Elegi #1
Perihal hati yang luka
Alih-alih rela
Lagaknya aku sukar melupa
Membiarkan batin ini terus berumpama
Sebab ia terus menanggalkan ‘kita’
dalam wadahnya
Jogja, 14 Juli 2019
Elegi #2
Kekasihnya datang
Kau tertawa di pertemuan
Aku pun tersenyum merekah-ruah
Mungkin saat ini,
Adalah patah yang sukar kurasa
Tak berdarah
Dan aku mulai belajar lebih tabah
Jogja, 14 Juli 2019
Elegi #3
Apadaya aku tak tahan
Sesaknya riuh pertemanan
Menanggal aku dan kamu
Dalam satu ikatan
Tiada kepastian
Alih-alih berujung kepahitan
Dapatkah menghentikan rasa?
Menyudahi tawa
Dan menutup cerita
Jogja, 16 Juli 2019
Elegi #4
Sunyi mengalun malam
Sedangkan aku,
duduk di pelataran
Lelah, resah … patah
Kisah mengajak bernostalgia
Konyol aku tak marah
Saatnya mulai melepas
Memangkas rasa tak bersisa
Jogja, 18 Juli 2019
Elegi #5
Memulangkan realita
Tanpa selip harap apa-apa
Pun tinggal bijih aksara
Yang menyemai prosa-prosa
Sebatas coretan belaka
Sebab rasa iba, berganti biasa saja
Sedangkan raga cepat menggugat
Batin menggeliat
Tersurat dalam cangkir kosakata
Jogja, 18 Juli 2019
Elegi #6
Perihal hati yang tersirat
Kalau tak suka bilang saja
Rasamu hanya sebatas kata-kata
Sebab rindu tak bermuara temu
Hanya buang-buang waktu
Sekadar pesuruh
Dianggurin melulu
Sakit tauk
Jogja, 18 Juli 2019
Elegi #7
Puan, mari kita pulang
Perihal rasa telah diutarakan
Belum juga kunjung tuntas, benarkah?
Ah, lagaknya kau tak mau melupa
Sebab meniadakan perkara
Menyukai tanpa jeda
Sama berisikonya,
melukai tanpa was-was
Siapkah waktu menggilas dada?
Jogja, 18 Juli 2019
Elegi #8
Semula ingin, sekarang asing
Bukan berarti tak punya hati
Hanya aku tak lagi peduli
Walau kau semegah monjali
Setinggi tugu merapi
Berani memuisikanmu itu asyik
Aku tak lagi perih
Alih-alih terinspirasi
Jogja, 18 Juli 2019
Elegi #9
Ada jeda tanda kita semai rindu
Acapkali bersatu
Pun tak direstui waktu
Nyatanya harus menunggu
Sampai lumut-lumut
Takdir menahan kita di muara temu
Jogja, 23 September 2019
Elegi #10
Mulai sekon ini
Puan, jangan melulu siksa diri
Apalagi jadi budak hati
Gampang sekali dibunuh situasi
Cukup terhenti sampai sini
Asal aksara tak tergilas mati
Tertanda, dari pena pengagum diksi
Jogja, 23 September 2019

Cesila Anggita Pangestu, lahir di Pekalongan, kini tengah menempuh studinya di Kota Yogyakarta. Cerpen dan puisinya pernah dimuat dalam harian Kedaulatan Rakyat. Menjadi finalis 20 besar terpilih lomba essai nasional Asian Youth Day (2017) dan beberapa tulisan pernah diikutsertakan dalam antologi; Story of Friends Komkep KWI (2017), Rahasia Ambigu AT Press Bali (2018), Puisi Sakatara AT Press Bali (2018), A Voice Flute Ellunar Publisher (2019), Kode Berdarah Reybook Media (2019).
