Apa yang dicari seorang perempuan, lepas
tengah malam, berdiri di tepi jembatan, hanya memandang ke bawah, ke alir air
kali yang hitam oleh limbah, ketika hampir semua lampu-lampu rumah sudah
dipadamkan? Aku melihatnya. Beberapa meter saja dariku—dan semakin dekat seiring kakiku melangkah.
Aku tak tahu mengapa mesti terburu-buru. Mungkin
karena gelap membuat jantungku berdegup lebih kuat. Mungkin sebab sempat
kulihat langit telanjang tanpa bintang, seperti pertanda hujan bakal datang.
Aku seperti baru sadar, aku tak sendiri di kawasan ini. Dengan sekuat niat
kutahan laju kakiku, aku tak mau maju. Bisa jadi perempuan itu sejenis hantu
penunggu, atau penderita gangguan jiwa yang takkan merasa dosa bila
menghilangkan nyawa.

Tapi kami sudah telanjur dekat ketika aku
berhenti. Dua depa saja. Jarak segitu cukup untuk membuat dadaku tembus peluru
atau terhantam batu. Perempuan itu barangkali akan melemparkan tubuhku ke kali—tentu, setelah puas mencabik seperti
mencabik bantal kapas. Atau bagaimana jika ternyata dia zombie yang baru jadi?
Dia pasti sangat lapar dan tak sabar menunggu mangsa dengan menyamar jadi
manusia biasa.

Sebaiknya kuhapus pikiran macam itu
sebelum melompat keluar dan berubah jadi kenyataan. Tak ada tanda-tanda luka di
tubuhnya. Dia berdiri sebagaimana orang biasa berdiri. Punggungnya tegak,
jari-jarinya yang memegang besi jembatan kelihatan halus terkena sinar lampu jalanan.
Dia tak menoleh seakan tak menyadari ada aku yang berdiri bagai lilin siap
meleleh. Bimbang akan terus berjalan atau menyapanya pelan-pelan, aku
menghabiskan sekian menit di mana jalan terasa sempit dan besi jembatan seakan
menjepit. Namun segera, bagai menghapus lamunan yang sementara, kuputuskan
untuk meninggalkannya. Lagipula, aku teringat lampu kamar yang belum dinyalakan
serta makanan sisa siang yang mungkin sudah dikerubung semut hitam.

Baru dua langkah menjauh, selembar suara
jatuh ke gendang telingaku. Suara itu lemah, tapi dalam suasana senyap, suara
yang lemah bisa terdengar bertenaga. Perempuan itu memanggil dan berkata,
“Kenapa berlalu seperti itu?” Aku
berhenti melangkah, dia kembali menambah. “Sini,
berdirilah di dekatku. Ada sesuatu yang mesti kau lihat.” Perempuan itu menoleh
padaku, aku menoleh pada perempuan itu. Aku lihat wajahnya, dan harus kukata,
wajah itu sejelita bidadari yang sering kutemu dalam mimpi, dulu saat aku masih
seorang bocah kecil yang suka mendengar cerita tentang surga.

 “Ya?” tanyaku berujar
seolah-olah tak mendengar. “Lihatlah,” tanggapnya singkat. Aku terpaksa
mendekat. Terpaksa sebab kukira tak ada guna untuk tak percaya, dan wajahnya
yang jelita—o,
penguasa semesta!—membuatku
tak berdaya. Aku berdiri di dekatnya, memegang besi jembatan dan menoleh ke
kiri untuk kembali melihat wajahnya. Aku akan rela selama-lamanya menatap wajah
itu dan jika aku masuk surga nanti, di antara semua bidadari, sudah pasti
kupilih bidadari ini. “Jangan melihatku. Lihat saja ke bawah, ke air kali yang
hitam oleh limbah,” katanya. Aku malu, seakan-akan ia tahu apa yang terbersit
di pikiranku. Maka kualihkan pandang, ke bawah jembatan, di mana air bergerak menuju
laut dan suatu ketika akan terangkat ke udara sebagai uap, sebelum jatuh
kembali menjadi air yang meluap-luap. “Jangan berpikir terlalu jauh. Coba tatap
air itu, kau akan melihat sesuatu,” katanya. Baiklah, akan kuturuti kemauannya,
meski aku belum mengenalnya, meski aku belum tahu apa yang ia sebut sebagai
sesuatu itu.

Mula-mula tak ada yang istimewa. Lebih
tepatnya tak ada yang bisa dilihat kecuali air kali yang memang hitam dan
semakin hitam karena malam. Sesekali permukaan air bergelombang dan cahaya
lampu memercikkan terang, tetapi tetap tak ada apa-apa. Aku memutuskan bersabar
ketika sejenak kemudian sesuatu tampak mekar dan muncul dari dasar. Bentuknya
seperti mawar, tapi warnanya ungu dan ukurannya terlalu besar untuk disebut
mawar. Lantas pelan-pelan di sekitar mawar besar itu muncul aneka bentuk
tanaman. Kunyalangkan mata agar yakin aku tak salah penglihatan. Benar. Aku tak
salah. Semakin terang kelihatan bahwa di dasar kali itu ada taman. “Bagaimana
bisa ada taman di dasar kali ini?” tanyaku, sebenarnya, entah pada siapa.
Karena di sana hanya ada kami berdua, perempuan itu menjawab, “Entahlah. Tapi
bukankah itu bisa jadi tempat yang indah untuk menghilangkan lelah?”

Aku perhatikan lagi taman itu. Sekarang
dapat kulihat beberapa bangku diletakkan dalam jarak tertentu. Lalu ada
kupu-kupu, lebah madu, dan burung-burung kecil berbulu biru. Sungguh suatu
taman yang teduh, pasti menyenangkan bisa berada di sana, melupakan kepenatan
kerja, menghirup udara bersih tanpa karbon monoksida. Tapi pasti semua ini
hanya ilusi, bagaimana mungkin ada taman di dasar kali. Kukira malam sedang
bersiasat, menghadirkan bidadari ini agar aku mengalami halusinasi. “Kau pasti
mengira ini cuma ilusi. Akupun begitu waktu pertama kali. Tapi karena setiap
kali aku ke sini, taman itu selalu muncul kembali, aku jadi percaya kalau taman
itu benar-benar ada,” ungkap si bidadari, lagi-lagi seperti mengerti isi
pikiranku. “Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanyaku. “Siti,” jawabnya
sesingkat kilat di langit tinggi.

Siti, seperti nama perempuan pertama.
Apakah namanya Siti Hawa? Ah, kukira Siti saja cukuplah sudah. Sekarang aku
harus berpikir, bagaimana semua ini akan berakhir. “Apakah kau tertarik untuk
pergi ke sana?” tanyanya tiba-tiba. “Ke mana? Ke sana?” tanyaku balik sembari
mendelik ke arah taman yang kian tampak terang. “Iya, ke taman itu. Sudah lama
aku menanti ada yang mau menemani.” Siti si bidadari mengulum senyum. “Tapi…”
kalimatku belum usai ketika ia berkata kembali, “Aku sudah berjanji pada diriku
sendiri, barang siapa mau menemaniku ke taman itu, akan kujadikan kekasihku.
Tak peduli ia perempuan atau laki-laki. Aku akan mencintainya serta menyerahkan
seluruh hidupku padanya.” Sungguh, itu deretan kalimat yang membuatku lupa
bahwa suatu hari dunia akan kiamat. Sudah lama kubayangkan seorang perempuan
berkata seperti itu kepadaku, bahwa ia akan mencintaiku dan menyerahkan seluruh
hidupnya hanya untukku. Apalagi kalimat itu keluar dari bibir seorang bidadari,
seluruh hidupku yang penuh getir akan tegak berdiri bagai kebenaran di hadapan
para tiran. Mungkin ia bisa menghilangkan kesadaran, tapi bagiku ia bisa juga
memberi kesadaran baru. Kesadaran bahwa tak ada yang mustahil di dunia, termasuk
adanya taman di dasar kali.

Maka ketika Siti si bidadari meraih
tanganku, tanpa ragu-ragu kami naik ke besi jembatan, lalu melompat cepat
menuju air kali yang bergerak lambat. Terdengar suara benda jatuh ke air
seakan-akan bukan kami yang menyebabkan. Kali ini cukup dalam, dan aku baru
ingat tidak pernah belajar berenang. Siti melepas pegangannya dan seketika
menghilang. Aku gerakkan tubuh sebisanya, sia-sia, semakin aku bergerak semakin
kuat air menarikku ke dalam. Air masuk ke mulut dan hidungku, napasku terasa
berat, dunia seperti melesat ke luar dari tubuhku. Kukira aku akan mati, takkan
ada yang membantu. Sebelum itu, biar kumaki dulu diriku sendiri, kumaki
kebodohan yang telanjur bersarang dalam diri ini.

Tapi aku tak jadi mati. Aku hanya merasa
ringan, seakan seluruh bobot telah dicopot dariku. Dan taman itu memang ada.
Sungguh-sungguh nyata. Sekarang aku sedang berjalan di atas rumputnya yang
lembut. Kucium aroma aneka bunga. Harum dan segar. Di tengah-tengah taman, di
hadapan bangku panjang, mawar besar berwarna ungu itu dapat kusaksikan.
Benar-benar cantik hingga tak mungkin terbersit pikiran untuk memetik. Tapi, di
mana Siti? Apakah ia ada di sini? Apakah ia lebih dulu tiba dan kini sedang menanti?
Aku berjalan mengitari keluasan taman. Tak kusangka taman ini sungguh luas,
nyaris tak berbatas. Tak kutemukan siapapun, aku benar-benar sendirian.
Barangkali Siti tak berhasil sampai di sini. Barangkali seseorang melihatnya
jatuh ke kali dan segera membantunya menepi. Perasaan sepi pelan-pelan
membesar, tak ada yang bisa kulakukan kecuali menanti dengan sabar, mengikuti
arus waktu yang bergerak melingkar. Aku tak tahu berapa kali sudah waktu
berputar.

Pada saat-saat tertentu kuarahkan pandang
ke atas. Samar kulihat sampan-sampan melintas, lalu di tempat yang lebih tinggi
kendaraan lalu lalang melewati jembatan. Dan bila malam telah tua, dapat
kusaksikan seorang lelaki dan seorang perempuan berdiri di tepi jembatan,
menatap ke bawah, ke arah tempatku berada. Apakah itu Siti? Dan siapa lelaki di
sampingnya? Kenapa tampak mirip denganku?***

Kekalik, 13 April 2019


Kiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, di Mataram, Nusa Tenggara Barat.