Esai

Arok Villain yang Menang

Esai M. Ghaniey Al Rasyid

Pramoedya Ananta Toer telah menjadi mite. Namanya dikenang sebagai tokoh penting dalam epos republik ini. Mengenai Mite, Kata James Danandjaja mite ialah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh empu penceritanya, nyaris tanpa penyangkalan.

Agaknya pernyataan ini beraroma hiperbola, bila dikaitakan kepada Pram. Namun, narasi itu sering menyembul, saat mereka (pembaca Pramoedya) mengenang Pram, begitu pula dengan karya-karyanya, sebagai seorang pengkliping, penulis dan penyigi sejarah republik.

Pramoedya memberi sudut pandang lain menilik Arok dan Dedes. Syahdan, tafsir menyoal dua tokoh itu, mewarnai geliat pembacaan sejarah Nusantara yang lekat dengan keajaiban magis. Keris, tumpah darah, birahi dan kesucian. Novel Pramoedya menggebrak pembaca. Ia bukan hanya menilik Arok dan Dedes sebagai entitas yang mentereng sebagai anak turun Brahma, akan tetapi Pram membeberkannya dengan suguhan pertautan perebutan kuasa, haus darah.

Sehari sebelum Natal pada 1976, naskah Arok Dedes berhasil diselesaikan, setelah beberapa kertas-kertas yang di tulis di Pulau Buru berhasil Pram selundupkan. Tepat dua tahun kemudian di tahun 1979, Pram menghirup nikmatnya angin bebas setelah dituduh sebagai kriminal, menyaksikan kertas-kertas kumal yang bakal menjadi Novel Arok Dedes itu menggetarkan pembaca.

Membaca ‘Arok Dedes’ tidaklah mudah, maksudnya tak enteng mendapatkannya. Kini ‘Arok Dedes’, telah menjadi harta karun. Mafhum, para pembaca telah mendengar, kesaksian Pram. Pram menyebut novel-novelnya sebagai ‘anak’ buah pikirnya. Mereka lahir dan bertumbuh, ada pula yang harus mampus sebelum bertumbuh.

Begitu pula dengan ‘Arok Dedes’. Pram menuliskannya saat mendekam di Pulau Buru. Ia mengingat lamat-lamat Singasari dan Arok. Agaknya Pram punya pandangan berbeda dengan para penilik lainnya. Bernarnd H. M Vlekke ataupun Dhaniel Dhakidae. Mereka punya tafsir sendir menyoal Arok.

Di Majalah D&R 20-26 Desember 1999, disitu tersirat wawancara Pram. Genap dua puluh tiga tahun setelah Novel lahir, Pram berujar –Ken Arok itu Bajingan yang Jadi Juru Selamat.

Perkara tafsir semakin membikin Arok lekat dalam perdebatan. Pram berpendapat, Arok adalah Bandit. Ia sempat menjadi pemerkosa, pembunuh, penjudi dan menjadi pemenang saat mengkudeta kuasa Tunggul Ametung. Tak hanya itu, ia pun menggondol Dedes. Menang Telak!

Dari korok penuh kebusukan, nanar mata Arok menghipnotis siapapun. ‘Jagad Pramudita!’ begitulah yang tersirat dalam novel Arok Dedes, saat siapapun memandangi air muka Arok. Para peniliknya seakan terbuai oleh imaji magis, bahwa arok adalah titisan mahadewa. Mereka terpana, sampai-sampai Dedes pun terpaksa luluh meski terpaksa di mana, sebelumnya Dedes menyaksikan suaminya Tunggul Ametung yang tewas dari keris Mpu Gandring.

“Dia dianggap sebagai anak Brahma, Wisnu, Syiwa sekaligus. Arok itu menurut saya, bajingan yang menjadi juru selamat pada masanya,” ujar Pram.

Daniel Dhakidae turut menilik Arok dan Pram. Dalam buku Menerjang Badai Kekuasaan (Penerbit Kompas, 2015), Daniel meyitir Pram yang menafsir Arok Dedes. Usaha menafsir membutuhkan pertanggungjawaban, begitu pula dalam membaca Serat Pararaton Atawa Katuturing Ken Angrok.

Kata Daniel, untuk membaca serat yang menggunakan bahasa Jawa Kuno/Kawi perlu memiliki kepiawaian dengan dibuktikan pada nilai nan unggul.

Serat Pararathon dan Negarakertagama membeberkan sepak terjang Arok/Angrok saat berkecipak dalam perebutan kekuasaan di Tumapel. Di situ, Daniel mengapresiasi langkah Pram, saat mengisahkan Arok Dedes ke dalam bentuk roman. Meski demikian, ada yang sedikit terkikis saat Arok Dedes, menjadi roman. Adalah ambisi historis berdasarkan fakta-fakta yang pernah sesungguhnya terjadi yang rentan tak tersirat lengkap.

“Sejarah perlu ditempatkan dalam tanda petik (“Sejarah”), karena seluruh buku itu adalah roman dengan pikiran paling utama bahwa semuanya fiksi. Dalam arti karya fiksi, maka mistifikasi yang terjadi dalam pararaton tidak banyak berbeda dengan imajinasi yang dikatakan dalam suatu roman.”

Pram berhasil menempatkan kisah Arok Dedes di bumi manusia. Pram membumikan dan membahasakannya, agar dapat ditilik oleh pembaca Indonesia. Kisah itu tak hanya dapat ditilik kalangan tertentu saja, akan tetapi siapapun berharap Arok Dedes hinggap ke seluruh kalangan.

Arok Dedes sebagai pengingat tentang kekuasaan dan ketamakan. Kisahnya yang culas, bengis dan licik itu nampaknya dirasakan Pram saat mendekap di Pulau Buru. Ia tahu dan bergeming, bahwa kebiadaban tak selalu berakhir tragis. Ia bisa seperti Arok yang bisa saja dipuja atau dielu-elukan.

Arok Dedes yang Lahir

Jika Monte Kristo oleh Alexandor Dumas membicarakan seorang tahanan yang berusaha melarikan diri, Pram berusaha untuk meloloskan kertas-kertas yang nantinya dikenal sebagai Novel sejarah Arok Dedes.

Di Majalah D&R (20-26 Desember 1999) Pram berujar, “Saya selundupkan. Waktu itu ada teman yang menjadi motoris atau pengemudi kapal motor. Dialah yang membawa makanan, dari tempat saya di pedalaman ke Pelabuhan Namlea.”

Pram menulis dan terus menulis. Ia mengirimkan kertas-kertas itu sebanyak lima atau enam kali –nyicil. Kertas-kertas diselundupkan. Pram menampik kertas berakhir berserakan atau terbakar di tengah-tengah bayang-bayang kebengisan. Pram membisiki pengemudi kapal motor itu, untuk menitipkan ke seorang Pastur, bernama Pastor Roovink, yang tinggal di sebuah gereja Katolik dekat pelabuhan Namlea.

Pastur itu sempat membisiki Pram, saat menjenguknya, agar ide-ide Pram yang tertulis di atar kertas kumal itu menjadi sebuah buku, agar karyanya dapat mengetuk pembaca dari belahan dunia manpun, dan waktu kapanpun.

Kertas-kertas itu ada pula yang tak beruntung. Kertas yang nantinya dihimpun menjadi sebuah Novel, itu berjudul Mata Pusaran yang mengisahkan perang Paregreg. Kertas itu hangus, hilang entah kemana. Ia mati sebelum bertumbuh, lenyap menjadi abu.

Arok Dedes dan Arus Balik selamat. Ia lahir dan tumbuh. Para pembaca menilik dan membacanya, bahkan beberapa pembaca gusar lantaran buku itu harganya terus naik.

Dalam wawancara itu, Pram berterima kasih kepada Pastor Roovink. Saat ia resmi keluar dari Pulau Buru, Arok Dedes sudah menemui pembaca di Eropa, Amerika Serikat.

Culas, bengis, haus darah dan gila kuasa, kurang lebih demikian Pram berhasil menuliskan Arok Dedes yang didapatkan dari nukilan-nukilan Serat Pararaton dan Negarakertagama itu. Kenyataan itu bukanlah aib, akan tetapi sebuah perenungan tentang kuasa dan tahta. Itu akan tetap menyelip selama manusia hidup, hampir miri dalam Homo Homini Lupusnya Thomas Hobbess.

Alkisah, Arok Dedes mengajak kita untuk merenung sejenak tentang yang silam sekitar abad ke-13. Mereka nyatanya telah terbiasa dengan intrik, taktik dan persekongkolan licin untuk merebut yang namanya kuasa dan pamor. Jauh hari sebelum Machiaveli membikin Il Principe dari perenungan di pengasingan, Arok telah mempraktikannya, dengan segala tabiat hasrat berkuasanya. Sekian.

Sumber:

Majalah D&R No.19/XXXI/20-26 Desember 1999. Pramoedya; Ken Arok itu Bajingan yang Jadi Juru Selamat. Hlm 38-39.

Dhakidae, Daniel. Badai Kekuasaan. Jakarta: Penerbit Kompas. 2015

_________________________

M. Ghaniey Al Rasyid. Penulis Lepas. Pengkliping dan penikmat sastra yang tinggal di Kota Surakarta.

Belakang

“SEKEDAR” DAN MINGGU

Yang resah dengan sejarah malah melihat Fadli Zon sumringah. Pada 14 Desember 2024, Fadli Zon tidak libur dari tugasnya sebagai menteri. Minggu yang masih bersuasana duka bersumber bencana di Sumatra tak mengurangi gairah Fadli Zon dalam merayakan sejarah. Ia sedang menunaikan misi besar selaku menteri bertanggung jawab dalam urusan sejarah. Sosok dengan koleksi ribuan buku dan keris itu mengesahkan penerbitan serial buku sejarah resmi nasional.

Tanggal yang dipilih dalam pengesahan disesuaikan ingatan masa lalu. Yang resah dengan sejarah mengetahui 14 Desember 1957 adalah hari awal seminar sejarah yang diadakan di Jogjakarta. Seminar diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan. Seminar tidak sehari saja tapi beberapa hari: 14-18 Desember 1957. Pihak-pihak berkepentingan dalam acara seminar sejarah adalah Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia.

Fadli Zon sumringah itu lumrah. Ia sedang merayakan hari bersejarah sekaligus mengumumkan kepada rakyat Indonesia bahwa telah terbit buku resmi bagi yang ingin belajar sejarah Indonesia. Konon, penggarapan dan penerbitan buku itu diiringi protes dan perdebatan panas. Yang terjadi para sejarawan dalam instruksi pemerintah terus melanjutkan dan merampungkan.

Kita yang ikut resah gara-gara buku sejarah produksi pemerintah ingin mengelak sebelum berhasil membacanya. Bagaimana kita bisa mendapatkan bukunya? Apakah kita sanggup khatam, sebelum memberi kecaman atau pujian? Orang yang beruntung saja berhasil mendapatkan buku terbitan pemerintah. Yang kebelet bisa saja mencari jalan agar mendapat “file” atau edisi bajakan. Kita tentu bersalah bila menantikan peredaran edisi buku bajakan. Yang membajak dan mengedarkan bisa menyatakan bahwa buku produksi pemerintah dicetak terbatas. Peredarannya pun terbatas atau selektif.

Buku baru belum datang. Tangan kita belum membuka halaman-halamannya. Maka, peristiwa yang dapat dilakukan agar berkaitan dengan peristiwa sejarah dan pemaknaan 14 Desember 2025 adalah membaca buku (laporan) terbitan Universitas Gadjah Mada. Yang ada di hadapan kita adalah Laporan Seminar Sedjarah. Buku yang sederhana dan tipis.

Panitia acara menjelaskan: “Seminar jang baru diadakan pertama kali dalam sedjarah Indonesia ini memang dimaksudkan sekedar untuk mengumpulkan pelbagai pendapat dan saran-saran sebagai bahan-bahan jang berharga untuk menjusun dikemudian hari sedjarah nasional Indonesia jang setjara ilmiah dapat dipertanggungdjawabkan.” Kita tidak kaget bila penyelenggaraan acara tidak memiliki tujuan-tujuan akbar. Perhatikan yang tertulis di pengantar: “sekedar”. Indonesia masih berumur muda. Namun, sejarah sangat dibutuhkan demi kehormatan dan kedaulatan Indonesia.

Bagaimana suasana seminar yang “sekedar” di Jogjakarta? Kita mengutip isi laporan: “Pada waktu seminar berlangsung ternjata perhatian masjarakat besar sekali, ini terbukti dengan banjaknja pengundjung jang langsung datang dari seluruh pelosok Indonesia, misalnja dari Atjeh, Medan, Bukittinggi, Djambi, Palembang, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Makassar dan Nusa Tenggara. Dari Djawa, hampir tiap-tiap kota besar mengirimkan wakilnja.” Ingat, yang berdatangan punya kepentingan mulia.

Kita menyimak sambutan yang diberikan Menteri PP & K Prijono: “Marilah kita bersama-sama berdoa agar halaman hitam itu tidak akan kita djumpai lagi dalam kitab sedjarah modern kita.” Apa yang terjadi? Kita diajak mengingat peristiwa di Cikini, 30 November 1957. Soekarno mendapat serangan. Malapetaka yang mengagetkan. Beruntungnya, Soekarno selamat. Maka, menteri berharap peristiwa itu tidak terjadi lagi. Padahal, peristiwa itu tetap saja masuk dalam lembaran sejarah.

Selanjutnya, kita membaca peringatan yang disampaikan Sultan Hamengku Buwana IX: “Kita tahu bahwa sedjarah Indonesia jang disusun sampai sekarang pada umumnja masih mempergunakan buku-buku dan tulisan-tulisan jang berasal dari penulis-penulis pendjadjah Belanda. Padahal disamping kita harus mengakui bahwa diantara mereka ada jang berusaha menulisnja setjara objectief, tetapi pada umumnja pendjadjah Belanda itu mentjiptakan sedjarah Indonesia jang tidak lepas dari maksud politiknja, sehingga sedjarah Indonesia dibikin sedemikian rupa agar dapat menguntungkan tudjuan politik mereka.” Pembuatan buku sejarah nasional oleh para sejarawan Indonesia sangat diperlukan agar pengajaran di sekolah memberi keyakinan dapat terhindar dari dampak-dampak buruk dari kepustakaan sejarah yang disusun para sarjana Belanda.

Di Jogjakarta, acara yang diadakan tidak cuma seminar, yang mengundang para ahli. Debat-debat sempat terjadi demi munculnya saran-saran dalam penulisan buku sejarah nasional. Pameran sejarah pun diadakan. Yang melengkapi acara adalah tamasya. Para pembicara, tamu, dan panitian sejenak piknik agar tidak terlalu pusing memikirkan sejarah. Namun, piknik yang diadakan itu dicap sebagai “kunjungan ilmiah.” Mereka berdarmawisata ke Candi Prambanan.

Yang menyempurnakan adalah “malam kesenian”. Seminar yang melelahkan dihibur dengan lagu-lagu di panggung. Kita membayangkan malam itu memberi kesan “indah” setelah hari-hari memikirkan “kebenaran” dalam sejarah.

Peristiwa masa lalu itu mengajak kita menghormati para tokoh yang dihadirkan dalam usaha penulisan buku sejarah nasional meski kita sempat mengetahuinya sebagai “sekedar”. Nama-nama yang teringat dalam seminar sejarah di Jogjakarta: M Yamin, Soedjatmoko, Boejoeng Saleh, Soeri Soeroto, Poerbatjaroko, M Ali, Soegarda Perbatjaraka, Koentjaraningrat, Bahder Djohan, Soekanto, Sartono Kartodirdjo, Soedjatmoko, dan lain-lain.

Minggu telah berlalu. Minggu bukan hanya hari libur. Kita justru diminta mengingat Minggu itu peresmian buku sejarah resmi yang dibuat pemerintah, 10 jilid: 14 Desember 2025. Kita pun sudah membaca buku laporan lawas, yang memberi ingatan-ingatan atas peristiwa di Jogjakarta. Kita membaca yang telah terjadi sambil menunggu buku laporan dari tim penulisan buku sejarah nasional yang diurus Fadli Zon. Kita ingin tahu segala hal mengenai proses penulisan buku sejarah, yang kita anggap penting agar proyek itu bukan “sekedar”.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Cerpen

Yang Belum Sempat Terucap

Cerpen Nadise Putri Raina Anya Ariella Nasywa

Ada banyak cara orang membentuk seorang anak. Ada yang memilih kelembutan, ada yang memakai kesabaran, dan ada yang mempercayai bahwa disiplin hanya mungkin tumbuh dari suara tinggi, cubitan, atau pukulan ringan yang “tidak apa-apa, nanti juga lupa”.

Dan entah kenapa, dari tiga anak perempuan di rumah ini, akulah yang mendapat bagian paling keras dari cara didik itu. Bukan berarti aku tidak disayang.

Justru karena disayang, katanya.

Kalimat itu dulu sering kudengar—kalimat pembenar yang seolah-olah membuat semua bentakan terasa lebih masuk akal.

***

Namaku… ah, tidak penting.

Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Kami semua perempuan—tiga kepala berbeda yang tumbuh dalam rumah yang sama, tapi rasanya seperti mendapat versi yang berbeda-beda dari ayah dan mama.

Aku tidak bisa bilang kakak dan adikku penurut, karena mereka juga punya keras kepala masing-masing. Tapi mereka selalu terlihat “lebih mudah dipahami”. Lebih bisa duduk manis, lebih cepat berhenti ketika dimarahi, lebih jarang membuat orang tua geleng-geleng kepala.

Sementara aku…

Aku ini kata orang-orang, “anak yang susah diam”.

Mulutku bergerak lebih cepat dari pada otak. Emosiku melonjak lebih tinggi daripada batas yang dianggap wajar. Aku membantah, aku bertanya, aku tidak langsung mengikuti apa yang dianggap benar. Dan dalam rumah yang menganut pola asuh keras, sikap seperti itu dianggap nakal.

Aku ingat sekali: cubitan di lengan kiri, pukulan ringan di paha, ditarik masuk kamar, atau diminta berdiri diam di depan pintu sambil menggigit bibir karena menahan tangis. Yang menyakitkan bukan rasa perihnya, tapi cara semua itu membuatku merasa salah tanpa tahu salahku di mana.

Kalau aku mencoba menjelaskan, aku dianggap membela diri. Kalau aku diam, aku dianggap mengabaikan. Kalau aku menangis, aku dianggap drama. Tidak ada posisi yang aman.

Sampai akhirnya aku belajar bahwa lebih mudah menelan semuanya. Lebih aman menyimpan kata dalam dada. Lebih tidak melelahkan untuk tidak berkata apa-apa. Dan tanpa kusadari, itu menjadi pola yang bertahan sampai sekarang.

***

Tuhan tidak pernah memberi ujian tanpa memberi pereda. Dalam rumah ini, penyeimbangku adalah dua orang: nenek dan tante bungsu—adik mamaku.

Kalau aku sedang dimarahi, merekalah yang paling dulu masuk kamar. Nenek duduk di sampingku sambil mengelus punggungku. Tante bungsu—wajahnya masih belia waktu itu—selalu membelaku dengan keberanian yang tak kumiliki.

“Udah, jangan pukul dia terus. Dia capek,” begitu kata tantenku sekali waktu, suaranya gemetar tapi tegas.

“Uni, nanti dia bukannya belajar malah makin takut,” katanya lagi di kesempatan lain.

Mereka tidak banyak bicara, tapi keberadaan mereka mengajarkanku bahwa ada dunia lain yang lebih lembut daripada tempat aku biasa berdiri. Mungkin itu sebabnya aku bisa tumbuh dan tetap percaya bahwa kasih sayang itu ada, walau bentuknya tidak selalu ramah.

***

Walaupun begitu, luka kecil masa kecil itu tetap tinggal bersama. Bahkan setelah kami bertiga tumbuh menjadi perempuan yang bisa mengurus diri sendiri, dampak dari didikan yang keras itu masih menempel pada diriku—lebih kuat daripada pada kedua saudaraku.

Kakakku tumbuh dengan cara bicara yang tegas, tapi ia tidak pernah takut menjelaskan diri. Adikku sering marah, tapi ia selalu bisa mengungkapkan apa yang ia rasa tanpa menunggu semuanya membludak.

Hanya aku yang selalu menahan. Hanya aku yang memilih diam. Hanya aku yang takut salah bicara meski sudah dewasa. Aku cerewet dengan teman, tapi paling pendiam di rumah. Aku bisa tertawa sekeras-kerasnya di luar, tapi di rumah suaraku nyaris setipis kertas.

Kadang aku ingin cerita tentang lelahku, tentang sakitku, tentang sesuatu yang mengganjal… tapi setiap kali membuka bibir, ada bayangan masa kecil yang menarikku mundur.

“Apa pun yang kamu bilang, kamu bakal salah lagi.” Suara itu masih ada.

Masih hidup di kepalaku. Masih memengaruhi caraku bernafas.

***

Puncaknya terjadi pada suatu sore yang tampak biasa-biasa saja. Aku baru pulang dalam keadaan capek, mumet, dan ingin istirahat sebentar. Mama memanggilku, menanyakan sesuatu yang sebenarnya tidak besar. Tapi nada suaranya naik sedikit, mungkin karena ia juga lelah.

Aku menjawab dengan nada yang kupikir masih normal—tapi ternyata terdengar keras di telinganya.

“Kamu itu kalau dibilangin jangan ngegas!” katanya.

Aku langsung terdiam. Rasanya seperti ditarik kembali ke masa kecil. Semua cubitan, bentakan, dan teguran lama itu tiba-tiba muncul di belakang mata. Aku mencoba menjelaskan bahwa aku tidak marah. Bahwa aku hanya capek. Bahwa suaraku memang begini ketika lelah. Tapi kata-kata itu hanya sampai di tenggorokan.

Yang keluar hanya, “Iya, Ma.”

Dan itu membuat semuanya semakin salah. Mama menghela napas panjang. Suasana jadi dingin, kakakku menoleh dan adikku berhenti mengetik di ponsel. Aku merasa menjadi sorotan tanpa ingin disorot. Aku merasa kembali menjadi anak kecil yang selalu terlihat paling salah. Akhirnya aku masuk kamar tanpa berkata apa pun. Tidak menutup pintu keras-keras, tidak menangis keras-keras. Hanya duduk di lantai, memeluk diriku sendiri.

“Aku sayang kalian… tapi kenapa rasanya selalu susah jadi diriku sendiri di rumah?”

Aku bertanya dalam hati. Tidak ada jawaban, tentu saja. Aku menunduk dan entah kapan tertidur—mungkin karena kelelahan emosi.

***

Sore itu, semuanya tiba-tiba berubah. Rumah terasa lebih hangat, lebih pelan, lebih lembut. Seolah-olah waktu berdiri diam untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Mama datang menghampiri. Ayah duduk di sebelahku dengan wajah yang tidak menghakimi. Kakak dan adikku berdiri di belakang mereka, menatapku dengan mata yang benar-benar ingin mengerti. Bahkan nenek dan tante bungsu—dua orang yang selalu menenangkanku juga berada di sana.

Entah bagaimana, aku merasa aman. Aman dengan cara yang tidak pernah bisa kujelaskan. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun… aku bicara.

Aku ceritakan semuanya—tentang masa kecil yang keras, tentang bentak-bentak yang membentuk ketakutan, tentang cubitan yang membuatku belajar menyembunyikan suara. Tentang bagaimana aku selalu merasa salah sebelum sempat membuka mulut.

Aku bilang bahwa aku tidak marah pada siapa pun. Aku hanya takut. Takut membuat kecewa. Takut salah bicara. Takut dianggap melawan, meski aku hanya ingin menjelaskan.

Mama memelukku sambil menangis. Papa menepuk punggungku lama-lama. Kakakku menahan air mata, menggenggam tanganku. Adikku menyandarkan kepala di bahuku. Nenek mengusap rambutku. Tante bungsu tersenyum lembut seperti dulu.

Tidak ada bentakan. Tidak ada salah paham. Tidak ada jarak. Untuk pertama kalinya, rumah itu terasa seperti tempat yang bisa kutinggali tanpa harus mengecilkan diriku. Aku merasa lega, ringan, dan bebas—seolah beban bertahun-tahun itu akhirnya jatuh juga dari dadaku. Semuanya terasa begitu nyata. Begitu mungkin. Begitu… tepat.

Hingga aku membuka mata.

***

Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Suara mama dari dapur. Ayah bersiap. Kakak mengikat rambut. Adikku tetap sibuk dengan ponselnya. Ruang yang semalam terasa penuh, pagi itu kembali biasa saja.

Tidak ada pelukan. Tidak ada percakapan hati ke-hati. Tidak ada mata yang berkaca-kaca. Hanya aku, duduk di kasur dengan jantung yang masih membawa hangat dari sesuatu yang… ternyata tidak pernah terjadi.

Semua yang semalam itu—pelukan, pemahaman, keberanian yang berhasil kutemukan—tidak lebih dari sebuah mimpi.

Mimpi yang terasa terlalu nyata. Terlalu diinginkan. Terlalu mirip dengan apa yang sejak kecil ingin sekali kubicarakan. Dan anehnya, meski itu hanya mimpi…aku bangun tanpa kesedihan. Ada sesuatu yang terbuka sedikit dalam diriku. Ada ruang kecil yang tiba-tiba menemukan cahaya.

Mungkin karena mimpi itu, aku akhirnya tahu bahwa suatu hari nanti—entah kapan—aku bisa benar-benar berkata. Bukan karena dipaksa, bukan karena meledak, tapi karena aku ingin dimengerti.

Mungkin tidak sekarang. Mungkin tidak besok.

Tapi aku tahu, aku tidak akan selamanya diam. Dan ketika hari itu datang, saat aku benar-benar berani bicara, mimpi itu tidak akan lagi hanya mimpi.

__________________________

Nadise Putri Raina Anya Ariella Nasywa. Penyuka Cerpen

Puisi

Puisi Maria Utami

Pledoi Hujan di Tanah Sumatra

Jangan tatap aku sebagai pendosa pembawa petaka,

aku hanyalah air yang patuh pada titah musim.

Datangku adalah rindu yang pulang mengetuk pintu,

namun bingung harus merebah di mana,

sebab hulu terkunci nafsu.

Jika kini aku meluap menjelma bah yang garang,

bukan karena ingin menenggelamkan harapan.

Tanyakanlah pada bukit-bukit yang berdiri telanjang:

ke mana perginya akar purba yang dulu memelukku tenang?

Aku jatuh mencari dahan serta rerimbunan daun,

tapi hanya bertemu tunggul mati yang tak lagi santun.

Tanah tak punya daya untuk menahan laju,

membiarkanku liar menerjang apa saja yang kutuju.

Berhentilah mencari kambing hitam di balik kelabu,

tengoklah jejak gergaji yang memangkas paru-paru.

Banjir ini adalah air mata hutan yang dipaksa diam;

aku hanya bertugas, kalianlah yang lupa etika meminjam.

Yogyakarta, 01 Desember 2025

______________________

Gugatan dari Penghuni Belantara

Air bah ini bukan tamu yang kami undang,

ia datang menagih akar alam yang kalian buang.

Rumah kami bukan lagi rimbun yang teduh,

melainkan tanah mati yang tak mampu menahan keluh.

Kami, yang jumlahnya kini dihitung jari gemetar,

dipaksa berenang di atas air mata hutan yang liar.

Kalian rampas atap kami demi kertas dan juga meja,

membiarkan kami hanyut bersama dosa yang kalian eja.

Dulu kami lari dari moncong senapan dan jerat,

kini bingung saat tanah pijakan ikut berkhianat.

Hutan gundul tak lagi punya rahasia untuk nyawa,

tak ada dahan kokoh mendekap kami yang tersisa.

Saat kalian sibuk menghitung rugi di kota yang basah,

kami di sini menghitung detak napas yang pasrah.

Kelak, katakan pada cucumu tanpa alibi:

kami punah karena rumah ini digadaikan,

lalu kalian tenggelamkan sendiri.

Yogyakarta, 01 Desember 2025

______________________

Di Bawah Kibaran Panji Seragam

Hutan yang dulu riuh dalam ribuan bahasa,

kini dipaksa berbaris rapi, lupa caranya tertawa.

Segala yang liar dan berbeda dianggap dosa,

diganti satu rupa demi deretan angka di atas meja.

Di sana, hijau bukan lagi rimbun yang bernyawa,

melainkan kesunyian yang ditata paksa manusia.

Tanah memikul beban akar asing yang egois,

menghisap air tanah hingga ke tetes paling krisis.

Hujan meluncur deras tanpa sempat ditepis,

sebab jejaring purba di dalam tanah telah terkikis.

Bumi tak lagi menjadi ibu yang memeluk manis,

sekadar mesin produksi yang diperas hingga tipis.

Jadi, jangan heran saat sungai meluap membawa dendam,

bukit kehilangan tangan untuk mendekap malam.

Di hamparan monokultur yang angkuh serta rapuh,

kita sedang menggali kubur sendiri, pelan dan patuh.

Yogyakarta, 01 Desember 2025

________________________

Di Tepi Riwayat yang Basah

Air masuk tanpa permisi, merobek hangat ruang tamu,

menyisakan rangka rumah yang mendadak bisu.

Segala kenang juga tawa hanyut seketika,

jejak hidup dihapus arus yang datang membawa duka.

Malam pecah oleh gemuruh, tangan-tangan terlepas paksa,

teriakan ibu ditelan angin yang mendadak tuli rasa.

Ada tubuh kaku dipulangkan arus dengan kelam,

sisanya menggigil di atap, mendekap malam yang suram.

Rindu menjadi jarak yang tak terjangkau perahu karet,

hanya doa tersisa, tersangkut di ranting yang macet.

Lapar dan dingin kini memeluk tubuh tanpa sungkan,

menunggu bantuan yang datang perlahan dalam ketidakpastian.

Di bawah tenda darurat, mata nanar menatap kehancuran,

manusia kembali menjadi tumbal dari keserakahan zaman.

Inilah panen pahit dari dosa ekologis yang ditanam,

buahnya selalu berupa air mata yang terendam.

Yogyakarta, 01 Desember 2025

_______________________

Di Atas Meja Transaksi

Di mata mereka, rimba hanyalah angka yang menunggu cair,

gergaji melolong merobek sepi, memutus takdir.

Segala yang bernapas dipaksa mati jadi lembar rupiah,

menukar paru-paru bumi dengan keserakahan yang pongah.

Hijau bagi Tuan bukan kehidupan, melainkan emas semata,

membangun istana megah di atas tanah yang kini buta.

Riwayat hutan dihapus demi grafik laba yang mendaki,

tak peduli pada sungai yang kering juga satwa yang lari.

Mereka tertawa riang di balik tembok gedung yang dingin,

merasa menang menaklukkan tanah, air, dan angin.

Padahal mereka sedang menggali liang lahat sendiri,

menunggu saat alam datang menagih janji yang ngeri.

Yogyakarta, 01 Desember 2025

_______________________

Maria Utami. Ibu rumah tangga asal Kota Yogyakarta yang aktif menulis puisi. Baginya, tidak ada kata terlambat untuk terus berkarya. Sebagian naskah puisinya juga sudah terbit di sejumlah media literasi digital. Dapat didukung atau disapa melalui akun Instagram: @maria.oetami.

Belakang

GUNUNG, BAHASA, PADI

Sejak masa muda, Adinegoro sering melakukan perjalanan. Ia mengerti pelbagai negeri. Sosok yang sibuk dalam pers tidak membiarkan perjalanan tanpa catatan atau ingatan. Maka, ia sering membuat tulisan-tulisan yang mengajak pembacanya turut dalam perjalanan. Adinegoro mahir menggerakkan kalimat-kalimat, yang bersifat memberitakan dan menceritakan. Yang ditulisnya sering memikat pembaca.

Pada masa kolonial, ia seperti “membawakan” dunia kepada para pembaca di tanah jajahan. Ia kembalai dari keliling dunia tidak membawa “globe” atau “bola dunia”. Yang ia suguhkan adalah kata-kata. Jumlah potret pun terbatas. Namun, ia mampu membuat pembacanya bergerak jauh untuk mengetahui gunung, sungai, bukit, hutan, danau, sawah, dan lain-lain. Adinegoro percaya kata-kata, yang nantinya membuat pembaca membuat “gambar” agar mengenali tempat-tempat yang diberitakan atau diceritakan.

Buku yang digarapnya selalu terkenang sampai sekarang: Melawat ke Barat. Buku yang merekam banyak negeri, yang membuat pembaca memiliki “peta-kata”. Bagaimana caranya kata-kata membentuk dan menghidupkan peta dunia? Yang pernah membuktikannya adalah Adinegoro. Ia sebenarnya memiliki beragam maksud selama perjalanan. Penguasaan bahasa membuatnya tidak menyia-nyiakan pengalaman, selain ia harus belajar pelbagai referensi agar tulisan tak sekadar selesai sebagai “pandangan mata”. Artinya, Adinegoro yang melakukan perjalanan sebenarnya mengalami petualangan pengetahuan (pustaka).

Pada 1954, terbitlah buku berjudul Pokok-Pokok Pengetahuan Ilmu Bumi susunan Adinegoro. Ingat, Adinegoro bukan guru. Sejak masa kolonial, ia kondang sebagai pengarang dan wartawan. Namun, pengalaman dan pengetahuan yang terus bertambah membuatnya pantas menjadi guru atau yang mengajari guru-guru. Buku yang dibuatnya itu sasarannya adalah guru-guru agar dalam mengajarkan geografi memiliki bekal-bekal yang memadai. Kita menyebutnya geografi tapi Adinegoro dan orang-orang masa lalu menamainya ilmu bumi. Penamaan yang akrab dan khas ketimbang kita segera mengikuti penamaan dari Barat yang berbahasa asing: geografi.

Adinegoro sedang mengajar, yang dimulai dengan sajian peta Indonesia di sampul buku. Yang mau belajar ilmu bumi niscaya berurusan dengan peta. Ia menjelaskan: “Ilmu bumi berisi pengetahuan tentang penjelasan gedjala-gedjala alam, hajati (biologis), ekonomi dan sosial dimuka bumi, dan memperhatikan seluk beluk gedjala-gedjala itu dengan tanah tempat keadaan dan kedjadiannja. Tjara penjelidikan dan keterangannja haruslah menurut dasar chronologis (penjebaran) dan dasar kausal (sebab-akibat).” Pada masa revolusi, belajar ilmu bumi sangat penting demi mengetahui Indonesia di peta dunia. Ilmu bumi yang dipelajari di sekolah-sekolah memberi pengetahuan dan kesenangan. Murid-murid seolah melihat Indonesia dan dunia sebelum semuanya mudah oleh televisi dan internet.

Ilmu bumi kadang mengingatkan bencana. Yang diterangkan Adinegoro: “Di Indonesia sadja ada 125 gunung berapi dan ratusan jang telah mati apinja, jang telah lama tidak berasap… Di Indonesia dan di segala tempat jang banjak gunung berapi, sering timbul gempa bumi atau lindu, kadang-kadang hampir tak terasa, kadang-kadang sangat kuat sehingga meruntuhkan rumah-rumah. Di sepandjang retakan bumi, sering terdjadi tanah runtuh dalam bumi, maka timbul pulalah gempa, jang tidak disebabkan oleh gunung meletus.” Ia menulis kalimat-kalimat supaya pembaca paham. Pengajaran lama itu pasti menyulitkan untuk murid-murid masa sekarang. Mereka butuh gambar (bergerak) agar pengetahuan itu mudah dipahami dan memberi kesan yang kuat. Pembaca boleh pula membandingkan penggunaan istilah. Dulu, Adinegoro menulis “tanah runtuh”. Pada masa berbeda, kita mengetahuinya “tanah longsor”.

 

Selanjutnya, kita mengutip masalah bahasa dalam ilmu bumi. Mengapa bahasa ikut dibahas dalam ilmu bumi atau geografi? Kita mendingan meminta penjelasan kepada para ahli. Adinegoro sedikit ikut menerangkan: “Bahasa adalah sjarat jang penting untuk membagi penduduk dunia ini mendjadi beberapa golongan, sjarat jang terpenting untuk perhubungan sosial antara manusia. Kata peribahasa: hilang bangsa karena bahasa. Rumpun bahasa-bahasa Indonesia termasuk pada golongan Austronesia. Nama ini adalah nama kumpulan bahasa-bahasa dari Asia Selatan dan Austronesia. Jang masuk golongan-golongan bahasa Asia Selatan ialah bahasa Munda di India-Depan, Khasi dan Mon-Khmer di Siam dan bahasa-bahasa di pula Nikobar. Jang termasuk golongan Austronesia ialah rumpun bahasa Indonesia bersama dengan rumpun bahasa Melanesia dan Polynesia. Jang chusus rumpun bahasa Indonesia ialah segala bahasa di Indonesia ketjuali sedjenis bahasa-bahasa di Halmahera Utara, Alor, dan Irian.”

Pada masa 1950-an, studi bahasa di Indonesia masih diurusi banyak orang asing. Indonesia memang memiliki lembaga bahasa nasional atau komunitas kebahasaan tapi kerja-kerja belum menunjukkan hasil besar. Kehadiran para ilmuwan asing justru memberi asupan besar saat Indonesia direpotkan revolusi. Urusan bahasa mungkin “ketinggalan” meski sudah diingatkan berperan penting dalam penjelasan negara-bangsa, setelah keberakhiran Perang Dunia II. Pada masa Orde Baru, masalah bahasa-bahasa di seantero Indonesia tetap belum mendapat perhatian besar. Maka, kepunahan bahasa-bahasa adalah kewajaran.

Ilmu bumi memuat pula perkara pangan. Perbedaan iklim dan tanah menentukan mata pencaharian. Di pelbagai negeri, kondisi-kondisi yang berbeda mengakibatkan perbedaan dalam menghasilkan pangan. Pola makan terbedakan lewat jenis makanan pokok. Adinegoro membuat beberapa kalimat mengenai nasi, yang masuk dalam pembahasan peta-pangan.

Adinegoro mengungkapkan: “Sekurang-kurangnja 700 djuta manusia didunia memakan nasi setiap hari, istimewa penghuni ‘daerah-musim’. Padi memerlukan banjak air dan suhu jang agak tinggi…” Indonesia termasuk negara yang “ketagihan” nasi. Artinya, nasi sebagai makanan pokok kadang membuat Indonesia kewalahan dalam pertanian. Yang terjadi adalah impor. Konon, Soeharto berani mengumumkan Indonesia berhasil swasembada pangan (padi) pada masa 1980-an.

Informasi penting bermasa lalu: “Tahun 1952 di Indonesia harga beras sekitar 3 rupiah, jaitu dihitung menurut angka sadja telah 60 kali lipat harganja dari sebelum perang. Harga beras diluar negeri dalam tahun 1952 mendjadi 10 kali lipat dari harga sebelum perang, hingga mendjadi salah satu barang timbunan jang paling mahal didunia, sedang produksi di Indonesia kenjataan lebih rendah dari tahun 1940.”

Pada masa 1950-an, buku buatan Adinegoro mungkin diminati para guru yang mengajar ilmu bumi dan murid-mirid yang ingin “banyak tahu”. Dulu, referensi yang dimiliki masih terbatas. Akibatnya, pengajaran ilmu di sekolah-sekolah membutuhkan buku-buku yang mudah dipelajari meski belum lengkap. Adinegoro memberi sokongan melalui buku yang diterbitkan oleh Gunung Agung. Buku yang bermutu pada masanya tetapi memerlukan banyak ralat setelah kehadiran kepustakaan yang berdatangan dari pelbagai negara.

Di Indonesia, yang berminat dengan geografi pun makin bertambah, yang memungkinkan adanya jurusan geografi di universitas. Apakah yang terus belajar geografi pada abad XXI masih mengingat Adinegoro dan buku lama yang menampilkan peta Indonesia? Buku itu boleh terbiarkan tanpa pembaca lagi saat dunia makin mudah dilihat dan dipelajari.

_____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Puisi

Puisi Cahaya Daffa Fuadzen

Kuyang Membeli Labubu

Di swalayan penghancur iman

aku melongo menyaksikan Kuyang

terbang dengan jeroan yang melayang

menjemput Labubu sedang mendekam

dalam blind box seperti ia saban hari

ingin melahap janin dalam kandungan.

Lalu Sang Kuyang menghampiriku

dengan kepala miang berkeluh kesah

sebab dirinya usai dirundung gelisah.

“Maharnya sungguh mahal.

Aku terpaksa menggadai

tubuhku hingga menyisakan

kepalaku demi bisa membeli

Labubu untuk anakku

tersandung FOMO, agar ia lekas

berhenti menggerutu sebab

kawan-kawannya lebih dulu

membeli Labubu limited edition.”

(2025)

_______________________

Liturgi Nasi Kuning

Dari dapur kecil tercium

molekul wangi kunyit yang

mengepul seperti aroma

bumbu habang melumat

mulut Acil Kintul.

Ia pun menguning berkat

sumpah yang dikukus oleh

rempah leluhur dengan

bau tungku memukat jelang pagi.

Bersama taburan serundeng,

disajikan di atas mini altar bagi

perjamuan kecil dari ragam ibadah.

Tak akan menanyakan silsilah,

ia hanya penasaran apakah

tanganmu ikut menyuap bersama

doa-doa yang tak seamin denganmu.

Ia adalah pesan singkat yang

ingin disampaikan bersama

kepala haruan dan dibagikan

secara nikmat yang setara.

Barangkali, itulah cara ia

bersua dengan kita yang

dibungkus daun pisang sebagai

wasiat mun tanah kita segera

menua juga langit ikut memudar.

(2025)

______________________

Dongeng Belom Bahadat

Pada sebuah lantunan sempuri purba

aku simak sangat suara Kai Piduka.

 “Belom Bahadat, anakku,

ialah tubuh adat bagai rajah iban

melekat di atas kulit dadamu.”

Kai Piduka kian masyuk membalada

kisah Belom Bahadat serupa tetua

kayu bakar datang membawa kabar.

“Belom Bahadat, anakku,

ia membentang bersama Anoi

yang telah tumbang demi

bepekat besar tanpa sempat

bicara dengan angin begasa.”

“Dan, berkat Belom Bahadat

mereka tak saling melayangkan

mandau, bukan?” Ujarnya.

“Begitulah Belom Bahadat menetaskan

kepada mereka serupa acil menguntai

erat janur dengan simpul ikat mati,

serupa kain kebat merangkul punggung

hangat tambi adat.” Pungkasnya.

(2025)

_____________________

Cahaya Daffa Fuadzen. Aktif bergiat di Komune TerAksara Indonesia. Puisinya termaktub dalam antologi bersama Cermin Lain di Balik Pintu Lamin (Ruang Sastra Kaltim, 2023). Penulis terpilih di Singaraja Literary Festival 2025. Alumnus Majelis Sastra Asia Tenggara 2025 Kategori Puisi.

Cerpen

Stoples Kejujuran

Cerpen Pelajar Aliya

Sebuah lemari tua berdiri kokoh di hadapanku. Tanganku mengambil salah satu buku dari deretan buku yang memenuhi lemari itu. Buku itu terlihat baru dan tidak berdebu. Sampulnya tebal berwarna merah terang.

Kubawa buku itu ke sofa yang ada di pojok ruangan. Lembar demi lembar kubuka, gambar anak-anak seperti di sebuah negeri dongeng menghiasi tiap halaman, anehnya tak ada tulisan satu pun dalam tiap halamannya. Tetapi gambar itu sangat menarik perhatianku.

Sejurus kemudian, pundakku ditepuk seseorang. Seorang anak perempuan seusiaku sekitar 10 tahun, berwajah manis dengan rambut dikepang dua. Ia tersenyum menatapku dan memperkenalkan dirinya. Namanya Shelly.

Tak lama kami berkenalan, Shelly mengajakku ke luar perpustakaan tua ini. Seketika sekelilingku tampak berbeda. Sebuah tempar yang begitu mirip dengan yang kulihat di sebuah buku cerita tadi.

Matahari terasa hangat menerpa wajahku, udara begitu segar, bunga beraneka warna bermekaran, dan pohon-pohon dipenuhi buah buahan segar dan ranum.

Di halaman penuh anak-anak tertawa riang berkejaran, bermain lompat tali, ayunan, trampolin, dan seluncuran. Ada juga yang sedang melukis, bernyanyi dan menari. Beberapa anak bermain sepatu roda sambil berpegangan tangan satu dengan lainnya, bermain bola, skate board, sepeda, dan banyak lagi. Tak satu pun orang dewasa terlihat. Tempat tersebut seperti hanya diperuntukkan bagi anak-anak.

“Kayla-Kayla.” Shelly mengguncang pelan tubuhku yang masih terpaku penuh ketakjuban.

“Di sini anak-anak boleh bermain dan makan dengan bebas, namun kita tetap belajar dan sekolah.”

“Wow, enak sekali,” pekikku riang. “Tapi apakah kita sekolah dengan tugas PR yang banyak?” tanyaku dengan wajah sedikit khawatir. Sebuah pertanyaan yang muncul dalam benakku ketika mendengar kata belajar.

Shelly tertawa, “Yang pasti di sini tidak ada tugas dan PR yang membuatmu tidak bisa menikmati dunia anak-anak. Bahkan kamu bebas mengekspresikan hobi dan bakatmu, tanpa ada yang menilaimu jelek. Setiap usaha yang baik diapresiasi oleh kawan-kawanmu di sini. Mereka juga akan saling membantu.”

“Nah di sana, di ujung jalan ada anak-anak yang antri mengambil es krim. Dan ada beberapa tempat lainnya, mereka bisa mengambil makanan, minuman, atau kebutuhan anak-anak. Namun semuanya itu ada aturan,” lanjut Shelly.

“Oh, hanya itu saja?”

“Tentu tidak, anak-anak harus berkata dan bersikap jujur!” jawab Shelly dengan nada tegas.

“Kalau kita berbohong, apa yang akan terjadi?”

“Semua anak akan dipulangkan ke rumahnya,” jawabnya sambil membelalakkan mata dan berkata pelan namun cukup terdengar tegas di telingaku. Aku hanya tersenyum tipis dan kecut. Terdengar seperti sebuah ancaman serius.

Setelah itu aku menebar pandangan, seketika mataku tertuju pada sebuah stoples penuh permen yang terletak di meja-meja taman. Permen-permen itu nampak indah bermacam-macam dengan warna dan bentuk menarik. Aku melangkah mendekati stoples permen di meja itu. Tiba-tiba Shelly menarik tanganku.

“Jangan kamu memakan permen itu, Kayla!” sentak Shelly.

“Kenapa?” tanyaku.

“Kalau ada yang memakan satu permen saja dari stoples itu, maka dunia ini akan lenyap dan semua anak yang berada di sini akan dipulangkan ke rumah mereka,” Shelly melanjutkan.

“Kamu harus cobain es krim di sini saja, beda banget sama di dunia kita,” ujar Shelly mencairkan suasana.

Tetapi aku masih memikirkan permen dan juga ancamannya yang cukup serius itu.

***

Kujilat es krim rasa stroberi yang ada di tanganku. Rasanya sangat berbeda. Lezat sekali, belum pernah kurasakan sebelumnya.

Shelly berkata, “Es krim ini dari buah stroberi asli. Di sini anak-anak tidak ada yang sakit, jadi kamu bebas makan apa saja. Oh iya, aku main dulu ya di taman. Mau ikut?”

Kepalaku menggeleng. Aku sedang tidak ingin bermain.

“Oke tidak apa-apa. Dadah,” kata Shelly sambil melambaikan tangannya.

Mataku kembali tertuju pada stoples permen. Aku tergoda oleh kilauan permen-permen yang di dalam stoples itu. Ah, kalau kumakan satu permen saja mungkin tak ada satu pun yang menyadarinya. Akan tetapi semua anak akan dikembalikan ke rumahnya. Padahal dunia ini adalah dunia impianku dan anak-anak lainnya.

Sekeras mungkin kutepiskan keinginan untuk memakan permen itu. Tetapi pikiranku belum beralih dari stoples permen itu. Ingin aku mencicipinya. Perlahan-lahan kudekati stoples itu. Aku melihat sekeliling rasanya tidak ada yang melihatku. Tanganku menggapainya. Segera kubuka tutupnya dan cepat-cepat kuambil satu, kumasukan ke mulut. Ternyata rasanya lezat. Seperti belum merasa puas, aku ingin mengambil permen lain yang ukurannya lebih besar. Namun suara seseorang menghentikanku.

“Hei, siapa kamu? Beraninya memakan permen itu!” teriak seorang anak.

Karena panik, stoples itu terjatuh dari tanganku. Seketika langit gelap. Wajahku berubah pucat, tubuhku gemetar, aku lari menjauhi meja taman itu, bersembunyi di balik pohon. Kulihat sekarang, semua anak menatap langit gelap dengan muka cemas.

Sejurus kemudian Shelly menghampiriku.

“Kamu yang mengambil permen itu?” tanya Shelly lembut.

“Aku tidak mengambil permen itu,” kataku dengan nada parau. 

Burung gagak berterbangan di atas kepalaku. Suaranya beradu dengan kegalauan di dadaku.

“Kamu tidak jujur, dunia ini sebentar lagi akan lenyap dan semua kembali ke dunia asal!” Shelly berteriak.


“Maafkan atas kebodohanku, aku berjanji akan selalu jujur dan dapat mengendalikan diri.” kataku dalam rasa sesal.

“Semua sudah terlambat,” kata salah satu anak dengan nada sedih.

Seketika muncul lubang putih. Lubang itu adalah jalan menuju dunia asal kami. Semua anak langsung melompat ke lubang putih itu. Aku pun menyusul. Lubang itu seperti spiral berputar dengan cahaya yang menyilaukan mata.

“Hei Nak, bangunlah” kata seorang ibu penjaga perpustakaan sambil tersenyum ramah.

“Perpustakaan ini mau tutup, nampaknya kamu tidur lelap sekali,” lanjutnya.

Kepalaku sedikit pusing dan mataku terasa berat sambil mencoba memperhatikan sekelilingku. Kucubit tanganku, terasa sakit. Mungkin tadi hanya mimpi. Nyatanya aku masih duduk di sofa di dalam perpustakaan tua ini.

Pikiranku mencoba mencerna apa yang telah terjadi. Tetapi rasa menyesal terus menghantuiku. Aku telah menghancurkan dunia impian anak-anak. Andai tadi aku bisa menahan diri tidak mencuri permen itu. Aku ingin kembali ke dunia impian anak-anak yang penuh kegembiraan dan kasih sayang dimana kejujuran dijunjung tinggi. Perlahan kututup buku tanpa tulisan ini. Namun setelah beberapa langkah aku hendak keluar dari perpustakaan ini, terdengar suara dari ibu penjaga perpustakaan.

“Hei, Nak. Ini untukmu!”

Aku mendekati ibu penjaga yang menyodorkan stoples permen untukku. Mataku terbelalak. Stoples permen yang sama dalam mimpiku barusan.

“Te .. te … rimakasih, Bu,” jawabku gemetar sambil menerima stoples itu.

Ibu itu tesrsenyum lalu menggeleng. “Jangan panggil aku Ibu, panggil saja Shelly.”

Kali ini aku tak bisa lagi menyembunyikan keterkejutanku. Mulutku terkunci rapat.

“Berbuat jujur itu sulit, tetapi akan ada hadiah besar di dalamnya,” ucap Shelly setelah sesaat kemudian pergi meninggalkan aku yang masih berdiri tegak dan membeku. []

____________________

Aliya. Siswa kelas 5 SD Jakarta Islamic School, berusia 10 tahun. Suka menulis, membaca, dan membuat prakarya.

Belakang

MELAWAT DI BUKU HAMPIR SEABAD

Pada mulanya, ia getol menghasilkan cerita dan berita. Di kancah sastra, ia tercatat memberi novel pada masa 1920-an. Namanya tak setenar Abdoel Moeis, Noer Soetan Iskandar, atau Soetan Takdir Alisjahbana. Ia memang bergairah dalam sastra, mewujudkan cerita-cerita. Pada situasi politik dan sosial-kultural masa 1920-an, tokoh yang bernama Adinegoro makin meyakini pesona dan kekuatan kata. Maka, ia berada di jalan kata, melampaui pikat sastra dan pers.

Silam masih bisa teringat melalui tulisan-tulisan, yang dihasilkan pengarang-pengarang turut membentuk dan memajukan bahasa Indonesia, sejak awal abad XX. Di situ, ada Adinegoro yang memerlukan nama samaran untuk turut menggerakkan tulisan pada masa kolonial. Ia percaya nama itu memberi “pengenalan” dan “keberuntungan:, yang nantinya tercatat dalam lembaran sejarah Indonesia.

Siapa masih membaca tulisan-tulisan Adinegoro, setelah abad XX berlalu tergantikan abad yang “memalaskan” orang berhadapan dengan tulisan-tulisan tercetak? Ia bukan pengarang pujaan jutaan orang. Namun, buku-buku yang ditulisnya menjadi bukti keberanian orang Indonesia melakukan perlawatan jauh dan panjang ke pelbagai negeri.

Yang pernah di hadapan rak-rak memiliki buku-buku lama, Adinegoro adalah penulis yang menghasilkan novel, ensiklopedia, kisah perjalanan, kamus, dan lain-lain. Ia tidak kesulitan menulis tentang politik, geografi, atau kebudayaan. Pada masa kolonial sampai masa revolusi, ia membuktikan ketekunan yang elok.

Tulisan mengesankan yang dihasilkannya adalah Melawat ke Barat. Buku itu memikat para pembaca sejak masa kolonial. Yang membaca ikut merasakan perjalanan yang mendebarkan, menyenangkan, membingungkan, dan mengharukan. Ia naik kapal, turun ke pelbagai negeri. Sosok yang merasakan perjalanan darat di kota-kota yang sering memukau. Adinegoro menceritakannya kepada para pembaca yang ada di Indonesia.

Buku terbitan Balai Pustaka masa 1930-an, beberapa kali cetak ulang. Pada suatu hari, buku itu berada di pasar buku Gladag (Solo). Buku berada di tumpukan yang tak keruan. Di bagian bawah, buku ditemukan saat tangan makin kotor oleh debu-debu yang menempel. Buku yang hampir berusia seratus tahun. Melawat ke Barat menjadi bacaan memikat sejak 1930.

Penemuan yang menggirangkan. Kondisi buku masih bungkus. Halaman-halaman awal hilang. Artinya, data buku tidak diperoleh. Buku berhasil dibeli dengan harga murah, sangat jauh dari harga dipasang di pasar.

Setelah sampul, tangan yang membukanya langsung menemukan halaman 4, yang dijuduli “Sampai di Nederland”. Adinegoro yang naik kapal sudah sampai ke Belanda. Perjalanan dilakukan pada masa 1920-an. Kita membayangkan orang Indonesia yang berkelana di Eropa sambil mengikuti perkembangan-perkembangan politik di Tanah Air. Ia menjadi saksi sejarah tapi berada jauh dari Indonesia.

Yang dirasakan Adinegoro selama mengunjungi kota-kota di Belanda: “Barang siapa jang datang ke Eropah dan tinggal disini beberapa lamanja, tjepat ia terlepas dari ketimurannja. Adat istiadat dan kebiasaan jang lazim kita pakai tiada lagi akan terbajang keluar, sesudah beberapa bulan disini. Perasaan lain datanglah kepada kita. Perasaan itu disebabkan oleh karena peraturan kita disini berlainan sekali dari dinegeri kita sendiri. Terutama sekali perasaan serba rendah dan serba pitjik sudah hilang semendjak dari Marseile, jaitu semendjak kita mendjedjak tanah benua ini. Pendek kata, pengertian kita tentang keduniaan lahir dan batin sudah bertambah luas dan pribadi bertambah kuat.”

Penjelasan itu mengingatkan kita dengan tokoh Hidjo saat belajar dan tinggal di Belanda. Pemuda asal Jawa itu mengalami beragam pengalaman saat berada di negeri penjajah. Di novel berjudul Student Hidjo gubahan Marco Kartodikromo, kita mengetahui kaum muda Jawa di Eropa mendapat guncangan dan dilema. Pengalaman seru mungkin milik Sosrokartono dan Soewardi Soerjaningrat.

Di Belanda dan pelbagai negeri, Adinegoro tak boleh lama-lama. Ia seperti dalam tergesa. Yang dinantikan di tanah jajahan adalah tulisan-tulisannya. Melawat mengandung arti pemenuhan tugas sebagai pemberi berita dan pencerita.

Pengamatan sejenak oleh Adinegoro selama di Utrecht: “Didjalan tiada pula banjak kelihatan nona-nona jang berpakaian bagus-bagus sebagai tampak di Parijs atau Den Haag. Jang lalu lintas didepan kita hanja perempuan-perempuan biasa sadja, jang pergi ketoko-toko akan membeli-beli. Jang banjak kelihatan disini ialah studenten karena dalam kota Utrecht ini adalah lebih kurang tiga ribu peladjar jang menuntut ilmu diuniversiteit. Mereka itu memodekan (mengadakan mode atau tjara) memakai topi jang lemah tepinja serta petjak diatasnja. Dasinja seboleh-bolehnja jang berwarna merah tua atau kuning langsat karena dalam masa ini warna jang seperti warna kulit anak Indonesia digemari sekali. Dan achirnja dimodekan mereka pula memakai tongkat dari rotan, besarnja sebesar ampu kaki.” Yang dilihat itu masa 1920-an, yang mungkin lekas berubah pada masa 1930-an dan 1940-an. Kita kaget mengetahui Indonesia dijadikan “sumber” bagi orang-orang sedang memodekan di Utrecht. Di situ, ada imajinasi dan politisasi warna.

Keterangan penting bertema pers pun diberikan oleh Adinegoro. Ia mendapatkan data-data yang mencengangkan. “Pers itu boleh didjadikan mata air uang,” ungkap Adinegoro. Kalimat yang cocok untuk industri pers di Eropa dan Amerika Serikat. Yang disampaikan Adinegoro: “Banjaknja surat kabar harian jang terbit dinegeri Belanda dalam bahasa Belanda adalah kira-kira serratus. Boleh dikatakan bahwa tiap-tiap koran itu rata-rata ada langganannja sepuluh ribu. Di Amsterdam sadja jang berpenduduk lebih kurang tiga perempat miliun, terbit dua belas surat kabar harian.” Kita menduga selama di sana Adinegoro sekalian belajar tentang (industri) pers, yang bisa dicontoh bila kembali ke Indonesia.

Adinegoro melanjutkan lawatannya ke Jerman. Ingat, ia tidak sekadar melakukan perjalanan. Yang sebenarnya terjadi adalah perjalanan kata-kata. Adinegoro selalu menuliskan babak-babak selama di Eropa. Yang disampaikan mirip nasihat: “Barang siapa jang pergi ke Djerman dengan maksud hendak mempeladjari kultuurnja, haruslah pandai berbahasa Djerman, sebagai kalau kita hendak pergi ke negeri Belanda. Kalau hanja mengetahui sapatah dua sadja, takkan berhasillah apa jang dimaksud, berusaha menjelami kebudajaan Djerman jang sedalam-dalamnja.” Adinegoro ke Jerman, sebelum ada lakon terbesar oleh Hitler mengguncang dunia.

Ia sampai di Berlin. Kota besar yang membawa sejarah dan mengalami petaka-petaka pada abad XX. Bagaimana orang Indonesia menilai Berlin? Adinegoro menulis: “Tetapi di Berlin boleh dikatakan tak ada anak Indonesia; djika ada anak Indonesia jang datang kesana, mereka disangka anak Korea atau Japan. Didalam kota ini ada sekolah untuk beladjar politik dan djournalistiek, tjukup dengan profesor-profesornja. Memang djournalistiek dan politik itu mesti sedjalan, supaja djangan si penulis itu djadi kuli tinta sadja, melainkan supaja dapat pula ia memandang keadaan pergaulan hidup dan pemerintah, serta segala golongan penghidupan dinegerinja dan diluar negerinja dengan pemandangan jang lebar.” Jerman memili kekuatan dalam sastra. Selama di sana, Adinegoro pun membuktikan kekuatan Jerman dalam pers.

Buku berjudul Melawat ke Barat sekadar bacaan meski memuat beberapa foto. Kini, kita yang membaca dan membayangkan akan kelelahan saat dunia bisa mudah dilihat melalui gawai. Perlawatan tak lagi harus membawa raga ke tempat-tempat jauh. Konon, perlawatan masa sekarang bisa menemukan banyak hal dengan ongkos yang murah.

Dulu, yang dilakukan Adinegoro adalah melawat yang bergelimang kata ketimbang foto. Yang ditulis adalah pengalaman dan kesaksian ikut memberi pengetahuan kepada ribuan pembaca di Indonesia, dari masa ke masa. Namun, buku itu perlahan susah terbaca oleh kaum yang bergawai. Mereka tidak lagi memerlukan halaman-halaman kertas yang sesak ribuan kalimat. Mereka tinggal menghidupkan gawai untuk melawat ke pelbagai negara.

_____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Ragam

Adalah Api sebagai Hukuman

Oleh Ferdi

Ada sebuah kisah:

Pada suatu malam, ketika langit jernih tak bernoda, para malaikat turun ke bumi. Mereka mendarat di sebuah asrama di tengah kota, tempat bermukim para penghafal kitab suci. Dengan catatan amal perbuatan di tangan kiri, mereka membacakan dakwaan:

“Kalian telah melakukan dosa-dosa yang amat besar. Hingga membuat Tuhan, atas singgasananya, duduk diam. Ia memang terlihat bergeming. Tapi kami tahu. Kami para pelayan-Nya sangat tahu apa yang sedang menyusahkan-Nya.

“Ya, Tuhan murka. Kalian membuat para penghafal lalai dalam ibadahnya. Dan tipu daya kalian menjadikan mereka semakin jauh dari wahyu Tuhan. Oleh karena itu, tak bisa ditunda-tunda, dosa kalian harus dibersihkan. Saat ini, di sini.”

Saking kagetnya, para terdakwa diam sejuta bahasa. Meski mereka menguasai satu bahasa, yakni bahasa ke sejuta satu, tak satu pun kata yang mampu terucap sebagai pembelaan. Mereka tahu bahwa siksa neraka datang lebih awal.

“Sialan, kita kan masih di dunia,” keluh salah satu pendosa. “Aku ingat Tuhan pernah berkata kalau Ia hanya akan mendengarkan kesaksian dari seluruh anggota badan di hari yang telah ditentukan. Dan hari itu pasti bukan hari ini.”

Selagi para malaikat menyiapkan tungku pembakaran beralaskan seng yang bergelombang, para pendosa tetap bisu. Tak ada yang berani menyela kesibukan para malaikat. Terutama yang paling besar dengan mata nyalang di sana itu. Tatapannya adalah tiket masuk neraka jalur tol.

Api sudah membara. Mereka dibakar satu per satu. Sudah itu dilempar ke atas seng yang bergelombang. Malaikat melakukannya dengan cepat, sebab tak sudi berlama-lama memegang makhluk berlumuran dosa.

Beberapa tingkat kemalangannya melebihi yang lain. Terutama yang dibakar belakangan. Sebelum dibakar, para malaikat merobek-robek tubuh mereka, lalu membantingnya ke tanah. Ini tidak tercantum dalam susunan acara yang sudah dibuat sebelumnya. Tapi, siapa suruh membuat para malaikat marah. Dan kemarahan malaikat adalah kemarahan Tuhan juga.

Ketika api yang kelaparan makin lahap menggigit dan mengoyak daging-daging yang kecokelatan, para pendosa masih tak bersuara. Padahal sakit yang mereka rasakan tak ada duanya. Tak ada bandingannya. Inilah sakit yang paling menyakitkan bagi mereka.

Selama ini, yang mereka tahu hanyalah menjalankan perintah Tuhan sebagaimana dititahkan pada awal penciptaan. Hanya satu itu. Mereka telah bersusah payah melakukannya selama ini. Dan ketika momen itu datang, momen ketika tugas itu mulai bisa mereka cicil, datanglah para pesuruh Tuhan menjatuhkan hukuman.

Padahal para manusia akhirnya sudi memegang mereka. Membuka halaman pertama dan membaca sampai halaman terakhir, di sela-sela rutinitas menghafal kitab suci, mereka, para pendosa, tak sempat bersyukur dan melafalkan puji-pujian kepada Tuhan.

Tak ada gunanya mengajukan gugatan. Sedang bertanya saja tidak sanggup. Mau bicara saja tidak mampu.

Tak ada yang sempat meneteskan air mata. Mereka terbakar di hadapan para penghafal ayat-ayat Tuhan.

***

Kisah yang memilukan. Kengerian yang menjadi nyata. Amat sangat nyata bagi mereka, para saksi pembakaran, yang menceritakannya kepadaku, pagi itu, di perpustakaan sekolah.

______________________

Ferdi. Penjaga perpus, tinggal di Mamuju.

Cerpen

Sebuah Kota, Dua Kiblat

Cerpen Khairul A. El Maliky

ANGIN pagi turun dari langit seperti ayat yang jatuh perlahan ke halaman keraton. Ia berdesir melewati tiang-tiang kuno, menyusup ke sela pintu Regol Brojonolo, dan akhirnya berbaring di atas batu-batu lantai yang dingin. Batu-batu itu, yang telah memikul langkah ratusan tahun manusia, menggumamkan sesuatu yang lirih—gumam yang hanya bisa didengar oleh hati-hati yang tak terhijab oleh ambisi.

Di bawah cahaya yang lembut itu berdirilah Raden Mas Jagaswara, seorang abdi dalem muda dengan wajah tenang yang penuh kesunyian—kesunyian yang tak disadarinya sebagai hadiah dari langit. Setiap langkahnya selalu terasa seperti zikir pendek yang tidak pernah selesai. Ia bekerja, ia merapikan tombak, ia menunduk hormat pada yang lebih tua, dan semuanya selalu dilakukan dengan hati yang seperti sumur jernih: tidak ramai, tapi dalam.

Di sisi lain keraton, di barat yang lebih ramai, terdapat Raden Mas Suryengpati—pemuda dengan mata yang menyala dan dada penuh bara. Ia lebih mudah gelisah, lebih mudah bicara, dan lebih mudah marah. Ia mencari kebenaran seperti orang mencari pintu yang terus berubah tempat. Kadang ia menemukannya, kadang ia tersesat di lorong-lorong pikirannya sendiri.

Mereka berdua seperti dua ayat yang ditulis dalam satu lembar kitab kehidupan, namun dibacakan oleh dua suara yang berbeda. Jagaswara seperti ayat yang dibaca dalam bisikan malam, sedang Suryengpati seperti ayat yang dilantunkan lantang dalam majelis yang penuh semangat. Keduanya menuju Tuhan, tetapi lewat jalan yang tak sama.

***

Pagi itu, ketika kabar penobatan tiba-tiba menyeruak seperti gelegar petir di atas langit cerah, kedua pemuda itu seperti dilempar ke dalam pusaran yang bukan pilihan mereka. Keraton mendadak ribut. Pintu-pintu bergetar, langkah-langkah manusia berubah menjadi dentang, dan udara menjadi berat oleh kata-kata yang dibisikkan dengan nada seperti angin panas dari bukit batu.

Jagaswara menunduk mendengar kabar itu. Ia merasakan ada getaran aneh, seperti tanah yang bernafas terlalu cepat. Ia tidak tahu apakah yang terasa di dadanya itu kecemasan atau tanda dari Yang Maha Halus. Sementara Suryengpati, yang mendengar kabar serupa di bangsal barat, mengepalkan tangan seperti ingin menangkap angin yang lari dari genggamannya.

“Ini bukan jalan yang benar,” gumamnya, separuh kepada dirinya sendiri, separuh kepada keraton yang seakan mendengarkan dari balik dinding.

Keraton, tempat segala kisah putih dan hitam lahir, tiba-tiba tampak seperti tubuh tua yang dipaksa berdiri oleh dua tangan yang saling menarik. Jagaswara merasakan kesakitan keraton itu seperti kesakitan dirinya sendiri. Suryengpati merasakan luka itu seperti luka yang ditato di dadanya. Tetapi keduanya tidak tahu bagaimana mengobatinya.

Ketika pintu Sasana Handrawina didobrak oleh kelompok penolak penobatan sepihak, dunia keraton seperti pecah menjadi dua: suara keras dan doa lirih, teriakan dan zikir yang saling mendesak, pisau kata-kata dan kelembutan yang tersingkir. Jagaswara berdiri di tengah ruangan, dan dalam kekacauan itu ia melihat wajah Suryengpati dari celah kerumunan. Keduanya saling menatap—tatapan yang dulu ramah berisi tawa dan harapan—kini menjadi tatapan dua manusia yang sedang mencari jalan pulang dalam badai.

Dalam tatapan itu ada tanda yang tidak sempat mereka baca: bahwa yang sedang mereka hadapi bukan hanya perebutan takhta, melainkan perebutan makna, perebutan cahaya, perebutan siapa di antara manusia yang lebih dulu mampu mendengar suara sunyi Tuhan.

Ketika keraton kembali tenang pada malamnya, Jagaswara duduk sendirian di bawah pohon sawo kecik. Pohon itu telah tumbuh lebih lama dari usia siapa pun di keraton. Daunnya jatuh satu demi satu, seperti kalimat yang ditulis oleh tangan ghaib.

“Dalam setiap perebutan, siapa yang sebenarnya ingin menang?” tanya Jagaswara dalam hati.

Angin menjawab tanpa suara.

Kadang jawabannya adalah: ego.

Kadang: takut.

Kadang: ingin dihormati.

Kadang: semua itu bercampur menjadi satu kabut yang menutupi wajah jati diri.

Di tempat lain, Suryengpati menulis doa yang ia sebut sebagai surat. Ia menuliskannya bukan untuk manusia, melainkan untuk Tuhan yang dalam pikirannya selalu hadir seperti cahaya samar di balik tabir tipis.

“Ya Allah,” tulisnya,

“beri aku mata yang bisa melihat benar tanpa membenci, beri aku telinga yang bisa mendengar tanpa mencurigai, dan beri aku hati yang bisa mencintai meski dunia di sekelilingku berubah menjadi medan perang.”

Surat itu tidak pernah dikirimkan kepada siapa pun. Tapi ketika ia meletakkannya di bawah bantal, ia merasa seolah cahaya kecil menyelinap ke dadanya. Cahaya yang sangat lembut, hampir tidak terasa, namun cukup untuk membuatnya tidak merasa sendirian.

***

Hari-hari berikutnya keraton terbelah seperti tubuh yang dipotong dua. Dua panji berbeda berkibar di dua halaman. Dua nama pangeran disebut dalam dua ritual berbeda. Dua doa dipanjatkan menuju langit yang sama, namun dari hati yang tak lagi sejalan.

Jagaswara melangkah dalam tugasnya, tetapi langkah-langkah itu terasa seperti menapaki duri. Suryengpati mengatur berkas-berkas pusaka, tetapi setiap kali menyentuh sebilah keris, ia merasa seperti menyentuh sejarah panjang manusia yang pernah saling menyakiti.

Ketika keduanya bertemu diam-diam di taman Sumber Bening, taman itu seperti berubah menjadi ruang semadi yang diciptakan untuk dua jiwa yang sedang mencari Tuhan dalam gelapnya konflik.

“Aku ingin damai, Jagaswara,” kata Suryengpati lirih, suaranya seperti air yang jatuh ke tanah kering.

“Aku juga,” jawab Jagaswara. “Tapi kita hidup di zaman ketika damai adalah barang yang disimpan terlalu tinggi untuk dijangkau.”

Suryengpati menatap air kolam. Permukaannya memantulkan langit yang kusut.

“Kita ini siapa, Jagaswara? Apa kita bagian dari kebisingan atau bagian dari doa?”

Jagaswara memejam.

“Kita hanya dua hamba yang sedang belajar mengenali bayangan di dalam diri.”

Bayangan—itulah kata yang paling tepat. Karena pada akhirnya, perang apa pun yang terjadi di dunia ini selalu bermula dari perang yang lebih kecil: perang dalam dada manusia.

Perang antara cahaya dan gelap.

Antara kerendahan hati dan keangkuhan.

Antara ingin benar dan merasa benar.

Pada suatu pagi yang berbeda, dua kubu bertemu di Regol Tengah. Ketegangan seperti ombak besar yang hendak pecah di pantai. Jagaswara dan Suryengpati berada di dua sisi yang berseberangan. Keduanya saling memanggil nama, bukan sebagai lawan, tetapi sebagai sesama manusia yang takut melihat keraton berubah menjadi ladang luka.

“Kembalilah, Suryengpati,” kata Jagaswara. Suaranya seperti doa yang tercecer.

“Kau yang kembali,” balas Suryengpati. “Keraton ini bukan milik satu suara.”

“Karena itu aku berdiri di sini,” jawab Jagaswara dengan mata berkaca.

“Agar keraton tidak jatuh ke tangan siapa pun yang memaksakan kehendak.”

Namun kata-kata manusia sering tidak cukup kuat melawan arus yang diciptakan oleh orang-orang yang lebih berkuasa dari mereka.

Ketika suara lonceng keraton menggetarkan udara, semua orang terhenti seperti patung. Kabar datang bahwa suksesi harus dihentikan sementara. Seperti tangan Tuhan turun dari langit, meredakan gelombang yang hampir membelah bumi.

Keributan mereda.

Keraton menarik napas panjang.

Orang-orang pulang dengan hati yang belum utuh, tapi sedikit lebih tenang.

***

Pada malam itu, Jagaswara dan Suryengpati duduk berdua di bangsal tua. Di hadapan mereka, pohon sawo kecik berdiri seperti guru sufi yang tak pernah mengucapkan sepatah kata pun, namun mengajarkan ribuan makna.

Jagaswara berkata pelan,

“Kita hampir kehilangan sesuatu yang lebih besar dari takhta.”

“Apa itu?” tanya Suryengpati.

“Kemampuan untuk melihat wajah Allah dalam wajah saudara kita sendiri.”

Suryengpati menunduk, dan air mata jatuh tanpa suara.

“Aku takut, Jagaswara,” bisiknya. “Aku takut menjadi manusia yang kehilangan Tuhan karena terlalu sibuk membela apa yang menurutku benar.”

Jagaswara menepuk pundaknya.

“Selama kau takut kehilangan Tuhan, kau tidak akan kehilangan-Nya.”

Dalam keheningan malam yang panjang itu, mereka akhirnya mengerti:

bahwa keraton bukan pusat segala kemuliaan.

Yang mulia adalah hati manusia yang mampu menunduk meski sedang diseret oleh badai.

Mereka pulang ke rumah masing-masing sebagai dua pemuda yang membawa cahaya kecil di dada. Cahaya yang tidak berasal dari kemenangan politik, bukan dari siapa naik takhta, tapi dari kesadaran bahwa manusia tidak diciptakan untuk menang—manusia diciptakan untuk pulang.

Dan ketika angin kembali bertiup melewati Regol Brojonolo, ia membawa pesan yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang hatinya jernih:

Bahwa setiap perang di dunia ini hanyalah cermin dari perang yang lebih tua—perang antara ego dan ketundukan.

Dan siapa yang menang bukanlah yang menguasai takhta, tetapi yang berhasil menundukkan dirinya kepada Tuhan.[]

Probolinggo, November 2025

____________________

Khairul A. El Maliky. Penulis novel. Lahir dan besar di Probolinggo, 5 Oktober 1986. Bukunya yang telah terbit antara lain: Akad, Pintu Tauhid, Kalam Kalam Cinta, Sweet Girl, Beda Tapi Cinta, Gus Dur dan Tuhan pun Tertawa, Dagelan Para Koruptor, Munajat Sesayat Rindu, Risalah Cinta, dan Metamorfosa (MNC Publishing, Malang). Selain novel, penulis juga menulis cerpen.