
Kekuasaan
dapat membelokkan hal yang baik menjadi buruk, sanggup mengubah harapan menjadi
penderitaan. Dalam lintasan sejarah manusia, dengan berbagai skala, kekuasaan
selalu menjadi masalah. Ada saat ketika kekuasaan begitu memabukkan, sehingga
mereka yang menggenggamnya jadi lupa segalanya. Kekuasaan itu sendiri adalah keniscayaan,
seperti yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca “tak ada
manusia yang bisa terbebas dari kekuasaan sesamanya”. Oleh karena itu, reaksi,
sikap kritis, maupun perlawanan terhadapnya juga akan terus berlangsung dalam
suasana apapun. Seringkali sikap dan tindakan tersebut sebenarnya hanya modus
karena kalah dalam perebutan kekuasaan atau sebagai strategi untuk mendapatkan
atau merebut kekuasaan, yang kelak menjungkirkan posisi seseorang menjadi
serupa dengan apa yang dulu dilawannya.
Dalam
hubungannya dengan sastra, kekuasaan adalah bahan bakar utama lahirnya pelbagai
karya dalam khazanah sastra di pelbagai penjuru dunia. Sastra sering
menempatkan diri sebagai oposisi atas kekuasaan, terutama kekuasaan yang
menindas. Karya sastra (baik puisi, cerpen, novel, atau naskah drama)
menyentil, mencubit, mengusik, sampai mengutuk kekuasaan seraya menebarkan
stimulan bagi kesadaran.
Buku
kumpulan cerpen Yudhi Herwibowo, Empat Aku (Marjin Kiri, 2019), juga
tidak lepas dari semangat seperti itu. Kekuasaan menjadi subject matter
hampir semua kisah dalam buku ini. Baik itu kekuasaan kapital maupun politik,
yang pada kenyataannya kerap berkelindan, mengakibatkan ketidakberdayaan di
lingkungan paling bawah dari piramida sosial. Ketidakberdayaan tersebut sering
memaksa seseorang berada dalam posisi yang sulit dan mengambil tindakan yang
tidak sepantasnya.
Dalam
cerpen “Langda, Suatu Ketika” dikisahkan bagaimana Eba Deyal menipu sahabatnya,
Marten, dengan memberikan kapak batu buatan orang lain, karena kapak batu yang
dibuatnya dari batu pilihan dan sudah dijanjikan buat Marten, terpaksa harus
dijual untuk menyambung hidup anak-anaknya. Cerpen ini menggunakan setting faktual—di
Yakuhimo, Papua—sehingga
kita langsung mengingat bagaimana relasi negara dengan salah satu provinsi
terluar itu. Baik Eba Deyal maupun Marten adalah bagian dari mata-rantai korban
dari kelalaian negara dalam mengurus kesejahteraan warganya.
Ketidakberdayaan
semacam itu pada satu titik melahirkan harapan-harapan yang bersifat ilusif;
fatamorgana dari kebuntuan jalan keluar. Itu misalnya tampak dalam cerpen
“Jejak Air”. Ketika perusahaan air minum kemasan memonopoli ketersediaan air di
desa tempat tinggal Jarot, kekeringan mulai melanda. Protes dan perlawanan
warga disumpal dengan uang. Jarot yang menolak untuk disuap, akhirnya hanya
bersandar pada harapan yang bersumber dari cerita kakeknya di masa lampau,
bahwa nanti akan datang laki-laki yang di setiap bekas jejak kakinya
mengalir air yang begitu bening untuk kita semua di sini.” (hal.71).
Hal
menarik dari cerita-cerita dalam Empat Aku adalah bagaimana situasi paradoks
muncul dari modus kekuasaan dalam upaya menancapkan kukunya. Modus itu berupa
perubahan dan kebaikan, yang pada saatnya menampakkan wajah ganda sebagai
sumber keburukan. Konsekuensinya kemudian adalah jejaring problem yang menjerat
sampai ke wilayah internal masyarakat, bahkan ke wilayah inter-personal. Dalam
cerpen “Kampung Rampok” misalnya. Kemunculan seorang laki-laki yang digambarkan
baik (dia bertanya dengan sopan, membelikan rokok, padahal dia sendiri tidak
merokok) tampak seolah hendak membuat perubahan di kampung rampok, membuat
kampung itu menjadi lebih beradab; suatu tipikal hero dalam banyak cerita.
Tetapi laki-laki itu ternyata hanya ingin merebut kekuasaan dari kepala
kampung. Masyarakat (melalui tokoh aku) sebenarnya tidak peduli. Ya benar,
siapa pun pemimpinnya, yang penting kami tak peduli! (hal.10). Sikap apatis
itu berubah jadi ketakutan ketika ternyata si kepala kampung yang baru, jauh
lebih kejam dari yang sebelumnya. Tak ada warga yang bisa keluar dari sana,
sementara warga sendiri takut tinggal sebab seperti hanya menunggu giliran untuk
dimangsa.
Modus
perubahan dan kebaikan yang dilancarkan kekuasaan juga mencolok dalam cerpen
“Jejak Air” di mana berdirinya perusahaan air minum kemasan pada mulanya
membuka lapangan kerja pada warga setempat. Atau dalam cerpen “Jendela” di mana
seorang promotor seni memperoleh keuntungan dengan membuat pameran lukisan
karya pelukis yang mati bunuh diri, dengan alasan menghormati si pelukis,
sementara selama hidupnya hampir tak ada lukisannya yang terjual, hingga ia
jatuh melarat.
Cerpen
“Empat Aku” yang menjadi judul buku ini paling jelas memperlihatkan bagaimana
kekuasaan membuat jaring-jaring problem inter-personal. Dengan gaya
eksperimental cerpen ini menggambarkan konflik empat-karakter dalam diri aku.
Seluruh karakter itu menyimpan keinginan untuk menguasai aku sepenuhnya.
Masing-masing karakter memiliki watak-gandanya sendiri; aku-pertama yang
dermawan tapi licik, aku-kedua yang rajin berdoa tapi lemah, aku-ketiga yang
optimis tapi antipati, serta aku-keempat yang penuh empati tapi pesimistis. Kompleksitas
itu menggambarkan suatu situasi paradoks, sebagaimana yang diucapkan
aku-pertama: selalu ada sisi buruk dari segala kebaikan (hal.30).
Sisi buruk kebaikan—yang muncul lantaran kebaikan hanya modus semata—adalah nilai signifikan dari tema kekuasaan dalam cerpen-cerpen di buku Empat Aku ini. Yudhi Herwibowo membawa pembaca melompat dari setting faktual ke setting fiksional, dari narasi referensial ke narasi imajiner. Tetapi seluruhnya diikat oleh perhatiannya pada konsekuensi-konsekuensi kekuasaan yang seakan menebalkan tulisan Pramoedya yang dikutip di atas, bahwa manusia tak mungkin bebas dari kekuasaan sesamanya. Jika manusia tak bisa bebas dari kekuasaan, maka hanya pilihan menyerah atau melawan yang tersedia. Dan tokoh-tokoh di dalam kumpulan cerpen ini masing-masing telah memilih.***

Kiki Sulistyo, pengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.


🙂 Review yang bagus atas kumcer yang bagus.
Barangkali tertarik membaca review saya:
https://rk-awan.blogspot.com/2020/03/review-kumpulan-cerpen-empat-aku-karya-yudhi-herwibowo.html