Puisi

Puisi Norrahman Alif

Aku Tak Ingin Kelak Istriku Diberi Makan Puisi

Tampaknya aku harus bangkit dari kemurungan kata

sebab hidup tak bisa hanya berdiri di atas pundak puisi

aku harus berjalan–mencari hidup yang lebih hakiki

dari hakikat bahasa.

Karena aku adalah lelaki yang kelak tak akan sendiri

dan kodrat hidup memang tidak untuk bersepi-sepi

esok pasti akan berpasang-pasang hati.

Maka kuselingkuhi puisi sebagai istri simpanan hati

sementara kini aku tiba saatnya mencari

puisi yang lebih nyata dari buah imajinasi.

Biarkan penyair mencaci –aku bukan pemuisi sejati:

hidup-mati mengeloni puisi–ke barat ke timur hanya

berduka-luka memakani hidup dengan sepiring kata hati.

Tidak, aku tidak ingin kelak istriku diberi makan puisi

di saat hidup tiap hari menghadirkan kekurang-kekurang

yang tak dapat dicukupkan hanya dengan selembar puisi.

Karena puisi bukan uang yang merenggut segala

kamewahan dunia. Karena puisi bukan ladang

perkerjaan yang menghasilkan emas dan permata

karena puisi bukan kebun uang yang menghasilkan

kekayaan.

Namun puisi hanyalah gedung-gedung kenangan:

museum bagi tubuh-tubuh kesedihan bercerita

kelak tentang penyair yang belajar mengekalkan

hidupnya dalam kata.

2019


Berkali-kali Aku Dipermalukan

Berkali-kali aku dipermalukan

oleh perasaan. Aku ingin tahu kini

seperti apakah wujud perasaan?

Apakah ia seperti durian: kulitnya

bertaburan jarum kejahatan–namun

hatinya banyak mulut merindukan.

Namun kukira perasaan bukan buah

untuk dimakan, mungkin ia semacam

makhluk halus: gentayangan datang

dan pergi meletakkan rasa cemas dan

takut dalam hati.

Berkali-kali aku dipermalukan

oleh perasaan. Jujurlah Tuhan

apakah engkau perasaan itu?

Sehingga berjuta-juta manusia

memberhalakan perasaan dalam

kuil-kuil hatinya. Sementara aku

menjadi korban kejahatannya.

Berkali-kali aku dipermalukan

oleh perasaan. Saat ini  aku ingin

tahu seperti apakah sifat perasaan?

Ataukah seperti ludah lidah para

politisi: bermanis-manis perasaan

di depan kerumunan orang, demi

melancarkan mandat mimpi-mimpinya

menguasai dunia.

Tidak, perasaan tak sejahat itu, mungkin

ia sebaik rindang pohon kasih-sayang ibu

menaungiku dari hujan godaan kehidupan.

Berkali-kali aku dipermalukan

oleh perasaan. Berapakah harga

perasaan penyair di tangan seorang

perempuan?

2019


Aku Ingin Tidur dari Bayang-Bayang Kenyataan

Aku ingin tidur dari bayang-bayang kenyataan

bila selalu kesepian merawat usia–kesedihan

memakan hari-hari tak tersisa.

Namun apakah hidup ini?

apakah dengan mengumpulkan harta

hidup mewah berbaju emas dan permata

sudahkah dikatakan hidup.

Bukankah kitab penciptaan sudah bersabda:

hidup datang dari kekosongan dan pulang pula

pada celah kekosongan.

Kecuali, hanya hati akan

berisi keranjang buah pahala, jikapun aku punya

pohon kebaikan di sini.

Sungguh aku ingin tahu rahasia kenyataan?

atau mungkin aku sekadar bayang-bayang

yang ingin hidup menjadi makna kenyataan.

Namun apakah kenyataan itu sendiri?

jika makna kenyataan adalah kehidupan

barangkali kenyataan itu: makan enak,

hidup mewah dan mati istimewa.

Lalu untuk apa kenyataan diciptakan?

jika tidak digunakan sebaik-baiknya

untuk memperbaiki tingkah-laku duka

kehidupan.

2019


Lima Adegan Mawar layuku

/1/

Mawar yang kutanam dalam hatiku

ternyata telah kehilangan harumnya

dan keagungan tubuhnya telah memudar

tercuri oleh kenakalan masa lalunya sendiri

sungguh kini aku seperti menanam biji busuk

di ladang asmara.

Ke mana lagi harus kucari bunga mawar yang lain

dengan keharumnya yang masih perawan. Namun

bunga yang kumiliki ini telah bersumpah mati

siap menjadi pewangi rumah-rumah hariku–

kamar-kamar  hatiku.

Namun setelah kubaca-baca lagi buku kesadaranku

sangatlah bimbang menjadi lelaki sepertiku

hanya menjadi pemakan roti dari sisa-sisa kunyahan orang lain

namun jika perasaan sudah berkata dan cinta

makin sakit jiwa, tahimu pun akan menjadi

mawar di tanganku atau tubuhmu kekal perawan

dalam puisi-puisiku.

Bahkan ludahmu akan menjadi gula di pangkal lidahku,

sebelum  kutelan dan menjadi racun resah yang menyebarkan

virus-virus penyesalan sejauh usia berjalan ke batas paling nyeri.

/2/

Siang ini di tengah ladang-ladang waktu yang gerah

kau taburkan manis biji-biji janji: berharap tumbuh pohon kenyataan

esok hari. Aku pun hanya mengangguk dan kurang mengerti

sebab setelah kuperiksa jantung masa lalu dan kata-katamu

terlalu banyak ular yang melingkar dan mematuk janji-janjimu sendiri

menjadi sekadar ilusi.

Namun aku tak perlu tahu seberapa tinggi tiang hatimu

menjunjung pengharapanku menembus kabut kenyataan

dan mengibarkan bendera kasihmu padaku di mana-mana.

Karena kamu hanyalah bunga mawar yang kehilangan

kesegarannya di tiap-tiap pagi seorang lelaki.

/3/

Malam ini kau berlagak gila dan membuatku sakit jiwa

kita bercakap-cakap tentang rahasia keagungan yang

dimilik tubuh manusia. Sambil kau bertanya-tanya  mengenai

kebutuhan mendasar dari seonggok daging yang mulai

menegang dalam sarung kesepianku–sampai-sampai kita

melupakan kecantikan malam dan mengabaikan buah-buah

detik yang jatuh dari dahan menit di pohon waktu yang

hampir tumbang ke sisi jalan Subuh ini.

Pada akhirnya bunga mawar yang kehilangan keindahannya

sebelum menciptakan malam pertama di masa depan cinta bersama

berkata: “sayang, aku sudah tak tahan ingin meninabobokkan

anak-anak libidoku yang mulai sekarat menerjang meradang ini

sebelum aku gila dan jatuh pada kenikmatan yang salah kaprah.”

/4/

Pagi ini kau buka mata pagiku dengan api pertengkaran

yang tak kungjum padam ini. Kau nyalakan lagi api-api

masa lalu dalam kata, janji-janji yang berdebu dan kenangan-kenangan

yang kan menjauh. Seiring kita saling membunuh diri sendiri

demi sebuah kebenaran dan kerendahhatian perasaan.

/5/

Mungkin inilah puisi penghabisanku untuk mengekalkakan

separuh hikayat masa lalu dan masa depanmu.

2019


Malam-Malam Jahanam

Kutepikan diriku pada kata

Menyemai kembali luka sunyi

Di ladang-ladang cerita

Sebagai pesta pora hatiku

Yang dikucar-kacirkan

Perasaan nestapa.

Selalu di tepian malam gelisah

Kuseberangi waktu-waktu lara

Sampai kutemukan diksi sepi

Menari-nari dalam puisi.

Sudah lebih puluhan kali kukayuh

Jiwaku dengan wajah murung

Di tengah-tengah kampung

Yang sering di kutuk rasa sepi ini.

“Ke manakah orang-orang?”

Kesepianku berucap sesering

Mungkin ketika malam melampaui

Batas keramaian. Sungguh sunyi

Adalah bayi yang terluka, perih

Merintih dipangkuan ibu waktu.

Apakah karena orang-orang pagi

Menamakanku sebagai mata malam

Sehingga aku asing dan tenggelam

Di kebutaan mata orang-orang siang.

Maka dengan tekat sebulat biji mata

Kucari-cari kesenanganku dalam kata

Karena hanya dengan kata utangku

pada resah, sepi dan kegelapan terlunaskan.

2019


Kurayakan Kepergianmu dalam Puisi

Dan kau cukup tahu; bahwa usiaku terpotong-potong kehampaan

Menjadi bagian-bagian kenangan busuk dalam sakit mengenangmu

Sementara jiwaku makin runyam menerjemah tangis hatiku

Karena tak jelas mengapa padamu air mataku terus melaju.

Di kampung aku sudah kehilangan keteduhan angin dan pohon-pohon

Padahal kampung adalah sawah untuk menanam pikiran yang ruwet

Atau hatiku yang sulit menahan sakit kepergianmu

Walau sudah tak jelas bening wajahmu dalam cermin ingatanku.

Namun kau tak perlu tahu kondisi perih tahun-tahunku yang malang

Dan menjalang selama ini. Karena kau bukan lagi bagian dari tulang rusukku

Kau cuma sekadar objek dari air mataku yang terus melaju

Dari hati ke puisi dari puisi ke abadi.

2019


Berseberangan Keinginan

Jangan tanyakan padaku, lebih luas mana rinduku

Padamu atau harapmu padaku kembali ke kota kata

Sesungguhnya kerinduan kita sama-sama luas, kawan

Namun masih ada batas-batas keinginan yang mesti

Kita seberangi dalam jarak berjauhan ini.

Mungkin kau mencintai kebisingan kota

Yang dicipta oleh bibir-bibir manis para penyair

Namun aku lebih mencintai kesunyian kampung

Untuk meruang-raungkan kesedihan dalam puisi.

Perbedaan itulah yang membuat kita saling berseberangan ruang

Namun jangan cemas dan ragu, kerinduan kita harus takzim

Pada serajut keinginan lain yang tumbuh dari rasa nyaman.

Karena perpisahan itu fana –yang abadi hanya perjamuan jiwa.

2019


Ceracaun Ketidakwarasan 1

Saat ini aku duduk tapi melayang

ingin berdiri tubuh bergelombang.

Aku mungkin kemalingan kesadaran

aku kehilangan rasa hatiku

aku kehilangan anak akalku.

Siapa aku kekasih

aku anak siapa.

Bila masih aku hidup

tapi mengapa aku merasa mati

wajah semesta mengabur dalam tatapanku

mata-mataku kelabu menatap mata-matamu

mungkin aku kini adalah bayangan kegelisahan

yang tengah berjalan mencarimu

dalam hutan-hutan kerinduan

dalam semak-semak kehilangan

dalam goa-goa kegilaan.

Aku mungkin terlalu banyak menegak air mata

sehingga aku mabuk melangkah: dari sepi

ke nyeri lalu berhenti pada batas paling puisi.

Bahkan dalam resah jagaku saat ini:

aku berjalan namun jiwaku berdiam

aku bergerak namun ruhku mematung

aku tertawa sendiri namun ada yang

menangis dalam mataku.

Siapakah yang menangis dalam hatiku

siapakah yang merasa hina dalam jiwaku

tidak lain adalah engkau kekasih,

engkau kasihku. 

2019


Ceracauan Ketidakwarasan 2

Kekasih, kini aku akan berjalan sendiri

berjalan mencari kesenyapan inti sari hidup ini

setalah itu aku ingin berbicara pada maut

perihal hidup dan mati kapan menjemput.

Jika rindu padaku kekasih, carilah aku

di sepanjang jalan Malioboro. Lalu carilah

wajahku di antara wajah seniman, penyair

gembel, pengemis dan orang gila. Di

tengah-tengah penderitaan merekalah

aku bahagia mengawani kesedihanku.

Maka temuilah aku orang-orang yang mungkin

masih merindukan tawaku, kemurunganku dan kematianku.

mungkin ingin kirim salam rindu pada tuhan,

atau pada kerabat kalian yang lebih dulu menjadi nama

kenangan di batu nisannya. 

2019


Ceracau Ketidakwarasan 3

Sungguh aku lupa waktu

lupa diriku

siapa aku

sekarang dimanakah aku.

Masihkah aku hidup

atau perlukah masih

hidup butuh padaku.

Sepuluh jam hatiku

kesetanan rasa sedih kekasih.

Namun kau hanya sesegukan

dalam mimpi-mimpi tiap malam

di saat lari dari hujan ceracaun

ketidakwarasanku.

Sungguh kau tahu, kekasih

berjam-jam aku menjadi telepon genggam

demi suara serakku dapat menghubungi

hidupmu –namun kau malah tolak mentah-mentah

sebelum suaraku sampai dan menumpahkan seribu

air kemaafan di telingamu.

Sungguh betapa cemasku

sia-sia –cintaku

mati rasa –rinduku

sakit jiwa.

Barangki kini aku telah kehampaan mengingat

asal-usul hidupku:

dari bahan apakah hidup tercipta?

Bila dari api

mengapa aku tak mampu membakar

daun-daun kecemburuanku padamu.

Bila dari air

mengapa aku tak mampu menyucikan

kain hatimu dari debu-debu curiga padaku.

Bila dari udara

mengapa aku tak mampu melumat asap-asap

pikiranku tentang dustamu yang manis lalu.

Bila dari tanah

mengapa hatiku tak subur menumbuhkan

pohon-pohon kesabaran–rumput-rumput

keikhlasan mencintaimu tanpa musim pertekaian.

Bila rumah-rumah pikiranku

terus-terusan kedatangan tamu-tamu rindu

dari seribu kota kenangan tentang cintamu yang sekeras batu.

2019


Norrahman Alif, lahir di Jurang Ara, Sumenep. Menulis puisi dan cerpen di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ). Beberapa karya saya bisa dinikmati di: Media Indonesia, Tempo, Republika, Kedaulatan Rakyat,  Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Solopos, Minggu Pagi, Radar Surabaya, Merapi, Magelang Ekspres, Bangka Pos, Radar Cirbon, Koran Madura, Majalah Simalaba, Analisa, Rakyat Sultra, Banjarmasin Post, Padang Ekspres, Lampung Post, Fajar Makkasar dll.

Puisi

Puisi Irma Agryanti

Aku Ingin Meninggalkan Diriku

aku ingin meninggalkan diriku. masa lampau membuatku mengingat yang hendak kulupakan. tapi di balik jendela tak ada orang lain selain diriku dan buku puisi yang berulang kali dibaca. pikiranku tak pernah lengkap, selalu ada yang tak bisa kupahami seperti cara untuk mencintaimu atau upaya menolaknya.
setiap hari cuaca begitu susah untuk ditebak, membuat perasaan tinggal lebih lama seolah tak pernah ada saat yang tepat untuk pergi.
barangkali aku terlampau lama menjadi seseorang yang merasa bersalah atau menanggung kesalahanmu, sebab seperti pertengakaran kerap tak memberi kemenangan, agar masing-masing selalu terkenang.
tapi aku dikalahkan bayanganmu. menerimamu sebagai apa saja yang terasa dekat denganku, meski sesungguhnya tak ada yang benar-benar bisa menanggung, kesepian yang sering menetap. 

2018


Seseorang Dalam Diriku

ada saat-saat dimana aku meragukan seseorang di dalam diriku. seseorang yang menyalakan lilin tapi memadamkannya berkali-kali, seseorang yang ingin dilengkapi tapi seringkali menjauh. keriuhan seperti kesedihan yang minta dihibur. juga perasaan, selalu datang bergantian, rentan dan mudah lepas, sedang pikiranku seperti kota besar, penuh oleh prasangka, perihal-perihal dunia yang nonsen. aku tidak menulis sajak meski aku menulis sajak. kekosongan adalah satu-satunya yang bisa dituliskan, semisal tunawisma yang menatap langit dan bicara untuk diabaikan. barangkali aku tak menyadari, setiap kali pintu dibuka adalah sebuah kemungkinan lain, semacam upaya menolak untuk menemukan agar tak merasa kehilangan. orang-orang sudah lama menjadi hari-hari sedang aku tak tahu siapa yang sesungguhnya tak nyata, seseorang di dalam diriku atau di luar diriku.

2018


Aku Ingin Berhenti Bunuh Diri

aku ingin berhenti bunuh diri

pikiran-pikiran tak tidur

adalah mayat di luar peti mati

dalam pejam kedinginan

angin melintas-lintas

tak saling bertemu dalam udara

adakah pemakaman di tiap simpang waktu

bagi lubang dada yang tak selesai digali?

aku ingin berhenti bunuh diri

sebab seperti mata lampu jalan

aku sudah kau padamkan, berkali-kali

2019


Setelah Kehilangan

mungkin ada suatu hari baik

setelah kehilangan

aku lupakan

lagu yang mematahkan

musik-musik sedih

seorang perempuan selalu mengaku

baik-baik saja untuk tak mengalah

tapi hati seperti sekumpulan abu

beterbangan bila disentuh

angin dingin yang menyakitkan

mengingatkan pada sudut kecil

tempat negasi dihidangkan

dan sesudahnya

hanya samar

hanya latar

kau tak lagi di sini

tak perlu ada 

2017


Merayakan Kesendirian

pagi hari; dingin memutih

tak ada angka di kalender

tak ada ingatan dalam kepala

aku bayangkan kesedihan-kesedihan

apa yang seharusnya adalah apa yang tak pernah ada

seperti kalimat selamat jalan yang mesti dilepaskan

agar seluruh ketakutan pergi

dan puisi kembali dituliskan

2019


Perak

adalah laut bergulung-gulung

adalah gugus bintang

adalah warna rambut bulan

adalah padang-padang adulam

adalah daun-daun palma yang ditebar

adalah perempuan di balik cadar

ia tamar yang mati dibakar

setelah yehuda menyingkapnya

2019


Upaya Memahami Dirinya Sendiri

ketika hari selesai, ia akan berbaring, melihat bintang jatuh dari jendela kamar dengan tangan yang tak menggapai, juga cahaya lain, memantulkan warna yang tak jelas batasnya dan dadanya terasa berangin.

ia gamang pada sesuatu yang tak tertebak, semisal, bahkan dalam hati langit yang lapang, ada sesuatu yang sukar ditemukan.

ia ingin bebas dari mengingkari bahwa kesedihan tak pernah selesai dikenang, meski, prasangka hanya sebagian komposisi melepas kenyataan, mengapa dirinya lebih suka tersedu.

2019


Aufklarung

seseorang datang

setelah lama bermukim

dari kematian musim

seseorang datang

membebaskan diri

dari seluruh kutukan 

perempuan yang menderita

menjalani hukuman

oleh cinta

bagian kelam dari kenangan

betapa panjang usia derita

waktu serupa nyalak anjing

suara lonceng di puncak menara

samar terdengar

2016


Delusi

seseorang menjadi tak waras

setelah meneguk anggur

ia menyeka, matanya seperti basah

tapi film biru lebih menyedihkan

dari surat-surat yang dikirim

mereka mudah terbakar

sedang cerita, samar dengan kebohongan

sseorang menjadi tak waras

selepas menelan pil tidur

ia menyeka, matanya penuh delusi

2019


Membayangkan Dina Oktaviani

aku ingin menjadi dina

sekalipun bukan

ia yang jatuh di tiap kelokan

bicara pada angin

dan setia mengasihi dirinya

sebab padanya

lampu-lampu langit menyala

juga sebuah jalan yang

menjauhi rasa sakit

tapi ia adalah duka

musik-musik pujian

yang luput dari doa 

senantiasa mendapati dirinya

sendiri menjaga cinta

dari sekadar kata

aku ingin menjadi dina 

sekalipun hanya

puisi

2019


Irma Agryanti, lahir di Mataram, Lombok. Puisinya tersiar di berbagai media lokal dan nasional.  Buku puisi terbarunya Anjing Gunung (Basabasi, 2018). Bergiat di Komunitas Akarpohon.

Puisi

Puisi Eko Setyawan

Memulangkan Pelukan

1.

pagi masih hangat.

meskipun pelukan sudah beranjak pergi.

2.

tak kutemui dirimu—

di sela-sela udara

yang memukul-mukul kenangan di kepalaku.

apa tak ada yang lebih berbahagia selain

kesedihan yang mengurung diri?

3.

“begitulah nasib bekerja, ia lebih keras kepala

dibanding cinta yang ditanam.”

4.

segala hal, tak pernah di mulai

jika tak ada akhir.

hari ini adalah kemarin yang lahir

dari tangisan di rerumputan yang menjelma embun.

            : di sembab matamu.

lesaplah kesedihan itu.

merupa cahaya yang memancar.

dari balik gunung yang jauh.

5.

selalu tak dapat kusapu binar matamu.

bergegas pergi dan mengemas diri.

kubekali kau tenunan langit pagi.

agar sewaktu-waktu—

kau dapat menyelimuti diri

dan kau dapatkan lagi pelukan

yang sengaja kau tinggalkan.

(2019)


Merapikan Ingatan

tak ada yang bisa kukecup selain rona pipimu.

ia merah muda.

seperti kedua tangan selepas bertepuk tangan.

seperti menjadi sejumput awan,

sekecil apa pun, ia tak akan tahu—

ke mana angin akan mengajaknya pergi.

begitulah cinta bekerja.

ia seperti doa.

dirapal khusyuk bagi ia yang meminta.

keinginan adalah doa yang terus menerus ditebar.

kita hanya bertugas menerima.

“tapi adakah yang sudi merapalkan duka?”

“tapi— adalah kata yang tak menolong.”

pulanglah tanpa alasan.

tanpa benar-benar berpikir bahwa—

di dunia ini, di kepalamu,

bersarang ingatan tentang perpisahan yang menyakitkan.

(2019)


Cinta yang Berlebihan adalah Bencana

1.

kujadikan diriku pedestrian dan tak

kudapati apa-apa selain perjalanan yang jauh.

kuikuti langkah kaki.

pergi dan tak tahu arah kembali.

2.

kukira cinta yang menuntunku.

namun setelah kubaca ulang karcisku.

ternyata hanya kesedihan semata.

3.

aku keras kepala.

kugiring kesepian pada kegelapan.

tak ada apa-apa.

tak kutemukan tempat baru.

segalanya berbekas dan tetap sama.

4.

kurapikan ulang langkah kaki.

kuingat benar bahwa− kau atau mungkin yang lain−

pernah berbahagia dengan cara yang sederhana.

5.

“bukankah cinta yang berlebihan adalah bencana?” katamu.

6.

kutarik langkahku. kupulangkan pada jalan

entah menuju ke mana.

(2019)


Mengemas Kesedihan

kutekan tombol silang pada remot.

hidup berhenti barang sesaat sembari menunggu

kereta yang mengantar rindu kembali ke dada.

matahari bermukim di atas kepala.

mekar dan memberi cinta di bawahnya.

“apa yang telah kembali?”

cinta yang pergi menjauh.

kereta yang lupa mengerami peron.

cinta yang lahir dalam deru kereta.

mungkin pula matahari  masih ada di atas kepala.

tak ada yang boleh bersedih di antara kita.

(2019)


Kau ialah Puisi

             : perempuan penjaga ruang CR

kuhirup bau buku-buku—

terselip semerbak namamu.

ruapnya ialah taman bunga.

ia menyebar di tubuhku.

menjadi pelukan yang tak henti-hentinya diberikan.

matamu, seutas puisi yang belum usai.

bercahaya dan enggan padam.

menunggu hingga titi mangsa disematkan.

senyummu cahaya.

menembus sela-sela jendela.

menjelma siluet yang hangat.

niscaya.

seluruhmu.

aku.

(2019)


Memadamkan Kenangan

gugurlah ia melawan cemburu.

dalam dada yang biru sempurna.

seumpama mati.

hidup adalah bertahan.

di tengah segala putus asa.

cinta seperti awan yang ranggas.

tak ada yang disentuhnya.

selain langit yang padam.

turunlah hujan dan turunlah pula malaikat.

seraya berbisik—

“usaikanlah kenangan, ranggaslah kesedihan.”

(2019)


Ruang Maaf

tak ada yang bisa dijawab setelah persinggungan

antara baik dan buruk.

tangan kanan tak lain kabar yang semu.

serupa sebuah sentuhan dan pukulan kecil di bibir.

tebakan buruk dianjurkan untuk diubah menjadi kapal

di buritan, air menyepi dan menggantung pada lengan kiri

menjelma pundak bagi si murung.

terbuat dari apakah jawaban?

seperti kalung tanpa liontin, malam

tanpa suara jangkrik, jalanan

tanpa pengendara, aku tanpa kau.

untuk kembali mengikatnya

entah seuntai tali atau makian— perlu ditautkan

pada sebuah huruf yang saling bersisian

hingga kita dibuatnya jatuh cinta.

sebab tak ada pertanyaan yang berganti

pahala dan dosa tak ubahnya sepasang kesalahan

yang tak hentinya direngkuh oleh maaf.

dan ketika segalanya usai.

usia mengabur dan bimbang memandang.

masih adakah ruang maaf di kepalamu?

(2018)


Perihal Masa

Aku magrib, kau subuh.

Kita senasib, tapi tak utuh.

(2019)


Eko Setyawan, Lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar.Kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (2017). Karya-karyanya tersiar di media lokal dan nasional.

Puisi

Puisi Saiful Bahri

malam

malam masih dibingungkan

dengan derita yang hujan bawa:

entah lebih jauh mana antara jarak

tanpa tempuh atau rindu tanpa temu?

pagi memilih mata hujan bertandang

merayakakan gerimis bayang-bayang

(2019)

cincin waktu

empat ribu hari daun bersemi

ia teringat bunga kembang

merayakan cincin melingkar

umpama hujan rintik berkabar

cincin hujan di tangan waktu

pertanda aku merindukanmu

suara telepon, suara hujan,

suara ayam di kebun frasa

semuanya tengah gembira

nun di alifnya hijrah pergi

ke tanah ritme mahligainya

(2019)

Malam Rabu

Suara-suara alif kiai

Serupa suruhan senja

Melampiaskan makna

Hujan tadi sore pergi

Kalimat tinggal dua

Nama aku dan kamu

Jumpa malam hanyut

Pergi ke sungai kali

Ikan-ikan diam bisu

Daun tetap tumbuh

Kaloni mimpi kata

Selatan arah kami

Ada rona perempuanku

Malam Rabu kesaksian

Menyaksikan perasaan

Bersaksi dan beraksi,

Bahwa kita ini puisi

(2019)

Zikir Waktu

Cinta dan percintaan tengah saling bermesraan.

Di luar hujan badai sedang di dalam api berandai.

Petir hitam malam menyambar serupa waktu-waktu bisu.

Berzikir adalah kebiasaan yang dirahasiakan riak doanya.

Zikir waktu. Zikir yang tak pernah dirahasiakan api malam

Di bibir waktu. Suara tengah melintas ke ubun mata alis api.

Halal kita tiga puluh hari kemudian. Gurun singgah di mata.

Berulang kali epilog dan keterbatasan alur cerita yang hanya

sampai di batas doa dan namaku menjadi waktu paling zikir

(Selasa, 30 April 2018)

Restu Kita

Kita dan waktu duduk meminum

campuran sepi dan puisi. Kongko.

Sesekali puisi dan kopi merasa

cemburu melihat rindu minum restu

Entah barangkali kita adalah mohon

yang dirahasiakan doa di ubun restu

Ya, Tuhan. Restu kita restu puisi

(2019)

pernikahan aku dan hujan

petang. pernikahan aku dan hujan disaksikan

kabut hitam yang menyambut tamu undangan

terundang petir awan duduk rapi di pangkuan

bahwa aku telah resmi disaksikan kesendirian

jejak rabun mata laun. angin hitam bertiup lunglai

hanya saja hujan kabung menerjemahkan sayap burung

ada banyak tamu undangan hadir di laman hati rumput

di antaranya adalah kenangan, kerinduan, bahkan kesepian

pernikahan aku dan hujan, basah, kuyup,

keindahan yang kuundang, yang datang bayang-bayang

(Pangabasen, 2018)

asmaraloka

“di sini, mereka lupa kata

angin dan aku bercerita;

   tutur daun aku gugur,

      cetus jauh aku jarak,

         ucap mendung aku hujan,

            kata rumput aku rasa,

ucap rasa aku kata; gampang

mencintai, tapi susah dicintai

(Bungduwak, 2018)

ilmu

belajarlah ilmu resah. paling tidak sesekali dalam ilusi.

memang iya. ilmu itu susah sekali. boleh saja kauucap

gampang, tapi kini, kau belum fasih menerangkan

bayang-bayang. tak ada ilmu gampang. merindu(pun)

butuh kamu. bahkan, mencintai butuh puisi. yang

gampang hanyalah ilmu percintaan, selain bab kerinduan

(Bungduwak, 2018)

taksa

sederas tangan hujan berdoa.

ia duduk, melamun, kadang

hijrah jatuh melilit makna abu

lunglai di mata batin kayu.

kayu-kayu daun terhindar

dari kemarau api gelisah.

searah mata hujan terpana

merias desir-desir makna.

(April 2018)

Saiful Bahri, lahir di Sumenep-Madura, pada tanggal O5 Februari 1995. Mengabdi di Madrasah Al-Huda. Mahasiswa aktif di STAIM Terate Sumenep. Selain suka menulis, juga aktif di kajian sastra dan teater “Kosong” Bungduwak, Perkumpulan dispensasi Gat’s (Gapura Timur Solidarity), Fok@da (Forum komunikasi alumni Al-Huda), Perkumpulan (Pemuda Purnama), Pengasuh ceria di grup (Kampus Literasi) dan pendidik setia di komunitas (Literasi Kamis Sore). Tulisannya di berbagai media, dan beberapa Antologi Bersama. Buku puisinya: Senandung Asmara dalam Jiwa (2018).

Puisi

Puisi Anjrah Lelono Broto

Patah Hati

Jangan lagi ada janji padanya

Kumpulan berlimpah air menyegara

Laut tak butuh lagi ikrar

Lukanya telah menulis mengakar ke dasar

Bilamana masih ada janji

Di saku, di laci, di almari

Dia bersungguh patah hati.

Suara laut beranjak sayup. Mengertilah

kesabaran juga berbatas galah

seperti jatuh cinta pada ombak yang pecah

laut juga bisa patah hati. Bila lelah telah

menjadi muara sekian janji

(Surabaya, 2019)

Mengulang Pertemuan

entah telah berapa windu berlalu

engkau menulis tentang kealpaan

untuk menasbihkan dada juga bahu

selayaknya tiang pancang sandaran

sebentuk napas bernadi biru,

berawan merah jambu, bernapas lugu,

juga beraroma tembakau

jatuh kemudian

“sedemikian menjulang

kerinduan akan duka?”

pertanyaan di hulu hujan

itu kubawa lari langgang ke ladang

terbiar sampai perdu setinggi pinggang

putaran jarum jam lalu menjura

dada juga bahu lalu pun berseikat

menjadi sandaran melukaimu

dan perulangan pertemuan di masa dulu

terasa serupa simponi beralas cadas bebatu

(Mojokerto, 2019)

Senantiasa Sudi

Hingga sampai sebuah peristiwa, untuk kali ke sekian

keyakinan pada teduhnya pandang mata itu dihadapkan

ujian satu, ujian dua, ujian tiga, terus sampai ujian

tak lagi berangka. Jika kemudian ada sesal bertaburan,

kecewa berhamburan, Sayang, itu aku, bukan!

Kau mungkin pernah menziarahi prasasti

dengan timbunan baju zirah dan namaku terpatri?

Tak dapat kupungkiri, tapak-tapak kaki

ini terasa berat beribu kati

sarat luka yang kita garit sendiri,

dari pagi sampai pagi ke seratus ribu pagi lagi.

Tapi. Simpan jantungmu di almari

ketenangan. Bukan aku yang menduakan, apalagi

menjadi pelakon kisah-kisah pengkhianatan (diri).

Teduh matamu masih seindah lengkung pelangi

kemarin, sekarang, juga nanti.

(Mojokerto, 2019)

Wajah-Wajah Penantian

wajah segelas anggur adalah penantian

hangat namun membubung-lupakan

penantian lalu serupa wajah kepompong kupu-kupu

diam selalu serta pekat harapan tanpa ragu

terkadang penantian menjelma wajah pukat harimau

tertebar dan segala ikan diterkam mau

penantian pun mampu menjadi wajah cermin

buram, retak, bahkan pecah saat nir ingin

di muara usia, wajah penantian adalah penantian

tak ada gelombang; mematung di baris antrian

(Mojokerto, 2019)

Kereta Kenyataan

Nampaknya kereta akan segera tiba

kaki dan matanya disimpan jauh di lubuk

tak terjangkau gapai tangan-tangan kita,

“Kalau engkau enggan, aku bisa mohonkan

padanya, agar gerbong itu tak menelan

lalu cerita kita dilanjut-bacakan

sampai banyak yang berseru kehilangan,”

kataku padamu, sementara auman

kereta itu menyerbu telinga penuh perasaan.

“Di ngarai yang akan kutuju,

akan terajut cerita sebiru ini, tak perlu

risau kau tikamkan bersanding kelu,” jawabmu.

Kereta pun telah membujur lalu menamparku

dengan peringatan; “Siapkah aku

menerima? Kenyataan bukanlah harapan itu.”

(Malang, 2018)

Kitab Luka

Tapi,

bagaimana jika aku kencing berdiri

dan jakun kemudian tumbuh di tepi?

Pencarianku tentang akar

kemudian sampai pada halaman

kitab batang, dahan, daun,

bunga, buah, dan benih.

Di kitab terakhir,

kupukul perutku kencang-kencang.

Di sana,

tak ada rahim yang menggelinjang.

Serapah lalu menjadi kelaziman

yang mengalir, membuncah, dan

muncrat ke segala arah.

Kukutuk siapa saja,

kukutuk apa saja,

bahkan sesuatu yang bertahta

di lapisan luka kulit (entah) ke berapa.

(Surabaya, 2019)

Serupa Menimba Air Mata dari Tempayan

biar saja hujan menghapus kemarau

membasahkan tanah merah

membasahkan batang rebah

air mata tak melukiskan

sekian warna

air mata serupa

lonceng yang berdentang

sekali

lalu sunyi

pegang lengan ini

tak ada yang memilih menjadi berarti

dan atau tanpa nama sama sekali

tapi menjadi muara harapan

adalah pilihan

meski tak berbeda dengan

menimba air mata dari tempayan

di dapur rumah sendiri

(Mojokerto, 2019)

Diterkam Gamang

Lembaran demi lembaran daun ini bersulamkan benang berdebu,

bertuliskan catatan panjang tentang bulan juga kupu-kupu.

Lembarannya telah usang dan sudut-sudutnya hilang disudahi waktu.

Bersama perca-perca harap dilepas rindu

dan kekecewaan bersandar di dermaga kalbu,

selangkah maju memikat di gamang membukit-membatu.

Apakah semuanya akan seperti isi lembar demi lembaran daun itu?

Pertanyaan berkalung melati itu membuat semuanya menghela

nafas tanpa sesumbar dan bintang jatuh di atas para-para,

pecah, berai, sunyi. Aku segera saja menyalakan tungku tua,

kuseduh secangkir teh. Lalu, aku ingin menjemput impian yang tersisa,

tinggal selembar pula.

Diterkam gamang, aku mengukir prasasti pengakuan. Sebab di jalan,

aku berpapasan dengan perempuan muda yang

membawa kisah lain. Tentang kupu-kupu bersayap pedang

yang memakan lembaran-lembaran daun catatan. Dan aku segan menghadang,

karena aku terlalu lelah dan ingin segera tidur setelah sepanjang

usia ini diterkam gamang.

(Mojokerto, 2019)

Laki-Laki di Mata Perempuan Ketika Musim Bunga

telah usai sebuah musim bunga

batang pohon lipat dedaun bersahaja

setangkup kuncup pun tiada bersiul

tak ada sesal, tak ada sesal, air mata memanggul

     telah kucium beragam bunga

     dan sesajen mengutuk kaki yang kubenamkan di tanah *)

menambatkan perahu hati

adalah pilihan, sejak anak-anak pertama Adam-Hawa

namun ada yang menguliti tubuh ini

meski ruh masih di kandung badani

kerna perahu tertambat di tiang pancang sudraloka

alangkah kejam laki-laki di ufuk pandang perempuan

kami bebas melengkungkan janur

sementara mereka mengaduh

saat pecah perawan dan atau melahirkan

(Surabaya, 2018)

*) bait kedua puisi “Patiwangi” karya Oka Rusmini, Horison – XXXV/4/2002

Anjrah Lelono Broto tinggal di Trowulan-Mojokerto. Menulis esai, cerpen, puisi dan geguritan. Bebeberapa karya pribadi dan bersamanya adalah Syukuran (naskah monolog, 1998), Blossom In The Wind (saduran naskah teater, 1999), Lilih (antologi geguritan, 2004), Negeri Di Angan (antologi esay, 2008), Esem Ligan Randha Jombang (antologi geguritan, 2010), Orasi Jenderal Markus (naskah monolog, 2011), Pasewakan (antologi geguritan, 2012), Tasbih Hijau Bumi (antologi puisi, 2014), dan Emak, Sayak, Lan Hem Kothak-Kothak (antologi cerpen berbahasa Jawa, 2015). “Nampan Pencakan (Himpunan Puisi, 2017). Karya naskah teaternya “Nyonya Cayo” meraih nominasi dalam Sayembara Naskah Lakon DKJT 2018. Dapat disapa di e-mail:[email protected], FB: anjrahlelonobroto, IG: anjrahlelonobroto

Puisi

Puisi Rizka Nur Laily Muallifa

Memasak Ibu

perempuan kecil memasak
untuk menghadirkan aroma tubuh ibunya

(Sala, 2019)

Apakah Cinta Itu

di jauh, gadis kecil bertanya
pada ibu di rumah
apakah cinta itu, bu?
cinta itu, nak
saat kamu tidak berhasrat mengubah apapun
dari orang lain
pernah kamu jatuh cinta?
kupikir belum
bahkan kepada ibu?
ya, bahkan kepada ibu

(Sala, 2019)

Halaman Belakang

kesedihan adalah mengalami pertemuan
beku
kamu tak percaya diri menemuiku di keramaian
aku tak percaya diri mencintaimu

apakah kita perlu sering-sering bertamu
di halaman pungkasan majalah mingguan
sekadar untuk bertemu
di ruang depan pikiran

(Sala, 2019)

Setengah Hari

siang baru setengah dan miring ke kanan
sebab hujan tak bercabang
bertamu di himpitan pintu kamar
di dalamnya, mataku
hilang di tiap gigitan jambu

orang-orang kecut memandang
nyala neon
seperti ilustrasi komet jatuh
di pelajaran IPA sekolah dasar
mengumpati sabtu yang gagal tidur

(Sala, 2019)

Aku Tidak Suka Bekerja

aku tidak suka bekerja.
kecuali minggu,
hari-hari jadi sibuk dan menyebalkan
aku jadi tak punya cukup waktu
memandang buku-buku

sebetulnya kamu juga, tidak
suka bekerja
tapi bekerja sudah jadi
kehidupan itu sendiri

kenapa begitu?
karena bapak sudah jarang memberi uang saku
kamu anak laki-laki, dan harus
mandiri

(Sala, 2019)

Puisi di Jalan

di jalan
aku sering jadi puisi

sekian kilometer puisi tak tercampak
ingatan
duduknya tenang
menyusun diksi sesuai warna baju

lampu tiba-tiba memerah
wajah puisi jadi ramah
diantarnya senyum koma ke tiap-tiap arah

di puluhan jalan berlubang
puisi membenamkan diri
mengamati
batu-batu kecil bergaun malam

setelah tanjakan
puisi hilang di belokan
ia, tak pernah sampai rumah

(Sala, 2019)

Lelaki Bermata Jauh

waktu dan keriuk kerupuk hijau pernah kita simpan
baik-baik di toples bekas biskuit lebaran
tiap susunan kita tata dengan pertimbangan setiti

dua ratus tiga puluh bulan kemudian
di hari rekah, kita kalah
dan sepakat tak ada lagi tiket terselip di jendela kereta yang muram
kita pilih gembok tanpa kunci untuk stasiun kota yang tenggelam

(Sala, 2019)

Rizka Nur Laily Muallifa.Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lain sebagainya. Aktif di KomunitasDiskusi Kecil Pawon, Kisi Kelir, Bentara Muda Solo