itu kan,” kata Ramli. Ia layangkan pandang ke sebuah lampu merkuri di pinggir jalan. Di bukit-bukit nampak lampu-lampu berwarna orange. Kendaraan yang lewat tambah ramai, silih berganti. “Kau cuti kuliah. Kami dengar kau hanya di kosan, membaca novel-novel sastra demi mengisi waktu. Saat kau kembali ke kampus, kau jadi penyair dan terkenal,” lanjut Ramli. “Pada Semester VI biasanya kau ngobrol dengan kami di bawah kanopi sehabis kelas, dan bareng mengerjakan tugas. Tapi tidak lagi karena terlalu asyik dan pacaran dengan Sonia.”

“Ah,” Syaf menghembuskan napas. Ia mengeluarkan sebatang rokok lagi dan menyedot soft drink-nya. “Aku salah pilih. Tak seharusnya kuterima cintanya. Dia begitu gigih, setiap pagi menungguku di kampus. Menatapku terus, mengajak mata bertemu mata. Sering ia melenggak-lenggok di depanku ketika aku sedang duduk sendiri. Setiap puisi yang kutulis dan dimuat di majalah kampus dan blog, ia peragakan lewat pakaian dan gerak tubuhnya seperti pemain teater. Kata pepatah, dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati. Akhirnya kami jadian. Dalam pacaran sebenarnya aku banyak pasif, dia terus yang mengajakku makan bareng dan jalan. Sampai akhirnya aku membentaknya dan besoknya tersiar kabar di kampus kalau ia patah hati. Tersiar juga aku telah memerkosa hatinya, padahal sebenarnya hanya ingin menguras uangnya. Semua orang tahu, aku mahasiswa kere. Datanglah tatapan-tatapan kebencian dari kawan-kawan Sonia kepadaku.”

“Bersamaan dengan itu Helena kan juga putus dengan Yogi.” kata Ramli. “Mengapa kau tak langsung jadian dengannya?

“Helena membuka hatinya padaku. Kami lama saling pandang. Tapi ketika kulihat ia sudah berantakan. Orang-orang mengatakan, Helen sudah kayak pecun,” kata Syaf.

“Ya, aku dengar juga bisik-bisik begitu. Apakah Syaf meniduri Sonia? Di mana Syaf membuang spermanya? Pakai pengamankah? Atau Syaf lari ke tempat pelacuran? Nyatanya Sonia tidak hamil. Lantas, Sonia sendiri yang akhirnya memutarbalikkan fakta, mengatakan ke orang-orang kau yang tergila-gila dengannya. Sudah sejak semula, sebelum jadian, kaulah yang terus mengejarnya. Nama baikmu dia buat hancur sehancur-hancurnya,” kata Ramli.

“Aku menenggelamkan diriku ke sastra. Sibuk membaca buku sastra dan menulis puisi hingga akhirnya lupa akan kuliahku.”

“Kau kemudian hilang selera. Ketika Dedi menawarkanmu beberapa cewek di kampus kita, kau tak juga memilih. Mengapa pula kau tak juga jadian dengan Helen waktu itu?” tanya Ramli.

Betapa iba Syaf dulu melihat keadaan Helen setelah putus dari Yogi. Terenyuh. Helen seperti orang yang jatuh miskin. Ketika orang-orang mengatakan, Helena sudah kayak pecun, hati Syaf begitu pilu mendengarkannya–tulang-belulangnya jadi gigil.

                                   *

“Tapi semua sudah berlalu kan Syaf. Sudah lima tahun lalu. Kau meninggalkan kuliahmu. Dan Helena, kau harus tahu, ia berhasil bangkit. Karirnya bagus di perusahaan sekarang.”

“Aku tidak ingin tahu sebenarnya. Tapi aku takut jadi laki-laki yang menyesal seumur hidup karena sudah dua kali Helen membuka hatinya untukku. Aku tidak juga merimanya. Dulu aku berbohong kepada hatiku sendiri,” kata Syaf.

Sesaat mereka sama-sama terdiam.

“Sudahkah dia menikah?” tanya Syaf tiba-tiba, sembari menatatap wajah Ramli. Hatinya berharap dan sungguh penasaran. Bibir Syaf sedikit bergetar mengucapkan pertanyaan itu. Ada rasa terdalam yang tak terungkapkan.

“Sudah. Helen tinggal di Jakarta. Suaminya pns.”

                                    *

Mereka bertemu di medsos. Sehabis menghilang dari kampus, tidak ada lagi kontak kawan-kawan seangkatan dengan Syaf. Syaf tak bisa lagi dihubungi. Baru bertahun-tahun kemudian, Ramli bertemu akun medsos Syaf. Mereka pun berteman dan bertukar no. WA. Ramli sudah jadi wartawan–sesuai jurusannya sewaktu kuliah–bekerja di sebuah media online di Kota Bandung. Ramli mengira selama ini Syaf pulang kampung. Tak kan kembali lagi ke Jawa selamanya. Ternyata Syaf di Jakarta, bekerja di usaha konveksi Mamak-nya (Paman).

Lewat sebuah pesan WA mereka janjian bertemu di Kota JT, di kedai tempat dulu mereka sering duduk sore sehabis kuliah, bercerita, dan kadang curhat juga.

Syaf memandang sebuah mesin ATM dekat minimarket. Di hatinya, ada rasa tersendiri dengan kota ini. Rasa yang memanggil-manggil untuk berlama-lama tinggal. Juga kampus, yang tak jauh dari kedai, terbayang atap-atapnya oleh Syaf dari tempatnya duduk.

“Lantas, apa rencanamu Syaf,” kata Ramli.

“Aku sudah mengumpulkan puisi-puisiku yang pernah termuat di media. Ada penerbit yang tertarik. Kalau jadi terbit, itulah buku pertamaku.”

_______________________

Yulputra Noprizal. Lahir di Air Haji pada 11 November 1985. Penyuka dan penikmat sastra. Tinggal di Air Haji, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat.

Dunia Menulis

Semua Peserta adalah Pemula

Oleh Yuditeha

Setiap kali saya mengirim karya ke sebuah lomba, hampir selalu ada komentar datang beriringan. Nadanya mirip, kata-katanya di situ-situ saja: “Wah, harus bersaing sama senior.” “Senior turun gunung, bahaya.” “Alamat kalah nih.” Kalimat-kalimat itu terdengar ringan, bahkan bercanda. Namun, seperti hujan gerimis jatuh terus-menerus di satu titik, ia pelan-pelan melubangi.

Saya paham, komentar-komentar semacam itu sangat mungkin hanya pengganti sapaan, bentuk keakraban, atau cara ringan untuk membuka percakapan. Saya juga tidak pernah membacanya sebagai serangan, apalagi merendahkan. Tulisan ini pun tidak lahir dari rasa kesal, tersinggung, atau keinginan membalas apa pun. Sama sekali tidak.

Ia lebih merupakan kegelisahan kecil yang barangkali sering lewat di kepala banyak orang, tapi tak sempat diucapkan. Siapa tahu, suatu waktu, ketika situasi serupa kembali muncul, tulisan ini bisa bekerja sebagai ruang hening untuk menimbang, bukan untuk menghakimi. Lebih sebagai ajakan berbagi sudut pandang, bukan penegasan posisi.

Karena itu, saya tidak sedang menunjuk siapa pun. Tidak sedang menyasar kelompok tertentu. Tidak sedang membangun kubu. Saya hanya ingin meletakkan pengalaman kecil ini di meja, lalu mengamati bersama: barangkali di sana ada yang bisa kita pelajari, tanpa perlu menjadi polemik melelahkan.

Saya tidak tersinggung, apalagi marah. Barangkali hanya sempat merasa tidak nyaman. Sebab, di balik kelakar itu, ada asumsi diam-diam bekerja: bahwa lomba seharusnya hanya diisi oleh mereka yang dianggap sedang belajar. Sementara yang sudah keburu dicap senior, atau entah apa namanya, seolah harus minggir sukarela, demi menjaga kenyamanan batin kolektif.

Padahal, di dalam lomba, terutama lomba menulis, semua peserta berdiri di titik sama: nol. Dalam naskah lomba, nama penulis sering kali disamarkan. Yang tersisa hanya teks dan penilaian. Tidak ada suhu, tidak ada murid, tidak ada senior, tidak ada junior. Semua pemula yang mengetuk pintu juri dengan satu bekal: tulisan.

Namun, di luar sistem itu, dunia sosial sering kali berjalan dengan hukum yang berbeda. Kita gemar memberi label. Kita senang membuat hierarki. Kita hobi mengurutkan siapa di atas, siapa di bawah. Dan begitu label senior menempel, ia berubah menjadi semacam kutukan sosial. Menang dianggap wajar. Kalah dianggap memalukan. Ikut lomba dianggap menakuti. Tidak ikut dianggap bijaksana.

Seorang penulis yang masih terus mengirim karya ke lomba justru dianggap turun kelas. Padahal, bukankah berkarya itu soal proses, bukan soal status? Bukankah kreativitas tumbuh dari kegelisahan, bukan dari gelar-gelar tak resmi itu?

Di titik ini, saya sering bertanya: sebenarnya apa yang kita jaga? Keadilan atau kenyamanan psikologis? Sebab, jika kita telusuri lebih jauh, komentar semacam “wah, bersaing dengan senior” sering kali lahir bukan dari ketimpangan sistem, melainkan dari ketakutan. Kita ingin merasa punya peluang. Kita ingin merasa punya ruang. Kita ingin merasa diakui. Dan ketika ruang itu menyempit karena hadirnya seseorang yang dianggap lebih berpengalaman, yang muncul bukan semangat berlatih lebih keras, melainkan keinginan agar yang bersangkutan menyingkir dengan sopan.

Di sinilah ironi bekerja. Di satu sisi, kita memuja kompetisi. Kita mengagungkan lomba sebagai ajang pembuktian. Kita memuja kualitas. Tapi di sisi lain, kita ingin kompetisi yang ramah perasaan: di mana peluang menang dibagi rata berdasarkan usia kreatif, bukan kualitas. Jika logika ini diteruskan, akan muncul pertanyaann janggal: sampai kapan seseorang boleh disebut pemula? Dan sejak kapan seseorang wajib berhenti menjadi peserta?

Apakah setelah menang tiga kali, lima kali, sepuluh kali? Atau setelah namanya mulai dikenal di lingkaran tertentu? Atau setelah ia cukup sering muncul di linimasa? Lebih jauh lagi: setelah status senior resmi disematkan? Lalu apa yang harus ia lakukan? Menjadi juri seumur hidup? Menjadi pembicara tetap seminar? Menulis esai-esai reflektif tentang masa lalu sambil menatap senja?

Lantas, di mana lagi ruang kegelisahan kreatifnya? Kita sering lupa bahwa menulis bukan profesi yang menjamin hidup. Tidak seperti pegawai dengan slip gaji bulanan. Tidak seperti pedagang dengan perputaran modal harian. Bagi banyak penulis, lomba adalah salah satu cara untuk bertahan: bertahan secara ekonomi, secara mental, dan secara eksistensial.

Maka, ketika seseorang yang kita sebut senior masih ikut lomba, barangkali bukan karena ia rakus piala, melainkan karena ia masih ingin hidup. Masih ingin membeli beras tanpa meminjam. Masih ingin membayar listrik. Masih ingin kerja kreatifnya punya nilai tukar, betapa pun kecil.

Kita sering memuja karya, tapi lupa memikirkan perut pembuatnya. Di ruang-ruang diskusi sastra, kita gemar membicarakan idealisme, integritas, dan keberpihakan. Namun, begitu masuk ke soal keseharian, kita berharap para penulis senior hidup dari udara dan pujian. Seolah setelah mencapai satu titik simbolik itu, seseorang otomatis bebas dari kebutuhan material.

Inilah titik satire. Bayangkan, seorang penulis yang telah puluhan tahun bergulat dengan kata, jatuh bangun dengan penolakan, lalu akhirnya sedikit dikenal. Begitu ia mencoba tetap ikut lomba demi menjaga segala yang dulu diusahakan, ia justru dihadang dengan kata: “Wah, senior turun gunung.” Seolah gunung itu tempat suci yang tak boleh ditinggalkan, dan turun ke lembah adalah tindakan tidak pantas. Padahal, hidup memang terjadi di lembah: di pasar, di dapur, di kamar sempit, di meja tulis yang sering goyah.

Dalam dunia yang sehat, kehadiran penulis berpengalaman di arena lomba seharusnya sebagai berkah: sebagai pemicu standar, sebagai tantangan menyenangkan, sebagai kesempatan belajar. Bukan ancaman. Sebab, dari situlah kita bisa mengukur: seberapa jauh kita melangkah, seberapa dalam kita menggali, seberapa jujur kita menulis. Kompetisi yang sehat bukan tentang memastikan semua orang punya peluang menang, melainkan memastikan semua orang dinilai dengan ukuran sama. Dan ukuran itu, dalam lomba menulis, hanya satu: kualitas teks.

Maka, ketika saya mengatakan bahwa “dalam ranah kompetisi, kedudukan semua penulis adalah pemula,” itu bukan basa-basi. Itu keyakinan. Sebab, setiap karya baru adalah kelahiran baru. Setiap teks adalah pertaruhan. Tidak ada jaminan, pengalaman akan selalu berbuah kemenangan. Tidak ada kepastian, reputasi akan membawa piala. Bahkan, sering kali justru sebaliknya: yang merasa terlalu mapan justru terjebak pada formula, sementara yang gelisah melahirkan kejutan.

Sastra, seperti hidup, justru tumbuh dari gesekan. Dari pertemuan yang tak seimbang. Dari persaingan yang tak selalu ramah. Dari kegagalan berulang. Dari kemenangan yang tak pasti. Dan barangkali, yang paling kita butuhkan hari ini bukan kompetisi lunak, melainkan keberanian untuk kalah tanpa menyalahkan siapa pun.

Sebenarnya, tema ini sudah lama ingin saya tuliskan. Ia kerap muncul singkat di kepala, lalu menghilang, seolah tidak cukup penting untuk diberi ruang. Saya berkali-kali menunda, meyakinkan diri bahwa barangkali ini hanya kegelisahan remeh yang tak layak dijadikan bahan renungan. Namun, seperti suara kecil yang tak benar-benar pergi, ia selalu kembali, dengan wajah sama, dengan pertanyaan serupa.

Sekali lagi, saya tidak tersinggung, apalagi marah. Saya justru berterima kasih karena dengan kejadian ini saya akhirnya menulis ini. Peristiwa ini membuat saya berhenti menunda. Bukan karena menyakitkan, melainkan justru karena ia terasa terlalu biasa. Terlalu berulang. Dan mungkin, justru di situlah letak kepentingannya: bahwa sesuatu yang terus berulang, sekecil apa pun, patut diperhatikan sebagai gejala, bukan sekadar kebetulan. Maka tulisan ini lahir bukan sebagai luapan, melainkan upaya berdamai dengan gelisah yang sejak lama saya simpan.

Sebab, di ujung semua lomba, yang paling penting bukan siapa yang menang, melainkan siapa yang terus menulis. Siapa yang masih setia pada gelisahnya. Siapa yang tak berhenti percaya bahwa kata-kata, betapa pun rapuh, masih layak diperjuangkan. Di sana, semua orang kembali setara. Pemula.***

____________________

Yuditeha. Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Puisi

Puisi M. Z. Billal

STRUKTUR TUBUH KENANGAN

helai rambutnya                                  

adalah ratus ribuan peristiwa

rasa hari yang kemarin

wajahnya                                            

adalah peradaban dari tahun-tahun

yang sunyi; yang juga berbunyi

tulang dadanya                                  

adalah gerbang agung memasuki sebuah

portal rahasia bernama jiwa

sepasang lengannya                            

adalah serikat rindu yang menyibak

sejumlah keajaiban memeluk

kedua telinganya                                

adalah instrumen yang mengalunkan

lagu-lagu tenang yang menyembuhkan

otot perutnya                                      

adalah tempat persembunyian

luka-luka pedih yang gemar tertawa

selangkangannya                                

adalah kebun yang menumbuhkan buah dan bunga

yang tidak pernah tumbuh di dunia

tungkai-tungkainya                            

adalah jarak panjang yang harus ditempuh

dari dunia ke surga; ke hutan dan laut

jari-jemarinya

adalah nama dari berbagai jenis sentuhan

yang menguarkan aroma waktu

seperangkat netranya                         

adalah mesin penjelajah yang liar berburu

langit dan ciuman-ciuman

hidungnya                                          

adalah hamparan kota sibuk yang berjuang

mengendus bau para pembawa mimpi

dua katup bibirnya                             

adalah siaran radio yang mengudara memenuhi

musim hujan dan panjang kemarau

air matanya

adalah muara kepulangan tempat sejumlah perahu kecil

memanggil nama ibu mereka

2025

__________________________

INDIGO

aku tak pernah berhenti menulis.

menulis puisi-puisi ini. kutulis terus.

kutulis saja. kulepaskan semuanya.

kekacauan biar saja kacau; luluhlantak

seperti bencana masa lalu. dan keheningan

biar saja hening. suara-suara membuatku

terapung. terapung hingga menembus

langit lembayung. dan aku terurai.                                         

terurai

            b     e     r    d     e    r     a   i.

     l           e          r          a          i

            renyai seperti hujan

pekan pertama april.

dan semuanya akan sangat membekas

seperti rindu yang tak pernah lepas.

karena aku selalu berharap kau bukanlah

orang yang pergi itu. kau akan menetap

di sini, di pelukanku. takdir cuma bercanda

saat kulihat kau melepaskan lambaian terakhir.

sebab kau pasti tahu bahwa kesembuhanku

membutuhkan waktu yang tidak singkat.

bahkan kalender akan mati berguguran

melawan peperangan dalam puisi ini;

di mana setiap kota yang kukunjungi

hanya memberiku sentuhan kecil

yang mengingatkanku padamu.

            dan sialnya lagi, rindu terus berjalan.

            dalam kekacauan, dalam keheningan

            yang sulit kuhentikan.

2025

__________________________

BANGUN PAGI TAPI SUDAH TIDAK RINDU

aku pulih. hari-hari kelamku telah berlalu.

bekas luka tak pernah menghilang, ia adalah

pelajaran dari masa lalu. meski nanti nyerinya

bisa datang kapan saja. setidaknya aku tersenyum

saat mengelusnya. kuhela napas menyambut

pagi demi pagi yang hangat datang dari masa depan.

berjalan ke luar rumah, ke jalan-jalan yang sibuk

dengan perasaan yang baru; rindu telah lebur

dan terbang ke angkasa, ditiup angin menjauh.     

ia telah jadi burung-burung bangau. seribu bangau.

seperti doaku yang berhamburan ke langit:

semoga kebahagiaan menyertaimu, dan bangun pagiku

tak perlu lagi resah. karena rindu ini telah ikhlas melepasmu.

2025

__________________________      

MEMBASUH LUKA

aku menulis puisi

dan kulepaskan ia berlari

ke dalam hujan yang turun

pada pertengahan februari.

            ia tertawa keras sekali

            lalu melambaikan

salam perpisahan kepadaku;

aku akan merindukanmu

dengan cara lain jika nanti

masih ada waktu.

kemudian dia menghilang

selamanya. menyisakan sebuah tanda

yang tak pernah kutahu

apa namanya. tapi aku tahu itu apa.

2025

__________________________

HAL-HAL TIDAK RUTIN TAPI AKU SUKA KARENA ITU PENTING

#1

kupeluk tubuhku dan kucium berkali-kali

bocah lelaki yang bersemayam di pondok kayu

di bawah rimbun flamboyan kuning;

diriku yang lucu dan menggemaskan

pada masa silam. ia yang selalu

ingin pulang dan tidur lebih lama

di atas kasur kenangan yang mahir

menyerap luka.

dan pada beberapa pagi dalam sepekan

kutanyai ia akan mengerjakan apa

hari ini. lalu ia akan menjawab

dengan kata-kata yang sama:

menyembuhkanmu.

ya, menyembuhkanmu!

#2

aku membicarakan lagi tentang

sejumlah cinta yang hebat di dada ibu

pada petang-petang tertentu untuk episode

yang entah ke berapa aku tak pernah

menghitungnya. dan meminta ibu untuk

melepaskan kerisauannya.

sebab kesedihan ibu adalah yang paling

berbahaya di muka bumi. bila setitik saja air mata

jatuh ke pipinya, maka sebuah badai

akan datang dan menggulung semua

peradaban.

dan tiap ketika pembicaraan itu berakhir

ibu merangkai sejumlah kata sebagai penutup.

yang membuatku tersungkur

di kakinya berkali-kali saat aku

mendengarnya:

rindukanlah selalu cinta ibu nanti

rindukanlah. sebab rindu adalah

pelukan kasih sayang

berumur panjang.

#3

satu hal yang paling kusuka ketika

menutup percakapan di ruang obrolan malam

denganmu; manusia kesukaanku,

adalah saat kau mengirimiku emoji

sepasang beruang imut saling merengkuh

pelukan hangat ke dada masing-masing

lalu percikan berbentuk hati menyertainya.

kau tampaknya mahir

menghangatkan dingin malam

yang memasuki tubuhku.

dan saat kubilang aku menyukai

hal-hal lucu yang kaukatakan,

membuatku ingin terperangkap dalam

mimpi yang selalu ada kau

di dalamnya. kau justru mengirimiku

sepucuk puisi pendek

yang menggetarkan:

aku ingin memiliki sebuah pelukan

yang bernama dirimu. ya, namamu.

2024

__________________________

M.Z. Billal. Lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital seperti kompas.id,  Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, bacapetra.co, dll, serta sejumlah antologi nasional.

Film, Resensi

Ketika Cinta Diberi Kesempatan Terakhir untuk Berbicara

Resensi Film T. H. Hari Sucahyo

Judul                           : Eternity
Tahun Rilis                  : 2025
Durasi                          : ± 100–110 menit
Sutradara                     : David Freyne
Penulis Skenario          : Pat Cunnane & David Freyne
Produser                      : Robbie Ryan, Jessamine Burgum
Pemeran Utama           : Elizabeth Olsen, Miles Teller, Callum Turner, Da’Vine Joy Randolph

Eternity (2025) datang dengan premis yang tampak sederhana sekaligus menggoda: bagaimana jika kehidupan setelah kematian bukanlah penghakiman yang dingin atau penantian sunyi, melainkan ruang refleksi tempat cinta, dalam seluruh kerumitannya, diberi kesempatan terakhir untuk berbicara. Film ini memilih jalur komedi romantis yang lembut, nyaris bersahaja, untuk membicarakan sesuatu yang sering terasa berat: pilihan-pilihan emosional yang membentuk hidup, dan gema pilihan itu ketika hidup telah usai. Dengan latar alam baka yang dirancang tidak menakutkan, bahkan hangat, Eternity mengundang penonton merenungkan cinta bukan sebagai kepemilikan, melainkan sebagai proses yang terus berubah.

Tokoh sentralnya adalah seorang perempuan yang, setelah kematian, dihadapkan pada dilema yang tidak pernah selesai semasa hidup: memilih antara pria yang telah menemaninya bertahun-tahun, baik dalam rutinitas, kompromi, dan kelelahan yang tenang, atau cinta pertamanya yang meninggal di usia muda, sosok yang membeku dalam ingatan sebagai janji yang tak sempat retak. Pertemuan kembali ini bukan sekadar fantasi romantik, melainkan eksperimen emosional tentang bagaimana ingatan bekerja. Film ini peka menunjukkan bahwa memori sering kali memoles masa lalu, menghapus sudut-sudut tajamnya, sementara hubungan yang bertahan lama justru menyimpan bekas luka yang nyata karena dijalani sepenuhnya.

Keputusan sutradara untuk membungkus dilema tersebut dalam komedi romantis terasa tepat. Humor dalam Eternity tidak hadir sebagai lelucon keras, melainkan observasi kecil tentang absurditas emosi manusia. Dialog-dialognya ringan, namun menyimpan kepedihan yang disampaikan tanpa melodrama. Tawa muncul bukan karena situasi dipaksakan lucu, melainkan karena penonton mengenali diri mereka sendiri dalam kebingungan tokoh-tokohnya: kecanggungan bertemu mantan, rasa bersalah mencintai lebih dari satu orang, dan ketidakmampuan memberi definisi tunggal pada kebahagiaan.

Alam baka dalam Eternity digambarkan sebagai ruang transisi yang ramah, bukan surga berkilau atau neraka yang mengancam, melainkan semacam kota kecil dengan aturan sederhana dan ritme yang melambat. Desain produksinya menekankan warna-warna lembut, cahaya yang tidak menyilaukan, serta ruang-ruang yang terasa akrab. Pilihan visual ini menyampaikan gagasan bahwa kematian bukan pemutusan, melainkan jeda untuk memahami. Di sini, waktu tidak mengejar, sehingga percakapan bisa berlarut tanpa kecemasan, dan perasaan yang dulu tertahan dapat mengalir dengan jujur.

Kekuatan utama film ini terletak pada karakterisasi. Perempuan yang menjadi pusat cerita ditulis dengan empati: ia tidak disederhanakan menjadi sosok ragu-ragu, melainkan manusia utuh dengan kontradiksi. Ada rasa syukur pada stabilitas, ada pula kerinduan pada kemungkinan. Pria yang menemaninya seumur hidup digambarkan sebagai figur yang penuh kebaikan dan kelelahan, seseorang yang mencintai dengan cara bertahan. Sementara cinta pertamanya hadir sebagai energi muda, spontan, dan tak selesai; sebuah “bagaimana jika” yang selalu menghantui. Film ini adil pada keduanya; tidak ada yang diposisikan sebagai pilihan salah. Yang ada hanyalah konsekuensi emosional dari masing-masing pilihan.

Penulisan naskahnya cerdas dalam menimbang nostalgia. Alih-alih memanjakan romantisasi masa muda secara berlebihan, Eternity secara perlahan mengupas ilusi yang sering kita bangun tentang cinta pertama. Melalui percakapan-percakapan yang jujur, film ini menunjukkan bahwa cinta yang tidak sempat diuji waktu sering tampak sempurna karena belum pernah berhadapan dengan kebosanan, tanggung jawab, atau perubahan. Namun, pada saat yang sama, film ini tidak merendahkan kekuatan kenangan. Ia mengakui bahwa kenangan memiliki nilai emosional yang sah, bahkan ketika ia tidak sepenuhnya akurat.

Aspek komedi romantisnya bekerja paling efektif ketika film menertawakan gagasan “pilihan final”. Di alam baka, pilihan itu tidak disajikan sebagai vonis, melainkan sebagai kesempatan memahami diri. Ada ironi halus ketika karakter-karakternya menyadari bahwa bahkan setelah mati, manusia masih membawa kebiasaan ragu dan takut melukai. Humor lahir dari pengakuan bahwa kematangan emosional bukan hadiah otomatis dari kematian; ia tetap membutuhkan keberanian untuk jujur.

Secara tematik, Eternity berbicara tentang waktu sebagai aktor tak terlihat dalam cinta. Hubungan jangka panjang digambarkan sebagai hasil dari keputusan-keputusan kecil yang diulang setiap hari, sementara cinta pertama dipresentasikan sebagai momen intens yang singkat. Film ini tidak menyatakan mana yang lebih “benar”, tetapi mengajak penonton bertanya: apakah kita mencintai seseorang karena siapa mereka sekarang, atau karena siapa mereka bagi versi diri kita di masa lalu? Pertanyaan ini beresonansi kuat, terutama bagi penonton dewasa yang telah melalui berbagai fase hidup.

Akting para pemerannya mendukung nuansa lembut film ini. Ekspresi ditahan, gestur kecil, dan jeda dialog digunakan untuk menyampaikan emosi yang lebih dalam daripada kata-kata. Chemistry antarpemeran terasa alami, tidak berlebihan, sehingga konflik emosional berkembang dengan halus. Bahkan dalam adegan-adegan paling romantis, film ini menahan diri dari sentimentalitas murahan, memilih kejujuran yang tenang.

Musik latarnya berperan sebagai pengikat suasana, hadir sebagai lapisan emosional yang tidak mendominasi. Melodi-melodi sederhana mengiringi momen reflektif, sementara keheningan dibiarkan berbicara pada saat-saat krusial. Keputusan ini memperkuat kesan bahwa Eternity percaya pada kekuatan cerita dan performa, bukan pada manipulasi emosional.

Meski demikian, film ini tidak sepenuhnya tanpa kelemahan. Bagi sebagian penonton, ritmenya yang tenang mungkin terasa terlalu santai, bahkan mendekati lamban. Konflik utamanya bersifat internal, sehingga mereka yang mengharapkan dinamika plot yang tajam bisa merasa kurang terpuaskan. Namun, kelembutan ini justru menjadi identitas film: Eternity tidak ingin terburu-buru mencapai resolusi, karena esensinya adalah proses memahami.

Eternity (2025) adalah film tentang keberanian menerima kompleksitas cinta. Ia menolak jawaban sederhana dan menghindari moral hitam-putih. Dalam dunia yang sering menuntut kepastian, film ini merayakan ambiguitas sebagai bagian dari kemanusiaan. Dengan memindahkan dilema cinta ke alam baka, Eternity menciptakan jarak yang memungkinkan kita melihat hidup dengan lebih jernih; bahwa cinta tidak selalu tentang memilih yang paling sempurna, melainkan tentang mengakui apa yang benar-benar berarti bagi diri kita.

Film ini meninggalkan penonton dengan perasaan hangat sekaligus reflektif. Bukan karena ia menawarkan fantasi cinta abadi yang mulus, melainkan karena ia jujur tentang ketidaksempurnaan. Eternity mengingatkan bahwa bahkan ketika waktu berakhir, pertanyaan tentang cinta tetap hidup dan mungkin, justru di situlah keindahannya.

__________________________

T. H. Hari Sucahyo. Penikmat film Layar Kaca dan Layar Lebar. Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”

   

Puisi

Puisi Septi Rusdiyana

merawat luka

bapa, hari ini aku terberkati. surat yang kutulis merah, berubah biru. kau tahu jika sejak menemukanmu, bahagia itu sepele. tawaku bisa sekeras salak anjing. di saat yang sama, aku tersedu, persis saat air susuku tak juga keluar usai bersalin.

bapa, ganjil adalah apa yang terlanjur kuingini. sedang kau, terus saja berhasil menggenapkannya. mungkin kau kira aku akan lelah dan terkapar seperti hamster. rakus menyembunyikan remahan hingga pipi hampir meledak. tidak. tapi tidak, bapa. aku hanya butuh satu petunjuk, lalu akan tidur seperti babi.

bapa, malam ini hujan. entah kenapa hujan lebih sering jatuh saat malam. mereka bilang, agar tidur lebih lelap. bagiku, tempias membawa aroma ketiak yang lama hilang.  jika petir melantakkan sepi, aku justru beku. bukankah itu siksa?

bapa, kau hafal artimu bagiku. aku sudah belajar menjaga air suci: milikmu. kau ajarkan agar tetap hidup di kematian. mimpi adalah kehidupan. aku gagal menjadi jahat. masih tak cukup pantaskah meminta welasmu, bapa?

Desember 2025

__________________________

Kangen

Kabur dari rumah karena wifi lemot,

duduk memesan secangkir kopi di kafe

Desember 2025

__________________________

Reinkarnasi

“Jika aku hidup usai mati, maka kubunuh kau, lagi,” katamu

Angin berembus

Aku benar-benar akan mati

Desember 2025

__________________________

Septi Rusdiyana. Tinggal di Yogyakarta

Esai

Arok Villain yang Menang

Esai M. Ghaniey Al Rasyid

Pramoedya Ananta Toer telah menjadi mite. Namanya dikenang sebagai tokoh penting dalam epos republik ini. Mengenai Mite, Kata James Danandjaja mite ialah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh empu penceritanya, nyaris tanpa penyangkalan.

Agaknya pernyataan ini beraroma hiperbola, bila dikaitakan kepada Pram. Namun, narasi itu sering menyembul, saat mereka (pembaca Pramoedya) mengenang Pram, begitu pula dengan karya-karyanya, sebagai seorang pengkliping, penulis dan penyigi sejarah republik.

Pramoedya memberi sudut pandang lain menilik Arok dan Dedes. Syahdan, tafsir menyoal dua tokoh itu, mewarnai geliat pembacaan sejarah Nusantara yang lekat dengan keajaiban magis. Keris, tumpah darah, birahi dan kesucian. Novel Pramoedya menggebrak pembaca. Ia bukan hanya menilik Arok dan Dedes sebagai entitas yang mentereng sebagai anak turun Brahma, akan tetapi Pram membeberkannya dengan suguhan pertautan perebutan kuasa, haus darah.

Sehari sebelum Natal pada 1976, naskah Arok Dedes berhasil diselesaikan, setelah beberapa kertas-kertas yang di tulis di Pulau Buru berhasil Pram selundupkan. Tepat dua tahun kemudian di tahun 1979, Pram menghirup nikmatnya angin bebas setelah dituduh sebagai kriminal, menyaksikan kertas-kertas kumal yang bakal menjadi Novel Arok Dedes itu menggetarkan pembaca.

Membaca ‘Arok Dedes’ tidaklah mudah, maksudnya tak enteng mendapatkannya. Kini ‘Arok Dedes’, telah menjadi harta karun. Mafhum, para pembaca telah mendengar, kesaksian Pram. Pram menyebut novel-novelnya sebagai ‘anak’ buah pikirnya. Mereka lahir dan bertumbuh, ada pula yang harus mampus sebelum bertumbuh.

Begitu pula dengan ‘Arok Dedes’. Pram menuliskannya saat mendekam di Pulau Buru. Ia mengingat lamat-lamat Singasari dan Arok. Agaknya Pram punya pandangan berbeda dengan para penilik lainnya. Bernarnd H. M Vlekke ataupun Dhaniel Dhakidae. Mereka punya tafsir sendir menyoal Arok.

Di Majalah D&R 20-26 Desember 1999, disitu tersirat wawancara Pram. Genap dua puluh tiga tahun setelah Novel lahir, Pram berujar –Ken Arok itu Bajingan yang Jadi Juru Selamat.

Perkara tafsir semakin membikin Arok lekat dalam perdebatan. Pram berpendapat, Arok adalah Bandit. Ia sempat menjadi pemerkosa, pembunuh, penjudi dan menjadi pemenang saat mengkudeta kuasa Tunggul Ametung. Tak hanya itu, ia pun menggondol Dedes. Menang Telak!

Dari korok penuh kebusukan, nanar mata Arok menghipnotis siapapun. ‘Jagad Pramudita!’ begitulah yang tersirat dalam novel Arok Dedes, saat siapapun memandangi air muka Arok. Para peniliknya seakan terbuai oleh imaji magis, bahwa arok adalah titisan mahadewa. Mereka terpana, sampai-sampai Dedes pun terpaksa luluh meski terpaksa di mana, sebelumnya Dedes menyaksikan suaminya Tunggul Ametung yang tewas dari keris Mpu Gandring.

“Dia dianggap sebagai anak Brahma, Wisnu, Syiwa sekaligus. Arok itu menurut saya, bajingan yang menjadi juru selamat pada masanya,” ujar Pram.

Daniel Dhakidae turut menilik Arok dan Pram. Dalam buku Menerjang Badai Kekuasaan (Penerbit Kompas, 2015), Daniel meyitir Pram yang menafsir Arok Dedes. Usaha menafsir membutuhkan pertanggungjawaban, begitu pula dalam membaca Serat Pararaton Atawa Katuturing Ken Angrok.

Kata Daniel, untuk membaca serat yang menggunakan bahasa Jawa Kuno/Kawi perlu memiliki kepiawaian dengan dibuktikan pada nilai nan unggul.

Serat Pararathon dan Negarakertagama membeberkan sepak terjang Arok/Angrok saat berkecipak dalam perebutan kekuasaan di Tumapel. Di situ, Daniel mengapresiasi langkah Pram, saat mengisahkan Arok Dedes ke dalam bentuk roman. Meski demikian, ada yang sedikit terkikis saat Arok Dedes, menjadi roman. Adalah ambisi historis berdasarkan fakta-fakta yang pernah sesungguhnya terjadi yang rentan tak tersirat lengkap.

“Sejarah perlu ditempatkan dalam tanda petik (“Sejarah”), karena seluruh buku itu adalah roman dengan pikiran paling utama bahwa semuanya fiksi. Dalam arti karya fiksi, maka mistifikasi yang terjadi dalam pararaton tidak banyak berbeda dengan imajinasi yang dikatakan dalam suatu roman.”

Pram berhasil menempatkan kisah Arok Dedes di bumi manusia. Pram membumikan dan membahasakannya, agar dapat ditilik oleh pembaca Indonesia. Kisah itu tak hanya dapat ditilik kalangan tertentu saja, akan tetapi siapapun berharap Arok Dedes hinggap ke seluruh kalangan.

Arok Dedes sebagai pengingat tentang kekuasaan dan ketamakan. Kisahnya yang culas, bengis dan licik itu nampaknya dirasakan Pram saat mendekap di Pulau Buru. Ia tahu dan bergeming, bahwa kebiadaban tak selalu berakhir tragis. Ia bisa seperti Arok yang bisa saja dipuja atau dielu-elukan.

Arok Dedes yang Lahir

Jika Monte Kristo oleh Alexandor Dumas membicarakan seorang tahanan yang berusaha melarikan diri, Pram berusaha untuk meloloskan kertas-kertas yang nantinya dikenal sebagai Novel sejarah Arok Dedes.

Di Majalah D&R (20-26 Desember 1999) Pram berujar, “Saya selundupkan. Waktu itu ada teman yang menjadi motoris atau pengemudi kapal motor. Dialah yang membawa makanan, dari tempat saya di pedalaman ke Pelabuhan Namlea.”

Pram menulis dan terus menulis. Ia mengirimkan kertas-kertas itu sebanyak lima atau enam kali –nyicil. Kertas-kertas diselundupkan. Pram menampik kertas berakhir berserakan atau terbakar di tengah-tengah bayang-bayang kebengisan. Pram membisiki pengemudi kapal motor itu, untuk menitipkan ke seorang Pastur, bernama Pastor Roovink, yang tinggal di sebuah gereja Katolik dekat pelabuhan Namlea.

Pastur itu sempat membisiki Pram, saat menjenguknya, agar ide-ide Pram yang tertulis di atar kertas kumal itu menjadi sebuah buku, agar karyanya dapat mengetuk pembaca dari belahan dunia manpun, dan waktu kapanpun.

Kertas-kertas itu ada pula yang tak beruntung. Kertas yang nantinya dihimpun menjadi sebuah Novel, itu berjudul Mata Pusaran yang mengisahkan perang Paregreg. Kertas itu hangus, hilang entah kemana. Ia mati sebelum bertumbuh, lenyap menjadi abu.

Arok Dedes dan Arus Balik selamat. Ia lahir dan tumbuh. Para pembaca menilik dan membacanya, bahkan beberapa pembaca gusar lantaran buku itu harganya terus naik.

Dalam wawancara itu, Pram berterima kasih kepada Pastor Roovink. Saat ia resmi keluar dari Pulau Buru, Arok Dedes sudah menemui pembaca di Eropa, Amerika Serikat.

Culas, bengis, haus darah dan gila kuasa, kurang lebih demikian Pram berhasil menuliskan Arok Dedes yang didapatkan dari nukilan-nukilan Serat Pararaton dan Negarakertagama itu. Kenyataan itu bukanlah aib, akan tetapi sebuah perenungan tentang kuasa dan tahta. Itu akan tetap menyelip selama manusia hidup, hampir miri dalam Homo Homini Lupusnya Thomas Hobbess.

Alkisah, Arok Dedes mengajak kita untuk merenung sejenak tentang yang silam sekitar abad ke-13. Mereka nyatanya telah terbiasa dengan intrik, taktik dan persekongkolan licin untuk merebut yang namanya kuasa dan pamor. Jauh hari sebelum Machiaveli membikin Il Principe dari perenungan di pengasingan, Arok telah mempraktikannya, dengan segala tabiat hasrat berkuasanya. Sekian.

Sumber:

Majalah D&R No.19/XXXI/20-26 Desember 1999. Pramoedya; Ken Arok itu Bajingan yang Jadi Juru Selamat. Hlm 38-39.

Dhakidae, Daniel. Badai Kekuasaan. Jakarta: Penerbit Kompas. 2015

_________________________

M. Ghaniey Al Rasyid. Penulis Lepas. Pengkliping dan penikmat sastra yang tinggal di Kota Surakarta.

Belakang

“SEKEDAR” DAN MINGGU

Yang resah dengan sejarah malah melihat Fadli Zon sumringah. Pada 14 Desember 2024, Fadli Zon tidak libur dari tugasnya sebagai menteri. Minggu yang masih bersuasana duka bersumber bencana di Sumatra tak mengurangi gairah Fadli Zon dalam merayakan sejarah. Ia sedang menunaikan misi besar selaku menteri bertanggung jawab dalam urusan sejarah. Sosok dengan koleksi ribuan buku dan keris itu mengesahkan penerbitan serial buku sejarah resmi nasional.

Tanggal yang dipilih dalam pengesahan disesuaikan ingatan masa lalu. Yang resah dengan sejarah mengetahui 14 Desember 1957 adalah hari awal seminar sejarah yang diadakan di Jogjakarta. Seminar diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan. Seminar tidak sehari saja tapi beberapa hari: 14-18 Desember 1957. Pihak-pihak berkepentingan dalam acara seminar sejarah adalah Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia.

Fadli Zon sumringah itu lumrah. Ia sedang merayakan hari bersejarah sekaligus mengumumkan kepada rakyat Indonesia bahwa telah terbit buku resmi bagi yang ingin belajar sejarah Indonesia. Konon, penggarapan dan penerbitan buku itu diiringi protes dan perdebatan panas. Yang terjadi para sejarawan dalam instruksi pemerintah terus melanjutkan dan merampungkan.

Kita yang ikut resah gara-gara buku sejarah produksi pemerintah ingin mengelak sebelum berhasil membacanya. Bagaimana kita bisa mendapatkan bukunya? Apakah kita sanggup khatam, sebelum memberi kecaman atau pujian? Orang yang beruntung saja berhasil mendapatkan buku terbitan pemerintah. Yang kebelet bisa saja mencari jalan agar mendapat “file” atau edisi bajakan. Kita tentu bersalah bila menantikan peredaran edisi buku bajakan. Yang membajak dan mengedarkan bisa menyatakan bahwa buku produksi pemerintah dicetak terbatas. Peredarannya pun terbatas atau selektif.

Buku baru belum datang. Tangan kita belum membuka halaman-halamannya. Maka, peristiwa yang dapat dilakukan agar berkaitan dengan peristiwa sejarah dan pemaknaan 14 Desember 2025 adalah membaca buku (laporan) terbitan Universitas Gadjah Mada. Yang ada di hadapan kita adalah Laporan Seminar Sedjarah. Buku yang sederhana dan tipis.

Panitia acara menjelaskan: “Seminar jang baru diadakan pertama kali dalam sedjarah Indonesia ini memang dimaksudkan sekedar untuk mengumpulkan pelbagai pendapat dan saran-saran sebagai bahan-bahan jang berharga untuk menjusun dikemudian hari sedjarah nasional Indonesia jang setjara ilmiah dapat dipertanggungdjawabkan.” Kita tidak kaget bila penyelenggaraan acara tidak memiliki tujuan-tujuan akbar. Perhatikan yang tertulis di pengantar: “sekedar”. Indonesia masih berumur muda. Namun, sejarah sangat dibutuhkan demi kehormatan dan kedaulatan Indonesia.

Bagaimana suasana seminar yang “sekedar” di Jogjakarta? Kita mengutip isi laporan: “Pada waktu seminar berlangsung ternjata perhatian masjarakat besar sekali, ini terbukti dengan banjaknja pengundjung jang langsung datang dari seluruh pelosok Indonesia, misalnja dari Atjeh, Medan, Bukittinggi, Djambi, Palembang, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Makassar dan Nusa Tenggara. Dari Djawa, hampir tiap-tiap kota besar mengirimkan wakilnja.” Ingat, yang berdatangan punya kepentingan mulia.

Kita menyimak sambutan yang diberikan Menteri PP & K Prijono: “Marilah kita bersama-sama berdoa agar halaman hitam itu tidak akan kita djumpai lagi dalam kitab sedjarah modern kita.” Apa yang terjadi? Kita diajak mengingat peristiwa di Cikini, 30 November 1957. Soekarno mendapat serangan. Malapetaka yang mengagetkan. Beruntungnya, Soekarno selamat. Maka, menteri berharap peristiwa itu tidak terjadi lagi. Padahal, peristiwa itu tetap saja masuk dalam lembaran sejarah.

Selanjutnya, kita membaca peringatan yang disampaikan Sultan Hamengku Buwana IX: “Kita tahu bahwa sedjarah Indonesia jang disusun sampai sekarang pada umumnja masih mempergunakan buku-buku dan tulisan-tulisan jang berasal dari penulis-penulis pendjadjah Belanda. Padahal disamping kita harus mengakui bahwa diantara mereka ada jang berusaha menulisnja setjara objectief, tetapi pada umumnja pendjadjah Belanda itu mentjiptakan sedjarah Indonesia jang tidak lepas dari maksud politiknja, sehingga sedjarah Indonesia dibikin sedemikian rupa agar dapat menguntungkan tudjuan politik mereka.” Pembuatan buku sejarah nasional oleh para sejarawan Indonesia sangat diperlukan agar pengajaran di sekolah memberi keyakinan dapat terhindar dari dampak-dampak buruk dari kepustakaan sejarah yang disusun para sarjana Belanda.

Di Jogjakarta, acara yang diadakan tidak cuma seminar, yang mengundang para ahli. Debat-debat sempat terjadi demi munculnya saran-saran dalam penulisan buku sejarah nasional. Pameran sejarah pun diadakan. Yang melengkapi acara adalah tamasya. Para pembicara, tamu, dan panitian sejenak piknik agar tidak terlalu pusing memikirkan sejarah. Namun, piknik yang diadakan itu dicap sebagai “kunjungan ilmiah.” Mereka berdarmawisata ke Candi Prambanan.

Yang menyempurnakan adalah “malam kesenian”. Seminar yang melelahkan dihibur dengan lagu-lagu di panggung. Kita membayangkan malam itu memberi kesan “indah” setelah hari-hari memikirkan “kebenaran” dalam sejarah.

Peristiwa masa lalu itu mengajak kita menghormati para tokoh yang dihadirkan dalam usaha penulisan buku sejarah nasional meski kita sempat mengetahuinya sebagai “sekedar”. Nama-nama yang teringat dalam seminar sejarah di Jogjakarta: M Yamin, Soedjatmoko, Boejoeng Saleh, Soeri Soeroto, Poerbatjaroko, M Ali, Soegarda Perbatjaraka, Koentjaraningrat, Bahder Djohan, Soekanto, Sartono Kartodirdjo, Soedjatmoko, dan lain-lain.

Minggu telah berlalu. Minggu bukan hanya hari libur. Kita justru diminta mengingat Minggu itu peresmian buku sejarah resmi yang dibuat pemerintah, 10 jilid: 14 Desember 2025. Kita pun sudah membaca buku laporan lawas, yang memberi ingatan-ingatan atas peristiwa di Jogjakarta. Kita membaca yang telah terjadi sambil menunggu buku laporan dari tim penulisan buku sejarah nasional yang diurus Fadli Zon. Kita ingin tahu segala hal mengenai proses penulisan buku sejarah, yang kita anggap penting agar proyek itu bukan “sekedar”.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Cerpen

Yang Belum Sempat Terucap

Cerpen Nadise Putri Raina Anya Ariella Nasywa

Ada banyak cara orang membentuk seorang anak. Ada yang memilih kelembutan, ada yang memakai kesabaran, dan ada yang mempercayai bahwa disiplin hanya mungkin tumbuh dari suara tinggi, cubitan, atau pukulan ringan yang “tidak apa-apa, nanti juga lupa”.

Dan entah kenapa, dari tiga anak perempuan di rumah ini, akulah yang mendapat bagian paling keras dari cara didik itu. Bukan berarti aku tidak disayang.

Justru karena disayang, katanya.

Kalimat itu dulu sering kudengar—kalimat pembenar yang seolah-olah membuat semua bentakan terasa lebih masuk akal.

***

Namaku… ah, tidak penting.

Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Kami semua perempuan—tiga kepala berbeda yang tumbuh dalam rumah yang sama, tapi rasanya seperti mendapat versi yang berbeda-beda dari ayah dan mama.

Aku tidak bisa bilang kakak dan adikku penurut, karena mereka juga punya keras kepala masing-masing. Tapi mereka selalu terlihat “lebih mudah dipahami”. Lebih bisa duduk manis, lebih cepat berhenti ketika dimarahi, lebih jarang membuat orang tua geleng-geleng kepala.

Sementara aku…

Aku ini kata orang-orang, “anak yang susah diam”.

Mulutku bergerak lebih cepat dari pada otak. Emosiku melonjak lebih tinggi daripada batas yang dianggap wajar. Aku membantah, aku bertanya, aku tidak langsung mengikuti apa yang dianggap benar. Dan dalam rumah yang menganut pola asuh keras, sikap seperti itu dianggap nakal.

Aku ingat sekali: cubitan di lengan kiri, pukulan ringan di paha, ditarik masuk kamar, atau diminta berdiri diam di depan pintu sambil menggigit bibir karena menahan tangis. Yang menyakitkan bukan rasa perihnya, tapi cara semua itu membuatku merasa salah tanpa tahu salahku di mana.

Kalau aku mencoba menjelaskan, aku dianggap membela diri. Kalau aku diam, aku dianggap mengabaikan. Kalau aku menangis, aku dianggap drama. Tidak ada posisi yang aman.

Sampai akhirnya aku belajar bahwa lebih mudah menelan semuanya. Lebih aman menyimpan kata dalam dada. Lebih tidak melelahkan untuk tidak berkata apa-apa. Dan tanpa kusadari, itu menjadi pola yang bertahan sampai sekarang.

***

Tuhan tidak pernah memberi ujian tanpa memberi pereda. Dalam rumah ini, penyeimbangku adalah dua orang: nenek dan tante bungsu—adik mamaku.

Kalau aku sedang dimarahi, merekalah yang paling dulu masuk kamar. Nenek duduk di sampingku sambil mengelus punggungku. Tante bungsu—wajahnya masih belia waktu itu—selalu membelaku dengan keberanian yang tak kumiliki.

“Udah, jangan pukul dia terus. Dia capek,” begitu kata tantenku sekali waktu, suaranya gemetar tapi tegas.

“Uni, nanti dia bukannya belajar malah makin takut,” katanya lagi di kesempatan lain.

Mereka tidak banyak bicara, tapi keberadaan mereka mengajarkanku bahwa ada dunia lain yang lebih lembut daripada tempat aku biasa berdiri. Mungkin itu sebabnya aku bisa tumbuh dan tetap percaya bahwa kasih sayang itu ada, walau bentuknya tidak selalu ramah.

***

Walaupun begitu, luka kecil masa kecil itu tetap tinggal bersama. Bahkan setelah kami bertiga tumbuh menjadi perempuan yang bisa mengurus diri sendiri, dampak dari didikan yang keras itu masih menempel pada diriku—lebih kuat daripada pada kedua saudaraku.

Kakakku tumbuh dengan cara bicara yang tegas, tapi ia tidak pernah takut menjelaskan diri. Adikku sering marah, tapi ia selalu bisa mengungkapkan apa yang ia rasa tanpa menunggu semuanya membludak.

Hanya aku yang selalu menahan. Hanya aku yang memilih diam. Hanya aku yang takut salah bicara meski sudah dewasa. Aku cerewet dengan teman, tapi paling pendiam di rumah. Aku bisa tertawa sekeras-kerasnya di luar, tapi di rumah suaraku nyaris setipis kertas.

Kadang aku ingin cerita tentang lelahku, tentang sakitku, tentang sesuatu yang mengganjal… tapi setiap kali membuka bibir, ada bayangan masa kecil yang menarikku mundur.

“Apa pun yang kamu bilang, kamu bakal salah lagi.” Suara itu masih ada.

Masih hidup di kepalaku. Masih memengaruhi caraku bernafas.

***

Puncaknya terjadi pada suatu sore yang tampak biasa-biasa saja. Aku baru pulang dalam keadaan capek, mumet, dan ingin istirahat sebentar. Mama memanggilku, menanyakan sesuatu yang sebenarnya tidak besar. Tapi nada suaranya naik sedikit, mungkin karena ia juga lelah.

Aku menjawab dengan nada yang kupikir masih normal—tapi ternyata terdengar keras di telinganya.

“Kamu itu kalau dibilangin jangan ngegas!” katanya.

Aku langsung terdiam. Rasanya seperti ditarik kembali ke masa kecil. Semua cubitan, bentakan, dan teguran lama itu tiba-tiba muncul di belakang mata. Aku mencoba menjelaskan bahwa aku tidak marah. Bahwa aku hanya capek. Bahwa suaraku memang begini ketika lelah. Tapi kata-kata itu hanya sampai di tenggorokan.

Yang keluar hanya, “Iya, Ma.”

Dan itu membuat semuanya semakin salah. Mama menghela napas panjang. Suasana jadi dingin, kakakku menoleh dan adikku berhenti mengetik di ponsel. Aku merasa menjadi sorotan tanpa ingin disorot. Aku merasa kembali menjadi anak kecil yang selalu terlihat paling salah. Akhirnya aku masuk kamar tanpa berkata apa pun. Tidak menutup pintu keras-keras, tidak menangis keras-keras. Hanya duduk di lantai, memeluk diriku sendiri.

“Aku sayang kalian… tapi kenapa rasanya selalu susah jadi diriku sendiri di rumah?”

Aku bertanya dalam hati. Tidak ada jawaban, tentu saja. Aku menunduk dan entah kapan tertidur—mungkin karena kelelahan emosi.

***

Sore itu, semuanya tiba-tiba berubah. Rumah terasa lebih hangat, lebih pelan, lebih lembut. Seolah-olah waktu berdiri diam untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Mama datang menghampiri. Ayah duduk di sebelahku dengan wajah yang tidak menghakimi. Kakak dan adikku berdiri di belakang mereka, menatapku dengan mata yang benar-benar ingin mengerti. Bahkan nenek dan tante bungsu—dua orang yang selalu menenangkanku juga berada di sana.

Entah bagaimana, aku merasa aman. Aman dengan cara yang tidak pernah bisa kujelaskan. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun… aku bicara.

Aku ceritakan semuanya—tentang masa kecil yang keras, tentang bentak-bentak yang membentuk ketakutan, tentang cubitan yang membuatku belajar menyembunyikan suara. Tentang bagaimana aku selalu merasa salah sebelum sempat membuka mulut.

Aku bilang bahwa aku tidak marah pada siapa pun. Aku hanya takut. Takut membuat kecewa. Takut salah bicara. Takut dianggap melawan, meski aku hanya ingin menjelaskan.

Mama memelukku sambil menangis. Papa menepuk punggungku lama-lama. Kakakku menahan air mata, menggenggam tanganku. Adikku menyandarkan kepala di bahuku. Nenek mengusap rambutku. Tante bungsu tersenyum lembut seperti dulu.

Tidak ada bentakan. Tidak ada salah paham. Tidak ada jarak. Untuk pertama kalinya, rumah itu terasa seperti tempat yang bisa kutinggali tanpa harus mengecilkan diriku. Aku merasa lega, ringan, dan bebas—seolah beban bertahun-tahun itu akhirnya jatuh juga dari dadaku. Semuanya terasa begitu nyata. Begitu mungkin. Begitu… tepat.

Hingga aku membuka mata.

***

Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Suara mama dari dapur. Ayah bersiap. Kakak mengikat rambut. Adikku tetap sibuk dengan ponselnya. Ruang yang semalam terasa penuh, pagi itu kembali biasa saja.

Tidak ada pelukan. Tidak ada percakapan hati ke-hati. Tidak ada mata yang berkaca-kaca. Hanya aku, duduk di kasur dengan jantung yang masih membawa hangat dari sesuatu yang… ternyata tidak pernah terjadi.

Semua yang semalam itu—pelukan, pemahaman, keberanian yang berhasil kutemukan—tidak lebih dari sebuah mimpi.

Mimpi yang terasa terlalu nyata. Terlalu diinginkan. Terlalu mirip dengan apa yang sejak kecil ingin sekali kubicarakan. Dan anehnya, meski itu hanya mimpi…aku bangun tanpa kesedihan. Ada sesuatu yang terbuka sedikit dalam diriku. Ada ruang kecil yang tiba-tiba menemukan cahaya.

Mungkin karena mimpi itu, aku akhirnya tahu bahwa suatu hari nanti—entah kapan—aku bisa benar-benar berkata. Bukan karena dipaksa, bukan karena meledak, tapi karena aku ingin dimengerti.

Mungkin tidak sekarang. Mungkin tidak besok.

Tapi aku tahu, aku tidak akan selamanya diam. Dan ketika hari itu datang, saat aku benar-benar berani bicara, mimpi itu tidak akan lagi hanya mimpi.

__________________________

Nadise Putri Raina Anya Ariella Nasywa. Penyuka Cerpen