Puisi

Puisi Adnan Jadi Al Islam

10 Maklumat Ngopi

/1

Di hadapan kopi yang tak berasa

Seorang peminum pernah tergesa-gesa

/2

Di hadapan kopi yang mengepulkan ilusi

Bayangan rumah tengah bermanifestasi

/3

Di hadapan kopi yang tak beresensi

Sekumpulan manusia lupa mengevaluasi diri

/4

Di hadapan kopi dini hari

Kemaksiatan acap menginvasi

/5

Di hadapan kopi yang tak lagi suci

Seorang wanita berulang mengkhianati

/6

Di hadapan kopi tanpa arti

Seorang laki-laki enggan membuka hati

/7

Di hadapan kopi tanpa bicara

Jemari lentik mengetik luka tanpa jeda

/8

Di hadapan kopi yang sakit hati

Ribuan rakyat tertikam sebilah janji

/9

Di hadapan kopi yang berpuisi

Selembar lautan tak henti menyanyi

/10

Dan, di hadapan kopi tanpa gula

Lidah cinta aktif menafsirkan rasa

/Februari, 2022


Nyanyian Laut

Sekeping fragmen sendu

menyilaukanku, sesaat,

portal terbuka: bibir pantai Sadeng

di sana, puisi-puisi pernah ruah

lewat pori-pori jilbab seorang wanita

pengenggam kamera

Seperti katamu dulu,

para nelayan hafal

siklus waktu kala laut

akan menyanyi

Sebelum hantu-hantu cemas dan bengal

menyebar ilusi di udara

dan dunia meleyot

oleh gema teriakan masa lalu

Kamera itu kelak akan terjun bebas

di dermaga ini

ketika arwah Edvard Munch turun

menggenggam tangan wanita itu

mengajaknya pulang

ke langit

Kini, aku masih termangu di sini

memindai album demi album dalam kamera sunyi

hingga sebuah foto menarikku kembali

ke sebuah dimensi, pada saat kau berhenti bernyanyi

pada saat aku, mesti melepasmu pergi

/Januari, 2022


Cahaya

: Tiara

Kenanganku tentangmu, kenangan tentang kesunyian rawa

selimut kambangan dan eceng gondok, pada pagi kelabu,

pada pancaran cinta dari lubuk mata para pemancing

dan kuar petrichor di antara uap nasi goreng

Kastil dalam diriku luruh, seseorang muncul

dengan langkah cahaya berjalan menghapus rimbun keraguan.

Ratu baru bertahta, menandaskan

mimpi-mimpi sepi yang masygul

Kau datang dengan kelembutan fajar

menyapaku lewat aroma Geranium rekah;

lengan angin menyapu ingus batu

yang getir sepanjang musim.

Ketika angka-angka berjatuhan dari langit

waktu: gigil

masa silam dan masa depan bersentuhan

menyebabkan letupan demi letupan pertanyaan

“Ilusi ataukah kenyataan?”

Kau makin kuasa dalam diriku.

Kehadiranmu adalah musikalisasi

semesta atas sajak senduku.

Maka kuhamparkan jalan

di mana kau akan suka

berotasi dan menyalakan

segala daya kemungkinan,

tentang kita.

/Februari, 2022


Bayang-bayang

Ketika kau menghilang,

waktu memanjang,

hari-hari sesak:

mejamu berteriak

berdebat dengan kursi di ruang guru

meredam bel tanda istirahat

membekap mulut mimpi kecil yang lapar

siapa singgah berikutnya?

mungkinkah sungguh berikutnya?

Senyum tanpa cahaya

sekejap layu mengantar bendera

yang tanggal bersama

lagu kebangsaan

Di dalam khidmat, tangis terkesiap

mengumpulkan mendung

di bawah matahari

aku mematung, sendiri,

coba melindungi

pendar jam dinding.

kutegur kegelapan

karena di setiap kedipnya

bayangmu selalu berkelebat

/Maret, 2022


Tempat yang Dicuri

: Dean Lewis

Tetapi aku tak sedang menunggu badai itu

pergi meninggalkan rumah kita

melambai dan membuat daun pintu menunggu selamanya

Yang kuinginkan hanyalah kekosongan;

mengakar di antara jemari ini sublim

terbawa angin dan memberi pelajaran

pada pohon-pohon arti kesendirian

Ataukah kegelapan lebih berarti

daripada kedustaan cahaya

yang acap membiaskan pelukmu?

Aku hanya ingin menghampar di atas pasir

mengasah telinga sembari memandang langit

apakah di atas sana

burung-burung tak pernah membenci badai?

Ah, berangkali luka adalah tafsiran waktu

atas masa depan kita: melampaui

memori yang menjatuhkan puing-puing keabadian

dan lenyap ditelan kenyataan

/Mei, 2022


Angin yang Berpulang pada Api

: Sapardi Djoko Damono (Alm.)

Aku seperti angin labil:

tidakkah sesekali ombak ingin tenang,

awan-awan butuh ketiadaan di samping kepastian,

dan akar pohonan terlalu purba menghadapi ujian

“Tetapi kewajiban kita hanyalah sakit

dan kita tak butuh hak untuk bertanya

bukankah kata-kata hanyalah riak,

sedang orang-orang menginginkan keabadian?”

Ah, aku ingin menjadi api yang tamak bekerja:

menebas tiap leher kegelapan yang bengal,

menandaskan malam dan udara dingin,

atau sekadar prototipe neraka sebelum surga

/Mei, 2022


Alibi

“Dia hanya baik, kenapa kamu baper?”

tanya gerbang kampus lima tahun silam,

setengah mewanti

“Hm, ya, biar jadi bahan bakarku nulis puisi.”

 jawabku—Tuhan tahu aku berbohong;

Atid lantas memainkan pena—

baru saja, saat kembali dari

acara pernikahannya

/Mei, 2022


Minggu Pagi di Bulan Juni

Sepi

yang menikah

dengan angin kemarin

mual-mual pagi ini

hujan bilang, ia tengah

mengandung bayanganmu

/Juni, 2022


Lelah

: Alan Walker

Dan aku telah kembali dari dalam dirimu

yang tak kutemukan lagi diriku, di sana

ke punggung bukit, memandangi danau dan bertanya

apakah kebebasan benar-benar ada?

Tapi tak seperti awan

kita hanya pura-pura tertambat

sekadar berjalan dan lenyap

atau—kalau beruntung—turut menggema ke angkasa bersama uap

Waktu: asing

burung dan dedaunan: beku

dingin—ingin

namun tak tersampaikan

/Juli, 2022


Adnan Jadi Al-Islam, lahir di Klaten, 21 Oktober. Lelaki galau, pengagum kata-kata, penikmat ojek penyet dan sambel welut. Sering insomnia lantaran kebanyakan kopi dan kenangan. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan daring. Masih mukim di Klaten.

Puisi

Puisi Adnan Jadi Al Islam

Aliran Ostinato

Tujuh hari

ikan-ikan sungai

dalam tubuh hari putus asa; mereka melongo ke langit

menantikan sesuatu jatuh dari sana.

Tiada yang memasuki mulut mereka

selain kekosongan

Detak melemah

waktu konstan;

menunggu dalam geming,

dalam hening,

meragu takdir azali

Seorang pemancing menyangka

kesabaran telah cukup membayar

ketenangan palsu

yang justru menghanyutkannya

dalam aliran ostinato

Akankah rahasia menyambar umpanmu kali ini

atau amarah lebih dulu memutus taut:

kemungkinan getas, yang menisbahkan

muasal keberadaanmu

/Oktober 2021


Rih

Kuungkapkan dengan diamku

dengan dinginku

ungkapan yang tersembunyi

di balik kata-kata,

Bahwa yang (tak) kuembuskan

di bawah teduh trembesi

malam itu, bukan lagi hangat:

potret peristiwa

bukan pula sejuk:

kisah rahasia.

Ia sekadar suara rendah

gema lembah hijau jiwamu

yang telah sekian masa

tak kau warnai

/Oktober 2021


Setelah Kepergian Hujan

Sebelum kepergian hujan

cawan-cawan penuh makna,

pohon-pohon bebas luka,

anai-anai riuh mengudara

sungai-sungai tenang memuara

Setelah kepergian hujan, kata awan:

“Dunia terbakar curiga.”

ambisi bergemuruh dalam tubuh manusia

sepanjang (meragukan) umur,

pengetahuan teralihkan

ilusi menjarah segala.

Usaha paksa menangkup kekosongan

hanyalah pintu menyambut kekosongan lain.

“Ke mana hujan pergi?” angin penasaran

Awan membisu:

bergeming lama—sebab satu hari setara seribu tahun

—dan angin pun kalut,

bersikukuh memburu selama itu

sampai suatu masa

awan luluh, lalu berkata:

“Sebenarnya ia telah menyelam ke dalam lautan.”

“Kenapa?” angin makin nanar

“Sebab di sana ia menemukan

arti keberadaan.”

Memang apa arti keberadaannya?

“Tak ada.”

angin gundah dengan jawaban awan

ia angkat kaki: berkesiur ke semua tempat,

sembari bertasbih dan mencuri-curi dengar

melintasi zaman, mengawasi peristiwa-peristiwa

entah sampai kapan

“Padahal kau pun tahu,” katamu, “satu-satunya tempat yang tak bisa hujan susupi

hanyalah tubuh lautan.”

/Oktober 2021


Satu Waktu

: Albert Einstein

Satu waktu,

di antara ruang purba

pernah kita tinggali berdua

Satu waktu

sebelum harapan

menjelma penyakit

sementara sungai dendam

masih jabang gunung es

di kutub-kutub qalbu

Satu waktu

di mana kuntum bunga

dan tangkai kekar pohon

urung rekah

alih-alih saling rengkuh di hari tua

Satu waktu lain,

ritus paradoks urip-

urup tipu daya,

dinding nafsu julang

mencakar mimpi-mimpi langit

Satu waktu lain

di mana pengetahuan;

rumus perihalmu muspra,

relativitas gelap melingkup

ingatan belantara

hangus

O, satu waktu lain,

dilatasimelipatgandakan

pintu-pintu kemungkinan.

Di manakah ruang

kita kembali

satu?

/November 2021


Pulau Atas Awan

Padahal dunia dalam diriku

ruah tanda tanya ketika

tuduhan-tuduhan meledak

di beranda langit

Kau bilang:

“Titik-titik jelaga kerap menjadi saksi

bagaimana setiap kisah,

dan kehidupan berakhir.”

Bukankah dalam kalimat lepas

kita pernah coba menerjemahkan jalan,

menampik logika dan retorika

demi bisa sampai seberang:

berenang ke surga terdekat

Tetapi di ufuk, di pulau yang kambang itu

kita alpa, kita tak punya suara

bahkan pada bahasa sehari-hari

kita hanya menemukan jejak luka

dan bekas yang dibiarkan

Lalu kebenaran menitahkan

pulau itu bersenandung:

“Huruf-huruf menyusun kehidupan

dalam doa, bagaimana sempat

manusia melumat khidmat mereka?”

/November, 2021


Mantol Plastik

: Bruno Mars

Mungkin tubuhku lebih rapuh

dari mantol plastik:

seharga sepiring nasi sayur, tempe goreng,

dan es teh manis Kartasura

Dengan itu kau mendesakku laju:

merobek tirai hujan;

menangkap basah dua merpati

yang kebingungan bagaimana mengakali air bah

Tapi aku berterima kasih

pada pencipta mantol plastik

Ciptaannya menyatukan

kita dalam satu tumpangan

Bulan tak perlu

sok-sokan mendengar lagi

segala keluh malam ini

Pria galau di kusen jendela

telah bahagia

di balik mantol plastiknya

/November 2021


Perekam Sepi

: N

Adakah yang lebih sepi

dari asing?

seorang pandir mungkir

tanah subur lugu dikorbankan.

Dari buaian kamar

sampai liang lahat

penyesalan menggumpal

di langit: bergemuruh,

matahari undlap-undlup,

 “Pengkhianat!”

rembulan kecewa pada dirinya,

pada cahaya,

pada lelaki

Adakah yang lebih sepi

dari asing?

tanpa sempat kucing mengeong manja

segumpal tanah hangus

dunia pura-pura legam.

Penyesalan menggauli depresi

melahirkan sebotol anggur putih

(sebab tak ada yang seberani darah) pun

tak ada dosa saat kardiograf ngambek

seorang polisi lantas berkhotbah,

“inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

/Desember, 2021


Kabut

: embung Manajar

Ketika sendok berdenting; sepi berdentang

cerek mengeluh pada api

enggan melepas air pergi;

terbang bersama angin.

Separuh tanah hidup

di atas kehilangan

separuh lagi mati

di bawah keangkuhan,

mencari cara meminta maaf

pada langit

agar pohonan kembali tumbuh

agar hati kembali teduh,

dan lelaki sangsi

di meja payung itu

dapat mengaduk;

menyesap puisi lagi

/Desember 2021


Fariga

: untuk M

Sebetulnya angin memusuhi

kebingungannya sendiri

Memang, ke mana lagi sepi

dan waktu akan menarik-ulur hari

Selain mendesirkan nyeri

pada hati hutan yang sangsi

sejak mencintai api

Menghelalah atau dengar saja Rumi

dalam sebatang puisi:

Telingamu tak mampu mendengar irama

yang membuatnya menari

/Januari, 2022


Matras Berkabut

:I

Kali ini bukan angin

melainkan suara-suara

mengombang-ambingkan imanmu

Tapi kau cukup menumbuhkan edelweis

di bibirmu dan bertahan di sana

getaran gaib sabana itu mengenalmu dengan baik

Tak perlu ragu, tombol reset menunggu

di balik tenda hatimu

dan aku selalu menjaga malammu:

yang dingin

Juga mengawasimu menekan tombol itu.

Atau kita bisa coba menerjemahkan bintang

seperti dulu,

sementara sunyi berusaha menyeduh hakikat pagi

Kau boleh bertanya pada waktu sebanyak apa pun—

aku tak hendak mengeluh—

ke arah mana hidup yang fana

atau arah pulang yang baka

/Januari, 2022


Adnan Jadi Al-Islam, lahir di Klaten, 21 Oktober. Lelaki galau, pengagum kata-kata, penikmat ojek penyet dan sambel welut. Sering insomnia lantaran kebanyakan kopi dan kenangan. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan daring. Masih mukim di Klaten. Sapa aja, siapa tahu jodoh: Instagram @ad_nanj