Pameran Foto Warna Warni Kehidupan Sumatera 1947
Oleh Wahyu Indro Sasongko

Gunung besar di daerah Toba, Sumatera Utara
pada masa purba meletus dahsyat, hampir semua badan gunung terangkat ke
udara dan terlempar hingga ratusan kilometer jauhnya. Letusan ini mengakibatkan
punahnya makhluk hidup di sekitarnya.
Letusan tersebut membuat lubang yang sangat besar dan dalam, lubang
tersebut kemudian menjadi danau besar yang dikenal dengan nama Danau Toba.
Kedalaman Danau Toba mencapai 300 sampai 500 meter, dapat dibayangkan bagaimana
dahsyatnya letusan tersebut.
Ribuan tahun yang lalu, Taprobane, Rami atau Ramni, Azebai atau Azebani, Lameri,
Swarnadwipa, Indalas atau Andalas, Sobormah, Samandar, Zamatra, Zamara,
Java Minor, Ophir, adalah sejumlah variasi nama bagi pulau yang kini
dikenal sebagai Sumatera, akhirnya pulih dan menjadi tujuan migrasi. Salah
satu peradaban yang menarik minat penjelajah dan penulis masa silam
untuk menuliskan segala sisik melik di dalamnya.
Selain wajah Sumatera yang berubah karena
bencana alam, melihat situasi
dan kondisi Sumatera kala itu; aspek sosial, agama, budaya, politik, dan
seluk beluk sejumlah daerah di Sumatera, dari perspektif orang-orang dari
negeri atas angin. Seperti perebutan kekuasaan antar
suku, bahkan antar keluarga kerajaan, baik di zaman Sriwijaya, Majapahit,
Pagaruyung, Samodra Pasai maupun Batak. Pengaruh agama Islam yang masuk lewat
saudagar-saudagar Muslim dari Mesir, Persi, dan India lewat pelabuhan Gujarat
telah membuat peradaban
di Sumatra berubah total juga selalu menarik untuk disimak. Bahkan, sejumlah reportase kemudian
menjadi dokumen vital bagi rekonstruksi sejarah Sumatera, khususnya
catatan perjalanan 1850 – 1950.
Itulah
sedikit pengetahuan umum tentang Sumatera, pulau terbesar kedua setelah
Kalimantan, sebagai pengantar pameran fotografi yang digelar oleh Bentara
Budaya Yogyakarta dari tanggal 2 -10 Maret 2019 dengan tajuk Warna Warni Sumatera 1947. “Sumatraantjes atau Sumatera Kecil adalah judul sebuah buku terbitan tahun 1947 yang memuat
warna-warni kehidupan di Pulau Sumatra. Buku ini memuat banyak sekali foto-foto
yang mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat seantero Sumatra, mulai dari
kehidupan transmigrasi masyarakat Jawa yang menetap di Metro Lampung hingga
industri minyak dan Gas BPM dan diakhiri dengan monument perang dan
kehidupan di Aceh,” kata Manager Bentara Budaya Yogyakarta, Yunanto Sutyastomo.

Pameran Foto Warna Warni Kehidupan Sumatera 1947. (ideide.id/Wahyu Indro Sasongko)
Halaman
pertama buku karangan H.C. Zentgraaff dan W.A. Van Goudoever terbitan
Uitgeverij W. Van Hoeve. ‘s-Gravenhage Belanda itu diawali dengan pemandangan
jalan setapak di tengah hutan belantara di Lampung, kemudian kehidupan
yang amat sangat sederhana atau kemiskinan dari masyarakat Jawa yang menjadi transmigrasi
di Lampung. Dalam buku itu juga terdapat gambar ladang jagung di daerah Metro
yang dijaga seorang kepala desa yang berpakaian Jawa. Di daerah Palembang
tergambar jalur perniagaan di sungai dengan sampan-sampan dan pasar di
tepi sungai . Kemudian ada foto Jalan Trans Sumatra di Jambi yang dikerjakan
dengan membuka hutan, lalu ada foto perkebunan cemara yang menghasilkan
terpentin, kebun kopi, di Sungai Gerong, Bengkulu .
Kehidupan
Ninik Mamak di Minangkabau menjadi objek foto yang menarik. Di sana ada kaum
lelaki yang berpakaian adat Minang dan tidak ketinggalan para wanita Minang
yang dengan anggunnya berdiri berjajar dengan pakaian adat kebesarannya. Tidak
hanya kehidupan masyarakatnya saja, alam Sumatera tidak lepas
dari jepretan kamera sang penulis, seperti Danau Maninjau,
Danau Singkarak, dan Danau Toba yang legendaries, tidak ketinggalan juga
artefak-artefak Batak Kuno yang sudah bertahan ribuan tahun yang lalu.
Pada acara tersebut, sederetan foto-foto yang
didominasi warna hitam putih dipajang berjajar. “Sebenarnya kami mendapatkan
buku tersebut sudah cetakan ke-5, berarti pertama kali dicetak kami perkirakan
tahun 1940-an awal atau sebelum kedatangan penjajah Jepang ke Sumatra. Hanya
sayang kami tidak menemukan nama fotografernya di buku tersebut. Semoga pameran ini dapat menambah pengetahuan kita tentang kepulauan
di tanah air, terutama di Pulau Sumatera,” ujar Yunanto.



0 Komentar