Katalog

Dunia Buku

Buku Pertama

Jika buku bisa bicara, mereka tentu akan sepakat dengan kalimat don’t judge a book by its cover. Sebenarnya, buku itu sama persis seperti manusia: tidak bisa memilih terlahir dari siapa, berwarna apa, serta bernasib bagaimana. Mungkin justru lebih tepat jika buku-buku itu sendiri yang mengatakan kalimat saktinya di depan manusia. Syukur-syukur berhadapan, jadi bisa adu lama main melotot-melototan. Siapa yang lebih dulu berkedip, dialah yang kalah.

Beruntung buku memang tak bisa bicara secara langsung. Coba bayangkan jika mereka bisa menyuarakan dirinya. Mungkin buku kumpulan cerpen Cara Jitu Korupsi akan jadi salah satu utusan rakyat yang berhasil duduk di kursi parlemen. Atau novela Tugasmu Hanya Bersolek akan menjadi brand ambassador produk kosmetik dari Korea. Persaingan akan ada di mana-mana. Manusia versus buku. Mungkin buku-buku itu akan menjambak rambut manusia. Lalu manusia akan membalas dengan merobek-robek halaman buku sampai hancur. Atau bisa saja keduanya justru saling mendukung satu sama lain hingga terciptalah persahabatan bagai kepompong.

Ada lagi kesamaan manusia dengan buku. Mereka punya kelebihan dan kekurangan. Tentu kelebihan dan kekurangan itu sangat relatif. Pada dasarnya, buku juga ingin diperhatikan. Masing-masing buku di atas rak selalu berharap untuk dilirik, dipegang, lalu dibawa pulang. Mereka ingin jadi nomor satu. Meski setelahnya, mereka harus bisa menerima kenyataan perihal nasib: terus dibaca, disimpan, atau justru berpindah tangan. Tapi bagaimanapun, mau tidak mau, suka tidak suka, sampul tetap akan menentukan jalan hidup buku-buku itu berikutnya. Seperti manusia yang diciptakan berpasang-pasangan, buku juga kelak akan menemukan jodohnya.

Seseorang pada akhirnya pasti memiliki alasan untuk memilih sebuah buku. Ada yang memilih memang karena butuh: sedang merintis usaha warung, maka beli buku resep sambal dan masakan. Ada yang memilih karena penasaran: suka cerita-cerita horor, lalu beli novel tentang misteri dan pembunuhan. Bahkan ada juga yang pada akhirnya menentukan pilihan karena dijodohkan, misalnya wajib menggunakan buku dengan judul tertentu sebagai penunjang pendidikan atau pekerjaan.

Namun, di antara tumpukan buku yang berjejer rapi di rak toko, selalu ada satu buku yang akhirnya terpilih sebagai buku pertama. Buku pertama yang menemani perjalanan seseorang dalam dunia literasi. Buku pertama yang mungkin dibeli dengan uang tabungan sendiri. Buku pertama yang mungkin membuat seseorang jatuh cinta pada membaca. Buku pertama yang membuat seseorang tersadar bahwa ada dunia lain yang lebih luas dari sekadar rutinitas sehari-hari.

Buku pertama mungkin bukan menjadi buku yang paling disuka. Bisa jadi, isinya terasa membosankan atau sulit dipahami. Tapi buku pertama akan selalu bisa meninggalkan kesan bagi pembacanya. Layaknya ciuman pertama bersama kekasih, penuh kejutan dan menggelora. Ada rasa penasaran, ada sedikit kegugupan, tapi ada juga kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Seiring berjalannya waktu, koleksi buku bertambah, rak mulai penuh, dan pilihan bacaan berubah. Namun, buku pertama akan selalu punya tempat istimewa di hati. Ia adalah pintu gerbang menuju petualangan baru, guru pertama, dan saksi bisu perjalanan seseorang dalam menemukan dunia yang lebih luas dalam lembaran kata. Jadi, buku pertama kamu apa? [] Redaksi

Dunia Buku

Pembatas Buku

Pernahkah kamu mendadak urung membaca buku hanya karena hal-hal sepele? Seperti posisi duduk yang kurang nyaman. Tetangga karaoke dangdut koplo, padahal kamu lebih suka membaca dengan iringan musik keroncong. Pencahayaan ruangan terlalu terang seperti di acara kondangan, atau terlampau temaram bak candle light dinner di restoran. Atau persediaan kopi di lodongmu telah habis. Tidak apa-apa. Hal seperti itu lumrah dan sangat wajar terjadi.

Membaca itu perlu amunisi, dan amunisi itu tidak harus hal-hal yang bersifat motivasi. Terkadang mood itu swing: sepoi-sepoi seperti angin di pegunungan, lalu mendadak hujan badai hingga mampu merobohkan pohon kelapa yang berdiri tegak sekokoh tekadmu mendekati gebetan. Jadi, membaca bukan sekadar kemauan, tapi juga kenyamanan. Masalahnya, level nyaman setiap orang berbeda-beda, tidak seperti siaga 1-2-3 pada letusan gunung berapi yang sudah punya standar sendiri. Untuk bisa berada di level gemar membaca buku apa saja dan di mana saja, memang tak butuh bakat, melainkan jam terbang.

Salah satu benda kecil yang sebenarnya bisa dibilang penting dan tidak penting adalah pembatas buku. Sering kita melihat seseorang melipat ujung halaman buku untuk menandai sampai di mana kita membaca. Semakin sering jeda membaca, maka semakin banyak juga bekas-bekas lipatan di lembaran buku. Kalau buku itu milik sendiri sih suka-suka hati ya. Bagaimana kalau itu buku pinjaman? Bisa-bisa dianggap tidak bisa menempatkan diri.

Membaca itu hampir serupa dengan menonton film di rumah. Akan selalu ada gangguan. Baru menonton drama korea 20 menit, tetangga ketok pintu minta tolong diantar ke bengkel karena sepeda motornya rusak. Otomatis, harus pause dulu dong. Sama halnya saat membaca. Baru saja membalik halaman ke-7, tiba-tiba ponsel berdering. Kalau hanya panggilan dari agen asuransi atau kartu kredit, mungkin bisa dipercepat. Tapi bagaimana kalau dari pacar? Tentu butuh waktu berjam-jam yang pada akhirnya membuat buku harus kembali terabaikan. Di sinilah peran pembatas buku menjadi penting.

Pada satu kesempatan, seseorang bisa menggunakan media apa pun untuk menggantikan peran itu. Pulpen, penggaris, daun, juga kertas. Apa saja bisa. Bahkan kalau kamu termasuk orang yang susah move-on, foto mantan juga bisa dipakai sebagai pembatas buku. Tentu saja efek samping ditanggung sendiri oleh pelaku.

Sayangnya, setiap buku belum tentu ada pembatasnya. Jadi bagi pembaca yang memang menganggap pembatas buku ibarat micin di kuah bakso, maka selalu ada cara untuk bisa menyimpan jeda baca tanpa harus merusak buku: entah itu terlipat, tercoret, atau kotor. Dan yang paling penting, pembatas buku itu seperti asisten pribadi: tidak pernah protes menunggu, bahkan cekatan menunjukkan dengan segera di bagian mana kita harus mulai kembali membaca. [] Redaksi

Dunia Menulis

Lubang Kunci

Judul itu ibarat bungkus jajanan di minimarket. Kalau kemasannya menarik, kita ambil. Kalau polos dan terlihat biasa aja, kita lewati. Tapi di dunia menulis, judul lebih dari sekadar bungkus. Judul adalah portal ke dalam semesta cerita. Ia adalah lubang kunci kecil tempat pembaca mencoba mengintip, penasaran, lalu akhirnya tergoda buat nyelonong masuk.

Tapi masalahnya, kapan kita harus menentukannya? Apakah sebelum mulai menulis, seperti orang tua yang sudah menyiapkan nama anaknya bahkan sebelum si anak lahir? Atau di akhir, setelah semua cerita rampung dan kita baru sadar, Oh, ini ternyata kisah tentang tukang cilok yang terjebak maut?

Banyak penulis menganggap judul sebagai gerbang sakral, yang harus muncul lebih dulu sebelum menulis sepatah kata pun. Tapi mari kita jujur, siapa yang belum pernah mengalami ini: duduk di depan laptop, niat nulis, tapi malah bengong sejam gara-gara mikirin judul? Sementara, plot yang sudah kepikiran di kepala malah lari-lari kayak ayam lepas. Maka dari itu, aku tegaskan: judul tidak harus lahir duluan.

Judul bisa muncul kapan saja. Di tengah menulis, saat inspirasi tiba-tiba menyapa. Atau di akhir, saat kita baru sadar kalau cerita yang kita buat ternyata bukan tentang cinta segitiga, tapi lebih mirip kisah perseteruan antara kucing dan sandal jepit.

Dan tolong, jangan jadikan judul sebagai spoiler berjalan, karena kenikmatan membaca bisa berkurang jika isi ceritanya sudah diberitahu melalui judulnya. Meski cerita tidak harus melulu mengandung kejutan, setidaknya kita bisa berikan judul yang menggoda, misalnya: Petaka di Tanggal 17. Bikin orang bertanya-tanya, penasaran, dan akhirnya tergoda untuk membaca.

Ada juga yang terlalu serius dalam urusan judul. Mereka ingin judul yang terkesan pintar, puitis, atau filosofis, sampai akhirnya malah sulit dipahami. Misalnya memberi judul dari rangkaian kata-kata canggih: Reinkarnasi Metaforis Dialektika Eksistensialisme. Apakah boleh? Tentu tidak ada larangan tapi perlu dipertimbangkan, cerita itu akan ada di mana dan untuk siapa. Jika cerita itu berada di buletin kampung, tentu saja pembaca biasa bisa pingsan duluan sebelum masuk ke isinya.

Sebaliknya, ada yang terlalu pasrah. Menulis cerita penuh aksi dan ketegangan, tapi judulnya cuma: Perjalanan. Ini mau mengajak pembaca ikut petualang atau mengajak tidur siang? Padahal, judul bisa menjadi jebakan yang menyenangkan. Misalnya, cerita horor tapi judulnya: Bibi Senang Berkebun. Awalnya terdengar damai, tapi ternyata bibi itu berkebun kepala manusia. Atau cerita romansa dengan judul: Aku, Dia, dan Sebuah Bakso Dingin. Judul yang absurd bisa membuat pembaca penasaran, apakah ini cerita cinta yang indah, atau kisah tragis karena si bakso dingin bisa mewakili perasaan yang sudah mati.

Jadi, mari kita setuju: judul itu penting, tapi jangan dibuat terlalu sakral. Biarkan judul bermain, menggoda, bahkan menipu dengan cara yang menyenangkan. Karena pada akhirnya, tugasnya cuma satu, membuat pembaca mau masuk. Dan kalau sudah masuk, semoga mereka tidak menyesal. [] Redaksi

Dunia Menulis

Bukan Ilmu Gaib

Sebelum masuk lebih dalam perihal menulis, kita perlu memahami pengertian berikut, agar semua orang merasa sama. Di luaran sana ada anggapan bahwa menulis adalah bakat mistis. Seperti ilmu gaib yang cuma bisa dikuasai oleh segelintir orang pilihan. Atau pendapat, menulis itu hak istimewa bagi mereka yang punya ritual khusus atau garis keturunan sastrawan. Orang-orang bertanya, “Gimana sih caranya biar bisa nulis kayak kamu?” dengan nada seakan aku ini dukun yang menyimpan rahasia besar di balik jubah kebesaran.

Menulis adalah soal kerja keras, latihan, dan belajar terus-menerus.  Sesederhana itu. Kalau kamu ingin bisa menulis, ya menulislah. Jangan menunggu datangnya ajian seperti saat petir menyambar-nyambar. Sebab kalau menunggu, kamu hanya akan berakhir dengan halaman kosong dan perasaan bersalah karena tidak menghasilkan apa-apa. Inspirasi itu sering kali lahir dari kebiasaan. Semakin sering menulis, semakin mudah otak menemukan pola, menangkap ide, dan merangkai kata.

Dengar, menulis itu bukan hasil bertapa di gunung tujuh purnama atau puasa mutih sampai bisa melihat hal-hal yang tak tampak. Tidak ada ritual khusus, tidak ada mantra sakti. Kalau kamu mengira keahlian menulis bisa turun dari langit seperti wahyu, maaf, yang bakal turun justru ketombe karena kebanyakan berharap.

Jangan percaya kalau ada yang bilang hanya orang-orang tertentu yang bisa menulis. Bahwa kepandaian menulis hanya milik mereka yang punya ekspresi muram, pakai kacamata tebal, dan suka termenung di pojokan kafe dengan secangkir kopi hitam.

Tidak.

Menulis itu otot, bukan sihir. Kalau tidak dilatih, ya lemas. Sama seperti gym. Bayangkan ada orang bertanya, “Gimana sih caranya biar punya otot kayak kamu?” terus dia berharap dikasih ramuan ajaib supaya besok langsung punya six-pack. Sungguh konyol. Latihanlah, Bro! Otot tidak tumbuh dari doa dan mimpi. Begitu juga dengan tulisan.

Tapi banyak yang maunya shortcut. Mau bisa nulis tanpa repot belajar. Mau jadi penulis, tapi alergi membaca. Mau terkenal, tapi malas latihan. Seakan dengan modal duduk termenung di kafe dan minum kopi hitam tanpa gula, tiba-tiba bakal bisa menulis novel kelas dunia.

Lagi pula, kepandaian menulis bukan cuma buat orang-orang tertentu yang tiap hari menatap jendela dengan tatapan sendu. Bukan pula hak eksklusif mereka yang sejak kecil sudah menulis puisi patah hati padahal belum pernah pacaran. Menulis itu buat siapa saja yang niat dan mau capek. Milik mereka yang rela mengetik lalu menghapus, lalu mengetik lagi sampai jari pegal dan kepala pening. Milik mereka yang tidak malas membaca dan terus belajar memahami zaman. Sebab dunia berubah, dan menulis bukan sekadar menuangkan isi kepala, tapi juga soal bagaimana menangkap realitas dan menuangkannya dengan cara yang menggugah.

Menulis itu tidak jera berusaha, bukan ilmu gaib. Karena ada saatnya kita hanya menatap layar kosong selama satu jam tanpa satu kata pun keluar. Ada saatnya kalimat yang ditulis terasa lebih jelek daripada surat tilang. Ada saatnya naskah yang sudah susah payah ditulis, ketika dibaca ulang dan disadari bahwa isinya sampah.

Kalau kamu mau bisa nulis, ya menulislah. Tidak perlu meditasi. Tidak perlu membakar dupa. Tidak perlu menanti mimpi didatangi roh leluhur yang membisikkan diksi-diksi puitis ke telingamu. Cukup duduk, mulai mengetik, dan terima kenyataan bahwa tulisan pertamamu mungkin lebih hancur daripada chat mantan yang ngajak balikan. Sama seperti pekerjaan lain, sekali lagi ada masa-masanya sulit. Ada waktunya ketika tulisan terasa buruk, ketika ide terasa mandek, ketika setiap paragraf terasa seperti comberan. Tapi orang yang benar-benar ingin bisa menulis tidak akan menggerutu. Hal itu bagian dari proses.

Jadi kalau kamu ingin bisa menulis, jangan sibuk bertanya, “Apakah aku berbakat?” Itu pertanyaan yang tidak penting. Yang lebih penting adalah, “Seberapa keras aku mau berlatih?” Terus berlatih, sedikit demi sedikit tulisanmu akan membaik. Karena menulis, lagi-lagi bukan ilmu gaib. Ia tidak datang dalam kilatan cahaya, melainkan tumbuh dari kebiasaan, kegagalan, dan keinginan terus mencoba.

Jadi, kalau masih ada yang tanya, “Gimana caranya biar bisa nulis?” jawab dengan santai: “Nulis. Gitu doang.” Kepandaian menulis bukan hak istimewa. Kepandaian menulis adalah milik mereka yang memilih untuk terus menulis, terlepas dari seberapa kacau tulisan pertama, kedua, atau bahkan yang keseratus mereka. [] Redaksi

Dunia Buku

Romantisisme di Perpustakaan

Bagi generasi milenial ke atas, perpustakaan bisa jadi rekomendasi tempat paling asyik untuk nongkrong. Tapi jangan harap bisa sambil merokok atau ngopi, apalagi ngomongin si A yang habis beli Z, atau si B yang lagi patah hati. Biasanya, murid yang berhasil lewat pintu perpustakaan selalu punya alasan kuat. Meski tak sekuat Gatotkaca.

Aturan pertama, di perpustakaan tidak diperbolehkan makan dan minum. Hal itu bisa dimanfaatkan untuk mengalihkan perhatian. Kadang orangtua memang sengaja kasih uang saku mepet. Saking mepetnya sampai habis di jam istirahat pertama. Supaya tidak dianggap tak tahu diri karena keseringan incip-incip jajanan teman, maka masuk perpus akan lebih terhormat. Tinggal pilih buku tebal acak di rak. Ambil tempat di pojokan. Lalu duduk manis, taruh buku di atas meja, maka jadilah bantal keras paling nyaman untuk tidur. Jangan cemas jika tidak ada yang membangunkan. Suara bel tanda masuk biasanya lebih sumbang dan mengagetkan dari bentakan kepala sekolah saat lupa memakai sepatu warna hitam waktu upacara.

Aturan kedua, meminjam buku maksimal hanya 2 dan harus kembali dalam seminggu. Kalau ini bisa untuk sekadar gaya-gayaan. Dulu, cewek yang suka baca biasanya jadi idola. Apalagi cantik. Apalagi pintar. Wah, kalau sudah begitu biasanya akan jadi rebutan. Slogan “siapa cepat dia dapat” akan tiba-tiba menghantui pikiran-pikiran cowok. Kadang, mereka main halus. Sengaja ikut-ikutan masuk perpus untuk pinjam buku, 2 lagi, biar si cewek terkesan. Kalau perlu, buku yang judulnya agak berat, jadi akan maklum kalau tidak pernah berhasil terbaca tuntas yang akhirnya kena denda karena lupa mengembalikan tepat waktu.

Aturan ketiga, wajib mengganti jika buku hilang. Nah ini, biasanya kalau sudah suka dengan 1 buku, apalagi novel, pengarangnya terkenal, lebih lagi pujaan hati ngefans. Kadang pikiran bisa jauh lebih pendek dari akal. Demi bisa punya koleksi novel keren, hilang bisa jadi alasan untuk tidak mengembalikan. Tinggal pasang muka paling melas dan penyesalan mendalam, biasanya penjaga perpus akan luluh. Paling banter hanya akan kasih denda, dan nominalnya pasti di bawah harga buku itu. Biasanya sih, murid-murid begini sudah bestie-an dengan penjaga perpus.

Aturan keempat, di perpustakaan tidak boleh berisik. Lagi-lagi soal perasaan. Pedekate generasi milenial ke atas itu ibarat puisi: singkat, padat, tapi penuh arti. Tidak perlu banyak bicara, cukup tatapan mata dan senyuman tipis sudah bisa menjadi bahasa paling lugas bagi dua sejoli yang sedang di mabuk asmara. Bahkan, buku-buku puisi Chairil Anwar yang tergeletak di atas meja, tidak menarik lagi untuk dibaca. Karena apa yang ada di depan mata jauh lebih puitis dan memabukkan.

Percayalah, perpustakaan memang memiliki sisi semanis itu. Meski kadang banyak sekolah selalu menempatkan ruang perpustakaan di sudut paling jauh, hingga tampak menyeramkan layaknya rumah kosong. Tapi buku-buku yang terlihat masih bersampul rapi, dengan bangku dan meja yang hampir selalu tak pernah penuh sesak, menyimpan banyak kenangan dan kenakalan-kenakalan masa sekolah. Jadi, jika ada di antara kalian masuk generasi Z, apakah kalian pernah punya pengalaman semacam itu di perpustakaan? [] Redaksi

Dunia Buku

Buku Bukan Jendela Dunia?

Dulu, orang yang hobi baca dijuluki kutu buku. Identik dengan kacamata tebal, rambut lepek, dan kehidupan sosial yang sekering daun gugur. Tapi zaman sudah berubah, Bung! Sekarang, orang berkacamata belum tentu doyan baca, bisa jadi cuma buat gaya atau sekadar menutupi mata panda akibat begadang nonton serial. Lagipula, siapa sih yang masih ribet bawa buku tebal kalau semua bisa diakses lewat gawai?

Buku fisik mulai tergeser. Baca berita? Tinggal buka portal online. Butuh resep masakan? Google punya segalanya. Mau baca novel? E-book banyak, audiobook lebih praktis, tinggal dengerin sambil rebahan. Bahkan ada yang malas baca tapi pengen pintar, akhirnya cuma ngandelin thread X atau video singkat yang katanya mencerahkan. Tanpa perlu khawatir buku lecek, terlipat, atau kena tumpahan kopi. Cuma satu musuh: baterai habis!

Tapi tunggu dulu, bukan berarti buku musnah dari peredaran kayak dinosaurus. Masih ada perpustakaan, toko buku, dan kios buku bekas yang setia menunggu pembeli. Sekolah pun masih pakai buku paket dan LKS, meski muridnya lebih sering mengandalkan hasil copy-paste dari internet. Intinya, buku fisik dan digital punya penggemarnya masing-masing. Tidak ada yang lebih unggul, semua tergantung selera dan kebutuhan.

Dulu kita percaya, membaca adalah jendela dunia. Sekarang? Jendelanya udah makin banyak: podcast, video, infografis, bahkan komentar-komentar netizen yang kadang lebih seru dari berita utamanya. Setiap orang punya cara sendiri untuk menyerap informasi. Ada yang suka membaca dalam diam, ada yang lebih nyaman mendengar orang lain bercerita, ada juga yang tidak bisa diam sambil baca, harus sambil ngemil atau goyang-goyang kaki.

Bahkan dunia pendidikan yang dulunya bergantung pada buku cetak, sekarang sudah mulai beralih ke materi digital. Tugas sekolah bisa diketik di Google Docs, PR tinggal difoto pakai aplikasi, dan kalau malas membaca, ada AI yang bisa merangkum isi buku dalam hitungan detik. Dengan kemudahan ini, buku cetak memang makin tersingkir, tapi bukan berarti kehilangan makna.

Meski begitu, buku tetap punya nyawa. Dia bukan sekadar benda mati yang tergeletak di rak. Buku bisa menyimpan sejarah, mengabadikan cerita, dan menjadi saksi perjalanan peradaban. Hidup ini memang tentang hari ini, tapi buku bisa membawa kita ke masa lalu dan masa depan dalam sekejap. Dan yang menarik, buku tidak pernah memaksa dibaca. Dia cuma diam, menunggu seseorang membukanya. Seperti jendela kamar, kadang dibuka lebar, kadang ditutup rapat. Semua tergantung penghuninya, mau menikmati udara segar atau betah dalam kegelapan sendiri?

Pada akhirnya, membaca tetap menjadi cara terbaik untuk memahami dunia, entah itu lewat buku fisik atau digital. Yang penting, jangan sampai kita lebih sering membaca komentar media sosial ketimbang buku. Karena kalau begitu, yang ada bukan membuka jendela dunia, tapi malah nyangkut di jendela gosip dan hoaks! [] Redaksi

Dunia Menulis

Kisah Bangsat yang Tak Butuh Penebusan

Orang sering berkata, “Tulis yang indah-indah, yang menginspirasi, yang penuh harapan.” Seakan-akan menulis hanya boleh menjadi lentera di tengah gelap. Tapi bagaimana kalau justru yang ingin kutulis adalah kegelapan itu sendiri? Bagaimana kalau aku ingin menulis tentang luka yang membusuk, bukan yang sembuh? Tentang tokoh yang tidak bangkit dari keterpurukan, melainkan tenggelam lebih dalam, mencium dasar kehancuran tanpa ada tangan yang menariknya naik?

Menulis adalah cermin. Dan cermin tidak selalu menampilkan wajah yang cantik. Kadang-kadang ia memantulkan wajah seseorang yang baru bangun tidur, dengan rambut acak-acakan dan mata bengkak karena tangisan semalam. Kadang ia menampilkan noda yang sudah kita coba hapus, tapi tetap ada di sana, membandel, mengingatkan bahwa beberapa hal memang tidak bisa dihapus begitu saja.

Kenapa cerita harus berakhir bahagia? Kenapa tokoh utama harus menemukan makna hidupnya di akhir cerita? Bagaimana kalau ia justru makin tersesat? Bagaimana kalau, di halaman terakhir, ia tidak menjadi lebih baik, tapi lebih buruk? Kita suka berpura-pura bahwa dunia ini penuh harapan, padahal kita tahu tidak semua orang mendapat akhir yang baik. Tidak semua korban mendapatkan keadilan. Tidak semua cinta menemukan jalannya. Tidak semua luka bisa sembuh.

Dan itu tidak apa-apa.

Kadang, menulis kisah buruk justru lebih jujur. Menulis tentang seseorang yang berusaha melawan hidup, tapi tetap kalah. Tentang seseorang yang mencintai, tapi dikhianati. Tentang seseorang yang memimpikan sesuatu, hanya untuk melihatnya hancur di depan mata. Dunia nyata penuh dengan itu semua, dan menulisnya bukanlah dosa. Justru, menulis adalah cara untuk tidak berpaling dari kenyataan.

Barangkali ada yang berkata, “Tapi bukankah kita harus menyebarkan hal baik?”

Tentu, jika itu yang ingin kau tulis. Tapi jangan paksakan semua tulisan untuk menjadi pelipur lara. Sebab dunia ini tidak hanya tentang yang baik-baik saja. Dunia juga milik mereka yang gagal, mereka yang jatuh, mereka yang dikhianati, mereka yang memilih mengakhiri hidupnya karena tidak kuat lagi.

Menulis bukanlah pekerjaan untuk menutup-nutupi kenyataan. Kadang ia harus menjadi pisau yang mengiris, menunjukkan luka dengan kejujuran yang menyakitkan. Dan kalau itu terasa menyesakkan, mungkin karena kita tidak terbiasa melihat kenyataan tanpa filter.

Tapi menulis bukan untuk membuat nyaman. Menulis adalah untuk membuat kita merasa sesuatu—apa pun itu. Bahkan jika yang kita rasakan adalah sesak, kecewa, atau bahkan marah.

Jadi kalau kau ingin menulis kisah yang buruk, yang pahit, yang tidak ada pembelajaran moral di ujungnya, yang tidak memberikan secercah harapan… silakan. Tidak ada yang melarang. Karena menulis bukan hanya soal memberikan harapan. Menulis adalah soal merekam kenyataan—bahkan yang paling bangsat sekalipun. [] Redaksi

Dunia Menulis

Saat Remeh-temeh Menjadi Emas

Orang sering berpikir bahwa ide tulisan harus datang dari wahyu besar. Seakan-akan kalau bukan tentang revolusi dunia, cinta yang menggetarkan semesta, atau perjalanan heroik melawan monster berkepala tujuh, maka idenya tidak layak ditulis. Padahal, seringkali, yang paling menarik justru hal-hal remeh yang biasanya kita abaikan begitu saja.

Coba lihat sekeliling. Apa yang ada di depanmu sekarang? Segelas kopi yang mulai mendingin? Kenapa kopi selalu dibiarkan dingin saat orang sibuk? Apakah kopi yang dingin itu merasa tidak dihargai? Bisa saja ada teori konspirasi bahwa kopi sebenarnya lebih suka diminum dalam keadaan dingin, tapi manusia yang keras kepala memaksanya untuk tetap panas. Nah, ini bisa jadi ide tulisan.

Atau, pernahkah kamu memperhatikan orang yang mengetik dengan sangat keras di keyboard, seakan mereka sedang marah pada dunia? Apakah mereka sedang menulis email penuh emosi, atau mungkin hanya memainkan Minesweeper dengan penuh semangat? Bisa saja ada cerita tentang seorang hacker yang menulis kode dengan penuh dendam, atau seorang penulis novel yang mengetik keras hanya agar tampak produktif di hadapan orang lain.

Intinya, ide menulis tidak harus berasal dari pengalaman besar. Justru, hal-hal kecil yang sering diabaikan bisa jadi tambang emas bagi tulisan yang unik. Sebuah lampu yang berkedip di kamar? Mungkin ia adalah morse dari dimensi lain. Sebuah sandal jepit yang hilang sebelah? Bisa saja ia bosan dengan pemiliknya dan memutuskan mencari kehidupan baru. Atau mungkin ada sindikat sandal jepit sebelah yang punya ambisi besar perihal pembunuhan?

Kalau kamu masih merasa buntu mencari ide, coba ambil benda acak di dekatmu. Misalnya, tisu. Apa yang bisa ditulis tentang tisu? Seberapa sering tisu terjebak dalam saku baju lalu ikut masuk ke mesin cuci, hancur berkeping-keping, dan menciptakan miniatur badai salju di seluruh pakaian? Apakah tisu punya perasaan dan merasa gagal menjalankan tugasnya?

Menulis itu tidak harus selalu serius. Tidak perlu menunggu momen ketika petir menyambar dan ilham turun dari langit. Cukup lihat sekeliling, pilih hal yang tampak sepele, lalu tanyakan: Bagaimana kalau? Bagaimana kalau stopkontak di rumah punya kepribadian dan selalu bersedih saat tidak ada yang mencolokkan kabelnya? Bagaimana kalau ada spesies kucing yang hobi mencuri kata-kata dari kepala manusia, membuat orang lupa apa yang ingin mereka katakan?

Jadi, kalau kamu ingin mulai menulis, berhentilah mencari “ide besar.” Sebaliknya, mulailah memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin selama ini luput dari perhatian. Ide tidak harus masuk akal sejak awal. Kadang yang paling ngawur justru yang paling menarik. Yang penting, tulis saja dulu. Karena kalau kamu tidak menulis, ide itu hanya akan tetap jadi sekadar ide, dan itu jauh lebih sia-sia daripada segelas kopi yang keburu dingin. [] Redaksi

Sosok

Teaz Sugita: Perjalanan dari PKL Menuju Fashion Desainer

Jika seseorang melihat Teaz Sugita saat ini sebagai seorang fashion desainer yang semakin dikenal di industri mode, mungkin tak banyak yang tahu bahwa perjalanan menuju titik ini penuh dengan lika-liku. Perjalanan Teaz bukanlah kisah instan tentang kesuksesan, melainkan kisah ketekunan, kerja keras, dan perjuangan dari bawah hingga akhirnya berdiri sebagai desainer yang diperhitungkan.

Awal Mula: Cita-Cita yang Terpendam

Sejak kecil, Teaz Sugita sudah memiliki impian besar. Saat masih anak-anak, ia bercita-cita menjadi seorang artis, namun seiring berjalannya waktu, ketertarikannya terhadap dunia fashion semakin kuat. Saat duduk di bangku SMP, ia sudah yakin ingin menjadi seorang desainer. Karena itulah, ia memilih melanjutkan pendidikan di SMK Negeri 4 Surakarta, mengambil jurusan Tata Busana, dan lulus pada tahun 2007.

Namun, menjadi desainer bukanlah jalan yang bisa langsung ia tempuh. Seperti banyak orang lainnya, setelah lulus sekolah, Teaz harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia tidak langsung terjun ke dunia fashion, melainkan mencoba berbagai pekerjaan, mulai dari bekerja di pabrik, menjadi sales elektronik, hingga akhirnya menjadi pedagang kaki lima (PKL) pada tahun 2011.

Membangun dari Nol: Perjuangan sebagai PKL

Menjadi PKL bukanlah pilihan yang mudah, tetapi itulah yang Teaz jalani untuk bertahan hidup dan memperbaiki kondisi finansialnya. Ia berjualan di depan pabrik dari subuh hingga pukul 7 pagi, terkadang harus meninggalkan anaknya yang masih bayi demi mencari nafkah.

Perjuangan sebagai PKL penuh tantangan. Ia pernah mengalami kejadian menyakitkan, seperti dagangannya rusak karena tenda roboh akibat hujan dan angin kencang, bahkan beberapa kali diusir oleh Satpol PP. Namun, semangatnya tidak pernah surut. Baginya, selama usahanya halal dan tidak merugikan orang lain, maka ia akan terus melangkah.

Dari hasil berjualan sebagai PKL, ia sedikit demi sedikit memperbaiki kondisi keuangan. Setelah memiliki cukup modal, ia mencoba membuka usaha di bidang kecantikan dengan membuka salon serta usaha persewaan baju pengantin.

Langkah Menuju Dunia Fashion

Meskipun sibuk dengan usahanya, kecintaannya terhadap dunia fashion tidak pernah pudar. Hampir semua baju yang disewakan dan digunakan dalam usahanya dibuat sendiri. Kualitas karyanya mulai menarik perhatian banyak orang. Dari mulut ke mulut, namanya mulai dikenal sebagai seseorang yang bisa membuat baju pesanan, seragam, hingga kostum-kostum khusus.

Tak hanya itu, Teaz bahkan pernah bekerja di belakang layar dengan membuat produk untuk desainer-desainer senior. Meski namanya belum banyak dikenal saat itu, pengalamannya terus bertambah dan kepercayaan terhadap kemampuannya semakin kuat.

Berani Berdiri Sendiri sebagai Desainer

Setelah bertahun-tahun bekerja di balik layar, akhirnya pada tahun 2020, Teaz memberanikan diri untuk berdiri sebagai seorang fashion desainer. Awalnya, ia hanya membuat baju show untuk anaknya sendiri, namun dari situ ia mulai lebih percaya diri untuk memproduksi karyanya bagi orang lain.

Keputusan ini bukan tanpa risiko, tetapi ia yakin bahwa ini adalah jalannya. Dengan pengalaman bertahun-tahun dan pemahaman mendalam tentang dunia fashion, ia mulai membangun brand sendiri. Tak butuh waktu lama, desain-desainnya mulai mendapat perhatian lebih banyak orang.

Menjadi Nama yang Dikenal di Industri Fashion

Puncak perjalanan Teaz sebagai fashion desainer dimulai pada tahun 2022, ketika namanya semakin berkembang dan dikenal luas di industri fashion. Karyanya semakin diminati, dan ia mulai mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.

Salah satu pengalaman paling membahagiakan dalam kariernya adalah ketika ia mendapat kesempatan untuk mengadakan fashion show bersama artis Abah Lala, di mana ia menjadi salah satu pengisi acara. Momen ini menjadi salah satu pencapaian yang sangat membanggakan baginya, sekaligus menandai bahwa usahanya selama ini telah membuahkan hasil.

Tantangan dan Cobaan dalam Perjalanan

Perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu mulus. Selain tantangan sebagai PKL di awal perjuangannya, Teaz juga pernah mengalami pengalaman pahit dalam bisnis fashion. Salah satu yang paling menyakitkan adalah ketika ia ditipu oleh pelanggan yang membawa kabur pesanan tanpa membayar, dengan nilai kerugian mencapai jutaan rupiah.

Namun, semua cobaan itu tidak membuatnya menyerah. Baginya, setiap kesulitan adalah bagian dari proses. Prinsip hidupnya yang selalu dipegang teguh adalah: Jalani, nikmati, dan syukuri. Selagi halal dan tidak merugikan orang lain, sikat saja!” Sebagai seseorang yang pernah mengalami berbagai rintangan dalam hidup, Teaz memiliki motto yang selalu ia pegang: Bermanfaat yang positif untuk orang lain.

Baginya, keberhasilan bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang bagaimana ia bisa memberikan manfaat bagi orang lain, baik melalui karya-karyanya maupun semangat perjuangan yang ia bagikan.

Dari Impian ke Kenyataan

Perjalanan Teaz Sugita adalah bukti bahwa impian bisa menjadi kenyataan, asalkan diperjuangkan dengan tekad yang kuat. Dari seorang anak yang bercita-cita menjadi desainer, ia menempuh perjalanan panjang—bekerja di pabrik, menjadi sales, berjualan sebagai PKL, hingga akhirnya membangun namanya sendiri di dunia fashion.

Kini, ia terus berkembang dan semakin dikenal di industri fashion. Dengan akun Instagram pribadi @teazsugita_makeover dan akun fashionnya @zimaefashionnew, ia terus membagikan karya-karyanya dan menginspirasi banyak orang untuk berani mengejar mimpi mereka.

Kisah Teaz Sugita adalah pengingat bahwa tidak ada keberhasilan yang instan. Kesuksesan adalah hasil dari perjuangan panjang, ketekunan, dan keberanian untuk terus melangkah meski menghadapi berbagai rintangan. Dan yang paling penting, selama kita tetap menjalani dengan penuh rasa syukur dan tidak merugikan orang lain, maka setiap langkah yang kita ambil akan membawa kita lebih dekat ke impian kita. [] Redaksi