Katalog

Dunia Buku

Bercak

Ada buku yang bersih, disampul plastik bening, berjilid rapi, disusun simetris di rak kaca dengan pengharum ruangan aroma kayu manis. Dan ada buku yang bercak, sudut halamannya keriput, ujung kertasnya menggulung, tintanya memudar terkena air, atau lebih brutal lagi, bercak kecokelatan yang tak sanggup kita yakini berasal dari kopi atau kotoran adik. Ironisnya, sering kali buku yang paling bercak itu justru yang paling hidup.

Mari kita mulai dari bercak paling populer: kopi. Membekas bundar di halaman 47 novel murahan yang dibaca di warung saat menunggu hujan reda. Jejak cangkir itu tampak seperti stempel resmi dari waktu, pengukuhan bahwa buku ini telah dibaca dengan tergesa tapi penuh harap. Ini bukan sekadar tumpahan. Ini bukti bahwa pengetahuan, cerita, bahkan cinta, bisa tumbuh di tengah kebisingan tukang parkir dan isak hujan di atap seng.

Kita pernah punya buku pelajaran bersampul kalender bekas, dengan bercak saus tomat dari nasi bungkus makan siang. Anak-anak sekolah dari keluarga pas-pasan tahu betul, belajar dan lapar itu dua sisi dari satu koin yang dilempar secara sembrono. Dan ketika saus itu menodai halaman, itu bukan kecelakaan. Itu pernyataan, pengetahuan tidak tumbuh di ruang steril, tapi di sela-sela perut keroncongan dan PR yang dikerjakan sambil jaga warung.

Lalu ada bercak lumpur. Buku korban banjir. Yang kertasnya merekah seperti luka lama yang terbuka lagi. Bau busuk lembabnya seperti nostalgia yang basi, tentang negara yang tak pernah belajar menata drainase, tapi selalu sibuk menata narasi keberhasilan. Buku-buku itu disusun ulang di emper rumah, dijemur di bawah matahari yang malas, dan tetap dibaca, meski huruf-hurufnya kabur, seperti janji kampanye yang mencair bersama air comberan.

Namun, bercak paling menyakitkan adalah kotoran adik. Simbol kekacauan yang tak bisa disensor. Bayi itu tidak tahu bahwa ia menodai halaman cerpen Pramoedya yang sedang kita baca diam-diam di kolong ranjang. Tapi justru di sanalah letak puisi sejatinya, saat sastra agung dan feses domestik bersatu dalam satu halaman. Bukankah hidup juga begitu? Harapan dan kehancuran berdempetan, saling mencemari. Kadang cinta juga begitu, mulia dan jorok dalam napas yang sama.

Lucunya, para pejabat negeri ini lebih takut pada bercak sejarah ketimbang bercak saus. Mereka cuci tangan dari lembar-lembar masa lalu, menyelipkan revisi di kurikulum, dan menyemprotkan parfum pembangunan di arsip yang berjamur. Tapi tak pernah sungguh membersihkan kebenaran. Mereka ingin kita membaca buku sejarah yang bersih, tapi tak pernah menjelaskan mengapa darah petani dan tinta jurnalis menodai catatan-catatan itu. Mereka takut pada bercak karena bercak mengingatkan, ada yang pernah salah, dan belum ditebus. Padahal, bercak adalah pengingat bahwa kita hidup. Bahwa kita menyentuh sesuatu, bahwa sesuatu menyentuh balik.

Dan di titik ini, mari kita bicara tentang bercak yang lebih halus, lebih personal, lebih kejam, bercak cinta. Ada satu buku, novel usang yang kamu beli di pasar loak. Di halaman 23, ada bekas lipstik. Sudutnya terlipat. Entah siapa yang meninggalkannya, tapi kamu tahu: buku itu pernah menjadi alat rayu. Atau medan perang. Mungkin ada seseorang yang diam-diam menyelipkan buku itu ke tas kekasihnya, berharap satu paragraf dari kisah fiksi itu bisa menggantikan keberanian yang tak pernah ia miliki.

Lalu ada bercak yang lebih basah, bekas air mata. Air mata yang jatuh di halaman surat terakhir dari tokoh utama. Mungkin itu air mata kekasih yang sedang membaca di halte, menunggu seseorang yang tak pernah datang. Atau air mata seorang istri yang menemukan puisi tentang perpisahan di halaman buku suaminya yang telah lama dingin. Buku itu menjadi saksi yang tak pernah dipanggil ke pengadilan rumah tangga. Cinta itu jorok, kata orang yang pernah patah hati. Tapi justru di situlah ia bersenyawa dengan buku: dua-duanya menyimpan bercak. Dan bercak itu abadi, meski orangnya sudah lama pergi.

Dan kita belum bicara soal cinta yang gagal. Buku yang dikembalikan dalam keadaan hancur, sampul terkelupas, halaman penuh coretan, ada bekas nama yang disilang pakai spidol hitam. Itulah cinta yang berubah menjadi dendam literer. Tapi tetap saja, buku itu disimpan. Karena kadang kita lebih takut kehilangan kenangan buruk ketimbang tak punya kenangan sama sekali.

Kita hidup di zaman di mana cinta ingin dituliskan dalam format PDF, dikirim lewat emoji, ditandai dengan centang biru. Tapi cinta yang membekas, yang betulan mengubah hidup masih ada dalam buku-buku bercak itu. Yang kertasnya mengerut karena pernah basah. Yang baunya tengik karena disimpan terlalu dekat dengan bantal. Yang tulisannya pudar, tapi kenangannya tajam.

Karena cinta yang paling jujur tidak hadir dalam kalimat sempurna. Ia hadir dalam bercak. Yang diam-diam bertahan. Yang tak bisa dijelaskan. Tapi juga tak bisa dilupakan. [] Redaksi

Dunia Buku

Tanpa Ritus dan Kenang

Sebagian orang membaca dengan lilin. Maksudnya, ritual. Mereka menyalakan dupa, menyeduh kopi Arabika, memutar lagu jazz dari tahun yang tak mereka alami, lalu duduk bersila menghadap buku seakan itu kitab pewahyuan. Ada yang harus membaca di kafe dengan pencahayaan remang dan sesapan latte seharga makan dua hari. Ada pula yang tak bisa membaca jika belum mandi, belum ganti baju, atau belum mood. Dan semua itu sah saja, kalau memang hidupnya memungkinkan.

Tapi tidak semua orang lahir dalam selimut wangi dan meja baca dari kayu jati alas. Tidak semua orang punya ruang khusus untuk membaca. Tidak semua orang bisa memilih mau membaca sambil duduk santai atau sambil menahan kantuk karena semalam kerja lembur. Beberapa orang membaca di antara nadi yang sempit, waktu yang retak, dan realitas yang kadang lebih keras dari narasi fiksi murahan.

Saya, misalnya, tidak punya ritual. Membaca ya membaca saja. Di halte. Di angkot. Di hik. Kadang hanya sempat satu paragraf, kadang satu buku tamat dalam sekali duduk karena bosan menghadiri resepsi. Saya tak merasa perlu mengultuskan momen membaca. Buku bukan benda sakral. Ia bisa menyentuh yang profan, yang remeh, bahkan yang bau. Dan bagi saya di situ letak kekuatannya.

Soal kenangan pun saya tidak punya banyak toleransi. Saya tidak terlalu percaya pada romantisasi masa lalu. Kenangan, kalau pun ada, biarlah ia lewat seperti gerbong KRL yang tak sempat dinaiki. Dulu saya pernah memfotokopi buku karena tak mampu beli. Saya tak merasa bersalah, karena toh saya tidak menjualnya. Itu jalan saya mendekati ilmu, sepraktis mungkin. Lalu ketika punya uang, saya beli yang asli. Buku-buku hasil fotokopi saya buang. Tidak saya simpan, tidak saya kenang, tidak saya unggah di Instagram dengan caption, Inilah perjuangan membaca kami dahulu.

Saya tidak sedang mempermalukan mereka yang punya kenangan dengan buku. Saya cuma tidak ikut menyembahnya. Beberapa orang mengemas nostalgia dalam toples kaca dan memajangnya di rak-rak hati. Saya? Saya lebih memilih membiarkannya basi dan dibuang ke tong.

Sama halnya dengan koleksi. Saya tidak yakin akan menyimpan semua buku sampai mati. Buku-buku yang sudah saya baca akan saya jual lagi. Bukan karena tak cinta, tapi karena saya tidak ingin orang yang saya tinggalkan nanti kebingungan harus mengangkut ratusan buku ke mana. Lagi pula, sebagian besar buku tak perlu disimpan; cukup dipahami. Dan kalau benar isinya sudah menyatu dengan hidup, mengapa harus takut melepas fisiknya?

Dan soal masa lalu, termasuk masa lalu para penguasa, saya juga tak punya misi heroik untuk mempengaruhi kebijakan hari ini. Saya tak percaya pada balas dendam sejarah. Kalau hari ini bisa diperbaiki, maka perbaikilah. Saya lebih respek pada tindakan benar hari ini daripada sibuk mengungkit luka lama demi mendapatkan moral points di X.

Tapi, ya, begitulah. Ada yang hidup dalam ritual. Ada yang menggantungkan hidup pada kenangan. Ada juga yang, seperti saya, membiarkan semuanya lewat dan hanya menakar hidup dari apa yang bisa dilakukan hari ini.

Dan di tengah itu semua, ada satu hal yang tetap diam-diam berkuasa, yaitu cinta. Saya pernah menemukan sebuah kaleng tua di sebuah rumah kosong. Di dalamnya ada beberapa surat cinta. Kertasnya menguning. Tulisannya nyaris pudar. Tidak jelas siapa penulisnya. Tidak jelas juga siapa yang dituju. Saya tidak mencoba mencari tahu. Saya hanya mengembalikannya ke tempat semula. Karena saya percaya, cinta tidak butuh penonton. Ia punya sejarahnya sendiri, punya medan ritusnya sendiri, yang tak perlu ditafsir dan diingat oleh siapa pun selain yang menjalaninya.

Buku pun sama. Tidak semua harus diberi pelukan emosional atau altar kenangan. Tidak semua butuh ritual. Ada yang cukup dibaca dan dilupakan. Ada yang cuma singgah untuk kemudian hilang. Tapi bukan berarti tak penting. Justru karena tak diritualkan, karena tak dikenang, mereka masuk lebih dalam, menjadi bagian dari hidup, bukan sekadar benda yang diabadikan.

Karena pada akhirnya, membaca bukan soal lilin, bukan soal kopi, bukan soal kenangan. Membaca adalah keberanian untuk melihat, mencerna, dan kadang mengabaikan. Sama seperti cinta. Ia tak butuh kenangan untuk tetap hidup. Ia hanya butuh pengakuan, bahkan jika itu sekadar dalam bentuk kaleng tua yang dibiarkan utuh. [] Redaksi

Dunia Buku

Buku Mesum

Konon, buku adalah salah satu guru. Tapi tak ada yang menjamin guru selalu bijak. Guru bisa lembut seperti ibu yang sabar, tapi kadang bisa mengejutkan, kasar, galak, dan liar, seperti ular. Dan seperti halnya kita tidak tahu kita dilahirkan siapa, pun kita tidak tahu siapa guru baca pertama kita.

Seorang remaja, usianya dua belas tahun, menemukan sebuah buku tua tersembunyi di gudang. Sampulnya polos, tanpa ilustrasi, tapi isinya, waduh. Meledak bagai mercon Cap Kera. Deskripsi detail tentang tubuh, hasrat, dan perbuatan yang bahkan belum sempat dia pikirkan. Bukunya bisa jadi karangan sastrawan besar, bisa juga hanya novel murah lima ribuan cetakan tahun 80-an, dengan judul: Gairah Si XXX di Tengah Ladang Tebu. Buku itu dipegang dan dibaca. Lantas apa jadinya?

Kita suka panik. Kita labeli saja itu: buku mesum, lalu buru-buru kita menyalahkan penulis, penerbit, bahkan tukang fotokopi. Tapi kita lupa, yang mesum itu bukan selalu bukunya. Kadang, yang benar-benar vulgar adalah cara kita membungkam pembaca.

Masalahnya bukan pada konten semata, melainkan pada konteks dan nihilnya pendampingan. Membaca tanpa peta itu seperti menjelajahi hutan pakai tutup mata, rawan nyasar, tapi juga bisa jadi petualangan yang membentuk kita.

Mari kita jujur, buku-buku tentang seks, hasrat, dan tubuh, meskipun sering dicibir, justru diam-diam punya pembaca loyal dari segala kalangan. Tak hanya remaja yang penasaran, tapi juga para pejabat yang siangnya sibuk koar-koar soal moral, malamnya menyelinap membaca PDF berjudul: Malam Panas di Balik Tirai Senayan. Ironis? Tentu. Tapi bukankah ironi adalah bagian dari kita?

Coba lihat data, cukup buka internet. Kasus pelecehan seksual lengkap di sana. Apakah itu karena terlalu banyak baca buku mesum? Atau justru karena kita tidak pernah diajarkan membaca hasrat dengan cara yang benar?

Kita hidup di negeri yang doyan menyensor payudara di buku sejarah, tapi membiarkan sinetron tayang jam tujuh malam menampilkan kekerasan rumah tangga dengan backsound mendayu. Negeri yang mengharamkan novel tentang cinta yang jujur, tapi menutup mata saat pejabat sering jajan nikmat di waktu dinas.

Lucunya, orang kecil seringkali justru punya kebijaksanaan. Mereka mungkin tak tahu istilah edukasi seksual, tapi mereka tahu mana yang pantas dan tidak. Seorang ibu penjual gorengan bisa dengan halus menasihati anaknya yang penasaran soal tubuh. Seorang bapak tukang tambal ban bisa bercerita tentang cinta dan tanggung jawab tanpa membuka halaman kamasutra.

Sebaliknya, mereka yang mengaku berpendidikan kadang gagap membicarakan tubuhnya sendiri. Lebih nyaman mengutuk buku mesum daripada mengakui bahwa mungkin yang rusak bukan bukunya, tapi cara kita memandang hasrat.

Jadi, apakah buku mesum harus dibakar? Tidak juga. Bakarannya mungkin lebih berguna untuk menghangatkan diskusi daripada membakar moralitas palsu. Bukannya lebih baik kita ajak anak-anak berdialog? Tanyakan kenapa mereka tertarik. Dengarkan. Jangan langsung bentak. Kadang anak hanya penasaran, bukan bejat. Yang bejat justru mereka yang tahu tapi berpura-pura suci.

Mari kita akui, buku tentang seks dan gairah bukan musuh. Mereka adalah bagian dari literasi tubuh dan rasa. Yang salah adalah ketika kita membiarkan buku-buku itu menjadi satu-satunya narasi tanpa disandingkan nilai, diskusi, dan kasih.

Mungkin saatnya kita berhenti mencibir anak yang membaca buku mesum, dan mulai mencibir sistem pendidikan yang takut bicara soal tubuh. Kita perlu lebih banyak guru yang bisa menjelaskan cinta tanpa malu. Lebih banyak orang tua yang berani bilang: “Kalau kamu bingung soal yang kamu baca, mari kita bahas.”

Pada akhirnya, bukan jenis bukunya yang membentuk kita, tapi bagaimana kita menanggapinya. Dan kalau buku yang kamu baca adalah soal desahan dan keringat, tak usah terlalu merasa berdosa. Bisa jadi itu hanya langkah awal menuju bacaan jernih, dan mendalam. Lagipula, bukankah yang suci dan kotor itu kadang hanya persoalan tampilan? [] Redaksi

Dunia Buku

Bertemu dan Aku Kalah

Aku masih ingat betul buku pertamaku. Sampulnya tipis, kertasnya kasar, cetakannya murahan. Tapi di dalamnya, dunia terasa lebih lebar dari halaman-halaman buku pelajaran yang cuma pandai menyusun hafalan tanpa makna. Aku tak terlalu peduli kala itu siapa penulisnya, atau apakah ia masuk daftar kurikulum. Yang penting, buku itu membuatku merasa hidup di tempat lain. Di mana orang bisa bicara tanpa takut, mencintai tanpa izin, dan menertawakan dunia tanpa dipenjara. Itulah kebohongan pertamaku.

Dan kebohongan pertama, seperti cinta pertama, jarang bisa ditebus. Sejak buku pertama, aku percaya bahwa membaca bisa membebaskan. Bahwa kata-kata bisa menyelamatkan. Bahwa literasi adalah bentuk tertinggi dari perlawanan. Tapi keyakinan semacam itu ternyata hanya cocok dibagikan di seminar literasi bertema: Mencerdaskan Bangsa, bukan di pasar yang basah oleh caci-maki, bukan di desa tempat satu perpustakaan berbagi ruang dengan posyandu dan gudang beras bulog. Aku tumbuh dalam kesadaran yang getir, bahwa buku tak pernah benar-benar mampu mengubah kenyataan. Ia hanya memperindah luka.

Ironis, bagaimana buku pertama sering jadi simbol kebangkitan jiwa, padahal sejatinya adalah pengakuan halus bahwa kita sudah kalah dari hidup. Tak bisa melawan, kita memilih melarikan diri. Tak sanggup bicara, kita memilih membaca. Kita kehilangan dunia nyata, maka kita mendirikan dunia tandingan dalam fiksi. Buku pertama bukan gerbang kemenangan, melainkan pintu pelarian. Pintu kekalahan. Semacam cara halus untuk menerima bahwa realitas terlalu buruk untuk dihadapi jika tanpa bius.

Dan lihatlah, bagaimana negara kita memanfaatkan ilusi ini. Pemerintah tak perlu repot-repot menyediakan keadilan sosial; cukup promosikan minat baca dan adakan lomba resensi. Padahal bagaimana bisa membaca menjadi budaya kalau harga satu buku sama dengan dua liter minyak goreng? Mereka bicara soal literasi digital di panggung, tapi membiarkan perpustakaan sekolah jadi gudang rayap. Mereka anggarkan miliaran untuk proyek cetak buku yang tak pernah dibaca, lalu mengklaim rakyat makin cerdas.

Kita ditipu dengan cara yang sangat sastrawi. Yang lebih menyakitkan adalah bagaimana buku pertama sering jadi awal dari elitisme baru. Begitu seseorang mengenal Chairil atau Pram, mereka mulai bicara dengan diksi yang tak lagi bisa dimengerti oleh tetangganya. Membentuk lingkaran kecil, mengutip puisi seakan ia mantra, dan memandang dunia dari balik kacamata full frame. Literasi tak lagi soal pencerahan, tapi soal kasta. Yang belum baca, dianggap belum sadar. Yang tak paham Derrida, dianggap belum sampai. Lalu kita heran mengapa bangsa ini tetap tertinggal, padahal setiap tahun jumlah penerbit bertambah?

Kita memuja buku pertama sebagai mercusuar, padahal ia bisa jadi awal dari keterasingan panjang. Kita sibuk membangun rak buku, tapi lupa membangun empati. Kita menyebarkan kutipan tentang revolusi, tapi tak pernah turun ke jalan. Buku pertama yang seharusnya menjadi jembatan, malah berubah jadi menara gading. Kita menjadi pembaca yang angkuh, bukan manusia yang utuh.

Namun, seperti cinta pertama, buku pertama juga menyisakan sejumput rasa yang tak bisa sepenuhnya dibenci. Sebab di tengah semua ironi, ia tetap membawa sesuatu yang tulus. Mungkin bukan kebebasan, tapi secercah kemungkinan. Mungkin bukan jawaban, tapi semacam pelipur. Ketika dunia menolak kita, halaman-halaman itu membuka ruang. Ketika kita terlalu kecil untuk melawan, kata-kata itu menyelamatkan kita dari kehancuran total. Buku pertama mengajarkan satu hal: bahwa meskipun kenyataan menolak diubah, kita tetap punya hak untuk membayangkannya. Dan kadang, imajinasi adalah bentuk perlawanan paling halus, juga paling mematikan.

Jadi, mungkin aku telah tertipu oleh buku pertama. Tapi itu tipuan manis. Seperti ditinggal kekasih yang sempat membuat kita merasa dicintai, walau hanya sebentar. Ada rindu yang tak bisa dijelaskan, ada luka yang ingin diulang. Hahaha.

Karena meskipun dunia tetap kacau, meskipun hidup tak pernah jadi novel, aku tetap akan membaca. Bukan karena yakin buku bisa mengubah segalanya. Tapi karena di dalamnya, aku masih bisa percaya, walau cuma untuk sementara, bahwa segalanya mungkin untuk diubah. Dan itulah satu-satunya kekalahan yang masih bisa kuterima dengan senyuman. [] Redaksi

Dunia Buku

Tetap di Sini, Meski Kau Pergi

Coba kita duduk sejenak. Pegang buku yang sedang dibaca, buka halamannya, dan lihat benda mungil yang diam di sana. Ya, pembatas buku. Kecil, sederhana, kadang cuma sobekan kuitansi parkir lusuh, tapi tahu tugasnya. Ia tidak memaksa jadi sorotan, hanya menjaga, agar kita tahu di mana berhenti dan bisa kembali tanpa tersesat.

Sementara, di luar halaman-halaman buku, kita lihat orang-orang yang katanya penting, berdasi mengilap, jargon keterlibatan meluncur dari mulutnya, sibuk menonjolkan diri. Mereka bukan pembatas buku. Mereka lebih mirip stabilo norak yang justru mengotori teks, atau lebih parah, jadi sobekan tangan sendiri yang menyelip tanpa izin, merusak alur, bahkan mengganggu kenikmatan membaca karena kesombongannya.

Pembatas buku tidak pernah mengklaim diri sebagai pahlawan. Tak ada kampanye, tak ada baliho, tak ada stiker wajah di lampu merah. Tapi ia konsisten. Kecil, tapi fungsinya tak tergantikan. Bandingkan dengan mereka yang suka mendeklarasikan jasa sejarah, padahal seringnya cuma bikin sistem makin kisruh.

Kita bisa belajar dari yang sederhana. Rakyat kecil, yang bangun pagi, kerja banting tulang, antre BPJS, bayar pajak, dan masih disuruh sabar demi kemajuan bersama, mirip sekali dengan pembatas buku. Selalu ada, tapi jarang dianggap penting. Padahal merekalah penopang utama narasi negeri.

Sementara mereka yang di atas, dengan segala bacot dan proyek pencitraan, sibuk menyisipkan diri ke dalam cerita. Buku bangsa jadi penuh catatan kaki egoistik. Mereka ingin jadi penentu arah, padahal bikin kita tersesat dalam labirin birokrasi.

Pembatas buku, justru karena ia tahu batas, jadi penjaga ritme. Ia tak mengambil hak halaman lain. Ia tak memonopoli ruang cerita. Maka ketika kita bicara tentang siapa yang seharusnya dihormati, bukan mereka yang hobi tampil, tapi yang tetap setia di tempatnya, seperti pembatas buku.

Kepada yang merasa penting, coba lihat pembatas buku. Ia diam, tapi bekerja. Sederhana, tapi berarti. Tak butuh tepuk tangan. Mungkin kalau kalian mau belajar darinya, kalian tak perlu jadi bahan meme mingguan karena kebijakan absurd. Dan tak perlu menambal reputasi dengan pencitraan murahan. Percayalah, tiket nonton lawas yang dijadikan pembatas buku punya integritas lebih tinggi daripada kalian yang terus berdalih yang katamu demi kepentingan bersama.

Dan kalau kalian merasa tersindir, mungkin memang pantas. Diamlah sebentar. Belajarlah dari pembatas buku. Tanpa banyak cingcong, tapi nyata kerjanya.

Sekarang mari kita buka satu bahasan tambahan. Karena pembatas buku juga menyimpan kisah yang lebih sunyi: cinta. Pernahkah kamu menemukan pembatas buku yang bukan milikmu? Terselip di halaman 127, mungkin peninggalan seseorang yang dulu duduk di sampingmu di kafe. Atau mantan kekasih yang tak sempat pamit. Pembatas buku kadang membawa aroma, coretan kecil, atau hanya titik tiga… pertanda ada yang ingin dikatakan, tapi tak sempat diucap.

Cinta, seperti pembatas buku, tak menuntut jadi tokoh utama. Ia hanya ingin kamu kembali ke halaman yang membuatmu tersenyum. Ia tahu kapan diam, kapan pergi. Dan yang paling pilu: saat pembatas itu ditinggal di tengah buku, padahal cerita sudah selesai. Ia menunggu, diam-diam, berharap kamu kembali membuka halaman lama. Tapi di situlah romantikanya. Cinta sejati tak memaksa. Ia berkata pelan: kalau kau ingin kembali, aku di sini. Menandai di mana hatimu pernah berhenti.

Jadi, lain kali saat kamu temukan pembatas buku lama, jangan langsung buang. Mungkin di sana ada perasaan yang belum selesai. Atau kenangan yang masih ingin dipeluk. Karena cinta, seperti pembatas buku, tak perlu banyak suara. Cukup tahu di mana harus berhenti. Dan tetap ada saat kamu butuh arah pulang. [] Redaksi

Dunia Buku

Rumah Jin?

Ada anak yang bilang, “Aku nggak suka ke perpus, karena seperti masuk penjara. Buku-buku dipenjara di rak, harus pakai surat-surat lengkap kalau mau bawa pulang.” Dan entah kenapa, saya merasa anak ini lebih jujur daripada para pejabat yang mendadak religius saat sidang etik.

Perpustakaan memang sering kali terlihat seperti kuil modern, sunyi, penuh aturan, dan mengandung aura kudus yang tak semua orang boleh sentuh. Megah, ber-AC, dengan karpet tebal dan senyuman petugas yang lebih kaku dari patung pancoran. Tapi pertanyaannya: megah untuk siapa?

Coba tanya ibu penjual gorengan di pinggir jalan depan gedung perpustakaan provinsi. Sudah sepuluh tahun dia di sana, tapi belum pernah masuk. “Nggak enak, Mas. Saya bukan orang pinter.” Begitu katanya.

Lucu ya. Tempat yang katanya rumah ilmu, justru terasa bukan rumah bagi orang-orang kecil. Ironisnya, perpustakaan malah sering jadi tempat rapat pejabat, konferensi digitalisasi literasi, atau pameran produk kuliner.

Padahal, konon perpustakaan adalah tempat paling demokratis di muka bumi. Siapa pun boleh masuk, katanya. Tapi nyatanya, lebih banyak anak-anak SMA yang ke perpus cuma buat numpang Wi-Fi dan update story. Menimba ilmu di sarang para literati, padahal aslinya nonton anime di pojokan.

Tapi mari kita jeda sebentar dan hirup aroma absurditas ini: ada yang bilang perpustakaan itu rumah para jin. Mungkin karena sebagian bukunya lebih tua dari penjaga loketnya. Atau karena suasananya sunyi seperti ruang tunggu akhirat. Tapi bisa juga karena pengunjungnya kerap kerasukan ambisi, datang berniat mulia cari referensi skripsi, tapi tersesat membaca puisi patah hati, dan pulang membawa fotokopi yang tak pernah dibaca.

Ada juga yang bilang perpustakaan itu harta karun yang tak pernah ditemukan. Masuk akal, karena banyak buku bagus yang tidak dibaca sejak zaman Orde Baru. Mereka tertidur manis di rak, dilabeli kode, dilindungi plastik, dan dijaga oleh sistem peminjaman yang lebih ribet dari urusan KUA.

Ada juga yang bilang perpustakaan itu tempat kencan paling aman. Tak ada suara gaduh, tak ada risiko ditangkap Satpol PP, dan yang paling penting: kamu bisa menatap mata gebetan sambil berbisik, “Ssst, kamu lebih menarik dari teks pidato Bung Karno.” Dan jika beruntung, cinta bisa tumbuh di antara rak fiksi dan pojok referensi, di mana cinta dan ilmu pengetahuan bersenggama secara spiritual.

Atau bisa jadi di perpustakaan kamu bertemu calon istri. Kalian sama-sama rebutan buku The Interpretation of Dreams karya Freud. Dan ironisnya, setelah menikah, kalian berhenti bermimpi. Tapi tetap saja, cinta kalian lahir di antara rak dan catatan kaki.

Di sisi lain, perpustakaan juga bisa jadi tempat pelarian. Dari panasnya dunia luar, dari gebukan kenyataan. Bayangkan anak-anak kecil di pinggiran kota yang menemukan surga kecil di perpustakaan keliling yang mampir seminggu sekali. Buku-buku lusuh di atas mobil tua itu lebih berarti bagi mereka dibandingkan perpustakaan megah yang tak pernah bisa mereka singgahi.

Paradoksnya di sini, perpustakaan seharusnya jadi tempat paling terbuka, tapi kadang terasa paling eksklusif. Ia seperti kekasih lama yang dulu hangat, tapi kini hanya mengizinkanmu datang kalau kau sudah punya kartu anggota dan pakaian yang pantas.

Seperti mantan, kita tetap saja menyimpan dalam hati. Karena di perpustakaanlah kita pernah mengenal kata pertama, membaca kalimat cinta pertama, bahkan mungkin mencuri pandang pertama. Tempat kita belajar diam, mencatat, mengkhayal, dan berharap. Tempat di mana kita pernah jadi versi terbaik dari diri kita yang haus tahu.

Jadi, mari kita usulkan reformasi kecil, perpustakaan tanpa batas. Yang bisa masuk tanpa harus takut salah baju atau salah bahasa. Yang bukunya bisa disentuh, dibaca, dan dibawa pulang tanpa birokrasi macam pinjam koperasi RT.

Karena ilmu bukan milik mereka yang punya gelar, melainkan mereka yang mau membuka halaman. Dan cinta. Ya, cinta juga bisa tumbuh dari sebuah perpustakaan. Tidak harus dramatis, cukup dari kalimat di salah satu halaman buku, yang entah kenapa terasa seperti pesan personal dari semesta.

Kalau kamu sedang di perpustakaan saat membaca ini, lihat sekeliling. Siapa tahu, ada seseorang yang diam-diam mencuri pandang padamu dari balik rak filsafat. Dan jika tak ada, setidaknya kamu bisa curi satu buku, secara legal tentu saja. Baca, dan biarkan ia membawamu pulang. [] Redaksi

Dunia Buku

Tragedi yang Tak Diajarkan di Sekolah

Kita sering diajari bahwa buku adalah jendela dunia. Tapi tak ada yang pernah memperingatkan bahwa jendela itu bisa terbuka terlalu lebar lalu membuatmu jatuh terjun bebas. Dan buku membunuhmu secara harfiah.

Coba lihat  si Pe. Suatu sore, dia sedang khusyuk membaca buku puisi di dekat trotoar. Katanya, bait-baitnya begitu menggugah hati. Dia terhanyut. Dan benar, dia tidak menyadari ketika sebuah kendaraan berbelok, lepas kendali. Tentu saja sopir tidak punya waktu untuk ikut meresapi puisinya. Pe mati di tempat.

Lalu ada si Qi. Seorang mahasiswa yang suka membaca buku di mana saja. Suatu hari, dia memutuskan membaca di perpustakaan tua yang raknya lebih mirip menara rapuh ketimbang tempat penyimpanan. Mungkin dia menemukan teori konspirasi dalam bukunya, atau mungkin dia sedang menikmati cerita fiksi. Yang jelas, rak buku itu mendadak tumbang. Qi tertimpa buku-buku filsafat yang beratnya tak main-main. Dia mati seketika, terkubur oleh kata-kata yang bahkan belum sempat selesai dia baca.

Dan ada lagi si Er, seorang pustakawan yang terlalu mencintai pekerjaannya. Suatu malam, dia terpeleset oleh kamus tebal yang jatuh di lantai. Kepala membentur meja. Jendela dunia berubah menjadi jendela ke akhirat.

Kalau kau pikir kematian karena buku hanya soal kecelakaan fisik, kau salah. Lihat si Es, seorang pria yang membaca buku tentang revolusi. Setelah selesai membaca, dia merasa tercerahkan. Dia berdebat dengan teman-temannya, lalu memutuskan turun ke jalan untuk menyuarakan apa yang dia baca. Polisi datang, menembaknya tanpa pikir panjang. Buku di tangannya, kini berlumuran darahnya sendiri.

Atau bagaimana dengan si Te? Seorang penulis yang berani mengkritik sistem, mengungkap kebusukan yang selama ini ditutupi. Sampai suatu malam, beberapa orang bertopeng datang. Mereka tidak suka dengan tulisannya. Mereka membungkamnya dengan cara yang sederhana: peluru di kepala. Bukunya masih hangat di meja, tapi si penulis dingin di lantai.

Buku yang berbahaya, atau dunia yang ketakutan? Lihat betapa absurdnya dunia ini. Buku yang seharusnya mencerdaskan malah jadi penyebab kematian. Tapi mari jujur, apakah bukunya yang berbahaya? Atau justru dunia yang terlalu takut pada apa yang tertulis di dalamnya?

Kita hidup di zaman di mana membaca bisa membunuhmu, baik secara harfiah maupun sosial. Baca buku terlarang, dan kau bisa dicap makar. Menulis sesuatu yang tidak disukai penguasa, kau bisa mendadak hilang. Bahkan, di beberapa tempat, sekadar memiliki buku tertentu bisa membuatmu masuk daftar hitam.

Ironisnya, buku-buku yang benar-benar berbahaya tidak diperhatikan peredarannya. Buku yang membodohi, yang menyebar kebohongan, yang memanipulasi fakta, justru dipromosikan, dijadikan pegangan. Bahkan ada buku yang dibuat khusus untuk melanggengkan kekuasaan. Ada buku yang ditulis agar rakyat tetap patuh, agar tak berpikir terlalu jauh.

Jadi, mari bertanya: buku macam apa yang boleh dibaca dan buku macam apa yang harus dihindari? Atau lebih tepatnya, siapa yang berhak menentukan?

Kematian yang disensor, kehidupan yang dimanipulasi. Mereka yang mati karena buku, entah itu karena membaca, menulis, atau sekadar memiliki buku yang dianggap salah, sering kali hanya jadi angka. Kita tidak mendengar cerita mereka di berita. Kita tidak diajarkan kisah mereka di sekolah.

Mereka mati, lalu dilupakan. Sama seperti banyak hal lain yang sengaja dikubur oleh mereka yang takut pada kekuatan kata-kata. Mungkin sudah saatnya kita bertanya, apakah kita hanya akan jadi pembaca pasif, ataukah kita akan menulis ulang kisah itu? Sebab jika terus begini, buku bukan lagi pembuka wacana, ia hanya akan menjadi batu nisan bagi mereka yang berani berpikir. [] Redaksi

Dunia Menulis

Mendadak Suci

Mari kita mulai dengan satu pertanyaan sederhana: kenapa, ketika kita menulis cerpen, mendadak jadi orang suci yang lupa bagaimana berkonflik? Padahal, di dunia nyata, mencari konflik semudah menyalakan korek api di pom bensin. Di jalanan, kita bisa ngamuk hanya karena ada motor nyelip tanpa lampu sein. Di rumah tangga, gelas yang ditaruh asal-asalan bisa jadi pemicu perang dingin tujuh hari tujuh malam. Tapi begitu duduk di depan laptop, jari-jari kaku, mendadak ingin menulis kisah yang damai dan inspiratif tanpa gejolak. Aduh, aduh.

Mari kita hadapi kenyataan: menulis konflik itu gampang. Kenapa? Karena manusia, termasuk kamu, sudah jadi spesialis bikin konflik sejak zaman nenek moyang berburu makanan. Tapi lucunya, begitu menulis cerpen, mendadak jadi malaikat. Tiba-tiba lupa cara marah, lupa cara jadi manusia menyebalkan, lupa bahwa dunia ini berisi orang-orang yang siap ribut karena hal paling remeh.

Lihatlah sekeliling. Orang bisa ribut cuma karena sebutan aku atau gue dalam hubungan. Bisa ada perang dingin hanya karena teman kita lupa bilang makasih setelah dibayarin kopi. Manusia itu gampang tersulut, dan itu yang bikin hidup ini menarik. Tapi kenapa saat nulis, malah ngotot bikin tokoh yang tenang, sabar, penuh empati, kayak karakter di iklan sirup lebaran?

Konflik itu kecil, tapi bisa jadi perang dunia. Orang-orang suka membayangkan konflik harus megah: perselingkuhan, pembunuhan, kebakaran. Padahal, kenyataannya lebih menjengkelkan dari itu.

Coba pikirkan ini:

1. Sandal yang tertukar di teras Rumah. Kamu datang ke rumah teman, lepas sandal di luar. Pas pulang, sandalnya tertukar dengan yang lebih jelek, lebih bau. Masalahnya? Pemilik sandal yang tertukar tidak mengakui kesalahannya. “Ah, kayaknya itu sandalmu deh.” Ini bukan sekadar kehilangan alas kaki, ini soal harga diri. Perasaan dihina mentah-mentah, dianggap nggak layak pakai sandal lebih bagus. Bisa jadi benih permusuhan bertahun-tahun.

2. WiFi lemot saat giliran kita. Satu rumah pakai WiFi yang sama. Semua lancar nonton YouTube, tapi pas giliran kamu buka Zoom kerjaan, mendadak koneksi kayak siput kena asam urat. “Loh, aku sih lancar,” kata adikmu yang lagi streaming drakor. Ini bukan sekadar masalah jaringan, ini soal ketidakadilan sosial.

3. Orang yang buka bungkus mie instan dengan cara yang salah. Ini bukan soal mie-nya. Ini soal prinsip hidup. Harus dari atas. Harus dengan rapi. Kalau ada orang yang membuka dari samping dan sobekannya acak-acakan, itu bisa jadi alasan putus hubungan. Karena kalau urusan sekecil ini saja tidak bisa beres, bagaimana urusan yang lebih besar?

4. Ngetik, Wkwkwk, saat serius. Kita sedang cerita tentang hidup yang terasa berat, tentang tekanan pekerjaan, tentang eksistensi yang mulai goyah. Lalu, balasan dari teman kita, Wkwkwk. Ini bukan ketawa, ini pelecehan emosional! Ini penolakan halus atas eksistensi kita!

5. Orang yang tak bisa bedakan, Nggak Dulu dan Nggak Mau. Kamu ngajak teman makan, dia jawab, “Nggak dulu, deh.” Oke, berarti lain kali bisa, kan? Tapi pas dia tiba-tiba makan bareng geng lain, di tempat yang sama, besoknya, tanpa ajak-ajak? Ini bukan sekadar makan siang, ini pengkhianatan.

Menulis itu bukan jadi penyuluh moral. Orang suka berpikir bahwa menulis harus mendidik, harus menampilkan karakter yang berkembang jadi pribadi lebih baik. Astaga, kita ini bukan dosen pembentukan karakter. Dunia nyata tidak seindah cerpen penuh renungan. Dunia nyata adalah tempat orang-orang saling memendam dendam gara-gara teman mereka mematahkan ujung pensil tanpa izin.

Kalau mau nulis konflik, jangan sok bijak. Tulis yang brutal, yang menyebalkan, yang bikin pembaca kejang-kejang karena merasa tertampar. Karena faktanya, tidak ada yang lebih manusiawi daripada emosi yang meledak gara-gara sandal tertukar. [] Redaksi

Dunia Menulis

Tukang Kibul

Kita perlu bicara serius. Bukan tentang metode menulis yang indah, bukan tentang alur yang mengalir bak sungai di musim semi. Kita bicara tentang kejahatan. Kejahatan menulis. Lebih kejam dari sekadar menulis buruk, lebih hina dari typo di judul, yaitu menipu pembaca dengan adegan yang datang tiba-tiba, tanpa jejak, tanpa tanda-tanda.

Kamu pikir, sebagai penulis, kamu bisa seenaknya menjatuhkan meteor ke kepala karakter tanpa ada tanda-tanda sebelumnya? Kamu kira kamu Tuhan yang bisa tiba-tiba membuat seorang tokoh yang tampak biasa saja mendadak jadi psikopat tanpa ada isyarat di awal? Tidak, Bung. Kamu bukan Tuhan. Kamu cuma tuhan-tuhanan. Dan sebagai tuhan-tuhanan, kamu punya tanggung jawab moral: memberi petunjuk. Memberi isyarat. Itu namanya clue.

Menulis tanpa clue sama dengan penulis norak. Ada alasan kenapa orang bisa menganggap tulisanmu murahan. Bukan karena temanya jelek, bukan karena bahasanya buruk, tapi karena kamu tiba-tiba menciptakan kejadian besar tanpa membangun pondasi. Seperti tukang sulap kelas warung kopi yang menyuruh orang pilih kartu, lalu asal-asalan nebak tanpa trik.

Coba bayangkan ini:

Seorang pria pulang kerja, masuk rumah, dan tiba-tiba istrinya sudah mati, darah di mana-mana. Pembaca kaget? Oh tentu. Tapi bukan kaget yang asyik, melainkan kaget karena tulisanmu asal. Seharusnya sebelum adegan itu terjadi, ada petunjuk. Mungkin pagi tadi si pria melihat pisau dapur yang masih basah, padahal istrinya belum memasak. Mungkin seminggu terakhir si istri sering bicara soal betapa lelahnya dia dengan hidup. Mungkin ada suara aneh dari gudang malam sebelumnya. Itu clue. Itu adalah tanggung jawab seorang penulis. Kalau tidak ada clue, maka itu bukan plot twist. Itu penipuan murahan.

Penipuan yang elegan itu ada seninya. Mari kita bahas sesuatu yang lebih menarik: bagaimana menipu pembaca dengan elegan. Karena menipu memang seru, asal caranya benar. Caranya? Beri petunjuk kecil. Sejumput. Sedikit. Tipis-tipis. Bikin pembaca merasa sudah diberi tahu, tapi tetap tertipu di akhir. Itu seni. Itu teknik. Itu yang bikin ending terasa jleb.

Contoh? Baiklah.

Seorang pria pulang ke rumah, mendapati istrinya duduk diam di meja makan, tidak bergerak. Dia panggil, tidak ada respons. Lalu dia melihat tangan istrinya sedikit gemetar. Tak ada yang aneh. Mungkin dia lelah. Tapi kemudian dia perhatikan, satu piring di meja kosong, hanya ada sisa saus. Masih tak ada yang aneh? Tapi kenapa tak ada bekas sendok?

Kalau kamu jeli, kamu sudah menyelipkan tanda-tanda: istrinya baru saja melakukan sesuatu. Dia gugup. Ada piring kosong, tapi tidak ada sendok. Kalau pembaca cukup cerdas, mereka mulai curiga, apa yang baru dia makan? Atau, siapa yang baru dia makan?

Itu cara menipu yang benar. Kamu memberi pembaca kesempatan untuk sadar lebih dulu, tapi tetap menggiring mereka ke jebakan yang kamu rancang.

Tanpa elue, ending itu khayal. Ending cerita yang bagus bukan tentang mengejutkan pembaca dengan sesuatu yang tiba-tiba. Ending bagus adalah ketika pembaca merasa, ”Ah sial, aku seharusnya menyadarinya lebih awal!” Ending yang kuat adalah ending yang sejak awal sudah mengandung benih kejutan itu sendiri.

Contoh Buruk: Seorang anak perempuan ceria tiba-tiba membunuh semua temannya tanpa alasan.

Contoh Cerdas: Seorang anak perempuan ceria yang sejak awal selalu membawa boneka kelinci yang bulunya mulai berubah warna. Dari putih, jadi sedikit merah muda, lalu semakin pekat, sampai akhirnya kita sadar, itu bukan kotoran, itu darah.

Dengan clue yang halus, ending menjadi pukulan telak. Tanpa clue, ending cuma jadi gimik murahan.

Menulis itu bukan kejutan murahan. Jadi, mulai sekarang berhenti jadi penulis arogan yang merasa bisa menjatuhkan petir kapan saja tanpa sebab. Kamu bukan Zeus. Kamu bukan Tuhan. Kamu hanya seorang pencerita, dan sebagai pencerita, kamu bertanggung jawab untuk merangkai kisah dengan petunjuk yang benar.

Menulis tanpa clue itu bukan keren. Itu norak. Itu menipu tanpa etika. Itu membuat ceritamu seperti makanan instan yang rasanya hambar meskipun baunya menarik. Jadi, kalau mau nulis kejutan, belajar dulu cara bikin kejutan yang berkelas. Karena kalau tidak, pembaca akan muak dan kamu akan tetap menjadi penulis yang dikutuk karena membodohi orang dengan cara yang malas. [] Redaksi

Dunia Buku

Negara dalam Halaman yang Hilang

Pagi ini, aku terbangun dengan satu pikiran yang mengganggu: aku ingin membaca buku X. Entah kenapa, keinginan itu begitu kuat seakan-akan ada yang berbisik dalam mimpiku, “Cari buku itu. Bacalah.” Aku yakin aku memilikinya. Aku bahkan bisa mengingat dengan jelas sampulnya, letaknya di rak, bahkan aroma khas kertasnya yang mulai menua

Tapi saat aku mencarinya, buku itu tidak ada di tempat yang seharusnya. Pencarianku berubah menjadi ekspedisi yang melelahkan. Rak buku dibongkar, tumpukan dibalik, lemari digeledah. Hingga sore hari, ketika aku hampir menyerah, akhirnya aku menemukannya, terjepit di antara dua buku lain seakan malu-malu ingin ditemukan.

Aku membuka halaman pertama. Kata-kata di dalamnya langsung membawaku ke dunia lain, membuatku lupa waktu. Hingga sampailah aku di halaman 64. Aku menghela napas, bersiap untuk lanjut ke halaman 65, dan di sanalah kemarahanku meledak. Halaman 65 dan 66 hilang. Lenyap!

Sekian jam aku mencari buku ini, hanya untuk menemukan bahwa ada bagian yang hilang. Kenapa aku tidak mengeceknya sejak awal? Kenapa aku harus tahu setelah aku sudah tenggelam dalam cerita? Kenapa, dari semua halaman yang bisa hilang, justru halaman yang mungkin penting?

Dan inilah ironi yang menyakitkan: hilangnya beberapa halaman buku ini terasa begitu akrab. Ini bukan sekadar kelalaian penerbit atau kesalahan percetakan. Ini adalah metafora dari negeri ini, di mana ada bagian-bagian yang hilang secara misterius.

Halaman yang hilang dalam sejarah. Bukankah banyak kejadian dalam sejarah bangsa ini yang seperti halaman 65 dan 66 itu? Hilang tanpa jejak, atau sengaja dihilangkan? Kita diajari sejarah di sekolah, tetapi hanya sebagian. Banyak yang disensor, dibelokkan, atau ditutupi. Generasi muda tumbuh dengan pengetahuan yang setengah-setengah, ibarat halaman yang hilang itu tidak pernah ada. Kasus pembantaian, peristiwa kelam, rekayasa politik, semuanya seperti lembaran buku yang sudah dicabut sebelum sempat dibaca. Ketika kita bertanya, jawabannya selalu sama: “Itu tidak penting.” Atau lebih parah: “Itu tidak pernah terjadi.”

Halaman yang hilang dalam kehidupan petani. Di sawah-sawah, petani kita juga hidup dengan halaman yang hilang. Mereka menanam padi, tetapi hasilnya tidak mereka nikmati. Harga gabah anjlok, pupuk sulit didapat, tanah semakin sempit. Mereka tahu cara bertani, tapi halaman tentang bagaimana menikmati hasilnya telah dihapus dari buku kehidupan mereka. Pemerintah? Ah, mereka hanya membaca halaman-halaman yang menguntungkan mereka sendiri.

Halaman yang hilang dalam pemerintahan. Setiap kali pemerintah bicara soal pembangunan dan kemajuan, ada bab yang hilang dalam narasi mereka. Bab tentang rakyat kecil yang tidak pernah diundang dalam pesta kemajuan. Bab tentang janji-janji yang hanya sebatas suara kampanye. Bab tentang dana bantuan yang raib sebelum sampai ke tangan yang membutuhkan.

Kita membaca laporan keberhasilan pemerintah, tapi halaman tentang utang negara yang menumpuk? Hilang. Kita membaca berita tentang investasi besar-besaran, tapi halaman tentang tanah rakyat yang digusur? Hilang. Kita membaca tentang pembangunan infrastruktur, tapi halaman tentang siapa yang benar-benar menikmatinya? Hilang.

Hidup dengan halaman yang hilang. Kehidupan kita, pada dasarnya, seperti buku yang kehilangan beberapa halaman penting. Kita hanya bisa membaca sebagian, memahami sebagian, dan sisanya adalah spekulasi. Kita bertanya, tapi tidak ada yang mau memberi jawaban. Kita mencari, tapi yang kita temukan hanya lubang kosong di antara kata-kata.

Mungkin sudah saatnya kita tidak hanya pasrah menerima buku dengan halaman yang hilang. Mungkin sudah saatnya kita menulis ulang bagian yang hilang itu. Atau lebih radikal lagi: mungkin sudah saatnya kita merobek buku lama dan menulis buku baru, buku yang lebih jujur, lebih lengkap, dan lebih berpihak pada mereka yang selama ini hanya jadi catatan kaki dalam sejarah. Atau kita bisa diam saja. Seperti buku X ini, yang tetap kubiarkan terbuka di halaman 64, tanpa niat mencari halaman berikutnya. Toh, begitulah kita diajarkan: menerima saja, meski ada bagian yang hilang. [] Redaksi