Puisi

Puisi Tjahjono Widarmanto

Lelaki yang Memilih Jadi Musafir

lelaki itu seperti burung membumbung tanpa restu

meninggalkan jejak-jejak tanah, meninggalkan peluh

tak terhitung jumlahnya. tak terjumlah hitungannya

:guru, lihat langkahku, minggat meninggalkan cahaya

agar bisa kutahu bedanya malam dan siang!

kalau aku hanya merenung dan membakar dupa di bawah hayat itu

tak akan pernah kutahu segala  tipu daya,

tak akan pernah mataku awas menafsir suka dan luka!”

lumut-lumut selalu tumbuh di tempat paling keras dan basah

justru membuat segala kaku yang tegang jadi lembut

justru di rahasia segala fana bisa ditakwil segala pengetahuan

“guru, kau boleh melaknatku sebagai murid paling durhaka

 tapi bukankah kau pernah mendongeng: tak boleh kau pasrah

pada rajah tapak tanganmu sendiri.maka, restui aku memilih musafir

berjalan menempuh apa saja, barat utara-timur tenggara

memilah rahasia kutuk dan pahala!”

2019-2020


Pagebluk (5)

jalanan lengang. amat lengang

hanya sinyal-sinyal kematian terus mendenging

dan mendengung hingga batas paling utara

jalan-jalan lengang. terlampau lengang

lamat-lamat arak-arakan prosesi

mengantar jenazah ke liang lahat

hanya berbelas orang berjalan

merunduk bisu menatap debu dengan cemas

:”jangan-jangan jejaknya memburu ke arahku!”

di tepi paling utara

segala hasrat membumbung ke langit

seperti sekawanan burung menggelepar

sebelum rontok jadi bangkai

hasrat pun tinggal dengus napas

hanya berbilang sampai hitungan kesembilan

di batas paling utara. melintasi jalanan lengang

prosesi arakan jenazah tunduk merunduk murung

menghitung sunyi yang menyisih

: aku, kau, kami, kalian

tak sanggup bicara apalagi bercerita:

lintang kemukus merayap pelan dan khidmat

menuju hari sampai pada badai gelapnya.

2020


Riwayat Kota Mati (2)

kami berjalan menunduk tersuruk-suruk tanpa sandal

diburu malam yang jadi waktu paling abadi

melacak penanda alamat rumah-rumah kami

: “ah, ini kota atau belukar!

 atau cuma tanah lapang tanpa pohon, apalagi papan!”

kami berjalan lagi. menunduk tersuruk-suruk tanpa sandal

menuju entah. mungkin menghilir ke arah bilangan nol

dan dengus angin lantang menuding: “sembunyi. sembunyilah. di kolong ranjangmu!”

kami berdiri capek dan lunglai. kami tak bisa ke mana-mana

pasrah pada malam menyergap dan menyeret ke arus gelap.

2020


Wangsit Langit

apa yang kau tebak dari warna langit yang menderu itu?

seperti teka-teki tempat tanpa peta yang khianat kepada pagi dan secangkir kopimu

bisakah warna itu membuatmu menggeremangkan larik-larik puisi octavio paz

serupa kau tembangkan suluk-suluk keramat yang disingitkan waktu?

mungkin dalam heningmu, warna-warna berubah hanya jadi kelabu

seperti bayang-bayang remang masa lampau yang melambai pada sejarah

langit tetap menderu dengan isyarat-isyarat warna

engkau pun bersila serupa samadi

namun hanya gumam-gumam nglindur yang nyinyir

dari mulut para perempuan yang hanya sibuk berpupur.

2020


Suluk Hitam Musafir Majnun

I

Demi musim. segala musim. segala kemarau. segala rendeng

biarkan aku berjalan, walau gontai menakik tanda melacak sangkan paran

keleluasan jiwa seperti saat cinta nglangut di teduh sore

lantas menyuruk di kepongahan pekat malam.

Pucuk-pucuk ranting tanpa daun menjulang menyodok langit

: Duhai, segala rahim adakah engkau tempat segala misteri raib

lanskap jalang semua kutuk dan nujum berkejar-kejaran.

Di situlah semua jadi serupa berdesak dan berduyun-duyun

menuju takdirnya yang terlepas dari kitab rahasia lantas dipahatkan

di urat-urat telapak tangan kiri

II 

Inikah suara yang masih pantas dihikmati

ketika sabda-sabda mawar direngut kemarau

dan ulat-ulat bulu menggerogoti taman lembut di hati

suara dan musim susut pelan seperti usia kisut

: oo, keluasan jiwa masihkah bilikmu menyimpan teduh puisi?

Segala batang kehilangan ranting, julangnya menyodok langit

namun rahasia itu tak pernah berkabar

suara-suara tak lagi bangkit, mefosil seperti sedimen bahasa

pun segala lambang beku serupa mayat.

: ooh, rahim-rahim tak lagi mengenal kata

hanya dijejali  jasad lapuk yang tegak dan jalang!   

III

nun, di pagina-pagina sebuah kitab yang konon keramat

tersebut sebuah nujum yang sakral tentang kristal-kristal bercahaya

bintang-bintang berkejaran memburu masa depan yang dicerai masa silam

tanpa bunyi yang telah mengkhianati suara

di sanalah ufuk maut menelikung dalam malam

: ooo, lihatlah takdir itu berduyun-duyun menyergap.

Siapa bakal ikhlas melepaskan fana?

Siapa akan melepaskan doa-doa ke langit?

Tubuh-tubuh kehilangan lembutnya

mulut-mulut mengulum tenung

bintang-bintang gemetar ketakutan

takluk pada tiang aurat yang tegak menjulang

semua pesona ambruk perlahan surut dalam liang lahat.

IV

Tubuh seperti sebatang rokok

lambat laun pelan kehilangan ujungnya

dihisap abu. lantas bertaburan ke segenap arah

seperti jejak kaki seorang nabi melacak kekasihnya

di pesisir-pesisir dengan gontai kepiting

berjalan miring menyuruk pasir

            : hai, musafir bukankah kau tak perlu untuk kembali pulang?

Segala arah memburumu, namun tak ada musim panas

di punggung gerimis maut bersijingkat mendekat

: adakah sesuatu yang masih punya makna?

Musafir ini, merasa tubuhnya dibangkitkan kembali

konon seperti asal mula lempung yang dibentuk

sehingga mengembang muler mungkret

Lempung ini sekarang dibebaskan dari segala kutuk

dan siksa kubur menjadi duta yang mi’raj dari kedalaman hati

menuju ke arah kelam yang tak terbaca

            : selamat jalan, duh ruh yang dilepas raga!

V

Tak kemana-mana. ini bukan jalan itu

hanya ceruk rongga waktu menyedot malam ke dalam kelam

maut.nafsu.berkejaran.berkilat-kilat mendekat dekap

tubuhku menggigil, fanaku pelan merintih

: di mana puisi?

  aku ingin membacanya lantang-lantang!

Tak ada yang tahu. tak ada jawab

cuma pilu mengundang kenang

dunia mendadak meruah pesta

dan kureguk saja melupa jeda

VI

Telah semua kureguk segala.tuntas

segala duka. segala luka. segenap lalai

: ooo, mana lagi hitam yang kucecap?

                                                            (Ngawi, Februari-Maret, 2020)


Tjahjono Widarmanto, tinggal di Ngawi. Buku puisinya: Kubur Penyair (2002, Diva Press:Yogya), Kitab Kelahiran (2003, Dewan Kesenian Jatim), Sejarah yang Merambat di Tembok-Tembok Sekolah (2014, Satukata:Surabaya) dan buku lainnya.

Puisi

Puisi Jonah Mario

Gymnopédie no.1 dan Kesedihan

Kelokan-kelokan ini. Sungai meresap

ke dalam batas penglihatan

sehingga kita menganggap

gema-gema kecerian anak kecil itu

berlarian di atas sebuah tanah kosong

di atas sebuah benua dengan kaki telanjang

biru muda atau entah apa.

Lampu-lampu apartemen

balkon memangku buku

yang dibuka terbalik; pajangan dunia

yang dapat susut

orang-orang berpesta sampai malam

dengan kemeja kerja.

Jam tangan. Hari-hari ini.

“Kristal

terus tumbuh dan perusahaan-perusahan

membersitkan ubin-ubin gua

dalam laboratorium di pinggir jalan besar

yang kosong. Tak peduli tanggal berapa.

Beberapa orang dapat mati dengan penuh gaya.”

Lagi-lagi aku lupa mencatat

apa-apa yang perlu dari supermarket.

Sedikit biskuit.

“Kata orang kita memakan benak kita sendiri.”

Kalimat itu tidak kubaca di koran.

Jemu sekali kemarin. Dan hari ini

Pekerjaan apa yang dapat mengelakkan kita

dari ditusuk benda tajam yang tetap kelabu

seperti kematian orang tua

kerabat

orang-orang terdekat lainnya

“Tidak usah. Nanti kita rangkai bunga sendiri

kita foto dan beri catatan kecil

tentang wisata alam yang masih buka.

Parsel dengan gemuruh dan petir

dan pegunungan bekas tragedi perang.”

Pernah kulihat lampu merah yang terus-menerus merah

kuperhatikan dan aku jadi teringat

orang-orang yang mengetik sampai malam.

“Sampai jumpa besok ya.

Kerongkonganku kering sekali.

Aku juga harus mencuci baju

dan sempat lupa harus menyiram tanaman.”

Kargo-kargo melintas.

Teluk gelap.

Membengang.


La Nina

Gerimis mengantar sebuah pertanyaan:

Apakah segala sesuatu selalu dekat

dengan kemusnahan?

Akan datangkah gerimis

ketika waktu terbenam

atau malah kau yang datang dengan segenggam tanda

akan berakhirnya lautan-lautan?

Aku tak pernah berhasil menemukan istana di pinggir pantai

seperti yang pernah kau ceritakan.

“Istana yang dibentengi kincir-kincir angin

sejak matinya cuaca di balik pegunungan mimpi.”

Selain itu, hanya jeda

yang meniadakan pesan dari ruang yang jauh.

Dengan tubuh yang semakin hangus,

aku menahan kata yang menjadi kesesakan di dalam diriku

sampai ia merintih untuk mendapatkan kembali

malam yang sudah melemparkannya

ke dalam bara sunyi

tempat segala yang ada pecah

menjadi wajah bagi kemenangan-kemenangan

yang kecil dan sepi.

Dari sini, terang melaju ke ujung ufuk

ke belakang kapal-kapal peninggalan luka

yang membawa orang-orang merenungkan belantara badai;

Badai jatuh di lantai rumahmu

seperti sepetak cahaya matahari dari jendela

yang tenggelam mendahului lamunanmu.

Di dalamnya, kejadian menutup bersama mataku

yang berhenti merangkai keinginan

untuk mengejar hal-hal yang tidak terjadi.

Saat gerimis menderas, aku memperhatikan buku-buku di rak

menyembunyikan cerita sejauh mungkin

dari keinginan untuk mengetahui

untuk memiliki kelam tanpa harus membangunnya dari awal.

Tapi, di sana,

di reruntuhan kertas dan istana,

ada kau

bersama taman-taman yang membeku

dan orang-orang yang sudah kepayahan

karena terus menyusun ulang dirinya.

Di sana, sepertinya kau sedang berkata-kata

sedang menyusup dari satu petir ke petir lainnya

sambil mengantar sebuah pertanyaan:

Apakah segala sesuatu selalu dekat

dengan kemusnahan?


Komposisi Kepulangan

Ada beberapa yang mengatakan

bahwa tersesat adalah melihat cinta

di kedalaman mata.

Tidak di matamu.

Cinta telah ditelan kesunyian samudera

yang berdenyut meninggalkan tidur siapapun.

Dengan segenap kesadaranmu

yang patah-patah dan menggantung di sepanjang jalan,

kau terus menapaki dunia

bersama atau tanpa bayangannya;

Inilah kesepian.

“Kita gagal,”

kataku kepadamu

seraya menyaksikan

manusia berjatuhan

dari menara-menara

dengan mulut dan mata tertutup rapat

dari gedung-gedung gelap yang tak pernah menyimpan

kenangan-kenangan.

Dari dalam genggaman lelah matamu bertanya:

“Adakah tempat berteduh?”

Adakah yang lebih mati daripada malam di luar alam semesta?

Aku ingin berada di sampingmu beberapa saat lagi.

Aku ingin mendengar kabar teman-temanmu yang lukanya tak pernah kudengar

aku ingin bermimpi

mengenai tempat-tempat yang dijagai pohon-pohon dan dirangkum gunung-gunung

dengan nama yang begitu terjal.

Aku ingin tahu apakah kau pernah

menjadi orang-orang lain

dalam ingatan kota-kota asing dan orang-orang yang kau tinggalkan.

Dari balik sisa-sisa jendela,

aku melihat langit berakhir

dan semua orang yang tak pernah mengenal kita pergi

mencari peristirahatan terpencil;

Adakah yang lebih dalam

dari hening malam hari

selain ingatan yang tersesat di percakapan waktu?

“Ada.”

Jawab matamu.

Matamu yang bergemuruh.

Matamu yang tak mampu

menceritakan segala sesuatu.

-Warunk Upnormal, Jakarta Barat, 18 November 2016


Atau Benda-benda Asing yang Lain

 “My incapacity to think, to observe, to determine the truth of things, to remember, to speak, to take part in the life of others, becomes greater each day; I am turning into stone. If I don’t save myself in some work, I am lost.”  -Franz Kafka

pola cahaya di landai kertas.

Tidak terdengar

gelegak

“Apakah berdiri lagi

kota tembus pandang itu;

jendela-jendela kalis, hujan ruang

selesa yang tak pernah menderit juga?”

Tersaput segera.

Di atas kertas, debu tergamang.

Lipatan ketersembunyian mendebur

pada benua yang lain

“Yang terkubur setiap kali meja-meja

kursi-kursi dipindahkan

dari khayal ke khayal”

Maksudmu dari kedai ke kedai

dari waktu yang bangun di ruang tunggu

ke pucuk pohonan

di atas sabana inersia

tanpa usaha mengingat, segala hamparan

akan menepi kepadamu

“mari larungkan semua kata yang pejal ini ke dalamnya

agar ada yang menanti kita

agar ada surat-surat yang menebal

seperti sepul angkasa”

di mana saat-saat terakhir menghampirimu

tapi hanya komet

atau pecahan gelas

atau ujung plastik yang meleleh

buah kenari yang kau singkirkan dengan pinggir kakimu

sewaktu berkeliling pada ruam tengah hari


Hari Ini atau Kemarin Madotsuki* Tidak Melompat dari Balkon dan Itu Adalah Hal yang Baik

“Juga hari-hari makin sendu.

Bayangan demi bayangan memejal dengan sikap yang mudah kukenal.

Jika kuajak bicara, segera aku sadar

bahwa aku hanya sedang mengkhayal

aku sedang mengajak mereka bicara”

barang-barang dan ornamen-ornamen di meja. Seperti melukat tanpa waktu

berbuih dengan gelombang yang membura

dari bintang-bintang bercincin.

“Seperti apa bintang-bintang menyingsing

dari kaca gedung yang sepi.

Aku pernah membacanya di sebuah majalah.

Hari itu hujan (aku tidak bisa membedakan

hari hujan dengan tiupan angin hutan).

Artikel itu bermalam

di sebelah tulisan tentang lagu-lagu

yang rilis tahun 70-an,

kalau tidak salah”

Percakapan normal. Lampu meja

yang tetap dapat dinyalakan

meski dengan merambang

seputar diri. Titik yang tersaruk

menjadi garis

selisip antara jurnal-jurnal diretas

oleh lamunan. Lima sore. Buku teks

gema yang jauh di bawah sampul. Lima pagi.

Dan seterusnya dan seterusnya.

“Tonggeret! Lihat, lihat!”

di trotoar sebuah minuman kaleng menggeleser jatuh

dari kantong belanja. Berbunyi sekali.

“karena jika pintu kubuka,

aku akan selalu menahan ngeri

kalau-kalau di sebelah sana

adalah sebuah lembah

yang sedang memulai sebuah festival

sangat pelan, lebih lamban

dari mimpi-mimpi yang mulai kucatat.”

*dari nama tokoh game dengan judul Yume Nikki, mengenai penjelajahan lanskap mimpi-mimpi buruk


Animal Laborans

“Di balik wajahmu terpendam air hujan”

“Benarkah? Biar kukeringkan”

Abu seekor anjing kecil tertidur

di bawah jendela ruang tamu

petir dalam tengkoraknya. “Di balik wajahmu

terpendam gema

bertitik-titik”

Ritme palu dan hantaman arsitektur

dari selembar print

memunculkan tangga bukit yang dipagari kebetulan; Siang mengering kuning, sesaat mengagetkan,

seperti sekaleng cat

Seorang pria tertidur di sofa, tak kita kenal

kecuali mungkin baju pelindung

pabrik-pabrik dan aroma lelehan besi

menggeriap di antara paranoia

hantu-hantu 

kreasi para budak

“Yang pasti akan kita dapati

padang rumput dengan bunga-bunga kecil,

orang-orang datang terlihat

berdenging berdua-dua

seperti bercak darah sebuah gamparan.

Segar. Musim semi bermandikan lampu taman

kastil purba dan kelengangan.”


Panduan Bercakap Mendekati Tengah Malam

Di langit hening, pantulan kota terbuka.

Yang namanya kerinduan tak pernah ada,

yang diuntai

dengan serabut angan dan semacamnya.

Jangan memperkirakannya sebagai misteri;

Orang-orang melepas nama, merasuki

mesin pencari

semesta-semesta 

Setahap. Setahap.

Kombinasi angka dan gerbang-gerbang mikroskopis

dalam pikiran yang tak bisa gelisah. Mekanisme untuk kembali.

“Entahlah. Aku mendengar sesuatu,

tapi tak yakin apa. Kunci kamar di atas meja,

dekat lampu tidur. Pintu rapat dalam dirinya.

Kunci menuju diriku

pola geometris bayangan-bayangan di taman

tadi jam enam.”

Di zaman semacam ini. Di waktu dan hari begini. Menyelam terus

hingga mendapati inti zat;

Massa sesuatu yang mendekati kekal.

Mengukur khazanah yang sudah terkupas.

Ada yang menyebutnya sebagai lapisan tersembunyi,

ada yang penampakan. Simpangan masa.

Tidak lebih.

Di zaman semacam ini.

Di waktu dan hari begini.

“Langit hening pun bukan di sini.”

Segalanya terlalu terbuka. Bahkan cahaya.

Tak bisa lolos hari ini.

“Seperti ini dalam diriku. Aku bermimpi. Kadang. Aku ingin sendiri tapi, ya,

aku sudah sendiri ketika kembali.”


Dan Satu di Antara Mereka Bercakap tentang Hal yang Belum Berlalu

Dari detak kesepian

kepalanya yang kelu terbias.

Ia perempuan yang merentangkan kesayuan

menjadi seperti kelip yang tak dapat kau duga asalnya

“agar segala hal yang bagiku tersembunyi

pun bagimu tersembunyi.

Agar kupegang semua tangkai kegetiran menjadi milikku.

Seperti itulah kelahiran manusia

dan benda-benda ciptaannya.”

Namun, sebenarnya ia hanya terduduk di situ.

Di belakang setir.

Kedipannya tak merampungkan apapun

yang telah terjadi.

Yang sedang terjadi dan terjadi lagi.

Di belakang, seorang laki-laki

mati mengejarnya sepanjang hari.

“Hari-hari tumbuh dalam ukiran,

di ruang-ruang hening kerajaan

yang sedang menuju kekalahan.

Dalam tenggorokan dan

cekungan tengkorak massa yang memimpikan

hal-hal besar. Hal-hal besar dan jauh.”

“Jadi, mereka itu mati

oleh kelelahan? Oleh kekalahan

yang disebut-sebut banyak orang sebagai cinta, pengkhianatan

dan segala musim lain yang menyempal dari antariksa kebolehjadian?”

“Sebenarnya, tidak.

Mereka mati. Dan bagi kita

bagi kita itu cukup.”


Setelah Meninggalkan Warehouse

Di atas kepalanya malam meluas

merambak mengikuti rumput-rumput tandus dekat rel:

jam begini pertanyaan sengaja tercipta

“Apakah benda-benda angkasa

suatu saat akan menimpa kita

kita seperti umat manusia lainnya

tercengang karena masa kanak-kanak telah usai

menduga diri kerangka-kerangka besi

yang terkikis faal

fenomena semesta dari alam yang tersimpan

di rak-rak buku. Sintas dalam halaman-halaman

yang kita sentuh seperti menyentuh wajah-wajah yang hanya mekar

dalam masa kecil dan kita berbalik

dan tiba-tiba

yang ada hanya ingatan pudar

mengenai daftar barang-barang yang belum sampai. Gudang bermuatan benda-benda

yang tak ada namun dapat kita lihat

mata rantai dan orbit dan konveyor

dan hidup diatur oleh tabel waktu.

Hidup menimpa dalam tidur, kita tahu.

Kita kehilangan perhitungan.”

namun pikiran semacam ini terlalu berat sekarang

bagi laki-laki itu

yang sekarang memegang setir

menyalakan radio pukul sebelas malam

untuk dirinya, kursi kosong di sebelahnya

memandangi kekosongan jalan tanah

desik yang ternyata hanya kabel listrik

melantur soal betapa pekatnya hitam hutan saat ini dan apakah ia akan pulang

tidur dengan sangat lelah dan bermimpi

tentang tempat yang terasa asing

namun selalu membuatnya

seperti ingin menangis.


Menyelesaikan Kursus Bahasa dengan Skor Kurang Sempurna

-untuk teman-teman Wall Street English Kelapa Gading, juga “hantu-hantu” kenangannya. Singkat, namun tak tergantikan.

terletak di atas meja kaca

kehidupan setelah lagu, bahasa

setelah keramaian

seperti kesibukan pejalan kaki

di bawah tiang-tiang berbendera. Membiarkan mendung mendekat.

“Ah, kalau saja kita benar

baru sampai dari negara lain.

Untuk apa waktu senggang ini?

Untuk apa hawa dingin ini

selain rindu atau keinginan

agar segera pulang?”

Juga pembicaraan bergerak

menggerai kota:

adalah tata letak album

di rak pertokoan di mana kita

tak pernah tiba untuk memulai kesan

bahwa nampaknya

kita pernah bertemu sebelumnya.

“Ayo menikmati kopi

menyusuri mal yang berkejap tetap

di balik kaca-kacanya yang mengenang

orang-orang di balik manekin

kemudian mendengar malam

bergema

dekat taman anjing yang selalu kosong itu.”

Dan aku mengikutimu sungguh-sungguh.

Begitulah beberapa dari kita;

Tak akan mekar jadi perempuan dewasa

yang bernyanyi dengan setelan gaya 80an

mungkin menabrak pagar pembatas

di sebuah jalan tol ketika dini hari

berdering meniru telepon yang terputus

dengan sendirinya.

Memenungkan kedewasaan

di depan monitor; lembur

dan ternyata MRT terakhir sudah lama berhenti. 

Merasakan sebagian diri

melewatkannya; papan tulis, kursi tinggi

klub-klub penuh anak sekolah

untuk menghibur diri bahwa masa muda

“memancarkan pancuran air

yang terjaga di tengah alun-alun

dari negeri-negeri cantik dengan dinding kelabu

dan kafe yang menyala

jauh dalam pudar bahasa

yang asing dan berselubung mimpi.”

Tapi, jika setelah aku pulang kelas malam

ada salinan arwah yang masih tinggal

berbisik-bisik

di ruang multimedia

aku menduga diam-diam bahwa

mereka berkata begini:

“akan selalu begitu, juga ketika usia

melewati beberapa dari kita

seperti jendela kereta

dan potongan lagu di sebuah tempat yang membuatmu mengantuk

kita telah berakhir. Kita berakhir

dengan cara seperti ini.

Asing dan berselubung mimpi.”


Jonah Mario, lahir di Jakarta pada 10 Desember 1995. Saat ini telah menyelesaikan pendidikan dari Teknik Industri Universitas Trisakti. Hobi menulis puisi.

Puisi

Puisi Moh. Rofqil Bazikh

Di Sebuah Angkringan Kita Hanya

Berusaha untuk Saling Mengenang

sambil kutatap matamu, dari sana

kepedihan yang tidak bisa

diungkapkan lewat kata-kata

berhamburan, berebutan masuk dadaku

kita hanya punya satu cara

;mengenang sebaik mungkin

yang sudah-sudah

kau balas menerobos sepasang mataku

katamu, keteduhan dapat ditemukan

di mana saja, termasuk di mataku.

selanjutnya percakapan kita

lebih sering ditelan bising kendaraan

sementara kau lebih suka pada diam

di angkringan ini, kita sepakat

cara paling baik mencintai

adalah mengakhiri

lalu menjalani hari sendiri-sendiri

selebihnya kita hanya diperbolehkan

untuk saling mengenang

atau berciuman meski hanya

bayang-bayang

Jogjakarta, 2020


Sebelum Kau Pulang

berhari-hari kita meruncingkan percakapan

meramal nasib masing-masing

sesekali membayangkan rumah kita

yang luas untuk menampung kesedihan

tiba-tiba waktu lekas berlalu, aku

seperti tawanan yang kalah di pelukanmu

selanjutnya kita akan mengatur jarak

mengukur batas-batas kepedihan

kalah di hadapanmu jauh lebih mulia

daripada aku harus berjalan sendirian

menelusuri bukit kata-kata

lereng-lereng bahasa

setelah kubuka pintu

setelah jendela tersibak seluas masa lalu

aku tidak menemukan siapa-siapa.

kau gegas pulang, seumpama tanah

ditumbuhi bibit-bibit jelatang

aku sendirian dihunus sepi logam

kita akan bertemu dalam doa

yang hanya kita sebagai isinya

Jogjakarta, 2020


Cinta Kita Tua dan Hanya Mengenal Kata Setia

sama dengan jarak, umur sekadar perhitungan

ketepatan demi ketepatan dan kecepatan

berasal dari ketiadaan.

cintamu yang tua, setua jendela rumah

dan sengaja membiarkan angin jelita

mengusik tidur kepedihan

seumpama kau menengok jendela itu

dan membayangkan betapa menakutkan

seluruh isi rumah, tidak lebih

dari kenangan rapuh kitab-kitab masa lalu

sebetulnya kau hanya menerka yang tiada

setelah benar masuk, kemudian rasakan

keteduhan lain berpilin di dinding.

cintaku yang tua dan hanya mengenal

setia, kata yang menderas dari jiwa.

sambil mempertanyakan, mengapa

kesepian tidak pernah bisa dilawan

meski kita tidak sepenuhnya tunduk

dengan tenang.

Jogjakarta, 2020


Sebuah Kopi, Sepi, Puisi

di pojok timur, dekat pintu masuk

kita berhadapan. kau seperti menghitung

berapa banyak kesedihan yang masuk

dan keceriaan yang dibawa pulang.

meski terlebih harus kita cuci tangan

agar tak ada ketakutan-ketakutan

masuk ke dalam

berikutnya kau akan menyeduh kopi

dan pahit yang kental di sulbi cangkir

seperti hidup kita, pahit terus ada

kau berucap dan hanya pantas

didengar berdua.

aku mulai sibuk dengan puisi-puisi

atau tidak sengaja meninggalkanmu

dihunus sepi yang belati.

di matamu, kesedihan mulai dibangun

di dadaku, sesak perlahan turun.

Jogjakarta, 2020


Mereka Merawat Jarak

orang-orang berkumpul, lari dari kerumunan sepi

di kesengitan hari-hari.

belajar cara paling baik merawat jarak

mengusir dada-dada yang sesak

mereka mencintai kampung halaman

yang separuh terbuat dari masa lalu

separuhnya lagi, dari kenangan

yang menyusup diam-diam

hari ini orang-orang rajin berkumpul

dunia terlalu buruk bagi penyendiri

dunia yang hanya sibuk mengganti

nama hari-hari

mereka sama-sama merawat jarak

hidup hanya bergantung

pada cara perayaan

pada cara mengurai

satu-satu kesakitan

Jogjakarta, 2020


Menunggu

kami akan menunggu, malam lekang

menuju arah-arah subuh

dan pagi kembali terbit dari matamu

sebaris doa, kami racik

mengalir di penjuru aorta

sebetulnya, malam lebih paham

bagaimana mendengarkan

kepedihan, dengan sunyi mencekam

semisal amuk api dalam sekam

sampai matahari terbit dari jalan biasa

dan bumi sudah tidak dibayang

bayangi wajah sepi

kami terus menunggu, sampai jarak

tidak lagi diberhalakan

sampai keramaian bukan sesuatu

yang asing di padang pikiran

Jogjakarta, 2020


Aku Mencintaimu Lagi dan Lagi

sebuah puisi kutulis dan kuyakini

bahwa ia lahir dan kesakitan

kesepian yang menggunung

sementara dadaku sendiri

tidak begitu betah pada sesak

yang lama beranak diam-diam

maka satu-satunya jalan,

puisi ditulis untuk melawan

kepedihan. dan sakit yang terus

kita kutuk sepanjang perjalanan

namun begitu, aku

aku mencintaimu lagi dan lagi

dan kerap membayangkan setiap

puisi yang kutulis sendirian

mendapatkan engkau di dalam

dengan begitu, macam kesakitan

hanya nama lain dari kesepian

dan mencintaimu adalah tugas lain

yang tidak perlu selesai dengan cara

terburu-buru

Jogjakarta, 2020


Usaha Melihat Diri

puisi ini ditulis untuk mewakili kerumitan

yang kutunjukkan, macam-macam kotoran

melekat di dadaku yang temaram

maka, bacalah puisi ini perlahan

selanjutnya kau boleh menerka

;barangkali manusia diciptakan

dari tanah yang berwarna hitam

kau masuki dadaku, sebuah rimba

dengan salak anjing dan igau serigala

kau temukan belukar terbakar

meski menjuntai juga, sebaris kembang

srigading dengan kelopak menyembah

langit kita yang hening, langit bening

puisi-puisi yang kutulis dengan tulus

sebelumnya juga lahir dari dada berkabung

dari kesalahan-kesalahan

yang darinya seolah aku berlindung

Jogjakarta, 2020


Puisi Ini Engkau Baca Diam-diam

setelah puisi ini ditulis dan seluruh isi

adalah engkau. kuserahkan semua

agar dibaca diam-diam

meski tubuh dalam  keadaan demam

diserang macam-macam kesepian

setelah aku meninggalkanmu

puisi ini lebih berarti dari seluruh

yang tercipta di semesta

dari yang terus mengalir

dari jantung kata-kata

kau membaca sambil terpejam

membayangkan bagaimana

kesepian tidak selalu menakutkan

di dalamnya ada doa kita

yang melantun, menerobos

rumpang dada.

setelah puisi ini dibacakan

tiada yang lebih menyedihkan

dari kepulangan yang pelan-pelan

Jogjakarta, 2020


Hari Raya Kesepian

berhari-hari tanpa engkau, tubuhku

dililit batang-batang kesepian

setelah kepulangan, nama hari

berganti pada kesedihan

kau tidak pernah menatap mataku

dan aku merasa lebih tenang

di cinta yang tidak pernah tenteram

sekali-kali belajar bagaimana lelaki

yang hanya menangis untuk

merayakan kepahitan

barangkali matanya lebih teduh

dari mataku dan seluruh

bagian-bagian tubuh

berhari-hari tanpa engkau, dunia

enggan disibukan selain dari ingatan

apa-apa yang menjamur di pikiran

Jogjakarta, 2020


Moh. Rofqil Bazikh, lahir di pulau Giliyang dan sekarang merantau di Yogyakarta. Puisinya termaktub dalam beberapa antologi dan tersiar di pelbagai media cetak dan online.

Puisi

Puisi I Wayan Esa Bhaskara

Barangkali Sawah Telah Habis

pada petak sawah paling hulu

tanamlah doa, sepagi-paginya

sebelum cahaya hiasi ketinggian

sehasta demi sehasta

bak mata elang

nyalang menusuk bumi

aku percaya padamu maka kusajikan;

ritual tuk dewata

penyelamat dari ketiadaan

sebait doa tak pernah sia-sia

raup air suci tiga kali

percayalah jua padaku

sebait tanda, menyaru kurapal hadap timur laut

kubiarkan dialog masih tetap sama

sudah berapa pengampunan berkecambah pada tubuh ibumu?

mantra mengaliri sawah

lewat pematang, gurat daun eceng gondok

di jalan air beribadah di atas tanah

keluh air, angin, tetumbuhan menjauh

kerut-kerut lusuh jemput subuh

tak tersentuh mimpi peladang rapuh

(2012)


Uma

datanglah

menu sehat tiap pagi

seporsi mimpi buruk

perlahan, suap sesuap air mata penuhi ceruk

dengarlah

kidung suci

di antara kunyah

dengkur-dengkur di kepala

sungguh santapan hari sempurna

(2010)


Rambutmu Helai Berderai

apa kau tangkap pagi ini

sebuah lukisan jejak kakiku

pada ranum bibir pantai

kutangkap senyummu

kurajut rambutmu helai berderai,

pada cermin air laut

kau tarik lurus ke arah lembar waktu

bentuk sudut yang menemukan kita

dua rindu lusuh

cukup cubit lamunan

dan kembalikan aku

yang telah kau gambar ulang

(2018)


Ritual Baca Nasib

setelah kau tarik garis tangan sedemikian rupa

lenguhku tercipta dalam kepala

seperti kata-kata berusaha

berkata: senja milikMu adalah doa-doa rapuh,

pilihlah salah satu, katamu

sebab diam sama saja melipat ganda ragu,

satu kartu kutunjuk, dengan tatap sayu

apa yang buatmu yakin? tanyamu

ada gerak-gerak kehidupan

dalam angan

bisa jadi trauma jadi hari depan, katamu

pada kartu yang kau berikan, jawabku pelan

(2019)


Pada Secangkir Kopi

dalam rindu seorang perempuan

tiada muara

hingga senja jadi tanya, atau jawab jadi janji,

diri esok hari

sebab, telah dititipkannya pada secangkir kopi,

diseduh serta mekar purnama

kuhirup saja wanginya

wangi kata

kata rindu, begitu katanya

dalam rinduku

menyelinap di antara

robusta yang menguap

“mari kita rayakan rindu”

lalu kita rapatkan diri

di semesta angan

(2019)


Bibir Uluwatu

Riak buih menyambar

di antara asam, pahit rindu

pucuk-pucuknya tunduk merunduk

rambat bunga daun balut tipis langsat kulitnya

hingga jelas menusuk dada

Tatkala pujawali ini, sejenak sunyi mendesah

senyumnya ditelan riuh

aku membatu

muaranya di detak jantungku

Di hadapan bisu meru, aku menunggu kutuk para dewa

berserah pada karma

(2018)


Sindhu Sendu

Di bawah langit

sepotong sore makin berlumut

di kelopak pantaimu

sedang pikiran lena oleh mantra-mantra

pada sembahyang terbaik bagi diri

degup hampir lelap, upacara lekas dimulai

bait-bait mantra adalah pesan berantai

pada jarak cakar-cakar ombak,

yang jika sirna dari makna,
yang jika susut dari maksud,
tetap ada di mana-mana

(2019)


Karma Phala

kali terakhir menantikan sebuah amin

kau menjadi aku

aku menjadi kau

ketakutan bakar diri

di hadapan berbagai macam uji

gaung kekidungan

membikin jarak yang belum tuntas dikenang

puja kian lekang

sedang hari-hari kemarin, temaram habis

cahayanya bersukma gerimis

dan ribuan pertanyaan manipis

kemudian kembali menitis

(2018-2019)


Hujan Telah Habis, dan Galungan Segera Tiba

di selembar rumput di halaman pura

kurapal doa,

yang tentu saja bisa kujelaskan!

Mengapa aku menemuiMu?

            sebab:

aku punya rindu yang selalu kurayakan

dengan menyeduh syukur atau menyeruput wangi hatiMu

atau hari ini yang kumiliki telah kehilangan esok

aku punya kenangan,

perjumpaan abadi, yang tak leleh panas mentari

riang senja nanti

aku punya hari-hari ini

adalah hari-hariMu

aku punya mimpi

adalah berkatMu

(2019)


Upacara Jelang Hari Raya

tak ada cara lain

merayakan hari ini:

upacara jelang hari raya

aku yakinkan diriku

bahwa kutemukan dirimu

dalam diriku

seperti pesan-pesan WhatsApp

yang kau kirim berkali-kali

tak ada cara lain

merayakan bahagia

sebab Kau menjawabnya

pada upacara jelang hari raya

(2019)


I Wayan Esa Bhaskara, bergaul di Komunitas Mahima, Singaraja. Menulis puisi dan esai dimuat di beberapa media cetak dan daring. Puisinya terangkum pula dalam beberapa antologi bersama. Menanam Puisi di Emperan Matamu (2018) adalah kumpulan puisi perdananya.

Puisi

Puisi Gusfahri

Memetik Gitar di Dadamu

Mencintaimu membuatku mengerti banyak hal

Seperti pagi ini yang membawa embun mataku

Pada bunga di halaman dengan meremas dada kiri

Dan berjalan satu kaki.

Aku membaca puisi sebelum membuka pintu

Lalu keluar dan terus membacanya.

Sebab aku percaya langit adalah jendela rumahmu

Meski cuaca belum bisa aku raba.

Jangan selalu bertanya

Mengapa hujan membuatku betah di luar rumah

Serta kemarau menjadikanku tabah pada gerah

Bisa aku jawab sekarang kekasih?

Tidak!

Di matamu aku masih saja rumput

Yang disiram dengan pestisida air matamu

Berperang dan berhijrah dari trauma.

Kau mengatakan hal sama, seperti:

Tulang kita semakin berwarna susu.

Sia-sia kekasih!

Sama halnya bunyi

Saat aku belajar memetik gitar di dadamu.

Lagu itu membuatku mengerti

Bahwa cinta tidaklah sederhana

Ia adalah luka mengasyikan yang

Membuatku menundukkan kepala.

Sekarang apa yang kurasakan

Tangan meremas keras dadaku

Merupakan amin pemetik dadamu.

Mata Pena, 2020.


Menikmati Musim

Langit berkata, aku bisa menangis

Namun matamu lebih awal memulai hujan.

Angin barat dan timur beradu

Awan menunda segala perpindahan

Menghitam. Di langit mataku.

Sedang, sisa sia-sia penyair menjadi cinta.

Dan Tuhan sedang bercanda

Bercanda bersama kita dan kata di kepala.

Kita hari yang berbeda, katamu.

Namun, aku langit

Merindukan sungging pelangi di bibirmu.

Aku membuka almanak yang

Menyimpan angka-angka kusam.

Sama sekali tidak ada kedip matahari.

Puisi menatap jemari yang gigil.

Mataku makin tertuju pada kaki

Yang tercatat di akhir bulan.

Ah! Sekarang musim cinta

Angin sedang membawa angka berwarna.

Mata Pena 2020.


Sebelum Hujan Meninggalkan Bekas

Hari yang basah, dengarlah ritmisku

Menyentuh tanah dan kuyup.

Di jendela, segala renta tersimpan.

Kesah kasih menarik ingin aku kisahkan

Padamu. Seperti, aku yang tak bisa rintik

Namun basah tanpa sengaja.

Aku ingin berlarian di kota

Yang bisa kuartikan mengeja gila.

Gila menjadikanku kekar tangkar

Dari segala yang tengkar, sebelum

Aku membaca rambu-rambu cinta.

Tapi, aku tak berhati-hati pada kata itu.

Aku mencoba keluar dan meratap

Kendaraan yang teramat cemas

Lalu lalang di kepala. Getar kakiku memaksa maju

Meninggalkan kursi, meja, kopi

Dan diriku sendiri di rumah. Di luar sangat bebas,

Aku berteriak mengacungkan bunga puisi.

Berlarian menolak semua bengkak.

Aku semakin riang, meski

Hujan dari tadi menghentikanku.

Membuat segala luka tinggal, mungkin.

Mungkin selamat dari sehat. Atau

Korban kelaparan, sebab

Mengganti mata ibu di saku dada

Dengan mata yang aku tak tahu milik siapa.

Tapi lepas dari semua itu

Tubuh tiba-tiba jatuh di jalan

Yang tak sampai kutempuh separuh. Sial,

Puisi dan aku menjadi medan tabrak lari.

Darah bersimbah menyembah kepulangan.

Aku berminat pulang. Namun,

Hujan lebih dulu menghapus jejak palung.

Meninggalkan pelangi yang tersenyum

Karena indah seorang diri. Sedang

Aku terus menahan pandang,

Memeluk lutut sendiri.

Semenjak itu, kaca adalah sahabat setia.

Aku menatapnya dan tak berhenti hati mengingat.

Pakaian yang kukenakan di waktu itu

Dibiarkan amis darah

Tanpa sesekali mencucinya.

Menunggu hari selanjutnya untuk kupakai.

Di hari ini.

Mata Pena, 2020.


Jejak Anak Palestina

Seorang anak berkepala polos terus meratap langit

Meremas luka di dadanya.

Bangunan kusam tak lagi membentuk sebuah kota

Tertata di sela sakitnya.

Mereka umpama duli di kaki persembunyian,

Masa layang-layang adalah keringat aborsi.

Tubuh sesaat bisa menjadi bidikan

Senapan zionis yang tak kenal bosan.

Derita tanah darah menyimpan anak-anak

Membasuh memar dengan air matanya

Tanpa batas tahun dan waktu.

Seorang anak berkepala polos terus meratap langit

Yang berupa mata ayahnya.

Tatapan terakhir menyusun debar

Aku tidak bisa memberimu masa kecil

Kata ayahnya.

Tubuh yang memutih dan menanggung puluhan lubang

Tergeletak di pangkuan anak itu.

Derita tanah darah menyimpan anak-anak

Mengganti panji pusaka ayahnya.

Kobar jihad tak ada hentinya.

Mata Pena, 2020.


Perjalanan menuju rumahmu

“Kau sedang di mana?”

Suaramu ringkih yang entah asalnya.

Aku sedang berlarian bersama lampu mobil

Mengendus garis putih menuju rumahmu.

Di dalam baja berjendela kaca ini

Aku mengamati kota dengan serius mungkin:

Gedung adalah tubuhmu yang nampak

Pada langit mataku, meski hanya memandang jarak.

Setiap tikungan kulalui dengan klakson

Dan degup dada. Seseorang sering meneriakiku

Agar memasang spion sebelum orang lain

Menyalip dan membekaskan air mata,

Dan itu terus berulang-ulang.

Sesampainya di rumahmu,

Aku memarkirkan diri di halaman

beranjak pelan menuju pintu dan mengetuknya.

Tak ada satu pun yang muncul.

“kau sedang di mana?” aku bertanya balik

“Aku sedang berada di pikiranmu”.

Mata Pena 2020.


Gema Malam Anak Rantau

Malam ini, seseorang menahan diri

Meraba jendela dengan kubangan air mata.

Di kota yang tak menjamin ia lahir

Terus tabah menghidu rindu

Melagukan ninabobo tanpa seorang ibu.

Pikirannya membabi buta

Merekam opera yang terjadi di siangnya:

Memungut uang dari seluruh peluh,

Kepergok orang asing yang tak punya pandang.

Ia menceritakan semua dengan tangis

Sembari mengusap foto keluarga.

Di malam ini, tiada teman selain sajadah

Ringkih tubuh ia putar pada biji tasbih:

Satu putaran berupa doa,

Selanjutnya adalah air mata.

Mata Pena,2020.


Bapak Seorang Petani

Terdapat ladang di keriput kening bapak

Tempat  mencangkul dan membajak,

Menanam kewajiban dengan peluh

Tabah menyiram seluruh.

Ekspedisi hidup berkalang otot dan doa

Selapang hati ia memanennya

Tanpa mempersaksikan air mata.

Mata Pena,2020.


Panggil Aku Merdeka

Cerita dimulai saat aku membuka buku tua

Menyapa seseorang yang matanya masih mengalir darah

Menjelma mata air.

Panggil saja aku merdeka, ungkapnya.

Aku terkesan melihat orang itu

Setiap menulis sajak dengan bambu runcing

Dan membacanya penuh tekad

Tumbuh rimbun pohon di dadaku.

Sampai sekarang pun

Sajaknya menjadi lagu

Bagi tidur anak-anakku.

Mata Pena, 2020.


Di Laut Kutemukan Matamu Tenggelam

Laut mengingatkanku pada kegaduhan

Antara waktu dan tubuhku yang merebut ombak

Aku sering kalah, ringkih kakiku lemah di atas karang-karang

Karang hatimu. Namun aku suka laut.

Nun sebelum aku mengenal tepi

Tak satu pun kutemukan siapa nyala

Dalam pancarona langit

Yang menjadi dongeng paruh baya waktu

Seperti, aku ingin menjadi sampan di tengah ombakmu

Di tepi, karang mengajariku rela

Pada setiap yang pergi

Namun, matamu masih pasang

Seakan lautan kehilangan luas

Aku suka caramu menatap

Bahkan setelah mati

Aku ingin dimumi bersama karang-karang

Dan leluasa  jeremba swastamita matamu.

Mata Pena, 2020.


Sebut Aku

Sebut aku wadah merdeka:

Darah pahlawan adalah segumpal daging

Yang berbiak menjadi aku.

Sebut aku panji suci:

Kibar merah putih serupa zirah

Kukuh di dada.

Sebut aku bambu runcing:

Tekad yang tajam melebihi mata pedang

Tertancap sorak kemakmuran.

Mata Pena, 2020.


Gusfahri atau Gusti Fahriansyah, berasal dari Desa Torbang Batuan Sumenep menggeluti sastra mulai dari Majelis Sastra Mata Pena, SMA Annuqayah, Persatuan Santri Lenteng (Persal), komunitas Tumpah Pena, serta Sanggar Gemilang. Juara1 LCPN SIDERIS INDONESIA. Karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak juga online. Surel: [email protected]

Puisi

Puisi Arida Erwianti

Gadis Sepatu Biru

Sepanjang hari gadis bersepatu jelly hak tinggi

ia merasa bisa menjangkau apa saja

lalu membuka kuku-kukunya dan menulis puisi

pintu kamarnya yang layu setengah terbuka

agar ibunya tahu ia tidak ke mana-mana

karena setiap malam datang

ia menyelinap melalui dinding-dinding  pada bantal

ia terbang ke dalam status dan foto-foto dalam media sosialnya


Sedu

Di dinding kamar kau melukis jendela

setelah membuang nama-nama di jalanan

kepala dan debaran di dadamu sibuk

mengingat yang pernah menjelma menjadi tempat pulang

berulang-ulang

tapi lupa memberi kompas


Kau dalam Diriku

Aku telah lari, darimu

tapi seperti bekerja keras di atas treadmill

ketika jarak direntang jauh dan penuh

aku selalu menjangkaumu di mataku

melupakanmu sedemikan rupa

tapi kau ternyata berada dalam laptop bahkan dalam lemari pendinginku

kubelai-belai wajahmu di layar gawai

berharap menulis ulang matahari

hingga suatu malam seorang tua datang berbisik

untuk menggengam namamu dalam doa, maka kudekap

engkau benar-benar lepas


Di Telingamu

Aku ingin berkirim surat ke telingamu

kutulis dengan tinta berisi lagu favoritmu

aku akan menyusun puzzle di telingamu

kupakai sarung tangan dari madu

aku ingin berbisik di telingamu

dari tempat yang jauh

saksama kutunggu isyarat

angin selalu meniupkan sesuatu yang jujur namun bergegas pergi

dari ruang gelap, aroma jeruk dan juga tentang layang-layang


Api

Di matanya lilin menyala

mataku meraup matanya, haus

besoknya ia bilang, maafkanlah yang penuh angkara

ia bukanlah seorang yang kuat,

ia lemah membiarkan hutan terbakar-bakar di dalam dirinya

lilin di matanya menguar hangat

aku terbaring di sana


Surga dan Medan Perang

Dadamu pernah menjadi medan perang

kau hunus kalimat berakar raksasa

tapi engkau juga

yang napasmu menjelma subuh yang hening

dengan

telapak kaki yang surga

hasratmu meraup dunia

dalam toko furniture berdinding biru, yang akan kau masukkan dalam kotak kaca

tetapi dalam udara kita berbagi

rumah tak bisa dijejali dengan sepuluh meja makan


Metropolitan dan Payung Hitam

Berganti-ganti gawai mereguk daya dari kabel-kabel

sampai tuntas

tapi ternyata orang-orang tetap dahaga

berteriak-teriak di tengah kota metropolitan

berpuluh-puluh tahun

tapi suara raib tertelan gedung beratap kelabu

baju hitam tak lagi berwarna

karena mata-mata buta sebelum membuka

panas meranggas pada getir

payung hitam telah diterbangkan


Cinta

Mencintaimu dengan penuh

karena umur tak utuh

mencintaiku dengan bara, katamu

karena masa tak selamanya benderang

pada tubuhmu padang telaga muda yang ranum

kurengkuh bagai masuk dalam mesin waktu

pada jiwaku jalan panjang berasam garam, katamu

kau tempuh dengan tafakur

cinta tak pernah melukai

karena darinya pisau kita petik

untuk mengupas buahnya, yang lebih dulu


di

di pantai aku melukis rindu berjilid-jilid

di langit aku berbisik, menabur daun-daun

di keheningan kupetik senja setelah hujan yang keemasan

pada getar, aku termenung merapal doa-doa

pada riang, aku telah menari-nari

di kedai kopi aku menulis surat untukmu

dengan alamat yang telah kuketahui bertahun-tahun

di rumahmu kutersesat

setelah memandang matamu, labirin yang biru

di mana aku berujung?

padahal tanya tak pernah dimulai

di mana kita berpisah?

padahal pertemuan tak pernah


Kita tanpa catatan kaki

Jika langit terbentang, hati kita melapang

Jika hutan-hutan menghijau, jiwa kita merimbun

kita adalah kaki-kaki kecil, berjalan melewati semesta

menunggu matahari terbit, dengan menulis buku-buku yang tebal

pada permata kita tak silau

karena mata kita adalah kilau

namun, entah sejak kapan kita menjadi ahli berpatah hati

tapi pencari ulung dalam ruang kesyukuran

pagi ke petang bagai kelopak bunga-bunga

yang kita jahit dengan benang, satu-satu

kita usai, tapi penuh


Arida Erwianti, lahir di Segeri, Sulawesi Selatan. Ibu rumah tangga, dan sedang menempuh pendidikan di Pasca Sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia. Pengajar di STKIP Kusuma Negara. Menulis buku“Mozaik Pemikiran Pendiri Bangsa” (Kumpulan tulisan). Cerpennya pernah dimuat di media. Dapat dijumpai di instagram @ridawianti.

Puisi

Puisi Maulidan Rahman Siregar

Hujan di Telinga

seseorang, yang kalah dengan nikmat Tuhan

melewati kebosanan demi kebosanan

dengan cara mengudara

lewat kata-kata

yang hidup dan berkembang biak

di jantung telepon genggam

kemudian muncul hantu

yang menari di tengah hujan

sembunyi di balik ramainya bunyi atap

dan pekikan udara

aku menyaksikan semua itu sambil merokok

dan menulis sebuah puisi iseng

di dalam telinga, muncul bunga bunga

2019


Ke Tenggara Jiwa

menangkal kesepian demi kesepian

yang diam di sarkofagus tepi jiwa

aku berjoget di udara

bersamamu, melewati banyak lagu burung

di awan tinggi

kita menikahi hujan dan membasahi banyak rumah

yang selalu berdoa

terus berdoa

agar senantiasa kaya

di atas sana

malaikat bercahaya putih suci bersih

sebagai peracik ulung kebahagiaan

berencana membakar sebuah mall

agar seluruh orang yang cari duit di sana

pulang, dan meminta

menangis

dan memeluk

agar ibu

selalu mau melepas diri dari keterpojokan

dan selalu tinggal

di rumah

menyapu banyak masalah

2019


Obat Gila

dengan segala hormat, puisi

dengan segala takut, segala sisi formal,

segala aturan

agar arus bawah tetap di bawah

agar purna akal tetap di langit tinggi

kepadamu puisi

kugali huruf-huruf

tegang badan sendiri bak kaktus di tengah

hutan

tiada matahari tiada angin

tiada apa pun

yang ada hanya cahaya samar

menembus hingga ke tulang

dan ketika pulang

hai puisi, hai umur panjang

kupulangkan segala kenang

agar purna harapan

yang diam di tepi tangis

panjang

oh doa doa

oh apa saja

lekas pulangkan segera

obat bagi jiwa

2019


Beku

siluman berkepala nabi

mendaftarkan diri masuk pegawai negeri

agar candala demi candala

di lebat hujan sana

tiada meminta apa

bikini gadis itu tersangkut di tepian pulau

ketika salju menampar mukanya

di sisi terakota

lelakinya, namanya topik

sedang memasak es batu

dan menanak banyak embun

untuk perempuan salju tadi

dua gelas sirup rasa jambu muda

tersedia begitu saja

setelah badai salju ribuan daya

menenggelamkan tubuh-tubuh penuh

elektron

dan, mati juga akhirnya

kala topik bertanya,

“pranata itu apa, hai kekasihku yang sudah

tiada?”

2019


Bertahan

seekor sapi dari dalam kitab suci,

sejak 14 abad lalu, mencoba

muncul ke dalam pinggan nasimu

tapi gagal, selalu gagal

sebab, ayam-ayam di kampus

dan ayam kampus di pusat perbelanjaan

menawarkan nubuat gurih nikmat

ke dalam tubuhmu yang universal

dirimu, dan sekularisme yang sering main

di celana

menjadi juri bagi dirimu sendiri

kau bertahan, selalu bertahan

agar lepas segala beban

agar pergi ingatan

akan tetapi, kau selalu menolak

kedatangan sapi dari kitab suci, ke dalam

pinggan nasi

yang kau upayakan diri tanggungmu

mampu menahan isak ribuan tahun

ragamu, dan asa kemerdekaan

bertahan, bertahan, bertahan

demi ayam-ayam amerika di restoran

kenamaan

dan seragam sekolah anakmu

kau menarik kembali sapi di kitab suci

dan memasak sebuah sup

kau menangisi kuahnya

sebab

itu kuah air matamu

itu kuah pedih sembilu

2019


Ruang Tulis

hai

ke mana seluruh isi bumi?

aku ingin menitipkan lara ini

untuk teman segala kenang

untuk hidup!

apa? apa aku harus tiap hari di sini

sendiri di balik sepi

apa? kau tak mendengarku?

oh baiklah

akan kutelan sendiri hidupku

aku tak akan mati-mati

tak akan pernah kalah!

lihat saja!

2019


Ruang Tulis /2/

sungguh, aku ingin menemukan diriku

di kedalaman sendiri

di tepi apa pun

tidak ada suara

tidak apa pun

bahkan diriku pun tak

kunjung kutemukan

aku terus menulis

dan menulis

hingga letihku

penuh seluruh

2019


Ruang Tidur

di gelap hebat ini, kekasih

aku tertidur, dan terbangun

satu jam kemudian.

tidak ada apa-apa di sini

kecuali doa

doa-doa panjang

yang kutulis, kurangkai, kudiamkan,

menjadi seekor puisi yang

mudah-mudahan kau mau

mudah-mudahan kau

lelap bersamanya

dan membangunkanku lagi

satu jam kemudian

2019


Ruang Tidur /2/

kubikinkan ruang tidur untukmu

biar kau tak butuh lagi pelukan,

kening yang telah dikecup,

atau sentuhan ngilu ke jantung

besok senin, kekasih

dan kau masih terbang di udara?

tidak, sesekali jangan begitu

kewarasan orang kota akan menelanjangimu

2019


Tidur

di lagu terakhir ini

telah kuhempas badan

kuhempas apa saja!

aku ingin ke sana, Rabbi

ke sudut jauh

memulangkan segala ingin

menafikan semua mau

rebah aku dalam tiap sujud

tunduk, aku patuh

tolonglah, tolong aku

mengenal yang namanya istirah

2019


Ruangan Ini Beku dan Dingin

salju masih menembus rumah

dinginnya ke jantung

kecut badan remuk di tulang

kunyalakan ponsel pintar

kutarik orang-orang

untuk menerjemahkan hidup pelik ini

menerjemahkan peta

tapi, seorang pun tidak

mengetuk pintu

mengucap salam, atau apa pun

Padang, 10 Januari 2019


Maulidan Rahman Siregar, sekarang lebih suka bikin arsip. Belum giat membaca dan menulis. Tidak terlalu suka kucing.

Puisi

Puisi Dadang Ari Murtono

pembuat topeng

maut seperti cahaya fajar yang tak terelakkan, atau

angin dusun yang menyusup melalui bilah gedek

tapi lelaki itu gesit berkelit

dengan lambung bocor dan hati bengkak yang mesti ia

gembol ke mana-mana

“beri aku waktu sedikit lagi, beri aku waktu sedikit lagi,” gumamnya

ketika api neraka serasa dituang di kawasan perutnya

dan ia raut pelan-pelan pangkal bambu

menyerupai wajahnya yang kurus dan nyaris tak berdaging

lantas ia letakkan di tempat di mana ia tahu, maut

akan datang untuk menjemputnya, maut yang kemudian kecewa,

maut yang akan kembali memburunya dengan kemarahan

yang lebih besar, maut yang terus merutuk, “hanya karena

namamu slamet, bukan berarti kau selalu selamat!”

dan ia akan terus kabur, terus bergumam, “beri aku

waktu sedikit lagi, beri aku waktu sedikit lagi”

dengan lambung bocor dan hati bengkak

ada yang belum tunai ia kerjakan dalam hidup

: merasa bahagia meski hanya tiga detik


angin besar

angin besar

turun dari gunung

angin besar

menderakkan dahan-dahan

angin besar

mengelus ubun-ubun lelaki demam

angin besar

menebang dahan-dahan

angin besar

mengusap nisan di kaki gunung


anjing geladak

lima menit sebelum pukul empat petang

hari sudah gelap, udara berat, mereka

tak ingin menyibak selimut

“di kehidupan selanjutnya,” perempuan

itu berkata dengan suara serak

“aku akan lebih dulu menemukanmu”

dan si lelaki menguap

ia tahu, mereka mesti pergi

sebelum ibu anak-anaknya menelepon

“pada waktu itu,” kata si lelaki

“kita akan tinggal di pacet, di mana

waktu merangkak, dan ruang meluas,

agar dingin mengingatkan kita supaya terus

berpelukan, agar angin pegunungan memanjangkan

usia kita, agar hamparan sawah bawang menyegarkan

mata kita, agar…”

“agar kita bahagia,” potong si perempuan

tapi mereka berkemas juga

ketika geluduk pertama terdengar

mereka bukan orang lokal, mereka

tak tahu, di pacet, doa-doa tak lazim

gampang diijabahi

tiga kilometer kemudian, di sela pekat kabut

si lelaki melihat seekor anjing melompat,

ia mendengar decit ban, ia merasa jari perempuan

itu mencengkeram pinggangnya, ia mencium amis darah

ia tak tahu berapa lama terlelap,

namun ketika membuka mata, perempuan

itu begitu dekat dengan dirinya, begitu lekat

“apa yang terjadi?” ia tak mengerti

“kukira,” perempuan itu menjawab

“seekor anjing geladak memakan bangkai kita

dan dalam dirinya, kita kini meneruskan hidup,

bersama, bersama, seperti yang kita inginkan”


di gua jepang cangar

di ranjang tanah yang keras itu maut datang dan mengelus

tubuh mereka, yang muda dan telanjang

udara pengap jadi panas

“apakah ini hawa neraka?” tanya si perempuan

“ini nuansa cinta,” si lelaki melekapkan bibir di leher yang

bersemu hijau

lenguh menggema

dalam gelap yang kekal

lantas rintih

kesakitan

dari tubuh yang ringkih

“aku tak bisa melepasnya”

“tapi kau harus melepasnya”

di samping mereka, maut menari

dengan satu kaki menginjak punggung si lelaki

mereka ingin menjerit

tapi tak sanggup

mereka tak kuasa membayangkan

orang-orang tiba

dan menemukan mereka

masih terpaut

tapi tujuh hari kemudian

orang-orang tetap datang

dan mendapati mereka

saling memeluk dan membusuk

terbungkus udara lembab

di lantai gua yang kotor

“mereka sepasang pezina terkutuk!” kata kiai setempat

“mereka sepasang pecinta yang terberkati,” gumam seorang remaja

yang tengah kasmaran


pulang ke pacet

“minggir, minggir, seorang turis dari kota jauh

mau lewat,” seseorang berteriak, sedikit serak,

sedikit kasar

dingin mengeras dan menegang

jalan membuka dan memanjang

kafe dan pujasera menjulurkan tangan,

pemandian dan arena wisata foto mengenalkan

nama, vila dan hotel tersenyum menyapa ramah

tapi turis yang baru tiba itu hanya ingin

berbicara pada sawah dan padi

dalam kepalanya, kambing dan sapi

dalam kenangannya

ia bukan turis, sesungguhnya

malam membeku

tapi bulan kuning leleh seperti mentega

ia orang lokal, lama terjerat kota

lantas kembali

untuk menjadi orang asing

dan seorang pemandu dengan suara serak,

berteriak sedikit kasar

demi ia

“minggir, minggir, seorang turis dari kota jauh

mau lewat!”


suratman berjalan telanjang tengah malam

enam belas laron sufi

mengerubung nyala sebatang lilin

di puncak musim hujan yang pucat

dari nako jendela, suratman tahu bulan layu

langit kuyup kelam, dan ribuan laron

meredupkan lampu di sepanjang jalan

setelah selarik mantra

orang-orang tiba pada lelap purba,

suratman akan berjalan

perlahan seperti ratapan tobat nasuha

telanjang seperti bayi yang fitrah

berkeliling kampung seperti seorang jagabaya

“berangkatlah,” kata istrinya

dibukanya pintu belakang

dingin mengerutkan buah zakar

angin membawa ujian

mengembus nyala lilin

yang ditudung istrinya dengan dua telapak tangan

dan suratman berjalan

seraya mengenang dua putra tercinta

yang berseteru di jalanan

dengan arit dan maki

sebelum empat orang di warung yu rai

datang dan melerai,

memperseterukan seorang perempuan

yang tak setia; suratman berjalan

seraya mengucap pujian untuk leluhur

sholawat bagi nabi

doa kepada tuhan

juga permintaan pada danyang kampung

di rumah, bersama enam belas laron sufi

istrinya berharap tak ada orang yang

luput dari sirep mandi

dan membuat lilin padam

atau semua akan sia-sia,

bibirnya gemetar memanjatkan harap

perempuan itu tahu

anak-anak akan selamanya kanak-kanak

: berebut mainan sewaktu bocah

berebut perempuan atau warisan

ketika dewasa, dan orangtua selalu orangtua

sabar mendamaikan

dengan cara apa pun

atau bagaimana pun


kematian mak lah

dengan wajah pucat dan mata terpejam dan tubuh dingin,

mak lah ditelentangkan di atas amben di halaman, orang-

orang datang dengan muka masam dan

matahari semakin meninggi

“kenapa ia tidak segera dikuburkan?” tanya orang-orang sambil

berteduh di teras

“apakah kau berani bersaksi bahwa ia sudah benar-

benar mati?”

tak ada yang benar-benar berani bersaksi, mereka

hanya mengingat bagaimana mak lah bangkit ketika

disalatkan di masjid pada kematiannya yang pertama,

dan merayah-rayah dengan tersengal sewaktu tubuhnya

baru diletakkan di liang pada kematiannya yang kedua

orang-orang mulai jengah dan lelah

seseorang mengeluhkan padi yang perlu disiangi

seseorang mengeluhkan sapi yang perlu diransumi

“kenapa ia selalu merepotkan?”

mereka tahu, bagi perempuan itu, kematian hanyalah perjalanan

sepele yang bisa ia ulang aliki sesuka hati

menjelang sore, orang-orang pergi

jagabaya mengatakan agar mak lah tetap dibiarkan di situ

“biar dia segera bangun kalau kedinginan nanti malam”

tapi pada kematiannya yang ketiga itu, mak lah tidak pernah

bangun lagi

dan orang-orang baru meyakininya pada hari keempat, sewaktu

bau tidak sedap mulai menguar dari tubuhnya yang bengkak

dan berair


pagi hijau

untuk ulang tahunnya yang ke-44

ning menginginkan sebuah pagi hijau

ketika biji ditabur sabar di lahan gembur,

kecambah tumbuh tidak tergesa,

dan nyanyian burung menarik matahari pelan-pelan

“agar kau lebih lama bersamaku,” katanya

di cuping telinga lelaki itu

hangat mendesir dan bergema

di liang-liang tubuhnya

tapi yang tak pernah terlambat adalah waktu

dan lelaki itu tahu, ia mesti pergi

maka dikecupnya kening ning

seraya mengingat ulang tahun perempuan itu

yang ke-40

ketika ia mengendus sebilah pisau di kolong meja

dan didengarnya ning yang bingung berujar malas

“kenapa seorang perempuan tidak pernah memiliki

waktu untuk dirinya sendiri, bahkan ketika ia berulang tahun?”

lelaki itu tahu, sebab ia karib dengan dongeng-dongeng,

bahwa ning akan berkata

“andai saja ada yang menemukan pisau itu, bila perempuan

akan kujadikan saudara, bila lelaki akan kujadikan suami”

tapi ning sudah bersuami

dan ia mendengar ning berkata

“andai saja ada yang menemukan pisau itu, bila perempuan

akan kujadikan saudara, bila lelaki akan kujadikan selingkuhan”

ia mengigit pisau itu, seperti anjing-anjing dalam dongeng

dan membawanya ke depan ning yang kebingungan dengan

seikat sayur dan seonggok daging kambing

lantas seperti mukjizat, segera ia menjadi lelaki rupawan

“iblis yang murah hati,” katanya, “memberkahi

nadarmu dengan mengirimku mulai hari ini dan sebelum

matahari meninggi setiap hari ulang tahunmu”

pada hari ulang tahunnya yang ke-44

ning masih saja berduka

ketika lelaki itu mulai kembali menjulurkan lidah


kodok kecil

kodok kecil di pinggir kali

mati terinjak kaki petani

tak jauh darinya,

semak tetap berbunga

rumput masih hijau

kutilang berdendang dari dahan kaliandra

angin mempertemukan serbuk sari dan kepala putik

ikan berenang

matahari bersinar

bumi berputar

seratus empat puluh dua ekor semut

merubung bangkainya,

bersyukur atas kematiannya

dan tak ada air mata atau puisi sedih,

tak ada hujan atau sedikit melankoli


ia menunggumu, yai

ia menunggumu, yai, di sawah tomat

sepanjang hari hidup dan malam padam

ia menunggumu, yai, bahkan ketika

hujan lari atau panas berdesir

ia menunggumu, yai, memberi rasa lain

pada air tomat, memulaskan warna lain

pada kulit tomat, memanjatkan doa-doa

atas mereka yang terbenam sebagai rabuk

bagi lunak tanah sawah itu, mengucapkan

sepatah maaf yang bakal membuatnya

rela memetik tomat-tomat matang

tapi hanya dilihatnya kau yang memandang

dendam tiap kali melewati sawah tomat itu

seraya bergumam, “tomat-tomat itu haram,

sebab hanya rabuk dari bangkai komunis yang

disesapnya”

ia belum pernah mampu memetik tomat-tomat itu,

sebab setiap kali ia hendak memetiknya, ia merasa

hendak memetik secuil demi secuil daging bapaknya

yang belum rela


Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta  Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.

Puisi

Puisi Norrahman Alif

Aforisme Sepi

orang-orang memilih mati

di tengah virus gigil waktu

menjangkit kompilasi tubuh malam

mata-mata telah memborgol kelopaknya

waktu-waktunya berselimut mimpi

dan ia rindukan sedap kopi pagi hari.

sisakan ampas sepi pada gelas sunyi

yang kuseduh sedih ini di beranda

bersama rintik hujan dini hari

2020


Ada Masanya Penyair Mencintaimu dalam Hati

ada masanya seseorang jatuh cinta

hanya mampu diungkapkan dalam puisi

itulah kemahiran penyair atau aku sendiri

tapi penyair bukan penakut apalagi lebih

dari seorang pengecut.

ada masanya di jauh hari penyair memilih:

mengasihimu sebagai satu-satunya puisi

atau membayangkanmu sekadar sebagai latar

belakang rasa cerita fiksi.

ada masanya aku tak ingin memilih kedua-duanya

sebab penyair hanya mampu mencintaimu di

hati dalam puisi.  dan itu lebih romantis dari seseorang

yang hanya mencintaimu dengan separuh hari dan hati.

2020                                                                                                                      


Tulus dan Murni Cintaku Keluar dari

Dubur Seorang Pecundang

cintaku tak seluas pikiran kaum penguasa

mereka cerdas bersilat kata-kata dan semangat

menjungkirbalikkan bangku-bangku keadilan

demi undang-undang dusta berjalan dengan

aman di tengah-tengah hidup kita yang tolol.

cintaku tak sejahat gajah-gajah mencintai negara –

negara yang terbuat dari serpihan sejarah dusta.

kau tahu gajah-gajah itu siapa, ika? merekalah penguasa itu,

sang pemilik tangan-tangan keadilan yang buntung sebelah.

cintaku tak semewah dan semegah istana negara:

rumah tuhan dan dewan perwakilan dusta merumuskan

hukum dan undang-undang untuk melindungi pecundang,

penindas dan penguasa yang ber-uang. siapa mereka ika?

mereka adalah politikus, penjilat dan tikus-tikus

dalam penjara yang hidupnya lebih mewah dari

seorang pencuri ayam. padahal mereka adalah pencuri

kebebasan hidup kaum rumputan seperti kita.

cintaku sekali lagi perlu kau cermati, ika. aku ulangi: cintaku tak

sekejam politik yang berhati intrik. karena tulus dan murni

seonggok cintaku keluar dari dubur seorang pecundang.

Jurang ara.2020


Sampai Kapan Waktu Menimang Air Mata

dan Kita Meminang Masalah?

kau semai abad-abad yang gelisah, tahun-

tahun terluka dan serajut hari yang fakir bahagia

di ladang kepalaku. lalu kini tumbuh dan

berbiak menjadi sejuta masa lalu yang lumpuh

dalam gendongan waktu-waktu kita melangkah ke

masa depan cinta.

kau tiba banting gelas-gelas perasaan hatiku

ke berbagai kota yang kini bersibuk hati merapikan

kesunyian dan kematian ke dalam lemari kenangan.

lalu di kota itu rasaku dan rasamu menjadi sepasang

mata yang berduka-cita menatap lahan-lahan luas

di balik gedung dan perumahan tumbuh kuburan

-kuburan baru dan mayat-mayat segar yang segera

digiring ke liang akhirat.

kau lalu baru tersedu di kedalaman sumur hatiku

di saat ingatan menimang-nimang sejarah berpenyakit

tentang wabah yang masih tak menemukan jalan pulang,

perihal bulan-bulan yang terus menangis sendirian

atau tentang sakit hati kita yang tak menemukan

pintu kesembuhan.

kau baru menyesal kalau hidup di tengah kubangan

air mata harus tetap bisa tersenyum walau sia-sia

dan agar bahagia segera bangkit dari dasar kesedihan

kuajak kau ke keluasan dan kemegahan bahasa

di sana senyum hatimu tidak akan berbunga sia-sia

sebab puisi dan prosa akan menampung segala

benda-benda hati kita: abadi.

Jurang ara.05-20


Mencintaimu dalam Gelap

dan di saat kesabaran terus

memayungiku dari hujan perih masa lalu

sampai masa cinta berujung kelabu

akhirnya kutemukan cara paling pahit untuk mencintaimu.

dan satu-satunya cara adalah mencintaimu

dalam gelap. Bila dalam terang matamu – segerobak

keberanianku hancur di ujung jalan lidahmu yang asin

namun kini dari balik tembok ketidaktahuanmu

kudayakan waktu untuk melatih lidahku

belajar mengucap cinta padamu.

dan apalah guna itu semua

bila saat di ujung matamu aku masih

sepenuhnya menjadi bunga gugur

sebelum waktunya.

2020


Puisi adalah Gema Lain dari Hati

setiap yang diungkapkan

penyair adalah matahari

sebab kilau cahayanya adalah

terik hatiku yang puisi.

seperti puisi –puisi yang kutulis ini

sama sekali tak mengandung nilai-nilai

jahat untuk mempolitisasi hatimu.

karena bahasa hati adalah mesin

kejujuran yang memproduksi

makna-makna kasih-sayangku padamu.

Sumenep, 2020


Mitos Ketakutan

kini kepalaku menjadi

taman kuburan. seperti

ibu ingatan memeluk

pohon kematian.

saat ini pembunuh seribu

bayangan itu adalah corona

tubuhnya tak berwujud

namun membuat nyali

bersujud pada kecemasan.

akhirnya orang-orang tak lagi

berjalan, pekerjaan tonggak

sebulan, sekolah tutup usia

dan jakarta adalah gelanggang

manusia dan penyakit bertarung

mati-matian mencari sesuap napas kehidupan.

2020


Kompilasi Penyakit

hari ke hari berlari pilu

menyeret ketakutan ke

gudang-gudang pikiran

yang kelabu

betapa hidup ini terdiri dari

bagian bayang-bayang kecemasan

seperti DBD yang menjelma maut

sampai kini corona yang menjerat

kita tahu, bahagia hanya abadi

bersama hidup dan kenangan

tapi sampai kini dan nanti

apakah kita terus mengunci

tawa, mengubur kegembiraan

dan menyingkat segala urusan

pekerjaan dari ruang sunyi

2020


Simposium Kecemasan

tiba-tiba seribu buih jakarta

menggelembungkan pikiranku

dan meledak menjadi serbuk-

serbuk ingatan tentang

kehidupan orang-orang kota

yang tengah menghitung

biji ketakutan dalam rumah

di saat tiap detik balon kematian

meledak di planet mataku

betapa langka kotaku saat ini

jantung jalan adalah pusat

kesepian membayang,

kecemasan mewabah

dengan meletakkan kartu

kematian pada  aktivitas kehidupan

sementara kabar buruk dari

langit corona terus meletus

di organ-organ media massa

hanya meluluh-lantakkan

batu hati jakarta

akhirnya rumah sakit dan kuburan

menjadi liang kepulang terakhir bagi

para korban.

sementara sekolah, kantor, kedai

kopi dan semangkuk hati yang asin

mereka cecap tiap hari dalam kandang.

2020


Buah Dosa di Dada Desember

serasa dosa ini lebih tua dari usiaku sendiri

sungguh berlipat sungguh, hati ini berat

melangkah dari hidup ke hidup

mungkin, mungkin dan hanya kata

mungkin terucap dari bibir si duka

bila seribu gunung maafku

tak cukup mengubur jasad duka desember

di liang dadamu.

dan,

sejuta rintik hujanku tak akan

mampu memadamkan nyala api

di mata murkamu.

sebab aku kini lebih berat dari batu sebukit,

lebih ringan dari kapas diterbangkan angin

dan lebih cemas dari orang-orang melawan

virus corona.

di saat hati berat memikul nasib dosa,

membuat punggung hari lecet dan bernanah

menggendong segunung sesal dan selaut maaf

yang kau telan begitu saja tanpa bahasa.

2020


Norrahman Alif  lahir di Jurang Ara –Sumenep –Madura. Menulis puisi dan resensi di Lesehan Sastra Yogyakarta. Beberapa karyanya bisa dinikmati di Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat,  Suara Merdeka, Rakyat Sultra, Tempo, Padang Ekspres, dan lainnya. Buku puisi terbarunya Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rerumputan (sublimpustaka-2019).

Puisi

Puisi Daffa Randai

Gerimis Merambat

ke Rambutmu

suatu ketika, gerimis merambat ke rambutmu

menitis pelan ke kening dan berhenti

tepat di pucuk bibirmu yang dingin.

sepasang matamu menyanderaku

seperti membujuk, seperti menunggu

sepasang bibirku lembut menyapu

bibirmu yang gigil itu.

2020


Sengketa Rindu dan Kesepian

kembalilah, tubuhku akan lebih berguna

hanya dengan sering melindungimu dalam pelukan.

lengkapi kesepianku, lekasi nasib burukku

sebab hanya padamu, air mataku menolak gugur.

kembalilah, tubuhku butuh tubuhmu

sebagai pelerai gaduh, rindu di jantung

seperti sedang berperang, seperti mengerang

takluk di hadapan jarak yang sadis dan kejam.

kembalilah, bantu aku jadi pemenang

menghadapi sengketa rindu dan kesepian.

bantu aku jadi satu-satunya peminang

yang bikin bahagiamu tak berkesudahan.

2020


Kita Tak Harus Bertikai

biarlah kesepianku terus berlayar

melintasi kenangan lapuk

yang jauh tersimpan di tubuh waktu.

biar rindu terus mendebur

menggulung segala inginku

menjumpaimu di luar tidur.

sungguh, kita tak harus bertikai

mendebatkan perpisahan

dan penyesalan ini milik siapa.

sebab masa lalu tetap milik kita

ijazah bagi hari jauh yang telah

tuntas kita lintasi berdua.

sungguh, kita tak harus bertikai

mendebatkan masa depan

di tengah masa lalu yang kacau.

sebab kita ialah kesedihan

yang tersesat di jalur derita

tanpa ujung, tanpa batas teritorial.

2020


Selepas Berpisah

bayangkan, bayangkanlah

selepas berpisah, di antara kita

siapa yang lebih tegar untuk tak saling tegur

bahkan ketika dada kita menjelma angkutan

yang penuh hanya karena satu jenis muatan:

rindu akan kenangan yang begitu ingin diulang?

bayangkan, bayangkanlah

selepas berpisah, di antara kita

adakah yang bakal merasa terancam

oleh penyesalan, oleh kehilangan, oleh segala

yang tumbuh seiring dengan kenyataan

tak lagi ada yang bisa dipeluk selain ingatan?

2020


Punah Terkubur Kenangan

: untuk Lia

katakan, bagaimana kesepian bekerja

menghidangkanmu kembali ke ruang dengarku

sebagai masa lalu, sebagai yang bukan lagi milikku.

sementara di dada, suaramu terus menggema

tak putus kudengar dari telinga

seperti menyesal, seperti ingin lagi kuterima.

di hadapanku, kau kuras air mata

mungkin rayuan, mungkin permintaan maaf

atas buruknya niat, menjadikanku pelarian.

kau suguhkan bagian inti tubuhmu

yang tuntas kau sayat untukku

seperti merayu, seperti menunggu jawabku.

tetapi maaf, hatiku telanjur berkarat

mustahil kusucikan ulang untuk kau

yang telah punah, terkubur kenangan.

2020


Ingatan Masa Lalu

aku penyair, datang dari masa lalu

diutus kenangan untuk menjenguk

riwayat harimu yang penuh rindu.

aku tahu, ragamu tak lagi utuh

tak lagi mengandung aku

sejak ia tiba mengetuk

kesepianmu pascaperpisahan itu.

aku tahu, bekas pelukanku

mungkin sudah kau basuh

kau sucikan dari tubuh

dari ingatanmu yang keruh.

aku tahu, ia mencintaimu

sedekat nadi dengan denyut

sedekat jantung dengan degup

sedekat hidup dengan maut.

sementara kau tunduk

pada ingatan masa lalu

ingatan semasa denganku

yang gagal kau lupakan itu.

2020


Hujan Jatuh

hujan jatuh dan yang basah

adalah ingatanku tentang kau.

setiap rintik di atap kuangkakan

sebagai rindu yang betah berdenting

menghitung bulir-bulir detik

membahasakan kita sebagai kekasih

yang piawai merawat rasa sakit.

hujan jatuh dan yang basah

adalah ingatanku tentang kau.

setiap helai gerimis yang hinggap

di jendela kamar kumaknai sebagai kau

menghitung butir-butir waktu

menangkap aku sebagai masa lalu

yang piawai mendatangkan rindu.

2019


Permaisuriku

            ─ Wei Gu & Putri Wang Tai

permaisuriku, putri gubernur wang.

sebelum mimpi jauh mengular, dengarlah

dengar apa yang hendak kuselipkan di alkisah:

seorang lelaki nyaris membunuh takdirnya sendiri.

114 tahun silam, ia meminjam namaku

lengkap dengan tubuh dan silsilah keluarga

ke songcheng dikawal para pelayan.

2suatu malam, bulan berguguran di pasar

ia jumpa lelaki tua tak dikenal

yang begitu saja membekukan sabda:

3“kuberitakan padamu, wei gu.

demikian takdir rampung disusun

dan kepada gadis berpelayan buta itu

kelak bakal kau persembahkan hidup.”

4tapi ia tak percaya dan murka.

lantas menitahkan utusan agar segera

menikamkan pisau ke tubuh gadis

yang tak ia kehendaki adanya.

permaisuriku, putri gubernur wang.

14 tahun silam, usiamu menginjak 3 angka

dengarlah, dengar apa yang hendak kukisahkan:

seorang lelaki nyaris menikahi penyesalannya sendiri.

5ia gagal merayakan kematian gadis

sebab utusannya tak cukup akal

bersilat pisau di tengah kerumun orang.

6kemudian, berlari ia menjauhi kota

sembunyi dalam rahasia, dan berharap

tak seorang pun sanggup mengingatnya.

714 tahun berjalan, ia lalu dijodohkan

dengan putri gubernur xiang, wang tai:

seorang gadis yang 14 tahun silam

pernah begitu ingin ia musnahkan.

permaisuriku, putri gubernur wang.

sebelum mimpi jauh mengular, dengarlah

dengar apa yang hendak kusenandikakan:

14 tahun silam, andai kau sampai berpulang,

siapa yang bakal kusanding di pelaminan?

2019


Jika Terpaksa Kembali

kelak, setiap jalan dan tempat yang sempat

kita singgahi akan pikun pada waktunya,

dan kita menua dengan derita yang berlainan.

jika terpaksa kembali, rupa kota tak lagi sama

jangan mengenang, jangan mengenang!

tentarakan dirimu, cekal air mata sebelum jatuh.

berjalan dan singgahlah di mana pun, tanpa aku.

biar kota tumbuh dan memulihkan rupa

dari jejak kesedihan kita yang parah.

2019


Sisakan Air Mata

sisakan air mata

sisakan sehelai untukku

di perut gelas yang dalam

tuangkan, tuangkanlah segera

biar lekas kuteguk segala

kesedihan yang ada

kita hampir berpisah

hampir kembali asing

untuk tetap mengenal

semua yang bakal sudah

esok, akankah kehilangan

lebih mudah diterima

daripada bertahan

dari debur amarah?

sisakan air mata

sisakan sehelai

untuk kita perderas

selepas resmi berpisah

2019



Daffa Randai,
lahir di Srimulyo, Madang Suku II, Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan pada 22 November 1996. Alumnus mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta, konsentrasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Presiden komunitas Pura-Pura Penyair. Buku tunggal perdana: Rumah Kecil di Kepalamu (Purata Publishing, 2018). Beberapa puisinya terbit di buku antologi bersama, media cetak dan online. Bisa dihubungi lewatsurel: [email protected] atau Instagram: @randaidaffa96.