Puisi Norrahman Alif
orang-orang memilih mati di tengah virus gigil waktu menjangkit kompilasi tubuh malam mata-mata telah memborgol kelopaknya waktu-waktunya berselimut…
Untaian puisi yang merawat rasa, bahasa, dan ingatan.
orang-orang memilih mati di tengah virus gigil waktu menjangkit kompilasi tubuh malam mata-mata telah memborgol kelopaknya waktu-waktunya berselimut…
sepasang matamu menyanderaku seperti membujuk, seperti menunggu sepasang bibirku lembut menyapu bibirmu yang gigil itu.
sore mengantar tetangga ke teras rumah dengan plastik bening di cantolan sepeda
Telur di piring dicolong kucing, berikut kesabaranmu. Suhu sisa subuh dan semburat matamu nyaris sama, menyentuh sukma yang…
“Pada mata yang tak lagi retak, Pada segala yang sedang malas berkemarau Mereka yang sekian kali menabur hujan…
Membaca Burung Hantu setajam matamu, kasih kurawat gelap ini sampai wajahku kusut dan nyanyian burukku terdengar di tengah…
Kopi lelet di depan matamu luput kau sruput Berita kematian saudara-saudara menyergap telinga Virus-virus baru, makin ngeri kau…
Senyum. Senyum menggoda Seribu like – love; komentar Sunyi. Hambar – ambyar, dari balik layar
cintaku ditiuptiup peluit panjang yang melengking menggurui buntut kendaraan terus, terus, op, balas kiri balas kanan, ya. munculnya…
sejenak ketika itu, gadis. betapa puisi ini sederhana lantas bersabda: tiada lagi cita rasa yang hambar di meja…