Aliran Ostinato
Tujuh hari
ikan-ikan sungai
dalam tubuh hari putus asa; mereka melongo ke langit
menantikan sesuatu jatuh dari sana.
Tiada yang memasuki mulut mereka
selain kekosongan
Detak melemah
waktu konstan;
menunggu dalam geming,
dalam hening,
meragu takdir azali
Seorang pemancing menyangka
kesabaran telah cukup membayar
ketenangan palsu
yang justru menghanyutkannya
dalam aliran ostinato
Akankah rahasia menyambar umpanmu kali ini
atau amarah lebih dulu memutus taut:
kemungkinan getas, yang menisbahkan
muasal keberadaanmu
/Oktober 2021
Rih
Kuungkapkan dengan diamku
dengan dinginku
ungkapan yang tersembunyi
di balik kata-kata,
Bahwa yang (tak) kuembuskan
di bawah teduh trembesi
malam itu, bukan lagi hangat:
potret peristiwa
bukan pula sejuk:
kisah rahasia.
Ia sekadar suara rendah
gema lembah hijau jiwamu
yang telah sekian masa
tak kau warnai
/Oktober 2021
Setelah Kepergian Hujan
Sebelum kepergian hujan
cawan-cawan penuh makna,
pohon-pohon bebas luka,
anai-anai riuh mengudara
sungai-sungai tenang memuara
Setelah kepergian hujan, kata awan:
“Dunia terbakar curiga.”
ambisi bergemuruh dalam tubuh manusia
sepanjang (meragukan) umur,
pengetahuan teralihkan
ilusi menjarah segala.
Usaha paksa menangkup kekosongan
hanyalah pintu menyambut kekosongan lain.
“Ke mana hujan pergi?” angin penasaran
Awan membisu:
bergeming lama—sebab satu hari setara seribu tahun
—dan angin pun kalut,
bersikukuh memburu selama itu
sampai suatu masa
awan luluh, lalu berkata:
“Sebenarnya ia telah menyelam ke dalam lautan.”
“Kenapa?” angin makin nanar
“Sebab di sana ia menemukan
arti keberadaan.”
Memang apa arti keberadaannya?
“Tak ada.”
angin gundah dengan jawaban awan
ia angkat kaki: berkesiur ke semua tempat,
sembari bertasbih dan mencuri-curi dengar
melintasi zaman, mengawasi peristiwa-peristiwa
entah sampai kapan
“Padahal kau pun tahu,” katamu, “satu-satunya tempat yang tak bisa hujan susupi
hanyalah tubuh lautan.”
/Oktober 2021
Satu Waktu
: Albert Einstein
Satu waktu,
di antara ruang purba
pernah kita tinggali berdua
Satu waktu
sebelum harapan
menjelma penyakit
sementara sungai dendam
masih jabang gunung es
di kutub-kutub qalbu
Satu waktu
di mana kuntum bunga
dan tangkai kekar pohon
urung rekah
alih-alih saling rengkuh di hari tua
Satu waktu lain,
ritus paradoks urip-
urup tipu daya,
dinding nafsu julang
mencakar mimpi-mimpi langit
Satu waktu lain
di mana pengetahuan;
rumus perihalmu muspra,
relativitas gelap melingkup
ingatan belantara
hangus
O, satu waktu lain,
dilatasimelipatgandakan
pintu-pintu kemungkinan.
Di manakah ruang
kita kembali
satu?
/November 2021
Pulau Atas Awan
Padahal dunia dalam diriku
ruah tanda tanya ketika
tuduhan-tuduhan meledak
di beranda langit
Kau bilang:
“Titik-titik jelaga kerap menjadi saksi
bagaimana setiap kisah,
dan kehidupan berakhir.”
Bukankah dalam kalimat lepas
kita pernah coba menerjemahkan jalan,
menampik logika dan retorika
demi bisa sampai seberang:
berenang ke surga terdekat
Tetapi di ufuk, di pulau yang kambang itu
kita alpa, kita tak punya suara
bahkan pada bahasa sehari-hari
kita hanya menemukan jejak luka
dan bekas yang dibiarkan
Lalu kebenaran menitahkan
pulau itu bersenandung:
“Huruf-huruf menyusun kehidupan
dalam doa, bagaimana sempat
manusia melumat khidmat mereka?”
/November, 2021
Mantol Plastik
: Bruno Mars
Mungkin tubuhku lebih rapuh
dari mantol plastik:
seharga sepiring nasi sayur, tempe goreng,
dan es teh manis Kartasura
Dengan itu kau mendesakku laju:
merobek tirai hujan;
menangkap basah dua merpati
yang kebingungan bagaimana mengakali air bah
Tapi aku berterima kasih
pada pencipta mantol plastik
Ciptaannya menyatukan
kita dalam satu tumpangan
Bulan tak perlu
sok-sokan mendengar lagi
segala keluh malam ini
Pria galau di kusen jendela
telah bahagia
di balik mantol plastiknya
/November 2021
Perekam Sepi
: N
Adakah yang lebih sepi
dari asing?
seorang pandir mungkir
tanah subur lugu dikorbankan.
Dari buaian kamar
sampai liang lahat
penyesalan menggumpal
di langit: bergemuruh,
matahari undlap-undlup,
“Pengkhianat!”
rembulan kecewa pada dirinya,
pada cahaya,
pada lelaki
Adakah yang lebih sepi
dari asing?
tanpa sempat kucing mengeong manja
segumpal tanah hangus
dunia pura-pura legam.
Penyesalan menggauli depresi
melahirkan sebotol anggur putih
(sebab tak ada yang seberani darah) pun
tak ada dosa saat kardiograf ngambek
seorang polisi lantas berkhotbah,
“inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”
/Desember, 2021
Kabut
: embung Manajar
Ketika sendok berdenting; sepi berdentang
cerek mengeluh pada api
enggan melepas air pergi;
terbang bersama angin.
Separuh tanah hidup
di atas kehilangan
separuh lagi mati
di bawah keangkuhan,
mencari cara meminta maaf
pada langit
agar pohonan kembali tumbuh
agar hati kembali teduh,
dan lelaki sangsi
di meja payung itu
dapat mengaduk;
menyesap puisi lagi
/Desember 2021
Fariga
: untuk M
Sebetulnya angin memusuhi
kebingungannya sendiri
Memang, ke mana lagi sepi
dan waktu akan menarik-ulur hari
Selain mendesirkan nyeri
pada hati hutan yang sangsi
sejak mencintai api
Menghelalah atau dengar saja Rumi
dalam sebatang puisi:
Telingamu tak mampu mendengar irama
yang membuatnya menari
/Januari, 2022
Matras Berkabut
:I
Kali ini bukan angin
melainkan suara-suara
mengombang-ambingkan imanmu
Tapi kau cukup menumbuhkan edelweis
di bibirmu dan bertahan di sana
getaran gaib sabana itu mengenalmu dengan baik
Tak perlu ragu, tombol reset menunggu
di balik tenda hatimu
dan aku selalu menjaga malammu:
yang dingin
Juga mengawasimu menekan tombol itu.
Atau kita bisa coba menerjemahkan bintang
seperti dulu,
sementara sunyi berusaha menyeduh hakikat pagi
Kau boleh bertanya pada waktu sebanyak apa pun—
aku tak hendak mengeluh—
ke arah mana hidup yang fana
atau arah pulang yang baka
/Januari, 2022

Adnan Jadi Al-Islam, lahir di Klaten, 21 Oktober. Lelaki galau, pengagum kata-kata, penikmat ojek penyet dan sambel welut. Sering insomnia lantaran kebanyakan kopi dan kenangan. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan daring. Masih mukim di Klaten. Sapa aja, siapa tahu jodoh: Instagram @ad_nanj

✨ penikmat puisimu
Terima kasih ?
Berkah ya, mengagumkn, semoga berkah dan semangattttt
Aamiin, terimakasih. Semangat juga buatmu ?