Puisi

Puisi I Wayan Esa Bhaskara

Barangkali Sawah Telah Habis

pada petak sawah paling hulu

tanamlah doa, sepagi-paginya

sebelum cahaya hiasi ketinggian

sehasta demi sehasta

bak mata elang

nyalang menusuk bumi

aku percaya padamu maka kusajikan;

ritual tuk dewata

penyelamat dari ketiadaan

sebait doa tak pernah sia-sia

raup air suci tiga kali

percayalah jua padaku

sebait tanda, menyaru kurapal hadap timur laut

kubiarkan dialog masih tetap sama

sudah berapa pengampunan berkecambah pada tubuh ibumu?

mantra mengaliri sawah

lewat pematang, gurat daun eceng gondok

di jalan air beribadah di atas tanah

keluh air, angin, tetumbuhan menjauh

kerut-kerut lusuh jemput subuh

tak tersentuh mimpi peladang rapuh

(2012)


Uma

datanglah

menu sehat tiap pagi

seporsi mimpi buruk

perlahan, suap sesuap air mata penuhi ceruk

dengarlah

kidung suci

di antara kunyah

dengkur-dengkur di kepala

sungguh santapan hari sempurna

(2010)


Rambutmu Helai Berderai

apa kau tangkap pagi ini

sebuah lukisan jejak kakiku

pada ranum bibir pantai

kutangkap senyummu

kurajut rambutmu helai berderai,

pada cermin air laut

kau tarik lurus ke arah lembar waktu

bentuk sudut yang menemukan kita

dua rindu lusuh

cukup cubit lamunan

dan kembalikan aku

yang telah kau gambar ulang

(2018)


Ritual Baca Nasib

setelah kau tarik garis tangan sedemikian rupa

lenguhku tercipta dalam kepala

seperti kata-kata berusaha

berkata: senja milikMu adalah doa-doa rapuh,

pilihlah salah satu, katamu

sebab diam sama saja melipat ganda ragu,

satu kartu kutunjuk, dengan tatap sayu

apa yang buatmu yakin? tanyamu

ada gerak-gerak kehidupan

dalam angan

bisa jadi trauma jadi hari depan, katamu

pada kartu yang kau berikan, jawabku pelan

(2019)


Pada Secangkir Kopi

dalam rindu seorang perempuan

tiada muara

hingga senja jadi tanya, atau jawab jadi janji,

diri esok hari

sebab, telah dititipkannya pada secangkir kopi,

diseduh serta mekar purnama

kuhirup saja wanginya

wangi kata

kata rindu, begitu katanya

dalam rinduku

menyelinap di antara

robusta yang menguap

“mari kita rayakan rindu”

lalu kita rapatkan diri

di semesta angan

(2019)


Bibir Uluwatu

Riak buih menyambar

di antara asam, pahit rindu

pucuk-pucuknya tunduk merunduk

rambat bunga daun balut tipis langsat kulitnya

hingga jelas menusuk dada

Tatkala pujawali ini, sejenak sunyi mendesah

senyumnya ditelan riuh

aku membatu

muaranya di detak jantungku

Di hadapan bisu meru, aku menunggu kutuk para dewa

berserah pada karma

(2018)


Sindhu Sendu

Di bawah langit

sepotong sore makin berlumut

di kelopak pantaimu

sedang pikiran lena oleh mantra-mantra

pada sembahyang terbaik bagi diri

degup hampir lelap, upacara lekas dimulai

bait-bait mantra adalah pesan berantai

pada jarak cakar-cakar ombak,

yang jika sirna dari makna,
yang jika susut dari maksud,
tetap ada di mana-mana

(2019)


Karma Phala

kali terakhir menantikan sebuah amin

kau menjadi aku

aku menjadi kau

ketakutan bakar diri

di hadapan berbagai macam uji

gaung kekidungan

membikin jarak yang belum tuntas dikenang

puja kian lekang

sedang hari-hari kemarin, temaram habis

cahayanya bersukma gerimis

dan ribuan pertanyaan manipis

kemudian kembali menitis

(2018-2019)


Hujan Telah Habis, dan Galungan Segera Tiba

di selembar rumput di halaman pura

kurapal doa,

yang tentu saja bisa kujelaskan!

Mengapa aku menemuiMu?

            sebab:

aku punya rindu yang selalu kurayakan

dengan menyeduh syukur atau menyeruput wangi hatiMu

atau hari ini yang kumiliki telah kehilangan esok

aku punya kenangan,

perjumpaan abadi, yang tak leleh panas mentari

riang senja nanti

aku punya hari-hari ini

adalah hari-hariMu

aku punya mimpi

adalah berkatMu

(2019)


Upacara Jelang Hari Raya

tak ada cara lain

merayakan hari ini:

upacara jelang hari raya

aku yakinkan diriku

bahwa kutemukan dirimu

dalam diriku

seperti pesan-pesan WhatsApp

yang kau kirim berkali-kali

tak ada cara lain

merayakan bahagia

sebab Kau menjawabnya

pada upacara jelang hari raya

(2019)


I Wayan Esa Bhaskara, bergaul di Komunitas Mahima, Singaraja. Menulis puisi dan esai dimuat di beberapa media cetak dan daring. Puisinya terangkum pula dalam beberapa antologi bersama. Menanam Puisi di Emperan Matamu (2018) adalah kumpulan puisi perdananya.