Buku, Resensi

Selamat Mengalami Mimpi Buruk

Oleh Shofyan Kurniawan

Bayangkan ketika kita memiliki keinginan yang besar untuk melakukan kejahatan, sesuatu yang oleh alam sadar coba ditekan dan direpresi sedemikian rupa karena itu bertentangan dengan nilai-nilai yang telanjur dianut dalam realitas kita. Misalnya, kita ingin sekali menghajar kepala seseorang dengan sol sepatu sampai bocor tanpa tahu alasannya. Bisa juga, kita ingin sekali melakukan pembunuhan berantai berbekal sepucuk pistol, menembaki satu per satu korban. Namun keinginan-keinginan semacam itu harus ditekan habis kalau kita tidak ingin berurusan dengan hukum dan perangkat-perangkat penegaknya. Meski begitu, keinginan-keinginan itu mencoba mencari jalan keluar. Jika tidak bisa di kondisi sadar, hal semacam itu akan datang melalui mimpi. Ya, mimpi. Kondisi ketika kesadaran merenggangkan kekangnya.

Bisa dibilang itulah yang coba diceritakan Aris Rahman P. Putra dalam kumcernya berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive. Ia mencoba menceritakan tentang kejadian-kejadian yang berlangsung dalam kepala ketika sedang mengalami mimpi.

Mulholland Drive sendiri—yang dipakai Aris Rahman P. Putra sebagai pelengkap judul bukunya, mengacu kepada salah satu karya terbaik David Lynch, sutradara yang gemar membuat film-film surealis. Kita juga bisa melihat gambar sampul buku yang dipilih: Manusia kelinci berjas yang sedang membawa pistol, seolah mencoba mengingatkan kita kepada salah satu film David Lynch lainnya berjudul Inland Empire. Melalui judul dan sampul buku, kita seakan bisa langsung tahu apa yang hendak diceritakan Aris Rahman P. Putra di sini.

Membaca Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive, kita seolah diajak untuk mengalami mimpi. Ada beberapa bagian yang tidak masuk akal seakan mencederai logika cerita, tetapi ketika kita mengerti bahwa apa yang hendak disampaikan adalah dunia yang berlangsung dalam mimpi, kita akan langsung memberi pemakluman.

Misalnya saja, ketika kita membaca cerpen berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive yang juga menjadi judul buku ini. Di sana terdapat serangkaian pembunuhan yang terjadi hanya karena sepucuk pistol—pistol yang sama. Pembunuhan pertama dimulai di sebuah kafe dengan korban seorang pemuda yang semula hendak merampok, kemudian berlanjut ke seekor anjing, lalu pada sebuah keluarga, lantas berlanjut pada pasangan kekasih yang terlibat cekcok karena salah satunya kepergok selingkuh. Menariknya, setelah pembunuhan terakhir pistol itu malah jatuh ke tangan seseorang yang langsung saja memberi kita sebuah kesan dan tonjokan yang membuat kita bergumam: “Hmmm, sepertinya barusan aku melewati satu mimpi buruk deh.”

Cerpen lainnya yang berjudul Mimpi-mimpi yang Perlu Kaualami Sebelum Menjadi Nabi merupakan gambaran paling nyata dari kekacauan yang terjadi dalam sebuah kepala. Kita mungkin akan merasa kasihan dengan apa yang dialami kepala tersebut karena harus melompat dari satu mimpi yang ganjil ke mimpi ganjil lainnya.

Ada juga pemuda pengidap skizofrenia di Catatan-catatan Mengenai Pasien No. 35. Setiap si pemuda bangun tidur, ia mengalami semacam halusinasi yang selalu berbeda tetapi memiliki satu benang merah yang menghubungkan semuanya: si pemuda punya trauma berkaitan dengan seks.

Meski begitu, Aris Rahman P. Putra tak melulu bernarasi soal alam bawah sadar belaka. Di bagian lain, ia juga menghadirkan cerpen-cerpen bergaya realis, misalnya: Antipode dan Harga yang Pantas untuk Sebuah Kebodohan dan Rekaman-rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan. Walau bergaya realis, di sini Aris Rahman P. Putra tidak hanya mengambil peran sebagai pencatat atau sekadar perekam, melainkan juga menggiring kita menemukan sebuah pemahaman baru atas peristiwa-peristiwa yang coba ia angkat ke permukaan. Di lain sisi, dia juga ingin menghadirkan sebuah kesan, bahwa hidup hanyalah kemurungan-kemurungan yang coba kita bungkus dengan harapan dan optimisme. Sehingga tidak bisa dihindari kalau Aris Rahman P. Putra terkesan menolak narasi-narasi romantis, mirip seperti Holden Caulfield di novel Catcher In The Rye karya J.D. Salinger. Seperti yang bisa kita jumpai di cerpennya berjudul Kuesioner 1: Bagaimana Menemukan Pasangan yang Tidak Gampang Bunuh Diri yang digambarkan melalui potongan sajak yang berbunyi:

Bagaimana cara

menghentikan hujan di kepala?

Barangkali kita terlalu melankolis

dan menjadi dungu

Karena cinta

Sehingga lupa

Bahwa di dunia

ini, ada sesuatu bernama

payung dan jas hujan

yang membuat kita

tetap kering

Meski digempur

hujan tak reda-reda

Salah satu cerpen berjudul Rekaman-rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan  berkaitan dengan kerusuhan yang terjadi di tahun 1998, menjelang lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan. Di sini Aris Rahman P. Putra menggambarkan bagaimana bermacam-macam orang dengan latar belakang berbeda pada masa itu merespon peristiwa tersebut. Jika kita pernah membaca karya J.D. Salinger berjudul Orang Asing dan sampai di bagian ketika sang tokoh utama bernarasi kalau ia tidak percaya pada saat ia terlibat perang dan bergelut dengan hidup dan mati, di tempat yang lain ada orang yang dengan santainya mengajak anjingnya berjalan-jalan keliling kota; di cerpen Aris tersebut, kita bisa mendapatkan sensasi yang kurang-lebih mirip.

Cerpen-cerpen Aris memang cenderung bernuansa murung dan pesimis, seolah ia ingin mengatakan hidup hanya segunung tahi yang dibungkus kertas kado. Bahkan jika ada sesuatu yang lucu di sana, itu bukanlah murni kelucuan yang telanjur dipahami secara massal tapi sesuatu yang memang layak untuk ditertawakan, entah tawa ngakak ataupun sambil meringis. Jika kita terlalu memandang hidup ini dengan optimis, menganggap semuanya bakal indah pada waktunya, mungkin kita perlu mencoba membaca cerpen-cerpen di dalam buku ini supaya khayalan kita tidak kelewat utopis. Bagaimanapun, hidup yang baik adalah hidup yang dijalani, setaik apa pun itu.


Shofyan Kurniawan. Lahir dan besar di Surabaya.

Cerpen

Penderitaan

Cerpen Ardy Kresna Crenata

Sekawanan hyena mengepung seekor zebra. Herbivora malang itu terpisah dari kawanannya, setelah ia berlari dan terus berlari menghindari kejaran seekor hyena yang kini dilihatnya tengah bersiap-siap menyergapnya—bersama hyena-hyena lainnya. Tak ada mukjizat, tentu. Setelah menggeram cukup lama salah satu hyena itu menyergapnya dan beberapa hyena lain melakukan hal yang sama dan zebra itu harus merelakan kehidupannya berakhir; sebuah gigitan yang kuat dan bengis di leher membuatnya mati dalam waktu singkat. Ia pun tinggal jasad, tinggal tubuh yang lekas dingin. Dengan gigi-giginya yang runcing berliur hyena-hyena itu mencabik-cabik si zebra dan memakannya seakan-akan herbivora tersebut tak pernah hidup. Dan mereka benar-benar mencabiknya, memisahkan bagian tubuh yang satu dengan bagian tubuh yang lain, tanpa lebih dulu memberikan penghormatan atau apa. Dalam beberapa jam kemudian yang tersisa dari zebra tersebut hanyalah sedikit tulang dan noda darah—yang tercecer di tanah berumput.

Saat pembunuhan dan pembantaian tersebut berlangsung, hyena-hyena itu tentu tak sedikit pun memikirkan karma, dosa, atau semacamnya. Dan mereka juga pastilah tidak merasa bersalah telah melakukan hal tersebut, bahkan menganggapnya hal biasa saja. Benar-benar hal biasa saja. Mereka lapar, dan mereka butuh makan. Dan makanan mereka adalah daging, bukan nasi, atau roti, atau rumput. Dan kebetulan zebra tersebut berada dalam jangkauan mereka,  dan begitulah mereka memilihnya—sebagai santapan mereka. Tak ada kebencian, dendam, atau semacamnya. Ini murni sebuah proses alam semata; terkorbankannya sesosok makhluk hidup untuk kelangsungan hidup makhluk(-makhluk) hidup lain. Jauh sebelum dirimu dilahirkan, leluhur-leluhur mereka telah melakukannya, dengan tingkat kebuasan yang bisa jadi sama.

___

Miyuki menyadari seseorang sedang mengikutinya. Dini hari yang sunyi. Langkah-langkah cepatnya menyisakan bunyi yang memantul-mantul di belakangnya dan menyebar ke kanan dan kirinya, menjelma teror yang membuatnya merasa terancam sehingga ia tak berani menoleh dan hanya terus menatap ke depan saja. Dengan kedua tangannya, ia memeluk dirinya sendiri erat-erat; ia memeluk dirinya erat-erat seakan-akan mantel hitam tebal selutut yang dikenakannya tak mampu lagi melindunginya dari terpaan angin. Lampu-lampu dari bangunan-bangunan yang dilewatinya menyala; sebagian terang dan sebagian redup. Miyuki merasa bibirnya kering. Ia berani membayar mahal seseorang untuk sekadar menciumnya dan memeluknya kuat dan menemaninya menuju kamar apartemennya yang masihlah berjarak belasan menit lagi.

Seseorang itu sudah mengikutinya sejak ia keluar dari kelab. Begitu Miyuki meyakini. Ia memang baru menyadarinya lima menitan kemudian, tetapi ia yakin itu pastilah disebabkan ia masih teramat memikirkan apa yang dialaminya di kelab setelah jam operasi berakhir. Si pemilik kelab, seorang perempuan berusia tiga puluh sembilan yang masih terlihat begitu muda dan memesona, menghampirinya dan membisikkan di telinganya bahwa ada sesuatu yang ingin ia bicarakan berdua saja dengannya. Saat itu, Miyuki baru saja berganti pakaian, dan sedang mematut-matut diri di depan cermin, sambil memeriksa riasan wajah.

Di cermin besar di hadapannya, Miyuki mendapati bayangan perempuan itu mengedipkan mata kepadanya, sambil menyunggingkan senyum yang seketika diartikannya sebagai ajakan untuk bercumbu. Dan benar saja, mereka memang bercumbu, berdua saja, di ruangan pribadi si pemilik kelab yang terletak jauh di sayap lain. Awalnya mereka sekadar bicara, lalu perempuan itu mulai memosisikan dirinya di belakang kursi di mana Miyuki duduk, dan tanpa ragu mengelus-eluskan telapak tangannya yang lembut ke lengan Miyuki, lalu ke pundaknya, lalu ke lehernya, lalu ke rambutnya, lalu ke wajahnya. Miyuki tahu lambat laun percumbuan ini akan terjadi. Dan ia tak menolaknya, meski ia merasa sesungguhnya ia bukanlah tipe orang seperti itu; ia masih jauh lebih memilih bercumbu dengan lelaki kendatipun si perempuan sangatlah menarik dan menyegarkan mata. Miyuki tahu, perempuan pemilik kelab itu telah menyukainya sejak lama, dan telah mengincarnya juga sejak lama, dan ia tak memendam kebencian atau perasaan buruk apa pun kepadanya.

Mereka bercumbu, dalam gairah yang semakin lama semakin tinggi, semakin seperti mendidihkan cairan dalam tubuh mereka dan membuat degup jantung mereka seakan berdentum dan berdentum. Miyuki pada akhirnya menanggalkan apa yang dikenakannya. Begitu juga perempuan itu. Tak ada lagu atau musik atau bunyi latar lain. Mereka berdua seolah-olah bersepakat untuk menikmati percumbuan tersebut dalam hening.

Setelah percumbuan tersebut berakhir, ketika Miyuki mengambil ponselnya untuk mengecek jam, ia mendapati ia sudah meluangkan waktu untuk si pemilik kelab lima puluh sembilan menit lamanya. Gara-gara itu ia terpaksa pulang sendirian. Biasanya Miyuki akan berjalan dengan dua hostess lain di kelab tersebut sampai mereka tiba di perempatan kedua atau ketiga; perempuan satu akan berbelok ke kiri dan yang satu lagi ke kanan sementara Miyuki menyeberang lurus; lurus dan terus lurus. Kali ini saat Miyuki berdiri di luar pintu masuk kelab ia dihadapkan pada kesunyian, keheningan, kesendirian. Tetapi di detik itu ia belumlah menyesalinya. Belum, sebab selama lima menitan sejak meninggalkan kelab Miyuki masih sangat memikirkan apa yang baru saja dilakukannya dengan si pemilik kelab, yang rupa-rupanya menumbuhkan sesuatu yang hangat di dalam dirinya. (Barangkali Miyuki sebenarnya tidaklah setegas yang ia kira.)

Dan sekaranglah, saat ia terus mempercepat langkah-langkahnya, rasa sesal itu datang, menyergapnya, menghimpitnya, membebaninya, membuatnya merasa ia begitu cepat lelah dan kehabisan napas padahal biasanya ia selalu baik-baik saja saat tiba di depan pintu kamar apartemennya. Miyuki berharap ini hanya perasaannya saja, tetapi seseorang yang mengikutinya itu seperti semakin dekat; seperti jarak antara seseorang itu dan dirinya terus memendek dan memendek. Miyuki bisa mendengar langkah-langkah cepat seseorang itu berseteru dengan langkah-langkahnya sendiri. Masih lebih dari sepuluh menit lagi. Kini Miyuki mencengkeram kedua lengannya, seolah-olah ia ingin sekuat tenaga mencabiknya.

___

Di detik zebra itu menyadari ia akan menjadi santapan para hyena, apa yang mungkin terbit di benaknya? Apakah ia teringat kawanannya, dan ia kecewa pada mereka karena tak satu pun dari zebra-zebra tersebut tergerak untuk menolongnya, atau setidaknya sekadar mengkhawatirkannya? Ataukah ia justru tengah mengingat-ingat rupa tiap-tiap hyena yang akan mencabik tubuhnya dan melenyapkannya, membuat keberadaannya di kehidupan yang dijalaninya itu terasa fiktif, sambil di dalam hati berjanji akan menghantui hyena-hyena itu di sisa hidup mereka? Ataukah justru, ia sedang memikirkan apa itu kematian dan apa sesungguhnya itu kehidupan, dan apa makna dari menyerahkan kehidupannya demi kelanjutan hidup hyena-hyena tersebut? Ataukah ternyata, ia sama sekali tak memikirkan apa-apa?

___

Seseorang itu akhirnya menyergapnya sebelum sempat ia berbelok di perempatan terakhir. Miyuki sebenarnya sudah mencoba berlari, tetapi lari seseorang itu jauh lebih cepat dan ia sendiri sialnya terhambat oleh sepatu boot berhak tinggi yang dikenakannya. Tak butuh waktu lama bagi seseorang itu untuk menyudahi perlawanan Miyuki; ia menekankan ke hidung Miyuki lipatan sapu tangan yang dibasahi cairan tertentu berbau kuat. Miyuki berusaha mengumpulkan informasi tentang seseorang itu di detik-detik sebelum kesadarannya hilang, dan tiga hal inilah yang ia dapatkan: (1) kaus dan mantel hitam; (2) sepasang sarung tangan yang juga hitam; (3) wajah yang tampan dan barisan gigi yang bersih-rapi.

Ketika kesadarannya kembali, Miyuki mendapati ia berada di sebuah ruangan yang tak ia kenali. Sebuah kamar. Mungkin di sebuah apartemen tak jauh dari perempatan tadi. (Bisa jadi tak jauh juga dari apartemennya!) Miyuki menelentang, di sebuah ranjang. Kedua tangan dan kakinya terikat oleh tali kuat-tebal ke ujung-ujung penyangga ranjang, menjadikan ia jika dilihat dari atas serupa huruf X besar dengan satu tonjolan kecil di atas—kepalanya. Miyuki merasa ruangan itu begitu dingin dan ia lekas memahaminya saat ia mengangkat kepala, mencoba melihat perut dan mungkin kakinya. Di ranjang itu ia dalam keadaan telanjang. Telanjang setelang-telanjangnya.

___

Seandainya zebra itu tak berlari saat seekor hyena menghambur ke arahnya, ia mungkin tidak akan terjebak dalam posisi tadi—berada dalam kepungan sekawanan hyena. Bisa jadi, zebra-zebra lain pun masih akan ada di sekitarnya, menghindarkan ia dari merasa sendirian, dan tak berdaya. Tetapi kalaupun itu terjadi, ia agaknya tetap akan mati. Seekor hyena itu sudah berniat membunuhnya saat memutuskan untuk berlari ke arahnya, dan ia diperlengkapi dengan taring dan cakar dan hal-hal lain yang memungkinkannya melumpuhkan zebra tersebut dalam waktu singkat. Si zebra bisa saja mengeluarkan suara-suara dengan maksud meminta hyena tersebut membatalkan niatnya, tapi sudah pasti itu sia-sia. Sia-sia belaka. Kita harus ingat bahwa “bahasa” zebra bisa jadi tidaklah sama dengan “bahasa” hyena. Dan lebih dari itu, keinginan si hyena untuk beroleh makan malam tak akan teratasi hanya oleh permohonan naif semacam itu.

Jadi kau pun membayangkannya seperti ini: zebra itu mati, dan hyena itu mulai mencabik-cabiknya, mengoyak-ngoyak perutnya yang gemuk dan penuh daging. Zebra-zebra lain mungkin berada tak jauh dari sana, tetapi mereka sama sekali tak melakukan apa-apa; paling-paling mereka hanya mengamati dan dalam hati berbelasungkawa dan bersyukur bukan mereka si zebra yang bernasib malang itu. Hyena-hyena lain? Sangat mungkin mereka berdatangan; mereka mencium kematian si zebra dan mereka tak rela daging empuk si zebra habis tanpa mereka beroleh bagian sedikit pun. Pada akhirnya, mendapati sekawanan hyena itu dengan bengis melenyapkan keberadaan si zebra, zebra-zebra lain mungkin pergi juga, menjauh, mencoba menjaga diri mereka tetap aman setidaknya satu-dua hari lagi. Dengan demikian si zebra yang mati itu kembali sendirian. Ia sendirian dan ia mati dan ia lekas tiada—hampir-hampir tak berbekas. Semuanya sama saja. Herbivora malang itu harus mati karena ia tak diperlengkapi hal-hal yang membuatnya bisa bertahan hidup dalam situasi seperti itu. Si hyena, di sisi lain, bisa mengatasi rasa laparnya—dan karenanya ia bertahan hidup lebih lama—karena ia diperlengkapi dengan hal-hal yang membuatnya bisa melakukannya.

___

Seseorang yang tadi menyergapnya itu muncul. Ia telah telanjang; kini Miyuki bisa melihat wajah lelaki itu yang tampan dan barisan giginya yang bersih-rapi. Miyuki tak tahu siapa lelaki itu, juga tak tahu mengapa lelaki itu menyergapnya dan membawanya ke kamar ini (dan mengikatnya dalam posisi hina ini), tetapi ia tahu apa yang akan segera dialaminya, apa yang tak lama lagi akan dilakukan si lelaki terhadapnya. Si lelaki akan menusuk-nusukkan alat kelaminnya yang mengeras ke lubang kemaluannya. Itu pasti. Miyuki mulai membayangkan seberapa sakitnya hal itu. Atau mungkin, lebih tepatnya, seberapa menghinakannya hal itu. Memang ia pernah beberapa kali bersanggama dan belum satu jam yang lalu ia membiarkan jari-jari si pemilik kelab bermain-main di lubang kemaluannya, tapi ia belum pernah diperkosa, dan itu tentu berbeda.

Miyuki tak mengenal lelaki itu. Mulanya ia sempat menduga lelaki itu adalah salah satu pelanggannya yang menaruh dendam padanya namun berapa kali pun ia mencoba mengingat-ingat wajah lelaki itu tetaplah asing. Asing dan benar-benar asing. Maka itu berarti: kau akan disetubuhi oleh seseorang yang sama sekali tak kau kenal, pikirnya. Ia akan menyakitimu, menyakitimu dan menyakitimu, dan kau tak punya sedikit pun peluang untuk menghindar, sambungnya. Dan lebih menyedihkan dari itu, lanjutnya, kau bahkan tak bisa mencoba bunuh diri untuk menyelamatkan dirimu dari penghinaan tak tertanggungkan itu.

Miyuki bisa berteriak, sebenarnya. Lelaki itu entah kenapa tak menutupi mulutnya dengan plester atau yang lainnya. Ia juga tidak dalam pengaruh obat tertentu yang membuatnya kehilangan suaranya. Miyuki bisa berteriak, mengaum, bahkan melolong jika ia mau. Tetapi ia tak melakukannya. Ia tahu lelaki itu tidak bodoh. Ia tahu lelaki itu telah memperhitungkan kemungkinan dirinya berteriak, dan itu berarti satu hal: percuma saja mencobanya.

Lelaki itu menghampirinya, berdiri tepat di samping kirinya. Miyuki kembali bisa melihat wajah lelaki itu yang tampan dan barisan giginya yang bersih-rapi. Di tangan kanannya rupanya tergenggam pisau. Sejenis pisau yang bisa kaugunakan untuk membersihkan perut ikan mati yang akan kau masak dan kau makan. Miyuki tahu betul lelaki itu akan menggunakan pisau tersebut untuk melukainya; menorehkan di tubuhnya beberapa luka yang akan selalu mengingatkannya pada kekejian ini. Miyuki membayangkan pisau tersebut justru tergenggam di tangannya, dan tangannya itu tidak terikat dan bebas bergerak, dan ia menikamkan pisau tersebut kuat-kuat ke dadanya—agak ke kiri, tepat di mana jantung-hidupnya bersemayam.

___

Baiklah kita bayangkan zebra itu masih hidup. Ia belum dikepung sekawanan hyena tadi, bahkan belum bertatapan muka dengan si hyena yang mengejarnya. Yang dilakukannya adalah mengunyah rumput adalah buang air kecil adalah tidur adalah berjalan adalah minum adalah mencoba kawin adalah berak. Ia tak melakukan keburukan apa pun. Ia tak melakukan sesuatu yang tak semestinya dilakukan seekor zebra. Ia bergerak bersama kawanan. Ia tumbuh menjadi sebentuk herbivora dengan wujud yang serupa dengan para anggota kawanan. Ia hewan baik. Ia nyaris tak menyakiti hewan-hewan lain. (Nyaris, sebab beberapa kali ia mungkin pernah menginjak serangga-serangga tanpa sengaja dan ia tak menyadarinya.) Ia menghabiskan bertahun-tahun hidupnya tanpa melakukan kebengisan apa pun, tanpa terlibat dalam kekejian apa pun. Dan begitulah ia mati, seperti yang kausaksikan di layar televisi tadi. Ia mati dan ia dicabik-cabik dan keberadaannya hampir-hampir tak berbekas. Kau merasa kasihan kepadanya. Kau berbelasungkawa, dan kau mendoakan hal-hal baik untuknya, di kehidupannya yang selanjutnya. Seekor zebra adalah seekor zebra semasa ia hidup, dan seekor hyena adalah seekor hyena semasa ia hidup. Kau mengulang-ulang kalimat ini dalam benakmu, dan terus mengulang-ulangnya, dan terus mengulang-ulangnya. Dan tiba-tiba kau merasa, kau bisa membuat sebuah cerita dari apa yang kausaksikan itu.

___

Seseorang itu sudah mulai memasukinya dengan kasar dan Miyuki baik-baik saja dan baik-baik saja. Itu bohong, tentu. Jelas-jelas Miyuki kesakitan, meski ia entah kenapa menahan diri untuk tak berteriak; ia hanya sedikit mengerang dan mendesah nyaris seperti apa yang dilakukannya tadi bersama si pemilik kelab. Ia memejamkan mata, dan sebisa mungkin berusaha membuat bibirnya tertutup. Ia telah mencoba melepaskan diri dengan menarik dan mengibas-ngibaskan kedua tangan dan kakinya, namun terbukti itu sia-sia. Ia merasa kotor; kotor dan sangat kotor. Dan ia mulai membenci dirinya sendiri, seseorang itu, juga apa yang tengah (dan entah sampai kapan) dialaminya ini.

Pada akhirnya Miyuki mencoba pasrah saja dan menganggap rasa sakit yang menyerangnya itu fiktif belaka—begitu juga rasa sakit dari sejumlah luka toreh di perut dan lengan dan pahanya. Ia akan membiarkan seseorang itu melakukan apa yang ingin dilakukannya, sampai ia puas, sampai ia bosan, sampai ia jenuh, sampai ia muak. Miyuki terus memejamkan mata, dan ia mulai membayangkan dirinya berada di kamar apartemennya sendiri, dan waktu dengan cepat mundur ke bulan-bulan lalu, dan berhenti di sebuah malam di mana ia pernah hampir mengakhiri hidupnya sendiri. Tali gantungan sudah siap. Televisi menyala tanpa suara dan surat berisi kata-kata terakhir telah selesai ia buat. Kepada siapa surat itu ia tujukan? Kepada kekasihnya. Lebih tepatnya, mantan kekasihnya. Lelaki itu memutuskan hubungan mereka tepat di hari jadi mereka yang kelima; memutuskan hubungan tersebut dengan sebuah meeru berisi permintaan maaf dan penyesalan betapa selama setahun terakhir ia tak pernah bisa benar-benar mencintainya lagi, sebab ia menyadari ia telah jatuh cinta kepada seseorang yang lain—seorang lelaki. Di hari jadi mereka yang kelima itu, Miyuki ingat, ia mencoba menelepon si lelaki sebelas kali namun tak juga si lelaki mengangkatnya. Tak juga, atau lebih tepatnya, tak bisa. Lelaki itu menggantung diri beberapa lama setelah ia mengirim meeru perpisahan tadi. Miyuki tak pernah menyangka, seseorang yang ia yakini akan selalu bersamanya justru meninggalkannya dengan cara seperti itu.

Sementara rasa sakit dari tusukan seseorang itu terus menyerangnya, Miyuki masih berusaha mempertahankan gambaran tentang malam di mana ia hampir bunuh diri itu. Sial sekali aku. Sial sekali aku batal melakukannya, pikirnya. Tadi ia memang berniat pasrah saja dan berharap setelah semua kebrengsekan ini selesai ia akan berpura-pura melupakannya dan mencoba melanjutkan hidupnya seperti biasa, menjalani hari-harinya seperti biasa. Tapi kini ia ragu; ia ragu ia akan bisa melakukannya, bahkan satu detik saja. Lagipula tak ada jaminan semua kekejian ini akan berlalu. Begitu ia kemudian berpikir. Seseorang itu bisa saja belum akan puas dan itu artinya ia masih harus menghadapi perasaan terhina ini lagi dan lagi. Atau, seseorang itu bisa saja menyakitinya lebih jauh dan ia akan semakin tak sanggup lagi menanggungnya. Bisa juga, seseorang itu membunuhnya, segera.

Miyuki akan memilih yang ketiga. Setidaknya itu akan menghindarkannya dari menderita lebih lama. Tetapi apakah ia dalam situasi bisa memilih? Ia kira tidak. Ia sekarang mulai bertanya-tanya kenapa ia mengalami hal ini, seolah-olah lebih dari dua puluh lima tahun hidup yang dijalaninya begitu penuh dengan perbuatan buruk yang dilakukan olehnya. Ia yakin sekali, selama ini ia hanya melakukan apa yang sewajarnya dilakukannya. Kalaupun benar ia melakukan sesuatu yang buruk, menurutnya itu pastilah tanpa kesengajaan dan bukan sesuatu yang teramat besar, sehingga seberapa pantas ia mengalami kebusukan ini menjadi sebuah pertanyaan tersendiri baginya.

Tetapi percuma. Miyuki tahu betul memikirkan hal tersebut saat ini percuma. Seseorang itu akan terus menusuknya dan menusuknya. Seseorang itu akan terus menyakitinya dan menyakitinya. Dan ia akan di sana, memejamkan mata, menahan bibirnya yang kering itu tertutup. Dan ia akan di sana, merasa dirinya begitu hina, dan tak berdaya.***

—Cianjur, 11-12 April 2017


Ardy Kresna Crenata menulis esai, puisi, cerpen, dan novela. Buku termutakhirnya adalah sebuah kumpulan cerpen: Sesuatu yang Hilang dan Kita Tahu Itu Apa (Beruang, 2019). Novelanya, yang dari segi bentuk cukup problematis, akan terbit dalam waktu dekat.

Puisi

Puisi Rizka Nur Laily Muallifa

Kekasihku Tak Turun Ke Jalan

Apa yang lebih penting dari turun ke jalan

Ialah menakar berahi politik praksis

Diri sendiri

(Sala, 2019)


Mata Laut Kekasihku

Panas menyoroti tubuhmu

Lepas basuhan pertama

di bidak yang semalam kita bayar murah

Derma lelaki paruh baya

Yang sabar menunggu kebosanan

kebosanan diturunkan

dari punggung kota

Manik matamu sembunyi dalam warna laut

Yang semilirnya

Mengasihi

dan menjadi kita

Sampai saatnya angin memberitahu

Siang sudah terang

Di sanggah pulasmu yang penuh seluruh

Aku melamun panjang

Bermuara padamu

Ibu kandung puisi-puisiku

(Sala, 2019)


Luka di Pelipismu Luka di Jari Kananku

Sebelumnya aku tidak tahu

Kalau lalat juga hidup di tepian

Sungai Biru

Tempat di mana kita meredam

amarah

Melakoni hari tunggal

Membuat kita tak punya pilihan

Untuk marah satu

kepada lainnya

Kendati waktu kecil sebelum itu

Kecemasan hadir bersisipan

dengan ketakutan

Kau akan main-main

Bahkan kepada janji yang paling

Lantas pejam kita guguran daun mangga

Tertepis angan

Tapi aku tak tidur

Sebab ada saatnya tidur bukan keputusan menarik

Kupilih ikhtiar membaca laut matamu yang terkubur haru

Di pelipis kananmu

Apatah luka itu

atau kenang-kenangan dari rahim ibu

Kupilih premis kedua

untuk mengantar pulasmu jadi sempurna

(Sala, 2019)


Harga Buah

Jalan menanjak

ke Gunung Kidul

Adalah jalan buah-buahan

Apakah anggur merah tumbuh

di kebun samping rumah?

Di sini pohon salak berbuah

rimbun

(Sala, 2019)


Dua Buah Apel

Kau menguliti apel

Laiknya mengikir cita-cita

Tenang dan penuh pertimbangan

Lepas kulit apel

Kau mengirisnya lebih hati-hati

Pertimbanganmu makin setiti

Ada banyak cita-cita yang mengantar

Pada doa

Sebuah apel yang lain

Ada dalam jangkauanku

Kubiarkan kulitnya tetap lekat

Dan kupotong ia dengan ukuran

Tak rinci

Sebab aku terlalu grogi

Kalau-kalau tak kau sertakan

Dalam heningmu yang khidmat

(Sala, 2019)


Daftar Laki-laki Membosankan

Ada terlalu banyak laki-laki

Yang tidak menarik

Sama sekali

Mereka terlalu banyak bicara uang

Dan igauan-igauan berjangka

Gurauan purba untuk tampak oke

Di hadapan setiap perempuan

Diobralnya omong kosong

Soal apa-apa yang lekat

Pada tubuh perempuan

Sambil melibas enteng pikiran

Dan segenap pendirian

serta ketokohan dirinya

Laki-laki yang begitu biasanya sedikit membaca

Hal itu membuat otaknya mampet

Dan jadi tak berharga sama sekali

(Sala, 2019)


Laki-Laki yang Ingin Menikahi Buku

Kencan kita cuma selingan

Cameo yang kebagian jatah

jarang syuting

Terjadi sesempat waktu

Saat kamu bosan baca buku

dan ingin bercakap-cakap tak perlu

(Sala, 2019)


Dari Solo ke Blora

            : Soesilo Toer

Kita melabur hutan

hijau nun hitam

Panjang, tak habis-habis

dengan puluhan ribu cerita

Membentang semenjak Rusia

Di Tanah Abang, gegas kita menjelang kerumunan

Menyimak Sang Komponis Kecil

Memainkan lagu yang itu lagi itu lagi

Di matanya, ada wajah sang ayah

sebelum gugur di pertempuran

dan dikenang warga kampung

sebagai veteran

Di dekat Lapangan Banteng,

Cerita istirah

di rumah tahanan politik

(Sala, 2019)


Bucin

Aku

Adalah cinta yang menggebu-gebu

(Sala, 2019)


Pohon Api

       :pal

rindu pongah terjatuh di

tanah yang basah oleh gelisah

membiarkan resah berkisah pada tangkai-

tangkai api yang barangkali

ingin abadi

biji-biji api itu lantas berkilatan

mula-mula hangat lantas

tanpa kau tahu bunga di dadamu terbakar

waktu itu aku sedang memagut melati di tamanmu

(Sala, 2017)


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan buku puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, ideide.id, langgar.co, dan beberapa lainnya.

Buku, Resensi

Si Tua Bercerita dan Bernostalgia

Oleh Bandung Mawardi

Ibu Sud tak dicantumkan dalam cerita pendek. Nama terlupa tapi lagu-lagu sering disenandungkan bocah-bocah dalam pelbagai acara. Pada peringatan Hari Kemerdekaan, lagu gubahan Ibu Sud berjudul Berkibarlah Benderaku tentu dilantunkan dengan lantang dan bersemangat. Lagu terkenang sepanjang masa, belum tentu nama. Pada peringatan Hari Kemerdekaan, kita cenderung mengingat dua nama penting: Soekarno dan Mohammad Hatta. Nama para penggubah lagu patriotik sering dilantunkan dalam upacara bendera, panggung Agustusan, dan lomba gampang dilupakan atau lekas disebut “anonim”.

Cerita pendek itu berjudul “Berkibarlah Benderaku” gubahan Sapardi Djoko Damono. Cerita masuk dalam buku cerita berjudul Menghardik Gerimis (2019). Cerita itu gamblang mengenai cara kita memberi arti dan kemerduan Hari Kemerdekaan. Judul lagu gubahan Ibu Sud dan cerita itu sama. Pembaca mungkin menebak bakal menemukan nama Ibu Sud. Salah! Sapardi Djoko Damono cuma memerlukan lagu, tak wajib menulis nama penggubah lagu. Pengarang bertubuh kurus itu menulis: “Bendera tidak bisa bergoyang kalau tidak ada angin. Apa lagi berkibar. Padahal, di sekolah anak-anak diajari nyanyi, Berkibarlah benderaku, lambang suci gagah perwira”. Sejak bocah, lagu itu sudah dikenali pengarang. Pada cerita, nostalgia dituliskan saat lagu Berkibarlah Benderaku tetap pilihan dalam membarakan nasionalisme dan memerdukan kemerdekaan.

Di cerita pendek, kita dituntun ke imajinasi keluguan mengenai bendera, angin, dan rumput. Liris. Kita diingatkan dengan 17 Agustus tapi bergerak ke sendu-haru. Cerita tak heroik. Sapardi Djoko Damono justru memberi rangsang imajinasi agak menjauh dari ingatan mengandung bedil, pekik, dan jeritan. Ia menulis nasib “bendera imut” atau “si mungil”. Semula, bendera itu dipasang di pagar. Sekian hari setelah 17 Agustus, bendera imut jatuh. Kita turut merasakan: “Tentu saja si mungil itu pernah berkibar, atau setidaknya bergoyang-goyang kena angin ketika masih dalam untaian. Masalahnya, setelah bendera itu tanggal dan jatuh di pinggir selokan di sudut rumputan yang tidak terurus, ia tidak pernah disentuh angin. Rumput yang tumbuh di sekitarnya, yang sekarang menjadi teman ngobrolnya, juga tidak berkibar.” Cerita mengharukan tak selalu ke masa lalu, masa para tokoh bangsa dan kaum muda memuliakan Indonesia dengan pengibaran bendera dengan konsekuensi mati.

Pada masa berbeda, Sapardi Djoko Damono suguhkan imajinasi lugu. Pembaca mungkin menuduh si pengarang sudah “keterlaluan”. Pembaca dijerat di permainan imajinasi dan makna. Pada 1983, Sapardi Djoko Damono menulis esai-biografis berjudul Permainan Makna, memberi nostalgia masa bocah ke pembaca: “Namun tahun-tahun sesudah kemerdekaan memang terasa ganjil dalam kenangan: sehari makan dua piring bubur, pagi dan sore; ibu menjual buku-buku tebal untuk membeli minyak tanah; ayah di luar kota entah di mana untuk menghindarkan diri dari penangkapan Belanda; siang hari sering saya saksikan pesawat terbang Belanda menjatuhkan bom di beberapa kampung, malam hari terjadi pembakaran gedung-gedung dan rumah-rumah besar.” Kenangan itu terjadi di Solo. Sapardi Djoko Damono tak mengingat bendera tapi memberi susulan dengan cerita minta pembaca di pinggiran imajinasi bendera, tak memusat ke proklamasi atau pengibaran bendera di halaman rumah Soekarno (Jakarta). Bendera itu bernasib memelas: jatuh di pinggiran selokan. Kita pun iba. Di situ, pengarang ingin kita mengerti nasib bendera berkibar dipengaruhi angin dan sadar tiada “apa” dan “siapa” mau lagi memberi perhatian: kata dan sikap.

Masa bocah di Solo terus teringat dan dituliskan saat tua menjadi cerita berjudul “Layang-Layang”. Dulu, Sapardi Djoko Damono suka bermain layang-layang, gobak sodor, gundu, adu cengkrik, benthik, dan lain-lain. Semula, pengalaman-pengalaman masa kecil ditulis dalam puisi. Kini, ia menaruh dalam cerita pendek. Di alun-alun sebelah selatan Keraton Kasunanan, bocah-bocah bergirang bermain layang-layang. Seorang bocah kaget melihat layang-layang putus, terbang tak tentu arah. Ia tak mau kehilangan. Layang-layang itu dikejar. Sapardi Djoko Damono menceritakan dengan seru. Bocah mengejar layang-layang melewati pasar (tempat sang ibu berjualan bunga), berlari terus melewati tanggul Bengawan (tempat mangkal pelacur), dan berlanjut melintasi jalan panjang (tempat ia dan bapak mencari cengkerik dan gangsir). Layang-layang terus terbang tinggi, tak mau jatuh ke tanah. Surup berakhir, bocah belum berhasil menangkap layang-layang. Si bocah malah roboh di depan rumah seseorang. Ia kecapekan dan kehabisan napas meski sempat mendengar azan magrib. Kita diajak terharu gara-gara si bocah tak mau kehilangan layang-layang digambari mahkota oleh bapak. Ia takut kehilangan dan terlalu kagum pada layang-layang. Sapardi Djoko Damono memang “keterlaluan” dalam bercerita.

Pada masa remaja, keluarga Sapardi Djoko Damono pindah ke pinggiran Solo sebelah utara, menjauh dari keramaian kota. Sapardi Djoko Damono belajar di SMA Negeri 2 Solo. Ia sudah memiliki minat sastra meski kalem. Hidup dalam kesederhanaan dan berdekatan alam: “Kami lama-lama terbiasa dengan suasana yang sama sekali berbeda. Gerisik rumpun bambu, suara air sungai di sebelah rumah kalau malam tiba, dan lampu teplok.” Suasana teringat bersama kebiasaan “menguping” obrolan bapak dan teman di malam hari. Si tokoh memang menunda tidur demi mendengar tamu itu menembang dan bercakap. Tembang terdengar dan percakapan. Si tokoh pernah belajar di sekolah khusus priyayi lekas mengenali larik-larik dalam tembang. Malam itu ia menikmati Kalatidha gubahan Ranggawarsita. Orang-orang mengenali sebagai “pujangga keraton terakhir” di Solo.

Pada saat menua, Sapardi Djoko Damono membagi biografi di gubahan cerita-cerita, “bertokoh diri” sebagai bocah dan remaja. Kita membaca cerita-cerita setelah kagum menikmati puisi-puisi lirik gubahan Sapardi Djoko Damono. Ia memang penggubah puisi tenar. Predikat sebagai penulis cerita pendek dan novel dimiliki belakangan. Semula, ia cuma peresensi, juri, dan kritikus sastra dalam mengulas puluhan cerita pendek atau novel. “Cerpen memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari, juga mungkin sekaligus membenarkan pendapat bahwa kita semua pada dasarnya membutuhkan fakta dan fiksi,” penjelasan Sapardi Djoko Damono dalam esai berjudul Dapatkah Kita Menghindarkan Diri dari Cerpen? (1975). Ketekunan menggubah puisi disempurnakan dengan menulis puluhan cerita pendek. Sapardi Djoko Damono telat membuktikan bahwa sulit menghindarkan diri dari gairah menulis cerita pendek!

Ia mungkin mendendam mengetahui nasib cerpen di masa 1970-an sering “meragukan” alias “tak jelas”. Orang-orang atau kaum pembaca cenderung memberi perhatian ke puisi atau novel, belum cerpen. Seminar dan festival sastra jarang memberi tempat bagi cerpen. Dulu, Sapardi Djoko Damono setor sindiran: “Kita harap saja bahwa jarangnya cerpen dibicarakan itu merupakan suatu pertanda bahwa ia memang sudah punya tempat yang layak dalam masyarakat dan sungguh-sungguh berguna bagi pembacanya.” Pada 2019, kita menjadi pembaca cerita-cerita gubahan Sapardi Djoko Damono, membuat pengakuan kecil bahwa cerita sudah memiliki tempat dan berguna mumpung si pengarang asal Solo itu sudah tenar dan berpengaruh dalam kesusastraan di Indonesia. Begitu.


Bandung MawardiPenulis buku Pengisah dan Pengasih (2019)

Cerpen

Sebuah Usaha Menulis Cerita

Cerpen Sasti Gotama

Tulisanmu buruk, tidak bisa kami muat, begitu balasan email Sudaryono, seorang editor koran lokal. Alina Karina membaca berkali-kali tulisan yang tertera di layar laptopnya sampai matanya terasa pedih, tapi tulisan itu tidak berubah. Ini penolakan yang keempat puluh empat, mungkin, karena Alina Karina malas menghitung. Ia hanya mengira-ngira. Dari dulu ia malas berhitung, kecuali menyangkut uang.

Kalau bukan demi uang, ia tak akan mengirimkan tulisan-tulisan itu. Bukan alasan idealis, demi kesusastraan. Baginya, ini satu-satunya jalan keluar yang bisa ia bayangkan. Tagihan-tagihan itu tidak bisa menunggu. Seumpama melintasi jembatan, ia telah berlari di atasnya sedangkan jembatan di belakangnya telah terbakar.

Yuanita, anak perempuannya telah tertidur sejak pukul tujuh malam. Sepertinya ia kelelahan setelah ekstrakurikuler berenang. Dua puluh menit yang lalu, bocah kelas lima itu bahkan menguap berkali-kali saat mengerjakan PR yang berlembar-lembar. Begitu nomor terakhir ia selesaikan, ia langsung jatuh tertidur di atas buku catatan hingga Alina Karina harus mengangkatnya ke kamar.

Alina Karina kadang heran, sebetulnya sekolah itu tempat belajar atau tempat penyiksaan? Seharusnya sekolah tempat anak-anak bersenang-senang sambil belajar, bukannya tempat menimbun beban, dijejali dengan berbagai hafalan dan hitung-hitungan memusingkan. Buktinya, saat ini semua hafalan Alina Karina di sekolah dasar tentang bahan tambang di Indonesia dan juga daerah penghasilnya tak bisa membuatnya mendapat uang.

Alina Karina berjingkat ke arah meja rias. Sambil memikirkan ide apa yang bisa ia tulis untuk dikirimkan ke koran, ia membersihkan wajah dengan kapas basah. Baru dua karyanya yang menghasilkan. Tiga ratus ribu rupiah langsung menguap untuk biaya rekreasi bersama kelas lima Yuanita. Saat itu ia menulis tentang seorang perempuan yang melahirkan seekor serigala. Padahal ia tak pernah bercinta satu kali pun dengan seekor serigala. Ia hanya bercinta dengan manusia-manusia berhati serigala. Pada akhirnya, serigala yang terlahir itu tumbuh besar, dan kelak akan memakan ibunya sendiri. Sebetulnya ia tak terlalu memikirkan apa pesan moral dalam tulisannya. Ia hanya membuat cerita aneh yang sepertinya lebih disukai media. Buktinya, saat ia menulis sebuah cerita mendayu-dayu dengan pesan moral, balasan yang tercantum seperti kalimat pembuka di atas.

Jam menunjukkan pukul tujuh tiga puluh saat Alina Karina telah menyelesaikan riasannya. Alisnya sudah melengkung cantik dan bibirnya merah muda. Ia meraih gaun hitam menerawang dari lemari sambil memikirkan bahan cerita lainnya. Ia harus membuat cerita yang baik, alih-alih menulis kisah yang buruk. “Mungkin aku harus menulis cerita yang berisi hujatan pada pemerintah,” gumamnya. Orang-orang suka membaca hal yang buruk, pikirnya. Hal-hal yang baik tak pernah mereka bicarakan, berbeda ketika ada berita buruk, maka dengan semangat empat lima mereka memakan bangkai berjamaah. Serupa bawang, semua dikuliti hingga lapis terakhir.

Seorang editor yang pernah menggunakan jasanya di sebuah kamar hotel kelas melati pernah berkata, “Menulislah karena kau mau menulis. Jangan pernah menulis karena uang.” Ia mengatakan itu sambil menguap dan menarik selimut yang  menutupi sebagian pinggangnya. Kalau meludahi editor tidak akan membuatnya kehilangan uang jasa pelayanan, mungkin sudah dilakukan saat itu juga. Tapi ia butuh uang itu untuk membayar tagihan BPJS yang naik bulan ini.

Alina Karina menggelengkan kepalanya. Menyesal telah mengingat hal menjijikkan itu. Sebetulnya semua yang dilakukannya menjijikkan. Tapi ia terpaksa. Kadang, saat di atas kasur apak dan seseorang menungganginya dari belakang, ia hanya memikirkan Yuanita.

Pelan-pelan ia menutup kamar kos agar Yuanita tidak terbangun. Malam itu dingin sekali, dan bulu-bulu kuduknya –satu-satunya bagian yang tidak ia cukur—meremang. Harusnya aku memakai jaket, pikirnya. Tapi kemudian ia sadar, itu berarti akan membuat keseksiannya tak akan terlihat pelanggan.

Di bawah sinar bulan purnama, Alina Karina berdiri sambil menggosok-gosok kedua lengannya. Di jalan ini belum disediakan lampu penerang. Beberapa rekan seprofesinya tampak duduk-duduk di pembatas jalan dan sungai. Daerah ini lebih dikenal sebagai jalan inspeksi banjir kanal barat. Tak banyak yang lewat. Hanya beberapa motor. Itupun tak ada yang menghampirinya.

Alina Karina memilih untuk bersandar di pohon kersen pinggir jalan. Punggungnya sedikit pegal. Sebetulnya ia tak ingin mengingat-ingat masa lalunya. Namun, ingatan itu dengan seenaknya nongkrong di benaknya. Alina Karina bukan nama aslinya. Tapi ia suka nama itu, juga untuk nama penanya.

Sebetulnya, seperti alasan-alasan klise lainnya, tak ada yang mau jadi tunggangan lelaki yang berbeda-beda jika bukan karena terpaksa. Ia sudah coba melamar ke mana saja, tak ada yang mau menerimanya, tentu saja karena sosoknya. Kalau memungkinkan, ia ingin pindah ke Thailand, tapi ia urungkan dan berpikir untuk menulis cerita saja. Dalam dunia tulis menulis, orang hanya menilai dari ceritamu, bukan sosokmu. Ia berangan-angan, dengan menulis cerita ia bisa bebas finansial, tak perlu menjajakan diri seperti ini. Sesaat, ia merasa otaknya dipenuhi labi-labi.

Seorang pengendara vario hitam melambatkan motornya dan berhenti di depannya. “Mampir, Mas?” Alina Karina mengedip manja dan melontarkan senyum termanis yang ia punya. Lelaki pengendara motor itu sedikit gugup. Ia menoleh ke kiri, kanan, dan belakang. Sinar bulan membuat wajahnya tampak lebih pucat.

“Bonceng saya ke penginapan di ujung jalan sana, ya Mbak.” Alina Karina mengangguk dan langsung duduk di boncengan lelaki berjaket hitam itu. Bau musk yang terlalu pekat segera terhirup olehnya. Ia tidak peduli ke mana lelaki itu membawanya. Pikirannya dipenuhi bahan cerita apa yang bisa dibuatnya.  Ia bernazar, jika cerpen yang akan dibuatnya kali ini bisa tembus media ternama, ia akan berhenti menjajakan diri dan sepenuh hati hanya menulis cerita. Seandainya ia tahu, bahwa banyak penulis yang tak bisa menggantungkan nafkah dari cerita, tentu ia tak akan bernazar seperti itu dengan gegabah.

Pikiran Alina Karina masih dipenuhi dengan ide-ide cerita ketika lelaki itu membelokkan motor ke arah rimbun kebun jagung. Ia bahkan sedang memikirkan kalimat pembuka ketika lelaki itu membekap mulutnya lalu membanting tubuhnya ke arah sela-sela tanaman jagung. Lelaki itu mencekik leher Alina Karina sambil mengerang bahwa pria yang menyalahi kodratnya seperti Alina Karina patut dimusnahkan dari dunia daripada membawa petaka bagi manusia di sekelilingnya. Di saat terakhir, Alina Karina telah melupakan hal-hal tentang cerita. Ia hanya terbayang Yuanita,  dengan suara cadel memanggilnya “Ayah”.***


Sasti Gotama adalah seorang dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan cerita Penafsir Mimpi dan Antologi Journey to Infinity.

Puisi

Puisi Cesila Anggita Pangestu

Elegi #1

Perihal hati yang luka

Alih-alih rela

Lagaknya aku sukar melupa

Membiarkan batin ini terus berumpama

Sebab ia terus menanggalkan ‘kita’

dalam wadahnya

Jogja, 14 Juli 2019


Elegi #2

Kekasihnya datang

Kau tertawa di pertemuan

Aku pun tersenyum merekah-ruah

Mungkin saat ini,

Adalah patah yang sukar kurasa

Tak berdarah

Dan aku mulai belajar lebih tabah

Jogja, 14 Juli 2019


Elegi #3

Apadaya aku tak tahan

Sesaknya riuh pertemanan

Menanggal aku dan kamu

Dalam satu ikatan

Tiada kepastian

Alih-alih berujung kepahitan

Dapatkah menghentikan rasa?

Menyudahi tawa

Dan menutup cerita

Jogja, 16 Juli 2019


Elegi #4

Sunyi mengalun malam

Sedangkan aku,

duduk di pelataran

Lelah, resah … patah

Kisah mengajak bernostalgia

Konyol aku tak marah

Saatnya mulai melepas

Memangkas rasa tak bersisa

Jogja, 18 Juli 2019


Elegi #5

Memulangkan realita

Tanpa selip harap apa-apa

Pun tinggal bijih aksara

Yang menyemai prosa-prosa

Sebatas coretan belaka

Sebab rasa iba, berganti biasa saja

Sedangkan raga cepat menggugat

Batin menggeliat

Tersurat dalam cangkir kosakata

Jogja, 18 Juli 2019


Elegi #6

Perihal hati yang tersirat

Kalau tak suka bilang saja

Rasamu hanya sebatas kata-kata

Sebab rindu tak bermuara temu

Hanya buang-buang waktu

Sekadar pesuruh

Dianggurin melulu

Sakit tauk

Jogja, 18 Juli 2019


Elegi #7

Puan, mari kita pulang

Perihal rasa telah diutarakan

Belum juga kunjung tuntas, benarkah?

Ah, lagaknya kau tak mau melupa

Sebab meniadakan perkara

Menyukai tanpa jeda

Sama berisikonya,

melukai tanpa was-was

Siapkah waktu menggilas dada?

Jogja, 18 Juli 2019


Elegi #8

Semula ingin, sekarang asing

Bukan berarti tak punya hati

Hanya aku tak lagi peduli

Walau kau semegah monjali

Setinggi tugu merapi

Berani memuisikanmu itu asyik

Aku tak lagi perih

Alih-alih terinspirasi

Jogja, 18 Juli 2019


Elegi #9

Ada jeda tanda kita semai rindu

Acapkali bersatu

Pun tak direstui waktu

Nyatanya harus menunggu

Sampai lumut-lumut

Takdir menahan kita di muara temu

Jogja, 23 September  2019


Elegi #10

Mulai sekon ini

Puan, jangan melulu siksa diri

Apalagi jadi budak hati

Gampang sekali dibunuh situasi

Cukup terhenti sampai sini

Asal aksara tak tergilas mati

Tertanda, dari pena pengagum diksi

Jogja, 23 September 2019


Cesila Anggita Pangestu, lahir di Pekalongan, kini tengah menempuh studinya di Kota Yogyakarta. Cerpen dan puisinya pernah dimuat dalam harian Kedaulatan Rakyat. Menjadi finalis 20 besar terpilih lomba essai nasional Asian Youth Day (2017) dan beberapa tulisan pernah diikutsertakan dalam antologi; Story of Friends Komkep KWI (2017), Rahasia Ambigu AT Press Bali (2018), Puisi Sakatara AT Press Bali (2018),  A Voice Flute Ellunar Publisher (2019), Kode Berdarah Reybook Media (2019).

Buku, Resensi

Sisi Buruk Kebaikan

Oleh Kiki Sulistyo

Kekuasaan dapat membelokkan hal yang baik menjadi buruk, sanggup mengubah harapan menjadi penderitaan. Dalam lintasan sejarah manusia, dengan berbagai skala, kekuasaan selalu menjadi masalah. Ada saat ketika kekuasaan begitu memabukkan, sehingga mereka yang menggenggamnya jadi lupa segalanya. Kekuasaan itu sendiri adalah keniscayaan, seperti yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca “tak ada manusia yang bisa terbebas dari kekuasaan sesamanya”. Oleh karena itu, reaksi, sikap kritis, maupun perlawanan terhadapnya juga akan terus berlangsung dalam suasana apapun. Seringkali sikap dan tindakan tersebut sebenarnya hanya modus karena kalah dalam perebutan kekuasaan atau sebagai strategi untuk mendapatkan atau merebut kekuasaan, yang kelak menjungkirkan posisi seseorang menjadi serupa dengan apa yang dulu dilawannya.

Dalam hubungannya dengan sastra, kekuasaan adalah bahan bakar utama lahirnya pelbagai karya dalam khazanah sastra di pelbagai penjuru dunia. Sastra sering menempatkan diri sebagai oposisi atas kekuasaan, terutama kekuasaan yang menindas. Karya sastra (baik puisi, cerpen, novel, atau naskah drama) menyentil, mencubit, mengusik, sampai mengutuk kekuasaan seraya menebarkan stimulan bagi kesadaran.

Buku kumpulan cerpen Yudhi Herwibowo, Empat Aku (Marjin Kiri, 2019), juga tidak lepas dari semangat seperti itu. Kekuasaan menjadi subject matter hampir semua kisah dalam buku ini. Baik itu kekuasaan kapital maupun politik, yang pada kenyataannya kerap berkelindan, mengakibatkan ketidakberdayaan di lingkungan paling bawah dari piramida sosial. Ketidakberdayaan tersebut sering memaksa seseorang berada dalam posisi yang sulit dan mengambil tindakan yang tidak sepantasnya.

Dalam cerpen “Langda, Suatu Ketika” dikisahkan bagaimana Eba Deyal menipu sahabatnya, Marten, dengan memberikan kapak batu buatan orang lain, karena kapak batu yang dibuatnya dari batu pilihan dan sudah dijanjikan buat Marten, terpaksa harus dijual untuk menyambung hidup anak-anaknya. Cerpen ini menggunakan setting faktual—di Yakuhimo, Papua—sehingga kita langsung mengingat bagaimana relasi negara dengan salah satu provinsi terluar itu. Baik Eba Deyal maupun Marten adalah bagian dari mata-rantai korban dari kelalaian negara dalam mengurus kesejahteraan warganya.

Ketidakberdayaan semacam itu pada satu titik melahirkan harapan-harapan yang bersifat ilusif; fatamorgana dari kebuntuan jalan keluar. Itu misalnya tampak dalam cerpen “Jejak Air”. Ketika perusahaan air minum kemasan memonopoli ketersediaan air di desa tempat tinggal Jarot, kekeringan mulai melanda. Protes dan perlawanan warga disumpal dengan uang. Jarot yang menolak untuk disuap, akhirnya hanya bersandar pada harapan yang bersumber dari cerita kakeknya di masa lampau, bahwa nanti akan datang laki-laki yang di setiap bekas jejak kakinya mengalir air yang begitu bening untuk kita semua di sini.” (hal.71).

Hal menarik dari cerita-cerita dalam Empat Aku adalah bagaimana situasi paradoks muncul dari modus kekuasaan dalam upaya menancapkan kukunya. Modus itu berupa perubahan dan kebaikan, yang pada saatnya menampakkan wajah ganda sebagai sumber keburukan. Konsekuensinya kemudian adalah jejaring problem yang menjerat sampai ke wilayah internal masyarakat, bahkan ke wilayah inter-personal. Dalam cerpen “Kampung Rampok” misalnya. Kemunculan seorang laki-laki yang digambarkan baik (dia bertanya dengan sopan, membelikan rokok, padahal dia sendiri tidak merokok) tampak seolah hendak membuat perubahan di kampung rampok, membuat kampung itu menjadi lebih beradab; suatu tipikal hero dalam banyak cerita. Tetapi laki-laki itu ternyata hanya ingin merebut kekuasaan dari kepala kampung. Masyarakat (melalui tokoh aku) sebenarnya tidak peduli. Ya benar, siapa pun pemimpinnya, yang penting kami tak peduli! (hal.10). Sikap apatis itu berubah jadi ketakutan ketika ternyata si kepala kampung yang baru, jauh lebih kejam dari yang sebelumnya. Tak ada warga yang bisa keluar dari sana, sementara warga sendiri takut tinggal sebab seperti hanya menunggu giliran untuk dimangsa.

Modus perubahan dan kebaikan yang dilancarkan kekuasaan juga mencolok dalam cerpen “Jejak Air” di mana berdirinya perusahaan air minum kemasan pada mulanya membuka lapangan kerja pada warga setempat. Atau dalam cerpen “Jendela” di mana seorang promotor seni memperoleh keuntungan dengan membuat pameran lukisan karya pelukis yang mati bunuh diri, dengan alasan menghormati si pelukis, sementara selama hidupnya hampir tak ada lukisannya yang terjual, hingga ia jatuh melarat.

Cerpen “Empat Aku” yang menjadi judul buku ini paling jelas memperlihatkan bagaimana kekuasaan membuat jaring-jaring problem inter-personal. Dengan gaya eksperimental cerpen ini menggambarkan konflik empat-karakter dalam diri aku. Seluruh karakter itu menyimpan keinginan untuk menguasai aku sepenuhnya. Masing-masing karakter memiliki watak-gandanya sendiri; aku-pertama yang dermawan tapi licik, aku-kedua yang rajin berdoa tapi lemah, aku-ketiga yang optimis tapi antipati, serta aku-keempat yang penuh empati tapi pesimistis. Kompleksitas itu menggambarkan suatu situasi paradoks, sebagaimana yang diucapkan aku-pertama: selalu ada sisi buruk dari segala kebaikan (hal.30).

Sisi buruk kebaikan—yang muncul lantaran kebaikan hanya modus semata—adalah nilai signifikan dari tema kekuasaan dalam cerpen-cerpen di buku Empat Aku ini. Yudhi Herwibowo membawa pembaca melompat dari setting faktual ke setting fiksional, dari narasi referensial ke narasi imajiner. Tetapi seluruhnya diikat oleh perhatiannya pada konsekuensi-konsekuensi kekuasaan yang seakan menebalkan tulisan Pramoedya yang dikutip di atas, bahwa manusia tak mungkin bebas dari kekuasaan sesamanya. Jika manusia tak bisa bebas dari kekuasaan, maka hanya pilihan menyerah atau melawan yang tersedia. Dan tokoh-tokoh di dalam kumpulan cerpen ini masing-masing telah memilih.***


Kiki Sulistyo, pengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Cerpen

Taman Dasar Kali

Cerpen Kiki Sulistyo

Apa yang dicari seorang perempuan, lepas tengah malam, berdiri di tepi jembatan, hanya memandang ke bawah, ke alir air kali yang hitam oleh limbah, ketika hampir semua lampu-lampu rumah sudah dipadamkan? Aku melihatnya. Beberapa meter saja dariku—dan semakin dekat seiring kakiku melangkah. Aku tak tahu mengapa mesti terburu-buru. Mungkin karena gelap membuat jantungku berdegup lebih kuat. Mungkin sebab sempat kulihat langit telanjang tanpa bintang, seperti pertanda hujan bakal datang. Aku seperti baru sadar, aku tak sendiri di kawasan ini. Dengan sekuat niat kutahan laju kakiku, aku tak mau maju. Bisa jadi perempuan itu sejenis hantu penunggu, atau penderita gangguan jiwa yang takkan merasa dosa bila menghilangkan nyawa.

Tapi kami sudah telanjur dekat ketika aku berhenti. Dua depa saja. Jarak segitu cukup untuk membuat dadaku tembus peluru atau terhantam batu. Perempuan itu barangkali akan melemparkan tubuhku ke kali—tentu, setelah puas mencabik seperti mencabik bantal kapas. Atau bagaimana jika ternyata dia zombie yang baru jadi? Dia pasti sangat lapar dan tak sabar menunggu mangsa dengan menyamar jadi manusia biasa.

Sebaiknya kuhapus pikiran macam itu sebelum melompat keluar dan berubah jadi kenyataan. Tak ada tanda-tanda luka di tubuhnya. Dia berdiri sebagaimana orang biasa berdiri. Punggungnya tegak, jari-jarinya yang memegang besi jembatan kelihatan halus terkena sinar lampu jalanan. Dia tak menoleh seakan tak menyadari ada aku yang berdiri bagai lilin siap meleleh. Bimbang akan terus berjalan atau menyapanya pelan-pelan, aku menghabiskan sekian menit di mana jalan terasa sempit dan besi jembatan seakan menjepit. Namun segera, bagai menghapus lamunan yang sementara, kuputuskan untuk meninggalkannya. Lagipula, aku teringat lampu kamar yang belum dinyalakan serta makanan sisa siang yang mungkin sudah dikerubung semut hitam.

Baru dua langkah menjauh, selembar suara jatuh ke gendang telingaku. Suara itu lemah, tapi dalam suasana senyap, suara yang lemah bisa terdengar bertenaga. Perempuan itu memanggil dan berkata, “Kenapa berlalu seperti itu?” Aku berhenti melangkah, dia kembali menambah. “Sini, berdirilah di dekatku. Ada sesuatu yang mesti kau lihat.” Perempuan itu menoleh padaku, aku menoleh pada perempuan itu. Aku lihat wajahnya, dan harus kukata, wajah itu sejelita bidadari yang sering kutemu dalam mimpi, dulu saat aku masih seorang bocah kecil yang suka mendengar cerita tentang surga.

 “Ya?” tanyaku berujar seolah-olah tak mendengar. “Lihatlah,” tanggapnya singkat. Aku terpaksa mendekat. Terpaksa sebab kukira tak ada guna untuk tak percaya, dan wajahnya yang jelita—o, penguasa semesta!—membuatku tak berdaya. Aku berdiri di dekatnya, memegang besi jembatan dan menoleh ke kiri untuk kembali melihat wajahnya. Aku akan rela selama-lamanya menatap wajah itu dan jika aku masuk surga nanti, di antara semua bidadari, sudah pasti kupilih bidadari ini. “Jangan melihatku. Lihat saja ke bawah, ke air kali yang hitam oleh limbah,” katanya. Aku malu, seakan-akan ia tahu apa yang terbersit di pikiranku. Maka kualihkan pandang, ke bawah jembatan, di mana air bergerak menuju laut dan suatu ketika akan terangkat ke udara sebagai uap, sebelum jatuh kembali menjadi air yang meluap-luap. “Jangan berpikir terlalu jauh. Coba tatap air itu, kau akan melihat sesuatu,” katanya. Baiklah, akan kuturuti kemauannya, meski aku belum mengenalnya, meski aku belum tahu apa yang ia sebut sebagai sesuatu itu.

Mula-mula tak ada yang istimewa. Lebih tepatnya tak ada yang bisa dilihat kecuali air kali yang memang hitam dan semakin hitam karena malam. Sesekali permukaan air bergelombang dan cahaya lampu memercikkan terang, tetapi tetap tak ada apa-apa. Aku memutuskan bersabar ketika sejenak kemudian sesuatu tampak mekar dan muncul dari dasar. Bentuknya seperti mawar, tapi warnanya ungu dan ukurannya terlalu besar untuk disebut mawar. Lantas pelan-pelan di sekitar mawar besar itu muncul aneka bentuk tanaman. Kunyalangkan mata agar yakin aku tak salah penglihatan. Benar. Aku tak salah. Semakin terang kelihatan bahwa di dasar kali itu ada taman. “Bagaimana bisa ada taman di dasar kali ini?” tanyaku, sebenarnya, entah pada siapa. Karena di sana hanya ada kami berdua, perempuan itu menjawab, “Entahlah. Tapi bukankah itu bisa jadi tempat yang indah untuk menghilangkan lelah?”

Aku perhatikan lagi taman itu. Sekarang dapat kulihat beberapa bangku diletakkan dalam jarak tertentu. Lalu ada kupu-kupu, lebah madu, dan burung-burung kecil berbulu biru. Sungguh suatu taman yang teduh, pasti menyenangkan bisa berada di sana, melupakan kepenatan kerja, menghirup udara bersih tanpa karbon monoksida. Tapi pasti semua ini hanya ilusi, bagaimana mungkin ada taman di dasar kali. Kukira malam sedang bersiasat, menghadirkan bidadari ini agar aku mengalami halusinasi. “Kau pasti mengira ini cuma ilusi. Akupun begitu waktu pertama kali. Tapi karena setiap kali aku ke sini, taman itu selalu muncul kembali, aku jadi percaya kalau taman itu benar-benar ada,” ungkap si bidadari, lagi-lagi seperti mengerti isi pikiranku. “Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanyaku. “Siti,” jawabnya sesingkat kilat di langit tinggi.

Siti, seperti nama perempuan pertama. Apakah namanya Siti Hawa? Ah, kukira Siti saja cukuplah sudah. Sekarang aku harus berpikir, bagaimana semua ini akan berakhir. “Apakah kau tertarik untuk pergi ke sana?” tanyanya tiba-tiba. “Ke mana? Ke sana?” tanyaku balik sembari mendelik ke arah taman yang kian tampak terang. “Iya, ke taman itu. Sudah lama aku menanti ada yang mau menemani.” Siti si bidadari mengulum senyum. “Tapi…” kalimatku belum usai ketika ia berkata kembali, “Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, barang siapa mau menemaniku ke taman itu, akan kujadikan kekasihku. Tak peduli ia perempuan atau laki-laki. Aku akan mencintainya serta menyerahkan seluruh hidupku padanya.” Sungguh, itu deretan kalimat yang membuatku lupa bahwa suatu hari dunia akan kiamat. Sudah lama kubayangkan seorang perempuan berkata seperti itu kepadaku, bahwa ia akan mencintaiku dan menyerahkan seluruh hidupnya hanya untukku. Apalagi kalimat itu keluar dari bibir seorang bidadari, seluruh hidupku yang penuh getir akan tegak berdiri bagai kebenaran di hadapan para tiran. Mungkin ia bisa menghilangkan kesadaran, tapi bagiku ia bisa juga memberi kesadaran baru. Kesadaran bahwa tak ada yang mustahil di dunia, termasuk adanya taman di dasar kali.

Maka ketika Siti si bidadari meraih tanganku, tanpa ragu-ragu kami naik ke besi jembatan, lalu melompat cepat menuju air kali yang bergerak lambat. Terdengar suara benda jatuh ke air seakan-akan bukan kami yang menyebabkan. Kali ini cukup dalam, dan aku baru ingat tidak pernah belajar berenang. Siti melepas pegangannya dan seketika menghilang. Aku gerakkan tubuh sebisanya, sia-sia, semakin aku bergerak semakin kuat air menarikku ke dalam. Air masuk ke mulut dan hidungku, napasku terasa berat, dunia seperti melesat ke luar dari tubuhku. Kukira aku akan mati, takkan ada yang membantu. Sebelum itu, biar kumaki dulu diriku sendiri, kumaki kebodohan yang telanjur bersarang dalam diri ini.

Tapi aku tak jadi mati. Aku hanya merasa ringan, seakan seluruh bobot telah dicopot dariku. Dan taman itu memang ada. Sungguh-sungguh nyata. Sekarang aku sedang berjalan di atas rumputnya yang lembut. Kucium aroma aneka bunga. Harum dan segar. Di tengah-tengah taman, di hadapan bangku panjang, mawar besar berwarna ungu itu dapat kusaksikan. Benar-benar cantik hingga tak mungkin terbersit pikiran untuk memetik. Tapi, di mana Siti? Apakah ia ada di sini? Apakah ia lebih dulu tiba dan kini sedang menanti? Aku berjalan mengitari keluasan taman. Tak kusangka taman ini sungguh luas, nyaris tak berbatas. Tak kutemukan siapapun, aku benar-benar sendirian. Barangkali Siti tak berhasil sampai di sini. Barangkali seseorang melihatnya jatuh ke kali dan segera membantunya menepi. Perasaan sepi pelan-pelan membesar, tak ada yang bisa kulakukan kecuali menanti dengan sabar, mengikuti arus waktu yang bergerak melingkar. Aku tak tahu berapa kali sudah waktu berputar.

Pada saat-saat tertentu kuarahkan pandang ke atas. Samar kulihat sampan-sampan melintas, lalu di tempat yang lebih tinggi kendaraan lalu lalang melewati jembatan. Dan bila malam telah tua, dapat kusaksikan seorang lelaki dan seorang perempuan berdiri di tepi jembatan, menatap ke bawah, ke arah tempatku berada. Apakah itu Siti? Dan siapa lelaki di sampingnya? Kenapa tampak mirip denganku?***

Kekalik, 13 April 2019


Kiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, di Mataram, Nusa Tenggara Barat. 

Puisi

Puisi Norrahman Alif

Empat Surat Keluh di Musim Peluh

1

Sawah-sawah berwarna kuning tua

dengan kulit tanah bengkak dan berduka

kaum kaum tani gerah, tak lelah, tak keluh

memanggil-manggil hujan tiba, agar segala

yang bernama kemarau di langit, basah

menjadi pohon hujan di bumi.             

2

            “Langit sudah lama tak menangis ibu,

            aku sudah hampir mati di tanah ini.”

Serunya riscik anak-anak kencur, ketika tiap hari tubuhnya

terbakar, terpenjara bara api tangan-tangan raja matahari

namun kelebat angin hanya panas dan waktu resah

mencatat keberingasan tuan kemarau menjajah.

Sedang di dalamnya orang-orang berjalan ke sana ke sini

meneriakkan perih keringat mereka ke jalan-jalan waktu.

.

3

            “Tuhan, dari dalam tanah, rinduku membeludak dalam ingatan  

mencium wangi kesegaran lumpur sawah atau mengecup bibir kali-kali

kecil mengaliri persawahan.”

Dengungnya doa katak-katak yang sedang mati suri dalam goa

pesembunyiannya itu.

Atau mungkin mereka telah paham: bahwa

hidupnya tak bertahan jika tak bertuhan pada

musim hujan.

2019


Monolog Asap

Cara hidup yang sia-sia adalah menjadi diriku

di sepuntung rokok yang menyala:

tubuhku putih terbang tanpa sayap

bisa dipandang tak dapat kau pegang.

Namun aku kerabatmu siang-malam

setelah usai makan atau ketika kau

menulis puisi bersanding kopi malam.

Sementara kenapa Tuhanku banyak di duniamu

padahal Tuhanmu satu: namun bergelantungan pada

            hati di mana-mana. Sedangkan saat ini

kau Tuhanku semenit dalam sendiri

namun tidak tahu esoknya lagi.

Makin lama kauhisap tubuhku malam ini

makin bingung aku pada diriku sendiri

di puntung rokokmu yang hampir habis.

Mengapa hidupku hanya sekejap tiap kau hembusan

 aku ke udara dengan nikmat.

Padahal aku lebih nyata dari bayang-bayangmu

ingin rasanya aku menjadi bagian dari kekekalanmu di sini:

walau pada akhirnya kau mati di bumi dan aku wafat di udara.

Asap, bagiku kau angin perpisahan:

datang dan pergi hanya untuk

menitipkan rasa sesak kehilangan

pada jantung perempuan.

Kataku pada asap penghabisan–sebelum kubenturkan kening

puntung rokok surya ini

                        pada dinding asbak tanah liat.

2019


Sabda Batu Kapur di Bukit Badur

Aku hanya batu-batu kapur tak bernyawa

            namun tangan-tangan kuli bangunan

menyulapku bersenyawa dengan

air,

semen

dan

tanah

yang menjadikannya rumah.

Walau tubuhku tak sekekar karang di hati lautan

tubuhku hanya sususan bayi-bayi

kapur yang dikeraskan suhu dan waktu

di Bukit Badur sana.

Namun putih wujudku yang dikekalkan kebisuan ini

makin akrab dengan tangan-tangan pembangunan

semenjak akal manusia mulai mempelajari peta

— peta arsitektur ruang teduh di muka bumi.

Pada saat itulah tubuhku mulai dijual-belikan

oleh orang-orang lereng Bukit Badur. Sebab aku bagi

mereka otot-otot bagi dinding-dinding rumah

yang baru didirikan.

Namun menjadi batu kapur tidak segampang mobil-mobil

boks mengangkut potong-potongan tubuhku ke desa-desa atau ke

kota-kota pembangunan.

Sebab menjadi batu harus terbuang dari sekumpulannya

di Bukit Badur. Di saat setiap hari kulit perut bukitku

di garinda demi sebuah batu seperti diriku saat ini:

yang menjadi pertapa tua di rahim dinding-dinding rumahmu

yang kian lapuk dan purba.

2019


Nasib Jengki yang Terlupakan

Orang-orang lebih memilih cepat bermotor

daripada lambat namun sehat bersepeda.

Seperti keasinganku di gudang tua kini;

                        hanya menjadi barang kuno

                        atau barang bekas yang tak

mempunyai harga diri di jalan mulus.

Mungkin aku hanya jengki lusuh:

bertulang besi dengan tubuh kurus berkarat

berlari sendiri menuju kelam

masa silam–menjadi kenangan kini.

Kemudian aku kembali lagi sebagai

tulang besi langka di ruang-ruang mewah:

namun bukan lagi menjadi barang

tunggangan manusia.

Sebab aku terlalu kurus dan lemah bagi

jalan zaman yang sudah gemuk dengan

motor-motor kencang berkaki empat, tiga

dan dua menyesaki dada lorong-lorong itu.

Maka jadilah aku hanya barang pajangan

di musium-musium barang antik atau di

warung-warung kopi klasik–dengan menjual

harga diriku sebagai barang bersejarah.

2019


Sabda Rumah Kontrakan

Rongga perutku hanya sebagai persinggahan

–datang dan pergi adalah nasibku yang digariskan

kaki manusia sebagai jiwa rumah sewaan.

Tak ada yang bertahan menahun dalam tubuhku

seperti anak, istri dan kawanmu itu:

masuk lewat mulutku yang dibiarkan kekal terbuka

hanya untuk merokok, ngobrol dan ngopi kemudian

pergi

dengan meninggalkan sepuntung rokok kenangan

yang dibiarkan terbakar rambutnya di pojok perutku:

 menguapkan asap-asap kepedihan

mengajak jantung sesak dan aku batuk

            batuk dalam kesunyian.

Mungkin mereka tak mengerti bagaimana dukanya

menjadi bukan manusia. Namun kubiarkan kini kusimpan

segala dendam amarah sebagai ruang mata-mata:

mengawasimu yang tak tahu cara merawat rumah

dengan rasa cinta.

Di saat warna kulit-kulitku telah kusam dan menghitam

tanpa kau ganti dengan warna cemerlang tiap lebaran pun.

Dan tahun demi tahun hanya menimbun kenangan berdebu

–di ruang-ruang perutku, tempat baju-baju berkuman,

 lemari-lemari dapur membuka diri, menguapkan bau

tidak sedap dari sisa-sisa makanan di masa lalu.

2019


Percakapan Kasur dan Baju

Lampu mataku menyenteri dada kasur sobek hatinya

lebar dan tebal dagingnya tak lagi selembut dahulu

karena kejahatan kuku-kuku kaki buta tak beradab itu

atau tak kuat menanggung beban duka tubuh maha berat.

“Tuan, siapakah  kasur itu di cermin matamu?”

Tanya baju sebelum kulipat jadi satu kerabat.

“Aku kawanmu yang terbuat dari kapas dan benang:

kasur namaku–sebidang kelembutan segi empat

yang mengabdi pada tubuh manusia sebagai pelampiasan

air liur, air mani, mimpi dan tidur,”

ujarnya kasur di lantai.

Namun pasti dukamu lebih ringan dari dukaku menangkis

kekerasan gerak tubuh-tubuh yang tertidur.

            “Kau tahu, di lain tangan sering diriku disakiti ketika puntung

rokok jatuh dari tangan yang tak punya mata, arang itu

melubangi kulitku yang hanya setipis jarak hidup ke mati.

            Namun aku hanya setebal diam semenjak dalam kandungan

di saat Tuhan lupa bahwa aku jua membutuhkan suara

sebagai gumam perlawanan,” geramnya kasur.

“Ternyata kau bagian dari tubuhku yang dipisah oleh daging.

 jadi Tuhan kita sama

sama satu sepenanggungan di tubuh manusia,”

kata baju sebelum bersatu dalam kandang lemari. 

(Cabean-2018)


Sabda Noda-Noda

Debu-debu mati terkubur di sela-sela keramik,

sisa-sisa tembakau tergeletak di bibir tanah,

tubuh-tubuh kertas dan plastik  pulas tertidur

di kasur-kasur tong sampah.

Baju-baju busuk tak terpakai beraroma keringat kenangan,

  celana-celana kehilangan resleting terbaring di atas genting

saudara sandal-sandal putus talinya sebagai anak buangan.

Kubangkitkan kematian mereka sebagai diksi-diksi dalam puisi.

Karena mereka butuh riwayat dari sisa hidupnya tak terawat.

Kini kata-kataku sebagai mobil ambulan yang mengangkut air mata

benda-benda kuno di musium kenangan yang jauh.

Sementara suasana puisi tersusun dari cacahan tubuh kesedihan

                        sejarah dan nenek-moyang yang di lupa

                        dan rahim kalimat-kalimatku mengandung janin

                        sampah-sampah dunia tak ternilai.

 Maka atas hati yang prihatin, anak-anak puisiku

ingin mewakili makna kehidupan mereka yang terlupa.

2019


Surah Kotoran

Tai-tai kucing di halaman meratapi kemalangan hidupnya

berak-berak ayam menggunung di lesteran hanya menguapkan

ujaran kebencian dari bibir kehidupan.

Mengapa perasaan manusia tak memberi harga pada kotoran

            padahal kata-kata ingin menyelamatkanya ke dalam makna sebagai

kalimat berharga pada hidup–setelah puisi mewangikannya.

Mungkin hati manusia memang sia-sia sebagai tuhan perasa

jika lupa bahwa asal-mula hidup ini dari sari-sari kotoran

yang telah dikuduskan oleh anak-anak tanah sebagai padi-padi

jagung-jagung dalam tubuh kita.

2019


Dongeng Noda Hitam

Tak akan sadar walau angin menenggelamkan waktu ke dasar dingin

ketika gema bibir ke bibir menyimpul cerita noda hitam

di tubuh orang lain.

Mungkin, sudah beribu kali kita tabung kebahagiaan

dalam kenangan, dari sebuah perkacapan dosa

di tubuh para tetangga.

Tetapi, apakah yang kita dapat dari rasa bahagia

yang terbuat dari rempah-rempah keburukan orang lain ?

2019


Pada Malam Kelam Kelabu

Kata-kata menggulung kesepianku di sini

di kampung yang tumbuh sunyi pada

 malam kelam kelabu.

Sedang detik-detik gemetar –jatuh ke sumur waktu

yang kian dalam kian menyumberkan kenangan.

Padahal mataku belum rabun untuk melihat sesuatu

yang ternyata tak ada. Seperti bintang-bintang di langit itu:

susut kemudian kelabu dalam pandang mataku.

Mungkin keriangan hanya milik jalan perkotaan

ketika senyap adalah kekekalan jiwa perkampungan.

2019


Norrahman Alif lahir di Jurang Ara, Sumenep Madura. Belajar menulis di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ) dan untuk saat ini sebagai relawan Pustaka Bergerak Desa (PUSDES). Beberapa karyanya bisa dinikmati di: Media Indonesia, Tempo, Republika, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka dll.

Esai

Abstraksi Diri Manusia

Oleh Miguel Angelo Jonathan

Ada pendapat yang mengatakan bahwa moralitas manusia berkembang seiring berlalunya waktu. Itulah sebabnya kini perbudakan, pembunuhan hewan, ataupun pemberian hukuman mati kepada tersangka kriminal mulai dilarang dan ditentang di berbagai belahan bumi ini. Padahal jika kita memutar sedikit arah waktu selama beberapa ratus tahun ke belakang, hal-hal yang baru saja disebutkan itu sebelumnya dianggap sebagai hal yang wajar-wajar saja.

Namun, walau manusia yang disebut sapiens (bijak) itu kini dianggap telah memasuki abad modernitas dengan segala perkembangan teknologi dan moralitas yang katanya sudah tinggi, nyatanya pelanggaran-pelanggaran atas martabat manusia masih saja dengan mudah kita temui. Apalagi, bentuk terngerinya kita jumpai dalam peristiwa pembantaian manusia yang mengerikan.

Tujuh puluh tahun lalu ketika perang dunia kedua berlangsung, Nazi Jerman melakukan genosida terhadap 6 juta masyarakat Yahudi di seluruh Eropa. Dua dekade setelahnya,rezim Soeharto di Indonesia juga membantai sekitar 2-3 juta manusia tertuduh komunis. Di Myanmar, belum lama ini terjadi pula pembunuhan sistematis terhadap etnis Rohingya dengan korban yang diperkirakan sebanyak 50 ribu orang.

Peristiwa genosida yang disebut itu hanyalah beberapa contoh dari berbagai pembantaian lainnya yang terjadi selama satu abad terakhir. Kengerian atas pembunuhan besar-besaran ini diperparah dengan kenyataan bahwa tak sedikit dari manusia yang katanya bermoral itu mewajarkan genosida yang terjadi, dan bahkan ada pula yang berharap peristiwa tersebut bisa mereka ulangi dan lakoni. Seperti misalnya seorang keturunan pasukan Nazi Jerman yang ditemui Etgar Keret dan diceritakan dalam bukunya The Seven Good Years (2016), yang dengan bangganya mengatakan ingin bisa mengalahkan rekor kerabatnya dalam membunuh orang Yahudi.

Orang-orang semacam yang ditemui Etgar Keret itu menganggap manusia-manusia yang dibuat mampus dan menjadi korban genosida memang pantas dibasmi dari muka bumi. Para korban genosida dalam pandangan mereka dianggap tak lebih umpamanya seperti babi, anjing, ataupun kecoa. Oleh karena derajatnya dilihat lebih rendah, orang-orang yang dibuat mati pun tak melahirkan rasa empati atau kesedihan, tetapi justru tak jarang malah rasa damai dan tenang.

Keadaan seperti ini sepatutnya melahirkan pertanyaan pada diri setiap manusia yang masih “waras”. Apa kiranya penyebab manusia dengan teganya saling bantai demi suatu ajaran, kepercayaan, atau ideologi yang dianut, dan kenapa pula para algojo yang membunuh tak merasa sedih ataupun menyesal atas perbuatan mereka?

Alasannya bagi Thomas Hidya Tjaya yang mengupas pemikiran Emmanuel Levinas dalam Enigma Wajah Orang Lain (2018) adalah hadirnya pemikiran atas “Yang Lain” pada diri manusia. Konsep pikiran ini melahirkan gagasan, anggapan, ataupun pikiran terhadap kelompok yang dilihat berbeda dari “Yang Sama”.

Gagasannya itu sendiri berupa nilai-nilai negatif. Karena berbeda dalam masalah identitas (agama, etnis, maupun ideologi), kelompok “Yang Lain” lekas melahirkan perasaan membahayakan, mengancam, dan keterusikan pada manusia yang memandang kelompok tersebut. Alhasil, keberlainan yang sesungguhnya tidak pernah bisa dihindari dalam kehidupan malah melahirkan rasa ketidaksenangan semata.

Mulanya keberlainan memang menjadi alat identifikasi ketika bertemu orang lain. Namun, oleh karena sikap alamiah manusia yang “senang” menyerap segala yang asing, keberlainan dianggap sebagai sesuatu yang harus ditundukkan dan melahirkan kehendak untuk menguasai “Yang Lain”. Thomas Hidya Tjaya menulis, “kita merasa aman, nyaman, dan tenteram karena tidak ada sesuatu yang ‘asing’ ataupun berada di luar kontrol kita.” Hanya dengan “mengikis” perbedaan barulah ketidaksenangan bisa diatasi. Atau dengan kata lain, ketika tidak ada lagi “Yang Lain” dalam kehidupan sehari-hari.

Manusia pada hakikatnya memang sering kali terlanjur melihat dan memperlakukan orang lain berdasarkan gagasan yang telah tertanam atas orang tersebut. Jika sejak kecil seseorang diindoktrinasi oleh lingkungan terdekatnya untuk membenci golongan tertentu, dapat dipastikan ketika dewasa ia akan merasa terganggu dengan perbedaan yang dijumpai, terutama ketika menyangkut golongan yang begitu ia benci.

“Kebersamaan sebagai manusia seringkali menjadi terancam dan bahkan hilang karena kita berpegang erat pada gagasan kita mengenai identias diri kita maupun identitas orang lain.” Tulis Thomas Hidya Tjaya. Jika gagasan kita terhadap orang lain sudah buruk, maka perlakuan dan relasi kita dengan orang itu ikut pula menjadi buruk.

Itulah yang mengakibatkan orang dapat begitu membenci masyarakat tertentu dan bahkan tega membunuhnya. Dalam pandangan Levinas, manusia yang merasa terusik dan sampai membunuh kelompok yang berbeda sesungguhnya belum benar-benar bertemu. Mereka sebatas mengenal orang lain dalam “gagasan” mereka belaka. Dalam artian, orang-orang yang berbeda itu belum dikenal sebagai pribadi yang hidup, tetapi hanya dikenal berdasarkan gagasan yang terbentuk dari pikiran.

Levinas menyebut kondisi ini sebagai “visi”, yaitu kegagalan bertemu dengan wajah orang lain oleh karena kebiasaan kita dalam mendekati orang lain hanya berdasarkan pemikiran dan gagasan kita mengenai orang lain tersebut. Kita lebih sibuk dengan apa yang hendak kita katakan dan lakukan berdasarkan visi yang terbentuk itu, daripada apa yang mungkin kita “terima” dari orang lain. Untuk mengatasi hal ini, orang pertama-tama mesti menghilangkan gagasan yang mengakar dalam benaknya, dan membangun relasi secara terbuka dengan orang lain.

Dalam pemikiran Levinas, kita sebagai manusia tidak perlu memasukkan orang lain dalam kategori-kategori tertentu dalam pikiran, karena tindakan itu merupakan pemicu awal atas kehendak untuk menguasai atau menjadikan orang lain sebagai bagian dari golongan yang merasa lebih superior. Hanya setelah kita menghilangkan perasaan sebagai yang nomor satu barulah kita bisa melihat “wajah” orang lain secara apa adanya.

Pada prinsipnya, humanisme yang diperjuangkan Levinas diarahkan pada orang lain dengan pertama-tama melupakan eksistensi dan kepentingan diri sendiri, juga di atas ideologi nasionalis, agamis, ataupun yang lainnya. Itu karena, sesuai yang ditulis Thomas Hidya Tjaya, “ketika gagasan ideologi, ajaran, doktrin, bahkan yang bersifat paling religius sekalipun dijunjung tinggi di atas segala-galanya, manusia dengan mudah kehilangan rasa-perasaannya terhadap sesamanya.”

“Tanggung jawab” terhadap kehidupan “Yang Lain” haruslah muncul dalam diri tiap manusia. Kalau kekerasan dan pembunuhan terhadap golongan berbeda apalagi yang dilakukan dengan embel-embel persatuan dan semangat religius tidak dilihat sebagai sesuatu yang buruk, maka ada yang salah pada pandangan hidup kita. Jika kematian pribadi saja tidak diperhatikan, bagaimana mungkin kehidupan orang lain bakalan menjadi perhatian kita? Hanya ketika kita terusik saat mendengar kekerasan dan pembantaian terhadap orang lainlah kita masih memiliki harapan akan rasa kemanusiaan.***


Miguel Angelo Jonathan. Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta dan editor di penerbitan Pustaka Kaji.