/1/

Padahal aku tahu
betul bahwa tidak ada pertemanan murni di antara dua orang dewasa lawan jenis
kecuali adanya rasa saling nyaman.

Suatu masa
pertemuan terjadi karena campur tangan seseorang yang sangat kita kenal. Beliau
yang menjadi perantara adalah temanku juga sepupumu. Tidak jelas motifnya apa
tapi setelah perkenalan itu kita menjadi akrab.

Aku wanita
berusia dua puluh delapan tahun. Sudah kenyang dengan pertanyaan ‘kapan
nikah?’. Khatam rasanya sesak ketika di-bully
dengan ucapan jodohnya sudah mati. Hari-hariku sungguh membosankan. Dari rumah
ke kantor begitu sebaliknya, rutinitas hari efektif kerja.

Kau lelaki
berusia hampir sama denganku. Memiliki kemiripan kisah dalam kehidupan. Bosan
dicecar pertanyaan serupa denganku dan beberapa kali pernah gagal menjelang
pernikahan.

Kita sama.
Mungkin karena kemiripan pengalaman tersebut obrolan kita nyambung
istilah zaman sekarang.

/2/

Perkenalan di
hari ke empat puluh lima. Kita sama-sama punya urusan di sebuah kota bahkan di
lokasi yang sama pula. Sebagai wanita yang merasa nyaman berhubungan denganmu,
aku berharap kau punya inisiatif mengajak bertemu.

Sudah selesai
urusannya?

Kau jawab sudah
dan dalam perjalanan pulang.

Kenapa tidak
menunggu aku? Supaya kita ketemu lagi.

Sekali lagi
jawabanmu membuat dadaku sesak; punya urusan lain.

Perlu kau
ketahui, pada saat aku mengutarakan keinginan untuk bertemu, wajahku memanas
menahan rasa malu.

Baiklah
kumaafkan. Barangkali ucapan sepupumu benar, kau lelaki pemalu. Meskipun aku
terluka untuk pertama kalinya atas sikap itu, kita masih seperti biasa.

/3/

Memasuki
hitungan enam puluh hari. Tidak ada tanda-tanda kemajuan yang berarti. Hubungan
kita sebatas obrolan aktivitas sehari-hari. Meskipun kadang kau curhat serius
masalah kehidupan pribadi di antaranya tentang keluarga.

Aku berkaca dari
pertemanan yang sudah-sudah, di mana aku juga pernah berteman akrab dengan
seorang laki-laki. Suatu hari ketika dia mengatakan akan menikah dengan
perempuan lain, hatiku terluka.

Tidak ingin lagi
terjadi hal yang sama.

Aku menggiringmu
untuk bercerita tentang masa depan. Kehidupan berumah tangga. Kata orang, itu
salah satu cara memberikan sinyal kepada seseorang yang disukai.

Ya. Senang
mendengar rencana itu tapi tidak dengan kriteria pasangan impianmu. Harusnya
aku segera menyadari.

/4/

Suatu hari dan
aku tak ingin lagi menghitung bilangannya, kita kembali punya urusan di kota
dan lokasi yang sama.

Kita akan
bertemu
.

Aku tersenyum
malu membaca pesanmu. Selama mengenalmu, aplikasi perpesanan milikku menjadi
ramai. Tidak ada lagi yang bernama kesepian.

Baiklah. Selesai
urusan kita bertemu.

Sahutku penuh
semangat. Aku berharap setelah pertemuan kedua ini, hatinya menjadi peka.

Masa itu tiba.
Kita masing-masing telah menyelesaikan urusan.

Jadi bertemu?

Terserah.

Yakin nggak?

Terserah.

Harusnya aku
sadar dan lebih awal membaca nasihat tentang kata terserah yang keluar dari
mulut lelaki. Terserah adalah ungkapan menghargai perasaan wanita yang memiliki
penolakan secara halus.

/5/

Aku memang bukan
seorang istri. Kita belum menikah. Tapi sudah hampir dua minggu firasatku
mengatakan ada yang berbeda. Ada yang berubah dari dirimu.

Aku bertanya
sesuatu boleh?

Sangat jarang
aku meminta izin seperti itu. Artinya ada sesuatu yang sifatnya penting.

Silakan.

Apa kau sedang
menjalin hubungan dengan seseorang?

Kenapa bertanya
demikian?

Jawab saja ya
atau tidak?

Iya. Aku sedang
melakukan penjajakan dengan seseorang. Seperti inginku, dia cantik dan menarik.
Memiliki pekerjaan yang layak diperhitungkan.

Oh, ada rencana
untuk serius?

Doakan saja. Aku
berharap begitu.

Baiklah. Aku
senang mendengarnya.

Padahal aku tahu
betul bahwa tidak ada pertemanan murni di antara dua orang dewasa lawan jenis
kecuali adanya rasa saling nyaman.

Setelahnya,
obrolan dari aplikasi perpesanan kuhentikan. Aku menuju cermin lalu berkaca.
Wajah ini barangkali tidak memiliki nilai lebih menurut pandanganmu.

Ingin rasanya
mengumpat tentang keputusan orang dalam menjatuhkan pilihan hati. Tapi
menyalahkan pemberian Tuhan adalah dosa besar.

Sebagai
seseorang yang sedang belajar meniti karir di dunia menulis, aku lumayan banyak
membaca tulisan. Kata senior, untuk menjadi penulis hal penting selain latihan
adalah banyak membaca. Dan aku pernah menemui sebuah nasihat; yang pergi akan
segera mendapatkan ganti.

Entah siapa yang
tepat dikatakan pergi, aku atau dirimu. Yang jelas setelah kuyakin kau
benar-benar tertidur, segala aplikasi yang selama ini menjadi penghubung di
antara kita kuputus. Aku dan kau pasti menemukan pengganti.

Aku tak peduli
apakah kau butuh dukunganku di saat terjatuh atau tidak. Aku tidak ingin lagi
menjadi pendengar setiamu tentang hobi, pekerjaan atau masalah yang menimpa.

Kita memang
bukan sepasang kekasih. Meskipun kutahu aku menyimpan rindu yang besar untukmu.

BP Mandoge, 18 Februari 2019

Mawar Dani, berasal dari desa BP Mandoge Asahan. Saat ini tercatat sebagai pramubakti di KUA setempat. Penyayang kucing dan suka membaca kisah romantis