Buku, Resensi

Si Tua Bercerita dan Bernostalgia

Oleh Bandung Mawardi

Ibu Sud tak dicantumkan dalam cerita pendek. Nama terlupa tapi lagu-lagu sering disenandungkan bocah-bocah dalam pelbagai acara. Pada peringatan Hari Kemerdekaan, lagu gubahan Ibu Sud berjudul Berkibarlah Benderaku tentu dilantunkan dengan lantang dan bersemangat. Lagu terkenang sepanjang masa, belum tentu nama. Pada peringatan Hari Kemerdekaan, kita cenderung mengingat dua nama penting: Soekarno dan Mohammad Hatta. Nama para penggubah lagu patriotik sering dilantunkan dalam upacara bendera, panggung Agustusan, dan lomba gampang dilupakan atau lekas disebut “anonim”.

Cerita pendek itu berjudul “Berkibarlah Benderaku” gubahan Sapardi Djoko Damono. Cerita masuk dalam buku cerita berjudul Menghardik Gerimis (2019). Cerita itu gamblang mengenai cara kita memberi arti dan kemerduan Hari Kemerdekaan. Judul lagu gubahan Ibu Sud dan cerita itu sama. Pembaca mungkin menebak bakal menemukan nama Ibu Sud. Salah! Sapardi Djoko Damono cuma memerlukan lagu, tak wajib menulis nama penggubah lagu. Pengarang bertubuh kurus itu menulis: “Bendera tidak bisa bergoyang kalau tidak ada angin. Apa lagi berkibar. Padahal, di sekolah anak-anak diajari nyanyi, Berkibarlah benderaku, lambang suci gagah perwira”. Sejak bocah, lagu itu sudah dikenali pengarang. Pada cerita, nostalgia dituliskan saat lagu Berkibarlah Benderaku tetap pilihan dalam membarakan nasionalisme dan memerdukan kemerdekaan.

Di cerita pendek, kita dituntun ke imajinasi keluguan mengenai bendera, angin, dan rumput. Liris. Kita diingatkan dengan 17 Agustus tapi bergerak ke sendu-haru. Cerita tak heroik. Sapardi Djoko Damono justru memberi rangsang imajinasi agak menjauh dari ingatan mengandung bedil, pekik, dan jeritan. Ia menulis nasib “bendera imut” atau “si mungil”. Semula, bendera itu dipasang di pagar. Sekian hari setelah 17 Agustus, bendera imut jatuh. Kita turut merasakan: “Tentu saja si mungil itu pernah berkibar, atau setidaknya bergoyang-goyang kena angin ketika masih dalam untaian. Masalahnya, setelah bendera itu tanggal dan jatuh di pinggir selokan di sudut rumputan yang tidak terurus, ia tidak pernah disentuh angin. Rumput yang tumbuh di sekitarnya, yang sekarang menjadi teman ngobrolnya, juga tidak berkibar.” Cerita mengharukan tak selalu ke masa lalu, masa para tokoh bangsa dan kaum muda memuliakan Indonesia dengan pengibaran bendera dengan konsekuensi mati.

Pada masa berbeda, Sapardi Djoko Damono suguhkan imajinasi lugu. Pembaca mungkin menuduh si pengarang sudah “keterlaluan”. Pembaca dijerat di permainan imajinasi dan makna. Pada 1983, Sapardi Djoko Damono menulis esai-biografis berjudul Permainan Makna, memberi nostalgia masa bocah ke pembaca: “Namun tahun-tahun sesudah kemerdekaan memang terasa ganjil dalam kenangan: sehari makan dua piring bubur, pagi dan sore; ibu menjual buku-buku tebal untuk membeli minyak tanah; ayah di luar kota entah di mana untuk menghindarkan diri dari penangkapan Belanda; siang hari sering saya saksikan pesawat terbang Belanda menjatuhkan bom di beberapa kampung, malam hari terjadi pembakaran gedung-gedung dan rumah-rumah besar.” Kenangan itu terjadi di Solo. Sapardi Djoko Damono tak mengingat bendera tapi memberi susulan dengan cerita minta pembaca di pinggiran imajinasi bendera, tak memusat ke proklamasi atau pengibaran bendera di halaman rumah Soekarno (Jakarta). Bendera itu bernasib memelas: jatuh di pinggiran selokan. Kita pun iba. Di situ, pengarang ingin kita mengerti nasib bendera berkibar dipengaruhi angin dan sadar tiada “apa” dan “siapa” mau lagi memberi perhatian: kata dan sikap.

Masa bocah di Solo terus teringat dan dituliskan saat tua menjadi cerita berjudul “Layang-Layang”. Dulu, Sapardi Djoko Damono suka bermain layang-layang, gobak sodor, gundu, adu cengkrik, benthik, dan lain-lain. Semula, pengalaman-pengalaman masa kecil ditulis dalam puisi. Kini, ia menaruh dalam cerita pendek. Di alun-alun sebelah selatan Keraton Kasunanan, bocah-bocah bergirang bermain layang-layang. Seorang bocah kaget melihat layang-layang putus, terbang tak tentu arah. Ia tak mau kehilangan. Layang-layang itu dikejar. Sapardi Djoko Damono menceritakan dengan seru. Bocah mengejar layang-layang melewati pasar (tempat sang ibu berjualan bunga), berlari terus melewati tanggul Bengawan (tempat mangkal pelacur), dan berlanjut melintasi jalan panjang (tempat ia dan bapak mencari cengkerik dan gangsir). Layang-layang terus terbang tinggi, tak mau jatuh ke tanah. Surup berakhir, bocah belum berhasil menangkap layang-layang. Si bocah malah roboh di depan rumah seseorang. Ia kecapekan dan kehabisan napas meski sempat mendengar azan magrib. Kita diajak terharu gara-gara si bocah tak mau kehilangan layang-layang digambari mahkota oleh bapak. Ia takut kehilangan dan terlalu kagum pada layang-layang. Sapardi Djoko Damono memang “keterlaluan” dalam bercerita.

Pada masa remaja, keluarga Sapardi Djoko Damono pindah ke pinggiran Solo sebelah utara, menjauh dari keramaian kota. Sapardi Djoko Damono belajar di SMA Negeri 2 Solo. Ia sudah memiliki minat sastra meski kalem. Hidup dalam kesederhanaan dan berdekatan alam: “Kami lama-lama terbiasa dengan suasana yang sama sekali berbeda. Gerisik rumpun bambu, suara air sungai di sebelah rumah kalau malam tiba, dan lampu teplok.” Suasana teringat bersama kebiasaan “menguping” obrolan bapak dan teman di malam hari. Si tokoh memang menunda tidur demi mendengar tamu itu menembang dan bercakap. Tembang terdengar dan percakapan. Si tokoh pernah belajar di sekolah khusus priyayi lekas mengenali larik-larik dalam tembang. Malam itu ia menikmati Kalatidha gubahan Ranggawarsita. Orang-orang mengenali sebagai “pujangga keraton terakhir” di Solo.

Pada saat menua, Sapardi Djoko Damono membagi biografi di gubahan cerita-cerita, “bertokoh diri” sebagai bocah dan remaja. Kita membaca cerita-cerita setelah kagum menikmati puisi-puisi lirik gubahan Sapardi Djoko Damono. Ia memang penggubah puisi tenar. Predikat sebagai penulis cerita pendek dan novel dimiliki belakangan. Semula, ia cuma peresensi, juri, dan kritikus sastra dalam mengulas puluhan cerita pendek atau novel. “Cerpen memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari, juga mungkin sekaligus membenarkan pendapat bahwa kita semua pada dasarnya membutuhkan fakta dan fiksi,” penjelasan Sapardi Djoko Damono dalam esai berjudul Dapatkah Kita Menghindarkan Diri dari Cerpen? (1975). Ketekunan menggubah puisi disempurnakan dengan menulis puluhan cerita pendek. Sapardi Djoko Damono telat membuktikan bahwa sulit menghindarkan diri dari gairah menulis cerita pendek!

Ia mungkin mendendam mengetahui nasib cerpen di masa 1970-an sering “meragukan” alias “tak jelas”. Orang-orang atau kaum pembaca cenderung memberi perhatian ke puisi atau novel, belum cerpen. Seminar dan festival sastra jarang memberi tempat bagi cerpen. Dulu, Sapardi Djoko Damono setor sindiran: “Kita harap saja bahwa jarangnya cerpen dibicarakan itu merupakan suatu pertanda bahwa ia memang sudah punya tempat yang layak dalam masyarakat dan sungguh-sungguh berguna bagi pembacanya.” Pada 2019, kita menjadi pembaca cerita-cerita gubahan Sapardi Djoko Damono, membuat pengakuan kecil bahwa cerita sudah memiliki tempat dan berguna mumpung si pengarang asal Solo itu sudah tenar dan berpengaruh dalam kesusastraan di Indonesia. Begitu.


Bandung MawardiPenulis buku Pengisah dan Pengasih (2019)

Buku, Resensi

Sisi Buruk Kebaikan

Oleh Kiki Sulistyo

Kekuasaan dapat membelokkan hal yang baik menjadi buruk, sanggup mengubah harapan menjadi penderitaan. Dalam lintasan sejarah manusia, dengan berbagai skala, kekuasaan selalu menjadi masalah. Ada saat ketika kekuasaan begitu memabukkan, sehingga mereka yang menggenggamnya jadi lupa segalanya. Kekuasaan itu sendiri adalah keniscayaan, seperti yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca “tak ada manusia yang bisa terbebas dari kekuasaan sesamanya”. Oleh karena itu, reaksi, sikap kritis, maupun perlawanan terhadapnya juga akan terus berlangsung dalam suasana apapun. Seringkali sikap dan tindakan tersebut sebenarnya hanya modus karena kalah dalam perebutan kekuasaan atau sebagai strategi untuk mendapatkan atau merebut kekuasaan, yang kelak menjungkirkan posisi seseorang menjadi serupa dengan apa yang dulu dilawannya.

Dalam hubungannya dengan sastra, kekuasaan adalah bahan bakar utama lahirnya pelbagai karya dalam khazanah sastra di pelbagai penjuru dunia. Sastra sering menempatkan diri sebagai oposisi atas kekuasaan, terutama kekuasaan yang menindas. Karya sastra (baik puisi, cerpen, novel, atau naskah drama) menyentil, mencubit, mengusik, sampai mengutuk kekuasaan seraya menebarkan stimulan bagi kesadaran.

Buku kumpulan cerpen Yudhi Herwibowo, Empat Aku (Marjin Kiri, 2019), juga tidak lepas dari semangat seperti itu. Kekuasaan menjadi subject matter hampir semua kisah dalam buku ini. Baik itu kekuasaan kapital maupun politik, yang pada kenyataannya kerap berkelindan, mengakibatkan ketidakberdayaan di lingkungan paling bawah dari piramida sosial. Ketidakberdayaan tersebut sering memaksa seseorang berada dalam posisi yang sulit dan mengambil tindakan yang tidak sepantasnya.

Dalam cerpen “Langda, Suatu Ketika” dikisahkan bagaimana Eba Deyal menipu sahabatnya, Marten, dengan memberikan kapak batu buatan orang lain, karena kapak batu yang dibuatnya dari batu pilihan dan sudah dijanjikan buat Marten, terpaksa harus dijual untuk menyambung hidup anak-anaknya. Cerpen ini menggunakan setting faktual—di Yakuhimo, Papua—sehingga kita langsung mengingat bagaimana relasi negara dengan salah satu provinsi terluar itu. Baik Eba Deyal maupun Marten adalah bagian dari mata-rantai korban dari kelalaian negara dalam mengurus kesejahteraan warganya.

Ketidakberdayaan semacam itu pada satu titik melahirkan harapan-harapan yang bersifat ilusif; fatamorgana dari kebuntuan jalan keluar. Itu misalnya tampak dalam cerpen “Jejak Air”. Ketika perusahaan air minum kemasan memonopoli ketersediaan air di desa tempat tinggal Jarot, kekeringan mulai melanda. Protes dan perlawanan warga disumpal dengan uang. Jarot yang menolak untuk disuap, akhirnya hanya bersandar pada harapan yang bersumber dari cerita kakeknya di masa lampau, bahwa nanti akan datang laki-laki yang di setiap bekas jejak kakinya mengalir air yang begitu bening untuk kita semua di sini.” (hal.71).

Hal menarik dari cerita-cerita dalam Empat Aku adalah bagaimana situasi paradoks muncul dari modus kekuasaan dalam upaya menancapkan kukunya. Modus itu berupa perubahan dan kebaikan, yang pada saatnya menampakkan wajah ganda sebagai sumber keburukan. Konsekuensinya kemudian adalah jejaring problem yang menjerat sampai ke wilayah internal masyarakat, bahkan ke wilayah inter-personal. Dalam cerpen “Kampung Rampok” misalnya. Kemunculan seorang laki-laki yang digambarkan baik (dia bertanya dengan sopan, membelikan rokok, padahal dia sendiri tidak merokok) tampak seolah hendak membuat perubahan di kampung rampok, membuat kampung itu menjadi lebih beradab; suatu tipikal hero dalam banyak cerita. Tetapi laki-laki itu ternyata hanya ingin merebut kekuasaan dari kepala kampung. Masyarakat (melalui tokoh aku) sebenarnya tidak peduli. Ya benar, siapa pun pemimpinnya, yang penting kami tak peduli! (hal.10). Sikap apatis itu berubah jadi ketakutan ketika ternyata si kepala kampung yang baru, jauh lebih kejam dari yang sebelumnya. Tak ada warga yang bisa keluar dari sana, sementara warga sendiri takut tinggal sebab seperti hanya menunggu giliran untuk dimangsa.

Modus perubahan dan kebaikan yang dilancarkan kekuasaan juga mencolok dalam cerpen “Jejak Air” di mana berdirinya perusahaan air minum kemasan pada mulanya membuka lapangan kerja pada warga setempat. Atau dalam cerpen “Jendela” di mana seorang promotor seni memperoleh keuntungan dengan membuat pameran lukisan karya pelukis yang mati bunuh diri, dengan alasan menghormati si pelukis, sementara selama hidupnya hampir tak ada lukisannya yang terjual, hingga ia jatuh melarat.

Cerpen “Empat Aku” yang menjadi judul buku ini paling jelas memperlihatkan bagaimana kekuasaan membuat jaring-jaring problem inter-personal. Dengan gaya eksperimental cerpen ini menggambarkan konflik empat-karakter dalam diri aku. Seluruh karakter itu menyimpan keinginan untuk menguasai aku sepenuhnya. Masing-masing karakter memiliki watak-gandanya sendiri; aku-pertama yang dermawan tapi licik, aku-kedua yang rajin berdoa tapi lemah, aku-ketiga yang optimis tapi antipati, serta aku-keempat yang penuh empati tapi pesimistis. Kompleksitas itu menggambarkan suatu situasi paradoks, sebagaimana yang diucapkan aku-pertama: selalu ada sisi buruk dari segala kebaikan (hal.30).

Sisi buruk kebaikan—yang muncul lantaran kebaikan hanya modus semata—adalah nilai signifikan dari tema kekuasaan dalam cerpen-cerpen di buku Empat Aku ini. Yudhi Herwibowo membawa pembaca melompat dari setting faktual ke setting fiksional, dari narasi referensial ke narasi imajiner. Tetapi seluruhnya diikat oleh perhatiannya pada konsekuensi-konsekuensi kekuasaan yang seakan menebalkan tulisan Pramoedya yang dikutip di atas, bahwa manusia tak mungkin bebas dari kekuasaan sesamanya. Jika manusia tak bisa bebas dari kekuasaan, maka hanya pilihan menyerah atau melawan yang tersedia. Dan tokoh-tokoh di dalam kumpulan cerpen ini masing-masing telah memilih.***


Kiki Sulistyo, pengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Buku, Resensi

Pengenalan dan Penambahan

Oleh Bandung Mawardi

Pekerjaan serius dan besar dibuktikan Anton Kurnia berupa Ensiklopedia Sastra Dunia. Buku berukuran besar dan tebal pantas mendapat pujian. Ikhtiar semakin mengenalkan sastra dunia ke pembaca di Indonesia. Buku itu biru, memberi ajakan berkelana dengan penasaran dan ketakjuban mengenali para pengarang tenar dari pelbagai negara, dari masa ke masa. Ensiklopedia cenderung ke tokoh meski agak memberi uraian mengenai buku dan pemerolehan penghargaan. Keinginan mengenali pengarang tak lekas bermula di sampul buku. Di situ, pembaca tak usah berharap melihat foto para pengarang. Gambar di sampul anggaplah penghiburan, sebelum pembaca terjerat di renungan atau terpana tak berkesudahan.

Buku dipersembahkan ke pembaca di Indonesia yang bernafsu membaca ratusan buku sastra dari pelbagai negara dan memiliki daftar pengarang pujaan. Di Ensiklopedia Sastra Dunia, kita masih mendapat lega bahwa ada nama-nama pengarang asal Indonesia “diakui” termasuk pengarang bertaraf internasional: Pramoedya Ananta Toer dan Eka Kurniawan. Jumlah memang sedikit ketimbang para pengarang asal Jepang, Tiongkok, Amerika Latin, Rusia, Prancis, Jerman, Inggris, Spanyol, Arab, India, Afrika, dan Amerika Serikat. Buku susunan Anton Kurnia itu memang pantas meresmikan dua pengarang Indonesia di tatapan sastra dunia, tak cuma lingkup nasional.

Sekian nama pengarang besar sudah dikenalkan melalui terjemahan-terjemahan, sejak awal abad XX. Dulu, para pengarang di masa 1920-an sudah getol menerjemahkan sastra dunia ke bahasa Indonesia. Pada masa 1950-an, kerja penerjemahan itu semakin menguat untuk menjadikan sastra dunia terbaca atau tebar pengaruh di Indonesia. Pesta sastra terjemahan terasa di masa 1970-an. Buku-buku persembahan para pengarang meraih Nobel Sastra dan Pulitzer Prize berlimpahan dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia. Sekian babak menentukan pengenalan pengarang dan buku sastra bertaraf internasional itu tercatat rapi dan dokumentatif dalam buku berjudul Dari Khasanah Sastra Dunia (1985) susunan Jakob Sumardjo. Buku sudah langka, tak ada di daftar pustaka dalam Ensiklopedia Sastra Dunia. Anton Kurnia mungkin pernah membaca tapi sengaja tak memilih jadi referensi.

Pada 1991, pembaca atau peminat sastra Prancis dimanjakan dengan penerbitan Kamus Karya Sastra Perancis susunan M Bouty. Kamus bermutu memuat ulasan buku-buku sastra Prancis dan cuilan-cuilan biografi. Kamus dibaca dengan pengenalan ke buku-buku tercatat penting di sejarah kesusastraan Prancis atau dunia. Buku itu pernah digunakan dalam pengajaran sastra di sekolah dan penuntun bagi penerjemah. Buku juga berwarna biru tapi tak dipilih Anton Kurnia sebagai referensi.  

Kita menemukan para pengarang Prancis mendapat perhatian besar di Ensiklopedia Sastra Dunia. Pembaca berkenalan dengan Albert Camus, Alexander Dumas, Anatole France, Andre Breton, Andre Gide, Andre Malraux, Antoine de Sain-Exupery, Arthur Rimbaud, Emile Zola, Francois Mauriac, Guillaume Apollinaire, Guy de Maupassant, Honore dan Balzac, dan lain-lain. Anton Kurnia memiliki cara kerja dan selera berbeda untuk mengenalkan para pengarang dunia ke pembaca di Indonesia. Ia menjelaskan: “Sebagai sebuah ensiklopedia sederhana dan pengantar menjelajah khazanah sastra dunia, buku ini memuat ikhtisar sejarah sastra dunia sejak ribuan tahun lampau, profil 335 sastrawan terkemuka dari pelbagai penjuru dunia dan zaman.” Bahan-bahan diperoleh dari buku, majalah, koran, situs internet, ensiklopedia digital, dan catatan pribadi.

Pembeli dan pembaca Ensiklopedia Sastra Dunia dijanjikan mendapat pengantar bermutu. Di halaman 38, kita melihat foto dan membaca profil Andre Gide (1869-1951), pengarang asal Prancis. Ia meraih Nobel Sastra 1947. Pembaca di Indonesia sudah bisa membaca gubahan Andre Gide melalui terjemahan Chairil Anwar berjudul Pulanglah Si Anak Hilang (1948). Dulu, sastra dunia lekas terbaca dan memikat para pengarang di Indonesia tak perlu menunggu lama di edisi terjemahan bahasa Indonesia. Novel pertama Andre Gide berjudul La Orte etroite (1909). Novel apik dan sudah difilmkan berjudul La symphonie pastorale (1919). Kita beruntung meski terlambat mendapat edisi terjemahan bahasa Indonesia oleh Apsanto Djokosujatno, dijuduli Simfoni Pastoral (1987) terbitan Djambatan.

Kita pun disuguhi profil peraih Nobel Sastra 2017 bernama Kazuo Ishiguro. Nama sudah dikenali para pembaca di Indonesia meski tak setenar Haruki Murakami. Novel-novel gubahan Kazuo Ishiguro sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia tapi tak selaris terjemahan novel-novel Haruki Murakami. Dua pengarang itu bersaing meraih Nobel Sastra, berbeda resepsi umat pembaca di Indonesia. Anton Kurnia menginformasikan ke pembaca: Kazuo Ishiguro dilahirkan di Nagasaki, 1954. Ia hijrah ke Inggris, tekun menulis cerpen dan novel. Sekian novel telah terbit dan mendapat penghargaan: A Pale View of Hills (1982), An Artist of the Floating World (1986), The Remains of the Day (1989), Unconcoled (1995), dan When We Were Orphans (2000).

Pengarang sudah meraih Booker Prize, Nobel Sastra, dan Pulitzer Pirze memang belum menjamin mendapat pembaca fanatik di Indonesia. Pada masa lalu, ada nama-nama besar meraih Nobel Sastra dan Pulitzer Prize tapi jarang diperbincangkan di kalangan sastra Indonesia. Buku mereka sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Nasib mereka belum untung. “Sial” berlanjut gara-gara tak dikenalkan Anton Kurnia meski cuma uraian singkat.   

Pada 1972, terbit buku berjudul Barabas gubahan Par Lagerkvist, peraih Nobel Sastra 1951. Novel mula-mula terbit di Swedia (1950) itu “dituturkan kembali dalam bahasa Indonesia” oleh B Simorangkir. Pembaca buku berpenampilan sederhana terbitan BPK Gunung Mulia beruntung mendapat secuil biografi pengarang. Par Lagerkvist lahir di Swedia, 1819. Selama hidup, ia pernah tinggal di Denmark, Prancis, dan Italia. Pada 1930, ia menetap di Stockholm, Swedia. Barabas telah diterbitkan di Indonesia tapi tak menjadi sumber perbincangan dan memicu kekaguman. Buku itu berlalu.

Para pembaca sastra dunia pernah pula disuguhi buku berjudul Desa Kita. Buku drama tiga babak gubahan Thorton Wilder itu diterjemahkan oleh Bakdi Soemanto, diterbitkan Sinar Harapan, 1992. Penerjemah memberi keterangan mengenai penulis dan buku. Desa Kita itu terjemahan dari Our Town (1938). Buku menjadi pemenang Hadiah Pulitzer. Pengarang asal Amerika Serikat itu semula menulis novel berjudul The Bridge of San Luis Rey (1928), mendapat pula Hadiah Pulitzer. Buku berjudul Desa Kita sulit laris dan belum menjadikan umat sastra dan teater di Indonesia untuk (semakin) mengenali Thorton Wilder.

Dua pengarang tak mendapat halaman pengenalan atau dimunculkan dengan foto di Ensiklopedia Sastra Dunia. Dua nama itu cuma ada di daftar peraih Nobel Sastra dan Pulitzer Prize. Kita tak usah menggugat Anton Kurnia atas pengabaian dua pengarang besar asal Swedia dan Amerika Serikat. Kita mendingan menuliskan profil mereka di kertas lalu menaruh di sela-sela halaman buku.

Sejak mula, Anton Kurnia sudah menginsafi: “Buku semacam ini tentu juga akan memicu kontroversi—mengapa penulis ini tidak dimasukkan…” Pengerjaan Ensiklpoedia Sastra Dunia memiliki patokan-patokan belum tentu dimufakati para pembaca. Anton Kurnia pun mengingatkan bahwa pemilihan pengarang ditentukan pencapaian dan pengaruh buku-buku dalam peta sastra dunia. Pekerjaan serius dan besar sudah dipersembahkan ke pembaca. Kita mengaku “untung” saja ketimbang sewot tapi malas mencari informasi-informasi tambahan. Begitu.  


Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi. Penulis di pengenangpuisi.wordpress.com

Buku, Resensi

Narasi Futuristik Kepala

Oleh Setyaningsih

Ada suatu anekdot ihwal kepala yang beredar di masa sekolah. Guru selalu mengatakan untuk melepaskan kepala di rumah atau tidak usah membawa kepala ke sekolah setiap kali murid terlihat lungkrah melenakan kepala di meja. Melepaskan kepala di sini benar-benar lebih dekat ke arti harfiah, bukan secara metaforis mewakili tindakan untuk tidak menggunakan isi kepala (otak) atau berpikir. Namun, begitu membaca novel eksperimental Cara Berbahagia Tanpa Kepala (2019) garapan Triskaidekaman, melepas kepala yang sungguh-sungguh memisahkan kepala dari badan memang menjadi peristiwa yang sangat realis.

Kepala adalah penanda eksistensial. Secara birokratis, kepala mengingatkan pada jabatan-jabatan penting, seperti kepala pusat, kepala negara, kepala sekolah, kepala desa, kepala keluarga, dan kepala-kepala lain yang berada di tempat tertinggi untuk membawahi setiap (anggota) badan. Kerja (berpikir) yang dilakukan kepala pun sering lebih dihargai daripada kerja (bertenaga) dari badan. Bisa dikatakan segala ritual komersial sampai spiritual, paling bisa dialami kepala. Triskaidekaman menulis, “Kepala adalah sumber segala mudarat dan ide keparat. Rumah segala kisah Ayah pengecut bertempat, segala uang di mata dan pukas Ibu, dan kitaran orang yang cuma berpura-pura sayang. Sedangkan badan cuma bisa menurut. Kepala paling rajin terpelihara—sebut saja sampo, calir muka, maskara, hingga celak, dan gincu merona. Badan belum tentu. Kepada beda di setiap orang—terima kasih Muka—hingga setiap baru berkenalan, selalu kepala yang dilihat duluan” (hal. 5).

Triskaidekaman tidak secara gamblang menyebutkan penahunan peristiwa meski cerita jelas terjadi di Jakarta sebagai kota percaturan sengit hidup para kepala. Dalam narasi futuristik ini, teknologi tidak lagi hadir untuk membantu, manusia sendiri sudah menjadi tubuh mekanis yang bekerja selayaknya komputer. Anggaplah pembayangan futuristik bukan hal mengagetkan, semacam layanan ketubuhan; pijat, perawatan wajah, sulam alis, atau perbaikan ukuran kelamin, tentu dengan upaya lebih canggih. Tokoh utama lelaki, Sempati, mengikuti program “Bebaskan Kepalamu” yang menjanjikan keringanan beban hidup khas urban. Sempati tidak perlu khawatir mati atau kehilangan kemampuan mengindra dan keraiban segala kenangan. Segala hal sudah dicadangkan sebuah kandar kilas alias flashdisk. Selain itu ada pencadangan fungsi otak di dengkul dan selangkangan, sepertinya inilah cara Triskaidekaman mendestruksi kehormatan kepala.

Tragisme Urban

Sejak awal, Sempati memang sudah merasakan ketidakkesinkronan kepala dan badan. Harapan hidup sejahtera juga pupus; kendaraan, karir, kemapanan finansial, kekasih, dan keutuhan keluarga yang paling mustahil dicapai. Sejak kepala dipisahkan, kepala lebih berotoritas menenggak kebebasan, “Kini, kepala itu bebas memuaskan segala keinginan yang tak pernah direstui badan sewaktu mereka bersama dulu. Kedai tenda. Makan seporsi sate dua belas tusuk. Minum teh manis yang cokelat pekat. Berkeliling taman kota. Menonton tingkah polah manusia. Mencerap pergerakan peradaban menjelang padamnya lampu jalan. Mampir dan mengintip ke dalam rumah binal, mencari sepotong adegan yang banal sampai yang seksual. Semakin menjadilah kebencian kepala Sempati kepada badannya. […] Setelah sekian lama, kini saatnya: kepala Sempati membentuk otonomi sendiri, merdeka dari badan yang memenjarakan” (hal. 55).

Tentu, Triskaidekaman membawa Sempati pada konflik paling gawat: kecurian kepala. Kepala Sempati benar-benar hilang dicuri, padahal kepala harus tetap dimiliki agar tidak mati. Sekali lagi, kepala tetaplah penanda eksistensial manusia, “Kaki dan tangan tak berwajah, takkan pernah menandingi kepala. Beberapa kaki dan beberapa tangan berajah-bertahilalat-bertanda lahir, tetapi begitu bercerai dari tuannya, yang diingat tetaplah wajah dan hanya wajah. Tuan adalah wajah dan wajah adalah tuan.” Dalam perjalanan badan dan kepala saling mencari, terungkap masa lalu traumatis Sempati sebagai anak. Dia harus menghadapi kenyataan dilahirkan dalam keluarga yang berantakan, dihantam masa lalu asmara ibunya yang rumit, pertengkaran orangtua, pengkhianatan, kecacatan dan balas dendam, keterabaian. Kepala yang terlepas justru mengungkap segala yang tidak membahagiakan khas urban.

Di sini hadir Semanggi, bapak tapi bukan bapak biologis yang karena tidak memiliki kedigdayaan ekonomi membesarkan anak, memilih menjadi jam tangan. “Saya akan menjadi sebuah jam tangan. Penunjuk waktu yang mengingatkannya untuk hidup teratur. Pengingat bahwa waktunya terbatas. Pengingat bahwa dia akan tumbuh besar, akan menyakitkan banyak hal” (hal. 194). Waktu adalah hal yang bernas sekaligus menakutkan bagi manusia. Terutama dalam persepsi modern, waktu menentukan capaian hidup sebagai manusia sukses, menantang tapi tidak tertaklukkan.

Narasi futuristik kepala Triskaidekaman tentu harus mengadopsi diksi-diksi teknologi perkomputeran. Sekalipun diksi perkomputeran lumrah hadir dalam bahasa Inggris, Triskaidekaman tetap mengupayakan menggunakan bahasa Indonesia yang baik untuk mengganti sebagian diksi-diksi teknologi ataupun narasi tutur novel. Pembaca akan sering menemukan diksi-diksi yang barangkali masing sangat asing, tapi sebenarnya telah terdaftar di kamus resmi bahasa Indonesia.

Pemilihan tema yang eksperimental-futuristik dengan pengemasan tragisme lewat strategi bahasa dan pilihan diksi memang menonjol sebagai cara bertutur Triskaidekaman. Cara ini sekaligus mengakali kisah tragisme manusia urban yang bisa kita rasa sangat lumrah berkisar di prosa mutakhir Indonesia. Strategi bertutur Cara Berbahagia Tanpa Kepala berkemungkinan mengemas yang lumrah, demi berhasil menegangkan dan menolak membosankan.


Setyaningsih, Esais. Pembaca Buku. Penulis cerita “Peri Buah-buahan Bekerja” (Kacamata Onde, 2018) Email : [email protected]

Buku, Resensi

Pada Batas Kematian

oleh Rizki Amir

Perkembangan naskah lakon yang diterbitkan menjadi sebuah buku dalam satu tahun dapat dikatakan sangat lemah. Tak banyak penerbit, baik indie maupun mayor, yang mau bergerak di lingkaran yang sepi pembeli. Selain itu, seorang penulis lakon drama juga harus memutar otak bagaimana caranya agar naskah yang ada bisa enak dibaca. Sebab, di dalam teks lakon, tokoh-tokoh yang dihadirkan untuk sebuah pementasan harus mampu hidup dengan tanda yang dapat dihapus dan menggerakkan sebuah hubungan yang dalam antara premis dan lapis.

Tapi tidak. Tidak untuk premis dan lapis yang dibawa buku naskah lakon Di Seberang Sana karya Yusril Ihza. Ia justru hidup dari naskah yang sudah ada: Bulan Bujur Sangkar karya Iwan Simatupang. Yang menjadikannya tampak berbeda adalah pergeseran peran sutradara: bukan lagi sebagai pemegang tunggal pementasan. Ia turut serta sebagai salah satu tokoh dan hadir sepenuhnya untuk menimbulkan kesan lain agar teks tak hanya bergerak ke satu arah.

Lakon di dalamnya berangkat dari celah latar panggung yang gelap: dalam salah satu adegan, tokoh Sang Sutradara berusaha menghentikan tokoh Sang Aktor untuk sekali lagi menggali keaktorannya dan kembali mempertanyakan bagaimana jika ternyata kematian seorang tokoh bukanlah puncak dari pertunjukan, di balik panggung beberapa belas menit menjelang pentas dimulai. Dan sialnya, hal itu justru berkembang menjadi argumen (atau racauan?) yang tidak mudah dipatahkan.

Sang Sutradara menganggap semua itu percuma adanya, sebab dalam naskah dikatakan, cinta harus memahami bahwa dirinya fana dan tunggal. Ada gerak lambat yang coba disampaikan. Ada rasionalitas yang ditunjukkan untuk melahirkan sesuatu. Tapi mungkin itu belum cukup kuat untuk mengaitkan iman dengan laku dan kehendak melalui proses “berpikir”. Salah satu kutipan:

…..

AKTOR

Bulan Bujur Sangkar mengancamku untuk mengimani sesuatu yang tidak aku yakini kebenarannya. Bulan Bujur Sangkar memaksaku untuk mengatakan “Aku membunuh, oleh sebab itu aku ada!”.

SUTRADARA

Apa perlunya kau benar-benar merasakan kematian atau ingin memotong pembuluh darahmu sendiri hanya untuk sebuah pertunjukan?

AKTOR

Orang Tua dan kematian, keduanya bergelayutan di tiang gantungan. Tentang nasib yang ditanggalkan atau sekadar permainan untuk menghibur kegalauan absurditas selama 60 tahun lamanya. Itulah aku, sebagai tokoh utama pada pertunjukan malam ini.

(hal. 8)

Tampaknya melalui dialog antara Aktor dan Sutradara itu mengatakan bahwa naskah Bulan Bujur Sangkar karya Iwan Simatupang, yang akan diperankan, lahir dalam keadaan absurd. Sebab perlawanan di balik tirai normalnya hanya bisa dilakukan aktor secara terbatas: dengan diam atau membangunkan rasa takut. Tapi di dalam teks, Yusril tidak tertarik untuk memilih keduanya. Ia malah meletakkan lakon baru di batas antara yang riil dan yang subtil dari lakon yang sudah ada.

Lakon Di Seberang Sana tidak hanya menawarkan kerangka berpikir tertentu dalam melihat bagaimana jalin-kelindan antara manusia sebagai pelaku yang berkehendak dengan kenyataan kesehariannya, tetapi juga hubungan timbal balik itu bisa seiring dalam upaya mendialogkan antara gagasan teks dengan kenyataan dalam kehidupan.

Sebagai orang yang menghidupi teater, Yusril tidak hanya melakukan strategi “manipulatif” yang artistik, tetapi juga bagaimana pemikiran tentang pencarian makna dari kematian yang memiliki banyak tanda berujung pada kepasrahan diurai sedemikian rupa. Tentu saja, praktik keyakinan semacam itu perlu juga dibaca sebagai teknik permainan berdasarkan metode dan sistem pementasan.

Coba kita cermati batas antara teks itu kembali. Dengan memandang laku dengan keraguan, Sang Aktor sadar akan kehidupan di luar teater yang tragis; ia menganggap Sang Sutradara bukanlah seseorang yang paling tahu tentang peran yang diciptakannya. Bisa kita lihat, Sang Aktor—sang aktor yang bukan lagi dari naskah Iwan Simatupang—telah melihat dari dekat, bahwa panggung adalah kontradiksi. Sementara itu Sang Sutradara kita, dalam keyakinannya yang lurus, ia tak pernah berubah. Tak akan pernah berubah.

Bagian paling ganjil dan menggelikan dalam buku lakon itu adalah dengan menyuguhkan perbincangan kaku, misalnya, dengan mengutip harakiri untuk berserah pada kematian dan disambut dialog lempeng adanya—dan di beberapa titik, pembaca pun jadi terjebak pada keberulangan. Ikatan dialog antar tokoh lebih diperkuat di beberapa tik-tok sebelum naskah usai. Sebagai contoh kata Sang Sutradara: “Pada akhirnya, kau masih belum bisa memaknai kehidupan di atas panggung. Kalau begitu, aku akan mengakhiri pertunjukan ini tanpa tepuk tangan. Selamat malam.” (hal. 20)

Kenapa dialog antar tokoh yang ditulis seakan-akan bersifat problematis? Bisa jadi, melalui buku lakon drama ini, Yusril ingin menjadikan eksistensi sebagai subjek wacana dan secara bersamaan memberikan kesadaran baru tentang bentuk-bentuk kematian. Bagaimana pun juga ada sesuatu yang tidak akan selesai, yang menyebabkan lakonnya tidak utuh: motif yang ditawarkan naskah Bulan Bujur Sangkar sebagai pondasi penciptaan memiliki standar ganda. Meskipun, saya pikir, itu hanya salah satu sebabnya.

Namun, terlepas dari hal itu, para pengkhusyuk sastra-teater, khususnya wilayah Jawa Timur, kini setidaknya telah mengantongi satu nama baru dari kota Surabaya: Yusril Ihza, seorang pemuda yang menulis naskah drama, yang akan menambah variasi bacaan kita di babak baru percaturan dunia sastra-teater.


Rizki Amir lahir di Sidoarjo, 1995. Terlibat dalam Komunitas Rabo Sore. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit berjudul Rahasia Pasar (2017). Terpilih sebagai penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2017. Selain menulis, sebagian waktunya juga digunakan untuk berdagang.

Buku, Resensi

Dokumentasi Sejarah dan yang Direntankan

Oleh Rachman Habib

Kumpulan cerpen Faisal Oddang ini bisa dibaca sebagai dokumentasi sejarah—tapi kalau penyebutan ini berat dan bermasalah, lewati saja. Di dalamnya terentang sejarah Sulawesi Selatan. Terutama periode pasca revolusi kemerdekaan sampai 1965.

Di antara topik pentingnya adalah pemberontakan Negara Islam Indonesia, Permesta, dan pemberontakan komunis. Kehadiran karyanya mengisi ruang kosong khazanah sastra Indonesia yang kerap berpusat di Jawa jika menyangkut topik-topik tersebut.

Selain itu, topik tersebut jarang diangkat oleh penulis Sulawesi Selatan lainnya, di mana kebanyakan berfokus pada kearifan lokal. Bukannya Fai juga tidak menulis kearifan lokal. Dalam buku ini terdapat beberapa, misalnya Di Tubuh Tarra, Dalam Rahim Pohon (cerpen terbaik Kompas 2014), Sebelum Berangkat Ke Surga, dan Yang Terbaring Di Rumah Arung, Pagi Itu.

Rentang sejarah dalam karya ini menunjuk pada Indonesia saat dalam keadaan darurat. Kata Agamben, negara dalam kondisi darurat bisa menunda hukum. Agamben menyebut status negara tersebut sebagai “kondisi pengecualian” (state of exception). Negara selalu dapat menetapkan hukum dan bediri di luarnya atas nama kedaruratan, seperti demi stabilitas nasional. Dalam kondisi ini negara memiliki kekuasaan “luar biasa” untuk mengeluarkan warganya menjadi berstatus bukan warga, sehingga mereka bersifat—meminjam istilah Arendt—stateless person. Dengan begitu warga tersebut bisa dengan mudah dikucilkan, dibunuh, dan hak-hak dasarnya sebagai warga dirampas (Robet dan Tobi 2014: 168).

Warga yang dieksklusi ini disebut sebagai Homo Sacer. Subjek yang tidak diakui, boleh dibunuh dan yang membunuhnya tidak mendapat hukuman. Negara modern, tidak pernah absen dalam memproduksi Homo Sacer. Indonesia pun begitu. Dalam buku ini, Anda dapat menjumpai para Homo Sacer.

Pada cerpen Jangan Tanya Tentang Mereka yang Memotong Lidahku Anda akan menjumpai kisah para Bissu yang dibersihkan pada 1965 dalam operasi militer. Pendeta transgender dalam tradisi pra-Islam di Bugis ini dituduh mengkhianati Tuhan serta dianggap bagian dari kaum merah (sebutan untuk komunis). Para Bissu diburu dan dibunuhi dengan cara-cara keji. Satu di antaranya ada yang diikat dan ditenggelamkan di danau, juga ada yang dipotong lidahnya dan dijadikan tahanan politik.

Konon, sekarang jumlah Bissu tinggal sedikit. Berkurangnya Bissu disebabkan pembersihan pada 1965, juga pada pemberontakanNegara Islam Indonesia (DI/TII) tahun 1953.

Kasus yang sama terjadi pada penganut kepercayaan Tolotang dalam cerpen Orang-Orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu. Orang-orang Tolotang yang menyembah Dewata Sewwae ini oleh tentara dipaksa meninggalkan kepercayaan mereka untuk menganut agama resmi dan mencantumkannya di KTP. Seorang tentara mengancam pada pimpinan orang Tolotang : ”Uwak harus memilih, atau hak sebagai warga negara tidak kalian dapatkan, bisa saja diusir, bisa saja ada yang bertindak di luar kendali. Uwak sudah tahu sendiri, bukan, apa yang akan terjadi?” (Hal—25).

Mereka akhirnya memang menerima perubahan agama di KTP meski harus menerabas dilema menyakitkan. Andai mereka menolak, barangkali terjadilah apa yang diancamkan tentara itu kepada mereka: hak sebagai warga negara tidak didapatkan.

Perlakuan serupa, yang mengancam hak mendasar sebagai manusia sekaligus warga negara, juga menimpa mantan gerilyawan kemerdekaan atau komunitas muslim sipil lantaran dicurigai terlibat dalam pemberontakan DI/TII. Di bawah keadaan darurat operasi menundukkan pemberontakan, warga sipil kerap berada di posisi rawan. Karena sewaktu-waktu, dan memang begitu adanya, mereka juga menjadi sasaran hanya disebabkan kecurigaan tak berdasar.

Cerita tentang mereka yang rawan tersebut dapat Anda jumpai dalam cerpen Mengapa Mereka Berdoa Kepada Pohon?, Peluru Siapa Yang Kami Temukan Ini?, Di Sana, Lima Puluh Tahun Yang Lalu, dan Siapa Suruh Sekolah Di Hari Minggu?.

Tidak hanya menjadi objek kekerasan negara, tetapi juga objek kekerasan sesama warga ketika kekerasan terpolarisasi secara horizontal. Jadi bisalah dikatakan bahwa dalam kondisi kedaruratan negara memproduksi subjek-subjek rentan. Di mana tidak ada kepastian keamanan dan perlindungan terhadap hak-haknya terhindar dari kekerasan.

Dan selanjutnya, belajar dari sejarah, kita lihat bahwa tak satu pun dari pelaku pembunuhan atau pelanggaran hak asasi manusia memeroleh hukuman. Alih-alih, pelakunya justru melenggang bebas. Persis di titik begini Agamben menjelaskan bahwa “kondisi kedaruratan” (state of exception) menyediakan kondisi alamiah atas adanya kekebalan hukum terhadap pelaku kekerasan. Termasuk ketika pelakunya adalah negara sendiri (Robet dan Tobi 2014: 175).

Gaya Bercerita

Lain daripada itu ada sedikit catatan. Sebagai dokumentasi sejarah, buku ini memang terbilang berhasil. Sementara perihal gaya bercerita lain soal. Gaya bercerita keseluruhan cerpen di buku ini nyaris seragam. Barangkali sebab dua pokok. Pertama, Fai kerap mempekerjakan kisah cinta untuk membangun tangga dramatik atau untuk memberi kejutan. Pola yang diulang di beberapa cerpen membuatnya kehilangan daya gigit. Kedua, hampir di semua cerpen tidak muncul karakter yang hidup kecuali digerakkan oleh suara pencerita. Bila pun ada, karakter tersebut kalah ketimbang narasi liris kalimat-kalimat pengarang.

Namun, apa pun catatannya, buku ini menunjukkan bahwa Fai telah berupaya melihat dan menghadirkan narasi sejarah—mengutip esainya, “dengan cara berpikir sebaliknya. Dengan lugu, dengan kembali dan meminjam cara pikir kanak-kanak.”[]


Rachman Habib, mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, dan aktif di Teater ESKA Yogyakarta.

Buku, Resensi

Kuasa Seksualitas Kita

oleh Vera Safitri

Bagaimanapun, peradaban manusia diciptakan oleh seksualitas kita yang rumit. Seksualitas menciptakan bahasa, hubungan kekerabatan, penguasaan alat dan teknologi, norma, hukum, politik, struktur, hingga sistem ekonomi masyarakat kita.

Bisa jadi, kita akan berdiri dengan tegak kepala saat menghadapi argumen bahwa manusia terlahir dengan seperangkat kebebasan dan kesetaraan. Bahwa peran gender serta posisi perempuan dan laki-laki sekadar hasil konstruksi sosial saja. Sebuah hal yang diimani banyak masyarakat industrial modern, serta menjadi penguat banyak gagasan yang melindungi sekaligus mengacaukan gaya bermanusia kita lewat cetusan Hak Asasi Manusia.

Tapi bagaimana kalau sebaliknya? Bagaimana kalau kebebasan dan kesetaraan yang agung itulah hasil konstruksi besar-besaran kita? Dan peran gender serta posisi perempuan memang terjadi oleh rentetan persoalan seksualitas-reproduksi yang biologis dan masuk akal? Kita pasti lemas dan terbelalak, bahkan sampai marah.

Jared Diamond, sekali lagi merepotkan dirinya sendiri dengan berusaha menjawab pelbagai keganjilan kemanusiaan kita soal seksualitas dan reproduksi itu. Lewat bukunya, Why Sex is Fun: Evolution of Human Reproduction yang dalam edisi Bahasa Indonesia terbitan KPG dijuduli,  Evolusi Reproduksi Manusia (2019). Kita patut curiga, perubahan judul yang dilakukan KPG ini adalah demi menghalau imaji pembaca yang mengira buku ini sebagai buku panduan seks. Jared sendiri pun telah mewanti-wanti hal ini lewat kata pengantar yang ditulisnya.

“Buku ini tidak akan mengajari anda posisi-posisi baru untuk menikmati hubungan seks atau membantu anda mengurangi rasa tidak nyaman akibat kram ketika menstruasi atau menopause. Membaca buku ini juga tidak akan mengobati sakit hati akibat mengetahui pasangan anda berselingkuh. Tapi buku ini mungkin dapat membantu anda untuk mengerti, mengapa tubuh anda bertingkah laku sebagaimana sekarang” (hlm. xi).

Dengan begitu, tinggallah sisa judul serius, yang megah dan membosankan. Itu sama seriusnya dengan keteguhan Jared menggunakan pendekatan biologis-antropologis pada buku-bukunya, termasuk pada bukunya kali ini.  Melalui Evolusi Reproduksi Manusia,  Jared menjelentrehkan betapa sistem masyarakat manusia di bumi ini sangat berurusan dengan kesenjangan biologis dan penalaran fisiologis yang bukan hanya merobek-robek skripsiku seputar gender dan perempuan, tapi juga mengusik kedamaian dan heroisme feminis yang tegar sentosa berdiri di tengah-tengah kita sejak lama.

Di telinga kita yang modern, kita tentu tidak ingin mendengar tuduhan Jared bahwa, secara evolusioner, laki-laki dan perempuan tidak banyak berkembang mengenai pembagian kerja: “Laki-laki selalu lebih menghabiskan waktu memburu hewan-hewan besar, sementara perempuan mengumpulkan makanan berupa tumbuhan dan hewan kecil, serta mengurus anak. Pembagian kerja serupa bertahan dalam masyarakat industrial modern” (hlm 131). Karena kedua pernyataan Jared itu justru lebih terdengar seperti, kalau alasan biologis yang selama ini tidak kita percayai, nyata berkuasa dalam banyak segi sosial kita dan bahwa kromosom x dan y yang kita miliki diam-diam membangun maskulinitas-feminitasnya yang menyebalkan.

Jared Diamond bukanlah satu-satunya tersangka atas gonjang-ganjing ini, kita ingat ada Yuval Noal Harari (Sapiens, 2011) dan Ivan Illich (Matinya Gender, 1998) yang juga mengurusi hal serupa. Yuval Noah Harari malah sempat menyebut manusia memiliki gen patriarkis. Baginya dalam banyak hal, kesenjangan biologis antara laki-laki dan perempuan dengan sengaja telah membentuk sistem yang timpang. Tapi tentu masyarakat modern seperti kita ogah diusik dengan kenyataan seperti itu. Bertahun-tahun kita menyalahkan konstruksi sosial-budaya atas kenyataan pahit yang ditimbulkan patriarki. Beribu penelitian sudah dilakukan demi mengusir keraguan kita soal itu. Kita sekuat tenaga menyangkal bagian-bagian biologis ikut berperan dalam ketimpangan ini. Sehingga segala penjelasan Jared mengenai seksualitas dan reproduksi kita itu menggenapi pertanyaan besar yang sempat dilemparkan Yuval lewat buku Sapiens: “Jika sistem patriarkis didasari oleh mitos-mitos yang tak berdasar biologis, maka apa yang menyebabkan sistem itu menjadi sedemikian universal dan stabil?” (hlm. 190).[]


Vera Safitri Esais dan ilustrator anak, baru saja merampungkan skripsinya sebagai mahasiswi Sosiologi, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Buku, Resensi

Antologi Kenangan dalam Bangun Pagi (semoga) Bahagia

oleh Indah Darmastuti

“Tugas seorang pemimpin adalah:

 membuat rakyatnya bangun pagi bahagia”

Kalimat pembuka itu diletakkan di halaman awal, di bawah foto tiga laki-laki dalam buku lakon bersampul paduan hitam dan krem. Sepertinya Eswe, si Penulis lakon ingin meyakinkan pada siapa pun bahwa kebahagiaan itu penting dan hak setiap umat sehingga ia mencantumkannya sebagai salah satu tugas seorang pemimpin (ideal).

Tetapi dalam 9 naskah plus 1 prolog dengan tokoh tiga pemuda: Bas, Bob, dan Frank itu lebih banyak mengobrolkan tentang kesedihan juga kenangan-kenangan pahit, bahkan luka yang diproduksi dalam keluarga yang semestinya menjadi salah satu sumber utama kebahagiaan sebelum para tokoh itu masuk pada kancah masyarakat dan bagian dari sebuah bangsa yang bergolak pada 1997-1998 semasa mereka remaja. Mereka seumuran dan berkawan dekat.

Buruknya Hubungan Keluarga

Tiga tokoh itu punya akar kepahitan yang ditanam oleh orangtua yang buruk menurut ukuran pada umumnya. Tokoh Bas bermasalah dengan ibunya. Entah ada persoalan apa sehingga  ibu mengutuk anaknya sedemikian rupa. “Pergi dari rumah ini! jadilah gelandangan […]” dan “Matilah seperti bangkai tikus, tak ada yang akan menangisimu […]” (hal. 35 dan 36).

Pun pada tokoh Frank yang bertengkar dengan ayahnya. “Frank, kamu bukan anakku, kamu anak kelelawar malam yang tersesat menghamili ibumu.” Pada puncak pertengkaran itu, tiba-tiba ayah Frank bertanya “Apa cita-citamu, Nak?” / “Seniman teater,” dan seperti ayah yang buruk, ia langsung menghakimi anaknya dengan mengatakan bahwa masa depan Frank buram seperti kertas dan ayahnya bilang: “Lebih baik kamu mati sekarang, Frank.” (hal 38-39).

Bob tak jauh beda. Ia mendapat pesan dari neneknya sesaat sebelum meninggal: “Jadilah jahat sebelum orang lain mengajarimu kejahatan, sebab kejahatan yang orisinil datang dari hati nuranimu. Kejahatanmu akan lebih berkwalitas dari seorang kriminal atau koruptor. Sekalipun persoalan keluarga semacam itu ada, aku membayangkan betapa berat untuk meraih kebahagiaan itu, apalagi kalau itu menjadi salah satu tugas seorang yang memimpin.

Saya mencurigai, ada apa dengan Eswe sehingga memilih menghadirkan orang tua (ibu, ayah, nenek) yang buruk menurut pandangan umum. Saya katakan begitu, karena siapa tahu itu baik menurut beberapa kalangan karena satu dan lain hal.

Penyebutan tokoh-tokoh terkenal

Memang tak selalu naskah lakon ada kandungan alur cerita, plot, konflik dan tematik khusus yang mengarah pada sebuah titik seperti novel. Seperti dalam buku lakon ini, kita bisa menyimak obrolan tiga bersahabat tentang apa saja sebelum akhirnya mereka dibawa ke persoalan yang akan diangkat oleh Eswe: Reformasi. Tetapi perihal peristiwa 1998 itu hanya satu bagian saja, selebihnya tetap mengangkat obrolan-obrolan anak muda pada zamannya. 

Salah satu tema obrolan tiga tokoh itu selain tentang cita-cita, mereka mengungkap tokoh-tokoh yang mereka kagumi. Bas yang disumpahi ibunya itu mempunyai tokoh idola: Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Christina Marta Tiahahu, R.A. Kartini, Laksamana Malahayati, Bunda Theresa, Panglima Polim dan Nabi Muhammad SAW. Kecuali Kanjeng Nabi Muhamaad dan Panglima Polim, tokoh yang dikagumi Bas semuanya Pe..rem..pu..an. Benarkah tak ada konflik psikologi tokoh Bas pada makhluk perempuan dan sosok ibu? Di sini tak ada penjelasan tentang mengapa ia yang mempunyai hubungan buruk dengan ibu, sangat mengagumi tokoh-tokoh perempuan. Atau barangkali Bas merindukan sosok ibu yang baik dan penuh kasih sehingga ia mengambil tokoh idola perempuan?

Frank—si anak kelelawar itu mengagumi Sukarno, Hatta, Syahrir dan Helen Keller. Sekali lagi, selain Helen Keller, tokoh yang dikagumi Frank adalah la..ki..la..ki.. tak ada trauma atau gejolak psikologi pada tokoh Frank. Entah mengapa tokoh Frank itu mengagumi Helen Keller yang difabel netra-rungu-wicara. Barangkali karena Helen Keller juga pengamat politik. Tetapi di sini tetap tak ada penjelasan, mengapa tokoh Frank yang mempunyai hubungan buruk dengan ayahnya itu justru mengagumi sosok laki-laki atau Frank merindukan sosok ayah yang mendukung dan mengayominya sehingga ia mengidolakan tokoh laki-laki.    

Lalu, Bob yang mendapat pesan dari nenek ajar menjadi penjahat berkualitas itu mengagumi Suharto dan Tan malaka dengan alasan: Tan pemikir komunis, sedang Suharto berhasil mengkomuniskan banyak orang. Satir yang pas. Di sini tampak sekali salah satu kekuatan Eswe untuk melontarkan kritik pada sebuah peristiwa dengan cara berada di antara dua kutub yang berlawanan.

Lagu Daerah

Dituliskan dalam teks, peristiwa berkumpulnya tokoh Bas, Bob dan Frank adalah 1997-1998 ketika Penataran P4 menjadi agenda wajib diikuti oleh setiap remaja garapan “pabrik” orde baru untuk setiap warga negara yang mengaku nasionalis dan berpancasila. Yang salah satu mata pelajarannya adalah mengenal lagu-lagu daerah: O Ina Ni Keke, Gambang Suling, Soleram, Apuse.

Mereka tak menyanyikan lagu pop atau dangdut yang mungkin bisa dipakai untuk menandai lagu-lagu apa saja yang hit pada masa itu. Tetapi ada tambahan daftar lagi mereka di luar lagu daerah, yaitu: Darah Juang karya John Tobing, lagu tema perjuangan menumbangkan tiran kala itu

Peristiwa serius yang terjadi di negeri ini disampaikan dengan jenaka, dan tak lupa Eswe menyatir apa yang terjadi setelah reformasi: setelah berjuang menggulingkan tiran kakak-kakak mahasiswa yang kala itu melakukan protes akan menangguk keuntungan dengan mendapat bagian kursi-kursi senayan.

Cerita lain yang disentil oleh Eswe adalah tokoh Bob (pengagum Suharto garis keras) Frank dan Bas yang mendukung reformasi tetapi tetap mementingkan persahabatan. Belum ada Facebook memang, tetapi sangat mungkin mereka tidak saling blokir karena di sini mereka bertiga tetap bersatu jualan ikat kepala bertuliskan reformasi. Eswe menangkap ada peristiwa nyempil di sini, bukan menampilkan tokoh sok hero yang berorasi bak politisi karbitan.

Buku naskah panggung ini, mencoba hadir memenuhi takdirnya bahwa pementasan, betapa pun  serius dan berat tema yang diangkat, upaya untuk menghibur dan kelayakan ditonton tetap harus dipikirkan matang. 

Naskah ini ditutup dengan obrolan mereka bertiga tentang evaluasi hidup mereka. Mengevaluasi cita-cita yang selama ini sempat mereka genggam sebagai remaja produk orde baru plus keluarga hancur.

Bob yang semula bercita-cita mati muda, berubah ingin menjadi penjagal sapi. Frank yang semula ingin menjadi seniman teater, beralih keinginan menjadi peternak ikan dan membuka usaha odong-odong. Yang paling pilu adalah Bas, karena kuncinya ada di sini, ketika Frank bertanya “Apa cita-citamu, Bas?”

“Aku hanya ingin bangun tidur bahagia, Frank.” [hal 98]

Pada akhirnya kebahagiaan itu harus dicari sendiri, dikaisnya dari sisa-sisa umur dan paparan persahabatan atau apa pun yang akan terjadi dalam hidupnya. Siapa pun berhak bahagia, termasuk ia yang pernah dikutuk ibunya.  []


Indah Darmastuti, tinggal di Solo. Anggota komunitas Sastra Pawon-Solo. Pendiri Difalitera situs sastra suara untuk difabel netra. yang bisa diakses dan diunduh secara gratis di http://www.difalitera.org atau bisa diakses di spotify.

Buku, Resensi

Dekat & Nyaring: Upaya Mengutuk Penulis yang Keasyikan Bercerita dan Dakwah yang Salah Tempat

Oleh Doni Ahmadi

Sastra Indonesia dalam beberapa waktu ke belakang mulai ramai dengan karya-karya berbentuk novelete atau novela, sedikit contoh, Omong-kosong yang Menyenangkan karya Robby Julianda, Arapaima karya Ruhaeni Intan, Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa karya Faisal Oddang, hingga yang terbaru, Dekat & Nyaring karya Sabda Armandio (selanjutnya akan saya tulis Dio). Dan saya akan mengulas yang disebutkan terakhir.

Secara sadar atau tidak, penulis cenderung keasyikan bermain-main, ngoceh ngalor ngidul, maupun pamer keterbacaan, pengetahuan serta pengalaman yang tidak perlu-perlu amat diceritakan dalam bentuk novel. Hal itu tentu tak bisa dilakukan dalam bentuk novela, tentu saja. Novela—dengan keterbatasan—hanya menyisakan sedikit ruang bagi penulis untuk melakukan itu. Namun jika penulis telah memutuskan untuk novela dan tetap melakukan itu, konsekuensinya hanya dua: menjadi novela yang mubazir atau cerita pendek yang kebetulan dipanjang-panjangkan.

Dekat & Nyaring tidak termasuk dua hal di atas, Dio tidak asyik-masyuk membiarkan tokoh-tokohnya lompat terlalu jauh dan menceritakan hal lain selain apa yang ia ingin kisahkan: Gang Patos, sejarah singkatnya (dalam bentuk alegori maupun secara langsung), hingga kisah-kisah ajaib para penghuninya.

Dekat & Nyaring cukup padat menggambarkan kehidupan orang-orang yang bermukim di Gang Patos: Edi, Nisbi, Anak Baik, Wak Eli, Aziz, Idris, Kina. Bekas penghuni gang Patos: Sam. Serta satu orang lain dari tempat antah berantah yang turut bersinggungan dengan penghuni Gang Patos: Dea Anugrah. Setiap tokoh, hidup dengan karakter yang utuh, tidak lari atau mengalami transformasi seperti banyak tokoh-tokoh di novel—terlebih pewaktuan dalam novela ini juga tidak terlalu jauh, hanya sehari dan sesekali putar balik mengisahkan masa lalu dangan porsi yang tidak terlalu banyak.

Dalam novela ini, misalnya tokoh Edi. Tokoh ini konsisten dengan paham ‘selalu ada jalan lain’ di sepanjang cerita: mencari jalan lain meski seringkali tidak sesuai.

“Kenyataan itu tak membuat Edi putus asa, ia meyakini kalimat kesukannya setiap kali menghadapi masalah ’selalu ada jalan lain.’ Seperti misalnya, mencincang sanca dan menjualnya sebagai kobra.” (hlm. 8)

“Edi menganggukkan kepala. ‘itu masalah mudah. Kita curi saja listrik dari lampu jalan di depan. Kau tak perlu lagi memusingkan tagihan listrik […].” (hlm. 46)

Tak hanya tokoh Edi, tokoh Nisbi juga berperan konsisten. Sebagai janda satu anak, ia ditampilkan begitu cerdik menutupi dosa masa lalunya dengan terus memproduksi dongeng bagi anaknya—tokoh Anak Baik. Tokoh Aziz, seorang anak yang dengan kecerdasan mental yang tertinggal sepuluh tahun, juga digambarkan apa adanya sepanjang cerita: begitu lugu dan polos, hingga didera kemalangan di akhir kisah karena sifatnya. Lalu tokoh Anak Baik, yang tampil sebagaimana anak-anak dengan pengetahuan terbatas yang membuatnya mengeluarkan banyak pertanyaan konyol karena rasa ingin tahu yang tak terbendung. Tokoh Kina, yang konsisten mencacat segala hal di gang Patos untuk keperluan karya fiksi yang menurutnya otentik. Dan banyak lagi.

Selain tokoh-tokoh tersebut, yang menarik lagi adalah bagaimana cara Dio menghidupkan sosok Pak Koksi tanpa pernah memunculkan batang hidungnya sepanjang cerita. Tokoh ini hidup dan cukup menarik perhatian lewat dongeng-dongeng hasil ciptaan Nisbi. Ketidakmunculannya tokoh Pak Koksi ini juga usaha Dio memberi teror kepada seluruh penghuni gang Patos, sekaligus kepada pembacanya. Seperti yang disebutkan dalam wawancaranya[1]—yang mengatakan bahwa dalam novela terbarunya ini ia ingin menghadirkan sense of horror tanpa hantu—Dio pun membuka kisah horor melalui cerita pak Koksi ini.

“[…] Orang Patos membangun desa yang amat bagus—tentu tanpa tulang naga, dan di seberangnya Orang Koksi mulai membangun desa yang sama sekali berbeda.[…] Pak Koksi mendatangi Samwau. Ia datang menawarkan ide lamanya, yaitu menyatukan dua desa agar memiliki tanah yang lebih luas dan sumber daya alam yang saling melengkapi. […] Suatu sore, seorang tak dikenal masuk wilayah Orang Patos, orang itu bersin-bersin sampai pingsan. Orang Patos menolong, sebagai gantinya beberapa hari kemudian Orang Patos ikut bersin-bersin. […] Pak Koksi juga membuka peluang emas bagi Orang Patos. Ia akan memberi satu rumah dan mantel bagi Orang Patos yang bersedia tinggal di wilayah yang sudah disediakan Orang Koksi. […] beberapa orang Patos yangbersin-bersin mengambil kesempatan itu.”

“[…]Orang-orang Patos hilang satu per satu,” jawab Wak Eli, “Saat mengetahui kabar itu, Samwau segera berdiskusi dengan Pak Koksi. Pak koksi meminta dukun-dukunnya untuk mencari tahu penyebab hilangnya orang-orang itu.” (hlm. 40-42)

Dalam kisah yang diketahui seluruh penghuni gang Patos ini, Dio berusaha menceritakan sejarah singkat gang Patos dengan cara lain yang lebih cerdik. Alih-alih mengisahkannya dengan gamblang, Dio membuat alegori untuk Orang Koksi sebagai penghuni kompleks Permata Permai Residence yangdibangun berseberangan dengan Orang Patos atau gang Patos. Sejarah singkat ini pun juga muncul dalam porsi yang pas dan diceritakan bergantian oleh tokoh-tokohnya (Nisbi, Edi, Wak Eli, Kina) kepada tokoh Anak Baik—yang bukan tanpa kebetulan[2]—untuk memahami sejarah singkat penghuni gang Patos sebelum ditinggal oleh penghuninya.

Tidak cukup dengan alegori tersebut, produksi ketakutan dalam Dekat & Nyaring pun dimunculkan lagi lewat interaksi antar tokohnya. Teror ini ditegaskan lewat sosok Sam—yang merupakan bekas penghuni gang Patos dan kebetulan berprofesi sebagai Polisi. Berikut.

“Aku mengerti perasaanmu. Aku tumbuh dan besar di sini, tapi sadarlah. Masa kejayaan itu sudah lewat, Nis. Lagi pula mereka tidak meminta kalian pergi secara cuma-cuma,” kata Sam, “Kau bisa pakai uangnya untuk buka warung atau apalah buat anakmu.”

“Kuingatkan,” kata Sam, mendekatkan wajahnya ke Nisbi, “Dua puluh tahun lalu dua ratus kepala keluarga tinggal di gang sempit ini. Dua ratus. Ramai dan damai. Seperti kehidupan yang layak, kan? Aku pikir juga begitu, tapi dulu aku masih terlalu muda dan naif. Mereka yang punya otak lekas pindah saat ditawari kesempatanyang lebih baik. Dan sekarang cuma kalian yang bertahan.” (hlm. 28)

Will Wright dalam Undestanding Genres: The Horror Films menyebut “adegan kekerasan fisik sering menjadi warna utama, misalnya pembunuhan, teror, mutilasi, dan darah.” sebagai salah satu ciri-ciri genre horor. Dalam kisah ini pun, Dio memperlihatkan peristiwa pembunuhan dan darah yang akan pembaca jumpai di babak-babak akhir. Dan dari 8 ciri lain[3] dalam penjabaran Wright, ciri ini sajalah yang dimanfaatkan Dio untuk memasukan sensasi horor dalam kisahnya. Selain itu, Dio juga mengamini pendapat Edgar Allan Poe, J.L Borgel, dan Peter Penzolt dalam ciri-ciri cerita horor dengan menghadirkan salah satu tokoh stereotip yang kerap hadir dalam kisah horor (dukun, tokoh agama, polisi), yang dalam kisah ini, muncul sosok Sam yang merupakan seorang Polisi.

Selain itu, Dio juga membuat judul buku ini terkesan misterius bagi pembaca[4]. Sepanjang pembacaan, pembaca akan beberapa kali melihat frasa dekat dan nyaring—tujuh kali tepatnya—sebagai penanda kisah semakin dekat menuju puncaknya.

Melihat ini, kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa Dekat & Nyaring adalah novela yang bercerita tentang kaum yang bertahan dan yang terempas dengan balutan teror sebagai bumbu penyedap. Namun itu adalah kesimpulan yang terlalu terburu-buru, novela ini tidak hanya bercerita soal itu saja. Dio juga sedikit memberi pandangannya terhadap sastra (khususnya untuk para penulis) lewat tokoh Kina—sosok seorang penulis misterius yang merelakan dirinya menikahi Idris dan bermukim di gang Patos karena ingin menuliskan karya sastra yang otentik—dan Dea Anugrah—satu-satunya karakter yang hanya berhubungan dengan Kina dan bukan gang Patos.

Lewat tokoh Kina dan Dea Anugrah, Dio sedikit menyinggung masalah susastra yang selalu menjadi mitos: menggugah masyarakat dengan menyuarakan yang tidak tersuarakan. Dio sadar betul, bahwa dengan menciptakan karya fiksi, ia tidak dapat mengubah apapun, dan itulah yang ingin ia katakan dari sekian banyak gagasan dalam novela tipis berjudul Dekat & Nyaring ini. Hal itu bisa kita lihat dalam dialog antara Kina dan Dea, berikut.

“Kenapa sih, kau merasa perlu mewakili mereka? Itu sama saja dengan kau meremehkan kemampuan mereka. Mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri tanpa perlu kau wakili.”

“Orang perlu melihat masalah sebenarnya,” kata Kina.

“Kalau begitu tulis saja jurnal antropologi, esai, atau liputan mendalam. Jangan menulis novel, nggak akan mengubah apa pun. Kenapa kau nggak fokus memperbaiki tulisanmu sendiri, atau melakukan hal lain yang lebih bermanfaat seperti beternak lele, misalnya, ketimbang meromantisir kemiskinan orang lain?” (hlm. 93-94)

Dio memilliki keyakinan bahwa karya sastra tidaklah bisa mengubah apapun, dan ketimbang penulis sibuk berdakwah dalam karyanya—yang kemungkinan pesannya tidak sampai atau hanya menjadi kutipan motivasi di media sosial—maka hal yang lebih baik dilakukan adalah memperbaiki tulisannya. Dio sadar betul, seberat apapun gagasan yang ditawarkan dalam prosa fiksi, akan sia-sia saja jika dikisahkan dengan cara yang amburadul.

Melalui novela Dekat & Nyaring, Dio seolah memberi pukulan yang lumayan telak bagi penulis yang keasikan berdakwah dalam tulisannya dan tidak memerhatikan bentuk maupun gaya bercerita.Hal ini bukan berarti cerita yang memuat gagasan berat selalu buruk, bukan itu. Masalahnya adalah apakah tujuan penulis menulis cerita? Jika ia ingin menyuarakan yang tidak tersuarakan, maka pilihan yang bijak adalah menulis esai, opini, ataupun kajian yang bersifat non-fiksi.

Dalam hal ini, Dio sependapat dengan Edgar Allan Poe—dalam esainya berjudul “The Poetic Principle”[5]—yang menolak gagasan bahwa karya sastra sebaiknya memberikan penerangan moral dan karenanya Poe mengusung ide bahwa karya seni harus ditulis demi karya sastra itu sendiri.

Melalui Dekat & Nyaring, Dio seperti menjewer penulis yang keasyikan menceritakan hal tidak perlu dan para pendakwah yang salah tempat dengan frasa dekat dan nyaring, Dio juga berhasil memberi alternatif untuk para pencerita setelahnya memberi batas dan penanda agar cerita tak lari terlalu jauh. Melalui tokoh-tokohnya, ia juga berhasil menghadirkan ketakutan tanpa hantu dan bagaimana manusia dengan segudang imajinasinya bisa bertahan di situasi yang tidak memungkinan.

Dan jika ada satu hal yang buruk dalam novela Dekat & Nyaring, maka yang patut disalahkan adalah kembali laginya sosok Dea Anugrah di akhir kisah. Hal yang membuat para pembacanya bertanya, “Di luar gang Patos, apa hanya ada Dea Anugrah saja?”—selain tentu saja beberapa kesalahan penyebutan nama tokoh, yang cukup krusial, di tengah-tengah cerita.

Jakarta, Mei 2019.


[1] Dalam laman https://jurnalruang.com/read/1538062132-sabda-armandio-gak-perlu-bertele-tele#

[2]Untuk mengisahkan dongeng Pak Koksi, Dio pun menciptakan tokoh Anak Baik yang polos dengan segudang rasa ingin tahu dan sedikit keras kepala.Kisah tidak datang tiba-tiba tanpa motif (sebagaimana banyak prosa buruk yang sekonyong-konyong berkisah tanpa memerhatikan kausalitas).

[3] (1) Tokoh utama biasanya adalah korban yang mengalami teror atau tokoh pembawa bencana. (2) Tokoh Antagonis atau tokoh pembawa kejahatan biasanya terasing atau tersingkir secara sosial atau bukan bagian dari dunia nyata. (3) Dekor ruang relatif monoton. Misalnya sebuah rumah, kota terpencil, rumah sakit. Dekor waktu didominasi malam hari atau suasana gelap. (4) Tokoh agama sering dilibatkan untuk menyelesaikan masalah. (5) Hal-hal supranatural atau tahayul dipakai untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa yang tidak dapat dijelaskan secara rasional. (6) Tokoh anak biasanya memiliki kekuatan berkat kemurnian jiwa mereka. (7)Adegan kekerasan fisiksering menjadi warna utamanya, misalnya pembunuhan, teror, mutilasi, dan darah. (8) Teknologi sering menjadi salah satu pemicu masalah. Kearifan lokal dan kedekatan manusia dengan alam justru yang menjadi pemenangnya.

[4]Dalam pembacaan lebih lanjut, motif dari penggunaan frasa berulang ini bisa menjadi siasat yang sekaligus berperan sebagai benang merah, yang menjaga agar cerita tak lari terlalu jauh, dan penanda babak-babak penting dan krusial dalam cerita.

[5] Dalam A History of Literary Criticism: from Plato to Present. M.A.R Habib (Blackwell Publishing: Oxford, 2005) hlm. 464.


Doni Ahmadi , lahir dan tinggal di Jakarta. Menulis cerpen dan esai. Tulisannya tersebar di media cetak dan daring. Bukunya, Pengarang Dodit (Basabasi. 2019)

Buku, Resensi

Raden Saleh: Membaca dan Memandang

Oleh Bandung Mawardi

Kurnia Effendi pergi di negeri mantan penjajah. Kepergian tak lama, tak seperti Raden Saleh di masa lalu. Di hitungan puluhan hari, Kurnia Effendi mencari dan mengimajinasikan Raden Saleh di pelbagai tempat. Ia tak cuma mencari di Belanda. Kepergian ke Jerman, Prancis, dan Belgia tetap meniatkan ingin mencari tinggalan dan cerita bertokoh Raden Saleh.

Kedatangan ke Belanda pada abad XXI mustahil masuk di buku berjudul Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 (2008) susunan Harry A Poeze. Kurnia Effendi tak lagi mengalami masa kolonial tapi menginginkan ada panggilan sejarah dan imajinasi kembali ke abad XIX. Di sela mencari Raden Saleh, ia merasakan kehadiran atau melihat imajinatif lakon masa lalu bertokoh: Mohammad Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir. Pembaca tak usah memaksa mencari dan menemukan nama-nama: Ki Hadjar Dewantara, Noto Soeroto, Abdul Rivai, Ahmad Soebarjo, Marco Kartodikromo, Roestam Effendi, dan Soerjo Soeparto. Di kota-kota teringat memiliki universitas, museum, dan perpustakaan mentereng, Kurnia Effendi melewati hari-hari dengan mata-membaca dan mata-memotret.

Kepulangan dari Belanda, terbitlah buku puisi berjudul Mencari Raden Saleh. Judul agak mengecoh. Di buku, puisi mengenai Raden Saleh cuma sedikit tapi mengesahkan kepergian bermisi keaksaraan. “Puisi, mungkin serupa sketsa bagi pelukis, saat ditulis awal,” pengakuan Kurnia Effendi. Puisi demi puisi digubah di hari-hari terus berganti. Ia berlimpahan puisi gampang terkena tuduhan “serampangan” atau pencatatan kesan saja. Sejak mula, Kurnia Effendi menginginkan: “Untuk tak jatuh pada puisi turisme, maka perlu dilengkapi dengan pengetahuan.” Puisi-puisi dikerjakan serius meski di ketergesaan, cepak, dan kesemrawutan.  

Sasaran terpenting selama di Leiden (Belanda) adalah mengunjungi perpustakaan. Sejak ratusan tahun lalu, kepustakaan asal dan bertema Nusantara ada di situ. Di puisi berjudul “Boekenzolder”, Kurnia Effendi mengisahkan: Mengenai buku, tak ada jalan buntu/ Ia selalu memiliki pintu, tempat/ kita masuk dan keluar penuh tatu// Selalu ingin kembali, menambah luka baru// Dan suatu hari kita ciptakan tragedi/ untuk angan-angan yang tak pernah mati. Ia takjub pada buku-buku. Suasana untuk pembaca terasa menegangkan di pemenuhan pamrih melintasi halaman-halaman buku sejarah dan biografi para tokoh masa lalu. Pembaca ingin “tatu”, memiliki bekas luka.  

Ia menemui buku-buku sebagai perindu dan pengagum. Buku demi buku adalah alamat kangen ke masa lalu. Ia keranjingan membaca buku-buku, tak ingin detik berlalu tanpa “tatu” gara-gara buku. Pada 7 Juli 2017, ia menuliskan kesan selama berada di perpustakaan. Ia sedang mencari Raden Saleh dengan peta-buku. Pembaca di kepasrahan dan puncak hasrat: Karam yang paling indah adalah ke dasar palung/ perpustakaan: sunyi dalam timbunan gizi/ Menyibak hutan aksara, mengais remah sejarah. Bait di puisi berjudul “Universiteitsbibliotheek Leiden” mengabarkan keterpanaan tak usai dan pencarian belum sampai. Pada buku-buku, ia terlalu berharap untuk digenapi kunjungan ke museum-museum, melintasi jalan-jalan, dan memandang sekian bangunan.

Kita agak termangu. Ikhtiar mengenali Raden Saleh dan mengerti Indonesia mesti berada di negeri jauh. Panggilan ke buku-buku tua memang bersumber dari sana. Keinginan jadi pembaca harus melintasi daratan dan lautan. Koko Hendri Lubis memberi kesaksian bahwa Kurnia Effendi memilih rakus melahap buku-buku mumpung berada di Leiden (Belanda). Kurnia Effendi emoh sia-sia. Ia terang mengaku dalam puisi berjudul “Mencari Indonesia”. Puisi mirip kalimat-kalimat dalam surat mengandung kangen: Aku menjadi pengembara dengan uang negara/ Aku menuntut ilmu dari tumpukan buku-buku/ Aku tetirah memungut remah-remah sejarah/ Aku tertawan di ruang-ruang perpustakaan// Aku ke Leiden mencari Indonesia!

Ia memang pergi ke Belanda dengan dana Kemendikbud RI dan fasilitas teknis dari Komite Buku Nasional. Pergi jangan merugi. Pulang pun membawa oleh-oleh puisi. Selama di perpustakaan, ia berhasil menemu: Di lubuk arsip lebih satu abad, kuraba kertas/ buatan Eropa, tempat Raden Saleh menggurat aksara. Lega. Ia perlahan menemukan jalan keaksaraan sampai ke Raden Saleh. Pencarian mendapat sorot terang ke masa lalu, membuka rahasia demi rahasia.

Kurnia Effendi belum lelah. Perjalanan berlanjut ke kota-kota sebelah. Ia menuju Coburg, berharap semakin menemukan Raden Saleh. Permainan ingatan dan peka memandang-merasakan itu bekal sampai ke penemuan-penemuan tak utuh. Ragu ingin menghilang. Di puisi berjudul “Menuju Coburg”, Kurnia Effendi mencatat: Jika benar Raden Saleh pernah/ hadir di sana, ingin kudengar/ langkah kakinya. Ia pergi ke Belanda pada 2017. Pencarian belum sempat membekali diri dengan buku berjudul Raden Saleh: Kehidupan dan Karyanya (2018) susunan Werner Kraus. Selama di Coburg, Raden Saleh mengalami hari-hari indah dan membahagiakan. Ia bergaul dengan kaum aristokrat Eropa. Di sana, Raden Saleh memiliki studio kecil untuk melukis potret Ernst II, Alexandrine, dan Putri Leiningen. Werner Kraus mencatat waktu mukim Raden Saleh di Coburg: 26 Maret-6 Desember 1844. Pada masa berbeda, Raden Saleh bergirang mengunjungi dan tinggal di Coburg. Pada 2017,  Kurnia Effendi di Coburg menuntaskan penasaran meski sejenak.

Misi mencari tak henti-henti. Di Istanbul, 31 Agustus 2017, Kurnia Effendi masih terlalu mengingat peristiwa menelusuri jalan mengingatkan pada Raden Saleh. Puisi berjudul “Hoogstraat” kentara memusat ke Raden Saleh. Ada pencantuman keterangan di judul” “Napak Tilas Raden Saleh”. Puisi ditulis di kota jauh dari Indonesia dan Belanda tapi mengesankan ingatan dan pengimajinasian menguat. Kurnia Effendi menulis: Tak dapat kulacak di mana rumahmu/ Namun terasa di tiap jengkal jalan yang kutempuh/ terlekat percikan cat lukismu. Dinding-dinding toko/ itu berebut rapi menghapus aroma tubuhmu/ Tapi kafe demi kafe gagal menyembunyikan panggilanmu/ kepada pelayan, meminta tambahan minuman.

Di hadapan buku puisi, kita tergoda membaca (lagi) buku-buku mengenai Raden Saleh. Pada 1951, terbit buku berjudul Dua Raden Saleh: Dua Nasionalis dalam Abad ke-19 susunan Soekanto. Buku awal bagi pembaca di masa revolusi ingin mengenali Raden Saleh, lelaki tenar tapi memicu polemik di kancah seni dan politik. Pada 2009, kita semakin mengenali dengan penerbitan buku berjudul Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi Indie, dan Nasionalisme berisi esai-esai garapan Harsja W Bachtiar, Peter BR Carey, dan Onghokham. Kini, buku berjudul Mencari Raden Saleh terbaca dengan keentengan tanpa pamrih memberi penjelasan-penjelasan argumentatif mengarah ke biografi, estetika, identitas, dan politik. Buku itu berisi puisi-puisi tanpa janji mengumbar referensi. Begitu.    


Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi. Penulis di pengenangpuisi.wordpress.com