Cerpen

Pulang

Cerpen A. Muhaimin DS

Kukira yang kulakukan adalah perjalanan panjang yang muaranya adalah sebuah puncak tinggi, yang akhirnya hidupku diliputi berbagai bentuk keindahan. Gemerlap dunia dengan berbagai perhiasan tiada tanding. Pastinya akan membuat iri setiap makhluk bumi yang melihat, pun memperhatikanku. Segala puji dan bangga akan menghampiriku selalu, setiap hari, dan di mana pun itu.

Sungguh tak tahu dirinya aku, seolah mendikte Tuhan yang maha segalanya. Sungguh sombongnya aku, bangga dengan segala bentuk pencapaian yang seharusnya aku tahu, itu kecil sekali, dan mungkin belum tentu terjadi di ujung perjalananku nanti. Aku bersyukur karena aku dipertemukan jalan untuk pulang, sekaligus jalan untuk melanjutkan lagi  perjalanan panjangku. Meski aku tahu selain aku menganggap hidup ini adalah persaksianku, aku harus sadar aku harus bisa mengolah bentuk persaksian orang lain terhadapku. Agar aku tak sakit hati.

“Tar, jangan melamun saja. Lebih baik kamu balik lagi ke kota, aku tahu duniamu di sana. Kamu akan jauh lebih hidup di sana dibandingkan di sini.”

Sial, aku dianggap melamun sepagi ini. Di rumah Kuma pula. Dan lebih sial lagi Kuma juga yang berusaha menyadarkanku. Sebetulnya aku tak niat melamun pagi ini. Aku hanya terpesona dengan salah satu buku tentang sebuah Mantra Sastra yang ada di rak buku milik Kuma. Sedari malam aku membacanya dan sampai pagi ini aku masih membacanya. Entah kenapa Kuma menegurku karena mendapati aku sedang melamun. Aku curiga, sebetulnya aku tak melamun, melainkan merenung, menerka inti dari setiap hal yang kutemukan dari buku Mantra Sastra yang ada di tanganku ini.

“Kenapa kamu bisa mengatakan itu padaku. Kamu kan tahu, ini lebaran pertama setelah semua orang dilarang merayakan lebaran secara terang-terangan karena pandemi beberapa tahun lalu.”

“Aku memang tak bisa mengatakan ini benar atau salah. Apalagi ini waktu lebaran, yang sudah seharusnya setiap yang bepergian jauh akan pulang untuk saling bertemu dan saling terbuka meminta dan menerima maaf satu sama lain antar sanak saudara. Tapi bukan persolan lebaran itu yang kumaksud. Aku hanya melihat ada yang beda denganmu. Apalagi dengan rencanamu tak kembali lagi ke kota setelah ini.”

“Lalu kalau boleh tahu apa alasanmu mengatakan aku akan jauh lebih hidup di kota dibandingkan di sini?”

“Aku tak tahu persis apa alasanku. Tapi aku pernah melihatmu di sana melalui media sosial milikmu, melihatmu dengan segudang kegiatanmu yang aku sendiri belum pernah menemukannya di sini. Aku melihatmu sangat hidup lengkap dengan pancaran ekspresi tulus di wajahmu.”

“Kamu tahu kan, kalau kata-katamu membuatku bingung?”

“Tentu aku tahu, karena aku tahu kita berdua berbeda. Aku belajar banyak darimu dan aku suka kalau kamu pulang dan main ke rumahku seperti ini, aku bisa memperolah banyak hal dari beragam warna ceritamu. Sedangkan kamu tak memperoleh apa pun dariku.”

“Maksudmu aku jauh lebih pandai darimu?”

“Iya. Bahkan lebih dari itu, dengan banyak pengalamanmu, aku yakin kamu seorang yang punya masa depan yang cemerlang. Tentunya masa depan yang sesuai harapanmu.”

“Sebentar, maksudmu masa depan yang bagus dan cemerlang itu bukan di sini. Makanya kamu bilang aku akan lebih hidup di kota.”

“Sepertinya begitu. Aku tinggal dulu Tar, kuambilkan sarapan buatmu, biar melamunmu penuh tenaga. Haha.”

“Sial! Sudah kubilang aku tak melamun.”

***

Di awal perjalanan itu aku menemui banyak hal yang menggembirakan. Penuh tualang dan puji-pujian. Aku menikmatinya, sangat menikmatinya. Kalau pun itu perih, aku masih menganggapnya sebagai sebuah bagian dari perjalanan indah ini. Perih itu menjadi bagian menarik dari cerita yang bisa kuhamburkan penuh kebanggaan.

Iya, aku belum menyadarinya. Sampai di tengah perjalanan itu pun aku belum menyadarinya. Apakah aku terlambat, tentu tidak. Aku hanya belum menemukan aku yang digariskan oleh sang waktu itu sendiri. Tak kusangka pertemuanku dengan diriku adalah di ujung perjalanan itu sendiri. Ujung yang kuanggap akan berbentuk indah penuh dengan gemerlap dan semerbak wangi-wangi pujian.

“Ini makan dulu Tar, jangan buru-buru melamun lagi.”

Suara Kuma memecahkan lamunanku. Aku hampir sampai pada sebuah sebab yang sedang kucari dengan mengolah pikirku. Jujur saja, aku ingin mencarinya dengan rasa. Tapi aku belum tahu bagaimana cara merasakannya. Meski aku tahu bahwa pikiran ini justru akan menghambatku, tapi aku percaya, aku sedang berusaha untuk berpikir jernih dengan sesekali menyisipkan rasa di tengahnya.

Bagaimana caranya?

Jika ada yang bertanya seperti itu tentu aku sendiri bingung mencari jawabannya. Mungkin jawabannya akan muncul saat aku sudah mampu merasakan dengan rasa yang sebenarnya. Semoga saja.

“Sudah kubilang, makan dulu. Biar melamunmu penuh gairah dan tenaga.” Suara Kuma kembali melepas rangkaian yang sedang kubangun untuk kucari sebab musababnya.

Tapi memang tak ada pilihan lain selain menanggapi Kuma lagi. Sebab jika nanti aku kedapatan tampak melamun lagi, tak menanggapinya, tentu dia akan berpikir yang tidak-tidak. Dia pasti akan bilang kalau aku seharusnya begini, seharusnya begitu, dan berbagai macam pandangan aneh tentangku akan dia utarakan panjang lebar lagi.

Jujur saja pendapatnya tentang aku akan jauh lebih hidup jika berada di kota, itu saja masih belum kupecahkan, bagaimana bisa Kuma berpikir seperti itu padaku.

“Ayo Kum makan juga. Jangan berpikir yang aneh-aneh lagi tentangku. Aku hanya memikirkan buku tentang Mantra Sastra milikmu yang sedang kubaca ini.” Dalihku pada Kuma agar dia tak mencoba menebak-nebak yang sedang kulakukan didalam pikiranku.

“Parah memang kamu Tar. Aku dari tadi sedang makan di sampingmu.”

“Masak sih?” sambil kulayangkan pandang pada sebuah piring kotor yang ada di samping Kuma. Dalam hati aku berkata, “segitu dalamkah aku tenggelam memikirkannya?”

“TARAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA, cepat makan, jangan melamun lagi.”

Teriakan Kuma kali ini benar-benar memaksaku untuk berhenti sejenak tentang perjalanan, ujung, keindahan dan mungkin bisa disebut sebagai kesadaran.

***

“Sudah siap melamun lagi Tar?”

Ngrokok dululah.”

“Sejak kapan kamu merokok?”

“Sudah lama, sejak zaman penjajahan.”

“Jangan jauh-jauh ngomongin penjajahan antar bangsa dululah Tar, masing-masing dari diri kita juga sedang dijajah dengan pikirannya sendiri. Dan jujur saja aku khawatir Tar.”

“Khawatir tentang apa?”

“Tentang diriku sendiri yang mulai bingung dengan apa yang kamu katakan dari tadi, dan tentang kamu yang membuatku khawatir karena terlihat banyak melamun.”

“Ahhhh, jangan pergi dulu kalau begitu, kita harus ngobrol serius kali ini.”

Memang sepanjang malam ini, Kuma membiarkanku sendiri tenggelam dalam bacaan buku Mantra Sastra miliknya. Dia hanya sesekali saja mengajakku berbicara, mungkin karena aku tampak serius membacanya. Dia tak duduk di sampingku sepanjang malam. Dia hanya mengamatiku sambil melakukan apa saja yang bisa ia kerjakan di kamarnya. Aku tahu persis dia sedang ingin menanyakan banyak hal padaku. Entah itu pengalamanku dari kota, atau tentangku yang benar-benar membuatnya khawatir.

Sejak awal memang sudah kukatakan pada Kuma kalau usai lebaran tahun ini aku tak akan balik lagi ke kota. Aku sudah selesai belajar sekaligus dikurung di sebuah bangununan berbentuk balok di kota. Saat pertama kukatakan itu, aku melihat sorot mata Kuma sedikit menunjukkan rasa sedih. Entah itu memang benar-benar ekspresi sedih atau bahagia mendengar aku sudah lulus, aku tak terlalu menganggapnya serius. Pokoknya matanya berkaca-kaca.

***

Memang awalnya aku menemukan hal menarik sebagai pemantik pikiranku tentang perjalanan hidupku ini, dari buku Mantra Sastra yang sedang kubaca ini. Namun seolah gayung bersambut, perkataan Kuma tentang aku akan lebih hidup di kota juga berkaitan dengannya.

Saya sendiri harus kebingungan dalam menentukan sikap,terutama dalam mnentukan tempat berpijak. Saya pun pada gilirannya memutuskan untuk tidak berpihak pada salah satu kutub. (Sastra Jendra Hayuningrat Pangruating Dyu).

Kutub yang dimaksud dalam buku Mantra Sastra itu adalah kutub tradisionalis dan modernis. Pilihan tokoh dalam buku itu untuk tidak perpihak pada salah satu kutub adalah karena satu sisi tokoh itu punya pondasi kuat tentang cara hidupnya meski itu dianggap kolot—tradisonal orang lain, namun secara pola pikir dia juga mengembangkan pola pikir yang selalu berkembang. Sehingga meski satu sisi dianggap kolot, tapi di sisi lain tokoh dalam buku Mantra Sastra itu juga sangat maju dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Sehingga antara kutub tradisionalis maupun modernis tidak lagi saling menolak satu sama lain, melainkan saling melengkapi.

Menarik bukan, ketika aku mengatakan pada Kuma akan menetap di desa, yang sesungguhnya alasan besarnya adalah untuk menggali muasal diriku sendiri. Kuma dengan alasannya yang masuk akal pula mengatakan aku akan jauh lebih hidup jika di kota. Sebab menurutnya banyak hal yang bisa kulakukan di kota tak bisa kulakukan di desa.

“Menurutmu aku bisa melakukan apa yang dilakukan tokoh dalam buku Mantra Sastra ini Kum?”

“Aku ragu, sebab itu adalah perjalanan spiritual seorang kyai.”

“Aku yakin, buku ini ditulis untuk memberi pelajaran pula pada kita semua.”

“Sebenarnya aku belum membaca buku itu Tar, makanya aku tak bisa banyak komentar. Hehehe.”

“Aku pulang dululah, nanti malam kita lanjut lagi.”

Nganjuk, 4 Mei 2022


A. Muhaimin DS , lahir di Nganjuk (Kota Angin). Seorang penikmat cerita. Menulis puisi, cerpen, dan juga membuat catatan ringan tentang keseharian di rumah sederhananya amuhaiminds.blogspot.com dan catatan tentang pengalaman minum kopi di serupakatakita.blogspot.com. Bisa dihubungi di Instagram @serupakatakita dan Facebook  Abdul Muhaimin

Puisi

Puisi Febriana

Hide away

A feeling of this

Depression is torching me

I’d like to go, please

Solo, 22 Mei 2022


Dream of the Wind

The wind is coming

I feel my body’s freezing 

I’m only dreaming 

Solo, 22 Mei 2022


Gabriella’s Eyes

Gabriella’s eyes

Shine as diamond in the sky

They are eagle’s eyes

Solo, 22 Mei 2022


Juwita Tumpuan Asmara

Kabut, kalut nan bernaung ruang

Peduli apa pada siang?

Bak gerombolan awan

Samar nan menawan

Asmara kau sulut

Kau kira kasihku surut?

Oh, Kau juwita tumpuan kalbu

Detak jantung mengiring rapalan mantraku

Merindumu bak tertusuk duri tajam

Kau lepas panah menderu menghunjam

Perih menempa jiwa

Apa guna raga bersuka

Rinduku menderu seluruh raga

Harap kuucap dalam sukma

Detik berganti tahun 

Pikirku mengharu hingga ke ubun

Sejuk merajuk semilir bayu

Bening mengalir tenang air mataku

Karangpandan, 13 November 2021


Soemarah

Senja menggiring hingga peraduan

Siapakah engkau, wahai Toean?

Merapal doa mengembus asa

Kecupmu tulus pada pelupuk mata

Para penghuni semesta

Harapan adalah doa

Doa adalah mantra

Dirapal dalam jiwa merasuk sukma

Toean, mantramu tertuju para pendosa

Kau pusar tujuh arah mata semesta

Kepada semesta tersemaikan

Benih kasih dan kepasrahan

Teguh bersikukuh bersimpuh

Pusar arah mata angin yang tujuh

Soemarah..Soemarah..Soemarah

Berserah pada semesta 

Payung penaung para resi pun pendosa

Soemarah..Soemarah..Soemarah

Kala berlaju saksi deru langkah

Para pencari hakikat dan makna

Solo, 8 Agustus 2022


Nasi

Jangan kau memusuhi nasi

Ingat nasib bapak ibu tani

Meski ini kolonial yang merekonstruksi 

Nanti kau kan susah sendiri

Jangan kau memusuhi nasi

Habiskan jangan buat basi

Berteman baiklah jangan emosi

Sudahlah makan, jangan gengsi

Solo, 22 Mei 2022


Aku Ingin

Aku ingin bertemu, dikau 

Dalam ramai dan sunyi 

Kutahu kau tahu

Kugenggam kasihmu 

dalam mimpi tak berujung

Namamu merajai bawah sadarku

Memenuhi ruang pikir dan hati

Wahai hidup yang paling hidup

Kematian yang paling nyata

Kau, lebih dekat dari napasku

Kau adalah aku

Aku, ingin bertemu

Kutarikan duka

Kupeluk suka

Aku ingin bertemu

Kuhempas rintangan 

Merayakan luka 

Mengamini doa

Aku ingin

Menyelami wajahmu

Kasih yang tak menyurut 

Solo, 27 Mei 2022


Jangkar

Aku adalah jangkar 

Meneguhkan hatimu 

Dari ombak yang menerjangmu

Tak perlu ragu 

Jangkarmu pengamanmu

Aku adalah jangkar 

Di depanmu menghadapi badai

Kau hanya harus kuat 

berpegang erat 

Kau kan selamat 

Aku adalah jangkar 

Percayalah pada nuranimu 

Meski kau tak melihatku 

Kau bisa merasakanku 

dengan yakinmu 

Solo, 27 Mei 2022


Febriana, ibu rumah tangga dan guru paruh waktu.

Puisi

Puisi Jihan Suweleh

Di Bandung

Rindu menikam

cinta menggali makam

pisau tertanam.

masa lalu

menjadi darah

dalam kakus.


Menjadi Ada

Aku ingin mati di hidupku

dan tumbuh di dirimu

sebagai sesuatu yang baru

saat hatimu basah

karena seseorang

biarkan aku merapal doa

tanpa pernah kau aminkan

saat dadamu bernanah

sebab luka tak sembuh lama

kutiupkan nyala tuk hapus lara

segala bentuk duka

tenggelam dalamku

berubah bunga yang mekar

tanpa batas waktu

aku mungkin tak ada

ketika kau berkaca

sambil menyisir rambutmu

yang patah-patah

karena shampo sudah tak pas

di kepala

aku mungkin tak ada

ketika kau mengejar

mimpi dan mengeja

kebahagiaan semu

yang kau catat dalam buku

biru berwajah laut

aku mungkin tak ada

setiap kau melihat dirimu

sendiri di dalam sunyi

yang terang dan pahit

dalam rekam medis

tetapi aku ada padamu

menggerakkan waktu

dan hidup sehidupmu

mati sematimu.


Menonton Horor

Sore itu kau bercerita

tentang film-film yang kau suka dan tak.

bagimu, kisah yang tayang di layar besar itu

adalah hiburan. cukup sebagai hiburan.

kau tak ingin berkomentar apa pun

jika jelek biarkan begitu

jika bagus pun tak berpengaruh

bagimu.

aku sepakat. bahkan seumur hidup

tak sanggup kuhapal adegan-adegan

dalam film meski kutonton berkali-kali.

kupikir kepalaku sudah penuh

dengan film-film yang kubuat sendiri

dan kau juga begitu

dalam kepalamu ada banyak darah

seperti adegan di film aksi dan horor yang

sebetulnya tak kau suka.

kau tak pernah suka.

Lima jam kita duduk bersama

membicarakan film dokumenter

dalam kepala

tiba-tiba kau bertanya, mengapa

sutradara membuat kisah

tentang hantu-hantu

yang setiap wajah mengingatkanmu

pada ibu dan teman ibumu

juga temanmu yang sudah menjadi

seorang ibu.

kau bertanya, mengapa

sutradara membuat kisah

tentang hantu-hantu

yang kakinya mengingatkanmu

pada ayah yang hampir tak pernah

terlihat oleh kita.

Kau mengenal seorang

perempuan yang hidup

sebagai hantu

berbaju hitam dan

bibirnya tak pernah berhenti

mengeluarkan asap

dia berbicara

banyak sekali

seperti memuntahkan

segala bentuk kamus

yang diciptakannya

sendiri.

Ayahmu mengenal perempuan

bertubuh pahit itu

yang mencium keningmu

lalu mengusap kepalamu

dan memintamu memanggilnya

Mama dengan M besar.

Ibumu mengenal perempuan

bermata beling itu

yang memelukmu kencang

seolah kau adalah anak

kecil yang lahir dari mulutnya

dan tak pernah tumbuh

menjadi gadis dewasa.

Aku juga mengenalnya

perempuan berkulit arang

menghapus isi kepala

ayah dan menggantinya

dengan memori-memori baru

tanpa pernah

kembali lagi.

Malam sudah mampir

kau berhenti bercerita

angin terasa lebih dingin

dari masa kecil kita.

kau menyudahi pertemuan

senyummu meninggi

punggungmu memudar

segalanya terekam

dalam kepalaku.

tanpa pernah akan

kuhapus.


Blokir

Air mata menjadi sepatu

berjalan sendiri

menabrak batu

terjebak di ruang kosong

bersama cicak dan laba-laba

yang tak dilihat keberadaannya.


Tak Pernah Ada Nanti

: AA

Kau adalah mimpi

dalam melek dan pejamku

catatan-catatan pada buku

cerita yang hidup

dan berlatar sungai

pun batu-batu

kau adalah doa

yang menolak berhenti

terucap dalam hati

kau selalu menjadi kini

selamanya

bertumbuh bersamaku

tanpa ada nanti.


Jihan Suweleh, lahir di Gorontalo, 14 Desember.

Cerpen

Permen-Permen dan Gugusan Bintang di Kepala Ken

Cerpen Erna Surya

Ken bercita-cita menjadi seorang penulis di mana ia nanti bisa bercerita tentang galaksi-galaksi di jagad raya yang bisa ia tempati bersama permen-permennya. Mamanya bertanya, mengapa permen. Ken yang tahun depan akan masuk Sekolah Taman Kanak-Kanak menjawab bahwa ia butuh ruang yang sangat luas untuk menata permen-permennya itu. Dan satu-satunya ruang yang paling luas adalah galaksi. Ken teringat dongeng papanya di suatu malam. Waktu itu, papanya bercerita tentang galaksi dan gugus bintang yang sangat luas sekali sehingga mata manusia tak akan sampai untuk menjangkaunya. Dan di sanalah ia nanti bisa bertemu Tuhan.

Tentang mengapa permen, Ken sangat mencintai mamanya yang lihai membuat permen aneka rasa. Bagi Ken, mama adalah segalanya. Pernah di suatu hari, mamanya pergi seharian sampai pulang larut malam. Ken di rumah bersama pengasuh. Sepanjang hari itu juga ia menunggu di pagar rumah dan selalu memandang ke ujung jalan, berharap mamanya segera muncul. Ketika pulang, pengasuh bercerita bahwa sepanjang hari itu, Ken tidak mau makan dan tidur siang. Untung masih bisa dibujuk untuk mau minum susu. Dan mulai saat itu, mamanya berjanji bahwa ia tak akan lagi meninggalkan Ken pada keadaan apapun. Termasuk ketika ia harus berhari-hari di rumah sakit untuk menjalani serangkaian operasi pengangkatan rahim karena ada sesuatu yang tumbuh di dalamnya, ia meminta Ken tetap ada di dekatnya. Ken dan mamanya tak terpisahkan.

Di suatu malam yang gerimis, Ken terbangun lantaran haus. Ia berjalan sendirian menuju dapur. Ketika melewati kamar mamanya, Ken mendengar suara lirih tangisan mamanya. Ken ingin masuk. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara papanya.

“Tolong, jangan paksa aku untuk memilih,” ucap papa Ken lirih sekali.

Ken kembali ke kamarnya degan perasan sedih. Ia tak bisa melihat mamanya menangis. Namun ia tak berani mendekat. Malam itu, Ken tertidur dengan mata yang basah. Dalam tidurnya, Ken bermimpi tentang gugusan bintang dan galaksi. Ken tengah terbang bersama papa dan mamanya, bernyanyi, lalu menyelinap di antara planet-planet. Ken merasa bahagia, sayangnya itu hanya dalam mimpi.

Paginya, pundak Ken diguncang oleh mamanya. Ia terbangun dan melihat mama sudah berada di sampingnya dengan mata yang sembab. Ken pura-pura tak tahu menahu tentang tangisan mamanya semalam. Ia mengucapkan selamat pagi kepada mamanya, lalu memeluk perempuan lembut itu, sama seperti pagi-pagi biasanya.

“Ken, kita harus pindah rumah.”

“Kemana, Ma?”

“Ke Jogja, di rumah Eyang.”

Ken kecil girang. Ia mengemas semua pakaian dan mainannya ke dalam kardus-kardus dan kotak plastik yang sudah disiapkan mamanya. Sudah terbayang di kepalanya bahwa ia nanti bisa mandi di sungai bersama kakek dan sepupunya. Lalu menggiring bebek dan ayam pulang ke kandang. Malamnya ia bisa menghabiskan waktu di mushola depan rumah bersama anak-anak tetangga seusianya. Mereka bisa bermain apa saja.

Kebahagiaan Ken kecil makin menjadi-jadi ketika mamanya menyampaikan bahwa ia akan bersekolah di Jogja dan akan terus tinggal di rumah eyangnya. Namun ketika Ken mendapati cerita bahwa papanya tak akan ikut bersamanya lagi, kesedihan menyerang Ken kecil dengan tba-tiba. Ia nyaris menangis. Namun mama segera memeluknya.

Semenjak itu Ken tak bertemu papanya lagi.

***

“Ma, kalau hari ini aku bisa ketemu dosen pembimbing dan bab lima-ku di ACC, berarti aku ikut wisuda Desember,” ujar Ken kepada mamanya di suatu sore ketika mamanya tengah merajut di belakang rumah. Mama Ken menoleh kemudian tersenyum. Ia sangat bangga atas apa yang telah dilakukan anaknya. Kini nama Ken ada di berbagai macam surat kabar. Ken kecil yang dulu sangat suka permen kini telah menjadi seorang penulis meskipun belum sampai pada gelar sarjana. Ken banyak menulis cerita fiksi tentang galaksi dan gugusan bintang.

Dulu sempat terjadi perdebatan kecil sebelum Ken masuk kuliah. Mama menginginkan anaknya masuk ke jurusan mesin. Alasannya satu, biar mudah mendapat pekerjaan mengingat begitu pesatnya perkembangan otomotif di waktu belakangan ini. Namun Ken menolak. Ia tetap ingin belajar sastra. Cita-citanya masih sama, ingin menjadi penulis seperti apa yang dikerjaan papanya. Mamanya berulang kali membujuk agar ia melupakan papanya, tapi tak bisa.

“Novel papa terbit lagi, Ma. Judulnya ‘Rumput Kering’. Agak beda dari ‘Akar Pohon’. Tapi menurutku yang Rumput Kering ini lebih bagus, cerita tentang perjuangan seorang PSK. Banyak nuansa cintanya. Mama mau baca?”

Ken merasa bersalah ketika tak ada jawaban sedikit pun dari mamanya, bahkan merespons dengan ekspresi wajah pun tidak. Ken paham bahwa ia telah membuat suasana hati mamanya menjadi tidak bagus hari ini. Sebenarnya, ia sadar bahwa melihat papa dan mamanya rujuk itu mustahil. Tapi dalam hati kecil, ia masih menginginkan mamanya mau sedikit membuka hati untuk papanya, untuk sekadar mau mendengar kabar. Sejak perpisahan itu, Ken tak pernah lagi mendengar nama papanya keluar dari mulut mamanya. Meski tak paham apa yang membuat mereka berpisah, Ken tahu bahwa hati mamanya sangatlah terluka.

Hari sudah hampir petang. Ken sudah rebah di kamarnya ketika perempuan yag sedari pagi tadi merajut itu berdiri. Pipinya basah ketika memegang buku yang Ken letakkan di meja dekat ia duduk. Ada sesuatu yang mencabik-cabik hatinya kembali setelah sekian tahun ia tutup agar tak luka kembali.

Ingatannya tertuju kepada malam itu, ketika ia tengah terduduk di tepi jalan dengan make-up tebal dan seorang lelaki mendatanginya. Lelaki itu mengajaknya pergi.

“Rosa,” panggil lelaki itu.

“Tahu nama saya dari mana?”

“Aku memerhatikanmu selama enam bulan terakhir ini. Wajahmu mengingatkanku pada cinta pertamaku waktu SMP. Sudah hampir empat puluh tahun berlalu.”

Rosa terdiam.

“Mulai sekarang, kamu tinggallah di sini! Jangan jual diri lagi,” pinta lelaki itu sembari memegang kedua tangan Rosa.

“Aku sedang mengandung,” jawab Rosa lirih.

“Beri dia nama Ken. Dan biarkan dia memanggilku Papa,” ucap lelaki itu sebelum memeluk tubuh Rosa erat sekali.

***

Ketika keluar kamar, Ken mendapati mamanya terisak dengan novel di tangannya.

“Ceritanya ini tentang PSK yang dicintai seorang lelaki, Ma. Si lelaki itu tak peduli kalau anak yang dikandung perempuan itu bukan anaknya. Tapi sayangnya si perempuan itu pergi meninggalkan si lelaki. Si lelaki itu sudah punya istri sah, dan si perempuan itu ia simpan sebagai istri kedua. Tapi si perempuan itu tak tahu diri. Ia minta si lelaki meninggalkan istri sah dan menikahinya. Keputusan yang berat buat si lelaki. Di satu sisi, ia tak bisa meninggalkan keluarganya. Di sisi lain, si lelaki menemukan cinta sejatinya justru kepada si perempuan itu.”

Ken memeluk mamanya ketika tangis semakin menjadi-jadi.

“Ken, kamu masih ingat jalan pulang?”

“Kemana, Ma?”

“Ke hati lelaki yang kamu panggil Papa,” ucap perempuan itu di dada anaknya.

Ken kini membayangkan tentang deretan permen-permen di dalam galaksi, tempat ia dulu sering berfantasi ketika masih kecil.****


Erna Surya, seorang pengajar Bahasa Inggris di SMK N 1 Juwiring, Klaten. Tinggal di Klaten. Senang dengan dunia buku dan tulis menulis. Kini sedang menempuh studi Magister di Universitas Sebelas Maret, Surakarta di jurusan Linguistik konsentrasi Penerjemahan. Bisa dikontak di [email protected] atau bisa lewat Instagram @ernaasuryaa

Cerpen

Kidung Bakti

Cerpen Prima Yuanita

Katamu sebuah lagu mampu mengungkapkan perasaan seseorang, seperti bumbu dapur menerjemahkan rasa masakan. Dan aku pun percaya hal itu. Jadi, ketika perasaanku padamu mendesak-desak ingin disampaikan, lagu Kidung Bakti yang akhirnya berbicara pada semua insan.

Kamu tahu kan, sejak kecil aku suka sekali merangkai syair dan nada-nada? Mereka seringkali membesuk kepala. Lalu menyusup ke tangis, tawa, marah, kecewa, bahagia, bahkan dalam diam.

Dulu kita selalu menandaskan gigil fajar di perapian dengan memutar tembang kenangan, seperti langgam jawa, yang kental dengan iringan gamelannya, atau pop klasik berbirama empat perempat yang menggelitik halus di pendengaran. Saat itu sesekali bibirmu turut menggumamkan lirik lagu tersebut sambil tanganmu terus bergerak-gerak  lincah di atas talenan, sementara kamu memintaku menggisar-gisar kayu bakar agar api di tungku tidak lekas padam.

Aku tahu kamu suka menyanyi, dan karena itulah kamu rajin mengajariku menyanyi ketika usiaku menginjak lima tahun. Bukan lagu anak-anak khas taman kanak-kanak, akan tetapi lagu kebangsaan dengan suara yang dibesar-besarkan. Kamu tahu suara sopranku sedikit sumbang, maka kamu akan membenarkan nada tinggiku yang masih terdengar payah. Aku juga ingat ketika kamu menyuruhku mengucapkan nama negaraku dengan benar. Katamu, aku mengucap kata ‘Indonesia’ menjadi ‘Endonesia’. Seketika aku tertawa dan kamu ikut tertawa, lalu kita tertawa bersama-sama.

Semakin hari aku tumbuh bersama lagu-lagu di sekitarku, bukan hanya lagu kesukaanmu yang kerap kita dengar bersama itu, tetapi dari stasiun-stasiun radio yang kuputar, aku jadi mengenal beragam lagu yang bagus-bagus. Orang-orang berkirim salam kepada orang yang dikasihinya dan meminta senandung favorit mereka untuk diputar. Aku pun pernah melakukan hal yang sama untukmu. Ketika itu aku sudah punya ponsel berwarna hitam nan tebal hasil dari uang yang kukumpulkan berbulan-bulan. Aku begitu takjub menyadari betapa ponselku sangat pintar mengirim pesan. Akan tetapi pesanku tidak pernah dibacakan dan lagu yang kuminta tidak diputar. Menyebalkan sekali bukan? Dari situ aku bertekad dalam hati bahwa kelak aku akan membuat lagu sendiri dan stasiun radio itu tidak akan bisa menolak untuk tidak memutarkan laguku.

Benar saja yang kupikirkan. Saat dewasa aku menikah dengan seorang penyanyi. Singkat cerita ia tidak keberatan membawakan lagu yang kuciptakan. Berhari-hari ia menghafal lirik lagu tersebut. Konon ia tak pernah selama itu menghafal lagu, akan tetapi di lagu ciptaanku, yang sengaja kubuatkan untukmu itu, ia mengaku kesulitan menyanyikannya, apalagi di bagian lirik yang menggunakan Bahasa Jawa.  

Dhuk semono rung biso sembodo

mlaku tansah dituntun ditoto

ojo nganti adigang adigung adiguno

eling Gusti …eling Gusti soko jiwo

Dulu sebelum menikah, suamiku itu tak pernah menjanjikan materi yang lebih padaku. Aku hanya tahu dia orang baik, memiliki keluarga yang baik dan kawan-kawan yang baik. Maka kupikir hidupku pasti akan dikelilingi oleh orang baik. Dengan demikian aku juga bisa menjadi orang baik seperti apa yang kamu harapkan selama ini padaku. Bukankah memiliki kawan-kawan yang baik termasuk salah satu rezeki yang patut kita syukuri?

Hal itu terbukti saat suamiku meminta tolong mereka untuk mengiringi lagu ciptaanku. Tanpa berpikir panjang, mereka langsung mengeluarkan alat musiknya. Mereka membawa piano, gitar, seruling, kendang, saron, sapek, juga karinding. Dengan semangat yang meletup-letup di dada, mereka berbondong-bondong ke studio rekaman dan memainkan alat musik itu sebagai instrumen dari lagu yang kuciptakan. Sekitar sepekan lagu itu pun rampung digarap. Kami semua gembira dan lagu itu disebar ke mana-mana, termasuk ke stasiun radio yang tak pernah memutar lagu permintaanku dulu, kini lagu ciptaanku malah jadi playlist permintaan dari orang-orang.

“Bukan hanya Lathi, lagu Kidung Bakti juga bisa menggabungkan dua unsur yang berbeda,” kataku padamu.

“Iya, aku suka sekali lagu ini,” komentarmu di satu pagi yang cerah, secerah foto profilmu dengan kebaya putih dan gincu merah merekah.

Saat itu kita berbincang lewat sambungan telepon. Semenjak menikah, seseorang biasanya akan semakin sibuk dengan keluarga barunya. Bukan hanya aku dengan keluarga baruku, tetapi kamu dengan keluarga barumu, seperti dalam potret yang kamu jadikan foto profil itu. Aku ingat gambar itu diambil beberapa saat setelah kamu resmi dinikahi seorang duda kaya yang baik hatinya. Lalu di pagi yang berseri-seri, dengan wajah yang berseri-seri pula kamu bertanya padaku, “Bagaimana kamu bisa membuat lagu ini?”

Mendengar pertanyaaanmu itu hatiku serasa dilumuri berpuluh-puluh es krim. Lantas kujelaskan padamu bahwa di satu bunga tidur malam, kupingku mendengar nyanyian alam. Bersayapkan angin segar yang menyeberangi Laut Jawa, ia hinggap di pulau terbesar di Indonesia, ia menjumpai wajah-wajah yang dulu kerap menyapa: seperti gemuruh ombak di Sungai Mahakam, perahu-perahu kayu bercat cokelat kelam; arakan awan langit khatulistiwa, hutan ulin yang suram nan gersang; paras bertaburkan bedak beras, dan air mata seorang wanita di telepon genggam; cairan serupa yang kusaksikan menggenang saat kamu melepas genggamanku di bandara.

Kamu ingat aku pernah pergi jauh. Tapi apa kamu tahu kenapa aku melakukannya? Waktu itu hidupku tak ubahnya bola yang digiring ke kiri-kanan, lantaran menyaksikan dua kepala yang sama-sama ingin menang. Hatiku lelah, jiwaku berontak, kakiku melangkah sejauh bola yang menggelinding keluar area permainan. Kamu berulang kali memanggilku tapi aku tak peduli. Aku terus menjauh dari jangkauanmu. Kian lenyap dari pandanganmu, hingga akhirnya pria yang kini kamu sebut menantu itu datang ke kehidupanku, lalu ia menegur kala kakiku jatuh tersungkur.

 “Jangan lagi buat orang tuamu menangis! Seburuk-buruknya mereka, kamu tak boleh jadi anak durhaka! Pulanglah!”

Alam pun menutur makna

tentang rasa yang dijaga

ke mana langkah kususuri

tak temukan kasih yang lebih sejati

Ayah dan Ibu ….

Begitulah lagu Kidung Bakti itu menceritakan perasaanku padamu, juga pada ayah; sesosok lelaki yang bertahun-tahun lalu telah meninggalkanmu. Lelaki itu kutemui bersama menantumu ke suatu tempat yang ia sebut rumah, tapi bagiku itu bukanlah sebuah rumah, itu hanya tempat orang-orang singgah untuk mengenyangkan perut yang lapar. Tidak ada kasur di sana, apalagi kamar tidur, yang ada hanya tikar lusuh yang digelar untuk orang-orang menyantap semangkuk soto ayam.

Di mata lelaki yang kulitnya legam dan penuh kerutan itu, kutemukan segudang penyesalan. Sudah kukira hal itu pasti terjadi, tapi walau bagaimanapun, wanita yang berada di sampingnya saat itu adalah istri sahnya. Bukan lagi namamu di Kartu Keluarga-nya. Jadi ia akan selalu pulang ke tempat istrinya itu, dan kupikir kamu pasti juga sudah bahagia bersama lelaki berusia enam puluhan yang menikahimu setahun lalu.

Tapi rupanya aku keliru. Sepekan lalu, di satu malam tak berbintang, ketika lagu Kidung Bakti itu telah didengar ribuan orang, suara serakmu mengabarkan bahwa suamimu itu telah berpulang karena sakit yang kamu anggap hanya masuk angin. Seketika tubuhku gemetaran. Degup jantungku berloncatan. Kepalaku berdenyut-denyut dan di sana berkelebat sebuah pertanyaan: kenapa rasa sayang selalu membuat kita kembali pulang?***


Prima Yuanita, seorang ibu rumah tangga, penyuka makanan tradisional dan lagu-lagu bernada mayor. Saat ini tinggal di Sragen, Jawa Tengah dan pernah meraih juara 1 Lomba Karya Jurnalistik PKK tahun 2020 tingkat Provinsi Jawa Tengah. Akun Facebook: Prima Yuanita dan Instagram: prima_yuanita.

Puisi

Puisi Muhammad Asqalani eNeSTe

Di Pagi Hari

di pagi hari, orang-orang sedang tidur tanpa mimpi.

tubuhku dingin tanpa baju, penyesalanku dingin dan sesap pada bisu.

kugenggam pasir mimpi. tidurku tergeletak pada jaga.

neraka bercerita pada dongengnya yang menyala, surga makin biru saja.

sekepak ingatan tiba-tiba sangkar. dipenjaranya alusi perempuan,

yang mengetuk meja lapuk dengan buku-buku jari yang penuh luka.

negerinya terbuat dari pembunuhan. yang ia takutkan bukan lagi Tuhan,

tapi tuan yang menghidupkan segala kebengisan akhir zaman.

aku duduk di tepi pagi, terjun ke dingin tanpa batas,

kekacauan di dadaku tangkup dan kebas.

oh embun-embun yang melarat dari butiran doa. haruskah aku sujud

bersama keladi yang angkuh, subuhku adalah kening busuk yang jatuh.

Kubang Raya, 20 November 2020


Bimbilimbica dan Buku Harian Zlata

  • Alusi Peperangan Bosnia 1992-1995

ingin kugandakan hati biar sepi mampu kubagi seperti roti dan kelaparan

pengungsi dini hari, di bawah sebungkus senyuman disinari samar bulan,

sembari membayangkan betapa belatung di kuburan sangat mencintai kesunyian

yang masih segar, bergumul tubuh pucat dan segenap anggapan rasa sakit,

di masa-masa penantian siksa bagi agama yang menyakininya.

ketika keputusasaan menghantui gelap hari-hariku, kubayangkan kau gigil

di negeri jauh, Bimbilimbica. Zlata Filipovic tak menyentuhmu, sebab airmata

terlalu memusingkan kepalanya: tentang rasa lapar yang menggejala,

tentang kesepian bagai kolera

bila serigala muncul sebagai pertanda kabul segala pestaporia kehilangan,

kawanan burung-burung bangkai menukik bagai puncak kasmaran, harus bagaimana

kau datang meniadakan lara, Bimbilimbica?

lidah Cecep Syamsul Hari yang khatam mengumpul puisi, tumpul dalam otakku,

Zlata Filipovic kembali menangis di tipis nuraniku, aku hendak berbincang,

mungkin mengaku memeluk Tuhan atau sekadar bertempur dengan setan yang sesat

di badan.

Bimbilimbica, katakan pada lampu merkuri lumutan dan setia berdiri nun jauh di sana, adakah cahaya bakal menyapa esok hari bagi kedukaan maha di jantungku; degup-degupku, harap-harapku.

alusi peperangan itu mengepungku, suara jerit menggedor-gedor kewarasanku, Asfaltina, Pidzameta, Zefika, Hikmeta, Sevala, segala hanya menggantungkan keragu-raguanku

tentang bahaya hidup yang tak mungkin kucungkup sejak sepanjang malam berharap

aku mati di puncak menara.

Bimbimbica, seluas apakah neraka itu? masih jauhkan ia dariku? Bimbilimbica

sanggupkah kau memeluk saat tubuhmu terbakar dan sebentar lagi abu?

Pekanbaru, 2015 – 2021


Kaleng; Yang Diam-Diam Membuat Rahasiamu Karatan

: Alda Muhsi

aku ibaratkan kau ada di hilir sungai,

hilir segala yang ditampung keluasan muara,

maka kuhanyutkan berkaleng-kaleng bekas susu,

sehari hanya satu.

di dalamnya kuselipkan kertas rahasia,

kertas yang hanya mampu kaubaca ketika kaubawa ke kertap cahaya,

sebab aku menulisnya dengan bantuan getah lemon.

mungkin hanya serbuk cinta karatan,

sebab serbuk cintaku tak lagi diminati kumbang,

atau decit perih harapan yang koros hati.

pernahkah kau memakai parfum termurah

ala anak sekolah dari ekonomi rendahan?

aku menyemprot parfum itu dengan beberapa percik,

saat kau membuka gulungannya akan terkuar siar wangi

sebab di dekat surat itu telah kudiangkan 5 putih segar melati.

aku tak mengharapkan apa-apa,

tak juga kebahagiaan yang meliputi jiwamu yang sukma,

hanya upaya mengirim sedikit cinta dan lebih banyak cita-cita,

yang barangkali lebih masif dari kegilaan Rimbaud-Varlaine.

jika sudah kauterima 5.000.000 kaleng susu bekas,

mohon balas kirimanku dengan cinta sungguhan,

kirimkan via pos kaleng yang paling kumal dari keseluruhan.

tapi itu takkan pernah terjadi, tak akan pernah.

sebab 5.000.000 hari bukanlah pilihan kita untuk tetap hidup.

untuk 5.000 kaleng susu bekas, atau untuk 5 kaleng susu bekas,

kirimkan saja semisal tipudaya cinta,

mungkin racun yang dapat membakar kaleng-kaleng berikutnya,

kaleng-kaleng yang tidak akan sampai kecuali kabar kematian pengirimnya

yang diam-diam membuat rahasiamu karatan.

Tiga Meong 2015 – 2022


Pantai Alam Indah

bangkai kenangan masih mengapung di laut otakku,

          saat kausasarkan selasar cumbu di pantai kelabu.

          saat itu gelap, menggeriap, tanganmu semakin mendekap,

                                                                     mulutmu membekap,

   kedinginan angin laut seperti mengerucut surut.

sekarang kau di mana? haruskan aku bertanya kepada seluruh karang

              dan biotanya? mengapa kau hamparkan gelombang lengang

                                                        sehampir ini?

tak adakah lagi kedalaman cinta? tak adakah lagi pasir-pasir di bibir?

      hingga aku harus berenang serupa ikan-ikan kesedihan

                                  yang mengapung nadir.

Kubang Raya, 2015 – 2022


600 Mil / 965 Km

: Shangguan Xi Mu

965 km,

inilah jarak kasih sayang terjauh

yang pernah tersentuh biak kembang airmataku,

cinta tak memusingkan rasa lelah karena asa belum akan leleh.

Xi Mu, keterasingan hanyalah kelaziman semu,

hatimu abadi mengendarai debu-debu

hingga mengepul ke jantung juntrung nenekmu.

ada 1.330 hari ambang plastik menuju pintu uang,

kau tepis usiamu yang sepuluh kikis oleh sedih.

mengembaralah riyawat piatu ketika ibu pergi

dan kau masih belum laik mengacukan sepatu,

pula lima kehilangan tanpa linangan ketika ayah meregang lengang.

setelahnya kau hanya rajin ke klenteng untuk sembahyang.

orang-orang membangun kemanusiaan, bermula dari keruntuhan batu

dan buta oleh kenyataan. saat seribu tangan memanjang,

menyambung tangan perawat di ruang operasi,

kelumpuhan nenekmu ternyata menyimpan komplikasi dekat hati.

berjalanlah, Tuhan akan memungut jejakmu dengan semangat

dan rasa iba yang ibu

Pekanbaru, 2015 – 2022


Filitinisme
: Oscar Wilde

(Hendry)
sebab dirimu adalah pertempuran batin yang tak dapat tumpas

oleh kanvas, seseorang memanggil da vinci tapi da vinci melukis

melankoli caci maki, seorang yang lain memanggil picasso tapi

picasso melukis abstrak kehancuran mimbar pidato, lalu apa pun

yang mampu dibayangkan pikiran, biarkan sesuatu yang tak

terjangkau menyeberang, mungkin ke tanjung arang

(Dorian)
lingkaran masa depan mencipta seorang di masa depan,

seorang itu  dikabarkan sendirian, berdua dengan kutukan,

bertiga dengan kuburan, kuburan itu adalah lambang rumah

ruhnya yang tak

bertaman dan berteman
————-

kupu kupu murahan, mengibas ekornya yang beracun,

mengenai ujung kelamin lelaki di masa depan: ah,

ternyata di masa depan baju bukan bagian kemaluan

Miral Dj 2014 – 2022


Kindergarten

Black

ia mencintai bulan, mengecup matahari, mengejar bintang,

ia terjatuh di malam hujan, terperangkap mata anak kecil tanpa teman.

Blue

warna bantal ibu, mimpi para perilaku-perilaku lugu,

menggambar tidur, mencoret mimpi,

cita-cita ibu di langit-langit lidah si anak bisu

White

dongeng menjadi surga kapas, lomba terbang ke langit-langit,

beberapa tersangkut kipas angin, gelantungan di sarang laba-laba,

keluar jendela dapur. tapi rengek anak-anak berwajah pupur,

siang malam tak bisa tidur, bikin amarah ibu jadi bubur

Yellow

sepasang mata sapi di atas piring, buku gambar di samping piring,

anak-anak yang menjadikan sepasang pensil jadi sumpit licin,

ayah yang menyuap hening, ibu berbedak kuning,

kakak yang belajar kencing, suara mooo dari dalam toilet

Red

apa golongan darah amuba, anak-anak yang mewarnai pantat kuda,

zebra bermata merah saga, plankton sewarna hemoglobin,

ular pucat berekor merah, kebun binatang dari mulut ibu,

kandang sapi di sepi ayah, tetangga yang pergi mendonor darah

aku pernah anak-anak, tanpa taman kanak-kanak,

tanpa pensil warna-warni, tanpa lolipop, berteman peri-peri,

dari kepala takdir yang migrain.

Kubang Raya, 13 Desember 2021


Tokoh Tokoh dalam Apselog

semula Phusta mendua, rambutnya dibagi tiga,

wajahnya dirias empat, senyumnya lipat lima,

tengah malam di jantung srigala,

ia mulai membenamkan rencana

Myhta berlari ke dalam kelam kurcaci,

dengan membuka langkah terkunci,

disematkannya mata kaki ke mati hati,

di luar masakan dapur.

Korkhena tetap buta dengan wajah merah bata,

lidahnya lima pilin suara

yang lincah bagai teluh, ular dari rahim bunga

yang memasang sayap kupu-kupu

Abusia, seseorang memanggang sembab celana

di celan senggang senggama, kepala berdarah

bercak kasta, seperti jarak cinta dan aritmatika.

Pekanbaru, 2015 – 2022


Muhammad Asqalani eNeSTe, kelahiran Paringgonan, 25 Mei. Adalah Pemenang II Duta Baca Riau 2018. Menulis dan membaca puisi sejak 2006. Puisi-puisinya dimuat di pelbagai media cetak dan online. Bukunya yang berjudul doksologi memenangkan lomba buku fiksi tahun 2019. Ia tengah menyusun buku kumpulan puisinya yang kesebelas dan keduabelas He Jia Ping An dan Ikan-ikan Pikiran Mati. Mengajar kelas puisi online di KPO WR Academy dan Asqa Imagination School (AIS). Aktif di Community Pena Terbang (COMPETER). Instagram:  @muhammadasqalanie. Youtube: Dunia Asqa.

Cerpen

Akan Kepulangan

Cerpen Ruly R

Anwar Saleh merebahkan badan di kasur lantai tipis warna hijau lumut yang apaknya tiada tanding. Tangannya sibuk membuka tutup aplikasi percakapan di ponsel murah merk tak jelas yang dibelinya di Glodok. Masih membuka-tutup aplikasi percakapan, tidak ada satu juga pesan yang masuk. Ponsel diletakkan. Mata Anwar Saleh menerawang ke langit-langit petak kontrakan. Tidak ada secuil masa depan atau angan apa pun yang dia pikirkan, hanya masa lalu dan beberapa hal yang baru saja dia lewati, utamanya tentang Eti Ncus.

Usai mengantar si biduan pentas di daerah Depok, pikiran Anwar Saleh tak bisa tenang. Kekhawatiran yang mula-mula seakan hentakan ketipung satu-dua patah-patah, kini semakin menjadi, membentuk keserasian dalam iringan musik dangdut sedih dengan lirik yang menyayat-pilu. Anwar Saleh sadar diri, tugasnya hanya menjemput-antar Eti Ncus yang sebentar lagi tambah tersohor, yang semula main dari panggung ke panggung, beralih dari satu stasiun tv ke stasiun tv lain. Begitu yang dipikirkan Anwar Saleh tentang perempuan yang dia cintai, namun tak pernah tahu. Dia merasa tak pantas diri lagi mencintai terlebih memiliki Eti Ncus. Sudah pupus segala tanda yang dia berikan agar Eti Ncus tahu perasaan lelaki berbadan ceking dan berambut setengah gondrong itu.

Pernah Anwar Saleh bayangkan Eti Ncus menyambut cintanya sepenuh hati. Membangun segala keindahan rumah tangga bahagia, melakukan aktivitas ringan dan obrolan yang menyenangkan bersama Eti Ncus. Tapi angan-angan ditabrak kenyataan, jauh meninggalkan Anwar Saleh seorang diri. Sepi, muram, dan jelas tak mengenakan hati.

Saat segala kecamuk berkelindan dalam benak, Anwar Saleh merindukan rumah. Dia ingin namun tak ingin. Baginya, pulang sama saja mengakui kesalahan yang sepenuhnya tak pernah dia lakukan. Pikiran tentang keinginannya pulang kali ini bersebab dari segala yang dia temui beberapa hari lalu, juga beberapa waktu saat Eti Ncus ada di panggung.

Saat matahari seakan meremukan batok kepala orang-orang yang menjemput rezeki di sekitaran stasiun Pasar Senen, saat itulah Anwar Saleh bertemu tetangga sekaligus kawan lama. Pertama-tama disapa, Anwar Saleh setengah kaget, sementara kawannya mengatakan pangling dan berkali-kali menatap Anwar Saleh coba meyakinkan bahwa yang ditemuinya itu memang kawan lamanya.

“Anwar? Iya kan Anwar? Waduh, War. Lama kita ndak ketemu. Sehat, to?” tanya kawan Anwar Saleh sambil menepuk pelan dan berkali-kali pundak yang ditanya.

Anwar Saleh menanggapi sekenanya. Dia paham hal itu hanya basa-basi di awal pertemuan setelah waktu merentangkan jarak begitu lama. Dia selalu tak nyaman ketika bertemu kawan lama dari kampungnya. Hal itu yang coba dihindarinya meski tanpa maksud tidak memudarkan pertemuan yang tak sengaja.

Anwar Saleh mengajak kawannya duduk di bangku plastik biru milik pedagang minuman dingin. Gerobak besi bercat biru tua pudar milik penjual minuman menyaksi segala yang telah lampau.

“Dua teh botol dulu ya, Mang.”

“Asal jangan lupa bayar dah, War.”

Anwar Saleh menanggapi sahutan mamang warung dengan anggukan dan mengatakan tak perlu khawatir.

“Eh garpit sebatang boleh dah,” ucap Anwar Saleh lantas terkekeh.

“Ngelunjak lu, War.”

“Buru lempar aja!”

Mamang warung dengan wajah tak enaknya melempar rokok yang diminta. Anwar Saleh kembali terkekeh sementara kawannya hanya diam. Obrolan akan pertemuan kembali seakan tangan yang menggali masa lalu yang ada. Dari mulai kenakalan yang mereka lakukan, keadaan di kampung sekarang, tentang teman yang telah menikah dan punya anak, tentang mereka yang telah meninggal, dan hal lain tentang kesuksesan dan kegagalan siapa pun yang masing-masing mereka kenal.

“Lama bener lho, War. Kamu betah di Jakarta?”

Anwar Saleh melempar pandangan pada padatnya kendaraan di depan stasiun Pasar Senen. Beberapa mikrolet membunyikan klakson begitu kencang, motor-motor padat memenuhi jalan, dan mobil merayapi tempat dan jalan yang ada. Cukup lama hingga akhirnya Anwar Saleh mengucapkan jawabannya untuk pertanyaan itu, jawaban yang beriring dengan suara laju kereta di sekitaran stasiun Pasar Senen.

“Aku cuma mau main, War. Ibuku sekarang kan ikut adikku di Jakarta sini,” ucap kawan itu saat ditanya Anwar Saleh akan ada kepentingan apa di Ibu kota.

Mendengar itu Anwar Saleh kembali diam. Pikirannya tertumbuk pada bayangan tentang rumah, tentang ibu, dan bila sudah berbicara tentang perempuan yang melahirkannya, Anwar Saleh juga akan otomatis teringat pada lelaki yang begitu dibencinya, bapaknya.

“Kenapa kamu ndak pernah pulang? Apa ndak kangen ibumu?” tanya kawan itu usai bercerita bagaimana hubungan pertemanannya dengan Anwar Saleh dan seakan memahami segala masalah di masa lalunya. Pertanyaan itu tak dijawab. Kawan itu juga menceritakan kesehatan ibu Anwar Saleh. Yang ditanya dan diajak bicara hanya diam, justru mengalihkan obrolan pada kesibukan kawannya itu sehari-hari. Obrolan itu terus berlanjut, ditingkahi azan asar.

Sore menjelang matang sempurna. Jalanan masih padat lalu-lalang kendaraan. Orang-orang berjalan tergesa untuk berangkat atau pulang. Kawan itu pamit pada Anwar Saleh dan meminta nomor ponselnya. Mereka berjanji akan saling berkabar dan bertemu kembali.

“Kagak manggung lu, War?” tanya mamang minuman dingin saat Anwar Saleh akan membayar minumannya dan beberapa batang rokok yang dia minta tadi lagi dan lagi.

“Perkutut kali manggung.”

“Maksudnya kagak gawe gitu? Daripada lu ngajedok terus di situ.”

Anwar Saleh katakan dua hari lagi akan ada pentas di daerah Depok. Dia jelaskan juga kalau segalanya pasti beres karena dia sudah tahu dan terlampau hafal akan tugasnya.

Suara kaleng milik tukang pijat bergelontang, membuyarkan lamunan Anwar Saleh tentang pertemuan dengan kawan lamanya. Dibukanya kembali aplikasi percakapan di ponsel, tak ada apa-apa dan digeletaknya begitu saja ponsel itu.

Terang pucat bohlam menyaksi benak Anwar Saleh dalam rebahnya. Dia menunggu dengan murung dan cemas kenapa Eti Ncus tidak memberi kabar usai pentas, padahal biasanya pesan ringan akan lempar-tangkap ketika Eti Ncus telah diantarnya ke rumah. Angan Anwar Saleh melayang seakan menembus petak kontrakan, menembus malam yang baginya terlampau panjang. Anwar Saleh masih menyesali dan meratapi kenapa belum juga mengatakan cinta pada Eti Ncus, namun merasa ditolak. Anwar Saleh mahfum kenyataan memang pahit untuknya. Nasib baik tak pernah berpihak padanya.

Di hadapan Eti Ncus lidah Anwar Saleh seakan kelu, tiang-tiang penyangga jembatan layang seakan menimpa kepalanya, sangat berat membebani pikirannya. Anwar Saleh ingat pentas tadi. Dalam benaknya masih tersimpan bagaimana suara Eti Ncus samar menyanyikan lagu Muara Kasih Bunda didengarnya dari belakang panggung saat dia sedang menyiapkan es cekek untuk tukang ketipung.

Bunda

Tak pernah kau berharap budi balasan

Atas apa yang kau lakukan

Untuk diriku yang kau sayang[1]

Bekas kardus yang bakal Anwar Saleh gunakan untuk mengipasi tukang ketipung terlepas dari genggamannya. Perasaan yang aneh dan penuh kegamangan merambat di hati Anwar Saleh. Dia tak ingin gubris semua itu dan melanjutkan apa yang sudah menjadi pekerjaan rutinnya setiap pentas.

Sebuah suara notifikasi masuk ke ponsel Anwar Saleh. Hal yang begitu dinantikannya. Namun sekali lagi nasib tak pernah berpihak padanya, bukan pesan dari Eti Ncus yang datang, melainkan pesan dari kawan lama, yang memberi padanya sebuah alasan akan kepulangan.


Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Bukunya terbarunya Gelanggang Maaf (Penerbit Bukuinti, 2021). Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo dan mengelola Rusamenjana Book Store & Club bersama teman. Surat-menyurat: [email protected]


[1] Nukilan lirik lagu Muara Kasih Bunda yang dipopulerkan Erie Suzan.

Cerpen

Lelaki yang Melambaikan Tangan Pada Kereta Api

Cerpen Dedy Tri Riyadi

Sebuah pertanyaan tertulis pada kertas berukuran folio; Apakah manfaat dari memelihara sapi? Faiyaz mengamatinya dengan tak sengaja karena kertas itu tiba-tiba berada di dekat kakinya, tergeletak di lantai peron. Ia hendak melakukan perjalanan ke Vijayawada, mengikuti anjuran dari Vaibhav agar sekali-kali meliburkan diri daripada bekerja terus-menerus 24 jam sehari selama 5 hari kerja tapi tak pernah bisa menjadi orang kaya raya.

“Berlibur itu seperti mengisi daya baterai bagi hati dan pikiran,” begitu bujuk Vaibhav  padanya. Namun ia tidak tahu apa yang harus dilakukan saat mengambil cuti dan berlibur. “Paling-paling berjalan dari satu ke lain tempat di daerah tujuan pariwisata, nongkrong sana-sini, makan-minum, menghamburkan uang saja,” keluhnya. Kali ini, Vaibhav, pemusik dan petualang yang kerap dijumpainya di kedai minum Crab Legs, memberi jalan keluar untuk berlibur murah dan benar-benar berbeda dari kebiasaan.

“Apa dan bagaimana itu?” selidiknya, penasaran.

Vaibhav mengatakan padanya, pada bulan September, di Vijayawada, ada festival keagamaan di sebuah ashram. “Kau tinggal datang ke ashram, berbaur dalam acara dan kegiatan yang ada, tidur berbagi dengan para peserta lain di tenda-tenda yang disediakan, makan bersama. Semuanya gratis!”

“Tapi, itu kan festival keagamaan? Dan aku bukan pemeluk teguh dari satu agama atau kepercayaan tertentu. Aku ragu.” Faiyaz mendadak seperti kehilangan minat pada pembicaraan terlebih anjuran Vaibhav. Dan bukanlah Vaibhav jika ia tidak bisa memberi jawaban atau alasan yang menyenangkan. Pergaulannya yang luas membuatnya selalu punya cara untuk membujuk orang bergembira. Lagi pula ia seorang penghibur yang siap mengajak orang menikmati musik yang ia persembahkan.

“Kau tahu apa manfaat dari orang memelihara ternak? Orang yang bersikap fragmatis tentu akan menjawab untuk diambil daging, susu, telur, atau lainnya yang bermanfaat. Namun, kau tahu hal spiritual apakah yang bisa didapat dari memelihara ternak? Ia menjalankan perintah Tuhannya selain mengambil manfaat dari beternak, juga menunjukkan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan yang paling tinggi derajatnya. Jadi, berdoa itu bisa dengan beragam bahasa, dan menyebut Tuhan bisa dengan beragam namaNya. Kau paham?”

Perkataan Vaibhav itu seperti dikuatkan kembali kepadanya saat Faiyaz melihat kertas dengan pertanyaan di dekat kakinya. Yang terutama saat ini adalah ia bisa berlibur dan melupakan pekerjaan sehari-harinya sebagai akuntan swasta yang selalu dirumitkan dengan angka-angka dalam tabel rugi-laba. Lamunan Faiyaz terhenti karena ia mendengar pengumuman dari pelantang yang menyebutkan kereta api dengan tujuan Vijayawada segera tiba. Sofma menggenggam erat tali-tali tas ranselnya, sebelum akhirnya melangkah ke anjungan peron sesaat kereta yang hendak dinaikinya benar-benar sudah berhenti di hadapannya.

Melangkah sambil memerhatikan nomor kursi untuk mencari tempat di mana ia harus duduk sesuai dengan yang tertera di karcis, membuat Faiyaz berjalan seperti tergesa dan terhenti. Para penumpang lain yang berusaha mencari tempat duduk atau meletakkan barang bawaan mereka ke rak di atasnya membuat semacam kemacetan kecil berkali-kali bagi langkahnya. Faiyaz baru merasa sedikit lega setelah ia melihat nomor yang diperhatikan dengan saksama sedari tadi pada karcisnya.

20 B! Kursi dekat lorong. Tempat duduk yang sebenarnya ingin ia hindari. Maklum, duduk dekat lorong akan selalu mendapatkan gangguan dari para penumpang yang lewat. Demikian juga dari penumpang yang duduk di dekat jendela kalau mereka ingin buang air ke toilet di ujung gerbong. Namun kali ini ia tidak merasa begitu menyesal, yang penting sudah dari jauh hari ia bisa mendapatkan konfirmasi tempat duduk dan keberangkatan, mengingat festival keagamaan di Luca Turka itu membuat kereta api ke sana di awal bulan September ini melonjak jumlah calon penumpangnya.

Selesai meletakkan tas ransel di rak di atas kursi, Faiyaz mendengar ada yang mengucapkan “Permisi” dengan nada lembut namun jelas. Seorang perempuan berambut panjang hitam legam dengan wangi seperti dupa sudah berdiri begitu dekat dengan dirinya.

“Nomor kursi saya 20 A.” Perempuan itu kembali bersuara.

“Oh, maaf saya menghalangi Anda masuk. Sebentar. Sebentar.” Faiyaz bergegas duduk agar perempuan itu bisa masuk ke dalam ruang yang dibatasi oleh dua deret kursi itu. Perempuan itu menyeret tas besar yang kemudian dia letakkan begitu saja di hadapannya segera setelah ia duduk pada kursinya di dekat jendela. Tas berukuran besar itu memadati ruang dan membuat Faiyaz harus menyesuaikan duduknya. Faiyaz adalah pria bertubuh lumayan tinggi dengan tungkai kaki yang panjang.

Demi keleluasaan duduknya, Faiyaz memberanikan diri untuk bertanya pada perempuan itu apakah boleh tas besarnya ia letakkan di rak saja. Perempuan itu merasa keberatan, katanya, “Aku hanya sampai dua stasiun dari sini. Paling lama satu setengah jam perjalanan. Semoga kau tidak keberatan.” Sofma mengangguk dengan kikuk, dengan senyum yang dipaksakan.

Perempuan itu berkata lagi, “Aku hanya sampai Simhachalam! Bukan sampai Vijayawada, tujuan terakhir kereta ini. Kau bisa mengerti?” Ucapannya kali ini terdengar seperti orang yang kecewa. Ini membuat Faiyaz tak ingin memperpanjang persoalan sepele ini. Biarlah, pikirnya, ia tahan-tahan duduk demikian. Toh, hanya selama satu setengah jam jika benar ucapan perempuan itu. Faiyaz mengangguk kembali. Kali ini sedikit lebih santai.

“Syukurlah kalau kau bisa mengerti. Aku ingin kereta ini segera berangkat.” Lagi, perempuan itu bicara padanya. Entah dengan maksud apa. Sofma sebenarnya ingin menahan diri agar tidak membuat perempuan di sampingnya makin bertambah emosi. Meski ia tahu bukan ia penyebabnya. Namun perkataan perempuan itu menggelitik rasa penasarannya.

“Saya kira kau ingin ke Vijayawada untuk mengikuti festival keagamaan seperti saya,” pancing Faiyaz .

“Kenapa kau mengira demikian?” Kali ini Faiyaz bisa melihat jelas mata perempuan berambut legam itu. Mata yang bulat besar dengan riasan maskara yang membuat mata itu terlihat semakin bulat dan besar. Mata yang bisa membuat degup jantung semakin kencang jika menatapnya lama-lama.

“Maaf, ada bau dupa yang begitu kuat ketika kau datang dan lewat di depanku.”

“Oh.” Hanya itu yang terucap sebagai responnya.

Perempuan itu membelalakkan kelopak matanya dan dengan tisu di tangannya ia menyeka sudut matanya sebelum melanjutkan bicara, “Tidak. Aku tidak pergi ke festival itu. Aku akan turun di Simhachalam. Urusan keluarga.”

“Oh.” Kali ini Faiyaz yang mengatakannya.

“Mau berdoa pada dewa apa kau di sana?”

“Maaf? Dewa? Saya belum tahu. Ini kali pertama saya pergi ke festival itu. Kau pernah ya?”

Perempuan itu kemudian menyebutkan beberapa nama dewa yang kepada mereka setiap acara dalam festival itu dihelat. Masing-masing akan punya waktu dan tempat sendiri dalam festival itu. Dan setelah ia menjelaskan cukup rinci, perempuan itu bertanya pada Faiyaz , “Apa pekerjaanmu? Kalau kau ingin rejekimu lancar dan karirmu baik, kau bisa berdoa sesuai dewa yang menaungi pekerjaanmu.”

“Saya seorang akuntan swasta. Kira-kira saya harus berdoa pada dewa atau dewi apa?”

“Akuntan itu berhubungan dengan keuangan dan ketelitian. Kau bisa berdoa pada Dewa Ganesha juga pada Lakshmi Dewi. Pada Dewa Ganesha, kau bisa berdoa dengan mantra – Om Gam Ganpataye Namaha selama 108 kali setiap hari, dan kepada Lakshmi Dewi kau bisa membaca mantra Maha Lakshmi supaya kau diberkati.”

Faiyaz merasa takjub pada perempuan itu. Betapa ia hafal ritual agama dan dewa-dewi yang disembah. Namun ia masih heran dengan sikap perempuan itu yang sedikit ketus dari tadi. Kurang mencerminkan seorang yang saleh.

Sebelum Faiyaz menanggapi perkataan perempuan itu, sayup terdengar peluit tanda kereta api siap diberangkatkan. Dan benar saja, perlahan-lahan kereta itu bergerak menarik gerbong-gerbongnya menjauhi stasiun.

Pemandangan di luar kereta yang memerlihatkan sebagian dari kota dan selebihnya areal persawahan entah mengapa membuat Faiyaz merasa ada beban dalam dadanya yang pelan-pelan menyusut beratnya. Ia mulai percaya ucapan Vaibhav bahwa dengan berlibur ada hati dan pikiran yang diisi daya kembali.

Tiba-tiba ia melihat ada serombongan orang berdiri di tengah areal persawahan seperti sengaja menunggu kereta api itu lewat. Dari rombongan tersebut ada seorang lelaki berdiri paling depan dan paling dekat dengan sisi rel kereta api dan melambaikan tangannya, entah kepada siapa, tapi pastinya yang dituju adalah salah seorang dari penumpang kereta api ini.

Faiyaz tidak menyadari perempuan di sebelahnya menarik semacam kerudung untuk menutupi wajahnya. Ia baru menyadari setelah perempuan itu bertanya kepadanya, “Sudah tidak terlihat?”

“Apa yang sudah tidak terlihat?”

“Lelaki yang melambai pada kereta api ini di sawah tadi.”

“Oh. sudah jauh. Memangnya siapa dia? Kau kenal?”

“Bukan kenal lagi. Dia bernama Hridaan, suamiku tadi siang. Aku memutuskan untuk tidak meneruskan upacara pernikahan karena ia seorang pecandu gutka[1]. Tak ada yang memberitahukan tentang hal ini sebelumnya kepada keluarga kami.”

“Dia masih berharap pernikahan kalian berlanjut?”

“Sepertinya begitu tapi aku tidak bisa. Pecandu gutka itu menjijikan bau mulutnya. Belum lagi ludah merahnya selalu sembarangan dibuang ke lantai. Aku tak akan tahan hidup begitu! Dia sempat bersikeras untuk mengantarku ke stasiun tapi aku lebih dulu pergi.”

“Kau tidak mengenal dia sebelumnya?”

“Bukankah tradisi kita untuk menikah tidak perlu saling mengenal pasangan masing-masing? Yang penting keluarga kita sudah sama-sama tahu siapa akan dinikahkan dengan siapa. Bukankah begitu? Apa kau lupa?”

Faiyaz terpekur. Ia sudah lama melupakan tradisi pernikahan semacam itu. Faiyaz melarikan diri dari rumah dan keluarganya karena dipaksa menikahi Adweta, anak perempuan kolega ayahnya. Keputusan bulat itu diambil karena ia lebih mencintai Binita, teman kuliahnya. Namun cinta itu juga kandas karena Binita harus menerima pinangan keluarga Saksham.

“Hei, mengapa kau melamun?”

Faiyaz mendengar ucapan perempuan berambut legam beraroma dupa di sampingnya dengan jelas tapi ia malas untuk menanggapinya. Faiyaz lebih tertarik untuk menikmati luka dalam dadanya seperti lelaki yang melambaikan tangan pada kereta api tadi. Ia yang tahu sebenarnya ada yang bisa ditentang dan diperjuangkan dalam hidup ini, tapi memang ada kalanya, pada akhirnya,  kita hanya bisa berkata, “Selamat jalan. Semoga bisa bertemu kembali.”****

Jakarta, September 2021


Dedy Tri Riyadi, pekerja iklan dan redaktur majalah sastra digital Mata Puisi. Buku Puisi Berlatih Solmisasi sempat masuk long-list Kusala Sastra Khatulistiwa 2018.


[1] kombinasi pinang, jeruk nipis, parafin dan gambir bersama dengan tembakau, yang sebenarnya beracun, tapi kerap digunakan sebagai penyegar bau mulut dengan cara dikunyah dan disesap-sesap, dan diletakkan pada bagian dalam pipi.

Cerpen

Wak Banun

Cerpen Widjaya Harahap

Pisang emas dibawa berlayar

Masak sebiji di atas peti

Hutang emas dapat dibayar

Hutang budi dibawa mati[1]

Aku berhutang keduanya: uang dan budi kepada seseorang yang selama puluhan tahun bahkan sebersit pun tidak pernah terpikirkan olehku. Keinginanku saat ini adalah segera bertemu dengannya senyampang waktu masih ada.

Aku tak tahu persis sejak kapan mulainya. Dan dari mana asal muasalnya. Kesadaran itu terbit begitu saja. Sekonyong-konyong aku merasa berutang kepada banyak orang. Sebagiannya orang-orang yang kukenal, sisanya tidak. Sebagian dalam bentuk utang uang, sebagian lagi berupa utang kebaikan. Aku tidak tahu cara membayar utang kebaikan. Yang sudah pasti, utang uang harus segera kubayar.

Yang tidak henti-hentinya menguntitku adalah ingatan kepada Wak Banun. Letak rumahnya bersebelahan dengan rumah orangtuaku, walaupun dipisahkan hamparan tanah yang cukup luas, ditumbuhi pohon-pohon rambutan dan sawo, tidak menghalanginya mengetahui keadaan kami. Pada saat umak tidak memasak karena tidak ada beras yang bisa ditanak, dia datang dengan rantang berisi nasi, sayur daun singkong tumbuk, sambal dan ikan limbat goreng. Melihat mata umakku yang berkaca-kaca dia mengelus pundak umak. “Besok pagi ke ladang kita ya,” ajaknya. “Padi sudah masak, waktunya diketam. Burung pipit pun sudah makan duluan. Ikutlah kau mengetam ya, biar kelen kebagian merasakan beras baru. Enak nasinya, padi Arias itu.”

Dari tiga hari membantu panen di huma Wak Banun, umak mendapat lima goni padi. Aku mengiriknya malam-malam. Miangnya membuat gatal sekujur kaki, tapi bayangan kami akan punya beras setidaknya sepekan ke depan membuatku tak memedulikannya. Setelah kering dijemur, aku membantu umak menumbuk padi itu di lesung. Melepuh telapak tanganku yang kerempeng karena jarang-jarang memegang alu, juga tak kuhiraukan. Bukan cuma enak rasa nasinya beras Arias itu, selagi ditanak pun aroma wanginya sudah menggelimangi sepenuh rumah.

Di musim berladang dan musim buah-buahan (Wak Banun punya berhektar-hektar kebun durian, manggis, langsat dan rambutan) umak selalu dikasih pekerjaan. Aku ikut membantu jika libur sekolah. Upahnya lumayanlah untuk kami menyambung hidup.

Waktu itu aku dan umak dipanggil Wak Banun membantunya memetik buah rambutan dari kebun di halaman belakang rumahnya. Aku yang memanjat, umak yang mengumpulkannya ke dalam keranjang dan karung goni. Ada juga Bang Ril, anak sulung Wak Banun, yang memanjat batang rambutan yang lain. Umur Bang Ril terpaut enam tahun denganku. Aku baru tamat SD ketika dia lulus SMA. Dari atas pohon, secara tidak sengaja, kudengar Wak Banun berujar kepada umak, “Untuk apa kau bela laki-laki malas begitu. Kalian kelaparan pun dia tenang-tenang saja. Kau yang pontang-panting cari makan, dia malah enak-enak saja tidur siang.” Dia tengah menggunjingkan ayah dan menghasut umak. “Bawa anakmu. Tinggalkan saja lakimu. Tak usah sama dia pun, kelen bisa hidup.” Pastilah Bang Ril juga mendengar perkataan emaknya. Dari atas pohon kudengar suaranya setengah berteriak, “Mak!” Wak Banun langsung terdiam. Menggelegak perasaanku. Dipikirnya dia siapa, seenaknya meracuni pikiran umak agar bercerai dari ayah? Jangan mentang-mentang dia membantu waktu kami susah terus dia merasa boleh tidak semena-mena mencemooh ayahku. Bukan menghilangkan kebaikannya, tapi memang tidak semuanya pemberian. Kebanyakan adalah upah untuk tenaga kami. Tidak dari dia pun kami bisa jual tenaga kepada orang lain. Walaupun boleh dibilang banyak jasanya, tapi aku tak senang pada kelakuannya.

Di rumah, waktu ayah tak ada, kutumpahkan unek-unekku, “Tak usah lagi kita mau kalau Wak Banun menyuruh kita, ya Mak.”

“Kenapa?” tanya umak heran.

Nggak betul Uwak ‘tu, masa tadi dia ngomong begitu soal ayah.”

“Yang dicakapkannya tadi itu ada pula betulnya.”

Betul kan? Umak sudah termakan racun Uwak ‘tu.

“Tak bakal mau lagi aku disuruh-suruhnya, Lebih baik sama orang lain saja,” sambungku, sambil kuselidiki air muka umak. Tenang seperti biasa. Tak nampak ada yang merisaukannya.

“Allah yang menentukan dari mana jalan rezeki kita, Amang[2]. Tidak selalu melalui tangan orang yang menurut kita baik. Soal kebaikan itu pun hanya Allah yang tahu isi hati manusia.” Aku kehabisan kata-kata. Tapi perasaan mendongkol masih tersisa.

Setelah itu kalau ditanya macam mana suasana perasaanku terhadap Wak Banun, kubilang macam kena malaria: kadang panas, kadang dingin, kadang menggigil. Aku tetap mengerjakan suruhannya. Biarpun aku berkeras hati tak mau lagi disuruhnya, toh nyatanya tidak ada pekerjaan di tempat lain. Lagipula ini kan hanya senyampang liburan sekolah. Kalau libur sudah berakhir aku tidak akan bekerja lagi, kecuali di sore hari.

Sejauh aku bisa mengingat masa kecilku, aku anak kurus yang selalu lapar. Di rumah aku hanya bisa makan sebanyak yang dibagikan umak di pingganku. Tidak ada nasi tambuh. Kalau aku punya uang, aku jajan di sekolah. Uangku hanya cukup untuk dua buah kue, tapi itu tak bisa meredakan laparku. Makanya aku makan lima tapi mengaku makan dua.

Lantas dari mana aku mendapatkan uang untuk jajan? Sepulang dari sekolah, atau sejak pagi di hari Ahad, aku mencari kayu api. Sebagian untuk umak memasak, sebagian lagi kusimpan untuk kujual ke kedai-kedai nasi. Uang hasil jualan kayu separuh kukasihkan kepada umak yang separuh lagi untukku jajan dan beli perangko. Selain kesempatan mengambil kayu rambung waktu onderneming menumbang pohon rambung tua untuk peremajaan tanaman, aku mencari kayu api ke hutan. Di musim penumbangan, onderneming membolehkan orang kampung mengambil kayu yang mereka sisakan di lapangan. Bagian batang pohon yang berukuran besar mereka ambil untuk bahan bakar rumah asap tempat mengeringkan getah sheet[3], dan dijual kepada DSM[4] untuk memanaskan turbin mesin uap lokomotif kereta api.

Pada hari-hari sekolah, Wak Banun adalah satu-satunya yang berjualan makanan di SMP-ku. Aku selalu menunggu waktu istirahat. Begitu jam istirahat tiba, kontan si Uwak dirubungi anak-anak yang mau jajan. Kerumunan yang demikian ribut dan makan sambil berebut sehingga si Uwak sering luput mengawasi. Membuka peluang untuk curang membayar. Setiap kali aku mengaku hanya makan dua dan membayar dua. Padahal lima kue yang sudah kumasukkan ke dalam kantong nasiku. Kecuali opak singkong yang kasat mata karena besar ukurannya, kue yang kecil-kecil itu mudah disembunyikan dalam genggaman tangan. Dan menyusupkannya ke dalam mulut tanpa ketahuan. Bertahun-tahun urusan ini tersimpan rapi sebagai sebuah rahasia yang memalukan.

Hari-hari belakangan ini, tiga puluh lima tahun setelah tamat SMP dan pergi merantau—dan tidak pernah bertemu Wak Banun lagi—aku pulang ke negeri kelahiranku, sebuah kampung kecil di pesisir Timur Sumatra Utara. Life begins at forty[5], begitu kata peribahasa. Sepuluh tahun yang lalu tatkala umurku mencecah empat puluh tahun, aku jadi lebih mengerti memaknai kebaikan dan kejelekan. Perasaan tidak suka terhadap Wak Banun berangsur berubah. Aku hanya tahu sebagian saja dari apa yang kudengar, selebihnya hanya Allah yang mengetahui. Bagaimana aku bisa membuat penghakiman tentang laku baik dan buruk? Seperti kata umak, hanya Allah yang tahu isi hati manusia. Yang kuketahui, dulu dia sering menolong keluarga kami pada saat kami susah. Tidak jarang dia memedulikanku seperti dia memperhatikan anaknya sendiri. Biarlah di hatiku hanya ada kebaikannya. Selebihnya, biarlah itu jadi urusan Allah saja. Sejak berada di Medan, ingatan tentang Wak Banun terus-menerus mengusik. Aku harus pulang ke kampung. Menjumpainya. Membuka rahasia masa kecil dan membayar utang-utangku. Selagi dia masih ada.

Di beranda rumahnya, kucium khidmat tangannya yang kurus dan renta. Tangan yang dulu menumbuk beras pulut menjadi tepung, memarut kelapa, menyiapkan adonan dan entah apa lagi. Bersabung dengan sengat panas api agar kue-kue dan jajanan untuk kami tersedia sebelum jam istirahat. Menyiapkan makanan yang telah jadi darah dan daging kami, diriku dan kawan-kawanku. Dia mengatakannya dalam bahasa yang bersahaja: supaya kami tidak lapar waktu belajar. Sesuatu yang selama ini tak pernah terpikirkan untuk kusyukuri. Sesuatu yang aku tidak pernah berterima kasih. Kupegangi terus tangannya. Perlahan-lahan kurasakan hatiku mulai meleleh.

Kuulurkan bingkisan berisi kain songket Talawi ke pangkuannya.

“Semoga jadi sigolom tondi[6] untuk Uwak,” kataku. Dibukanya bungkusan dengan tangan gemetar. Bibirnya yang terkatup bergerak-gerak, seperti menggelatuk. Memerah matanya menahan genangan yang menunggu tumpah.

“Aku mau minta Uwak mengikhlaskan. Jangan sampai tidak.” ujarku terbata-bata.

“Apalah rupanya yang mesti uwak ikhlaskan?”

“Dulu Uwak tak tahu, banyak jajanan yang tidak kubayar. Kumakan lima, yang kubayar dua. Sekarang aku mau membayarnya tapi tak lagi ingat berapa jumlah pastinya. Lebih kurangnya tolong Uwak mengikhlaskan. Sudah jadi daging, sudah jadi darahku. Kalau Uwak tak ikhlas, macam mana nanti aku ditanya di Yaumil Hisab. Tak bakal bisa aku menjawabnya,” kudengar suaraku serak bercampur getar.

“Dari dulu nya sudah Uwak ikhlaskan. Tau nya Uwak kau makan lebih, tapi biarlah. Tak ada nya pulak duitmu. Lagi pula bukan kau saja. Yang lain juga begitu.”

Lamunanku mengembara ke masa-masa itu. Saat-saat aku tak punya duit dan cuma menengok saja tak berani mendekat, Uwak Banun memanggilku. Mengetahui aku tak punya uang, disuruhnya mengambil jajanan yang kumaui. Berapa pun yang kuinginkan.

“Uwak doakan besarlah hendaknya tuahmu yo Amang.” Diciuminya kain songket yang kuberikan.

Kupeluk dia. Tubuhnya terguncang-guncang. Seketika berderailah tangisnya. Aku tak kuasa menahan diri. Kami pun bertangis-tangisan. Lembut dia mengusap-usap rambutku.

Iléé bayaaa ééé …. Tak sempatlah pulak nampak umakmu, anaknya kini sudah jadi orang.” Mendengar Uwak menyebut nama almarhumah umakku, menjadi-jadilah tangisanku.

Pagi ini—hari kedua semenjak aku tiba di kampung halaman—di beranda rumah Wak Banun aku duduk berhadapan dengan Bang Ril. Lembut dielusnya bungkusan songket Talawi yang kugenggamkan kepadanya. Dari penuturannya aku baru mendapat kabar Wak Banun sudah berpulang menghadap Allah. Hari ini persis empat puluh hari kepulangannya. Aku merasakan sebuah palu besar menghantam dadaku bertalu-talu menyisakan sesak yang tiada terhingga.

Mimpiku tadi malam itu begitu nyata.***


Widjaya Harahap, penulis tinggal di Ciamis. Bergiat menulis cerpen dan puisi. Cerpennya diterbitkan pada beberapa antologi bersama.


[1] Sebait pantun klasik Melayu. Penulisnya awanama (anonim).

[2] Amang = Ayah (Bahasa Batak, Mandailing), lazim dipakai sebagai panggilan sayang kepada anak laki-laki.

[3] sheet = Jenis hasil produksi lateks yang dicetak berupa lembaran pipih lalu dikeringkan dengan cara mengasapi di dalam rumah pengasapan (gudang asap, istilah lokal).

[4] DSM = Deli Spoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api Deli diwarisi dari Belanda. Nama DSM masih dipakai meskipun setelah diambil alih sudah mempunyai nama baru: Djawatan Kereta Api (DKA), yang kemudian berganti nama lagi jadi PJKA.

[5] Life begins at forty = Hidup dimulai ketika berusia empat puluh (peribahasa).

[6] sigolom tondi = Idiom Batak, penggenggam semangat.

Cerpen

Selubung Sihir Mantra

Cerpen S. Prasetyo Utomo 

Tak banyak hal diketahui Kodrat mengenai Ki Broto dan pedepokannya. Masih terselubung  rahasia. Terselubung misteri. Di mata Kodrat, penampilan Ki Broto – yang senantiasa mengenakan lurik dan  blangkon – tampak setenang kabut Gunung Merapi. Kodrat merasa harus lebih banyak meluangkan waktu untuk memahami lelaki setengah baya itu. Ia, yang baru sekali bersua Ki Broto, mengikis  rasa canggung berhadapan dengannya.

Kodrat menghirup udara yang jernih di sekitar pedepokan, teduh pepohonan, dengan burung-burung branjangan lincah berkicauan di ranting-ranting. Ia meneliti tarian kuda lumping di pedepokan Ki Broto yang tiap hari senantiasa berlatih, menciptakan gerakan-gerakan tari baru, yang berbeda dengan kelompok kuda lumping Lurah Sukro.

Ki Broto mendekati Kodrat. Duduk di sisinya.  Memandangi latihan tari kuda lumping dengan iringan gamelan, hentakan kendang, dan lecutan cambuk yang menghentak bumi bertubi-tubi. Ki Broto tahu, jauh  di hutan menjelang puncak Bukit Turgo, di pelataran  makam Syeh Jumadil Kubro, terdapat seorang lelaki muda yang menyimak irama gamelan itu dengan jernih.

Ki Broto, dengan wajah yang tenang, tanpa pergolakan, merupakan pawang tari kuda lumping pdepokannya. Ia memiliki sepasang mata yang jernih, yang bisa menembus pikiran orang.

“Kenapa kau tidak meneliti pawang tari kuda lumping di Bukit Turgo?”

Kodrat memandangi Ki Broto yang duduk di sebelahnya.

“Kenapa mesti pergi ke sana?”

“Temuilah Seto, seseorang yang selalu menari kuda lumping di sana! Ia pawang sanggar tari kuda lumping yang dipimpin Lurah Sukro!”

Termangu-mangu, masih bertanya-tanya, Kodrat tergagap, ketika ia berpikir: apa bedanya dengan kuda lumping pedepokan ini? Ia masih memandangi  tarian kuda lumping, dengan suara gamelan dan kendang yang menghentak-hentak, serta lecutan cambuk mengepulkan debu. 

Permintaan Ki Broto menjadi sihir yang tak terbantah, yang tak bisa dielakkan Kodrat. Ia bangkit, meninggalkan pedepokan, melangkah ke arah Bukit Turgo yang belum pernah dicapainya. Ia melangkah, dan tak merasakan lelah. Ia juga tak merasakan perjalanan yang asing, menempuh jalan setapak seorang diri, mencapai desa terakhir, memasuki jalan terjal ke arah hutan. Ia menempuh jalan setapak di antara pepohonan yang dihuni monyet-monyet yang bertengger di dahan.

Tak sekalipun Kodrat bertanya pada seseorang untuk mencapai  Bukit Turgo. Langkah kakinya seperti sudah memahami setiap jengkal tanah yang dipijaknya. Mendaki lereng Bukit Turgo, suara gamelan kuda lumping dari pedepokan Ki Broto terdengar bening. Ia merasa sudah sangat dekat dengan Seto, lelaki yang mesti ditemuinya, seperti disarankan Ki Broto. Ia tak pernah menduga bila mencapai pelataran makam yang dikeramatkan, dengan taburan bunga melati dan dupa leleh kehitaman, beku di anglo-anglo kecil. Di nisan itu tertulis nama: Syeh Jumadil Kubro. Dalam hati Kodrat menduga: seorang lelaki kurus, muda, dengan rambut lurus memanjang yang menari kuda lumping itu tentu Seto, lelaki yang disebut-sebut Ki Broto.

Duduk di atas sebuah batu, Kodrat menanti Seto selesai menari kuda lumping. Dipandanginya Seto menari kuda lumping dengan iringan gamelan yang berkumandang dari pedepokan Ki Broto. Sekilas ia tahu bila Seto bisa menari kuda lumping dengan memikat, menjiwai gerakan-gerakan raksasa, penuh getaran rasa.

***

Gamelan dari pedepokan Ki Broto tak terdengar lagi. Seto berhenti menari. Duduk di sisi Kodrat. Dari arah jalan setapak Bukit Turgo terlihat berjalan Lurah Sukro yang berwajah masam. Ia memasuki pelataran makam Syeh Jumadil Kubro. Lurah Sukro menebar bunga mawar, kantil, dan kenanga ke atas makam. Menyalakan arang di atas anglo. Mengipasinya. Harum dupa leleh terbakar tersebar di sekitar makam Syeh Jumadil Kubro. 

Kedatangan Lurah Sukro ke makam Syeh Jumadil Kubro, semakin tak dipahami Kodrat. Kedatangannya serupa selembar daun jatuh, mencipta suasana hening. Tetapi sepasang matanya memancarkan permusuhan. Wajah Lurah Sukro yang masam, angkuh, dan dengki, sungguh menebar keresahan. Ia mendekati Seto. Memandanginya tajam.

“Kau mesti bisa menaklukkan Ki Broto, agar dia membubarkan kelompok tari kuda kumping!” kata Lurah Sukro. “Kau sudah bisa mengalahkan mantra-mantra Ki Broto?”

“Semoga saya bisa lebih unggul darinya,” tukas Seto.  Tapi Kodrat menyaksikan, tiap kali pedepokan Ki Broto mempergelarkan kuda lumping, Seto  turut menari. Mantra Ki Broto seperti mengendalikan tubuh Seto. Kodrat memilih bungkam.

Terdiam, Seto menunduk, mengerling ke arah Kodrat. Dengan kerlingan mata itu, Seto memberitahu pada Kodrat, betapa dahsyat kekuatan mantra Ki Broto: yang bisa menyusupi raga seseorang dalam jarak jauh. Kodrat mengerti kini, mengapa Ki Broto memintanya menemui Seto dengan melakukan perjalanan kaki yang melelahkan mendaki Bukit Turgo, mencapai makam Syeh Jumadil Kubro. Permainan kuda lumping di pedepokan Ki Broto tak sekadar latihan pergelaran. Tetapi tari kuda lumping itu telah tersusupi mantra untuk menjaga kehormatan Ki Broto. 

Lurah Sukro dengan wajah yang masam tampak berambisi menekan Seto. Lurah Sukro dengan tatapan sinis, seperti ingin menguasai Seto, dan menaklukkannya.

“Kau sanggup menaklukkan Ki Broto dengan mantra-mantramu? Kini aku menagih janji. Kau  sudah menyepi di makam ini!” Lurah Sukro menyingkap ambisinya.

“Saya menemukan kekuatan mantra di makam ini agar dapat menaklukkan Ki Broto. Tiba waktunya saya memiliki kekuatan mantra yang lebih dahsyat darinya.”

Mata Lurah Sukro menyipit, menajam, menampakkan kelicikannya. Kumisnya yang tipis memutih seperti menguncup. Ia menyalakan lagi rokoknya. Menghisap  rokok itu, menghembuskan asap dengan gusar, seperti melampiaskan kejengkelannya.

“Aku akan menantang Ki Broto untuk menyelenggarakan pergelaran kuda lumping bersama di tanah lapang,” kata Lurah Sukro. “Tebarkan mantra yang membuat penari kuda lumpingnya tak dapat disadarkan saat kesurupan. Biar ia takluk padamu!”

***

Duapergelaran tari kuda lumping bersamaan dipentaskan di tanah lapang desa. Tarian kuda lumping Lurah Sukro – Seto sebagai pawang – diperagakan para pemain dengan dandanan raksasa, diiringi rancak gamelan, irama kendang menghentak-hentak, sesekali diikuti lecutan cambuk. Tarian kuda lumping Ki Broto dengan anyaman kuda putih bersurai keemasan. Penarinya para ksatria gagah berkumis dengan pakaian perang serba berkilau gemerlapan.  

Gamelan  yang mengiringi tarian kuda lumping terus bertalu-talu. Kendang  yang mengatur irama tarian kuda lumping menghentak-hentak. Para  penari yang berdandan raksasa menyelaraskan gerak tubuh dengan irama gamelan  yang mulai liar. Beberapa penari kuda lumping Lurah Sukro kerasukan roh. Menari dengan gerakan-gerakan tubuh mengejang, mata terbrlalak, dan melepas anyaman kuda yang mereka tunggangi. Tiba giliran mengusir roh yang menyusupi beberapa penari, Seto kesurupan. Ia menari, terus menari, dan tak mau berhenti.

Lurah Sukro segera berlari menghampiri Ki Broto yang berdiri tenang di bawah pohon trembesi, memohon dengan rendah hati, “Sadarkan para penariku. Aku tak akan pernah lagi memusuhi pedepokanmu!”

Tenang, merapal mantra dengan mata terpejam, Ki Broto menyadarkan para penari kuda lumping yang kesurupan. Terakhir, ia mengusir roh yang menyusupi tubuh Seto.

Kini Kodrat memahami kekuatan mantra Ki Broto dalam selubung senyap kabut lereng gunung yang menaungi pedepokan.***           

                                                                              Pandana Merdeka, Maret 2022


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.