Kepada Laut
Angin berembus perlahan
Menelurkan hawa-hawa dingin
Segara merapal seuntai kenangan
Dalam deru ombak nan kejam
Kepadamu laut yang biru
Cintaku kandas pada terjal lekukmu
Lenyap di antara busa putih
Menjelma garam, asin di pinggir pantai
Bersanding dengan leretan bakau
Aku ingin sebuah jumpa
Yang tempo hari dijanjikan petang
Namun tersisa kepala bulan
Yang terbaring di ufuk timur jauh
Tiada sentuhan mesrah di ujung bibir
Kecuali asin yang mengalir dari pelupuk mata
Dan kepadamu laut, aku ingin menyambangi
Nelayan, agar menuntun sampan ke seberang pulau
Namun, kau menjelma jarak-jarak
Seluas rinduku berkelana.
Kepadamu laut, aku ingin
Berlayar ke dalam doa Sang Amoi
Yang terhimpit di dalam ribu-ribu
Gulunganmu.
Yogyakarta, 2019.
Agatha
Agatha memeluk angin
Di suatu malam yang dingin
Menerobos gelap yang meringkuk
Di antara dahan-dahan dadanya.
Dua helai waktu direnggutnya dari hari;
Pagi dan senja, terlahap oleh rindunya,
Meritualkannya sebagai kenangan akan aku
Dan menyulamnya menjadi penantian panjang.
Di hadapan tetua adat
Aku berdiri kokoh mengulum air liur
Menerawang angkasa di dalam dada Agatha
Lalu menikam waktu agar segera pudar.
“Oh, Agatha yang menawan
Hasratku pupus di atas tandus tanah
Terhuyung bagaikan duyung tak berdayung
Pasrah terhadap gelombang. Lenguh. Lalu lusuh
Terkapar di atas tradisi yang berbelit-belit.”
Yogyakarta, 2019.
Telah Lama
Telah lama aku menjadi teratai di atas permukaan kolam
Berteman dengan cipratan-cipratan ombak kecil yang disebabkan oleh angin
Belaian mentari kadang membuatku bertumbuh lebih subur
Sebab, ada metamorfosis di dalam tubuhku yang tak kunjung
Menyelam ke dasar hatimu yang tersimpan rapi dengan endapan lumpur
Di dasar kolam.
Akar-akar ingatanku menjadi ambangan angan yang tak pernah menyentuhmu
Namun, ia mengetuk pintu permukaan kolam sepanjang hari berlalu.
Aku berdoa di atas ombang-ambing hidupku. Tiada lain selain kematian
yang menyamar menjadi parit ikan di sekelilingku.
Telah lama aku di sini.
Menanti malam, menjumpai siang, bercengkerama dengan sawang,
Menerewang langit, mendustai senja, dan membiarkan sekelompok
Serangga menyerang dengan taring-taring mungilnya__mengahuncurkanku perlahan.
Telah lama menyendiri di sini.
Bersama serabut-serabut rambutku yang kadang kuuraikan sebagai
Keyakinan akan sebuah cinta.
Sedangkan kau makin hari menjadi sesuatu yang sukar kutakar.
Yogyakarta, 2019.
Seperti Malam
Seperti malam
Kau hinggap di antara dedaunan
Mengibaskan nafas alam dalam tidurku
Menyimpan mimpi di atas kepalaku lalu menjelma cicak di plafon.
Seperti malam
Berbaring di sampingku dengan sepotong lenan
Yang kau tangkupkan dengan tubuhku dan bantal merah itu,
Membopong igauanku ke luar rumah dan anjing melolong rindu
Seperti malam
Sepi
Sunyi
Lenyap
Lelap
Yogyakarta, 2019.
Menyudahi Rindu
Pagi hari di Timor
Matahari turun di atas kabin pesawat
Kulihat rambutmu bertangkupan dengan sinarnya
Meliuk-liuk elok memenuhi mataku
Di suatu terowongan tak berjejak
Kurasakan hangatmu yang kian terekat
Walau sua masih menanti beberapa menit
Untuk mempertemukan senyum kusut kita
Pesawat mendekat
Rindu menepi sejenak
Detak-detak dada menghitung detik-detik
Memungut segala penat, menyumburkannya ke tepi jendela
Sesudah kutapakkan kaki di tanah Timor
Kau mengumbar-umbar lantunan angin merdu
Ke seluruh kupingku
Lalu mendekap tubuh ini menjadi satu.
Rindu terkulai di tanah
Pandangan menembus dada
Dan tiada yang kosong di sana
Kecuali rindu.
Yogyakarta, 2019.
Di Bawah Tatapan St. Rafael
Ada satu potret masa lalu
Yang kutempelkan di dalam sal kenangan
Juga masih terpampang rapi di tembok kamar
Atau masih dalam memori handphone
Malam-malam datang
Ia bertandang
Menyambangi doaku yang khusyuk
Kepada st. Rafael
Potret itu berwarna coklat
Mungkin tubuh St. Rafael atau alam yang keriput
Atau saat-saat di mana jiwa-jiwa menjemur pakaian
Mungkin pula mendung yang berdusta terhadap matahari
Di suatu waktu
Aku melihatnya benar-benar cokelat
Di bagian-bagiannya terkena tiris hujan
Namun wajah di dalamnya masih segar
Di suatu hening
Kukenang-kenang dalam alunan merdu lagu “feot honi”
Ternya kita pernah mengeratkan jari-jemari
Di bawah tatapan patung St. Rafael.
Yogyakarta, 2019.
Mencintai Dua Perempuan
Cintaku berjumpalitan di atas tubuh-tubuh ayu
Menguntit cara bercinta kakek yang sangat kurang ajar
Bagaikan negara yang otoriter dan menindih
Namun terasa adem di atas kepedihan
Setiap saku celanaku yang berjumlah dua
Terisi duit dan cincin emas
Kusisakan satu untuk Si Jelita
Dan lainnya untuk Si Niny
Cinta memang tak sesenang itu
Kadang mengegerung-gerung mengharapkan kepastian
Kadang mati di ujung bibir dan itu yang kunamakan cinta.
Sebab, mencintai dua orang dalam rongga kegelapan yang dalam.
Terngiang gemelutuk gigi penuh nafsu.
Di ujung jalan menuju pernikahan
Aku mengetuk-ngetuk dinding dadaku
Dan dua orang meregang cintanya di tepi ngarai hatiku yang kelam
Lalu wafat. Meninggalkan keranda dankain kafan bagiku.
Yogyakarta, 2019.
Di Balikpapan
Sebelum kapal berangkat dari pelabuhan
Kulihat namamu terurai di dermaga
Membiarkan ombak mengelus-elusnya
Kadang menjilat-jilatnya hingga ujung-ujung hurufnya sirna.
Aku menjarah kenangan ke dalam kepalaku
Sedangkan di dada, kurebahkan tubuhmu yang hangat
Sehangat usai menidurimu di bangkai perahu
Du ujung pulau.
Di sana, kita pernah menyeduh sembilu menjadi secangkir perpisahan
Lalu menenggaknya bergantian hingga tersisa karang-karang piatu
Berseliweran dihempas angin laut, sepanjang waktu
Dan suatu ketika, kuharap kau menunaikan kangenmu ke dalam sebuah kapal pelni
Yang tak jauh dari tatapanmu dari bibir segara.
Aku ingin kembali
Namun waktu tak pernah menjanjikan pertemuan
Ia hanya melangkah maju walau tertatih
Dan umur kita dipotongnya sedikit demi sedikit.
Yogyakarta, 2019.
Selepas Hujan
Selepas hujan
Aroma tanah
Ringkihan kuda
Jeritan burung
Bekas kaki anjing
Puisi anomali
Eskapisme sastra
Dan tamparan kesunyian
Kau purna.
Yogyakarta, 2019.
Di Kupang
Alam menggigil sendiri
Pantai Oesapa dipenuhi orang-orang
Bir-bir berjejer di atas meja
Kita kedinginan di atas kerikil pantai
Mengurai pasir
Menakar angin dan
Memilin dusta.
Siapa yang ingin ini berlalu?
Dentang lonceng.
Angelus menyatukan kita lalu melerai kita.
Yogyakarta,2019

Bruno Rey Pantola, lahir di Lospalos, Timor Leste, 23 Maret 1997. Buku puisinya “Sendu di Desa”. Beberapa puisinya dimuat di Tribun Bali, Pos Kupang, Apajake, Viktory News, Horison Dipantar dan media lainnya.
