Ragam

MURAHAN DAN UTANGAN

Berdiri di pinggir jalan untuk menunggu kedatangan mobil. Aku berpikir bakal ikut pergi ke tempat yang jauh. Mobil itu datang. Teman sudah berada di dalam mobil, berjanji mengantar menuju suatu tempat yang bergelimang buku. Di mobil, kami berbincang macam-macam berharap segera sampai ke alamat tujuan.

Salah! Sopir malah mengajak berputar dan belak-belok. Yang terjadi: puluhan menit berada di jalan. Kami merasa jauh untuk sampai tempat idaman. Kelucuan dan kejengkelan setelah kami minta turun. Dugaan: sopir sengaja linglung dan ingin jumlah duit di layar terus bertambah. Perjalanan yang jauh telanjur terjadi meski tempat itu seharusnya dekat.

Di mulut temanku, sebatang rokok yang menyala. Mulutku mengumbar kata. Perbuatan membuang kecewa dan sial gara-gara ongkos mobil yang menguras duit dan menghilangkan menit-menit. Aku tetap saja bersyukur setelah beberapa tahun absen. Akhirnya, kakiku berada lagi di Blok M, Jakarta. Aku bukan turis tapi cuma pengunjung yang berharap dapat membeli satu buku saja.

Oh, ribuan buku di puluhan lapak! Yang terlihat: sedikit pembeli. Aku mau hadir di situ menjadi pembeli, bukan sekadar pemandang buku-buku. Di saku celana, hanya ada sedikit uang. Cita-cita terendah adalah membeli satu buku.

Mata sudah melihat buku-buku yang apik dan menggoda. Susah membuat keputusan. Teman masih merokok. Kami kadang omong sebentar tak keruan. Perlahan, aku menanyakan harga buku. Pembelian yang memang menyenangkan sekaligus mendebarkan. Menanti kepastian harga. Duitku cuma 40 ribu rupiah. Harga tiga buku itu 55 ribu rupiah. Penyelesaian: teman yang membayar dulu.

Nah, novel berjudul Siklus gubahan Mohammad Diponegoro untuknya saja. Aku membawa dua novel mengenai asmara dan pohon. Aku tidak berhasrat lekas membaca novel asmara. Pohon! Aku ingin membaca yang pohon. Konon, 21 November 2024, diperingati sebagai Hari Pohon di dunia. Aku berada di Blok M mendapat novel mengisahkan pohon saat tanggal yang “berpohon”. Novel itu berjudul Tree Grows in Brooklyn gubahan Betty Smith. Tebal tapi harganya murah. Yang menjatuhkan harga adalah halaman-halaman belakang dimakan rayap.

Berpindah lapak. Lampu-lampu putih membuat pemandangan buku-buku kurang puitis. Aku mudah lelah jika tempat itu benderang, ditambah suara orang-orang yang terdengar ramai banget.

Yang menjadikan mataku redup: majalah lama. Di hadapanku, tumpukan majalah Hai. aku mendapatkan edisi yang di sampulnya tertulis nama Enid Blyton. Aku meyakini dalam majalah ada sisipan biografi Enid Blyton, pengarang terkenal di dunia dan berpengaruh di Indonesia. Buku-bukunya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, diterbitkan oleh Gramedia. Majalah yang dihargai 25 ribu rupiah. Murah! Aku sebenarnya mampu menurunkannya menjadi 10 ribu atau 15 ribu. Aku memilih harga di atasnya agar bahagia tidak murahan. Yang ikut terbeli adalah novel mengisahkan anjing. Pembayaran dengan cara berutang lagi. Penemuan yang menakjubkan: Hai.

Bingung membuat keputusan: terus berbelanja buku atau berhenti. Utang pasti bertambah jika memberi mata untuk buku-buku yang menggoda. Sebelumnya, senja dimiliki ketika di pinggir jalan. Setelah membeli beberapa buku, aku teringat senja yang berakhir. Namun, posisiku “salah” yang diterangi lampu-lampu menyilaukan. Apakah buku-buku itu menderita akibat lampu?

Magrib telah tiba. Pembeli tetap sedikit. Pedagang-pedagang yang termangu, merokok, dan memilih obrolan. Buku-buku agak ditelantarkan. Aku mendatanginya untuk dilihat dan dipegang. Berharap tidak membeli buku-buku lagi.

Gagal! Di hamparan buku yang diobral, tanganku cekatan mengambil buku-buku apik. Akhirnya, aku menyerah dengan berpesta buku berharga murah. Buku-buku ditumpuk dan utang ditumpuk lagi. Sejak awal, aku tidak boleh menyesal. Yang terpenting: senyum dan menambah bawaan saat pulang ke rumah.

Buku-buku yang terpilih: Madicken dan Lisabet (Astrid Lindgren), Mehrunnisa the Twentieth Wife (Indu Sundaresan), Coloured Lights (Leila), The History of Love (Nicole Krauss), The Seven Good Years (Etgar K), dan lain-lain. Pilihan banyak yang novel. Aku mulai memanjakan novel-novel meski tidak semuanya untuk dibaca. Oh, siapa bakal bersumpah membaca novel sampai mati? Siapa berani mengubah dirinya menjadi novel? Yang aku lakukan adalah menjadi pembaca novel. Selanjutnya, pengutip dari novel-novel. Kebiasaan sulit dihilangkan: menulis esai beragam tema dengan mengutip novel.

Tumpukan buku yang bukan obralan, beberapa bermutu dan penting. Aku tidak mau menanyakannya! Perkara tersulit jika mufakat harga sulit tercapai. Kutukan berutang bakal memberatkan lagi. Aku mengerti hidup dan bacaanku mulai murahan ketimbang memburu mutu. Maka, aku meramal akan menjadi pembaca yang keok dan tersungkur dalam murahan.

Yang aku bayangkan: nasib ribuan buku di Blok M. Apakah para pedagang itu sabar menunggu sampai kiamat. Siapa-siapa yang rela datang berpredikat pembeli buku? Aku tidak berjanji bakal datang lagi ke Blok M (Jakarta).

Buku-buku dalam tiga kresek. Berat. Pikiranku pun berat untuk membayar utang. Di sekitar, ratusan orang menikmati beragam makanan. Pemandangan kelezatan di Blok M. Mereka yang berbahagia. Mereka ingin kenyang. Aku tidak ingin makan di situ. Aku juga tidak akan makan buku.

Magrib yang selesai. Kaki yang lelah. Tubuh yang makin berbau tidak sedap. Aku tidak mau mengulangi ketololan saat mendatangi Blok M. Keputusan: aku memilih berjalan meninggalkan Blok M sambil melihat keramaian jalan. Berjalan membawa buku-buku (murahan). Lelaki murahan yang masih menerima takdirnya membaca buku-buku walau hidupnya tidak bermutu.

Malam yang menumpas sunyi. Jalan yang tidak mengasihi pengembara-huruf. Aku berjalan terengah-engah sekadar ingin menunda azab. Malam itu aku tidur bersebelahan tumpukan buku tanpa lampu. Kabut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *