Puisi

Puisi Yulia Rahmatika

Persembahan Puisi

: Kepada Tama

Puisi Pertama

Mestinya aku tidak mempersembahkan puisi ini untukmu

Sedangkan sepasang mata yang lain akan cemburu

Jika mengetahuinya

Puisi-puisi adalah kekasihku

Menjelang petang aku selalu merapalnya

Sebab malam bakal menumpahkan segala keramahannya

Puisi-puisi ini doa yang khusyuk

Dengan segala keterasingan bait-bait yang tak mau kau kenal

Bagiku, disetiap kata yang ada, ia ingin memeluk dirimu yang membeku

Ia bisa terbang, kulepaskan ia seperti balon-balon sabun yang dimainkan adikku

Barangkali langit-langit akan setia memayunginya

Selama ia ingin dan mau menujumu


Puisi Kedua

Aku menetap jauh kedalam dirimu tanpa kau tahu

Aku menjadi tamu diam-diam yang paling riuh

dari gemuruh pesta di jantungmu

aku telah memasuki gerbang ketidakpedulian

mata angin mengantarkanku, kepada matamu

wajahmu puncak gunung

tertutup tirai kabut

dan jalan terjal harus kulewati tanpa mengeluh

diantara rimbun semak belukar

dalam jurang kekecewaan

diri ini akan berjuang

mengecup keningmu tanpa spasi seperti puisi-puisi ini


Puisi Ketiga

jangan berlari, dan jangan bersembunyi

aku gemas

akan aku ajak kau menikung jalan di angkasa

kita berhenti pada bulan merindu

merakit mimpi bersama jalan di rasi bintang

kita meminang segala macam kebahagiaan

tak ada raut wajah orang yang menyedihkan,

pura-pura menyedihkan, atau malah menutupi kesedihan

seperti yang ada di sekeliling kita sekarang

tak ada gubuk derita, takada yang menderita

dingin tunduk kepada kita sebelum diri ini sama-sama tertidur pulas


Puisi Keempat

Di sini kita masih menebak jejak

Mana yang lebih jauh dan tak terjangkau

Kaki ini atau kakimu.

Rasa penasaran mengetuk berkali-kali

Pada gerbang nurani

Seusai aku merangkai salam secara hati-hati


Puisi Kelima

Mengapa kau tak putus-putusnya membayangiku?

Saban hari, kau menyelinap, mengendap seperti mata-mata

Wangimu masuk, menyusup, menyentuh, menciumiku

Matamu mengganggu. Ia memendar ribuan cahaya

Yang menghancurkan kegelapan, kesunyian ; kepada diriku

“Mengapa kau tak bosan-bosannya di sini?”

Padahal tidak ada apa-apa yang baik dalam diri ini

Tidak ada nama-nama indah. Tidak ada masa depan

Aku sendiri, tidak tahu, siapa diriku

“Benarkah katamu, kau benar-benar mencintaiku?”

Wajahmu selalu terjebak dalam penjara-penjara pikirku

Kau terbang bebas sesukamu, seperti burung-burung

Tapi entah, kenapa ruang itu buntu. Kau tak mau keluar dari situ

Mungkinkah cintamu akan pulang kearah jalannya?

Adakah jalan itu diriku?

Ataukah jalan yang lain yang merestuimu?

Aku tidak tahu. Begitupun aku yakin, dirimu juga tidak tahu

Diri ini hanya melempar doa-doa. Tak peduli bibir dan wajah ini pucat

Asal ia bisa menukarnya. Dengan rekah-rekah senyum harap

Di pelupuk mimpi-mimpiku

“Tapi, adakah mimpimu sama persis dengan mimpiku?”

Aku tidak tahu.

 “Tapi, kalau bukan kau, siapa lagi?”

Siapa lagi?yang kutitipi

yang kuserahi puisi-puisi

dari aku ini yang sungguh tak tahu diri.


Puisi Keenam

Lekuk bibirmu, kekasihku

Adalah keramahan

Suatu hari kelak aku tidak tahu. Bagaimana diri ini berhenti mengagumimu

Entah sejak kegelapan menyerang. Atau sampai aku tenggelam dalam harapan?

Adakah sampai senyummu yang cerah.Benar-benar tak kelihatan?

Pertanyaan itu dengan sendirinya menolak jawaban

Aku berhenti melangkah. Mencengkeram lututku sendiri. Aku telah menyusuri tebing-tebing

Tapi tak jauh lebih curam dan mematikan. Selain sudut senyummu itu sendiri; kekasihku

Aku gadis yang malu-malu. Dua puluh angka mau kudapati. Tapi aku masih berandai kalau aku ini angin. Tapi aku masih berandai jikalau saja aku ini air

Kekasihku;

Aku belajar bagaimana berhenti sejenak. Membunuh dan menggulung apapun

Yang buat kau berjalan-jalan bersama kecewa. Yang buat kau menjamah sakitnya rasa.

Setiap kali kau begitujangan kau murungkan bibirmu kekasihku.

Sebab disana

Aku telah belajar

Tak ada yang lebih indah dari sebuah ketulusan

Lahir di pucuk bibirmu saat bertemu dengan bibirku;

Yang nantinya, kekasihku

Rekah bibirmu, itu sungguh ;

Ia untukku


Puisi Ketujuh

Aku yakin jika kau akan kembali

Tak peduli seberapa lama kau pergi.
Seberapa jauh atau seberapa inginmu menjauh.

Sebab besar pikirku
Aku ini adalah jalanmu menuju rumah
Aku ini kota yang ingin kau jamah sesaat kau bosan ;
dari manusia-manusia yang tak kenal ramah.

Aku yakin kau pergi bukan untuk kucari
Bukan memintaku untuk berhenti mencintai

Melainkan kau melepas diri, aku yakin
Sebenarnya kau ingin mengajari
Bagaimana seharusnya mencintai diri sendiri

Meyakini hal-hal semacam itu
Adalah  menyenangkan, sayang
Sama seperti sewaktu kau datang kemarin
Dengan wajahmu yang mekar

Aku mencintaimu sebelum sempat kau memutus hilang

Namaku, perempuan, Sayang
Diri ini sebelumnya penuh luka
Didapat dari orang-orang
Yang tak kenal diri ini dengan semestinya


Puisi Kedelapan


Sayang,
Kau yang tinggal di mesin ketikku.
Kau huruf-huruf yang mencintai jariku.
Besok kita akan bersama-sama lagi.
Bahkan setiap hari

Bukankah kita sepakat akan bersama-sama melumat spasi
Lalu menerbangkan tanda-tanda
Terus membiasakan diri untuk serakah
Tidak mengingat angka-angka
Dan tidak mengingat anak panah yang berarah-arah

Kita menyatu, bersama-sama
Tidak dikendalikan apapun
Barangkali mengalir bersama bunyi tik-tik
Sampai pukul tiga pagi
Sampai siang datang kembali

Aku datang kembali, untuk mencintaimu lagi.
Tik tik. Titik.


Puisi Kesembilan

Saya tidak mempunyai cukup kata untuk mengatakan saya benar-benar mencintaimu

Saya tidak mempunyai cukup suara untuk mengatakan saya sungguh mencintaimu

Saya diam, tetapi diam yang saya milikipun, sungguh tidak cukup  menjelaskan kepadamu bahwa saya sungguh-sungguh mencintaimu.

Jadi saya memutuskan untuk takut.

Saya takut untuk mencintaimu.

Saya takut,

Jika ada orang bilang kepada saya bahwa sungguh tidak pentingnya jika saya mencintaimu.

Saya takut, atas balasan kata yang tak cukup ini.

Kau mengatakan “saya tidak ingin mencintaimu”

Kemudian saya takut memikirkanmu

Saya takut masih menyimpan kata yang tak cukup ini untukmu

Saya takut,

Saya tidak memiliki apapun,

Selain cinta saya untukmu, saya takut kamu tidak akan mencintaiku


Puisi Kesepuluh

Kenanglah aku
Juga sewaktu kau mulai beruban dan kau sudah tua
Keriput dimana-mana

Bukalah matamu, ingatlah berapa banyak yang mencintaimu dulu; juga termasuk diriku

Kasih, sajakku untukmu begitu deras
Ia membungkuk meminta dibaca atau sekadar disimpan saja

Sudah berulangkali,
Sekeping kenang barangkali meminta dicengkeram

Jangan tanya aku dimana,
Waktu itu aku sedang menghitung sesal

Kenang saja, kenanglah aku sampai kau juga kecewa


Yulia Rahmatika, lahir di Bojonegoro,16 Juli 1999. Mahasiswa aktif Pendidikan IPA Universitas Trunojoyo Madura. Menyukai puisi sejak jatuh hati.

Puisi

Puisi Julaiha S.

Beduk Rindu

kaki-kaki menelan tanah sawah

sepanjang usia ibu

hijau-kuning menakar tubuh keriput

di antara senyum itu

ada denyut yang mengeja waktu

tak ada yang nyata menggulung ingin

yang tercermin dari rupa rumah

pohon-pohon ikhlas

mengayun air malam yang kedinginan

menelusuri sisa-sisa letih

yang dijaga ibu sebagai ribuan doa

untuk kaki kuat di tanah kota

Medan, 2019


Kabut-Kabut Kelabu

langit kini nyanyian kabut-kabut kelabu
mengantar kesedihan di balik kapuk

tak ada yang ingin pulang

seperti burung-burung menjelang magrib

yang bersorak-sorak memanggil anaknya

aku tertib mengeja almanak

tata kera kemeja

urutan kancing baju

menghitung detak masa lalu

air selokan begitu tenang 
menjaga kakimu tetap berjalan

aku cinta yang mengalir dari

luka-luka sekujur tubuhmu

aku kandas dalam kemarau

berjiwa kota

di dalam angin

aku merindukan doa-doa

yang terbang tak tahu arah

Medan, 2019


Mata Seberang

tubuhku mencari-cari pandang

yang melipat kata jadi udara

yang tersimpan dari lubuk kenangan

ialah mata-mata seberang

menuntun langkah jauh

mekar di jari-jari kaki perempuan

tubuh angin memelukmu

semilirnya, menggetar kendi

di kepala kakak perempuan

yang di dalamnya bunga beragam rupa

di balik mata seberang

candumu mengemas hilang

yang menetes dari dahan-dahan kering

Medan, 2019


Tugas-Tugas Jarak

jarak ini tumbuh daun-daun kering

menepi menuju masjid

suara sapu lidi menyeret tanah

mengeja langkah kepergian lalu

larut malam kini menyerang rimbun

kaki menaiki kendara

kepala bocah panas waktu

dengan tugas-tugas tak berujung

barulah ia mendaki inginnya

kelebat duka suara ibu

sungguh tak ia ingkari kehadirannya


Medan, 2019


Burung-Burung Tak Menangkap Kabar

cakarmu tak melubangi tanah

detak-detaknya tertanam di sana

yang semakin senja

dan terbenam

Medan, 2019


Yang Diulang-Ulang

berulang-ulang

tasbih berulang-ulang

bulirnya menghantarkan gelisah

berulang-ulang

lantunan kuulang

bawa aku pulang

memelukmu

Medan, 2019


Tampungan Air

kau hanya duduk

mencium tubuh air

simpan aku dalam sedih

dan gulana

mahir ia menerjemahkan

tubuhmu tapi tidak pada tubuhku

di sana rindu tak mencuat

hanya menggelembung seperti

napas yang tanam

Medan, 2019


Menatap Langit

Ada hujan berjatuhan di matamu

kedap bintang mengairi cahaya musim

dari bumi, langit mengasah gulita

yang matang sebagai bakal mimpi

Ia tetap kukuh

mengakarkan rimbun harapan

memoar; menukik janji

sampai pulang ke jangkar hari

dan pagi-pagi penuh recehan ilusi

Medan, 2019


Makna Pagi

Anak-anak mencari subuh

menabung amal, dan menaikkan restu

dari tuhan sudah berkali-kali mengingatkan.

mereka telah tunai menanggalkan kantuk

suara panggilan dari ufuk,  mengaburkan mimpi

roh kembali pada jasad setiap malam.

Anak-anak mencari riwayat pagi

sementara kau masih berkabut sepi

membiarkan rohmu keluar tanpa tuhan

mengumpulkan kegaduhan dan setan di tubuhmu

sebagaimana kita mengadu pada laut.

Pada tangisan tangisan langit, perihal problema

yang mengurangi napas jantung.

tak berkukuh terang pada jalanan yang ditempuh.

kau telah menghabiskan kesabaran

pada sepi di sebuah lampu kota dan

taman-taman yang tak ada rupa bunga

Medan, 2019


Sebuah Pelita

rahasia tumbuh dari tubuhmu

waktu menata kata menjadi pertanyaan

renta hari, langit menangkap sunyi

masa silam disirami janji

angin telah mewartakan pagi

sebagai awal dari rantai mimpi

kau masih saja memanggul petang

dan riwayat yang kusebut usai

aku telah berkelana

melihat dunia padat di pipimu

setelah usia semakin tumpul,

kau tetap pelita

Medan, 2019


Julaiha S. (Julaiha Sembiring), perempuan kelahiran Medan, 11 Juni 1993. Bergiat di Kompensasi, Labsas dan KPPI-Medan. Sejumlah tulisan telah dimuat di media cetak dan online yakni;Koran Tempo, Media Indonesia, Basabasi.co, Solopos, Suara NTB,dan lainnya. Saat ini, ia tercatat sebagai alumni Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Medan. Ia telah melahirkan buku puisi tunggalnya berjudul Mula-Mula Kita Pergi Selanjutnya Tersesat. (Obelia Publisher, 2016).

Puisi

Puisi Rizka Nur Laily Muallifa

Kekasihku Tak Turun Ke Jalan

Apa yang lebih penting dari turun ke jalan

Ialah menakar berahi politik praksis

Diri sendiri

(Sala, 2019)


Mata Laut Kekasihku

Panas menyoroti tubuhmu

Lepas basuhan pertama

di bidak yang semalam kita bayar murah

Derma lelaki paruh baya

Yang sabar menunggu kebosanan

kebosanan diturunkan

dari punggung kota

Manik matamu sembunyi dalam warna laut

Yang semilirnya

Mengasihi

dan menjadi kita

Sampai saatnya angin memberitahu

Siang sudah terang

Di sanggah pulasmu yang penuh seluruh

Aku melamun panjang

Bermuara padamu

Ibu kandung puisi-puisiku

(Sala, 2019)


Luka di Pelipismu Luka di Jari Kananku

Sebelumnya aku tidak tahu

Kalau lalat juga hidup di tepian

Sungai Biru

Tempat di mana kita meredam

amarah

Melakoni hari tunggal

Membuat kita tak punya pilihan

Untuk marah satu

kepada lainnya

Kendati waktu kecil sebelum itu

Kecemasan hadir bersisipan

dengan ketakutan

Kau akan main-main

Bahkan kepada janji yang paling

Lantas pejam kita guguran daun mangga

Tertepis angan

Tapi aku tak tidur

Sebab ada saatnya tidur bukan keputusan menarik

Kupilih ikhtiar membaca laut matamu yang terkubur haru

Di pelipis kananmu

Apatah luka itu

atau kenang-kenangan dari rahim ibu

Kupilih premis kedua

untuk mengantar pulasmu jadi sempurna

(Sala, 2019)


Harga Buah

Jalan menanjak

ke Gunung Kidul

Adalah jalan buah-buahan

Apakah anggur merah tumbuh

di kebun samping rumah?

Di sini pohon salak berbuah

rimbun

(Sala, 2019)


Dua Buah Apel

Kau menguliti apel

Laiknya mengikir cita-cita

Tenang dan penuh pertimbangan

Lepas kulit apel

Kau mengirisnya lebih hati-hati

Pertimbanganmu makin setiti

Ada banyak cita-cita yang mengantar

Pada doa

Sebuah apel yang lain

Ada dalam jangkauanku

Kubiarkan kulitnya tetap lekat

Dan kupotong ia dengan ukuran

Tak rinci

Sebab aku terlalu grogi

Kalau-kalau tak kau sertakan

Dalam heningmu yang khidmat

(Sala, 2019)


Daftar Laki-laki Membosankan

Ada terlalu banyak laki-laki

Yang tidak menarik

Sama sekali

Mereka terlalu banyak bicara uang

Dan igauan-igauan berjangka

Gurauan purba untuk tampak oke

Di hadapan setiap perempuan

Diobralnya omong kosong

Soal apa-apa yang lekat

Pada tubuh perempuan

Sambil melibas enteng pikiran

Dan segenap pendirian

serta ketokohan dirinya

Laki-laki yang begitu biasanya sedikit membaca

Hal itu membuat otaknya mampet

Dan jadi tak berharga sama sekali

(Sala, 2019)


Laki-Laki yang Ingin Menikahi Buku

Kencan kita cuma selingan

Cameo yang kebagian jatah

jarang syuting

Terjadi sesempat waktu

Saat kamu bosan baca buku

dan ingin bercakap-cakap tak perlu

(Sala, 2019)


Dari Solo ke Blora

            : Soesilo Toer

Kita melabur hutan

hijau nun hitam

Panjang, tak habis-habis

dengan puluhan ribu cerita

Membentang semenjak Rusia

Di Tanah Abang, gegas kita menjelang kerumunan

Menyimak Sang Komponis Kecil

Memainkan lagu yang itu lagi itu lagi

Di matanya, ada wajah sang ayah

sebelum gugur di pertempuran

dan dikenang warga kampung

sebagai veteran

Di dekat Lapangan Banteng,

Cerita istirah

di rumah tahanan politik

(Sala, 2019)


Bucin

Aku

Adalah cinta yang menggebu-gebu

(Sala, 2019)


Pohon Api

       :pal

rindu pongah terjatuh di

tanah yang basah oleh gelisah

membiarkan resah berkisah pada tangkai-

tangkai api yang barangkali

ingin abadi

biji-biji api itu lantas berkilatan

mula-mula hangat lantas

tanpa kau tahu bunga di dadamu terbakar

waktu itu aku sedang memagut melati di tamanmu

(Sala, 2017)


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan buku puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, ideide.id, langgar.co, dan beberapa lainnya.

Puisi

Puisi Cesila Anggita Pangestu

Elegi #1

Perihal hati yang luka

Alih-alih rela

Lagaknya aku sukar melupa

Membiarkan batin ini terus berumpama

Sebab ia terus menanggalkan ‘kita’

dalam wadahnya

Jogja, 14 Juli 2019


Elegi #2

Kekasihnya datang

Kau tertawa di pertemuan

Aku pun tersenyum merekah-ruah

Mungkin saat ini,

Adalah patah yang sukar kurasa

Tak berdarah

Dan aku mulai belajar lebih tabah

Jogja, 14 Juli 2019


Elegi #3

Apadaya aku tak tahan

Sesaknya riuh pertemanan

Menanggal aku dan kamu

Dalam satu ikatan

Tiada kepastian

Alih-alih berujung kepahitan

Dapatkah menghentikan rasa?

Menyudahi tawa

Dan menutup cerita

Jogja, 16 Juli 2019


Elegi #4

Sunyi mengalun malam

Sedangkan aku,

duduk di pelataran

Lelah, resah … patah

Kisah mengajak bernostalgia

Konyol aku tak marah

Saatnya mulai melepas

Memangkas rasa tak bersisa

Jogja, 18 Juli 2019


Elegi #5

Memulangkan realita

Tanpa selip harap apa-apa

Pun tinggal bijih aksara

Yang menyemai prosa-prosa

Sebatas coretan belaka

Sebab rasa iba, berganti biasa saja

Sedangkan raga cepat menggugat

Batin menggeliat

Tersurat dalam cangkir kosakata

Jogja, 18 Juli 2019


Elegi #6

Perihal hati yang tersirat

Kalau tak suka bilang saja

Rasamu hanya sebatas kata-kata

Sebab rindu tak bermuara temu

Hanya buang-buang waktu

Sekadar pesuruh

Dianggurin melulu

Sakit tauk

Jogja, 18 Juli 2019


Elegi #7

Puan, mari kita pulang

Perihal rasa telah diutarakan

Belum juga kunjung tuntas, benarkah?

Ah, lagaknya kau tak mau melupa

Sebab meniadakan perkara

Menyukai tanpa jeda

Sama berisikonya,

melukai tanpa was-was

Siapkah waktu menggilas dada?

Jogja, 18 Juli 2019


Elegi #8

Semula ingin, sekarang asing

Bukan berarti tak punya hati

Hanya aku tak lagi peduli

Walau kau semegah monjali

Setinggi tugu merapi

Berani memuisikanmu itu asyik

Aku tak lagi perih

Alih-alih terinspirasi

Jogja, 18 Juli 2019


Elegi #9

Ada jeda tanda kita semai rindu

Acapkali bersatu

Pun tak direstui waktu

Nyatanya harus menunggu

Sampai lumut-lumut

Takdir menahan kita di muara temu

Jogja, 23 September  2019


Elegi #10

Mulai sekon ini

Puan, jangan melulu siksa diri

Apalagi jadi budak hati

Gampang sekali dibunuh situasi

Cukup terhenti sampai sini

Asal aksara tak tergilas mati

Tertanda, dari pena pengagum diksi

Jogja, 23 September 2019


Cesila Anggita Pangestu, lahir di Pekalongan, kini tengah menempuh studinya di Kota Yogyakarta. Cerpen dan puisinya pernah dimuat dalam harian Kedaulatan Rakyat. Menjadi finalis 20 besar terpilih lomba essai nasional Asian Youth Day (2017) dan beberapa tulisan pernah diikutsertakan dalam antologi; Story of Friends Komkep KWI (2017), Rahasia Ambigu AT Press Bali (2018), Puisi Sakatara AT Press Bali (2018),  A Voice Flute Ellunar Publisher (2019), Kode Berdarah Reybook Media (2019).

Puisi

Puisi Norrahman Alif

Empat Surat Keluh di Musim Peluh

1

Sawah-sawah berwarna kuning tua

dengan kulit tanah bengkak dan berduka

kaum kaum tani gerah, tak lelah, tak keluh

memanggil-manggil hujan tiba, agar segala

yang bernama kemarau di langit, basah

menjadi pohon hujan di bumi.             

2

            “Langit sudah lama tak menangis ibu,

            aku sudah hampir mati di tanah ini.”

Serunya riscik anak-anak kencur, ketika tiap hari tubuhnya

terbakar, terpenjara bara api tangan-tangan raja matahari

namun kelebat angin hanya panas dan waktu resah

mencatat keberingasan tuan kemarau menjajah.

Sedang di dalamnya orang-orang berjalan ke sana ke sini

meneriakkan perih keringat mereka ke jalan-jalan waktu.

.

3

            “Tuhan, dari dalam tanah, rinduku membeludak dalam ingatan  

mencium wangi kesegaran lumpur sawah atau mengecup bibir kali-kali

kecil mengaliri persawahan.”

Dengungnya doa katak-katak yang sedang mati suri dalam goa

pesembunyiannya itu.

Atau mungkin mereka telah paham: bahwa

hidupnya tak bertahan jika tak bertuhan pada

musim hujan.

2019


Monolog Asap

Cara hidup yang sia-sia adalah menjadi diriku

di sepuntung rokok yang menyala:

tubuhku putih terbang tanpa sayap

bisa dipandang tak dapat kau pegang.

Namun aku kerabatmu siang-malam

setelah usai makan atau ketika kau

menulis puisi bersanding kopi malam.

Sementara kenapa Tuhanku banyak di duniamu

padahal Tuhanmu satu: namun bergelantungan pada

            hati di mana-mana. Sedangkan saat ini

kau Tuhanku semenit dalam sendiri

namun tidak tahu esoknya lagi.

Makin lama kauhisap tubuhku malam ini

makin bingung aku pada diriku sendiri

di puntung rokokmu yang hampir habis.

Mengapa hidupku hanya sekejap tiap kau hembusan

 aku ke udara dengan nikmat.

Padahal aku lebih nyata dari bayang-bayangmu

ingin rasanya aku menjadi bagian dari kekekalanmu di sini:

walau pada akhirnya kau mati di bumi dan aku wafat di udara.

Asap, bagiku kau angin perpisahan:

datang dan pergi hanya untuk

menitipkan rasa sesak kehilangan

pada jantung perempuan.

Kataku pada asap penghabisan–sebelum kubenturkan kening

puntung rokok surya ini

                        pada dinding asbak tanah liat.

2019


Sabda Batu Kapur di Bukit Badur

Aku hanya batu-batu kapur tak bernyawa

            namun tangan-tangan kuli bangunan

menyulapku bersenyawa dengan

air,

semen

dan

tanah

yang menjadikannya rumah.

Walau tubuhku tak sekekar karang di hati lautan

tubuhku hanya sususan bayi-bayi

kapur yang dikeraskan suhu dan waktu

di Bukit Badur sana.

Namun putih wujudku yang dikekalkan kebisuan ini

makin akrab dengan tangan-tangan pembangunan

semenjak akal manusia mulai mempelajari peta

— peta arsitektur ruang teduh di muka bumi.

Pada saat itulah tubuhku mulai dijual-belikan

oleh orang-orang lereng Bukit Badur. Sebab aku bagi

mereka otot-otot bagi dinding-dinding rumah

yang baru didirikan.

Namun menjadi batu kapur tidak segampang mobil-mobil

boks mengangkut potong-potongan tubuhku ke desa-desa atau ke

kota-kota pembangunan.

Sebab menjadi batu harus terbuang dari sekumpulannya

di Bukit Badur. Di saat setiap hari kulit perut bukitku

di garinda demi sebuah batu seperti diriku saat ini:

yang menjadi pertapa tua di rahim dinding-dinding rumahmu

yang kian lapuk dan purba.

2019


Nasib Jengki yang Terlupakan

Orang-orang lebih memilih cepat bermotor

daripada lambat namun sehat bersepeda.

Seperti keasinganku di gudang tua kini;

                        hanya menjadi barang kuno

                        atau barang bekas yang tak

mempunyai harga diri di jalan mulus.

Mungkin aku hanya jengki lusuh:

bertulang besi dengan tubuh kurus berkarat

berlari sendiri menuju kelam

masa silam–menjadi kenangan kini.

Kemudian aku kembali lagi sebagai

tulang besi langka di ruang-ruang mewah:

namun bukan lagi menjadi barang

tunggangan manusia.

Sebab aku terlalu kurus dan lemah bagi

jalan zaman yang sudah gemuk dengan

motor-motor kencang berkaki empat, tiga

dan dua menyesaki dada lorong-lorong itu.

Maka jadilah aku hanya barang pajangan

di musium-musium barang antik atau di

warung-warung kopi klasik–dengan menjual

harga diriku sebagai barang bersejarah.

2019


Sabda Rumah Kontrakan

Rongga perutku hanya sebagai persinggahan

–datang dan pergi adalah nasibku yang digariskan

kaki manusia sebagai jiwa rumah sewaan.

Tak ada yang bertahan menahun dalam tubuhku

seperti anak, istri dan kawanmu itu:

masuk lewat mulutku yang dibiarkan kekal terbuka

hanya untuk merokok, ngobrol dan ngopi kemudian

pergi

dengan meninggalkan sepuntung rokok kenangan

yang dibiarkan terbakar rambutnya di pojok perutku:

 menguapkan asap-asap kepedihan

mengajak jantung sesak dan aku batuk

            batuk dalam kesunyian.

Mungkin mereka tak mengerti bagaimana dukanya

menjadi bukan manusia. Namun kubiarkan kini kusimpan

segala dendam amarah sebagai ruang mata-mata:

mengawasimu yang tak tahu cara merawat rumah

dengan rasa cinta.

Di saat warna kulit-kulitku telah kusam dan menghitam

tanpa kau ganti dengan warna cemerlang tiap lebaran pun.

Dan tahun demi tahun hanya menimbun kenangan berdebu

–di ruang-ruang perutku, tempat baju-baju berkuman,

 lemari-lemari dapur membuka diri, menguapkan bau

tidak sedap dari sisa-sisa makanan di masa lalu.

2019


Percakapan Kasur dan Baju

Lampu mataku menyenteri dada kasur sobek hatinya

lebar dan tebal dagingnya tak lagi selembut dahulu

karena kejahatan kuku-kuku kaki buta tak beradab itu

atau tak kuat menanggung beban duka tubuh maha berat.

“Tuan, siapakah  kasur itu di cermin matamu?”

Tanya baju sebelum kulipat jadi satu kerabat.

“Aku kawanmu yang terbuat dari kapas dan benang:

kasur namaku–sebidang kelembutan segi empat

yang mengabdi pada tubuh manusia sebagai pelampiasan

air liur, air mani, mimpi dan tidur,”

ujarnya kasur di lantai.

Namun pasti dukamu lebih ringan dari dukaku menangkis

kekerasan gerak tubuh-tubuh yang tertidur.

            “Kau tahu, di lain tangan sering diriku disakiti ketika puntung

rokok jatuh dari tangan yang tak punya mata, arang itu

melubangi kulitku yang hanya setipis jarak hidup ke mati.

            Namun aku hanya setebal diam semenjak dalam kandungan

di saat Tuhan lupa bahwa aku jua membutuhkan suara

sebagai gumam perlawanan,” geramnya kasur.

“Ternyata kau bagian dari tubuhku yang dipisah oleh daging.

 jadi Tuhan kita sama

sama satu sepenanggungan di tubuh manusia,”

kata baju sebelum bersatu dalam kandang lemari. 

(Cabean-2018)


Sabda Noda-Noda

Debu-debu mati terkubur di sela-sela keramik,

sisa-sisa tembakau tergeletak di bibir tanah,

tubuh-tubuh kertas dan plastik  pulas tertidur

di kasur-kasur tong sampah.

Baju-baju busuk tak terpakai beraroma keringat kenangan,

  celana-celana kehilangan resleting terbaring di atas genting

saudara sandal-sandal putus talinya sebagai anak buangan.

Kubangkitkan kematian mereka sebagai diksi-diksi dalam puisi.

Karena mereka butuh riwayat dari sisa hidupnya tak terawat.

Kini kata-kataku sebagai mobil ambulan yang mengangkut air mata

benda-benda kuno di musium kenangan yang jauh.

Sementara suasana puisi tersusun dari cacahan tubuh kesedihan

                        sejarah dan nenek-moyang yang di lupa

                        dan rahim kalimat-kalimatku mengandung janin

                        sampah-sampah dunia tak ternilai.

 Maka atas hati yang prihatin, anak-anak puisiku

ingin mewakili makna kehidupan mereka yang terlupa.

2019


Surah Kotoran

Tai-tai kucing di halaman meratapi kemalangan hidupnya

berak-berak ayam menggunung di lesteran hanya menguapkan

ujaran kebencian dari bibir kehidupan.

Mengapa perasaan manusia tak memberi harga pada kotoran

            padahal kata-kata ingin menyelamatkanya ke dalam makna sebagai

kalimat berharga pada hidup–setelah puisi mewangikannya.

Mungkin hati manusia memang sia-sia sebagai tuhan perasa

jika lupa bahwa asal-mula hidup ini dari sari-sari kotoran

yang telah dikuduskan oleh anak-anak tanah sebagai padi-padi

jagung-jagung dalam tubuh kita.

2019


Dongeng Noda Hitam

Tak akan sadar walau angin menenggelamkan waktu ke dasar dingin

ketika gema bibir ke bibir menyimpul cerita noda hitam

di tubuh orang lain.

Mungkin, sudah beribu kali kita tabung kebahagiaan

dalam kenangan, dari sebuah perkacapan dosa

di tubuh para tetangga.

Tetapi, apakah yang kita dapat dari rasa bahagia

yang terbuat dari rempah-rempah keburukan orang lain ?

2019


Pada Malam Kelam Kelabu

Kata-kata menggulung kesepianku di sini

di kampung yang tumbuh sunyi pada

 malam kelam kelabu.

Sedang detik-detik gemetar –jatuh ke sumur waktu

yang kian dalam kian menyumberkan kenangan.

Padahal mataku belum rabun untuk melihat sesuatu

yang ternyata tak ada. Seperti bintang-bintang di langit itu:

susut kemudian kelabu dalam pandang mataku.

Mungkin keriangan hanya milik jalan perkotaan

ketika senyap adalah kekekalan jiwa perkampungan.

2019


Norrahman Alif lahir di Jurang Ara, Sumenep Madura. Belajar menulis di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ) dan untuk saat ini sebagai relawan Pustaka Bergerak Desa (PUSDES). Beberapa karyanya bisa dinikmati di: Media Indonesia, Tempo, Republika, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka dll.

Puisi

Puisi Daru Sima S.

Palugon—Selain Pulang, Apa yang Dicari Setelah Kepergian

pulang, pada perasaan Ibu yang menunggu di balik pintu

sebagai iba yang menjalar dari ujung baju ke ujung jiwa yang ditingkap segenap jiwa

dada Ibu serupa lengkung gamelan

dengan ning-nong lantunan gong

aku pulang dengan perasaan haru

setelah jawa dan sunda bercampur jadi satu

pada diri dan juga tubuhmu

sedikit-sedikit bisa, sedikit-sedikit lupa

sesekali kulihat bapak

menghidu cangklong, memijit lututnya

yang sering berderit

sedang ular derit telah tiada

berpindah dari kaki bapak, ke bapak yang lain

demikianlah keluhan itu menjalar

setelah aku tiba dengan uban dan sepa

tiang-tiang rumah dan rumbia

sudah lama berganti rupa

tinggal satu-dua masjid yang bergaya Masjid Demak titisan aulia

tapi pulang adalah keharusan

jalalan  menanjak ke utara dari Wanareja

orang selalu bertanya

Palugon itu sebelah mana?

aku bilang tiga desa terakhir Wanareja

Palugon, Jambu, Cigintung—Palujantung

yang jalanannya dipenuhi hutan pinus dan kabut

dekat ke Banjar, dekat ke Cirebon

oh, demikianlah jawaban ketidaktahuan itu

sedang aku terus bertanya pada jiwa            

selain pulang, apa yang dicari setelah kepergian

dan lengkung dada Ibu, abadi dalam ingatan

Palugon, 2019


Kisah Kasih

kisah selalu saja kasih

yang asih dan asuh antara engkau dan aku

aku menceritakan sesuatu

di kepalamu, ialah cerita yang lain

namun kita tetap satu

seperti api dan lilin

yang benderang

di gulita malam

Palugon, 2019


Apa yang Sudah Kulakukan untuk Mencintaimu

apa yang sudah kulakukan untuk mencintaimu

pohon-pohon tersingkap angin

botol-botol bekas di pinggir kali

berhenti mengalir dan sungai kering

apa yang sudah kulakukan untuk mencintaimu

hujan diluar musim

sumur-sumur berwarna kuning

dan ombak menjulur ke tengah-tengah daratan

apa yang sudah kulakukan untuk mencintaimu

cericit burung dalam ingatan

anak-anak melihat dalam gambar

abjad-abjad di tempel penuh di dinding

mengeja dan menghitung

apa yang sudah kulakukan untuk mencintaimu

seratus untuk kebenaran

dan mengaku salah adalah keburukan

sedang pohon manggis

dalam wujud bunga mulai berguguran

kini mencintaimu, makin samar

Palugon, 2019


Ibu yang Pencemburu

pada perasaan bahagia

di ladang-ladang orang

Ibu merasa wajib cemburu

pada nasib musang yang memakan biji enau

dan biji jatuh lalu tumbuh di lahan gersang

ada yang bernasib baik, ada yang biasa saja

ada yang mati sebelum berdahan

ada yang busuk jadi makanan semut rangrang

tapi Ibu tetap memandang

pada dahan yang bunganya

                                    banyak nira

Palugon, 2019


Terapung Aku di Sungaimu

terapung aku di sungaimu

                                           kekasih

sebagai plastik bekas

yang mencari tempat singgah

                                           rumah dan cinta

barangkali pada api pembakaran

aku benar-benar mati

dan tak akan lagi mempertanyakan

                                           cintamu

Palugon, 2019


Pada Gigil Pagi

pada gigil sebuah pagi

yang gemetar seusai mandi

aku mengikat ujung baju

pada batang-batang bambu belah

sebagai awal hari

dan kuucapkan, selamat

rengkuhan tanganmu

akan sampai padaku

asuh yang asih

tanpa pengawet

tanpa sampah plastik

tanpa jarak yang renggang

setelah sepuluh hari dari hitungan pertama, hujan rahmah

sudut gelap kita, barangkali gugur

aku hanya bisa menerka

dari pandangan kita

yang tidak pernah sama

Palugon, 2019


Menumbuhkan Pohon Kopi

dalam pandangan Ibu, pohon kopi tumbuh baik

sejak akar, dahan, daun , dan biji

mengkilap bebas duri, tentu saja

pada gulma yang tumbuh, ia titipkan berkah

di bukit Bunisari ia sedekah

persembahan tabah batin yang lapang

pada butir-butir merah phoska

atau hitam kelir kotoran domba

ada yang setahun, ada yang tiga tahun

pohon sumringah dalam genjah

Palugon, 2019


Melihat Buku Berserakan

seandainya kita berak buku, kemudian bertelur sembarangan

di kota-kota yang pikuk, hutan yang jadi tempat wisata

sawah yang masih dibajak gembala

dan tentu saja, jalanan yang sudah mulai sedikit lubang-lubang

ada yang senggama di pikiran kita

melihat mobil mewah, insan yang gemerlap

dan rumah dengan arsitektur sumringah

ada juga kesepian kita

yang mati sejak lahir ke dunia

kata-kata baik, bisa jadi bijak

kata-kata tak beraturan, bisa jadi berantakan

dipungut dan dibuang

Palugon, 2019


Membelikanmu Bulan

aku ingin membelikanmu bulan

di toko-toko pinggir jalan

sebab matamu teramat luas menguasaiku

kutebas semua duka lara

kutebas dengan pisau jiwa

jika musim hujan tiba

alir jiwamu menghangatkanku

serupa beludru domba Adam

jika musim kemarau tiba

tatapmu menyejukkan

menjadi salju jiwaku

aku ingin membelikanmu bulan

menyebrangi pasang lautan

bersama angin

menyusupi jiwamu

Palugon, 2019


Pada Pohon Jeruk yang Tak Lekas Berbuah

daunnya yang legam

menziarahi waktu, rimbun

aku telah bertualang

dari wilayah seberang

dimana pohon jeruk setinggi dada

ditingkapi buah-buah

dan aku, kekasih

membayangkan banyak daun

sepadan dengan keringat yang mengalir

bersama pantulan sinar mentari

sebagai buah

ada banyak rindu setelah masa tanam

ada banyak pendoa saat masa bunga menjelang

ada yang mati, terusik hama, ada yang di antara kita

tidak saling mengenal—sebagai orang asing

aku kemudian memandang

pohon jeruk menghitam

menunggu hujan, dan engkau datang

sebagai kekasih dengan bulat

buah matang

Palugon, 2019


Daru Sima S., tinggal di Palugon-Cilacap. Ikut mengelola komunitas baca Pojok Pustaka Majenang. Buku puisinya Di Pinggir Kolam, Mengaji Pada Ikan-ikan diterbitkan Unsa Press (2018).

Puisi

Puisi Agung Wicaksana

Malam

__uni potsdam

malam geletar di luar

dijamah kabut

ruai gemetar

bintang-bintang

bagai akasia rekah

salju membelai pelupuk

begitu pilu

remang menggantung pada kisi jendela

sudut-sudut kelu

pada lekuk rindu

kepalaku

menyelipkan lembar awan

menjadi hujan

menemui tajam

rayu bibirmu

2019


Pada Malam

pada malam, aku nelayan

memukat kenangan

berkilau di bawah bulan

langit yang padam

merapung koyak

khayal di tepian

kau berdiri

semacam mercusuar

sorot cahaya

keemasan

bukan. bukan.

mimpi begitu singkat

yakinlah, sayang

kau tak sendiri

walau selat menghampar

malam dan aku datang

merayap

ratap alangkah singkat

yakinlah, sayang

tak selamanya kita terjaga

pada bagian paling usang

2019


Perjamuan Melupakan

kutuang malam ke dalam cawan

dunia tak sepenuhnya lelap

mimpi-mimpi sebagai

sebagian kebahagiaan

dan aku kian dalam

tenggelam ke dalamnya

lampu-lampu pendar-padam

aku ingin

aku ingin

semua ialah sama

buaian awan pada bintang

sekadar bualan

adalah

bintang-bintang

kini enggan menyala

2019


Geligi

aku melihat

lambaian itu

juraian legam

perlahan larut

dan semilir angin

menyemirkan dingin

pada kesepian

2019


Yang Ditinggalkan Hujan

hujan menoktah keningku

sore, periuk menanak waktu

mendidih matang

sebagai lauk malam

hujan seperti air mata

yang kau tadah

dari gelas

ia simbur

membercakkan jejak semu

tak kutemui dirimu

pada kuyup terakhir

kau kenangan paling kerontang

dalam keluasan ingatanku

2019


Rindu

ialah lekap sepasang tangan

di atas pematang

ketika beton-beton terus ditanam

rumah-rumah berganti alamat

rute itu tak berubah

antar lubang tak berpindah jarak

bulir ilalang rekah di sana

2019


Kau

bisikmu menisik

“tuliskan puisi untukku”

di balik kekuningan lembar

puisi berbagi liang

buat kau tergeletak

di antara kelindan kemungkinan

2019


Agung Wicaksana lahir pada September 2000 di Surabaya, Jawa Timur. Buku puisi mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini bertajuk Fanatorium (2017).

Puisi

Puisi Yuliani Kumudaswari

Panada

memilih berpupur ragi

adonan kalis kelat teruleni

lembar kemangi dan jeruk purut

tubuh cakalang tercabik cabai

sebatang serai memar

berlumur albumen panir terburai

panas minyak terjerang api

air liur terbit ruah

setangkup panada tambun menggoda

Sidoarjo,  2019 


Bakso

adalah kepul yang menguar rasa

di terik siang pun kuyup hujan

di pagi muram pun senja bersolek

“semangkuk saja tanpa vetsin, bang”

brambang tabur rajang seledri

tambahkan sampai penuh

kaldu berkuah, pentol berenang

untalan mie kusut serupa ganggang

bersendok sambal saos kecap cuka

lambung pekak begah hingga ulu

siapa mampu menahan hasrat?  

Sidoarjo, 2019 


Ote-ote

tidak usah kau tebak apa yang tersembunyi

tak usah pula kau cari yang terselubung

kubis wortel merdeka menampakkan muka

seekor udang bergelung berpose riang

lihat,  setangkai cabai rawit gendut kelimis

tertancap mematut diri serupa sepi

sungguh tembem wajah kesayangan

sebulat purnama di malam lalu

di pinggan kaleng bercorak loreng

Sidoarjo,  2019 


Donut

bergelimang gula salju

bersolek taburan coklat penuh warna

bergulingan di lengket pasta pekat

ia mematut diri

menyaru berkamuflase

lekat manis bukan fatamorgana

sungguh, 

hanya hasrat

hanya lapar

tak ada dendam

tak ada cinta

di bolong dadanya

Sidoarjo,  2019


Sayur Kekedemes

aku melihat ibu

memasak sayur kekedemes

dalam kastrol  berpantat jelaga

jerebu menari di bias cahaya

sebatang songsong meniupkan bayu

bara meletup lelatu riang melayang layang

telah habis ubi kayu pada getuk merah hijau

demi segantang beras sejumput gula

“kita lapar,  nak” kata ibu

sayur kadedemes dimasak ibu

kulit ari ubi kayu melayang di kuah santan

“bayangkan gulai, nak” senyumnya

lalu ,

kubayangkan cinta ibu

di atas lelatu dan jerebu

yang menari nari

Sidoarjo,  2019


Gulali Pink

di gerbang pasar malam itu

kakinya melangkah melompat-lompat

gadis kecil keriting berkucir ceplok

kemilau bintang di bulat mata bola

ia tertawa

ia bertepuk tangan

ia menunjuk segala sesuatu

tersenyum pada kincir bianglala

menggapai warna warna balon

berjinjit menangkap ribuan gelembung sabun

dan cahaya kunang-kunang di rambutnya

setangkai gulali pink mekar

tiada yang lain, tak ingin yang lain

senyum gadis cilik mekar

gulali pink tersangkut di gingsulnya

Sidoarjo,  2019


Pizza

pukulan demi pukulan

lebam terbanting kayu talenan

licin kalis seluruh tubuh

bengkak mekar tak berbentuk

sekepalan,  sekepalan telah tercomot

berputar melebar di ujung jemari

terbanting ditepuk sepenuh hati

lalu saus sewarna darah meruah

tertabur keju susis bak bunga ziarah

dan api memanggangnya

tubuh terbakar

sempurna

Sidoarjo,  2019


Agar-agar 

beri aku sesendok agar-agar

yang meluncur turun jatuh ke usus

melewati lidah kebas kerongkongan berduri

lenyap hilang tak bersua geligi

hidup bukanlah garis linear

naik turun berkelok berkelindan

penuh cadas karang kerikil tajam

pun embun, matahari, bunga berseri

hatimu yang agar-agar

tansah segala risau gulana

baiklah ia bersegera

mendekap rinai di kilau senja

Sidoarjo,  2019


Roti Tawar 

pagi membuka birai

cahaya kesana kemari

debu menari nari

sunyi mematut diri

betapa waktu serupa kijang muda

yang menemu sabana hijau

bergegas tak terkekang

menyeret fajar di kaki senja

kopi mengepul

roti tawar tak berselai

setangkai azalea layu

dan percakapan yang tak purna

ada yang tak tersentuh

kasih mula mula yang kian asing

Malang,  2019


Ketoprak

potongan kecil tahu goreng,  berebut bumbu, soun tak berbentuk,  kerupuk orange,  remah kacang tumbuk,  yang ditabur diatas irisan lontong bergelimang kecap sewarna ampas kopi, melukis mural nyeri di kosong dadamu

selarik cahaya melayang di atas pinggan loreng,  menyusur muka ketoprak, serupa sentuhan agar liurmu terbit sejalan siang yang meninggi,  hingga kau yang telah kenyang bergelimang sunyi, sebentaran ini terpuaskan, biarpun sementara, dari lapar yang setia memburumu

Sidoarjo,  2019


Yuliani Kumudaswari. Lahir di Bandung Juli 1971, menikah dengan dua putri,  sejak tahun 2015 menetap di Sidoarjo. Beberapa puisi tergabung dalam antologi bersama diantaranya Wajah Ibu (2016), Menyandi Sepi (2017), Rumah Kita (2018), Kepada Hujan di Bulan Purnama (2018), Membaca Hujan di Bulan Purnama (2019). Antologi tunggal 100 Puisi Yuliani Kumudaswari (2016), Perempuan Bertatto Kura-kura (2017), Menyusuri Waktu (2018), dan Wajah Senja (2019)  

Puisi

Puisi Redovan Jamil

Gadis Pelesir

malamku tergantung lebam

meringsut dalam gelap

merangkul tiang-tiang menjulang kota

dilafal doa menolak bala

tentang gadis yang suka berkelana

mengalir deras pada lekuk sungai di kepala

“jauh mata memandang, terulur panjang jalan

dikau selalu melipat datang. ingin berlama dalam pangkuan”

aku terus memuja kemungkinan

menandai setiap kabar dari pelesir

mengabarkan utuh dalam puing sajak ini.

2018


Sedalam Mencintai

#

cinta yang tumbuh menjulang

berebut sinar matahari dari sela lubuk hati

pancaran sebesar bola langit

tertancap erat ke akar-akar

ke kerak tanah yang dalam

ke hulu sungai yang purba

sejauh pandang ke ujung seberang

#

pada sore hari

dikau menjadi jingga di ujung selat

menghubung ke pulau perantauan

antara menetap atau terus berlayar

derai ombak menjilat-jilat

hembusan napasmu gegas

sejurus ke hati yang hampir pupus

dalam liang tuju yang abstrak

#

dikau menjadi tuju dalam temu

mengelak rasian

ingin yang nyata

tiada pelipur lara

bermuara segala harap.


Puisi Bulan April

tak terbilang hadirnya gerimis

pinggang gunung berselimut kabut

wajahmu seketika mendekam jauh ke dasar angan

pucuk ranting membelai rambutmu yang tergerai tercium angin

aku luruh, gigil dipagut dingin

waktu ke masa lalu. alir dera ke hulu jantung

pada barisan dedaunan di pinggir jalan

aku padamu kelak akan berpulang

“cinta memang begitu. celakalah orang berhenti mencintai

hiasannya yang ranum; asing, resah, gila, terlupa, melupa dan terpenjara kata”

selebihnya pulangkanlah ke awal puisi ini!

2019


Pelepah Matamu

di pelepah matamu rindu luruh

setakat beku ke relung paling dalam

berkunjung pada gorong-gorong yang basah

menuju tualang yang panjang

sekian waktu kamu memenangkan segala pertarungan

mulai dari musim tangkapan ikan ramai

hingga tongkang  patah kuduk

imbasnya jua: urung pedagang hilir-mudik di pantai lumpur.

2018


Direbut Waktu yang Enggan Berlalu

malam yang panjang

dalam denyut nadi

terpukul nyali dirangkul tangsi

memburu lecut resah

mengambang kata-kata

tak ada bisik kabar

atau sekadar berbalas surat

suara-suara sumbang menyapa telinga

menukik ke ujung tangis

tanpa cerita, atau hanya berkisah menegak dini hari

tak ada kopi, loncatan malam yang lambat berlari.

2018


Perihal Hati

perihal hati

aku telah sematkan erat

terpaut buhul mati

terikrar pada prasasti

di dinding kamar ia menggantung hingga berlumut

pada gorong-gorong ia seumpama lentera

pada tanah ia penyejuk dalam kerontang

pada gunung ia jadi lembah yang dialiri sungai biru

padamu bermuara segala tuju.


Mencintaimu dalam Segala Waktu

pada tualang hidup

ada yang sirna ditelan cinta

sekian yang tumbuh dan pergi, begitu juga yang datang

aku memilih tidak pada semua hal itu

yang datang pasti akan pergi

yang pergi pun akan ada pengganti

yang tumbuh menjulang, lalu tua dan rapuh

yang berlalu akan berujung temu

aku ingin jadi diriku sendiri

mencintaimu bersama segala usia

tanpa ampun. tak ada pamrih dan janji-janji.


Detektif Cinta

: sherlock holmes

semalam yang lebam aku berkhayal seumpama seorang detektif

aku jadi sherlock holmes saja

membuka tabir hatimu

menguak segala misteri perihal cinta

lengkap dengan rasa kecewa

jatuh yang disengaja dalam pangkuanmu

terluka yang paling manis, dan rindu yang candu

setelah menjadi detektif cinta, tugas semakin menggunung

bertubi-tubi aku jatuh cinta kepada wanita

ditemukan banyak hati yang rapuh

cinta yang omong kosong

hingga dusta yang merajalela

tak ada yang benar-benar baik perihal cinta

apalagi terpaut dua hati insan yang terjebak waktu yang fana

percayalah, usai puisi ini tutup usia aku ingin melupa

lupa atas permainan kata, memanis  rasa

dan adonan janji dalam bungkuknya nafsu.

puisi ini tetap saja ingin ditulis

mengabarkan hasil riset cinta seorang sherlock holmes gadungan

di tengah kota, pada gang-gang sempit cinta diobral semena-mena

busung buah dada hingga ingin pecah kutang berenda

bibir gincu bata, lentik berarak alis mata

ialah yang akan dipilih lelaki pelumat nestapa

pada remang malam akan terasa nikmat

setakat akhirnya menjalar ke wisma-wisma

begitulah cinta, memenangkan pikir

meruntuhkan akal, dan terjebak nafsu muslihat.


Cintaku Tumbuh di Bibir Sampan Leper

kita berdua kala itu

mengitari ilalang dan kanal-kanal merah

penuh takzim menyaksikan pacu sampan leper

orang-orang bertalu sorak semarai untuk peserta lomba

“ayo-ayo! yang kompak! saat berputar arah harus cepat!”

lumpur memantulkan gema suara riuh

seusai surut mengikis pantai

di udara suara hatiku bergelombang

bersiul lirih cinta yang dalam

seolah-olah rasa itu tersangkut di pipihnya bibir sampan

berpacu bersama degup orang yang berkayuh kemenangan

nuh, kekasih

di seberang tersangkut segala harapan

mengarungi segala kemungkinan yang retak

“dekap aku erat-erat! dengar genderang jantungku”

jangan pisah dilempar ke dasar ratapan

aku luruh, kekasih

dalam candamu yang meramu malu-malu

ingin hidup sekali saja

tapi waktu denganmu selamanya.

2019


Sajak Lamaran

tahukah, Anelis

pada senyummu yang menguntai aku bergelantung

sudah habis pikir tak ada selain padamu jua muara tuju

segala temu, angin mendesir dalam ingin

rindu berpacu dalam alir air

pada hujan yang pecah di atap rumah

di tahun yang sudah ingin tutup usia

aku ingin meminangmu, Anelis

di hari ulang tahunmu

pada minggu ketiga november

jadilah kau tawananku

tawanan hidup hingga renta

dik, Anelis. aku akan datang ke rumahmu

bersila di hadapan orangtuamu

menghamba untuk diperestui

dipersatukan tentang kita

tentang segala congkak yang ada

percayalah, engkau tawananku yang paling lembut

ditanam segala pokok bunga di depan kamar kita kelak

tentu bunga itu akan menjadi sahabatmu

merawatnya adalah menyemai keabadian di antara kita

Anelis

musim bisa berubah-ubah

tapi cintaku tetaplah ada

pacuan mungkin saja berbalik haluan

tujuku padamu jua.

2019


Redovan Jamil, lahir Padang Benai salah satu kampung kecil di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Ia adalah salah satu penggiat literasi pedalaman dan pengelola di TBM Hamfara Library. Terpilih menjadi Penggiat Literasi 2019 dan diundang Residensi Penggiat Literasi di Yogyakarta. Ia juga tergabung di Komunitas Daun Ranting. Tergabung dibelasan antologi bersama, baik nasional maupun internasional. Abun-abun yang Abrak (2018), Purata Publishing adalah buku tunggal pertamanya. Karya dan tulisannya tersebar dibeberapa media seperti Riau Pos, Media Haluan, Magelang Ekspress, Radar Cirebon, Harian Singgalang, Rakyat Sumbar, Palembang Ekspres dan media online lainnya. Bisa dihubungi ke nomor 085265781291/ WA, email [email protected], IG @redovan_jamil dan Facebook atas nama Redovan Jamil.

Puisi

Puisi Bruno Rey Pantola

Kepada Laut

Angin berembus perlahan

Menelurkan hawa-hawa dingin

Segara merapal seuntai kenangan

Dalam deru ombak nan kejam

Kepadamu laut yang biru

Cintaku kandas pada terjal lekukmu

Lenyap di antara busa putih

Menjelma garam, asin di pinggir pantai

Bersanding dengan leretan bakau

Aku ingin sebuah jumpa

Yang tempo hari dijanjikan petang

Namun tersisa kepala bulan

Yang terbaring di ufuk timur jauh

Tiada sentuhan mesrah di ujung bibir

Kecuali asin yang mengalir dari pelupuk mata

Dan kepadamu laut, aku ingin menyambangi

Nelayan, agar menuntun sampan ke seberang pulau

Namun, kau menjelma jarak-jarak

Seluas rinduku berkelana.

Kepadamu laut, aku ingin

Berlayar ke dalam doa Sang Amoi

Yang terhimpit di dalam ribu-ribu

Gulunganmu.

Yogyakarta, 2019.


Agatha

Agatha memeluk angin

Di suatu malam yang dingin

Menerobos gelap yang meringkuk

Di antara dahan-dahan dadanya.

Dua helai waktu direnggutnya dari hari;

Pagi dan senja, terlahap oleh rindunya,

Meritualkannya sebagai kenangan akan aku

Dan menyulamnya menjadi penantian panjang.

Di hadapan tetua adat

Aku berdiri kokoh mengulum air liur

Menerawang angkasa di dalam dada Agatha

Lalu menikam waktu agar segera pudar.

“Oh, Agatha yang menawan

Hasratku pupus di atas tandus tanah

Terhuyung bagaikan duyung tak berdayung

Pasrah terhadap gelombang. Lenguh. Lalu lusuh

Terkapar di atas tradisi yang berbelit-belit.”

Yogyakarta, 2019.


Telah Lama

Telah lama aku menjadi teratai di atas permukaan kolam

Berteman dengan cipratan-cipratan ombak kecil yang disebabkan oleh angin

Belaian mentari kadang membuatku bertumbuh lebih subur

Sebab, ada metamorfosis di dalam tubuhku yang tak kunjung

Menyelam ke dasar hatimu yang tersimpan rapi dengan endapan lumpur

Di dasar kolam.

Akar-akar ingatanku menjadi ambangan angan yang tak pernah menyentuhmu

Namun, ia mengetuk pintu permukaan kolam sepanjang hari berlalu.

Aku berdoa di atas ombang-ambing hidupku. Tiada lain selain kematian

yang menyamar menjadi parit ikan di sekelilingku.

Telah lama aku di sini.

Menanti malam, menjumpai siang, bercengkerama dengan sawang,

Menerewang langit, mendustai senja, dan membiarkan sekelompok

Serangga menyerang dengan taring-taring mungilnya__mengahuncurkanku perlahan.

Telah lama menyendiri di sini.

Bersama serabut-serabut rambutku yang kadang kuuraikan sebagai

Keyakinan akan sebuah cinta.

Sedangkan kau makin hari menjadi sesuatu yang sukar kutakar.

Yogyakarta, 2019.


Seperti Malam

Seperti malam

Kau hinggap di antara dedaunan

Mengibaskan nafas alam dalam tidurku

Menyimpan mimpi di atas kepalaku lalu menjelma cicak di plafon.

Seperti malam

Berbaring di sampingku dengan sepotong lenan

Yang kau tangkupkan dengan tubuhku dan bantal merah itu,

Membopong igauanku ke luar rumah dan anjing melolong rindu

Seperti malam

Sepi

Sunyi

Lenyap

Lelap

Yogyakarta, 2019.


Menyudahi Rindu

Pagi hari di Timor

Matahari turun di atas kabin pesawat

Kulihat rambutmu bertangkupan dengan sinarnya

Meliuk-liuk elok memenuhi mataku

Di suatu terowongan tak berjejak

Kurasakan hangatmu yang kian terekat

Walau sua masih menanti beberapa menit

Untuk mempertemukan senyum kusut kita

Pesawat mendekat

Rindu menepi sejenak

Detak-detak dada menghitung detik-detik

Memungut segala penat, menyumburkannya ke tepi jendela

Sesudah kutapakkan kaki di tanah Timor

Kau mengumbar-umbar lantunan angin merdu

Ke seluruh kupingku

Lalu mendekap tubuh ini menjadi satu.

Rindu terkulai di tanah

Pandangan menembus dada

Dan tiada yang kosong di sana

Kecuali rindu.

Yogyakarta, 2019.


Di Bawah Tatapan St. Rafael

Ada satu potret masa lalu

Yang kutempelkan di dalam sal kenangan

Juga masih terpampang rapi di tembok kamar

Atau masih dalam memori handphone

Malam-malam datang

Ia bertandang

Menyambangi doaku yang khusyuk

Kepada st. Rafael

Potret itu berwarna coklat

Mungkin tubuh St. Rafael atau alam yang keriput

Atau saat-saat di mana jiwa-jiwa menjemur pakaian

Mungkin pula mendung yang berdusta terhadap matahari

Di suatu waktu

Aku melihatnya benar-benar cokelat

Di bagian-bagiannya terkena tiris hujan

Namun wajah di dalamnya masih segar

Di suatu hening

Kukenang-kenang dalam alunan merdu lagu “feot honi”

Ternya kita pernah mengeratkan jari-jemari

Di bawah tatapan patung St. Rafael.

Yogyakarta, 2019.


Mencintai Dua Perempuan

Cintaku berjumpalitan di atas tubuh-tubuh ayu

Menguntit cara bercinta kakek yang sangat kurang ajar

Bagaikan negara yang otoriter dan menindih

Namun terasa adem di atas kepedihan

Setiap saku celanaku yang berjumlah dua

Terisi duit dan cincin emas

Kusisakan satu untuk Si Jelita

Dan lainnya untuk Si Niny

Cinta memang tak sesenang itu

Kadang mengegerung-gerung mengharapkan kepastian

Kadang mati di ujung bibir dan itu yang kunamakan cinta.

Sebab, mencintai dua orang dalam rongga kegelapan yang dalam.

Terngiang gemelutuk gigi penuh nafsu.

Di ujung jalan menuju pernikahan

Aku mengetuk-ngetuk dinding dadaku

Dan dua orang meregang cintanya di tepi ngarai hatiku yang kelam

Lalu wafat. Meninggalkan keranda dankain kafan bagiku.

Yogyakarta, 2019.


Di Balikpapan

Sebelum kapal berangkat dari pelabuhan

Kulihat namamu terurai di dermaga

Membiarkan ombak mengelus-elusnya

Kadang menjilat-jilatnya hingga ujung-ujung hurufnya sirna.

Aku menjarah kenangan ke dalam kepalaku

Sedangkan di dada, kurebahkan tubuhmu yang hangat

Sehangat usai menidurimu di bangkai perahu

Du ujung pulau.

Di sana, kita pernah menyeduh sembilu menjadi secangkir perpisahan

Lalu menenggaknya bergantian hingga tersisa karang-karang piatu

Berseliweran dihempas angin laut, sepanjang waktu

Dan suatu ketika, kuharap kau menunaikan kangenmu ke dalam sebuah kapal pelni

Yang tak jauh dari tatapanmu dari bibir segara.

Aku ingin kembali

Namun waktu tak pernah menjanjikan pertemuan

Ia hanya melangkah maju walau tertatih

Dan umur kita dipotongnya sedikit demi sedikit.

Yogyakarta, 2019.


Selepas Hujan

Selepas hujan

Aroma tanah

Ringkihan kuda

Jeritan burung

Bekas kaki anjing

Puisi anomali

Eskapisme sastra

Dan tamparan kesunyian

Kau purna.

Yogyakarta, 2019.


Di Kupang

Alam menggigil sendiri

Pantai Oesapa dipenuhi orang-orang

Bir-bir berjejer di atas meja

Kita kedinginan di atas kerikil pantai

Mengurai pasir

Menakar angin dan

Memilin dusta.

Siapa yang ingin ini berlalu?

Dentang lonceng.

Angelus menyatukan kita lalu melerai kita.

Yogyakarta,2019


Bruno Rey Pantola, lahir di Lospalos, Timor Leste, 23 Maret 1997. Buku puisinya “Sendu di Desa”. Beberapa puisinya dimuat di Tribun Bali, Pos Kupang, Apajake, Viktory News, Horison Dipantar dan media lainnya.