Cerpen

Sebuah Usaha Menulis Cerita

Cerpen Sasti Gotama

Tulisanmu buruk, tidak bisa kami muat, begitu balasan email Sudaryono, seorang editor koran lokal. Alina Karina membaca berkali-kali tulisan yang tertera di layar laptopnya sampai matanya terasa pedih, tapi tulisan itu tidak berubah. Ini penolakan yang keempat puluh empat, mungkin, karena Alina Karina malas menghitung. Ia hanya mengira-ngira. Dari dulu ia malas berhitung, kecuali menyangkut uang.

Kalau bukan demi uang, ia tak akan mengirimkan tulisan-tulisan itu. Bukan alasan idealis, demi kesusastraan. Baginya, ini satu-satunya jalan keluar yang bisa ia bayangkan. Tagihan-tagihan itu tidak bisa menunggu. Seumpama melintasi jembatan, ia telah berlari di atasnya sedangkan jembatan di belakangnya telah terbakar.

Yuanita, anak perempuannya telah tertidur sejak pukul tujuh malam. Sepertinya ia kelelahan setelah ekstrakurikuler berenang. Dua puluh menit yang lalu, bocah kelas lima itu bahkan menguap berkali-kali saat mengerjakan PR yang berlembar-lembar. Begitu nomor terakhir ia selesaikan, ia langsung jatuh tertidur di atas buku catatan hingga Alina Karina harus mengangkatnya ke kamar.

Alina Karina kadang heran, sebetulnya sekolah itu tempat belajar atau tempat penyiksaan? Seharusnya sekolah tempat anak-anak bersenang-senang sambil belajar, bukannya tempat menimbun beban, dijejali dengan berbagai hafalan dan hitung-hitungan memusingkan. Buktinya, saat ini semua hafalan Alina Karina di sekolah dasar tentang bahan tambang di Indonesia dan juga daerah penghasilnya tak bisa membuatnya mendapat uang.

Alina Karina berjingkat ke arah meja rias. Sambil memikirkan ide apa yang bisa ia tulis untuk dikirimkan ke koran, ia membersihkan wajah dengan kapas basah. Baru dua karyanya yang menghasilkan. Tiga ratus ribu rupiah langsung menguap untuk biaya rekreasi bersama kelas lima Yuanita. Saat itu ia menulis tentang seorang perempuan yang melahirkan seekor serigala. Padahal ia tak pernah bercinta satu kali pun dengan seekor serigala. Ia hanya bercinta dengan manusia-manusia berhati serigala. Pada akhirnya, serigala yang terlahir itu tumbuh besar, dan kelak akan memakan ibunya sendiri. Sebetulnya ia tak terlalu memikirkan apa pesan moral dalam tulisannya. Ia hanya membuat cerita aneh yang sepertinya lebih disukai media. Buktinya, saat ia menulis sebuah cerita mendayu-dayu dengan pesan moral, balasan yang tercantum seperti kalimat pembuka di atas.

Jam menunjukkan pukul tujuh tiga puluh saat Alina Karina telah menyelesaikan riasannya. Alisnya sudah melengkung cantik dan bibirnya merah muda. Ia meraih gaun hitam menerawang dari lemari sambil memikirkan bahan cerita lainnya. Ia harus membuat cerita yang baik, alih-alih menulis kisah yang buruk. “Mungkin aku harus menulis cerita yang berisi hujatan pada pemerintah,” gumamnya. Orang-orang suka membaca hal yang buruk, pikirnya. Hal-hal yang baik tak pernah mereka bicarakan, berbeda ketika ada berita buruk, maka dengan semangat empat lima mereka memakan bangkai berjamaah. Serupa bawang, semua dikuliti hingga lapis terakhir.

Seorang editor yang pernah menggunakan jasanya di sebuah kamar hotel kelas melati pernah berkata, “Menulislah karena kau mau menulis. Jangan pernah menulis karena uang.” Ia mengatakan itu sambil menguap dan menarik selimut yang  menutupi sebagian pinggangnya. Kalau meludahi editor tidak akan membuatnya kehilangan uang jasa pelayanan, mungkin sudah dilakukan saat itu juga. Tapi ia butuh uang itu untuk membayar tagihan BPJS yang naik bulan ini.

Alina Karina menggelengkan kepalanya. Menyesal telah mengingat hal menjijikkan itu. Sebetulnya semua yang dilakukannya menjijikkan. Tapi ia terpaksa. Kadang, saat di atas kasur apak dan seseorang menungganginya dari belakang, ia hanya memikirkan Yuanita.

Pelan-pelan ia menutup kamar kos agar Yuanita tidak terbangun. Malam itu dingin sekali, dan bulu-bulu kuduknya –satu-satunya bagian yang tidak ia cukur—meremang. Harusnya aku memakai jaket, pikirnya. Tapi kemudian ia sadar, itu berarti akan membuat keseksiannya tak akan terlihat pelanggan.

Di bawah sinar bulan purnama, Alina Karina berdiri sambil menggosok-gosok kedua lengannya. Di jalan ini belum disediakan lampu penerang. Beberapa rekan seprofesinya tampak duduk-duduk di pembatas jalan dan sungai. Daerah ini lebih dikenal sebagai jalan inspeksi banjir kanal barat. Tak banyak yang lewat. Hanya beberapa motor. Itupun tak ada yang menghampirinya.

Alina Karina memilih untuk bersandar di pohon kersen pinggir jalan. Punggungnya sedikit pegal. Sebetulnya ia tak ingin mengingat-ingat masa lalunya. Namun, ingatan itu dengan seenaknya nongkrong di benaknya. Alina Karina bukan nama aslinya. Tapi ia suka nama itu, juga untuk nama penanya.

Sebetulnya, seperti alasan-alasan klise lainnya, tak ada yang mau jadi tunggangan lelaki yang berbeda-beda jika bukan karena terpaksa. Ia sudah coba melamar ke mana saja, tak ada yang mau menerimanya, tentu saja karena sosoknya. Kalau memungkinkan, ia ingin pindah ke Thailand, tapi ia urungkan dan berpikir untuk menulis cerita saja. Dalam dunia tulis menulis, orang hanya menilai dari ceritamu, bukan sosokmu. Ia berangan-angan, dengan menulis cerita ia bisa bebas finansial, tak perlu menjajakan diri seperti ini. Sesaat, ia merasa otaknya dipenuhi labi-labi.

Seorang pengendara vario hitam melambatkan motornya dan berhenti di depannya. “Mampir, Mas?” Alina Karina mengedip manja dan melontarkan senyum termanis yang ia punya. Lelaki pengendara motor itu sedikit gugup. Ia menoleh ke kiri, kanan, dan belakang. Sinar bulan membuat wajahnya tampak lebih pucat.

“Bonceng saya ke penginapan di ujung jalan sana, ya Mbak.” Alina Karina mengangguk dan langsung duduk di boncengan lelaki berjaket hitam itu. Bau musk yang terlalu pekat segera terhirup olehnya. Ia tidak peduli ke mana lelaki itu membawanya. Pikirannya dipenuhi bahan cerita apa yang bisa dibuatnya.  Ia bernazar, jika cerpen yang akan dibuatnya kali ini bisa tembus media ternama, ia akan berhenti menjajakan diri dan sepenuh hati hanya menulis cerita. Seandainya ia tahu, bahwa banyak penulis yang tak bisa menggantungkan nafkah dari cerita, tentu ia tak akan bernazar seperti itu dengan gegabah.

Pikiran Alina Karina masih dipenuhi dengan ide-ide cerita ketika lelaki itu membelokkan motor ke arah rimbun kebun jagung. Ia bahkan sedang memikirkan kalimat pembuka ketika lelaki itu membekap mulutnya lalu membanting tubuhnya ke arah sela-sela tanaman jagung. Lelaki itu mencekik leher Alina Karina sambil mengerang bahwa pria yang menyalahi kodratnya seperti Alina Karina patut dimusnahkan dari dunia daripada membawa petaka bagi manusia di sekelilingnya. Di saat terakhir, Alina Karina telah melupakan hal-hal tentang cerita. Ia hanya terbayang Yuanita,  dengan suara cadel memanggilnya “Ayah”.***


Sasti Gotama adalah seorang dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan cerita Penafsir Mimpi dan Antologi Journey to Infinity.

Cerpen

Taman Dasar Kali

Cerpen Kiki Sulistyo

Apa yang dicari seorang perempuan, lepas tengah malam, berdiri di tepi jembatan, hanya memandang ke bawah, ke alir air kali yang hitam oleh limbah, ketika hampir semua lampu-lampu rumah sudah dipadamkan? Aku melihatnya. Beberapa meter saja dariku—dan semakin dekat seiring kakiku melangkah. Aku tak tahu mengapa mesti terburu-buru. Mungkin karena gelap membuat jantungku berdegup lebih kuat. Mungkin sebab sempat kulihat langit telanjang tanpa bintang, seperti pertanda hujan bakal datang. Aku seperti baru sadar, aku tak sendiri di kawasan ini. Dengan sekuat niat kutahan laju kakiku, aku tak mau maju. Bisa jadi perempuan itu sejenis hantu penunggu, atau penderita gangguan jiwa yang takkan merasa dosa bila menghilangkan nyawa.

Tapi kami sudah telanjur dekat ketika aku berhenti. Dua depa saja. Jarak segitu cukup untuk membuat dadaku tembus peluru atau terhantam batu. Perempuan itu barangkali akan melemparkan tubuhku ke kali—tentu, setelah puas mencabik seperti mencabik bantal kapas. Atau bagaimana jika ternyata dia zombie yang baru jadi? Dia pasti sangat lapar dan tak sabar menunggu mangsa dengan menyamar jadi manusia biasa.

Sebaiknya kuhapus pikiran macam itu sebelum melompat keluar dan berubah jadi kenyataan. Tak ada tanda-tanda luka di tubuhnya. Dia berdiri sebagaimana orang biasa berdiri. Punggungnya tegak, jari-jarinya yang memegang besi jembatan kelihatan halus terkena sinar lampu jalanan. Dia tak menoleh seakan tak menyadari ada aku yang berdiri bagai lilin siap meleleh. Bimbang akan terus berjalan atau menyapanya pelan-pelan, aku menghabiskan sekian menit di mana jalan terasa sempit dan besi jembatan seakan menjepit. Namun segera, bagai menghapus lamunan yang sementara, kuputuskan untuk meninggalkannya. Lagipula, aku teringat lampu kamar yang belum dinyalakan serta makanan sisa siang yang mungkin sudah dikerubung semut hitam.

Baru dua langkah menjauh, selembar suara jatuh ke gendang telingaku. Suara itu lemah, tapi dalam suasana senyap, suara yang lemah bisa terdengar bertenaga. Perempuan itu memanggil dan berkata, “Kenapa berlalu seperti itu?” Aku berhenti melangkah, dia kembali menambah. “Sini, berdirilah di dekatku. Ada sesuatu yang mesti kau lihat.” Perempuan itu menoleh padaku, aku menoleh pada perempuan itu. Aku lihat wajahnya, dan harus kukata, wajah itu sejelita bidadari yang sering kutemu dalam mimpi, dulu saat aku masih seorang bocah kecil yang suka mendengar cerita tentang surga.

 “Ya?” tanyaku berujar seolah-olah tak mendengar. “Lihatlah,” tanggapnya singkat. Aku terpaksa mendekat. Terpaksa sebab kukira tak ada guna untuk tak percaya, dan wajahnya yang jelita—o, penguasa semesta!—membuatku tak berdaya. Aku berdiri di dekatnya, memegang besi jembatan dan menoleh ke kiri untuk kembali melihat wajahnya. Aku akan rela selama-lamanya menatap wajah itu dan jika aku masuk surga nanti, di antara semua bidadari, sudah pasti kupilih bidadari ini. “Jangan melihatku. Lihat saja ke bawah, ke air kali yang hitam oleh limbah,” katanya. Aku malu, seakan-akan ia tahu apa yang terbersit di pikiranku. Maka kualihkan pandang, ke bawah jembatan, di mana air bergerak menuju laut dan suatu ketika akan terangkat ke udara sebagai uap, sebelum jatuh kembali menjadi air yang meluap-luap. “Jangan berpikir terlalu jauh. Coba tatap air itu, kau akan melihat sesuatu,” katanya. Baiklah, akan kuturuti kemauannya, meski aku belum mengenalnya, meski aku belum tahu apa yang ia sebut sebagai sesuatu itu.

Mula-mula tak ada yang istimewa. Lebih tepatnya tak ada yang bisa dilihat kecuali air kali yang memang hitam dan semakin hitam karena malam. Sesekali permukaan air bergelombang dan cahaya lampu memercikkan terang, tetapi tetap tak ada apa-apa. Aku memutuskan bersabar ketika sejenak kemudian sesuatu tampak mekar dan muncul dari dasar. Bentuknya seperti mawar, tapi warnanya ungu dan ukurannya terlalu besar untuk disebut mawar. Lantas pelan-pelan di sekitar mawar besar itu muncul aneka bentuk tanaman. Kunyalangkan mata agar yakin aku tak salah penglihatan. Benar. Aku tak salah. Semakin terang kelihatan bahwa di dasar kali itu ada taman. “Bagaimana bisa ada taman di dasar kali ini?” tanyaku, sebenarnya, entah pada siapa. Karena di sana hanya ada kami berdua, perempuan itu menjawab, “Entahlah. Tapi bukankah itu bisa jadi tempat yang indah untuk menghilangkan lelah?”

Aku perhatikan lagi taman itu. Sekarang dapat kulihat beberapa bangku diletakkan dalam jarak tertentu. Lalu ada kupu-kupu, lebah madu, dan burung-burung kecil berbulu biru. Sungguh suatu taman yang teduh, pasti menyenangkan bisa berada di sana, melupakan kepenatan kerja, menghirup udara bersih tanpa karbon monoksida. Tapi pasti semua ini hanya ilusi, bagaimana mungkin ada taman di dasar kali. Kukira malam sedang bersiasat, menghadirkan bidadari ini agar aku mengalami halusinasi. “Kau pasti mengira ini cuma ilusi. Akupun begitu waktu pertama kali. Tapi karena setiap kali aku ke sini, taman itu selalu muncul kembali, aku jadi percaya kalau taman itu benar-benar ada,” ungkap si bidadari, lagi-lagi seperti mengerti isi pikiranku. “Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanyaku. “Siti,” jawabnya sesingkat kilat di langit tinggi.

Siti, seperti nama perempuan pertama. Apakah namanya Siti Hawa? Ah, kukira Siti saja cukuplah sudah. Sekarang aku harus berpikir, bagaimana semua ini akan berakhir. “Apakah kau tertarik untuk pergi ke sana?” tanyanya tiba-tiba. “Ke mana? Ke sana?” tanyaku balik sembari mendelik ke arah taman yang kian tampak terang. “Iya, ke taman itu. Sudah lama aku menanti ada yang mau menemani.” Siti si bidadari mengulum senyum. “Tapi…” kalimatku belum usai ketika ia berkata kembali, “Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, barang siapa mau menemaniku ke taman itu, akan kujadikan kekasihku. Tak peduli ia perempuan atau laki-laki. Aku akan mencintainya serta menyerahkan seluruh hidupku padanya.” Sungguh, itu deretan kalimat yang membuatku lupa bahwa suatu hari dunia akan kiamat. Sudah lama kubayangkan seorang perempuan berkata seperti itu kepadaku, bahwa ia akan mencintaiku dan menyerahkan seluruh hidupnya hanya untukku. Apalagi kalimat itu keluar dari bibir seorang bidadari, seluruh hidupku yang penuh getir akan tegak berdiri bagai kebenaran di hadapan para tiran. Mungkin ia bisa menghilangkan kesadaran, tapi bagiku ia bisa juga memberi kesadaran baru. Kesadaran bahwa tak ada yang mustahil di dunia, termasuk adanya taman di dasar kali.

Maka ketika Siti si bidadari meraih tanganku, tanpa ragu-ragu kami naik ke besi jembatan, lalu melompat cepat menuju air kali yang bergerak lambat. Terdengar suara benda jatuh ke air seakan-akan bukan kami yang menyebabkan. Kali ini cukup dalam, dan aku baru ingat tidak pernah belajar berenang. Siti melepas pegangannya dan seketika menghilang. Aku gerakkan tubuh sebisanya, sia-sia, semakin aku bergerak semakin kuat air menarikku ke dalam. Air masuk ke mulut dan hidungku, napasku terasa berat, dunia seperti melesat ke luar dari tubuhku. Kukira aku akan mati, takkan ada yang membantu. Sebelum itu, biar kumaki dulu diriku sendiri, kumaki kebodohan yang telanjur bersarang dalam diri ini.

Tapi aku tak jadi mati. Aku hanya merasa ringan, seakan seluruh bobot telah dicopot dariku. Dan taman itu memang ada. Sungguh-sungguh nyata. Sekarang aku sedang berjalan di atas rumputnya yang lembut. Kucium aroma aneka bunga. Harum dan segar. Di tengah-tengah taman, di hadapan bangku panjang, mawar besar berwarna ungu itu dapat kusaksikan. Benar-benar cantik hingga tak mungkin terbersit pikiran untuk memetik. Tapi, di mana Siti? Apakah ia ada di sini? Apakah ia lebih dulu tiba dan kini sedang menanti? Aku berjalan mengitari keluasan taman. Tak kusangka taman ini sungguh luas, nyaris tak berbatas. Tak kutemukan siapapun, aku benar-benar sendirian. Barangkali Siti tak berhasil sampai di sini. Barangkali seseorang melihatnya jatuh ke kali dan segera membantunya menepi. Perasaan sepi pelan-pelan membesar, tak ada yang bisa kulakukan kecuali menanti dengan sabar, mengikuti arus waktu yang bergerak melingkar. Aku tak tahu berapa kali sudah waktu berputar.

Pada saat-saat tertentu kuarahkan pandang ke atas. Samar kulihat sampan-sampan melintas, lalu di tempat yang lebih tinggi kendaraan lalu lalang melewati jembatan. Dan bila malam telah tua, dapat kusaksikan seorang lelaki dan seorang perempuan berdiri di tepi jembatan, menatap ke bawah, ke arah tempatku berada. Apakah itu Siti? Dan siapa lelaki di sampingnya? Kenapa tampak mirip denganku?***

Kekalik, 13 April 2019


Kiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, di Mataram, Nusa Tenggara Barat. 

Cerpen

Senja di Pont Des Arts

Cerpen Candrika Adhiyasa

            Pada Juni yang kering, aku mengenang suatu masa ketika kali pertama kita dinikahkan oleh semesta. Ketika itu, rambutmu yang hitam panjang dan terurai disepuh sinar matahari yang terik. Bola matamu menyala seperti purnama yang sempurna. Kau menjelma Hawa ketika aku adalah Adam yang kesepian. Kemudian kita membangun surga di kehidupan ini bersama-sama, membangun singgasana megah yang boleh jadi terlihat sederhana. Dengan beberapa bunga, pohon mangga yang remaja, dan beberapa helai rumput yang tumbuh dari sela-sela batuan. Saban pagi, tiap helai daun dan reranting yang gugur di beranda rumah kita selalu kausapu dengan jeli—tiada tersisa di antara bunga kamboja merah muda yang merdeka mewarnai ruang sekehendaknya. Kau sangat menyukai ikan koi yang bergumul ke sana kemari mencari penghidupan di kolam kecil yang ada di sebelah barat taman kita. Dengan senyum tipis yang begitu manja, kau acapkali mencoba berdialog dengan mereka meski kadang-kadang tak mendapat jawaban dalam bentuk apapun.

            “Lemparkan kunci ini ke kolam itu!” pintamu seusai mengunci gembok berwarna perak itu di tepi pagar rumah kita.

            “Ini ‘kan bukan di Perancis.”

            “Memangnya kenapa kalau bukan di Perancis? Bukankah harapan bisa kita tanam di mana pun?”

            Aku hanya tersenyum menanggapi keinginanmu. Kau kadang-kadang begitu konyol, tetapi itu yang aku suka darimu—kesahajaanmu dalam menjalani hidup. Kau barangkali terobsesi dengan mitos yang ada di jembatan Pont des Arts yang berada di sepanjang sungai Seine di samping museum Louvre itu. Aku tentu tidak bisa menolaknya, apalagi ketika kau menunjukkan wajahmu yang cemberut itu—seakan-akan dalam kamus bahasaku hanya bisa kutemukan kata ‘ya’. Maka aku lemparkan kunci yang kauberikan ke kolam di taman kita. Beberapa ikan koi terlihat berpencar karena kaget. Permukaan kolam melahirkan riak kecil yang susul-menyusul. Kau memejamkan mata dan tersenyum lebih lepas dari sebelumnya. Kosakata ‘bahagia’ seketika telah menemukan maknanya. Gembok berwarna perak yang sedari tadi menggantung di tepi pagar itu kautatap dengan penuh harap. Ah, rupanya benda apa pun bisa menjadi indah apabila kita memaknainya, tak terkecuali sebongkah besi yang dibentuk menjadi benda bernama gembok ini.

            Cinta yang abadi selalu menjadi topik pilihanmu dalam setiap perbincangan kita sejak muda. Mungkin jawabanku yang asal-asalan ketika itu secara kebetulan sesuai dengan jawaban yang kauharapkan—yang tidak kaudapatkan dari mulut lelaki mana pun. Dahulu aku pernah berkata, bahwa cinta yang abadi adalah suatu kepastian. Meskipun semua manusia bisa mati, tetapi cinta dalam hati mereka akan hidup abadi.

            Sekian puluh tahun sudah setelah kunci gembok itu aku lemparkan ke kolam di taman kita, rambutmu yang dahulu panjang hitam terurai, kini hampir sepenuhnya memutih. Wajah bayi-bayi menggemaskan yang dulu sering kautunjukkan padaku di galeri handphonemu, kini sudah lahir ke dunia dan menjadi dewasa. Kau dahulu berharap memiliki tiga bayi yang menggemaskan dan bisa menghapus segala lelah setelah membanting tulang mencari penghidupan. Kini harapanmu terwujud sudah. Mereka telah lahir ke dunia dan mengalami apa yang dinamakan kasmaran—seperti kita. Mereka juga telah sama-sama berkeluarga—mengurai benang kusut kehidupan dengan fondasi kasih sayang. Rupanya waktu telah memelihara mereka hingga tumbuh menjadi pelaut ulung yang siap mengarungi samudera kehidupan. Kini kita hanya tinggal berdua di istana surga yang selama ini dengan sabar menampung mimpi-mimpi kita.

            Di beranda rumah, kita sama menikmati siang yang hendak bermetamorfosis menjadi sore. Tentu akan kita saksikan pula lukisan Tuhan yang berwarna jingga di ufuk barat kesukaanmu itu. Kau, seperti biasanya, akan takjub dan memendam kata-kata sehingga satu-satunya jalan kaluar bagi mereka adalah melalui bola matamu. Setiap hari, kita selalu mencoba mencatat kelahiran dan kematian waktu melaluinya. Namun, kita tak pernah sadar bahwa sebenarnya kita tengah mencoba mencatat kelahiran dan kematian kita sendiri.

            “Apakah cinta abadi?” ucapmu sembari menatap matahari yang tenggelam hampir sempurna.

            “Tentu saja,” jawabku singkat.

            Kau menoleh ke arahku. Koran lama yang sedari tadi kubaca kini kalah menarik oleh matamu. “Sinar di kedua bola matamu tak pernah meredup, Sayang. Karenanya aku percaya, bahwa cinta memang benar-benar abadi.” Senja yang saban hari kaunikmati itu kini gugur di kelopak matamu. Senyum yang terbit dari bibirmu terasa begitu hangat, sehangat nuansa yang dihidangkan hari yang menjelang peristirahatannya, atau barangkali, kematiannya. Kita tentu akan mati pula, Sayang, dan hal itu memang lazim dikhawatirkan semua orang di usia kita saat ini. Tetapi, Qays dan Laila, yang menurutku tidak seberuntung kita karena sempat bercinta di dunia ini, tetap akan mengecap nikmatnya hakikat cinta yang abadi itu di mana pun, bahkan di luar kehidupan ini. Bunga kamboja yang dahulu selalu bermekaran, kini benar-benar hilang ditelan masa. Namun, bukankah kita selalu mampu mengingat warnanya ketika ia mekar meski kini telah tiada? Tiada yang benar-benar bisa luput dari ingatan, apalagi jika sesuatu itu teramat berharga. Ikan-ikan koi yang senantiasa kauajak berdialog tempo hari, kini mungkin sudah berenang di sungai surga yang mengalir begitu damai. Kolam itu telah lama kering. Pernah beberapa kali aku coba mencari kunci yang tenggelam sekian lama di dasarnya, tentu bukan untuk membuka gembok yang telah berkarat diterpa angin dan hujan itu. Aku hanya ingin memastikan, apakah ia masih ada atau tidak. Tetapi yang bisa kutemukan hanyalah kerakal-kerakal dan semak-semak yang kian semerawut memenuhidasar kolam yang mulai retak-retak. Kau barangkali tak tahu bahwa meskipun aku sudah agak pelupa, aku seringkali tiba-tiba mengingatnya ketika hendak tidur di kamar kita yang mulai sepi ini. Kunci itu memang tak pernah kutemukan, tetapi bukan berarti ia tak ada. Ia barangkali telah menyatu dengan tanah, yang artinya, telah melebur dengan kehidupan ini.

            Di hari-hari berikutnya, kau seringkali menatap langit dengan pandangan yang kosong. Tak kudengar lagi pertanyaanmu tentang cinta yang abadi itu. Apakah kau sudah bosan bertanya atau apa, aku tak terlalu paham. Namun yang kuyakini, mungkin kau sudah dengan utuh memahaminya setelah jutaan kali kautanyakan padaku. Pandanganku semakin kabur kali ini, Sayang. Kacamata sudah hampir tak bisa membantuku melihat sesuatu dengan jelas. Wajahmu … tentu saja, selalu mampu kulihat dengan jelas, bahkan lebih jelas dari sebelumnya. Dalam pikiranku, kau selalu tampak selalu cantik seperti kali pertama kita jatuh cinta.

            Ketahuilah, Sayang. Gembok itu masih terkunci di tepi pagar rumah kita. Aku bahkan hampir percaya pada apa yang kaututurkan tentang Pont des Arts yang mampu mengabadikan cinta melalui ritus serupa. Sayang sekali aku tak bisa mengajakmu menikmati senja di sana. Aku tak pernah benar-benar yakin alasan apa yang membuatku tak bisa membawamu ke sebuah tempat yang barangkali sudah kaunamai sebagai surga itu selain rumah kita. Cinta ini begitu panjang, namun usia, oh, pendek sekali. Kaubilang bahwa keindahan hanya akan hidup sekejap, seperti senja. Namun, kau kembali berusaha untuk yakin bahwa keindahan bisa jadi pula abadi, tidak lepas, seperti gembok yang kehilangan kuncinya. Meski aku sempat menolak untuk percaya pada yang kaukatakan tentang Pont des Arts, tanpa kusadari, ternyata secara diam-diam aku berharap mampu memercayainya.

            Pada suatu siang, tiga anak kita telah pulang ke rumah untuk menemui orang tuanya, tepatnya menemuimu. Rindu memang acapkali gemuruh ketika hendak diredam. Kita memang seringkali munafik pada perasaan kita sendiri. Lucu, bukan? Tiga bayi menggemaskan yang sudah mendewasa itu akhirnya bekumpul di rumah ini lagi, seperti dahulu kala. Namun yang mengherankan adalah, mereka semua menangis. Aku tak memahami apa yang mereka tangisi, Sayang. Barangkali penyebabnya adalah kapas yang menutup lubang hidung dan telingamu. Mereka bilang kau telah meninggalkan kehidupan ini. Aku sebenarnya ingin tertawa, Sayang. Aku ternyata lupa mengajari mereka sesuatu yang paling sering kita bicarakan. Bukan tentang senja. Aku tak pernah mau menanggapi keyakinanmu yang akhirnya kaukhianati sendiri. Tetapi tentang cinta yang abadi. Barangkali, setelah tak bernapasnya engkau, aku akan mengajak mereka ke Perancis untuk melihat gembok-gembok yang berjejer di tepi pagar kawat jembatan Pont des Arts. Aku harus mengajari mereka secara langsung mengenai ini. Kau setuju, bukan? Tidak … tidak perlu kaujawab pertanyaanku. Kau terlihat sudah begitu lelah. Beristirahatlah lebih dulu. Biarkan aku yang mengusap air mata anak-anak kita. Besok kami akan mengantarmu menuju rumah yang lebih indah. Tidak apa-apa. Tidak perlu menyesal. Rumah ini, yang sekian lama telah melindungi kita dari keputusasaan, memang akhirnya akan kita tinggalkan. Rumah kita yang sejati berada di kehidupan yang lain. Kau pergilah lebih dulu, Sayang. Aku akan segera menyusul. Masih ada saat-saat bagiku untuk merenungi beberapa hal yang sebelumnya tak sempat aku lakukan ketika berada di dekatmu. Bagaimana tidak, bola matamu selalu mampu memenuhi ruang pikiranku.

            Meskipun semua manusia bisa mati, tetapi cinta dalam hati mereka pasti hidup abadi. Bukankah itu yang kita percayai? Kefanaan senja adalah raga kita, Sayang, dan cinta adalah apa yang semayam di dalam ruh keabadian.

Setelah mengantarmu ke rumah baru kita, aku akan duduk kembali di kursi beranda rumah ini. Aku, tentu saja, akan berusaha mengamati—meski dengan pandangan yang telah kabur—sisa-sisa kenangan dari warna bunga kamboja, daun-daun dan reranting yang berserakan di halaman rumah, pohon mangga yang kian mendewasa dan hendak berbuah, kolam yang telah kering bersama fosil ikan-ikan koi, dan juga gembok yang masih terkunci di tepi pagar rumah kita. Dan kau tahu, Sayang? Kini senja telah samar-samar menghitam. Barangkali untuk terakhir kalinya. Aku akan segera berbaring di sampingmu, untuk menikmati kehidupan indah tempat kita benar-benar bisa memahami cinta yang abadi.***

Tasikmalaya, 9 Juni 2018. 03.18 WIB


Candrika Adhiyasa, lahir di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat pada tanggal 14 Desember 1996. Ia telah menulis beberapa novel seperti Gurattala (Penerbit Gemala, 2018) serta beberapa buku kumpulan puisi seperti Kenapa Rumahku Kian Sunyi (Bangusastra, 2018). Selain itu, ia kerap menulis cerpen dan esai.

Cerpen

Daun Ketapang Merah

Cerpen Sasti Gotama

Kau terbangun dan menyadari  tubuh istrimu sudah tak ada lagi di sampingmu. Sebagai gantinya, ada sebuah guling merah muda yang sudah pudar warnanya dan sejumput aroma istrimu. Kau bangkit setelah mencium aroma kedua yang menyusup ke dalam kamar, aroma rempah-rempah. Sepertinya berasal dari dapur. Kau coba memilah-milah aroma. Sepertinya bau lada, cabai, kunyit, jahe, dan bunga cengkeh. Kau coba menebak-nebak, apa yang dimasak istrimu, namun tiga detik kemudian kau menyerah.

Kau langkahkan kaki menuju dapur dan melihat secangkir kopi panas sudah tersedia di atas meja makan. Satu-satunya penikmat kopi di rumah ini hanya dirimu. Istrimu lebih suka jahe hangat atau wedang uwuh. Jadi bisa kau pastikan, kopi itu memang milikmu.

Istrimu membelakangimu dan ia sedang menghadap wajan. “Aku membuat rendang,” katanya tanpa menoleh. Pastinya ia sudah menyadari kedatanganmu.

Kau mengernyit. Setahumu, rendang buatan ibumu tidak menggunakan bunga cengkeh dan lada. Rendang jawa menggunakan cabai merah besar, bukannya lada sebagai pemeran utama rasa pedas. Sedangkan dari masakan istrimu yang kau intip dari atas bahunya, tak kau temui jejas keberadaan cabai merah. Tapi kau tak mau ambil peduli. Apapun yang dimasak istrimu selalu kau santap. Bagimu, perasaannya lebih penting dari sekedar rasa enak di mulutmu atau rasa mulas di perutmu.

Kau menguap lalu duduk di kursi, menghadap pada kopi Gayo yang diseduh untukmu. Tanganmu meraih koran yang diletakkan di sebelah kopi. Walaupun sebetulnya lebih murah dan lebih cepat informasi dari media digital, tapi bagimu membaca koran adalah sebuah warisan yang kau lihat dari ayahmu bertahun-tahun yang lalu. Ada nilai sentimental sehingga kau tetap mempertahankan.

“Tadi pagi, sebelum Mas bangun, Marni mampir ke sini.”

Kau hanya bergumam tak jelas, hanya sebagai tanda kau mendengarkan istrimu. Kau cukup jelas mendengar suaranya walau ditingkahi suara desisan masakan di atas penggorengan. Matamu lebih terpusat pada tajuk utama berita hari ini. Demo  mahasiswa perantauan di daerah Kayu Tangan kemarin siang. Jalur itu biasa kau lewati setiap hari jika ingin sampai ke kantor tepat waktu. Kau menengok jam bulat di tengah ruangan. Pukul enam kurang seperempat. Setengah jam lagi kau harus berangkat jika tak ingin terlambat.

“Katanya, pohon ketapang di halaman rumah kita terlalu rimbun. Daun-daun keringnya beterbangan ke seluruh desa.  Sebaiknya dipotong saja.” Kau mengangguk setelah meneguk kopimu. Terasa asam. Kurang gula.

“Mereka membicarakan  aku.” Istrimu mendekat sambil meletakkan sepiring nasi dan daging berselimut bumbu cokelat yang ia katakan sebagai rendang.

“Mereka siapa?” Matamu masih tak lepas dari berita koran.

“Marni, Salamah. Semua tetangga kampung.Hanya gara-gara ketapang sialan itu. Kenapa ia berubah warna? Kenapa ia menjadi merah, lalu mengering dan luruh di halaman? Kenapa tak tetap hijau saja?”

“Tak ada sesuatu yang tetap dan tak berubah. Semua pasti berubah,” gumammu. Entah kenapa kau malah teringat tentang seorang gadis, bertahun-tahun yang lalu, sebelum ia kau pinang menjadi istri.

Gadis bertopi caping merah, duduk mendongak di hadapanmu, di suatu lapangan yang panas dan para mahasiswa senior berteriak-teriak ganas.Ia serupa Pratjna Paramitha atau Ken Dedes menurutmu. Jika Ken Arok tergoda begitu melihat rahsya atau cahaya yang bersinar dari bagian tubuh istimewa Ken Dedes ketika turun dari kereta di Taman Boboji, maka kau langsung jatuh cinta ketika melihat pancaran cahaya dari matanya. Gadis itu menolak menunduk seperti mahasiswa-mahasiswa baru yang lainnya.Matanya berkilat marah.

“Perpeloncoan hanyalah salah satu warisan  kolonial yang dipertahankan!” serunya kala itu. Sebagai salah satu senior, kau bersandiwara membentaknya dan menyeretnya ke ruang X, tempat pembantaian mahasiswa baru. Tapi tentu saja, bukannya memarahinya, kau malah menyatakan cinta setelah kalian berdebat cukup lama. Kau suka gadis yang cerdas. Kau suka gadis pemberontak yang bisa diajak melakukan perdebatan panas. Dan kau pikir, gadis ini memiliki keduanya. Saat itu kau pikir, ia adalah satu-satunya cinta, dan kau takkan pernah jatuh cinta lagi setelahnya.

Tapi kau salah. Lima belas tahun kemudian, kau jatuh cinta pada antitesisnya. Semua tak pernah kau rencanakan, dan tiba-tiba, seperti nyamuk dalam jerat laba-laba, kau sudah terpintal di sarangnya. Perempuan itu, seseorang yang selalu membuatkanmu kopi manis di kantor tempatmu bekerja. Setiap pagi, tak pernah lupa. Sampai pada suatu pagi, kau melihatnya tersedu di pantri setelah alpa membuatkan kopi manis untukmu hari itu.

Ia berkata, putranya sakit, sedangkan suaminya sudah bertahun-tahun tak pernah pulang dari Malaysia, pun tanpa kabar berita. Harusnya saat itu kau ulurkan tisu bukannya sapu tangan. Sama halnya, harusnya kau berikan empati bukan simpati. Tapi kau lupa, dan tiba-tiba saja, seminggu kemudian, kalian adalah sepasang kekasih rahasia.

Perempuan itu, yang kau panggil Dik, tipikal wanita yang memegang teguh falsafah Jawa. Nrimo ing pandum, sendiko dawuh marang sigaring nyowo[1]. Kau adalah raja, dan ia tak pernah membantah sedikit pun. Kau merasa menjadi sebenar-benarnya lelaki yang melindungi perempuan, bukannya partner sejajar seperti yang kau rasakan di rumah.

Istrimu tak pernah tahu. Dan tentu saja ia tak akan pernah tahu jika saja sore itu, sepulang dari tempat kerjanya di sebuah bank swasta,  tak mampir ke kantormu untuk memberi kejutan ulang tahun pernikahan kalian yang kesebelas. Ia tak sepatutnya masuk begitu saja ke kantormu tanpa mengetuk pintu. Saat itulah ia melihatmu sedang memeluk perempuan yang kau panggil Dik. Ia tak seharusnya terdiam dan meninggalkan kantormu tanpa sepatah kata. Kau lebih suka jika ia berteriak marah dan memecah barang-barang. Namun,istrimumemilih diam dengan mata menerawang, beberapa hari lamanya di dalam kamar, walaupun kau bersujud memohon ampun dan berjanji tak akan menyakitinya lagi.

Pada hari kesepuluh, ia bangkit dan membuatkan kopi untukmu. Ia memasak aneka masakan dan tak pernah alpa membuatkan camilan. Ia memilih mengundurkan diri dari pekerjaan dan tak pernah membantah sedikit pun perkataanmu. Kau merasa ia kembali tapi juga sekaligus hilang. Tak kau lihat lagi cahaya rahsya seperti yang kau lihat bertahun-tahun yang lalu di lapangan rektorat universitas. Ia … padam.

Kau tersadar setelah alarm jam tanganmu berbunyi. Pukul enam tepat. Istrimu masih di hadapanmu, duduk dan memandang tepat ke matamu. “Kenapa rendangnya tak dimakan? Apakah tak enak? Apakah Mas pikir isinya racun dan aku berniat membunuhmu?”

Kau menggeleng. Tentu saja kau tak ingin mengaku bahwa beberapa menit yang lalu kau terseret ke masa lalu. Kala istrimu masih serupa daun ketapang bewarna hijau, belum lagi bewarna merah dan luruh di halaman. “Enak,” katamu setelah mencomot sepotong rendang yang tak jelas rasanya. “Bungkuskan saja. Akan kumakan di kantor.”

Istrimu tersenyum dan dengan sigap menata makanan di dalam kotak makan berwarna jingga. Kau sedang memakai pakaian setelah mandi ala kadarnya ketika istrimu berteriak dari luar kamar mandi. “Nanti sore, bisakah Mas menjemput Anaya? Sekolahnya sedang ada perayaan tujuh belasan sampai petang.” Kau menjawab, menyanggupinya.Entah istrimu mendengarkan atau tidak.

Sesaat sebelum melangkah keluar pintu apartemen, kau mencium pipi istrimu. Lalu kau berbalik dan di hadapanmu hanyalah lorong panjang dengan lampu temaram. Tak ada halaman. Tak ada pohon ketapang. Tak pernah ada seorang anak bernama Anaya. Juga tak pernah ada Marni, Salamah, atau siapa saja. Kau kunci pintu apartemen dari luar dan berjanji pada diri sendiri, nanti sore akan segera pulang dengan membawa martabak. Namun, kau terhenyak. Kakimu memijak sesuatu. Kau menunduk dan melihatnya,selembar daun ketapang berwarna merah.

***


[1] Menerima segala lika-liku kehidupan, siap sedia/patuh terhadap perkataan belahan jiwa (bahasa Jawa).


Sasti Gotama, dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan cerita Penafsir Mimpi dan Antologi Journey to Infinity. Beberapa cerpennya dimuat di beberapa media online.

Cerpen

Dapur Tempat Ibu Bersembunyi

Cerpen Nurul Fatimah

Meski bapak baru saja dimakamkan, ibu tetap memilih menghabiskan waktunya di dapur. Begitu para pelayat pulang dan keluarga yang datang kembali ke kehidupannya masing-masing, ibu lantas bergegas ke dapur. Duduk di salah satu kursi usang yang sama seperti ibu, termakan waktu dan menjadi tua, terabaikan di dalam sebuah dapur kecil.

Selama ibu di dapur, sesekali menangis, tapi selebihnya hanya duduk diam dengan pandangan kosong ke arah ventilasi yang warnanya kehitaman akibat bertahun-tahun terkena asap kompor dan tidak pernah dibersihkan. Selama ibu di sana, tidak bicara sepatah kata pun pada kami—anak-anaknya. Ibu masuk ke dapur hanya untuk membunuh waktu, membunuh kenangan dan rasa sedih karena ditinggalkan. Seakan tempat itu memiliki dimensi yang memisahkan ibu dari dunia luar.

Dapur selalu menjadi ‘markas’ ibu, bahkan jauh sebelum bapak meninggal. Selalu menghabiskan waktunya di sana dari pagi hingga bertemu pagi lagi. Seakan-akan pekerjaan di dapur tidak pernah ada habisnya.

Ibu akan bangun di pagi buta sebelum penghuni rumah lain bangun untuk menyiapkan sarapan dan membuat kue yang akan di titipkan ke warung-warung. Ibu tidak pernah terlambat atau lebih tepatnya ibu tidak boleh terlambat. Sarapan harus dihidangkan sebelum bapak duduk di meja makan. Bapak tidak suka menunggu barang semenit pun. Kalau sampai sarapan belum dihidangkan saat ia sudah duduk di meja makan, bapak akan marah besar. Begitu pula kue-kue yang ibu buat harus jadi sebelum aku dan Dio, adikku berangkat sekolah, karena sebagian kue-kue yang ibu jual dititipkan juga di kantin sekolah.

Di siang hari, ibu juga selalu ada di dapur. Ketika aku pulang sekolah, ibu tidak akan ditemukan di mana-mana selain di sana. Sibuk menyiapkan makan siang untuk aku dan Dio. Ia akan makan sebentar saat aku dan Dio makan. Makannya sedikit saja, tidak pernah banyak. Lalu setelah kami selesai, dan ia membersihkannya, barulah ibu ke kamarnya untuk beristirahat sebentar sebelum kembali menyiapkan adonan untuk kue-kuenya.

Menjelang sore hari waktu ibu biasanya keluar rumah. Ibu akan ke pasar untuk membeli bahan makanan dan bahan kue. Itu pun sebelumnya ibu harus menyiapkan kopi dan cemilan untuk bapak kalau bapak ada di rumah. Tanpa perintah, ibu harus ingat sendiri, seakan-akan itu  tugas wajibnya dan kalau ibu lupa, bapak lagi-lagi akan marah. Jika tidak ada jadwal ke pasar dan bapak tidak di rumah, ibu biasanya duduk sebentar di teras. Sekedar menikmati sore dengan mata menerawang, selalu tampak memikirkan sesuatu. Wajahnya tidak pernah tenang, seakan ada sesuatu yang ia simpan sendiri.

Sebelum petang ibu sudah berkutat lagi di dapur. Menyiapkan makan malam untuk kami sekeluarga. Hanya dijeda waktu salat magrib sebelum menghidangkannya dan sudah harus selesai dibersihkan sebelum azan isya berkumandang. Setelah melaksanakan salat, tanpa istirahat terlebih dahulu, ibu mulai membuat kue agar besok pagi tidak terlambat. Hari-hari berikutnya  semuanya terulang lagi dan terus begitu.

Aku pribadi tidak pernah berpikir bahwa bekerja di dapur dan menjual kue adalah hal yang menyenangkan bagi ibu. Dulu, saat sebelum sesibuk sekarang, ibu terlihat lebih bahagia walau jarang mengekspresikannya. Ada waktu-waktu di mana ibu terlihat bersantai dan menikmati hidup walau dalam diam. Namun, sudah bertahun-tahun lamanya ibu terperangkap di dapur itu, kehilangan segala gairahnya. Tidak ada waktu bersantai, waktu istirahatnya hanya untuk tidur, atau duduk sebentar dengan wajah bosan karena rutinitas yang melelahkan.

Dapur kadang terlihat lebih seperti penjara bagi ibu karena memisahkannya dari dunia luar. Menyita seluruh waktu yang dimiliki wanita itu untuk menikmati kehidupan. Ibu terperangkap di sana karena banyak alasan. Mengabdi pada keluarga, juga untuk menambal kebutuhan ekonomi yang selalu sulit.

Gaji bapak yang seorang pegawai negeri anehnya tidak cukup untuk menunjang kehidupan kami yang jauh dari kata mewah. Selalu saja kurang hingga berkali-kali ibu harus menyuruh kami berhemat, menyuruh kami bersabar atas keadaan. Ibu tidak pernah mengeluh tentang sulitnya ekonomi pada bapak. Kalau pun pernah itu hanya sesekali saja, namun keluhan itu malah berakhir pertengkaran hingga suatu malam ibu ditampar oleh bapak. Aku yang saat itu masih kecil bahkan masih mengingat suara saat tangan bapak menampar wajah ibu.

Ah. Kalau dipikir-pikir, tamparan bapak malam itulah yang memenjara ibu di dalam dapur. Setelah kejadian itu, ibu benar-benar tidak pernah mengeluh. Ibu memilih untuk tidak berkonfrontasi dengan bapak. Semua pekerjaan rumah ibu lakukan dengan tepat waktu dan sebaik-baiknya, sehingga bapak tidak punya alasan untuk protes. Ibu juga mulai berjualan kue untuk menambal ekonomi keluarga yang tetap saja bocor di sana-sini meski sebaik apa pun ibu berusaha.

Bertahun-tahun ibu terpenjara di dapur dengan segala aktifitasnya, hingga ibu bertambah tua dan tanpa sadar sudah kehilangan begitu banyak kesenangan dalam hidup yang seharusnya ia dapatkan. Meski begitu, ibu masih juga tidak mengeluh, bahkan pada kami, anak-anaknya. Ibu lebih suka menyimpannya sendiri di dalam hati. Namun, waktu berlalu dan aku juga semakin dewasa lalu kedewasaan membuatku mengerti penderitaan yang tidak pernah diceritakan ibu.

Selain sebagai penjara, dapur sebenarnya juga tempat pelarian ibu. Ada waktu-waktu di mana ibu mencoba untuk menghidar dari pertengkaran dengan bapak meski seringkali pertengkaran tetap tidak bisa terelakkan, dan dapur menjadi tempat ibu bersembunyi. Menangis diam-diam, tidak ingin membuat anak-anaknya ikut sedih. Atau ketika tuntutan hidup menekan ibu dan ia tidak punya tempat untuk mencurahkan perasaannya, ibu akan duduk melamun di sana. Seakan dinding dapur bisa mendengar semua kesusahan yang dipancarkan oleh mata ibu.

“Bu, makan dulu,” kataku sambil menyodorkan sepiring ketoprak yang aku beli dari pedagang ketoprak keliling yang lewat di depan rumah. “Ibu belum makan dari pagi,” kataku lagi karena ibu tidak kunjung menyentuh makanan yang aku sodorkan.

Sudah lewat dua minggu setelah meninggalnya bapak dan ibu masih hampir selalu berada di tempat pelariannya. Kesedihan di matanya masih sama meski ia sudah tidak menangis lagi setelah minggu pertama. Semenjak bapak pergi, tidak pernah ada aktivitas apa pun di dapur. Ibu hanya berdiam diri di sana, biasanya duduk di kursi tuanya sambil melamun.

Ibu tersenyum lemah. “Nanti,” katanya singkat.

 “Bu, Ibu nggak bisa begini terus. Kita harus ikhlaskan kepergian bapak. Ibu harus lanjutin hidup, hidup yang baik.”

Air mata ibu menetes perlahan mendengar kalimatku meski begitu ibu masih tidak bicara apa-apa. Hatiku sakit melihat ibu menangis lagi karena bapak. Semasa bapak masih hidup, ada begitu banyak penderitaan yang ibu alami karena lelaki tua itu dan sekarang setelah ia tiada pun ibu masih saja dibuatnya sedih.

“Bu,” kataku lebih memaksa.

Aku tidak pernah menyangka kepergian bapak akan sebegitu menyiksanya. Aku pikir kematian bapak akan membuat hidup ibu lebih mudah. Bapak tidak pernah bersikap baik pada ibu. Tidak banyak kenangan baik yang tersisa untuk dikenang bahkan setelah aku tumbuh dewasa dan ibu sudah semakin menua. Hanya ada kenangan-kenangan buruk yang membuatku semakin tidak ingin bersedih atas kematian bapak.

“Bu, selama ini bapak sering jahat sama kita. Apa iya ibu harus meratapi kematiannya sampai nggak peduli sama kesehatan ibu sendiri?” Sebenarnya aku tidak ingin berkata begitu, menjelek-jelekkan bapak yang sudah meninggal, tapi aku tidak tahan karena ibu terus berlarut-larut dalam kesedihan.

“Bagi ibu, nggak akan ada yang bisa menggantikan bapak, Nak. Puluhan tahun hidup sama-sama, tentu ibu butuh waktu, kan? Jadi, ibu mohon biarkan ibu begini.” Ibu berbicara dengan lemah, tidak menatap mataku.

Kata-kata ibu membuatku kesal. Ibu terlalu setia untuk bapak yang entah sudah berapa kali berselingkuh dari ibu. Gajinya selalu habis untuk pacaran dengan entah sudah berapa wanita. Hanya kemarahan dan kekesalan yang bapak bawa ke rumah, dan ibu yang akan dijadikan pelampiasannya.

Terakhir, beberapa minggu sebelum meninggal, bapak bahkan meminta untuk menikah lagi. Aku ingin ibu bercerai saja dengan bapak. Namun, ibu memilih bertahan dalam pernikahannya yang menyedihkan. Ibu memilih diam ketika dipukuli karena menolak keinginan bapak itu. Ah, ibu memang terlalu baik. Sangat baik hingga aku yang harus bertindak. Meracuni bapak.***


Nurul Fatimah. lahir di  Mataram (NTB), 24 Mei 1994. Karya: All My Love (Ragam Media, 2014) (Novel). Call Me Anna (Chapter Eleven, ebook, 2017). Adik Sudah Mati (Cabaca, kumpulan cerpen horor, 2018).

Cerpen

Api yang Melahap Semua Kenangan

Cerpen Halimah Banani

Jika ada yang bertanya kenapa Ami mati, maka itu salah saya. Benar-benar salah saya. Ami mati dilahap api kelaparan yang sejak saya menyalakannya, maka api itu selalu merongrong minta diberikan makan. Tak pernah kenyang dan selalu merasa lapar.

Saat pertama kali Ami hamil setelah kami menunggu 10 tahun lamanya untuk punya anak, saya duduk di teras selepas sarapan. Menyandarkan punggung ke bangku sambil kedua kaki saya berselonjor ke bangku lain. Di tangan kiri saya sebatang rokok telah siap untuk dijepit ke bibir. Lantas saya mengambil pemantik dari saku kemeja, menyalakannya.

Tak ada yang aneh dengan merokok di pagi hari, ditemani secangkir kopi hitam. Sampai saya sadari kalau api dari pemantik saya tak mau padam, bahkan tak pernah bisa dipadamkan. Api itu melompat dari pemantik, berjalan mengitari saya dan ukurannya bertambah besar, sangat besar dari saat dia masih di pemantik. Sudah berbagai cara saya lakukan, dari meniupnya, mengguyur dengan segayung air, sampai memanggil tim pemadam juga para tetangga dan kaum kerabat dan rekan kerja. Namun percuma, api itu tidak mau padam juga. Saya kehabisan akal dan orang-orang sudah kelelahan dan malas mengurusi masalah api yang keras kepala dan tak mau padam meski sudah dibujuk secara halus sampai dengan cara kasar. Atas apa yang telah saya coba lakukan kepadanya, api itu murka, membentak saya dengan berkata, “Kau tidak akan bisa memadamkan saya! Jadi sebaiknya kau turuti permintaan saya!”

Bingung dengan apa yang diucapkannya. Saya bergeming. Menatap api itu tanpa berkedip.

 “Berikan saya kenangan!” bentaknya lagi.

 “Ke—kenangan apa?”

“Apa pun, kalau perlu semuanya. Saya lapar!”

Setengah gugup saya berpikir, apa yang harus diberikan kepadanya. Kenangan oh kenangan, mana yang harus saya berikan kepada api yang kelaparan. Semuanya begitu berharga. Sangat berharga. Tak ada saya rela memberikan satu.

“Cepat berikan saya kenangan atau saya akan membakarmu beserta rumah dan segala isinya!” bentaknya tak sabaran.

Saya tertunduk. Daripada dia membakar saya dan rumah beserta isinya, termasuk Ami, lebih baik saya menurutinya. Memberikan kenangan untuk dilahapnya.

***

“Cepat berikan saya kenangan lagi! Saya sudah sangat lapar!” titah api itu yang masih belum padam setelah sebulan lamanya menyala. Ukurannya semakin besar setelah diberi banyak makan.

“Kenangan apa lagi? Saya sudah memberikan begitu banyak kenangan untukmu.”

Api itu mengibas-ibaskan ekornya yang hampir mengenai tubuh saya. Pogah benar polahnya. Serupa pejabat tinggi yang membusungkan dada sambil mengangkat dagu. Menitahkan ini dan itu. Parahnya, semua harus dilakukan segera, tak boleh dibantah atau ditawar. Ucapannya dianggapnya sabda Tuhan. Paling tahu dan paling benar. Wajib dipatuhi.

“Mana kenangan yang saya minta? Berikan segera!”

Selama sebulan ini saya memberikan beberapa kenangan. Mulai dari kenangan saat saya bersekolah. Terkucil selama hampir 6 tahun lamanya sejak SMP sampai SMA karena kebanyakan teman-teman saya merupakan anak orang punya, sedangkan saya hanya beruntung mendapatkan beasiswa. Lewat surat-surat yang dikirim dari Los Angles, Ami membesarkan hati saya untuk bertahan menghadapi situasi seperti itu. Kami akan bertemu lagi karena dia akan melanjutkan pendidikannya di Jakarta. Kemudian saat api itu masih mengamuk minta makan, saya berikan pengalaman saya selulus SMA, bertemu Ami, berjuang mencari kerja sambil meneruskan pendidikan. Mengambil jurusan bisnis. Mulainya saya bekerja menjadi karyawan di toserba, lalu saya mendapatkan pekerjaan lain di sebuah kantor swasta.

Kenangan-kenangan itu seakan-akan tak pernah mengeyangkan api yang kelaparan. Lalu saya berikanlah kenangan tentang almarhum kedua orangtua saya yang samar-samar dan kadang saya me-reka sendiri alurnya. Tentang bagaimana mereka merawat dan membesarkan saya semasa hidup. Tak cukup, saya juga memberikan kenangan masa kecil saya. Ketika menjadi yatim-piatu dan bertemu Ami di rumah panti Kasih Ibu. Ami menghampiri saya yang sedang duduk di bawah pohon mangga. Saya menekuk kedua kaki dan memeluknya erat. Merasa kedinginan padahal cuaca sedang panas, bahkan keringat mengalir dari kening saya, turun dan menetes saat lelah bergelayutan di dagu. Ami duduk di samping saya, menyodorkan sebungkus cokelat yang didapatnya dari seorang wanita yang hendak mengangkatnya menjadi anak. Hampir dua bulan saya menghabiskan waktu di panti bersama Ami—sampai Ami resmi diadopsi dan saya juga sudah mulai kerasan berkatnya.

Api itu masih merajuk, merongrong mengatakan, “Saya lapar!” Rupanya dia tak ada kenyang-kenyangnya seperti tak pernah sekali pun diberi makan. Dia masih menagih, tak kenal waktu. Pagi, siang, sore dan malam kerjaannya meminta diberi kenangan. Kalau begini lama-lama bisa habis seluruh kenangan saya dilahapnya.

“Cepat berikan sekarang juga!”

Akhirnya saya mengalah, menuruti kemauan api itu setelah memilah-milah mana yang hendak saya korbankan. Dibanding memberikan kenangan saat saya melamar Ami dan menikahinya, saya lebih rela memberikan kenangan saat Ami meminta saya membeli rumah ini. Berandai-andai kalau kami punya banyak anak dan setiap anak memiliki satu kamar tidur.

“Kita beli rumah ini saja. Rumah ini besar dan bisa menampung banyak orang.”

“Kira-kira berapa orang?”

“Enam?”

“Hanya enam? Itu berarti, aku, kamu, dan empat anak?”

“Ya, dua laki-laki dan dua perempuan.”

“Bagaimana kalau dua belas?”

“Apa? Kamu pikir melahirkan itu seperti mencetak buku?”

“Kalau kamu tidak mau, biar aku yang melahirkan sisanya.”

Ami tersenyum sambil memukul lengan saya. Memandang rumah berlantai dua yang baru selesai kami lihat-lihat—yang baru kami lunasi biaya cicilannya setengah tahun lalu. Ami suka rumah ini selain karena luas, juga terdapat kolom renang di halaman samping belakang rumahnya dan sebuah ruang bawah tanah yang ukurannya tak lebih dari 12 meter persegi.

Kenangan itu, sebenarnya saya tak ingin membiarkan api melahapnya, tetapi tak ada pilihan lain. Saya tak ingin api itu membakar segalanya yang sudah susah payah saya raih.

***

“Kenapa kau masih mengganggu hidup saya?” saya membentak api itu saat dia kembali meminta kenangan. Saya kesal, kenangan saat saya melamar Ami pun telah diberikan kepadanya, dan sekarang dia masih meminta kenangan untuk dilahap. Jika dihitung-hitung, kini hanya tersisa beberapa kenangan saja.

Api yang tubuhnya semakin besar itu balas membentak dengan jemawa, “Punya hak apa kau mengatur-atur saya? Kau bahkan tak bisa mengatur hidupmu sendiri.”

Saya memicingkan mata. Sok tahu benar dia akan hidup saya. Mentang-mentang dia sudah melahap beberapa kenangan, sekarang dia merasa tahu segalanya. Mengetahui kelebihan dan kekurangan saya. Lantas mengancam akan membongkar semuanya, bila perlu membakar segalanya sampai hangus tak bersisa.

Merasa tersudut, akhirnya saya menyerahkan kenangan tentang betapa saya dan Ami berjuang keras untuk punya anak. Tiga tahun lamanya. Sampai kami memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis sebab cara manual sepertinya tak membuahkan hasil. Saya ingat Ami terduduk di salah satu kamar yang sudah dihiasnya untuk tempat bayi laki-laki kami kelak, bercat biru langit dengan beberapa tumpuk mainan di sudut ruangan. Ada mobil-mobilan, bola karet, balok susun, dan masih banyak lagi sehingga saya tidak hafal satu per satu mainan apa saja yang dibeli Ami. Wajah sendunya berusaha menyunggingkan sebaris senyum, begitu kaku. Tangannya memeluk saya erat. Hatinya hancur lebur. Surat pemeriksaan yang menyatakan bahwa saya mandul berusaha ditepisnya. Dicabik-cabik hingga hancur berkeping-keping dan berserakan di lantai kamar itu, kamar yang bersebelahan dengan kamar tidur kami.

“Aku baik-baik saja, dan aku tahu kalau kamu yang sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan apa pun. Mukjizat itu ada. Kita bisa berdoa semoga suatu hari mimpi kita bisa menjadi nyata,” ucap Ami sambil menepuk-nepuk punggung saya.

Malam itu saya menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Ami. Menangisi nasib saya yang malang. Dan kini saya meringis sebab kenangan itu dilahap api kelaparan.

***

“Cepat berikan saya kenangan!”

“Saya hampir tidak memiliki kenangan apa pun untuk diberikan kepadamu. Bahkan sudah saya berikan juga kenangan tentang Ami yang dengan berat hati mengosongkan kamar-kamar yang bakal menjadi kamar anak kami hanya untuk menghormati saya. Dia katakan kepada saya, ‘Tidak apa-apa, hidup berdua denganmu saja sudah cukup untukku.’ Berdosa saya karena mengikatnya hidup dalam kesepian,” jawab saya frustrasi. Meremas rambut dan menjambaknya keras.

“Kau masih punya satu!”

“Apa?”

“Kenangan hari itu. Cepat berikan kepada saya!”

Saya terdiam. Bergeming beberapa saat. Malam itu, sebelum paginya saya menyalakan pemantik yang mengubah hidup saya serupa neraka, saya ingat telah bertengkar hebat dengan Ami. Saya mengamuk mendapatkan kabar kalau Ami hamil. Dia pasti berselingkuh. Ya, tidak salah lagi kalau Ami berselingkuh.

“Semua rumah sakit tempat kita melakukan pemeriksaan menyatakan hal yang sama. Kalau aku mandul. Lalu bagaimana kamu bisa hamil kalau bukan dengan berselingkuh?”

“Ini anakmu. Aku tidak pernah berselingkuh dengan siapa pun,” jawab Ami mantap. Tak sekali pun dia mengalihkan tatapannya dari saya.

“Setelah tujuh tahun? Kamu pikir aku bakal percaya? Kalau saja kamu hamil karena ada mukjizat yang menyatakan aku tidak lagi mandul, mungkin wanita-wanita yang aku tiduri dua tahun belakangan ini juga akan hamil sepertimu!”

Hening. Ami mengerutkan keningnya. Mungkin dia kaget mengetahui kalau saya telah lebih dulu berselingkuh darinya. Dia terduduk di kursi depan meja rias. Tatapannya yang sejak tadi terus menatap mata saya lekat kini beralih menatap lantai. Tak dilanjutkannya lagi perdebatan kami malam itu. Namun, setiap kali melihat Ami, bahkan sampai saat ini, saya masih terus membahas perihal kehamilan dan perselingkuhannya. Dan siang ini, merasa saya terus menerus menghindarinya, menatapnya penuh dendam, Ami memutuskan pergi dari rumah.

“Aku akan menggugurkan kandunganku jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik,” ucapnya.

***

Ami sudah tertimbun tanah merah. Niatannya mengugurkan kandungan membuat nyawanya ikut melayang. Saya tidak pernah membenci Ami, saya hanya benci kenyataan kalau saya tidak bisa memberikannya keturunan sehingga dia mencari keturunan dari pria lain.

Sudah sejam saya memandangi makamnya, sampai suara ponsel di saku celana saya berdering. Dari Rina, rekan kerja saya. Dia bilang punya kabar bahagia. Saya menggerutu dalam hati. Kabar bahagia? Kamu kira kematian istriku merupakan kabar bahagia?

“Kenapa kamu terdengar tidak bahagia?”

“Aku bahagia. Sungguh.”

“Benarkah? Aku kira kamu tidak bahagia mendapatkan anak dariku.”

“Maksudmu?”

“Aku hamil anakmu, Mas.”

“Anakku?”

“Iya. Memang kamu pikir aku wanita seperti apa? Aku hanya melakukannya denganmu seorang. Tentu saja aku hamil anakmu,” ucapnya riang karena sebentar lagi dia bakal menjadi ibu.

Dasar, Jalang! Kamu tanya wanita seperti apa dirimu? Cih! Jika kamu wanita baik-baik, tak akan mau kamu menjalin hubungan dengan pria beristri sepertiku. Saya menutup telepon secara sepihak. Menatap makam Ami lekat-lekat. Lantas menengadah, menatap langit yang mulai mendung. (*)

Jakarta, Oktober 2018

Catatan:
Cerpen ini merupakan versi pertama dari cerpen berjudul “Masih Ada Sepotong Pagi yang Belum Kaucicipi”.

Halimah Banani, penulis asal Jakarta. Mengikuti Kelas Menulis Loker Kata. Bisa dihubungi melalui alamat surel [email protected]. Facebook: Halimah Banani

Cerpen

Kami Harus Pulang ke Rumah

Cerpen Aris Rahman P. Putra

Jep adalah salah satu teman yang dapat kupercaya, maka aku  berinisiaif mengajaknya bersama Med untuk melihat rumah Bik Merian, tempat yang sebetulnya terlarang untuk kami kunjungi. Ben kerap menceritakan tentang kebiasaan mengerikan Bik Merian.

“Kau tahu, Bik Merian suka dengan anak kecil seperti kalian! Kalian akan direbus dalam sebuah kuali besar dan akan dijadikan sop bening!” kata Ben.

“Mengapa ia melakukan itu?” tanya Med agak gemetar.

“Untuk dijadikan ramuan awet muda!”

Apa yang dikatakan oleh Ben tentang Bik Merian membuat Med berjanji untuk tak pernah bermain di sekitar rumahnya, apalagi sampai memasuki pagar. Tapi itu sama sekali tidak menurunkan rasa penasaranku. Kupikir ia sedang berupaya membohongi kami. Sama seperti kebohongannya tentang danau di belakang sekolah yang menjadi tempat tinggal Kadal Buntung atau keberadaan Macan Berkepala Manusia di hutan Jati.

Maka dari itu, pagi-pagi sekali aku mengajak Med dan Jep untuk mengintai rumah Bik Merian. Tapi sebagaimana bisa ditebak, Med menolak ajakanku mentah-mentah.

“Aku tak ingin dijadikan sop bening!”

“Tak akan ada yang menjadikanmu sop bening, Med!”

“Apa kau lupa apa yang pernah diceritakan Ben?”

“Apa kau benar-benar percaya apa yang dikatakan Ben?”

“Oh, ya, Tuhan, apa kau tak percaya apa yang dikatakan Ben, Ris?”

“Ayolah … apa kau tidak penasaran dan ingin membuktikannya sendiri?”

Sementara aku dan Med berdebat, Jep masih terdiam memandangi setumpuk buku bacaan yang ada di kamar kami. Ia memerhatikan sampul dan membuka beberapa buku dan tak lama kemudian menaruhnya kembali di tempat semula.

“Gimana menurutmu, Jep?” tanyaku.

Jep tampak kaget dan segera mengalihkan pandangannya dari tumpukan buku itu. “Oh, Ris. Kau tentu tahu di sana juga ada banyak kucing garong!”

“Apa yang perlu ditakutkan dari kucing garong?”

“Kucing garong bisa lari kencang, memiliki kuku yang cukup tajam untuk mencongkel bola matamu, dan memiliki taring seperti pisau untuk mencincang daging empuk seperti punya kita.”

“Dari mana kau dapat informasi seperti itu?” tanya Med.

            “Jangan bilang kau mendengarnya dari Ben?” potongku.

“Aku memang mengetahui hal itu dari dia. Dia tinggal di sini lebih dulu daripada kita bertiga dan dia mengenal desa kecil ini seperti ia mengenal saudaranya sendiri.”

Mendengar jawaban itu aku sedikit muak. Memang benar bahwa Ben tinggal di daerah ini lebih dulu  dan juga ia setahun lebih tua dari kami. Beberapa saat lalu ia berkata padaku bahwa ada Kadal Buntung di danau belakang sekolah. Aku yang tak langsung percaya pun sepulang sekolah langsung pergi mengamati danau hingga langit nyaris gelap, tapi aku hanya melihat ikan kecil-kecil dan kodok dan sama sekali tidak melihat kadal raksasa berwarna hijau yang menyembul dari dalam air. Mulai sekarang, selama apa yang dikatakan Ben tak terbukti, aku tidak akan memercayai apa pun yang keluar dari mulutnya. Seseorang tidak bisa lagi dilarang melakukan sesuatu tanpa diberi penjelasan mengapa ia tak boleh melakukan hal tersebut, apalagi diberi penjelasan yang sama sekali tidak masuk akal, itu sama saja pembodohan! 

“Baik, lupakan soal apa yang telah dikatakan Ben,” kataku kemudian. “Bagaimana kalau kita membuktikannya sendiri?”

“Apa kau sudah gila, Ris?” kata Med.

“Tidak, tidak, aku bakal menyusun strategi agar kita bisa tetap dalam kondisi aman. Atau kalau perlu, aku akan mengajak Ben.”

“Baiklah, tapi ingat, kita mesti sudah pulang sebelum langit gelap.” kata Jep sambil menatap langit dari jendela kamar

Sebelum genap pukul tiga siang, kami dan Ben sudah sepakat untuk melakukan penyelidikan terhadap rumah Bik Merian. Pada awalnya ia bersikeras tak mau menemani kami karena ia tak mau berakhir menjadi sop bening. Ia mengatakan kembali pada kami bahwa Bik Merian adalah seorang dukun yang menguasai ilmu tenung, lalu bersembunyi ke desa kami untuk melarikan diri setelah membunuh seorang gadis berusia 12 tahun dan merebusnya menjadi sop bening untuk ramuan awet muda. Ia berkata bahwa apa yang akan kami lakukan cukup gila dan berbahaya. Namun, setelah aku memaksanya dengan sedikit menyindir bahwa ia hanya seorang penakut yang hobi membual, ia kemudian setuju untuk ikut dengan kami. Karena bisa jadi penyidikan ini akan benar-benar sangat berbahaya bagi kami, maka masing-masing dari kami berinisiatif untuk membawa barang-barang yang mungkin akan sangat dibutuhkan saat penyelidikan.

Ben membawa segenggam bawang putih yang ia ambil dari dapur rumahnya. Ia berkeyakinan bahwa Bik Merian tidak akan suka dengan anak yang bau bawang. Jadi ketika nanti ia tertangkap oleh Bik Merian, Ben akan buru-buru makan bawang putih itu supaya Bik Merian melepaskannya dan tidak menjadikannya sebagai sop bening. Itu ide yang baik, setidaknya bila apa yang diperkirakan Ben benar, kami bisa minta bawang putih kepadanya dan kami bisa menyelamatkan diri. Tapi aku sendiri tak benar-benar yakin dengan bawang putih karena kupikir itu hanya mempan untuk drakula dan Bik Merian bukan drakula. 

Jep tentu lain cerita, ia pulang ke rumah dan kembali lagi dengan membawa tasbih. Ia merasa yakin bahwa dengan membawa tasbih tersebut, ia akan terhindar dari energi yang jahat atau marabahaya apa pun yang mengancamnya. 

Sementara itu, aku dan Med memilih membawa barang-barang kesayangan kami. Aku membawa topi Timnas dan Med dengan boneka dinosaurus berwarna ungu. Jep dan Ben mengatakan kepada kami bahwa benda-benda yang kami bawa sama sekali tak akan berguna. Tapi aku dan Med sendiri memiliki alasan kenapa harus membawa barang tersebut. Ya, bila memang nantinya kami akan benar-benar menjadi sop bening. Aku dan Med sangat berharap bahwa barang-barang itulah yang akan membuat orang tua kami mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah semua sudah berkumpul di depan pagar sekolah, aku mulai menyusun rencana. Dalam hal ini, aku akan menjadi pemimpin dalam operasi yang kuberi nama “Kami Harus Pulang ke Rumah”.

“Baik teman-teman, mari kumpul,” kataku. “Jadi begini, misi yang akan kita lakukan ini sangat mudah. Yang perlu kita lakukan adalah menyusup ke rumah Bik Merian, melakukan penyelidikan, lalu pulang ke rumah sebelum langit gelap.”

“Lalu, gimana kita bisa masuk ke rumahnya?”  tanya Jep ragu. 

“Emm … kita bisa lewat pagar di samping rumahnya.”

“Bagaiamana cara kita bisa meloloskan diri dari kucing-kucingnya?”

“Astaga, tak ada yang perlu ditakutkan dari kucing-kucing itu, Jep!”

“Apa kalian tak tahu kalau kucing-kucing Bik Merian bahkan bisa membunuh anjing?” timpal Ben.

“Baiklah, kita bisa membawa beberapa batu di saku celana masing-masing.”

“Apa itu cukup?” tanya Jep.

“Setidaknya kita berempat. Kita bisa saling menjaga. Apa ada lagi yang perlu ditanyakan?”

Semua menggeleng dan kami pun segera memulai operasi yang akan kami lakukan. Rumah Bik Merian letaknya tak terlalu jauh dari sekolah kami, namun cukup terpencil dan terpisah dari rumah yang lain. Kami berjalan dengan perasaan campur aduk hingga kemudian kami melihat rumahnya yang tampak gelap dan muram, seperti istana milik penyihir dalam kartun yang tiap Minggu kami tonton. Pada dindingnya kau akan dapat melihat tanaman-tanaman hijau merambat dan pohon-pohon besar dengan dedaunan yang berserakan di halaman dibiarkan begitu saja. Pagarnya telah berkarat sementara kaca jendelanya telah pecah di beberapa bagian. Atap rumahnya berlubang di sana-sini. Dan seperti yang dikatakan Ben dan Jep,  ada beberapa kucing hitam berkeliaran di dalamnya.   

Aku masuk lebih dulu melalui celah di pagar samping, lalu disusul Jep, Med, dan Ben yang terakhir. Kami berupaya melangkah seperlahan mungkin agar tidak menarik perhatian kucing-kucing Bik Merian. Setelah sampai pada sebuah pohon, kuperintahkan mereka untuk berhenti sejenak. Aku sendiri merangkak menuju jendela yang berhadapan langsung dengan pohon tersebut dan mengintip keadaan di dalam rumah.

Kupikir, apa yang selama ini kubayangkan tentang Bik Merian tak terlalu jauh dengan apa yang kulihat sekarang. Kemuraman yang tampak di luar rumah, tak terlampau berbeda dengan apa yang ada di dalam. Sofa yang mestinya bewarna putih, dipenuhi debu-debu dan bekas terbakar di beberapa bagian. Jahitannya juga telah robek sehingga kapas-kapas bertebaran di atasnya. Mejanya penuh dengan robekan-robekan kertas.

“Bagaimana, Ris?”

Aku menoleh dan mengacungkan jempolku kepada teman yang lain.

“Ben, coba kau cek pintu belakang.”

“Aku sendiri?”

“Jep akan bersamamu.”

“Lalu bagaimana dengan kau?”

“Aku akan melihat pintu depan dan mencari pintu masuk lain. Kau ikut denganku, Med. Tigapuluh detik lagi kita harus kembali ke sini.”  

Dalam sekejap kami segera berpencar.

Aku memegangi lengan kanan Med dan kami mengendap-endap menuju halaman depan rumah, mencoba merangkak melewati rerumputan dan dedaunan kering. Sementara tangan kirinya masih memegang erat boneka kesayangannya.

“Sedikit cepat, Med.”

Med kemudian berhenti dan menarik kaosku.

“Apa sebaiknya kita pulang saja, Ris?”

“Apa maksudmu?”

“Kubilang kita sebaiknya pulang saja.”

            “Kita sudah sejauh ini dan kau mengajak untuk pulang?”

“Ya, kita sudah melangkah sejauh ini dan sebaiknya kita segera pulang.”

“Kenapa?”

“Perasaanku tidak enak …”

“Oh, ayolah, kau hanya takut. Sini, pegang tanganku.”

“Tidak, Ris, aku benar-benar merasa tidak enak.”

“Kalau kau memang ingin pulang, sana pulang sendiri!”

Aku tak menghiraukan Med dan terus merangkak menuju bagian depan rumah. Apakah Med benar-benar akan pulang, aku sudah tak lagi mempedulikannya. Semua rencana yang kususun telah berjalan dengan baik dan dalam tahap ini, aku telah semakin dekat dengan kebenaran.

Syukurlah di halaman tak ada kucing-kucing sehingga tak ada lagi yang perlu ditakutkan. Semua benar-benar berjalan lancar. Langkah terakhir yang perlu dilakukan adalah membuka pintu ini dan mengetahui semuanya.

Aku menjinjit dan berusaha mengintip keadaan di dalam rumah melalui kaca yang ada di pintu depan. Dan, apa yang sedang kulihat sekarang benar-benar tak dapat dipercaya.   

Di salah satu kamar di samping toilet, terlihat Bik Merian sedang bercakap-cakap dengan seorang laki-laki di atas ranjang, dan yang mengagetkan, laki-laki itu mirip ayah Ben, Pak Rasmusin. 

Rambut Bik Merian terlihat berantakan dengan hanya mengenakan pakaian dalam saja. Sedang ayah Ben juga terlihat bertelanjang dada meski ia memakai celana dalam. Mereka terlihat bahagia dan apa yang sedang mereka lakukan tampak seperti sepasang orang dewasa yang telah menikah.

Aku masih penasaran dengan apa yang terjadi sehingga kuputuskan untuk menyelinap ke dalam. Pintu depan tak terkunci sehingga mudah untuk dibuka. Aku mengendap-ngendap masuk dan lekas besembunyi di bawah meja di ruang tamu. Dari sini, aku dapat mendengar percakapan Bik Merian dan ayah Ben meski agak samar-samar.

“Jadi kapan kita akan menikah?”

“Sebentar lagi …”

“Dulu juga kau bilang begitu, sebelumnya juga, sebelumnya juga…”

“Kali ini aku serius. Aku telah mengurus surat cerai.”

“Benarkah?”

“Tentu benar, sayang.”

“Bagaimana keadaan anakmu, Ras?”

“Ia akan ikut ibunya.”

“Mengapa tidak kita rawat dia, Ras? Aku bosan dengan kucing-kucing.”

 “Ia takut denganmu, ia menganggapmu dukun tenung.”

 “Apa penampilanku semenyeramkan itu Ras?”

“Tidak, kau adalah wanita tercantik yang pernah kukenal. Namun harus kuakui aktingmu sangat bagus hingga dapat mengelabui anak kecil, bahkan setiap orang. Juga keadaan rumah ini … sempurna, sangat sempurna!”

“Tapi aku ingin merawat seorang anak Ras. Aku bosan dengan kucing-kucing.”

“Kita akan memilikinya segera. Kalau perlu kau akan melahirkan 3 atau 4 anak dan kita akan memulai hidup yang baru bersama-sama, meninggalkan masa lalu masing-masing.”

Percakapan yang sedang kudengar benar-benar terdengar jelas dari sini dan aku benar-benar terkejut mendengar apa yang sedang dibicarakan meski aku tak memahami seutuhnya. Namun sialnya, seekor kucing peliharaan Bik Merian terlihat datang mendekat dan mengeong ke arahku.  Spontan aku berusaha melarikan diri dan berhasil keluar dari pintu dan menghambur ke luar rumah secepat yang kubisa. Di pohon, kulihat Ben dan Jep sedang menungguku dan aku memberi isyarat kepada mereka agar segera keluar dari tempat ini. Sampai di depan sekolah kami menghentikan langkah kami dan menarik napas sejenak.

“Ada apa sebenarnya, Ris?”

“Tidak apa-apa. Kurasa kita harus segera pulang ke rumah. Setelah ini aku akan membuatkan kalian es jeruk. Emm … dan untukmu Ben, kuharap kau jangan terlalu memercayai apa yang dikatakan oleh ayahmu.”

“Sebenarnya apa yang baru kaulihat, Ris?”

“Tidak, tidak ada apa-apa. Kuharap Med telah sampai di rumah sekarang. Kuharap di lain hari ia berhasil mencegahku berbuat aneh-aneh. Kuharap Kadal Buntung benar-benar ada. Ah, mari kita segera pulang.” ***

(2019)


Aris Rahman P. Putra, lahir di Sidoarjo, 12 Juli 1995. Alumni Universitas Airlangga Jurusan Antropologi. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive diterbitkan oleh Penerbit Basabasi.

Cerpen

Kupu-Kupu di Kamar Mei

Cerpen Tiqom Tarra

Aku tidak tahu bagaimana kupu-kupu itu muncul dan memenuhi setiap jengkal kamar Mei, kakak perempuanku. Mereka hinggap di lemari, beterbangan di atas ranjang, dan berkerumun di meja rias. Aku pikir ratusan kupu-kupu itu berasal dari taman bunga tak jauh dari rumah kontrakan Mei, tapi aku salah; tak ada taman bunga di sekitar permukiman di mana Mei menyewa sebuah rumah. Kupu-kupu itu tidak berasal dari mana pun, melainkan muncul begitu saja di kamar Mei seolah mereka berkembang biak di sana.

“Kakak memelihara kupu-kupu?” tanyaku saat pertama kali memasuki rumah kontrakan Mei. Sudah empat tahun ini Mei merantau ke ibu kota untuk melanjutkan pendidikan di bangku kuliah sembari bekerja.

Ini pertama kalinya aku mengujungi Mei. Dia selalu menolak ketika aku atau keluargaku yang lain ingin mengunjunginya. Namun, kali ini Mei mengiyakan permohonanku untuk tinggal sementara di kontrakannya sembari menghabiskan waktu libur sekolah.

Ketika kutanya perihal kupu-kupu di kamarnya, Mei tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa mereka semua hanya menemani dirinya.

“Sepi sekali karena jauh dari keluarga,” ucapnya.

Aku bisa mengerti. Hidup jauh dari keluarga demi melanjutkan pendidikan dan membantu ekonomi keluarga tidaklah mudah. Jujur, aku salut padanya; dia membiayai sendiri kuliahnya dengan bekerja, dan sebagai anak tertua Mei selalu mengirim uang untuk membantu keluarga dan adik-adiknya. Apalagi sepeninggalan Ayah ekonomi keluarga kami terus memburuk.

Mei menjadi kebanggaan Ibu. Setiap hari, Ibu bercerita tentang Mei yang kelak akan menjadi seorang sarjana. Kadang, aku cemburu ketika Ibu selalu membangga-bangga Mei secara berlebihan, tapi Mei memang telah melakukan segalanya demi pendidikan dan keluarga.

Setiap pagi jumlah kupu-kupu di kamar Mei terus bertambah hingga aku tidak bisa menghitung saking banyaknya. Ketika Mei keluar kamar, banyak sayap kupu-kupu yang patah menempel di tubuhnya, tapi dia tidak peduli. Mei hanya akan langsung masuk ke kamar mandi untuk membilas semua sayap-sayap itu.

“Pasti pekerjaan Kakak berat, ya?” basa-basi aku bertanya ketika kami menyantap nasi uduk untuk sarapan.

Mei terlihat sangat kelelahan dan aku baru tahu kalau dia pulang bekerja pukul tiga dini hari. Pasti sangat melelah, apalagi paginya Mei harus kuliah.

“Kakak sudah terbiasa. Ini tidak seberat yang kamu pikirkan,” jawabnya.

Ah, kakakku ini memang benar-benar pekerja keras. Diam-diam aku berdoa semoga aku juga bisa sepertinya; menjadi kebanggan Ibu dan keluarga.

“Hari ini aku harus langsung ke tempat kerja. Kamu tidak perlu menungguku pulang.”

Setelahnya Mei pergi dan hingga pukul lima dini hari dia belum juga pulang. Aku tentu khawatir meski berulang kali Mei mengatakan dia memang biasa pulang pagi karena kerja sif malam. Namun, tetap saja aku khawatir. Bagaimanapun, Mei adalah perempuan, dan berada di luar ketika malam sangatlah berbahaya.

Aku beranjak dari kamarku kemudian membuka pintu kamar Mei. Di sana kupu-kupu makin banyak jumlahnya, berebut tempat, berputar-putar di atas ranjang seperti angin puting beliung.

“Dari mana sebenarnya kalian berasal?” gumamku diikuti suara kunci yang diputar. Tak berapa lama Mei muncul dari balik pintu dengan wajah kusut kelelahan.

“Kamu tidak tidur?” tanya Mei sembari melangkah masuk. “Bukankah aku sudah bilang untuk tidak menunggu?”

“Aku bukan tidak tidur, tapi sudah bangun. Ini sudah subuh, Kak.”

Mei tidak menjawab. Dia hanya membuang napas berat sebelum menutup pintu kamar dengan ribuan kupu-kupu di dalamnya. Mei tidak keluar setelahnya. Dia baru keluar ketika hari sudah beranjak senja.

“Selesai makan Kakak ingin kamu ke minimarket depan gang untuk beli beberapa kebutuhan dan jangan pulang sebelum jam sepuluh.” Mei memberiku beberapa lembar uang dan daftar belanjaan.

“Kenapa aku tidak boleh pulang sebelum jam sepuluh?”

Mei tidak menjawab. Dia hanya melanjutkan makan, sedangkan aku diselimuti banyak pertanyaan tentang kakakku ini. Apa yang sedang disembunyikan Mei?

“Besok aku ingin melihat tempat kerja Kakak.” Entah apa yang aku pikirkan ketika mengatakan itu. Namun, aku tahu Mei menyembunyikan sesuatu dariku.

“Untuk apa?” Kali ada nada kesal yang begitu kentara dari suara Mei. Dia mendengus sebelum meletakkan sendoknya ke piring yang menimbulkan suara nyaring. “Bukankah kamu ke sini untuk liburan?”

“Aku hanya ingin tahu tempat kerja Kakak.”

“Tidak perlu. Sekarang pergilah ke minimarket dan jangan kembali sebelum jam sepuluh.”

Setelahnya tidak ada pembahasan lagi; Mei beranjak ke kamar, membanting pintu kamar dan tidak keluar lagi. Dan itu bukan terakhir kalinya Mei bersikap sedemikian rupa ketika aku membahas tentang tempat kerjanya. Mei selalu menghindari pertanyaanku.

***

Aku tahu ada yang disembunyikan Mei dariku. Di malam-malam tertentu dia menyuruhku ke minimarket dan tidak mengizinkanku pulang hingga waktu yang dia tentukan? Aku tidak tahu apa sebenarnya pekerjaan Mei. Dia selalu marah ketika aku memaksa untuk ikut ke tempat kerjanya. Kenapa dia selalu pulang pagi? Dan yang membuatku terus berpikir adalah mengapa kupu-kupu di dalam kamarnya kian banyak seolah akan meledakkan kamar itu? Ada yang aneh antara Mei, pekerjaannya, dan ribuan kupu-kupu di kamarnya.

Sejujurnya, ada satu kesimpulan yang diam-diam aku pikirkan tentang Mei. Namun, memikirkannya saja membuatku sedih. Tidak mungkin Mei melakukannya. Tapi lagi-lagi dia memintaku ke minimarket dan tidak boleh pulang sebelum pukul sepuluh malam.

Demi menyudahi rasa penasaranku, kuhentikan langkah. Aku harus mendapat jawabannya malam ini juga, maka aku berbalik arah. Setengah berlari aku menuju rumah kontrakan Mei. Di sana ada sebuah motor terparkir, padahal ketika aku berangkat ke minimarket tadi belum ada motor itu. Segera aku membuka kunci pintu dan melangkah masuk.

Mungkin harusnya aku tidak perlu kembali ke rumah Mei dan tetap bertahan di minimarket seperti perintahnya. Atau mungkin harusnya aku tidak perlu datang menyusulnya ke perantauan dan tetap di kampung dengan segala kebanggaan tentang kakakku itu. Namun, di sini, tepat di depan kamarnya aku melihat kenyataan tentang Mei.

Ketika kubuka kamar itu, aku melihat ribuan kupu-kupu beterbangan menyesaki kamar Mei. Kupu-kupu itu lahir dari dua tubuh di atas ranjang yang sedang mereguk kenikmatan.***


Tiqom Tarra, lahir dan tinggal di Pekalongan. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia, detik.com, Gogirl, Fajar Makassar, Harian Solopos, Radar Surabaya, dan ideide.id. Buku kumpulan cerpen perdana Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana (JWriting Soul, 2018).

Cerpen

Ingatan Pohon Pisang

Cerpen Dewi Sukmawati

Setelah berkali-kali aku membaca catatan harian ibu. Masih saja belum kutemukan catatan di mana aku lahir dan siapa yang memberiku nama. Sungguh itu hal yang sulit. Bagaimana aku bisa mengerjakan tugas rumah dari ibu guru? Pada siapa aku harus bertanya? Aku tak punya ibu, aku pula tak punya ayah. Yang kupunya hanya paman galak bertubuh besar dan kekar. Mana mungkin pamanku bisa kuajak berbicara serius? Dia terlalu sibuk dengan kupu-kupunya. Mulai dari kupu-kupu yang cantik, yang langsing, yang mewah, yang kalem, dan yang centil. Kadang aku bertanya dalam diri. Apa ibuku salah satu dari mereka? Buku yang kata pamanku ini warisan ibuku juga tak membantuku sama sekali.

Buku catatan ibuku hanya sibuk membicarakan ritual pohon pisang. Di mana diceritakan buyut, nenek, dan ibuku selalu menanam pohon pisang di usia 17 tahun. Dan setelah pohon pisang berbuah dan beranak, pohon itu mati. Meninggalkan buah dan anaknya pada tuan besar. Tuan besar memakan manis buah pisang dan memindah anak pohon pisang atau menjualnya ke tuan lain. Sungguh ini membingungkan. Bagiku yang masih duduk di bangku SD. Mungkinkah saat aku besar nanti jadi pohon pisang, atau kupu-kupu juga? Entahlah. Aku hanya punya paman di dunia ini. Mungkin aku akan menurut saja padanya.

***

Beberapa hari sebelum Murlin akan menikah, dia melihat calon suaminya jajan di pasar malam dekat taman suram. Karena peristiwa malam itu pula pernikahannya gagal. Dan Murlin memutuskan untuk menjadi jajan di pasar malam dekat taman suram. Di usianya yang masih 17 tahun, bukan hal mudah melakukan itu. Dia pun tak punya ibu atau ayah. Dia hanya memiliki satu pohon pisang yang dulu ditanamnya. Dia merasa hidupnya seperti pohon pisang. Berbuah tanpa ayah. Beranak tanpa ikatan. Dan bertakdir sampai pada keturunan terakhir.

Setiap pulang dari pasar. Murlin selalu bicara dengan pohon pisangnya sebelum masuk ke rumah dan mencatat peristiwanya dalam buku catatan. Pada waktu kemudian, pohon pisangnya berbuah, persis dengan manis dan larisnya Murlin dipesan. Saat pohon pisang beranak dan mati meninggalkan anaknya. Murlin pun demikian, beranak dan mati meninggalkan anak perempuannya. Anak pohon pisang, anak Murlin dan catatan harian Murlin kini dijaga dan dirawat oleh lelaki berbadan besar dan kekar yang beristri juragan kupu-kupu malam yang tak pernah suka pada pisang.

Mungkin anak pisang itu akan beranak pisang saat dewasa. Anak murlin pula akan menjadi ratu malam. Lalu melahirkan dan meninggalkan anaknya kembali pada tuan berkalung emas, berjas, dan berdasi. Sepeti buku panduan yang telah dicacat oleh ibunya di 17 tahun usianya. Ingatan pohon pisang ini memang sudah menjadi garis. Hanya akar pisang yang tahu, kapan garis itu terputus setelah lama berkembang biak di dalam tanah dunia malam.


Dewi Sukmawati lahir di Cilacap, 21 April 2000. Sekarang sedang menempuh pendidikan di IAIN Purwokerto Fakultas Ekomoni dan Bisnis Islam. Aktif di SKSP IAIN Purwokerto dan KSEI IAIN Purwokerto. Beberapa karyanya dimuat Antologi dan Media Massa.

Cerpen

Sebuah Arloji dan Kenangan di Dalamnya

Cerpen Drei Herba

Baru kali ini seorang laki-laki datang dengan permintaan aneh. Bagi tukang reparasi sepertiku, hanya sedikit peristiwa tak masuk akal pernah menyasar. Ingin kutolak andai sorot mata laki-laki dihadapanku itu tak lebih dulu mencegah. Tetapi bagaimana mungkin mengabulkan permintaan musykilnya, memperbaiki arloji sekaligus kenangan di dalamnya?

“Ini pemberian kekasihku.” Tangannya menyodorkan sebuah arloji bulat berwana biru tua dengan strap rubber hitam menyulur sepanjang enam atau tujuh senti. Bukan arloji branded, juga tak terlihat begitu istimewa. Hanya arloji pasaran seharga di bawah seratus ribuan.

“Tolong perbaikilah.” Tatapannya memohon. “Aku akan membayar berapa pun biayanya.” Mataku yang menatap jam tangan segera beralih memandang ke arahnya. Ucapan terakhirnya itu sama sekali tak simetris dengan penampilannya yang tak mengesankan. “Saya memang tidak punya uang saat ini, tapi saya berjanji akan segera membayarnya,” timpalnya setelah membaca caraku memandang.

Aku menggaruk rambutku yang tak benar-benar gatal. Aku memang tukang reparasi arloji, tapi memperbaiki kenangan di dalamnya? Itu bukan keahlianku. Itu soal masa lalu, dan masa lalu selalu tentang waktu. Sementara arloji hanya alat menakar, membaca bentuk waktu yang abstrak.

Ingin sekali aku mengkhutbahinya, namun ucapanku kembali tertahan oleh sorot matanya. Aku kembali pura-pura memeriksa tiap inci arloji itu. Jarumnya masih terlihat normal, sedikit menatih karenq terdorong oleh langkah jarum paling tipis.

Dengan menahan sebisaku, setidaknya, aku dapat merawat harapannya lebih panjang. Lagi pula, ia tak benar-benar ingin memperbaiki arloji ini, ia hanya ingin bercerita. Tapi sorot mata itu, justru membawaku pada ingatan sepuluh tahun silam; ingatan yang tak sepenuhnya terhapus.

Air mataku dengan sendirinya rebah, menyeka kaca arloji yang terlihat mulai kusam ini. Peristiwa itu membawaku kemari. Aku berpikir apakah bentuk sorot mataku saat itu sama dengan sorot mata laki-laki di hadapanku ini?

Hal itu bermula dari kedatangan kabar yang menabrakku. Tak ada gerimis, malam teramat sunyi untuk mengalamatkan pertengkaran. Tapi, tepatkah peristiwa itu disebut pertengkaran? Bukankah itu hanya kepasrahan, malam saat membuka surat darinya, menerima kabar tentang pertunangan Mayda.

Apakah aku marah? Tidak! Tentu saja! Bagaimana caraku marah? Toh, itu hanya sebuah surat. Tidak langsung terucap dalam sebuah pertemuan.

Aku nyaris lupa obsesiku tentang arloji, melihat bagaimana caranya memutar serta mendengar suara tiktoknya memekik. Sepuluh tahun lamanya, sejak kali pertama mereparasi arloji, lalu kemudian sorot laki-laki ini, menggugah kenangan itu kembali.

Kala itu aku penasaran sekalipun jarum yang terus berjalan tapi akan selalu membawa kembali ke tempat asal. Tapi, jarum yang sama tak dapat mengembalikan kenangan ke tempat ia berawal. Jarum itu saja yang berjalan sirkular, melingkar. Tidak dengan kehidupan yang kujalani, perjalanan linear tanpa ujung pangkal.

Aku terlalu sibuk dengan kenanganku, sampai lupa bahwa laki-laki di depanku ini, masih terus menanti dengan gelisah. Masih terselip harapan dari tanganku yang pura-pura serius memeriksa arlojinya, “Kawan, arlojimu bisa kuperbaiki, tapi sulit rasanya bila sekaligus membenahi kenangan di dalamnya?”

“Tidak bisakah memutar balik arah jarumnya?” nadanya terdengarseparau harapannya yang kini mulai mengikis, “bukankah dengan begitu akan membawaku kembali ke masa lalu?”

Dulu aku juga pernah berkeinginan seperti itu. Aku ingin bilang itu mustahil, tapi sorot matanya kembali menahan bibirku. Aku masih ingin merawat harapannya. Hanya itu yang dimiliki, satu-satunya alasan tetap melanjutkan hidup. Lalu, aku harus mengutara dusta seperti apa lagi?

Kini bibirnya terbata-bata bercerita peristiwa pada sebuah malam. Dingin kemarau telah membawa birahinya. Di ranjang yang tinggal kerinduan, ia luapkan bertubi-tubi ciuman. Bibirnya, ibarat kapal yang kini mendarat ke dermaga bibir kekasihnya. Temaram lampu dan sprei menjadi saksi sepasang tubuh itu saling merengkuh. Bersahutan. Membuncah. Mendesah.

Air matanya patah, tertarik gravitasi, rembas perlahan ke pipinya. Malam itu, perjumpaan terakhir, bahkan dalam sebuah perpisahan yang tak pernah tuntas terucap.

“Kekasihmu mati? Benar bukan? Kecelakaan?” sergahku.

“Tidak! Tapi,” katanya lagi, “toh tak ada bedanya. Aku tetap sama-sama kehilangan.”

“Maksudnya?”

Ia lanjutkan ceritanya, kekasihnya akan pindah kerja, dan keesokan harinya ia mengantar. Sementara, ia masih juga tak lulus-lulus kuliah, dan hanya bisa menghadiahi kekasihnya itu dengan potongan puisi. Tapi potongan kata itu tak lagi bisamenahan. Sebulan berikutnya, kabar tak mengenakkan dan yang tak disangka-sangka itu mengiang.

Setelah menggoret kenangan, dan kemudian kenangan itu mengakar pada dirinya. Kekasihnya justru pergi meninggalkan, lalu bertunangan dengan rekan kerja barunya. Laki-laki yang baru semingguan ia jumpai.

Lalu terdiam ia, suasana menjadi begitu sunyi, menyayat. Aku juga diam.

Seumpama belati, cerita itu kini juga mengiris kenanganku, mencacahnya perlahan, kembali merobek luka itu.

Surat malam itu juga tak pernah kusangka-sangka. Itu kira-kira terjadi sebulanan setelah kekasihku memutuskan pulang ke rumahnya. Sebelumnya, ia jatuh ke dalam pundakku. Air matanya rebah, “Ayahku bilang, kerjaku di sini tak menghasilkan apa-apa. Bukankah keberhasilan tak selamanya harus ditakar dengan materi?”

“Lalu bagaimana? Biaya hidup di kota memang mahal, sulit bila hanya ditambal hanya dengan mengajar”

“Kata ayah dengan aku kembali, mungkin akan jauh lebih menghasilkan.” Ia masih ingat percakapan itu, sebelum sebulan kemudian, menerima surat yang sama. Aih, betapa kini kenangan itu kembali datang menyiksaku.

Aku tatap kembali laki-laki di hadapanku, ia masih tetap menunggu, padahal aku hanya pura-pura memperbaiki arlojinya.

“Apakah kamu yakin dengan cara kembali ke masa lalu akan menyudahi segalanya?” aku coba meyakinkan, namun matanya segera menatapku.Lekat.

Ia tak menjawab. Aku yakin pikirannya kini sekacau pikiranku saat itu, “aku hanya tak ingin memulai apa yang tak bisa aku akhiri”

“Lantas?”

“Aku hanya ingin mengakhiri sebelum memulainya, sebelum ia menjadi peristiwa, sebelum ia menjelma kenangan yang menyika” katanya lagi, “anda bisa memperbaiki arloji saya kan? Saya tidak tahu mengapa itu bisa rusak padahal saya belum pernah memakainya.”

“Bagaimana mungkin anda tak pernah memakai pemberian kekasih anda? Apa anda tak menyukai pemberian itu? Lalu untuk apa membawanya kemari?”

“Ah, tidak.” Elaknya, “Justru dengan cara itu saya menjaganya. Saya tidak ingin kalau nantinya arloji ini akan lecet. Lagi pula, coba bayangkan, apakah arloji ini cocok untuk orang seperti saya ini?” senyumnya menyeringai. Itu senyum pertama yang kudapat dari laki-laki ini.

“Sebetulnya, arloji anda tidak rusak, hanya perlu mengganti dengan batrei” aku mulai lebih terbuka, “hanya saja, sulit rasanya dengan permintaan terakhir anda”

“Bukankah anda sudah bertahun-tahun bergelut dengan arloji? Apakah anda tak benar-benar punya cara? Tolong, jangan sembunyikan keahlian itu dari saya!”

Lagi-lagi, ucapan laki-laki itu kembali mengantar kenanganku. Aku tak pernah menyukai arloji, dan bekerja seperti ini juga bukan cita-citaku. Tapi kekasihku, membuat itu lain, membuatku ingin merawat waktu. Arloji yang pernah ia berikan memang tak pernah kupakai, tapi itu karena aku tak ingin menghitung waktu kebersamaan dengannya.

Namun, setelah menerima surat malam itu, setelah kepergian Mayda justru membuatku ingin mengembalikan waktu yang dulu pernah kurawat. Aku ingin menghapusnya.

Aku terhenyak tiba-tiba, sebuah kesadaran mendesak kepalaku. Aku menatapnya, ia balik menatapku. Kami saling bersitatap. Lekat.

“Bagaimana kamu berpisah dengan kekasihmu?” tanyaku sambil tetap memeriksa arloji yang sedari tadi telah berhasil memotret semua kenanganku.

“Dua hari lalu, kekasihku mengirimi surat” Ia kembali bercerita, “tepat sebulan setelah perpisahan itu, kekasihku memutuskan tunangan dengan rekan barunya. Dapat kumaklumi, aku memang tak kunjung lulus kuliah” sorot mata itu kembali layu, perih.

Aku terperangah, mataku terbelalak. Cerita laki-laki itu terlalu sempurna untuk sebuah kebetulan dengan kisahku.

“Apakah kekasihmu bernama Mayda?” tanyaku.

Ia diam dan tak segera menjawab. Segera kuburu sorot mata itu, aku ingin memastikan, menatapnya lebih tajam lagi. Namun,tak kudapatiapa pun dihadapanku. Hanya cermin. Sebuah cermin memantulkan seogok wajah dengan sorot mata begitumuram. Kemudian, seorang dalam cermin itu menuding ke arahku, “Bisakah memperbaiki arloji sekaligus kenangan di dalamnya?”


Drei Herba T. Tinggal di Jogja. Menulis esai, cerpen dan puisi.