Dunia Menulis

Semua Peserta adalah Pemula

Oleh Yuditeha

Setiap kali saya mengirim karya ke sebuah lomba, hampir selalu ada komentar datang beriringan. Nadanya mirip, kata-katanya di situ-situ saja: “Wah, harus bersaing sama senior.” “Senior turun gunung, bahaya.” “Alamat kalah nih.” Kalimat-kalimat itu terdengar ringan, bahkan bercanda. Namun, seperti hujan gerimis jatuh terus-menerus di satu titik, ia pelan-pelan melubangi.

Saya paham, komentar-komentar semacam itu sangat mungkin hanya pengganti sapaan, bentuk keakraban, atau cara ringan untuk membuka percakapan. Saya juga tidak pernah membacanya sebagai serangan, apalagi merendahkan. Tulisan ini pun tidak lahir dari rasa kesal, tersinggung, atau keinginan membalas apa pun. Sama sekali tidak.

Ia lebih merupakan kegelisahan kecil yang barangkali sering lewat di kepala banyak orang, tapi tak sempat diucapkan. Siapa tahu, suatu waktu, ketika situasi serupa kembali muncul, tulisan ini bisa bekerja sebagai ruang hening untuk menimbang, bukan untuk menghakimi. Lebih sebagai ajakan berbagi sudut pandang, bukan penegasan posisi.

Karena itu, saya tidak sedang menunjuk siapa pun. Tidak sedang menyasar kelompok tertentu. Tidak sedang membangun kubu. Saya hanya ingin meletakkan pengalaman kecil ini di meja, lalu mengamati bersama: barangkali di sana ada yang bisa kita pelajari, tanpa perlu menjadi polemik melelahkan.

Saya tidak tersinggung, apalagi marah. Barangkali hanya sempat merasa tidak nyaman. Sebab, di balik kelakar itu, ada asumsi diam-diam bekerja: bahwa lomba seharusnya hanya diisi oleh mereka yang dianggap sedang belajar. Sementara yang sudah keburu dicap senior, atau entah apa namanya, seolah harus minggir sukarela, demi menjaga kenyamanan batin kolektif.

Padahal, di dalam lomba, terutama lomba menulis, semua peserta berdiri di titik sama: nol. Dalam naskah lomba, nama penulis sering kali disamarkan. Yang tersisa hanya teks dan penilaian. Tidak ada suhu, tidak ada murid, tidak ada senior, tidak ada junior. Semua pemula yang mengetuk pintu juri dengan satu bekal: tulisan.

Namun, di luar sistem itu, dunia sosial sering kali berjalan dengan hukum yang berbeda. Kita gemar memberi label. Kita senang membuat hierarki. Kita hobi mengurutkan siapa di atas, siapa di bawah. Dan begitu label senior menempel, ia berubah menjadi semacam kutukan sosial. Menang dianggap wajar. Kalah dianggap memalukan. Ikut lomba dianggap menakuti. Tidak ikut dianggap bijaksana.

Seorang penulis yang masih terus mengirim karya ke lomba justru dianggap turun kelas. Padahal, bukankah berkarya itu soal proses, bukan soal status? Bukankah kreativitas tumbuh dari kegelisahan, bukan dari gelar-gelar tak resmi itu?

Di titik ini, saya sering bertanya: sebenarnya apa yang kita jaga? Keadilan atau kenyamanan psikologis? Sebab, jika kita telusuri lebih jauh, komentar semacam “wah, bersaing dengan senior” sering kali lahir bukan dari ketimpangan sistem, melainkan dari ketakutan. Kita ingin merasa punya peluang. Kita ingin merasa punya ruang. Kita ingin merasa diakui. Dan ketika ruang itu menyempit karena hadirnya seseorang yang dianggap lebih berpengalaman, yang muncul bukan semangat berlatih lebih keras, melainkan keinginan agar yang bersangkutan menyingkir dengan sopan.

Di sinilah ironi bekerja. Di satu sisi, kita memuja kompetisi. Kita mengagungkan lomba sebagai ajang pembuktian. Kita memuja kualitas. Tapi di sisi lain, kita ingin kompetisi yang ramah perasaan: di mana peluang menang dibagi rata berdasarkan usia kreatif, bukan kualitas. Jika logika ini diteruskan, akan muncul pertanyaann janggal: sampai kapan seseorang boleh disebut pemula? Dan sejak kapan seseorang wajib berhenti menjadi peserta?

Apakah setelah menang tiga kali, lima kali, sepuluh kali? Atau setelah namanya mulai dikenal di lingkaran tertentu? Atau setelah ia cukup sering muncul di linimasa? Lebih jauh lagi: setelah status senior resmi disematkan? Lalu apa yang harus ia lakukan? Menjadi juri seumur hidup? Menjadi pembicara tetap seminar? Menulis esai-esai reflektif tentang masa lalu sambil menatap senja?

Lantas, di mana lagi ruang kegelisahan kreatifnya? Kita sering lupa bahwa menulis bukan profesi yang menjamin hidup. Tidak seperti pegawai dengan slip gaji bulanan. Tidak seperti pedagang dengan perputaran modal harian. Bagi banyak penulis, lomba adalah salah satu cara untuk bertahan: bertahan secara ekonomi, secara mental, dan secara eksistensial.

Maka, ketika seseorang yang kita sebut senior masih ikut lomba, barangkali bukan karena ia rakus piala, melainkan karena ia masih ingin hidup. Masih ingin membeli beras tanpa meminjam. Masih ingin membayar listrik. Masih ingin kerja kreatifnya punya nilai tukar, betapa pun kecil.

Kita sering memuja karya, tapi lupa memikirkan perut pembuatnya. Di ruang-ruang diskusi sastra, kita gemar membicarakan idealisme, integritas, dan keberpihakan. Namun, begitu masuk ke soal keseharian, kita berharap para penulis senior hidup dari udara dan pujian. Seolah setelah mencapai satu titik simbolik itu, seseorang otomatis bebas dari kebutuhan material.

Inilah titik satire. Bayangkan, seorang penulis yang telah puluhan tahun bergulat dengan kata, jatuh bangun dengan penolakan, lalu akhirnya sedikit dikenal. Begitu ia mencoba tetap ikut lomba demi menjaga segala yang dulu diusahakan, ia justru dihadang dengan kata: “Wah, senior turun gunung.” Seolah gunung itu tempat suci yang tak boleh ditinggalkan, dan turun ke lembah adalah tindakan tidak pantas. Padahal, hidup memang terjadi di lembah: di pasar, di dapur, di kamar sempit, di meja tulis yang sering goyah.

Dalam dunia yang sehat, kehadiran penulis berpengalaman di arena lomba seharusnya sebagai berkah: sebagai pemicu standar, sebagai tantangan menyenangkan, sebagai kesempatan belajar. Bukan ancaman. Sebab, dari situlah kita bisa mengukur: seberapa jauh kita melangkah, seberapa dalam kita menggali, seberapa jujur kita menulis. Kompetisi yang sehat bukan tentang memastikan semua orang punya peluang menang, melainkan memastikan semua orang dinilai dengan ukuran sama. Dan ukuran itu, dalam lomba menulis, hanya satu: kualitas teks.

Maka, ketika saya mengatakan bahwa “dalam ranah kompetisi, kedudukan semua penulis adalah pemula,” itu bukan basa-basi. Itu keyakinan. Sebab, setiap karya baru adalah kelahiran baru. Setiap teks adalah pertaruhan. Tidak ada jaminan, pengalaman akan selalu berbuah kemenangan. Tidak ada kepastian, reputasi akan membawa piala. Bahkan, sering kali justru sebaliknya: yang merasa terlalu mapan justru terjebak pada formula, sementara yang gelisah melahirkan kejutan.

Sastra, seperti hidup, justru tumbuh dari gesekan. Dari pertemuan yang tak seimbang. Dari persaingan yang tak selalu ramah. Dari kegagalan berulang. Dari kemenangan yang tak pasti. Dan barangkali, yang paling kita butuhkan hari ini bukan kompetisi lunak, melainkan keberanian untuk kalah tanpa menyalahkan siapa pun.

Sebenarnya, tema ini sudah lama ingin saya tuliskan. Ia kerap muncul singkat di kepala, lalu menghilang, seolah tidak cukup penting untuk diberi ruang. Saya berkali-kali menunda, meyakinkan diri bahwa barangkali ini hanya kegelisahan remeh yang tak layak dijadikan bahan renungan. Namun, seperti suara kecil yang tak benar-benar pergi, ia selalu kembali, dengan wajah sama, dengan pertanyaan serupa.

Sekali lagi, saya tidak tersinggung, apalagi marah. Saya justru berterima kasih karena dengan kejadian ini saya akhirnya menulis ini. Peristiwa ini membuat saya berhenti menunda. Bukan karena menyakitkan, melainkan justru karena ia terasa terlalu biasa. Terlalu berulang. Dan mungkin, justru di situlah letak kepentingannya: bahwa sesuatu yang terus berulang, sekecil apa pun, patut diperhatikan sebagai gejala, bukan sekadar kebetulan. Maka tulisan ini lahir bukan sebagai luapan, melainkan upaya berdamai dengan gelisah yang sejak lama saya simpan.

Sebab, di ujung semua lomba, yang paling penting bukan siapa yang menang, melainkan siapa yang terus menulis. Siapa yang masih setia pada gelisahnya. Siapa yang tak berhenti percaya bahwa kata-kata, betapa pun rapuh, masih layak diperjuangkan. Di sana, semua orang kembali setara. Pemula.***

____________________

Yuditeha. Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Dunia Menulis

Mengasah Pikir, Menyapa Dunia

Oleh Yuditeha

Pelatihan menulis, seringkali hanya dipandang sebatas jalan pintas untuk menjadi penulis profesional. Namun, jika kita menggali lebih dalam, belajar menulis bukan sekadar memburu profesi. Keterampilan menulis memiliki nilai yang jauh melampaui cita-cita untuk menjadi penulis. Ia alat berpikir, medium komunikasi, dan jembatan untuk mengubah gagasan menjadi aksi.

Banyak orang berpikir pelatihan menulis ditujukan untuk mencetak pernyair, cerpenis, novelis, jurnalis, atau esais. Padahal, menulis adalah keterampilan dasar yang dibutuhkan hampir di semua bidang kehidupan. Ambil contoh seorang insinyur yang brilian tetapi kesulitan menulis laporan teknis yang jelas, atau seorang akademisi yang gagal menuangkan gagasan ilmiahnya dalam bentuk artikel jurnal. Ketidakmampuan menulis dapat menjadi penghambat yang signifikan, terlepas dari seberapa dalam keahlian seseorang di bidang tertentu.

Dalam pelatihan menulis, peserta diajarkan tidak hanya untuk menghasilkan karya tulisan, tetapi juga untuk mengasah kemampuan berpikir sistematis. Menulis memaksa kita untuk menyusun gagasan secara logis, membedakan mana yang relevan dan mana yang tidak, serta menyampaikan pesan dengan cara yang efektif. Bahkan jika peserta tidak pernah menerbitkan satu buku pun, kemampuan ini tetap akan bermanfaat.

Penulis dan filsuf Prancis, Michel de Montaigne, pernah berkata, “Saya menulis untuk mengetahui apa yang saya pikirkan.” Menulis tidak hanya mencerminkan pemikiran kita, tetapi juga membantu kita memproses dan memperjelasnya. Dalam proses menulis, sering kali kita menemukan wawasan baru yang sebelumnya tersembunyi dalam pikiran kita.

Pelatihan menulis dapat menjadi ruang bagi peserta untuk menjelajahi ide yang kompleks, baik itu tentang diri sendiri maupun dunia di sekitarnya. Latihan menulis cerita, misalnya, dapat membantu seseorang memahami emosi, sementara menulis esai dapat memperdalam pemahaman tentang topik tertentu. Proses ini tidak hanya mendukung pengembangan intelektual, tetapi juga kesehatan mental.

Keterampilan menulis dapat membuka peluang di berbagai bidang. Seorang dokter yang mampu menulis artikel populer tentang kesehatan akan lebih mudah menjangkau masyarakat luas. Seorang pengusaha yang piawai menulis proposal akan lebih mungkin mendapatkan dukungan investor. Bahkan di era media sosial, kemampuan menulis konten yang menarik dan informatif menjadi salah satu kunci kesuksesan.

Di sinilah pentingnya pelatihan menulis yang tidak hanya berfokus pada teknik, tetapi juga pada tujuan dan audiens. Peserta diajarkan untuk menyesuaikan gaya menulis mereka dengan kebutuhan spesifik, seperti menulis untuk publikasi ilmiah, konten pemasaran, atau narasi kreatif.

Menulis adalah bentuk komunikasi yang paling inklusif. Tidak peduli latar belakang sosial, usia, atau pendidikan seseorang, menulis memberikan ruang untuk menyuarakan pendapat. Dalam pelatihan menulis, peserta dari berbagai latar belakang dapat saling berbagi perspektif, menciptakan lingkungan yang kaya akan keberagaman gagasan.

Selain itu, pelatihan menulis juga bisa menjadi alat pemberdayaan. Banyak komunitas yang menggunakan menulis sebagai cara untuk memperjuangkan hak mereka, mulai dari kampanye lingkungan hingga advokasi sosial. Dengan keterampilan menulis, mereka dapat menyampaikan pesan dengan lebih meyakinkan dan berdampak.

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa pelatihan menulis akan langsung menghasilkan karya besar. Padahal, menulis adalah proses panjang yang membutuhkan latihan berulang dan umpan balik konstruktif. Pelatihan menulis bukanlah janji instan, tetapi investasi jangka panjang dalam keterampilan yang terus berkembang.

Di sisi lain, beberapa orang merasa bahwa menulis adalah bakat bawaan, sehingga pelatihan tidak akan banyak membantu. Pandangan ini keliru. Seperti keterampilan lainnya, menulis dapat dipelajari dan ditingkatkan. Bahkan penulis besar seperti Ernest Hemingway dan Virginia Woolf mengakui bahwa mereka terus belajar sepanjang hidup mereka.

Salah satu cara terbaik untuk memanfaatkan pelatihan menulis adalah dengan mengintegrasikan menulis ke dalam rutinitas sehari-hari. Tidak perlu menunggu inspirasi besar; cukup mulai dengan menulis catatan singkat, jurnal harian, atau refleksi sederhana. Semakin sering seseorang menulis, semakin mudah baginya untuk menyusun gagasan dan menemukan suaranya sendiri.

Pelatihan menulis juga dapat membantu seseorang mengenali keunikan gaya mereka. Dalam dunia yang dipenuhi standar dan format, menemukan suara otentik adalah salah satu pencapaian terbesar seorang penulis, baik ia seorang novelis, ilmuwan, atau aktivis.

Di era digital, kemampuan menulis menjadi semakin penting. Komunikasi melalui teks, baik itu dalam email, laporan, atau media sosial, mendominasi kehidupan kita. Dalam konteks ini, pelatihan menulis tidak hanya relevan tetapi juga mendesak. Ia membantu kita berkomunikasi dengan lebih jelas, meyakinkan, dan manusiawi.

Menulis juga dapat menjadi warisan yang kita tinggalkan. Entah itu dalam bentuk buku, artikel, atau sekadar catatan pribadi, tulisan adalah jejak pemikiran kita yang bisa diakses oleh generasi mendatang. Dengan menulis, kita tidak hanya berbicara kepada orang-orang di sekitar kita, tetapi juga kepada masa depan.

Pelatihan menulis bukanlah tentang mencetak penulis profesional semata. Ia adalah upaya untuk mengasah kemampuan berpikir, menyampaikan ide, dan berkomunikasi dengan dunia. Menulis adalah keterampilan yang relevan untuk siapa saja, di bidang apa saja. Jadi, jika Anda ragu untuk mengikuti pelatihan menulis karena merasa tidak ingin menjadi penulis, pikirkan lagi. Menulis adalah tentang menjadi versi terbaik dari diri Anda, dalam pikiran, kata-kata, dan tindakan.***

Dunia Menulis

Besar Boleh, Kecil pun Boleh, Asal Dasarnya Tulus

Di balik podium sayembara sastra, di antara tumpukan pengumuman anugerah bergengsi yang memuja karya-karya monumental tentang konflik ras, luka sejarah, dan teriakan sosial yang seolah tak ada jeda, diam-diam ada banyak penulis yang memandangi layar kosong dengan gemetar. Bukan karena tak bisa menulis, tapi karena merasa kisahnya terlalu sepele. Terlalu kecil. Terlalu personal. Terlalu tidak meledak. Mereka yang menulis tentang sunyi kamar kontrakan, tentang kecemasan makan siang terakhir menjelang PHK, tentang ibu yang diam-diam menjahit baju bekas agar bisa dibungkus ulang jadi kado ulang tahun anaknya. Lalu muncul pertanyaan getir: “Siapa yang mau peduli?”

Fenomena ini bukan fiksi. Ia nyata, sedekat napas kita saat membaca pengumuman lomba yang menang lagi-lagi tentang tokoh aktivis, konflik SARA, isu lingkungan global, atau sejarah panjang penjajahan yang dituturkan ulang dengan narasi megah. Seolah cerita yang layak diberi medali adalah yang bisa mengguncang bumi. Seolah penderitaan harus berskala nasional agar bisa dianggap memiliki makna. Dan kita yang hanya ingin menulis tentang perempuan tua yang memandangi foto suaminya saban pagi—karena takut lupa wajahnya—mulai merasa kalah sebelum bertanding.

Padahal, bukankah kesunyian itu juga bagian dari dunia? Bukankah manusia lebih sering meringkuk dalam bilik kecil kesedihan pribadi daripada berorasi di tengah massa? Tapi sayangnya, dalam lanskap sastra yang makin dipengaruhi kebutuhan akan gagasan besar, narasi yang subtil, yang lirih, yang nyaris tak terdengar, malah dianggap terlalu jinak. Padahal, bisa jadi justru di situ letak gemuruh paling purba, di bisikan kecil yang tak sempat didengar.

Ironi pun menyembul di sana-sini. Kita membaca cerpen pemenang lomba yang mengisahkan revolusi agraria dengan istilah berlapis seperti makalah seminar, namun entah mengapa tak terasa denyut manusianya. Sementara naskah tentang anak kecil yang diam-diam menyembunyikan sepatu baru agar bisa diberikan ke adiknya justru tak pernah lolos seleksi awal. Mungkin karena tak cukup penting? Atau tak cukup menjual dalam sinopsis?

Bisa jadi, sebagian dewan juri punya selera yang terlalu politis. Atau terlalu ingin mencetak pernyataan daripada membiarkan sastra mengalir sebagai cermin kemanusiaan. Tentu tak semua begitu, dan kita tahu, ada juga karya besar yang benar-benar berhasil menyelami dua-duanya: yang politis sekaligus manusiawi. Tapi kita bicara tentang atmosfer umum yang membuat banyak penulis muda (dan yang tidak muda) mulai menyangsikan validitas ceritanya sendiri. Yang membuat mereka menahan diri menulis tentang cintanya yang gagal, tentang aroma dapur neneknya, atau tentang perasaan aneh saat pulang kampung dan tak dikenali tetangga. Karena merasa: “ah, ini cuma remeh.”

Dan inilah titik bahaya. Ketika penulis mulai menulis dengan niat memenuhi selera, bukan menyuarakan isi hati. Ketika naskah dibuat bukan dari desakan batin, tapi dari perhitungan tema tertentu agar bisa menembus kurasi. Maka sastra bukan lagi jalan pulang menuju diri, tapi sekadar jalan tol ke panggung. Dan di situlah mungkin kita sedang kehilangan satu hal penting: kejujuran.

Lucunya, dalam semua kerinduan terhadap karya yang membela kemanusiaan, kita kadang lupa bahwa kemanusiaan paling mendasar justru terjadi dalam hal-hal kecil. Dalam roti yang dibagi dua, dalam senyum yang dipaksakan saat perpisahan, dalam cara seseorang memeluk dirinya sendiri karena tak ada lagi yang bisa ia peluk. Tapi siapa yang mau membaca itu? Siapa yang akan memberi hadiah untuk cerita tentang ayah yang diam-diam menyetrika seragam sekolah anaknya tengah malam?

Lalu bagaimana menyikapinya?

Barangkali kita hanya perlu menertawakan sedikit kebisingan itu. Tertawa dengan penuh cinta, bukan dengan sinis. Bahwa kadang lomba dan penghargaan memang lebih suka teriakan. Tapi bukan berarti bisikan tak punya tempat. Kita tidak sedang bertanding siapa paling megah, kita sedang mencoba menjadi manusia paling jujur. Dan kalau tulisan kita hanya mampu menyentuh satu pembaca yang akhirnya merasa tak sendirian di dunia ini, itu sudah lebih dari cukup.

Kita pun tak perlu merasa rendah diri. Tidak semua orang ditakdirkan jadi guntur. Ada yang diciptakan sebagai embun pagi yang pelan-pelan membasahi rumput. Dan embun juga penting. Sebab tanpa embun, daun bisa layu sebelum siang datang.

Jangan khawatir jika karya kita belum sebombastis yang mereka cari. Tulis saja terus. Tentang jendela kamar, tentang suara sepatu di gang sempit, tentang cinta yang diam-diam tumbuh di antara jemuran. Sebab dunia butuh semua jenis cerita. Tidak hanya yang bersuara keras, tapi juga yang berbisik dengan lembut, bahkan yang hanya berdiam dengan tatapan.

Dan kadang, di antara tumpukan naskah penuh ledakan isu, justru naskah tentang perempuan tua yang menanam melati di halaman rumah kecilnya itulah yang paling menyentuh nurani juri yang diam-diam lelah dengan dunia.

Tentu, tidak semua kisah personal harus ditulis seperti curhatan. Kita tetap bisa memperlakukan hal kecil dengan kepekaan estetika dan ketajaman emosi. Bahkan ironi pun bisa menyelinap di sana. Misalnya cerita tentang seorang ibu yang rajin mengikuti demo lingkungan, tapi membuang sampah rumah tangga ke selokan belakang. Atau aktivis HAM yang di rumahnya tak pernah menyapa anaknya sendiri. Nah, di sanalah jenaka dan getir bisa bergandengan tangan.

Pada akhirnya, sastra bukan tentang siapa paling keras bicara, tapi siapa yang paling dalam mendengar. Dan jika karya kita ditulis dari ruang yang jujur, dari luka yang tak dibuat-buat, dari rasa yang tak dikemas agar viral, maka ia akan menemukan jalannya sendiri. Entah lewat lomba, entah lewat orang yang tanpa sengaja membacanya sambil menunggu hujan reda.

Jadi, bagi kamu yang sedang ragu karena ceritamu terasa remeh, percayalah, remehmu bisa jadi rembesan cahaya bagi orang lain. Tulis saja. Tetap tulis. Dunia ini tak hanya butuh kisah tentang revolusi dan sejarah, tapi juga tentang seorang anak yang mencium tangan ibunya diam-diam saat ibunya tidur. Kadang, cerita yang besar bukan karena temanya, tapi karena tulusnya. Karenanya, mau pilih besar boleh, pilih kecil pun boleh, asal dasarnya tulus. [] Redaksi

Dunia Buku, Dunia Menulis

Kembali ke Buku, Kembali ke Diri

Ada masa-masa ketika kita tidak sedang berada di tempat ibadah, melainkan ke rak buku yang berdebu. Di sanalah, di antara halaman-halaman yang telah menguning dan penuh lipatan, kita menemukan sesuatu yang lebih sunyi dari doa dan lebih jujur dari nasihat orang bijak. Bukan karena kita tidak percaya Tuhan, tapi karena kadang, sebelum berlutut berdoa, seseorang hanya butuh duduk, membaca kembali sesuatu yang dulu pernah menyentuh hati dan berkata, “Aku ingin jadi orang yang lebih baik.”

Kita sering mengira tobat itu urusan besar. Harus ada air mata, malam panjang, atau suara petir. Padahal kadang cuma butuh satu sore, satu buku, dan satu kalimat yang entah kenapa kali itu terasa lebih menusuk dibanding dulu. Mungkin karena kita sedang rapuh. Atau justru lebih jujur.

Dulu saat membaca Orang-Orang Bloomington, kita mengira kesepian hanya milik para tokoh yang tinggal di kota asing. Tapi kini, setelah berkali-kali merasa terasing bahkan di tengah keramaian, kita tahu bahwa kesendirian itu bukan soal tempat, melainkan perasaan yang pelan-pelan tumbuh dari ketidakberartian hidup. Dan saat membacanya ulang, kita tak cuma melihat tokoh-tokoh ganjil itu, kita melihat diri sendiri yang selama ini tak pernah sempat disapa.

Dulu saat membaca Ronggeng Dukuh Paruk, kita mungkin hanya terpaku pada kisah cinta Srintil. Kini, ketika membacanya ulang, kita sadar bahwa menjadi manusia baik di tengah tekanan, stigma struktural adalah bentuk perjuangan paling sunyi. Tobat bisa muncul bukan dari dosa besar, tapi dari kesadaran bahwa kita pernah diam saat seseorang dilenyapkan karena sistem yang tak memberi ruang bagi kemanusiaan.

Kita, terutama yang paling suka menyembunyikan keresahan  sering merasa rendah diri saat menyadari betapa jauh diri kita dari apa yang dulu kita yakini. Ada semacam pengkhianatan halus yang dirasakan. Dulu yakin tentang kebaikan, kini lebih sering mengutuk hidup. Dulu percaya pada perubahan, sekarang lebih sering menyeletuk, “Ngapain jadi orang baik, toh yang licik yang menang.”

Tapi di balik itu semua, sebenarnya kita hanya ingin kembali. Kembali ke titik jernih yang dulu pernah membuat kita, memilih menulis, membaca, dan berharap. Hanya saja, seperti pulang ke rumah yang sudah lama tak ditinggali, kadang kita takut mendapati diri sendiri sudah terlalu asing.

Ironinya, dunia buku yang katanya menenangkan, kadang justru jadi sumber tekanan. Penulis merasa harus jadi suci, pembaca merasa harus tampak cerdas, padahal niat awalnya hanya ingin merasa lebih utuh. Tidak semua yang membaca  Ronggeng Dukuh Paruk  ingin jadi pribadi yang kuat. Kadang orang hanya ingin tahu bahwa hidupnya yang kacau itu tidak sendirian. Tidak semua yang membaca Saman ingin memberontak. Bisa jadi, mereka hanya ingin tahu bahwa diam juga bisa jadi bentuk perlawanan.

Satirenya, dunia buku kini seperti panggung opera. Semua tampil ingin tampak megah. Orang membaca supaya bisa pamer. Menulis supaya bisa disorot. Padahal sesekali, kita butuh seseorang yang menulis hanya untuk menyelamatkan diri sendiri. Membaca hanya untuk menangisi dosa yang tak bisa diungkapkan dalam status. Kita butuh buku yang tidak jadi barang dagangan, tapi jadi ruang pengakuan.

Ada satu kenangan yang mungkin banyak orang alami. Saat beres-beres kamar, kita menemukan buku lama yang pernah membuat kita yakin sesuatu. Kita buka pelan. Ada coretan di pinggir halaman, tulisan tangan kita sendiri: Ingat ini. Jangan jadi brengsek. Dan di saat itu juga, rasanya ingin menampar wajah sendiri. Karena kita tahu, entah sejak kapan, kita mulai membiarkan kebrengsekan merayap pelan dan jadi kebiasaan harian.

Membaca ulang buku lama bukan saja perihal nostalgia. Ia kadang bentuk paling jujur dari tobat. Karena tak semua orang punya nyali untuk bilang, “Aku salah.” Tapi membuka kembali buku yang pernah mengajari kita jadi manusia yang lebih baik, itu sama artinya dengan menyalakan lilin kecil di lorong gelap hati kita.

Dan lucunya, lilin itu sering kali hanya menyala untuk kita. Tak tampak dari luar. Tidak viral. Tidak disorak. Tidak dikomentari dengan emoji peluk. Tapi itulah cahaya yang paling tulus, yang hanya dinikmati oleh si pemilik gelap.

Kita hidup di zaman ketika orang berlomba tampak saleh, tapi lupa cara menjadi baik. Zaman ketika kata tobat jadi trending saat ada artis tertangkap, tapi tak lagi menggugah ketika seorang biasa duduk diam membaca ulang Catatan Seorang Demonstran dengan mata basah. Kita lupa bahwa kebaikan kadang tidak butuh pengakuan. Ia hanya perlu tekad yang tak henti.

Menjadi benar, di tengah dunia yang riuh, adalah keputusan sunyi. Sama sunyinya dengan membaca ulang buku yang dulu kita anggap remeh. Sama sunyinya dengan menuliskan kalimat: Aku ingin mulai lagi, dari halaman pertama.

Tulisan ini bukan ingin membuat sedih. Justru sebaliknya. Aku ingin kita tersenyum kecil. Ingat betapa dulu kita begitu yakin bisa jadi orang baik. Dan sekarang kita masih bisa. Tidak perlu pengumuman. Cukup satu keputusan: kembali ke buku, kembali ke diri.

Jadi jika malam ini kita merasa letih, bukan hanya tubuh, tapi juga jiwa, cobalah buka buku yang dulu pernah kita peluk setelah putus cinta atau masa-masa terpuruk. Jangan buru-buru cari bab akhir. Mulailah dari halaman yang paling sering kita lipat. Di situ mungkin ada satu kalimat yang tidak kita sadari sedang menunggu kita kembali.

Dan jika besok pagi kita merasa ingin jadi orang baik, jangan buru-buru pasang kutipan motivasi. Duduklah. Diamlah. Bacalah. Karena kadang, suara hati tidak terdengar di tengah kebisingan niat-niat baik. Tapi bisa terdengar jelas di antara bisikan lembar-lembar yang kita balik dengan penuh kesadaran. Tidak perlu mengutuk dengan apa yang telah terjadi, cukup permohonan yang baik.

Di dunia ini, barangkali hanya ada dua jenis orang yang tidak malu mengaku salah: anak kecil yang ketahuan curang, dan orang dewasa yang menemukan kembali dirinya. Dan semua orang tahu, kita tidak bisa kembali menjadi anak kecil. Tapi kita bisa jadi orang dewasa yang tidak malu untuk kembali. [] Redaksi