Kita berhenti di bagian
ruas jalan yang kamu pilih. Di sepanjang jalur ini terpacak kursi-kursi taman
yang nyaman bagi persinggahan para pejalan kaki. Di sisi jalan, sebuah taman
kecil tertata asri. Kamu duduk di salah satu kursi itu seraya memandang ke
sekitar. Udara terasa segar. Beberapa meter di depan kita, pasangan muda sedang
mendorong kereta bayi. Lalu satu-dua orang yang berpapasan, tampak saling
menyapa dengan ramah. Tiga orang petugas kebersihan, baru saja selesai menyapu
jalanan basah. Ini bukan hari libur dan masih terlalu pagi untuk berjalan-jalan.
Tapi aku begitu menikmati suasana seperti ini.

“Aku pikir tidak
masalah kalau kamu duduk di sini. Kamu mau duduk di kursi ini? Di sebelahku?”
tanyamu seraya tersenyum.

Aku berterima kasih
padamu atas tawaran itu. Itu mungkin hal yang biasa bagi sebagian orang. Tapi
agak merepotkan bagiku—dan aku tidak ingin lebih merepotkanmu lagi. Biar saja
aku di kursi ini dulu. Masih terlalu pagi bagimu untuk membopong tubuhku dari
kursi roda ini ke kursi yang sedang kamu duduki.

“Kamu kenapa?”
tanggapmu seraya tertawa. “Kita dulu pernah sebangku, kan?”

Tentu saja. Aku masih
ingat bahwa kita pernah sebangku dalam waktu yang cukup lama. Tapi kota yang
berbeda akhirnya memisahkan kita sejak kita lulus SMP. Aku harus meninggalkan
kota ini, mengikuti ayahku yang berpindah tugas di Kota P yang berbeda pulau.

“Selama itu, kamu tidak
pernah kembali ke kota ini. Atau mungkin pernah, tapi kita tidak sempat
bertemu. Apa benar begitu?”

Tidak. Memang tidak
pernah. Aku juga tidak tahu mengapa kedua orangtuaku tidak pernah mengajakku
menjenguk kota ini lagi. Kedua orangtuaku sepertinya terlalu sibuk di tempat
tugasnya yang baru. Sementara, kami memang sudah tidak memiliki kerabat dekat
yang masih tinggal di kota ini. Meskipun begitu, kedua orangtuaku tidak mau
menjual rumah peninggalan kakekku. Ayahku malah mempercayakan perawatan rumah
itu kepada ayahmu, kawan dekatnya sejak kecil dulu. Mungkin, ayahku diam-diam
masih memendam keinginan, bahwa kelak akan kembali dan menikmati masa tuanya di
kota ini.

“Aku kira kamu akan lebih
lama di sini. Berapa hari lagi?”

Sebenarnya aku belum
bisa memastikan akan berapa lama lagi berada di kota ini. Kamu tahu, awalnya
aku iseng belaka. Tentu saja, tidak bisa dimungkiri bahwa aku juga memiliki
rasa kangen pada tanah kelahiranku ini. Sekitar sebulan sebelum bencana itu, aku
sempat mengikuti unggahan foto-foto di akun instagram-mu. Foto-foto yang
mengingatkanku pada tempat-tempat yang pernah kukunjungi. Ada benteng Lama
sehabis direstorasi, ada sekelompok seniman yang mengisi sebuah sore di kawasan
Kota Tua, ada beberapa sudut yang instagramable
di kawasan City Walk—di bagian ini
ada kamu yang sedang duduk santai di sebuah kursi panjang yang terpacak apik di
pinggir jalan, ada juga tempat-tempat tertentu yang membuatku pangling pada
banyak hal di kota ini.

Tidak
ada foto THR
— tanggapku dalam sebuah komentar.

Butuh seminggu lebih
untuk mendapatkan tanggapanmu. Sampai akhirnya, sebuah nomor yang tidak aku
kenal, muncul di layar gawaiku. Aku membalas chat-mu. Lalu kita pun saling bercerita—cukup panjang sore itu.
Kamu telah mendapatkan nomor WhatsApp-ku
dari adikmu—Seruni— yang kerap terlihat bersamaku menaiki komidi putar pada
malam-malam tertentu ketika aku masih kecil dulu.

“Kamu tidak bisa naik
komidi putar lagi,” katamu seraya tertawa.

Tapi entah mengapa, ketika
aku sedang berusaha memutar kursi roda—dan tersandung bagian paving block yang bergelombang karena desakan
akar-akar pohon— agar lebih dekat denganmu, kamu berusaha meralat apa yang baru
saja kamu katakan itu.

“Bukan, bukan.
Maksudku, Taman Hiburan Rakyat itu sudah ditutup untuk selamanya,” katamu
seolah merasa bersalah. “Ada yang bilang mau dipindahkan. Entahlah.”

Aku segera menepuk
pundakmu. Beberapa kali tepukan kecil. Pada saat itu aku menduga-duga, mungkin inilah
pertama kalinya aku melakukannya—ya, menepuk pundakmu. Atau bisa saja, sepuluh
atau lima belas tahun lalu aku pernah melakukannya. Mungkin pada suatu sore, saat
aku mengejutkanmu di depan benteng Lama? Apa kamu pernah mengingatnya? Apakah
seseorang bisa mengingat hal-hal kecil semacam itu? Aku sendiri merasa bahwa beberapa
hal terkadang memang terlintas. Beberapa cukup jelas. Sisanya samar-samar
belaka.

“Oh, iya. Kamu masih
ingat Jagad?”

Aku berusaha berpikir,
mengingat-ingat, apa ada nama seseorang yang kamu sebutkan tadi pada masa kecilku.
Samar-samar, aku menemukan sosok anak laki-laki yang paling tambun sekaligus
pendiam di dalam kelas. Tapi kalau ingatanku tidak keliru, anak itu pindah ke
kota lain setelah lulus SD, sehingga aku tidak pernah mendengar kabarnya sama
sekali setelah itu. Ada apa dengan kawan lama kita itu?

 “Dia meninggal sewaktu menjadi relawan di Kota
P. Kecelakaan,” katamu lirih.

Lalu kamu menceritakan
sedikit perihal kisah duka itu. Kamu juga mengungkapkan penyesalanmu karena
tidak bisa banyak membantuku sewaktu bencana itu terjadi. Aku memang telah
kehilangan banyak hal. Tapi itu sudah terjadi. Sekarang aku di sini dan masih ingin
melanjutkan hidup. Tentu saja, rasa kehilangan itu belum bisa hilang dari
diriku. Bahkan aku yakin, perasaan semacam itu tidak akan pernah benar-benar hilang
dari hidupku.

“Ya, Tuhan. Harusnya
aku tidak perlu menceritakan hal semacam ini kepadamu. Sudahlah, kita nikmati
saja kota ini,” katamu seraya mendorong pelan-pelan kursi rodaku. “Kita akan ke
mana?”

Aku mengangkat
tanganku, dan menyerahkan diriku pada tujuan berikutnya yang akan kamu pilih
pagi ini. Aku mengikuti arah yang kamu kendalikan sepenuhnya. Aku tidak ingin
menolak apa-apa hari ini. Udara terasa semakin segar—tubuh dan jiwaku terbuka
menerimanya. Sesekali aku berusaha memejamkan mataku, seraya meyakinkan pada
diriku sendiri bahwa hari ini aku masih ada di kota kelahiranku. Sesekali aku
bertanya pada diriku sendiri; apakah ini hanya kunjungan sementara, atau aku
harus tinggal selamanya? Apa sesungguhnya yang membuatku harus memilih antara
tinggal sementara atau selamanya? Kenangan-kenangan buruk, kenangan-kenangan
manis, ataukah ingatan-ingatan lama yang berdesakan dan kerap meminta diterjemahkan
ulang?

“Sepertinya kita harus
berhenti dulu.”

Tiba-tiba suaramu terdengar
begitu dekat di telingaku. Begitu dekatnya, sehingga aku bisa merasakan embusan
hangat napasmu. Aku juga bisa mencium aroma tubuhmu: wangi tipis parfum yang
menguar dari balik sweater hangatmu. Wangi
tipis itulah yang selanjutnya menghadirkan sesosok bayangan di kepalaku.
Bayangan itu adalah seorang laki-laki yang paling merasa keberatan ketika harus
menerima kenyataan bahwa aku telah kehilangan sebelah kakiku, juga suaraku.

Bukan hanya itu, aku
bahkan harus kehilangan kedua orangtuaku yang jasadnya terjebak dalam
reruntuhan sebuah gedung perkantoran. Aku sendiri nyaris putus asa didera
kengerian yang luar biasa itu: kaki kiriku remuk terhimpit bongkahan beton
dalam sebuah pusat perbelanjaan di mana aku bekerja setiap hari. Tidak ada
pilihan lain setelah itu. Kaki kiriku pun diamputasi di sebuah rumah sakit. Di
rumah sakit itulah aku pernah bertemu dengan laki-laki itu untuk pertama kalinya,
jauh sebelum bencana itu terjadi. Dia adalah seorang perawat yang kerap aku
tanyai perihal perkembangan kesehatan budeku—adiknya ibu— yang pernah menjalani
rawat inap selama berhari-hari. Dia jugalah yang kerap menjengukku di saat aku
nyaris tidak punya harapan di dalam sebuah kamar rawat inap di rumah sakit itu.

Akhirnya, aku pun harus
menerima kenyataan bahwa aku akan menjalani hidup dengan satu kaki. Aku berusaha
menerima itu dan mulai terbiasa. Sudah setahun berlalu. Aku bahkan telah
membiasakan diriku dengan kruk atau
kursi roda pada kesempatan yang berbeda. Tapi ingatan tentang peristiwa
mengerikan itu—yang tidak pernah bisa kuceritakan secara tuntas dengan
kata-kata—membuatku jadi kehilangan kemampuan berbicara.

“Apa kamu sedang
memikirkan sesuatu?”

Aku segera membuka mata
dan tersipu manakala melihatmu sedang membungkuk tepat di depanku. Aku mencoba
tersenyum, menangkap sorot matamu yang menyelidik ke wajahku.

“Kamu pasti teringat
Amri,” katamu kemudian. “Tenang saja, aku sudah berjanji untuk menjagamu di
sini. Nanti, kalau dia tidak bisa menjemputmu karena pekerjaannya, biar aku
saja yang mengantarmu.”

Iya, aku memang sedang
teringat Amri—laki-laki perawat yang pernah kukenalkan padamu lewat video call. Tapi tentu saja, ada ingatan-ingatan
lain yang terus berdesak-desakan di antaranya. Tentang obrolan panjangku dengan
ayah dan ibumu di hari kedua kedatanganku. Tentang sebuah alasan lain—yang
tersirat—agar aku bisa kembali ke kota ini. Bukan. Bukan tentang rencana
penjualan rumah peninggalan kedua orangtuaku seperti yang telah kita ketahui
bersama. Tapi ada sesuatu yang lain, yang tiba-tiba terngiang-ngiang dalam
ingatanku.

“Rumah ini bukan hanya
menyimpan kenangan bagimu,” kata ayahmu saat itu, “tapi juga kenangan kita
semua. Kita semua tumbuh dan besar di sekitar sini. Kalau ada alasan sedikit
saja yang bisa menahanmu, apa kamu mau tinggal di sini?”

Aku tidak bisa menjawab
apa-apa ketika itu, selain mengisyaratkan bahwa aku akan mencoba mencari
alasannya.

“Kalau ada seseorang
yang memang berjodoh denganmu, kamu bisa menceritakan banyak hal tentang kota
ini. Ya, siapa tahu dia akan tertarik dan mau tinggal di sini bersamamu,” kata
ibumu dengan
nada bercanda.

Lalu tiba-tiba ayahmu
menceritakan banyak hal tentangmu. Tentang apa-apa yang sudah kamu kerjakan
selama ini. Tentang kegagalan-kegalanmu dalam menjalin hubungan istimewa dengan
seseorang. Tentang pekerjaanmu—yang menurut orangtuamu telah mapan— namun harus
kamu tinggalkan karena lebih memilih mengurusi anak-anak berkebutuhan khusus di
sebuah yayasan.

“Kadang-kadang, kami
merasa iba dengannya. Anak itu sulit menemukan teman perempuan yang cocok. Tapi
sejak bisa menjalin kontak denganmu, dia sering menceritakan keberadaanmu. Dulu,
sewaktu kecil, kalian memang tidak terpisahkan,” celetuk ibumu dalam sebuah
obrolan.

Potongan-potongan
percakapan itu semakin berdesakan dalam kepalaku, seolah-olah meminta untuk
disimpan dan diterjemahkan ulang.

“Kamu harus diam di
sini. Jangan lupa tersenyum. Aku akan mengambil gambarmu.”

Aku tersenyum. Agak canggung. Compressed keys bip38. Mengambil jarak di depanku, bidikanmu menangkap obyek dengan apik: seorang perempuan berwajah tirus sedang duduk di sebuah kursi roda, dalam naungan ranting-ranting pohon rindang yang menjalari sebuah kanopi buatan.

“Sejak lulus SMP, aku
belum pernah berfoto denganmu lagi,” katamu seraya menyelidik ke sekitar.

Seorang anak berseragam
sekolah melintas di dekat kita. Kamu mengucapkan sesuatu dengan nada bercanda
seraya menyerahkan sebuah gawai kepadanya. Remaja usia belasan itu tersenyum.
Lalu dalam beberapa jenak, tubuhmu membungkuk dan tangan kananmu memelukku
dengan lembut dan hangat.

“Apa sebuah foto bisa menggambarkan
sebuah perasaan?” tanyamu tiba-tiba.

Cukup lama kita memandangi
foto itu. Entah untuk apa. Tapi aku memikirkan pertanyaanmu—yang kamu lontarkan
dengan nada bercanda dan sambil lalu. Hingga kamu menepikan kursi rodaku di
sebuah kawasan florist, aku masih memikirkan
pertanyaan sederhana itu. Aku tidak tahu apa yang kamu katakan pada perempuan
paruh baya yang sedang merangkai bunga. Tiba-tiba saja tanganmu sudah
mengenggam sebuket krisan merah.

“Ini untukmu,” katamu, seraya
kembali mendorong kursi rodaku.

Aku menerimanya begitu
saja. Kini, seraya menyusuri jalanan di sepanjang City Walk yang teduh dan tenang ini, aku mendekap krisan merah
pemberianmu di dadaku. Aku mendekapnya seraya memikirkan sebuah pertanyaan
lainnya: apakah kota ini bisa menggambarkan sebuah perasaan?

Jember,
November 2018

Tjak S. Parlan Lahir di Banyuwangi, 10 November 1975.  Cerpen dan puisinya sudah disiarkan di berbagai media. Buku kumpulan cerpennya Kota yang Berumur Panjang (Basabasi, 2017). Selain menulis, ia juga “mengerjakan” perwajahan buku, majalah, koran dan media cetak sejenis lainnya. Saat ini mukim di Ampenan-Nusa Tenggara Barat.  Email: [email protected]