Puisi

Puisi Sengat Ibrahim

Sabda Hujan

kalau kamu dalam keadaan sendirian

maka siapkan rindu sebelum hujan

biar bisa bermain-main dengan kesepian yang disempurnakan.

kalau kamu sedang berduaan

maka siapkan payung sebelum hujan

biar bisa bermain-main dengan kehangatan yang direncanakan.

Jogjakarta, 2019


Hujan 1

terima kasih hujan engkau masih tahu jalan menuju bumi

terima kasih bumi engkau masih tabah memilih manusia sebagai isi.

Jogjakarta, 2019


Hujan 2

semua hujan yang turun dari langit selalu sama yaitu air

yang mencoba menghapus semua bekas kenangan di luar pikiran.

Jogjakarta, 2019


Hujan 3

dingin dan angin sedang berdiskusi alot dengan rindu

semoga saja mereka mendiskusikan aku dan kamu.

Jogjakarta, 2019


Doa Menolak Tidur Malam

1

semoga dingin yang menyerang tubuhku

terbuat dari keinginanmu untuk memelukku.

2

semoga dingin yang memelukku semakin

memperpanjang kebutuhanku akan kehadiranmu.

3

semoga dingin yang bercampur dengan kenangan

bersamamu akan menjadikan aku—orang sempurna

yang tetap butuh disempurnakan olehmu.

4

semoga dingin yang membungkus kulitku

tidak sampai mengganggu keberadaanmu di dalam diriku.

5

semoga malammu yang penuh dengan diriku atau malamku

yang selalu berisi dirimu tidak menjadikan kita lupa bahwa

malam yang paling sempurna di dunia adalah malam

yang berisi aku dan kamu.

Jogjakarta, 2019


Doa Sebelum Tidur Malam

dalam mimpi, semoga kita tidak pernah berketemu

sebab aku membutuhkan yang lebih nyata dari itu.

Jogjakarta, 2019


Doa Ketika Diserang Rindu

semoga dalam semua rindu yang datang padaku

selalu ada kamu di dalamnya.

Jogjakarta, 2019


Kangen

kangenku

sudah sampai pada puncak

di mana aku harus membiasakan diri

menjadi kehancuran.

maka kubiarkan

kangen yang menentukan sendiri

memilih kangen ke siapa

semoga saja kangenku menjadi kangenmu.

Jogjakarta, 2019


Tutorial Rindu

satu-satunya cara terbaik menikmati rindu, cuma satu:

menjauhlah hidup sebisa mungkin dariku.

Jogjakarta, 2019


Alangkah Malang Nasibku

sudah lebih dari dua jam

aku dikeroyok segerombolan rindu

hingga seluruh tubuhku babak belur.

aku berterik-teriak minta tolong tapi

tak ada satu pun orang yang mau menolongku.

alangkah malang nasibku.

Jogjakarta, 2019


Sengat Ibrahim, Lahir di Sumenep Madura, 22 Mei 1997. Menulis puisi dan cerita pendek. Bertuhan pada Bahasa, merupakan buku puisi pertamanya. Sekarang menetap di Jogjakarta sekaligus bekerja sebagai Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub.

Puisi

Puisi Patricia Pawestri

ada hal-hal teraba

pada buah dada yang dibedah

ada ibu di sana

ada ranum alpukat

pada hamparan putih lembut itu

ada kekasih

ada hangat selimut rajut

pada kemesraan kelam itu

ada anak-anak

merumput surga

2019


ranum fajar

jalan lengang sejuk pagi

hamparan hijau padi berbulir

kuntum-kuntum ladang jagung

kolam tenang ikan berenang

bisik gemericik sungai

awan lembut perlahan beriring

2019


anak kecil berlari

ia menuju pepohonan pada jalan menurun

menangkap suara burung dan gemulai angin di antara daun

ia menahan bayang awan pada matanya

kaki kecil lembut membelai rumput

bintik peluh sedikit sembunyi

kulit berkilau sematan embun

2019


ia berkata, indah sekali

di tepi pematang ia berhenti

ia tangkapi kepak sayap bangau kecil

yang naik turun dari dahan mati

kepada kolam bibit padi

2019


uri-uri

sehelai selendang

menari bersama gemulai angin

keris-keris kecil yang manis

sehelai lagi dihentakkan

kembang-kembang air yang terusir

seperti tertawa suaranya

selusin batik menghiasi halaman

tersampir pada tali menggeletar

2019


melepas turun

benang-benang sari mendengar hujan

mendengar geledek hujan

benang-benang sari bunga rumput

tertimpa tetes-tetes hujan

benang-benang sari bunga rumput

tertunduk-tunduk terbawa berat tetes-tetes hujan

benang-benang sari basah sekujur tubuh

2019


mencium fajar

pada jaring waktu pagi hari

aku tak pernah melihat keluar

tapi kubayangkan, ada yang menjalin

segar dan ramai di udara:

hembus udara embun dan kicau burung

dan percik keemasan di tengah suram langit.

2019


mengetuk hati

cinta adalah diskusi hujan

bagi perempuan muda, bagaimana membedakan

keinginan berbagi dari memiliki, dan keduanya berasal dari surga

cinta adalah diskusi kemarau

di mana rasa dahaga tak menemukan secangkir minuman

hingga ia mengerti di dalam dirinya sendiri sumur tertutup sebenarnya penuh

cinta adalah diskusi musim semi

setiap pagi tunas baru menemui cahaya matari

dan dengan tunas cinta lainnya ia berlomba tumbuh semakin tinggi

cinta adalah diskusi musim dingin

di mana setiap yang beku adalah pintu rumah yang perlu diketuk

senyum dan pelukan hangat, meski seribu kali ditolak, tetap jadi anak kunci

2019


kita belum merdeka ketika membaca berita

ini memang bukan 17 agustus

hari di mana kita mengkaji bendera di puncak

kita belum merdeka

selama masih ada pengemis di tangga pusat perbelanjaan

dan anak-anak yang berangkat pagi dengan sepatu menganga

kita belum merdeka

ketika ada buruh pabrik yang disembunyikan di loteng ketika audit tenaga kerja

kita belum merdeka

ketika buku-buku dirampas oleh tentara

kita belum merdeka

ketika pemerkosa diijinkan melengang di kampus

kita juga belum merdeka

ketika jumlah pupuk dan pestisida yang dibeli petani dibandrol naik

dan pedagang sayur memilih membeli barang dari tengkulak daripada petani

kita belum merdeka. ke mana perempuan-perempuan Kendeng itu? aku belum selesai membaca berita, apa mereka masih harus merendam kaki mereka di dalam semen hari ini?

2019


Patricia Pawestri, lahir dan tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di Nalar Politik. Karya tunggalnya Metafora Goodnick Griffin.

Puisi

Puisi Pusvi Defi

Mendua

bila kuluahkan; sempurna bayangmu

yang hendak kulipat dekat

ada lembayung jingga membayu benak

serupa gadis hilang perawan, kocar-kacir mencari sasaran

ratap tersuruk, ambruk

pecah gelombang, menghantam karang

kian kuingat jerit hati tersayat

saat kudulang kembali ingatan itu

di pantai cermin indah nian seri

kau tikam aku dengan genit rayuan

tersulam sejumput ikrar, memadu kasih lewat cumbu birahi

janji-janji hanya omong kosong

tipu bualanmu mencubit!

Sebulan lebih kuurung rerindu ini, menahan konak kian terpenjara

rupa-rupa air mataku berderai gagah

menyaksi lekat lekuk tubuhmu tengah asik bercinta di pelabuhan dermaga 

napas tersedak sembilu membara

;hatiku patah

Pantai Cermin, 2019


Hubungan Jarak  Jauh

:Bagi A.B

Cobalah engkau bayangkan

aku seumpama ikan benih dari hulu

yang dengan tabah tergerus arus para perambah

Sedang kau

Adalah pelayar yang melawan arus gelombang

Namun tetap kita 

menghilir mudik di sepanjang risalah penantian

menakik segala rintang

menanjak  jarak membentang

dengan rindu yang semakin garang

Panam Kota, 2019


Terkenang Mantan Kekasih 

:An

memasuki jalan kecil, melewati tiap-tiap gang sempit

lampu-lampu kendaraan serupa kunang-kunang

yang bertubrukan. seraya aku mengenangmu

bagaimana kabarmu setelah kurun waktu 4 tahun kutinggalkan

masihkah wajahmu yang lugu manis seumpama buah manggis

itu gemar tersenyum tipis?

atau jangan-jangan setumpuk awan mendung tengah menyelimut

selepas kupatahkan kau dari peraduan cinta yang sekecut buah mempolam

kau tahu, akhir-akhir ini aku mudah terserang penyakit lupa

baik itu hari, tanggal, dan apa pun itu

namun bagiku, lengang jalan yang sering kita susuri, 

bagai riak-riak kecil yang terpercik dari pengayuh

membilang kenang yang ingin kembali memulai

Harapan Raya, 2019


Tuli

diladang sunyi,

capung-capung mengepung

lalat bertengker di ujung

dan biji kedelai tengah membenih; semi 

aku melirik, mendongak pandang

orang-orang sibuk berkerumun

bercengkerama entah apa

Pekanbaru, 2019


Air Mata

di ranjang basah, kutiduri keringat mata

tak sempat kuseka, hanya kujilati asinnya

ranum membuahi; perih

Pekanbaru, 2019


Sakau

Aku adalah wanita yang gemar menjambak imaji

mengeram rahim puisi tanpa metafora

memuntahkan birahi frasa yang entah apa

semua kulumat sesuka sakauku mengeja

Pekanbaru, 2019


Bayang

Di sebuah ranjang ada bayang mengangkang!

bertabuh dengan sayap kenang

serupa kunang-kunang berteduh di daun ketapang

Pekanbaru, 2017


Jerebu

aku tertidur dalam kepulan asap jahannam,

menyibak mataku menyerih, perih

Pekanbaru, 2015


Ihwal Rumah Tangga

:Sakinah Bersamamu

Aku membangun sebuah atap di hutan belantara

Sebelum kaudirikan sebuah pondasi

Di dalam tembok-tembok perkasa

Dan untuk sekian kalinya pada senja yang terpasung

Oleh cericit murai yang ceriwis

Kita salingsilang menjenguk kerinduan

sebagai pengembara purba

Rumah adalah Raga

Yang lebih Agung

Dari sebuah hiduk suci

Rumah adalah keheningan

Yang menebar teduh dari ancaman

Rumah adalah kunci

Yang membuka pintu hati

Untuk kita saling mencintai

Pekanbaru, 2015


Ihwal Angan

Aku melayang-layang bagaikan kapas putih

Dihembus angin liar

Dan busur-busur bercahaya lentur

Timbul tenggelam

Dalam puncak pikiran

Pekanbaru, 2019


Pusvi Defi, kelahiran Medan, 23 Juni 1994. Mencintai puisi, dan kamu.

Puisi

Puisi Daruz Armedian

mengartikan pelukan

ingat malam itu: aku memelukmu. sebuah cara mengucap cinta tanpa kata-kata. tubuhku beku dan suaraku sepi seperti ditelan bumi. tapi saksikan, dadaku berteriak. seolah ada sesuatu yang retak. di dalamnya ada diriku yang lain berdoa. semoga aku bagian dari kamu.


aku sengaja mencintaimu untuk kau sia-siakan

aku sengaja mencintaimu untuk kau sia-siakan

seumpama jendela yang setia mengamatimu

melangkah pergi dan kembali

meski yang kau tuju adalah pintu

cukup aku menjadi jerawat

yang menolak tumbuh di wajahmu

agar kau tak malu dan berpaling

saat berhadapan dengan cermin dan orang lain

aku sengaja mencintaimu di dalam masa lalu yang jauh

masa di mana tak mungkin jemarimu menyentuh


membicarakan hari ini

sejak kamu ambil hatiku, aku merasakan segalanya. tak ada lagi kata ‘pinjam’ mulai saat ini. buku-buku itu juga milikmu. lengan yang merengkuhmu seperti merengkuh diri sendiri. mata yang menatapmu adalah kebutaanku terhadap orang lain.

hari ini aku meniadakan diri. kamu meniadakan dirimu. untuk satu, kita perlu hilang di tubir waktu. lalu hadir sebagai diri lain. bukan angin, bukan aku juga bukan kamu.


mempertanyakan keabadian

apa yang dipersoal? segalanya kita kenal dan tak ada yang bakal kekal. sapamu kemarin hanya angin. bumi yang bijak suatu hari akan retak. kita memang pernah membaca madah. puisi sapardi tentang waktu yang fana dan kita abadi. tapi usia manusia tak bisa setua puisi atau waktu itu sendiri.

apa yang akan kamu abadikan? segalanya meluncur deras bagai hujan. atau bagai sungai yang tawar cepat lepas ke asin lautan.

bukan aku mengutukmu jadi bongkahan batu.  makhluk dungu yang tak pandai mengenang sesuatu. hanya, kita lahir untuk titik nadir. kita tenggelam dalam ada tapi tak sungguh-sungguh ada.


belajar yang lain

dalam bahasan lain, otak kita terbagi jadi tiga. pertama untuk mengenang, kedua untuk menjalani hari ini, ketiga untuk merencanakan masa depan. aku bermimpi kehilangan otak pertama dan kamu membicarakan tak punya otak ketiga. kita menjalani hari ini di ruang dan waktu yang sama.


selamat malam, istri orang

selamat malam, istri orang

ada gelombang di matamu

seperti ingin tumpah ke daratan

apakah hari-hari kau jajaki tak sederhana

seperti hari yang kumiliki

pagi dengan kopi di meja

menghadap jendela

dan buku-buku yang

menceritakan banyak hal

selamat malam, istri orang

begitu tua wajahmu

lebih tua ketimbang usianya

apakah kenangan begitu berat kautanggung:

ketika itu pernah aku jadi pacarmu

ketika itu pernah aku datang sebagai tamu

di hari pernikahanmu

selamat malam

apalah arti pernikahan dengan lain orang

jika aku mungkin masih kau kenang?


nama lain kesedihan

/1/

nama lain dari kesedihan

adalah air mata perempuan

yang lahir dan mengalir

dari dada remuk redam

jika ia sungai

luka-luka akan diseretnya

dengan arus rumit

menuju ke arah yang

menanam rasa sakit

/2/

nama lain dari kesedihan

adalah penantian panjang

di hadapannya: waktu melambat

bosan dan gelisah meledak

serpih-perihnya terserak

menyesaki ruang tunggu

sementara kabar darimu

telah bosan mengetuk pintu telingaku

/3/

nama lain dari kesedihan

            adalah kesendirian


maafkan

maafkan kenakalanku:

mencuri namamu

dan kuserahkan

kepada tuhan

maafkan kemalasanku:

menyia-nyiakan waktu

dengan tidak mengerjakan apa-apa

kecuali duduk di sampingmu

dan membicarakan segalanya

maafkan kebodohanku:

menganggap semua ilmu pengetahuan

tidak perlu kutahu

kecuali dirimu


dingin benar udara di sini

dingin benar udara di sini

di luar, pohon-pohon berlarian

seperti ke arah masa silam

masa di mana ketakutan-ketakutan kualamatkan

di kaca jendela kereta

embun menyublim

dan aku di dalamnya

membeku

sambil menatapmu

sedang memandang

kelebat pohon-pohon itu

kau berkata pelan

ketika kereta baru setengah jam berjalan:

rebahlah di pundakku

pakailah jaketmu

udara dari ac

jauh lebih berbahaya

ketimbang jatuh cinta

aku tak butuh memakai jaket

atau merebahkan kepala

aku ingin menciummu

dan menantang bahaya dari keduanya:

jatuh cinta

dingin udara


mencemburui waktu

aku lelaki pencemburu, perempuanku

terlebih kepada waktu

ia mengubah bentuk wajahmu jadi tua

tulang-tulangmu jadi renta

kakimu jadi lelah melangkah

sedang ia masih berlari dan terus berlari

seperti anak kecil

yang tak mengerti

bagaimana perihnya menjadi dewasa

orang-orang berusaha menghitung waktu

menciptakan jam dan tanggalan

dan perhitungan-perhitungan lain

jam di lenganmu mati

dan kau tak menemukan apa-apa

selain semua itu sia-sia

tanggalan di rumahmu

selalu tidak mampu menghitung

kurun waktu dua tahun

atau lebih

aku bisa mencegah siapa pun

yang ingin merebutmu

tapi bagaimana jika itu waktu?

ia bisa saja mendatangimu

sebagai ketiadaan

menyeretmu perlahan-lahan

ia bisa saja mendatangi kita

sebagai kelupaan

kau melupakanku dan aku melupakanmu

atas dasar terlalu berat mengingat


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan puisi bagi remaja DIY. Tulisannya pernah di koran Tempo, Media Indonesia, Suara Merdeka, Republika, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Lampung Pos, dll.

Puisi

Puisi Lailatul Kiptiyah

Syawal

                 ; Ibuku Siti Ngaisah


sepetak ladang berpuluh tahun
menyulam dirinya untuk terus hijau

di tengah-tengahnya jantung ibu

berdegup mekar menjaga kangenku

sedang pohon-pohonnya tubuh yang tabah
melepas anak-anak embun
lesap ke urat-urat

perjalanan
melimpahiku ribuan maaf


dari kejauhan

Mataram, Syawal 1440 H


Menulis Sajak Tiga Baris

yang putih adalah kabut
yang sedih adalah putih
yang terenggut

burung-burung kembali
berpulang pada magrib
menujuMu duka berjalan tertib

kuseterika baju-bajumu
setelah kau cuci bersih
masa lalu

rembulan penuh
jatuh ke mata sungai
oh, cinta yang berderai

di bawah lampu menyala
begitu subur air mata
begitu rimbun luka-luka

kemarau yang menggenangi
seluruh kota
mengenangkanku pada lagu Africa

dari puisimu, Goenawan Mohamad
kusimpan dengan sedih
sepatu kecil Aylan Kurdi

di dalam tanah
sebutir benih pecah
ia pahami hakekat ibadah

yang dalam adalah laut
yang hitam adalah luput
yang cemas adalah doa-doa yang kusebut

Ramadhan- Syawal, 1440 H


Memandang ke Seberang Halaman

apa yang kau temukan
saat kau pandang
ke seberang halaman

jalan berpaving kotak-kotak
pembatasnya dulu jajaran batang-batang
luntas, sebatang nangka bubur dan
sedepa ke kiri segerumbul talas

seorang modin, beberapa orang dandan
pernah melewati jalan itu
membawa seorang demi seorang
-calon menantu

bagi tiga anak perawan
penghuni rumah limas
sebelah kiri jalan

apa yang kau simpan
di lubuk kenang
pada seberang halaman

kau yang datang dari arah jauh
arah yang berlawanan
bersetelan jas hitam, bersongkok hitam

di kiri kanan pundakmu
disangga tangan-tangan keluarga
sepasang kembar mayang mekar
menjemput mempelai perempuanmu

ke dalam rumah limas itu


dengan tubuh saling gemetar
kau dan mempelai perempuanmu
menyesap kucuran air kendi

air yang terperam dalam tujuh
rupa kembang

yang aromanya tak bisa hilang
hingga jauh memasuki tubuh malam
membenam dalam

menetes-netes, bermalam-malam
menjadi candu tak terbilang

Ampenan, 20 Maret 2019


Jarak

sebatang jarak tumbuh masih rendah
di tepi parit dekat masjid
yang tak begitu megah

pernah kupetik beberapa lembar
daunnya
tanpa izin ke barang siapa

“petiklah beberapa lembar daun jarak
dekat masjid itu
untuk kubalurkan ke perut bocah lelakimu”

seorang ibu dari Sumbawa
mengucap padaku

di tengah malam sebelumnya
diare serta panas menyerang
bocah lelakiku

beberapa hari selepas genap dua tahun

kini sebatang jarak kutemukan lagi, rimbun
di halaman sebuah rumah
dekat pondokan kami yang baru

kupandang setiap lewat
pohon yang menyimpan kelebat
suara seorang ibu dari Sumbawa
suara mantra yang sepurba

mitologi itu

Ampenan, 19-20 Maret 2019


Burung Hantu

di pohon hitam
di jam terkelam
kutangkap melodimu

Pagesangan, Januari 2017


Tarekat

aku menulismu
berulang-ulang

aku memanggilmu
tak pernah bimbang

dan aku menempuhmu
lewat ribuan lambang

2017


Di Kolam Renang Valerie

di atasmu duduk

bergantung enam butir jeruk

pada carang-carang sekaku telunjuk

gemar dan mahir menusuk

sesuatu yang sedih kau sembunyikan

di kediaman tengkuk

Jember, September 2018


Di Balai Kota


di balai kota menegak pagar
dari ribuan papan kembang
matahari mata yang menyabarkan
saat laki-laki itu
memasuki jantung gedung
namun ia merasa tenang
dan barangkali menang

memandang dendam kian mekar
di ruang sidang

Mei 2017-September 2018


Kesedihan Musim

sebuah paceklik datang tak memandang

waktu. Tangannya terulur demikian karib

menjangkau pintu

seekor induk unggas memburu butiran jagung

yang terbawa paruh burung
di hampar kebun yang memutih itu

seperti sehabis hujan abu

namun dari pucuk daun nangka
sebutir embun menitik
tak kentara

serupa doa yang diam-diam
terjaga
di sudut gema

bilakah hujan membuyar

lagi dari utara?

lewat tangan laut yang menyudahi nestapa


2017-2019


Doa

duhai angin yang melipur
ladang-ladang kering, musim-musim tugur
bawa sajak-sajakku serupa burung
menabur kidung dan terbang
merambahi puncak kesedihan

2018


Lailatul Kiptiyah, lahir dan besar di Blitar. Pernah lama bekerja di Jakarta. Sejak 2014 hingga sekarang menetap di Mataram dan turut menjadi bagian keluarga dari komunitas Akarpohon Mataram, NTB.

Puisi

Puisi Jihan Suweleh

Fibromyalgia

Seperti mati

aku tertidur

dalam ngilu

sekujur tubuh

lelah mencekik

tulang begitu sakit

bertahun-tahun

aku budak tangis

apa yang kuingat

pudar perlahan

kecemasan, ketakutan

kepalaku menahan

luka dalam obat

kesembuhan

bukan antidepresan

kepercayaan

bukan penenang

sementara

persis tidurku

yang berhari-hari

tak berdaya

meski terlihat sehat

katakan bahwa aku akan sembuh

aku akan sembuh

tanpa pertanyaan:

benarkah kausakit?

leherku, pundakku

punggung, dada

kaki, tangan

melingkar kesakitan

aku tak sanggup bangun

dari tempat tidur

terlelap dalam hidup

yang mematikanku

setiap saat aku bertanya

mengapa aku terlalu payah

mengapa aku selalu lelah

meski tak berbuat apa-apa

aku ingin membeli energi

untuk tulangku

yang melulu ngilu

menyembilu


Trauma

Kenangan masa kecil

gelap dipejam

terbingkai pada mata

hadiah Papa Mama

membentuk benda tajam

di dalam kamar.


Waktu

Di magrib yang dingin

Kita sepotong bibir ranting

Di subuh yang sejuk

Kita sepasang kaki berteluk

Jarak menggigit bayangmu

Gemeletuk nyaring di kupingku

Tiada yang mampu menjarah waktu

Kau telah meniggalkanku, dan berlalu

Kenangan kutelan

Sendirian

Rindu mengudus

Dalam kardus

Sampai jumpa di lain hari

Ketika kau belum menjadi orang lain


Panggung Tangis di Mata Ibu

Aku melihat matamu, Ibu

menggerakkan kesedihan

menjadi seni pertunjukan

Setiap menyentuh panggung

aku melihat tangismu

pada tirai, pada lampu yang berderet

dan akan menyinariku

mendapat tepukan dari tangan

yang bukan dirimu

Tata rias yang teroles di wajahku

menyatu dengan kulit

sebagai duka yang kaulempar

tanpa lebih dulu kautatap

dan kostum-kostum yang kukenakan

adalah pertanyaan atas kesedihanmu

yang tak pernah sanggup kaujawab:

betulkah mimpiku adalah lukamu?

Aku rindu bersandar di dadamu

mendengar sunyi yang berdarah

hening yang memeluk kehampaan

tanpa air susu yang keluar

sebagai tali antara kita

Adakah yang tidak kuketahui

dari masa lalumu, Ibu

selain payudaramu

tak sanggup mengeluarkan

apapun kecuali kesedihan

Adakah yang tidak kuketahui

dari masa laluku

sehingga yang kuingat hanya

Ibu mengurungku dalam diam

dan memukulku ketika aku lari

ke luar rumah

Di panggung berkilap-kilap

aku patung dalam matamu

wajah-wajah gembira di depan sana

adalah tangismu yang menolak

kepergianku

tetapi, Ibu, tidak ada jalan yang buruk

di atas panggung

meski panggung yang kita lewati

berbeda.


Pada Sebuah Televisi

Aku ingin meninggal di dalam FTV

menjadi air mata penonton setia

yang bersembunyi

pada nasib buruk sendiri.

Mereka melihatku sebagai perempuan

simpanan suami orang

merebut hak anak-anak tak berdosa

korban kegagalan rumah tangga.

Satu kali saja aku menjadi pemenang

meski menyakiti istri orang

anak orang, dan harga diri orang

yang rela melakukan apapun untukku

dan meninggalkan siapapun demi aku.

Kelak ketika aku kecelakaan

karena sibuk teriak-teriak

demi memperlambat durasi

kesedihan pada ujung takdir,

aku pasti bertobat dan meraung-raung

minta maaf pada Tuhan

sekalian tak menyangka, ya ampun

perempuan yang menyakitiku

adalah penolong hidupku.

Dan aku meninggal setelah memohon

agar mereka kembali bersatu

biar penonton tidak terlalu membenciku

lalu mendapat petuah hidup

dari kisah orang-orang baik.

Aku ingin meninggal di dalam FTV

menjadi teman bagi kesepian ibu-ibu

dan hiburan untuk orang

yang gemar tertawa

lewat judul-judul panjang

tak masuk akal.


Meminta Pertolongan

                    Mengenangmu.
                    Tolong aku.

Sajak-sajak yang kita tulis
Berhamburan dalam tangis
Rindu terjatuh pada patuh
Menjalar sebagai luka lebar
Di matamu yang jauh dari mataku
Senduku yang sendu pada sendumu
Sepanjang tahun lalu

Tengah malam kita menjadi terang di layar ponsel
Dan gelap di dada sendiri
Menutupi semua yang kita pahami
Dengan pertanyaan seputar duka sandiwara

Pagi hari kita menjadi kotoran kambing
Yang menolak mengerak
Membantah disebut sampah

Siang hari kita menjelma harta
Yang tidak membuat kaya
Siapa-siapa

Sore yang merah
Bergantian di bibir kita
Dan kau basahi dengan hujan dari mulutmu
Sobek seluruh aku

Tolong.

Mengenangmu adalah darah
Yang tak henti keluar di kepala

Mengenangmu adalah sedih
Yang selalu ada dalam puisi
Tanpa bisa kupahami


Kepada Tubuh yang Runtuh

Kautahu, tidak ada yang ingin menjadi gila
seperti kita yang tidak meminta lahir dari rahim siapa-siapa.

Napas membusuk
lebih busuk dari bangkai tikus
yang kaupandang sepanjang hari
menunggu pulang tiba

Di selatan Jakarta, orang-orang bekerja
menatapmu sebagai manusia
tanpa otak, tanpa dada, tanpa wajah
berdatangan meminta telinga untuk cerita sedih mereka

Pertanyaan datang pergi
semacam kontes di televisi
yang kausimak tiap hari
sebagai hiburan selain sinetron perselingkuhan

Rasa iba kaututup
demi membungkam kesedihanmu sendiri
luka duka kaubiar turun
dalam dirimu menuju doa yang entah didengar kapan

Terik melingkar di tubuh kita
setiap malam di atas ranjang
basah menahan nyeri
yang takut diketahui

Siapa punya luka lebih besar
di antara kita
siapa punya darah lebih kotor
di antara kita
bagimu menjadi gila adalah kesalahan
dan ketololan dan keegoisan dan kesia-siaan dalam hidup

Tetapi, tidak ada yang ingin menjadi gila
tidak ada yang ingin tersesat dalam dirinya sendiri
dan kaulupa, kita sudah mengalaminya
bahkan berdoa, “Tuhan, pulangkan kami,

tanpa rantai besi di tubuh ini.”


Bilur

Kau terbungkus plastik
tubuh biru, lebam, kaku
di tanah basah
kunci menyembul
menjadi barang bukti
terkubur

Pernah kita bersatu
suka dalam luka
tanpa minta sudah

Akhirnya jasadmu
lepas juga
disambut angin
yang menggiring bau anyir

Masih terekam nyerimu
bunyi jerit di ruang itu
menjadi nyanyian di bibir kita
takut menuju takluk
pada malam deras keringat

Di mana kemanusiaan, kaubilang
Di mana letak otakmu, perempuan murahan, kata mereka

Cambuk menari
di punggung dan pahamu

Kini giliranku
menyusul kebebasanmu.


Tidur

musik-musik sendu

menyentuh

kasur yang lembut

dan kosong

bersih

dari tangis

menguar luka tanpa darah

jatuh sebagai batu

jatuh sebagai lagu

dengan lirik kehilangan

Ibu


Wajah yang Terbakar di Stasiun Manggarai

Aku lupa bertanya padamu

bagaimana cara terbaik

menyelamatkan cinta

dari sakit hati

Di peron dua aku menunggu

bertahun-tahun, berganti baju

wajah yang tetap suram

rambut yang tetap kelam

mengibas masa lalu dari tanganmu

dari napasmu

dari tangismu

dalam sunyiku

Entah apa yang membuat diriku

menyebutmu masa lalu

sementara kita tak pernah berpisah

sekaligus tak pernah bersama

darahmu

dalam

darahku

Aku melihat restoran berjejer

seperti kelaparanmu

yang belum mampu kausampaikan

kecuali dalam rengek dan ba-bi-bu

hujan pernah menyapu kita

tetapi menghangatkan dalam peluk

yang kita eratkan

kemarau pernah mendinginkan kita

bersama bising kereta dan bau keringat

para penumpang ketika kauhilang

dan aku menjerit mencarimu

meski aku tahu kau adalah aku

Anakku, suatu saat entah di mana

kita akan kembali bersama

naik kereta menuju rumah

aku menenteng banyak kardus

tetapi takkan pernah kubiarkan

tubuhmu terjatuh, tersenggol tubuh

orang lain ketika kereta rel listrik berhenti

dan penumpang seperti binatang buas

yang membakar wajahku dengan api

kebencian tanpa sanggup kutahan


Jihan Suweleh, lahir di Gorontalo, 14 Desember 1994.

Puisi

Puisi Seruni Unie

Move On

1.

Dengan atau tanpamu

duniaku

masih lembut kenyal

2.

Tak apa aku sendiri

sebab dadaku

ranum diksi

3.

Pergilah jauh

hasrat tak lagi luluh

di hadapanmu

Solo, 2016/2018


Kamar Penyair

Sepi  tak wangi

hanya bayangan diri

sibuk onani

Solo, 2019


Sebuah Puisi (Tak) Horny 

1/

Kau buat aku horny

pada sapamu

yang rendah hati

2/

Gairahku sontak menggelinjang

saat tuturmu

sopan

3/

Kapan bertemu

ingin kuhibahkan

seluruh  kecupku

Solo, 2018


Jumpa

Kueja tekun

adamu

sebelum matahari pikun

Solo, 2018/2019


Epilog Rumah Lama

1.

Di Kamar

cat dinding mengelupas

mirip cinta yang kandas

2.

Di Ruang Tamu

senyum bapak membiru

pamit padaku

3.

Di Dapur

cinta ibu melebur

dalam sambal dan sayur

4. 

Di Halaman

setangkai mawar

mengucap selamat tinggal

Solo, 2016/2018


08569***

Kau tinggalkan

Nada tulalit

Sebagai isyarat pamit

Solo, 2019


Fragmen Secangkir Kopi

1/

Akulah ampas

dalam kopimu

yang ditinggal tak ikhlas

2/

Seperti selir

menunggu kecup bibir

tak henti zikir

3/

Maka reguklah

sesukamu

sebelum dingin waktuku

Solo, 2019


Bro

Di waktu cingkrang

Aku pernah kasmaran

Padamu, adam

Solo, 2019   


Seruni Unie, penikmat puisi asal Solo.

Puisi

Puisi Olen Saddha

Puisi Anak-Anak

Di mata anak kita

Suguhkan lukisan hijau alam yang jauh dari kering gersang

Memupuk beranda rumah

Agar subur dan jauh dari hama perkara

Di bibir anak kita

Tanamkan kalimat-kalimat tegas yang jujur tanpa tipu daya

Tuturnya adalah rindang

Peneduh diri dari terik matahari siang dan lalu lalang orang

Di bahu anak kita

Sandarkan benih terkuat yang mampu mengangkat tumpukan duka

Rangkulannya hangat kokoh

Merengkuh daun-daun yang mulai layu karena angin terlalu kencang

Di kaki anak kita

Pakaikan sepasang pengejut agar langkahnya tak pernah bimbang

Tujuan di depannya

Membisik untuk tetap bergerak sesuai dengan pikiran dan perasaan

(Desember 2017)


Menemukanmu

Aku menemukanmu dalam kotak hitam berisi rindu,

yang berserakan memapah lantunan bait merdu,

yang setiap waktu kudengar dari balik sepoi penafsir sesak paru,

yang langkahnya samar dalam memburu,

yang bisiknya membuang bising hari layu.

(2016)


Sesuatu di Dalammu

Bahumulah yang membuatku damai, seperti dahan yang menjamu burung-burung dengan teduh naungan. Aku tak mampu menemukan alasan untuk berhenti mendengar rimbunnya kalimat penenang.

Telingamulah yang membuatku lahir sebagai manusia, seperti perekam suara yang memuat rekaman ucapan tanpa lebih dan kurang. Menyimpan ucapan-ucapan itu di dalam ruang berupa ingatan. Sesekali kauputar ulang untuk menyeretku saat terlalu jauh keluar dari lintasan kewajaran.

Ketidakhadiran kabarmulah yang membuatku lumpuh, seperti dingin angin malam yang tak lekas berhenti meremukkan tulang-belulang. Aku tak menemukan sebab untuk berhenti berharap menemukanmu di antara detik-detik terang hingga siang memanggang.

(Juni 2017)


Di Ujung Kantuk

Di ujung kantukmu,

aku menyisipkan bungkusan berisi perasaan yang kurajut dari kenangan.

Kau akan memeluknya hingga ke dunia jauh yang selalu menggodamu untuk berlama-lama.

Saat pagi tiba, bungkusan itulah yang akan membisiki telingamu untuk lekas pergi dari situ.

Sebab aku sudah menunggu di balik pintu untuk membawamu menuju hal-hal tak terduga.

(2019)


Benang_Benang Terbang

Sepanjang napas malam,

aku melihat benang-benang pikiran terbang ke atas.

Semakin tinggi, semakin rumit jalinan yang mereka buat.

Hingga dini hari mereka masih pusing memikirkan cara

untuk melerai pergolakan dengan diri sendiri

(2019)


Masa Lalu

Masa lalu adalah genangan lumpur yang selalu menenggelamkan ketika kakiku berpijak di atasnya. Aku tak bisa selamat dari cekikan lengan-lengan kenangan yang menjalari sekujur tubuh.

Masa lalu adalah gempa yang merubuhkan perasaan dan keyakinan ketika pikiran terpaut pada hari berikutnya. Tak ada yang mampu menebak kapan lolongan panjangnya berakhir. Sebab ia akan terus mengejar bagai roh-roh gentayangan, yang lupa jalan kembali menuju tempat peristirahatan.

(2019)


Yang Tak Terlihat

Aku melihat jejak-jejak langkah yang menahan napas, seperti merpati yang tersedak karena tanpa sengaja menghirup kata-kata yang berterbangan di udara

Aku mendengar kerikil-kerikil berbisik dengan mata terpejam, mereka merapal kalimat panjang yang tak kumengerti artinya, tapi tetes hujan tahu ia sedang menahan diri agar tidak marah

Aku merasa di balik kulitku ada sesuatu yang mengalir selain darah, ia bersikukuh tidak mau keluar dari jalan panjang yang membentang di seluruh tubuhku. Ia terus berjalan sambil membawa segenggam benih dan menyebarnya di sepanjang jalan yang ia lalui. Dan saat benih-benih itu tumbuh, aku tidak bisa lepas dari rimbun. (Februari 2019)


Perih yang Lapang

Matanya biru laut yang menggelarkan kursi panjang untuk duduk sebentar

Tak ada kedip yang tiba-tiba

Semua wajar hingga membuatmu lupa berapa lama waktu yang kauhabiskan

Senyumnya hangat selimut tempat kausembunyi dari gigil akibat udara dingin lepas subuh

Tak ada padam yang mengejutkan

Semua bertempo datar dan kau amat tenang dibuatnya

Memang,

Sudah ia siapkan semua matang-matang,

dan sesuatu yang perih itu hanya ia simpan sendirian

(2019)


Melipat Kemungkinan

Sementara kau berjalan-jalan,

aku melipat kemungkinan dan kusimpan di saku kanan.

Nanti sesampainya di rumah akan kukumpulkan bersama lipatan-lipatan lain,

untuk melengkapi kerangka penghubung kita berdua,

yang kususun sendirian.          

 (2019)


Mata dalam Dadamu

Di sela-sela terik matahari pukul dua belas,

aku melihat wajahmu yang merengut sebab aku gagal merapal kata mesra.

Kauputar pandangan untuk membelakangiku,

tapi aku tahu mata dalam dadamu tak akan pernah sanggup melakukan itu.

(2019)


Olen Saddha, tinggal dan berkegiatan di Surakarta. Saat ini tengah bernaung di Komunitas Kamar Kata Karanganyar untuk memperkuat kemampuan menulis, guyon, dan rasan-rasan. Selain menulis ia adalah founder Inisiasi 66, kolektif lintas disiplin. Ia juga vokalis di grup musik Suarasa. Karya-karyanya pernah terbit di Jurnal Perempuan, Buletin Sastra Pawon, beberapa antologi-antologi bersama, dan surat kabar. Buku puisinya berjudul Memandikan Harapan diterbitkan oleh Kekata Publisher tahun 2017. Ia dapat dihubungi melalui akun instagram : @olensaddha, fb : Olen Saddha, Email : [email protected]

Puisi

Puisi Anggi Putri

Sepotong Waktu

metafor dan segala hanya kebisuan tak bermakna

barangkali masih tersisa puisi di saku para pengemis

yang hanya menelan segenggam roti sisa pagi

atau menikmati senja yang hambar di antara langkah kaki

hari sama, waktu sama, puisi juga sama

berbondong-bondong memungut diksi di gorong-gorong,

kolong jembatan, dan carut-marut rasa

kepedihan yang purba

barangkali Tuhan masih menunggu di sisi kanan trotoar

dengan sekantung doa yang akan dikabulkan

lalu puisi diterbangkan;

pengemis hilang

Surabaya, 18 Januari 2019


Selimut Rindu

bulan gigil memeram sepi

sejumput rasa yang masak

pada pangkal hari

jatuh terserak, menyesak

di bawah selimut rindu

penuh pecahan embun yang tambun

masih kulihat kenang rimbun

mematuk waktu nan anggun

rekah siluetmu mendedah

kisah dan airmata kala itu

berkeriut di bilik hati yang alpa

tuliskan namamu pada ragu

subuh bangun, aku lupa kau

jauh di antara pandang

dan resah

debar dada merekam potretmu

yang tersapu gerimis lalu

Surabaya, 30 Desember 2018


Percakapan

sepotong episode yang tak lepas dari tempurung otak

seuntai candu kau tuang pada waktu

seolah belenggu tiada surut dalam kalbu

kau hanya sebatas bunga potong yang dipajang

beberapa hari kering dan terbuang

membajak kehidupan dengan air mata malam

berdenyar; sekejap lalu dan tenggelam

bintang tak lagi kisahkan elegi haru; kian merayu

menggoda setiap indera dalam sekujur tubuh

dan saat itu aku lebur dengan seluruh rasa

puing-puing cinta di pematang masa

Surabaya, 15 Januari 2019


Sunyi

kenangan kita ranggas dari pohon yang bersemi

ketika kita seka puisi dari halaman buku-buku

meleleh seolah kutukan jarum waktu

detak perjumpaan adalah kitab yang harus usai

lagu masa terlalu rancak memadati hidup

dan kehidupan. sepanjang rentang sungai

mengalir menjajaki kisah yang hampir sirna

manik-manik napas kesendirian pun rebah

sebilah rindu menindih sepimu

sandaran tak lagi tancap pukau

bisikan angin malam bertukar tangkap

melenakan jiwa belantara

menusukmu bertubi-tubi; perih

Surabaya, 16 Januari 2019


Mencari Jawaban

/1/

dari pinta paling suci

tapak risalah hati

/2/

dalam bilik tengadahkan puja

selendang nyanyian cinta

/3/

berkecamuk dalam dada

rindu purnama kian mengangkasa

/4/

repih-repih selimut gelora cinta

purnama: purna nama

/5/

setetes semangat merangkum aksara

pasti bisa, semoga

/6/

menyibak selimut dingin

asa di pagi hari

/7/

menyesap getir semerdu nyanyian sendu

belenggu: aku

Surabaya, 26 Desember 2019


Satu

terus berjalan mencari beningnya telaga

meski tenggorokan terus menahan dahaga

saat hujan tertahan diantara mega-mega

aroma candu akan terus berlaga

maka saat gelap makin merayap

dan sunyi kian mendekap

purnama tak akan lenyap

ia mengusir segala ratap

bila rindu mengenyam tiap kerjapan mata

jauh dari tatapan antara kita

sesungguhnya itulah yang disebut smita

cinta buana di alam semesta

Surabaya, 27 Desember 2018


Kisah Klasik

tahun telah gugur satu per satu di dalam tidur

sedang banyak anak-anak malam berkeliaran

merunut kisah tentangmu. hingga aku lupa namamu

yang ditiup angin dan melekat di kelambu

wewangi itu kadang mencekat hidung lalu hinggap

di ruang tamu, dapur, teras, dan dadaku

tercekat. sakit yang meradang hingga ke tulang belulang

tak mengapa jika musim menggulung lalu rebah

di pangkuan rembulan. hingga kau duduk menikmati perjamuan

di sisi utara meja makan dengan secangkir wedhang sechang

dan ragu memikirkan masa depan

aku tercengang;

kau hanya bayang-bayang

1000 hari yang tergenang

Surabaya, 14 Januari 2019


Dua Mata

jangan menatap penuh

agar perihal tak jadi keruh

jangan bertolak pinggang

agar selalu rekat kasih sayang

jangan mengobral isu

agar tak banyak bunga di pemakaman

yang makin layu

dan kelu makin membiru

biar puisi-puisi yang bercerita

memunguti sumpah serapah

yang membatasi diri kita

hingga segala tak hanya dusta

Surabaya, 29 Januari 2019


Anggi Putri, pencinta sajak yang lahir di Jombang, Jawa Timur. Selain menulis fiksi, ia juga seorang blogger, content writer, anggota komite sastra Dewan Kesenian Jombang, dan pencinta jalan-jalan. Karyanya pernah dimuat beberapa media cetak dan online di antaranya Suara Merdeka, Lampung Post, Radar Surabaya, Radar Mojokerto, Tribun Jateng, Malang Pos, Harian Surya, Majalah GADIS, Ruas Online, Kawaca, Radar Banyuwangi, dan lain sebagainya. Pernah menjuarai beberapa lomba puisi, Juara 2 Lomba Puisi IKIP PGRI Bojonegoro, Runner Up UNSA AMBASSADOR 2019, dan lainnya. Buku Puisinya Angin Kembara (2015) dan Laku(na) (2016). Lebih akrab bisa kunjungi www.anggiputri.com. Email: [email protected].

Puisi

Puisi Faris Al Faisal

Daun Gitar

Sehelai daun gitar

Bergetar disapu jemari

Serak-serak lagu berceceran

Di pekaranganmu

Mengenalkan nada

Dawai-dawai cinta

Indramayu, 2018 


Apel Merah

Saat duduk di bawah pohon

Sebutir apel merah jatuh

Aku menjadi Isaac Newton

Menemukan keajaiban

Indramayu, 2018


Gugur

Gugurlah bayang-bayang

Sebuah jaring matahari robek

Mendengus hangus

Tak ada kehangatan

Bahkan hanya untuk bertegur sapa

Indramayu, 2018


Semusim Melingkar

Di matamu semusim melingkar

Ular-ular betina bermata liar

Menyimpan racun cinta mematikan

Indramayu, 2018


Derik Jangkrik

Sunyi di dadamu

Berderik jangkrik

Dalam selimut rumput

Indramayu, 2018


Si Jelita Panggung

Seteguk malam di atas panggung

Boneka teramat cantik

Milik pinggul si jelita

Seperti urat nadi

Bergetar menghidupkan

Tangan-tangan bergoyang

Indramayu, 2018


Senandika

Pada puisi, cerita pendek,

Rimbun akar senandika

Membelukar

Melilit dada

Batang pohon pikir

Matang berbuah

Indramayu, 2018


Biji Janji

Menanam biji janji di bibir

Tumbuh pohon tembakau

Dibakar pada batang rokok

Asap tempias tak berbekas

Indramayu, 2018


Todak

Mawar gerigi

Ikan-ikan todak

Berlompatan. Berlari

Memotong ombak

Membuat sajak

Indramayu, 2018


Rengkah Mawar

Pecah mahkota

Auman luka

Batas cinta yang kutanam

Pagar memakan

Rengkah mawar

Indramayu, 2018


Faris Al Faisal lahir dan tinggal Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Forum Masyarakat Sastra Indramayu (FORMASI). Menulis fiksi dan non fiksi. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis Mazaya Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018), dan Antologi Puisi Dari Lubuk Cimanuk Ke Muara Kerinduan Ke Laut Impian Rumah Pustaka (2018). Sedangkan karya non fiksinya yaitu Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia Penerbit Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017).