Puisi

Puisi Jonah Mario

Gymnopédie no.1 dan Kesedihan

Kelokan-kelokan ini. Sungai meresap

ke dalam batas penglihatan

sehingga kita menganggap

gema-gema kecerian anak kecil itu

berlarian di atas sebuah tanah kosong

di atas sebuah benua dengan kaki telanjang

biru muda atau entah apa.

Lampu-lampu apartemen

balkon memangku buku

yang dibuka terbalik; pajangan dunia

yang dapat susut

orang-orang berpesta sampai malam

dengan kemeja kerja.

Jam tangan. Hari-hari ini.

“Kristal

terus tumbuh dan perusahaan-perusahan

membersitkan ubin-ubin gua

dalam laboratorium di pinggir jalan besar

yang kosong. Tak peduli tanggal berapa.

Beberapa orang dapat mati dengan penuh gaya.”

Lagi-lagi aku lupa mencatat

apa-apa yang perlu dari supermarket.

Sedikit biskuit.

“Kata orang kita memakan benak kita sendiri.”

Kalimat itu tidak kubaca di koran.

Jemu sekali kemarin. Dan hari ini

Pekerjaan apa yang dapat mengelakkan kita

dari ditusuk benda tajam yang tetap kelabu

seperti kematian orang tua

kerabat

orang-orang terdekat lainnya

“Tidak usah. Nanti kita rangkai bunga sendiri

kita foto dan beri catatan kecil

tentang wisata alam yang masih buka.

Parsel dengan gemuruh dan petir

dan pegunungan bekas tragedi perang.”

Pernah kulihat lampu merah yang terus-menerus merah

kuperhatikan dan aku jadi teringat

orang-orang yang mengetik sampai malam.

“Sampai jumpa besok ya.

Kerongkonganku kering sekali.

Aku juga harus mencuci baju

dan sempat lupa harus menyiram tanaman.”

Kargo-kargo melintas.

Teluk gelap.

Membengang.


La Nina

Gerimis mengantar sebuah pertanyaan:

Apakah segala sesuatu selalu dekat

dengan kemusnahan?

Akan datangkah gerimis

ketika waktu terbenam

atau malah kau yang datang dengan segenggam tanda

akan berakhirnya lautan-lautan?

Aku tak pernah berhasil menemukan istana di pinggir pantai

seperti yang pernah kau ceritakan.

“Istana yang dibentengi kincir-kincir angin

sejak matinya cuaca di balik pegunungan mimpi.”

Selain itu, hanya jeda

yang meniadakan pesan dari ruang yang jauh.

Dengan tubuh yang semakin hangus,

aku menahan kata yang menjadi kesesakan di dalam diriku

sampai ia merintih untuk mendapatkan kembali

malam yang sudah melemparkannya

ke dalam bara sunyi

tempat segala yang ada pecah

menjadi wajah bagi kemenangan-kemenangan

yang kecil dan sepi.

Dari sini, terang melaju ke ujung ufuk

ke belakang kapal-kapal peninggalan luka

yang membawa orang-orang merenungkan belantara badai;

Badai jatuh di lantai rumahmu

seperti sepetak cahaya matahari dari jendela

yang tenggelam mendahului lamunanmu.

Di dalamnya, kejadian menutup bersama mataku

yang berhenti merangkai keinginan

untuk mengejar hal-hal yang tidak terjadi.

Saat gerimis menderas, aku memperhatikan buku-buku di rak

menyembunyikan cerita sejauh mungkin

dari keinginan untuk mengetahui

untuk memiliki kelam tanpa harus membangunnya dari awal.

Tapi, di sana,

di reruntuhan kertas dan istana,

ada kau

bersama taman-taman yang membeku

dan orang-orang yang sudah kepayahan

karena terus menyusun ulang dirinya.

Di sana, sepertinya kau sedang berkata-kata

sedang menyusup dari satu petir ke petir lainnya

sambil mengantar sebuah pertanyaan:

Apakah segala sesuatu selalu dekat

dengan kemusnahan?


Komposisi Kepulangan

Ada beberapa yang mengatakan

bahwa tersesat adalah melihat cinta

di kedalaman mata.

Tidak di matamu.

Cinta telah ditelan kesunyian samudera

yang berdenyut meninggalkan tidur siapapun.

Dengan segenap kesadaranmu

yang patah-patah dan menggantung di sepanjang jalan,

kau terus menapaki dunia

bersama atau tanpa bayangannya;

Inilah kesepian.

“Kita gagal,”

kataku kepadamu

seraya menyaksikan

manusia berjatuhan

dari menara-menara

dengan mulut dan mata tertutup rapat

dari gedung-gedung gelap yang tak pernah menyimpan

kenangan-kenangan.

Dari dalam genggaman lelah matamu bertanya:

“Adakah tempat berteduh?”

Adakah yang lebih mati daripada malam di luar alam semesta?

Aku ingin berada di sampingmu beberapa saat lagi.

Aku ingin mendengar kabar teman-temanmu yang lukanya tak pernah kudengar

aku ingin bermimpi

mengenai tempat-tempat yang dijagai pohon-pohon dan dirangkum gunung-gunung

dengan nama yang begitu terjal.

Aku ingin tahu apakah kau pernah

menjadi orang-orang lain

dalam ingatan kota-kota asing dan orang-orang yang kau tinggalkan.

Dari balik sisa-sisa jendela,

aku melihat langit berakhir

dan semua orang yang tak pernah mengenal kita pergi

mencari peristirahatan terpencil;

Adakah yang lebih dalam

dari hening malam hari

selain ingatan yang tersesat di percakapan waktu?

“Ada.”

Jawab matamu.

Matamu yang bergemuruh.

Matamu yang tak mampu

menceritakan segala sesuatu.

-Warunk Upnormal, Jakarta Barat, 18 November 2016


Atau Benda-benda Asing yang Lain

 “My incapacity to think, to observe, to determine the truth of things, to remember, to speak, to take part in the life of others, becomes greater each day; I am turning into stone. If I don’t save myself in some work, I am lost.”  -Franz Kafka

pola cahaya di landai kertas.

Tidak terdengar

gelegak

“Apakah berdiri lagi

kota tembus pandang itu;

jendela-jendela kalis, hujan ruang

selesa yang tak pernah menderit juga?”

Tersaput segera.

Di atas kertas, debu tergamang.

Lipatan ketersembunyian mendebur

pada benua yang lain

“Yang terkubur setiap kali meja-meja

kursi-kursi dipindahkan

dari khayal ke khayal”

Maksudmu dari kedai ke kedai

dari waktu yang bangun di ruang tunggu

ke pucuk pohonan

di atas sabana inersia

tanpa usaha mengingat, segala hamparan

akan menepi kepadamu

“mari larungkan semua kata yang pejal ini ke dalamnya

agar ada yang menanti kita

agar ada surat-surat yang menebal

seperti sepul angkasa”

di mana saat-saat terakhir menghampirimu

tapi hanya komet

atau pecahan gelas

atau ujung plastik yang meleleh

buah kenari yang kau singkirkan dengan pinggir kakimu

sewaktu berkeliling pada ruam tengah hari


Hari Ini atau Kemarin Madotsuki* Tidak Melompat dari Balkon dan Itu Adalah Hal yang Baik

“Juga hari-hari makin sendu.

Bayangan demi bayangan memejal dengan sikap yang mudah kukenal.

Jika kuajak bicara, segera aku sadar

bahwa aku hanya sedang mengkhayal

aku sedang mengajak mereka bicara”

barang-barang dan ornamen-ornamen di meja. Seperti melukat tanpa waktu

berbuih dengan gelombang yang membura

dari bintang-bintang bercincin.

“Seperti apa bintang-bintang menyingsing

dari kaca gedung yang sepi.

Aku pernah membacanya di sebuah majalah.

Hari itu hujan (aku tidak bisa membedakan

hari hujan dengan tiupan angin hutan).

Artikel itu bermalam

di sebelah tulisan tentang lagu-lagu

yang rilis tahun 70-an,

kalau tidak salah”

Percakapan normal. Lampu meja

yang tetap dapat dinyalakan

meski dengan merambang

seputar diri. Titik yang tersaruk

menjadi garis

selisip antara jurnal-jurnal diretas

oleh lamunan. Lima sore. Buku teks

gema yang jauh di bawah sampul. Lima pagi.

Dan seterusnya dan seterusnya.

“Tonggeret! Lihat, lihat!”

di trotoar sebuah minuman kaleng menggeleser jatuh

dari kantong belanja. Berbunyi sekali.

“karena jika pintu kubuka,

aku akan selalu menahan ngeri

kalau-kalau di sebelah sana

adalah sebuah lembah

yang sedang memulai sebuah festival

sangat pelan, lebih lamban

dari mimpi-mimpi yang mulai kucatat.”

*dari nama tokoh game dengan judul Yume Nikki, mengenai penjelajahan lanskap mimpi-mimpi buruk


Animal Laborans

“Di balik wajahmu terpendam air hujan”

“Benarkah? Biar kukeringkan”

Abu seekor anjing kecil tertidur

di bawah jendela ruang tamu

petir dalam tengkoraknya. “Di balik wajahmu

terpendam gema

bertitik-titik”

Ritme palu dan hantaman arsitektur

dari selembar print

memunculkan tangga bukit yang dipagari kebetulan; Siang mengering kuning, sesaat mengagetkan,

seperti sekaleng cat

Seorang pria tertidur di sofa, tak kita kenal

kecuali mungkin baju pelindung

pabrik-pabrik dan aroma lelehan besi

menggeriap di antara paranoia

hantu-hantu 

kreasi para budak

“Yang pasti akan kita dapati

padang rumput dengan bunga-bunga kecil,

orang-orang datang terlihat

berdenging berdua-dua

seperti bercak darah sebuah gamparan.

Segar. Musim semi bermandikan lampu taman

kastil purba dan kelengangan.”


Panduan Bercakap Mendekati Tengah Malam

Di langit hening, pantulan kota terbuka.

Yang namanya kerinduan tak pernah ada,

yang diuntai

dengan serabut angan dan semacamnya.

Jangan memperkirakannya sebagai misteri;

Orang-orang melepas nama, merasuki

mesin pencari

semesta-semesta 

Setahap. Setahap.

Kombinasi angka dan gerbang-gerbang mikroskopis

dalam pikiran yang tak bisa gelisah. Mekanisme untuk kembali.

“Entahlah. Aku mendengar sesuatu,

tapi tak yakin apa. Kunci kamar di atas meja,

dekat lampu tidur. Pintu rapat dalam dirinya.

Kunci menuju diriku

pola geometris bayangan-bayangan di taman

tadi jam enam.”

Di zaman semacam ini. Di waktu dan hari begini. Menyelam terus

hingga mendapati inti zat;

Massa sesuatu yang mendekati kekal.

Mengukur khazanah yang sudah terkupas.

Ada yang menyebutnya sebagai lapisan tersembunyi,

ada yang penampakan. Simpangan masa.

Tidak lebih.

Di zaman semacam ini.

Di waktu dan hari begini.

“Langit hening pun bukan di sini.”

Segalanya terlalu terbuka. Bahkan cahaya.

Tak bisa lolos hari ini.

“Seperti ini dalam diriku. Aku bermimpi. Kadang. Aku ingin sendiri tapi, ya,

aku sudah sendiri ketika kembali.”


Dan Satu di Antara Mereka Bercakap tentang Hal yang Belum Berlalu

Dari detak kesepian

kepalanya yang kelu terbias.

Ia perempuan yang merentangkan kesayuan

menjadi seperti kelip yang tak dapat kau duga asalnya

“agar segala hal yang bagiku tersembunyi

pun bagimu tersembunyi.

Agar kupegang semua tangkai kegetiran menjadi milikku.

Seperti itulah kelahiran manusia

dan benda-benda ciptaannya.”

Namun, sebenarnya ia hanya terduduk di situ.

Di belakang setir.

Kedipannya tak merampungkan apapun

yang telah terjadi.

Yang sedang terjadi dan terjadi lagi.

Di belakang, seorang laki-laki

mati mengejarnya sepanjang hari.

“Hari-hari tumbuh dalam ukiran,

di ruang-ruang hening kerajaan

yang sedang menuju kekalahan.

Dalam tenggorokan dan

cekungan tengkorak massa yang memimpikan

hal-hal besar. Hal-hal besar dan jauh.”

“Jadi, mereka itu mati

oleh kelelahan? Oleh kekalahan

yang disebut-sebut banyak orang sebagai cinta, pengkhianatan

dan segala musim lain yang menyempal dari antariksa kebolehjadian?”

“Sebenarnya, tidak.

Mereka mati. Dan bagi kita

bagi kita itu cukup.”


Setelah Meninggalkan Warehouse

Di atas kepalanya malam meluas

merambak mengikuti rumput-rumput tandus dekat rel:

jam begini pertanyaan sengaja tercipta

“Apakah benda-benda angkasa

suatu saat akan menimpa kita

kita seperti umat manusia lainnya

tercengang karena masa kanak-kanak telah usai

menduga diri kerangka-kerangka besi

yang terkikis faal

fenomena semesta dari alam yang tersimpan

di rak-rak buku. Sintas dalam halaman-halaman

yang kita sentuh seperti menyentuh wajah-wajah yang hanya mekar

dalam masa kecil dan kita berbalik

dan tiba-tiba

yang ada hanya ingatan pudar

mengenai daftar barang-barang yang belum sampai. Gudang bermuatan benda-benda

yang tak ada namun dapat kita lihat

mata rantai dan orbit dan konveyor

dan hidup diatur oleh tabel waktu.

Hidup menimpa dalam tidur, kita tahu.

Kita kehilangan perhitungan.”

namun pikiran semacam ini terlalu berat sekarang

bagi laki-laki itu

yang sekarang memegang setir

menyalakan radio pukul sebelas malam

untuk dirinya, kursi kosong di sebelahnya

memandangi kekosongan jalan tanah

desik yang ternyata hanya kabel listrik

melantur soal betapa pekatnya hitam hutan saat ini dan apakah ia akan pulang

tidur dengan sangat lelah dan bermimpi

tentang tempat yang terasa asing

namun selalu membuatnya

seperti ingin menangis.


Menyelesaikan Kursus Bahasa dengan Skor Kurang Sempurna

-untuk teman-teman Wall Street English Kelapa Gading, juga “hantu-hantu” kenangannya. Singkat, namun tak tergantikan.

terletak di atas meja kaca

kehidupan setelah lagu, bahasa

setelah keramaian

seperti kesibukan pejalan kaki

di bawah tiang-tiang berbendera. Membiarkan mendung mendekat.

“Ah, kalau saja kita benar

baru sampai dari negara lain.

Untuk apa waktu senggang ini?

Untuk apa hawa dingin ini

selain rindu atau keinginan

agar segera pulang?”

Juga pembicaraan bergerak

menggerai kota:

adalah tata letak album

di rak pertokoan di mana kita

tak pernah tiba untuk memulai kesan

bahwa nampaknya

kita pernah bertemu sebelumnya.

“Ayo menikmati kopi

menyusuri mal yang berkejap tetap

di balik kaca-kacanya yang mengenang

orang-orang di balik manekin

kemudian mendengar malam

bergema

dekat taman anjing yang selalu kosong itu.”

Dan aku mengikutimu sungguh-sungguh.

Begitulah beberapa dari kita;

Tak akan mekar jadi perempuan dewasa

yang bernyanyi dengan setelan gaya 80an

mungkin menabrak pagar pembatas

di sebuah jalan tol ketika dini hari

berdering meniru telepon yang terputus

dengan sendirinya.

Memenungkan kedewasaan

di depan monitor; lembur

dan ternyata MRT terakhir sudah lama berhenti. 

Merasakan sebagian diri

melewatkannya; papan tulis, kursi tinggi

klub-klub penuh anak sekolah

untuk menghibur diri bahwa masa muda

“memancarkan pancuran air

yang terjaga di tengah alun-alun

dari negeri-negeri cantik dengan dinding kelabu

dan kafe yang menyala

jauh dalam pudar bahasa

yang asing dan berselubung mimpi.”

Tapi, jika setelah aku pulang kelas malam

ada salinan arwah yang masih tinggal

berbisik-bisik

di ruang multimedia

aku menduga diam-diam bahwa

mereka berkata begini:

“akan selalu begitu, juga ketika usia

melewati beberapa dari kita

seperti jendela kereta

dan potongan lagu di sebuah tempat yang membuatmu mengantuk

kita telah berakhir. Kita berakhir

dengan cara seperti ini.

Asing dan berselubung mimpi.”


Jonah Mario, lahir di Jakarta pada 10 Desember 1995. Saat ini telah menyelesaikan pendidikan dari Teknik Industri Universitas Trisakti. Hobi menulis puisi.