Di Sebuah Angkringan Kita Hanya
Berusaha untuk Saling Mengenang
sambil kutatap matamu, dari sana
kepedihan yang tidak bisa
diungkapkan lewat kata-kata
berhamburan, berebutan masuk dadaku
kita hanya punya satu cara
;mengenang sebaik mungkin
yang sudah-sudah
kau balas menerobos sepasang mataku
katamu, keteduhan dapat ditemukan
di mana saja, termasuk di mataku.
selanjutnya percakapan kita
lebih sering ditelan bising kendaraan
sementara kau lebih suka pada diam
di angkringan ini, kita sepakat
cara paling baik mencintai
adalah mengakhiri
lalu menjalani hari sendiri-sendiri
selebihnya kita hanya diperbolehkan
untuk saling mengenang
atau berciuman meski hanya
bayang-bayang
Jogjakarta, 2020
Sebelum Kau Pulang
berhari-hari kita meruncingkan percakapan
meramal nasib masing-masing
sesekali membayangkan rumah kita
yang luas untuk menampung kesedihan
tiba-tiba waktu lekas berlalu, aku
seperti tawanan yang kalah di pelukanmu
selanjutnya kita akan mengatur jarak
mengukur batas-batas kepedihan
kalah di hadapanmu jauh lebih mulia
daripada aku harus berjalan sendirian
menelusuri bukit kata-kata
lereng-lereng bahasa
setelah kubuka pintu
setelah jendela tersibak seluas masa lalu
aku tidak menemukan siapa-siapa.
kau gegas pulang, seumpama tanah
ditumbuhi bibit-bibit jelatang
aku sendirian dihunus sepi logam
kita akan bertemu dalam doa
yang hanya kita sebagai isinya
Jogjakarta, 2020
Cinta Kita Tua dan Hanya Mengenal Kata Setia
sama dengan jarak, umur sekadar perhitungan
ketepatan demi ketepatan dan kecepatan
berasal dari ketiadaan.
cintamu yang tua, setua jendela rumah
dan sengaja membiarkan angin jelita
mengusik tidur kepedihan
seumpama kau menengok jendela itu
dan membayangkan betapa menakutkan
seluruh isi rumah, tidak lebih
dari kenangan rapuh kitab-kitab masa lalu
sebetulnya kau hanya menerka yang tiada
setelah benar masuk, kemudian rasakan
keteduhan lain berpilin di dinding.
cintaku yang tua dan hanya mengenal
setia, kata yang menderas dari jiwa.
sambil mempertanyakan, mengapa
kesepian tidak pernah bisa dilawan
meski kita tidak sepenuhnya tunduk
dengan tenang.
Jogjakarta, 2020
Sebuah Kopi, Sepi, Puisi
di pojok timur, dekat pintu masuk
kita berhadapan. kau seperti menghitung
berapa banyak kesedihan yang masuk
dan keceriaan yang dibawa pulang.
meski terlebih harus kita cuci tangan
agar tak ada ketakutan-ketakutan
masuk ke dalam
berikutnya kau akan menyeduh kopi
dan pahit yang kental di sulbi cangkir
seperti hidup kita, pahit terus ada
kau berucap dan hanya pantas
didengar berdua.
aku mulai sibuk dengan puisi-puisi
atau tidak sengaja meninggalkanmu
dihunus sepi yang belati.
di matamu, kesedihan mulai dibangun
di dadaku, sesak perlahan turun.
Jogjakarta, 2020
Mereka Merawat Jarak
orang-orang berkumpul, lari dari kerumunan sepi
di kesengitan hari-hari.
belajar cara paling baik merawat jarak
mengusir dada-dada yang sesak
mereka mencintai kampung halaman
yang separuh terbuat dari masa lalu
separuhnya lagi, dari kenangan
yang menyusup diam-diam
hari ini orang-orang rajin berkumpul
dunia terlalu buruk bagi penyendiri
dunia yang hanya sibuk mengganti
nama hari-hari
mereka sama-sama merawat jarak
hidup hanya bergantung
pada cara perayaan
pada cara mengurai
satu-satu kesakitan
Jogjakarta, 2020
Menunggu
kami akan menunggu, malam lekang
menuju arah-arah subuh
dan pagi kembali terbit dari matamu
sebaris doa, kami racik
mengalir di penjuru aorta
sebetulnya, malam lebih paham
bagaimana mendengarkan
kepedihan, dengan sunyi mencekam
semisal amuk api dalam sekam
sampai matahari terbit dari jalan biasa
dan bumi sudah tidak dibayang
bayangi wajah sepi
kami terus menunggu, sampai jarak
tidak lagi diberhalakan
sampai keramaian bukan sesuatu
yang asing di padang pikiran
Jogjakarta, 2020
Aku Mencintaimu Lagi dan Lagi
sebuah puisi kutulis dan kuyakini
bahwa ia lahir dan kesakitan
kesepian yang menggunung
sementara dadaku sendiri
tidak begitu betah pada sesak
yang lama beranak diam-diam
maka satu-satunya jalan,
puisi ditulis untuk melawan
kepedihan. dan sakit yang terus
kita kutuk sepanjang perjalanan
namun begitu, aku
aku mencintaimu lagi dan lagi
dan kerap membayangkan setiap
puisi yang kutulis sendirian
mendapatkan engkau di dalam
dengan begitu, macam kesakitan
hanya nama lain dari kesepian
dan mencintaimu adalah tugas lain
yang tidak perlu selesai dengan cara
terburu-buru
Jogjakarta, 2020
Usaha Melihat Diri
puisi ini ditulis untuk mewakili kerumitan
yang kutunjukkan, macam-macam kotoran
melekat di dadaku yang temaram
maka, bacalah puisi ini perlahan
selanjutnya kau boleh menerka
;barangkali manusia diciptakan
dari tanah yang berwarna hitam
kau masuki dadaku, sebuah rimba
dengan salak anjing dan igau serigala
kau temukan belukar terbakar
meski menjuntai juga, sebaris kembang
srigading dengan kelopak menyembah
langit kita yang hening, langit bening
puisi-puisi yang kutulis dengan tulus
sebelumnya juga lahir dari dada berkabung
dari kesalahan-kesalahan
yang darinya seolah aku berlindung
Jogjakarta, 2020
Puisi Ini Engkau Baca Diam-diam
setelah puisi ini ditulis dan seluruh isi
adalah engkau. kuserahkan semua
agar dibaca diam-diam
meski tubuh dalam keadaan demam
diserang macam-macam kesepian
setelah aku meninggalkanmu
puisi ini lebih berarti dari seluruh
yang tercipta di semesta
dari yang terus mengalir
dari jantung kata-kata
kau membaca sambil terpejam
membayangkan bagaimana
kesepian tidak selalu menakutkan
di dalamnya ada doa kita
yang melantun, menerobos
rumpang dada.
setelah puisi ini dibacakan
tiada yang lebih menyedihkan
dari kepulangan yang pelan-pelan
Jogjakarta, 2020
Hari Raya Kesepian
berhari-hari tanpa engkau, tubuhku
dililit batang-batang kesepian
setelah kepulangan, nama hari
berganti pada kesedihan
kau tidak pernah menatap mataku
dan aku merasa lebih tenang
di cinta yang tidak pernah tenteram
sekali-kali belajar bagaimana lelaki
yang hanya menangis untuk
merayakan kepahitan
barangkali matanya lebih teduh
dari mataku dan seluruh
bagian-bagian tubuh
berhari-hari tanpa engkau, dunia
enggan disibukan selain dari ingatan
apa-apa yang menjamur di pikiran
Jogjakarta, 2020

Moh. Rofqil Bazikh, lahir di pulau Giliyang dan sekarang merantau di Yogyakarta. Puisinya termaktub dalam beberapa antologi dan tersiar di pelbagai media cetak dan online.
