Cerpen

Senja di Pont Des Arts

Cerpen Candrika Adhiyasa

            Pada Juni yang kering, aku mengenang suatu masa ketika kali pertama kita dinikahkan oleh semesta. Ketika itu, rambutmu yang hitam panjang dan terurai disepuh sinar matahari yang terik. Bola matamu menyala seperti purnama yang sempurna. Kau menjelma Hawa ketika aku adalah Adam yang kesepian. Kemudian kita membangun surga di kehidupan ini bersama-sama, membangun singgasana megah yang boleh jadi terlihat sederhana. Dengan beberapa bunga, pohon mangga yang remaja, dan beberapa helai rumput yang tumbuh dari sela-sela batuan. Saban pagi, tiap helai daun dan reranting yang gugur di beranda rumah kita selalu kausapu dengan jeli—tiada tersisa di antara bunga kamboja merah muda yang merdeka mewarnai ruang sekehendaknya. Kau sangat menyukai ikan koi yang bergumul ke sana kemari mencari penghidupan di kolam kecil yang ada di sebelah barat taman kita. Dengan senyum tipis yang begitu manja, kau acapkali mencoba berdialog dengan mereka meski kadang-kadang tak mendapat jawaban dalam bentuk apapun.

            “Lemparkan kunci ini ke kolam itu!” pintamu seusai mengunci gembok berwarna perak itu di tepi pagar rumah kita.

            “Ini ‘kan bukan di Perancis.”

            “Memangnya kenapa kalau bukan di Perancis? Bukankah harapan bisa kita tanam di mana pun?”

            Aku hanya tersenyum menanggapi keinginanmu. Kau kadang-kadang begitu konyol, tetapi itu yang aku suka darimu—kesahajaanmu dalam menjalani hidup. Kau barangkali terobsesi dengan mitos yang ada di jembatan Pont des Arts yang berada di sepanjang sungai Seine di samping museum Louvre itu. Aku tentu tidak bisa menolaknya, apalagi ketika kau menunjukkan wajahmu yang cemberut itu—seakan-akan dalam kamus bahasaku hanya bisa kutemukan kata ‘ya’. Maka aku lemparkan kunci yang kauberikan ke kolam di taman kita. Beberapa ikan koi terlihat berpencar karena kaget. Permukaan kolam melahirkan riak kecil yang susul-menyusul. Kau memejamkan mata dan tersenyum lebih lepas dari sebelumnya. Kosakata ‘bahagia’ seketika telah menemukan maknanya. Gembok berwarna perak yang sedari tadi menggantung di tepi pagar itu kautatap dengan penuh harap. Ah, rupanya benda apa pun bisa menjadi indah apabila kita memaknainya, tak terkecuali sebongkah besi yang dibentuk menjadi benda bernama gembok ini.

            Cinta yang abadi selalu menjadi topik pilihanmu dalam setiap perbincangan kita sejak muda. Mungkin jawabanku yang asal-asalan ketika itu secara kebetulan sesuai dengan jawaban yang kauharapkan—yang tidak kaudapatkan dari mulut lelaki mana pun. Dahulu aku pernah berkata, bahwa cinta yang abadi adalah suatu kepastian. Meskipun semua manusia bisa mati, tetapi cinta dalam hati mereka akan hidup abadi.

            Sekian puluh tahun sudah setelah kunci gembok itu aku lemparkan ke kolam di taman kita, rambutmu yang dahulu panjang hitam terurai, kini hampir sepenuhnya memutih. Wajah bayi-bayi menggemaskan yang dulu sering kautunjukkan padaku di galeri handphonemu, kini sudah lahir ke dunia dan menjadi dewasa. Kau dahulu berharap memiliki tiga bayi yang menggemaskan dan bisa menghapus segala lelah setelah membanting tulang mencari penghidupan. Kini harapanmu terwujud sudah. Mereka telah lahir ke dunia dan mengalami apa yang dinamakan kasmaran—seperti kita. Mereka juga telah sama-sama berkeluarga—mengurai benang kusut kehidupan dengan fondasi kasih sayang. Rupanya waktu telah memelihara mereka hingga tumbuh menjadi pelaut ulung yang siap mengarungi samudera kehidupan. Kini kita hanya tinggal berdua di istana surga yang selama ini dengan sabar menampung mimpi-mimpi kita.

            Di beranda rumah, kita sama menikmati siang yang hendak bermetamorfosis menjadi sore. Tentu akan kita saksikan pula lukisan Tuhan yang berwarna jingga di ufuk barat kesukaanmu itu. Kau, seperti biasanya, akan takjub dan memendam kata-kata sehingga satu-satunya jalan kaluar bagi mereka adalah melalui bola matamu. Setiap hari, kita selalu mencoba mencatat kelahiran dan kematian waktu melaluinya. Namun, kita tak pernah sadar bahwa sebenarnya kita tengah mencoba mencatat kelahiran dan kematian kita sendiri.

            “Apakah cinta abadi?” ucapmu sembari menatap matahari yang tenggelam hampir sempurna.

            “Tentu saja,” jawabku singkat.

            Kau menoleh ke arahku. Koran lama yang sedari tadi kubaca kini kalah menarik oleh matamu. “Sinar di kedua bola matamu tak pernah meredup, Sayang. Karenanya aku percaya, bahwa cinta memang benar-benar abadi.” Senja yang saban hari kaunikmati itu kini gugur di kelopak matamu. Senyum yang terbit dari bibirmu terasa begitu hangat, sehangat nuansa yang dihidangkan hari yang menjelang peristirahatannya, atau barangkali, kematiannya. Kita tentu akan mati pula, Sayang, dan hal itu memang lazim dikhawatirkan semua orang di usia kita saat ini. Tetapi, Qays dan Laila, yang menurutku tidak seberuntung kita karena sempat bercinta di dunia ini, tetap akan mengecap nikmatnya hakikat cinta yang abadi itu di mana pun, bahkan di luar kehidupan ini. Bunga kamboja yang dahulu selalu bermekaran, kini benar-benar hilang ditelan masa. Namun, bukankah kita selalu mampu mengingat warnanya ketika ia mekar meski kini telah tiada? Tiada yang benar-benar bisa luput dari ingatan, apalagi jika sesuatu itu teramat berharga. Ikan-ikan koi yang senantiasa kauajak berdialog tempo hari, kini mungkin sudah berenang di sungai surga yang mengalir begitu damai. Kolam itu telah lama kering. Pernah beberapa kali aku coba mencari kunci yang tenggelam sekian lama di dasarnya, tentu bukan untuk membuka gembok yang telah berkarat diterpa angin dan hujan itu. Aku hanya ingin memastikan, apakah ia masih ada atau tidak. Tetapi yang bisa kutemukan hanyalah kerakal-kerakal dan semak-semak yang kian semerawut memenuhidasar kolam yang mulai retak-retak. Kau barangkali tak tahu bahwa meskipun aku sudah agak pelupa, aku seringkali tiba-tiba mengingatnya ketika hendak tidur di kamar kita yang mulai sepi ini. Kunci itu memang tak pernah kutemukan, tetapi bukan berarti ia tak ada. Ia barangkali telah menyatu dengan tanah, yang artinya, telah melebur dengan kehidupan ini.

            Di hari-hari berikutnya, kau seringkali menatap langit dengan pandangan yang kosong. Tak kudengar lagi pertanyaanmu tentang cinta yang abadi itu. Apakah kau sudah bosan bertanya atau apa, aku tak terlalu paham. Namun yang kuyakini, mungkin kau sudah dengan utuh memahaminya setelah jutaan kali kautanyakan padaku. Pandanganku semakin kabur kali ini, Sayang. Kacamata sudah hampir tak bisa membantuku melihat sesuatu dengan jelas. Wajahmu … tentu saja, selalu mampu kulihat dengan jelas, bahkan lebih jelas dari sebelumnya. Dalam pikiranku, kau selalu tampak selalu cantik seperti kali pertama kita jatuh cinta.

            Ketahuilah, Sayang. Gembok itu masih terkunci di tepi pagar rumah kita. Aku bahkan hampir percaya pada apa yang kaututurkan tentang Pont des Arts yang mampu mengabadikan cinta melalui ritus serupa. Sayang sekali aku tak bisa mengajakmu menikmati senja di sana. Aku tak pernah benar-benar yakin alasan apa yang membuatku tak bisa membawamu ke sebuah tempat yang barangkali sudah kaunamai sebagai surga itu selain rumah kita. Cinta ini begitu panjang, namun usia, oh, pendek sekali. Kaubilang bahwa keindahan hanya akan hidup sekejap, seperti senja. Namun, kau kembali berusaha untuk yakin bahwa keindahan bisa jadi pula abadi, tidak lepas, seperti gembok yang kehilangan kuncinya. Meski aku sempat menolak untuk percaya pada yang kaukatakan tentang Pont des Arts, tanpa kusadari, ternyata secara diam-diam aku berharap mampu memercayainya.

            Pada suatu siang, tiga anak kita telah pulang ke rumah untuk menemui orang tuanya, tepatnya menemuimu. Rindu memang acapkali gemuruh ketika hendak diredam. Kita memang seringkali munafik pada perasaan kita sendiri. Lucu, bukan? Tiga bayi menggemaskan yang sudah mendewasa itu akhirnya bekumpul di rumah ini lagi, seperti dahulu kala. Namun yang mengherankan adalah, mereka semua menangis. Aku tak memahami apa yang mereka tangisi, Sayang. Barangkali penyebabnya adalah kapas yang menutup lubang hidung dan telingamu. Mereka bilang kau telah meninggalkan kehidupan ini. Aku sebenarnya ingin tertawa, Sayang. Aku ternyata lupa mengajari mereka sesuatu yang paling sering kita bicarakan. Bukan tentang senja. Aku tak pernah mau menanggapi keyakinanmu yang akhirnya kaukhianati sendiri. Tetapi tentang cinta yang abadi. Barangkali, setelah tak bernapasnya engkau, aku akan mengajak mereka ke Perancis untuk melihat gembok-gembok yang berjejer di tepi pagar kawat jembatan Pont des Arts. Aku harus mengajari mereka secara langsung mengenai ini. Kau setuju, bukan? Tidak … tidak perlu kaujawab pertanyaanku. Kau terlihat sudah begitu lelah. Beristirahatlah lebih dulu. Biarkan aku yang mengusap air mata anak-anak kita. Besok kami akan mengantarmu menuju rumah yang lebih indah. Tidak apa-apa. Tidak perlu menyesal. Rumah ini, yang sekian lama telah melindungi kita dari keputusasaan, memang akhirnya akan kita tinggalkan. Rumah kita yang sejati berada di kehidupan yang lain. Kau pergilah lebih dulu, Sayang. Aku akan segera menyusul. Masih ada saat-saat bagiku untuk merenungi beberapa hal yang sebelumnya tak sempat aku lakukan ketika berada di dekatmu. Bagaimana tidak, bola matamu selalu mampu memenuhi ruang pikiranku.

            Meskipun semua manusia bisa mati, tetapi cinta dalam hati mereka pasti hidup abadi. Bukankah itu yang kita percayai? Kefanaan senja adalah raga kita, Sayang, dan cinta adalah apa yang semayam di dalam ruh keabadian.

Setelah mengantarmu ke rumah baru kita, aku akan duduk kembali di kursi beranda rumah ini. Aku, tentu saja, akan berusaha mengamati—meski dengan pandangan yang telah kabur—sisa-sisa kenangan dari warna bunga kamboja, daun-daun dan reranting yang berserakan di halaman rumah, pohon mangga yang kian mendewasa dan hendak berbuah, kolam yang telah kering bersama fosil ikan-ikan koi, dan juga gembok yang masih terkunci di tepi pagar rumah kita. Dan kau tahu, Sayang? Kini senja telah samar-samar menghitam. Barangkali untuk terakhir kalinya. Aku akan segera berbaring di sampingmu, untuk menikmati kehidupan indah tempat kita benar-benar bisa memahami cinta yang abadi.***

Tasikmalaya, 9 Juni 2018. 03.18 WIB


Candrika Adhiyasa, lahir di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat pada tanggal 14 Desember 1996. Ia telah menulis beberapa novel seperti Gurattala (Penerbit Gemala, 2018) serta beberapa buku kumpulan puisi seperti Kenapa Rumahku Kian Sunyi (Bangusastra, 2018). Selain itu, ia kerap menulis cerpen dan esai.

Puisi

Puisi Daru Sima S.

Palugon—Selain Pulang, Apa yang Dicari Setelah Kepergian

pulang, pada perasaan Ibu yang menunggu di balik pintu

sebagai iba yang menjalar dari ujung baju ke ujung jiwa yang ditingkap segenap jiwa

dada Ibu serupa lengkung gamelan

dengan ning-nong lantunan gong

aku pulang dengan perasaan haru

setelah jawa dan sunda bercampur jadi satu

pada diri dan juga tubuhmu

sedikit-sedikit bisa, sedikit-sedikit lupa

sesekali kulihat bapak

menghidu cangklong, memijit lututnya

yang sering berderit

sedang ular derit telah tiada

berpindah dari kaki bapak, ke bapak yang lain

demikianlah keluhan itu menjalar

setelah aku tiba dengan uban dan sepa

tiang-tiang rumah dan rumbia

sudah lama berganti rupa

tinggal satu-dua masjid yang bergaya Masjid Demak titisan aulia

tapi pulang adalah keharusan

jalalan  menanjak ke utara dari Wanareja

orang selalu bertanya

Palugon itu sebelah mana?

aku bilang tiga desa terakhir Wanareja

Palugon, Jambu, Cigintung—Palujantung

yang jalanannya dipenuhi hutan pinus dan kabut

dekat ke Banjar, dekat ke Cirebon

oh, demikianlah jawaban ketidaktahuan itu

sedang aku terus bertanya pada jiwa            

selain pulang, apa yang dicari setelah kepergian

dan lengkung dada Ibu, abadi dalam ingatan

Palugon, 2019


Kisah Kasih

kisah selalu saja kasih

yang asih dan asuh antara engkau dan aku

aku menceritakan sesuatu

di kepalamu, ialah cerita yang lain

namun kita tetap satu

seperti api dan lilin

yang benderang

di gulita malam

Palugon, 2019


Apa yang Sudah Kulakukan untuk Mencintaimu

apa yang sudah kulakukan untuk mencintaimu

pohon-pohon tersingkap angin

botol-botol bekas di pinggir kali

berhenti mengalir dan sungai kering

apa yang sudah kulakukan untuk mencintaimu

hujan diluar musim

sumur-sumur berwarna kuning

dan ombak menjulur ke tengah-tengah daratan

apa yang sudah kulakukan untuk mencintaimu

cericit burung dalam ingatan

anak-anak melihat dalam gambar

abjad-abjad di tempel penuh di dinding

mengeja dan menghitung

apa yang sudah kulakukan untuk mencintaimu

seratus untuk kebenaran

dan mengaku salah adalah keburukan

sedang pohon manggis

dalam wujud bunga mulai berguguran

kini mencintaimu, makin samar

Palugon, 2019


Ibu yang Pencemburu

pada perasaan bahagia

di ladang-ladang orang

Ibu merasa wajib cemburu

pada nasib musang yang memakan biji enau

dan biji jatuh lalu tumbuh di lahan gersang

ada yang bernasib baik, ada yang biasa saja

ada yang mati sebelum berdahan

ada yang busuk jadi makanan semut rangrang

tapi Ibu tetap memandang

pada dahan yang bunganya

                                    banyak nira

Palugon, 2019


Terapung Aku di Sungaimu

terapung aku di sungaimu

                                           kekasih

sebagai plastik bekas

yang mencari tempat singgah

                                           rumah dan cinta

barangkali pada api pembakaran

aku benar-benar mati

dan tak akan lagi mempertanyakan

                                           cintamu

Palugon, 2019


Pada Gigil Pagi

pada gigil sebuah pagi

yang gemetar seusai mandi

aku mengikat ujung baju

pada batang-batang bambu belah

sebagai awal hari

dan kuucapkan, selamat

rengkuhan tanganmu

akan sampai padaku

asuh yang asih

tanpa pengawet

tanpa sampah plastik

tanpa jarak yang renggang

setelah sepuluh hari dari hitungan pertama, hujan rahmah

sudut gelap kita, barangkali gugur

aku hanya bisa menerka

dari pandangan kita

yang tidak pernah sama

Palugon, 2019


Menumbuhkan Pohon Kopi

dalam pandangan Ibu, pohon kopi tumbuh baik

sejak akar, dahan, daun , dan biji

mengkilap bebas duri, tentu saja

pada gulma yang tumbuh, ia titipkan berkah

di bukit Bunisari ia sedekah

persembahan tabah batin yang lapang

pada butir-butir merah phoska

atau hitam kelir kotoran domba

ada yang setahun, ada yang tiga tahun

pohon sumringah dalam genjah

Palugon, 2019


Melihat Buku Berserakan

seandainya kita berak buku, kemudian bertelur sembarangan

di kota-kota yang pikuk, hutan yang jadi tempat wisata

sawah yang masih dibajak gembala

dan tentu saja, jalanan yang sudah mulai sedikit lubang-lubang

ada yang senggama di pikiran kita

melihat mobil mewah, insan yang gemerlap

dan rumah dengan arsitektur sumringah

ada juga kesepian kita

yang mati sejak lahir ke dunia

kata-kata baik, bisa jadi bijak

kata-kata tak beraturan, bisa jadi berantakan

dipungut dan dibuang

Palugon, 2019


Membelikanmu Bulan

aku ingin membelikanmu bulan

di toko-toko pinggir jalan

sebab matamu teramat luas menguasaiku

kutebas semua duka lara

kutebas dengan pisau jiwa

jika musim hujan tiba

alir jiwamu menghangatkanku

serupa beludru domba Adam

jika musim kemarau tiba

tatapmu menyejukkan

menjadi salju jiwaku

aku ingin membelikanmu bulan

menyebrangi pasang lautan

bersama angin

menyusupi jiwamu

Palugon, 2019


Pada Pohon Jeruk yang Tak Lekas Berbuah

daunnya yang legam

menziarahi waktu, rimbun

aku telah bertualang

dari wilayah seberang

dimana pohon jeruk setinggi dada

ditingkapi buah-buah

dan aku, kekasih

membayangkan banyak daun

sepadan dengan keringat yang mengalir

bersama pantulan sinar mentari

sebagai buah

ada banyak rindu setelah masa tanam

ada banyak pendoa saat masa bunga menjelang

ada yang mati, terusik hama, ada yang di antara kita

tidak saling mengenal—sebagai orang asing

aku kemudian memandang

pohon jeruk menghitam

menunggu hujan, dan engkau datang

sebagai kekasih dengan bulat

buah matang

Palugon, 2019


Daru Sima S., tinggal di Palugon-Cilacap. Ikut mengelola komunitas baca Pojok Pustaka Majenang. Buku puisinya Di Pinggir Kolam, Mengaji Pada Ikan-ikan diterbitkan Unsa Press (2018).

Cerpen

Daun Ketapang Merah

Cerpen Sasti Gotama

Kau terbangun dan menyadari  tubuh istrimu sudah tak ada lagi di sampingmu. Sebagai gantinya, ada sebuah guling merah muda yang sudah pudar warnanya dan sejumput aroma istrimu. Kau bangkit setelah mencium aroma kedua yang menyusup ke dalam kamar, aroma rempah-rempah. Sepertinya berasal dari dapur. Kau coba memilah-milah aroma. Sepertinya bau lada, cabai, kunyit, jahe, dan bunga cengkeh. Kau coba menebak-nebak, apa yang dimasak istrimu, namun tiga detik kemudian kau menyerah.

Kau langkahkan kaki menuju dapur dan melihat secangkir kopi panas sudah tersedia di atas meja makan. Satu-satunya penikmat kopi di rumah ini hanya dirimu. Istrimu lebih suka jahe hangat atau wedang uwuh. Jadi bisa kau pastikan, kopi itu memang milikmu.

Istrimu membelakangimu dan ia sedang menghadap wajan. “Aku membuat rendang,” katanya tanpa menoleh. Pastinya ia sudah menyadari kedatanganmu.

Kau mengernyit. Setahumu, rendang buatan ibumu tidak menggunakan bunga cengkeh dan lada. Rendang jawa menggunakan cabai merah besar, bukannya lada sebagai pemeran utama rasa pedas. Sedangkan dari masakan istrimu yang kau intip dari atas bahunya, tak kau temui jejas keberadaan cabai merah. Tapi kau tak mau ambil peduli. Apapun yang dimasak istrimu selalu kau santap. Bagimu, perasaannya lebih penting dari sekedar rasa enak di mulutmu atau rasa mulas di perutmu.

Kau menguap lalu duduk di kursi, menghadap pada kopi Gayo yang diseduh untukmu. Tanganmu meraih koran yang diletakkan di sebelah kopi. Walaupun sebetulnya lebih murah dan lebih cepat informasi dari media digital, tapi bagimu membaca koran adalah sebuah warisan yang kau lihat dari ayahmu bertahun-tahun yang lalu. Ada nilai sentimental sehingga kau tetap mempertahankan.

“Tadi pagi, sebelum Mas bangun, Marni mampir ke sini.”

Kau hanya bergumam tak jelas, hanya sebagai tanda kau mendengarkan istrimu. Kau cukup jelas mendengar suaranya walau ditingkahi suara desisan masakan di atas penggorengan. Matamu lebih terpusat pada tajuk utama berita hari ini. Demo  mahasiswa perantauan di daerah Kayu Tangan kemarin siang. Jalur itu biasa kau lewati setiap hari jika ingin sampai ke kantor tepat waktu. Kau menengok jam bulat di tengah ruangan. Pukul enam kurang seperempat. Setengah jam lagi kau harus berangkat jika tak ingin terlambat.

“Katanya, pohon ketapang di halaman rumah kita terlalu rimbun. Daun-daun keringnya beterbangan ke seluruh desa.  Sebaiknya dipotong saja.” Kau mengangguk setelah meneguk kopimu. Terasa asam. Kurang gula.

“Mereka membicarakan  aku.” Istrimu mendekat sambil meletakkan sepiring nasi dan daging berselimut bumbu cokelat yang ia katakan sebagai rendang.

“Mereka siapa?” Matamu masih tak lepas dari berita koran.

“Marni, Salamah. Semua tetangga kampung.Hanya gara-gara ketapang sialan itu. Kenapa ia berubah warna? Kenapa ia menjadi merah, lalu mengering dan luruh di halaman? Kenapa tak tetap hijau saja?”

“Tak ada sesuatu yang tetap dan tak berubah. Semua pasti berubah,” gumammu. Entah kenapa kau malah teringat tentang seorang gadis, bertahun-tahun yang lalu, sebelum ia kau pinang menjadi istri.

Gadis bertopi caping merah, duduk mendongak di hadapanmu, di suatu lapangan yang panas dan para mahasiswa senior berteriak-teriak ganas.Ia serupa Pratjna Paramitha atau Ken Dedes menurutmu. Jika Ken Arok tergoda begitu melihat rahsya atau cahaya yang bersinar dari bagian tubuh istimewa Ken Dedes ketika turun dari kereta di Taman Boboji, maka kau langsung jatuh cinta ketika melihat pancaran cahaya dari matanya. Gadis itu menolak menunduk seperti mahasiswa-mahasiswa baru yang lainnya.Matanya berkilat marah.

“Perpeloncoan hanyalah salah satu warisan  kolonial yang dipertahankan!” serunya kala itu. Sebagai salah satu senior, kau bersandiwara membentaknya dan menyeretnya ke ruang X, tempat pembantaian mahasiswa baru. Tapi tentu saja, bukannya memarahinya, kau malah menyatakan cinta setelah kalian berdebat cukup lama. Kau suka gadis yang cerdas. Kau suka gadis pemberontak yang bisa diajak melakukan perdebatan panas. Dan kau pikir, gadis ini memiliki keduanya. Saat itu kau pikir, ia adalah satu-satunya cinta, dan kau takkan pernah jatuh cinta lagi setelahnya.

Tapi kau salah. Lima belas tahun kemudian, kau jatuh cinta pada antitesisnya. Semua tak pernah kau rencanakan, dan tiba-tiba, seperti nyamuk dalam jerat laba-laba, kau sudah terpintal di sarangnya. Perempuan itu, seseorang yang selalu membuatkanmu kopi manis di kantor tempatmu bekerja. Setiap pagi, tak pernah lupa. Sampai pada suatu pagi, kau melihatnya tersedu di pantri setelah alpa membuatkan kopi manis untukmu hari itu.

Ia berkata, putranya sakit, sedangkan suaminya sudah bertahun-tahun tak pernah pulang dari Malaysia, pun tanpa kabar berita. Harusnya saat itu kau ulurkan tisu bukannya sapu tangan. Sama halnya, harusnya kau berikan empati bukan simpati. Tapi kau lupa, dan tiba-tiba saja, seminggu kemudian, kalian adalah sepasang kekasih rahasia.

Perempuan itu, yang kau panggil Dik, tipikal wanita yang memegang teguh falsafah Jawa. Nrimo ing pandum, sendiko dawuh marang sigaring nyowo[1]. Kau adalah raja, dan ia tak pernah membantah sedikit pun. Kau merasa menjadi sebenar-benarnya lelaki yang melindungi perempuan, bukannya partner sejajar seperti yang kau rasakan di rumah.

Istrimu tak pernah tahu. Dan tentu saja ia tak akan pernah tahu jika saja sore itu, sepulang dari tempat kerjanya di sebuah bank swasta,  tak mampir ke kantormu untuk memberi kejutan ulang tahun pernikahan kalian yang kesebelas. Ia tak sepatutnya masuk begitu saja ke kantormu tanpa mengetuk pintu. Saat itulah ia melihatmu sedang memeluk perempuan yang kau panggil Dik. Ia tak seharusnya terdiam dan meninggalkan kantormu tanpa sepatah kata. Kau lebih suka jika ia berteriak marah dan memecah barang-barang. Namun,istrimumemilih diam dengan mata menerawang, beberapa hari lamanya di dalam kamar, walaupun kau bersujud memohon ampun dan berjanji tak akan menyakitinya lagi.

Pada hari kesepuluh, ia bangkit dan membuatkan kopi untukmu. Ia memasak aneka masakan dan tak pernah alpa membuatkan camilan. Ia memilih mengundurkan diri dari pekerjaan dan tak pernah membantah sedikit pun perkataanmu. Kau merasa ia kembali tapi juga sekaligus hilang. Tak kau lihat lagi cahaya rahsya seperti yang kau lihat bertahun-tahun yang lalu di lapangan rektorat universitas. Ia … padam.

Kau tersadar setelah alarm jam tanganmu berbunyi. Pukul enam tepat. Istrimu masih di hadapanmu, duduk dan memandang tepat ke matamu. “Kenapa rendangnya tak dimakan? Apakah tak enak? Apakah Mas pikir isinya racun dan aku berniat membunuhmu?”

Kau menggeleng. Tentu saja kau tak ingin mengaku bahwa beberapa menit yang lalu kau terseret ke masa lalu. Kala istrimu masih serupa daun ketapang bewarna hijau, belum lagi bewarna merah dan luruh di halaman. “Enak,” katamu setelah mencomot sepotong rendang yang tak jelas rasanya. “Bungkuskan saja. Akan kumakan di kantor.”

Istrimu tersenyum dan dengan sigap menata makanan di dalam kotak makan berwarna jingga. Kau sedang memakai pakaian setelah mandi ala kadarnya ketika istrimu berteriak dari luar kamar mandi. “Nanti sore, bisakah Mas menjemput Anaya? Sekolahnya sedang ada perayaan tujuh belasan sampai petang.” Kau menjawab, menyanggupinya.Entah istrimu mendengarkan atau tidak.

Sesaat sebelum melangkah keluar pintu apartemen, kau mencium pipi istrimu. Lalu kau berbalik dan di hadapanmu hanyalah lorong panjang dengan lampu temaram. Tak ada halaman. Tak ada pohon ketapang. Tak pernah ada seorang anak bernama Anaya. Juga tak pernah ada Marni, Salamah, atau siapa saja. Kau kunci pintu apartemen dari luar dan berjanji pada diri sendiri, nanti sore akan segera pulang dengan membawa martabak. Namun, kau terhenyak. Kakimu memijak sesuatu. Kau menunduk dan melihatnya,selembar daun ketapang berwarna merah.

***


[1] Menerima segala lika-liku kehidupan, siap sedia/patuh terhadap perkataan belahan jiwa (bahasa Jawa).


Sasti Gotama, dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan cerita Penafsir Mimpi dan Antologi Journey to Infinity. Beberapa cerpennya dimuat di beberapa media online.

Ragam

Berlomba Cari Muka di Depan Penguasa

Pementasan ke 33 Indonesia Kita “Toean Besar”

Di sebuah negeri, di dalam istana, sedang terjadi kasak-kusuk. Ada kabar yang menggegerkan, seseorang yang disebut-sebut sebagai “Toean Besar” akan datang. Kabar ini membuat panik banyak orang. Dari bawahan sampai Kepala Istana dipenuhi kesibukan bercampur rasa penasaran. Sebab Toean Besar adalah seseorang dengan sosok yang misterius. Ada yang mengatakan, “Toean Besar adalah orang yang super kaya dan mau menggelontorkan modalnya untuk kepentingan rakyat”. Ada pula yang menambahkan, “Toean Besar itu, selain kaya raya, juga ganteng dan bertubuh besar.”

Mendengar namanya disebut saja, sudah membuat banyak orang di lingkungan istana sigap dan ingin mengambil kesempatan untuk bertemu, meskipun hanya untuk berfoto bersama. Siapa sebenarnya Toean Besar, tak ada yang benar-benar mengetahui. Namun kasak-kusuk yang berlangsung pada akhirnya memicu timbulnya sikap saling memengaruhi dan perilaku juga ikut berubah. Bermacam intrik dan kekonyolan mulai terjadi.

Untuk bisa bertemu Toean Besar, ada yang mengubah penampilan agar status sosial meningkat, ada pula yang nekat menyamar menjadi sang Toean Besar dan mengaku-aku dirinya sebagai Toean Besar. Ketika orang mulai mengubah diri, tak hanya gaya dan penampilan, tetapi identitas diri dan sikap juga berubah. Ada yang semula bermusuhan berubah menjadi berteman, ada pula yang tadinya kompak, tiba-tiba menikung begitu melihat peluang. Mereka akhirnya saling berbohong dan saling menipu. Dan sejarah pun ikut dipermainkan, demi mencapai tujuan.

Pementasan lakon “Toean Besar” kali ini masih sesuai tema utama “Jalan Kebudayaan Jalan Kemanusiaan” yang dipilih oleh Tim Kreatif Indonesia Kita. Tema sekaligus menjadi benang merah dari pentas-pentas yang diselenggarakan di sepanjang tahun 2019 karena pentingnya nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman dalam kehidupan sosial saat ini.  Butet Kartaradjasa mengatakan, ketika jalan kemanusiaan direfleksikan melalui pertunjukan Indonesia Kita, maka semakin terasa relevan untuk mengajak, menemukan dan menumbuhkan kembali kepekaan, kesadaran dan kemanusiaan kita. Sebab seni pertunjukan sering  diibaratkan seperti oase di tengah kegersangan. Indonesia Kita menghadirkan seni di antara masyarakat yang melampaui sekat dan batas-batas suku, agama dan orientasi politik.

Sedangkan Direktur Kreatif Indonesia Kita, Agus Noor mengatakan, seni merupakan refleksi kompleksitas manusia dengan beragam dimensi. Kesadaran ini menjadi dasar untuk mengolah gagasan-gagasan kreatif dalam menciptakan pertunjukan Indonesia Kita sepanjang tahun 2019 di mana kita semua berada di antara gegap gempita peristiwa politik, namun kebudayaan mengingatkan kita untuk memuliakan kemanusiaan. Ada yang berbeda dari pementasan ke 33 kali ini, selain menampilkan sederet aktor dan komedian, seperti Cak Lontong, Marwoto, Akbar, Mucle, Boris Bokir, ada juga Inaya Wahid. Selain itu pertunjukan Indonesia Kita akan melibatkan wartawan dari beberapa media untuk ikut tampil dalam pentas Toean Besar. Bagaimana cerita ini dipentaskan? Anda bisa menyaksikan pertunjukannya selama dua hari yang akan digelar pada tanggal 20-21 September 2019 di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. [] Wahyu Indro Sasongko

Cerpen

Dapur Tempat Ibu Bersembunyi

Cerpen Nurul Fatimah

Meski bapak baru saja dimakamkan, ibu tetap memilih menghabiskan waktunya di dapur. Begitu para pelayat pulang dan keluarga yang datang kembali ke kehidupannya masing-masing, ibu lantas bergegas ke dapur. Duduk di salah satu kursi usang yang sama seperti ibu, termakan waktu dan menjadi tua, terabaikan di dalam sebuah dapur kecil.

Selama ibu di dapur, sesekali menangis, tapi selebihnya hanya duduk diam dengan pandangan kosong ke arah ventilasi yang warnanya kehitaman akibat bertahun-tahun terkena asap kompor dan tidak pernah dibersihkan. Selama ibu di sana, tidak bicara sepatah kata pun pada kami—anak-anaknya. Ibu masuk ke dapur hanya untuk membunuh waktu, membunuh kenangan dan rasa sedih karena ditinggalkan. Seakan tempat itu memiliki dimensi yang memisahkan ibu dari dunia luar.

Dapur selalu menjadi ‘markas’ ibu, bahkan jauh sebelum bapak meninggal. Selalu menghabiskan waktunya di sana dari pagi hingga bertemu pagi lagi. Seakan-akan pekerjaan di dapur tidak pernah ada habisnya.

Ibu akan bangun di pagi buta sebelum penghuni rumah lain bangun untuk menyiapkan sarapan dan membuat kue yang akan di titipkan ke warung-warung. Ibu tidak pernah terlambat atau lebih tepatnya ibu tidak boleh terlambat. Sarapan harus dihidangkan sebelum bapak duduk di meja makan. Bapak tidak suka menunggu barang semenit pun. Kalau sampai sarapan belum dihidangkan saat ia sudah duduk di meja makan, bapak akan marah besar. Begitu pula kue-kue yang ibu buat harus jadi sebelum aku dan Dio, adikku berangkat sekolah, karena sebagian kue-kue yang ibu jual dititipkan juga di kantin sekolah.

Di siang hari, ibu juga selalu ada di dapur. Ketika aku pulang sekolah, ibu tidak akan ditemukan di mana-mana selain di sana. Sibuk menyiapkan makan siang untuk aku dan Dio. Ia akan makan sebentar saat aku dan Dio makan. Makannya sedikit saja, tidak pernah banyak. Lalu setelah kami selesai, dan ia membersihkannya, barulah ibu ke kamarnya untuk beristirahat sebentar sebelum kembali menyiapkan adonan untuk kue-kuenya.

Menjelang sore hari waktu ibu biasanya keluar rumah. Ibu akan ke pasar untuk membeli bahan makanan dan bahan kue. Itu pun sebelumnya ibu harus menyiapkan kopi dan cemilan untuk bapak kalau bapak ada di rumah. Tanpa perintah, ibu harus ingat sendiri, seakan-akan itu  tugas wajibnya dan kalau ibu lupa, bapak lagi-lagi akan marah. Jika tidak ada jadwal ke pasar dan bapak tidak di rumah, ibu biasanya duduk sebentar di teras. Sekedar menikmati sore dengan mata menerawang, selalu tampak memikirkan sesuatu. Wajahnya tidak pernah tenang, seakan ada sesuatu yang ia simpan sendiri.

Sebelum petang ibu sudah berkutat lagi di dapur. Menyiapkan makan malam untuk kami sekeluarga. Hanya dijeda waktu salat magrib sebelum menghidangkannya dan sudah harus selesai dibersihkan sebelum azan isya berkumandang. Setelah melaksanakan salat, tanpa istirahat terlebih dahulu, ibu mulai membuat kue agar besok pagi tidak terlambat. Hari-hari berikutnya  semuanya terulang lagi dan terus begitu.

Aku pribadi tidak pernah berpikir bahwa bekerja di dapur dan menjual kue adalah hal yang menyenangkan bagi ibu. Dulu, saat sebelum sesibuk sekarang, ibu terlihat lebih bahagia walau jarang mengekspresikannya. Ada waktu-waktu di mana ibu terlihat bersantai dan menikmati hidup walau dalam diam. Namun, sudah bertahun-tahun lamanya ibu terperangkap di dapur itu, kehilangan segala gairahnya. Tidak ada waktu bersantai, waktu istirahatnya hanya untuk tidur, atau duduk sebentar dengan wajah bosan karena rutinitas yang melelahkan.

Dapur kadang terlihat lebih seperti penjara bagi ibu karena memisahkannya dari dunia luar. Menyita seluruh waktu yang dimiliki wanita itu untuk menikmati kehidupan. Ibu terperangkap di sana karena banyak alasan. Mengabdi pada keluarga, juga untuk menambal kebutuhan ekonomi yang selalu sulit.

Gaji bapak yang seorang pegawai negeri anehnya tidak cukup untuk menunjang kehidupan kami yang jauh dari kata mewah. Selalu saja kurang hingga berkali-kali ibu harus menyuruh kami berhemat, menyuruh kami bersabar atas keadaan. Ibu tidak pernah mengeluh tentang sulitnya ekonomi pada bapak. Kalau pun pernah itu hanya sesekali saja, namun keluhan itu malah berakhir pertengkaran hingga suatu malam ibu ditampar oleh bapak. Aku yang saat itu masih kecil bahkan masih mengingat suara saat tangan bapak menampar wajah ibu.

Ah. Kalau dipikir-pikir, tamparan bapak malam itulah yang memenjara ibu di dalam dapur. Setelah kejadian itu, ibu benar-benar tidak pernah mengeluh. Ibu memilih untuk tidak berkonfrontasi dengan bapak. Semua pekerjaan rumah ibu lakukan dengan tepat waktu dan sebaik-baiknya, sehingga bapak tidak punya alasan untuk protes. Ibu juga mulai berjualan kue untuk menambal ekonomi keluarga yang tetap saja bocor di sana-sini meski sebaik apa pun ibu berusaha.

Bertahun-tahun ibu terpenjara di dapur dengan segala aktifitasnya, hingga ibu bertambah tua dan tanpa sadar sudah kehilangan begitu banyak kesenangan dalam hidup yang seharusnya ia dapatkan. Meski begitu, ibu masih juga tidak mengeluh, bahkan pada kami, anak-anaknya. Ibu lebih suka menyimpannya sendiri di dalam hati. Namun, waktu berlalu dan aku juga semakin dewasa lalu kedewasaan membuatku mengerti penderitaan yang tidak pernah diceritakan ibu.

Selain sebagai penjara, dapur sebenarnya juga tempat pelarian ibu. Ada waktu-waktu di mana ibu mencoba untuk menghidar dari pertengkaran dengan bapak meski seringkali pertengkaran tetap tidak bisa terelakkan, dan dapur menjadi tempat ibu bersembunyi. Menangis diam-diam, tidak ingin membuat anak-anaknya ikut sedih. Atau ketika tuntutan hidup menekan ibu dan ia tidak punya tempat untuk mencurahkan perasaannya, ibu akan duduk melamun di sana. Seakan dinding dapur bisa mendengar semua kesusahan yang dipancarkan oleh mata ibu.

“Bu, makan dulu,” kataku sambil menyodorkan sepiring ketoprak yang aku beli dari pedagang ketoprak keliling yang lewat di depan rumah. “Ibu belum makan dari pagi,” kataku lagi karena ibu tidak kunjung menyentuh makanan yang aku sodorkan.

Sudah lewat dua minggu setelah meninggalnya bapak dan ibu masih hampir selalu berada di tempat pelariannya. Kesedihan di matanya masih sama meski ia sudah tidak menangis lagi setelah minggu pertama. Semenjak bapak pergi, tidak pernah ada aktivitas apa pun di dapur. Ibu hanya berdiam diri di sana, biasanya duduk di kursi tuanya sambil melamun.

Ibu tersenyum lemah. “Nanti,” katanya singkat.

 “Bu, Ibu nggak bisa begini terus. Kita harus ikhlaskan kepergian bapak. Ibu harus lanjutin hidup, hidup yang baik.”

Air mata ibu menetes perlahan mendengar kalimatku meski begitu ibu masih tidak bicara apa-apa. Hatiku sakit melihat ibu menangis lagi karena bapak. Semasa bapak masih hidup, ada begitu banyak penderitaan yang ibu alami karena lelaki tua itu dan sekarang setelah ia tiada pun ibu masih saja dibuatnya sedih.

“Bu,” kataku lebih memaksa.

Aku tidak pernah menyangka kepergian bapak akan sebegitu menyiksanya. Aku pikir kematian bapak akan membuat hidup ibu lebih mudah. Bapak tidak pernah bersikap baik pada ibu. Tidak banyak kenangan baik yang tersisa untuk dikenang bahkan setelah aku tumbuh dewasa dan ibu sudah semakin menua. Hanya ada kenangan-kenangan buruk yang membuatku semakin tidak ingin bersedih atas kematian bapak.

“Bu, selama ini bapak sering jahat sama kita. Apa iya ibu harus meratapi kematiannya sampai nggak peduli sama kesehatan ibu sendiri?” Sebenarnya aku tidak ingin berkata begitu, menjelek-jelekkan bapak yang sudah meninggal, tapi aku tidak tahan karena ibu terus berlarut-larut dalam kesedihan.

“Bagi ibu, nggak akan ada yang bisa menggantikan bapak, Nak. Puluhan tahun hidup sama-sama, tentu ibu butuh waktu, kan? Jadi, ibu mohon biarkan ibu begini.” Ibu berbicara dengan lemah, tidak menatap mataku.

Kata-kata ibu membuatku kesal. Ibu terlalu setia untuk bapak yang entah sudah berapa kali berselingkuh dari ibu. Gajinya selalu habis untuk pacaran dengan entah sudah berapa wanita. Hanya kemarahan dan kekesalan yang bapak bawa ke rumah, dan ibu yang akan dijadikan pelampiasannya.

Terakhir, beberapa minggu sebelum meninggal, bapak bahkan meminta untuk menikah lagi. Aku ingin ibu bercerai saja dengan bapak. Namun, ibu memilih bertahan dalam pernikahannya yang menyedihkan. Ibu memilih diam ketika dipukuli karena menolak keinginan bapak itu. Ah, ibu memang terlalu baik. Sangat baik hingga aku yang harus bertindak. Meracuni bapak.***


Nurul Fatimah. lahir di  Mataram (NTB), 24 Mei 1994. Karya: All My Love (Ragam Media, 2014) (Novel). Call Me Anna (Chapter Eleven, ebook, 2017). Adik Sudah Mati (Cabaca, kumpulan cerpen horor, 2018).

Puisi

Puisi Agung Wicaksana

Malam

__uni potsdam

malam geletar di luar

dijamah kabut

ruai gemetar

bintang-bintang

bagai akasia rekah

salju membelai pelupuk

begitu pilu

remang menggantung pada kisi jendela

sudut-sudut kelu

pada lekuk rindu

kepalaku

menyelipkan lembar awan

menjadi hujan

menemui tajam

rayu bibirmu

2019


Pada Malam

pada malam, aku nelayan

memukat kenangan

berkilau di bawah bulan

langit yang padam

merapung koyak

khayal di tepian

kau berdiri

semacam mercusuar

sorot cahaya

keemasan

bukan. bukan.

mimpi begitu singkat

yakinlah, sayang

kau tak sendiri

walau selat menghampar

malam dan aku datang

merayap

ratap alangkah singkat

yakinlah, sayang

tak selamanya kita terjaga

pada bagian paling usang

2019


Perjamuan Melupakan

kutuang malam ke dalam cawan

dunia tak sepenuhnya lelap

mimpi-mimpi sebagai

sebagian kebahagiaan

dan aku kian dalam

tenggelam ke dalamnya

lampu-lampu pendar-padam

aku ingin

aku ingin

semua ialah sama

buaian awan pada bintang

sekadar bualan

adalah

bintang-bintang

kini enggan menyala

2019


Geligi

aku melihat

lambaian itu

juraian legam

perlahan larut

dan semilir angin

menyemirkan dingin

pada kesepian

2019


Yang Ditinggalkan Hujan

hujan menoktah keningku

sore, periuk menanak waktu

mendidih matang

sebagai lauk malam

hujan seperti air mata

yang kau tadah

dari gelas

ia simbur

membercakkan jejak semu

tak kutemui dirimu

pada kuyup terakhir

kau kenangan paling kerontang

dalam keluasan ingatanku

2019


Rindu

ialah lekap sepasang tangan

di atas pematang

ketika beton-beton terus ditanam

rumah-rumah berganti alamat

rute itu tak berubah

antar lubang tak berpindah jarak

bulir ilalang rekah di sana

2019


Kau

bisikmu menisik

“tuliskan puisi untukku”

di balik kekuningan lembar

puisi berbagi liang

buat kau tergeletak

di antara kelindan kemungkinan

2019


Agung Wicaksana lahir pada September 2000 di Surabaya, Jawa Timur. Buku puisi mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini bertajuk Fanatorium (2017).

Cerpen

Api yang Melahap Semua Kenangan

Cerpen Halimah Banani

Jika ada yang bertanya kenapa Ami mati, maka itu salah saya. Benar-benar salah saya. Ami mati dilahap api kelaparan yang sejak saya menyalakannya, maka api itu selalu merongrong minta diberikan makan. Tak pernah kenyang dan selalu merasa lapar.

Saat pertama kali Ami hamil setelah kami menunggu 10 tahun lamanya untuk punya anak, saya duduk di teras selepas sarapan. Menyandarkan punggung ke bangku sambil kedua kaki saya berselonjor ke bangku lain. Di tangan kiri saya sebatang rokok telah siap untuk dijepit ke bibir. Lantas saya mengambil pemantik dari saku kemeja, menyalakannya.

Tak ada yang aneh dengan merokok di pagi hari, ditemani secangkir kopi hitam. Sampai saya sadari kalau api dari pemantik saya tak mau padam, bahkan tak pernah bisa dipadamkan. Api itu melompat dari pemantik, berjalan mengitari saya dan ukurannya bertambah besar, sangat besar dari saat dia masih di pemantik. Sudah berbagai cara saya lakukan, dari meniupnya, mengguyur dengan segayung air, sampai memanggil tim pemadam juga para tetangga dan kaum kerabat dan rekan kerja. Namun percuma, api itu tidak mau padam juga. Saya kehabisan akal dan orang-orang sudah kelelahan dan malas mengurusi masalah api yang keras kepala dan tak mau padam meski sudah dibujuk secara halus sampai dengan cara kasar. Atas apa yang telah saya coba lakukan kepadanya, api itu murka, membentak saya dengan berkata, “Kau tidak akan bisa memadamkan saya! Jadi sebaiknya kau turuti permintaan saya!”

Bingung dengan apa yang diucapkannya. Saya bergeming. Menatap api itu tanpa berkedip.

 “Berikan saya kenangan!” bentaknya lagi.

 “Ke—kenangan apa?”

“Apa pun, kalau perlu semuanya. Saya lapar!”

Setengah gugup saya berpikir, apa yang harus diberikan kepadanya. Kenangan oh kenangan, mana yang harus saya berikan kepada api yang kelaparan. Semuanya begitu berharga. Sangat berharga. Tak ada saya rela memberikan satu.

“Cepat berikan saya kenangan atau saya akan membakarmu beserta rumah dan segala isinya!” bentaknya tak sabaran.

Saya tertunduk. Daripada dia membakar saya dan rumah beserta isinya, termasuk Ami, lebih baik saya menurutinya. Memberikan kenangan untuk dilahapnya.

***

“Cepat berikan saya kenangan lagi! Saya sudah sangat lapar!” titah api itu yang masih belum padam setelah sebulan lamanya menyala. Ukurannya semakin besar setelah diberi banyak makan.

“Kenangan apa lagi? Saya sudah memberikan begitu banyak kenangan untukmu.”

Api itu mengibas-ibaskan ekornya yang hampir mengenai tubuh saya. Pogah benar polahnya. Serupa pejabat tinggi yang membusungkan dada sambil mengangkat dagu. Menitahkan ini dan itu. Parahnya, semua harus dilakukan segera, tak boleh dibantah atau ditawar. Ucapannya dianggapnya sabda Tuhan. Paling tahu dan paling benar. Wajib dipatuhi.

“Mana kenangan yang saya minta? Berikan segera!”

Selama sebulan ini saya memberikan beberapa kenangan. Mulai dari kenangan saat saya bersekolah. Terkucil selama hampir 6 tahun lamanya sejak SMP sampai SMA karena kebanyakan teman-teman saya merupakan anak orang punya, sedangkan saya hanya beruntung mendapatkan beasiswa. Lewat surat-surat yang dikirim dari Los Angles, Ami membesarkan hati saya untuk bertahan menghadapi situasi seperti itu. Kami akan bertemu lagi karena dia akan melanjutkan pendidikannya di Jakarta. Kemudian saat api itu masih mengamuk minta makan, saya berikan pengalaman saya selulus SMA, bertemu Ami, berjuang mencari kerja sambil meneruskan pendidikan. Mengambil jurusan bisnis. Mulainya saya bekerja menjadi karyawan di toserba, lalu saya mendapatkan pekerjaan lain di sebuah kantor swasta.

Kenangan-kenangan itu seakan-akan tak pernah mengeyangkan api yang kelaparan. Lalu saya berikanlah kenangan tentang almarhum kedua orangtua saya yang samar-samar dan kadang saya me-reka sendiri alurnya. Tentang bagaimana mereka merawat dan membesarkan saya semasa hidup. Tak cukup, saya juga memberikan kenangan masa kecil saya. Ketika menjadi yatim-piatu dan bertemu Ami di rumah panti Kasih Ibu. Ami menghampiri saya yang sedang duduk di bawah pohon mangga. Saya menekuk kedua kaki dan memeluknya erat. Merasa kedinginan padahal cuaca sedang panas, bahkan keringat mengalir dari kening saya, turun dan menetes saat lelah bergelayutan di dagu. Ami duduk di samping saya, menyodorkan sebungkus cokelat yang didapatnya dari seorang wanita yang hendak mengangkatnya menjadi anak. Hampir dua bulan saya menghabiskan waktu di panti bersama Ami—sampai Ami resmi diadopsi dan saya juga sudah mulai kerasan berkatnya.

Api itu masih merajuk, merongrong mengatakan, “Saya lapar!” Rupanya dia tak ada kenyang-kenyangnya seperti tak pernah sekali pun diberi makan. Dia masih menagih, tak kenal waktu. Pagi, siang, sore dan malam kerjaannya meminta diberi kenangan. Kalau begini lama-lama bisa habis seluruh kenangan saya dilahapnya.

“Cepat berikan sekarang juga!”

Akhirnya saya mengalah, menuruti kemauan api itu setelah memilah-milah mana yang hendak saya korbankan. Dibanding memberikan kenangan saat saya melamar Ami dan menikahinya, saya lebih rela memberikan kenangan saat Ami meminta saya membeli rumah ini. Berandai-andai kalau kami punya banyak anak dan setiap anak memiliki satu kamar tidur.

“Kita beli rumah ini saja. Rumah ini besar dan bisa menampung banyak orang.”

“Kira-kira berapa orang?”

“Enam?”

“Hanya enam? Itu berarti, aku, kamu, dan empat anak?”

“Ya, dua laki-laki dan dua perempuan.”

“Bagaimana kalau dua belas?”

“Apa? Kamu pikir melahirkan itu seperti mencetak buku?”

“Kalau kamu tidak mau, biar aku yang melahirkan sisanya.”

Ami tersenyum sambil memukul lengan saya. Memandang rumah berlantai dua yang baru selesai kami lihat-lihat—yang baru kami lunasi biaya cicilannya setengah tahun lalu. Ami suka rumah ini selain karena luas, juga terdapat kolom renang di halaman samping belakang rumahnya dan sebuah ruang bawah tanah yang ukurannya tak lebih dari 12 meter persegi.

Kenangan itu, sebenarnya saya tak ingin membiarkan api melahapnya, tetapi tak ada pilihan lain. Saya tak ingin api itu membakar segalanya yang sudah susah payah saya raih.

***

“Kenapa kau masih mengganggu hidup saya?” saya membentak api itu saat dia kembali meminta kenangan. Saya kesal, kenangan saat saya melamar Ami pun telah diberikan kepadanya, dan sekarang dia masih meminta kenangan untuk dilahap. Jika dihitung-hitung, kini hanya tersisa beberapa kenangan saja.

Api yang tubuhnya semakin besar itu balas membentak dengan jemawa, “Punya hak apa kau mengatur-atur saya? Kau bahkan tak bisa mengatur hidupmu sendiri.”

Saya memicingkan mata. Sok tahu benar dia akan hidup saya. Mentang-mentang dia sudah melahap beberapa kenangan, sekarang dia merasa tahu segalanya. Mengetahui kelebihan dan kekurangan saya. Lantas mengancam akan membongkar semuanya, bila perlu membakar segalanya sampai hangus tak bersisa.

Merasa tersudut, akhirnya saya menyerahkan kenangan tentang betapa saya dan Ami berjuang keras untuk punya anak. Tiga tahun lamanya. Sampai kami memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis sebab cara manual sepertinya tak membuahkan hasil. Saya ingat Ami terduduk di salah satu kamar yang sudah dihiasnya untuk tempat bayi laki-laki kami kelak, bercat biru langit dengan beberapa tumpuk mainan di sudut ruangan. Ada mobil-mobilan, bola karet, balok susun, dan masih banyak lagi sehingga saya tidak hafal satu per satu mainan apa saja yang dibeli Ami. Wajah sendunya berusaha menyunggingkan sebaris senyum, begitu kaku. Tangannya memeluk saya erat. Hatinya hancur lebur. Surat pemeriksaan yang menyatakan bahwa saya mandul berusaha ditepisnya. Dicabik-cabik hingga hancur berkeping-keping dan berserakan di lantai kamar itu, kamar yang bersebelahan dengan kamar tidur kami.

“Aku baik-baik saja, dan aku tahu kalau kamu yang sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan apa pun. Mukjizat itu ada. Kita bisa berdoa semoga suatu hari mimpi kita bisa menjadi nyata,” ucap Ami sambil menepuk-nepuk punggung saya.

Malam itu saya menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Ami. Menangisi nasib saya yang malang. Dan kini saya meringis sebab kenangan itu dilahap api kelaparan.

***

“Cepat berikan saya kenangan!”

“Saya hampir tidak memiliki kenangan apa pun untuk diberikan kepadamu. Bahkan sudah saya berikan juga kenangan tentang Ami yang dengan berat hati mengosongkan kamar-kamar yang bakal menjadi kamar anak kami hanya untuk menghormati saya. Dia katakan kepada saya, ‘Tidak apa-apa, hidup berdua denganmu saja sudah cukup untukku.’ Berdosa saya karena mengikatnya hidup dalam kesepian,” jawab saya frustrasi. Meremas rambut dan menjambaknya keras.

“Kau masih punya satu!”

“Apa?”

“Kenangan hari itu. Cepat berikan kepada saya!”

Saya terdiam. Bergeming beberapa saat. Malam itu, sebelum paginya saya menyalakan pemantik yang mengubah hidup saya serupa neraka, saya ingat telah bertengkar hebat dengan Ami. Saya mengamuk mendapatkan kabar kalau Ami hamil. Dia pasti berselingkuh. Ya, tidak salah lagi kalau Ami berselingkuh.

“Semua rumah sakit tempat kita melakukan pemeriksaan menyatakan hal yang sama. Kalau aku mandul. Lalu bagaimana kamu bisa hamil kalau bukan dengan berselingkuh?”

“Ini anakmu. Aku tidak pernah berselingkuh dengan siapa pun,” jawab Ami mantap. Tak sekali pun dia mengalihkan tatapannya dari saya.

“Setelah tujuh tahun? Kamu pikir aku bakal percaya? Kalau saja kamu hamil karena ada mukjizat yang menyatakan aku tidak lagi mandul, mungkin wanita-wanita yang aku tiduri dua tahun belakangan ini juga akan hamil sepertimu!”

Hening. Ami mengerutkan keningnya. Mungkin dia kaget mengetahui kalau saya telah lebih dulu berselingkuh darinya. Dia terduduk di kursi depan meja rias. Tatapannya yang sejak tadi terus menatap mata saya lekat kini beralih menatap lantai. Tak dilanjutkannya lagi perdebatan kami malam itu. Namun, setiap kali melihat Ami, bahkan sampai saat ini, saya masih terus membahas perihal kehamilan dan perselingkuhannya. Dan siang ini, merasa saya terus menerus menghindarinya, menatapnya penuh dendam, Ami memutuskan pergi dari rumah.

“Aku akan menggugurkan kandunganku jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik,” ucapnya.

***

Ami sudah tertimbun tanah merah. Niatannya mengugurkan kandungan membuat nyawanya ikut melayang. Saya tidak pernah membenci Ami, saya hanya benci kenyataan kalau saya tidak bisa memberikannya keturunan sehingga dia mencari keturunan dari pria lain.

Sudah sejam saya memandangi makamnya, sampai suara ponsel di saku celana saya berdering. Dari Rina, rekan kerja saya. Dia bilang punya kabar bahagia. Saya menggerutu dalam hati. Kabar bahagia? Kamu kira kematian istriku merupakan kabar bahagia?

“Kenapa kamu terdengar tidak bahagia?”

“Aku bahagia. Sungguh.”

“Benarkah? Aku kira kamu tidak bahagia mendapatkan anak dariku.”

“Maksudmu?”

“Aku hamil anakmu, Mas.”

“Anakku?”

“Iya. Memang kamu pikir aku wanita seperti apa? Aku hanya melakukannya denganmu seorang. Tentu saja aku hamil anakmu,” ucapnya riang karena sebentar lagi dia bakal menjadi ibu.

Dasar, Jalang! Kamu tanya wanita seperti apa dirimu? Cih! Jika kamu wanita baik-baik, tak akan mau kamu menjalin hubungan dengan pria beristri sepertiku. Saya menutup telepon secara sepihak. Menatap makam Ami lekat-lekat. Lantas menengadah, menatap langit yang mulai mendung. (*)

Jakarta, Oktober 2018

Catatan:
Cerpen ini merupakan versi pertama dari cerpen berjudul “Masih Ada Sepotong Pagi yang Belum Kaucicipi”.

Halimah Banani, penulis asal Jakarta. Mengikuti Kelas Menulis Loker Kata. Bisa dihubungi melalui alamat surel [email protected]. Facebook: Halimah Banani

Puisi

Puisi Yuliani Kumudaswari

Panada

memilih berpupur ragi

adonan kalis kelat teruleni

lembar kemangi dan jeruk purut

tubuh cakalang tercabik cabai

sebatang serai memar

berlumur albumen panir terburai

panas minyak terjerang api

air liur terbit ruah

setangkup panada tambun menggoda

Sidoarjo,  2019 


Bakso

adalah kepul yang menguar rasa

di terik siang pun kuyup hujan

di pagi muram pun senja bersolek

“semangkuk saja tanpa vetsin, bang”

brambang tabur rajang seledri

tambahkan sampai penuh

kaldu berkuah, pentol berenang

untalan mie kusut serupa ganggang

bersendok sambal saos kecap cuka

lambung pekak begah hingga ulu

siapa mampu menahan hasrat?  

Sidoarjo, 2019 


Ote-ote

tidak usah kau tebak apa yang tersembunyi

tak usah pula kau cari yang terselubung

kubis wortel merdeka menampakkan muka

seekor udang bergelung berpose riang

lihat,  setangkai cabai rawit gendut kelimis

tertancap mematut diri serupa sepi

sungguh tembem wajah kesayangan

sebulat purnama di malam lalu

di pinggan kaleng bercorak loreng

Sidoarjo,  2019 


Donut

bergelimang gula salju

bersolek taburan coklat penuh warna

bergulingan di lengket pasta pekat

ia mematut diri

menyaru berkamuflase

lekat manis bukan fatamorgana

sungguh, 

hanya hasrat

hanya lapar

tak ada dendam

tak ada cinta

di bolong dadanya

Sidoarjo,  2019


Sayur Kekedemes

aku melihat ibu

memasak sayur kekedemes

dalam kastrol  berpantat jelaga

jerebu menari di bias cahaya

sebatang songsong meniupkan bayu

bara meletup lelatu riang melayang layang

telah habis ubi kayu pada getuk merah hijau

demi segantang beras sejumput gula

“kita lapar,  nak” kata ibu

sayur kadedemes dimasak ibu

kulit ari ubi kayu melayang di kuah santan

“bayangkan gulai, nak” senyumnya

lalu ,

kubayangkan cinta ibu

di atas lelatu dan jerebu

yang menari nari

Sidoarjo,  2019


Gulali Pink

di gerbang pasar malam itu

kakinya melangkah melompat-lompat

gadis kecil keriting berkucir ceplok

kemilau bintang di bulat mata bola

ia tertawa

ia bertepuk tangan

ia menunjuk segala sesuatu

tersenyum pada kincir bianglala

menggapai warna warna balon

berjinjit menangkap ribuan gelembung sabun

dan cahaya kunang-kunang di rambutnya

setangkai gulali pink mekar

tiada yang lain, tak ingin yang lain

senyum gadis cilik mekar

gulali pink tersangkut di gingsulnya

Sidoarjo,  2019


Pizza

pukulan demi pukulan

lebam terbanting kayu talenan

licin kalis seluruh tubuh

bengkak mekar tak berbentuk

sekepalan,  sekepalan telah tercomot

berputar melebar di ujung jemari

terbanting ditepuk sepenuh hati

lalu saus sewarna darah meruah

tertabur keju susis bak bunga ziarah

dan api memanggangnya

tubuh terbakar

sempurna

Sidoarjo,  2019


Agar-agar 

beri aku sesendok agar-agar

yang meluncur turun jatuh ke usus

melewati lidah kebas kerongkongan berduri

lenyap hilang tak bersua geligi

hidup bukanlah garis linear

naik turun berkelok berkelindan

penuh cadas karang kerikil tajam

pun embun, matahari, bunga berseri

hatimu yang agar-agar

tansah segala risau gulana

baiklah ia bersegera

mendekap rinai di kilau senja

Sidoarjo,  2019


Roti Tawar 

pagi membuka birai

cahaya kesana kemari

debu menari nari

sunyi mematut diri

betapa waktu serupa kijang muda

yang menemu sabana hijau

bergegas tak terkekang

menyeret fajar di kaki senja

kopi mengepul

roti tawar tak berselai

setangkai azalea layu

dan percakapan yang tak purna

ada yang tak tersentuh

kasih mula mula yang kian asing

Malang,  2019


Ketoprak

potongan kecil tahu goreng,  berebut bumbu, soun tak berbentuk,  kerupuk orange,  remah kacang tumbuk,  yang ditabur diatas irisan lontong bergelimang kecap sewarna ampas kopi, melukis mural nyeri di kosong dadamu

selarik cahaya melayang di atas pinggan loreng,  menyusur muka ketoprak, serupa sentuhan agar liurmu terbit sejalan siang yang meninggi,  hingga kau yang telah kenyang bergelimang sunyi, sebentaran ini terpuaskan, biarpun sementara, dari lapar yang setia memburumu

Sidoarjo,  2019


Yuliani Kumudaswari. Lahir di Bandung Juli 1971, menikah dengan dua putri,  sejak tahun 2015 menetap di Sidoarjo. Beberapa puisi tergabung dalam antologi bersama diantaranya Wajah Ibu (2016), Menyandi Sepi (2017), Rumah Kita (2018), Kepada Hujan di Bulan Purnama (2018), Membaca Hujan di Bulan Purnama (2019). Antologi tunggal 100 Puisi Yuliani Kumudaswari (2016), Perempuan Bertatto Kura-kura (2017), Menyusuri Waktu (2018), dan Wajah Senja (2019)  

Cerpen

Kami Harus Pulang ke Rumah

Cerpen Aris Rahman P. Putra

Jep adalah salah satu teman yang dapat kupercaya, maka aku  berinisiaif mengajaknya bersama Med untuk melihat rumah Bik Merian, tempat yang sebetulnya terlarang untuk kami kunjungi. Ben kerap menceritakan tentang kebiasaan mengerikan Bik Merian.

“Kau tahu, Bik Merian suka dengan anak kecil seperti kalian! Kalian akan direbus dalam sebuah kuali besar dan akan dijadikan sop bening!” kata Ben.

“Mengapa ia melakukan itu?” tanya Med agak gemetar.

“Untuk dijadikan ramuan awet muda!”

Apa yang dikatakan oleh Ben tentang Bik Merian membuat Med berjanji untuk tak pernah bermain di sekitar rumahnya, apalagi sampai memasuki pagar. Tapi itu sama sekali tidak menurunkan rasa penasaranku. Kupikir ia sedang berupaya membohongi kami. Sama seperti kebohongannya tentang danau di belakang sekolah yang menjadi tempat tinggal Kadal Buntung atau keberadaan Macan Berkepala Manusia di hutan Jati.

Maka dari itu, pagi-pagi sekali aku mengajak Med dan Jep untuk mengintai rumah Bik Merian. Tapi sebagaimana bisa ditebak, Med menolak ajakanku mentah-mentah.

“Aku tak ingin dijadikan sop bening!”

“Tak akan ada yang menjadikanmu sop bening, Med!”

“Apa kau lupa apa yang pernah diceritakan Ben?”

“Apa kau benar-benar percaya apa yang dikatakan Ben?”

“Oh, ya, Tuhan, apa kau tak percaya apa yang dikatakan Ben, Ris?”

“Ayolah … apa kau tidak penasaran dan ingin membuktikannya sendiri?”

Sementara aku dan Med berdebat, Jep masih terdiam memandangi setumpuk buku bacaan yang ada di kamar kami. Ia memerhatikan sampul dan membuka beberapa buku dan tak lama kemudian menaruhnya kembali di tempat semula.

“Gimana menurutmu, Jep?” tanyaku.

Jep tampak kaget dan segera mengalihkan pandangannya dari tumpukan buku itu. “Oh, Ris. Kau tentu tahu di sana juga ada banyak kucing garong!”

“Apa yang perlu ditakutkan dari kucing garong?”

“Kucing garong bisa lari kencang, memiliki kuku yang cukup tajam untuk mencongkel bola matamu, dan memiliki taring seperti pisau untuk mencincang daging empuk seperti punya kita.”

“Dari mana kau dapat informasi seperti itu?” tanya Med.

            “Jangan bilang kau mendengarnya dari Ben?” potongku.

“Aku memang mengetahui hal itu dari dia. Dia tinggal di sini lebih dulu daripada kita bertiga dan dia mengenal desa kecil ini seperti ia mengenal saudaranya sendiri.”

Mendengar jawaban itu aku sedikit muak. Memang benar bahwa Ben tinggal di daerah ini lebih dulu  dan juga ia setahun lebih tua dari kami. Beberapa saat lalu ia berkata padaku bahwa ada Kadal Buntung di danau belakang sekolah. Aku yang tak langsung percaya pun sepulang sekolah langsung pergi mengamati danau hingga langit nyaris gelap, tapi aku hanya melihat ikan kecil-kecil dan kodok dan sama sekali tidak melihat kadal raksasa berwarna hijau yang menyembul dari dalam air. Mulai sekarang, selama apa yang dikatakan Ben tak terbukti, aku tidak akan memercayai apa pun yang keluar dari mulutnya. Seseorang tidak bisa lagi dilarang melakukan sesuatu tanpa diberi penjelasan mengapa ia tak boleh melakukan hal tersebut, apalagi diberi penjelasan yang sama sekali tidak masuk akal, itu sama saja pembodohan! 

“Baik, lupakan soal apa yang telah dikatakan Ben,” kataku kemudian. “Bagaimana kalau kita membuktikannya sendiri?”

“Apa kau sudah gila, Ris?” kata Med.

“Tidak, tidak, aku bakal menyusun strategi agar kita bisa tetap dalam kondisi aman. Atau kalau perlu, aku akan mengajak Ben.”

“Baiklah, tapi ingat, kita mesti sudah pulang sebelum langit gelap.” kata Jep sambil menatap langit dari jendela kamar

Sebelum genap pukul tiga siang, kami dan Ben sudah sepakat untuk melakukan penyelidikan terhadap rumah Bik Merian. Pada awalnya ia bersikeras tak mau menemani kami karena ia tak mau berakhir menjadi sop bening. Ia mengatakan kembali pada kami bahwa Bik Merian adalah seorang dukun yang menguasai ilmu tenung, lalu bersembunyi ke desa kami untuk melarikan diri setelah membunuh seorang gadis berusia 12 tahun dan merebusnya menjadi sop bening untuk ramuan awet muda. Ia berkata bahwa apa yang akan kami lakukan cukup gila dan berbahaya. Namun, setelah aku memaksanya dengan sedikit menyindir bahwa ia hanya seorang penakut yang hobi membual, ia kemudian setuju untuk ikut dengan kami. Karena bisa jadi penyidikan ini akan benar-benar sangat berbahaya bagi kami, maka masing-masing dari kami berinisiatif untuk membawa barang-barang yang mungkin akan sangat dibutuhkan saat penyelidikan.

Ben membawa segenggam bawang putih yang ia ambil dari dapur rumahnya. Ia berkeyakinan bahwa Bik Merian tidak akan suka dengan anak yang bau bawang. Jadi ketika nanti ia tertangkap oleh Bik Merian, Ben akan buru-buru makan bawang putih itu supaya Bik Merian melepaskannya dan tidak menjadikannya sebagai sop bening. Itu ide yang baik, setidaknya bila apa yang diperkirakan Ben benar, kami bisa minta bawang putih kepadanya dan kami bisa menyelamatkan diri. Tapi aku sendiri tak benar-benar yakin dengan bawang putih karena kupikir itu hanya mempan untuk drakula dan Bik Merian bukan drakula. 

Jep tentu lain cerita, ia pulang ke rumah dan kembali lagi dengan membawa tasbih. Ia merasa yakin bahwa dengan membawa tasbih tersebut, ia akan terhindar dari energi yang jahat atau marabahaya apa pun yang mengancamnya. 

Sementara itu, aku dan Med memilih membawa barang-barang kesayangan kami. Aku membawa topi Timnas dan Med dengan boneka dinosaurus berwarna ungu. Jep dan Ben mengatakan kepada kami bahwa benda-benda yang kami bawa sama sekali tak akan berguna. Tapi aku dan Med sendiri memiliki alasan kenapa harus membawa barang tersebut. Ya, bila memang nantinya kami akan benar-benar menjadi sop bening. Aku dan Med sangat berharap bahwa barang-barang itulah yang akan membuat orang tua kami mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah semua sudah berkumpul di depan pagar sekolah, aku mulai menyusun rencana. Dalam hal ini, aku akan menjadi pemimpin dalam operasi yang kuberi nama “Kami Harus Pulang ke Rumah”.

“Baik teman-teman, mari kumpul,” kataku. “Jadi begini, misi yang akan kita lakukan ini sangat mudah. Yang perlu kita lakukan adalah menyusup ke rumah Bik Merian, melakukan penyelidikan, lalu pulang ke rumah sebelum langit gelap.”

“Lalu, gimana kita bisa masuk ke rumahnya?”  tanya Jep ragu. 

“Emm … kita bisa lewat pagar di samping rumahnya.”

“Bagaiamana cara kita bisa meloloskan diri dari kucing-kucingnya?”

“Astaga, tak ada yang perlu ditakutkan dari kucing-kucing itu, Jep!”

“Apa kalian tak tahu kalau kucing-kucing Bik Merian bahkan bisa membunuh anjing?” timpal Ben.

“Baiklah, kita bisa membawa beberapa batu di saku celana masing-masing.”

“Apa itu cukup?” tanya Jep.

“Setidaknya kita berempat. Kita bisa saling menjaga. Apa ada lagi yang perlu ditanyakan?”

Semua menggeleng dan kami pun segera memulai operasi yang akan kami lakukan. Rumah Bik Merian letaknya tak terlalu jauh dari sekolah kami, namun cukup terpencil dan terpisah dari rumah yang lain. Kami berjalan dengan perasaan campur aduk hingga kemudian kami melihat rumahnya yang tampak gelap dan muram, seperti istana milik penyihir dalam kartun yang tiap Minggu kami tonton. Pada dindingnya kau akan dapat melihat tanaman-tanaman hijau merambat dan pohon-pohon besar dengan dedaunan yang berserakan di halaman dibiarkan begitu saja. Pagarnya telah berkarat sementara kaca jendelanya telah pecah di beberapa bagian. Atap rumahnya berlubang di sana-sini. Dan seperti yang dikatakan Ben dan Jep,  ada beberapa kucing hitam berkeliaran di dalamnya.   

Aku masuk lebih dulu melalui celah di pagar samping, lalu disusul Jep, Med, dan Ben yang terakhir. Kami berupaya melangkah seperlahan mungkin agar tidak menarik perhatian kucing-kucing Bik Merian. Setelah sampai pada sebuah pohon, kuperintahkan mereka untuk berhenti sejenak. Aku sendiri merangkak menuju jendela yang berhadapan langsung dengan pohon tersebut dan mengintip keadaan di dalam rumah.

Kupikir, apa yang selama ini kubayangkan tentang Bik Merian tak terlalu jauh dengan apa yang kulihat sekarang. Kemuraman yang tampak di luar rumah, tak terlampau berbeda dengan apa yang ada di dalam. Sofa yang mestinya bewarna putih, dipenuhi debu-debu dan bekas terbakar di beberapa bagian. Jahitannya juga telah robek sehingga kapas-kapas bertebaran di atasnya. Mejanya penuh dengan robekan-robekan kertas.

“Bagaimana, Ris?”

Aku menoleh dan mengacungkan jempolku kepada teman yang lain.

“Ben, coba kau cek pintu belakang.”

“Aku sendiri?”

“Jep akan bersamamu.”

“Lalu bagaimana dengan kau?”

“Aku akan melihat pintu depan dan mencari pintu masuk lain. Kau ikut denganku, Med. Tigapuluh detik lagi kita harus kembali ke sini.”  

Dalam sekejap kami segera berpencar.

Aku memegangi lengan kanan Med dan kami mengendap-endap menuju halaman depan rumah, mencoba merangkak melewati rerumputan dan dedaunan kering. Sementara tangan kirinya masih memegang erat boneka kesayangannya.

“Sedikit cepat, Med.”

Med kemudian berhenti dan menarik kaosku.

“Apa sebaiknya kita pulang saja, Ris?”

“Apa maksudmu?”

“Kubilang kita sebaiknya pulang saja.”

            “Kita sudah sejauh ini dan kau mengajak untuk pulang?”

“Ya, kita sudah melangkah sejauh ini dan sebaiknya kita segera pulang.”

“Kenapa?”

“Perasaanku tidak enak …”

“Oh, ayolah, kau hanya takut. Sini, pegang tanganku.”

“Tidak, Ris, aku benar-benar merasa tidak enak.”

“Kalau kau memang ingin pulang, sana pulang sendiri!”

Aku tak menghiraukan Med dan terus merangkak menuju bagian depan rumah. Apakah Med benar-benar akan pulang, aku sudah tak lagi mempedulikannya. Semua rencana yang kususun telah berjalan dengan baik dan dalam tahap ini, aku telah semakin dekat dengan kebenaran.

Syukurlah di halaman tak ada kucing-kucing sehingga tak ada lagi yang perlu ditakutkan. Semua benar-benar berjalan lancar. Langkah terakhir yang perlu dilakukan adalah membuka pintu ini dan mengetahui semuanya.

Aku menjinjit dan berusaha mengintip keadaan di dalam rumah melalui kaca yang ada di pintu depan. Dan, apa yang sedang kulihat sekarang benar-benar tak dapat dipercaya.   

Di salah satu kamar di samping toilet, terlihat Bik Merian sedang bercakap-cakap dengan seorang laki-laki di atas ranjang, dan yang mengagetkan, laki-laki itu mirip ayah Ben, Pak Rasmusin. 

Rambut Bik Merian terlihat berantakan dengan hanya mengenakan pakaian dalam saja. Sedang ayah Ben juga terlihat bertelanjang dada meski ia memakai celana dalam. Mereka terlihat bahagia dan apa yang sedang mereka lakukan tampak seperti sepasang orang dewasa yang telah menikah.

Aku masih penasaran dengan apa yang terjadi sehingga kuputuskan untuk menyelinap ke dalam. Pintu depan tak terkunci sehingga mudah untuk dibuka. Aku mengendap-ngendap masuk dan lekas besembunyi di bawah meja di ruang tamu. Dari sini, aku dapat mendengar percakapan Bik Merian dan ayah Ben meski agak samar-samar.

“Jadi kapan kita akan menikah?”

“Sebentar lagi …”

“Dulu juga kau bilang begitu, sebelumnya juga, sebelumnya juga…”

“Kali ini aku serius. Aku telah mengurus surat cerai.”

“Benarkah?”

“Tentu benar, sayang.”

“Bagaimana keadaan anakmu, Ras?”

“Ia akan ikut ibunya.”

“Mengapa tidak kita rawat dia, Ras? Aku bosan dengan kucing-kucing.”

 “Ia takut denganmu, ia menganggapmu dukun tenung.”

 “Apa penampilanku semenyeramkan itu Ras?”

“Tidak, kau adalah wanita tercantik yang pernah kukenal. Namun harus kuakui aktingmu sangat bagus hingga dapat mengelabui anak kecil, bahkan setiap orang. Juga keadaan rumah ini … sempurna, sangat sempurna!”

“Tapi aku ingin merawat seorang anak Ras. Aku bosan dengan kucing-kucing.”

“Kita akan memilikinya segera. Kalau perlu kau akan melahirkan 3 atau 4 anak dan kita akan memulai hidup yang baru bersama-sama, meninggalkan masa lalu masing-masing.”

Percakapan yang sedang kudengar benar-benar terdengar jelas dari sini dan aku benar-benar terkejut mendengar apa yang sedang dibicarakan meski aku tak memahami seutuhnya. Namun sialnya, seekor kucing peliharaan Bik Merian terlihat datang mendekat dan mengeong ke arahku.  Spontan aku berusaha melarikan diri dan berhasil keluar dari pintu dan menghambur ke luar rumah secepat yang kubisa. Di pohon, kulihat Ben dan Jep sedang menungguku dan aku memberi isyarat kepada mereka agar segera keluar dari tempat ini. Sampai di depan sekolah kami menghentikan langkah kami dan menarik napas sejenak.

“Ada apa sebenarnya, Ris?”

“Tidak apa-apa. Kurasa kita harus segera pulang ke rumah. Setelah ini aku akan membuatkan kalian es jeruk. Emm … dan untukmu Ben, kuharap kau jangan terlalu memercayai apa yang dikatakan oleh ayahmu.”

“Sebenarnya apa yang baru kaulihat, Ris?”

“Tidak, tidak ada apa-apa. Kuharap Med telah sampai di rumah sekarang. Kuharap di lain hari ia berhasil mencegahku berbuat aneh-aneh. Kuharap Kadal Buntung benar-benar ada. Ah, mari kita segera pulang.” ***

(2019)


Aris Rahman P. Putra, lahir di Sidoarjo, 12 Juli 1995. Alumni Universitas Airlangga Jurusan Antropologi. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive diterbitkan oleh Penerbit Basabasi.

Puisi

Puisi Redovan Jamil

Gadis Pelesir

malamku tergantung lebam

meringsut dalam gelap

merangkul tiang-tiang menjulang kota

dilafal doa menolak bala

tentang gadis yang suka berkelana

mengalir deras pada lekuk sungai di kepala

“jauh mata memandang, terulur panjang jalan

dikau selalu melipat datang. ingin berlama dalam pangkuan”

aku terus memuja kemungkinan

menandai setiap kabar dari pelesir

mengabarkan utuh dalam puing sajak ini.

2018


Sedalam Mencintai

#

cinta yang tumbuh menjulang

berebut sinar matahari dari sela lubuk hati

pancaran sebesar bola langit

tertancap erat ke akar-akar

ke kerak tanah yang dalam

ke hulu sungai yang purba

sejauh pandang ke ujung seberang

#

pada sore hari

dikau menjadi jingga di ujung selat

menghubung ke pulau perantauan

antara menetap atau terus berlayar

derai ombak menjilat-jilat

hembusan napasmu gegas

sejurus ke hati yang hampir pupus

dalam liang tuju yang abstrak

#

dikau menjadi tuju dalam temu

mengelak rasian

ingin yang nyata

tiada pelipur lara

bermuara segala harap.


Puisi Bulan April

tak terbilang hadirnya gerimis

pinggang gunung berselimut kabut

wajahmu seketika mendekam jauh ke dasar angan

pucuk ranting membelai rambutmu yang tergerai tercium angin

aku luruh, gigil dipagut dingin

waktu ke masa lalu. alir dera ke hulu jantung

pada barisan dedaunan di pinggir jalan

aku padamu kelak akan berpulang

“cinta memang begitu. celakalah orang berhenti mencintai

hiasannya yang ranum; asing, resah, gila, terlupa, melupa dan terpenjara kata”

selebihnya pulangkanlah ke awal puisi ini!

2019


Pelepah Matamu

di pelepah matamu rindu luruh

setakat beku ke relung paling dalam

berkunjung pada gorong-gorong yang basah

menuju tualang yang panjang

sekian waktu kamu memenangkan segala pertarungan

mulai dari musim tangkapan ikan ramai

hingga tongkang  patah kuduk

imbasnya jua: urung pedagang hilir-mudik di pantai lumpur.

2018


Direbut Waktu yang Enggan Berlalu

malam yang panjang

dalam denyut nadi

terpukul nyali dirangkul tangsi

memburu lecut resah

mengambang kata-kata

tak ada bisik kabar

atau sekadar berbalas surat

suara-suara sumbang menyapa telinga

menukik ke ujung tangis

tanpa cerita, atau hanya berkisah menegak dini hari

tak ada kopi, loncatan malam yang lambat berlari.

2018


Perihal Hati

perihal hati

aku telah sematkan erat

terpaut buhul mati

terikrar pada prasasti

di dinding kamar ia menggantung hingga berlumut

pada gorong-gorong ia seumpama lentera

pada tanah ia penyejuk dalam kerontang

pada gunung ia jadi lembah yang dialiri sungai biru

padamu bermuara segala tuju.


Mencintaimu dalam Segala Waktu

pada tualang hidup

ada yang sirna ditelan cinta

sekian yang tumbuh dan pergi, begitu juga yang datang

aku memilih tidak pada semua hal itu

yang datang pasti akan pergi

yang pergi pun akan ada pengganti

yang tumbuh menjulang, lalu tua dan rapuh

yang berlalu akan berujung temu

aku ingin jadi diriku sendiri

mencintaimu bersama segala usia

tanpa ampun. tak ada pamrih dan janji-janji.


Detektif Cinta

: sherlock holmes

semalam yang lebam aku berkhayal seumpama seorang detektif

aku jadi sherlock holmes saja

membuka tabir hatimu

menguak segala misteri perihal cinta

lengkap dengan rasa kecewa

jatuh yang disengaja dalam pangkuanmu

terluka yang paling manis, dan rindu yang candu

setelah menjadi detektif cinta, tugas semakin menggunung

bertubi-tubi aku jatuh cinta kepada wanita

ditemukan banyak hati yang rapuh

cinta yang omong kosong

hingga dusta yang merajalela

tak ada yang benar-benar baik perihal cinta

apalagi terpaut dua hati insan yang terjebak waktu yang fana

percayalah, usai puisi ini tutup usia aku ingin melupa

lupa atas permainan kata, memanis  rasa

dan adonan janji dalam bungkuknya nafsu.

puisi ini tetap saja ingin ditulis

mengabarkan hasil riset cinta seorang sherlock holmes gadungan

di tengah kota, pada gang-gang sempit cinta diobral semena-mena

busung buah dada hingga ingin pecah kutang berenda

bibir gincu bata, lentik berarak alis mata

ialah yang akan dipilih lelaki pelumat nestapa

pada remang malam akan terasa nikmat

setakat akhirnya menjalar ke wisma-wisma

begitulah cinta, memenangkan pikir

meruntuhkan akal, dan terjebak nafsu muslihat.


Cintaku Tumbuh di Bibir Sampan Leper

kita berdua kala itu

mengitari ilalang dan kanal-kanal merah

penuh takzim menyaksikan pacu sampan leper

orang-orang bertalu sorak semarai untuk peserta lomba

“ayo-ayo! yang kompak! saat berputar arah harus cepat!”

lumpur memantulkan gema suara riuh

seusai surut mengikis pantai

di udara suara hatiku bergelombang

bersiul lirih cinta yang dalam

seolah-olah rasa itu tersangkut di pipihnya bibir sampan

berpacu bersama degup orang yang berkayuh kemenangan

nuh, kekasih

di seberang tersangkut segala harapan

mengarungi segala kemungkinan yang retak

“dekap aku erat-erat! dengar genderang jantungku”

jangan pisah dilempar ke dasar ratapan

aku luruh, kekasih

dalam candamu yang meramu malu-malu

ingin hidup sekali saja

tapi waktu denganmu selamanya.

2019


Sajak Lamaran

tahukah, Anelis

pada senyummu yang menguntai aku bergelantung

sudah habis pikir tak ada selain padamu jua muara tuju

segala temu, angin mendesir dalam ingin

rindu berpacu dalam alir air

pada hujan yang pecah di atap rumah

di tahun yang sudah ingin tutup usia

aku ingin meminangmu, Anelis

di hari ulang tahunmu

pada minggu ketiga november

jadilah kau tawananku

tawanan hidup hingga renta

dik, Anelis. aku akan datang ke rumahmu

bersila di hadapan orangtuamu

menghamba untuk diperestui

dipersatukan tentang kita

tentang segala congkak yang ada

percayalah, engkau tawananku yang paling lembut

ditanam segala pokok bunga di depan kamar kita kelak

tentu bunga itu akan menjadi sahabatmu

merawatnya adalah menyemai keabadian di antara kita

Anelis

musim bisa berubah-ubah

tapi cintaku tetaplah ada

pacuan mungkin saja berbalik haluan

tujuku padamu jua.

2019


Redovan Jamil, lahir Padang Benai salah satu kampung kecil di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Ia adalah salah satu penggiat literasi pedalaman dan pengelola di TBM Hamfara Library. Terpilih menjadi Penggiat Literasi 2019 dan diundang Residensi Penggiat Literasi di Yogyakarta. Ia juga tergabung di Komunitas Daun Ranting. Tergabung dibelasan antologi bersama, baik nasional maupun internasional. Abun-abun yang Abrak (2018), Purata Publishing adalah buku tunggal pertamanya. Karya dan tulisannya tersebar dibeberapa media seperti Riau Pos, Media Haluan, Magelang Ekspress, Radar Cirebon, Harian Singgalang, Rakyat Sumbar, Palembang Ekspres dan media online lainnya. Bisa dihubungi ke nomor 085265781291/ WA, email [email protected], IG @redovan_jamil dan Facebook atas nama Redovan Jamil.