Cerpen

Cinta yang Sibuk

Cerpen Karisma Fahmi Y

“Apa yang terjadi padamu saat itu?”

“Tak ada. Barangkali hanya kesalahpamahaman.”

“Ia sudah menikah?”

“Belum.”

“Mengapa kau tak mencoba rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu.”

“Soalnya adalah pihak ketiga,” katanya datar. “Dari pihak dia,” imbuhnya lagi.

Lalu kami sama-sama terdiam. Matanya kembali larut di layar komputer, dan aku tenggelam dengan pikiranku sendiri. Gadis macam apa dia sebenarnya? Mengapa begitu sulit menebak yang ada di batok kepalanya? Aku menghela napas panjang. Ia menoleh padaku.

“Kau kenapa? Galau?” Aku menggeleng.

“Aku sedang jatuh cinta.”

“Oya?” katanya pendek, lalu tenggelam lagi pada layar di depannya. Sesungguhnya aku mengharap terjadi perubahan pada mimik mukanya. Setidaknya ia kaget, atau konsentrasinya hilang, lalu berhenti mengetik demi mendengar jawabanku. Tapi tidak. Ceritaku tidak mempengaruhi kehidupannya, konsentrasinya. Ia kembali mengetik dan mengetik.

“Aku baru merasakan mencintai yang sebenar-benar mencintai,” kataku lagi.

“Seperti apa itu?” tanyanya tanpa menoleh. Sial, jarinya tak juga berhenti mengetik.

“Mencintai tanpa syarat. Sebagai lelaki aku selalu mencintai perempuan dengan sejumlah catatan, karena ia baik, karena hidungnya mancung, karena kakinya panjang. Namun kali ini benar-benar cinta tanpa syarat. Aku mencintainya begitu saja. Semua terasa nikmat sekali,” kataku menerawang. Ia menoleh sekilas ke arahku lalu tertawa kecil.

“Berarti kau benar-benar sudah dewasa,” katanya tersenyum. Aku juga tertawa. Itulah yang membuatku menyukainya. Ia cantik, lucu, dan jujur. Aku harus mengakuinya, aku mencintainya tanpa syarat.

“Kalau kau sudah merasakan cinta semacam itu, kau harus mengejarnya. Kalau tidak, kau akan menyesal kehilangan dia,” suaranya tidak terdengar menggurui. Namun entah mengapa, tiba-tiba aku menyusut di hadapannya. “Apabila tertolak, kau akan merasakan sebenar-benar pahit dan sakitnya,” katanya berfilusuf.

Aku mencermati kata-katanya. Sebagai guru, ia memiliki kemampuan memahami tanpa harus menggurui. Ia kembali sibuk mengetik seolah mengatakan hal itu dengan sekilas saja. Apa Tuhan menciptakan cinta yang buruk padanya? Mengapa ia mengucapkan semua itu dengan datar? Apa ia telah mengalami dan melewati rasa sakit itu? Ia mengetik dan terus mengetik, tak menghiraukanku yang duduk di sampingnya dengan perasaan yang tak menentu.

Sisa hari itu sungguh tak menyenangkan. Aku melewati banyak jam kosong karena tidak ada jam mengajar. Sebagai guru olahraga, jamku memadat di pagi hari. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan dengan perasaan ini.

Bel istirahat berbunyi dan ia selesai mengetik. Dengan bernyanyi kecil ia berlalu dari depan komputer pusat. Tinggal aku yang termangu menyesapi kalimat demi kalimatnya yang mengendap di kepalaku. Tak tahukah dia bahwa aku mencintainya? Aku mengambil napas berat dan dalam. Aku tak tahu lagi cara yang harus kulakukan demi mengungkapkan perasaan. Inikah bentuk sakit dari cinta tanpa syarat?

***

Kupencet tombol off, dan semua ocehan mama berakhir. Kubiarkan mama uring-uringan di seberang karena aku tak mau bicara. Mama tak berhenti menjodohkanku dengan anak-anak teman papa. Berkali-kali aku menolak segala bentuk pernikahan kolega. Terakhir dengan Boni, anak atasannya. Sebagai kepala Dirjen, papa memiliki banyak kolega. Tiga kakak perempuanku menikah dengan anak-anak teman papa. Tanpa cinta, tentu saja. Semua berdasar harta dan jabatan. Terakhir, pernikahan kakak kedua kandas di tengah jalan karena suaminya selingkuh. Kakak kedua memang menderita, namun ia tetap kaya raya. Ia memiliki perkebunan dan vila mewah di pegunungan. Dan mama tak pernah belajar dari hal itu. Mama tetap memaksaku menikah dengan salah satu anak teman-teman papa. Kau ini bodoh atau apa? Tidak semua orang bisa bersuamikan anak Pak Direktur!

Aku menentang keras pernikahan dengan dasar kolega. Aku sudah muak dengan semua tawaran perjodohan keluargaku. Aku tak mau seperti mereka. Aku menyelesaikan kuliah dan hengkang dari kehidupan mereka, menentukan jalanku sendiri. Aku memutuskan menjadi guru dan menjalani kehidupanku sendiri. Kehidupan yang lebih sederhana daripada kehidupan pejabat yang terus menerus harus memasang bibir manis dan basa-basi karena wartawan berkeliaran di mana saja. Kunikmati gaji kecilku.

Kesederhanaan itu tercermin dari kisah cinta yang kurasakan. Aku mencintai Pak Yo, guru olahraga. Tidak tampan dan tidak kaya. Dipastikan apabila aku mengajukannya sebagai calon suami, mama akan berang.  Aku tak peduli. Hal pelik yang kuhadapi saat ini hanyalah: aku tak tahu perasaannya padaku.

Aku melihatnya duduk di sana. Ia tampak murung dan tidak bersemangat. Tatapan matanya mengarah pada Bu Sinta, guru Matematika yang sedang mengetik ulangan di komputer kantor. Bu Sinta adalah teman dekatku. Meja kerjanya tepat di sebelahku. Meski demikian, karakter kami benar-benar jauh berbeda. Bu Sinta adalah orang yang supel dan mudah bergaul dengan siapa saja, sedangkan aku lebih tertutup dan pendiam.

“Aku baru merasakan mencintai yang sebenar-benar mencintai”

“Seperti apa itu?” tanya Bu Sinta.

“Mencintai tanpa syarat. Sebagai lelaki aku selalu mencintai perempuan dengan sejumlah catatan, karena ia baik-baik, karena hidungnya mancung, karena kakinya panjang. Tapi kali ini benar-benar cinta tanpa syarat. Aku mencintainya begitu saja. Semua terasa nikmat sekali,” katanya bersungguh-sungguh.

“Berarti kau benar-benar sudah dewasa,” kata Sinta tersenyum nakal. Mereka tertawa. Aku mencermati pembicaraan mereka dengan saksama. Aku cemburu dengan kedekatan mereka. Seandainya saja aku bisa seperti Bu Sinta, barangkali aku bisa lebih beruntung dalam hal asmara.

“Kalau kau sudah merasakan cinta semacam itu, kau harus mengejarnya. Kalau tidak, kau akan kehilangan dia,” kata Bu Sinta. “Apabila tertolak, kau akan merasakan sebenar-benar pahit dan sakitnya”

Bel berbunyi. Bu Sinta keluar dari ruangan diikuti tatapan mata Pak Yo. Dalam hati aku mengeluh. Benar kata Bu Sinta, kini cinta tanpa syarat datang kepadaku sebagai ujian. Aku harus bersiap dengan segala kepahitan.

***

Mengapa kau tak mencoba untuk rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu.” Pertanyaan Pak Yo, guru olahraga itu kembali mengusikku. Pertanyaan yang sering kuajukan pada diriku sendiri. Memang benar, Pras masih menyayangiku. Ia masih sering menelepon, dan beberapa kali mengajak menonton bioskop. Kuterima semua tawaran itu sebagai kawan. Sebelum berpacaran, kami sudah berkawan baik. Rasanya tak pantas juga hanya karena pernah menjadi pacar harus memutuskan pertemanan.

Dulu kami sama-sama berada di organisasi mahasiswa pecinta alam. Saat itu ia adalah ketua tim penjelajah. Ia melindungi anak buahnya, termasuk aku, dengan penuh tanggung jawab. Setahun setelah itu kami resmi berpacaran. Tiga tahun kemudian semua menjadi kacau. Barangkali memang benar, cinta memiliki masa kadaluarsa. Ia selingkuh dengan teman sekantornya. Sejak saat itu aku merasa semua lelaki seperti babi. Mereka lupa pada janji dan komitmen yang dibangunnya sendiri. Dari awal aku sudah menegaskan, Aku bisa menempuhi apapun, kecuali satu hal, orang ketiga. Dan ironis memang bila pada akhirnya hubungan kami harus kandas karena pihak ketiga. Aku memutuskan untuk pergi. Aku tak mau dibodohi cinta ketiga. Saat itu juga aku memutuskan untuk menghapus Pras dari hidupku berikut nomor telepon dan segala hal tentangnya. Sebaliknya, ia selalu menghubungiku dan aku tak membalas semua pesan yang ia kirimkan. Dan ia benar-benar seperti babi, menyuruk ke sana kemari meminta dan memohon-mohon padaku untuk kembali padanya. Entah mengapa aku tidak tertarik pada tawaran itu. Tapi sebagai teman yang pernah berada di satu atap organisasi, tentu saja tidak sesederhana itu. Ia tetaplah teman. Dan rasanya aku tetap menjadi juniornya.

Aku begitu khusyuk dengan luka dan sakit hatiku pada lelaki hingga waktu tak lagi menjadi hal penting. Waktu terus berlalu dan kubiarkan lukaku sembuh dengan sendirinya. Sedikit demi sedikit semua menjadi biasa. Tak ada kebencian, tak ada rindu, tak ada cinta, tak ada apa-apa lagi di sana. Hatiku benar-benar kosong. Satu dua lelaki datang, tapi entah mengapa aku merasa tak ada yang benar-benar tepat.

Mengapa kau tak mencoba untuk rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu. Pertanyaan itu kembali mengiang. Pras tidak seburuk itu. Barangkali saat itu aku yang terlalu berlebihan. Aku menafsirkan segala sesuatu dengan emosi. Kemarahanku benar-benar meluap dan aku tak sudi lagi memaafkannya.

Lima tahun berlalu dan usia terus merambat ke angka-angka matang. Bapak ibuku berkali-kali mencoba menjodohkanku dengan anak-anak temannya. Aku menggelengkan kepala. Aku tidak sepahit itu. Bagiku perjodohan tak akan mengubah hidup menjadi lebih bahagia. Terlebih lagi perjodohan dengan orang yang tak kukenal. Aku tak juga mengiyakan tawaran itu.

Mengapa kau tak mencoba untuk rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu. Pertanyaan itu berulang-ulang menyentil rongga kepala. Aku tak tahu ke mana perginya rasa cinta, rindu, dan semua rasa kagum pada Pras yang dulu pernah singgah. Beberapa kali aku mendatangkan perasaan itu melalui kenangan. Menurut buku-buku picisan yang kubaca, kenangan akan membangkitkan kembali cinta yang hilang, kenangan indah akan menghidupkan kembali suasana sepasang kekasih. Bagiku kenangan tak begitu dibutuhkan. Semua kebahagiaan yang pernah kami lewati saat naik ke Bromo, Pangrango, dan sejumlah perjalanan sepanjang pantai selatan dengan motor bututnya tak mampu membangkitkan perasaan itu. Lalu bagaimana cara untuk kembali rujuk dengan Pras? Apakah aku benar-benar bisa berdamai dengan semua itu? Aku tidak yakin. Luka yang ditorehnya masih menganga di dasar dada.

Kutatap Pak Yo, guru olahraga yang duduk di belakangku. Ia juga tengah galau perihal cinta. Ia bercerita tentang cinta tak bersyarat. Semua itu membuatku berpikir ulang tentang perasaanku.

Bel berbunyi. Aku harus mengisi beberapa kelas lagi. Ada enggan yang menyergap, memintaku untuk tetap tinggal.

Bu Mita guru Bahasa Inggris tersenyum kepadaku. Tempat duduk Bu Mita tepat di sebelahku. Harum parfum floral menguar seiring tubuhnya yang berkelibat melintasiku. Inilah yang membuatku tak bisa rujuk kembali dengan Pras. Makhluk cantik yang mungil, rapi, dan anteng itu selalu menyedot perhatianku, membuat dadaku naik turun tak menentu. Aku mengagumi Bu Mita seperti dulu aku mengagumi Pras. Perasaan itu datang sebagai cinta tak bersyarat bagiku, meski bagi orang lain, termasuk bapak ibuku adalah hal yang tidak mungkin.

Aku tak tahu, apakah ini wujud dari sakit dan pahit cinta yang tak bersyarat itu? Bagiku cinta adalah omong kosong besar. Tak ada cinta yang benar-benar memenuhi syarat.***

Maret 2018-Oktober 2019


Karisma Fahmi Y, lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen dan puisi-puisinya pernah dimuat di majalah Kalpadruma, harian Solopos, harian Joglosemar, majalah Papirus, tabloid Cempaka, Nova, majalah Pesona, harian Suara Merdeka, Majalah Sastra Horison, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Majalah Budaya Sagang, Buletin Sastra Pawon, Joglo. Puisi, esai dan cerpennya tergabung dalam sejumlah antologi. Tinggal di Solo. Buku terbarunya Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian (Basabasi, 2017), dan satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.

Cerpen

Tafsir Peziarah Sunyi

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Langitmendung dan angin berpusar ketika Dewi Uma meniti  jalan ke makam ayah. Ini hari kedua ayah dimakamkan. Gadis 17 tahun itu merasakan angin menggetarkan dahan-dahan kemboja. Tanah makam masih cokelat basah. Bunga di atas makam dihamburkan angin. Sore ini ia seperti ingin menyingkap rahasia dirinya. Ia kehilangan separuh jiwanya sejak pemakaman jasad ayah. Tapi kali ini ia terperanjat. Ia termangu beberapa langkah sebelum makam ayah. Ia melihat seorang perempuan setengah baya yang tak dikenalnya berjongkok, menahan tangis di sisi makam ayah. Yang membuatnya takjub dan bergetar, ia melihat seorang gadis yang serupa dengannya. Bahkan ia melihat dirinya sendiri pada gadis itu.

Gerimis tajam menerpa wajah ketika Dewi Uma masih termangu. Menahan diri, ia tak sanggup melangkah. Berganti-ganti ia memandangi perempuan setengah baya dan gadis yang serupa dengannya. Ia merasakan kedekatan hati yang terselubung tabir rahasia. Ia merasa perempuan setengah baya dan gadis yang serupa dengannya itu merupakan kerabat. Ia mendekat ke arah makam ayah.

Hujan deras dengan angin berpusar tercurah dari langit. Dewi Uma berlari mencari perlindungan di bawah pohon beringin tua. Mengeringkan wajah dan rambutnya dengan sapu tangan. Ia menatap ke arah makam ayah. Senyap. Tak seorang pun berada di makam itu. Perempuan setengah baya itu dan anak gadisnya tak terlihat lagi. Mereka berlari menghindari hujan yang tercurah dari langit bersama pusaran angin. Dewi Uma kehilangan lacak, tak dapat menemukan sosok mereka.

Mendekati makam ayah saat hujan reda, Dewi Uma masih merasakan getar tubuhnya. Bukan getar tubuh karena hujan yang mendadak tercurah dari langit. Getar tubuh bertemu dengan dua orang–yang dalam pikiran Dewi Uma, sangat berkaitan dengan rahasia hidupnya. Meninggalkan makam ayah pada saat senja, hati gadis itu diliputi tanda tanya.

 ***

Langit cerah ketika Dewi Uma kembali ziarah ke makam ayah. Ini hari ketiga ayah dimakamkan. Menjelang sore, tak seorang pun datang ke makam, kecuali Dewi Uma dan Fajar, teman sepermainannya. Mereka begitu akrab semenjak kanak-kanak. Fajar terbiasa mengajak Dewi Uma ke mana pun, termasuk saat mendaki gunung. Fajar yang memiliki tubuh kekar dan tangguh, selalu membuat Dewi Uma terlindungi.  

“Aku melihat seorang perempuan setengah baya dan anak gadisnya, yang sangat mirip denganku kemarin di makam ini,” kata Dewi Uma, saat mencapai makam ayah. “Hujan turun, dan mereka menghilang ketika aku berteduh di bawah pohon beringin.”

“Kesedihan telah membawamu untuk melihat gadis yang serupa denganmu. Kau sedang melihat wujud kesedihanmu. Gadis itu pasti kau sendiri.”

“Lalu, perempuan setengah baya itu?”

Sejenak Fajar berpikir, sebelum menjawab sekenanya, “Ia wujud dirimu di masa yang akan datang.”

“Aku tak akan menjadi seorang ibu yang memendam kesedihan serupa itu. Aku mau jadi seorang ibu yang bahagia dengan segala pilihanku.”

“Nah, itu gambaran dirimu di saat sedih, di antara kehidupan yang bahagia,” goda Fajar, tak mau menyerah. Dewi Uma merasa diledek Fajar. Ia  masih memikirkan seorang ibu yang wajahnya memendam duka dan anak gadisnya itu. Ia yakin bila benar-benar bertemu dengan seorang ibu yang berparas sedih dan anak gadisnya yang mirip dengannya: serupa saudara kembar. Ia sangat ingin bisa bertemu mereka.

***

Masih berkabung, di hari keempat ayah dikubur, Dewi Uma berziarah ke makam, menjelang sore. Ia ditemani Joko Bandung, kekasihnya, seorang militer. Lelaki muda kekar itu baru bisa datang dan mengajaknya ziarah ke makam. Mendaki jalan setapak ke bukit makam, di bawah dahan-dahan kemboja, Joko Bandung menggenggam tangan Dewi Uma, memberinya rasa tenteram.

Dewi Uma kembali teringat seorang ibu setengah baya yang berziarah pada hari kedua ayah dimakamkan. Terutama gadis yang mirip dengan dirinya, menggelisahkan perasaannya. Ia penasaran ingin bertemu gadis itu: barangkali dia memiliki hubungan darah dengan ayah. Kalau memang benar Dewi Uma terlahir kembar dengan gadis itu, kenapa ayah dan ibu tak pernah bercerita?

“Aku bertemu gadis yang serupa denganku di makam ini,” kata Dewi Uma. “Ia bersama ibunya, perempuan setengah baya, yang ziarah di makam ayah.”

Serius Joko Bandung memandangi Dewi Uma. “Kita mesti mencari mereka. Coba tanyakan pada ibu, siapa perempuan setengah baya itu. Begitu juga gadis yang serupa denganmu, siapa tahu kalian memang dilahirkan kembar. Kalian dipisahkan, sehingga kalian tidak saling kenal.”

“Kenapa hidupku jadi sebuah misteri begini?”

“Kau mesti bertanya pada ibu. Tentu ibu bisa menjawab misteri ini.”

Tak ada badai, tak ada pusaran angin, tetapi tubuh Dewi Uma tergetar. Di depan makam ayah, ia menjadi gadis yang semakin tak memahami hidupnya. Ia lebih banyak berdiam diri. Ia tak bisa menyangkal pendapat kekasihnya. Mesti  bertanya pada ibu: apakah ia memiliki saudara kembar.

Turun dari makam, saat menjelang senja, Dewi Uma ingin mendengar percakapan ibu dan anak gadisnya saat berziarah. Kalau saja ia mendengar percakapan itu, tentu bisa menduga-duga siapa sesungguhnya mereka.

***

Saathari kelima Dewi Uma ziarah ke makam ayah, ia sendirian. Begitu  mencapai pintu gerbang ke makam, ia bertemu Sadewa, seorang santri Kiai Maksum, yang hendak ziarah ke makam Syekh Ali. Dewi Uma mengenali lelaki itu sebagai santri kesayangan Kiai Maksum. Ketika Kiai Maksum salat jenazah ayah dan mengiringi pemakaman, santri itu selalu berada di sampingnya.

Sadewa sempat berhenti di sisi gundukan makam ayah Dewi Uma. “Kau seperti sedang mencari jawab atas peristiwa yang pernah menimpa dirimu.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Sepasang matamu mengisahkan semua kegelisahan,” kata Sadewa,  merasa pasti.

“Beberapa hari yang lalu aku bertemu seorang gadis yang mirip denganku di sini,” kata Dewi Uma. “Aku merasa sebagai gadis kembar dengannya. Tapi sebelum kami sempat bertegur sapa, hujan turun dan gadis itu meninggalkan makam ayah.”

Terdiam, memendam senyum, sebelum meninggalkan Dewi Uma, santri itu sempat berkata, “Kau mesti yakin dengan suara hatimu yang terdalam.”

Dewi Uma terdiam. Termenung. Ia tak pernah berani mengajukan pertanyaan pada ibunya: apakah ia memiliki saudara kembar? Dalam temaram senja di makam, ia seperti kehilangan kesadarannya, dan kini menjadi manusia yang tak memahami dirinya.

***

LangkahDewi Uma mengikuti Kiai Maksum mendaki bukit makam. Kiai Maksum berziarah ke makam Syekh Ali, leluhurnya. Ini hari keenam ayah Dewi Uma meninggal dunia. Dewi Uma masih terus merenungkan gadis yang berziarah pada hari kedua kematian ayah. Ia tak bisa mengatakan gadis itu orang lain. Ia juga tak bisa menyebutnya sebagai ilusi dirinya yang sedang berduka.  

Menjelang senja Dewi Uma menuruni makam. Berada di kaki bukit makam, ia berhenti melangkah, dan Kiai Maksum berhenti tepat di sisinya. Memperhatikannya. Dewi Uma seperti tak ingin bergerak dari tempatnya berdiri. Ia berpikir, tentu telah terjadi percakapan dalam hujan antara ibu setengah baya dengan anak gadisnya sebelum mereka naik taksi dan meninggalkan makam.

“Apa yang ingin kauketahui di tempat ini?” tanya Kiai Maksum.

Menunduk, malu, Dewi Uma menukas, “Kalau saja saya bisa mendengar  percakapan antara seorang ibu dan anak gadis yang ziarah ke makam ayah, tentu akan terbuka asal-usul saya.”

“Kau bisa mendengar percakapan mereka,” kata Kiai Maksum. “Pejamkan matamu, dan kosongkan pikiranmu. Ingat kembali peristiwa yang ingin kauketahui. Semoga kau  mendengar suara percakapan mereka.”

Dewi Uma memejamkan mata, mengosongkan pikiran. Ia memusatkan perhatiannya hanya pada percakapan antara ibu setengah baya dan anak gadisnya. Ia dengar percakapan mereka dalam suara bening.

“Kenapa ibu tak mau menemui Dewi Uma?” tanya gadis itu.

“Dia sudah dibawa ayahmu dengan istri pertamanya. Aku cuma istri kedua, dan terpaksa merelakan Dewi Uma dibawanya meninggalkan kita. Hari ini aku sudah cukup bahagia bisa melihat dia tumbuh dewasa dan cantik. Suatu saat semoga kita bisa berkumpul kembali.”

Membuka kelopak mata, Dewi Uma menahan diri dari guncangan perasaan. Ia tak pernah menduga, bila perempuan setengah baya itu adalah ibu kandungnya, dan gadis yang mirip dengannya itu saudara kembarnya.  

“Mari kita pulang,” ajak Kiai Maksum. “Semoga hatimu menjadi tenteram sekarang.”

Langit senja meredup ketika Dewi Uma meninggalkan makam. Ia  merasakan angin menggetarkan perasaannya serupa dahan-dahan kemboja. Tampak samar dan menghitam makam yang ditinggalkannya. Tapi wajah ibu kandung dan saudara kembarnya kian jelas dalam benaknya.****

Pandana Merdeka, Juli 2022


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, di antaranya penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah dan nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021. Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022).

Cerpen

Pemburu Celeng dan Celeng yang Memburunya

Cerpen Dewanto Amin Sadono

Peluru kaliber 30,06 mm itu melesat dari moncong Mouser dan tepat mengenai bagian belakang telinga. Celeng itu pun menguik-nguik, menggelepar-gelepar bagai ayam yang disembelih lehernya, lalu tak bergerak-gerak lagi.

Gegas, Marbun menuju buruannya. Tamim, si tukang lampu blor, terseok-seok di belakangnya. Aki truk pada tas ransel itu menggelantung di punggungnya seperti buah nangka yang menjuntai pada batangnya. Tak sampai dua menit mereka tiba di semak-semak yang telah tersibak-sibak itu.

Seketika Marbun menampakkan wajah bingungnya. Celeng itu tidak ada. Hanya tersisa ceceran darahnya.

Seketika Tamim merapat ke Marbun. Wajahnya pucat pasi. Bulu kuduknya berdiri. Apalagi ketika tiba-tiba udara di bawah pohon beringin hutan itu dipenuhi bau bangkai.

“Siluman Dewi Celeng,” desisnya.

“Siapa?” tanya Marbun.

“Dewi Celeng,” kata Tamim, “pelindung para celeng.”

Marbun pernah mendengar nama itu, tapi cenderung tak percaya. Di hutan mana pun yang pernah diterabasnya, selalu ada tahayul-tahayul seperti itu. Namun, dia pilih tak berkata apa-apa. Tak ingin berdebat dengan warga asli Cikidang itu. Mereka lalu meneruskan perburuan, tapi sampai pagi menjelang tak ada celeng lagi yang mereka jumpai.

***

Marbun baru saja turun dari mobil dinasnya ketika Didit, anaknya yang baru kelas IV SD itu menghampirinya.

“Pa, tadi Didit ketemu celeng. Seperti foto di ruang tamu itu, lho.”

Ketemu di mana?” tanya Marbun sambil merangkul pundak buah hatinya itu dan berpikir: sudah saatnya Didit diberi adik agar tak terlalu banyak berfantasi.

“Di gerbang sekolah.”

“Boneka?” tanya Marbun lagi, mengelus rambut anaknya.

“Bukan.”

Cosplay?”

“Bukan! Celeng beneran!” serunya dan bocah sepuluh tahun itu tampak merengut.

Marbun menatap Didit dan mukanya tampak terkesiap.

“Celengnya sedang apa?”

“Tidak ngapa-ngapain. Hanya mengawasi Didit.”

“Terus?”

“Celengnya dua. Yang hitam banget ketemu waktu Didit baru datang di sekolah. Celeng satunya, yang tidak hitam banget, waktu Didit pulang.”

“Celengnya ngomong apa?” tanya Marbun lagi. Dalam hatinya mulai timbul tanda tanya.

“Tidak ngomong apa-apa.”

“Yang ngeliat kedua celeng itu siapa aja?”

“Didik tidak tahu. Tadi tidak nanya ke teman-teman.”

***

Marbun sudah hampir lupa cerita Didit tentang celeng di gerbang sekolahnya itu ketika dua hari kemudian istrinya mengatakan hal yang sama.

“Celeng beneran?” tanya Marbun. Keningnya berkerut.

“He eh. Masak Mama bohong,” jawab istrinya.

“Mama salah liat kali?”

Suer! Mama lihat dari jendela kaca ruang tamu. Celeng itu berdiri di trotoar, mengawasi rumah kita. Saat Mama keluar, celeng itu cepat-cepat kabur. Lewatnya di dekat bak sampah. Hilang di belokan menuju rumah Pak Tanu. Jangan-jangan babi ngepet, ya Pa?”

Marbun tak menjawab. Tiba-tiba ingatannya melayang pada cerita Tamim tentang Dewi Celeng. Juga celeng yang pernah ditembaknya, tapi bangkainya tak ada itu. Meskipun demikian, Marbun pilih menyimpan cerita itu untuk dirinya sendiri. Tak ingin membuat Maya, teman kuliah di fakultas hukum yang kini jadi istrinya itu menjadi resah.

Dia tak terlalu yakin celeng-celeng yang dilihat anak-istrinya itu ada hubungan dengan hobinya. Mungkin hanya halusinasi mereka. Apalagi ada hubungan dengan kasus korupsi pupuk yang sedang ditanganinya. Tidak mungkin para koruptor itu menyuruh celeng-celeng itu untuk meneror keluarganya.

***

Sabtu pun datang. Marbun kembali berburu ke Cikidang. Kali ini mengajak Marno, sopir kantor yang sering mengantarnya ke mana-mana. Marbun tak percaya hantu, siluman, atau yang sebangsanya. Celeng ya celeng! Perihal celeng yang seminggu lalu ditembaknya, tapi tak ditemukan bangkainya itu, kemungkinan besar karena hanya kena serempet kupingnya.  

Seperti sebelumnya, Marbun berniat menyewa jasa Tamim sebagai penunjuk jalan, penggendong aki, sekaligus tukang sorot lampu blor. Selain tahu seluk-beluk Hutan Cikidang, Tamim juga pembenci celeng. Mereka tiba di Cikidang menjelang Isya. Marbun berhenti di warung kopi di ujung desa. Tamim sering nongkrong di situ. Namun, malam itu Tamim tidak ada.

***

“Kapan?” tanya Marbun, kaget.

“Hari Minggu, Om,” jawab remaja berjaket merah itu.

“Minggu?” Marbun tersentak. Dahinya berkerut sedalam selokan. Berarti tak sampai sehari setelah berburu dengannya, pikirnya. “Kenapa? Sakit apa?” tanyanya lagi.

Nggak jelas penyakitnya, Om. Tahu-tahu badannya panas. Mengigau, menyebut-nyebut Dewi Celeng. Sorenya mati.”

***

Marbun tetap meneruskan berburu, dan tak terlalu menghiraukan proses mati yang aneh itu. Orang bisa mati kapan saja dan di mana saja dan dalam berbagai cara. Igauan orang yang sekarat bisa macam-macam. Kebetulan saja Tamim menyebut-nyebut nama Dewi Celeng. Bukan Dewi lainnya.

Rencana Marbun, mereka tidak usah jalan kaki menerobos semak dan menyusuri jalan setapak seperti biasanya. Cukup dari atap mobil saja. Marno yang menyopiri sementara Marbun yang mengoperasikan lampu sorot sekaligus bertindak sebagai sniper. Kalau harus menggendong aki seberat lima belas kilo sambil membawa lampu blor sejauh lima kilo meter, bisa-bisa Marno yang kurus kering itu ikut-ikutan menyusul Tamim, tamasya ke akhirat. Begitu pikir Marbun.

Mobil Jeep yang sudah dimodifikasi itu pun kembali melaju, menyusuri jalanan yang sedikit mendaki. Pepohonan pinus bertambah rapat. Sampai di sebuah pertigaan, Marbun menyuruh Marno membelokkan mobil ke arah kiri, keluar dari jalan beraspal. Mereka bertemu jalan tanah yang becek akibat hujan dua jam sebelumnya. Kabut cukup tebal menyelimuti udara, tapi lampu halogen itu masih bisa menembusnya.

Ketika tiba di kawasan hutan yang dipenuhi ilalang, Marbun menyuruh Marno menghentikan mobil. Nalurinya, di tempat itu banyak celengnya. Saat Marbun sedang bersiap pindah ke atap mobil, seekor celeng tiba-tiba keluar dari semak-semak, lalu menghadang di tengah jalan. Hanya berjarak lima meter dari mobil.  Besar sekali. Sebesar anak kerbau.

“Pak, Pak! Celeng! Celeng!” teriak Marno panik.

“Sudah tahu. Jangan berisik!”

Marbun mengambil senapannya. Merayap lewat jendela, naik ke atap mobil. Terlalu berisiko menembak celeng sedekat itu dari atas tanah. Kalau tembakannya meleset, bisa-bisa dia mampus diseruduknya.

Di bawah sorotan lampu kabut, celeng itu bergeming. Moncong hitamnya berlendir. Matanya yang merah itu menyorot tajam seakan-akan menantang Marbun. Tangan Marbun tampak gemetar saat memasukkan peluru. Selama menjadi pemburu, belum pernah dia menjumpai situasi seperti itu. Bertemu celeng yang tak takut pada pemburunya.

Marbun mengambil napas, menempelkan popor senjatanya ke pipi kanan. Setelah sejenak mengatur napas, ditariknya pelatuk senjatanya. Klik! Senapan itu macet. Pun, mesin mobilnya mati. Disusul lampunya. Seketika suasana menjadi gelap gulita. Marbun gemetar. Apalagi ketika bau bangkai yang entah dari mana datangnya itu tiba-tiba menyerbu udara lalu menyeruduk lubang hidungnya.

***

Ketika SUV yang dikendarai Marbun itu berbelok ke Perumahan Griya Tawang, belum juga melewati portal yang tanpa penjaga itu, tiba-tiba seekor celeng seukuran anak kerbau melintasi jalan dengan santainya. Marbun kaget dan segera mengerem mobilnya. Di saat itulah sebuah sepeda motor memepet mobilnya. Terdengar letusan dua kali. Lima detik kemudian motor tanpa plat nomor yang dikendarai dua orang  berhelm balap itu melesat, lalu menghilang. Pula, celeng segede anak kerbau itu.**

Kajen, 8 Januari 2022


Dewanto Amin Sadono, tinggal di Pekalongan. Cerpen-cerpennya memenangkan beberapa lomba dan diterbitkan dalam beberapa kumpulan cerpen juara. Novel terbarunya Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit.

Cerpen

Melankolia Jibril

Cerpen Nafi Abdillah

Selepas menyanggupi perintah Tuhan Semesta Alam, aku dan Izroil berbalik badan, mengepak sayap, menjauh dari pintu surga. Alih-alih meninggalkan langit ke tujuh dengan cepat, namun luapan gelisah mendadak meletus dari dalam dada. Mula-mula hanya bergetar dari satu titik, namun imbas dari getaran itu merembet ke seluruh tubuh. Hingga niat yang dari awal telah terbangun, luntur. Tubuhku mendadak kelu. Pergerakanku melambat. Izroil rupanya cukup pandai untuk tak hirau atas perubahan sikapku itu.

“Kenapa, wahai Jibril?” tanyanya kepadaku.

“Tak apa, ayo kita teruskan!”

Aku tak ingin jujur. Sungguh tak perlu ada penjelasan kepadanya. Aku tak mau memengaruhi keputusannya. Meski sedikit berandai-andai, mungkin jugalah ia merasakan hal yang sama.

Kami memang dicipta sebagai makhluk yang memiliki tingkat ketaatan tinggi. Bukan ingin berlaku sombong, tapi kodrat Lauh Mahfud tertulis semacam itu. Segala perintah selalu kami kerjakan semulus-mulusnya. Tak ada keberanian, bahkan kemampuan untuk menolak perintah-Nya. Namun, perintah Allah kali ini memiliki kadar yang jika boleh kukategorikan berada pada interval yang sangat tinggi. Ada lubang-lubang dilema yang tumbuh meraksasa. Menjalankan perintah-Nya adalah keniscayaan, mangkir dari perintah-Nya adalah sikap yang lebih membangkang dari sikap sombong itu sendiri.

Tapi perintah-Nya kali ini sangatlah berbeda. Sebagian perasaanku yang dekat, mengangguk cepat sekali. Pada bagian yang lain muncul keragu-raguan untuk tunduk dan mematuhi perintah-Nya. Ingin sekali kutegaskan perihal perasaan yang mengganjal ini kepada Izroil. Ingin kubagi seluruh keluh kesah. Namun selalu kuurungkan tiap kali kubaca mimik wajah Izroil yang tampak sangat serius itu. Bisa-bisa timbul perdebatan dengannya jika perasaanku ini tak selaras dengan yang dipikirkannya. Maka kuputuskan untuk tak membicarakan dengannya. Biarlah kusimpan gelisah ini sendiri.

Toh, untuk urusan menahan gelisah, aku cukup terlatih. Seluruh peristiwa yang telah kulalui bersama Kanjeng Rasul, tak sedikit memunculkan perasaan-perasaan semacam itu. Namun, Rasul selalu meredamnya dengan cara-cara berbeda yang tentunya membuatku takjub.

Terkadang, aku tak mengerti jalan pikirannya. Kusangka akan mengarah ke suatu sisi, namun ternyata keputusannya jauh mengarah ke sisi yang lain. Padahal aku telah berusaha untuk menjadi manusiawi di hadapannya, namun kenyataannya pikirannya jauh melampaui itu semua.

Seperti ketika Kanjeng Rasul berada dalam perjalanan kembali ke Makkah dari Kota Thaif untuk menyampaikan ajaran Allah. Kanjeng Rasul menerima penolakan besar dari tiga pemimpin suku Tsaqif: Abdu Yalil bin Amr, Mas’ud bin Amr, dan Habib bin Amr.

“Apakah Tuhan tidak menemukan orang lain yang bisa diutus selain kamu? Demi Tuhan, aku tidak akan mau berbicara denganmu selama-lamanya. Jika betul kamu adalah rasul, maka sungguh merupakan bahaya paling besar. Kebohonganmu sepatutnya memberiku alasan untuk tidak berbicara denganmu.”

Bahkan mereka mengerahkan para budak dan anak-anak kecil untuk mengusir Rasul di tengah terik matahari, melemparinya dengan batu sehingga kedua kakinya berlumuran darah. Zaid bin Haritsah yang ikut bersama Rasul berusaha menghalau batu-batu itu. Kemudian keduanya berlindung di kebun milik Utbah sampai anak-anak kecil itu kembali ke Thaif. Rasul, dengan hati yang terluka kemudian menuju ke bawah pohon kurma dan duduk di sana.

Aku tahu, sangat terpukul hati Rasul. Dan aku, yang diam-diam mengikuti kanjeng Rasul sudah mulai geram dengan perlakuan yang diterimanya. Lantas aku mendekat ke arahnya, dan meminta izin membalas perlakuan mereka.

“Wahai Rasul, batu-batu gunung itu sudah siap meruntuhkan dirinya hingga menimbun seluruh kota Thaif. Aku hanya tinggal menunggu persetujuanmu.”

Namun, yang kuterima dari Rasul sangat jauh dari yang kupikirkan. Ia menolak dan malah mencoba meredam kemarahanku.

“Tidak wahai Jibril. Tak apa jika pemimpin mereka menolakku. Siapa tahu anak-anak keturunannya nanti yang bakal menerima ajaran yang kubawa.”

Sungguh takjub aku atas sikapnya. Kusangka Rasul akan patah, namun sedikit pun ia tak pernah goyah. Meski segala pertolongan pastilah datang padanya, tapi ia tak pernah gegabah. Ada saja perasaannya yang berpijak pada keselamatan orang banyak. Dialah sebenar-benarnya pemimpin.

Namun dalam kejadian lain, suatu kali aku pernah melihat Rasul menangis ketika sedang berkumpul bersama sahabat-sahabatnya. Aku sungguh heran. Rasul menangis sebab tak mendengar kabar bahwa seorang perempuan berkulit hitam, Kharqaa’, yang setiap hari menyapu masjid, meninggal dunia.

“Sudah lama aku tak melihat Kharqaa’, ke mana gerangan perempuan itu?” tanya Rasul kepada sahabat-sahabatnya kala itu.

Para sahabat boleh jadi menganggap itu bukan soal penting hingga harus memberitahukannya kepada Rasul. Aku yang juga melihat hal itu, awalnya juga menganggap itu bukan soal penting. Padahal sebagai seorang pemimpin, ia pastinya memiliki urusan lain yang sangat banyak dan lebih penting. Namun, entah kenapa Rasul merasa menyesal dan bersedih ketika tidak mendengar kabar itu lebih awal.

Oleh sebab itu, untuk kesekian kalinya, aku dibuat takjub oleh sikapnya. Sebagai wasilah penghormatanku kepadanya haruslah ada laku untuk mengantarkan ke arah sana. Untuk itu, aku merasa harus selalu menyebut-nyebut namanya: Shollallah ‘alaa Muhammad.

Dengan mengingatinya, mungkin akan sedikit meredakan perasaan gelisah ini sebelum benar-benar menjalani harmonisasi lain yang tidak akan sama seperti saat ini atau yang telah lalu. Maka kuberanikan meminta Izroil mengurangi lesatannya yang cepatnya tak keruan itu. Kuyakinkan dia untuk tak terburu-buru. Toh, tak ada beda antara cepat dan lambat. Kalau cepat mau mengejar apa, kalau lambat mau menunggu apa.

“Wahai Izroil, tidakkah lebih baik kita tak terlalu terburu-buru untuk lekas bertemu Kanjeng Rasul?” dalihku padanya.

Izroil tergeragap mendengar ucapanku yang mendadak itu. Lalu, dengan menoleh ke arah belakang, ke arahku tentunya, ia berujar, “untuk alasan apa engkau mengatakan tak terburu-buru?”

“Bukankah Tuhan telah mengatakan kepadamu jika Sang Rasul kita tidak setuju, maka kita pun tak berhak dengan keras kepala melanjutkan tugas kita? Apakah kau tak merasakannya bahwa Tuhan sedang berpolitis kepada kita? Maksudku, Tuhan sebenarnya telah menyiapkan waktu yang sangat longgar untuk kita, ya sekadar untuk melapangkan dada kita.”

Ucapanku itu tampaknya sedikit memengaruhinya. Buktinya, ia tak lagi melesat dengan lesatan yang keterlaluan kencangnya.

Sambil nyengir, ia berkata, “baiklah, wahai Jibril. Sekalian aku akan mengatur siasat yang paling halus bagaimana meminta izin kepada Beliau.”

“Benar Izroil, benar, kau harus pula memikirkan itu.”

***

Kanjeng Rasul ialah makhluk terbaik. Dialah muasal segalanya tercipta. Dialah alasan kenapa makhluk seperti aku ini tercipta. Dialah perantara. Dialah yang menjaga biji, mengalirkan air sehingga bertunas dan menjulang dengan daun-daun yang lebat-lebat. Dialah yang menumbuhkan rerumputan, merakit cabang-cabang sehingga tanah-tanah tampak tak lagi gersang. Dialah yang mengucurkan mata air, membuat celah-celah di dalam tanah sehingga menyemburlah oase di tengah padang pasir. Dialah yang meniupkan bulir-bulir pencerahan di dalam kepala yang dipenuhi lumbung kegelisahan. Dialah yang membasuh dan membersihkan noktah-noktah kebencian lalu menggantinya dengan akar-akar kepercayaan dan persatuan. Dialah asal muasal. Dialah pakaian bagi jiwa-jiwa telanjang. Dialah yang mengangkat. Dialah yang menuntun. Dialah yang menyelamatkan.

Di tengah pengembaraanku ke masa lalu bersama Rasul, aku pun tak sadar telah sampai di langit lapis pertama. Namun kegelisahan ini tetap saja memenjarakanku. Meski Sulthonul Malaikat ialah tugas yang melekat dalam diri, namun hak untuk merasa gelisah kurasa tak pernah tebang pilih atas tugas yang melekat pada diri tiap makhluk. Gelisah memang gelombang-gelombang daripada episentrum cinta. Wajar bila makhluk yang menahbiskan diri sebagai pecinta, suatu kali bakal merasakan gempa yang menggoyang- goyangkan jiwa.

Untuk hal semacam itu, suatu kali aku pun pernah merasa cemburu terhadapnya. Setelah mengantarnya berisra’, melakukan perjalanan panjang ke seluruh semesta, menembus ruang dan waktu hingga akhirnya menghadap Allah. Namun ketika telah sampai pada pintu menuju arasy Allah, aku tak diperkenankan masuk oleh-Nya. Dan saat itu aku merasa sangat cemburu. Bukan karena pertemuan intim Rasul bersama Allah yang menyebabkan aku cemburu. Melainkan kecemburuanku mengarah pada bakiak yang dikenakan Rasul. Bakiak bisa mengantarkannya masuk dan bersama-sama menemui Allah. Sementara aku, Jibril, hanya boleh menunggu di luar. Coba, siapa yang tak gembira jika menghadap Allah bersama- sama dengan makhluk terkasih seperti Kanjeng Rasul?

Namun semakin kumengingati peristiwa bersama Rasul, jurang-jurang kebimbangan semakin menegaskan ke dalamannya yang memiliki lapisan berlipat. Perlu usaha yang tidak

hanya tepat, namun juga keras untuk melaluinya. Di satu sisi akulah makhluk yang taat, di sisi yang lain aku tak memiliki keberanian melihat seorang yang paling kukasihi menderita. Maka, kukuatkan dan memberanikan diri menolak menemani Izroil untuk turun ke bumi, ke tempat tidur Kanjeng Rasul.

Aku, Jibril, Sang Penyampai Ilmu, kunyatakan bertahan di langit ke satu, walau remuk dadaku menahan gelisah yang tidak menentu. Biarlah Izroil sendiri yang melihatmu menderita wahai Kekasih.

Pada detik ini, aku diminta untuk menemani Izroil untuk… ah, sungguh sulit dan bagiku sangat tidak sopan hanya untuk sekadar mengatakan akan mencabut nyawanya.


Nafi Abdillah, lahir dan tumbuh di Kabupaten Karanganyar. Seorang pembelajar pula di salah satu padepokan di selatan Jawa Tengah. Hari-harinya ia habiskan dengan menulis dan mengurusi penerbitan buku indie (Sirus Media). Ia juga bergiat di Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar dan Forum Malam Sastra Pandawa. Karya-karyanya berupa cerpen dan puisi tersiar di beberapa media. Beberapa kali menjuarai ajang perlombaan menulis. Penulis bisa disapa melalui surel [email protected] atau akun media sosial Nafi Abdillah.

Puisi

Puisi Adnan Jadi Al Islam

10 Maklumat Ngopi

/1

Di hadapan kopi yang tak berasa

Seorang peminum pernah tergesa-gesa

/2

Di hadapan kopi yang mengepulkan ilusi

Bayangan rumah tengah bermanifestasi

/3

Di hadapan kopi yang tak beresensi

Sekumpulan manusia lupa mengevaluasi diri

/4

Di hadapan kopi dini hari

Kemaksiatan acap menginvasi

/5

Di hadapan kopi yang tak lagi suci

Seorang wanita berulang mengkhianati

/6

Di hadapan kopi tanpa arti

Seorang laki-laki enggan membuka hati

/7

Di hadapan kopi tanpa bicara

Jemari lentik mengetik luka tanpa jeda

/8

Di hadapan kopi yang sakit hati

Ribuan rakyat tertikam sebilah janji

/9

Di hadapan kopi yang berpuisi

Selembar lautan tak henti menyanyi

/10

Dan, di hadapan kopi tanpa gula

Lidah cinta aktif menafsirkan rasa

/Februari, 2022


Nyanyian Laut

Sekeping fragmen sendu

menyilaukanku, sesaat,

portal terbuka: bibir pantai Sadeng

di sana, puisi-puisi pernah ruah

lewat pori-pori jilbab seorang wanita

pengenggam kamera

Seperti katamu dulu,

para nelayan hafal

siklus waktu kala laut

akan menyanyi

Sebelum hantu-hantu cemas dan bengal

menyebar ilusi di udara

dan dunia meleyot

oleh gema teriakan masa lalu

Kamera itu kelak akan terjun bebas

di dermaga ini

ketika arwah Edvard Munch turun

menggenggam tangan wanita itu

mengajaknya pulang

ke langit

Kini, aku masih termangu di sini

memindai album demi album dalam kamera sunyi

hingga sebuah foto menarikku kembali

ke sebuah dimensi, pada saat kau berhenti bernyanyi

pada saat aku, mesti melepasmu pergi

/Januari, 2022


Cahaya

: Tiara

Kenanganku tentangmu, kenangan tentang kesunyian rawa

selimut kambangan dan eceng gondok, pada pagi kelabu,

pada pancaran cinta dari lubuk mata para pemancing

dan kuar petrichor di antara uap nasi goreng

Kastil dalam diriku luruh, seseorang muncul

dengan langkah cahaya berjalan menghapus rimbun keraguan.

Ratu baru bertahta, menandaskan

mimpi-mimpi sepi yang masygul

Kau datang dengan kelembutan fajar

menyapaku lewat aroma Geranium rekah;

lengan angin menyapu ingus batu

yang getir sepanjang musim.

Ketika angka-angka berjatuhan dari langit

waktu: gigil

masa silam dan masa depan bersentuhan

menyebabkan letupan demi letupan pertanyaan

“Ilusi ataukah kenyataan?”

Kau makin kuasa dalam diriku.

Kehadiranmu adalah musikalisasi

semesta atas sajak senduku.

Maka kuhamparkan jalan

di mana kau akan suka

berotasi dan menyalakan

segala daya kemungkinan,

tentang kita.

/Februari, 2022


Bayang-bayang

Ketika kau menghilang,

waktu memanjang,

hari-hari sesak:

mejamu berteriak

berdebat dengan kursi di ruang guru

meredam bel tanda istirahat

membekap mulut mimpi kecil yang lapar

siapa singgah berikutnya?

mungkinkah sungguh berikutnya?

Senyum tanpa cahaya

sekejap layu mengantar bendera

yang tanggal bersama

lagu kebangsaan

Di dalam khidmat, tangis terkesiap

mengumpulkan mendung

di bawah matahari

aku mematung, sendiri,

coba melindungi

pendar jam dinding.

kutegur kegelapan

karena di setiap kedipnya

bayangmu selalu berkelebat

/Maret, 2022


Tempat yang Dicuri

: Dean Lewis

Tetapi aku tak sedang menunggu badai itu

pergi meninggalkan rumah kita

melambai dan membuat daun pintu menunggu selamanya

Yang kuinginkan hanyalah kekosongan;

mengakar di antara jemari ini sublim

terbawa angin dan memberi pelajaran

pada pohon-pohon arti kesendirian

Ataukah kegelapan lebih berarti

daripada kedustaan cahaya

yang acap membiaskan pelukmu?

Aku hanya ingin menghampar di atas pasir

mengasah telinga sembari memandang langit

apakah di atas sana

burung-burung tak pernah membenci badai?

Ah, berangkali luka adalah tafsiran waktu

atas masa depan kita: melampaui

memori yang menjatuhkan puing-puing keabadian

dan lenyap ditelan kenyataan

/Mei, 2022


Angin yang Berpulang pada Api

: Sapardi Djoko Damono (Alm.)

Aku seperti angin labil:

tidakkah sesekali ombak ingin tenang,

awan-awan butuh ketiadaan di samping kepastian,

dan akar pohonan terlalu purba menghadapi ujian

“Tetapi kewajiban kita hanyalah sakit

dan kita tak butuh hak untuk bertanya

bukankah kata-kata hanyalah riak,

sedang orang-orang menginginkan keabadian?”

Ah, aku ingin menjadi api yang tamak bekerja:

menebas tiap leher kegelapan yang bengal,

menandaskan malam dan udara dingin,

atau sekadar prototipe neraka sebelum surga

/Mei, 2022


Alibi

“Dia hanya baik, kenapa kamu baper?”

tanya gerbang kampus lima tahun silam,

setengah mewanti

“Hm, ya, biar jadi bahan bakarku nulis puisi.”

 jawabku—Tuhan tahu aku berbohong;

Atid lantas memainkan pena—

baru saja, saat kembali dari

acara pernikahannya

/Mei, 2022


Minggu Pagi di Bulan Juni

Sepi

yang menikah

dengan angin kemarin

mual-mual pagi ini

hujan bilang, ia tengah

mengandung bayanganmu

/Juni, 2022


Lelah

: Alan Walker

Dan aku telah kembali dari dalam dirimu

yang tak kutemukan lagi diriku, di sana

ke punggung bukit, memandangi danau dan bertanya

apakah kebebasan benar-benar ada?

Tapi tak seperti awan

kita hanya pura-pura tertambat

sekadar berjalan dan lenyap

atau—kalau beruntung—turut menggema ke angkasa bersama uap

Waktu: asing

burung dan dedaunan: beku

dingin—ingin

namun tak tersampaikan

/Juli, 2022


Adnan Jadi Al-Islam, lahir di Klaten, 21 Oktober. Lelaki galau, pengagum kata-kata, penikmat ojek penyet dan sambel welut. Sering insomnia lantaran kebanyakan kopi dan kenangan. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan daring. Masih mukim di Klaten.

Puisi

Puisi Sofyan RH. Zaid

RITUAL

sebelum tidur

aku selalu peluk

dan cium keningmu

suatu malam

kau bertanya

kenapa

aku jawab:

“tidur tak menjamin kita bangun

dan bertemu lagi.”

2022


SKALA

tiga orang perempuan bersiap

kepala miring

dan mulai tersenyum

sebagai juru kamera

melalui lensa yang diperbesar

sekian skala

aku melihat

:ada seorang

dari senyumnya itu

mengalir air mata

2022


AKU MAU JADI GAWAI BAGIMU

untuk apa pertemuan ini

jika aku seperti bicara

dengan diri sendiri

kau hanya khusyuk pada gawai

dan abai padaku

-yang lama berdandan-

apalagi peduli pada rinduku

yang mengabu

padahal

aku pun mau

jadi gawai bagimu

walau harus mengisi daya

dan kuota sendiri

2018-2022


JIKA KAU CARI AKU

jika aku tiada di prosa, cari aku di puisi

jika tiada di puisi, mungkin di esai

tapi jika aku tiada di esai

jangan cari aku di catatan kaki!

2017-2022


SANDI GAWAI

aku sudah lama ganti fotomu

di layar gawaiku

meski sandinya

masih saja namamu

2018


PENSIUN

ternyata

puisi yang kita tulis

prosa

kini saatnya

aku jadi judul

dan kau titimangsa

biarlah kata melupa

maknanya sendiri

2021-2022


EKSISTENSIAL

aku suka menyelam di laut sajak

atau di sungai tubuhmu

hingga kadang lupa untuk bernapas

beberapa orang mencariku

mungkin sebab rindu

atau waktu yang memburu

sementara aku masih terus menyelam

mencari diriku sendiri

di dasar

2022


KADANG

kadang

kita butuh jarak

untuk tahu

rindu itu sesak

kadang

kita butuh temu

agar rindu terpendam

tak jadi dendam

dan kita

akan selalu butuh kadang

2021


TAWURAN ANTARKOTA

akhirnya, dua kota

yang sama menabung rindu

bertemu di atas panggung

menyatukan suara dan gerak

dalam pembacaan sajak

mata mereka serupa kamera

saling memotret

malamnya, selepas pertunjukan

saat penonton pulang

mereka diam-diam memasuki kamar

dan terjadilah tawuran

2021


Sofyan RH. Zaid lahir di Sumenep. Alumnus Filsafat dan Agama, Universitas Paramadina, Jakarta. Buku puisi tunggal pertamanya Pagar Kenabian masukmasuk 15 nominasi Anugerah Hari Puisi Indonesia 2015. Puisi-puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti Inggris, Arab, dan Italia yang dimuat dalam buku Oikos Poeti Per Il Futuro (Mimesis Classici Contro, Milano, Italia, 2020).

Puisi dan esainya juga terbit di sejumlah media. Kini tinggal di Bekasi sebagai editor, founder TSI Group, dan redaktur Sastramedia.com. Buku esainya yang akan segera terbit: Kaidah Puisi dan Akidah Kepenyairan.

Cerpen

Simbok

Cerpen Kesit Himawan

Satu pesan simbok yang selalu diucapkan melekat di ingatanku sampai detik ini. “Urip kuwi sejatine mung kabegjan, mulane kabeh sing ditampa kudu disyukuri.” Simbok membuat perumpamaan yang sederhana tentang arti keberterimaan. Tentang kisah dua orang yang mendapatkan jatah makanan, masing-masing sebungkus. Mereka tidak tahu bagaimana rasa makanannya. Namun, mereka harus menyantapnya. Karena makanan itu satu-satunya yang tersedia.

***

Hari ini merupakan perayaan Natal. Umat yang datang sangat banyak sampai memenuhi deretan bangku depan yang biasanya di misa Minggu selalu terlihat kosong. Gedung gereja yang penuh membuat ruangan menjadi terasa panas. Rasa gerah membuatku tidak sabar dan tidak khusyuk mengikuti rangkaian liturgi misa kali ini

“Perihal nasi goreng sudah barang tentu buatan ibu yang paling lezat,” ucap romo mengawali homili misa Natal pagi ini. Kata nasi goreng membuat perutku bergejolak. Mataku yang tadinya sayu kini mulai segar kembali. Romo terus saja berkhotbah di mimbar samping altar. Kisah tentang Maria menjadi materi homili yang selalu diulang-ulang setiap misa perayaan Natal. Seorang perawan yang rela mengandung padahal belum bersuami, karena perihal itu sudah menjadi kehendak Tuhan.

Setiap kali romo menyebut nama Maria, aku selalu teringat simbok. Pikiranku melayang membayangkan wajahnya. Perempuan yang sangat jarang terlihat marah atau sedih di hadapanku. Apa pun yang terjadi dalam kehidupan keluarga kami, simbok selalu saja tersenyum. Namun karena aku sangat dekat dengan simbok dibandingkan saudaraku lainnya, selalu bisa merasakan apa yang sedang dia alami. Setiap kali aku bertanya apakah simbok baru saja menangis. Jawabnya selalu saja sama untuk menutupi perasaannya. Simbok menangis bukan karena sedih tetapi karena bahagia.

Pikiranku berjalan semakin jauh, terhenti kepada sebuah kejadian masa lalu ketika aku masih kanak-kanak. Suatu pagi, aku  terhenyak dari tidur gara-gara mendengar suara kekacauan di pawon. Aku tidak berani keluar bilik, hanya bisa mengintip dari lubang anyaman bambu pembatas bilik senthong. Bak kerasukan setan, bapak membanting semua gelas dan piring yang sedang dicuci simbok. Panci, dandhang, dan wajan juga tidak luput dari amarahnya. Semua berserakan menghampar di lantai pawon. Tidak berbentuk. Puncak kemarahan bapak adalah sebuah pukulan mendarat di mata kiri simbok. Warna biru membekas di kelopak matanya dan warna merah meradang menghias di bola mata itu. Namun simbok hanya menunduk saja memegang wajahnya, menyembunyikan tangis dan kesakitan. Gegas bapak pergi, meninggalkan simbok tanpa sepatah kata pun. Suasana pawon menjadi hening sehingga telingaku bisa mendengar isak tangis simbok. Aku berlari mendekat dan memeluknya.

Tengah malam harinya, terdengar pintu depan diketuk seseorang. Ternyata bapak pulang membawa kardus yang berisi beberapa gelas dan piring. Simbok menyapa dengan penuh tulus dan mencium tangan bapak. Bapak menggapai pundak simbok dan dia melingkarkan tangannya di pinggang bapak. Mereka berdua terlihat saling memeluk hangat. Menumpahkan segala penyesalan. Membersihkan luka-luka. Segera simbok menuju pawon, menyiapkan secangkir teh panas untuk bapak. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka pagi tadi, meski bekas lebam di kelopak mata simbok masih terlihat jelas, bagai mendung gelap yang menggantung di musim hujan. Aku yakin, hati simbok bukan hati manusia, mungkin dia adalah titisan Bunda Maria. Karena sepertinya tidak pernah tertanam rasa dendam di hatinya barang setitik pun.

… Kembali sayup kudengar

di doa ibuku, namaku disebut

di doa ibuku dengar, ada namaku disebut

Sekarang dia telah pergi ke rumah yang senang

Namun kasihnya padaku selalu kukenang…

Suara nyanyian umat menuntun pikiranku dari ziarah masa kecil untuk kembali ke ruangan gereja. Mataku perlahan mulai berlinang. Tak mampu aku tahan lagi, mataku buram tertutup air mata. Natal tahun ini, tepat satu tahun simbok pulang ke rumah keabadian.

“Selamat Natal, Mbok. Aku kangen,” ucapku lirih.*****


Kesit Himawan, lahir di Wonogiri, tinggal di Sukoharjo. Penyuka sego tiwul dan jangan lombok. Turut bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar.

Puisi

Puisi Vania Kharizma

Air Mata Pogrom

Kelengangan menjelma rimbun legam yang berdiam
menghuni saban doa yang gemar menatah langkah
mereka koyak tafakur ibu dan tidur biyak yang cemas
seperti gema sirene, onar amunisi
aku isak sepanjang degup jantung ibu

di luar maha riuh keriau berkelibang
mengantarkan pesan melalui gemuruh
barangkali jelaga yang mengabu di awan
berkelun gulana menitip pesan:
              

     di sini kami sedang tidak baik-baik saja

pertumpahan biram begitu kemrusung
segenap wahing mengudara tak kenal arah
tapi di sini kaki pun lecet dicumbu borgol
kening kami dibusung pistol tembaga
suara decit pantofel masihlah gemar terdengar dan tibalah
‘GUBRAK!’ dentuman kencang tubuh yang ambruk di tanah
seperti suara bapak

dan ibu menangis
dan aku menangis
kami tunaikan ibadah air mata di hari Minggu

(Solo, 2021)


Membaca Penjara

Kami sepasang onar yang haus,
di tepi barak kubungkus air mata pada setangkup anyelir di pot nakas bangsal.
Himne di sekujur wabah bercokol dalam guruh jemala. Sesuatu melekang––
adalah tendasku tandas tewas, seperti arah mata angin menyebar virus.

Dan betapa bahak tunawicara bising
dirangum tunarungu. Gigil sekujur kungkungan
meramai, seakan berkicau dalam hening penantian,
Akankah segenapnya fana, atau bisakah kami ulik nostalgia?
Seperti impunitas yang gagal panen, kita diborgol wabah silabus

Darinya kita dicangking hanger yang lepuh,
sepuh, berdebu, di punggung koyak pintu kamar
mengeja yojana dan kesunyian yang hidup berdetak
Seperti seorang narapidana, kita abadi di balik jeruji gamang
Kecemasan menyapu ingin, sedang pagebluk ialah niscaya,
segenap mafia semata merapal semoga dalam amin yang ragu

(Solo, 2021)


Pagebluk dalam Jemala Hemodilusi

Kegelisahan tak lain yakni niskala yang kau kulak sembari mengecer sedih di rakung wabah, tatkala kau bergidik nyeri dalam sakit yang kau kebiri
dan tengkuk jemala sekadar memar-lebam, retak tulangnya tak kuasa memberi jalan arteri
sebab persimpangan plasma tumbuh subur yojana berkisar nanometer dari 1.000.000 jiwa
menampakkan betapa sungkawa asri mencagarkan lara dari liuk relung kulawangsa

dan malam itu kita bersaksi tiada seranah selain liur anyir dari hidu darah pagebluk
yang tengkurap enas mengenyam musim bahagia di mana wabah sekepal mangkuk
   : aglutinasi erang sepetak tabah, sepukal jentaka pun linang dari mata keharuan
layaknya eritrosit di tepi abad––menggumpal bak tuak sepekat legam kecemasan

semenjana, kekalutan meneroka berbenggil-benggil gelabah wabah
tunggang-tunggit mandam dalam carut-marut epidemi buas meruah
layaknya denyut monitor pun ingar sirene sepanjang malam menyayat pekak tunarungu
mengisahkan keriau isak dari deru parau kalabendu; dari kembang-kempis kalpataru

   dan adakah kerisauan menjelma setangkup lila dari bangkup sekujur awak?   dari liyan nestapa sonder huru-hara; sonder kelut-melut peredaran darah pagebluk

(Solo, 2021)


Terhadap Warakawuri

Sisakan tumbang kalpataru yang rampung ambruk
selepas sedihmu menewaskan bara anak-anak firdaus
bergemuruh jemala terisak
kembara tiada sempat berpulang
walakin bekal habis sudah, tungkaimu terkilir lebam-lebam
tapi tidak dengan
nelangsa yang menginap
dari dua manikam matamu

Betapa cendayam nayammu gusar menyaksikan
kembang-kembang ditanam dalam tubuh kekasihmu
pesara yang sempat kau dongengkan di waktu malam
perihal kematian dan kerinduan
anak-anak mengurung cemas dalam kesunyian
semacam dering beker yang mengentak kantukmu
dan dari bangunmu, jam pun tak tampak
habis kau dikoyak balada!

telah tandas bahagia
kesepian kini merajut tubuhmu yang gigil
tiap belulangmu bungkam mengaram rintih
seperti sebuah prosopon yang diulang-ulang
aku merindukanmu
aku merindukanmu
jemput aku ayah

seketika, kau lupa rute ibadah dan doa
sebab kesedihanmu ialah niscaya
dan kematian tinggallah menunggu hari

(Solo, 2021)


Mencangking Problematik

Ode begitu mewah tiap kali
asterik tewas di tendasmu terbelah sebelas
menjadi kepingan nebula di mana kau bermalam
sejenak terusik––sejenak menyelinap––sejenak
tafakur diam, hening.

inikah hidup yang kau maksud, bum?
pada bumi, kuredam segenap sambat.

Semenjana dalam simpang yojana
dua gelintir bocah rambu apel sibuk berkutat
ihwal kemerdekaan––ihwal pembebasan dari
rasa lapar pun dahaga, tiap kali mereka ketuk
jendela mobil sekadar menyisakan lambai

inikah hidup yang kau maksud, bum?
pada bumi, kupendam segenap maslahat.

Dalam sembahyang kandidat penumpang kehidupan
mengijabah segenap ketabahan pagi di sepetak kios renta
dalam rutuk tuan gardu, mendeportasi kantuk bohemian
sebab demikianlah tiba waktu mencangking problematik

demikianlah kita ulik enigma kehidupan.

(Solo, 2021)


Menanam Kulawangsa

/1
Sedari ibu tanak akasku dalam sebotol kempung susu
aku kenyang gizi, merimbuni gelak tawa pada binar ibu
yang dahulu gemar muram, mengenyam sendu jua sembilu
semenjana kian ranumlah aku, dimatangkan panci waktu

/2
Ibu tanam aku pada semangkuk tawar air hujan di pagi
barangkali menyerupa air mata, atau dahaga suatu elegi
tapi tidak––ibu sirami pot-pot tubuhku dengan senyum laksmi
betapa juita, aku diayun pada hangat gendongnya yang asri

/3
Ibu beri aku rekah mentari kala gulita semata lelap tertidur
dan aku pesam terkantuk nyenyak di bawah lindung tafakur
seperti ketika ibu berdongeng, aku cendera semalam suntuk
hingga purna lekang kuntumku, tumbuh subur: terbentur dan terbentuk

/4
Sebagaimana sembilan purnama lalu,
ibu menimbunku dalam tanah yang tabah menyeduh kalabendu
agar sesampainya kelak mencagarkan cendayam ibu, rautnya––
kakinya yang tak lagi tangguh; raganya yang tengah separuh renta
sebab kala ibu menanamku, aku tumbuh serupa rumah kulawangsa
menjadi semayam bermalamnya lelah ibu, akan poranda bumantara

Bund, aku tumbuh seperti kembang yang kau tanam
purna merekah bagai kuntum kulawangsa melaram


(Solo, 2021)


Steik Wagyu & Bahagianya
     : buat bohemian dan antek-anteknya

Pagi ini aku memilih cemas dengan radang mengering & kritis di kepala
jalan-jalan yang ditutup ialah keniscayaan rindu memuisikan segenap hela
aku kadung mengutuki terminal yang disepikan suara kerincing koin pengamen
hingga berdiam menyulut waktu pada kepul sigaret pengantar amin

aku berlari mengejar langit yang katanya masih biru
tapi tidak dengan kaca mata hitam di kepalaku yang mengharu
menemui para pengail TPA dengan elegi disenandungkan mereka
& aku menanyai perihal pagi, “Masihkah kau menanti mentari & pelangi?”namun mereka menggeleng & lebih memilih steik wagyu di prospektus
aku memerangi kalut, menggandengnya menjajah resto mahal

di bibirnya sekadar melongo sekelebat menit
ludahnya mengintip di sela lusuh papila legam
aku menelan cemas,
mereka geming––katanya tiada pagi selain hujan yang berpelangi
sedang aku melamun: kekalahan ini ialah maksud dari syukur

(Solo, 2021)


Dimuseumkan Musim Hujan

Rejung yang kejang dibacakan isak sepanjang kemarau mengerang
tapi kita dilautkan dengan gebyur air garam yang menggenang
& tangis di teduh wajahmu sirna dilahap ombak yang liar
hingga melupa sakit apa yang dahulu membara–menguar

aku dipepet senang dengan napas kering akibat gemar tertawa
& memilih meredam lara demi mendapat rangkulmu di rawa
akankah sore menjadi oranye bila kita tiba di lembah?
hingga hadir hujan membekuk kita yang gelebah
terjebak dalam isolir kata yang temaram di waktu senja
kita menantang semesta, masihkah tangismu urung reda?
tiada jawab selain gemuruh dalam ingar jemala

sialnya mataku ialah pagi yang tak mengenal malam
walau dimuseumkan hujan & gigil di sekujur tubuh
mengapa kita tampak seperti bunga dan kupu menganga?
kuncup di kepalamu––aku segan mengecup sekalipun ingin

maka,
kubiarkan saja indah tubuhmu
dimuseumkan musim hujan yang kekal
biar aku tak perlu lagi mengincar dirimu
/ memandangimu dari jauh & dalam diam
sebab kini kau abadi di musim hujan

(Solo, 2021)


Perjamuan Basilika

perkenankanlah tuan dengan jumbai menyapu lantai
kami pegang ikalnya dengan iman & yakin yang dibantai
hingga seorang yang lain menghardik diam––masa bodoh!
tapi kami memilih nekat dengan ingin yang mengaduh

satu-satunya jalan ialah memperkenankan iman kami disumpah
dengan keteguhan diolok––dimaki bak ludah tong sampah
& semata mengangguk bagai seekor guk-guk yang beloon
menyeduh teh & adonan manis perjamuan di sudut peron

masihkah serapah didendang kebodohan?

sebetulnya kami kasihan,
tapi toh dalam basilika kami tak mengenal rintihan
juga lara & bisikan lusifer dari jantung manusia picik
mereka lupa darat––maka duduklah menikmati licik

& tiba di muka orang banyak singgah dengan jubah putih
mereka mengangkat cawan berisikan anggur merah yang
disebut dunia wiski
melampau seni sebuah dosa
tapi aku tak mau mendalami keindahan maut
sebab tibalah perjamuan basilika menyuguh kekudusan

(Solo, 2021)


Sorai Hari Esok

(i)
adakah kau, kelana sepanjang berantah Bekasi–Karawang
kita bersaksi seakan bahagia- begitu subur tumbuh berada
tentang bagaimana kita melupa
          persoalan lusa kemarin atau
               barangkali tahun kalabendu
sebab kala bahagia purna lahir dari rahim sungkawamu –
          sisakan setitik renung untuk
               kubawa pulang …

(ii)
esok kita bertarung kembali seperti bergerilya hari ini
mengijabah perjuangan ibu– dan doa kekasihnya …
sebagaimana cinta merekah
         dari kuntum mawar merah
             menyapu-lenyapkan sedih
                 & segala-gala murungmu

bahagiamu ialah niscaya
nyenyaklah berlibur dalam tidur
kelak gaduh kita tuai bahagia
sebelum akhirnya kau melindur
atas sorak-sorai hari esok …

(Solo, 2021)


Vania Kharizma, lahir di Solo, Jawa Tengah––tahun 2003. Hobi mencuci piring dan mendengarkan lagu. Prestasi terbaik ialah Juara Pertama Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional yang diselenggarakan STAHN Mpu Kuturan Singaraja Bali, dan pemuisi terbaik yang mendapat penghargaan bupati dr. Cellica Nurrachadiana dalam rangka HUT Kab. Karawang. Beberapa dirinya di e-mail: [email protected] ; Instagram: @vaniakharizma.

Puisi

Puisi Eko Setyawan

Membincangkan dan Mendengar Kitaro: Theme from Silk Road

kau susuri gerbang kematian.

diiringi tangis, juga doa-doa,

lewat bau dupa.

seseorang menghidu bau kehilangan,

seorang yang lain menenangkan,

dan seseorang lagi memalingkan muka

sekaligus mengamini (karena benci?).

akan ada raung sirine

mengiringi kepergian yang tak tahu kapan kembali.

kembali, barangkali sepiring kwetiau atau  mapo doufu di mangkukmu

dan kau lupa melahapnya

sebelum benar-benar pergi.

tibalah waktu kremasi.

di krematorium, segala yang kau punya, segala yang kau miliki,

lenyap.

terbakarlah tubuhmu menjelma abu.

—“kapan waktu terbaik reinkarnasi?” tanyamu.

barangkali ketika karma tak lagi menimpamu.

hingga akhirnya, kau tahu orang-orang yang menangisi, mencintai,

dan membencimu di Thiong Ting hingga persemayaman terakhirmu.

—“mengapa?”

sebab, karma adalah bom waktu.

meledak ketika kau menyadari bahwa kematianmu

tak lain adalah hal yang paling kau tunggu.

setelahnya, hanya tinggal kesedihan semata.

kepergianmu menyisakan duka.

tapi kesendirianmu di ‘dunia lain’

ialah kedukaan sesungguhnya.

matimu, menyusuri jalan ini.

hanya ada sunyi. hanya ada sepi.

(Karanganyar, 2021)


Membincangkan Kemalasan yang Kian Akrab

pernah kujumpai kau dalam lelap.

ketika kau bermata puisi dan bersuara minor.

seperti Buddha tidur,

tak dapat kubaca apa pun

selain puisi-puisi yang kulihat

dan suara yang jauh.

sama halnya di bukit Khao Kala,

tak ada yang benar-benar mustahil.

sebab manusia tak selamanya bicara tentang manusia

tidur tak ubahnya upaya telepati

antara aku, kau, dan ‘ia yang lain’.

atau, sebatas alasan

agar tak terjaga tiba-tiba.

kemalasan kita,

tak terlihat dan tak bernada.

tapi, aku masih setia mengeja

dan tentu, mendengar apa-apa yang tak bersuara.

mimpiku, mimpi paling lengkap

ketika kudapati kau membaca puisi

dan berkhotbah ihwal cinta,

juga pernikahan yang biasa-biasa saja.

(Solo, 2019)


Membincangkan Perpisahan

kata-kata belum selesai disusun

ketika kereta membawamu pergi.

aku memanggilmu,

punggung menjauh yang menjawabku.

ia berkata ‘cinta’

tapi tak tahu cinta macam apa

yang dikatakannya.

semula, kau meminta pergi

tapi pergi, bagiku, ialah memecah waktu.

menjadi remah jumpa

juga jadi air mata setelahnya.

di peron, seekor burung berkicau

merapal namamu.

tanpa nada. tanpa suara.

kau telanjur pergi,

kata cinta yang harusnya kumaklumi

tiba-tiba jadi belati.

mencacah ingatan.

menjadi debu. menjadi batu.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Pernikahan

sejak orang-orang mulai menyusun rencana pernikahan.

semenjak mereka menginginkan.

aku memilih memejamkan mata.

            : untuk tidur lebih awal.

bahwa pernikahan nisbi sebuah agama.

kita bisa saja memeluknya.

namun tak bisa memaksa mengamini.

kelak suatu pagi,

aku dan kau

pergi ke tempat di mana kau biasa memanjatkan doa.

kau memegang kitab suci dan membacakannya untukku.

di hadapan Tuhanmu, kau merapalkan untukku:

Tuhan, ampunilah segala perbedaan.

lantas kusampaikan pada Tuhan,

kami kelaparan

: pelukan.

(Karanganyar, 2018)


Membincangkan Rencana

yang tak dapat kita tata dengan baik adalah rencana.

sebab setiap detiknya, seperti jantung yang bekerja.

berhenti sebentar, mati akan mengunjungi.

sebelum benar-benar kau pergi,

lipatlah kedua lenganmu.

di sana, telah kau rengkuh aku.

mengapa kita masih saja bercakap?

keputusan bukan keputusasaan.

kita berbicara dan masing-masing dari kita

bebas bersuara. dan tentu, bertukar isi kepala ialah jawabnya.

langkahmu langkah yang limbung.

seperti lelaki tua yang mabuk.

anggur merah, jamur, dan sedikit obat sakit kepala

tak bisa menyelamatkan perjalanan kita.

sebab hanya pikiran kita, dan mungkin, cerita-cerita

yang benar-benar mampu memperbaiki keadaan.

tak ada salahnya mengumandangkan omong kosong.

sebab dari sana, cerita-cerita bermula.

kelak, rencana yang kita susun

tak selesai di kata rencana.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Mimpi

langit, kadang jadi laut.

menampung gelisah sekaligus amarah.

seseorang datang dari masa depan berseru,

“gantungkan cita-citamu setinggi langit!”

seseorang itu lupa bahwa Tuhan ada di sana.

cita-cita, hanya dapat terwujud

jika kau kenal Tuhan.

Ia telah mengenalimu

sebelum kau ada.

apa kau demikian adanya?

mimpimu menggulung.

mendamparkan ke tepian.

takdir, barangkali air pasang.

ia menyisihkanmu.

agar kau tahu,

mimpimu ialah aku, kau,

atau sesuatu yang sebenarnya

tak pernah kau kenali sebelumnya.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Suara di Ponselmu

“lekas pulang.

ibu sudah memasak makanan kesukaanmu.”

suara itu masuk ke ponselmu.

di kepalamu, meja makan menanti kedatanganmu.

nasi hangat, sayur bayam,

juga sepotong ingatan yang memudar.

kau mengambil sepiring nasi.

kau mengingat bentang sawah

dan di sana masa kecilmu kau habiskan.

kau menuang kuah sayur bayam.

tapi kau tenggelam.

dalam. semakin dalam.

tenggelam pada hati ibumu.

kau membaca ingatan yang tersisa.

ibumu, telah lama tiada.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Teka-Teki

kau melipat puisi

menjadi subuh.

di langit,

cahaya tiba dibalut suara.

rumah kami porak-poranda.

seseorang, atau beberapa,

mengirim bencana di halaman kami.

kami memungut air mata yang tumpah.

kau memungut tanah.

mereka menjanjikan sumpah serapah.

di langit kami,

cahaya bisa saja jadi neraka.

malaikat tiba begitu terlambat.

rumah kami kadung musnah.

di halaman rumah kami,

Tuhan sedang menyusun teka-teki.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Barzanji

: suara anak-anak Palestina

pernah kudengar gema di langit

dan setelahnya, kembang api mekar.

seketika seluruhnya sirna.

rumah, mimpi, dan kebahagiaan perlahan susut.

runtuh dan gugur satu demi satu.

kuucap dan kurapal doa. tak henti-henti.

tiap detik, tiap menit, tiap detak, dan tiap embusan napas ini.

agar di sini, di tanah ini, kami bisa berbahagia.

kebahagiaan, adalah ketika kau diberi harapan

dan apa yang mereka beri bukan semata janji.

kadang, harapan hanya semata sesaat legawa,

tapi di hari berikutnya, mimpi itu pupus dan kembang api, lagi dan lagi menghujani.

sebab di sini, di tanah ini, ego jauh lebih penting daripada nyawa kami.

mereka menyerukan perdamaian

diiringi dengan mesiu yang terlontar dari senapan.

mereka menyerukan kekerabatan

diiringi kehancuran yang sengaja mereka kirimkan.

tapi di sini, kami tak menanam benci.

sebab hanya Allah yang berhak menghakimi.

hanya doa dan pinta yang tak ada jeda

tiap detik, tiap menit, dari bibir dan hati ini.

juga tak henti kami lafalkan barzanji.

sebab hanya Allah yang mampu melindungi dan menyelamatkan kami.

(Karanganyar, 2021)


Membincangkan Kunjungan Batara Kala

1/

seandainya bencana itu tidak datang, Kunti

barangkali langit akan tetap bergema dan kegelisahan-kegelisahan

yang menyelimutimu tak akan sampai membuatmu putus asa.

sebab dalam kebencian yang telanjur menyebar,

semua harapan yang telah kau bangun pupus.

Batara Kala telanjur tiba.

ia datang entah sebagai hukuman atau ujian.

keduanya tak ada beda.

seluruhnya membuat sengsara.

2/

perang, juga pagebluk,

adalah bentuk lain dari doa yang gagal terjawab.

Kuru telah jadi ladang perang.

kunjungan Batara Kala menjelma kutukan.

ia tiba sebagai wabah yang menjalar.

dalam hatimu, semula ialah taman bunga.

anak-anakmu hidup dan tumbuh di dalamnya.

tapi tak berselang lama, bunga-bunga di hatimu layu.

sebab tabiat anak-anak yang tak sesuai kehendakmu.

—pageblug mayangkara murup mulat-mulat.

3/

kegelisahan bukan hanya semata dalam dirimu, Kunti.

: hati Durna tak jauh beda.

kedamaian pada dirinya menjelma api.

disulut perangai murid-murid yang tak tahu diri.

kini,

kenyataan harus kau terima.

sebab, di seberang sana,

serapah dilafalkan agar kematian lekas datang.

sementara di sini, di tanah yang kau pijak, tak jauh beda,

doa dirangkai sebab benci telanjur tumbuh di hati.

agar kelak, Pandawa berjaya dan Kurawa sirna.

—apakah maksud kedatanganmu Batara Kala?

4/

pertanyaan, adalah jawaban dari tak sempurnanya doa.

dari sana, pertanyaan yang terlontar ialah jawaban itu sendiri.

jawaban tak ubahnya kepingan teka-teki.

bukan hanya kau yang mengajukan tanya, Kunti, Durna juga

: ia tak paham kenapa.

Pandawa dan Kurawa,

tak ubahnya seperti burung yang tak mengenali jalan pulang.

selepas kunjungan Batara Kala.

mereka lupa muasalnya.

lantas Kurusetra membara.

Batara Kala telanjur tiba,

perang dan pagebluk kini nyata di depan mata.

Kunti, kau harus ikhlas untuk seluruhnya.

(Karanganyar, 2021)


Eko setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), & Mengunjungi Janabijana (2020). Buku puisi Mengunjungi Janabijana memperoleh penghargaan Prasidatama 2021 dari Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Antologi Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa baik lokal maupun nasional.

Puisi

Puisi Nafi Abdillah

Tasbih yang Mengepung Kiai As’ad

Usai dawuh Kiai Kholil yang menggetarkan tembok-tembok tempat segala yang tinggal,

butir-butir wirid yang sering berputar dari atau pada wajah-wajah yang serba kias,

mengepung lehermu juga.

“tolong sampeyan antarkan ke tanah Jombang!” begitu kira-kira.

***

Bukankah untuk mencapai haq, kau harus menjadi basmallah dahulu?

Namun, kau tak perlu memahami apa pun, meski itu bukan berarti tak harus.

Sebab napas yang kauembus bukan dari gerak udara dalam parumu.

Sebab kata yang kaulontar bukan dari endap akalmu.

Kau memerlukan wewangian yang tidak terendus oleh hidungmu

sekaligus tanpa memikirkan jenis-jenis pohon yang berbiak.

Barangkali, itu bukanlah berasal dari daftar kitab yang perlu kaubaca.

Tugasmu ialah menjaga tangan santun agar adab tetap seperti bulir air mata

ketika kau merasa berdosa atau kelewat bahagia.

Bahkan, di kedalamanmu telah kaukungkum seluruh keredak api dan perigi.

Semuanya mungkin kaumaksudkan agar tidak ada yang tiris ke dalam makrifatmu.

***

Berderaplah melebihi batas, menjauhi riam,

perasaan janggal, dan batu-batu besar Gunung Geger.

Sementara denting waktu sama halnya wirid jantungmu

yang kerap lupa menyumbat celah-celah cahaya,

mengakibatkan jari-jarimu tak berani menghirup misik

walau sekelebat, apalagi menyentuh.

Ujian, barangkali adalah makanan siap saji bagi perut-perut setan.

Namun sejak awal telah tak kaudengarkan lenguh-peluh

yang sengaja mereka serak-serakkan untuk mengoyak imanmu.

Hinggalah segala lengang terasa lekat begitu saja seperti digulung oleh waktu.

Di atas latar Teburing, tetes keringatmu adalah ritus bagi senyum merdu Kiai Hasyim.

Leher tundukmu berlaku sebagai isyarat serta hal terakhir sebelum pamitmu ialah,

“yaa jabbar, yaa jabbar, yaa jabbar, yaa qohhar, yaa qohhar, yaa qohhar.”


Bukan Mbah Moga yang Menundukkan Banjir

/1/

Di rusuk kali Paingan, saban hari kehambaan lelaki sepuh itu

dihabisi oleh tangan-tangan usia yang cukup fasih

menanggalkan pujian orang ke dinding-dinding bambunya

yang dianyam dari napas-napas Tuhan. Ia selalu yakin

bahwa segala yang liuk-ceruk-merasuk adalah rahmat.

Ia telah sampai pada maqam di mana tidak ditemukan tafsir penolakan.

Di darahnya, penuh doa yang pasrah seperti rigen petani tembakau

yang berharap dirinya tak rapuh di musim hujan.

Yang ia pahami adalah menjauhkan doa dari fungsi tetes pahala

atau imbalan yang tualang ke tegak gubuknya.

Jauh-jauh hari telah ia betulkan suara-suara serak hati

sebagai rayuan kepada Kekasihnya.

Semua ini tidak diartikan sebagai permintaan,

namun mirip seperti kerinduan Kanjeng Nabi

pada suara lembut Bilal yang tak lagi menyentuh telinganya lebih dari 40 hari.

Sepotong cahaya mulai bermekaran dari dalam ruh

laksana sayap Jibril yang menghalau arak-arakan awan mendung

sewaktu pamitnya Nabi. Segala tafsir mengenai jasadnya,

semata-mata adalah benteng agar benang-benang tipis menuju langit tidak terputus.

Namun, ia benar-benar tak berani memasang dirinya

di tengah-tengah gerombolan kepala yang menenteng sekerat tanda tanya.

Sebab baginya, pengakuan adalah noktah-noktah bencana.

/2/

Malam telah lamat-lamat membelalakkan sepenggal amarah yang berahi.

Tidak banyak yang berani lekat-lekat menatap,

meski telah dijanjikan segala perlindungan:

keris keramat; jubah kadim; songkok masyhur; dan jiwa yang maksum.

Semenjak itu, telah sengaja ia kaburkan matanya

terhadap segala poros yang menyamar.

Baginya, surga bukanlah titik tumpu.

Begitu pula, neraka jauh dari lumbung rasa takut dalam dirinya.

Jika sudah cinta, apakah masih tak mampu menikmati seluruh tangis

atau kobaran api yang bakal membungkam segala gelak?

/3/

Hujan begitu dini menggelar pasar malam. Kali Paingan tak lagi mampu memangku.

Namun, di rusuk Kali Paingan lelaki sepuh itu tetap meleburkan

segala yang telah dipasrahkan meski akan disentuh taring-taring air.

Banjir menjadi sekawanan anak kecil yang tak berani melawan orang tua.

Syahdan, seperti Musa membelah lautan, ia menembus lorong-lorong senyap

yang khusus dinubuatkan untuknya.


Sabdo Palon, Noyogenggong

Usai tubuh menjelma ringkik Sembrani yang tak kasat,

lekaslah kami mengabdi pada roh-roh moyang

tanpa harus berpindah dari ladang berenuk

selama mestika belum terbata mendengungkan sabda-sabda.

Dawuhmu, Prabu,

sudah tak dianggap sebatas perkataan di ujung mata tombak Majapahit.

Sebab setelah ini, tak ada yang lebih luhur lagi di antara asap dan cahaya lilin

serta dada-dada yang tertancap oleh tombak adalah segala tunduk yang taksa. 

Meski dari balik busung dadamu

selalu ada nyala api yang luber menyembulkan berahi atau baur arah angin

tetap saja tak sudi kauminum derai-derai darah dari mata airmu sendiri.

Tapi percayalah Prabu, tak ada yang benar-benar merasakan kematian.

Jika itu berarti kau harus menenggelamkan roh dan jasadmu,

kami patuh tanpa harus melebarkan nestapa.

Sebab di tanah-tanah yang lebih subur

dari tanah yang diciptakan Sang Hyang Wenang,

sejatinya nelangsa menolak dilahirkan.

Saat itu, berawal dari khianat yang terkapai-kapai ke poros tirta amertha bumi

hingga Adipati mengatupkan gendang telinga pada bau-bau darahmu,

tetapi kau memilih bersejingkat dari dalam corong senyap ke arah Cetha

meninggalkan segala derap yang kabur dan suara-suara asing di tengah desa.

Berberita kewaskitaan Kanjeng Sunan,

diajaknya kau memangku kembali tanah-tanah moyang.

Namun tetap tak ada yang bergetar kecuali jiwa-jiwa

yang berlayar menuju telaga penahbisan.


Gajah Mada dan Borok-borok yang Niscaya

(1)

Usai tetes darah yang sengaja dibiarkan tumpah

hingga menjelma riwayat sebagai bibit bagi anak turunmu

hanya dianggap sebatas mestika yang karat,

tetap tak sudi kau keluarkan keredak api lewat sumbumu.

“Lebih baik kuteguk darahku daripada kukotori dengan mata airku sendiri,” katamu.

Telah kaupatahkan segala murka yang pelan-pelan mulai bongak pada tirta amartamu.

Kau selalu bersikeras mendekap tulang-tulang Majapahit.

(2)

Semua berawal dari pada rapal yang diadu domba,

yang terus-menerus melekat di tiap-tiap laku,

menjadikan bau-bau mistik tak lagi lapang,

mengakibatkan pucuk-pucuk keris

kelu mendengungkan sabda sebagai usaha mengasah perlawanan.

Seluruh kerajaan merasa tertimpa tempayan nanah

meski kehendak tak pernah melengking dari kidung seluruh arah mata angin.

Namun kau tetap dibentur-benturkan oleh ucapan nanar

yang menyat dari atau ke kecipak waduk Gajahmungkur.

(3)

Setelah Bubat yang tak diinginkan oleh sesiapa

dan belalak mata yang meninggalkan noktah-noktah bencana,

jiwamu mengerucut, merajut benang-benang tipis menuju niskala,

memasrahkan jasad dan rohmu lebur:

lebih tipis dari asap, lebih sunyi dari bisikan.


Menemukan Jati Alas di Selatan

Kalam langit yang tertiup membawa kakinya memijak tanah-tanah Pamantingan.

Gegaslah ia bersila dikelilingi potongan-potongan titah.

Pagi belum usai mengepulkan asap dari kobaran-kobaran api

yang menguar dari dalam celah-celah jati alas.

Sedangkan malam serupa kematian yang sempit dan tak tanggal oleh kebiri waktu.

Kanjeng Sunan meleburkan jasad sebagai tirakat

melewati benang-benang tipis menuju Sang Hyang Agung.

Sebab, resah dan tulah hanyalah sebatas berenuk yang busuk.

Hingga diutuslah Cemara Tunggal menggetarkan suara-suara serak

dari tempat lengang pun juga tak lekat.

“Wahai Kanjeng Sunan Kalijaga, kembalilah menuju selatan.”

Derap-derap langkah dan napas-napas malam tumpah juga pada Gunung Pati.

Di tangan kewaskitaan Kanjeng Sunan, kera-kera mampu mengaburkan diri

dari belalak sepasang mata dan amarah yang berahi.

Sebelum  waktu mencacah jiwa, batang-batang jati telah patuh pada kecup doa.

Dengan detak-detak tangan yang terdengar parau

dan lenguh-peluh yang diasingkan dari tubuh-tubuh, 

jati alas berhasil menancap sebagai saka guru.


Dengan Mengenakan Namamu, Muhammadku

Namamu mendengung dalam pengasingan.

Muasal namamu adalah pakaian bagi jiwa-jiwa telanjang.

Kau kampung halaman yang dirindukan oleh perantau nanar

sebab pulang terbuat dari jarak dan gelisah.

Dari namamu, semesta mampu merentangkan lengan

dan Jibril sanggup mengepakkan sayap.

Setelahmu, tubuh-tubuh memerlukan bumi.

Menampung tetes darah dan deras hujan yang mengguyur mata.

Telah kau siapkan ladang-ladang subur sebagai tempat bercocok tanam.

Tapi besi-besi lebih suka aku kibarkan di atas tanah-tanah basah.

Memang semula berawal dari badai kegembiraan

yang datang  bergantian di musim-musim cerah.

Namun cuaca telah berpindah haluan.

Maka saat ini, yang aku perlukan sebagai arah kembali adalah dirimu.


Di Balik Yarmuk

:Khawlah binti Azwar

Dari Yarmuk, matamu mata pisau melewati batang-batang tamr

dan butir-butir pasir menuju ke sebuah muara di ujung jejak-jejak kaki.

Di belakang punggung mereka, kaurangkai napas-napas

menjadi doa yang berarak memenuhi mega-mega.

Selalu kautorehkan percik-percik air terjun

dari dalam matamu ke atas bebatuan keras

sebelum luka menemu cahaya fajar.

Sebab Dhirar, kau harus merelakan tubuhmu bergetar oleh sentuhan cahaya matahari.

Mungkin kau tak pernah dianggap sebagai gema di kedalaman gua Hasa.

Sebab, di depan zirah orang-orang Romawi telah kautandai arah mata angin

yang menjadi titik temu antara darah dan nanah.

Namamu, seperti tangga langit yang seluruhnya berupa nyanyian serak

hingga berjatuhan air mata malaikat menjadi danau-danau kecil di tengah gurun.

Maka, angin menggiring ringkik kuda menuju getar-gemetar benteng Byzantium.

Tak pernah kau mengerang meski kaudengar deru-deru lonceng besar

bisa mengatupkan gendang telinga.

“Wahai putri-putri Himyar, keturunan-keturunan Thubba’…”

Suaramu merubah pucuk-pucuk pedang hingga kastil menggigil sekali lagi.


Surat ke 18 yang Jatuh ke Bumi

/Haq/

Adakah yang lebih melegakan daripada patahku

dari ranting-ranting Arasy menuju Jumat yang mengerdilkan seluruh kabar haru?

Atas derma-Nya, aku lemparkan dusta jauh dari hadapmu,

kutiupkan wirid-wirid haq ke dalam semesta dirimu.

/Rida/

Akulah pelita yang membimbit potongan-potongan titah

di tengah daur yang payah, di antara masa yang pasrah.

Tuntunlah kepalamu agar terbenam dalam karib doamu,

sebab akulah pemanjang cahaya yang menyertaimu.

/Tobat/

Umpama kauziarahi Al-Aqsa dan Al-Haram,

dan telapakmu bagai tertancap batang-batang tamr dan duri-duri bidara,

biarkan lengan-lenganku yang meredam luka dan dendam

sebab di telaga penahbisan, telah kusertakan doa untuk pengampunan-Nya.

/Batil/

Bersama Al-Baqarah, kudirikan benteng Rumi mengelilingi istanamu

sebagai penghalau ketika hasut dan tamak berusaha mencengkeram tengkukmu.

Maka, kumandangkan lafalku pada tiap embus napas yang membentuk hidup.

Peliharalah zikirku dalam tiap detak jantung sebelum mata benar-benar terkatup.

/Cahaya/

Usai deras doamu yang khidmat dan luhur

kubentangkan jalan panjang melewati saf-saf langit yang tafakur.

Akulah persaksianmu, maka, tak usahlah khawatir

walau Malaikat Israfil meniup sangkakala terakhir.


Sebelum Tiba di Bulan-bulan Janggal

Daun malam berkata dengan busur panah yang membidik mata.

Di antara langit yang telanjang, bau-bau kematian adalah mata pisau.

Kehidupan adalah rempah-rempah yang telah menjadi hidangan langit.

Sedang aku hidup di dapur dengan kayu-kayu yang belum dibakar.

Suatu kali aku menyusuri hutan-hutan gelap

dengan langkah yang tidak bergerak.

Hanya jejak-jejak waktu yang terdengar parau.

Aku pesakitan sebab gendang telinga mengatup perlahan.

Hingga tibalah aku di hadapan unggun api,

bau-bau kematian luber, melelehi ruh-ruh yang memar.

Daun-daun malam mengendus dari permukaan

dan menggantungkan napas-napas.

Dituntunnya aku ke telaga penahbisan.


Ketika Para Perindu Duduk di Suatu Malam

Terang maupun gelap adalah jalan-jalan para perindu

yang tidak pernah abai dari fitrah alam semesta.

Rindu adalah kobaran api yang menjalar hingga terkoyak jiwa-jiwa sunyi.

Tapi mereka tidak mengultuskan pengakuan diri.

Oh, Perancang kampung halaman.

Biarlah nyiur seruling para perindu luruh pada pangkuan-Mu,

sebagai bongkahan es yang tidak bisa mencair kecuali sebab titah-Mu.


Sang Penunjuk

:USC

Dingin malam membekuk tubuhku.

Lalu kata-katamu muncul sebagai akar dari pohon,

tumbuh, bercabang, dan berbuah menjadi cahaya pagi.

Kata-katamu terbit dari langit.

Di persimpangan menuju bulan pernuma, ia tidak tenggelam.


Nafi Abdillah, menulis puisi dan cerpen.Seorang pembelajar di Padepokan Sakron dan bergiat pula di Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar dan Forum Malam Sastra Pandawa. Karya-karyanya pernah tersiar di beberapa media cetak maupun online dan beberapa kali menjuarai ajang perlombaan menulis. Penulis bisa dihubungi melalui surel [email protected] atau akun media sosial Nafi Abdillah.