Cerpen Depri Ajopan

Kampung terpencil dengan dua jembatan gantung yang tampak menyeramkan. Awal Alisa tinggal di situ, selalu ketakutan saat melewati dua jembatan yang bergoyang-goyang itu. Untung ada Sakib yang menemani jika suaminya berhalangan.
Selama ini Sakib tidak tergolong laki-laki kurangajar di kampung itu. Tidak pernah sekali pun ia membuat keributan, apalagi gara-gara perempuan. Ia tidak genit, seperti kebanyakan pemuda di situ. Ia tidak pernah buat onar. Itulah yang membuatnya terpilih jadi ketua pemuda. Mengenai ia yang jarang bicara kecuali yang penting-penting, justru rmenaikkan derajatnya di mata masyarakat, menjadikan ia dipandang sebagai pemuda berwibawa. Ia jarang masuk warung duduk bersama orang-orang pencerita yang suka membual.
Tapi setelah kedatangan Alisa, perempuan dari Bekasi, Sakib tersihir pada kecantikan perempuan itu. Ia jadi bahan omongan di kampungnya karena ketahuan telah bermain api dengan Alisa.
Selama ini ia tak pernah terseok-seok perihal cinta. Bahkan mungkin ia tak begitu pahan apa itu cinta. Ia berubah seketika setelah kenal Alisa, perempuan bermata lentik, kulit bersih dan putih. Badannya tidak terlalu tinggi. Alis matanya seksi, bibirnya tipis bergaris, rambutnya lurus dan panjang. Sakib yang terpesona tidak bisa membendung perasaannya. Hal itu adalah pertama kalinya ia mencintai perempuan. hanya saja perempuan itu sudah bersuami. Anehnya ia terus mengikuti jalan salah itu, jatuh cinta pada istri orang. Apakah ia harus siap-siap kehilangan cintanya sebelum mendapatkan cinta itu?
Ia sudah pernah berterus terang tentang hasrat hatinya. Hal itu terjadi ketika ia dan Alisa bersama putranya yang masih berumur tiga tahun jalan-jalan ke pasar malam. Suami Alisa tidak pernah menaruh curiga sedikit pun. Ia sering ke luar kota karena ada keperluan.
Namun, saat itu Alisa tak pernah menggubris. Dan kali ini Sakib kembali berusaha mengutarakannya, dan ia ingin mendengarkan jawaban jujur dari perempuan itu. “Aku serius mencintaimu Alisa,” ucapnya sambil memegang tangan Alisa dalam keramaian. Cepat-cepat Alisa melepasnya.
“Cinta?” sahut Alisa lantas tertawa sembari menutup mulut dengan tangan kanannya. Sementara tangan yang satu lagi, tetap memegang anaknya.
“Kenapa kau tertawa?”
Sakib merasa dipermainkan. Ia tak menerima perlakuan perempuan itu, karena selama ini mereka sering jalan berdua, dan pulang larut malam saat suaminya tidak di rumah. Sakib juga pernah memeluk perempuan itu jika ada kesempatan. Bahkan ia pernah mencium bibirnya. Alisa sendiri pun sering membalasnya dengan melumat bibir Sakib.
Sakib memang tidak pernah melakukan lebih dari itu, walaupun ia yakin jika ia minta Alisa pasti akan menurutinya. Ia merasa cocok mengobrol apa saja dengan perempuan itu, dan obrolan mereka selalu nyambung. Ia merasa semakin hari hidupnya semakin berwarna. Karenanya ia menyimpulkan bahwa mereka saling cinta. Mengenai perempuan bermata lentik yang sudah bersuami, ia tak peduli. Sakib yakin cintanya yang kuat tidak akan bisa terjadi pada perempuan lain, sampai akhir hayatnya. Dan sudah tergambar dalam imajinasinya, bagaimana ia nanti akan terus mencintai perempuan itu.
Namun, tawa perempuan itu, sungguh-sungguh melukai hatinya. “Kau ini aneh Alisa. Apa kau menganggapku bercanda?”
“Yang aneh itu kamu, Mas. Bukan aku,” jawab Alisa masih dalam keadaan tertawa. Tapi kali ini ia tidak lagi menutup mulutnya seperti tadi. Tawanya lepas begitu saja.
“Kenapa kau bilang begitu?”
“Yalah Mas. Aku kan sudah bersuami, sudah punya anak juga. Jadi tak pantas jika Mas bilang begitu padaku.”
Sakib menggaruk-garuk kepalannya. Ia membayangkan apa yang telah mereka lakukan selama ini. Ia ingin mempertanyakan itu pada Alisa.
“Terus,” kata Alisa.
“Terus apa?” Sakib ingin mengatakan sesuatu, tapi ia tahan karena tak berani.
“Mungkin Mas mau bilang, terus kenapa kamu mau aku peluk, cium kening, bahkan lebih dari itu?” lanjut Alisa sembari menggoyang-goyang tubuhnya.
“Iya,” jawab Sakib.
“Jawabannya tidak sekarang, yang penting kita jalani saja.”
“Sampai kapan?”
“Sampai bosan.”
Sakib mendesah, tapi tetap ia belum mau membawa pulang perempuan dengan anaknya itu. Ia belum percaya keputusan Alisa, ia anggap Alisa tidak serius.
* * *
Suami Alisa baru saja pulang dari luar kota. Ia mendapat kabar dari orang-orang tentang istrinya telah bermain serong dengan laki-laki bernama Sakib di kampung itu. Ia bilang tak kenal dengan Sakib, dan ia tidak ada niat untuk menuntutnya. Cerita miring itu tidak mengganggu pikirannya. Dan ketika ia berduaan di meja makan dengan Alisa, ia cerita tentang apa yang disampaikan orang-orang. Alisa terkejut dan ketakutan. Ia berpikir tidak ada harapan lagi bisa bertemu Sakib pemuda yang sebenarnya ia cintai selain suaminya. Bahkan ia berpikir, suaminya akan menceraikannya saat itu juga. Ia semakin deg-degan, menunggu keputusan apa yang akan diambil suaminya setelah mendengar cerita itu. Ia pura-pura tak merasakan apa-apa, seolah ia tak bersalah. Padahal hatinya bergetar.
“Aku percaya denganmu Alisa. Aku tidak mau direpotkan, apalagi bikin pusing gara-gara cerita-cerita sampah yang tidak ada pembuktiannya. Aku juga tidak ada niat untuk menelusurinya, benar atau tidaknya cerita itu. Aku percaya padamu sepenuh hatiku, kau pasti menjaga cinta kita seperti janjimu dulu.”
Alisa yang semula merasa napasnya seperti terhenti, akhirnya bisa bernapas dengan lega sembari menuju dapur. Tak lama kemudian ia membawa secangkir kopi, meletaknya di meja. Suaminya yang duduk santai di kursi mengaduk secangkir kopi yang asapnya masih mengepul terbang diseret angin. Ia tak berkata apa-apa lagi. Ia juga tak membahas tentang yang lain, tentang perkembangan bisnisnya yang sebenarnya hampir hancur. Setelah menghidupkan TV, suami Alisa menghidupkan rokoknya, mengisapnya dalam, dan sesekali mencicipi cemilan yang dihidangkan Alisa.
“Kenapa semudah itu percaya padaku, Mas?” tanya istrinya berhati-hati..
“Sudah kubilang, aku tidak mau pusing gara-gara mendengar cerita menjijikkan seperti itu.” Alisa mengangguk-angguk.
“Bagaimana kalau cerita itu benar?”
Pertanyaan itu membuat suaminya terperanjat. Ia terbayang pada seorang perempuan bernama Finka, perempuan selingkuhannya, mantan kekasihnya dulu. Setiap kali ia pergi ke luar kota, Finka selalu hadir di sana. Mereka menginap berdua di homestay.
Dan kini ketika ia mendengar berita tentang istrinya, ia diam saja. Bahkan jika berita itu benar, ia memang sudah rencana tak akan marah pada istrinya. Karena ia merasa dirinya juga telah mengkhianatinya. Bahkan ia lebih dulu melakukan perselingkuhan sebelum istrinya melakukannya. Ia menyadari akan risiko yang harus ia hadapi. Ia berpikir, Alisa mungkin sudah mengerti kenapa ia tidak cemburu ketika ia mendengar kabar tentang apa yang dilakukan Alisa.
______________________

Depri Ajopan. Lulusan Pesantren Musthafawiyah Purba-Baru, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Menyelesaikan S-1 Program Studi Sastra Indonesia di Universitas Negeri Padang. Menulis fiksi dan diterbitkan di sejumlah media. Novel terbarunya Pengakuan Seorang Novelis. Ia bergiat di Komunitas Suku Seni Riau dan mengajar di Pesantren Basma Darul Ilmi Wassa’dah, Kepenuhan Barat Mulya, Rokan Hulu, Riau, sebagai guru Bahasa Indonesia.
