Cerpen

Helena

Cerpen Yulputra Noprizal

Sudah mulai gelap di seantero kota. Sinar lampu-lampu merkuri menyiram jalan dan trotoar. Lampu di teras-teras toko dan di dalamnya pun mulai menyala seluruhnya. Suara orang yang berjalan kaki di trotoar terdengar sedang bercanda. Angin malam semilir meniup lembut pori-pori. Selepas makan di sebuah rumah makan di pinggiran Kota JT tadi, mereka memutuskan kembali ke kedai itu.

“Aku tak mau menyesal seumur hidup karena mengabaikan Helen dulu,” kata Syaf sembari berjalan ke kulkas dan mengeluarkan dua botol soft drink dari dalamnya. Ia membuka kedua tutup botol soft drink di depan kulkas. Lantas, ia letakkannya di meja dan mengeluarkan sebungkus rokok serta korek gas.

“Kan memang tradisi kampus kita. Sehabis ospek, dijodoh-jodohkan. Ini berjodoh dengan ini, itu berjodoh dengan itu. Ini gebet ini, itu gebet itu,” kata Ramli. Ia mengambil bungkus rokok, mengeluarkannya sebatang dengan tangan yang mengunting, lantas memantik korek gas, menyalakannya.

“Helen sudah mengajakmu kenalan. Sudah tahu banyak latar-belakangmu. Sudah tebar pesona di depanmu. Mengajakmu jalan bareng. Kau malah tak acuh,” lanjut Ramli.

“Aku merasa rendah diri di hadapan Helen. Aku orang dusun, orang jauh. Dari Sumatera. Merantau ke Jawa, kuliah di universitas besar pula. Belum paham tradisi kampus kita. Bisa kuliah saja sudah kemewahan bagiku. Helena kan anak Bandung. Mustahil dia tidak punya mantan. Aku pikir waktu itu, aku akan dijadikannya pelarian saja dari cintanya yang mungkin kandas sewaktu SMA,” kata Syaf. Ia mencabut sebatang rokok dari bungkusnya, menyalakan korek gas, dan menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Tapi kau kan suka pada Helen,” kata Ramli.

“Waktu itu belum. Belum cinta pada pandangan pertama. Tapi seiring waktu aku menyukainya, setelah ia jadian dengan Yogi.

“Kau menghindar dari Helena. Membiarkan Helena jadian dengan Yogi adalah kesalahanmu. Lantas, kau jauh dari kami, teman-teman kelasmu. Menjalani hari-hari dengan berandal kampus yang tak jelas juntrungannya. Menurutku mereka berasal dari keluarga yang bermasalah,” kata Ramli.

Kendaraan berlalu-lalang dan klakson sesekali berbunyi. Seorang mahasiswa dengan tas di punggung nampak berjalan di trotoar. Mungkin sehabis mengerjakan tugas dari rumah kawannya. Angin bertiup tambah semilir, dan udara mulai terasa agak dingin.

“Aku berkawan dengan Sadi. Aku tidak tahu ia baru ditolak cintanya oleh Rini. Katanya hampir seharian mereka di atas mobil Sadi. Entah tujuan ke mana. Ketika Rini menanyakan mau ke mana, Sadi mengecup bibir Rini. Rini mengelak. Membentak, minta mobil berhenti. Berpisahlah mereka dengan cara yang tak baik. Ah, Sadi. Belum juga jadian, sudah main cium saja. Terlalu pede orangnya, menurutku,” kata Syaf.

“Dengan Sadi itulah lantas kau dekat. Juga dengan Supri dan Riko. Mereka berandal semua. Orang-orang ‘gila’,” kata Ramli, lantas menyesap soft drink-nya.

“Aku tidak tahu Sadi orangnya begitu,” kata Syaf. “Sehabis cintanya ditolak Rini, ia jadi beringas. Setiap malam aku, Supri, dan Riko diajak keliling Kota B. Mencari perempuan-perempuan kesepian. Kadang bersama pelacur-pelacur menghabiskan malam dengan vodka. Aku tahu belakangan, sehabis dari kota B, sementara aku pulang ke kosan. Mereka juga mengisap ganja di kosan Supri. Tapi sumpah, aku tak pernah bersetubuh dengan perempuan kesepian, apalagi pelacur,” kata Syaf sambil mengangkat dua jari tangan kanannya. “Pernah suatu malam Sadi mengajak kami ke Kota G untuk mengunjungi sebuah tempat wisata. Bertemu dengan beberapa perempuan malam di sana. Menyewa kamar. Aku tidak ikut masuk dan menginap malam itu. Aku kembali ke Kota JT, naik bus. Melihat mereka–Sadi, Supri, dan Riko–dengan tiga orang perempuan malam aku jadi tahu mereka sudah terbiasa dengan hal itu. Ketika suatu ketika aku datang ke kosan Sadi, di kamarnya, banyak koleksi fotonya sedang berciuman dan berpelukan tanpa baju dan celana dengan perempuan yang berbeda-beda. Semua ia pajang di dinding.”

“Itu kan,” kata Ramli. Ia layangkan pandang ke sebuah lampu merkuri di pinggir jalan. Di bukit-bukit nampak lampu-lampu berwarna orange. Kendaraan yang lewat tambah ramai, silih berganti. “Kau cuti kuliah. Kami dengar kau hanya di kosan, membaca novel-novel sastra demi mengisi waktu. Saat kau kembali ke kampus, kau jadi penyair dan terkenal,” lanjut Ramli. “Pada Semester VI biasanya kau ngobrol dengan kami di bawah kanopi sehabis kelas, dan bareng mengerjakan tugas. Tapi tidak lagi karena terlalu asyik dan pacaran dengan Sonia.”

“Ah,” Syaf menghembuskan napas. Ia mengeluarkan sebatang rokok lagi dan menyedot soft drink-nya. “Aku salah pilih. Tak seharusnya kuterima cintanya. Dia begitu gigih, setiap pagi menungguku di kampus. Menatapku terus, mengajak mata bertemu mata. Sering ia melenggak-lenggok di depanku ketika aku sedang duduk sendiri. Setiap puisi yang kutulis dan dimuat di majalah kampus dan blog, ia peragakan lewat pakaian dan gerak tubuhnya seperti pemain teater. Kata pepatah, dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati. Akhirnya kami jadian. Dalam pacaran sebenarnya aku banyak pasif, dia terus yang mengajakku makan bareng dan jalan. Sampai akhirnya aku membentaknya dan besoknya tersiar kabar di kampus kalau ia patah hati. Tersiar juga aku telah memerkosa hatinya, padahal sebenarnya hanya ingin menguras uangnya. Semua orang tahu, aku mahasiswa kere. Datanglah tatapan-tatapan kebencian dari kawan-kawan Sonia kepadaku.”

“Bersamaan dengan itu Helena kan juga putus dengan Yogi.” kata Ramli. “Mengapa kau tak langsung jadian dengannya?

“Helena membuka hatinya padaku. Kami lama saling pandang. Tapi ketika kulihat ia sudah berantakan. Orang-orang mengatakan, Helen sudah kayak pecun,” kata Syaf.

“Ya, aku dengar juga bisik-bisik begitu. Apakah Syaf meniduri Sonia? Di mana Syaf membuang spermanya? Pakai pengamankah? Atau Syaf lari ke tempat pelacuran? Nyatanya Sonia tidak hamil. Lantas, Sonia sendiri yang akhirnya memutarbalikkan fakta, mengatakan ke orang-orang kau yang tergila-gila dengannya. Sudah sejak semula, sebelum jadian, kaulah yang terus mengejarnya. Nama baikmu dia buat hancur sehancur-hancurnya,” kata Ramli.

“Aku menenggelamkan diriku ke sastra. Sibuk membaca buku sastra dan menulis puisi hingga akhirnya lupa akan kuliahku.”

“Kau kemudian hilang selera. Ketika Dedi menawarkanmu beberapa cewek di kampus kita, kau tak juga memilih. Mengapa pula kau tak juga jadian dengan Helen waktu itu?” tanya Ramli.

Betapa iba Syaf dulu melihat keadaan Helen setelah putus dari Yogi. Terenyuh. Helen seperti orang yang jatuh miskin. Ketika orang-orang mengatakan, Helena sudah kayak pecun, hati Syaf begitu pilu mendengarkannya–tulang-belulangnya jadi gigil.

                                   *

“Tapi semua sudah berlalu kan Syaf. Sudah lima tahun lalu. Kau meninggalkan kuliahmu. Dan Helena, kau harus tahu, ia berhasil bangkit. Karirnya bagus di perusahaan sekarang.”

“Aku tidak ingin tahu sebenarnya. Tapi aku takut jadi laki-laki yang menyesal seumur hidup karena sudah dua kali Helen membuka hatinya untukku. Aku tidak juga merimanya. Dulu aku berbohong kepada hatiku sendiri,” kata Syaf.

Sesaat mereka sama-sama terdiam.

“Sudahkah dia menikah?” tanya Syaf tiba-tiba, sembari menatatap wajah Ramli. Hatinya berharap dan sungguh penasaran. Bibir Syaf sedikit bergetar mengucapkan pertanyaan itu. Ada rasa terdalam yang tak terungkapkan.

“Sudah. Helen tinggal di Jakarta. Suaminya pns.”

                                    *

Mereka bertemu di medsos. Sehabis menghilang dari kampus, tidak ada lagi kontak kawan-kawan seangkatan dengan Syaf. Syaf tak bisa lagi dihubungi. Baru bertahun-tahun kemudian, Ramli bertemu akun medsos Syaf. Mereka pun berteman dan bertukar no. WA. Ramli sudah jadi wartawan–sesuai jurusannya sewaktu kuliah–bekerja di sebuah media online di Kota Bandung. Ramli mengira selama ini Syaf pulang kampung. Tak kan kembali lagi ke Jawa selamanya. Ternyata Syaf di Jakarta, bekerja di usaha konveksi Mamak-nya (Paman).

Lewat sebuah pesan WA mereka janjian bertemu di Kota JT, di kedai tempat dulu mereka sering duduk sore sehabis kuliah, bercerita, dan kadang curhat juga.

Syaf memandang sebuah mesin ATM dekat minimarket. Di hatinya, ada rasa tersendiri dengan kota ini. Rasa yang memanggil-manggil untuk berlama-lama tinggal. Juga kampus, yang tak jauh dari kedai, terbayang atap-atapnya oleh Syaf dari tempatnya duduk.

“Lantas, apa rencanamu Syaf,” kata Ramli.

“Aku sudah mengumpulkan puisi-puisiku yang pernah termuat di media. Ada penerbit yang tertarik. Kalau jadi terbit, itulah buku pertamaku.”

_______________________

Yulputra Noprizal. Lahir di Air Haji pada 11 November 1985. Penyuka dan penikmat sastra. Tinggal di Air Haji, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat.