Rabindranath Tagore (1861-1941), pujangga
besar asal India, dikagumi bangsawan dan intelektual Jawa. Kagum atas
puisi-puisi dan tata cara mengadakan pendidikan-pengajaran. Bentuk kagum
diwujudkan dalam penerjemahan puisi dan ulasan pelbagai gagasan pendidikan
dalam bahasa Belanda dan Jawa. Dua orang penting di pemuliaan Tagore adalah
Noto Soeroto dan Soerjo Soeparto (Mangkunegara VII). Dua intelektual itu
menekuni tulisan-tulisan Tagore saat menempuh studi di Belanda.

Soerjo Soeparto dianggap penerjemah awal
puisi-puisi Tagore ke bahasa Jawa. Ia mungkin merasa ada ikatan batin imajinasi
Tagore dengan batin kejawaan. Sejak ribuan tahun, Jawa turut dibentuk dengan
kucuran imajinasi asal India. Pada abad XX, kemunculan Tagore sebagai peraih
Nobel Sastra 1913 mengundang minat intelektual Jawa untuk memasuki jagat sastra
memiliki tautan India-Jawa. Noto Soeroto tampil sebagai penerjemah Tagore ke
bahasa Belanda. Bangsawan pernah berkancah di politik tapi “tersingkirkan” oleh
kaum nasionalis itu malah rajin pula menggubah puisi dan artikel terpengaruh
Tagore. Buku-buku bereferensi Tagore diterbitkan di Belanda, sempat beredar di
Hindia-Belanda (Harry A Poeze, Di Negeri
Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950
, 2008).

Pikat ke sastra
Tagore terjadi pula di Hindia-Belanda. Muhammad Yamin dan Amir Hamzah ada di
muka dalam penerjemahan dan pengenalan Tagore ke umat sastra di Indonesia masa
1920-an dan 1930-an. Sekian terjemahan terbaca dan menebar pengaruh dalam
sastra, pendidikan, dan religiositas. Tagore tak terasa asing. Pada masa
1920-an pula, Tagore berkunjung ke Jawa: Mangkunegaran dan Perguruan Nasional
Taman Siswa. Pesona sastra Tagore semakin membesar dengan edisi-edisi
terjemahan oleh Amal Hamzah, Anas Ma’ruf, dan Hartojo Andangdjaja. Tagore
seperti bertanah-air di Indonesia, ada di arus perkembangan sastra modern
bercap estetika Timur.

Dua buku terjemahan sering diulas di
Indonesia adalah Gintanjali dan Tukang Kebun. Pada masa lalu, Gitanjali diterjemahkan oleh Amal
Hamzah. Edisi itu menjadi klasik tapi agak sulit terbaca bagi orang-orang sudah
berbahasa Indonesia dengan EYD (1972). Pada 1976, Hartojo Andangdjaja melalui
edisi bahasa Inggris memberi terjemahan Tukang
Kebun
. Pada akhir 2018, buku itu terbit lagi. Kita membaca (lagi) saat
Indonesia terlalu ramai oleh politik dan agama. Di lembaran-lembaran sastra
gubahan Tagore kita diajak menepi: menjalani renungan dan menempuhi bahasa
estetis menampik politis.

“Apakah arti Tagore pada kita?” Kalimat
itu ditulis Hartojo Andangdjaja berlatar abad XX. Kini, kita bias mengimbuhi
dengan situasi abad XXI: “Apa suara Tagore terdengar jauh?” Pikat sastra Timur
perlahan pudar, setelah umat pembaca di Indonesia cenderung terkesima ke
pelbagai terjemahan sastra asal Amerika Serikat, Amerika Latin, Prancis, dan
Jerman. Panggilan ke Timur masih terasa dengan sekian terjemahan sastra asal
Jepang dan Tiongkok. Buku-buku asal India masih diterjemahkan tapi seperti
meninggalkan Tagore di masa lalu. Di mata Hartojo Andangdjaja, persembahan
sastra Tagore itu terlalu berarti, memerlukan puluhan paragraf.

Jawaban berbeda diberikan Goenawan
Mohamad: “Memang di atas segalanya, Tagore adalah seniman. Kebebasan,
kreativitas, kehidupan rohani: semua itu hal yang tak bias ditawar dari
dirinya. Dari sinilah hidup dihayati sebagai keindahan dan kegembiraan yang tak
kunjung putus, yang dikaruniakan Pencipta pada kita.” Pujian dituliskan pada
1968, masih di gelagat kesusastraan religius di abad XX. Pada masa berbeda,
kesan atas Tagore itu menggenapi pengakuan mutu terjemahan Hartojo Andangdjaja.
Kita beruntung mendapat Tukang Kebun,
melintasi tahun-tahun untuk renungan di zaman terlalu ramai kata dan pemiskinan
imajinasi religius.

Tagore bercerita: “Jika seorang
pengembara, meninggalkan rumahnya, datang ke sini untuk
berjaga semalam-malaman dan dengan kepala tunduk mendengar-dengarkan hingar
kegelapan itu, siapakah akan membisikkan rahasia hidup ke telinganya, jika aku,
menutup pintu, mencoba hendak membebaskan diriku dari ikatan
fana?” Pengembara, tokoh di pencarian-penemuan hakikat. Ia bergerak tanpa lelah
meski jeda dan istirahat pun diperlukan, bukan peristiwa nihil tapi tetap
bergelimang makna di keinsafan. Hasrat ke menguak rahasia belum tamat, menanti
di kepasrahan.

Kita membaca paragraf itu di keriuhan
nasihat-nasihat beredar di media sosia. Beredar tanpa mengajak “pengembaraan”
bersuasana “purba”.
Tagore masih kita perlukan meski mata-membaca dan mata-renungan telah berganti
ke mata-potret di putaran detik terlalu cepat. Rahasia terus disingkap secara
serampangan dan kolosal. Kegelapan dimusuhi terang sepanjang hari. Gelap itu
musuh di abad XXI, terlarang bagi nafsu kegirangan tak pernah usai. Kini,
Tagore mungkin suara dari jauh. Kita mendengar lirih, susah mencari sumber atau
mendekati dengan gemetar dan serius.

Pada cerita lain, Tagore mengisahkan: “Dia
duduk di debu di bawah pohon. Bentangkan di sana alas duduk dengan bunga-bunga
dan daunan, kawan. Matanya duka dan menimbulkan kedukaan dalam hatiku. Dia
tidak mengatakan apa yang tersimpan dalam hatinya; dia hanya datang dan pergi.”
Bahasa itu memang berasal dari masa lalu, sulit digunakan lagi bagi
manusia-manusia biasa mengumbar rahasia ke ribuan orang setiap detik.
Rahasia-rahasia puncak tak lagi diinginkan atau dianggap masih penting bagi
manusia dan dunia. Diksi debu, pohon, bunga, dan daun milik penekun rahasia
cenderung memilih diam ketimbang cerewet sembrono. Pada paragraf itu kita
semakin tak mengerti peristiwa dan makna datang-pergi, setelah kecepatan
menjadi dalil terpokok abad XXI. Datang-pergi itu rutin tanpa pendasaran ingin
dan capaian berpijak religius.

Pada hari-hari peremehan rahasia, adegan
membaca Tukang Kebun berisiko
keterpencilan pembaca. Tagore milik orang terpencil? “Dan itulah Tagore. Ia
telah membukakan kaki langit itu bagi kita,” tulis Hartojo Andangdjaja. Kaki
langit dimaksudkan kita bergerak ke arah sumber rahasia. Bergerak dengan
lirik-lirik mistis buatan Tagore. Manusia hari ini mungkin tak memerlukan
mistis, memihak ke segala hal berselera politis dan bisnis agar merasa sah
berada di kaum keramaian sepanjang hari. Mistis cuma milik orang memuja masa
silam, masih berjalan di bahasa tak tergesa, dan belum dilanda keberlimpahan
rupa-warna.

Tagore mengingatkan kita di akhir
persembahan Tukang Kebun, percakapan
dekat-jauh: “Siapakah engkau, pembaca, membaca sajakku seabad lama? Tak dapat
aku mengirimkan padamu setangkai bunga pun dari kemewahan musim semi ini,
segaris kencana dari awan-awan di jauh sana. Bukalah pintumu dan pandanglah ke
luar!”
Larik awal tak pernah diralat. Kini, kita membaca melebihi seabad laku, berbeda
penghitungan waktu dari saat penggubahan sastra oleh Tagore. Semula, kita
diperkenalkan dengan Rabindranath Tagore, dekat dan jauh. Di akhir, kita harus
menjawab pada Tagore saat masih menempatkan diri sebagai pembaca di zaman ramai
mulai kehilangan puisi di bumi-langit. Begitu.   

Bandung Mawardi.
Kuncen Bilik Literasi
Penulis di pengenangpuisi.wordpress.com