Cerpen Drew Andre A. Martin

“Perhatikan mereka,” bisik Maria ke telingaku dengan bola matanya melihat seseorang yang dibicarakan. Mendengarnya, aku terkekeh seraya menelangkupkan telapak tangan ke bibirku. “Benar, kan?!” Kembali Maria berucap dengan cukup lantang dan percaya diri, sembari kami melanjutkan perjalanan.
Kalina, namaku. Sedangkan Maria, temanku sejak kami balita. Usia kami tak terpaut tahun. Aku, lahir di bulan Mei, sedangkan Maria di bulan Desember. Berbeda dengan usia kami yang terpaut jauh oleh bulan, nasib kami amat sama. Aku bekerja sebagai penyemir sepatu dan pelukis jalanan. Sedangkan Maria, pengamen. Rute jalan menuju kantor—salah satu cara kami mencintai nasib—berlawanan arah saat sampai di perempatan jalan. Maria, ke arah barat. Sedangkan aku ke timur.
Menjadi penyemir sepatu bukanlah perkara mudah di akhir-akhir ini. Orang-orang beralih dari sepatu kulit ke sepatu canvas. Kadang juga, satu per satu langgananku, mulai menyemir sepatunya sendiri di rumah, apalagi harga semir tak begitu mahal akibat turunnya peminat. Karenanya, aku mencoba menjadi pelukis jalanan. Biasanya aku pergi ke kantor hanya membawa sikat sepatu dan semir, sekarang aku juga membawa peralatan lukis di dalam tasku. Sempat terpikir olehku, untuk melukis gambar di sepatu-sepatu canvas, mungkin nanti.
Sesampainya di kantorku—tempat biasa aku berhenti untuk menawarkan jasa semir sepatu dan melukis—seorang laki-laki yang kutaksir usianya empat puluhan, menghampiriku. Bertanya dia. “Mbaknya sudah nggak nyemir lagi?”
“Masih, Pak.”
“Tolong semirkan sepatu saya.”
“Silakan duduk di sini, Pak.”
Bapak itu duduk. Bersandar dia di tempat duduknya. Sepatu yang dikenakannya bertumpu ke kursi kecil. Sengaja kupersiapkan agar sepatu tak perlu dilepas.
“Kamu melukis juga?” tanya bapak itu dengan matanya yang terfokus di layar ponselnya.
“Iya, Pak,” jawabku sembari tetap fokus menyemir. “Kalau Bapak mau, saya bisa melukis sesuai keinginan Bapak.” Berharap, si bapak tersebut mengiyakan.
“Boleh, tapi …” Sebentar dia, melihat arloji di lengan kirinya. “Ah, tidak masalah. Untuk harga, murah, ‘kan?”
“Bagi Bapak, tentulah murah,” jawabku setelah menyelesaikan pekerjaan menyemir sepatunya, sembari mendongakkan kepala dan tersenyum.
“Berapa?”
Kedua matanya nyaris keluar saat melihat daftar harga melukisku. Seolah ada yang salah soal harga. Kujawab, tentulah tidak, Pak. Itu sudah benar.
“Terlalu mahal kurasa dengan harga lima belas ribu, nyaris sepadan dengan harga jasa semir sepatumu.”
“Itu sangat murah bagi Bapak.” Tak lupa aku memuji penampilannya dengan sangat baik di hari ini. Kata Maria, aku harus melakukan pujian, karena orang-orang yang berada tak seperti kami, amatlah suka bila diberi pujian, apalagi dibesarkan segala kebaikannya, meski sebenarnya tak baik.
Menurut Maria, hanya itu yang bisa membuat mereka membeli apa yang sebenarnya tak ingin mereka beli. Ibarat kata, mereka membayar pujian yang sudah kadung, ketimbang membeli produk barang atau jasa. Imbuh Maria, orang-orang rendahan, orang-orang miskin di mata mereka, kepalang tanggung kalau tidak memerankan nasib yang sudah jadi nasibnya.
“Kau gila! Apa kau tak ingin memiliki nasib seperti mereka?” Aku menghardik Maria.
“Kau sama saja seperti mereka.” Maria melirik dengan tawa menyebalkan. “Kau mengataiku gila, sedangkan kau pun gila. Mana mungkin, aku tidak mau jadi seperti mereka? Tentulah aku mau.”
“Ucapan adalah doa. Kau sendiri, ‘kan yang mengajarkan itu kepadaku? Termasuk idemu menyebut kantor untuk tempat kita bekerja.” Aku kesal, Maria menjadi munafik.
Maria tertawa dengan jeda, lalu membuang muka, lanjut meludah. “Cara untuk bahagia, ya …, dengan cara itu. Mencintai nasib. Dan saat kau sudah mencintai nasib dengan baik, maka amatlah kepalang tanggung, jika kau tidak totalitas memerankannya.”
“Memerankan nasib atau memanfaatkan keadaan?” tanyaku dengan merendahkan intonasi.
“Memerankan nasib.”
Berulang kali aku mencoba memerankan nasibku.
Sejujurnya memerankan nasib, nyatanya membuahkan hasil di tiap harinya. Namun, tidak dengan hari ini. Entah aku kurang totalitaskah? Atau, bukan hariku? Atau, justru bapak itulah yang lebih totalitas memerankan nasibnya?
“Kalau sepuluh ribu, mungkin aku mau. Itu pun kalau kamu mengiyakan,” ujar bapak tersebut.
“Boleh, Pak. Setidaknya bisa membuat Bapak senang.”
“Tidak-tidak, akulah yang justru membutamu senang. Selain aku membeli jasa semir, aku juga membeli produk lukisanmu.”
“Terima kasih, Pak.” Aku menahan emosi.
Sejak hari itu, aku menjadi tahu apa yang pernah dibicarakan Maria kepadaku. Jika ingin tidak kena masalah, jangan sekali-kali adu nasib dengan orang-orang yang beruntung, Harga dirimu bisa dibelinya.
Soal harga diri yang dibelinya itu, menurut dia tidaklah sama dengan merendahkan diri untuk mendapatkan keuntungan. Aku menyipitkan mata, kemudian disusul dengan melipat kedua lengan, jari telunjuk kanan, mengetuk lengan kiri. Kau akan tahu sendiri. Kau tak akan mengerti yang kumaksud Kalina, kalau kau tak mengalaminya sendiri nanti. Penjelasanku yang berupa ucap kata ini, tak akan mampu dicerna dengan baik oleh lambung di kepalamu. Maria tertawa puas. Aku, mencoba ikut tertawa juga, setidaknya aku mencoba tak cukup keras dengan diri dan nasib yang perlahan-lahan sedang kucoba nikmati dan kucintai sepenuhnya.
Diulurkan oleh si bapak sekerat foto yang sedikit usang. “Lukislah ini. Nanti pukul lima sore, aku ambil.”
“Kalau besok pagi diambilnya bagaimana?”
“Aku bisanya sore ini. Kalau kamu tidak bisa, ya, tidak apa-apa. Aku urungkan.”
“Baik, akan selesai hari ini.”
Bapak itu tersenyum tipis, lalu pergi meninggalkan kantorku.
Mendengkus lalu aku. Ditolak tidaklah mungkin, karena butuh uang. Tak ditolak pun, harga bayar jasa tak sepadan dengan usaha melukis foto dengan kondisi gambar yang tidak memungkinkan. Kalau sudah begini, kata terakhir yang sekaligus meredakan sesal, kesal, amarah, ialah kata-kata Maria yang kemudian kulontarkan dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kedua telingaku. “Mari kita memerankan peran kita dengan totalitas!”
Datang lalu seorang ibu. Membawa tas keresek besar, berisi lima pasang sepatu milik anak laki-lakinya.
“Tak jadi masalah jika tidak bisa selesai hari ini. Aku hanya minta kau selesaikan sepasang saja, bisa, ‘kan?” pinta ibu yang baru datang ke kantorku, setelah kukatakan alasanku tidak bisa menyelesaikan menyemir hari itu.
“Boleh, Bu. Tapi untuk empat pasang, benar-benar boleh saya selesaikan besok?”
“Iya, tidak apa-apa.”
Selesai kusemir, ibu tersebut pergi. Dia membayarnya lunas. Bahkan memberikan tips yang lumayan banyak. “Terimalah semua.”
Kudongakkan kepalaku melihat hamparan langit biru di atas dengan senyum yang terkembang, sembari ucap, “barangkali ini adalah usaha memerankan dan mencintai nasib dengan benar.”
Sejenak sebentar, aku merasa geli. Lama-lama bahasaku, agaklah seperti Maria. Tapi, tak salah juga. Dengan cara itu, aku tak terlalu keras dengan nasib. Tak pula marah menyalak kepada ibu dan bapak, yang tak memberikan kewajibanku sebagai seorang anak, sepertinya, yang kini berhasil menjadi seorang manusia yang benar-benar mencintai dengan ikhlas pada nasib sendiri.
***
“Hei! Kau juga belum pulang? Untung saja di perempatan jalan tadi, aku tak langsung menuju rumah. Ke sini, mampir beli es teh langgananku.” Maria melihat wajahku dengan wajah simpan tanda tanya.
“Lembur.”
“Aduh, duh, rezeki besar nih!” Maria menepuk bahuku.
“Syukurlah. Kau tidak ingin bertanya, berapa ongkos lukisan ini?”
“Berapa memangnya?”
“Sepuluh ribu.” Aku tertawa.
Bukannya ikut tertawa, Maria tercengang. Untungnya dia tak marah seperti bisanya. “Kau serius? Sedetail ini? Melukis gambar dua orang, ditambah lagi dengan pepohonan rindang dan rerumputan, sepuluh ribu?” Maria masih tidak percaya.
“Apa aku terlihat sedang berbohong?”
Maria menggeleng.
“Kau gila!”
“Kau pun juga gila!”
Kami tertawa bersama-sama.
“Bukankah begini harusnya memerankan nasib? Sedikit banyak harus kita iyain, selain nikmatin?”
“Kau terlalu gila, Kalina! Kau banting harga dirimu di bawah rata-rata kerendahan status sosialmu.” Maria tertawa, lantas terdiam sejenak. “Maksudku, rata-rata kerendahan status sosial kita. Ya, kerendahan status sosial kita, Kalina!” Maria tersenyum garis dan memelukku.
“Sekali, dua atau tiga kali, tak masalah, ‘kan?” tanyaku sembari merapikan alat-alat semir dan lukis.
“Lima, enam atau berkali-kali juga tidak masalah. Asal jangan terlalu sering juga, laaah! Itung-itung sebagai, jeda lelah.”
“Jeda lelah? Kurasa tidak.” Aku menyangkal.
“Lalu?”
“Membuat bahagia orang-orang yang ngakunya berduit, kaya raya, tapi aslinya kere!”
“Udah pinter nih, Kalina!”
Kami tertawa lagi dan lagi. Tak peduli banyak orang melihat ke arah kami.
“Tunggu-tunggu.”
“Kenapa, Maria?”
“Bukan aslinya, kere sih.”
“Terus?”
“Yaaa, emang kere!” Maria tertawa paling keras.
“Garing!”
“Enggak … Enggak. Ini serius, Kalina.”
“Awas kalau garing!”
“Ya, emang …” Maria menggantungkan ucapannya.
“Kere, lagi!”
“Bukan-bukan.” Ada jeda sebentar saat dia selesaikan tawa gelinya. “Ya, karena dia tidak siap aja jadi kere. Kebutuhan pamer ke orang-orang aja, harganya tinggi, tak sebanding dengan kemampuan daya beli barang yang benar-benar miliki kualitas! Dia takut, uangnya habis sedikit demi sedikit karena gengsinya, sih yah.”
“Terus yang kere siapa dong?” tanyaku.
“Nggak perlu dijawab, udah taulah kau.”
Lima menit setelah aku selesai membereskan alat-alat kerjaku, bapak pemesan lukisan datang.
“Cukup bagus juga, sebagai pelukis jalanan,” ujar si bapak sembari memperhatikan lukisanku dengan foto miliknya yang kukembalikan padanya. “Bisa kusarankan nanti, ke teman-teman kantorku. Kalau perlu kita bisa kerja sama. Bisa, ‘kan?” tanya si bapak sembari memberikan dua lembar uang kertas yang bernilai sepuluh ribu.
Kuanggukkan kepala, meski tak begitu yakin bisa bekerja sama dengannya.
“Paaak!” Maria memanggil si bapak.
Kembali lagi dia ke arah kami.
“Kau, kenapa panggil dia lagi!” aku lumayan gusar.
“Diam, kau. Diam!” pinta dengan memejamkan kedua matanya, dan menaruh telunjuknya ke bibirnya yang mengatup.
“Ini, Pak.” Maria memberi dua lembar yang bernilai sepuluh ribu, ke bapak tersebut. “Lukisan itu gratis untuk Bapak. Kalina, yang melukis foto Bapak tadi, hari ini sedang berbahagia.”
“Wah, sering-sering bahagia, yah. Biar aku dapat gratis lagi!” pekik bapak dengan mata berbinar-binar.
Kuanggukkan kepala.
“Kau gila?” Aku memarahi Maria, setelahnya si bapak pergi. “Aku tidak mau gratisin dia!”
“Membahagiakan orang kok setengah-setengah. Sekalianlah.” Nada bicara Maria terdengar selengekan.
Kubayar sepuluh ribu ke Maria, sebagai gantinya.
“Kau, ‘kan tadi sudah membuatnya bahagia. Nah, sekarang aku ingin membuatnya bahagia.” Maria tak mau menerimanya.
“Kurasa kita tidak membuatnya bahagia, Mar. Melainkan mempermalukannya!” geramku.
“Malu? Kau yakin dia malu?” tanya Maria dengan wajah merah padam, menahan tawanya. “Tidak ada malu yang tampak di wajahnya itu, justru yang tampak urat malunya sudah putus, seperti urat malu milik kita.” Maria kemudian lepaskan pingkal tawanya amat keras. kalau sudah terpingkal seperti itu, air matanya pasti keluar. Sampai aku tak bisa membedakan, apakah dia benar-benar terpingkal, atau justru, dia sedang menertawai lelahnya.
________________________
Drew Andre A. Martin. Lahir di Jawa. Karya tunggal pertamanya; Virama Dvasasa, yang berisi dua belas judul cerita pendek. Selain sebagai penulis dan pengarang, Drew juga sebagai, cartomancer dan numerologist.
Sosial media miliknya:
Facebook dan Instagram: @drewandreamartin
X: @drwandreamartin.
