Film, Resensi

Sunyi yang Tak Dianggap Penting

Oleh Yuditeha

“Hidup hanya menunda kekalahan”

—Chairil Anwar, Derai-Derai Cemara

Kalau film Indonesia diundang ke pesta, Siti (2014) barangkali hanya berdiri di belakang tanpa alas kaki. Tak gemerlap, tak mengenal siapa pun, dan tak diajak menari. Padahal ia membawa sesuatu yang lebih langka dari gaun malam, yaitu kejujuran.

Film Eddie Cahyono ini seperti hujan kecil di atas seng tua: pelan, sunyi, tapi bila didengar baik-baik, menyisakan gema. Seperti suara Siti sendiri, tak pernah berteriak, namun justru membekas.

Siti adalah ibu muda di pantai selatan Jawa, bukan pantai eksotis yang dipamerkan brosur wisata, melainkan pantai keras dengan angin tajam. Suaminya lumpuh, jualan keripik seret, dan hidup harus terus diraut agar bisa ditanak. Siti tak menuntut simpati. Ia bekerja, merawat, dan diam-diam bernegosiasi dengan malam.

Difilmkan hitam-putih, Siti tidak menjual gaya, tapi menegaskan sesuatu yang kini terasa asing: kejujuran. Karena itulah ia terasa seperti kesalahan di tengah dunia yang sibuk memoles segalanya jadi cantik dan gaduh.

Film ini tidak mengajak kita masuk lewat pintu drama besar. Ia mengantar kita ke ruang yang lebih akrab: rumah kecil itu, dan perempuan di dalamnya. Siti bukan pahlawan, dan memang tak perlu. Hidup tak selalu butuh pahlawan. Kadang hanya butuh seseorang yang tetap bangun pagi, mengurus anak, mengisi termos, lalu menyusuri hari dengan doa yang sudah kering. Ia perempuan biasa, dan justru di sanalah kekuatannya.

Tidak ada drama meledak-ledak atau air mata yang disorot. Yang ada justru keheningan. Dan dari sanalah suara paling keras keluar. Ketegangan dalam Siti tidak terletak pada ledakan, melainkan pada retakan. Ketika Siti berbicara pada suaminya yang diam seperti batu. Ketika ia tenang di depan anak, sementara kita tahu hatinya sedang mengiris sendiri. Ketegangan semacam ini akrab dengan kehidupan kita. Kita hidup dalam budaya resah yang enggan menyatakan. Kita memendam, berharap masalah lelah sendiri. Siti adalah potret dari kebiasaan itu.

Ia menghadapi ekonomi yang menekan, suami yang tak komunikatif, anak kecil yang tak paham, serta pekerjaan malam yang rawan digunjingkan. Tapi tak sekali pun ia meledak. Bahkan ketika seorang polisi mendekatinya, ia tidak langsung menyerah, juga tidak menolak mentah-mentah. Ia bimbang, dan itu manusiawi. Betapa jarangnya sinema kita merayakan kebimbangan sebagai bentuk keberanian, padahal hidup kita penuh ragu.

Soal ekonomi dan kehormatan menjadi ironi paling tajam. Siti bekerja malam demi membayar utang. Ia mungkin dicap murahan. Tapi siapa yang bertanya biaya sekolah anaknya? Kita suka menilai perempuan dari caranya mencari uang, bukan dari alasan mengapa ia terpaksa melakukannya. Pertanyaan sederhana pun muncul: siapa sebenarnya yang murahan?

Siti tidak menjawabnya dengan dialog. Jawabannya hadir lewat adegan sunyi yang dibiarkan panjang. Kamera statis seperti menuntut kita menatap kenyataan tanpa permen visual. Ini kehidupan yang jika ditonton tergesa, akan dianggap membosankan. Tapi jika diberi waktu, ia menyilet pelan.

Salah satu adegan paling mengiris adalah saat Siti duduk di pinggir ranjang suaminya. Ia mencoba bicara. Suaminya diam. Tak ada dialog, hanya desis angin. Di sana berkumpul kelelahan, penyesalan, cinta yang mulai basi tapi belum bisa dibuang. Adegan ini bukan sekadar personal, melainkan metafora relasi sosial kita: saling tahu ada yang retak, tapi memilih diam.

Kita hidup dalam masyarakat yang tahu banyak hal tidak beres, tapi tetap berpura-pura baik-baik saja. Kita tahu negara sering abai, tapi memilih menunduk. Kita sibuk mengurus gosip sambil membiarkan kebijakan pincang. Kita seperti Siti, tahu sedang terseret ombak, tapi duduk di pantai berharap air surut sendiri.

Namun film ini bukan semata duka. Ada harapan kecil yang muncul dari anaknya, dari dagangan yang habis, dari senyum tipis setelah menarik napas panjang. Ini bukan pasrah, melainkan adaptasi. Bertahan tanpa perayaan.

Ada juga getir ketika perempuan saling menghakimi perempuan lain. Di tengah tekanan ekonomi, solidaritas mudah goyah. Kita lebih cepat menyalahkan individu ketimbang melihat sistem yang menjebak mereka.

Kritik sosial Siti tidak hadir lewat orasi. Tidak ada tokoh berteriak tentang keadilan. Justru karena itu ia terasa nyata. Film ini seperti tetangga yang hidup susah tapi tetap menanak nasi, tanpa pernah meminta belas kasihan.

Di zaman ketika banyak orang berlomba menjadi korban paling menyedihkan di media sosial, Siti hadir sebagai potret orang kecil yang tetap berjalan tanpa meminta tepuk tangan. Ada jenaka pahit: Siti dengan segala keterbatasannya tampak lebih tegar dibanding banyak pejabat yang goyah oleh sedikit tekanan.

Film ini mengingatkan bahwa kemanusiaan bukan soal heroisme, melainkan keberanian bertahan dalam diam. Bukan membela kebenaran di panggung, tapi menemani anak sambil menyeka lelah.

Menonton Siti seperti menatap potret diam diri sendiri. Kita merasa pernah menjadi Siti, atau mengenal seseorang seperti dia: ibu, kakak, tetangga. Luka yang disentuh terlalu akrab untuk ditolak.

Film ini mungkin tak laku box office. Ia tak dijual lewat poster besar. Tapi ia menetap di hati yang masih memberi ruang pada perenungan. Di ruang kecil itu, kita belajar bahwa sunyi pun bisa bicara, asal mau mendengar.

Peran diam menjadi pusat film ini. Di banyak film, diam diisi musik dan ditutup dialog heroik. Di sini, diam dibiarkan canggung. Kamera tak buru-buru memotong. Kita dipaksa merasakan bagaimana menjadi perempuan yang harus kuat tanpa panggung bicara.

Kita hidup di negeri yang bising. Setiap hari penuh opini. Tapi kisah penting justru tenggelam. Tidak ada trending topic untuk ibu rumah tangga yang kehilangan penghasilan. Tidak ada headline untuk perempuan yang memilih antara utang dan harga diri. Ia tak masuk algoritma.

Ironinya, kita gemar mengulas moral tapi jarang mau mendengar. Padahal Siti bicara jujur sepanjang film, lewat mata, napas, cara duduk yang pegal. Kita lupa rasanya menonton film yang mempercayai penonton untuk merasa sendiri.

Relasi Siti dengan anaknya ditampilkan tanpa petuah. Hanya rutinitas melelahkan yang tak bisa ditolak. Di sanalah cinta hadir, bukan sebagai slogan, tapi sebagai kerja sunyi yang menguras tenaga.

Di luar, orang ramai mengeluh soal moral dan keluarga. Tapi jarang yang mau menyelami bagaimana keluarga bertahan di bawah tekanan sosial. Dalam Siti, kehancuran bukan datang dari niat buruk, melainkan dari ketiadaan pilihan.

Siti tak punya akses bantuan sosial. Di kampungnya, jika miskin, lebih baik diam. Ribut dianggap tak tahu diri. Film ini tak mengatakannya gamblang, tapi siapa pun yang lama hidup di republik ini akan paham.

Namun harapan tetap ada, justru karena sunyi. Harapan yang tidak diucapkan, tapi dijalani. Tetap bekerja, mengurus anak, menyuci baju. Harapan yang jarang masuk film komersial, tapi di sini diletakkan di tengah.

Film ini juga menyindir definisi sukses. Siti tak punya pencapaian versi media. Tapi film ini justru menunjukkan betapa kosongnya ukuran sukses kita. Hidupnya adalah perang harian yang tak pernah diumumkan.

Yang menarik, Siti tidak diposisikan sebagai korban yang meminta dikasihani. Ia tidak ingin dinobatkan inspiratif. Ia hanya ingin hidup. Dan betapa mulianya keinginan sederhana itu.

Relasinya dengan polisi tidak dijadikan jalan keluar ajaib. Ia menjadi ruang bimbang yang penuh rasa bersalah. Film ini jujur mengatakan: tidak semua pilihan menyelamatkan tanpa melukai.

Siti adalah tes kepekaan. Jika setelah menontonnya kita masih menyebutnya sekadar “film perempuan nelangsa”, mungkin yang perlu dikoreksi bukan filmnya, tapi empati kita. Film ini seperti kaca retak. Jika ditatap lama, kita melihat bayangan diri sendiri: sebagai suami yang tak mendengar, tetangga yang cepat menilai, negara yang membiarkan. Dan sebagai penonton yang baru peduli ketika kisah perempuan viral.

Mengapa film seperti ini jarang dibuat? Karena terlalu sepi? Atau karena kita takut menonton hidup apa adanya? Hiburan sejati bukan yang membuat lupa, tapi yang membuat ingat kembali siapa kita.

Siti mengingatkan bahwa menjadi manusia tak selalu tentang menang besar. Kadang hanya tentang tidak menyerah pada hari yang panjang. Tentang hidup seadanya, dan tetap berjalan. Perjuangan tidak selalu berupa teriakan. Kadang berbentuk duduk diam di lampu redup, menggenggam termos kosong. Film ini memotret perjuangan yang tak pernah masuk berita utama.

Sunyi, di tangan Eddie Cahyono, bukan kekosongan. Ia perlawanan pasif. Siti tidak sibuk menjelaskan penderitaannya. Ia sibuk bertahan. Dari sanalah kemanusiaan muncul tanpa perlu pengakuan.

Di era ketika semua harus terdengar, perempuan seperti Siti tenggelam. Ia tak punya waktu tampil. Ia hanya punya waktu hidup. Ironinya, sistem justru mengabaikannya. Film ini juga tidak menghukum tokohnya. Siti tidak divonis. Ia dibiarkan hidup. Dalam konteks sosial kita, itu sudah radikal.

Masyarakat kita cepat memvonis perempuan, lambat membantu. Dan Siti hadir sebagai surat terbuka yang tak pernah dikirim, tapi kita butuhkan. Film ini bukan hanya tentang Siti. Ia tentang banyak perempuan tanpa nama. Mereka bukan tokoh utama sinema, tapi tokoh utama kenyataan. Dan film ini menampilkan mereka tanpa eksotisme, tanpa glorifikasi. Hanya manusia yang lelah, bisa salah, tapi tetap berjalan.

Tentu film ini punya kekurangan. Ia sangat kontemplatif dan tak ramah bagi penonton yang ingin narasi cepat. Karakter lain terasa lebih sebagai latar. Visualnya indah, kadang terlalu sadar diri. Konteks sosialnya universal tapi mengambang. Namun di luar itu, Siti memperlihatkan martabat sehari-hari: tidak mencuri, tidak menipu, hanya berusaha. Dalam dunia yang kacau, usaha jujur adalah kehormatan paling murni.

Jika ada yang bilang film Indonesia terlalu dangkal, ajak mereka menonton Siti. Lalu ajak mereka diam. Jika setelah itu mereka masih tak merasa apa-apa, mungkin bukan filmnya yang kurang manusiawi, tapi hati kita yang sudah kebas. Barangkali kita tak butuh ulasan lagi. Kita hanya butuh keberanian untuk berkata: aku lihat kamu. Aku dengar kamu. Dan kisahmu penting. Sama seperti kisah Siti.***

____________________

Yuditeha. Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Film, Resensi

Ketika Cinta Diberi Kesempatan Terakhir untuk Berbicara

Resensi Film T. H. Hari Sucahyo

Judul                           : Eternity
Tahun Rilis                  : 2025
Durasi                          : ± 100–110 menit
Sutradara                     : David Freyne
Penulis Skenario          : Pat Cunnane & David Freyne
Produser                      : Robbie Ryan, Jessamine Burgum
Pemeran Utama           : Elizabeth Olsen, Miles Teller, Callum Turner, Da’Vine Joy Randolph

Eternity (2025) datang dengan premis yang tampak sederhana sekaligus menggoda: bagaimana jika kehidupan setelah kematian bukanlah penghakiman yang dingin atau penantian sunyi, melainkan ruang refleksi tempat cinta, dalam seluruh kerumitannya, diberi kesempatan terakhir untuk berbicara. Film ini memilih jalur komedi romantis yang lembut, nyaris bersahaja, untuk membicarakan sesuatu yang sering terasa berat: pilihan-pilihan emosional yang membentuk hidup, dan gema pilihan itu ketika hidup telah usai. Dengan latar alam baka yang dirancang tidak menakutkan, bahkan hangat, Eternity mengundang penonton merenungkan cinta bukan sebagai kepemilikan, melainkan sebagai proses yang terus berubah.

Tokoh sentralnya adalah seorang perempuan yang, setelah kematian, dihadapkan pada dilema yang tidak pernah selesai semasa hidup: memilih antara pria yang telah menemaninya bertahun-tahun, baik dalam rutinitas, kompromi, dan kelelahan yang tenang, atau cinta pertamanya yang meninggal di usia muda, sosok yang membeku dalam ingatan sebagai janji yang tak sempat retak. Pertemuan kembali ini bukan sekadar fantasi romantik, melainkan eksperimen emosional tentang bagaimana ingatan bekerja. Film ini peka menunjukkan bahwa memori sering kali memoles masa lalu, menghapus sudut-sudut tajamnya, sementara hubungan yang bertahan lama justru menyimpan bekas luka yang nyata karena dijalani sepenuhnya.

Keputusan sutradara untuk membungkus dilema tersebut dalam komedi romantis terasa tepat. Humor dalam Eternity tidak hadir sebagai lelucon keras, melainkan observasi kecil tentang absurditas emosi manusia. Dialog-dialognya ringan, namun menyimpan kepedihan yang disampaikan tanpa melodrama. Tawa muncul bukan karena situasi dipaksakan lucu, melainkan karena penonton mengenali diri mereka sendiri dalam kebingungan tokoh-tokohnya: kecanggungan bertemu mantan, rasa bersalah mencintai lebih dari satu orang, dan ketidakmampuan memberi definisi tunggal pada kebahagiaan.

Alam baka dalam Eternity digambarkan sebagai ruang transisi yang ramah, bukan surga berkilau atau neraka yang mengancam, melainkan semacam kota kecil dengan aturan sederhana dan ritme yang melambat. Desain produksinya menekankan warna-warna lembut, cahaya yang tidak menyilaukan, serta ruang-ruang yang terasa akrab. Pilihan visual ini menyampaikan gagasan bahwa kematian bukan pemutusan, melainkan jeda untuk memahami. Di sini, waktu tidak mengejar, sehingga percakapan bisa berlarut tanpa kecemasan, dan perasaan yang dulu tertahan dapat mengalir dengan jujur.

Kekuatan utama film ini terletak pada karakterisasi. Perempuan yang menjadi pusat cerita ditulis dengan empati: ia tidak disederhanakan menjadi sosok ragu-ragu, melainkan manusia utuh dengan kontradiksi. Ada rasa syukur pada stabilitas, ada pula kerinduan pada kemungkinan. Pria yang menemaninya seumur hidup digambarkan sebagai figur yang penuh kebaikan dan kelelahan, seseorang yang mencintai dengan cara bertahan. Sementara cinta pertamanya hadir sebagai energi muda, spontan, dan tak selesai; sebuah “bagaimana jika” yang selalu menghantui. Film ini adil pada keduanya; tidak ada yang diposisikan sebagai pilihan salah. Yang ada hanyalah konsekuensi emosional dari masing-masing pilihan.

Penulisan naskahnya cerdas dalam menimbang nostalgia. Alih-alih memanjakan romantisasi masa muda secara berlebihan, Eternity secara perlahan mengupas ilusi yang sering kita bangun tentang cinta pertama. Melalui percakapan-percakapan yang jujur, film ini menunjukkan bahwa cinta yang tidak sempat diuji waktu sering tampak sempurna karena belum pernah berhadapan dengan kebosanan, tanggung jawab, atau perubahan. Namun, pada saat yang sama, film ini tidak merendahkan kekuatan kenangan. Ia mengakui bahwa kenangan memiliki nilai emosional yang sah, bahkan ketika ia tidak sepenuhnya akurat.

Aspek komedi romantisnya bekerja paling efektif ketika film menertawakan gagasan “pilihan final”. Di alam baka, pilihan itu tidak disajikan sebagai vonis, melainkan sebagai kesempatan memahami diri. Ada ironi halus ketika karakter-karakternya menyadari bahwa bahkan setelah mati, manusia masih membawa kebiasaan ragu dan takut melukai. Humor lahir dari pengakuan bahwa kematangan emosional bukan hadiah otomatis dari kematian; ia tetap membutuhkan keberanian untuk jujur.

Secara tematik, Eternity berbicara tentang waktu sebagai aktor tak terlihat dalam cinta. Hubungan jangka panjang digambarkan sebagai hasil dari keputusan-keputusan kecil yang diulang setiap hari, sementara cinta pertama dipresentasikan sebagai momen intens yang singkat. Film ini tidak menyatakan mana yang lebih “benar”, tetapi mengajak penonton bertanya: apakah kita mencintai seseorang karena siapa mereka sekarang, atau karena siapa mereka bagi versi diri kita di masa lalu? Pertanyaan ini beresonansi kuat, terutama bagi penonton dewasa yang telah melalui berbagai fase hidup.

Akting para pemerannya mendukung nuansa lembut film ini. Ekspresi ditahan, gestur kecil, dan jeda dialog digunakan untuk menyampaikan emosi yang lebih dalam daripada kata-kata. Chemistry antarpemeran terasa alami, tidak berlebihan, sehingga konflik emosional berkembang dengan halus. Bahkan dalam adegan-adegan paling romantis, film ini menahan diri dari sentimentalitas murahan, memilih kejujuran yang tenang.

Musik latarnya berperan sebagai pengikat suasana, hadir sebagai lapisan emosional yang tidak mendominasi. Melodi-melodi sederhana mengiringi momen reflektif, sementara keheningan dibiarkan berbicara pada saat-saat krusial. Keputusan ini memperkuat kesan bahwa Eternity percaya pada kekuatan cerita dan performa, bukan pada manipulasi emosional.

Meski demikian, film ini tidak sepenuhnya tanpa kelemahan. Bagi sebagian penonton, ritmenya yang tenang mungkin terasa terlalu santai, bahkan mendekati lamban. Konflik utamanya bersifat internal, sehingga mereka yang mengharapkan dinamika plot yang tajam bisa merasa kurang terpuaskan. Namun, kelembutan ini justru menjadi identitas film: Eternity tidak ingin terburu-buru mencapai resolusi, karena esensinya adalah proses memahami.

Eternity (2025) adalah film tentang keberanian menerima kompleksitas cinta. Ia menolak jawaban sederhana dan menghindari moral hitam-putih. Dalam dunia yang sering menuntut kepastian, film ini merayakan ambiguitas sebagai bagian dari kemanusiaan. Dengan memindahkan dilema cinta ke alam baka, Eternity menciptakan jarak yang memungkinkan kita melihat hidup dengan lebih jernih; bahwa cinta tidak selalu tentang memilih yang paling sempurna, melainkan tentang mengakui apa yang benar-benar berarti bagi diri kita.

Film ini meninggalkan penonton dengan perasaan hangat sekaligus reflektif. Bukan karena ia menawarkan fantasi cinta abadi yang mulus, melainkan karena ia jujur tentang ketidaksempurnaan. Eternity mengingatkan bahwa bahkan ketika waktu berakhir, pertanyaan tentang cinta tetap hidup dan mungkin, justru di situlah keindahannya.

__________________________

T. H. Hari Sucahyo. Penikmat film Layar Kaca dan Layar Lebar. Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”

Film, Resensi

Setan Jawa: Merekam Pesugihan

Oleh: Bima Widiatiaga

Usaha untuk mendokumentasikan pesugihan lewat tulisan ilmiah, sudah dilakukan oleh beberapa penulis. Tim Lembaga Riset Kebudayaan Areng-Areng, meneliti tentang ritual pesugihan di Gunung Kawi. Luzman Abdau, meneliti tentang ritual pesugihan di Gunung Kemukus. Terakhir, adalah Onesius Otenieli Daeli, yang menulis pesugihan dalam perspektif antropologis.

Meski tak banyak, setidaknya pesugihan terekam dalam kajian ilmiah, tak hanya berada dalam pusaran folklore. Pada tahun 2016, usaha untuk merekam pesugihan, tercipta dalam bentuk visual. Adalah Garin Nugroho, sineas termahsyur yang telah malang melintang di dunia sinema Indonesia, yang membuat film bertema pesugihan, berjudul Setan Jawa.

Film ini dibuat eksklusif, dibuat untuk merayakan 35 tahun Garin Nugroho dalam pusaran perfilman Indonesia. Film ini juga diputar secara eksklusif, tidak diputar di dalam bioskop-bioskop. Dan yang terpenting, film ini bukan film komersil yang diharuskan mencari penonton sebanyak jutaan orang.

Film Setan Jawa, pernah diputar di Teater Jakarta, Teater Besar ISI Surakarta, Auditorium Universitas Sanata Dharma, Erasmus Huis Jakarta dan diputar pula dalam gelaran International Gamelan Festival (IGF) 2018. Selain itu, Setan Jawa juga melanglang buana di luar negeri, diputar di Australia, Singapura, Inggris, Kanada, dan Jerman.

Kembali ke kata eksklusif. Ya, film ini tidak ada di situs unduhan film ilegal. Misal ada, dijamin tak sampai lima menit, anda langsung memberhentikan film ini setelah anda unduh. Setan Jawa merupakan film bisu hitam putih, untuk merasakan atmosfer mistisme film ini, anda harus mendengarkan pula dengan iringan gamelan dan suara merdu pesinden. Cara untuk melihat film ini adalah dengan menyaksikannya langsung. Beruntung saya sudah menyaksikan pertunjukan film ini pada 15 Juli 2017 di Teater Besar ISI Surakarta.

Film Setan Jawa merupakan produk kolaborasi seni antara seni film, tari, musik, dan teater. Ditambah pula unsur sejarah dan mistisme Jawa sebagai story-telling film ini. Garin Nugroho bekerja sama dengan para seniman terkemuka untuk menggarap Setan Jawa. Rahayu Supanggah, komposer gamelan terkemuka seantero negeri, menggarap latar musik yang menjadi kunci film Setan Jawa. Rahayu Supanggah memimpin puluhan pengrawit dan pesinden seperti Peni Candra Rini. Sementara untuk penata tari, digarap oleh Luluk Ari Prasetyo dan  Heru Purwanto. Lalu, Asmara Abigail didapuk sebagai tokoh utama film Setan Jawa.

Unsur cerita pesugihan menjadi hal yang tak kalah penting dalam film Setan Jawa. Garin Nugroho pun melakukan riset mendalam dan mengorek pengalaman masa kecilnya tentang pesugihan. Pesugihan Kandang Bubrah menjadi tema pesugihan yang diambil. Pesugihan tersebut merupakan pesugihan yang dipilih oleh seseorang untuk mencari kekayaan secara singkat. Tumbalnya adalah orang itu sendiri yaitu bagian tubuh orang tersebut akan dijadikan soko guru rumah yang ditinggali bila perjanjian pesugihan dilanggar atau ahli waris tidak kuat. Hal ini dilukiskan oleh Cipto Waluyo dalam lukisan Pesugihan Kandang Bubrah, medio 1940-an.

Film Setan Jawa menampilkan sosok seorang Asih (Asmara Abigail) sebagai sosok putri keturunan ningrat di medio awal abad ke-20. Asih jatuh hati terhadap seorang lelaki yang kelak akan menjadi suaminya. Namun, sang suami hanyalah seorang kawula alit dengan ekonomi pas-pasan. Pekerjaannya adalah pembuat dan penjual sapu di pasar. Awal perjumpaan mereka adalah saat Asih sedang berbelanja di pasar. Sang lelaki melihat keanggunan dan kecantikan Asih saat perempuan itu turun dari delman. Asih dan sang lelaki saling bertatapan muka, jatuh cinta pada pandangan pertama.

Sang lelaki pun mencoba untuk melamar Asih kepada sang Ibu. Namun, sang Ibu menolak karena calon suami Asih adalah seorang rakyat biasa yang miskin. Sang lelaki tidak patah arang, dia mencoba untuk menggaet Asih dengan menaikan derajatnya. Ya, tidak punya unsur darah biru, ia pun menaikan derajatnya dengan menjadi orang kaya. Ia pun melakukan ritual Pesugihan Kandang Bubrah. Tak lama, ia melamar lagi sang kekasihnya. Ibunya pun merestui Asih dengan calon suami karena status kekayaannya.

Namun, prahara menimpa kedua pasangan suami istri itu di tengah perjalanan perkawinan mereka. Si suami jatuh sakit, rumah mereka sering diganggu setan, dan bagian-bagian dari rumah mereka banyak yang hancur tanpa sebab. Asih merasakan penderitaan akibat sang suami yang meraih kekayaan dengan cara pesugihan. Akhirnya, sang suami meninggal, tidak kuat menghadapi terkaan akibat efek samping pesugihan. Jiwa sang suami akhirnya dijadikan tumbal pengisi soko guru rumahnya.

Dalam film Setan Jawa ditampilkan pula simbol-simbol pesugihan seperti bulus dan yuyu. Tembok rumah yang semakin lama semakin terkelupas juga menjadi simbol bahwa perjanjian Pesugihan Kandang Bubrah dilanggar. Terakhir, Asmara Abigail didatangi oleh setan-setan yang mengganggu dan hendak mengambil nyawa suami Asmara Abigail yang dulunya melakukan ritual Pesugihan Kandang Bubrah. Juga yang tak kalah penting, unsur-unsur budaya Jawa seperti lampah dhodhok, sikap sembah, dan penggambaran perbedaan status sosial masyarakat Jawa, ditampilkan dalam Setan Jawa. Hal ini membutkikan bahwa Setan Jawa merupakan film yang berupaya menampilkan budaya Jawa klasik yang sekarang jarang dijumpai.

Kolaborasi unsur seni dan folklore pesugihan menjadikan film ini dirasa istimewa untuk disaksikan. Meskipun Setan Jawa merupakan film bisu tanpa dialog, penonton bisa mengerti alur cerita dari gerak tari di dalam film tersebut ditambah dengan alunan gamelan dan suara sinden yang mencekam. Dan yang terpenting, dari film Setan Jawa, terdapat usaha dari berbagai pihak untuk merawat dan merekam kebudayaan Jawa. Film Setan Jawa menjadi historiografi dalam bentuk visual dan layak untuk diapresiasi.

Bima Widiatiaga, Lahir di Pontianak, 10 Februari 1994. Merupakan lulusan S1 Ilmu Sejarah UNS. Aktif di kegiatan keilmuan sejarah, seperti pernah aktif di Forum Mahasiswa Sejarah UNS (2015-2016) dan komunitas sejarah Solo Societeit. Bima juga menjadi bagian dalam penulisan buku “Lokananta: Sejarah dan Eksistensinya”

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.

Kirim karyamu sekarang juga di SINI