Buku, Resensi

Menemukan Kembali ‘Homo Ludens’

Oleh Joko Pinurbo

Kumpulan sajak ini mengingatkan kita akan pentingnya jati diri manusia sebagai homo ludens, makhluk yang suka bermain. Ia terbit di momen yang tepat, yaitu ketika kehidupan sosial kita kian didominasi oleh perangai homo faber, makhluk yang suka bekerja, dan homo politicus, makhluk yang suka berurusan dengan politik dan kekuasaan.

Kesuntukan manusia sebagai homo faber membuat manusia terperangkap dalam belenggu deadline demi mengejar kepentingan ekonomi dan materi. Dalam kecenderungannya yang ekstrem, homo faber berkembangmenjadi manusia yang gila kerja atau manusia yang mabuk kerja. Kesuntukan dan kegilaan bekerja yang berlebihan menjadikan manusia hidup dalam tekanan mental yang besar karena setiap saat ia ditanya dan ditagih oleh angka. Hidup adalah memburu, bukan menikmati. Hidup diliputi oleh ketergesaan.

Di sisi lain, nafsu dan perilaku manusia sebagai homo politicus telah menjerumuskan manusia ke dalam kancah pertarungan dan persaingan sengit yang kadang sangat barbar dengan hoaks, kebencian, dan politik identitas sebagai peralatannya. Dalam wataknya yang negatif, bagi homo politicus, hidup adalah berebut, bukan berbagi; memangsa, bukan memberi; memukul, bukan merangkul; memangsa, bukan mencinta. Hasilnya ialah lunturnya cinta kasih sosial, melemahnya semangat persahabatan dan persaudaraan.

Memudarnya jati diri manusia sebagai homo ludens di satu sisi dan kian dominannya nafsu manusa sebagai homo faber dan homo politicus di sisi lain, ditandai dengan menghilangnya mutiara-mutiara jiwa yang berharga: kesabaran, sikap rileks, selera humor, dan kegembiraan.Manusia-manusia yang dijajah oleh kekuasaan rezim homo faber dan homo politicus adalah manusia-manusia yang mengalami gangguan kesehatan mental: tegang, gampang sedih, dan murah marah. Menjadi homo ludens, dengan demikian, merupakan penyeimbang bagi dominasi homo faber dan homo politicus, dan itulah yang secara metaforis mau diwartakan oleh sajak-sajak Yuditeha.

Melalui kumpulan sajak ini kita dapat berjumpa kembali dengan aneka dolanan atau permainan tradisional yang pernah mengiringi pertumbuhan sekian banyak anak sebagai homo ludens. Yuditeha bukan hanya mendata dan mendeskripsikan kembali berbagai bentuk dolanan; ia juga menempatkan makna aneka dolanan tersebut sebagai bagian dari pendidikan karakter. Dengan demikian, sajak-sajaknya mau menunjukkan dan nilai-nilai falsafi—di samping niilai-nilai estetis—dalam dolanan.

Permainan atau dolanan memang bukan simulasi dan duplikasi dari kehidupan nyata. Ia merupakan dunia yang direka atau diciptakan dengan kekuatan dan keliaran imajinasi. Ia tidak dikendalikan oleh nilai-nilai pragmatis. Namun, justru karena sifatnya sebagai dunia rekaan, ia memiliki nilai penting sebagai sarana pembebasan. Pembebasan dari kehidupan rutin yang diwarnai oleh perhitungan untung-rugi. Dolanan merupakan bentuk rekreasi dan relaksasi yang mengingatkan kita bahwa keindahan, kebahagiaan, kelucuan dan kekonyolan bisa dinikmati dan dirayakan bersama. Dolanan merupakan sarana untuk menjaga keseimbangan mental.

Meskipun merupakan dunia rekaan, dolanan—secara langsung atau tidak langsung—mengandung nilai-nilai ideal, nilai-nilai falsafi, atau nilai-nilai edukatif yang relevan bagi pengembangan karakter manusia. Menyelami sajak-sajak Yuditeha, kita bisa menemukan setidak-tidaknya lima butir keutamaan dolanan: (1) kegembiraan, (2) kebersamaan; hubungan antarpribadi, (3) kesabaran, ketenangan (4) empati, (5) kearifan: jujur, adil, ksatria (bisa menerima kekalahan dan kemenangan secara wajar).

Sajak berikut ini kiranya merupakan contoh bagus tentang bagaimana sebuah dolanan bisa merefleksikan nilai-nilai ideal dalam kehidupan manusia.

BAN-BANAN

Menggelindinglah di atas papan kayu

yang dijaga dengan ketenangan,

dan hanya jiwa yang jauh dari dengki

yang mampu melakukan perhitungan.

Tak bisa kau hidup sendiri

di tengah belantara masalah.

Hanya kompromi yang bisa menyelamatkan

manusia dari dunia rapuh,

hingga kelak akan diakui sebagai prajurit

yang pantas untuk melakukan

tugas sebagai ketua pandu yang terampil

dan paling disegani.

Sesungguhnya puisi pun merupakan dolanandolanan bahasa—yang menyuburkan dan menyegarkan kembali imajinasi; yang membebaskan kata-kata dari penjara kerutinan yang memiskinkan dan mematikan; yang ingin menghidupkan kembali kewarasan. Puisi adalah sebentuk rekreasi dan relaksasi bahasa yang anehnya sering dilakukan dengan cara yang tidak “waras”. Puisi adalah makhluk kesayangan homo ludens.

Selamat menunaikan ibadah puisi.

Yogyakarta, 20 Mei 2019


Joko Pinurbo, penulis puisi

Buku, Resensi

Suara Lain untuk Mengingat 1998

Resensi oleh Setyaningsih

Bagi Intan Andaru, 1998 adalah pengingatan pada Tragedi Banyuwangi. Penulis yang pernah terlibat Residensi Penulis ASEAN-Jepang dan ASEAN Literary Festival 2017 ini seperti ingin menegasi pengingatan publik atas Tragedi Mei 1998 atau peristiwa akbar-nasional Reformasi. Tragedi lokal yang pernah mengguncang publik nasional, disuarakan untuk mengingatkan pada pengalaman dan trauma kolektif sebagai seorang Banyuwangi lewat novel Perempuan Bersampur Merah (2019). Tragedi Banyuwangi 1998 pernah membantai dukun-dukun pengobatan yang dituduh menyebar penyakit kiriman atau santet. Ketakutan tentang teror ninja yang bergerak cepat, membunuh, dan bisa menghilang beredar. Entah lebih dipicu intrik sosial, kecemburuan personal, huru-hara politik, sampai puritanisme agama yang menghendaki perdukunan ditiadakan, tragedi lagi-lagi meminta pengorbanan dari orang-orang tidak bersalah yang mungkin telah dilupakan untuk mendapat suatu keadilan.

Intan memilih cerita dinaratori aku yang bocah dan perempuan bernama Sari. Dibandingkan dinaratori seorang dewasa, narator bocah lebih memungkinkan penciptaan-penciptaan suasana dan ujaran yang naif, lugu, dan rasa pasrah tapi ingin melawan. Saat bapak Sari dibantai, dia hanyalah bocah tanpa daya yang jelas secara terselubung menampakkan ketidakmengertian atas tragedi. Lewat pernyataan-pernyataan kecil yang berkelebat dalam benak bocah, gugatan-gugatan atas ketimpangan status sosial masyarakat, penghukuman sosial, kemiskinan berusaha dibangun oleh penulis.

Kita cerap, “…aku sungguh masih dapat merasakan kejadian malam itu: Ingatanku tentang segerombolan orang yang mengepung rumah. Suara berisik yang mendebarkan. Kegaduhan yang membuat kami gemetaran. Juga mereka yang melukai Bapak: orang-orang yang tak kukenal dan sebagian tetangga yang mengikuti mereka dari belakang. Dalam gelap itu, aku mampu memandang dan merekam siapa saja orang yang menatap iba hingga membantu keluarga kami, juga siapa saja yang menatap penuh benci pada Bapak” (hal. 70). Seorang bocah mudah mengingat. Sejak sekolah dasar, Sari menggunakan pengingatan untuk mencari nama-nama orang yang konon mati karena disantet. Jika masyarakat tidak bisa dibuat memercayai, Sari yang akan terus percaya bahwa bapak bukan orang jahat seperti yang dituduhkan.

Ikon Pembangun

Selayaknya novel yang ingin terlibat mengabarkan tragedi dan intrik manusia, percintaan adalah suatu kewajiban meski klise. Semakin dewasa, peran Sari tidak lagi sebagai bocah yang mencari peradilan atas nama bapak. Peran itu sepenuhnya beralih dan dipercayakan Intan Andaru kepada Rama, lelaki terkasih Sari. Sejak kecil, Rama muncul dalam strata pendidikan lebih tinggi bertaut dengan imajinasi kemakmuran dan pekerjaan di masa depan. Rama ditokohkan untuk meninggalkan kampung yang miskin, tidak berpendidikan, dan masih berkisar di klenik.

Lulus SMA, Rama menjadi mahasiswa, elite terpelajar yang digadang menjadi ikon pembangun (nasional) terutama sejak masa 70-an dan menguat sejak Reformasi bergulir. Kita tentu bisa menduga, Rama bukan hanya kuliah untuk kuliah. Dia menjadi aktivis, tekun di organisasi, ikut demontrasi, dan berurusan dengan polisi. Bahkan kepada Sari yang jelas miskin dan tidak memiliki modal ekonomi atau sosial, Rama berkata, “Gimana ya. Kan cuma empat tahun. Ini demi masa depanmu. Jadi sarjana itu penting ndak hanya untuk cari kerja, tapi juga untuk mendidik anak nanti” (hal. 161). Rama menghendaki kesetaraan pendidikan bagi perempuan, tapi tetap dengan cara yang partriarkis. Sebagai penulis perempuan, Intan Andaru tidak bisa melepaskan diri dari isu-isu sosial berkait dengan perempuan.

Tentu dari segala urusan akademis dan aktivis dilakukan oleh Rama, Intan Andaru menggunakan jalinan asmara untuk mendekatkan tragedi Banyuwangi yang komunal sebagai urusan personal antara Sari dan Rama. Sari mendengar kenyataan bahwa, “Rama bergabung sama aktivis HAM dan sering demo di jalan-jalan. Dia menemui banyak orang untuk neliti kasus pembantaian dukun-termasuk kasus bapakmu yang ndak pernah bisa kita pecahkan itu. Dia juga yang sudah sibuk-sibuk mengusulkan agar kasus bapakmu itu dibuka lagi sampai ada pertemuan-pertemuan yang kamu datangi kemarin. Dia bahkan rela skripsinya terbengkalai” (hal. 194). Intan Andaru terlampau heroik memahasiswakan Rama sebagai bentuk perlawanan Rama pada superioritas dan status sosial bapaknya, tapi sekaligus pihak penghasut agar warga menghukum bapak Sari yang jelata dan tertuduh nyantet.

Intan Andaru memang tidak secara tersurat membawa kembali kasus lokal ke publik nasional. Terlepas dari bahasa yang kurang luwes dan enak, barangkali karena pengalihan data riset atas tragedi Banyuwangi 1998 ke narasi novel, Intan Andaru berkeras memberi suara pada lokalitas. Tragedi harus dibawa kembali ke ranah nasional agar selesai atau setidaknya mengurangi trauma kolektif pada masa lalu. 1998 tidak selalu memusat di Jakarta pada suatu Mei yang kelam, tapi juga di Banyuwangi yang mencekam.

Setyaningsih, Esais. Pembaca Buku. Penulis cerita “Peri Buah-buahan Bekerja” (Kacamata Onde, 2018) Email : [email protected]

Film, Resensi

Ida dan Kesunyian Sejarah

Resensi Film oleh Kiki Sulistyo

Okupasi Nazi Jerman (bersama Uni Soviet) ke Polandia yang dimulai pada 1 September 1939 tidak hanya mengawali Perang Dunia II di Eropa, tetapi lebih dari itu juga menyisakan luka yang susah disembuhkan, terutama di bagan sosial terkecil; di tingkat domestik keluarga. Lubang-lubang gelap sejarah berupa kejadian selama perang coba diberi cahaya penerang oleh generasi setelahnya, agar dapat terlihat apa yang sesungguhnya terjadi. Upaya itu bukan tanpa risiko, sebab bayangan kengerian masa lalu, bisa saja menggagalkan niat rekonsiliasi dan menjadikan situasi yang sudah berubah jadi lebih baik malah berlumur dendam. Nazi Jerman menggunakan mesin genosida untuk menjalankan proyek invasi dan okupasinya, menyebabkan jutaan nyawa musnah, dan menjadikan tahun-tahun itu sebagai salah satu era paling gelap dalam sejarah modern.

Film Ida garapan sutradara Pawel Pawlikowski mengambil latar belakang sejarah itu untuk setting cerita tahun 1962, hampir dua dekade setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Anna (dimainkan Agata Trzebuchowska), gadis muda calon biarawati, baru mengetahui bahwa ia sebenarnya adalah seorang Yahudi setelah bertemu dengan bibinya Wanda Gruz (Agata Kulesza). Menjelang kaulnya untuk menjadi biarawati, kepala biara wanita meminta Anna untuk menemui satu-satunya kerabatnya yang masih hidup. Setelah bertemu Wanda, Anna baru tahu kalau nama sebenarnya adalah Ida Lebenstein.

Fakta baru itu membuat Ida mendadak berniat mengunjungi makam orangtuanya yang dibunuh semasa perang. Namun seperti banyak orang Yahudi yang tewas di masa itu, makam orangtua Ida pun tidak jelas tempatnya, bahkan mungkin tidak ada. Tetapi Wanda Gruz, yang pernah menjadi seorang jaksa, punya petunjuk. Maka dimulailah perjalanan mencari makam orangtua Ida, sekaligus juga anak laki-laki Wanda yang semasa perang dititip di keluarga Lebenstein.

Sutradara Pawel Pawlikowski menjadikan perjalanan membongkar masa lalu itu sebagai narasi utama film berdasarkan naskah yang ia tulis bersama Rebecca Lenkiewicz. Dalam perjalanan, mereka dipertemukan dengan Lis (Dawid Ogronik) seorang pemain alto-sax berparas tampan, yang berada ‘di luar sejarah’ mereka dan nantinya menjadi simpang dalam kehidupan Ida. Sementara, kunci bagi pintu untuk mengetahui peristiwa masa lalu ada di tangan keluarga Skiba, keluarga yang saat itu mengambil alih kepemilikan rumah keluarga Lebenstein. Lewat Feliks Skiba (Adam Szyszkowski) mereka akhirnya mengetahui fakta yang sebelumnya hanya menjadi rahasia.

Ida dan Wanda, sebagai dua karakter utama, punya watak yang bertolak-belakang. Kontras antara keduanya seperti memberi “warna” bagi layar film yang hitam-putih. Sebagai gadis remaja yang dibesarkan di biara, Ida menyiratkan pikiran, perasaan, maupun hasratnya dalam ekspresi-eksresi kecil, nyaris datar dan dingin. Meski dalam satu-dua kesempatan, seperti kata Wanda, “ia bisa juga bersikap kasar”. Sedangkan Wanda sendiri, meski punya posisi terhormat dan kekebalan hukum, tampak kacau hidupnya. Ia intimidatif, sinis, perokok berat, suka minum-minum, dan melakukan seks bebas dengan sembarang lelaki.    

Kita bisa menduga perbuatan-perbuatan itu ialah upaya Wanda untuk melarikan diri dari hantu masa lalu, bayangan gelap yang tak bisa lenyap. Tetapi ketika kenyataan terbuka di depan mata, ada sesuatu yang tak tertanggungkan lagi, dan proses rekonsiliasi mengalami resistensi dari diri yang telanjur tenggelam dalam upaya pelarian tersebut. Puncaknya, Wanda memilih satu tindakan ekstrem bagi dirinya sendiri. Tindakan ini hadir dalam satu adegan yang bisa membuat penonton ingin berkali-kali melihat kembali adegan tersebut karena tak percaya.

Berbeda dengan Wanda, Ida Lebenstein yang secara teknis “tak mengalami” peristiwa di masa lalu, sebab dia masih terlalu kecil ketika peristiwa pembunuhan orangtuanya terjadi, menyikapi proses rekonsiliasi dengan cara lain. Tampak jelas segala sesuatu asing baginya, seolah-olah ia baru saja diturunkan ke dunia dengan kenyataan yang melingkupinya. Ida tumbuh di biara wanita, agama adalah tulang punggungnya. Meskipun begitu, bias psikologi khas remaja terpancar di ekspresinya ketika Wanda menyarankan ia, sebelum menjadi biarawati, agar mencoba dulu nikmat dunia, sesuatu yang dianggap “dosa” dalam perspektif ketat agama. Apalagi ketika ia mulai dekat dengan Lis, pemuda tampan murah senyum, si pemain alto-sax yang menumpang di mobil Wanda dalam perjalanan ke kota yang sama dengan tujuan Wanda dan Ida untuk sebuah acara konser musik.

Maka ketika-pasca tindakan ekstrem Wanda-pada akhirnya Ida mencoba minum minuman keras dan tidur bareng Lis, kita tidak melihat ada penyesalan di wajahnya, juga tidak melihat bahwa ia sungguh-sungguh menikmatinya. Ida Lebenstein seperti ingin memanifestasikan rekonsiliasi yang gagal dilakukan Wanda dengan, untuk sesaat saja, menjadi seperti Wanda, melakukan apa yang sering dilakukan Wanda. Sebelum akhirnya dengan mantap, tanpa mengusik apapun, melangkah menuju pilihan hidupnya.

Film ini minim dialog. Dialog yang hadir pun cenderung pendek-pendek. Kesunyian yang dominan seakan memendam sekam dalam gambar-gambar yang dihadirkan. Selain pada cerita dan karakter, kekuatan film ini memang bertumpu pada sinematografi. Lukasz Zal dan Ryszard Lenczewski menggarap setiap gambar dengan brilian, seperti arsitektur puitika dengan ekonomi cahaya yang natural. Dalam banyak sekuen, karakter tak diletakkan di sentral, melainkan di tepi atau di bawah bidang layar, atau terselip di antara struktur benda-benda. Gambar-gambar tersebut seakan hendak menghadirkan kenyataan betapa sejarah orang-orang biasa selalu menjadi subordinat dari sejarah arus utama hasil konstruksi otoritas, baik yang pernah maupun yang sedang berkuasa, apalagi jika sejarah itu menjadi sejarah dunia, yang pada waktunya menjadi pemicu berbagai perubahan. Padahal orang-orang biasa adalah korban sesungguhnya, martir bagi tatanan dunia yang lebih baik.

Dan sebagai orang biasa, Ida Lebenstein telah menjalankan rekonsiliasi sejarahnya dan mengalami sejarah rekonsiliasinya dalam kesunyian pribadi. Sejarah yang tak dilihat orang banyak, dan takkan dicatat dalam buku besar sejarah formal.***

  • Data Film:
  • Judul: Ida
  • Sutradara: Pawel Pawlikowski
  • Skenario: Rebecca Lenkiewicz dan Pawel Pawlikowski
  • Sinematografi : Lukasz Zal dan Ryszard Lenczewski
  • Genre: Drama
  • Durasi: 82 Menit
  • Pemain: Agata Trzebuchowska, Agata Kulesza, Dawid Ogrodnik
  • Tahun Rilis: 2014

Tentang PenulisKiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Tokoh Seni TEMPO 2018 bidang puisi untuk buku Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018).

Buku, Resensi

Pengarang Dodit: Alusi dan Obsesi, Biografis dan Spekulatif

Resensi oleh: Galeh Pramudianto

Ketika berbicara pelancong waktu dalam tatanan fiksi, ketika itu pula perulangan telah kali dilakukan. Begitu pula ketika kita berbicara kumpulan cerita pendek. Banyak pola dan konsep yang jatuh pada perulangan. Beberapa di antaranya mengambil karya-karya yang telah terbit duluan di media cetak, kemudian dianggit kembali dalam suatu buku. Tentu tidak ada yang salah dengan itu. Setidaknya bagi saya sendiri ketika membaca sebuah karya, ada hal yang kiranya bisa didapat, misal: (1) gagasan apa yang dituangkan atau tidak ada gagasan sama sekali untuk dituangkan (keduanya sama baiknya), (2) warna atau premis apa yang diangkat atau setiap cerita tidak memiliki warna yang sama (yang pertama memudahkan pembaca untuk mengklasifikasikan tema tertentu), (3) bagaimana teknik dan gaya dimainkan (narasi besar atau tema remeh temeh sekalipun akan menarik bila memperhitungkan ini).

Ketika seseorang secara sadar memutuskan untuk menulis, maka ia telah tahu masalah dan bobot kehadiran apa yang akan diangkat. Pengarang Dodit, kumpulan cerpen perdana milik Doni Ahmadi berjalan pada lintasan yang tepat. Ia tahu buku ini berjalan di lintasan mana, masalahnya apa dan bobot kehadiran yang bagaimana. Membaca Pengarang Dodit memaksa saya mengingat perjalanan setiap orang untuk menjadi kerani atau juru tulis atau penulis.

Perjalanan seorang yang biasa bercerita dengan lisannya akan jauh berbeda dengan perjalanan seorang yang biasa bercerita dengan ragam bahasa tulis. Seorang penulis kiranya bisa mengalami berbagai hal: kesepian, gangguan internal maupun eksternal, dan kompleksitas pikiran. Menulis selalu tidak mudah, bagi yang percaya menulis itu gampang maka daya jelajah dan tujuan menulisnya tidak seluas obsesinya. Berbicara obsesi maka berbicara hakikat hidup itu sendiri. Tentang perasaan-perasaan yang merasuki pikiran dan pertanyaan yang berkelindan. Hal itulah yang diamini Doni Ahmadi pada halaman awal buku ini. Ia menganggit pernyataan Budi Darma soal obsesi pengarang.

Berbicara obsesi, saya coba menerka obsesi Doni lewat teks-teks di Pengarang Dodit ini.

Cerita-cerita di dalam Pengarang Dodit tidak semuanya berlandaskan struktur dramatik Aristotelian: pembukaan, pengenalan, klimaks, antiklimaks, leraian, dan penutup yang menjadi template penulisan cerpen umumnya. Doni hendak menyuarakan bahwa cerita tidak semata tentang isi atau apa hal yang disampaikan, tetapi juga tentang bagaimana cara menyampaikannya.

Saya kira di rimba kesusastraan Indonesia yang tidak terlalu luas ini, setiap penulis hendak menyuarakan keresahan-kepentingannya. Ada yang menulis tentang kampung halamannya dengan semangat pariwisata, ada yang menulis tentang adat istiadat yang lekat dengan kehidupannya, ada yang menulis tentang negeri-negeri yang jauh dengan semangat turisme warga dunia ketiga, ada yang menulis tentang dirinya sendiri dengan semangat megalomania, ada yang menulis tentang nabi-nabi baru di setiap komunitas kebudayaan, ada yang menulis cinta dengan lika-liku perbudakannya, ada yang menulis angkasa luar dengan semangat pseudosains, ada yang menulis tentang isu-isu politik yang seksi, dan ada yang menulis tentang penulis itu sendiri dengan segala riwayatnya.

Fiksi Biografis dan Spekulatif

Doni saya pikir berada di pilihan terakhir dengan ragam upayanya. Ia secara terbuka memainkan makna tekstual dengan makna referensial. Ada keterkaitan antara semesta fiksi di dalamnya dengan realitas kesusastraan Indonesia itu sendiri. Saya membacanya sebagai gelagat untuk mempertanyakan, atau mengolok-olok (parodi) para gerombolan penulis dan hubungannya dengan sejarah serta kritik sastra. Doni dengan terbuka menjahit pengaruh yang ada pada karya-karya penulis Indonesia maupun dunia. Coba simak cerita yang panjang Dari Obituari Pengarang Dodit sampai Malam Celaka. Cerita itu adalahsebentuk alusi dengan obsesi yang imajinatif. Bahwa orang yang dekat dan bermanfaat dengan penulis bukanlah yang hanya memiliki nama besar, namun lebih kepada biografi-kisah di sebuah antara. Cerita berawal dari seorang penulis (Mustofa Sentot) yang mendapatkan banyak ilmu dan inspirasi dari penulis lainnya (Dodit).

Mustofa merasa kehilangan dan amat terpukul ketika penulis yang menginspirasinya dalam menulis, meninggal dunia. Konflik terjadi ketika seorang penulis lain (T.B. Simatupang) meninggal di hari yang sama. Cerita bergulir dengan ragam teknik dan gaya: pewaktuan retrospeksi dan cerita berbingkai. Kalau kita tidak membaca secara cermat dan hati-hati maka kita akan mudah tergelincir. Karena selain teknik dan gaya yang dimainkan, Doni juga memainkan tokoh-tokoh cerita di dalamnya dengan alusi. Dengan peristiwa-peristiwa yang lekat dengan rimba kesusastraan kita.

Ia adalah sastrawan avant-garde yang masyhur dan selalu menjadi pusat pembicaraan khalayak sastra. Hal itu ia dapatkan berkat sumbangsih beberapa karya besar yang beliau kerjakan, di antaranya adalah Merahnya Biru (2000) yang menyabet penghargaan nasional Bujur Sangkar Award. Lalu Jia-Ilah (2005) yang meraih penghargaan karya sastra terbaik Asia Tenggara. King Kooong (2011) yang menyabet dua penghargaan sekaligus (karya terbaik versi majalah Tempe dan pemenang Teen Booker Prize). Lalu Kerang (2017) yang meraih penghargaan sastra dari Pusat Bahasa serta masuk dalam 5 besar Teen Booker Prize. Lalu ada lagi kumpulan cerita pendek Tegak Ngaceng Dengan Langit (2015) dan Kumpulan puisi Malam Jubaidah (2013) yang masing-masing meraih sukses dengan terjualnya kedua buku tersebut sampai lima puluh ribu eksemplar. (hlm. 77)

Bagaimana? Saya kira itu familier bila kita mempertimbangkan dan mengais ingatan kita saat membacanya: Iwan Simatupang. Atau merasa hal yang imajiner sepenuhnya lahir dari gelas osong? Saya kira tidak. Coba intip siapa itu Johan Kartawijaya dan permainan alusinya. Ia berkorelasi dengan lagu Surabaya Johnny karangan Bertolt Brecht dan bagian dari drama musikal berjudul Happy End. Merasa terganggu ketika diberi tahu? Saya kira cerita yang baik bila diberi beberan (spoiler), tetap akan sesuai jalurnya dan kenikmatan akan membaca tidak akan berkurang. Kemudian ia menempelkan hal-hal yang ia suka untuk dielaborasi menjadi parodi yang bisa mengganggu atau justru memikat (tergantung horizon pembacaan).

M. Sentot Wijayanto (1987) merupakan penulis novel dan cerita pendek. Karya-karyanya yang telah terbit, novel: Sembilan Kunangkunang di Perempatan (2009), Catatan Panjang Pembunuh Arturo Belaño (2010), Raden Janggut di Rumah Jaga Lima (2011) dan Petualangan Olenka dan Alit di Trafalmadore (2018). Cerpen: Upaya Jonru Menjadi Anjing yang Masuk Surga (2012), Tujuh Tahun dalam Kendali Partai Setan (2014) dan Cerita Buruk yang Membuatmu Ingin Bunuh Diri (2015). Serta satu kumpulan esai: Mendengar Novel dan Membaca Audiobook (2017). (hlm. 105)

Kisah semacam fiksi biografis-parodi ini bukanlah hal yang baru di kolong langit dan di atas tanah. Bila sekadar menyebut: kisah-kisah seribu satu malam telah banyak diambil bentuknya untuk kepentingan cerita lainnya.  Borges dengan A Universal History of Infamy, Bolano dengan penulis sayap kanan di Amerika Latin lewat Nazi Literature in the Americas, dan Bartleby & Co. milik Vila-Matas. Genealogi semacam ini menunjukan betapa pentingnya horizon pembacaan akan sejarah sastra maupun otokritik itu sendiri.

Bentuk fiksi biografis lainnya terdapat di Cerita Dodit dan Rahasia Penulis Joni, Sebastian Bejo yang Fenomenal dan Soal Nasib. Di Cerita Dodit, Doni memilih jalur yang saya katakan sebelumnya: menulis tentang kepengrajinan (craftmanship) penulis itu sendiri. Bahwa penulis pada dasarnya memiliki peluang untuk menuangkan gagasannya dalam kesempatan apa pun. Mitos writer’s block saya pikir tidak ada. Ia hanya bentuk kemalasan homo sapiens yang identik dengan bentuk lainnya: homo ludens dan fabulans. Pada dasarnya setiap manusia bisa bercerita dan memanfaatkan setiap peluang yang ada setelahnya:

Oh iya, hal gila yang saya maksud itu adalah mengambil karya-karya dari pemenang Nobel Sastra masa depan untuk saya plagiasi. Tapi akhirnya saya memutuskan hanya mengambil tiga novel saja dari seorang pengarang bernama Billy Pilgrim, tepatnya pemenang Nobel sastra di tahun 2089. Untungnya format buku digital ini dapat saya ubah ke format lama agar dapat dibuka lewat komputer saya, memang teknologi masa depan itu betulan canggih! (hlm. 20)

Membuat tokoh fiktif dalam semesta fiktif bukanlah hal baru dan membuatnya hidup serta berguna dalam kerangka cerita itulah tugas penulis. Doni dalam hal ini tidak melanggar Chekhov’s Gun: apa yang ada di cerita semuanya berfungsi. Seperti di cerita Sebastian Bejo yang Fenomenal. Membaca kisah ini seperti hendak menonton Memento karya Nolan bersaudara. Bahwa ingatan yang buruk adalah titik pijak sebuah cerita bisa banyak berkelok. Dalam hal itu kita bisa memahami bahwa sebaik apapun dalam menulis, kalau akhirnya bermasalah dengan ingatan, maka nasibnya tak baik-baik amat. Seperti cerita Soal Nasib itu sendiri: ia mengisahkan pesepakbola, kalau boleh saya menebak maka itu adalah alusi dari David Beckham.

Setelah bermain di ranah fiksi biografis, Doni pun kembali bermain dengan persoalan waktu dan hal-hal spekulatif lainnya. Pada kisah Tentang Ucup Karbol yang Kelak Diperdebatkan, misal.Cerpen dibuka dengan maklumat kematian tokoh utama, yang dituturkan oleh sobat karibnya. Setelahnya kisah bergerak lewat dimensi pewaktuan retrospeksi. Secara kronologis cerita berjalan lewat pengakuan tokoh aku bersama Ucup Karbol menjalani hari-hari yang biasa saja atau sama sekali tidak biasa-biasa saja. Atau elaborasi keduanya. 23 Mei 2020, menjadi mula dari konflik. Cerita bergerak setelah Ibunda Ucup Karbol mengalami peristiwa yang kurang mengenakan. Setelahnya bisa diterka sendiri. 

Hal terpenting dari kisah fiksi ilmiah sebenarnya adalah tentang perabotan atau piranti apa yang digunakan. Karena medium cerita adalah meyakinkan banyak pihak dan persepsinya harus sama dengan batok kepala lainnya. Di kisah ini, bagaimana menemukannya dan fungsinya untuk apa? Lewat medium surat, akhirnya itu terjawab. Jelas tidak dipaparkan secara detil. Karena ruang untuk itu barangkali bisa dieksplorasi di novel atau lakon dan bentuk lainnya yang lewah dan memungkinkan.

Sebentuk alusi lainnya termaktub pada penamaan tempat yang familier: Rumah sakit Kepala Gadung, Kecamatan Bodong Gede dan Bodong Kecil. Elemen itu terbangun dengan terjaga dan tidak mubazir.  Entah kenapa saya membayangkan suatu saat nanti Ucup Karbol bisa berkolaborasi dengan Marty McFly, untuk menciptakan mesin waktu yang lebih spesifik dan berbentuk, misalnya, DeLorean DMC-12 di trilogi Back to The Future.

Persoalan waktu, gempa waktu, dan dejavu selalu bermain di pewaktuan yang tidak linear. Alih-alih manut pada biografi tubuh yang menghamba pada waktu, Doni menentangnya dan bermain-main di wilayah itu. Anto Lakban dan Beberapa Peristiwa di Sekitar Teh Hangatadalah manifestasi dari Hukum Murphy: ketika Anda merasa sial, maka kesialan itu keniscayaan. Bagi saya setiap orang punya mesin waktu versi mereka sendiri: ada yang bermimpi, ada yang mendengarkan lagu lama, ada yang membaca ulang lembar tertentu dalam jurnal, dan ada yang merasakan ketika membaca spektakel dan adegan-adegan di dalam cerita ini. Konsep manusia soal waktu dan masa depan memang menarik untuk diikuti.

Doni dalam kumpulan ini seperti memiliki agenda tertentu, misal dalam kisah distopia Sebelum Adam dan Eva Memulai Peradaban. Teori penciptaan ia kemas dengan subtil lewat rangkaian peristiwa. Peristiwa-peristiwa di dalamnya tak hendak mengatakan “akulah yang paling benar dan jawaban atas segala keresahan di muka Bumi.” Apa yang kita anggap baik, belum tentu dengan lainnya. Kebenaran tunggal tidak berlaku di zaman tsunami data seperti ini. Meski begitu, cerita-cerita di kumpulan ini tidak hanya bermain di wilayah alusi dan spekulatif. Ia bisa berupa realisme magis di Tentang Ki Mantep, Dodit dan Telur Bebek, bernuansa detektif-thriller di Misteri Jim dan Pembunuhannya, dan bernada liris-sentimentil di Bagaimana Lelaki Pemalu menjadi Filsuf dan Mati dan Trilogi Luca.

Selain cerpen-cerpen di atas, ada juga bentuk cerita mini (flash fiction), seperti Tanda Pagar, Seorang dari Masa Lalu di Sebuah Bus Kota, Takdir Buruk, dan Wawancara. Untuk bagian ini seperti ada kesan “dimasukan agar menambah bobot kehadiran”, terlepas dari itu, Pengarang Dodit mampu mengejawantahkan cerita yang tak melulu pada pakem Aristotelian. Saya pikir sepertinya itu perlu.

Bintaro, April 2019

Galeh Pramudianto, lahir di Tangerang Selatan, Banten, 20 Juni 1993. Bekerja sebagai tenaga pendidik dan salah satu pendiri media Penakota.id. Buku puisi keduanya berjudul Asteroid dari Namamu (basabasi, 2019).

Film, Resensi

Unicorn Store: Menjadi Dewasa adalah Ujian

Resensi Film oleh Nanda Insadani

Berapa banyak orang dewasa yang ingin kembali ke masa kanak-kanak mereka lantaran sebuah anggapan bahwa masa kanak-kanak adalah yang terbaik dibanding masa apa pun dalam hidup? Soal berapa, tidak ada yang tahu, tapi kalau soal banyak, ya tentu banyak.

Poster Film Unicorn Store

Sebabnya, tentu saja adalah ihwal pikiran; cara berpikir orang dewasa jauh tidak mengasyikkan ketimbang cara berpikir anak-anak. Anak-anak tidak pernah berpikir bahwa di dunia ini ada yang tidak mungkin, sedangkan orang dewasa sebaliknya. Berpikir bahwa segalanya mungkin, semuanya masuk akal adalah menyenangkan. Itu membuat masa kanak-kanak kita dipenuhi dengan mimpi-mimpi yang penuh warna.

Sejak kecil, kita banyak melihat hal-hal asing yang begitu menghibur dan membahagiakan hati dari tayangan televisi atau buku-buku bergambar yang pernah kita miliki. Ambil saja sebagai contoh, seekor kuda bertanduk dengan surai keemasan yang bisa terbang—yang kita sebut Unicorn. Kemudian, lantaran bisa menunggangi kuda terbang terlihat mengasyikkan, kita pun sempat beranda-andai ingin memilikinya. Tentu saja orang dewasa akan menertawakan impian itu. Mereka berpikir kuda bertanduk yang bisa terbang adalah fiktif, sehingga mereka akan melarang anak-anak mereka untuk tidak mengimpikannya. Lantas, siapa yang salah? Apakah anak-anak yang mengimpikan itu atau orang dewasa yang menciptakan karakter tersebut?

Brie Larson yang merupakan sosok manusia dewasa (ia lahir pada tahun 1989) mencoba menggali masa lalunya; berupaya melihat jauh ke hati masa kecilnya: apa yang ia impikan saat itu? Yang kemudian lahirlah film Unicorn Store sebagai jawaban atas pertanyaan “Bagaimana cara kita menyikapi pendewasaan diri alih-alih melupakan impian masa kecil kita?”

Debut Penyutradaraan yang “Cerah”

Sewaktu berperan sebagai Molly di 21 Jump Street (2012), barangkali Brie Larson tak akan menyangka bahwa tiga tahun ke depan ia akan diganjar gelar Aktris Terbaik oleh Academy Award—sebuah pencapaian gemilangnya dalam dunia seni peran setelah bermain penuh emosi di film Room (2015). Menggenggam Piala Oscar tidak membuat Brie lega. Ia mencoba peruntungan dengan menjadi sutradara sekaligus pemeran utama di film Unicorn Store.

Unicorn Store sebenarnya sudah dirilis pada September 2017 dan ditayangkan di Festival Film Internasional Toronto, tapi Netflix mengambil alih pendistribusian film ini pada awal April kemarin. Maka, kita dapat menyimpulkan bahwa Brie Larson menyutradarai film ini sebelum peran dahsyatnya di salah satu film Marvel Cinematic Universe, yakni Captain Marvel yang dirilis awa Maret lalu.

Sebuah aksi “multifungsi”—yakni menjadi sutradara sekaligus aktor utama pada satu film, bukanlah hal yang baru. Sebut saja yang paling tersohor: Charlie Chaplin, Clint Eastwood, dan di Indonesia kita mempunyai Ernest Prakasa dan Raditya Dika. Dan Brie Larson berharap, ia juga dapat menjadi sutradara yang diperhitungkan hasil kerjanya.

Benar saja, dengan Brie duduk di bangku pengarah, Unicorn Store tampil begitu cerah dan berusaha mencerahkan pula. Identik dengan warna-warni, Brie Larson tampak berupaya semaksimal mungkin menggarap naskah buatan Samantha McIntyre tersebut. Ia juga tak luput terhadap detail-detail yang sangat sepele, seperti pernak-pernik dan segala benda yang berkaitan dengan Unicorn, si kuda bertanduk.

Banyak yang Tidak Menyukai Film Ini

Di IMDB, Unicorn Store hanya mendapatkan nilai 5,5 dan Rotten Tomatoes juga tak bisa memberi lebih selain angka 60 persen. Penulis sempat beranggapan bahwa semua penilaian buruk itu terjadi akibat “Judge a book by the cover”. Kita semua pernah mendengar masalah Brie Larson soal argumennya yang terkesan rasis dan feminis. Ternyata penulis salah, bukan itu yang membuat nilai jelek pada film, tetapi film itu sendiri.

Meski pengarahan dari Brie Larson lumayan baik, tapi pada akhirnya naskah ceritalah yang menentukan. Di beberapa bagian, Unicorn Store terasa menjemukan dan tidak jelas: entah itu soal ambisi si tokoh utama atau batasan antara dunia surealis dengan dunia nyata.

Masih dalam lingkup ketidakjelasan, Unicorn Store seperti tak tahu harus meraih penonton yang mana: anak-anak atau dewasa? Untuk tontonan anak-anak, Unicorn Store begitu sukar dimengerti. Banyak metafora di sana, dialog-dialognya yang penuh lawakan absurd juga bukan konsumsi anak-anak. Untuk tontonan dewasa, Unicorn Store tidak menjadi lebih pantas setelah kita lihat banyak serbuk perak dan gambar kuda poni bertebaran.

Perihal peran dan hubungan antar tokoh, Unicorn Store juga tidak bisa diandalkan. Brie Larson, yang berperan sebagai perempuan gagal sarjana dan egois, seolah bermain tunggal. Film seakan-akan adalah panggung milik Brie semata. Adanya Samuel L. Jackson—yang merupakan rekan Brie di dua film lainnya, Kong: Skull Island (2017) dan Captain Marvel (2018), tidak berhasil tampil menonjol dan justru malah terkesan kikuk dan aneh.

Mamoudou Athie, yang menjadi love interest-nya Brie Larson di film ini juga terasa kurang “menggigit”. Ia tampak malu-maludalam berakting sepanjang film.

Pesan untuk Dunia

Terlepas dari segala kelemahannya, Unicorn Store sebenarnya memiliki banyak pesan, hanya saja tidak disampaikan secara eksplisit. Terkait tumbuh dewasa, Unicorn Store hendak menyampaikan bahwa menjadi dewasa tidaklah mudah; menjadi dewasa adalah ujian. Di situ kita akan diuji, apakah kita akan merelakan impian imajinatif kita sewaktu kanak-kanak atau tetap hidup dengan hal itu sampai masa tua.

Pada pembukaan film saja—sewaktu Kit melukis abstrak di dinding sebagai potret dirinya, kita sudah disuguhkan sebuah nilai kehidupan yang mendalam: tak semua orang dapat menerima diri kita seutuhnya. Kit juga memberi pelajaran pada kita bahwa apabila kita berlaku egois; memaksa dunia untuk mengerti kita, maka yang terjadi adalah pengucilan dan kesulitan dalam beradaptasi. Alih-alih membesarkan kepala terhadap dunia, membesarkan hati adalah pilihan yang tepat, sehingga satu hal yang perlu kita sadari di dunia ini: hal paling dewasa yang bisa kita lakukan adalah gagal terhadap sesuatu yang paling kita pedulikan.

Nanda Insadani, yang bukan siapa-siapa ini lahir di Medan, pada awal orde Reformasi. Gemar membaca dan berpikir. Kumpulan cerpennya, Ketakutan Seorang Penulis Miskin (2019). Dapat dijumpai di Facebook dengan nama asli.

Buku, Resensi

Penderma Cerita, Pembawa Rasa

Oleh Setyaningsih

Derma cerita para murid SD Ta’mirul Islam Solo di kelas menulis terus berlanjut di bawah ampuan guru sekaligus prosais Karisma Fahmi. Biografi kanak tidak hanya terdokumentasi dalam nilai rapor, foto, piala, piagam, atau prestasi akademik lain. Kemenangan Terindah, Kumpulan Cerita Pilihan (2016) garapan para murid kelas 4-5 lebih duluan menyapa. Berselang setahun, buku dengan visualitas lebih manis bertema berbagi terbit dalam judul Pohon Coricta dan Ellasia (2018). Buku diterbitkan sebagai serial Islam santun bersama Program Pendampingan Masyarakat Dosen dan Fakultas Bisnis Islam (FEBI) IAIN Surakarta dan Bilik Literasi.

Buku ketiga pun tidak ingin ketinggalan manis dijuduli Beri Cerita (2019) memuat 16 cerita pendek. Di cerita pertama berjudul Kapan Bapak Pulang? Ibnaty membawa pengalaman hidup yang cukup sadistik. Kanak tidak selalu mendapat jatah kebahagiaan di dunia. Sering, hidup harus sangat susah dan keras berkaitan dengan masalah ekonomi. Kemiskinan adalah hal yang menakutkan. Seorang anak sering harus merasakan hal ini tidak hanya sebagai masalah teknis, tapi juga psikologis. Diceritakan seorang anak perempuan bernama Gendis. Bapak Gendis adalah nelayan dan ibunya mengurusi rumah tangga. Karena pendapatan bapak menurun, Gendis pun harus menanggung derita “tidak sekolah dulu”.

Bapak Gendis pun mendapat pekerjaan di kapal sebagai nahkoda. “Gendis melonjak kegirangan mendengar bapaknya mendapatkan pekerjaan. Pasti, nanti Gendhis bisa sekolah lagi! pikir Gendis. Gendis memeluk erat bapaknya. Terharu. Peristiwa yang tampak sebagai pemecahan masalah ekonomi ini justru menjadi awal petaka. Ibnaty tidak ingin ceritanya berjalan lempeng saja. Dia harus membuat alur dramatis mewarisi kekhasan cerita anak Indonesia yang para tokohnya harus mengalami penderitaan hebat atau peristiwa berair mata. “Bapakmu meninggal karena ada badai topan di pertengahan antara Laut Indonesia dan Laut Australia. Korban meninggal ada 13 orang. Salah satunya adalah bapakmu.” Ibnaty membuat judul ceritanya bernas justru di penutupan cerita saat Gendis sering bergumam sebagai bentuk ketidakterimaan, “Kapan bapak pulang?” Tidak ada pesan moral untuk menjadi sok tabah. Manusia juga boleh sedih.

Kejutan atau berujuk sebagai pembuat kejutan masih menjadi pokok cerita. Hal ini kita rasakan di beberapa cerita, seperti Kado Misterius garapan Fairuz Yumna Navira, Paket untuk Arya garapan Elnora Radea Putri, Hadiah Terakhir garapan Inayah Maunah, Sahabat Selamanya milik Rahma Khairunnisa, atau Special for Mom milik Zulfasya Redita Larasati.

Kado Misterius agak terpengaruh dari selera horor yang beberapa waktu ini cukup mendominasi tema perbukuan. Kita cukup bisa menebak bahwa kejutan sering ada dalam peristiwa ulang tahun. Kita cerap, “Kali ini kado tersebut diletakkan di dalam laciku. Kali ini kado tersebut dibungkus dengan kertas koran secara asal-asalan. Kado berisi foto dengan pigura berwarna coklat. Di dalamnya terdapat fotoku, tetapi anehnya aku tidak sendirian. Ada seorang anak kecil yang berdiri di belakangku dan melihat ke arah kamera. Anak itu terlihat seperti hantu dalam film horor. Padahal, foto itu aku simpan di laptopku.” Hiy!

Kita mungkin agak terkejut dengan cerita Misteri Pohon Beringin Tua yang digarap oleh Hanifa Nayla Ilma. Sejak judul, kita sudah bisa merasakan unsur gaib-seram. Ilma membawa pengalaman kolektif, terutama di Jawa, yang menganggap pohon beringin (selalu) memiliki penunggu. Setiap kali ada yang mendekati pohon beringin dan melongok ke rimbunan daun, orang pasti meninggal. Layla, si tokoh anak utama, menjadi pemecah mistis dengan menggunakan logika sains. Layla dan teman-teman berlagak menjadi detektif logis disokong oleh pengetahuan mutakhir, “Di bawah pohon itu banyak sekali oksigen. Paman Rion memiliki riwayat sakit asma yang akut. Ia kedinginan dan oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya terlalu banyak dan mendesak ke arah jantung.”

Zulfasya dalam cerita Special for My Mom membingkai kejutan dalam emosionalitas beribu. Diceritakan, “Rina memakai sandal jepitnya dan memandangi satu-satunya sepatu ibu yang diberikan oleh Bu Hajah Achmad sudah kumal dan usang. Jadi tak jarang ibu pergi kondangan dengan memakai kaos kaki dan sandal jepit.” Sepatu bekas dan sandal jepit adalah citra kesederhanaan yang lebih dekat pada kemiskinan. Rina pun memiliki impian kecil: membelikan sepatu buat ibu. Berprestasi, bekerja keras dengan cara membantu ibu jualan kue, dan menabung, tiga hal ini menjadi ikhtiar kecil Rina “mengejutkan” ibu.

Namun, Rina lebih dikejutkan oleh ketidakberuntungan. Sepatu cantik yang tempo hari dilihat di toko yang begitu ingin dibelikan untuk ibu, ternyata sudah dibeli orang. Sebagai penutupan, kita mendapat suatu hal yang khas. Ibu tidak menginginkan apa-apa selain harapan bagi Rina agar tumbuh dengan salehah dan berprestasi.  Kita mengingat satu hal bahwa suatu pemberian sederhana itu tampak monumental dan berkesan karena diberikan kepada orang terkasih lewat usaha penuh kesungguhan hati. Kesungguhan yang datang dari seorang anak, selalu bisa berdampak mesra bagi batin pembaca.  

Dari kesadaran anak-anak yang menulis, anak-anak memang tidak menampik bencana dalam cerita-cerita mereka. Kehilangan, kesedihan, ketidakberuntungan, kemiskinan, dan bahkan kematian adalah hal biasa. Kita memang sempat menemukan kecenderungan tiba-tiba tokoh meninggal, kecelakaan menimpa tokoh, atau sakit parah mendera. Hal-hal ini sepertinya masih dianggap sebagai peristiwa kehilangan yang hebat.

Nyaris tanpa beban konflik dan bersahaja, hadir di cerita Hari Makanan Indonesia garapan Abad Doa Abjad. Cerita ini tidak membawa unsur keseraman atau kesedihan, tapi kegembiraan yang cukup. Begini, “Pasar anak pun dimulai. Anak-anak berlari keluar kelas. Mereka telah dibagi kelompok di kelas. Mereka boleh membeli bermacam-macam makanan dari Indonesia. Lalu mencatatnya di kertas yang sudah disediakan. Aku dan kelompokku pergi berkeliling mencari makanan yang kelompokku inginkan.” Tidak ada dramatisasi atau keinginan meluapkan narasi. Cerita ini lebih berkesan diramu dari pengalaman dan pengamatan.

Kita berbahagia atas derma anak-anak atas buku ini. Aneka rasa dan peristiwa terdengar pas diracik dalam judul Beri Cerita. Anak-anak menulis bukan sebagai pengkhotbah moral yang serius. Pesan terselubung pasti ada, tapi kita cenderung tidak diajak repot mencari-cari atau bergegas meneladan.

Setyaningsih, Esais. Penulis cerita “Peri Buah-buahan Bekerja” (Kacamata Onde, 2018) Email : [email protected]

Buku, Resensi

Suara Pengungsi dalam Puisi

Oleh Al-Mahfud

Selain menjadi media ungkap yang ampuh menyentuh ceruk-ceruk terdalam palung hati seseorang, puisi juga sering menjadi media untuk menggambarkan keadaan orang-orang yang kesusahan. Melalui puisi, orang bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain yang sedang dilanda musibah, bencana, dan peperangan. Dari puisi, orang bisa terlempar ke suatu keadaan dan perasaaan, merenungi gejolak rasa di dalamnya, sehingga berempati dan bersimpati karenanya.

Hal tersebutlah yang dilakukan Khaled Hosseini dalam buku Sea Prayer. Di buku terbarunya ini, penulis kelahiran Kabul, Afghanistan tersebut menyuarakan nasib, kesedihan, juga harapan para pengungsi. Dihiasi ilustrasi yang begitu “hidup” dari Dan Williams, puisi-puisi Khaled mengajak kita menyaksikan, meresapi, dan merenungi nasib orang-orang yang hidup di tengah konflik, peperangan, kemudian pergi mencari suaka ke negeri orang.

Kita sering menyaksikan di media kabar tentang perang yang selalu berisi penderitaan, kerusakan, korban. Tak berhenti pada kerusakan fisik, kerugian material, dan hilangnya rasa aman. Lebih jauh, perang dan konflik dalam waktu yang lama kerap kali memaksa orang-orang pergi mengungsi, mencari tempat hidup yang lebih aman untuk sekadar ditinggali.

Namun, perjalanan mencari suaka tak pernah mudah. Kerap kali mereka dihadang banyak hal, baik orang-orang yang tak cukup ramah menerima kehadiran mereka, juga karena medan yang berbahaya. Berbagai kesusahan tersebut tergambar dalam puisi-puisi Khaled Hosseini. Ia mengaku, buku Sea Prayer mula-mula terinspirasi kisah seorang anak kecil yang menjadi bagian dari pengungsi Suriah. Anak tersebut meninggal karena tenggelam di Laut Mediterania.

Anak tersebut ialah Alan Kurdi, anak lelaki berusia tiga tahun yang menjadi bagian dari pengungsi yang mencari suaka di Eropa pada September 2015. Pada tahun tersebut, selain Alan Kurdi, ada sekitar 4.176 pengungsi lainnya yang juga tewas dan hilang di laut dalam perjalanan mencari suaka. Bertolak dari nasib yang dialami anak tersebut, Khalid seperti merasuk dalam perasaan orang-orang yang terpukul dan menanggung kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai.

Lebih spesifiknya, puisi-puisi Khaled seperti menyuarakan perasaan seorang ayah yang bercerita, mengenang, berdoa, dan berharap. Seorang ayah yang mengajak bicara anaknya yang bernama Marwan, yang begitu disayanginya, namun telah tiada. Mula-mula, kenangan masa kecil sang ayah di Suriah dimunculkan untuk menggambarkan keadaan desa yang semula damai, aman, dan tentram. Setiap pagi kami bangun dan mendengar/gemerisik pepohonan zaitun diterpa angin sepoi-sepoi/embik kambing-kambing nenekmu/ Udara yang sejuk dan matahari/tampak pucat layaknya buah kesemek/ di sebelah timur.

Akan tetapi, kedamaian tersebut mulai berubah sejak sering muncul demonstrasi, penyerangan, dan korban-korban yang berjatuhan. Awalnya, muncul demonstrasi/lalu pengepungan/langit memuntahkan bom-bom/ kelaparan/pemakaman. Di bagian ini, Dan Williams melalui goresan kanvasnya menghiasi puisi Khaled dengan ilustrasi-ilustrasi yang menggambarkan keadaan kota yang porak-poranda, bangunan-bangunan yang roboh, dengan kepulan asap hitam membumbung tinggi membuat lanskap muram di langit.

Khaled menulis keadaan di mana orang-orang harus bertahan hidup, bahkan terbiasa di tengah keadaan tersebut. Kau tahu kawah bom bisa dibuat menjadi kolam renang/kau belajar bahwa ibu, saudari perempuan, dan teman sekolah bisa ditemukan bersembunyi di celah-celah sempit antara beton.

Puisi-puisi di buku ini mencerminkan perasaan seorang ayah, yang bercerita kepada anaknya tentang masa kecil di daerah yang damai, juga Kota Homs yang jalan-jalannya ramai, terdapat di dalamnya masjid, gereja, serta pasar tempat orang-orang membeli makanan segar. Sebelum kemudian kota tersebut berubah menjadi daerah mencekam karena konflik dan perang. Keadaan kota yang aman dan damai di awal yang digambarkan membuat kita semakin bisa merasakan betapa sedihnya orang-orang di dalamnya, ketika kemudian semua itu sirna dan berubah menjadi tempat yang mencekam dan hampa.

Puisi-puisi beranjak menggambarkan saat-saat ketika orang-orang di kota tersebut harus pergi mengungsi. Menuju tepi laut, berkumpul, untuk kemudian memulai perjalanan jauh berlayar membelah lautan penuh bahaya. Menggambarkan kegelisahan, kecemasan, dan ketakutan saat para pengungsi sampai di tepi lautan, Khaled masih mengungkapkan dan menyuarakan perasaan seorang ayah yang memikirkan bagaimana nasib anaknya, Marwan, saat bersama ibunya, saat mereka ada di antara pengungsi lainnya.

Ada keinginan untuk bisa menenangkan, namun tetap dalam kekhawatiran. Bahwa anaknya sedang berada di tengah lautan. Lautan yang dalam, bergelombang, bahkan berbahaya. Kukatakan kepadamu/Genggam erat tanganku/Tidak akan ada hal buruk yang terjadi/ Tapi itu semua hanyalah kata-kata/Tipu daya seorang ayah/Tapi tipu daya itu membunuhku/membunuh kepercayaanmu kepadaku/Karena yang dapat kupikirkan malam ini/hanyalah begitu dalamnya lautan/dan betapa luas/serta tanpa ampun/Betapa aku tidak berdaya melindungimu dari lautan itu.

Ilustrasi menyuguhkan potret kerumunan pengungsi yang berjalan berbondong-bondong. Dan Williams menggoreskan kanvas, garis demi garis memberi kita penampakan sebuah kapal dengan muatan penuh pengungsi. Sebuah kapal tak begitu besar yang terombang-ambing di lautan bergelombang. Ketika kapal sudah meninggalkan tepi pantai dan mengarungi lautan, yang bisa dilakukan hanyalah pasrah dalam harap dan doa. Karena kau, kau adalah muatan berharga, Marwan/muatan paling berharga dari semua muatan yang pernah ada/Aku berdoa agar lautan mengetahui ini/Insya Allah. 

Buku puisi Sea Prayer menjadi cara Khaled memberi penghormatan dan kepedulian terhadap nasib para pengungsi. Penulis yang karya-karyanya terjual puluhan juta eksemplar di seluruh dunia tersebut juga seorang Duta Persahabatan bagi UNHCR, serta pendiri Yayasan Khaled Hosseini. Sedangkan Dan Williams merupakan seorang seniman dari London yang ilustrasi-ilustrasinya telah banyak menghiasi berbagai media ternama di dunia. Buku ini menjadi dedikasi mereka berdua untuk para pengungsi. Sebagian royalti hasil penjualan buku ini disumbangkan ke UNHCR dan yayasan Khaled untuk membantu meringankan beban para pengungsi di seluruh dunia.

Paduan puisi Khaled dan ilustrasi Dan Williams memberi gambaran nasib pengungsi dalam benak siapa pun yang membacanya. Rasa sedih, cemas, khawatir, gelisah, dan penuh harap, menjadi bentuk-bentuk emosi yang dihantarkan lewat puisi dan dirasakan siapa pun dari belahan dunia mana pun. Buku puisi ini mengabarkan nasib pengungsi ke segala penjuru bumi. Menggugah emosi, menumbuhkan simpati.

*Al-Mahfud, penikmat buku, dari Pati. Menulis ulasan buku di berbagai media massa, lokal maupun nasional.

Buku, Resensi

Kembali ke Akar Kata

Oleh: Alexander Robert Nainggolan

Puisi acapkali bersinggungan dengan kondisi keseharian penyairnya. Setidaknya ia menghimpun sejarah panjang yang melingkupi dari peristiwa itu. Maka apa yang dituliskan Kiki Sulistyo dalam kumpulan puisinya, dengan kembali ke dalam khazanah lokal (keseharian) dari lingkungan kehidupan menjadi sebuah cara unik untuk tetap menggali akar tradisi yang ada.

Jarang penyair yang mengangkat kultur kehidupan lokal yang ada. Dalam pembukanya Kiki mengisahkan perjalanan puisi-puisi yang terhimpun dalam buku ini, ia bercerita tentang sebuah dusun, kehidupan berpindahnya yang turut merekam segala peristiwa. Komunikasi yang kerap “mengganggunya”, namun menjadi bahan dasar dalam puisi-puisinya. Adalah bahasa Sasak sebagai komunikasi verbal yang juga turut imbas dalam gubahan puisinya. Maka insulin itu pulalah yang menjadi pemacu, saat ia merasa ada gangguan, namun lewat percakapan itu, Kiki justru menemukan sebuah instrumen yang baru. Istrumen yang kembali ia endapkan ulang, sebagai suatu nada yang bersahutan. Temali dengan imajinasinya.

Keunikan tradisi yang turut pula memengaruhi puisi-puisinya. Terasa memang bagaimana Kiki menghimpun diksi-diksi, dengan merangkum pelbagai alat, benda, tanda,  nama panggilan, tempat, ataupun aura bunyi yang terasa mistis. Ini yang menjadikan puisi-puisi dalam buku ini begitu unik.

Dan Kiki menulis: kusebut tenggara saat kau sebut pertengkaran, -antara mereka,/kelasi dan pencuri di kapal yang berlayar menuju Ampenan//…duyung itu bibi, datang pada suatu hari dengan rambut/berkepang//matanya lengkung limau muda, kulitnya lempung pulau sokotra//…hanya kelasi yang mengerti mengapa kini kota ini sekisut kuping/bayi//sebab ia tua oleh suara ombak menolak usia, ia celaka oleh upaya menjadi baka//(“Rawi Tanah Bakarti”, Hal. 12-13)

Ihwal Pasar Malam turut dicatat Kiki dalam puisi. Sebuah pasar malam, menjadi sebuah penanda permainan yang ada di dalamnya: kuda sirkus, bayi, orang kerdil, dan pembaca kartu. Ia menulis:

Perempuan itu datang membawa kartu/ di belakangnya seekor anjing buta/ menyeret sembilan tempurung, suaranya berdengung/setiap ia melulung, di angkasa ruh-ruh berwarna biru/ bergerak baghai wabah/perempuan itu menyalakan pelita, api berkedip/seperti mata siluman dalam botol limun/yang berkilau-kilau/kartu-kartu di tangan perempuan itu terbuka satu per satu/gambar-gambar di dalamnya jatuh ke tanah/hidup dan tumbuh:/cacing air yang terus-menerus mengisap cahaya/wayag yang meniup bayangannya sendiri/seorang menak tanpa kepala, tangan kiri yang merayap seperti kepiting./perempuan itu menunjuk ke ladang, bintang-bintang/padam di rambut setiap orang// (“Pembaca Kartu”, hal. 26). Terasa bagaimana Kiki menjaga keutuhan diksi puisinya. Rimanya terjaga dan tertib. Ia seperti tidak menyisakan celah lain, kata-kata menjadi lebih hidup dan menggambar maknanya sendiri.

Buku ini terbagi jadi empat bagian: Rawi Tanah Bakarti, Kitab Batu, Rumah Juru Tenun, Bakar Padi di Bakarti. Di setiap bagian, puisi-puisi saling bersinggungan, sehingga menciptakan peristiwa-peristiwa yang baru. Terasa bagaimana Kiki konsisten menjaga setiap bagian-bagian puisinya agar senantiasa berhubungan antara satu dengan lainnya.

Beberapa puisi menghadirkan pengulangan kata. Kata yang diulang tersebut menciptakan landai panjang saat membacanya, namun tetap menciptakan kelindan lain. Saat kata bertemu dengan kata yang lainnya. Pengulangan kata-kata itu menciptakan harmonisasi, yang lebih mirip nada pada sebuah lagu.

Bakarti

Sebagian besar buku ini, mengambil tema tentang Bakarti. Kiki merincikan dalam pelbagai pilahan, yang sekaligus meminta hasrat untuk tetap terjaga membacanya. Membentuk untaian, meramunya dengan pelbagai mitos dan dongeng yang kerap terjadi. Ia, meskipun tidak melakukan penelitian secara khusus, namun terasa bagaimana keseriusan yang dikerjakannya. Kiki seakan terjaga untuk tetap mengamati, setiap hal—ihwal yang terjadi di Bakarti. Dengan rinci, Kiki menjabarkan setiap peristiwa, lalu memberikan sentuhan metafora yang kadang tak terduga.

Tidak hanya Bakarti, Kiki juga memotret dengan lugas tentang penantian seorang Ibu akan kepulangan anaknya. Namun ternyata ada luka kehilangan yang kemudian ditemui:

Ibu tidur di beranda. Siaran radio meresap kulitnya./Sebelum tidur ia dengar suara pesawat melintas lambat./ Ia bayangkan putranya di dalam sana, hendak pulang./ Ia bayangkan hutan-hutan sawit melengkungkan punggung/remaja/yang potret masa kecilnya buram di dinding kamar.//Tunas tomat merekah tanah, sedikit di sebelah kanan rumah./Tapi tak ada pekerjaan, cara menghabiskan usia/di bawah langit yang sama semenjak sepasang pendosa/dibuang dari surga. Juga untuk menerima/bahwa para pembuat pepatan telah berdusta. Tak ada surga./Tak ada tongkat. Dan batu-batu tak diangkat derajatnya.// Ibu tidur di beranda. Dalam tidurnya, ia saksikan perahu kayu/mengangkut penumpang gelap. Hanyut ke rawa-rawa berasap./Sirine, sorot lampu, teriakan-teriakan dalam bahasa Melayu./Ia bayangkan putranya diturunkan dari pesawat. Terbaring pucat/ dalam peti yang engsel-engselnya mulai berkarat,// (“Ibu Tidur di Beranda”, hal. 95)

Kiki telah menciptakan langkah yang baru bagi perkembangan puisi. Pelbagai kosakata baru mengerubungi puisi-puisinya. Yang ternyata menciptakan makna baru pula, ia seperti mengorek ke akar kata. Membiarkan puisi-puisinya dihuni dengan kata-kata yang jauh dari kelaziman.

Melalui buku ini, Kiki telah memberikan corak yang baru dalam dunia perpuisian kita. Ia telah menghadirkan bentuk puisi yang baru, kembali ke tradisi lokal, hal yang mulai terlupakan selama ini. Ia kembali jauh di kedalaman akar kata, bagi puisi-puisinya.

Alex R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Saat ini bekerja di Jakarta. Tulisannya berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di pelbagai media cetak mauapun online. Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016). Bisa dihubungi : [email protected]

Buku, Resensi

Tagore di Zaman Ramai

Oleh Bandung Mawardi

Rabindranath Tagore (1861-1941), pujangga besar asal India, dikagumi bangsawan dan intelektual Jawa. Kagum atas puisi-puisi dan tata cara mengadakan pendidikan-pengajaran. Bentuk kagum diwujudkan dalam penerjemahan puisi dan ulasan pelbagai gagasan pendidikan dalam bahasa Belanda dan Jawa. Dua orang penting di pemuliaan Tagore adalah Noto Soeroto dan Soerjo Soeparto (Mangkunegara VII). Dua intelektual itu menekuni tulisan-tulisan Tagore saat menempuh studi di Belanda.

Soerjo Soeparto dianggap penerjemah awal puisi-puisi Tagore ke bahasa Jawa. Ia mungkin merasa ada ikatan batin imajinasi Tagore dengan batin kejawaan. Sejak ribuan tahun, Jawa turut dibentuk dengan kucuran imajinasi asal India. Pada abad XX, kemunculan Tagore sebagai peraih Nobel Sastra 1913 mengundang minat intelektual Jawa untuk memasuki jagat sastra memiliki tautan India-Jawa. Noto Soeroto tampil sebagai penerjemah Tagore ke bahasa Belanda. Bangsawan pernah berkancah di politik tapi “tersingkirkan” oleh kaum nasionalis itu malah rajin pula menggubah puisi dan artikel terpengaruh Tagore. Buku-buku bereferensi Tagore diterbitkan di Belanda, sempat beredar di Hindia-Belanda (Harry A Poeze, Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950, 2008).

Pikat ke sastra Tagore terjadi pula di Hindia-Belanda. Muhammad Yamin dan Amir Hamzah ada di muka dalam penerjemahan dan pengenalan Tagore ke umat sastra di Indonesia masa 1920-an dan 1930-an. Sekian terjemahan terbaca dan menebar pengaruh dalam sastra, pendidikan, dan religiositas. Tagore tak terasa asing. Pada masa 1920-an pula, Tagore berkunjung ke Jawa: Mangkunegaran dan Perguruan Nasional Taman Siswa. Pesona sastra Tagore semakin membesar dengan edisi-edisi terjemahan oleh Amal Hamzah, Anas Ma’ruf, dan Hartojo Andangdjaja. Tagore seperti bertanah-air di Indonesia, ada di arus perkembangan sastra modern bercap estetika Timur.

Dua buku terjemahan sering diulas di Indonesia adalah Gintanjali dan Tukang Kebun. Pada masa lalu, Gitanjali diterjemahkan oleh Amal Hamzah. Edisi itu menjadi klasik tapi agak sulit terbaca bagi orang-orang sudah berbahasa Indonesia dengan EYD (1972). Pada 1976, Hartojo Andangdjaja melalui edisi bahasa Inggris memberi terjemahan Tukang Kebun. Pada akhir 2018, buku itu terbit lagi. Kita membaca (lagi) saat Indonesia terlalu ramai oleh politik dan agama. Di lembaran-lembaran sastra gubahan Tagore kita diajak menepi: menjalani renungan dan menempuhi bahasa estetis menampik politis.

“Apakah arti Tagore pada kita?” Kalimat itu ditulis Hartojo Andangdjaja berlatar abad XX. Kini, kita bias mengimbuhi dengan situasi abad XXI: “Apa suara Tagore terdengar jauh?” Pikat sastra Timur perlahan pudar, setelah umat pembaca di Indonesia cenderung terkesima ke pelbagai terjemahan sastra asal Amerika Serikat, Amerika Latin, Prancis, dan Jerman. Panggilan ke Timur masih terasa dengan sekian terjemahan sastra asal Jepang dan Tiongkok. Buku-buku asal India masih diterjemahkan tapi seperti meninggalkan Tagore di masa lalu. Di mata Hartojo Andangdjaja, persembahan sastra Tagore itu terlalu berarti, memerlukan puluhan paragraf.

Jawaban berbeda diberikan Goenawan Mohamad: “Memang di atas segalanya, Tagore adalah seniman. Kebebasan, kreativitas, kehidupan rohani: semua itu hal yang tak bias ditawar dari dirinya. Dari sinilah hidup dihayati sebagai keindahan dan kegembiraan yang tak kunjung putus, yang dikaruniakan Pencipta pada kita.” Pujian dituliskan pada 1968, masih di gelagat kesusastraan religius di abad XX. Pada masa berbeda, kesan atas Tagore itu menggenapi pengakuan mutu terjemahan Hartojo Andangdjaja. Kita beruntung mendapat Tukang Kebun, melintasi tahun-tahun untuk renungan di zaman terlalu ramai kata dan pemiskinan imajinasi religius.

Tagore bercerita: “Jika seorang pengembara, meninggalkan rumahnya, datang ke sini untuk berjaga semalam-malaman dan dengan kepala tunduk mendengar-dengarkan hingar kegelapan itu, siapakah akan membisikkan rahasia hidup ke telinganya, jika aku, menutup pintu, mencoba hendak membebaskan diriku dari ikatan fana?” Pengembara, tokoh di pencarian-penemuan hakikat. Ia bergerak tanpa lelah meski jeda dan istirahat pun diperlukan, bukan peristiwa nihil tapi tetap bergelimang makna di keinsafan. Hasrat ke menguak rahasia belum tamat, menanti di kepasrahan.

Kita membaca paragraf itu di keriuhan nasihat-nasihat beredar di media sosia. Beredar tanpa mengajak “pengembaraan” bersuasana “purba”. Tagore masih kita perlukan meski mata-membaca dan mata-renungan telah berganti ke mata-potret di putaran detik terlalu cepat. Rahasia terus disingkap secara serampangan dan kolosal. Kegelapan dimusuhi terang sepanjang hari. Gelap itu musuh di abad XXI, terlarang bagi nafsu kegirangan tak pernah usai. Kini, Tagore mungkin suara dari jauh. Kita mendengar lirih, susah mencari sumber atau mendekati dengan gemetar dan serius.

Pada cerita lain, Tagore mengisahkan: “Dia duduk di debu di bawah pohon. Bentangkan di sana alas duduk dengan bunga-bunga dan daunan, kawan. Matanya duka dan menimbulkan kedukaan dalam hatiku. Dia tidak mengatakan apa yang tersimpan dalam hatinya; dia hanya datang dan pergi.” Bahasa itu memang berasal dari masa lalu, sulit digunakan lagi bagi manusia-manusia biasa mengumbar rahasia ke ribuan orang setiap detik. Rahasia-rahasia puncak tak lagi diinginkan atau dianggap masih penting bagi manusia dan dunia. Diksi debu, pohon, bunga, dan daun milik penekun rahasia cenderung memilih diam ketimbang cerewet sembrono. Pada paragraf itu kita semakin tak mengerti peristiwa dan makna datang-pergi, setelah kecepatan menjadi dalil terpokok abad XXI. Datang-pergi itu rutin tanpa pendasaran ingin dan capaian berpijak religius.

Pada hari-hari peremehan rahasia, adegan membaca Tukang Kebun berisiko keterpencilan pembaca. Tagore milik orang terpencil? “Dan itulah Tagore. Ia telah membukakan kaki langit itu bagi kita,” tulis Hartojo Andangdjaja. Kaki langit dimaksudkan kita bergerak ke arah sumber rahasia. Bergerak dengan lirik-lirik mistis buatan Tagore. Manusia hari ini mungkin tak memerlukan mistis, memihak ke segala hal berselera politis dan bisnis agar merasa sah berada di kaum keramaian sepanjang hari. Mistis cuma milik orang memuja masa silam, masih berjalan di bahasa tak tergesa, dan belum dilanda keberlimpahan rupa-warna.

Tagore mengingatkan kita di akhir persembahan Tukang Kebun, percakapan dekat-jauh: “Siapakah engkau, pembaca, membaca sajakku seabad lama? Tak dapat aku mengirimkan padamu setangkai bunga pun dari kemewahan musim semi ini, segaris kencana dari awan-awan di jauh sana. Bukalah pintumu dan pandanglah ke luar!” Larik awal tak pernah diralat. Kini, kita membaca melebihi seabad laku, berbeda penghitungan waktu dari saat penggubahan sastra oleh Tagore. Semula, kita diperkenalkan dengan Rabindranath Tagore, dekat dan jauh. Di akhir, kita harus menjawab pada Tagore saat masih menempatkan diri sebagai pembaca di zaman ramai mulai kehilangan puisi di bumi-langit. Begitu.   

Bandung Mawardi.
Kuncen Bilik Literasi
Penulis di pengenangpuisi.wordpress.com

Film, Resensi

Film KTP: Suara dari Kaum Klasik

Oleh: Bima Widiatiaga

Raut muka Darno, petugas dari kantor kecamatan, tampak bingung saat Mbah Karsono menjawab agamanya Kejawen. Di blangko formulir data KTP yang dibawa Darno, tak ada kolom agama Kejawen. Dia pun menawari Mbah Karsono memilih opsi agama yang ada di dalam kolom formulir, yaitu Islam, Kristen, Katolik, atau Konghucu. Mbah Karsono tetap teguh tak mau. Bahkan, hingga dibujuk oleh tetangga, Nunung, Mbah Karsono tetap enggan sambil menunjuk jarinya ke atas dan berucap ‘manunggaling kawula gusti’.

Bukan tanpa maksud Darno rela datang ke gubuk Mbah Karsono dengan menempuh jalan desa yang masih berbentuk rabat beton. Ia ditugaskan untuk mendata Mbah Karsono untuk pembuatan KTP. Adanya KTP sangat penting agar Mbah Karsono mendapatkan Kartu Sehat.

Darno dan Nunung pun bingung, berbeda dengan raut muka Mbah Karsono yang tetap kalem. Nunung pun akhirnya meminta pendapat Pak RT, Pak Karso (Ketua Badan Musyawarah Warga), hingga Mbak Sumirah, Mbokde Narti, Joni, Susi Parabola, dan Mbak Sri Krebo.

Warga pun akhirnya bersepakat bahwa urusan Kartu Sehat, Mbah Karsono tak harus dapat. Alasannya, warga Desa Rojoalas menghormati kepercayaan Kejawen Mbah Karsono. Warga dan Mbah Karsono tak mau karena hanya sekadar benda berbentuk kartu, kepercayaan pun tergadaikan. Sebagai konsekuensinya, warga rela menanggung biaya kesehatan Mbah Karsono bila-bila Mbah Karsono jatuh sakit nantinya.

Itulah ringkasan singkat film pendek berjudul KTP. Film ini disutradarai oleh Bobby Prasetyo dan diproduksi oleh ASA Film. Kisah menarik dan jenaka berselimut kritik tersebut, berbuah Juara I Kategori Umum Festival Video Edukasi (FVE) 2016 yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Ya, film pendek tersebut bila disaksikan dapat mengocok perut penonton. Namun, di balik kisah jenakanya, terbalut sebuah suara kritik. Ada dua kritik di film tersebut, pertama, tentang birokrasi masih belum sepenuhnya memecahkan masalah. Hal ini bisa kita lihat di kenyataan dalam survei birokrasi pelayanan publik dari Lembaga Klimatologi Politik (LKP) di bulan November 2015, satu tahun dari jangka waktu film pendek ini ikut kompetisi. Masih ada sekitar 10,5% responden survei yang beranggapan buruk mengenai birokrasi pelayanan publik. Memang, jumlah tersebut turun dari waktu ke waktu, namun hal ini harus tetap dibenahi oleh pemerintah.

Namun, kritik sebenarnya yang disuarakan oleh film pendek KTP, menurut hemat saya adalah kritik soal kolom agama di KTP. Mbah Karsono gagal dapat KTP karena di kolom agama, tidak dapat opsi agama Kejawen. Opsi agama yang ada hanya enam agama yang katanya merupakan agama yang diakui oleh negara? Benarkah secara hukum formal, negara hanya mengakui enam agama?

Menurut Anick HT, Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), melalui bbc.com/indonesia/, tak satupun undang-undang yang secara tegas menyebut agama-agama yang dianggap resmi dan diakui negara. Menurutnya, satu-satunya peraturan yang menyebutkan nama-nama agama yang dianut rakyat Indonesia hanyalah Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 1/PNPS Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.

Teka-teki tersebut terjawab di penjelasan Pasal 1 Penpres tersebut. Enam agama yang lazim kita dengar sebagai agama yang diakui oleh Pemerintah, menurut penjelasan Pasal 1 menyebutkan “agama-agama yang dipeluk hampir seluruh penduduk Indonesia”, tidak ada penyebutan “agama yang diakui oleh pemerintah”. Dalam penjelasan Pasal 1 tersebut juga dijelaskan bahwa penduduk yang memeluk agama selain enam agama mayoritas di Indonesia, mendapat jaminan penuh seperti yang diberikan oleh Pasal 29 ayat 2 UUD 1945. Artinya, untuk Mbah Karsono dan penduduk lain yang bernasib sama seperti Mbah Karsono juga mendapat jaminan, termasuk jaminan administrasi, yaitu pengisian agama yang dianutnya di kolom agama KTP di luar enam agama mayoritas.

Suara Mbah Karsono di dalam film pendek KTP dan penduduk lain, khususnya penganut penghayat kepercayaan dan agama selain enam agama mayoritas, akhirnya didengar oleh badan yudikatif, yaitu Mahkamah Konstitusi (MK). Tanggal 11 November 2017, menjadi hari bersejarah bagi kaum yamg memperjuangkan hak kesetaraan, khususnya di bidang administrasi penduduk. MK mengabulkan suara mereka, meski di kolom agama di KTP, hanya ditulis “penghayat kepercayaan”, namun itu sudah cukup membuat lega para penganutnya.

Sebelumnya, hanya Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemdikbud), yang mengakui bahkan turut membina kelompok penghayat kepercayaan yang jumlahnya mencapai 187 di seluruh Indonesia. Pun di beberapa tahun terakhir, Kemdikbud memfasilitasi anak-anak penghayat kepercayaan yang bersekolah untuk mendapat fasilitas pengajaran mata pelajaran kepercayaan yang dianut. Sebelumnya, mereka ikut pelajaran agama menurut enam agama mayoritas di Indonesia.

Di akhir resensi atau entah berbentuk opini ini, bagi kita yang menganut enam agama mayoritas hendaknya berkaca lagi. Kita mungkin banyak menuntut hak beribadah, seperti menutup jalan raya atau meminta sekompi pengamanan dari aparat keamanan. Namun, bila kita melihat perjuangan para ‘kaum klasik’ yang hanya meminta hak administrasi saja yang mungkin sepele bagi kita, mereka berjuang sampai ke tingkat meja hijau berlarut-larut. Mereka tak minta lebih, cukup diakui dan dijamin segala hal yang membuat mereka tenang menjalani kehidupan sehari-hari dan beribadah. Setelah pemerintah, kita sebagai kawula alit bisa berkontribusi untuk mereka dengan merangkul mereka sebagai bagian dari rumah besar bernama Indonesia. Dan, lewat film pendek KTP, merupakan contoh cara menyuarakan suara mereka serta mengakui dan mengayomi mereka.


Bima Widiatiaga Alumnus Ilmu Sejarah FIB UNS. Penggiat sejarah musik dan kebudayaan Indonesia. Anggota komunitas sejarah Solo Societeit.

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI