Cerpen

Jabik dan Hewan Kesayangannya

Cerpen karya Erwin Setia

Kau tidak bisa mencegah seseorang menyukai hewan tertentu, sekalipun hewan itu dianggap najis dan menjijikkan bagi kebanyakan orang. Demikianlah tidak ada yang kuasa mencegah Jabik untuk tidak menyukai tikus got melebihi kucing atau kelinci atau hewan apa pun yang lebih layak dicintai. “Apa hakmu melarangku mencintai sesama makhluk?” Lelaki ceking itu selalu berkilah seperti itu tiap kali teman atau keluarganya mencecar soal preferensinya yang ganjil. “Tapi hewan busuk itu bisa membawa penyakit, Bik.” Jabik membantah, “Siapa bilang, buktinya aku yang setiap saat bersamanya tidak terkena penyakit apa-apa.”

Perdebatan tidak pernah berakhir. Kini Jabik sudah genap dua bulan memelihara Andre—tikus got hitam pekat—dan tikus itu terus bertambah gemuk. Keresahan juga menyubur di benak orang-orang terdekat Jabik. Bagaimanapun mereka masih terus khawatir. Mereka khawatir suatu saat tikus itu bakal menyebarkan wabah penyakit dan mereka khawatir Jabik sudah tidak waras.

Jabik selalu menyangkal itu. Ia menekankan bahwa dirinya baik-baik saja, tidak suka mengamuk, tidak melakukan hal-hal aneh. Singkatnya ia sewaras lelaki berumur dua puluh empat tahun pada umumnya. Perihal kesukaannya terhadap tikus, ia bisa membawakan sejumlah argumen. Ada orang yang suka mengoleksi benda tajam, menonjok wajah orang lain atas nama olahraga, membeli hewan-hewan buas dan langka, mempunyai lebih dari satu istri, dan kelakuan tak lazim lain, lalu kenapa kalian mempertanyakan kewarasanku hanya karena aku memelihara seekor tikus, begitu Jabik kerap memberi jawaban kepada orang-orang yang melulu mempertanyakannya.

Dua bulan lalu ketika Jabik memungut Andre kecil yang baru saja keluar dari gorong-gorong, hatinya sedang kacau. Ia ingin menendang dan memukul benda-benda yang dilihatnya. Ia ingin berteriak sekeras-kerasnya sampai penduduk langit dan bumi mendengar suaranya. Ia ingin melakukan semua hal yang dapat membuat dadanya lega. Sore itu ia berjalan sendirian di jalan yang lengang dan sepi. Ia berjalan tergesa. Ia baru pulang dari suatu rumah yang tak akan lagi ia kunjungi. Hujan belum lama berhenti ketika Jabik mencapai jalan itu, suatu jalan di mana sekitar dua meter dari tempatnya berdiri ia melihat seekor tikus merambat pelan dengan bulu-bulu kaku. Memandangi makhluk itu, suatu perasaan sentimentil mengguncang Jabik. Ia menghampirinya, memungut si tikus, membawanya pulang ke rumah seperti seorang perempuan yang tak bisa hamil memungut seorang bayi yang dibuang, dan menamainya malam itu juga dengan nama yang belakangan melulu terlintas di kepalanya, Andre.

Ia merawat Andre dengan telaten. Ia memberinya makan, mengajaknya bermain, dan rutin membersihkan tubuhnya. Jabik tak peduli kendati ayah, ibu, serta para tetangga mencibirnya. Ia bilang ia bukan memelihara tuyul atau boneka santet, jadi tak seharusnya mereka mencurigainya terus-menerus seolah-olah tikus piaraannya dapat membobol berangkas atau mengirimkan jarum api ke rumah mereka.

Makin hari hubungannya dengan Andre kian karib. Jabik senang melihat polah lucu Andre. Ia suka mendengar cericit Andre yang terdengar semerdu kicau burung piaraan ayahnya. Seiring dengan itu, perasaan Jabik yang sebelumnya semrawut perlahan kembali tertata. Ia merasa udara yang dihirupnya lebih segar dan batu-batu yang menyesaki dadanya lenyap. Ia sudah bisa tertawa lebar dan tak lagi berhasrat untuk menghancurkan benda-benda atau menusukkan sebilah pisau ke leher seseorang.

Ayah dan ibu Jabik sesungguhnya tahu apa yang melatari keanehan anak mereka itu. Pagi sebelum Jabik memungut Andre, Jabik izin pergi ke suatu tempat. Tempat itu cukup jauh dari rumahnya. Jabik memohon doa kepada ayah-ibunya. Ia pergi ke tempat itu dengan niat baik dan setumpuk harapan indah tentang hari depan. Ia menumpangi bus antarkota dengan berbunga-bunga. Sepanjang perjalanan, pandangannya mengarah ke luar jendela dan ia kerap tersenyum-senyum. Ia membayangkan wajah seorang perempuan. Seorang perempuan jelita yang sangat dicintainya. Ia membayangkan hari pernikahan, suatu hari ketika dirinya menjadi seorang ayah, suatu masa ketika dirinya menjadi kakek, dan sebingkai foto berisi potret keluarga besarnya di masa depan.

“Apa ini tidak kelihatan terburu-buru, Bik?” tanya ayahnya sebelum Jabik berangkat.

“Tidak, Yah. Jabik sudah yakin dengan Maya.”

“Tapi kamu baru mengenalnya beberapa minggu, loh,” timpal ibunya.

“Jabik bahkan pernah mendengar ada sepasang suami-istri yang menikah padahal mereka baru saling kenal tiga hari. Dan pernikahan mereka masih langgeng. Sekarang mereka sudah dikaruniai tiga orang anak.”

“Tapi kan itu beda, Bik.”

“Jabik dengan Maya juga beda, Yah.”

“Bik.”

“Tenang saja, Bu, Yah. Jabik tahu apa yang harus Jabik lakukan. Ayah dan ibu tunggu saja di rumah. Jabik pasti akan pulang dengan membawa kabar gembira.”

Sorenya Jabik pulang dan ia tidak membawa apa-apa, selain seekor tikus got yang muram dan sangat kotor. Selama berhari-hari ayah dan ibu Jabik tidak bertanya apa-apa kepadanya dan Jabik juga tidak menceritakan soal apa pun kepada kedua orang tuanya. Hari demi hari berlalu. Ayah dan ibu perlahan memahami apa yang sebetulnya terjadi. Mereka hidup bersama Jabik sejak pemuda itu masih bayi merah. Bukanlah sesuatu yang mengherankan ketika mereka bisa mengetahui nasib buruk yang menimpa Jabik meskipun Jabik tidak pernah membicarakannya sekata pun.

Awalnya mereka risih dengan mainan baru sang anak. Bukan hanya karena tikus dikenal sebagai hewan menjijikkan, tapi juga omongan tetangga yang terasa pedas dan tiada habisnya. Namun, manakala mereka melihat keberadaan tikus itu menimbulkan perkembangan positif pada diri Jabik, pelan-pelan mereka dapat menerima kenyataan itu. Pada hari-hari awal keberadaan si tikus, Jabik menjelma pendiam yang murung dan suka mengurung diri. Ia hanya menengok si tikus yang diletakkannya di suatu kandang kayu kecil saat pagi dan sore. Ketika Jabik mulai aktif bercengkerama dan beraktivitas bersama tikusnya, barulah kemurungan dan kebisuan Jabik menghilang. Ia kembali menjadi Jabik seperti yang dikenal ayah-ibunya. Bahkan kali ini Jabik terlihat lebih ceria. Ia tetap ceria walaupun para tetangga tak pernah berhenti menegur dan menggunjingkannya. Ia seperti tak peduli lagi dengan tanggapan orang-orang. Yang ia pedulikan hanyalah bagaimana ia bisa merawat Andre dengan sebaik-baiknya. Saban melihat Jabik dan Andre bergaul akrab, ayah dan ibu Jabik selalu terharu. Jabik adalah anak mereka satu-satunya, yang baru lahir selepas ulang tahun kesepuluh pernikahan mereka. Mereka ingin Jabik bahagia. Mereka ingin Jabik mendapatkan yang terbaik. Apabila seekor tikus got dapat membuat Jabik bahagia dan merasa mendapatkan yang terbaik, mereka tidak bisa melarangnya. Mereka tidak mau merusak kebahagiaan Jabik.

Suatu hari ketika Jabik sedang menonton televisi di ruang tamu dengan Andre di pangkuannya, seseorang mengetuk pintu. Jabik tidak menghiraukan suara ketukan itu. Ia terlalu fokus menonton sinetron yang tersaji di layar televisi bersama Andre. Ia mengajak bicara Andre seolah-olah tikus itu dapat mengerti perkataannya. Ia menertawakan kekonyolan aktor di depan Andre seolah-olah tikus itu memedulikannya. Pintu itu terketuk untuk ketiga kalinya ketika layar televisi menayangkan iklan dan Andre mencericit. Ibu Jabik muncul dari dalam kamar sambil menggeleng-geleng. Ia membuka pintu, sementara Jabik mengelus-elus tubuh Andre penuh kelembutan. Seseorang di ambang pintu menyerahkan sesuatu kepada ibu Jabik, lalu beranjak pergi.

“Bik.”

“Iya, Bu,” sahut Jabik.

“Ini,” kata Ibu Jabik seraya mengangsurkan selembar kertas undangan berplastik kepada Jabik.

Jabik meraihnya.

“Jadi, Maya menikah dengan sepupumu, Andre anaknya Pak Dirman?”

Jabik tak menanggapi ucapan ibunya. Ia sedang memandangi undangan di tangannya dengan geram. Dadanya berdentam-dentam. Ia memelototi undangan itu. Di sampingnya, Andre si tikus bergelung tenang menyandarkan tubuhnya yang tambun ke paha Jabik.

Beberapa detik kemudian, ketika televisi kembali menayangkan sinetron dan ayah Jabik keluar dari dalam kamar, Jabik merobek-robek undangan tersebut. Ia pergi ke dapur, lalu kembali lagi ke ruang tamu menggenggam sebilah pisau. Ia menghampiri Andre si tikus. Ia mencengkeram tikus gempal itu. Dengan mata berkilat-kilat Jabik mengiris leher Andre si tikus. Ibunya pingsan. Ayah Jabik menahan tubuh ibunya. Saat tangan ayah Jabik mendekap punggung ibunya, Jabik menyunggingkan senyum tipis sambil mendengarkan cericit terakhir Andre si tikus yang terdengar sangat memilukan. **

Tambun Selatan-Bekasi, 28 November 2019


Erwin Setia lahir pada 14 September. Penulis lepas. Menulis cerpen dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Cerpennya terkumpul antara lain dalam antologi bersama Dosa di Hutan Terlarang (2018) dan Berita Kehilangan (2021). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Puisi

Haiku Beby Halki

I

melukis punggung

empat penjuru angin

tepi Mahakam

II

melingkar sinar

matahari berpendar

cantik memancar

III

kebaya putih

angin dalam kemarau

peluh bercucur

IV

daun berayun

berbisik angin malam

pulangkan cinta

V

tertutup embun

pagi menusuk tulang

dipeluk dingin

VI

tergerai rambut

menantang biru laut

anak gadisku

VII

terucap mantra

langit terdiam kelu

memuja Kresna

VIII

hujan menderu

malam mengejar waktu

tubuh membiru

IX

penyair gundah

tongkat menyeret langkah

angin mendesah

X

terkatup bibir

awan tersapu angin

hilanglah kata

XI

langit berpijar

suka duka menanti

tahun berganti

XII

api menyala

pinta semesta raya

damai doaku


Beby Halki, dokter yang menyukai musik keras.

Puisi

Puisi Fatah Anshori

Moynihan, 1912

Pemangkas daging itu bekerja di antara cemas nyawa yang terkupas, was-was. Ahli bedah menggunting ruang lain di Berlin dalam lekuk-lekuk bahasa di keningmu. Orang-orang di jalan menggambar jurang dalam dirinya masing-masing seperti kelamin-kelamin yang berceceran di dinding kota dan beranda media. Ketakutan menganyam ulang sarangnya di kepala dan diri yang resah. Ah… hati seekor singa harus menyaru dalam lelaku, tangan seorang wanita, yang kau pelihara dalam tiap-tiap diam: mekar dalam sepuluh sangkar yang mengurung rupa wajah kota. Potret murung suatu gedung: mall, bioskop, taman kota, stadiun bola terangkum dalam larik-larik kata di beranda harian seorang remaja. Sebuah keluarga mati dalam ruang isolasi, ruhnya menguap di antara pengap baju hazmat. Kau masih bekerja memangkas ulang daging-daging di kening ingatan yang tumbuh tak keruan, menutupi pandangan: hanya gambar-gambar buram kehilangan. Masa depan hanya dongengan yang tertinggal di buritan sebuah kapal yang telah karam.

Lamongan, 2021


Phenobarbital

Awalnya nyeri, yang kerap kau jumpai dalam hubungan gelap di setiap derap kaki-kaki yang basah akan gelisah. Ada suara tembakan yang coba diredam dalam pesan-pesan yang tenggelam di rahim zaman. Notif penting dan tak penting berlalu seperti kerlip traffic light. Di perempatan jalan mereka mengusung upacara perayaan masing-masing tubuh, budaya yang merangkak seperti kura-kura digital dalam jaring laba-laba. Lalu orang-orang menguap seperti mulut ikan koi yang melahap tai di empang-empang seberang mereka menanam kakus-kakus sederhana. Dan orang-orang mencicil nyeri tiap pagi. Tapi laki-laki itu masih berlari dalam angan-angannya sendiri, ketika pagi merobek lagi mimpi-mimpi mudanya menggantinya dengan kenyataan yang tak enak dipandang. Realitas menggunting-gunting ideologi di sepanjang kepala hingga lambung mahasiswa-mahasiswi jadi kolam-kolam ikan lele, kandang-kandang itik, sawah-sawah yang minta diolah. Menjadi rupiah dan barang-barang mewah. Tapi di matanya segalanya akan pecah belah seperti hidup Haji Dullah, rumahnya mewah, tanahnya, istrinya, hartanya, sapinya, melimpah, tapi akhirnya pecah belah. Lalu di tanggal merah segalanya jadi merah. Haji Dullah berlumuran darah dan segalanya berserakan di tanah. Tapi segala yang pecah belah tak ia bawa ke tanah. Dan segalanya hanya jadi kisah yang kerap diasah oleh lidah-lidah keluh kesah. Tapi hidupmu adalah rasa nyeri di hati yang gagal disiasati atau diobati. Dan kau juga tak mungkin bunuh diri di hadapan sunyi tangis bayi dan istri yang dilumat api.

Lamongan, 2021


Catgut 900 M

Pada seluruh luka kita akan mengeja, berapa pendek dan panjang kesakitan yang musti dihubungkan, dibungkam, disembuhkan. Sebelum siksa di tubuh manusia menganga, kita hanya pipa-pipa mukosa di perut domba, setiap hari kita pamah rerumput yang jatuh dari lubang hitam dinding-dinding kelam. Tak ada jerit sakit, pendek atau panjang hanya nyanyian gudang penampung sebelum kran terakhir mengintip muara akhir. Dunia luar tanpa mercusuar, atau kita yang terbiasa menyala dalam legam. Percakapan-percakapan bungkam. Bahasa terabaikan dalam gerak peristaltik, dinding-dinding merah muda, berlendir, mahir mengeja rasa dalam asam basa. Mengaduk keduanya di lapang nihil. Tak ada kebencian makhluk lain, hanya benih-benih rerumput yang kita ramut dan pilah sesuai desah. Bising usus terdengar halus di sela-sela kita yang rakus: dinding yang tak pernah aus atau haus. Dan kita tak juga terputus, bekerja dan bekerja, meski nyawa tuan hilang sementara, kita budak sepanjang masa, sebelum luka manusia membutuhkan kita.

Lamongan, 2021


Hikayat Oximetry

:jenazah-jenazah dari rumah

Garis putus-putus warna biru yang lugu

mengapit buku jarimu yang layu

keriput di wajahmu seperti memetakan

masa lalu bersama angka-angka yang

mencuat di layar kaca sebagai neraca

kadar nyawa di dalam tubuh yang

kian rapuh:

-99%: kau berlari dalam kilometer

           -kilometer mimpi yang enggan

           menepi [dunia ini abadi] dan

           kau enggan menepi

           pada pucuk-pucuk sepi, tak ada

           aroma kenanga dalam raga.

-95%: kau saksikan jerit orang-orang

           terhimpit, tercekik, dalam

           ribuan derap kesusahan, yang

           samar-samar serupa memar

           tamparan perempuan yang

           pernah kau tinggalkan sebab

           perigi tak lagi suci

-90%: mulai ada yang terbakar dan

           tenggelam di dada, angan-

           angan berumah tangga, sambil

           menanam bunga-bunga gugur

           dalam grafik-grafik yang

           jatuh menukik ke dalam ambang

           kelam kecemasan yang terbit

           dari wajah-wajah iba di depan

           kepala: orang-orang tercinta

           bisa apa? ruang-ruang isolasi

           telah terkunci dan terisi.

-85%: kemudian hanya bayang-bayang

           awan di pertigaan mengambang

           di antara perjumpaan dan

           perpisahan. lolongan panjang

           menggantung nyaring di

           orofaring seperti jerit anak kucing

           yang menelan kail pemancing.

           hidup ini kian nyaring kian kering

           dering telepon dalam igauan

           tenggelam dan terabaikan, tak ada

           pertolongan pertama, kedua,

           atau ketiga, hanya ada sesak

           yang kian merusak di rusuk.

-70%: entah apa yang kian menipis,

           seiring hari-hari yang terkupas di

           ambang pelipis seperti ada puas

           yang teriris. tentu saja bukan jeruk

           nipis yang kau peras dalam gelas

           untuk meredakan batuk atau kutuk

           yang mengeras. tapi yang nihil

           seperti meremas nyawamu

           agar tandas dan lunas. segalanya

           terkuras dalam deras cemas

           apa-apa yang amblas.

-65%: lalu yang kau kenakan dan

           banggakan menjelma bayang-bayang

           samar di retina. pluit kereta atau

           derap langkah ribuan kuda

           menggenangi bangsal isolasi.

           tapi kau tak mengerti paru-paru

           yang tenggelam bersama jalan

           pulang. suatu malam di pekuburan

           dengan nyanyian berlumur tangisan.

           lembab, hijau, sembab dan

           berkeringat melekat hingga belikat.

-50%: kau berhadap-hadapan dengan

           jalan lain penuh dirimu dan gigil

           yang membiru di balik baju. sianosis

           merangkak dari jari ke jari. dyspnea

           mengambang dalam batang-batang

           igauan yang mengental bersama

           darah. …

-35%: aroma peziarah merekah

           dalam desah …

-0%  : dan gelisah

           luruh jatuh

           ke tanah …

Lamongan, 2021


Diathermy

Pada gelombang yang tembus pandang

Kau karang peta nyeri dalam tiap-tiap

Diri melewati lekuk lembah

Bukit daging dan segala

Daki yang menyelip di hati

Asam urat yang kerap buat hidup

Terhambat, membuat kakimu seperti

Terikat hutang negara

Dan terjerat pasal-pasal

Yang dibuat asal tanpa akal

Cahaya mengental tertimbun lemak

Di lipatan perut yang jarang

Diurut, minyak tawon atau

Balsem Lang dengan

Koin seribuan

Di antara orang-orang yang hilang

Kau selipkan igauan malam-malam

Dengan suara tembakan

Tapi kau mengerti

Mereka tak pernah mati

Hanya tidak bisa berdiri dalam gelombang

Tembus pandang tak ada

Yang musti dimaklumi

Dalam diri-diri ini kecuali

Nyeri yang tak terobati

Lamongan, 2021


Ether

Senyawa kimia yang kau

Racik di nganga luka

Membuat kita terjaga

Dalam jeda

Nyeri yang tak teraba

Tak terbaca meski dengan

Neraca surga yang

Pernah menaksir dosa-

Dosa umat manusia.

Luka ke mana-mana

Menjalar sepanjang arteri

dan vena, tapi tak ada

Kata siksa menari-

Nari serupa

Biduan orkes kampungan,

Yang disawer seribuan.

Tapi di sejengkal daging

yang belum kering, mereka

Mencari amsal jerit

Ketika malam melumat

Seluruh tubuh yang pernah

Berlabuh pada riuh

Kota yang sementara,

Selebihnya duka

Tapi tak terasa

Apa-apa.

Lamongan, 2021


Chloroform

Sebelum segalanya diangkat

harus ada yang rehat

dalam aus atau apkir

hidup yang kian

ke pinggir mencicip

lagi wangi orang-orang mati.

Kenanga, angsoka,

pandan, dan mawar

-mawar yang gugur

di gundukan.

Ambang luar dan dalam

pada retina, melayang ke

hitungan tanggal-tanggal

merah di balik kerah baju hanya

ada kau yang malu-malu

dalam tidur panjang kerap ada

yang hilang dalam dada mimpi

sesunyi hari sebelum

pagi mengetuk amsal sesal,

lubang-lubang yang

bercabang

memakan

igauan.

Lembar-lembar asing

di kening karyawan, tagihan

harian, cicilan bulanan, pajak

tahunan, negara menjahit

luka di punggung warganya

dengan bara yang menyala

seperti lampu jalan

di tengah malam.

Sebelum segalanya diangkat

harus ada yang rehat

dalam kelam yang

benderang di ujung jalan

hanya persimpangan dan

potongan-potongan

tangan yang pernah hilang

di ambang lengang.

Lamongan, 2021


Cranioplasty

Penjahit daging terasing dalam sketsa tubuh

Tanpa jendela, pintu dan langit-langit yang

Menghadap tilas di balik batu,

Aroma kaldu manusia, belulang-

Belulang dari penggalian ulang

Makam-makam yang mengambang

Sejajar igauan biduan kondang

Yang ditiduri ratusan mata

Meruah di hadapan lusa.

Tiap hari kepala-kepala plastik berisik penuh

Kerlip sisik tembakan-tembakan di perbatasan

Palang pintu yang dipasang

Melintang di ambang mimpi.

Orang-orang meludahi sepi,

Dalam diri sendiri, tapi apa

Yang musti dicari ketika

Hari-hari hanya dentuman

Innalilahi, Yang kian kemari?

Lamongan, 2021


Fatah Anshori, lahir di Lamongan, 19 Agustus 1994. Bukunya yang telah terbit Hujan yang Hendak Menyalakan Api (2018), Melalui Mimpi, Ia Mencari Cinta yang Niscaya (Frase Pinggir, 2021). Cerpen dan puisinya telah dimuat beberapa media online, Majalah Suluk (DK Jatim),danpernahterpilih sebagai Penulis Cerpen Unggulan Litera.co (2018). Bergiat di Guneman Sastra, Songgolangit Creative Space dan KOSTELA.Dapat disapa di Instagram: @fatahanshori dan Facebook: Fatah Anshori.

Puisi

Puisi Adnan Guntur

AKU MENJELMA KABUT DI SEPANJANG WAKTU

di sepanjang waktu, aku menjelma kabut yang menyarang dan hinggap di tubuh taringmu yang lancip, mencari mimpi atau pohon tumbang menyesali dirinya sendiri tumbuh

kumasuki tubuhmu, seanak adam dan hawa ditelurkan dengan suara yang payau, kadang angin tumbuh, lalu hujan, dan badai membentuk lelangit yang tak bisa dijangkau

“akankah kita kenali dari mana asal kakiku yang menapaki tanah dan tetumbuhan yang setiap hari runtuh”

“ataukah kita kenali, sebuah bahasa dan penciptaan kerap kali gagal melahirkan makna yang seutuhnya?”

lalu sepasang cakar dan moncong tanah muncul menjadi nyawamu, yang menumbuh-hancurkan segalanya asalkan mau

Ciamis, 2022


BAYANGAN TUHAN TERWUJUD DARI MATAKU

di ketinggian ini, hanya bau napas dan bayangan tuhan terwujud dari mataku, kuhancurkan kesedihan dari angin yang memotong batu menjadi burung

nama-nama terukir, melahirkan sajak dan kitab dari orang-orang yang telanjang

“deritilah nyawaku di sepanjang waktu hingga akhir yang disebut tahun”

di cekung gerbang bintang, sepasang lontar dan sekelumit bahasa, menghunuskan peratapan yang berloncatan ke dalam nyala api biru, menaungi tubuhku lalu menjadi abu

Ciamis, 2022


AKU TERKUBUR DI KEDALAMAN BERSAMA PUISI YANG TERKUNCI

kautemukan hujan dan musim berwarna cahaya, kapal-kapal menghentikan langkahnya, aku terkubur di kedalaman bersama puisi yang terkunci di balik peti

“mengertilah emas dan perak, membawa kecelakaan yang tidak pernah ada hentinya, sedang mimpimu harus ditimang dan disirami”

lalu sederet tokok, beberapa musim kemudian, mendendangkan lagu yang pernah kau kenali sebagai tubuhku, sebongkah batu, kunci terlipat, dan gugusan daun kering melayang tenggelam lalu terlipat seperti buku yang dibaca setelah anak cucumu menumpas para negeri penjajah dengan tubuhmu terbaring di atas awan

Ciamis, 2022


NYANYIAN BURUNG-BURUNG

angin menyelinap dari derap redup lumpur rindu, kesunyian dan keharibaan menampilkan dirinya dengan kedua kakinya yang terpotong, kau susuri tubuhku, di mana seanak ayat bernyanyi dengan lolong anjing menguar ke arah jendela

ada setitik gelap sajadah menggumpal mawar hitam, langit-langit, melukiskan berabad-abad yang bisu, menampiki telingamu di punggungku

“di sini, aku menunggu jawabanmu terbang melampaui sorga dari dasar neraka yang sabar!”

lalu namaku dilupakan oleh burung-burung yang terbang dan melempari bumi dengan meteor dan batu-batu merah melalui selangkangan langit biru

Ciamis, 2022


HATIKU KABUT

hatiku kabut yang menelan permukaan bulan, asap membeku di antara cahaya lampu, kau menebak ke mana lagi arah hujan dan lembah dari daun yang terombang-ambingkan senyumku yang sayu

kau kuasai lempeng gunung di antara celah-celah jendela rumah, pintu kaki dan kursi menata dirinya sendiri di balik sini, rumah kaca dan lemari menemani tubuhku dari kemalangan

“entah dari doa yang menyelinap kubasuh zikirmu di antara lelagu penghancur nyenyak, kutaburi tubuhmu dengan mimpi yang balaga”

namun bersigera langkah-langkah para penghuni sorga dari sebalik kuburan yang tertimpa pepohonan dan angin topan kakimu yang kuasa

Ciamis, 2022


PERJANJIAN MATAHARI

bau anyir dan daun salam, mengucur di tengah meja ke jendela ke pohon mangga, mengupasi tubuhmu dari lenganku yang uzur dari sepisau runcing lembab hujan subuh hari

kau menangis tika hujan jatuh menempeli tubuhmu dari ceruk tembok dan dahan yang patah, akar-akar dan bulan darah, mengucap lukamu di sebatas rupaku

“kau mungkin kan mengenali hujan dan bau tanah, tapi tidak dengan diriku!”

sepasang tangan menampa hujan dari matamu yang berjatuhan, mengikuti bayangan hanya dari depan, namun, matahari patah dengan bulan yang menusuk mataku

Ciamis, 2022


Adnan Guntur, kelahiran Pandeglang tahun 1999. Menyelesaikan studinya di Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga. Aktif berkegiatan di Teater Gapus Surabaya, Bengkel Muda Surabaya, Wara-Wara Project, dan Sanggar Arek. Karyanya tergabung dalam beberapa antologi bersama, media online, dan media cetak. Kumpulan Puisi tunggalnya Tubuh Mati Menyantap Dirinya Sendiri, Skriptorium-Pagan Press, 2022

Puisi

Puisi Adnan Jadi Al Islam

Aliran Ostinato

Tujuh hari

ikan-ikan sungai

dalam tubuh hari putus asa; mereka melongo ke langit

menantikan sesuatu jatuh dari sana.

Tiada yang memasuki mulut mereka

selain kekosongan

Detak melemah

waktu konstan;

menunggu dalam geming,

dalam hening,

meragu takdir azali

Seorang pemancing menyangka

kesabaran telah cukup membayar

ketenangan palsu

yang justru menghanyutkannya

dalam aliran ostinato

Akankah rahasia menyambar umpanmu kali ini

atau amarah lebih dulu memutus taut:

kemungkinan getas, yang menisbahkan

muasal keberadaanmu

/Oktober 2021


Rih

Kuungkapkan dengan diamku

dengan dinginku

ungkapan yang tersembunyi

di balik kata-kata,

Bahwa yang (tak) kuembuskan

di bawah teduh trembesi

malam itu, bukan lagi hangat:

potret peristiwa

bukan pula sejuk:

kisah rahasia.

Ia sekadar suara rendah

gema lembah hijau jiwamu

yang telah sekian masa

tak kau warnai

/Oktober 2021


Setelah Kepergian Hujan

Sebelum kepergian hujan

cawan-cawan penuh makna,

pohon-pohon bebas luka,

anai-anai riuh mengudara

sungai-sungai tenang memuara

Setelah kepergian hujan, kata awan:

“Dunia terbakar curiga.”

ambisi bergemuruh dalam tubuh manusia

sepanjang (meragukan) umur,

pengetahuan teralihkan

ilusi menjarah segala.

Usaha paksa menangkup kekosongan

hanyalah pintu menyambut kekosongan lain.

“Ke mana hujan pergi?” angin penasaran

Awan membisu:

bergeming lama—sebab satu hari setara seribu tahun

—dan angin pun kalut,

bersikukuh memburu selama itu

sampai suatu masa

awan luluh, lalu berkata:

“Sebenarnya ia telah menyelam ke dalam lautan.”

“Kenapa?” angin makin nanar

“Sebab di sana ia menemukan

arti keberadaan.”

Memang apa arti keberadaannya?

“Tak ada.”

angin gundah dengan jawaban awan

ia angkat kaki: berkesiur ke semua tempat,

sembari bertasbih dan mencuri-curi dengar

melintasi zaman, mengawasi peristiwa-peristiwa

entah sampai kapan

“Padahal kau pun tahu,” katamu, “satu-satunya tempat yang tak bisa hujan susupi

hanyalah tubuh lautan.”

/Oktober 2021


Satu Waktu

: Albert Einstein

Satu waktu,

di antara ruang purba

pernah kita tinggali berdua

Satu waktu

sebelum harapan

menjelma penyakit

sementara sungai dendam

masih jabang gunung es

di kutub-kutub qalbu

Satu waktu

di mana kuntum bunga

dan tangkai kekar pohon

urung rekah

alih-alih saling rengkuh di hari tua

Satu waktu lain,

ritus paradoks urip-

urup tipu daya,

dinding nafsu julang

mencakar mimpi-mimpi langit

Satu waktu lain

di mana pengetahuan;

rumus perihalmu muspra,

relativitas gelap melingkup

ingatan belantara

hangus

O, satu waktu lain,

dilatasimelipatgandakan

pintu-pintu kemungkinan.

Di manakah ruang

kita kembali

satu?

/November 2021


Pulau Atas Awan

Padahal dunia dalam diriku

ruah tanda tanya ketika

tuduhan-tuduhan meledak

di beranda langit

Kau bilang:

“Titik-titik jelaga kerap menjadi saksi

bagaimana setiap kisah,

dan kehidupan berakhir.”

Bukankah dalam kalimat lepas

kita pernah coba menerjemahkan jalan,

menampik logika dan retorika

demi bisa sampai seberang:

berenang ke surga terdekat

Tetapi di ufuk, di pulau yang kambang itu

kita alpa, kita tak punya suara

bahkan pada bahasa sehari-hari

kita hanya menemukan jejak luka

dan bekas yang dibiarkan

Lalu kebenaran menitahkan

pulau itu bersenandung:

“Huruf-huruf menyusun kehidupan

dalam doa, bagaimana sempat

manusia melumat khidmat mereka?”

/November, 2021


Mantol Plastik

: Bruno Mars

Mungkin tubuhku lebih rapuh

dari mantol plastik:

seharga sepiring nasi sayur, tempe goreng,

dan es teh manis Kartasura

Dengan itu kau mendesakku laju:

merobek tirai hujan;

menangkap basah dua merpati

yang kebingungan bagaimana mengakali air bah

Tapi aku berterima kasih

pada pencipta mantol plastik

Ciptaannya menyatukan

kita dalam satu tumpangan

Bulan tak perlu

sok-sokan mendengar lagi

segala keluh malam ini

Pria galau di kusen jendela

telah bahagia

di balik mantol plastiknya

/November 2021


Perekam Sepi

: N

Adakah yang lebih sepi

dari asing?

seorang pandir mungkir

tanah subur lugu dikorbankan.

Dari buaian kamar

sampai liang lahat

penyesalan menggumpal

di langit: bergemuruh,

matahari undlap-undlup,

 “Pengkhianat!”

rembulan kecewa pada dirinya,

pada cahaya,

pada lelaki

Adakah yang lebih sepi

dari asing?

tanpa sempat kucing mengeong manja

segumpal tanah hangus

dunia pura-pura legam.

Penyesalan menggauli depresi

melahirkan sebotol anggur putih

(sebab tak ada yang seberani darah) pun

tak ada dosa saat kardiograf ngambek

seorang polisi lantas berkhotbah,

“inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

/Desember, 2021


Kabut

: embung Manajar

Ketika sendok berdenting; sepi berdentang

cerek mengeluh pada api

enggan melepas air pergi;

terbang bersama angin.

Separuh tanah hidup

di atas kehilangan

separuh lagi mati

di bawah keangkuhan,

mencari cara meminta maaf

pada langit

agar pohonan kembali tumbuh

agar hati kembali teduh,

dan lelaki sangsi

di meja payung itu

dapat mengaduk;

menyesap puisi lagi

/Desember 2021


Fariga

: untuk M

Sebetulnya angin memusuhi

kebingungannya sendiri

Memang, ke mana lagi sepi

dan waktu akan menarik-ulur hari

Selain mendesirkan nyeri

pada hati hutan yang sangsi

sejak mencintai api

Menghelalah atau dengar saja Rumi

dalam sebatang puisi:

Telingamu tak mampu mendengar irama

yang membuatnya menari

/Januari, 2022


Matras Berkabut

:I

Kali ini bukan angin

melainkan suara-suara

mengombang-ambingkan imanmu

Tapi kau cukup menumbuhkan edelweis

di bibirmu dan bertahan di sana

getaran gaib sabana itu mengenalmu dengan baik

Tak perlu ragu, tombol reset menunggu

di balik tenda hatimu

dan aku selalu menjaga malammu:

yang dingin

Juga mengawasimu menekan tombol itu.

Atau kita bisa coba menerjemahkan bintang

seperti dulu,

sementara sunyi berusaha menyeduh hakikat pagi

Kau boleh bertanya pada waktu sebanyak apa pun—

aku tak hendak mengeluh—

ke arah mana hidup yang fana

atau arah pulang yang baka

/Januari, 2022


Adnan Jadi Al-Islam, lahir di Klaten, 21 Oktober. Lelaki galau, pengagum kata-kata, penikmat ojek penyet dan sambel welut. Sering insomnia lantaran kebanyakan kopi dan kenangan. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan daring. Masih mukim di Klaten. Sapa aja, siapa tahu jodoh: Instagram @ad_nanj

Puisi

Puisi Tegar Pratama

Atas Nama Ibu

andai permukaan matamu adalah samudra,

izinkan aku sebagai satu-satunya perahu

yang karam di sana.

andai lembut mulutmu adalah jalan lain

kata-kata menuju langit, izinkan aku sebagai salah

satu kata yang luput kau baca untuk

menemanimu menanti maut tiba.

andai hitam rambutmu adalah jembatan

pengantar ke sebuah tempat yang kau rindukan,

izinkan aku sebagai seluruh rontok putih rambutmu

menjadi perahu yang akan mengantarmu

jika kau jatuh sewaktu-waktu.  

Sukoharjo, 2022


Waktu Ibu

andai kita berlayar ke sebuah tempat yang kau impikan dan maut membenamkan kita dari kehidupan ini,

aku ingin menjadi henti detak arlojimu yang detiknya dirampas karam. aku ingin menebus waktumu, andai saat itu waktu dapat terhenti, yang terenggut tersebab merawatku. walau sedetik pun, andai bisa, akan kuserahkan seluruh detakku kepadamu, agar kau bisa menanti waktu kepulanganmu, barang sedetik pun.

Sukoharjo, 2022


Ibu Guru

siapakah yang mengajarimu menjahit? sehingga lubang-lubang pada diri ini sanggup tertambal tanpa sakit.

siapakah yang mengajarimu berhitung? sehingga ganjil dalam pikiran ini mampu tergenapkan tanpa bingung.

siapakah yang mengajarimu sandiwara? sehingga tangkap di mata ini dapat mengerti lewat tubuhmu tanpa bicara.

siapakah yang mengajarimu tertawa? sehingga dengar

di dalam liang telinga ini enggan lupa tanpa tapi.

Sukoharjo, 2022.


Cinta Ibu  

ibu, bila cinta adalah aksara yang luput kueja, maka engkau akan tiada bosan mengajariku membacanya. atau bila cinta berwujud sungai, maka engkau akan tiada lelah melatihku berenang atau menyusun kayu untuk menjadikannya perahu. namun sayang, ibu, ternyata cinta ialah pecah tangisku pertama kali di dunia dan engkau tersenyum bahagia.

Sukoharjo, 2022


Tubuh Ibu

kelak aku takut menghadapi hari-hari tanpa

masakanmu, bukan karena kurangnya bumbu

atau terlewat masak. melainkan pada sesuatu

yang kau masukkan sebelum tersaji di meja

makan. sesuatu yang membuat aku selalu

kelaparan. aku takut kelak tak dapat lagi

mendengar suara berisikmu bukan karena

tak ada alat-alat untuk kau gunakan

atau masalah kecil yang akan kau bicarakan.

tetapi pada sesuatu yang kau lakukan, sesuatu

yang membuat aku merasa tenang. kelak aku takut

menatap terbit matahari tanpa hangat

secangkir teh buatanmu. bukan karena tak ada

cangkir atau teh atau gula. bukan, bukan itu.

Sukoharjo, 2022


Hari Ibu

suatu hari aku pernah bermimpi

memiliki segala yang tak kupunya

dan aku lega ketika kau tak ada

di sana. aku bermain dengan masa

kecilku pada mimpi itu.

di sana kami bermain-main bersama pagi,

siang, sore, dan malam dengan berlari,

semua saling mengejar. sesekali kami berhenti

untuk mengaso dari kejaran matahari.

kami bertukar cerita tentang apa-apa yang telah

kau berikan. masa kecilku itu bercerita

tentang nama pemberianmu yang akan dibawanya

selama-lamanya. aku tertegun,

sebab hanya bisa kuhadiahkan

kepadamu kecemasan-kecemasan

pada hari depan.

Sukoharjo, 2022


Surat Ibu

kini aku mengerti, mengapa kau selalu berpesan agar aku tak pulang larut malam. sebab malam adalah pelukmu dan kau ingin aku terlelap dalam dekapmu. kini aku pun tahu,

mengapa kau tiada bosan mengingatkanku untuk lekas lebur bersama malam dengan memejamkan mata. sebab terjaga adalah doa-doamu dan kau berharap aku selamat melewati gelap berbekal nyala kata-katamu. dan kini aku semakin percaya, mengapa kau tiada henti menasihatiku agar bangun lebih awal, lebih dari yang seharusnya. sebab

cahaya adalah senyummu dan kau mau aku menyaksikan cantik selain langit ungu.

Sukoharjo, 2022


Tegar Pratama, lahir di Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar, Jawa Tengah. Dapat disapa di Instagram @tegarpratamabp

Cerpen

Pesan Rahasia dari Virus AUX-20-Blue

Cerpen Fina Lanahdiana

“Sekali kita masuk ke dalam sesuatu, maka mustahil untuk bisa benar-benar keluar darinya.” Itu merupakan pesan pembuka dari sebuah suara yang diputar berulang-ulang oleh Qeff di waktu luangnya menikmati kesendirian, di ruang pribadi yang didesain minimalis dengan suasana senyaman mungkin. Perpaduan ruang kerja sekaligus tempat bersantai.

Ada sebuah kotak aquarium berisi ikan-ikan yang bisa dikeluarkan dan disembunyikan secara otomatis, seolah-olah menerobos ke dalam dinding. Ada pohon-pohon kecil berjajar di pot yang berada di dekat tumpukan buku-buku yang juga bisa ditata sedemikian rapi menggunakan sebuah tombol sentuh, bisa dibayangkan seperti sebuah mesin dispenser berisi buku-buku yang bisa diatur ulang apakah akan menatanya sesuai abjad judul, nama penulis, warna kover, atau suka-suka pemiliknya. Di sebelahnya, ada sebuah monitor berukuran 21 inci. Ruangan itu sepenuhnya kaca, agar bisa memenuhi kesan berada di tempat yang terbuka. Sementara di hadapannya, sebuah jendela secara suka rela menjadi tempat pertukaran cahaya dan warna.

Sekilas tampak biasa saja, tapi sebenarnya ruangan itu bisa ditenggelamkan ke dalam tanah yang di permukaannya ditumbuhi rumput hijau segar, menyenangkan mata siapa saja yang melihatnya. Itu dilakukannya untuk memberi kesan bahwa dirinya sedang pergi bekerja dengan suasana yang nyaman.

Dunia memang banyak berubah setelah virus AUX-20-Blue menyerang di hampir seluruh negara di dunia, sehingga tercatat sebagai pandemi. Gejalanya tidak jauh berbeda dari gejala flu, hanya saja lebih menular dan lebih mematikan. Memang ada sebagian penyintas yang bisa melewatinya hanya dengan gejala ringan atau bahkan tanpa gejala sama sekali. Tetapi seringkali bisa sangat berbayaha bagi pihak-pihak yang memiliki kondisi kesehatan rentan. Bagi yang memiliki gejala cukup parah, paru-paru menjadi target serangan virus AUX-20-Blue ini, sehingga penderita bisa mengalami sesak napas yang bisa berakibat fatal.

Qeff termasuk penyintas yang bertahan, tapi dunianya seolah menjadi hampa. Ia kehilangan ayah dan ibunya akibat virus AUX-20-Blue yang tidak disadarinya sudah menyerang tubuhnya tetapi tidak menunjukkan gejala yang berarti. Segalanya mungkin memang sudah berlalu, tetapi sejarah buruk di dalam hidupnya itu tidak pernah bisa ia lupakan.

“Aku sungguh menyesal karena tidak bersedia mengikuti aturan yang telah diberlakukan oleh pemerintah. Aku pergi keluar rumah sesukaku, dan segalanya terjadi begitu saja,” ujar Qeff kepada Noe, seorang terapis yang menangani dirinya.

“Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan,” balas Noe.

“Ya, aku tahu. Tapi seharusnya ini semua tidak akan terjadi jika aku …”

“Tidak apa, menangislah. Sebentar, biar kuambilkan minum.”

“Terima kasih.”

Air mata lelaki itu memang sudah tidak bisa ditahan lagi. Tak peduli bahwa sejak kecil ia selalu diajari bahwa tidak seharusnya lelaki menangis. Ruangan konsultasi itu seketika menjadi begitu riuh oleh suara tangisan.

“Sampai kapan? Sampai kapan aku akan seperti ini?”

“Ini, minumlah.”

Noe menepuk-nepuk punggung Qeff untuk menenangkannya, sementara Qeff menerima uluran gelas berisi air putih yang diberikan Noe.

“Sudah cukup tenang sekarang?”

Qeff mengangguk beberapa kali.

Begitulah, Qeff seolah tidak bisa melepaskan diri dari badai pandemi yang meskipun telah berlalu, tetapi tidak mengubah cita rasa gelapnya sedikit pun. Bahkan untuk waktu-waktu tertentu, emosinya bisa naik-turun seperti roller coaster yang naik dengan perlahan, lalu turun dengan sangat cepat yang tak jarang membuatnya terengah-engah.

Ia juga sering dibayangi mimpi buruk didatangi ayah dan ibunya yang muncul dengan raut wajah sedih dan tak henti-hentinya menyalahkannya.

“Kukira segalanya akan berlalu begitu saja jika semuanya sudah terlewati. Ya, kukira. Tapi mimpi buruk selalu datang, menyusup ke dalam tidurku seolah ingin mencuri setiap kebahagian yang tersisa, yang kumiliki.”

“Tidak seharusnya kau menyalahkan dirimu terus seperti itu. Setiap hal yang berlalu memang tidak bisa diubah, tapi selalu ada sesuatu yang bisa diambil darinya, kan?”

“Ya, mungkin kau benar.”

***

Qeff memang mengubah pandangannya mengenai pekerjaan setelah pandemi berlangsung. Ia telanjur nyaman dengan konsep ‘bekerja dari rumah’ yang mau-tidak mau dilakukan ketika pandemi berlangsung. Bidang teknologi juga mengalami percepatan yang tidak terduga, karena saat segala hal tidak bisa lagi dilakukan dengan pertemuan, maka yang berperan paling besar di dalamnya adalah teknologi. Kadang-kadang Qeff berpikir dengan disertai kecemasan, apakah kelak manusia benar-benar akan digantikan oleh mesin? Terlebih teknologi AI saat ini sudah sangat melampaui yang tidak pernah dipikirkan di masa lalu.

“Itu hanya ketakutanmu saja. Bagaimanapun, manusia menciptakan teknologi. Artinya, manusia masih lebih berdaya ketimbang mesin.” ujar Joe, temannya.

“Tapi kadang-kadang manusia kalah cepat dengan mesin.”

“Memang. Itu karena manusia punya rasa lelah, sedangkan mesin tidak. Maksudku, mesin tidak benar-benar merasa lelah, jika sudah saatnya rusak, ia hanya akan rusak. Seluruh hidupnya dikendalikan program. Sedangkan kau tahu, manusia punya kehendak bebas.”

Hal itu membuat segala hal menjadi mungkin dilakukan dengan cara yang lebih simpel dan lebih efisien. Kantor menjadi tidak harus sebuah ruangan luas yang berisi banyak orang. Teknologi juga mampu melipat jarak yang semula sulit untuk ditempuh menjadi mungkin  melalui udara. Setiap hal dapat diringkas sedemikian rupa sehingga akan bisa memotong perencanaan anggaran yang tentu saja tidak sedikit, sehingga pada akhirnya anggaran yang tersisa itu bisa dialihkan untuk kebutuhan-kebutuhan yang lain yang lebih mendesak.

Berbelanja pun begitu. Setiap toko yang diinginkan seolah-olah telah menawarkan diri dalam genggaman tangan. Tidak perlu keluar rumah untuk membeli kebutuhan yang dikehendaki. Hanya perlu duduk dan menyentuh layar ponsel, memilih barang yang diinginkan, membayarnya, lantas barang itu akan datang mengetuk pintu rumah tanpa perlu repot-repot untuk menghabiskan tenaga.

“Benar-benar hidup seperti mesin yang serba otomatis …”

“Dan memudahkan segala kerepotanmu, kan?”

“Ya, dan kurang cahaya matahari.”

“Ayolah, kita bisa pergi keluar rumah sebentar, berlari kecil setiap pagi. Menyapa kucing dan anjing-anjing …”

“Kau benar …”

Bagi Qeff, berhasil melewati pandemi sudah lebih dari segalanya. Rasanya tak ada hal yang lebih berharga daripada itu, karena ia ingat pandemi mumbuat hidup menjadi seolah begitu sulit untuk diperjuangkan. Negara-negara di hampir seluruh dunia seperti kehilangan kendali; rumah sakit yang penuh sesak, pasien yang terlantar, alat-alat kesehatan yang dijual dengan harga tak masuk akal, anak-anak kos yang diusir ketika terinfeksi virus AUX-20-Blue, jenazah yang kesepian karena tidak boleh dijenguk oleh siapa pun dan orang-orang yang kehilangan pekerjaan karena perusahaan yang kolaps dan tidak sanggup lagi membayar gaji karyawan.

***

Suatu malam Qeff bermimpi, ia terlibat pada sebuah survival game. Peserta dipilih oleh sistem, dan ia salah satunya, dan tak bisa lari dari itu. Maka selanjutnya ia mengikuti permainan yang sudah disiapkan. Ia dan pemain lain dimasukkan ke dalam sebuah mesin raksasa yang mengingatkannya pada film Charlie and The Chocolate Factory. Sebenarnya permainannya cukup aneh, karena tiba-tiba ia dan pemain lain telah berada di arena bermain roller coaster. Posisi duduknya juga berbeda dengan pemain lain, tetapi sungguh tidak terduga, itu bisa menguntungkannya. Seharusnya ia lolos ke stage selanjutnya, tapi ternyata yang terjadi tidak semudah kelihatannya. Berkali-kali ketika ia memasuki lift untuk naik level, ia ditolak dengan suara peringatan, ‘nomor ini belum diizinkan untuk masuk, silakan kembali ke tempat!’

Tetapi Qeff memang sungguh beruntung, karena ketika itu ada seseorang yang menyelamatkannya, membawanya masuk ke dalam lift melewati ‘pintu’ lain. Setelahnya ia terbangun dengan badan yang seluruhnya terasa remuk, seolah apa yang baru saja dialaminya bukanlah mimpi. Mimpi itu memang tidak benar-benar di luar kesadarannya, karena ia masih mendengar suara televisi ketika tidur, dan di waktu yang sama suara itu seolah masuk ke dalam mimpi sebagai backsound.

Qeff tidak terlalu tahu apa arti mimpi itu, tetapi setidaknya ada 3 hal yang ia garis bawahi: 1. Setiap hal memerlukan proses, sebaiknya tidak melewatkan proses apapun yang terjadi untuk bisa mencapai tujuan, 2. Bantuan orang lain bukanlah sebuah kesalahan, 3. Daripada menolak masalah, lebih penting untuk belajar menerimanya.

Bagaimana ia bisa menangkap pesan-pesan itu? Ia tidak tahu. Yang ia rasakan bahwa ia seolah-olah membaca di dalam pikirannya, yang seolah buku yang sedang terbuka.

Noe bilang, apa yang dibacanya dari mimpi itu bisa jadi merupakan sesuatu yang benar, yang berasal dari kesadaran Qeff yang lain.

“Menurut Freud, mimpi adalah pikiran bawah sadar yang bocor dan gagal mengendalikan diri …”

“Ya, aku pernah mendengarnya.”

“Bagus, karena kau mendapatkan apa yang kau butuhkan. Apakah ayah dan ibumu masih sering mengunjungimu di dalam mimpi?”

“Kurasa tidak sesering dulu. Tapi masih. Dan agaknya … kalau aku tak salah ingat, mereka mulai tersenyum kepadaku.”

Kali ini Noe tersenyum, dengan mata yang berkaca-kaca. Ia berkali-kali menepuk punggung Qeff.***


Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di Kendal. Beberapa tulisannya bermukim di www.filadina.my.id

Cerpen

Disforia

Cerpen Tiqom Tarra

Dari semua musisi di dunia, pria di sebelahmu memilih Yiruma. Dia menyukai melodi-melodi yang membuat hati sedih. Kenapa, tanyamu. Karena sama seperti hidupku yang penuh kesedihan.

“Kalau begitu bagilah kesedihan itu padaku. Akan kutukar kesedihan itu dengan cinta dan kebersamaan.”

Pria itu hanya akan tersenyum mendengar ucapanmu. Kau tahu itu bukan senyum persetujuan karena setelahnya dia akan mengubah posisi tubuhnya untuk membelakangimu. Dia tak ingin menatapmu, terlebih dia tak ingin menganggapmu ada di sampingnya; dalam kamar yang sunyi sesudah percintaan kalian, pria itu membuat jarak denganmu. Selalu.

***

Kau masih melewati jalan yang sama setiap hari. Deretan toko, lalu lalang kendaraan, dan pedagang kaki lima menemanimu hingga sampai di sebuah halte. Untuk beberapa lama kau akan berdiri di sana menunggu bus yang akan membawamu pulang. Halte ini telah banyak berubah; warna catnya, kondisi bangku, bahkan atap yang mulai berlubang. Deretan toko yang kau lewati pun telah banyak berubah. Hanya kau di sini yang tidak berubah; berangkat dan pulang melewati jalan yang sama, melakukan hal yang sama setiap hari. Benar-benar monoton. Tak ada yang menarik dari hidupmu.

Dalam tiap langkah menuju halte, sering kau berpikir, apakah kau akan menjalani hidupmu seperti ini terus? Melewati jalan yang sama, berdiri di tempat yang sama, memikirkan hal yang sama setiap hari sampai kau tua dan mati?

Dari kaca etalase toko, kau menatap pantulan dirimu yang kurus, lusuh dengan rambut yang diikat seadanya. Wajahmu tampak memprihatinkan alih-alih tampak seperti gadis yang menginjak usia dua puluhan. Ternyata hanya satu hal yang berubah dari dirimu, yaitu usia yang bertambah tua.

Pikiranmu melayang pada ibumu di rumah yang lumpuh entah sejak kapan. Daya ingatmu tak cukup baik untuk mengingat sejak kapan ibumu lumpuh, tapi yang kau ingat kau tidak memiliki ayah sejak lahir. Dan itu tak masalah bagimu. Setidaknya kau masih punya alasan untuk tidak mengakhiri hidup.

Sampai di halte, hanya ada sepasang muda-mudi yang sedang kasmaran merayu satu sama lain. Kau tak tertarik dengan mereka. Perhatianmu justru tertuju pada sebuah mobil sedan yang berhenti di seberang jalan sana. Seorang perempuan berambut kemerahan ditarik paksa untuk keluar dari mobil oleh seorang pria. Mereka terlibat adu mulut hingga si perempuan menangis. Si pria berbicara lagi, memaki dan menendang ke udara. Kau tak tahu apa yang mereka bicarakan karena jarak kalian cukup jauh, belum lagi terhalang oleh suara kendaraan yang lalu-lalang. Perempuan berambut kemerahan itu hanya bisa menangis hingga si pria masuk ke dalam mobil mewahnya dan melaju dengan kecepatan tinggi. Hingga busmu datang dan mulai melaju, kaulihat perempuan berambut kemerahan itu masih menangis tanpa memedulikan sekelilingnya. Ah, itu bukan urusanku, ucapmu sembari menyandarkan punggungmu yang lelah pada sandaran kursi.

Entah mengapa melihat mereka kau risih. Mereka bertengkar di pinggir jalan, menangis, seolah mereka sedang main drama. Kau tak suka drama kehidupan karena kau hanya bisa menjadi penonton. Hidupmu terlalu biasa saja untuk ikut ambil bagian dari sebuah drama besar di dunia. Bahkan, jika tiba-tiba kau meninggal tak akan ada yang berubah dari dunia ini kecuali ibumu yang mungkin akan segera menyusulmu.

Esoknya, seperti biasa kau berada di halte yang sama, di waktu yang sama pula. Membawa dua kilo beras untuk persediaan di rumah, juga beberapa butir telur, kau menunggu bus. Namun, tatapanmu kemudian tertuju pada sosok perempuan yang berdiri di seberang jalan. Perempuan yang kemarin bertengkar dengan kekasihnya. Apa dia tidak pulang dan 24 jam berdiri di sana seperti orang bodoh? Namun, melihat pakaiannya kau yakin dia telah pulang ke rumah karena seingatmu kemarin dia memakai kemeja biru dan sekarang memakai sweter merah.

Cukup lama kau memperhatikannya yang masih menunduk entah memikirkan apa. Hingga kemudian dia mengangkat wajahnya dan tatapan kalian bertemu. Kau yakin dia menatapmu dari seberang sana.

Kau tak suka caranya menatapmu, terlebih dengan rambut kemerahannya yang berkibar. Ada rasa benci dan iri yang sangat dalam dari tatapan perempuan itu padamu. Apa yang membuatnya menatap begitu benci? Apa karena kau melihatnya kemarin saat dia bertengkar dengan kekasihnya? Salah mereka bertengkar di tempat umum. Perempuan itu tak seharusnya membencimu.

Lalu apa yang membuatnya iri? Karena kau membawa dua kilo beras dan beberapa butir telur? Melihat apa yang dia kenakan juga tas yang dia bawa, pasti perempuan itu orang kaya. Kau yakin upahmu bekerja seumur hidup di sebuah toko kelontong pun tak akan bisa membeli tas yang perempuan itu pakai. Lalu kenapa dia harus iri padamu?

Kau menatapnya tanpa memedulikan lalu-lalang kendaraan; menantangnya bahwa hidupmu yang lebih memprihatinkan. Namun, semakin kau menatap ke dalam matanya kau merasakan suatu perasaan yang belum pernah kau rasakan. Apa ini? Kau mengusap dadamu. Rasanya benar-benar lara, seperti ada yang menyayat-nyayat hatimu begitu dalam dan pelan.

Kau menatap perempuan itu lagi, dia mengangguk perlahan. Patah hati, itu yang kini tengah dia rasakan. Kau tidak pernah merasakan patah hati karena hidupmu terlalu monoton untuk merasakan cinta. Namun, dari tatap perempuan itu, kau tahu bahwa patah hati sangat menyakitkan.

Napasmu mulai sesak entah karena apa, seolah ada bongkahan batu yang mengganjal di dadamu. Sekeras apa pun kau memukul-mukul dadamu, rasa sesak itu tetap ada dan kian parah. Kembali kau menatap perempuan berambut kemerahan itu; matanya memerah seperti rambut kemerahannya yang berkibar. Perempuan itu tengah mengadu padamu.

“Kenapa aku?” Kau tidak mengerti. Kenapa perempuan itu harus mengadu padamu. Dan kenapa dia harus membagi rasa patah hatinya padamu.

Kau nyaris muntah andai busmu tak datang dan kau segera menghambur masuk. Kau tak bisa membendung air matamu. Kenapa rasanya sesakit ini? Tanganmu gemetar hebat dan kau hanya bisa menumpahkan tangismu hingga membuat orang yang duduk di sebelahmu menatap heran.

Sesampainya di rumah kau segera menghambur ke tempat tidur, menangis sepuasnya. Ini perasaan yang asing, tapi juga familier bagimu. Apa kau pernah merasakan patah hati? Tiba-tiba kau termenung.

“Pernahkah?” Kau bertanya pada dirimu sendiri.

Ingatanmu sangat buruk; banyak hal di masa lalu yang tidak bisa kau ingat dan itu membuatmu frustrasi. Untuk sejenak kau menatap langit sore dengan semburat merah persis seperti rambut perempuan di seberang jalan tadi. Kau masih termenung menghayati perasaan di hatimu hingga ibumu memanggil dari biliknya.

Tubuh kurusnya makin menyatu dengan kasur yang sudah kumal. Ah, kau belum bisa membelikan kasur yang lebih bagus untuknya dan itu membuatmu merasa bersalah.

“Kemarilah,” ucap ibumu dengan lambaian tangan. Tangan itu sama sekali tak berdaging; hanya tulang yang dibungkus kulit kering.

Kau mendekat. Duduk di lantai agar wajahmu dekat dengan wajah ibumu.

“Kau telah berjuang dengan keras.”

Kau tak mengerti apa yang ibumu maksud. Kau tak merasa telah berjuang dengan keras selama hidupmu. Kau hanya menjalaninya dari waktu ke waktu, tua, hingga waktunya bagimu untuk mati. Atau mungkin kau akan mengakhiri hidupmu jika memang kau tak lagi punya alasan untuk hidup.

“Hiduplah dengan baik.”

Kau masih tidak mengerti. Namun, kau sedang tak ingin berpikir, rasa sakit di dada membuatmu hanya ingin kembali ke kamarmu dan berbaring; melupakan hari ini, melupakan perempuan berambut kemerahan itu.

Kau terbangun ketika suara ribut-ribut tetangga yang memulai pagi. Kau tidak berniat untuk berangkat kerja hari ini; membiarkan gajimu yang tidak seberapa dipotong bosmu yang pelit meski kau telah bekerja untuknya selama bertahun-tahun. Hingga siang kau hanya mengurung diri di kamar. Sekali waktu keluar, membuat makanan untuk ibumu, mengurusnya yang sudah tidak mampu melakukan apa pun. Kau kembali menekuni rasa sakit di hatimu. Siapa perempuan itu? Kenapa dia patah hati? Apa yang terjadi padanya?

Kau merasa pernah bertemu dengannya. Entah kapan dan di mana. Rasanya itu sudah lama sekali. Kau berdecak. Ingatanmu yang bebal sangat menyusahkan! Tak ada yang bisa memberimu penjelasan kecuali perempuan itu. Dan tak ada salahnya bertanya. Perempuan itu yang telah membuatmu merasakan sakit. Maka, kau mulai melangkah menuju halte, berharap perempuan itu berada di sana seperti kemarin.

Namun nihil. Perempuan berambut kemerahan itu tidak ada di seberang jalan sana. Apa dia belum datang? Kau tak tahu. Langit masih benderang, dan ini bukan waktu di mana kau pulang kerja. Kau hanya bisa berdiri di halte. Menunggu. Hidupmu yang monoton membuatmu terlatih untuk menunggu.

Sepasang muda-mudi yang kasmaran duduk di bangku halte seperti kemarin. Kau tidak ingat apakah sebelum hari kemarin mereka juga selalu berada di halte ini bersamamu. Kau tahu, kau tidak bisa mempercayai ingatanmu yang bebal, maka kau hanya akan menunggu, menunggu, hingga sebuah mobil sedan yang samar-samar kau ingat berhenti di seberang sana.

Ah, itu dia! serumu.

Perempuan itu turun dari mobil. Seorang pria juga turun, memeluk perempuan itu untuk beberapa lama sebelum kembali masuk mobil dan melaju. Pergi. Dan tinggallah perempuan itu sendirian.

Dia hanya berdiri di trotoar seperti patung di antara lalu lalang kendaraan yang pengendaranya ingin segera sampai rumah. Pias wajahnya, sayu matanya seolah menjadi magnet bagi kakimu untuk melangkah. Kau harus ke sana dan bertanya.

“Wanita jalang,” ucap sepasang muda-mudi di belakangmu. Mereka tertawa pelan seolah tengah mengejekmu meski kau tahu kata-kata mereka barusan ditujukan untuk perempuan di seberang jalan sana.

Kau hendak melangkah ketika melihat perempuan itu menghamburkan dirinya tepat di depan sebuah truk yang melaju. Waktu seolah berhenti. Kau melihat perempuan itu terhamtan dengan keras sebelum warna merah berhamburan dari tubuhnya seperti setangkai mawar merah yang dihentakkan dengan cepat membuat kelopaknya berhamburan.

Kau seperti terseret ke dimensi lain. Satu per satu ingatan yang sebelumnya begitu sulit kau ingat muncul di kepalamu, termasuk perasaan asing namun familier di hatimu.

Kau bukan tak pernah mengenal perasaan itu. Namun, kau sendiri yang berusaha menghilangkannya dari otakmu. Kau menghapus semua emosi dalam dirimu seperti kau menghapus kenangan tentang Ayah dari hidupmu.

Kau bukan tak pernah memiliki Ayah, tapi kau sendiri yang menghapusnya dari benakmu, ketika dia menyentuhmu dan memenuhi dirimu dengan tubuhnya. Ketika kau dendam dan mengubur nama ayahmu selama-lamanya dari hidupmu seperti kau mengubur tubuh menjijikannya tepat di belakang rumah, kemudian kau melanjutkan hidup seolah kau tak pernah memiliki Ayah sejak lahir. Pun ketika kau mencintai seorang pria dan dia tidak punya pilihan lain selain meninggalkanmu karena baginya kau hanya penjual dan dia pembeli.

Itu yang terjadi, dan perempuan berambut kemerahan itu mengingatkanmu bahwa kau sendiri yang memilih hidupku yang membosankan. Berlindung di bawah halte tua, melewati jalan yang sama setiap hari hanya untuk mengubur semua kenangan pahit.

Malam telah gelap. Pelan, kau mendengar alunan instrumen Yiruma. Pada siapa kau bisa membagi kesedihanmu dan menukarnya dengan cinta serta kebersamaan?****


Tiqom Tarra, lahir dan tinggal di Pekalongan. Kini tinggal di Jembrana, Bali. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di media cetak dan daring. Buku kumpulan cerpen perdana Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana (2018).

Puisi

Puisi Khanafi

Mimipi di Kamar Sempit

kalau pagi hari memesan mimpimu seperti meletakkan kau

di sebuah ranjang yang asing, biarkan orang-orang tiba

sebagai pelayat atau sebagai pendusta yang pura-pura berduka

padahal sebelumnya tak pernah mengenalmu, atau waktu belah

kena gugur daun-daun mangga yang semalam habis dihajar cuaca

lalu datanglah kembali jalan-jalan asing yang pernah kau lalui itu,

membawa langkah rekaman dari gelisah yang sebelumnya pergi

menyusuri daerah-daerah tanpa wajah, tak pernah kau temukan

senyum juga ucapan yang tulus ramah, sepertinya itu akan jadi tepi

sebuah ruang berhenti ketika kau mimpi di kamar sempit yang

belum kau lunasi dan masih menunggu seperti lambaian tangan

2022


Penghuni Kota

kota kami dikawal oleh kecemasan, jalan-jalan kadang

merebahkan kenangan di hatimu, yang kembali memutar ingatan,

menyusunnya menjadi kesepian. kamu telah susah payah

belajar menulisnya, menyusuri kembali saat-saat suram

di tiap hari yang gelap, ketika doa tak lagi terbang bersama burung

ketika mimpi hanya mengarak rasa murung keliling kota

dan langit rupanya menunggu sambil mengucap kalimat beku

gedung-gedung pun menunggu gerak yang membelah waktu

inikah lagi daerah paling asing dalam hidup, tanah yang tak dimiliki,

ruang yang disewa, jalan memanjang membuat kami terlempar jauh

mungkin esok pagi kami telah kehilangan tubuh, sementara

mimpi ketakutan untuk kembali menjalani rutinitas tanpa henti

2022


Perantau

dengan bus yang asing kami dibawa ke kota asing, rumah-rumah

ditinggalkan musim. kami melangkah ke hari baru yang menumbuhi

kepala sepanjang jalan dengan harapan dan ketakutan, hingga pada

lampu-lampu jalan yang hampa kami terhisap sebagai bayang-bayang,

kami akan mencari tempat tinggal, jika tak ada kami akan berkelebat

seperti hantu di gang-gang, di jalan sepanjang tak ada rumah-rumah

dan kami ditumbuhi lagi oleh begitu luas dan lengangnya ketakpedulian

waktu bersama embusan angin seperti bahaya yang bisa membuat lupa

apakah kami telah memilih meninggalkan desa untuk menjadi terlunta?

2022


Hujan yang Baik

tak seperti pagi-pagi biasanya, hujan turun dengan ramah

setelah kumandang subuh surut pada pelantang bangun itu

jam-jam seperti meninggalkan jarumnya di mimpi untuk

melanjutkan tidur, suara membentur di atap begitu merdu,

seperti sayatan yang berkelebat saat pertama kali kauingat

pada sepi yang suka berdiri sendiri di tanggul ladang padi

ketika hujan yang sama mengajakmu bermain dengannya

kau tak perlu banyak bicara sekarang, berbaringlah sejenak

istirahatkan kakimu yang begitu ramah menyapa jalan-jalan

yang bernama-nama asing itu, mereka akan mengingatmu

bahwa di hari itu, pukul pagi yang sedikit ngilu, kau absen,

karena hujan yang baik ingin meninggalkan sesuatu dari

masalalu untuk kau pungut esok sebelum bertemu si maut

2022


Taman Awal Tahun

orang datang dan orang pergi, bunga-bunga mekar

pohon tumbuh sendiri, burung buat sarang di cabang

dengan ranting daun kering dan warnanya yang bunuh diri

kemarin sepasang kekasih berjanji ketemu di bangku situ

tapi di hari itu waktu begitu padat, nomor berjejal tumpat

halaman hanya cukup untuk empat capung dan seekor sepi

langit menjadi seperti bentangan pada bajumu, orang berlalu

seorang petugas kebersihan menambah personil baru, di sini

masih berkeliaran ribuan bekas napas yang bertukar-tukar di

bawah lampu, setelah pukul malam dan sehabis pagi masih

terkumpul sebagai guguran daun, beberapa potong sampah dan

selongsong kembang api yang terbakar mulutnya, juga sunyi

2022


Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya berupa puisi dan cerpen tersiar di beberapa media massa baik daring maupun cetak, serta terikut dalam berbagai buku antologi bersama. Penulis berkhidmat di Forum Penulis Solitude (FPS). Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas dan penjual buku lawas. Buku kumpulan puisi pertamanya bertajuk Akar Hening Di Kota Kering (SIP Publishing: 2021). Sekarang bolak-balik Purwokerto-Yogyakarta sembari merampungkan novelnya dan sebuah buku kumpulan cerpen. Penulis bisa dihubungi melalui email : [email protected].

Cerpen

“…. Tapi, Bagaimana Kalau Kita Tidak Benar-Benar Ada?”

Cerpen Daruz Armedian

“…. tapi bagaimana kalau kita tidak benar-benar ada?”

Sayup-sayup kudengar dua orang, laki-laki dan perempuan, membicarakan sesuatu yang menarik bagiku. Mereka berhadap-hadapan. Apakah mereka sepasang kekasih, tentu saja aku tak tahu, dan ya, itu kurasa juga kurang perlu kutahu.

Aku duduk di sini dan mereka menempati tempat duduk yang lain, yang ada di depanku. Si laki-laki, kalau tidak ada perempuan di depannya, bisa dikatakan ia sedang berhadapan denganku. Sementara si perempuan memunggungiku. Awalnya aku tak peduli dengan pembicaraan mereka, tapi ketika sampai pada kalimat itu, yang sudah kutulis di awal paragraf cerita ini, aku mulai ikut menyimak.

“Benar juga, ya. Bagaimana kalau kita di sini malah cuma dalam bentuk bayang-bayang?”

“Astaga, jangan-jangan pula, kita adalah ilusi, atau bahkan hasil dari imajinasi seseorang, atau katakanlah sesuatu yang jauh, yang tak terjangkau.”

Ini menarik, kataku dalam hati. Di depanku ada laptop terbuka dan aku tidak peduli dengannya. Kubiarkan ia menyodorkan Microsoft Word yang cuma berisi satu paragraf tentang cerita yang absurd, yang aku sendiri enggan untuk meneruskannya.

“Kurasa pembicaraan kita terlalu jauh. Hahaha.” Si perempuan menertawakan pembahasannya sendiri. Tidak, tidak, kataku, itu tidak terlalu jauh, aku suka ada orang nongkrong di kafe dan membahas soal beginian. Jarang-jarang ada yang seperti itu. Apalagi jika itu sepasang kekasih. Tahu sendirilah apa yang dibicarakan orang-orang yang tengah berpacaran? Atau jangan-jangan mereka sedang dalam masa pendekatan? Sehingga bahasannya rumit. Bukan lagi soal kangen atau tidak kangen, soal pertanyaan lagi apa, sudah makan belum, dan sebagainya.

“Iya, ya, ngapain kita bahas begituan. Yang berguna dan yang paling dekat dengan kita sekarang kan masalah keuangan. Percuma rasanya kita bahas begituan kalo kita masih kere, ke warkop cuma pesan agm (maksudnya adalah kopi hitam agak manis yang harganya 5.000), dan saldo rekening tidak lebih dari 50.000.”

Tapi kalau kulihat-lihat, mereka tidak pesan agm. Mereka memesan jus alpukat dan cokelat panas dan dua mangkok mie goreng. Tampilan yang perempuan juga modis, sebagaimana yang laki-laki juga modis. Si perempuan memakai hoodie warna abu-abu, celana levis pendek, dan sandal yang agaknya harganya kisaran jutaan. Si laki-laki pun begitu, pakai kemeja putih keren dan jam tangan. Ia bukan tampang orang miskin.

“Hahaha. Iya bener.” Si perempuan menanggapi pendek.

Mereka tertawa lagi. Memang betul, keuangan sangat perlu kupikirkan. Terlebih ketika usiaku sudah 25 tahunan. Aku juga harus memikirkan tabungan untuk biaya pernikahan kelak, biaya berumah tangga. Aku ke sini, ke kafe ini jalan kaki, dan sampai sini hanya pesan kopi. Padahal, ada lebih dari 40 menu yang lain. Dan…

“Aku pernah benar-benar miskin. Dulu, untuk ngopi saja aku butuh mikir dua kali. Sebelum ngopi, pasti aku mikir, baiknya uangku untuk makan saja.” Si laki-laki menarik napas dalam, dan meneruskan pembicaraannya, “Tapi ini bahasan yang nggak menarik. Hahaha.”

“Kamu sudah sering cerita soal itu.”

Kemudian mereka sama-sama diam. Masing-masing sibuk dengan hapenya. Aku juga kembali memandangi laptopku. Iya, ya, untuk apa juga aku menulis yang rumit-rumit begini, yang membingungkan kepalaku sendiri, yang kalau dibaca orang lain pun pasti tidak ada faedahnya. Asu memang kehidupan begini. Harusnya aku kerja baik-baik, jadi PNS kalau perlu, biar nanti kalau tua dapat uang pensiunan. Tidak perlu membaca banyak buku, tidak perlu menulis inilah, itulah, hashhhh, taiklah. Kebutuhan dasar manusia kan makan, atau katakanlah pegang uang.

Jadi untuk apa ya Darwin mikirin manusia itu berasal dari kera, untuk apa Socrates bela-belain mati karena mempertahankan pemikirannya, untuk apa para filsuf memikirkan awal mula semesta, untuk apa sih, kalau pada dasarnya yang mereka butuhkan sebenarnya cuma melanjutkan hidup dengan makan, kerja, kalau capek ya istirahat, tidur, merenggangkan ototnya?

Tidak lama, si laki-laki teriak (ya sebenarnya tidak teriak-teriak amat sih).

“Woooooh, orang Amerika menemukan gambaran black hole.”

“Iyakah, siapa?”

“Bouman, eh, sebentar.”

“Hmmm.”

“Iya bener. Bouman. Katie Bouman. Katherine Louise Bouman. Anjiiiirrr keren.”

“Nah, kan. Apa kubilang. Orang-orang luar negeri sudah jauh pemikirannya. Mereka sudah sampai ke luar angkasa. Lah, kita? Masih sibuk ngurusin hoaks terus. Bahkan ngurus got saja masih keteteran. Masalahnya pelik memang. Kalau kamu mau jadi ilmuwan di sini, atau katakanlah kamu mau meneliti sesuatu di sini, ya kamu akan tetap kelaparan. Tidak ada dukungan apa pun dari pemerintah soal penelitianmu. Ya, mungkin kamu bisa membuat proposal, minta bantuan ini-itu, tapi itu susahnya minta ampun, yang kurasa itu tanda kalau pemerintah nggak serius ngurusin beginian.”

Aku kembali mengabaikan laptop, atau sebenarnya mengabaikan pikiranku? Aku mendengarkan perbincangan mereka lagi. Sekarang temanya beda dari yang tadi.

“Ya, begitulah yang terjadi di sini. Mau gimana lagi.” Si laki-laki sudah tidak antusias lagi.

“Hmmm.”

Tiba-tiba aku yang merasa geram. Memang betul, banyak orang-orang yang berkompeten di negara ini, tapi selalu saja mereka disia-siakan. Mereka yang muncul di permukaan, yang mendapatkan penghargaan-penghargaan di luar negeri, adalah orang-orang yang disepelekan di sini. Aku tidak tahu akar masalah ini dari mana. Yang jelas, apasih yang jelas, ini saja tidak jelas. Aku sedang mikirin apa? Arrghhhh. Pusing sendiri aku memikirkan negara ini.

Mereka akhirnya diam lagi. Masing-masing sibuk dengan hapenya lagi.

“Pulang, yuk?” Si laki-laki memasukkan hape ke sakunya.

“Ayo. Tapi mampir beli pizza, ya.” Si perempuan berkata manja.

“Lho, ini tadi sudah makan mie goreng.”

“Aaaa. Pengen. Dari kemarin pengen.”

“Iya, iya, ayo.”

Mereka berdiri dan aku gelagapan, buru-buru fokus ke laptop lagi. Aneh rasanya kalau aku ketahuan menguping sejak tadi. Aku pura-pura mengetikkan sesuatu. Aku tulis kalimat bodoh, tidak teratur, yang penting jari-jariku bergerak di atas keyboard. Untuk keluar dari warung kopi ini, mereka harus melewati samping tempat dudukku.

“Lho, Saka, kamu di sini?”

Aku tersentak. Apa benar perempuan ini mengenaliku? Siapa dia? Aku pandangi agak lama, dan …

“Karin?” tanyaku agak ragu. Dalam pikiranku, Karin adalah mahasiswa filsafat yang pintar dan kritis. Dulu dia tampilannya tidak seperti ini. Hodie dan kacamata dan celana pendek telah mengubahnya menjadi sebegitu anggun.

“Iya.” Dia tersenyum. “Aku duluan, ya,” katanya buru-buru.

“Oke, siap, Rin.” Hati-hati, ya. Hampir saja hati-hati, ya, kuucapkan.

Si laki-laki hanya diam. Ya, karena dia tidak tahu apa-apa mengenai aku.

Bagaimana kalau kita tidak benar-benar ada, Saka?” Karin mengucapkan kalimat itu dengan nada yang lucu. Mimik mukanya tetap sama seperti dulu. Seperti mengejek. Seperti tingkah orang centil. Tapi aku tetap suka. Aku membalas perkataannya dengan tertawa kencang.

Karin berlalu sambil menggandeng tangan laki-laki itu. Mungkin itu pacarnya, mungkin itu tunangannya, mungkin itu malah suaminya. Mereka menuju ke mobil warna merah, yang sejak tadi terparkir di depan warung kopi ini. Dari jauh, masih kudengar sebuah rengekan; aaa, aku sudah pengen pizza dari kemarin, lho. Iya, kan, ini nanti mampir ke sana kan? Dan suara itu dibalas lembut; iya, iya, sayang. Buruan masuk. Gerimis.

Setelah mobil itu berlalu, aku baru sadar telah begitu khusuk melihat mereka. Posisi dudukku jadi membelakangi laptop. Aku keterlaluan melengos. Aku buru-buru kembali ke posisi semula. Microsoft Word kembali kubuka. Kupencet ctrl+N, dan jari-jariku dengan cepat mengetik; mungkin aku saja yang tak perlu benar-benar ada ….

Belum banyak aku mengetik, rasanya aku ingin segera menandaskan kopiku. Ada yang mengganjal di tenggorokanku. Belum banyak aku mengetik, rasanya mataku sudah terlalu lama memandangi layar laptop. Perih. **

Jogja, 2020-2021


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan cerpen se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya tayang di pelbagai media.