Persembahan Puisi
: Kepada Tama
Puisi Pertama
Mestinya aku tidak mempersembahkan puisi ini untukmu
Sedangkan sepasang mata yang lain akan cemburu
Jika mengetahuinya
Puisi-puisi adalah kekasihku
Menjelang petang aku selalu merapalnya
Sebab malam bakal menumpahkan segala keramahannya
Puisi-puisi ini doa yang khusyuk
Dengan segala keterasingan bait-bait yang tak mau kau
kenal
Bagiku, disetiap kata yang ada, ia ingin memeluk
dirimu yang membeku
Ia bisa terbang, kulepaskan ia seperti balon-balon
sabun yang dimainkan adikku
Barangkali langit-langit akan setia memayunginya
Selama ia ingin dan mau menujumu
Puisi Kedua
Aku menetap jauh kedalam dirimu tanpa kau tahu
Aku menjadi tamu diam-diam yang paling riuh
dari gemuruh pesta di jantungmu
aku telah memasuki gerbang ketidakpedulian
mata angin mengantarkanku, kepada matamu
wajahmu puncak gunung
tertutup tirai kabut
dan jalan terjal harus kulewati tanpa mengeluh
diantara rimbun semak belukar
dalam jurang kekecewaan
diri ini akan berjuang
mengecup keningmu tanpa spasi seperti puisi-puisi ini
Puisi Ketiga
jangan berlari, dan jangan bersembunyi
aku gemas
akan aku ajak kau menikung jalan di angkasa
kita berhenti pada bulan merindu
merakit mimpi bersama jalan di rasi bintang
kita meminang segala macam kebahagiaan
tak ada raut wajah orang yang menyedihkan,
pura-pura menyedihkan, atau malah menutupi kesedihan
seperti yang ada di sekeliling kita sekarang
tak ada gubuk derita, takada yang menderita
dingin tunduk kepada kita sebelum diri ini sama-sama tertidur
pulas
Puisi Keempat
Di sini kita masih menebak jejak
Mana yang lebih jauh dan tak terjangkau
Kaki ini atau kakimu.
Rasa penasaran mengetuk berkali-kali
Pada gerbang nurani
Seusai aku merangkai salam secara hati-hati
Puisi Kelima
Mengapa kau tak putus-putusnya membayangiku?
Saban hari,
kau menyelinap, mengendap seperti mata-mata
Wangimu
masuk, menyusup, menyentuh, menciumiku
Matamu
mengganggu. Ia memendar ribuan cahaya
Yang
menghancurkan kegelapan, kesunyian ; kepada
diriku
“Mengapa kau tak bosan-bosannya di sini?”
Padahal
tidak ada apa-apa yang baik dalam diri ini
Tidak ada
nama-nama indah. Tidak ada masa depan
Aku sendiri,
tidak tahu, siapa diriku
“Benarkah katamu, kau benar-benar mencintaiku?”
Wajahmu
selalu terjebak dalam penjara-penjara pikirku
Kau terbang
bebas sesukamu, seperti burung-burung
Tapi entah,
kenapa ruang itu buntu. Kau tak mau keluar dari situ
Mungkinkah
cintamu akan pulang kearah jalannya?
Adakah jalan itu diriku?
Ataukah jalan yang lain yang merestuimu?
Aku tidak tahu. Begitupun aku yakin, dirimu juga tidak tahu
Diri ini
hanya melempar doa-doa. Tak peduli bibir dan wajah ini pucat
Asal ia bisa
menukarnya. Dengan rekah-rekah senyum harap
Di pelupuk
mimpi-mimpiku
“Tapi, adakah mimpimu sama persis dengan mimpiku?”
Aku tidak tahu.
“Tapi, kalau bukan kau, siapa lagi?”
Siapa
lagi?yang kutitipi
yang
kuserahi puisi-puisi
dari aku ini
yang sungguh tak tahu diri.
Puisi Keenam
Lekuk bibirmu, kekasihku
Adalah keramahan
Suatu
hari kelak aku tidak tahu.
Bagaimana diri ini
berhenti mengagumimu
Entah
sejak kegelapan menyerang. Atau sampai aku tenggelam dalam harapan?
Adakah
sampai senyummu yang cerah.Benar-benar tak kelihatan?
Pertanyaan
itu dengan sendirinya menolak jawaban
Aku
berhenti melangkah.
Mencengkeram lututku
sendiri.
Aku telah menyusuri
tebing-tebing
Tapi
tak jauh lebih curam dan mematikan. Selain sudut senyummu itu sendiri; kekasihku
Aku
gadis yang malu-malu.
Dua puluh angka mau
kudapati.
Tapi aku masih berandai
kalau aku ini angin.
Tapi aku masih berandai
jikalau saja aku ini air
Kekasihku;
Aku belajar bagaimana berhenti sejenak. Membunuh dan menggulung apapun
Yang buat kau berjalan-jalan bersama kecewa. Yang buat kau menjamah sakitnya rasa.
Setiap kali kau begitujangan kau murungkan
bibirmu kekasihku.
Sebab disana
Aku telah belajar
Tak ada yang lebih indah dari sebuah ketulusan
Lahir di pucuk bibirmu saat bertemu dengan
bibirku;
Yang nantinya, kekasihku
Rekah bibirmu, itu sungguh ;
Ia untukku
Puisi Ketujuh
Aku
yakin jika kau akan kembali
Tak
peduli seberapa lama kau pergi.
Seberapa jauh atau seberapa inginmu menjauh.
Sebab besar pikirku
Aku ini adalah jalanmu menuju rumah
Aku ini kota yang ingin kau jamah sesaat kau bosan ;
dari manusia-manusia yang tak kenal ramah.
Aku yakin kau pergi bukan untuk kucari
Bukan memintaku untuk berhenti mencintai
Melainkan kau melepas diri, aku yakin
Sebenarnya kau ingin mengajari
Bagaimana seharusnya mencintai diri sendiri
Meyakini hal-hal semacam itu
Adalah menyenangkan, sayang
Sama seperti sewaktu kau datang kemarin
Dengan wajahmu yang mekar
Aku mencintaimu sebelum sempat kau memutus hilang
Namaku, perempuan, Sayang
Diri ini sebelumnya penuh luka
Didapat dari orang-orang
Yang tak kenal diri ini dengan semestinya
Puisi Kedelapan
Sayang,
Kau yang tinggal di mesin ketikku.
Kau huruf-huruf yang mencintai jariku.
Besok kita akan bersama-sama lagi.
Bahkan setiap hari
Bukankah kita sepakat akan bersama-sama melumat spasi
Lalu menerbangkan tanda-tanda
Terus membiasakan diri untuk serakah
Tidak mengingat angka-angka
Dan tidak mengingat anak panah yang berarah-arah
Kita menyatu, bersama-sama
Tidak dikendalikan apapun
Barangkali mengalir bersama bunyi tik-tik
Sampai pukul tiga pagi
Sampai siang datang kembali
Aku datang kembali, untuk mencintaimu lagi.
Tik tik. Titik.
Puisi
Kesembilan
Saya
tidak mempunyai cukup kata untuk mengatakan saya benar-benar mencintaimu
Saya tidak mempunyai cukup suara untuk
mengatakan saya sungguh mencintaimu
Saya
diam, tetapi diam yang saya milikipun, sungguh tidak
cukup menjelaskan kepadamu bahwa saya sungguh-sungguh mencintaimu.
Jadi
saya memutuskan untuk takut.
Saya
takut untuk mencintaimu.
Saya
takut,
Jika ada orang bilang kepada saya bahwa sungguh
tidak pentingnya jika saya mencintaimu.
Saya
takut, atas balasan kata yang tak cukup ini.
Kau
mengatakan “saya tidak ingin mencintaimu”
Kemudian
saya takut memikirkanmu
Saya takut masih menyimpan kata yang tak cukup
ini untukmu
Saya
takut,
Saya tidak memiliki apapun,
Selain cinta saya untukmu, saya takut kamu
tidak akan mencintaiku
Puisi Kesepuluh
Kenanglah aku
Juga sewaktu kau mulai beruban dan kau sudah tua
Keriput dimana-mana
Bukalah matamu, ingatlah berapa banyak yang
mencintaimu dulu; juga termasuk diriku
Kasih, sajakku untukmu begitu deras
Ia membungkuk meminta dibaca atau sekadar
disimpan saja
Sudah berulangkali,
Sekeping kenang barangkali meminta dicengkeram
Jangan tanya aku dimana,
Waktu itu aku sedang menghitung sesal
Kenang saja, kenanglah aku sampai kau juga
kecewa
Yulia Rahmatika, lahir
di Bojonegoro,16 Juli 1999. Mahasiswa aktif Pendidikan IPA Universitas
Trunojoyo Madura. Menyukai puisi sejak jatuh hati.