Curhat

Hujan, Nala, dan Sepotong Kangen

Curhat Septi Rusdiyana

Jumat, 29 November 2024.

Sejak pagi, Yogyakarta cerah. Ada rasa percaya diri untuk mengisi daftar hadir ke pertemuan rutin Kamar Kata. Sudah beberapa pekan, setiap sore, di hari yang sama, Negar (anak pertamaku) kerap bertanya, “Ibuk nggak ke Kamar Kata?”

Aku tahu pertanyaan itu sebenarnya selalu ingin mendapat jawaban tidak dariku. Tapi sore ini, ketika melihatku mengisi list, ia hanya bilang, “Inget ya, Buk, besok aku ikut jemput ke stasiun. Jadi jangan ke mana-mana sebelum aku nyampek.”

Aku menjawab dengan anggukan. Tentu saja aku cukup kaget karena itu kali pertama ia memberi respons begitu. Biasanya, aku harus menggunakan trik dan ritual khusus sebelum meninggalkan anak-anak. Dan syarat untukku mendapat izin dari suami pastilah soal anak-anak.

“Asal anak-anak aman (red: tidak rewel),” jawab suamiku.

Semua terlihat lancar. Sampai menjelang jam 7 malam, gerimis mulai turun. Nala (anak keduaku) sudah panik. Ia yang sebelumnya bermain di rumah utinya, berlari masuk ke rumah. Gegas ditutup semua pintu dan jendela. Saat hujan menderas, ia berteriak, “Ibuk tolong.” Nala mendekat dan mengajakku masuk ke kamar. “Gimana doanya biar nggak jadi hujan?” katanya lagi. Ia sudah hampir menangis.

Aku menuntunnya membaca doa yang kubisa. Nala mengikuti. Saat hujan tak juga reda, ia menangis. Aku berusaha menenangkannya. Ya, tantanganku selama musim hujan 2 tahun terakhir adalah mendampingi Nala. Aku tidak tahu apa yang membuatnya takut hujan. Padahal sejak kecil, aku sering membiarkannya bermain hujan di depan rumah bersama Negar. Jika tahun lalu ia hanya ingin dipeluk dan dikeloni hingga tertidur. Reaksinya kali ini berubah. Agresif dan sangat ketakutan. Terlebih jika ada aku di rumah. Sepertinya di depan orang lain (kakung utinya) ia masih bisa bertahan. Karenanya, aku akhirnya kembali izin di grup untuk tidak berangkat.

Sering aku memberi sugesti pada Nala dengan mengatakan beberapa kalimat baik terkait hujan. Hujan adalah anugerah dari Tuhan. Jika tidak ada hujan maka manusia, tumbuhan dan binatang bisa mati kehausan. Juga, hujan itu bukan sesuatu yang buruk hingga harus dihindari. Tapi Nala tak pernah merespons. Jika aku beruntung, ia bisa lekas tenang lalu tertidur. Tapi malam ini ia sepertinya belum terlalu mengantuk. Jadi aku membiarkannya meluapkan kecemasannya hingga tangisnya berhenti.

“Mbak Nala kenapa takut hujan?” tanyaku usai anak itu kembali tenang. Aku menyerahkan sekotak susu vanila yang baru saja kuambil dari kulkas. Di luar menyisakan gerimis.

“Aku pernah ketemu iblis,” jawab Nala sambil duduk dan meraih susu dari tanganku. “Iblisnya bilang gini: Aku datang pas hujan. Ayo temenan sama aku! Aku kan nggak mau. Makanya aku kunci pintu sama jendela biar iblis nggak bisa masuk,” sambungnya.

Aku bertanya padanya kapan iblis itu menemuinya, namun tidak mendapat jawaban. Ia sibuk menghabiskan minumannya.

“Hujan itu temennya iblis.” Nala bangkit dan menuju jendela ruang tamu. Ia mengatakan kalau gerimis itu baik, jadi ia akan kembali bermain ke rumah utinya.

Nala memang agak lain dari Negar. Meski sama-sama kelebihan energi, pikiran dan imajinasi Nala lebih terbuka. Jika Negar mudah diberi pengertian akan sesuatu, Nala lebih suka protes. Ia juga tidak suka diberi semangat saat melakukan sesuatu. Ia cenderung melakukan apa yang disenanginya dengan suka-suka.

Aku akan memberitahu beberapa kerandoman Nala yang sering membuatku geleng-geleng kepala. Ia pernah sembunyi-sembunyi naik ke lantai 2 rumah. Memanjat balkon dan bersandar pada pojokan pagar. Aku mengetahuinya saat utinya tiba-tiba berteriak memanggilku, “Ya Allah, Ti. Anakmu gandulan neng pager (Ya Allah, Ti. Anakmu gelantungan di pagar).”

Gegas aku mematikan kompor dan berlari ke atas menyusul Nala. Aku meraih tubuhnya, lalu menangis. Rasanya jantungku seperti ketinggalan di bawah. Lututku lemas.

“Maaf ya, Buk. Kalau aku jatuh, nanti kepalaku berdarah-darah ya, Buk. Lalu hatiku putus. Lalu aku meninggoy,” jelas Nala panjang lebar.

Ia juga melanjutkan, kalau saat itu ia mendapat telepon dari Tuhan, disuruh naik ke balkon karena akan diberi mainan. Jadi ia menunggunya di sana.

Pernah juga, saat aku menemaninya tidur siang, sebelumnya dia bertanya padaku, “Ibuk mau meninggal ya?”

“Semua orang pasti akan meninggal, tapi nggak tahu kapan,” jawabku.

“Aku juga mau meninggal?”

“Kenapa kok kamu tanya begitu?”

“Nggak papa, kalau Ibuk meninggal aku mau ikut. Aku anterin naik pesawat ke rumah Allah.”

“Kok naik pesawat?”

“Rumah Allah kan jauh. Di langit. Aku pernah diajak main ke sana. Dikasih duren sama susu cokelat. Tapi aku nggak mau, aku kan sukanya susu putih.”

Dan yang belum lama terjadi, entah apa yang baru dilihat olehnya. Nala yang baru saja mahir naik sepeda roda 2, meletakkan begitu saja sepedanya dan berlari mendekatiku yang saat itu santai di ayunan depan rumah.

“Buk, kenapa kamu menikah sama ayah?” tanya Nala.

Belum sempat aku memikirkan sebuah jawaban, ia melanjutkan bicaranya. “Aku nggak mau menikah. Aku mau jomblo aja. Anak kecil kan nggak boleh pacaran.”

“Memang. Tapi kalau nanti kamu sudah besar, boleh menikah dong,” komentarku.

“Ibuk sedih kalau aku jomblo?”

“Enggak.”

“Kalau gitu aku mau jomblo aja.”

Nala kembali bermain sepeda dan meninggalkanku sendirian. Kadang aku khawatir salah menjawab. Nala tidak suka dibuat menunggu. Jadi setiap saat aku seperti dituntut harus berpikir cepat dan cerdas dalam menghadapinya.

Nala telah kembali pulang dan memintaku menemaninya tidur. Tak lama ia sudah terlelap. Sedang mataku, masih jernih. Jujur aku berharap dalam waktu dekat Kamar Kata mengadakan acara lagi. Aku kangen berada di sekitar orang-orang keren. Masing-masing telah memberikan kesannya sendiri di mataku. Pak Yudi dengan suara besarnya. Mbak Erna dengan semangat menulisnya. Mas Panji yang sempat kaget saat pertama kali tahu aku sudah tua (bersuami dan beranak 2) hingga membuat lidahnya tergigit saat makan gatot. Mas Rudi yang selalu bersemangat. Mas Beri dengan logat bicara dan suara tawanya yang khas. Mas Deni yang cool. Mas Kesit yang sangat cantik saat rambutnya digerai. Mas Andri yang sempat percaya aku merokok. Mas Ian yang (sepertinya) kalem. Bu Yayuk yang baik hati dan gemar nraktir. Mas Yuan yang serius. Hasna yang awalnya anak anteng, sekarang jadi anak aktif. Yusna yang lembut dan tertata saat bicara. Lintang yang cantik. Yulita yang sampai dia kembali ke kampung, belum sempat keretaan bareng. Mas Ruly yang slengekan tapi kalau komentar bab karya, pedas. Mas Eko yang belum lama menikah. Mas Nafi yang kalau ngomong suaranya ganteng (maksudnya gimana ini ya?). Mbak Siti yang manis. Mas Bejo yang gayeng. Mas Allan yang suaranya keren. Mas Fadli yang pernah goncengin aku pas acara Sastra di Gunung. Serta teman-teman lain yang barangkali belum kesebut. Bukan berarti tidak berkesan, hanya terlupa belum meninggalkan kesan saja.

Bagi orang lain, bisa jadi aku dianggap wong selo yang belum berhasil menghasilkan karya apa pun sejak memutuskan belajar di komunitas. Tapi sesungguhnya, untuk diriku pribadi, aku merasa telah berhasil menemukan lingkungan yang membuatku merasa nyaman. Jika sebelumnya, kasur adalah tempat yang paling menenangkan untukku. Maka sekarang, meski healing terbaik tetap rebahan seharian, namun bisa KRL-an Yogya-Palur setiap Jumat juga menjadi salah satu alternatif liburanmenyenangkan. Bagiku, berbahagia di antara teman-teman yang mau menerima apa adanya, adalah sebuah pencapaian juga. Selain belajar tentang menulis, sastra, dan kehidupan tentunya.***

Septi Rusdiyana

Tinggal di Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *