Cerpen

Negeri Tanpa Bayang-Bayang

Cerpen Rasyid Yudhistira

Di kota ini, cahaya adalah tuhan yang bengis dan lampu-lampu merkuri adalah nabi yang tidak pernah tidur. Mereka melarang bayangan karena dianggap sebagai lubang hitam dalam kesetiaan, sebuah ruang gelap di mana pengkhianatan bisa tumbuh subur tanpa terdeteksi radar keamanan. Setiap orang dipaksa berdiri di bawah pijar dua puluh empat jam, hingga mereka menjadi makhluk-makhluk transparan yang kehilangan kedalaman. Namun, di sebuah sudut gang yang luput dari sorot lampu patroli, aku melihat lelaki bisu itu—si penjahit ingatan—sedang menekuni pekerjaannya dengan khusyuk. Jemarinya yang kasar memegang jarum perak, menusuk kulit-kulit pucat para korban yang telah kehilangan nama, menyatukannya dengan robekan senja yang ia curi dari ufuk terjauh, sebuah perlawanan sunyi yang hanya bisa dimengerti oleh aroma melati dan anyir darah yang mulai menguap ke langit.

Metropolis ini bernama Lux-Aeterna. Sebuah nama yang terdengar seperti janji surga, namun bagi mereka yang merindukan kantuk, ia adalah neraka yang benderang. Di bawah rezim yang memuja kejernihan mutlak, kegelapan adalah musuh negara nomor satu. Undang-Undang Anti-Kegelapan telah menghapus malam dari kalender. Matahari memang terbenam, tetapi ribuan megawatt lampu sorot segera menggantikannya, memastikan tidak ada satu senti pun tanah yang tidak terjamah sinar. Akibatnya, manusia-manusia di Lux-Aeterna kehilangan bayangan mereka sendiri. Mereka berjalan seperti hantu-hantu yang dipaksa eksis, rata dan tanpa dimensi, seolah-olah mereka hanyalah gambar di atas kertas yang disorot lampu dari segala arah.

Saksia adalah bagian dari mesin besar ini, setidaknya di permukaan. Sehari-hari ia bekerja di gudang tekstil negara, melipat kain-kain putih seragam yang akan dikenakan oleh seluruh penduduk agar pantulan cahaya semakin maksimal. Saksia adalah seorang saksi mata yang bisu—bukan karena ia lahir tanpa suara, melainkan karena ia telah memutuskan bahwa di dunia yang bising oleh dengung trafo listrik, kata-kata hanyalah sampah yang mengotori kesunyian. Namun, di balik bisunya, ia memiliki pekerjaan lain yang jauh lebih berbahaya ia adalah seorang Penyelundup Senja.

Semuanya bermula ketika suatu malam, saat ia baru saja menutup bengkel rahasianya di ruang bawah tanah yang tersembunyi di balik tumpukan kain perca, ia menemukan sesosok tubuh. Tubuh itu tergeletak tepat di depan pintu, seperti sebuah paket kiriman maut. Itu adalah tubuh seorang aktivis, seseorang yang pernah berteriak tentang hak-hak atas kegelapan di alun-alun kota sebelum akhirnya dihilangkan oleh Brigade Cahaya.

Tubuh itu mengenaskan. Ia kosong. Bukan hanya nyawanya yang hilang, tapi identitasnya telah dikuras habis. Kulitnya sepucat kertas kalkir, tanpa bekas luka, tanpa tahi lalat, dan yang paling mengerikan tanpa bayangan. Rezim telah menggunakan teknologi radiasi untuk menghapus jejak eksistensialnya. Ia hanyalah seonggok daging tanpa narasi, menunggu untuk dilupakan oleh sejarah yang ditulis dengan tinta cahaya. Saksia menatap mata mayat itu yang terbuka lebar, memantulkan pijar lampu merkuri dari langit-langit gang. Di sana, Saksia tidak melihat kematian, ia melihat sebuah penghinaan terhadap martabat manusia.

Saksia memutuskan untuk pergi. Ia harus melakukan perjalanan ke perbatasan terjauh kota, sebuah wilayah yang disebut Zona Hitam, satu-satunya tempat di mana geografi masih mengizinkan matahari untuk terbenam secara alami tanpa intervensi lampu-lampu raksasa. Wilayah itu adalah tanah terlarang, dipagari kawat berduri dan dijaga oleh menara-menara pengawas yang siap memuntahkan peluru cahaya pada siapa pun yang mendekat.

Dengan mengendap-endap seperti seekor kucing yang mencari lubang tikus, Saksia menembus perimeter. Di sana, ia menyaksikan sesuatu yang sudah lama dilupakan oleh penduduk Lux-Aeterna Senja. Ia melihat bagaimana langit berdarah oleh warna jingga, bagaimana ungu tua perlahan menelan cakrawala, dan bagaimana emas tembaga menyelinap di antara awan-awan.

Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan gunting karatannya. Ini bukan gunting biasa; ini adalah alat yang ia temukan di reruntuhan museum sejarah, sebuah benda yang konon pernah digunakan untuk memotong tali pusar pahlawan-pahlawan masa lalu. Saksia mulai bekerja. Ia menggunting potongan-potongan warna dari langit yang sedang sekarat itu. Ia menggunting warna jingga yang hangat, ungu yang melankolis, dan merah tembaga yang penuh amarah. Ia memasukkan potongan-potongan langit itu ke dalam sebuah kantong kulit kedap cahaya.

Tiba-tiba, suara sirene membelah kesunyian. Sorot lampu dari menara pengawas menyapu padang ilalang. Brigade Cahaya telah mendeteksi anomali pada spektrum warna di wilayah itu. Saksia segera merangkak, membenamkan dirinya ke dalam gorong-gorong beton yang dingin dan lembap. Di dalam sana, di tempat yang tidak pernah mengenal matahari, ia merasakan ketakutan yang murni. Beton itu berbau lumut dan kencing, tapi baginya, itu adalah tempat yang paling jujur di seluruh kota. Ia mendekap kantong berisi potongan senja itu di dadanya, merasakan kehangatan yang sisa-sisa dari matahari yang asli.

Kembali ke ruang bawah tanahnya, ritual itu pun dimulai.

Saksia meletakkan tubuh aktivis itu di atas meja kayu. Ia menyalakan sebatang lilin kecil—satu-satunya sumber cahaya yang ilegal namun jujur. Ia mengambil jarum peraknya. Dengan ketelitian seorang ahli bedah saraf, ia mulai menjahit potongan-potongan senja yang ia curi ke dalam pori-pori kulit sang korban.

Tusukan pertama jarum itu membawa kembali sebuah memori suara tawa seorang anak kecil yang sedang mengejar layang-layang di sore hari. Saksia merasakannya merayap di ujung jarinya. Tusukan kedua membangkitkan aroma kopi yang diseduh di dapur pada hari Minggu yang malas. Tusukan ketiga, sebuah kecupan perpisahan di stasiun kereta yang basah. Setiap jahitan adalah upaya memulihkan identitas yang telah dirampas. Kulit yang tadinya pucat dan transparan mulai terisi oleh warna-warna senja yang dalam.

Ini adalah proses yang menyakitkan. Tubuh mayat itu tampak bergetar, seolah-olah sel-selnya menolak untuk kembali menjadi nyata setelah sekian lama dianggap tiada. Namun Saksia tidak berhenti. Ia menjahit nama yang hilang ke dalam nadi, ia menyulam kenangan ke dalam otot.

Keajaiban pun terjadi. Saat jahitan terakhir selesai, tubuh itu tidak lagi menjadi mayat yang kaku. Alih-alih membusuk, tubuh itu perlahan-lahan mulai berpendar dengan warna ungu yang lembut, lalu menguap. Ya, menguap menjadi rintik-rintik hujan.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga dekade, Lux-Aeterna diguyur hujan. Tapi itu bukan hujan air biasa. Itu adalah hujan lokal yang hanya jatuh di sekitar gang-gang sempit, dan aromanya bukan aroma tanah kering, melainkan aroma melati yang sangat tajam, bercampur dengan bau anyir darah yang samar namun puitis.

Orang-orang di kota mulai terbangun. Mereka keluar dari rumah-rumah mereka yang benderang, menatap langit dengan bingung. Mereka menyentuh rintik hujan itu, dan mereka yang tersentuh tiba-tiba menangis tanpa sebab yang jelas. Sebuah harapan, yang selama ini terkubur di bawah tumpukan propaganda, mulai tumbuh seperti kecambah di antara retakan aspal. Bisik-bisik mulai menjalar Ada seseorang yang sedang mengembalikan ingatan kita.

Namun, penguasa tidak tinggal diam. Bagi rezim, hujan beraroma melati adalah bentuk pembangkangan sipil yang paling berbahaya. Hujan itu tidak logis. Hujan itu subversif. Mereka segera memperketat pengawasan. Brigade Cahaya dikerahkan dengan kekuatan penuh, membawa lampu-lampu sorot portabel yang mampu membakar kulit.

Saksia tahu waktunya hampir habis. Ia kembali ke mejanya, dan kali ini, ia menemukan tubuh yang berbeda. Tubuh itu masih hangat. Saat ia membersihkan wajah tubuh itu dari debu, jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia menatap wajahnya sendiri—atau mungkin bukan dirinya, melainkan bayangan dirinya di masa lalu, atau mungkin kekasih yang telah lama ia lupakan namanya. Di dunia ini, perbedaan antara diri sendiri dan orang lain menjadi kabur saat semua orang dipaksa menjadi sama.

Tiba-tiba, pintu gudangnya didobrak.

Jangan bergerak! Matikan kegelapan itu! teriak seorang komandan Brigade Cahaya.

Lampu-lampu sorot raksasa diarahkan ke arah Saksia. Cahaya putih yang steril dan membutakan menerjang setiap sudut ruangan, menghancurkan sisa-sisa warna senja yang ia simpan dalam botol-botol kaca. Saksia terpojok. Ia merasakan matanya perih, seolah-olah cahaya itu ingin mencongkel keluar bola matanya. Ia tidak bisa lagi melihat warna jingga atau ungu. Semuanya menjadi putih—putih yang hampa, putih yang mematikan.

Namun, Saksia tidak melarikan diri. Dengan tangan yang masih memegang jarum dan sisa-sisa benang jingga terakhir, ia melakukan sesuatu yang melampaui logika maut. Ia tidak menjahit mayat itu. Ia mulai menjahit sisa-sisa senja terakhir itu ke kulitnya sendiri.

Ia menusuk lengannya, menjahit warna merah tembaga ke ototnya. Ia menusuk dadanya, menyatukan sisa ungu dengan jantungnya. Ia memeluk tubuh korban yang ada di depannya, menyatukan eksistensi mereka dalam satu jahitan yang besar dan semrawut.

Hentikan! teriak sang komandan, tapi suaranya tenggelam oleh dengung energi dari lampu-lampu sorot yang dipaksa bekerja melebihi kapasitasnya.

Terjadi sebuah ledakan metafisik. Tubuh Saksia tidak hancur karena peluru atau panasnya lampu. Tubuhnya pecah karena ia sudah terlalu penuh dengan langit. Ia meledak menjadi badai hujan darah dan melati yang luar biasa hebat. Hujan itu bukan lagi rintik-rintik kecil, melainkan air bah yang mengguyur seluruh penjuru Lux-Aeterna.

Lampu-lampu merkuri di jalanan mulai korsleting dan meledak satu per satu saat air hujan itu menyentuh kabel-kabelnya. Kota itu sejenak jatuh ke dalam kegelapan yang sudah lama dirindukan.

Pemerintah segera mengeluarkan dekrit baru payung dilarang dan hujan dianggap sebagai infiltrasi asing. Mereka mengklaim bahwa air yang jatuh dari langit adalah limbah kimia yang sengaja disebarkan oleh teroris untuk merusak mental rakyat. Namun, bagaimana kau bisa memenjarakan bau darah yang telah menyatu dengan udara Bagaimana kau bisa melarang hidung untuk bernapas

Beberapa hari kemudian, di alun-alun kota, gubernur berpidato di bawah lampu-lampu cadangan yang baru dipasang, lebih menyilaukan dari sebelumnya. Ia berusaha meyakinkan rakyat bahwa bayangan adalah ilusi, sebuah cacat penglihatan yang harus disembuhkan. Ia bicara tentang kemajuan, tentang masa depan yang tanpa noda.

Tapi ia tidak sadar, saat ia bicara dengan semangat yang meluap-luap, setetes air hujan yang tersisa di atap podium jatuh tepat di lidahnya yang sedang menjilat bibir. Air itu membawa rasa amis sejarah yang berusaha ia hapus—rasa besi, rasa duka, rasa melati. Sang gubernur tersedak sejenak. Dan di bawah podium, di tengah terik lampu yang paling terang sekalipun, sebuah keajaiban terjadi.

Bayangannya sendiri mulai muncul. Bayangan itu tidak patuh; ia tidak mengikuti gerakan sang gubernur. Bayangan itu mulai menari, meliuk-liuk di atas lantai beton, menjahit dirinya sendiri ke tanah dengan benang-benang jingga yang tak bisa diputus oleh gunting mana pun. Dan di seluruh alun-alun, rakyat yang berdiri diam mulai melihat ke bawah kaki mereka. Di sana, di bawah pijar lampu yang angkuh, bayangan-bayangan mereka telah kembali, hitam dan pekat, membawa kembali kedalaman yang telah lama hilang.

Saksia telah hilang, memang. Ia tidak lagi memiliki tubuh, tidak lagi memiliki suara bisu. Namun ia ada di sana, di setiap aroma melati yang tertinggal di baju penduduk kota, dan di setiap bayangan yang kini berani menentang cahaya. Di negeri itu, ingatan telah menemukan jalan pulangnya, dijahit oleh benang-benang senja yang abadi.

____________________

Rasyid Yudhistira. Penulis yang membawa perspektif unik dari disiplin keteknikan. Lulusan Teknik Industri Universitas Sebelas Maret ini saat ini berkarya di Kementerian Pekerjaan Umum, setelah sebelumnya sempat berkancah di industri manufaktur dan pertambangan. Minatnya terhadap sastra telah ia tekuni sejak 2016, dan ia pernah aktif mengasah kemampuan menulisnya di Komunitas Kamar Kata Karanganyar di bawah bimbingan sastrawan Yuditeha. Rasyid dikenal memiliki gaya penulisan khas yang ia sebut “Sexy Simplicity,” mengedepankan diksi ringkas namun menghadirkan kedalaman makna, memadukan sensualitas dengan religius. Ia telah menerbitkan sekumpulan puisi berjudul Adu Tabah (2020), Sirus Media. Kualitas karyanya terbukti melalui berbagai penghargaan, termasuk Juara 3 Cipta Puisi Olimpus UNS (2019) dan Juara 5 Cipta Puisi Nasional Suakanala (2020) dan beberapa penghargaan lainnya. Pencapaian terbesarnya adalah ketika karyanya terpilih untuk mengisi Antologi Puisi bersama mendiang Sapardi Djoko Damono dalam Menenun Rinai Hujan (2018).

Cerpen

Penjual Bayangan

Cerpen Erna Surya

Setiap malam Minggu, pasar malam itu riuh seperti kerumunan tawon. Komidi putar menjadi sentral. Pedagang berjejer di sekeliling. Anak-anak  berlari membawa balon. Beberapa dari mereka merengek di depan orang tua, dan berakhir dengan tarikan tangan si ibu yang mengajak pulang dengan paksa. Suara musik dangdut berdentam. Bercampur dengan suara ibu-ibu yang menawar panci obral dengan harga sepertiga dari yang ditawarkan. Sementara itu, bapak-bapak lebih memilih mengisap rokok di pinggiran sembari berbincang diselingi tawa.

Dari semua keriuhan itu, tak ada yang memperhatikan lapak paling sudut. Ia berada di bawah lampu yang menggantung lemas seperti leher ayam dipotong setengah. Di sana, lelaki tua dengan topi lebar duduk tenang. Pandangannya mengedar ke seluruh arah, lalu diam lagi. Di hadapannya, tak ada barang jualan. Tak ada rak, tak ada etalase, tak ada poster promo. Hanya selembar kain hitam terbentang, dan di atasnya: bayangan-bayangan. Ya, lelaki itu si penjual ‘bayangan’.

Aneka macam bentuknya. Ada bayangan orang-orang kaya dengan segala macam kemewahannya. Juga bayangan perempuan muda dengan rambut panjang yang cantik dan bertubuh langsing. Bayangan lelaki tinggi berjas yang pintar bermain kata-kata konon katanya yang paling laris di antara semuanya. Bayangan anak kecil hanya sebagai pelengkap, jumlahnya tak banyak. Juga bayangan-bayangan dengan bentuk tak jelas tanpa simbol apa pun.

Mula-mula, orang-orang mengira itu pertunjukan sulap. Beberapa dari mereka mendekat, menunggu pertunjukan apa yang akan ditampilkan lelaki itu. Namun semenit kemudian mereka memutar tubuh dan berjalan menjauh. Kecewa. Merasa sia-sia mengapa harus mengeluarkan antusias yang besar untuk mendekati lelaki itu.

Tapi malam berikutnya, seorang remaja bernama Alin membeli bayangan ramping dan anggun. Sesuai dengan apa yang diinginkannya selama beberapa tahun terakhir ini. Sudah banyak bulian yang masuk ke telinganya lantaran tubuhnya yang terus membesar lantaran banyak makan. Alin kesal. Dan ia berjanji suatu saat akan menjadi berbeda. Sejak itu, bayangan asli Alin tak pernah terlihat lagi. Ia berjalan membuntuti bayangan baru itu, seakan tubuhnya hanya pelengkap.

Alin berubah. Pertama-tama, keluarganya yang menyadari itu. Lama-kelamaan semua orang ikut merasakan perubahannya. Ia mulai berbicara dengan nada genit, langkahnya naik turun seperti ingin menggoda mata lelaki agar melihat pantatnya, matanya lebih nakal dan mengundang birahi. Teman-temannya bilang bahwa itu bukan Alin.

Lalu Doni, sopir ojek online, membeli bayangan bertubuh tegap dan berkumis. Memang sudah lama lelaki itu berambisi ingin jadi anggota DPR. Hanya sekadar mimpi kosong. Faktanya, Doni tetaplah sopir ojek online. Ia bilang ingin lebih disegani banyak orang. Setelah membeli bayangan itu, ia tak lagi mengenal orang tuanya. Setiap kali ibunya memanggil, ia menoleh dengan bingung. “Ibu siapa, ya?”

Lambat laun, lapak si penjual bayangan jadi primadona. Orang-orang antre. Harga tak jadi soal. Seorang dosen tua menukar bayangannya dengan bayangan anak muda agar bisa mengencani mahasiswi yang minta nilai A. Seorang perempuan simpanan membeli bayangan biar tampak seperti istri sah, biar diajak ke pesta-pesta, katanya. Bahkan pejabat kota, diam-diam, membeli bayangan tentara. Setelah itu, ia mulai memberi perintah dengan suara meledak-ledak dan wajah nyaris tanpa ekspresi.

Lalu satu per satu, mereka mulai menghilang. Bukan dalam sekejap. Awalnya tubuh mereka jadi samar, seperti kabut pagi yang enggan bubar. Suara mereka menjadi gema yang memantul sendiri. Akhirnya, yang tersisa hanya bayangan—yang tetap beraktivitas seperti biasa: berbelanja, naik bus, bercermin.

Ketika tubuh-tubuh tak lagi ada, pasar malam berubah. Lampu-lampu tetap menyala, tapi cahayanya dingin seperti api tua yang nyaris padam. Tenda-tenda berdiri, tapi tak ada suara tawa, tak ada bau gorengan, tak ada antrean. Boneka-boneka hadiah tergantung tanpa peminat. Musik masih terdengar dari pengeras suara yang tak pernah dimatikan, tapi iramanya melambat, seperti rekaman yang digerus usia.

Bayangan-bayangan masih mondar-mandir, membeli minuman dari warung yang dijaga bayangan lain. Mereka bermain kora-kora, naik bianglala, memotret diri di cermin—semuanya tanpa tubuh, tanpa suara, tanpa napas.

Udara di pasar malam itu seperti disaring dari kenangan yang buruk: lembab, kosong, menggantung. Angin berhembus pelan, membawa aroma asap kemenyan yang entah dari mana. Sesekali terdengar suara derit besi tua dari wahana permainan yang bergerak sendiri. Kota perlahan berubah jadi museum bayangan.

Di malam ke-77 sejak lapak itu muncul, jurnalis tua bernama Pak Winarto datang membawa pena dan catatan. Ia satu-satunya orang yang belum membeli bayangan. “Saya lebih suka bayangan saya sendiri,” katanya. “Meski jelek dan bungkuk.”

Ia duduk di depan lapak itu. Penjual bayangan masih sama: diam, wajahnya tak kelihatan karena tertutup bayangannya sendiri.

“Apa sebenarnya yang kau jual?” tanya Pak Winarto.

“Apa yang orang-orang cari,” jawab si penjual.

“Dan itu?”

“Bayangan yang mereka inginkan. Bayangan yang mereka bayangkan tentang diri mereka.”

Pak Winarto mengangguk. Ia menulis sesuatu. Pena di tangannya bergetar. Bayangannya sendiri tiba-tiba menjauh sedikit, berdiri tak sejajar.

“Apa yang terjadi pada mereka yang menghilang?” tanya Pak Winarto.

“Mereka tak tahan jadi palsu terlalu lama. Tubuh tak bisa hidup dalam kepalsuan. Maka bayangan mengambil alih.”

“Dan tempat ini?”

“Sudah lama kehilangan cahaya. Sekarang hanya tinggal bayangan yang merayap.”

Pak Winarto menatap langit. Tak ada bintang. Ia menulis kalimat terakhir: Manusia kini hanya ingin menjadi apa yang tampak, bukan apa yang nyata. Maka, yang nyata pun lenyap pelan-pelan.

Ia menutup buku catatannya. Saat bangkit berdiri, ia sadar: tak ada suara jejak kaki. Tubuhnya sepenuhnya terhisap bayangan. Pak Winarto menghilang.

Tapi lapak itu tetap ada. Pak Winarto lupa bahwa dulu ia sangat idealis dalam menuliskan pemberitaan. Kini entah ke mana idealisme itu setelah menyaksikan setumpuk uang di hadapannya. Konon katanya, itu dari pengusaha yang sengaja membuang limbah ke sungai dan meminta Pak Winarto untuk menulis berita yang lain saja, jangan tentang pencemaran sungai yang sudah meracuni banyak warga.

Suatu hari, saat kota lain mulai penasaran dan mengirim utusan, mereka hanya melihat bayangan-bayangan yang menjual bayangan-bayangan lain.

Tak ada tubuh, tak ada wajah. Ketika salah satu utusan memutuskan membeli satu bayangan gagah milik seseorang yang entah siapa, ia pun tidak kembali.

____________________

Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.

Puisi

Puisi Ilham Nuryadi Akbar

Gulai Daun Singkong

Aku tak sepantar dengan genjer

sebab kampungku bukan hamparan sawah

tempat ikan-ikan geladir

laiknya lele dan belut

menempuh hidup di atas lumpur.

Aku bukan kangkung

saban hari memencilkan maut, terdampal kaki, tercabik pangkur petani

dan menempuh petikan sebuah jari

atas tubuhku yang bukan gitar.

Daun-daunku serupa jari mekar

rimpang di batang lurus

aku pernah dibelai angin dan dihinggapi kunang-kunang

juga membantu manusia menemukan peradaban

ya, cemilan keripik.

Dahulu, nasab pertamaku bernama getuk

pergi bercinta dengan daki-daki kelapa

berbulan madu di atas sepeda

berkelana

ke halaman-halaman sekolah.

Demi lidah

aku melepas tangkai di musim yang bukan panen

dan lesung lumpang bukanlah satu-satunya cara

membuatku menjadi lunak.

Sekali waktu

ibu mengenalkanku dengan wajah wajan

tempat bersuci dengan segala kental santan

maka aku bercita-cita

menjelma gulai

demi bertapa barang sehari

di bawah tudung saji.

Pematangsiantar, 6 April 2026

____________________

Ayam Pecak

Api tak mematangkan tubuhku

melainkan minyak goreng bersekutu dengan rentang waktu

juga lembar-lembar resep itu

yang tak tahu malu

lantaran memberitahu:

“1001 cara mengolah ayam”

Aku meminta ampun pada pasukan bawang

juga dulur cabai

yang menasehatiku bahwa kematian

akan bertandang dari gerusan batu bundar.

Dari muhibah sebuah lidah

juga sinis piring-piring

manusia berpura melawatku:

Membawa lumpur pedas, melempar garam dolpin,

menabur kembang bunga-bunga kemangi.

Sungguh celakalah aku

lampus diperkosa lidah

namun tak pernah

dilirik suatu hukum.

Pematangsiantar, 6 April 2026

____________________

Indomie Ayam Bawang

Telah kusobek indomie ayam bawang

di hadapan buku-buku George Orwell

berdampingan dengan air bening suci

yang kulunasi kala sore

dari depot lelaki tua.

Telah tertuang molto pada helai-helai kain

dan ketika tabung mesin cuci berkedut

aku berlari menyatroni angka-angka yang melimbang

panel rahim listrik.

Di hadapanku

sapu biru tampak cemburu

yang sedari pagi belum kusentuh

dan minggu ini

barangkali aku pendosa

yang diberi ampun buku catatan

—Raqib dan Atid

Lantaran menyiksa tubuh rumah

sedang mataku tampak bermaksiat

lantaran luput, membaca buku-buku.

Pematangsiantar, 6 April 2026

____________________

Mie Lontong

Kala nasib meminang

gegas kau lepas baju panjang yang mengering

lalu merebah di atas misbah berdebu

menunggu kekekalan terpenggal

bening mata pisau.

Dengan lekat kau terbaring di atas piring

bersuci dengan kuah-kuah santan

sedang helai-helai mie gomak hanyalah selimut

yang kau kenakan sebelum sekubit taoco

mengajakmu ke rahim gelap

di mana sebuah mimpi

tercipta dari rongga-rongga mulut.

Dari negeri gelap itu

kau menunggu pagi

di antara keheningan kamar mandi

dan merelakan tubuhmu

jatuh ke pusara

yang basah

dan hanya sejengkal.

Pematangsiantar, 6 April 2026

____________________

Tumis Taoge

Tanah mana yang kau ingat

bukankah dahulu, kau serupa helmet serdadu

bersembunyi di balik kulit tanah

menunggu hari-hari melunasi

namamu sebagai kecambah.

Ketika panjang menyertai

dan almanak memberimu umur yang cukup

kau merantau ke besi panci

mengharumkan namamu pada sebuah bumbu

demi diramu

telapak tangan centong.

Namun hari itu

kau percaya

bahwa lidah manusia adalah celaka

yang memeluk tajam dagingmu

luruh tak bernyawa.

Pematangsiantar, 6 April 2026

____________________

Ilham Nuryadi Akbar. Lahir di Banda Aceh dan saat ini menetap di Kota Pematangsiantar. Beberapa puisi dimuat media lokal dan nasional seperti: Koran Tempo, Koran Jawa Pos, Republika.id, Suara NTB, Koran Radar Banyuwangi, Omong-omong.co, Sastramedia, Lensasastra, Harian Rakyat Sultra, Sumenep.news, ideide.id, Literasikalbar, Riau Sastra, Litera.co, dll. Emerging Balige Writers Festival (BWF) 2025.

Film, Resensi

Antara Luka, Algoritma, dan Kebencian

Oleh: T.H. Hari Sucahyo

Judul               : Inside the Manosphere 

Produser          : Louis Theroux

Tema utama     : Dinamika komunitas “manosphere”, maskulinitas modern, relasi gender, dan pengaruh media digital

Tahun rilis       : 2024

Tahun tayang  : 2026

Pemeran          : Anggota komunitas manosphere, akademisi, jurnalis, dan pengamat sosial

Film dokumenter Inside the Manosphere menghadirkan potret yang tajam sekaligus menggelisahkan tentang sebuah ekosistem digital yang selama ini sering luput dari perhatian publik luas, tetapi memiliki dampak sosial yang nyata. Disutradarai dengan pendekatan observasional yang kuat, film ini membawa penonton menyelami dunia “manosphere”; sebuah istilah yang merujuk pada komunitas online yang berisi berbagai kelompok pria dengan pandangan tertentu tentang maskulinitas, hubungan, dan posisi laki-laki dalam masyarakat modern.

Alih-alih sekadar menjadi tontonan sensasional, film ini berusaha memahami, mengurai, dan sekaligus mengkritisi dinamika yang berkembang di dalamnya. Sejak awal, film dokumenter ini tidak langsung menghakimi. Narasinya dibangun perlahan, dimulai dari pengenalan tentang bagaimana komunitas ini terbentuk dan berkembang di ruang digital. Penonton diperlihatkan forum-forum, kanal video, hingga ruang diskusi anonim yang menjadi tempat berkumpulnya individu dengan keresahan yang beragam.

Ada yang merasa terpinggirkan secara sosial, ada yang kecewa dalam relasi personal, dan ada pula yang mencari identitas diri di tengah perubahan norma gender yang semakin kompleks. Film ini dengan cermat menunjukkan bahwa di balik label kontroversial tersebut, terdapat manusia dengan latar belakang yang tidak seragam. Kekuatan utama film ini terletak pada cara ia memberi ruang bagi berbagai suara.

Beberapa tokoh yang diwawancarai diberi kesempatan untuk menjelaskan pandangan mereka tanpa interupsi yang berlebihan. Mereka berbicara tentang pengalaman pribadi, kegagalan, hingga rasa frustrasi yang kemudian membentuk cara pandang mereka terhadap dunia. Pendekatan ini membuat film terasa lebih jujur, meskipun di saat yang sama juga memunculkan ketegangan bagi penonton yang mungkin tidak sepakat dengan pandangan yang disampaikan.

Di sinilah letak keberanian film ini: ia tidak menyederhanakan persoalan menjadi hitam-putih. Namun, Inside the Manosphere tidak berhenti pada tahap eksplorasi. Secara perlahan, film ini mulai mengungkap sisi gelap dari komunitas tersebut. Beberapa bagian menyoroti bagaimana narasi tertentu dapat berkembang menjadi bentuk kebencian, terutama terhadap perempuan. Retorika yang awalnya berangkat dari pengalaman pribadi kemudian berkembang menjadi generalisasi yang berbahaya.

Film ini memperlihatkan bagaimana algoritma media sosial turut berperan dalam memperkuat echo chamber, sehingga pandangan ekstrem menjadi semakin sulit untuk ditantang dari dalam. Salah satu momen paling kuat dalam film ini adalah ketika narasi personal bertabrakan dengan realitas sosial yang lebih luas.

Ada adegan di mana seorang narasumber menceritakan perasaannya yang terisolasi, lalu dipotong dengan analisis dari ahli yang menjelaskan bagaimana perasaan tersebut dapat dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menyebarkan ideologi yang lebih radikal. Kontras ini menciptakan efek yang menggugah: penonton diajak untuk melihat bahwa persoalan ini bukan hanya tentang individu, tetapi juga tentang sistem yang memungkinkan ide-ide tersebut berkembang.

Dari segi sinematografi, film ini menggunakan gaya yang sederhana namun efektif. Banyak adegan diambil dari layar komputer, rekaman percakapan online, dan dokumentasi kehidupan sehari-hari para narasumber. Pendekatan ini memberikan kesan autentik, seolah penonton benar-benar masuk ke dalam ruang privat yang selama ini tersembunyi.

Tidak ada dramatisasi berlebihan; justru kesederhanaan visual inilah yang membuat pesan film terasa lebih kuat. Musik latar yang digunakan juga minimalis, berfungsi sebagai penguat suasana tanpa mendominasi emosi penonton. Selain itu, struktur naratif film ini patut diapresiasi. Alih-alih mengikuti alur linear yang kaku, film ini bergerak secara tematik.

Setiap bagian membahas aspek berbeda dari manosphere, mulai dari asal-usul, dinamika internal, hingga dampaknya terhadap dunia nyata. Perpindahan antar segmen dilakukan dengan halus, sehingga meskipun topiknya kompleks, penonton tetap dapat mengikuti alur pemikiran yang dibangun. Penyuntingan yang rapi membantu menjaga ritme film agar tidak terasa membosankan.

Yang menarik, film ini juga menghadirkan perspektif dari pihak luar komunitas, termasuk akademisi, jurnalis, dan aktivis. Kehadiran mereka memberikan konteks yang lebih luas, sekaligus menjadi penyeimbang terhadap narasi dari dalam komunitas. Mereka membahas fenomena ini dari sudut pandang sosial, psikologis, hingga politik.

Diskusi ini memperkaya pemahaman penonton, sekaligus menegaskan bahwa fenomena manosphere tidak bisa dilepaskan dari perubahan sosial yang lebih besar, seperti pergeseran peran gender dan krisis identitas di era modern. Meski demikian, film ini tidak sepenuhnya bebas dari kekurangan.

Dalam beberapa bagian, penjelasan yang diberikan terasa terlalu padat, sehingga berpotensi membuat penonton kewalahan. Ada juga momen di mana film seolah ingin menyampaikan terlalu banyak hal sekaligus, sehingga fokusnya sedikit terpecah. Beberapa penonton mungkin juga merasa bahwa film ini kurang memberikan solusi konkret, karena lebih banyak berfungsi sebagai refleksi daripada panduan.

Kendati demikian, kekurangan tersebut tidak mengurangi nilai penting film ini secara keseluruhan. Justru, ketidaklengkapan jawaban yang ditawarkan menjadi kekuatan tersendiri, karena mendorong penonton untuk berpikir lebih jauh. Film ini tidak memaksa kesimpulan, melainkan membuka ruang diskusi. Dalam konteks isu yang kompleks seperti ini, pendekatan tersebut terasa lebih relevan dibandingkan penyederhanaan yang berlebihan.

Salah satu aspek yang patut dicatat adalah bagaimana film ini memperlakukan empati. Di satu sisi, ia berusaha memahami individu-individu di dalam komunitas tersebut tanpa menghakimi secara langsung. Di sisi lain, ia tetap tegas dalam mengkritisi ide-ide yang berpotensi merugikan orang lain. Keseimbangan ini tidak mudah dicapai, tetapi film ini berhasil melakukannya dengan cukup baik. Penonton diajak untuk melihat manusia di balik ideologi, tanpa harus menerima ideologi tersebut.

Dampak emosional film ini juga cukup kuat. Ada rasa tidak nyaman yang sengaja dibiarkan mengendap, terutama ketika penonton menyadari bahwa fenomena yang ditampilkan bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Internet, yang selama ini dianggap sebagai ruang bebas, ternyata juga dapat menjadi tempat berkembangnya ide-ide yang problematis. Film ini mengingatkan bahwa apa yang terjadi di dunia digital memiliki konsekuensi nyata di dunia fisik.

Secara keseluruhan, Inside the Manosphere adalah dokumenter yang penting dan relevan dengan kondisi sosial saat ini. Ia berhasil mengangkat topik yang sensitif dengan pendekatan yang cermat dan seimbang. Film ini tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga mengajak penonton untuk merenung tentang hubungan antara teknologi, identitas, dan dinamika sosial. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, film ini layak menjadi bahan diskusi, baik di kalangan akademisi maupun masyarakat umum.

Kekuatan terbesar film ini terletak pada kemampuannya untuk membuka percakapan. Ia tidak menawarkan jawaban yang mudah, tetapi justru mengajak penonton untuk bertanya: bagaimana kita memahami perubahan yang terjadi di sekitar kita? Bagaimana kita merespons perasaan keterasingan yang dialami sebagian orang tanpa membiarkannya berkembang menjadi kebencian? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana kita menciptakan ruang dialog yang lebih sehat di tengah perbedaan pandangan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak langsung terjawab setelah menonton film ini, tetapi justru di situlah nilai utamanya. Inside the Manosphere bukan sekadar film yang ditonton lalu dilupakan, melainkan pengalaman yang memicu refleksi jangka panjang. Ia menantang penonton untuk tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga bagian dari solusi.

____________________

T.H. Hari Sucahyo. Penikmat Film Layar Kaca dan Layar Lebar.  Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”

Cerpen

Kamar Belakang

Cerpen Erna Surya

Aku tidak pernah mengunci pintu kamar belakang. Istriku yang memintanya. Katanya supaya udara tetap masuk. Katanya supaya tidak lembap. Katanya supaya tidak seperti gudang. Padahal memang itu gudang.

Sebelum anak itu datang, ruangan itu hanya berisi kardus bekas, kipas rusak, dan koper lama yang tidak pernah kami buka lagi sejak pindah rumah. Setelah anak itu datang, semua barang kami keluarkan. Kami bersihkan lantainya. Kami beli kasur tipis. Kami tidak beli lemari. Anak itu tidak punya banyak barang.

Namanya Damar. Umurnya sembilan tahun waktu pertama kali datang. Anak dari adik istriku. Orang tuanya kecelakaan motor di jalan provinsi. Mati di tempat. Tidak ada yang mau mengurusnya.

“Kita saja,” kata istriku waktu itu. Aku tidak langsung jawab.

Aku hanya melihat foto anak itu yang dikirim lewat WhatsApp. Kulitnya gelap. Matanya kosong. Seperti tidak sedang melihat siapa pun.

“Kita tidak punya anak,” kata istriku lagi. Aku tetap tidak jawab.

Dua minggu kemudian, anak itu sudah tidur di kamar belakang.

***

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama. Damar bangun pagi, makan, duduk, kadang membantu Rani, istriku, di dapur kalau diminta. Dia tidak pernah meminta sesuatu. Tidak pernah rewel. Tidak pernah mengganggu.

Aku memperhatikannya dari jauh. Cara dia berjalan, cara dia duduk, cara dia menatap sesuatu. Ada yang tidak pas. Tapi aku tidak bisa menjelaskannya dengan tepat. Seolah-olah dia tidak benar-benar hadir.

Suatu malam, aku bangun karena ingin ke kamar mandi. Rumah gelap. Lampu di ruang tengah mati. Tapi dari arah kamar belakang, ada cahaya. Pintunya terbuka sedikit.

Aku mendekat tanpa suara. Dari celah itu aku melihat Damar duduk di lantai. Dia tidak memakai baju. Hanya celana pendek. Tubuhnya kurus. Tulang bahunya menonjol. Dia tidak bergerak. Tidak sedang bermain. Tidak sedang melakukan apa pun. Hanya duduk.

Aku berdiri di sana beberapa detik, menunggu dia menyadari keberadaanku. Tapi dia tidak menoleh. Tidak bereaksi. Seolah-olah aku tidak ada. Akhirnya aku kembali ke kamar.

Aku tidak menceritakan itu kepada Rani.

Beberapa hari kemudian, aku kehilangan uang. Tidak banyak. Seratus ribu. Tapi aku yakin aku menyimpannya di dompet. Aku bukan tipe orang yang ceroboh soal uang. Aku tidak langsung menuduh,hanya mencoba memastikan.

Saat makan malam, aku bertanya dengan nada biasa.

“Damar, kamu ambil uang Om?”

Dia menggeleng. “Tidak.”

Jawabannya cepat. Tidak ragu. Aku melihat matanya. Tetap datar. Tidak ada perubahan.

Rani langsung menyela. “Ngapain kamu nuduh anak kecil?”

“Aku cuma tanya.”

“Ya jangan begitu.”

Nada suaranya berubah. Lebih tajam. Aku tidak melanjutkan.

Malamnya, aku masuk ke kamar belakang saat Damar sudah tidur. Aku membuka tas kecilnya pelan-pelan. Tidak ada banyak barang di dalamnya. Dua baju, satu celana, dan sebuah plastik kecil. Di dalam plastik itu ada uang. Lebih dari yang hilang dariku. Aku menutup tas itu kembali tanpa mengambil apa pun, lalu keluar tanpa suara.

Sejak itu, aku mulai lebih sering memperhatikan. Damar sering bangun malam. Tidak selalu, tapi cukup sering untuk membuatku sadar itu bukan kebetulan. Kadang dia duduk seperti yang kulihat sebelumnya. Kadang berdiri di dekat pintu. Kadang menghadap ke sudut ruangan. Dia tidak pernah menangis. Tidak pernah mengeluh. Rani tetap menganggap semuanya normal.

“Anak trauma memang begitu,” katanya suatu kali ketika aku menyinggungnya.

Aku tidak yakin dia benar. Tapi aku juga tidak ingin berdebat.

***

Suatu sore, aku pulang lebih cepat dari biasanya. Rumah sepi. Rani belum pulang kerja. Aku meletakkan tas di ruang tengah dan langsung menuju dapur. Tapi langkahku berhenti ketika melihat pintu kamar belakang terbuka.

Aku mendekat. Damar ada di dalam. Dia sedang memegang ponsel. Aku justru baru tahu kalau Damar punya ponsel. Dia menatap layar dengan serius. Jarinya bergerak pelan. Membuka sesuatu. Lalu berhenti.

“Ngapain?”

Suaraku membuatnya kaget. Ponsel itu jatuh ke lantai. “Tidak apa-apa,” katanya cepat.

Aku mengambil ponsel itu. Layar masih menyala. Ada foto. Foto Rani. Tanpa pakaian. Tanganku tiba-tiba gemetar. Aku tidak tahu kapan foto itu diambil.  Aku menatap Damar.

“Apa ini maksudnya?”

Dia tidak menjawab. Aku mendekat. Memegang lengannya.

“Kamu ngerti ini apa?”

Dia tetap diam. Tanganku bergerak lebih cepat dari pikiranku. Aku menamparnya. Tidak terlalu keras. Tapi cukup membuatnya jatuh ke samping. Dia tidak menangis. Tidak berteriak. Dia hanya menatapku. Tatapannya tetap sama seperti pertama kali aku melihatnya di foto. Kosong.

Malam itu, aku menceritakan semuanya kepada Rani. Aku pikir dia akan marah kepada Damar. Ternyata tidak. Dia marah kepadaku.

“Kamu mukul anak kecil?”

“Dia punya ponsel!”

“Terus?”

“Ada foto kamu di situ.”

“Terus kamu mukul dia?”

Aku tidak punya jawaban yang bisa dia terima. Rani berdiri dan pergi ke kamar belakang. Aku tidak ikut.

Dari ruang tengah, aku mendengar suaranya pelan. Seperti sedang menenangkan seseorang. Aku tidak mendengar suara Damar. Itu membuatku lebih tidak nyaman.

***

Sejak malam itu, sesuatu berubah. Pintu kamar belakang mulai dikunci. Bukan olehku. Oleh Rani. Dari luar.

Aku tidak pernah melihat langsung kapan dia menguncinya. Tapi setiap malam, setelah Damar masuk, pintu itu tertutup dan tidak bisa dibuka dari dalam. Aku sempat bertanya sekali.

“Kenapa dikunci?”

Rani menjawab singkat. “Supaya dia tidak keluar malam-malam.”

Aku tidak membantah. Aku juga tidak setuju. Aku hanya diam.

Damar tidak keluar lagi dari kamar itu. Makanannya diantar. Air minumnya diantar. Kadang Rani masuk sebentar, lalu keluar lagi. Aku jarang pergi ke kamar belakang. Hanya sesekali, saat pintu terbuka, aku bisa melihat bayangan tubuhnya di dalam.

Hari-hari selanjutnya, rumah tetap berjalan seperti biasa. Kami tetap bekerja. Tetap makan bersama, meski sekarang hanya berdua. Tidak ada pembicaraan tentang apa yang sedang terjadi. Seolah-olah kami sepakat untuk tidak menyentuhnya.

Beberapa hari kemudian, bau mulai muncul. Awalnya samar. Aku pikir dari saluran air. Rani bilang mungkin dari luar. Kami tidak terlalu memikirkannya. Tapi bau itu tidak hilang. Justru semakin kuat. Aku mulai merasa tidak nyaman setiap kali melewati lorong menuju kamar belakang.

Suatu sore, aku berhenti di depan pintu itu. Pintunya tertutup. Terkunci. Aku mengetuk pelan.

“Damar.”

Tidak ada jawaban. Aku mengetuk lagi. Tetap tidak ada suara. Aku melihat Rani yang berdiri di ruang tengah.

“Kamu buka!” kataku.

Dia tidak bergerak.

Aku mendekat padanya.

“Kamu buka sekarang!”

Dia tetap diam. Aku tidak menunggu lagi. Aku mengambil kunci yang tergantung di dekat dapur. Tanganku sedikit gemetar saat memasukkannya ke lubang kunci. Aku memutarnya perlahan.

Pintu terbuka.

Bau itu langsung keluar. Lebih kuat dari sebelumnya. Aku tidak masuk. Aku hanya berdiri di ambang pintu. Rani berdiri di belakangku. Aku bisa merasakan napasnya. Kami tidak bicara.

Tidak ada yang bergerak. Aku menutup pintu itu kembali. Perlahan.

***

Malam itu, kami tetap tidur seperti biasa. Lampu dimatikan. Tidak ada percakapan. Tidak ada keputusan. Kami berbaring di tempat tidur masing-masing, menghadap arah yang berbeda. Aku tidak tahu apakah Rani tidur. Aku sendiri tidak benar-benar tidur.

Keesokan paginya, aku bangun lebih awal. Rumah masih sunyi. Aku berpakaian tanpa suara. Saat hendak keluar, aku berhenti di lorong. Melihat ke arah kamar belakang. Pintunya sedikit terbuka. Aku tidak ingat pernah membukanya lagi. Aku tidak melihat ke dalam. Aku tidak mendekat. Aku hanya berdiri beberapa detik. Lalu pergi. Aku tidak tahu siapa yang membuka pintu itu. Dan aku tidak yakin aku ingin tahu.

Klaten, 30 Maret 2026

____________________

Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Cerpen

Pada Sebuah Malam

Cerpen Erna Surya

Gang itu selalu berbau air got. Aku sudah hafal baunya seperti hafal garis-garis di telapak tanganku sendiri. Malam turun pelan-pelan, dan lampu-lampu kuning menggantung dengan cahaya remang. Di kursi plastik yang retak, aku duduk bersama dua perempuan lain, menunggu nasib datang dalam bentuk laki-laki dengan uang.

Aku menyalakan rokok, menghisapnya dalam-dalam, lalu membiarkan asapnya keluar dari hidung. Rasanya seperti mengusir sesuatu yang tak pernah benar-benar pergi. Sesuatu itu semacam kekhawatiran bila esok aku tak bisa makan, atau pekan depan tak ada uang yang bisa kukirimkan ke kampung. Panen gagal, bapak sudah berkabar kemarin.

“Sepi,” kata Santi di sebelahku.

“Belum jamnya,” jawabku.

Padahal kami tahu, kadang bukan soal jam. Kadang soal keberuntungan, kadang soal muka, kadang soal siapa yang lebih dulu berdiri saat ada lelaki lewat. Dunia kecil kami punya hukum yang tidak tertulis, tapi ditaati.

Lalu aku melihatnya.

Seorang lelaki muda berdiri di mulut gang. Aku melihatnya seperti orang tersesat yang tidak yakin apakah ia benar-benar ingin menemukan jalan kecil ini. Wajahnya biasa saja, terlalu biasa malah, seperti wajah-wajah yang mudah dilupakan. Tapi ada sesuatu di matanya. Aku bisa menangkapnya di tengah cahaya remang ini.

Aku melambaikan tangan. “Mau main, Mas?”

Ia mendekat pelan-pelan, aku melihat ada ketakutan di matanya.

“Yang murah,” katanya.

Aku tertawa kecil. “Semua di sini murah. Tinggal kuat-kuatan saja.”

Ia tidak ikut tertawa. Hanya menatapku sebentar, lalu mengangguk.

Aku berdiri, mematikan rokok dengan ujung sandal, lalu memberi isyarat agar ia mengikutiku. Kami masuk ke gang sempit yang hanya cukup untuk satu orang berjalan. Ia berjalan di belakangku. Kulihat langkahnya ragu-ragu. Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku.

Di kiri kanan, pintu-pintu terbuka sedikit. Potongan hidup orang lain berjatuhan seperti serpihan kaca: seorang ibu memarahi anaknya yang menangis, seorang lelaki tua batuk sambil meludah ke lantai, televisi menyala dengan suara yang terlalu keras untuk ruangan sekecil itu.

“Pertama kali?” tanyaku.

Ia tidak langsung menjawab. Lalu pelan-pelan, ia mengangguk.

Aku tersenyum, meski ia tidak bisa melihatnya. “Kelihatan.”

Kami sampai di kamarku. Kecil, pengap. Dindingnya mengelupas. Kasur tipis tergeletak di lantai, sprei lusuh bergambar kartun yang dulu mungkin lucu, sebelum semuanya jadi seperti ini.

“Duduk saja,” kataku.

Ia duduk di ujung kasur, kaku seperti patung yang belum selesai dipahat.

Aku membuka jepit rambut, membiarkan rambutku jatuh berantakan. Aku sudah melakukan ini ratusan kali, gerakan yang sama, urutan yang sama, seperti ritual yang kehilangan makna tapi tetap dijalankan.

“Kamu kerja apa?” tanyaku.

“Tidak kerja.”

“Sekolah?”

“Tidak juga.”

Aku menoleh. “Terus ngapain?”

Ia berpikir lama, seperti pertanyaan itu terlalu besar untuk dijawab.

“Hidup saja,” katanya akhirnya.

Aku tertawa kecil. “Semua orang juga begitu.”

Tapi entah kenapa, dari mulutnya, kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang lain. Aku mulai membuka pakaianku. Satu per satu. Seperti menghitung sesuatu yang tidak pernah selesai.

“Mau cepat atau lambat?” kataku.

Ia menatapku. Terlalu lama.

Aku berhenti. “Kenapa?”

“Tidak apa-apa,” katanya.

Udara dingin tiba-tiba menyentuh kulitku, tapi aku sudah kebal. Tubuh ini bukan lagi milikku sepenuhnya. Ia sudah dibagi-bagi menjadi waktu dan tarif.

Ia mendekat. Tangannya menyentuh lenganku dengan hati-hati, seperti aku ini kaca yang bisa pecah kapan saja. Aku hampir tertawa, bukan karena lucu, tapi karena aneh.

“Kamu unik,” kataku.

“Ibu saya bilang begitu juga,” jawabnya.

“Ibumu masih hidup?”

Ia mengangguk.

“Baik?”

Ia diam. Matanya beralih ke cermin retak di sudut ruangan. Bayangannya terbelah-belah.

“Kadang. Tapi banyak tidak baiknya,” katanya pelan.

Aku tidak bertanya lagi. Aku sudah belajar bahwa beberapa jawaban hanya akan melukai kalau dipaksa keluar.

Kami berbaring. Kasur berderit, seperti mengeluh pada nasibnya sendiri.

Setelah semua selesai, ia terus menatapku.

“Jangan dilihatin terus,” kataku. “Bikin risih.”

Ia mengalihkan pandangan, tapi sebentar saja. Lalu kembali lagi, lebih dalam, lebih tajam.

“Kamu pernah ingin mati?” tanyanya tiba-tiba.

Aku tertawa. “Setiap hari.”

“Kenapa tidak?”

“Belum sempat,” jawabku. “Utang masih banyak.” Tiba-tiba, aku teringat pada rentenir yang akan menagih uang esok pagi.

Ia mengangguk, lalu ia mulai bercerita. Tentang kucing yang ia lihat di pinggir jalan. Tentang suara kereta di malam hari. Tentang seorang anak perempuan yang menangis di halte. Cerita-cerita kecil yang tidak penting, tapi ia ceritakan dengan keseriusan yang membuatku tidak enak untuk memotongnya.

Kadang ia berhenti di tengah kalimat, menatap ke sudut ruangan, lalu melanjutkan seolah-olah tidak ada yang terjadi. Aku mulai merasa lelah. Tapi ada sesuatu yang membuatku tetap diam. Mungkin rasa ingin tahu. Mungkin juga rasa takut yang pelan-pelan menyusup.

“Kamu sering ke sini?” tanyaku, mencoba mengalihkan.

Ia menggeleng.

“Kenapa ke sini?”

Ia tersenyum tipis. “Disuruh.”

“Siapa?”

Ia tidak langsung menjawab. Matanya kembali ke cermin retak itu.

“Mereka,” katanya.

Aku mengerutkan kening. “Mereka siapa?”

Ia menatapku lagi. “Yang suka bicara.”

Aku tertawa, tapi terasa kering. “Kamu bercanda ya?”

Ia tidak tertawa.

Di luar, suara orang bertengkar terdengar. Botol pecah. Seseorang berteriak. Dunia terus berjalan seperti biasa, tapi di dalam kamar ini, aku merasakan waktu  seperti tersangkut di sesuatu yang tak terlihat.

“Kamu minum?” tanyaku setelah merasakan ada sesuatu yang aneh di bola matanya.

“Tidak.”

“Obat?”

Ia menggeleng.

Aku ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi kata-kata terasa seperti tidak punya tempat untuk jatuh. Ia menyentuh wajahku. Kali ini tidak selembut tadi. Ada tekanan kecil, seperti ingin memastikan aku benar-benar ada.

“Kamu mirip,” katanya.

“Mirip siapa?”

Ia tidak menjawab. Tiba-tiba, aku merasa ruangan ini terlalu sempit. Udaranya terlalu tebal. Seperti ada sesuatu yang ikut masuk bersama kami tadi, dan sekarang berdiri di sudut, menonton.

Lalu semua gelap. Tapi, aku masih bisa mendengar suara terakhirnya: Ibuku. Dia suka pukul aku.

***

Orang-orang bilang aku mati malam itu. Mereka menemukan tubuhku di kasur esok harinya, dengan mata yang masih terbuka. Seolah-olah aku belum selesai melihat sesuatu.

_____________________

Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Ragam

Elegi: Raga Bertameng, Jiwa Telanjang

Oleh Yuditeha

Pameran tunggal perdana Ariwur bertajuk Elegi yang digelar di Kopi Parang, Surakarta, pada pertengahan Maret 2026 ini (tepatnya dari 13 Maret 2026 sampai dengan 20 Maret 2026), bukan hanya pajangan estetika di dinding kafe, melainkan sebuah otopsi visual atas kondisi manusia modern yang kian hari kian kehilangan substansi. Melalui sembilan lukisan yang lahir dalam rentang waktu 2022 hingga 2024, Ariwur mencoba membedah narasi tentang lubang jiwa, sebuah konsep yang ia yakini sebagai residu tak terelakkan dari interaksi antarmanusia. Ada ironi yang getir saat kita melangkah masuk ke ruang pameran ini; di tengah dunia yang terobsesi pada kesempurnaan tampilan dan kepenuhan materi, Ariwur justru hadir dengan perayaan atas kekosongan. Ia tidak sedang menawarkan keindahan yang memanjakan mata, melainkan sebuah cermin retak yang memaksa kita bertanya: jika seluruh atribut duniawi kita ditanggalkan, apa sebenarnya yang tersisa dari diri kita selain lubang-lubang yang menganga?

​Lubang dalam karya Ariwur bukan sekadar ketiadaan pigmen di atas kanvas, melainkan pusat gravitasi filosofis. Ariwur tampak sedang melakukan satire terhadap cara kita berkomunikasi hari ini. Di era di mana validasi ditentukan oleh seberapa viral sebuah konten, kebenaran pun mengalami penyusutan makna menjadi sekadar masalah suka atau tidak suka. Ia menyindir fenomena di mana orang-orang begitu gemar bereproduksi di dalam benak tanpa memiliki kearifan untuk memahami pikiran mereka sendiri. Maka, sosok-sosok dalam lukisan Elegi ditampilkan dengan tubuh yang bolong, seolah ingin mengatakan bahwa kemajuan teknologi informasi yang kita banggakan sebenarnya hanyalah panggung narsistik yang membuat jiwa kita semakin keropos. Ada komedi tragis di sini; kita merasa semakin terhubung secara digital, namun secara eksistensial kita hanya sekumpulan tameng yang saling berbenturan dan saling meninggalkan luka.

Berfoto bersama pelukisnya

​Menariknya, Ariwur memilih untuk menguratori pamerannya sendiri dengan sikap yang ia sebut sebagai suka-suka. Ini sebuah pemberontakan halus terhadap pakem dunia seni rupa yang sering terjebak dalam birokrasi wacana yang kaku. Dengan memosisikan diri sebagai kurator atas keresahannya sendiri, ia menjaga agar proses kreatifnya tidak terpasung oleh ekspektasi publik atau pasar. Pemilihan warna biru yang mendominasi pameran menjadi sangat krusial. Ariwur menyebut biru tidak memiliki hubungan filosofis yang saklek selain sebagai penentu suasana hati, namun ia juga mengakui biru simbol ilusi. Sebuah pilihan jenius sekaligus sinis. Biru dalam Elegi adalah biru yang dingin, biru yang menjebak kita dalam ilusi kedamaian, padahal di baliknya tersimpan kekalahan-kekalahan manusia yang sering dianggap eksternal namun sebenarnya sangat personal.

​Bicara soal kekalahan, pameran ini membawa pesan spiritualitas yang sangat membumi, spiritualitas yang tidak selesai hanya dengan ritual, melainkan proses yang berlangsung sampai mati. Ariwur mengeksplorasi konsep kalah dengan cara yang tidak lazim. Baginya, dalam proses kreatif tidak ada istilah kalah menang. Kekalahan hanya konstruksi pikiran yang muncul saat kita mulai membandingkan diri dengan orang lain. Sosok-sosok dalam karyanya adalah representasi jiwa yang berusaha menjelaskan dirinya tanpa embel-embel jabatan, status sosial, atau pencapaian. Ketika dunia menuntut kita untuk terus membangun identitas yang kokoh dan mengkilap, Ariwur justru mengajak kita untuk mengakui kerapuhan kita. Ini bukan melawan arus, melainkan sebuah jawaban jujur atas tantangan zaman yang semakin gila akan identitas semu.

​Kehadiran ikon mata yang tersebar di berbagai sudut lukisannya menambah lapisan misteri sekaligus satire. Saat ditanya, ia menjawab dengan santai bahwa: “Tuhan ada di mana-mana,” dan penempatan mata itu hanya soal suasana hati. Namun, jika kita melihat lebih dalam, mata-mata itu seolah menjadi saksi bisu atas kebodohan sekaligus kepintaran spesies manusia. Kita cukup pintar untuk menciptakan peradaban yang rumit, namun cukup bodoh untuk terjebak dalam penderitaan yang kita buat sendiri. Mata-mata tersebut seakan menertawakan usaha keras kita untuk tampil sempurna di permukaan, sementara di bawahnya, kita semua sedang berjuang dengan lubang-lubang yang sama. Ada sisi spiritual yang sangat privat di sini, di mana Tuhan tidak ditampilkan sebagai sosok yang menghakimi, melainkan sebagai kehadiran yang sekadar melihat tanpa suara di tengah kesunyian jiwa yang lara.

​Keputusan Ariwur untuk mulai muncul ke permukaan setelah sekian lama menjaga jarak dengan hiruk-pikuk media sosial juga menjadi bagian dari narasi pameran ini. Ia tidak lagi melihat dunia digital sebagai musuh, melainkan sebagai medan tempat setiap orang berhak bicara. Namun, ia tetap menekankan pentingnya kemampuan untuk menyelam. Ironinya, sebagian besar dari kita terlalu takut untuk menyelam karena di kedalaman itulah kita akan bertemu dengan lubang-lubang jiwa yang selama ini kita tutupi dengan filter dan status bahagia. Pameran Elegi adalah momen di mana Ariwur memilih untuk melihat permukaan, namun dengan tetap membawa sisa-sisa kegelapan dari kedalaman yang pernah ia jelajahi. Ini adalah keseimbangan yang sulit, sebuah manajemen waktu dan emosi yang ia akui dilakukan secara sederhana, namun dampaknya terasa sangat kuat dalam setiap goresan kuasnya.

​Konsistensi dalam berkarya sering kali menjadi hantu menakutkan bagi banyak seniman, namun bagi Ariwur, konsistensi bukan soal produktivitas mekanis, melainkan soal menjaga pondasi niat. Ada semacam kejujuran yang menggelitik ketika ia mengakui bahwa ia pun pernah terjebak dalam pertanyaan eksistensial yang klise: Mengapa saya menggambar? Namun, alih-alih mencari jawaban muluk melalui teori seni, ia justru membiarkan pertanyaan itu menguap dan kembali ke kanvas. Di sinilah letak antitesis yang ia bangun. Ariwur seolah menjadi pengrajin kesunyian yang tidak butuh idola atau pemujaan pada sosok tertentu. Meski ia menyadari bahwa karya seni memiliki daya sinergi yang tak bisa dilepas dari peran orang lain, ia tetap memilih untuk tidak memiliki “tuhan” dalam bentuk idola seni. Ini adalah bentuk kemandirian estetika yang cukup berani di tengah komunitas seni yang sering terjebak pada pengkultusan gaya atau tokoh tertentu.

​Ironi lain yang muncul dalam pameran Elegi adalah bagaimana Ariwur memandang kebuntuan kreatif. Bagi kebanyakan orang, buntu adalah kegagalan, sebuah tembok besar yang harus diruntuhkan dengan kerja keras. Namun bagi Ariwur, solusi atas kebuntuan adalah tidur atau pindah kanvas. Ini sebuah satire halus terhadap budaya hustle yang menuntut manusia untuk terus memeras otak demi hasil instan. Ia percaya bahwa karya yang lahir dari hati tidak bisa dipaksa. Sebuah karya baru dikatakan selesai bukan ketika teknisnya sempurna, melainkan ketika sang perupa sudah merasa mentok namun tidak lagi merasakan kegelisahan. Selesai, bagi Ariwur, adalah pencapaian emosional, bukan sekadar garis terakhir yang ditarik. Di titik ini, kita melihat bahwa Elegi tidak hanya tentang kesedihan, tapi tentang penerimaan terhadap keterbatasan diri sebagai manusia.

​Komunitas pun dipandang dengan cara yang unik oleh Ariwur. Ia tidak menafikan pentingnya komunitas, namun ia juga tidak ingin tenggelam di dalamnya sampai kehilangan identitas selamnya. Ada masa di mana ia merasa perlu hadir di permukaan, seperti dalam pameran ini, namun ada pula masa di mana ia harus menghilang ke kedalaman subyektifitasnya sendiri. Sikap menjaga jarak ini sering dianggap sebagai bentuk kesombongan atau ketertutupan, padahal itu mekanisme pertahanan jiwa agar tetap stabil. Ia sadar betul bahwa masyarakat tidak harus memberi dukungan pada setiap langkahnya, dan ia tidak merasa terbebani oleh itu. Sikap bodo amat yang elegan justru membuat karyanya terasa lebih murni, karena ia tidak sedang melukis untuk menyenangkan siapa pun kecuali untuk menjawab tantangan zaman yang menuntut jawaban atas identitas yang hilang.

​Jika kita menilik kembali pada simbol lubang yang menjadi benang merah seluruh karya, kita akan menemukan sebuah ironi puitis. Lubang biasanya diidentikkan dengan sesuatu yang harus ditutup atau diperbaiki. Namun dalam pandangan Ariwur, lubang adalah bagian dari keindahan itu sendiri. Ia merasa lebih nyaman jika ada lubangnya. Ini sebuah antitesis terhadap konsep keutuhan yang selama ini diagung-agungkan. Manusia utuh, dalam perspektif Elegi, mungkin justru manusia yang paling palsu karena ia menyembunyikan retakan-retakan jiwanya di balik topeng kesempurnaan. Melalui sembilan lukisan ini, kita diajak untuk melihat bahwa menjadi berlubang, menjadi kalah, dan menjadi sunyi adalah bagian dari perjalanan spiritual yang tak pernah selesai sampai mati.

​Pameran Elegi adalah sebuah undangan bagi kita untuk berhenti sejenak dari kegilaan dunia yang serba cepat dan serba digital. Ariwur, dengan segala kesederhanaan bicaranya, telah berhasil menciptakan sebuah ruang di mana kegelisahan diubah menjadi keindahan yang sunyi. Ia membuktikan bahwa untuk menjawab tantangan zaman, kita tidak perlu selalu berteriak di garis depan. Terkadang, kita hanya perlu diam, menyelam ke dalam lubang jiwa kita sendiri, dan berani menunjukkan bahwa di balik raga yang bertameng, ada jiwa yang memilih telanjang. Elegi di Kopi Parang bukan sekadar perayaan kesedihan, melainkan perayaan atas keberanian untuk tetap menjadi manusia di tengah dunia yang semakin kehilangan kemanusiaannya.***

Yuditeha: Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Berikut Sembilan Lukisan Ariwur.

Buku, Resensi

Mengintip Luka-Luka di Sekitar Kita

Oleh Yuditeha

Judul Buku : Petaka, Kenangan, dan Cerita Lain

Penulis : Kelas Menulis Intensif Klub Buku Suakata 2025

Penerbit : Penerbit Meja Tamu

Cetakan : Januari 2026

Halaman : x+106 hlm, 14×20 cm

ISBN : 978-623-854-290-1

Ada sesuatu yang menarik ketika sebelas orang menulis cerita dari ruang yang sama, kelas menulis, tetapi menghasilkan sebelas arah kegelisahan yang berbeda. Antologi Petaka, Kenangan, dan Cerita Lain (Penerbit Meja Tamu, Januari 2026) seperti kumpulan serpihan kaca, yang masing-masing kecil tetapi jika dikumpulkan ia memantulkan wajah masyarakat dengan cukup jujur, bahkan agak menyakitkan. Yang terasa sejak awal, buku ini memang berupaya untuk jujur. Dan kejujuran dalam sastra sering kali memang tidak nyaman.

Cerpen pembuka Petaka Sarung karya Melati Puspita Febriyanti memotret salah satu ritual paling lazim dalam dunia remaja lelaki, solidaritas palsu yang sering lahir dari ejekan. Evan adalah tipe anak yang mudah ditemukan di banyak sekolah, tidak cukup kuat untuk dihormati, tidak cukup berani untuk melawan, sehingga menjadi sasaran empuk humor yang sebenarnya kejam. Melati tidak menggurui pembaca tentang tawuran remaja. Ia hanya memperlihatkan bagaimana solidaritas sering muncul setelah kematian, ketika penyesalan sudah tidak punya guna. Yang terasa pahit justru sikap teman-teman Evan yang tiba-tiba berubah menjadi pahlawan setelah Devan mati. Dalam cerpen ini, tawuran bukan lagi soal keberanian, melainkan soal bagaimana rasa bersalah kolektif mencari kambing hitam baru. Evan akhirnya bukan sekadar korban polisi, tetapi korban dari kebutuhan orang lain untuk merasa berani.

Cerpen kedua, Dia Tidak Lagi Melenggok karya Angelina Regina Wawo, terasa seperti pisau yang diarahkan pada maskulinitas yang rapuh. Tokoh Wiryo ingin membuktikan dirinya laki-laki tangguh melalui anaknya, Wiro. Masalahnya sederhana sekaligus tragis: Wiro tidak tertarik menjadi lelaki versi ayahnya. Di tangan Angelina, konflik ini tidak ditulis sebagai drama keluarga biasa, tetapi sebagai warisan trauma. Ada masa lalu yang diam-diam mengendap dalam diri Wiryo, sebuah pengalaman yang membuatnya merasa harus terus membuktikan dirinya lelaki sejati. Cerpen ini seperti mengingatkan bahwa sebagian besar kekerasan terhadap identitas sebenarnya lahir dari rasa takut yang tidak pernah diakui. Wiryo bukan sekadar ayah yang keras; ia adalah lelaki yang sepanjang hidup berusaha melarikan diri dari bayangannya sendiri.

Tema benturan individu dan sistem muncul dalam Anak dari Pabrik dan Sungai karya Farah Iqlillah Arifri. Sungai Brantas dalam cerita ini bukan hanya sungai; ia adalah ingatan masa kecil yang pelan-pelan berubah menjadi limbah. Jojo pulang dengan idealisme yang masih bersih, tetapi desa sudah belajar cara lain untuk bertahan hidup: diam. Yang membuat cerpen ini menarik bukan aksi protes Jojo, melainkan kesunyian yang mengelilinginya. Orang-orang tahu sungai itu rusak, tetapi mereka juga tahu dapur harus tetap menyala. Farah menulis konflik klasik pembangunan: siapa sebenarnya yang berhak marah ketika kerusakan lingkungan juga memberi makan banyak keluarga? Di sini, keberanian Jojo terasa heroik sekaligus naif, dan justru di situlah daya pukul cerpen ini.

Rosul Jaya Raya dalam Kemarin, memilih teknik yang cukup berisiko, menggunakan sudut pandang orang kedua, kamu. Teknik ini menciptakan jarak yang aneh sekaligus intim. Pembaca seolah didorong masuk ke dalam kepala seorang lelaki yang hidupnya diatur oleh keputusan orang lain, ibunya, pekerjaannya, bahkan rasa penyesalannya sendiri. Cerpen ini menguliti satu hal yang sering tidak dibicarakan: bagaimana stabilitas hidup kadang dibayar dengan kematian mimpi. Tokoh kamu akhirnya mendapatkan hidup yang mapan, tetapi kehilangan sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli kembali, kemungkinan. Rosul tampaknya ingin mengatakan bahwa kegilaan tidak selalu datang dari kekacauan; kadang ia tumbuh dari hidup yang terlalu mulus.

Nada satir mulai terasa kuat dalam Seperti Bermain Catur karya Satria A. Ramadhan. Cerpen ini memotret ambisi politik tingkat desa dengan cara yang hampir komikal. Hamzah percaya bahwa jabatan kepala desa bisa diraih seperti langkah catur, cukup dengan strategi dan sedikit bantuan supranatural. Satria tampaknya sedang menertawakan kebiasaan lama dalam politik lokal: keyakinan bahwa kekuasaan bisa dinegosiasikan dengan dunia gaib. Pertemuan Hamzah dengan Mbah Kholik menjadi semacam alegori tentang cara orang mencari jalan pintas menuju kekuasaan. Ironinya, ketika Hamzah kalah, ia masih menyalahkan dukun, bukan dirinya sendiri. Di sinilah cerpen ini terasa tajam: kegagalan tidak pernah benar-benar mengajarkan sesuatu kepada orang yang terlalu yakin dirinya pantas menang.

Sementara itu, Akhmad Gerrard Efrad dalam Sehari Bersama Burna, menulis cerita yang terasa sangat kontemporer: kegagalan ekonomi anak muda. Alif bukan kriminal besar; ia hanya seseorang yang salah memperhitungkan masa depan. Utang yang membesar membuatnya hidup dalam ketakutan yang hampir absurd. Gerrard berhasil membangun suasana psikologis yang membuat pembaca merasa bahwa utang bukan hanya angka, melainkan tekanan yang terus menempel di kepala seseorang. Yang menarik, tokoh Pak Burna tidak digambarkan sekadar antagonis. Ia lebih mirip simbol dari sistem yang dingin, utang harus dibayar, apa pun keadaan manusianya.

Ketika sampai pada cerpen ketujuh, nada antologi ini berubah sedikit lebih kontemplatif, bahkan agak surealis. Gerundelan Patung Gajah karya M. Alvin Sanah adalah cerita yang diam-diam menguji kesabaran pembaca. Tokoh aku dalam cerpen ini bukan manusia, melainkan sebuah patung gajah di taman kota. Pilihan perspektif ini bisa saja jatuh menjadi gimmick semata, tetapi Alvin memanfaatkannya untuk berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam, nasib benda-benda yang pernah diagungkan lalu dilupakan. Patung gajah itu pada mulanya menjadi simbol kebanggaan, lalu pelan-pelan berubah menjadi latar yang tak lagi diperhatikan. Cerita ini terasa seperti sindiran halus terhadap cara masyarakat memperlakukan simbol-simbol publik. Kita gemar meresmikan sesuatu, memotretnya, memujinya, lalu meninggalkannya ketika hal baru datang. Yang menarik, hubungan antara patung itu dan seorang gadis kecil menghadirkan dimensi lain, ingatan ternyata bisa menjadi jembatan yang lebih kuat daripada waktu. Di sini Alvin tampaknya sedang berkata bahwa sesuatu baru benar-benar mati ketika tidak ada lagi yang mengingatnya.

Dalam Ra Sa Ma, Allan Edpe menulis cerita keluarga yang diam-diam menyimpan perlawanan kecil. Nama, dalam cerpen ini, bukan sekadar penanda identitas; ia menjadi medan konflik. Tradisi keluarga yang mengharuskan awalan nama tertentu, Ra, Sa, atau Ma, pada awalnya terlihat sebagai hal remeh. Namun Allan memperlihatkan bagaimana aturan kecil dalam keluarga bisa menjadi bentuk kontrol yang sangat kuat. Ketika Ratih menamai anaknya dengan awalan yang berbeda, itu bukan sekadar pilihan nama. Itu adalah bentuk protes yang sunyi tetapi tajam terhadap sejarah hidupnya sendiri. Cerpen ini menarik karena tidak menampilkan pemberontakan yang dramatis. Ratih tidak berteriak, tidak melawan secara terbuka. Ia hanya memilih sebuah huruf. Dan huruf itu ternyata cukup untuk mengganggu tradisi yang selama ini dianggap tak tergoyahkan. Dalam kesederhanaannya, cerpen ini mengingatkan bahwa perlawanan tidak selalu harus besar; kadang ia cukup berupa keputusan kecil yang sengaja tidak mengikuti aturan lama.

Cerpen kesembilan, Perihal Dua Orang Asing karya Abu Wafa, membawa pembaca ke dunia rumor desa yang sering kali lebih kuat daripada fakta. Cerita ini bergerak dari kabar kecil tentang pembangunan jembatan layang yang kemudian berkembang menjadi kegaduhan kolektif. Yang menarik di sini bukan soal pembangunan itu sendiri, melainkan bagaimana warga memproduksi kepanikan mereka sendiri. Tokoh Pak Darkam menjadi contoh figur yang sering muncul dalam dinamika sosial: seseorang yang merasa mewakili suara rakyat, padahal sebenarnya sedang memanfaatkan kegelisahan orang lain. Abu Wafa menulis dengan cara yang cerdik; ia tidak secara langsung menghakimi siapa yang benar atau salah. Namun pada akhir cerita, pembaca disodori momen yang menggelitik sekaligus sinis: seseorang yang paling lantang bicara justru dengan mudah diarahkan menuju masalah hukum. Cerpen ini terasa seperti komentar kecil tentang politik lokal, tentang bagaimana suara rakyat sering kali hanya menjadi alat bagi ambisi individu.

Nada tragis kembali muncul dalam Ibu Muda karya Mufa Rizal. Cerpen ini menyingkap realitas yang sering disembunyikan di balik statistik: kehamilan remaja. Mufa tidak menulisnya dengan gaya sentimental; ia memilih pendekatan yang hampir dingin. Ratri digambarkan sebagai gadis yang mencoba memahami tubuhnya sendiri dalam situasi yang tidak pernah ia bayangkan. Ketika ia berusaha menggugurkan kandungan, atau memaksa tubuhnya melakukan sesuatu yang tidak diinginkan, pembaca tidak diajak untuk menghakimi. Justru di situlah kekuatan cerpen ini: ia memaksa kita melihat bagaimana kepanikan seorang remaja bisa berubah menjadi keputusan-keputusan yang sangat berbahaya. Cerpen ini terasa menohok karena tidak menyalahkan siapa pun secara eksplisit, tetapi meninggalkan pertanyaan besar tentang sistem sosial yang membuat seorang gadis harus menghadapi peristiwa sebesar itu sendirian.

Cerpen terakhir, Kenangan di Balongcangkring karya AH Baskoro, menutup antologi ini dengan nada yang paling muram sekaligus paling puitis. Tokoh Nadia adalah perempuan yang hidup di ruang yang sering dianggap gelap oleh masyarakat: lokalisasi. Namun Baskoro tidak menulisnya sebagai kisah moralitas. Ia justru menempatkan Nadia sebagai seseorang yang memiliki kenangan, harapan, dan luka yang sangat manusiawi. Balongcangkring dalam cerita ini lebih dari sekadar tempat, ia menjadi lanskap kehidupan yang penuh janji kosong. Sosok Indra, pejabat yang rajin memberi harapan tanpa pernah menepatinya, terasa seperti simbol kekuasaan yang gemar menjanjikan penyelamatan tetapi selalu menunda realisasinya. Bagian mimpi Nadia, tentang rawa tempat tubuh-tubuh perempuan muncul tanpa rasa malu, memberi sentuhan surealis yang menarik. Seolah-olah dalam mimpi itulah perempuan-perempuan itu akhirnya bebas dari penilaian dunia luar.

Jika ditarik satu langkah ke belakang, sebelas cerpen dalam buku ini sebenarnya sedang berbicara tentang hal yang sama, kekuasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Kekuasaan teman sebaya yang mendorong seseorang ikut tawuran. Kekuasaan seorang ayah terhadap identitas anaknya. Kekuasaan industri terhadap sungai. Kekuasaan tradisi terhadap nama. Kekuasaan utang terhadap kebebasan hidup. Kekuasaan rumor terhadap warga desa. Kekuasaan moral masyarakat terhadap tubuh perempuan. Yang menarik, sebagian besar kekuasaan itu tidak muncul sebagai sesuatu yang besar dan spektakuler. Ia justru hadir dalam bentuk yang sangat biasa: ejekan, tradisi keluarga, janji politik, atau bahkan diamnya orang-orang di sekitar kita.

Dalam konteks itu, judul antologi ini terasa cukup tepat, petaka dan kenangan. Petaka tidak selalu datang sebagai tragedi besar, kadang ia lahir dari keputusan kecil yang terus dibiarkan. Sedangkan kenangan, baik atau buruk, sering menjadi satu-satunya cara manusia memahami apa yang sudah terjadi.

Yang membuat buku ini menarik bukan karena semua cerpennya memikat. Justru sebaliknya. Ada bagian-bagian yang terasa masih mentah, ada ide yang bisa digali lebih dalam. Namun di situlah daya tariknya sebagai karya yang lahir dari kelas menulis. Kita bisa melihat bagaimana sebelas penulis mencoba memotret dunia dari sudut pandang mereka masing-masing. Dari sebelas sudut pandang itu muncul satu kesan yang sulit diabaikan: masyarakat kita tampaknya penuh dengan cerita yang tampak kecil, tetapi menyimpan luka yang tidak kecil sama sekali.

Buku ini, dengan cara yang sederhana, mengingatkan kita bahwa sastra kadang tidak perlu mencari tragedi jauh-jauh. Ia cukup membuka jendela rumah, mendengarkan percakapan tetangga, lalu menuliskannya dengan jujur. Karena sering kali, luka-luka memang tinggal di dekat kita.***

Yuditeha

Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Puisi

Puisi Yanuar Abdillah Setiadi

Buku-Buku Tertawa

Melihat seorang penulis

tertidur kalah bertarung

dengan deadline

yang meninjunya hingga terkapar.

Semoga penulis yang budiman itu

bisa bangkit lagi keesokan harinya.

Purbalingga, Januari 2026

_____________________

Berita Pagi Ini

Seorang penulis ditemukan

tidak sadarkan diri di kantornya

setelah menelan ratusan pil puisi.

Diperkirakan ia meninggal

karena overdosis cinta, harapan

dan imajinasi.

Semoga di kehidupan

selanjutnya ia bisa lebih bijak

dalam mengonsumsi puisi.

Purbalingga, Januari 2026

__________________________

Tahun Baru

Ingat nasihat

kalender di akhir tahun

lalu

“Hidup harus terus berjalan”

gagal, tangis, duka, suka, tawa,

gelak, cinta, senang, riang

adalah musim yang silih berganti

dalam hidupmu.

Selamat hidup kembali

Selamat menikmati

Semoga saling asyik-mengasyiki.

Purbalingga, Januari 2026

__________________________

Rimba

Tidak ada yang lebih berbahaya

dari belantara kata

yang diciptakan oleh imajinasi

seorang penulis yang membuat

pembaca tersesat di

dalam sajaknya untuk

selama-lamanya!

Purbalingga, Januari 2026

________________________

IPK

Aku hanyalah

angka-angka

bisu yang

tidak bisa

bicara pada

proses interview.

Purbalingga, Januari 2026

__________________________

Anak Sulung

Tiang pemecah

gelombang yang harus

tetap gagah

meski

badai menghantamnya

ribuan kali.

Purbalingga, Januari 2026

_________________________

Yanuar Abdillah Setiadi

Lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Dua buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023) dan Melihat Lebih Dekat (2024).  Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023.  Buku terbarunya Wajah Purwokerto: Antara Cinta, Suka dan Duka di Kota Satria (Penerbit Kolofon Yogyakarta,2025) Instagram: @yanuarabdillahsetiadi.

Film, Resensi

Elegi di Balik Jendela: Saat Kehilangan Menjadi Bahasa Cinta yang Baru

Oleh: T.H. Hari Sucahyo

Judul Film: Hamnet

Tahun Rilis: 2025

Sutradara: Chloé Zhao

Penulis Skenario: Chloé Zhao (adaptasi dari novel Hamnet karya Maggie O’Farrell)

Produser: Sam Mendes, Pippa Harris, Steven Spielberg, Liza Marshall, Nicolas Gonda  

Pemeran Utama: Paul Mescal sebagai William Shakespeare, Jessie Buckley sebagai Agnes Hathaway

Durasi: ± 130 menit

Rumah Produksi: Amblin Partners

Film Hamnet (2025) hadir sebagai pengalaman sinematik yang lebih dekat dengan perenungan daripada tontonan konvensional. Ia tidak bergerak cepat, tidak mengejar klimaks demi klimaks, dan tidak menawarkan jawaban yang gamblang. Sebaliknya, film ini mengajak penonton untuk berjalan perlahan menyusuri ruang-ruang batin yang dipenuhi cinta, kehilangan, dan pencarian makna melalui seni. Terinspirasi dari novel Maggie O’Farrell, Hamnet tidak sekadar mengisahkan tragedi kematian seorang anak, tetapi menjadikannya poros emosional yang menggerakkan refleksi tentang bagaimana manusia bertahan setelah kehilangan yang paling sunyi dan paling menyayat.

Sejak awal, film ini menempatkan cinta sebagai sesuatu yang rapuh namun mengakar kuat. Cinta dalam Hamnet bukanlah cinta yang meledak-ledak atau romantis dalam pengertian populer, melainkan cinta domestik yang tumbuh dari keseharian: tatapan yang saling memahami, kebiasaan-kebiasaan kecil yang tampak sepele, dan kehadiran yang sering baru terasa ketika ia lenyap. Hubungan antara suami dan istri digambarkan sebagai dua jiwa yang saling terikat namun juga terpisah oleh dunia batin masing-masing. Ada kedekatan, tetapi juga jarak; ada kehangatan, tetapi juga kesunyian yang tak terucap. Film ini dengan lembut menunjukkan bahwa cinta tidak selalu berarti kebersamaan yang utuh, melainkan kesediaan untuk hidup berdampingan dengan ketidaksempurnaan dan keterpisahan.

Kematian hadir sebagai bayang-bayang yang tak pernah benar-benar pergi. Ia tidak datang dengan teriakan dramatis atau visual yang mengejutkan, melainkan merayap perlahan, hampir tak disadari, hingga akhirnya menetap sebagai kekosongan yang permanen. Ketika kehilangan itu terjadi, film ini tidak tergesa-gesa menggambarkan ledakan emosi. Tidak ada ratapan berlebihan atau musik yang memaksa penonton untuk menangis. Yang ada justru keheningan panjang, jeda-jeda yang terasa canggung, dan ruang kosong yang membuat penonton ikut merasakan kebisuan batin para tokohnya. Dalam keheningan itulah, kematian menjadi sangat nyata: bukan sebagai peristiwa tunggal, melainkan sebagai kondisi yang terus hidup bersama mereka yang ditinggalkan.

Yang membuat Hamnet terasa istimewa adalah caranya memperlakukan duka sebagai pengalaman yang personal dan tak terstandarkan. Setiap tokoh memikul kehilangan dengan cara yang berbeda. Ada yang menutup diri, ada yang mencari pelarian, ada pula yang mencoba menamai rasa sakitnya melalui bahasa dan imajinasi. Film ini tidak menghakimi cara-cara tersebut, tidak pula memaksakan satu bentuk penyembuhan yang dianggap benar. Duka digambarkan sebagai proses yang berlapis, kadang bergerak maju, kadang kembali mundur, dan sering kali terjebak di tempat yang sama. Penonton diajak memahami bahwa kehilangan tidak pernah benar-benar selesai; ia hanya berubah bentuk.

Di titik inilah seni masuk sebagai jembatan antara cinta dan kematian. Hamnet memandang seni bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai kebutuhan eksistensial. Seni hadir sebagai cara manusia memberi makna pada penderitaan yang tak terjelaskan. Dalam film ini, proses kreatif digambarkan sebagai pergulatan batin yang panjang dan melelahkan, bukan sebagai ledakan inspirasi yang romantis. Kata-kata lahir dari kesunyian, dari rasa bersalah, dari kerinduan yang tak menemukan alamat. Seni menjadi ruang di mana kehilangan diolah, diputar ulang, dan diberi bentuk, agar dapat ditanggung.

Film ini juga jujur menunjukkan ambiguitas seni. Di satu sisi, seni menawarkan pelipur lara dan kemungkinan keabadian. Di sisi lain, ia menuntut pengorbanan: waktu, perhatian, bahkan hubungan dengan orang-orang terdekat. Ada ketegangan halus antara dorongan untuk mencipta dan kebutuhan untuk hadir bagi keluarga yang terluka. Hamnet tidak memihak secara sederhana. Ia tidak mengagungkan seniman sebagai pahlawan, tetapi juga tidak menuduh seni sebagai bentuk pelarian egois. Ketegangan itu dibiarkan menggantung, seperti pertanyaan yang tidak memiliki jawaban tunggal.

Secara visual, film ini memilih pendekatan yang kontemplatif. Kamera sering bertahan lebih lama dari yang diharapkan, seolah memberi ruang bagi penonton untuk bernapas dan merasakan. Lanskap alam, cahaya yang masuk melalui jendela, dan detail-detail kecil kehidupan sehari-hari ditampilkan dengan perhatian yang hampir meditatif. Semua itu membangun suasana yang intim, sekaligus menegaskan hubungan antara manusia dan dunia di sekitarnya. Alam tidak digambarkan sebagai latar pasif, melainkan sebagai saksi bisu atas cinta dan kehilangan yang terjadi di dalam rumah-rumah manusia.

Ritme film yang lambat mungkin menjadi tantangan bagi sebagian penonton. Hamnet menuntut kesabaran dan keterlibatan emosional yang aktif. Ia tidak memberi pegangan naratif yang kuat dalam bentuk konflik eksternal yang jelas. Sebaliknya, konflik utama berlangsung di dalam diri para tokohnya. Namun, justru di situlah kekuatan film ini. Dengan menolak kemudahan dramatik, Hamnet memberi ruang bagi pengalaman menonton yang lebih reflektif, di mana penonton diajak untuk berdiam, merenung, dan mungkin mengaitkan kisah di layar dengan kehilangan mereka sendiri.

Narasi film ini terasa seperti aliran ingatan, tidak selalu linear, kadang meloncat dari satu momen ke momen lain dengan logika emosional, bukan kronologis. Pilihan ini memperkuat kesan bahwa duka dan cinta bekerja dengan cara yang tidak teratur. Masa lalu dan masa kini saling tumpang tindih, kenangan hadir tiba-tiba, dan waktu kehilangan batas yang jelas. Film ini seolah berkata bahwa setelah kehilangan besar, hidup tidak lagi berjalan lurus; ia berputar, berkelok, dan sering kembali ke titik-titik yang sama.

Yang menarik, Hamnet juga memberi ruang besar pada perspektif perempuan dan pengalaman domestik yang sering terpinggirkan dalam narasi besar tentang seni dan kejeniusan. Kehidupan rumah tangga, kerja-kerja perawatan, dan pengetahuan intuitif tentang alam dan tubuh tidak diposisikan sebagai latar belakang semata, melainkan sebagai pusat pengalaman manusia. Film ini dengan halus menantang anggapan bahwa seni besar lahir dari ruang yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa justru dari dapur, kebun, dan kamar tidur, lahir pemahaman paling mendalam tentang cinta dan kehilangan.

Emosi dalam Hamnet tidak pernah dipaksakan. Banyak momen penting disampaikan melalui gestur kecil: tangan yang ragu-ragu, tatapan yang menghindar, napas yang tertahan. Dialog digunakan dengan hemat, memberi kesempatan bagi bahasa tubuh dan suasana untuk berbicara. Pendekatan ini membuat emosi terasa lebih jujur dan dekat. Penonton tidak diberi tahu apa yang harus dirasakan; mereka diajak untuk merasakannya sendiri.

Sebagai resensi, sulit untuk menilai Hamnet hanya dari aspek teknis atau alur cerita. Kekuatan film ini terletak pada resonansi emosionalnya, pada kemampuannya untuk tinggal bersama penonton bahkan setelah layar menjadi gelap. Ia mungkin tidak akan diingat karena plotnya yang rumit atau twist yang mengejutkan, tetapi karena suasana dan pertanyaan-pertanyaan yang ditinggalkannya. Pertanyaan tentang bagaimana kita mencintai, bagaimana kita menghadapi kematian, dan bagaimana kita menggunakan seni untuk bertahan hidup.

Hamnet adalah film tentang ketidakhadiran: tentang anak yang hilang, tentang kata-kata yang tak terucap, tentang jarak yang tumbuh di antara orang-orang yang saling mencintai. Namun, dari ketidakhadiran itu, film ini justru menemukan bentuk kehadiran yang lain. Kehadiran ingatan, kehadiran rasa sakit, dan kehadiran seni sebagai upaya manusia untuk memberi makna pada apa yang tak dapat diubah. Ia mengingatkan kita bahwa cinta tidak berhenti ketika kematian datang, dan bahwa seni, meskipun lahir dari luka, dapat menjadi cara untuk terus berbicara dengan mereka yang telah pergi.

Dengan pendekatan yang lembut, puitis, dan penuh empati, Hamnet (2025) menempatkan dirinya sebagai film yang tidak hanya ingin ditonton, tetapi juga dirasakan. Ia bukan film yang akan memuaskan semua orang, terutama mereka yang mencari hiburan cepat dan jawaban tegas. Namun bagi penonton yang bersedia meluangkan waktu dan hati, Hamnet menawarkan pengalaman sinematik yang jarang: sebuah perenungan mendalam tentang cinta, kematian, dan seni, yang terjalin dalam keheningan, dan justru karena itu, terasa begitu manusiawi.

_______________________

T.H. Hari Sucahyo. Penikmat Film Layar Kaca dan Layar Lebar.  Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”