Cerpen

Tentang Nurli, Jitu dan Ulira

Cerpen Jeli Manalu

Sesaat setelah bangun, Ulira mencari pensil dan kertas kosong yang lepas dari pelukannya waktu tidur. Ia lalu berpejam sebagaimana sering diajarkan Nurli: bila kau merindukan seseorang, tutup matamu dan pikirkanlah ia. Maka, hal menelusuk ke pikiran Ulira kali ini: perempuan berambut pendek dengan poni diacak-acak angin muncul dari balik gedung tinggi. Pakai rok kotak-kotak setengah betis—koyak di bagian tengah sampai lewat lutut. Gincunya merah sekali, basah seperti habis makan bihun goreng yang kebanyakan minyak. Pedagang gulali lewat dari samping. Gadis kecil menarik-narik tangan perempuan bersamanya. Itu membuat lidahmu sakit, kata si perempuan. Aku ingin lidahku merah: gadis kecil kemudian senang memegangi awan merah muda diberi tangkai sekaligus takjub pada awan yang ternyata dapat juga dijilat. Namun, walau sudah berkali-kali mencoba memejamkan mata, di kamar berdinding ungu itu Ulira tetap tak tahu seperti apa sorot mata perempuan berambut pendek dalam pikirannya.

Ulira tentu paham akan sorot mata. Mata Nurli bulat melotot saat Ulira memain-mainkan bawang dalam busa deterjen. Mata Nurli tertutup lebih dari separuh saat matahari di langit terlalu silau. Mata Nurli hidup saat Ulira sudah pandai merapikan piring sendiri kemudian menyabun hingga meletakkannya di rak. Mata Nurli cemas saat suatu pagi Ulira batuk pilek dan tak mau sarapan.

Lalu, seperti apa sorot mata perempuan berambut pendek yang datang ke pikiran Ulira agar segera mewujud dalam kertas kosong di depannya? Apakah seperti telur mata sapi setengah matang yang diletakkan kurang hati-hati di atas bihun goreng sehingga bagian kuningnya retak, apa seperti bola lampu warna merah berkedip pelan lalu tak pernah menyala lagi, atau, perempuan itu kemungkinan sebangsa serangga yang terkadang matanya tidak tahu entah di mana jadi tak perlu dibuatkan sepasang mata pada gambar itu?

Ulira tidak menangis meski perasaannya bingung sekali. Anak hebat tak ada menangis, nasihat Nurli selalu. Ulira menurut. Ulira patuh pada setiap perkataan Nurli. Hanya saja, Sabtu malam kemarin, Ulira pergi ke gereja bersama Nurli. Baru sebentar duduk bersama, Ulira meminta izin agar dibolehkan duduk dekat temannya yang bernama Sere di barisan bangku kanan paling belakang.

Setiap ke gereja agar Sere tidak rewel, orangtua Sere selalu membawa sekresek camilan. Coklat, permen, wafer. Orangtua Sere membagi-bagi cemilan satu per orang untuk anak-anak di sekitarnya termasuk pula Ulira sambil bilang makannya jangan berisik, ya? Gadis-gadis kecil itu mengangguk. Tak lama setelahnya, Sere mencakar wajah Ulira. Bekas kuku Sere tampak di tulang hidung Ulira dan sebagian nyaris mengenai matanya. Dari bekas cakar itu darah keluar sedikit, dan saat itulah Ulira membekap mulutnya dengan renda-renda baju. Air matanya berjatuhan cepat sekali. Suaranya tertahan-tahan di kerongkongan karena Nurli bilang anak hebat tak penangis. Tapi air mata Ulira kian deras menyaksikan Sere menyembunyi di ketiak orangtua Sere sambil mengejeknya dengan kata-kata, “Ini mama-ku. Mama-ku. Sana kau sama mama kau.”

Sere mencakar wajah Ulira karena cemburu. Sere tak suka melihat Ulira ikut disayang orangtua Sere. Waktu itu Ulira duduk di paha orangtua Sere, sedangkan Sere disuruh orangtuanya memungut makanan di lantai sesaat terlepas dari mulut. Lalu karena sudah diusir, Ulira pergi meninggalkan Sere.

Mata Ulira belum kering saat kembali duduk di sisi Nurli. Sambil memegang rok hitam Nurli, Ulira bertanya, “Mama itu apa, Nek?”

Melihat orang di sebelah menoleh ke arah mereka, Nurli cepat-cepat mencangklong tas, membawa Ulira ke mulut pintu padahal ibadah belum selesai—orang-orang masih memejamkan mata dan merunutkan segala permohonan, termasuk memikirkan orang yang barangkali sedang sangat mereka rindukan.

“Nek, mama itu apa?” tanya Ulira sekali lagi. Nurli tak menjawab. Nurli memegang kuat-kuat tangan Ulira sambil menuruni anak tangga, berjalan ke halte, memandangi sebentar lukisan perempuan di bagian bak belakang sebuah truk, lalu masuk ke angkot warna biru pudar yang berhenti tepat di depannya.

Esok harinya, foto perempuan berambut pendek memangku bayi berbandana putih yang kerap dipandangi Ulira tak ada lagi di dinding kamar. Ia dimasukkan Nurli ke kresek bekas kemudian dilemparkan. Tukang sampah menemukannya lalu melepas piguranya, sedangkan foto si perempuan yang tampak sensual dipisahkan dari foto si bayi mengunakan gunting, kemudian menempelkannya di dinding kamar sebagai upaya mengatasi kesepian.

Perempuan berambut pendek yang orang-orang memanggilnya Jitu, awalnya jatuh cinta ke lelaki berambut rasta dengan kulit serupa bubuk kopi, lelaki yang hanya muncul tiga bulan sekali dan singgah beberapa hari saja sampai kapal kembali berlayar. “Jangan pernah tertarik dengan lelaki itu,” pesan Nurli suatu hari. “Kau tahu, orang-orang macam mereka cuma mau enaknya saja. Kau mungkin terlena dengan ciumannya. Setelah ‘barang’ kau ia dapat, kau tak akan menemukannya lagi di belahan bumi mana pun.”

Karena tak kunjung bisa dinasihati, melalui paroki (1), Nurli mengirim Jitu ke biara. Jitu hanya enam bulan bertahan. Ia kabur ketika diminta menemani kepala koki berbelanja ke pasar, di mana waktu itu dirinya satu-satunya perempuan yang bisa menyetir sedangkan sopir yang biasa bekerja di sana mengambil cuti. Jitu bahkan membawa mobil hingga berpuluh-puluh kilo meter jauhnya.

Oleh polisi, mobil ditemukan di tepi hutan basah yang sepi—kemungkinan Jitu menumpang bus lewat karena saat ditemukan kunci mobil dalam posisi hidup meski mesin mobil mati akibat kehabisan bahan bakar. Hingga suatu sore yang udaranya begitu pengap, seseorang mengaku melihat Jitu di dermaga. Nurli membantah. Nurli sikukuh menyebut Jitu sudah lama pergi sebagai perempuan baik-baik.

Bila kau tak percaya, ayo kutunjukkan, kata seseorang itu. Nurli terkaget-kaget. Nurli tak percaya melihat Jitu saling tukar rokok dengan lelaki yang bukan berambut rasta serta berkulit bubuk kopi, melainkan kali ini bersama lelaki botak licin. Hidungnya bangir. Matanya cenderung putih. Nurli ingin muntah menyaksikan Jitu menggigit rahang si lelaki. “Ia tidak akan pernah jadi perempuan baik-baik. Buah apa yang jatuhnya jauh dari si pohon?” bisik seseorang itu ke telinga Nurli dengan nada yang sangat tenang, ditambah tatapan menelanjangi tentang siapa diri Nurli di masa lalu.

Nurli merupakan kekasih dari seorang padri bernama: Pet-Peet-Pet-trus? Seseorang itu sangat bernafsu mengatakannya. “Dan kau biarawati suci tak bernoda? Lalu saking cintamu padanya, kau rela menanggung sendiri, keluar dari biara dengan alasan klise padahal di dalam perutmu hidup seekor kecebong, dan Pet-Peet-Pet-rus bebas melenggang, melanjutkan pendidikannya ke Roma atas ilmu agama yang membuatnya gila itu. Hapus air matamu. Hapus karena tak lama lagi mungkin kau akan jadi nenek. Kau akan punya cucu—hihihi,” ejek seseorang itu dengan nada merasa puas, karena sewaktu muda dulu, kecantikan Nurli selalu jadi momok tiap kali ia menyukai lelaki. 

Tak lama setelahnya terjadilah kata-kata itu. Perut Jitu membesar. Jitu hamil entah dari benih siapa, karena saat ditanya Jitu mengaku tidak tahu. Jitu tentu telah tidur dengan banyak lelaki di penginapan-penginapan sekitar dermaga. Sebulan sesudah Jitu melahirkan, Jitu sempat menjadi perempuan baik-baik. Ia bekerja selama satu setengah tahun. Berhenti saat mulai merasa bosan. Orang-orang mengabarkan ia menaiki kapal besar yang berlayar dari negara satu ke negara lainnya. Maka sejak itu, sampai Ulira berusia lima tahun, tak pernah lagi ada kabar tentang perempuan berambut pendek dengan bibir merah basah yang terkesan seperti habis makan bihun goreng di mana saat menumis bawang minyaknya kebanyakan.

Di depan Ulira sebuah gambar kini sudah jadi. Gambar perempuan berambut pendek dengan poni diacak-acak angin. Roknya kotak-kotak setengah betis dan koyak sampai lewat lutut. Gincunya merah sekali. Perempuan itu tak ada mata, karena mungkin sebangsa serangga yang letak matanya entah di mana, atau mungkin memang sungguhan tak ada, sehingga kalau ada bagaimana mungkin ia melupakan Ulira?

Ulira lalu berdiri di tepi jalan sembari memegangi gambar yang dibuatnya itu. Orang-orang berbisik waktu Ulira semringah. Ulira tetap memampangkan gambar perempuan berambut pendek yang tadi dijumpainya dalam pikiran. Saat angin kencang memainkan rambut Ulira dan dari balik gedung pedagang gulali membunyi-bunyikan sepedanya, saat itulah gambar di tangan Ulira lepas. Gambar terbang ke jalanan. Gambar digilas truk lewat yang di bagian bak belakangnya terdapat lukisan perempuan berambut pendek. ***

Riau, Maret 2019

Cat: (1) Paroki: kawasan penggembalaan umat Katolik yang dikepalai oleh pastor


Jeli Manalu, lahir di Padangsidimpuan, 2 Oktober 1983. Ia saat ini mukim di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu.”

Cerpen

Aleana

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Bahkan, Aleana, sosok imajiner yang telah kauhadirkan bertahun-tahun lalu itu pergi. Ia tak lagi sanggup hidup bersamamu. Baginya, meninggalkanmu adalah sebuah keniscayaan, daripada berlarut-larut dalam pertengkaran yang tidak berkesudahan. Terlebih setelah kau memakinya dengan kata-kata paling kasar–bahkan untuk sesosok makhluk imajiner sekalipun. “Dasar lacur! Enyah kau dari sini! Ketahuilah, aku bisa menghadirkan perempuan-perempuan yang jauh lebih baik daripada engkau.” Dan kau sama sekali tidak peduli akan isak tangisnya.

Hujan menderas. Di rumahmu kini, cuma sunyi yang tersisa. Serta dingin yang larut bersama angin yang merangsek masuk melalui celah-celah ventilasi dan menyentuhmu berkali-kali. Engkau menekur. Sesekali menenggelamkan wajah di kedua telapak tanganmu. Dan, petir yang menggelegar dan bersahut-sahutan di luar sana membuatmu cemas. Membayangkan Aleana kuyup menggigil ketakutan entah di mana. Bisa saja ia tengah terlunta-lunta di pinggir jalan, meringkuk di lantai kotor di sebuah rumah kosong yang atapnya bocor, atau mungkin juga, Aleana terperangkap di bekas gudang tua bersama para penjahat kambuhan yang sedang merencanakan kejahatannya matang-matang. Apa pun itu, semuanya adalah mungkin. Aleana belum pernah sekali pun pergi jauh dari sini. Dan pula, ia takut sekali pada gemuruh petir yang saling bersahutan seperti malam ini. Setiap kali petir terdengar, Aleana terhenyak, lalu meneteskan air mata dan mendekapmu erat-erat. Ia kerap merasa petir itu memang ditujukan kepadanya.

Hujan tak kunjung reda. Rasa sesal berhamburan memenuhi rongga dada. Menyesakkan. Sungguh, kau telah berlaku jahat pada Aleana. Apalagi, kala ingatan kali pertama kau berjumpa dengan dirinya muncul dalam benakmu. Di sudut pekarangan belakang rumah, di atas potongan kayu jati berukuran besar yang tergeletak di tepian kolam yang dipenuhi ikan-ikan koi, kau duduk membisu dengan batin nelangsa. Perasaanmu remuk. Setelah sebelumnya kau terpaksa menanda-tangani surat perceraian itu. Istri yang teramat kaucintai itu akhirnya pergi. Ia lebih memilih berada dalam pelukan laki-laki lain ketimbang pelukan hangat yang senantiasa kauberikan untuknya selama menjadi suami. “Tiga tahun yang sia-sia,” kau berkata lirih.

Lama kau menatap ikan-ikan yang berenang ke sana-kemari lalu menyembul dan berkomat-kamit menunggu taburan pakan yang biasa kauberikan. Kau tidak menggubris permohonan ikan-ikan koi itu sama sekali. Di benakmu, kau mengenang impian-impian dahulu, ketika kau melamarnya. “Menualah bersama, kelak kita saksikan anak-anak kita mengasuh cucu-cucu kita di sebuah lereng perbukitan yang luas, hijau, dan landai. Mereka berkejar-kejaran disertai derai tawa kebahagiaan. Dan kau, duduk bersisian bersamaku di hamparan rumput seraya menikmati keindahan senja,” ujarmu selepas petang itu. Namun, tadi, impian itu seketika sirna. Hanya ada sunyi dan gemericik air yang menggelincir jatuh mengenai batu-batu berlumut yang tersusun rapi di sekeliling kolam. Dan suara gemericik itu, membuat perasaanmu semakin tertumbuk-tumbuk.

Kau merutuk. Hingga amarah yang sedari tadi kautahan-tahan, memuncak. Kebencian pada laki-laki yang telah merebut istrimu itu membulat. Dan, rasa kecewa pada bekas istrimu, lamat-lamat menjadi purna. Kau bersumpah; tidak lagi menaruh harap dan mencintai perempuan mana pun selain perempuan yang tengah kaulamunkan sekarang. Kau membayangkan seseorang dengan kecantikan sempurna–anggun, begitu kau menyebutnya. Kecantikan yang jauh melebihi kecantikan yang dipunyai mantan istrimu itu. Dengan dagu yang tirus, bibir yang tipis, lesung pipi yang menitik cantik di kedua pipinya yang ranum, rambut hitam kemilau lurus terurai menggapai pinggulnya yang menawan, dan sepasang mata yang teduh. Perempuan yang sedang kaubayangkan saat ini laksana seorang dewi. Dan ia hanya akan menambatkan cintanya kepada dirimu seorang. Kau akan menghadirkannya. Memanggilnya turun dari atas sana. Dari bintang yang paling benderang. Tiada yang boleh menggoyahkan keinginanmu ini. Kau meyakinkan diri. Bukankah seseorang yang tengah terluka batinnya, permintaannya akan nyaring terdengar oleh para penghuni langit? Dan mereka kelak berbondong-bondong merayu Sang Pencipta agar berkenan mengabulkan permintaan tersebut? Bukankah hal itu sering dipertuturkan oleh para alim yang mengaku dekat dengan Tuhan? “Maka, sekaranglah waktunya,” pintamu sungguh-sungguh, “biarkan dia datang menemuiku.”

Cahaya putih mengerlap dari balik bintang paling benderang. Kemudian cahaya itu turun perlahan bak penerjun yang telah mengembangkan parasutnya. Sesekali angin mendorong-dorong cahaya itu turun lebih cepat. Dan, sesekali pula, cahaya itu seolah-olah hanya berputar-putar saja di tengah cakrawala. Kau berharap. Dan kian berharap agar cahaya itu lekas menghampirimu. Hingga gurat senyum pelan-pelan mulai terlukis di wajahmu. Cahaya itu makin mendekat. Perempuan yang tadi kaulamunkan, ada dalam kerubungan cahaya putih bersih itu, dan dia balas tersenyum. “Aku Aleana, hadir memenuhi panggilanmu,” sapa perempuan itu merdu.

Gelegar petir membuatmu tersadar. Kau mondar-mandir. Berharap Aleana tidak benar-benar pergi. Berharap Aleana cuma sembunyi. Sebentar-sebentar kau mematung di ruang tamu, lalu beralih ke ruang tengah, kemudian menuju dapur dan mengintip dari jendela mengawasi pekarangan belakang rumah, lalu kembali lagi ke ruang tamu. Mengempaskan dirimu; terduduk lesu di atas sofa. Di luar, hujan tetap deras.

“Aleana, maafkan aku,” lagi-lagi kautenggelamkan wajah, “kembalilah,” bisikmu lemah.

Seharusnya caci maki itu memang tak perlu kaulontarkan. Seharusnya kau lebih bisa menahan diri. Akan tetapi, sejak kau mendapati Aleana memandang kagum pada kolega bisnis yang baru saja kaukenal itu, hatimu panas. Kau terbakar cemburu. Bahkan, meski dua bulan telah berlalu, kau tetap sulit melupakan bagaimana Aleana menatap laki-laki yang baru kali pertama berkunjung ke rumahmu itu. Tatapan kagum Aleana mengingatkan kau pada seseorang. Seseorang yang diam-diam menyukai salah seorang atasan di perusahaan tempat ia bekerja. Seseorang yang tega membiarkan perasaanmu hancur berantakan. Seseorang yang pergi meninggalkanmu sepuluh tahun silam. Seseorang yang telah menjejakkan luka di lubuk hati paling dalam. Luka yang akhirnya membuat kau tak lagi bisa berpikiran jernih tatkala mengingat tatapan kagum Aleana pada malam itu. Padahal, betapa pun Aleana memandanginya, bukankah kolega bisnismu itu tak akan pernah mampu menjangkau Aleana? Bukankah Aleana diperuntukkan buatmu seorang?

Hujan mereda. Kegelisahan dalam pikiranmu justru sebaliknya. “Aleana… Aleana…,” kau terus memanggilnya. Hujan benar-benar reda. Dari balik jendela, kau menatap ke arah jalan. Lengang. Tidak ada Aleana di luar sana. Kau harus mencarinya, hati kecilmu berkata. Ya, kau harus segera mencarinya. Lalu kau menuju garasi, menyalakan mesin, menunggu beberapa saat hingga mesin itu menghangat, kemudian melaju menerobos kesunyian malam. Di balik kemudi, di sepanjang perjalanan yang entah, kau berpikir keras di mana kau bisa menemukan Aleana. Dan, terkadang, kau memperlambat laju mobil tatkala melihat seorang perempuan yang sedang menyusuri jalan guna memastikan apakah perempuan itu Aleana atau bukan. Namun, berkali-kali kau mencoba, semua sia-sia. Tidak satu pun dari perempuan-perempuan yang kaulihat tadi adalah Aleana. Kau menepi. Berpikir sekeras-kerasnya; ke mana harus mencari ia?

Rembulan bulat penuh. Cahaya putihnya teduh menyandar di penglihatanmu. “Cukup lama kau tak menikmatiku lagi,” bujuk rayunya semilir terdengar dalam kalbu. “Gerayangilah aku. Aku rindu,” rembulan itu memaksa.

“Aku…, ah, sudah lama sekali rasanya,” suara dalam batinmu menyahut. Ada keinginan yang menggumpal dari lubuk hati untuk mencumbui rembulan itu lagi. Menjilati keindahannya dengan tatapan-tatapan serakah. Melumat habis kesyahduannya sehingga ketika kau memejamkan mata, wajahnya yang berseri-seri itu akan tetap tinggal dan menemani. Sebagaimana dahulu, di atas tebing itu, tebing yang terletak di utara kota tidak jauh dari tempat tinggalmu berada.

Lantas kau teringat, kau pernah bercerita kepada Aleana tentang rembulan dan tebing itu, tentang malam yang terlampau indah, tentang kebahagiaan. Dan, Aleana ingin kau mengajaknya ke sana, namun selalu kauhindari. Sebab, di sana, adalah tempat di mana kau ketika itu menebar impian-impian itu dan menancap harap.

“Setidaknya, untuk satu kali, bawalah aku ke sana.”

Buru-buru kaunyalakan mesin. Melaju menuju tebing itu.

“Aku akan menjemputmu, Aleana.”

Kau melesat. Jalanan basah dan licin tak lagi kaupedulikan. Di benakmu, hanya terpatri satu keinginan: segera membawanya pulang. Dengan yakin kauterabas setiap persimpangan jalan yang sunyi, tikungan panjang, dan tanjakan yang kini semakin sering kautemui. Kau benar-benar tidak peduli. Kau bahkan menambah kecepatan. “Aleana… Aleana…,” sebutmu berkali-kali.

Pada pemberhentian terakhir, kau bergegas turun dari mobil dan berlari. Memacu langkah melewati jalan setapak yang basah dan liat, serta tumbuhan liar yang sebagiannya berduri dan seakan-akan hendak menghalangi laju kakimu yang mulai terasa hangat. Kau terus berlari tergopoh menuju atas tebing. Hingga kau melihat, Aleana benar-benar ada di ujung sana. Berdiri persis di bibir tebing. Ia menunduk. Menekuri kedalaman jurang. Tetapi, Aleana tidak sendiri. Ia bersama seorang lelaki yang tidak engkau kenal. Mereka berpegangan tangan. Dan, mereka sama-sama meneteskan air mata. “Aleana….”

Aleana tidak menjawab. Ia seperti tuli. Begitu pula dengan laki-laki itu, ia tak bereaksi sama sekali. Kau mendekat. “Aleana….”

Mereka tetap diam.

“Aleana…!”

Mereka tetap diam.

Kau menyeru. Meneriakkan namanya berulang kali. Namun, Aleana tetap diam. Begitu pula dengan laki-laki itu, ia bergeming. Lalu kau bersimpuh di dekatnya. Akan tetapi, percuma. Tatkala kedua lututmu menyentuh tanah, Aleana dan laki-laki itu terjun dari bibir tebing. Mereka tetap berpegangan tangan. Sementara rembulan di atas sana seakan tiada peduli, ia kembali memaksa, “Gerayangilah aku lagi. Sungguh, aku teramat sangat merindukanmu.”***


Abdullah Salim Dalimunthe, tinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.

Cerpen

Manna dan Buah Merah

Cerpen Karisma Fahmi Y

Manna, lelaki kurus dan pendiam yang selalu memiliki hasil panen terbaik di kampung kami. Dulunya ia bocah yang sangat menyenangkan dan ceria. Kini,  ia nyaris seperti patung. Hanya sesekali ia terlihat berbicara pada tanaman-tanamannya.

Langit ungu tua membuat sore itu tampak murung. Udara kering. Angin berhembus tak tentu, meniupkan debu-debu. Matahari masih enggan pulang meski langit hitam mulai bergulung datang. Musim kemarau belum undur. Manna menatap halaman depan rumahnya yang dipenuhi kuncup-kuncup bulat kemerahan, kuncup-kuncup ranum buah naga. Beberapa masih merupa kembang dengan kelopak yang gugur di pangkal-pangkal dahan. Mungkin bulan depan buah-buah naga merah yang tumbuh lebat itu bisa dipanen. Ia akan memetik satu per satu buah yang ranum itu dengan gunting besar yang telah ia siapkan.

Manna suka membaca buku dan bertanam. Kepada dua benda itulah seolah ia bisa tenggelam kapan saja. Aku masih ingat suatu ketika di masa kanak-kanak, ia membaca buku di pasar loak, pasar di perbatasan desa. Bapak kadang menyuruhku membeli tembakau ke pasar. Aku mengajak Manna, Didu, dan Baji. Keramaian pasar membuat kami selalu merasa harus mengunjunginya, setidaknya dua minggu sekali. Meski Bapak tidak menyuruh membeli tembakau pun, akhirnya kami akan tetap pergi ke sana. Sesekali kami menonton sirkus monyet dengan ular yang melingkar-lingkar di kepala pawangnya. Melihat penjual obat yang menyembuhkan berbagai penyakit hanya dengan mengoleskan salep atau meminum ramuan yang dijualnya dalam botol-botol kecil dengan akar-akar di dalamnya. Keramaian itulah yang kami cari.

Di pasar kami berpisah, dan berkumpul di tempat pertama, yaitu di mulut pasar, di dekat kusir-kusir bendi. Manna selalu mendatangi pedagang buku. Ia betah berjam-jam di lapak buku loak yang sebagian bukunya telah menguning dan apak. Suatu saat ia membaca buku cerita tentang arwah putri raja yang menjelma ikan setelah memakan buah merah. Arwah putri raja itu menjelma seekor ikan besar yang tinggal di dasar laut. Manna tergila-gila pada buku itu hingga sepanjang jalan pulang ia mengulang-ulang ceritanya. Kami bosan mendengarnya sementara ia terus nyerocos menceritakan kisah itu. Satu-satunya orang yang sabar mendengar ceritanya adalah Bu Guru, seorang pendatang yang juga suka bercerita di depan kelas. Kami selalu menyimak cerita Bu Guru tentang tempat tinggalnya, atau tentang negeri-negeri lain di luar sana.

Siang itu seperti biasa, kami bertemu kembali di mulut pasar. Semua sudah berkumpul, kecuali Manna. Hari semakin siang, dan kami harus tiba di rumah sebelum Asar. Tapi aku merasa Manna di lapak buku. Aku putuskan untuk ke sana. Benar  saja, aku melihatnya. Ia gelisah. Matanya menatap ke arah penjual buku. Dengan cepat ia memasukkan buku ke dalam kausnya yang lusuh dan kebesaran. Pedagang buku tak mengetahuinya. Ia sedang berbincang dengan pemilik warung di sebelah lapaknya. Aku nyaris tak percaya Manna mencuri buku.

Aku menghampirinya. Ia pucat, dan tanganku ikut  gemetaran. Kami berjalan lurus, tak berani menoleh ke belakang. Sepanjang perjalanan, aku dan Manna sama-sama bungkam. Hanya Baji dan Didu yang bercerita tentang peramal yang datang hari itu.

Keesokan harinya, Manna membawa buku berjudul “Menanam Jagung” ke sekolah. Dari mana kau memperoleh buku itu, Manna? tanya Bu Guru. Manna diam menunduk. Di kampung kami yang sangat miskin, membeli buku, sekalipun buku loak adalah hal yang tidak wajar. Kepemilikan buku sangat mencurigakan. Seolah tahu dari mana buku itu diperoleh, Bu Guru tidak memarahinya. Baiklah, hari ini kita menanam jagung bersama-sama.

Bu Guru  menugaskan setiap anak menggali tanah dan menanam biji-biji jagung yang telah disiapkan. Setiap anak mendapat sepuluh bibit jagung. Bergantian kami memupuk dan menyiramnya sebelum dan setelah pelajaran usai secara bergantian, namun hanya pohon jagung milik Manna yang tumbuh sempurna. Jagung-jagungnya tumbuh lebat, nyaris tiga hingga empat pokok jagung di tiap pohonnya. Bu Guru  memuji hasil panennya. Ia ditugasi menanam jagung di kebun sekolah, sebidang tanah yang masih kosong di belakang sekolah. Tak hanya jagung, ia juga menanam cabai, jahe, dan beberapa tanaman lain. Bu Guru  lagi-lagi memujinya. Ia bangga. Sejak saat itu ia tahu, baginya bertanam adalah sebuah suratan.

Sore itu langit semakin gelap sempurna. Manna, lelaki pendiam itu masih menatap halaman depan rumahnya, pada batang-batang buah naga yang kasar dan kersik berduri itu. Ia takjub, tak menyangka tanaman itu tumbuh dengan cepat. Halaman yang dulunya lengang menjadi penuh dan gelap. Tanaman itu memenuhi halamannya dengan kuncup-kuncup merah yang semakin lama semakin membesar. Sebagian dahannya menjalari pagar dan bahkan beberapa tampak mengoler melintas keluar pagar. Ia tak henti-hentinya membelalakkan mata setiap kali menatap duri-duri yang tumbuh di sepanjang dahannya. Tanaman itu tumbuh mendesak ke arah mana saja. Halaman rumahnya seolah menjadi hutan kecil yang tak terawat. Batang-batang bersilangan mengabaikan perasaan ngeri yang melapisi dirinya setiap kali menatap hutan kecil liar di hadapannya.

Ia ingat kisah yang dibaca dari buku yang dicurinya, putri raja berubah menjadi ikan setelah memakan buah merah. Ia hidup abadi dalam lautan sebagai ratu para ikan. Ia ingat hari ketika Bu Guru pergi. Bersama pendatang yang lain Bu Guru pergi ke arah sungai. Dengan terburu Bu Guru memberikan pesan padanya agar ia menanam bibit buah merah di halaman sekolah. Tanamlah tanaman berduri di halaman, agar tak lagi mudah orang-orang merusak tanamanmu. Tanaman berduri itu akan menjagamu. Bu Guru  berlari ke arah sungai dan menceburkan diri ke sungai karena kejaran orang-orang. Arus sungai sangat deras. Beberapa kali penduduk di kampung nyaris mati di batang sungai itu.

Sore semakin gelap. Manna menutup pintu rapat-rapat. Langit hitam sempurna jatuh di halaman. Ia tak pernah melupakan hari itu, hari ketika Bu Guru memintanya mengantarkan jagung pada pedagang buku loak. Bu Guru memintanya memberikan jagung pada pedagang buku sebagai ganti dari buku yang dicurinya. Guru itu mengajarimu mencuri? tanya seseorang yang duduk tak jauh dari lapak buku. Mereka memang benar-benar pencuri ulung! Tak hanya tanah dan kebun yang mereka ambil! Anak-anak kita pun mereka ajari menjadi maling!

Lelaki itulah yang mengejar Bu Guru hingga ke tubir sungai. Lelaki dengan parang terhunus yang menghabisi semua tanaman di halaman sekolah. Beberapa hari setelah hari itu, orang-orang mengejar dan menyerang para pendatang. Lelaki itu pulalah yang merusak seluruh tanaman Manna. Sejak saat itu Manna menjadi pendiam. Ia hanya bicara seperlunya saja, dan terkadang kulihat ia berbicara pada tanaman-tanamannya.

Suatu ketika ia melihat lelaki itu duduk di pinggir sungai, lelaki yang menghunus parang dan merusak tanamannya. Lelaki itu sedang menunggui baju-bajunya yang dijemur di atas semak-semak daun peniti. Manna menghampiri lelaki yang matanya setengah memejam tertidur itu dan mendorongnya ke arah mata air. Lelaki setengah tertidur itu jatuh ke arah sungai. Ia yakin arusnya yang deras membuat lelaki itu tenggelam dalam waktu sekejap. Tak pernah ada orang yang selamat di arus sederas itu. Di hilir, orang-orang menemukan jenazahnya tiga hari kemudian. Orang-orang mengatakan ia jatuh ke mata air saat ia mengejar salah satu pakaian yang tertiup angin.

Angin sore berdesir kering, menjatuhkan kelopak bunga-bunga. Sesekali buah-buah mungil yang masih rawan itu bergerak dimainkan angin. Manna menutup pintu, merebahkan diri di kasur. Ia mengambil buku cerita tentang putri raja yang berubah menjadi ikan di bawah bantal. Aku tahu, Manna mengambil buku itu saat mencurinya, dan menyimpannya di punggung, di balik kausnya yang kebesaran. Ia tidak mengakuinya di depan Bu Guru sebagaimana ia tidak pernah mengakui yang ia lakukan kepada lelaki itu. Sering ia menghibur diri, bahwa Bu Guru telah menjelma seekor ikan dan menjadi guru bagi ikan-ikan di sungai, dan lelaki itu menjadi salah satu muridnya.

Rumah Ladam, Desember 2017


Karisma Fahmi Y, lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen dan puisi-puisinya pernah dimuat di majalah Kalpadruma, harian Solopos, harian Joglosemar, majalah Papirus, tabloid Cempaka, Nova, majalah Pesona, harian Suara Merdeka, Majalah Sastra Horison, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Majalah Budaya Sagang, Buletin Sastra Pawon, Joglo. Puisi, esai dan cerpennya tergabung dalam sejumlah antologi. Tinggal di Solo. Buku terbarunya Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian (Basabasi, 2017), dan satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.

Cerpen

Bunda Menjelma Dewi Kunti

Cerpen  S. Prasetyo Utomo

Kembali Dewi Laksmi dan calon suaminya,Wisnu,  mendatangi Arum, ibu yang meninggalkannya. Arum tengah suntuk berlatih menari. Beberapa hari lagi iamesti mementaskan tari Dewi Kunti di salah satu gedung kesenian di ibu kota – dengan tiket yang sudah habis terjual. Ia yang lama meninggalkan suami dan anak-anak, bertanya dalam hati: benarkah aku telah memerankan Dewi Kunti dalam kehidupanku dengan menyia-nyiakan anak kandung? Ia merasa tidak seagung Dewi Kunti yang setia melindungi  kelima anaknya yang lain.

Permintaan penata tari Retno Ayu agar Arum memerankan Dewi Kunti dalam drama tari klasik telah mengusik perasaannya. Ia sangat mengagumi tokoh itu. Ia bisa menangis saat memerankan Dewi Kunti, saat menghadapi pertempuran dua anak kesayangannya: Arjuna dan Karna. Dewi Kunti telah menyia-nyiakan Karna dari bayi hingga akhir hayatnya.

Begitu mudah Arum memerankan Dewi Kunti, dan begitu cepat ia larut dalam jiwa Dewi Kunti. Terus-menerus ia mengulang menarikanlakonDewi Kunti, meski tanpa gamelan, di setiap kesempatan.

Berhari-hari Arum menarikan penderitaan Dewi Kunti dalam kisah kematian Karna dengan tubuh bergetar. Seluruh gerak, mimik wajah, tatapan, dan getar suara Dewi Kunti dihayatinya dengan kesempurnaan peran.

Dua hari sebelum pementasan, Arum ditemui Dewi Laksmi dan Wisnu. “Apa Bunda tak ingin kembali pada Ayah?”

Arum masih bimbang. “Aku belum bisa memenuhi permohonanmu.”

“Apa indahnya Bunda hidup sendiri?”

“Aku punya dunia sendiri. Bekerja, menari, dan menemukan teman-teman sendiri.”

“Kenapa dulu Bunda tak menuntut hal itu pada Ayah?”

“Sudahlah, jangan mengungkit masa lalu,” tukas Arum. “Nikahlah. Semoga kau tak mengikuti jejakku, setelah nikah justru mencari kebebasan masa muda yang hilang.”

Arum ingin suntuk menarikan kegetiran jiwa Dewi Kunti. Tak mau direpotkan permintaan Dewi Laksmi. Dibiarkan gadis itu dan calon suaminya meninggalkan rumahnya dengan masgul. Ia terus menari, sambil melenyapkan bayangan wajah suami, anak sulung, Wulan, dan Dewi Laksmi, yang bakal menikah tak lama lagi. Ia menari untuk memenuhi dorongan hati. Ia terus mengikuti gerak tari Dewi Kunti.

                                                            ***

Sangatlama Arum tak ziarah ke makam Nyai Laras, leluhur para penari di kampungnya. Ia terusik untuk berziarah ke makam yang berada di pekarangan belakang rumah Aji, dekat masjid. Pintu pekarangan belakang rumah Aji selalu terbuka, yang memberi kesempatan pada siapa pun untuk ziarah. Langkah kakinya terasa berat, bergetar mendekati makam yang tampak megah, terawat, dan bersih. Masih seperti dulu, bila ia berziarah ke makam Nyai Laras, berhasrat memperoleh ketenangan jiwa. Kali ini pun demikian: menebar bunga, bersimpuh, berdoa, dan menemukan kembali gairah menari.

Ketika Arum bangkit dari berdoa, masih pada pendiriannya: tak ingin kembali pada suami. Ia merasa tenang, ketika tak memikirkan suami dan anak-anak. Ia hanya berpikir tentang menari. Seperti biasa ketika ia berdoa di makam Nyai Laras, kupu-kupu kuning beterbangan di atas rambutnya. Begitu ia bangkit dari bersimpuh, ingin beranjak, segera mengurungkan langkah. Turun dari mobil di pelataran itu pemilik rumah, Aji, keturunan Nyai Laras, bergegas menghampiri Arum. Menyalaminya. Aji sangat mengenal putri bungsunya, Dewi Laksmi.

“Bagaimana kabar Dewi? Lama saya tak ketemu dia.”

“O, dia hampir nikah.”

Arum menahan kegugupan. Ia tak mungkin bertahan lebih lama, takut bila Aji  bertanya lebih lanjut tentang Dewi Laksmi. Ia tak tinggal serumah dengan anak gadisnya itu, dan tak memahami perkembangan kepribadiannya. Meski sebenarnya ia ingin tinggal lebih lama, tapi ia memutuskan untuk pulang.Arum mohon diri, bergegas meninggalkan Aji.

***

Di gedung kesenian ibu kota, sehari sebelum pementasan,Arum menghabiskan waktu seharian untuk memerankan Dewi Kunti bersama dengan pemeran Arjuna, Karna, dan Surtikanti. Ia menyelaraskan gerak tarinya dengan mereka. Ia juga menyelaraskan gerak tarinya dengan iringan gamelan. Ia mengikuti segala arahan penata tari, Retno Ayu, seorang penari sepuh yang sangat dihormati. Letih sekali tubuhnya. Tetapi ia merasakan kesuntukan menari yang membahagiakan.

Arum menari, meleburkan diri dalam jiwa Dewi Kunti.Ia melupakan suami dan Dewi Laksmi. Ia tak ingin tergoda rasa iba, membiarkan anak gadisnya memasuki gerbang pernikahannya, tanpa seorang ibu. Ia larut dalam gerak tari, ke dalam rasa berdosa Dewi Kunti, membuang bayi Karna. Ia terus menarikan keagungan seorang dewi yang dirapuhkan perasaan nista. Iringan gamelan membawanya lebur dalam derita Dewi Kunti.

Larut malam baru Arum kembali ke kamar hotel. Tubuhnya terasa letih, dan ingin cepat memejamkan mata. Tetapi selalu sajakamar hotel menciptakan keterasingan, yang membuatnya tak gampang tidur. Sepasang matanya terus nyalang.

Ketika minum teh hangat, sebelum sarapan, ia merasakan tubuh yang pelan-pelan terasa segar, meski kurang tidur. Ia masih memiliki waktu beristirahat sampai sore nanti, sebelum menuju gedung kesenian, tempat ia pentas. Di kamar hotel ia memutuskan untuk menari, terus menari, dengan iringan gamelan dari dalam hati. Ia merasa dirinya lenyap, dan yang hadir cuma Dewi Kunti. Caranya menatap, bukan lagi tatapan Arum, melainkan tatapan Dewi Kunti.

Gedung kesenian itu masih sepi, dan di belakang panggung sudah duduk bersimpuh di karpet Retno Ayu. Para penari duduk melingkar di sekelilingnya. “Menarilah seperti saat gladi resik. Temukan hakikat kehidupan kalian dalam setiap gerak tari. Ini hari pertama dari tiga hari pementasan kita. Kalau kalian bisa menyajikan pementasan yang memukau, tentu akan dikenang orang.”

Para penari menerima busana, didampingi perias. Alangkah cekatan perias mematut Arum seperti menjelma sang dewi. Arum naik panggung. Ia menari sebagai seorang ibu yang berada di tengah kancah pertempuran dua anak beda ayah yang berhadap-hadapan: Arjuna dan Karna. Tarian seorang ibu yang tak adil dalam memberikan kasih sayang. Ibu yang menikmati keagungan, mengingkari pengorbanan.

Tepuk tangan yang riuh menggetarkan gedung kesenian ketika seluruh penari memberi hormat pada para penonton, dengan bau harum bunga melati yang tertebar di atas panggung. Arum masih merasa dirinya sebagai Dewi Kunti. Lampu-lampu dinyalakan, sebagian penonton memburu ke panggung, menyalami Arum. Ia sama sekali tak merasakan letih setelah kurang tidur dan melakukan pementasan tari. Wajahnya masih segar,  bahkan mungkin lebih segar dari hari biasa. Sepasang matanya lebih cemerlang. Lebih agung.

Arum baru saja bergerak hendak turun panggung, ketika kemudian datang seorang laki-laki muda, menyalaminya, mencium tangannya. “Apa memang Bunda tega membiarkan kami nikah, tanpa didampingi seorang ibu?” suara lelaki itu tegas. Tetapi suaranyabergetar. Arum masih membiarkan tangannya digenggam Wisnu, calon suami Dewi Laksmi, yang tanpa diketahuinya menonton pergelaran tarinya.

“Sudahlah. Jangan terlalu diratapi,” balas Arum, menahan getar suara. “Akan Bunda pertimbangkan lagi untuk kembali pada keluarga. Tapi kalau saya tetap bertahan tak kembali pada Ayah, jangan kalian berkecil hati.”

Wisnu – sebagai pilot –  yang sedang tidak bertugas, memang sengaja menonton pergelaran tari Arum. Dewi Laksmi yang meminta agar menemui ibu kandungnya. Wisnu yang memahami benar perasaan calon istrinya, getir juga menghadapi sikap calon ibu mertuanya: kukuh pendirian, bukan berkemauan kembali pada keluarga.

                                                                      ***

HARI kedua pergelaran usai, di antara serakan bunga melati di panggung, Arum berharap tak bertemu seseorang yang menyeretnya kembali ke dunia lama: dunia seorang ibu yang tenang, setia pada suami. Begitu banyak orang menyalaminya dengan takjub, dengan rasa kagum dan sanjungan. Ketika para penonton sudah mulai meninggalkan gedung kesenian, ia turun panggung. Ia dihadang suami-istri setengah baya, tampak terpelajar dan santun, menyalaminya.

“Saya ayah Wisnu, calon besan Ibu,” kata sang suami, enam puluh tahun, menampakkan keramahannya. “Senang sekali bisa bertemu Ibu di sini.”

“Sudah sangat lama kami ingin bertemu Ibu,” kata si istri. “Kebetulan suami menerima tawaran sebagai pembicara di sebuah universitas siang tadi, dan berencara nonton pergelaran tari ini. Sekalian saya ikut serta.”

Tersipu-sipu, Arum hampir tak dapat mengatakan apa pun. Canggung. Terpukul. Malu. Tetapi ia mesti bersikap ramah, dan tak luruh kehilangan kepribadian. Ia tahu dari cerita Dewi Laksmi, calon ayah meertuanya seorang guru besar di sebuah universitas ternama di Yogya.

“Terimakasih, sudah bersusah payah mencari saya di sini,” balas Arum. “Titip anak gadis saya, Dewi Laksmi.”

Tak sekali pun mereka, calon besan Arum, meminta padanya agar kembali pada suami. Mereka lebih banyak menyanjung pergelaran tarinya. Kali ini ia lebih tenang, lebih riang, dan merasa terbebas dari segala harapan kembali pada suami.

Suami-istri calon besan itu mesti kembali ke hotel tempat mereka menginap, dan esok pulang dengan penerbangan pagi. Mereka meninggalkan gedung kesenian tempat pergelaran tari. Tetapi Arum masih mematung di panggung: merenungi perilakunya sendiri.

                                                              ***

USAI pergelaran tari hari ketiga, dengan penonton yang memenuhi gedung kesenian, Arum merasakan kesempurnaan pergelaran tarinya. Seluruh penari tampil dengan kesuntukan peran. Ini pergelaran terakhir. Berdiri di atas panggung, dengan tebaran bunga melati – yang kali ini membuka rasa pedih di hati – Arum merasakan keharuan seorang ibu. Ia teringat kematian Karna di pangkuannya, dengan anak panah Arjuna tertancap di dada. Kematian yang gemilang. Tetapi memilukan: anak yang disia-siakan ibu.

Beberapa orang penonton menaiki panggung, menyalami para penari. Retno Ayu, penata tari, memeluk Arum, hangat dan penuh kasih. Penata tari itu berkaca-kaca, suaranya tersendat, “Terimakasih, sudah mementaskan tari tanpa cela. Lain kali, kuajak kau pentas ke lain kota.”

Retno Ayu menyalami penari lain, dan para penonton dengan penuh kesabaran menemui Arum untuk menyalami, foto bersama, atau menyanjung. Panggung pun sepi. Lambat-lambat Arum melangkah hendak menuruni panggung. Telapak kakinya masih terasa menginjak serakan bunga-bunga melati.

Belum mencapai undak-undakan panggung, seorang gadis menyambutnya dengan uluran tangan. Menyalaminya. Mencium  tangannya. Lama. Ketika wajah gadis itu diangkat, terasa lelehan bening yang hangat di punggung tangan Arum. Wajah gadis itu terangkat pelan-pelan. Tampak sepasang matanya yang berair itu menggugatnya.

“Bunda telah menjelma Dewi Kunti,” kata Dewi Laksmi, yang tak diduga Arum, meluangkan waktu menonton pergelaran tarinya. Dewi Laksmi tak menyampaikan permintaan apa pun. Hanya tatapan matanya yang berair itu yang mengisahkan perasaannya.

Dewi Laksmi meninggalkan panggung. Melangkah ke arah pintu keluar gedung kesenian. Arum hanya memandangi punggung gadis itu. Tubuhnya gemetar. Gadis itu telah menggugatnya. Bukan menyanjungnya. ***

Pandana Merdeka, Juli 2019


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media.Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut(HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Cerpen

Terkapar

Cerpen M. Arif Budiman

Sudah hampir satu jam tubuh Pras terkapar di trotoar. Tak ada satu pun orang yang berani menyentuhnya. Orang-orang beranggapan ia telah mati. Tidak. Pras tidak mati. Ia hanya tertidur. Rasa kantuk yang mendera membuatnya tertidur seketika.

Anehnya, Pras melihat tubuhnya sendiri yang terkapar dan menjadi pusat perhatian orang. Ia duduk tertegun dengan kedua kaki dirapatkan ke dada. Ia berpikir, bagaimana mungkin semudah itu ia mengatupkan kelopak mata dan terkapar begitu saja.

Ini bukan hal pertama bagiPras.Sudah banyak cara yang dilakukan Pras untuk mengobati penyakitnya. Mulai meditasi, yoga, fitness, minum obat penghilang rasa kantuk, hingga obat pencegah katapleksi. Namun dari semuanya itu tak ada satu pun yang dapat mengatasi penyakitnya.Pras tetap tertidur dimanapun ia merasa mengantuk.

Melihat penyakit suaminya bertambah parah, Maya berinisitif untuk membawa Pras ke dokter saraf. Menurut pemeriksaan dokter,Pras terserang penyakit narkolepsi, sejenis penyakit saraf yang menyerang sistem pengaturan tidur. Penyakit tersebut membuat si penderita merasakan kantuk yang tak tertahankan. Bahkan acap kali berhalusinasi seperti mendengar suara orang memanggil.

Dari hari ke hari Prassemakin jenuh dengan penyakit yang dideritanya. Ia merasa penyakitnya sudah sangat keterlaluan mendikte hidupnya. Untuk kedua kalinya, ia putuskan mengunjungi dokter. Kali ini Pras datang sendiri tanpa ditemani istrinya.

“Saya sudah lakukan berbagai cara untuk mengobatinya, Dok. Termasuk mengonsumsi obat yang dokter berikan. Tapi hasilnya nihil. Saya masih tetap tertidur dimanapun saya berada. Ini sudahketerlaluan, seolah sengaja ingin menjatuhkan nama saya di depan publik. Bahkan saya menduga penyakit ini tengah mengincar jabatan saya di kantor. Ini tak boleh dibiarkan, Dokter. Molong sembuhkan penyakit saya ini. Saya tak ingin, karier yang selama ini saya bangun dari bawah runtuh begitu saja.”

“Saya harap Anda tetap tenang. Saya tahu apa yang harus saya lakukan. Saya akan mengobati Anda lebih serius, tapi ada syaratnya.”

“Syaratnya apa, Dok?”

“Anda harus menginap di sini beberapa malam dan tak boleh pulang sebelum saya izinkan.”

“Tapi, bagaimana dengan pekerjaan saya, Dok? Jangan-jangan ketika saya izin kerja, penyakit ini akan mengambil posisi saya di kantor.”

Dokter tersenyum, “Anda tak perlu khawatir. Saya sudah siapkan segalanya agar penyakit Anda tetap di tempat ini. Sebaiknya Anda pulang untuk mempersiapkannya.”

Esok harinya, Prasmengunjungi dokterdiantar istrinya, Maya.

“Anda sudah siap menjalani terapi?” tanya dokter.

“Siap, Dok,” jawab Pras antusias.

“Baik. Sebelum saya melakukan pengobatan, saya akan mengecek seluruh kegiatan ketika Anda tertidur. Nantinya Anda akan kami pasang alat untuk mengecek gelombang otak, napas, oksigen dan jantung Anda.”

Setelah Pras menyanggupi perkataan dokter, ia pun diajak ke sebuah ruangan.Pada awalnya Pras merasa takut dengan kondisi ruangan itu. Namun karena desakan keinginan untuk sembuh yang luar biasa dari dalam dirinya, juga desakan istrinya, ia pun menepis rasa takut itu. Ia menaiki ranjang periksa.

“Sebaiknya Anda minum obat tidur ini untuk membantu Anda cepat tertidur.”

Prasmengangguk, meski ada rasa heran di hatinya. Heran karena ia inginmengobati penyakit yangselalu tertidur, tapi malahminum obat tidur.

Setelah Pras terlelap, dokter mulai memasang alat perekam otak. Beberapa kabel penghubung mulai direkatkan pada titik-titik tertentu di kepala Pras. Mulai dari pelipis, pipi, kening, dagu hingga pangkal leher. Tak lupa selang oksigen terselip di kedua lubang hidup.

Tak butuh waktu lama, segala macam aktivitas dalam tidur Pras pun terekam oleh komputer. Diawali bangun tidur di pagi hari, mandi, sarapan, memakai sepatu, naik taksi, turun taksi, bersalaman dengan beberapa rekan kerja, naik lift, keluar lift, masuk ruang kerja, duduk santai, membuka berkas-berkas, membuka laptop, mengecek angka-angka yang tersusun dalam program exel, mengubah angka-angka itu menjadi lebih besar nominalnya, lebih besar, dan lebih besar lagi. Lantas membuka ponselnya, membaca WA ucapan ‘terima kasih’ beserta emotikon setangkup tangan, membaca laporan SMS internet banking transfer dengan nominal uang memiliki sembilan ‘nol’, kembali membaca WA ucapan ‘sayang’ dengan emotikon bibir dan sepasang daun waru merah muda, keluar kantor, naik taksi, check in hotel, masuk kamar nomor 69,check out hotel, naik taksi, pulang, bertemu Maya, dan menyembunyikan peristiwa-peristiwa. Tiba-tiba gambar pada layar komputer berhenti menayangkan frame-frame perjalanan Pras dalam tidurnya.

Seketika itu Pras terbangun. Namun kembali ia dapati melihat tubuhnya terkapar. Ia juga melihat dokter saraf dan istrinya, Maya. Dokter saraf tampak sedang mencopoti kabel-kabel pada kepala Pras, sementara Maya tampak terisak. Seusai mencopoti kabel-kabel dan selang oksigen pada Pras, dokter sarafdengan dibantu Maya membopong Pras ke kursi roda dan memasukkan ke dalam mobil. Mereka membawa tubuh Pras pergi membelah malam.

Di sudut kota, dokter dan Maya menurunkan Pras di trotoar dan meninggalkannya begitu saja. Pras mencoba memanggil mereka, tapi sia-sia. Pras tertegun melihat tubuhnya sendiri. Ia tak habis pikir mengapa merekaseperti tak memedulikannya. Pras mencoba membangunkan tubuhnya, tapi tak bisa. Hingga pagi, tubuh Pras masih terkapar di trotoarmenjadi perhatian pengguna trotoar, namun tak ada satu pun orang yang mencoba membangunkannya. Pras tak bisa kembali ke tubuhnya. Ia tak tahu doktertelah menyuntikkan arsenik ke dalam tubuh Pras atas permintaan Maya.

***

Kudus, Maret 2018


M.Arif Budiman, lahir di Pemalang 5 November 1985. Suka menulis puisi dan cerpen. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Sekarang menetap di Kudus.

Cerpen

Cinta Terlarang

Cerpen Anggoro Kasih

Aku membuka jendela kamar hotel, membiarkan angin yang dibawa oleh pekat malam masuk membelai tubuhku. Kulihat bulan bulat sempurna berwarna perak seperti mata serigala, bertengger mesra di langit malam tanpa bergerak seperti terperangkap dalam bingkai jendela. Kupandangi bulan itu beberapa saat. Sebagai pengganti rasa gelisahku menunggu pujaan hatiku yang tak juga kunjung tiba.

Kini aku membaringkan tubuhku di tempat tidur. Kunyalakan televisi sekadar mengusir sepi. Aku sudah menutup jendela dan membiarkan bulan perak berada di luar sana sendirian. Sudah pukul sebelas malam. Tak ada lagi kabar darinya selain pesan yang dia kirimkan sekitar satu jam yang lalu “Sabar ya, aku pasti datang menemuimu.”

Aku cemas memikirkannya. Ingin sekali aku mengirim pesan atau menelepon untuk mengobati rasa cemasku. Namun selalu urung. Pikiranku berkecamuk, mungkin dia sedang mencari alasan kepada istrinya agar bisa pergi. Mungkin juga dia sedang meninabobokan anaknya. Maklum, anak keduanya masih berusia balita. Atau mungkinhal buruk terjadi; istrinya memergoki obrolan mesraku dengannya dichatt roomWhatsApp. Untuk yang terakhir ini, aku selalu mengingatkan dia agar menghapus obrolan kami begitu menemu ujung percakapan. Tapi aku tahu dia sering teledor dan pelupa. Semoga saja ini hanya prasangka burukku. Semoga saat ini dia sedang sibuk menyetir, membelah jalanan macet yang memang selalu padat di malam minggu seperti sekarang untuk menuju ke sini.

Aku mengganti saluran televisi berkali-kali. Berharap menemukan acara yang tepat untuk mengusir rasa gelisahku, namun gagal. Akhirnya aku beranjak dari tempat tidur, berjalan mondar-mandir seperti induk ayam kehilangan telur. Sementara ponselku masih saja diam tak bersuara. Aku benar-benar benci situasi seperti itu. Kenapa untuk melepas rindu saja begitu merepotkan? “Arrghh.” Aku menggerutu pelan.

Kamar hotel ini berukuran delapan kali delapan, dilengkapi fasilitas lengkap layaknya hotel bintang lima. Mungkin sudah tiga kali aku memesan hotel ini untuk melepas rindu dengannya. Namun bukan di hotel ini saja kami biasa bercinta. Kami sering pindah-pindah hotel untuk menghindari terbongkarnya perselingkuhan kami. Sebagai direktur perusahaan yang cukup punya nama, aku bisa saja sewaktu-waktu bertemu dengan client atau kenalan. Seperti dua minggu lalu saat aku berjalan dengan kekasihku menuju kamar yang telah kupesan, aku bertemu dengan rekan bisnisku.

“Sedang apa Anda di sini?” pertanyaan itu keluar usai kami bertegur sapa dan berjabat tangan.

“Biasa, urusan bisnis,” jawabku enteng. Lalu aku mengenalkan kekasihku. Tak ada sedikit pun kecurigaan yang muncul dari raut wajah rekanku. Dia memang belum tahu banyak mengenai diriku, terlebih tentang hubunganku dengan kekasihku. Tentang hal itu, tentu saja aku bersyukur.

Semenjak kejadian itu, aku dan Dudut, begitu biasa aku memanggil kekasihku, memutuskan untuk tidak berjalan bersamaan saat masuk dan keluar hotel. Dudut menangbukanlah nama aslinya, melainkan panggilan sayangku padanya. Kupanggil demikian karena dia gendut. Namun aku tak pernah mempermasalahkan itu hinggamenyuruhnya untuk diet. Bagiku gendut itu lucu, dan yang terpenting, sangat hangat untuk kupeluk. Sampailah waktunya banyak orang yang mencurigai hubungan kami, dan karenanya kami sering mendengar desas-desus yang beredar tentang kisah asmara kami. Karena aku dan Dudut sudah sama-sama berkeluarga, maka semenjak itu, kami memutuskan untuk bermain lebih hati-hati.

Seperti sungai yang berhulu, kisah ini juga berawal. Aku mengenal Dudut dari temanku bernama Widy. Saat itu semua berjalan wajar dan biasa. Saat itu aku sedang merasakan sakit hati hingga menenggelamkanku pada lautan derita yang kelam. Kekasihku sebelumnya saat itu bilang kalau hubungan kami harus berakhir. Seperti seorang pejalan yang terjerembab ke dalam lubang hitam secara tiba-tiba. Aku kaget dan tidak bisa terima. Ketidakterimaan itu terasa menyakitkan, terlebih karena datangnya tiba-tiba hingga aku sulit menerimanya. Sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiranku hal itu akan terjadi. Widy adalah orang pertama yang menenangkanku. Memberiku semangat untuk perlahan bangkit dari lubang hitamku. Saat itu aku seperti manusia tanpa harapan. Manusia yang selalu mencoba memungkiri kenyataan hingga hanya menyisakan kepedihan.

Ombak akan terus bergulung dan kisahku juga terus berjalan. Selain Widy, juga ada Dudut yang sering menemaniku selama dalam masa remuk, dia ada  membawa air dan udara sejuk. Aku merasa bersyukur karena memiliki mereka, terlebih Dudut, karena itu aku dan Dudut menjadi dekat, bahkan hubungan kami menjadi mesra.

“Kamu jangan terlalu dekat dengan Riben. Lebih baik kau menjauh dia,” ucap Widy padaku. Riben adalah nama asli Dudut. Saat aku mencari tahu alasan kenapa aku harus menjauhi Riben, Widy menjawab kalau Riben telah jatuh hati padaku dan hal itu katanya bisa membuatku tidak jadi lepas dari dunia kelam yang saat itu dia nilai mulai kulepaskan.

***

“Kamu sudah lama? Maaf aku baru selesai mandi. Habisnya kamu gak ada kabar,” ucapku usai membuka pintu.

Tanpa banyak kata, Dudut masuk dan memelukku erat, dia mendekapku seperti seorang tuan yang takut burung merpatinya lepas. Sementara tangannya sibuk memeluk dan membelaiku, dia gunakan kaki kanannya untuk menutup pintu.

“Aku rindu,” ucapnya manja di samping telingaku. Handuk yang kugunakan juga sudah terlepas. Bibirnya kini menyapu daun telinga dan leherku. Dia seolah tak mau melewatkan setiap incinya. Sementara tangannya sibuk membelai dan meremas dadaku. Tangan itu perlahan turun, menepuk pelan bokongku. Kurasakan bibirnya semakin liar bermain. Lidah kami beradu. Dia memang pandai memancing dan membuat nafsuku bangun dan berapi.

Hanya ada suara televisi dan nafas yang beradu. Tidak lagi terasa dingin udara AC meski kami sudah sama-sama telanjang. Justru tubuhku terasa panas saat tangan Dudut dengan gemas mamainkan kemaluanku. Aku dibuatnya malayang.

“Lakukan cepat, aku sudah tak tahan lagi,” ucapku yang lebih terdengar seperti desahan yang mengemis.

Perlahan, kemudian cepat dan semakin cepat si jagoannya menusukku. Menghentak-hentak, membuatku menjerit pelan beradu dengan suara decitan tempat tidur. Tubuhnya rebah di sisiku setelah senjatanya memuntahkan hasratnya.

“Aku sayang kamu,” ucapnya usai mengecup keningku. Kami tidur berhadapan. Tanganku membelai wajahnya. Ingin sekali kubawa wajah itu kemana pun aku pergi.

Pekat semakin mengikat malam gelap. Aku berdiri menghadap ke luar jendela, memandangi bulan bulat perak masih berada di tempat yang sama seperti enggan pergi. Rasanya aku juga ingin seperti bulan itu. Berada di sini bersama Dudut lebih lama lagi. Namun itu jelas tidak mungkin. Hidup memang sering menyebalkan. Usai merapikan kemejanya, Dudut memelukku dari belakang. Aku tahu dia juga ingin berada di dekatku lebih lama. Tapi kami tahu sama tahu, kami harus segera pulang, karena istri kami sama-sama telah meninggalkan banyak riwayat panggilan di ponsel kami masing-masing.

***


Anggoro Kasih, lahir dan menetap di Karanganyar, Jawa Tengah. Pernah menuntut ilmu di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia UNS. Sekarang aktif di Komunitas Sastra Kamar Kata.

Cerpen

Jika Ada Cara Termanis untuk Mati

Cerpen Marcelina Chintia Devi

Jika ada cara termanis untuk mati, aku pasti akan memilihnya. Hanya saja, mengatur kematian nyatanya adalah sebuah kepahitan. Semua baju-bajumu kulipat rapi di lemari, barangkali kau akan pulang sebentar, untuk mengambil sisa-sisa barangmu. Secangkir kopi dan sepiring roti bakar, mungkin sudah berjamur, aku masih menunggumu untuk menghabiskan sisanya. Maaf jika ada beberapa barangmu tak kau lihat tampak di kamarmu atau rumah kita ini, sebagian kubuang, tak lama setelah kau memutuskan pergi dari rumah ini.

Awalnya kukira semua sempurna. Kau yang saat itu masih mahasiswa semester awal, begitu aktif di berbagai kegiatan kampus, hingga bertemulah kita di lapangan basket itu. Kau tidak memiliki sanak saudara di kota ini, dan toh aku sendirian di rumahku sepeninggal orangtuaku. Kutawarkan satu kamar di rumahku, dengan biaya yang tak semahal kosan yang lain. Aku tahu kau tak cukup mampu untuk membayar kos, maka tanpa pikir panjang kau mengiyakannya.

Lantas banyak waktu kita habiskan bersama. Di antara anak-anak kos yang lain kau yang paling menarik perhatianku, menurutku. Kau tak banyak bicara, tak seperti yang lain selalu meriuh sampai tengah malam. Bahkan mereka baru pulang tengah malam, sambil menggandeng perempuan masuk ke kamar. Erangan-erangan menjelang pagi selalu saja kudengar. Tanpa merasa bersalah mereka yang masih berbalutkan selimut melingkar di badannya yang telanjang duduk di ruang tamuku sembari merokok. Aku tidak suka dengan sisa-sisa abu yang berjatuhan di mana-mana. Kau selalu membantuku bersih-bersih keesokan harinya.

Kau yang paling sering mengantarku pergi, mungkin karena kau hampir setiap hari di rumah. Seringkali aku menyapu halaman atau menyiram tanaman-tanamanku diiringi biolamu yang terdengar sendu dari luar kamarmu. Kau bantu aku mencuci mobil, memperbaiki semua barang yang rusak, dan kau sangat menghormati aku. Ketika anak kos yang lain tidak betah dan beranjak pergi dari sini, hanya kau yang akhirnya tetap tinggal. Seringkali kau menceritakan sanak saudaramu jauh di sana, dan aku tahu, kau adalah anak kesayangan bapakmu.

Empat tahun berlalu, kukira semua baik-baik saja, sampai suatu waktu kau hampir tak pernah pulang selama sebulan. Akukhawatir, kesepian, rinduku memuncak. Kau bilang sedang urus skripsimu, mungkin butuh waktu untuk menyelesaikannya. Aku pikir itu hal yang biasa, tapi kemudian ada hal yang berbeda kutemukan di kamarmu. Dengan kunci serep kubuka kamarmu, dan tentu saja yang sudah sering kulakukan, membelai-belai bantalmu, atau memeluk gulingmu sampai tertidur. Saat aku menciumi baju-bajumu, aku mencium aroma yang lain. Kamarmu yang biasanya selalu rapi, kali ini berantakan dan tak beraturan. Ingin rasanya aku merapikannya, dan mencucikan semua bajumu, tapi nanti kau akan tahu, aku sering masuk kamarmu.

Suatu malam, ketika aku setengah terbangun, kudengar langkah kakimu, tetapi tidak sendiri. Tampak lirih suara perempuan berbisik, jantungku terasa berhenti, kutahan untuk tidak menangis, dan kugenggam erat guling di kamarku.Sesak napasku setiap kali mendengar erangan itu, semakin malam semakin keras. Kudengar deru napasmu menikmati perempuan itu, membuatku semakin tegang mengerang, namun di sisi lain, hancur pula hatiku. Teringat setiap kali tanpa kau sadari, aku mengintipmu dari lubang jendela yang jarang kau tutup tirainya, kau tidur hampir telanjang, aku bisa melihatmu sepuasnya kala itu, atau ketika terdengar nyanyianmu ketika mandi, membuatku tak sungkan menikmatinya sembari mengintip dari kamar mandi sebelah. Aku hancur, dan aku menyadari, tak lama lagi kau akan pergi.

Pagi itu, dengan mata sembab, aku mencoba keluar kamar, dan mendapatimu duduk di ruang tamu, bersama seorang perempuan yang tersenyum di pelukanmu. Perempuan macam apa itu, tidak pulang dan malah menginap di kamar kosan laki-laki, mengerang sepanjang malam, dan merebut semuanya dariku dalam sekejap. Dikenalkannya dia sebagai pacarmu. Aku mencoba tersenyum, meskipun aku tahu, semakin aku melihatmu bahagia, semakin tajam pisau menancap di jantungku.

Sebulan kemudian kau pamit padaku, kau bilang skripsimu sudah selesai, dan kau sudah serumah dengan perempuan jalang itu, mungkin dalam waktu dekat kalian akan menikah. Kau peluk aku untuk pertama dan terakhir kalinya, aku mencoba untuk melakukan pelukan formalitas menyambut hangatnya badanmu, meskipun ingin rasanya aku memelukmu lebih lama dan erat.

Kucetak dan kukumpulkan semua foto-fotomu yang diam-diam kuabadikan, setiap malam aku memandanginya, sambil sesekali kulepaskan semua penat dan nafsuku semalaman. Beberapa lembar bajumu yang mungkin kau rasa hilang sebelum kaucuci, kujadikan teman tidurku setiap hari. Kali ini semua sudah kucuci, dan kubereskan, kuletakkan di meja kamar ini dengan rapi. Foto-foto itu untuk kamu, barangkali istrimu mau menyimpannya.

Sudah lama aku memendam perasaan ini, seperti halnya aku memendam jati diriku sebenarnya. Kucoba untuk menghindar dari diriku sendiri. Perempuan-perempuan yang nyatanya setiap hari selalu dating di rumahku, yang membuatmu dan teman-teman kosmu dulu menganggapku hebat dengan seringnya membawa mereka pulang bergantian, toh mereka semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang coba kucari jawabannya. Meskipun aku tahu jawabannya, dan jawabanku adalah kamu.

Tidak mudah bagiku untuk memahami diriku sendiri, bahkan meskipun aku semakin lama semakin meyadari siapa aku ini. Jika pendapat masyarakat tidak berbeda dengan cambukan keras bapakku ketika melihatku memakai rok kakakku, untuk apa aku mengakuinya, dan itu berat. Menahan keinginanku untuk memelukmu setiap kali kau tertidur dengan pintu terbuka, atau melihatmu keluar kamar mandi seenaknya dengan berbalut handuk kecil di kemaluanmu, lantas aku harus segera berlari ke kamar untuk melepaskan semua, kamar yang tak pernah dibuka oleh siapapun, bahkan perempuan- perempuan jalang itu.

Aku sudah selesai, dan tidak mau tersiksa seperti ini, jika manusia sepertiku ini tidak bisa menjadi apa adanya, kenapa aku diciptakan? Lantas aku hanya akan membawa luka yang tertoreh sepanjang waktu,dan cintaku padamu hanyalah angan tak bermakna.

Maka, jika kau merasakan pahit yang sama, minumlah kopi itu bersamaku.

***

Selesai kubaca surat itu, ada perasaan ngeri sekaligus kasihan yang kurasakan. Sembari mencari-cari apalagi yang bisa kujadikan barang bukti, sementara menunggu tim yang lain datang untuk mengevakuasi mayat itu. Miris rasanya, melihat lelaki setampan itu, hanya terduduk kaku di kursi samping tempat tidur, dengan tubuh telanjang dan mulut berbusa.Nampaksemua barang-barang di rumah itu sudah tertata rapi, seolah dipersiapkan untuk menyambut kunjungan kami, atau entah siapa yang dia harapkan datang.

Tak berapa lama beberapa lelaki datang, tetap dengan tenang namun tampak haru, mencoba melihat kondisi kamar tersebut. Kuberikan surat itu kepada mereka. Sejenak mereka membacanya, berubahlah raut muka mereka dengan tajam, dan seorang yang paling muda di sana, yang tinggi besar dan berwajah pemalu, tanpa berpikir panjang langsung lari keluar rumah dengan pandangan nanar dan jijik.

***


Marcelina Chintia DeviLulusan S1 Arsitektur UNS dan S2 Magister Perencanaan Arsitektur Pariwisata (MPar) UGM. Berporses bersama beberapa teman membentuk studio arsitektur bernama oarchstudio, dan bekerja paruh waktu di Yayasan Rumah Karya Kreatif Indonesia sebagai pendamping dalam perencanaan kawasan Desa Wisata Plumbon, Tawangmangu, Karanganyar.

Cerpen

Otok-Otok dan Suara Seorang Perempuan dalam Kepala Gustam

Cerpen Erwin Setia

Sepulang dari kantor, Gustam melewati pinggir pasar, ia mendapati seorang anak memegang otok-otok dan seketika masa lalu membayang di kepalanya.

Masa itu belum terlalu jauh. Belum lebih dari lima belas perputaran bumi terhadap matahari. Tapi rasanya sudah tak bisa digenggam. Sudah jauh lepas dan mengingat-ingat tak membuatnya lantas kembali di genggaman.

Pada usia lima sampai tujuh tahun, Gustam suka ikut dengan ibunya pergi ke pasar. Ia turut ke pasar bukan untuk berjumpa dengan penjual daging yang genit kepada ibu-ibu muda atau untuk mendengar suara serak preman pasar yang napasnya berbau tak sedap—belakangan ia tahu itu aroma minuman keras. Ia mau ikut ke pasar, merelakan diri bangun lebih pagi dari biasanya, hanya untuk melihat-lihat aneka mainan. Syukur-syukur jika ibu berbaik hati membelikannya.

Salah satu mainan yang paling terkenang di benak Gustam adalah otok-otok. Sebuah mainan berbentuk kapal yang terbuat dari bambu atau kaleng. Ketika dinyalakan—lazimnya dengan bahan bakar minyak kelapa—mainan itu akan bergerak di atas air dan menimbulkan bunyi otok-otok. Bunyi itulah yang kini memenuhi kepala Gustam.

            “Apa bagusnya mainan itu, Gustam?”

            “Suaranya lucu, Bu. Bentuknya juga keren. Lihat cara benda itu bergerak. Seperti kapal laut di tv.”

            “Itu hanya mainan. Sebentar lagi juga ia akan berhenti bergerak. Lalu kamu bosan dan tak memedulikannya lagi.”

            “Tidak, Bu. Lihat, ia terus bergerak. Bergerak dan berbunyi unik.”

            “Baiklah. Bang, saya beli otok-otoknya satu.”

            “Wah. Terima kasih, Bu. Aku senang. Aku pasti tidak akan bosan bermain dengan otok-otok ini.”

Percakapan itu, dengan gambaran ibu, otok-otok, dan suasana pasar menjadi latar bagi lamunan Gustam pada sore yang gerah itu. Ia tak ingat sudah berapa lama tak melihat kapal mainan itu—sebelum kemudian melihatnya lagi saat ini. Ia juga tak tahu di mana otok-otok pembelian ibunya—otok-otok pertama sekaligus terakhirnya—kini berada. Apakah dulu mainan itu rusak lalu ayah buang bersama rongsokan lain atau hilang di suatu tempat atau masih teronggok di suatu gudang. Ia tak benar-benar tahu. Dulu, setelah otok-otok, beragam mainan lain muncul menggantikan. Mobil mainan, kereta mainan, pistol mainan, dan begitu banyak mainan lainnya. Otok-otok pun terpendam dan terlupakan. Persis dengan hal-hal lain apa pun di dunia ini. Tidak pernah ada yang bertahan terlalu lama. Karena dunia bergerak begitu cepat dan perubahan begitu kejam melindas hal-hal silam.

Gustam tersadar dari lamunannya ketika seorang gadis menegurnya.

            “Hai, kamu sedang mikirin apa?”

Gadis itu adalah rekan kerjanya. Alena. Ia berdiri di depan Gustam dengan kepala dimiring-miringkan seakan sedang meneliti apa yang terjadi pada diri Gustam sehingga ia terdiam begitu lama.

            “Oh, Alena. Tidak. Hanya hal kecil.”

            “Apa itu?” tanya Alena, masih dengan pandangan menyelidik.

            “Otok-otok. Kau tahu otok-otok?”

            “Ah, iya, aku tahu. Tapi aku lebih suka boneka barbie.”

            “Dulu ibuku pernah membelikanku otok-otok. Kemudian tak sengaja tadi aku melihat seorang anak kecil memegang otok-otok. Dan tiba-tiba saja pikiranku terlempar ke masa lampau. Semacam itulah.”

            “Kau suka bernostalgia, ya?”

            “Tidak juga. Hanya saja, ingatan-ingatan semacam itu memang sulit dicegah.”

            “Kau benar.”

Setelah ucapan pendek Alena itu, keduanya tampak seperti sepasang manusia yang dikutuk menjadi patung. Hanya diam dan nyaris tak berkedip. Saat sebuah becak yang membawa buntalan sayur hendak lewat dan sang penarik becak berteriak menghardik dua orang yang mengganggu jalannya itu, barulah Gustam dan Alena tersadar. Keduanya meminta maaf secara spontan dan berpindah ke tempat yang lebih tepat. Lebih tepat untuk ditempati dua orang yang tampaknya punya cukup waktu luang untuk sekadar bercakap-cakap atau mengamati hiruk-pikuk sore hari.

Di atas kursi halte, mereka duduk, dan mulai berbincang.

            “Rumahmu tak jauh dari sini?” buka Alena yang kelihatan tak nyaman jika hanya berdiam-diaman saja.

            “Satu kali naik angkot lagi, sampai.”

            “Aku juga. Jangan-jangan kita tetanggaan?”

            “Aku naik angkot ke arah barat. Kamu?”

            “Aku ke arah timur. Sayang sekali. Kupikir kita bisa lebih lama bersama dan melanjutkan percakapan di dalam angkot.”

            “Kamu suka ngobrol seperti ini dengan semua orang?”

            “Enggaklah. Malah aku ini sebetulnya pendiam. Memangnya kau tak memperhatikanku sewaktu di kantor. Aku tidak banyak omong, tahu.”

Gustam diam sesaat dan berusaha mengingat bagaimana Alena ketika di kantor. Memang, dibanding perempuan-perempuan lain di kantor, ia jarang mendengar suara Alena. Alena tak terlalu mencolok kalau dibandingkan dengan rekan-rekan perempuannya yang cerewet dan berisik seperti mesin diesel.

            “Entah. Aku memergokimu melamun dan tiba-tiba saja tebersit untuk menyapamu dan membangun percakapan-percakapan. Boleh, kan?”

            “Oh iya. Tentu saja,” kata Gustam sedikit tergeragap.

            “Kau mau tahu sesuatu?”

            “Apa?” Gustam mencoba untuk terlihat antusias. Ia tidak ingin membuat siapa pun merasa tak enak hati.

            “Aku suka membaca cerpen. Pagi tadi aku membaca cerpen tentang seorang lelaki yang bertemu dengan perempuan yang seratus persen sempurna. Kau percaya ada perempuan yang seratus persen sempurna?”

Gustam berpikir sejenak. Tidak ada gambaran apa-apa di benaknya menyangkut perempuan selain rona ibunya. Ibunya yang sudah beranjak tua dan sakit-sakitan. Tiba-tiba rasa rindu menyambar dirinya. Mungkin pada akhir pekan ia akan pergi ke rumah ibu, mencium tangannya yang berkerut, dan meminta maaf atas segala kesalahannya.

            “Hei, mengapa kau malah diam?” Alena menepuk bahu bidang Gustam. Gustam terlonjak bagai orang yang baru terjaga dari tidur nyenyak. “Hobimu melamun, ya?”

Gustam menggeleng-gelengkan kepala, mengusap matanya, dan meminta Alena untuk mengulang perkataannya.

            “Kau percaya ada perempuan yang seratus persen sempurna?”

            “Sempurna?”

            “Ya.”

            “Memangnya di dunia ini ada sesuatu yang sempurna?”

Mendengar kalimat itu, Alena tergelak. Ia meminta Gustam untuk melupakannya saja. Ia lalu bertanya apakah Gustam juga suka membaca cerpen. “Kadang,” jawab Gustam. Kemudian Gustam bercerita bahwa baru-baru ini ia membaca sebuah buku kumpulan cerpen. Dalam salah satu cerpen di buku itu, Gustam ingat betul satu penggalan kalimat, yang kira-kira berbunyi begini: Tapi tak pernah ada penderitaan terakhir. Kau tahu itu.

Alena tergelak lagi. “Kau ini aneh, ya. Aku sedang bicara tentang kesempurnaan. Kau bicara tentang penderitaan.”

Gustam tersenyum tipis. Ia agak malu. Ketika tadi Alena bertanya tentang cerpen, yang terlintas di benaknya memang hanya sebuah cerpen—tepatnya sepotong kalimat dalam cerpen—yang berisi tentang penderitaan. Ia tidak mungkin bisa mengendalikan pikirannya. Pikiran-pikiran semacam itu selalu bekerja di luar kendali.

Sebuah angkot berwarna merah tua dengan bagian bemper sebelah kiri sedikit penyok melintas dan berhenti. Alena bangkit. Ia pamit kepada Gustam dengan sebuah senyuman dan lambaian tangan. Ketika angkot yang ditumpangi Alena sudah berjalan kembali dengan meninggalkan kepulan asap kelabu, seorang ibu bersama anaknya duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Alena.

Anak itu menggenggam otok-otok. Ia mengangkat mainan itu dan menggerak-gerakkannya seolah-olah udara adalah air sambil menimbulkan bunyi otok-otok dengan mulutnya. Berulang-ulang. Tok-otok-otok-otok-otok...

Gustam memperhatikan gerakan anak itu dan dengan khidmat mendengarkan tiruan bunyi otok-otok yang dibuatnya. Ia membayangkan anak itu dan ibunya sebagai dirinya dan ibunya di masa lalu. Ia senang membayangkan itu. Dan ia akan lebih senang jika kemungkinan bahwa masa lalu indah semisal itu dapat terulang. Tapi tak pernah ada masa lalu yang terulang. Ia tahu itu. Sama seperti tidak ada hal yang sempurna dan tidak ada penderitaan terakhir.

Sebuah angkot berwarna merah tua kembali melintas dan berhenti. Ibu dan anak yang menggenggam otok-otok itu beranjak menaiki angkot. Suara musik dangdut dari angkot itu keras sekali. Begitu angkot itu kembali berjalan dan sayup-sayup suara perlahan menjauh, Gustam merasa seperti seorang penduduk bumi terakhir yang ditinggal para penduduk lain yang sudah pergi ke mars. Sendiri dan sepi.

Waktu menunjukkan pukul setengah lima. Sudah cukup sore. Tapi angkot yang ditunggunya belum juga tiba. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Setengah jam.

Ia bangkit dan memutuskan berjalan kaki sambil menanti angkot lewat. Anggaplah pada langkah keseratus sembilan puluh sembilan atau kedua ratus, angkot berwarna biru telur asin melintas. Tapi Gustam memilih untuk terus berjalan kaki. Sementara kakinya melangkah, bunyi otok-otok dan suara lembut Alena sedang bercokol di dalam kepala Gustam. Dan ia tak ingin suara-suara itu berakhir.***

Bandung, 1 Mei 2019


Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos,Haluan, Koran Merapi, Padang Ekspres, dan Detik.com. Cerpennya terhimpun dalam Dosa di Hutan Terlarang (2018). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Berakhirnya Kuasa Tuan Tanah

Cerpen Ken Hanggara

Tuan Markoni memberiku segenggam tanah untuk kubawa pulang. Orang-orang di teras rumah mewah itu menatapku gembira. Aku tak bisa berkata apa-apa. Bukan karena tak mampu melawan, melainkan terlalu banyak lelaki bertubuh kekar berdiri mengawal tuan tanah keparat itu. Akhirnya, aku mundur. Pulang, meski jelas semua tahu entah ke mana aku bisa pulang. Satu-satunya yang terlintas di benakku adalah rumah Sapono.

Rumah itu terletak di tepi desa, dekat sebuah hutan dan jurang yang semenjak dulu dikabarkan sebagai titik terkutuk; iblis dan sekutunya kerap bercengkerama di jurang itu. Tidak sedikit orang mencari harta dan kuasa di bagian tergelapnya. Entah sejak zaman apa jurang dan hutan itu dianggap keramat dan entah berapa banyak orang yang sudah membuktikan. Orang-orang desa sendiri tak tahu. Mereka hanya berkata, “Sapono yang tahu tentang itu.”

Aku sendiri mengenal Sapono sejak masih kecil. Setahuku, dari dulu hingga kini dia tampak seperti itu-itu saja. Tahun demi tahun menggiringku ke kedewasaan. Wajah Sapono tetap sama seperti saat aku pertama kali melihatnya.

Tidak ada orang yang dekat dengan Sapono. Orang kerap bercerita yang aneh-aneh tentangnya, meski tidak ada bukti. Seperti tentang keluarga yang dia miliki, yang hilang tidak tentu rimbanya di hutan tersebut karena sebuah ritual sesat, namun tidak pernah ada usaha dari Sapono untuk mencari mereka. Versi lain mengatakan, dia menjadikan anak istrinya tumbal agar bisa hidup abadi. Tuduhan ini agak lebih mendekati masuk akal. Pasalnya, seperti yang sudah kubilang, wajah Sapono seakan terkurung oleh waktu; tak berubah bahkan mungkin hingga kiamat tiba nanti.

Jika kini seseorang memotretku dan Sapono yang sedang duduk berdua, barangkali siapa pun yang melihat hasil potretnya akan menganggap kami seumuran. Tentu saja dia jauh lebih tua dariku. Aku sendiri tak pernah tahu bagaimana wajah istrinya dan juga tak pernah memiliki kenangan apa pun tentang seorang Sapono yang berkeluarga. Bagiku dan teman-teman sepantaranku, sedari dulu Sapono sudah terkenal sebagai lelaki tidak waras yang penyendiri.

Dulu, aku dan teman-teman suka menjadikan Sapono bahan ledekan, sebab mengira dia gila. Tapi, kami tak melakukannya di depan yang bersangkutan. Kami akan bersikap sopan dan tenang saat Sapono sang pendiam melintas, lalu menjadikannya bahan-bahan cerita humor yang kami buat sendiri begitu dia sudah sampai di jarak yang kiranya tidak bakal bisa mendengar ledekan kami. Jujur saja kisah-kisah kami tentang Sapono sangat keterlaluan, sehingga ketika usia kami sudah cukup disebut remaja, aku merasa sangat berdosa padanya, dan berhenti melakukan itu, meski sebagian teman masih saja gemar meledek Sapono di belakang.

Sayangnya, perjalanan hidup yang tak mulus membuatku jarang lagi bisa bersama teman-teman. Waktu itu orangtuaku tak bisa berbuat apa-apa selain berutang ke seorang tuan tanah sekaligus lintah darat, Tuan Markoni, untuk menumpas penyakit aneh yang menggerogoti Ibu. Itu terjadi dua puluh tahun lalu. Ibu tidak sembuh. Dokter jelas tak bisa mencoba usaha lain karena tidak ada lagi yang bisa dipinjam dengan catatan utang dan bunga yang terlalu menumpuk. Ayahku, meninggal dalam lelah dan putus asa.

Suatu ketika, saat tiap anak lelaki berlomba-lomba mencari perempuan, aku malah bekerja susah payah dari pagi hingga larut malam di pabrik pengolahan limbah milik Tuan Markoni. Gajiku sebagian besar dipotong guna mencicil utang pembiayaan ibuku dulu, sedangkan sedikit sisanya kupakai untuk makan seadanya. Dalam situasi semacam itulah, kedekatanku dengan Sapono mulai terjadi.

Awalnya, aku menangis sendiri di tepi hutan dengan pikiran-pikiran akan mengajak iblis bersekutu demi memberiku kekayaan. Bagaimana tidak? Aku sudah buntu akal. Di tahun ke tujuh belas semenjak aku mengabdi pada tuan tanah itu, utang-utang kami tak juga dianggap lunas, padahal menurut hitunganku, utang kami sudah lunas sejak lima tahun lalu. Bunga yang terlalu gila dan tak masuk akal, yang terus berkembang dengan sesuka perut sang tuan tanah, menjadikanku tidak henti diperdaya, entah sampai kapan. Demi melihat teman-temanku telah menata hidup mereka, sedang aku sendiri entah tak ada yang tahu akan berakhir seperti apa, ingin rasanya aku bersekutu dengan iblis dan lepas dari jerat lintah darat itu.

Aku belum benar-benar memasuki bagian tergelap jurang dan hutan ketika Sapono tiba-tiba menyapa dan mengajakku pulang ke rumahnya. Entah bagaimana dia mengerti perutku lapar. Dia menyuruhku makan sampai tidak mampu lagi menelan makanan. Dia bahkan memberiku uang untuk bekal sepekan ke depan.

Aku tidak tahu cara membalas kebaikan orang, karena sepanjang hidupku tidak ada orang yang benar-benar berbuat baik padaku, kecuali Sapono. Maka, sering kali, di saat lelah dan tak ada pekerjaan di pabrik, aku pergi ke rumahnya. Sekadar menemani lelaki itu memandangi pepohonan liar dari belakang rumahnya. Kadang, kami duduk di depan televisi butut yang tak bisa lagi dinyalakan dan berbicara sepatah dua patah kata tentang hal-hal di luar sana; tentang perkotaan, tentang manusia modern, tentang politik, tentang apa pun. Tapi, tak pernah membahas diri kami sendiri. Karena itulah, meski mulai dekat dengan Sapono, aku belum juga tahu kebenaran tentang dia. Aku pun juga tak kepikiran untuk bertanya padanya.

Suatu saat, Sapono bertanya, “Kamu percaya yang orang bilang tentangku?”

Aku tak bisa menjawab, namun dia memberikan sedikit gambaran bahwa yang tiap orang sampaikan di luar sana tak sepenuhnya benar. Sapono tak memberikan penjelasan secara mendetail, tapi aku pernah melihat boneka berdebu di sudut ruang tengahnya. Di dapur aku juga pernah melihat celana dalam wanita dewasa yang sudah sangat kumal, yang dialih-fungsikan menjadi kain pel. Dengan pemandangan macam itu, kuasumsikan jika dulu Sapono benar pernah berkeluarga dan memang betul keluarganya kini tak lagi hidup bersamanya; entah apa yang terjadi, aku tak pernah ingin bertanya.

Suatu kali yang lain, Sapono bertanya, “Kamu ingin menjadi kaya?”

Tentu kujawab, “Ya, agar dominasi Markoni berhenti sesegera mungkin!”

Kukatakan padanya kalau selama ini Tuan Markoni memang sengaja memperdaya diriku (dan beberapa orang malang lainnya, kukira) agar bisa memberinya pundi-pundi uang selagi dia terus memeras uang dari siapa pun yang berutang padanya. Bahkan ada pula rumor yang mengatakan, selain memiliki pabrik biasa, dia juga mengatur judi-judi tertentu di tempat paling strategis di kota, sehingga bisa dibilang dialah orang terkaya di desa sekaligus paling berkuasa, meski tidak memiliki jabatan apa pun. Kepala desa pun kabarnya tunduk pada telunjuk Tuan Markoni.

Demi mendengar celotehku, Sapono cuma tersenyum dan, untuk pertama kalinya, dia mulai menyinggung tentang jurang dan hutan itu. Aku mendengar seluruh detail di obrolan kami kali ini. Aku menyimpan seluruh bagiannya, bahkan yang paling sepele. Sepulang dari obrolan yang kurasa sangat mendebarkan itu, aku terpikir untuk melawan. Tidakkah tujuh belas tahun cukup membuat seorang pemuda merasa muak?

“Kutunggu di sini,” ucap Sapono sebelum aku pergi saat itu.

Aku kembali lima hari kemudian. Sapono menatap hampa begitu segenggam tanah pemberian Tuan Markoni kucampakkan ke halaman rumahnya. Itulah hasil perjuangan untuk seluruh hartaku yang tersisa di dunia ini. Rumah beserta isinya, disita oleh tuan tanah itu lantaran ucapanku yang mulai menolak untuk mencicil utang yang seharusnya sudah lama kulunasi. Aku mengomel panjang lebar, tetapi Sapono tidak berkata apa-apa selain hanya tampak seakan sedang menunggu sesuatu.

Selepas omelanku kelar, Sapono bersuara, “Bagaimana?”

Aku mengangguk. Kali ini benar-benar tanpa keraguan. Aku bahkan yakin meski di sisiku tak ada Sapono, aku pasti bisa menelusuri sudut-sudut hutan dan jurang, untuk mencari bagian tergelap yang kabarnya hanya bisa ditemukan oleh mereka yang sedang beruntung. Penanda bagian tergelap itu, konon, adalah sebuah prasasti berupa batu nisan yang menancap tepat di dekat pohon kersen.

Sapono, dengan tubuhnya yang tampak kurus, begitu mudah menerabas tumbuhan liar dan semak belukar yang menghalangi, sementara aku kesulitan di beberapa bagian hingga suatu ketika aku tertinggal cukup jauh darinya. Pada satu titik, lelaki itu berhenti di depan sebatang pohon. Aku tahu di situlah bagian tergelap yang telah lama menjadi dongeng dan legenda di desa kami.

“Tidak ada yang dapat mencapai titik ini, kecuali aku. Dulu hingga beberapa menit yang lalu, hanya aku. Sekarang kita berdua di sini. Apa yang kamu minta?”

Aku tak bisa berkata-kata. Aku membayangkan banyak hal. Aku tak bisa mencoba memikirkan uang. Aku juga tak boleh memikirkan wanita secantik bidadari yang sedari lama kudamba. Aku hanya diperkenankan memikirkan wujud binatang liar. Sementara aku membayangkan kematian terburuk macam mana yang pantas bagi seorang rentenir, aku tahu pada saat itu pula Sapono tampak menatapku penuh dengan hasrat yang seakan lama dia tahan. Setelah wujud binatang itu kuputuskan, yakni seekor buaya, Sapono tak lagi bisa menahan hasratnya dan berkata, “Ini saatnya kuwariskan ilmuku. Menikahlah suatu hari nanti dan jangan berhenti hanya padamu.”

Kami pun memeluk batu prasasti itu. Mantra-mantra mengapung pada udara jurang yang pekat dan gelap. Tubuhku terasa dingin dan kaku, tapi kemudian segalanya terasa sangat aneh. Aku merasa tubuhku bebas dari seluruh penyakit. Aku merasa tersucikan, tapi Sapono mendadak terlihat sangat renta.

“Pergilah, Nak, pergilah,” demikianlah ucap lelaki tua itu. “Bereskan tuan tanah itu dulu sebelum membantuku pulang.”

Aku berlari sederas yang kubisa. Aku berlari dan berlari dan mendapati sisik demi sisik bertumbuhan pada permukaan kulitku. Aku tersandung dan jatuh, tapi dapat terus berlari dengan dua tangan dan dua kaki, tapi kemudian tanganku tak lagi terlihat seperti tangan. Seluruh bajuku robek dan kini aku melesat liar ke rumah musuhku dalam wujud lainku. ***

Gempol, 27 Mei 2019


Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, esai, puisi, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

Cerpen

Nenek dan Perihal Perih Tentang Ulat-ulat di Sepotong Telur Dadar

Cerpen Fina Lanahdiana

Nenek merawat kenangan serupa memelihara ulat-ulat yang disimpan dalam sebuah stoples tertutup dengan tak seorang pun menginginkan untuk membukanya. Demi apa pun, aku hendak berkisah tentang kesetiaannya pada benang-benang kenangan yang serupa sarang laba-laba yang lahir dengan panjang dan kekuatan yang tidak bisa diperkirakan. Kelak tidak ada yang hendak meneliti benang-benang halus itu dengan alasan tidak penting.

Masa tua barangkali kutukan yang abadi memelihara rasa sakit. Nenek sering bersedih dan menyesali atas kesepiannya sendiri. Kadang meskipun aku memilih rela meluangkan telinga untuknya, ia tetap tampak sebagai sebatang pohon yang begitu kosong. Seolah-olah kuat, namun di dalamnya, kau tahu, ada rongga besar melingkupi seluruh isi tubuhnya, menyisakan kulit kayu yang hanya lapisan rapuh yang jika sedikit saja kulit itu tergores, seluruh tubuhnya akan tumbang jadi kayu yang hanya bisa berguna bagi tungku dapur penangkal rasa lapar.

Ia kerap hanya duduk dengan pikiran yang entah menjadi pelancong bagi tempat-tempat di dalam kepalanya. Aku meyakininya, bahkan ketika ia tengah menjajakan gethuk, klepon, serabi, dan ampyang  di depan halaman rumah kami yang masih berlantai tanah. Jajanan itu diletakkan di masing-masing tampah yang berbeda di sebuah meja panjang yang telah berusia tak jauh darinya. Meja itu tetap kukuh meskipun waktu telah melahapnya bagai rayap-rayap pada musim penghujan.

            “Nek?”

Suaraku hanya pelan saja, tetapi nenek tetap terkejut. Aku merasa tidak enak dengan gelagatnya, bagai aku telah menyakiti hati perempuan tua itu. Lantas kuraih lengannya, kurengkuh ia dengan dekapan yang semoga nyaman. “Maafkan aku, Nek. Bukan maksudku untuk membuatmu kaget.”

Ia akan tersenyum lantas berkata tidak apa-apa. “Nenek memikirkan apa?” Pertanyaan itu selalu berakhir dengan jawaban tidak apa-apa.

Tetapi pada akhirnya aku tahu, nenek selalu dan tetap memikirkan suaminya. Meskipun ia tidak pernah bercerita secara terang-terangan, aku tidak bodoh betul memahami bahwa ia merindukan kakek. Nenek kerap menceritakan kebaikan-kebaikan kakek yang masih tersimpan di dalam laci kepalanya.

            “Kakekmu lelaki yang romantis. Ia kerap memberi kejutan-kejutan yang tidak terduga. Kadang-kadang ketika aku merasa lelah, ia tahu harus berbuat apa. Kami sering pergi keluar sekadar makan di warung bakso atau mi ayam. Setelahnya aku lupa dengan rasa lelah yang sangat payah.”

Tentu saja aku akan memuji kakek. Tidak mudah menjadi lelaki seperti itu.

            “Kau tahu, perempuan akan sangat senang jika diperhatikan oleh orang yang dicintainya. Ia akan merasa ringan, beban-bebannya akan hilang, meskipun seringkali perempuan tahu bahwa lelakinya tengah membual. Ia tidak akan peduli.”

Cerita nenek membuatku berpikir bahwa aku juga mesti memperlakukan perempuan dengan cara seperti itu. Menjadi lelaki yang penuh kejutan.

            “Perempuan tidak terlalu suka, jika lelaki tidak punya pilihan.”

            “Maksud Nenek?”

            “Bawalah perempuanmu ke sebuah warung makan jika ia tampak lelah dan lapar, tapi jangan kau tanya banyak hal mengenai apa yang ingin dia makan. Pastikan kau tahu apa makanan kesukaannya. Itu akan membuatnya senang. Merasa dihargai.”

            “Bukankah bertanya itu baik?”

            “Memang iya, bertanya itu baik, tapi jika kau mengulang sesuatu yang sudah pasti, itu justru akan menyakiti hatinya. Misalnya, kau tahu perempuanmu menyukai ayam bakar, tapi kau selalu bertanya, ia ingin makan apa.”

            “Bagaimana jika ia merasa bosan?”

            “Tanpa kau mesti bersusah payah menebak, perempuan akan bercerita jika ia bosan dengan apa-apa yang sudah dibiasakan. Jika tidak ada keluhan, maka mestinya kau tahu apa yang mesti kau lakukan.”

            “Apakah nenek pernah mengalaminya?”

            “Tidak. Tapi teman kami pernah mengalaminya. Ia begitu muak dengan suaminya, sebab setiap kali hendak makan saat sedang bepergian, selalu bertanya, “Apakah kau lapar? Padahal sesungguhnya lelaki itu yang merasa lapar. Ia tidak berani berterus terang. Sementara itu, seharusnya lelaki selalu berada di depan, tidak apa-apa mesti menunggu perempuan bergerak lebih dulu.”

Aku hanya mengangguk, tidak banyak berkomentar. Cerita akan berakhir ketika beberapa pembeli datang. Jajanan pasar itu tidak bertahan lama, siang sedikit saja, sudah mesti habis. Jika tidak, yang bersantan seperti serabi dan klepon akan mudah basi. Dagangan nenek memang sederhana, tapi tetap saja diserbu peminat. Apalagi di zaman yang serba digital seperti sekarang. Apa-apa yang tradisional dinilai berharga dan patut untuk dirawat sebaik-baiknya.

            “Kadang-kadang orang sekarang itu aneh, merasa peduli dengan sesuatu setelah sebelumnya terancam.”

            “Terancam yang seperti apa?”

            “Misalnya saja, hewan langka. Mereka tidak akan dianggap penting sebelum terancam punah. Sebuah keterlambatan yang gegabah.”

Tidak salah, memang demikian adanya. Tidak jauh dengan yang sudah-sudah, negeriku tercinta ini juga kerap melakukannya. Pulau-pulau kami yang semestinya dirawat, dibiarkan begitu saja seolah sampah tidak berguna. Begitu ada negara lain yang mengklaim kepemilikan pulau-pulau jauh itu, pemerintah merasa kelabakan dan seolah tertindas sebagai korban. Orang-orang mendadak jadi nasionalis dengan banyak gerakan yang kupikir tidak berdampak banyak. Hal-hal seperti itu tidak hanya terjadi sekali atau dua kali saja, tetapi berkali-kali. Menjijikkan. Seolah keledai yang terus-menerus tergelincir—lebih tepat dikatakan sengaja menjatuhkan diri—ke lubang yang sama.

Aku senang menjadi pendengar bagi cerita nenek, tentang apa pun. Apa pun. Cerita-ceritanya bukan dongeng kosong belaka, selalu ada sesuatu yang bisa diambil bagiannya.

Perihal kesetiaan merawat kenangan, aku mencatatnya baik-baik di tubuh ulat-ulat kecil, belatung yang bergerak lincah di sebuah mangkuk berisi telur dadar.

***

Berhari-hari sudah nenek larut dalam perasaan yang hampa. Kupikir ia sedang mengulang segala jenis perputaran adegan di dalam kepalanya. Selalu seperti itu, seolah ia tidak ingin satu bagian pun terlewat dan berserakan seolah remah roti tercecer di lantai untuk selanjutnya dimangsa semut-semut.

Ia memutuskan tidak membuka gelaran jajanan seperti hari-hari biasa. Kepergian kakek yang tiba-tiba membuatnya merasa terpukul. Tak ada seorang pun yang menyangka bahwa suaminya akan pergi dengan cara yang tidak terduga. Ia tidak sakit, tidak juga mengalami kecelakaan. Hanya sedang tidur dan barangkali setiap orang tidur selalu berdoa agar bangun di pagi harinya.

Waktu itu aku masihlah seorang bocah yang hanya bisa menangis jika menginginkan sesuatu. Nenek mencoba menenangkanku dengan memberikan apa saja yang dimilikinya. Uang untuk membeli jajan atau mainan, juga mengambilkan nasi sebab ia mengira aku lapar. Aku tidak tahu, aku hanya ingin menangis saja waktu itu.

Dan barangkali kau juga akan sama sepertiku, menangis lebih keras sebab merasa takut dengan apa yang telah nenek berikan. Ia berjalan ke dapur dengan lengan melingkar di tubuhku, menjadikan aku bagai seekor kera yang tengah berada dalam gendongan induknya.

Tangan nenek selalu hangat. Bayi-bayi atau bocah yang sedang menangis tak tahu sebab, akan berhenti jika telah disentuh oleh tangan nenek. Aku sangat menyukai bagian ini. Nenek solah-olah pahlawan yang patut diberi hadiah atau penghargaan yang istimewa.         Perempuan itu masih sangat bersedih, aku tahu dari raut wajahnya. Namun aku yang masih bocah tentu tidak tahu apa-apa cara menghibur agar nenek merasa bahagia.

Ia berjalan ke dapur, menjulurkan tangan ke sebuah salang gantung yang terbuat dari anyaman bambu warna hitam legam sebab sering terpapar asap tungku. Di atas sana, ia meraih sebuah mangkuk yang seingatku berisi telur dadar.

Barangkali matanya telah rabun atau berkabut, ia tidak terlalu jeli memandang apa yang ada di dalam mangkuk. Sepotong telur dadar disendoknya ke piring yang telah berisi nasi. Telur itu telah dihuni mahluk-mahluk kecil, putih, dan lunak. Singgat. Aku merasa jijik dan hanya menangis.

Ibuku datang dengan keheranan yang penuh. Ia tidak tahu apa yang aku tangisi. Sampai pada akhirnya ia meraih tubuhku dari gendongan nenek, mengambil piring berisi nasi, dan berakhir dengan teriakan yang panjang. Ibu terkejut sama halnya denganku. Binatang kecil jinak namun menjijikkan itu telah menyebar di lantai rumah yang masih tanah yang dipenuhi têlo[1]. Ibu mengelus rambutku berulangkali dengan umpatan yang tertahan, “Demi apa pun, nenekmu terlalu mencintai kenangan perihal kakekmu, hingga ia melupakan telah berapa hari ia mengurung diri dalam kesedihan, hingga singgat-singgat itu telah menjadi penghuni bagi sepotong telur dadar sebagai makhluk-makhluk lapar yang menggiriskan.”

Terdengar suara prang sebab piring tempatku makan yang terbuat dari seng itu terlempar begitu saja, sementara kulihat nenek sedang sibuk—atau menyibukkan diri—melakukan pekerjaan rumah sehari-hari dengan mata yang kosong, seolah di sana tidak ada lagi ruh bagi kedua bola matanya.

Dan sejak saat itu, barangkali sebagian diri nenek ikut bersama kakek sehingga hidupnya tak lagi utuh, tak lagi seluruh. Hanya serupa sepotong yang tersisa dengan segenap keinginan menjalankan sisa usia. Masa tua barangkali memang kutukan yang abadi memelihara rasa sakit. Dan akan seterusnya seperti itu.***

[1] Têlo: Retakan tanah (Jawa)


Fina Lanahdiana, penulis cerpen yang lahir dan tinggal di Kendal.