Cerpen

Subali

Cerpen Adam Yudhistira

Malam itu adalah malam ke sekian Sudra pulang dengan lebam di pelipis, gaun malam murahannya robek di bagian bahu, bekas cakaran memanjang di leher. Subali tak bertanya apa pun. Perempuan itu juga tak banyak berkata-kata. Ia hanya meletakkan sebungkus nasi goreng di atas meja, lalu mengganti gaun malamnya dengan daster kembang-kembang. Setelah itu, ia meringkuk, memeluk tubuh Melati sambil menangis.

Malam esoknya, Sudra kembali berdandan rapi. Bibirnya dipoles gincu merah menyala. Sebuah tas tangan mungil tergantung di lengan kirinya. Subali tahu isinya; wadah bedak, sepotong pensil alis, dan sepotong lipstik murahan. Itu semua peralatan Sudra bekerja. Sesaat sebelum pergi, perempuan itu selalu berpesan; tolong jaga Melati.

“Kita akan menyudahi penderitaannya,” bisik Subali seraya mengecup bilah belati di tangannya. Hawa hangat mengalir dari mulutnya, menciptakan embun di permukaan belati yang berkilauan.

Subali adalah lelaki yang terbiasa hidup di bawah sumpah serapah. Dari pelosok kumuh metropolitan, biang iblis membesarkannya. Tangannya berlumur dosa-dosa. Subali membenci hidupnya dan melaknati masa lalu yang tak pernah bisa ia bersihkan. Ia tak pernah mengenal siapa bapaknya. Yang ia ketahui hanya satu; ibunya pelacur yang mati dibunuh pelanggannya. Perempuan malang itu dituduh telah menularkan penyakit hina.

Penderitaan membentuk jiwanya menjadi makhluk yang menyimpan kemarahan. Segala jenis kejahatan pernah ia lakukan. Desing peluru petugas bagai nada sumbang lagu dangdut yang menggema tak bermakna. Tetapi, itu dulu, sepuluh tahun yang lalu. Sebelum ia mengenal Sudra.

Ia menamai perempuan itu Sudra, sebab begitulah adanya. Rendah dan tak berharga. Kasta paling bawah yang mungkin setara dengan binatang di hutan belantara. Sudra adalah pelacur. Sudra mengingatkan Subali pada ibunya.

Bersama Sudra, ia menjajal hidup yang berbeda. Cinta mereka pun menumbuhkan satu tangkai bunga. Bunga kecil itu terlahir dari kubangan nista. Tapi benih cinta yang mereka semai, jauh dari noda ibu-bapaknya. Subali memberinya nama Melati.

“Ibunya lonte, bapaknya berandal!”

Begitulah tajamnya kata mengoyak jiwa Subali dan Sudra. Kerap tangis mengalun di bibir Sudra ketika tengah memeluk Melati yang sedang tertidur lelap. Tangis itu membakar dada Subali. Jika saja itu terjadi sepuluh tahun yang lalu, tentu ceritanya akan berbeda.

Membunuh adalah hal yang paling gampang bagi Subali. Tapi ia telah bersumpah. Sisi hitam dirinya telah dikemasi, tersimpan rapi di dalam brankas besi dengan satu doa; semoga iblis itu tak pernah kembali. Subali mengupas semua dosa gelap yang menyamaki kulitnya. Hidup berdamai dengan kemiskinan. Berjuang keluar dari lingkaran setan kemelaratan.

Orang-orang bijak berkata, hidup berputar seperti roda. Kadang di bawah, kadang di atas. Tapi peribahasa itu tak berlaku untuk Subali. Sekian lama ia menunggu, tapi putaran roda itu tak kunjung bergerak ke atas.

Mungkin jika karma itu ada, Subali sedang menjalaninya. Kesulitan demi kesulitan bagai gelombang yang terus datang. Dan kesulitan itulah yang  membuat Subali tak kuasa menolak ketika Sudra ingin menempuh jalan hidupnya yang lama: menjadi pelacur.

Bibir lelaki itu tak kuasa berkata-kata. Ia terhenyak ditampar kenyataan. Rupanya keyakinan saja tak cukup untuk melawan kemiskinan. Malam itu kembali Sudra pulang membawa lebam. Subali sadar jika Sudra bukanlah perempuan suci. Namun cinta tak pernah berdusta. Setiap kali melihat bilur-bilur luka di tubuh Sudra, dadanya menyala dendam yang membara.

***

Tubuh tambun itu rebah bersimbah darah. Di lantai, sebilah belati tergeletak. Vas bunga pecah berantakan. Ada sisa darah mengering di kepingannya. Kursi, meja, semuanya tak lagi tertata. Iblis itu lahir kembali. Ia kembali pada wujudnya yang lama.

“Kau telah membunuhnya,” ucap Sudra membuyar lamunan Subali.

Subali mendengus. Hatinya tersulut cemburu saat Sudra terdengar menyesalkan perbuatannya. “Diamlah! Aku memang  telah membunuhnya, lalu kenapa?” hardiknya.

Sudra hilir mudik,  langkah kakinya bolak-balik. “Apa yang harus aku lakukan? Aku bisa masuk penjara. Aku tak mau masuk penjara. Melati masih membutuhkan kita.”

“Katakan saja pada petugas kalau para berandal pembunuhnya.” Subali menjawab santai tanpa beban. Ada kepuasan di matanya. Ia mengelap sisa-sisa darah di belatinya. Iblis terbahak, mengejek sepasang tangannya yang kembali berlumur dosa.

“Apakah mereka akan percaya?” tanya Sudra bimbang.

“Ya, mereka akan percaya,” jawab Subali.

Sudra duduk di tepi ranjang. Spreinya kusut, tempat tadi ia dan lelaki tambun itu larut bergelut.

“Kenapa kau bunuh dia? Aku rela menerima perlakuannya.”

Subali terbahak, lalu meludah. Gumpalan ludahnya mendarat telak di wajah beku lelaki yang baru saja menggeluti tubuh istrinya.

“Karena aku mencintaimu.”

“Tapi, kau tak perlu membunuhnya!” Nada suara Sudra meninggi. Ketakutan mencengkram dadanya. Ketakutan yang sesungguhnya tak perlu ia sesali jika ia sadar bahwa  wujud asli Subali bukan orang suci, apalagi nabi. Subali adalah iblis.

“Jika bukan aku yang membunuhnya, maka kaulah yang akan dibunuhnya.”

Sudra menyeringai. Seringainya menakutkan. Ia bangkit, lalu merampas belati di tangan Subali. “Aku bisa membunuhnya jika aku mau!” sentaknya sembari menikamkan belati itu ke perut lelaki tambun berkali-kali.

Subali terdiam. Lidahnya bagai tersimpul mati. Ia melihat iblis menyeringai di atas kepala Sudra.

Sudra menghentikan gerakannya, lalu menangis. “Lelaki inilah yang membelikan susu anak kita. Lelaki ini bukan orang sembarangan.”

Subali terdiam cukup lama. Bahkan demi cinta, ia rela membunuh Raja Dedemit sekalipun. Bukan orang sembarangan, kalimat itu tak cukup kuat untuk membuat bulu di tengkuknya berdiri.

Lelaki itu menyulut sebatang kretek, lalu berjalan mondar-mandir. Di depannya Sudra yang belum sempat berbusana. Subali menyedot rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya pelan-pelan. Matanya terpejam, menikmati sensasi anyir darah yang menyatu bersama aroma tembakau.

“Aku tahu. Lalu kenapa?” tanya Subali. Asap rokok bergulung-gulung. Aroma tembakau menindih anyir darah yang mengambang ke seluruh ruangan.

“Dia Anggota Dewan.”

Subali meludah sekali lagi. Jabatan itu membuat rasa mual muncul di kerongkongannya. Ingin rasanya ia mengisahkan tentang aksinya sepuluh tahun yang lalu. Entah sudah berapa kepala ia penggal dengan jabatan yang serupa. Apa takutnya? batin Subali. Ia bahkan merasa sebagian dari mereka memang pantas untuk dipenggal. Seperti halnya mereka yang kerap memenggal hak-hak orang jelata, berjuang atas nama kaum jelata tapi mencuri uang mereka tanpa rasa berdosa.

“Aku tidak takut.”

“Polisi akan memburumu.”

“Polisi?”

Subali membuang muka. Sudra tak pernah tahu kalau dulu ia yang memburu polisi, bukan polisi yang memburunya. Para polisi tak pernah mau cari gara-gara dengannya. Ingin ia mengisahkan jika pada suatu malam, ketika ia menggorok leher Kapten Santoso. Kepala satuan polisi yang kerap menjadi beking rumah bordil dan rumah judi itu mati dengan luka menganga di lehernya.

“Aku tidak takut.”

“Mereka pasti akan membalas dendam dan membunuhmu.”

“Aku juga tidak takut.”

“Tapi aku yang takut. Aku takut kehilanganmu!”

Sudra akhirnya menyerah. Air matanya meruah, melunturkan bedak murahan di pipinya. Bagaimanapun, memang hanya Subali yang menganggapnya perempuan mulia. Hanya Subali yang bisa menerima segala noda hitam di tubuhnya. Walaupun lelaki itu adalah jelmaan iblis, namun di matanya, Subali adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjaganya.

“Aku akan baik-baik saja. Sudahlah. Sebentar lagi subuh. Aku akan pergi. Tak usah cemas. Jaga saja Melati, aku akan pulang jika situasi benar-benar aman.”

Subali dan Sudra berpelukan, seolah-olah itu pelukan terakhir yang bisa mereka lakukan.

***

Kereta malam melesat kencang. Remang membayang di bawah sinar lampu merkuri. Subali berlari pincang. Kakinya berdarah, timah panas melubanginya. Ia lari dari kejaran enam orang lelaki berambut cepak yang meneriakinya agar berhenti. Namun Subali tak peduli. Ia terus berlari dan berlari, menyeret kakinya yang tak henti mengukir jejak darah di tanah dan rerumputan.

TAAR!

Satu letupan keras terdengar. Lelaki itu tersungkur. Debu-debu berhamburan, serupa anai-anai yang dilambungkan angin kemarau. Satu peluru menerpa punggung hingga tembus ke bidang dada. Tetapi Subali belum juga mati. Ia enggan untuk mati. Lelaki itu menggeletar dan menggeliat, sambil menatap langit dini hari. Dua wajah terbayang di matanya. Wajah Sudra dan Melati. ***


Adam Yudhistira Bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di media massa cetak dan daring di Tanah Air. Saat ini mengabdikan diri untuk mengelola Taman Baca Masyarakat Palupuh untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Buku kumpulan cerita pendeknya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

Cerpen

Sejak Ishak Ditangkap

Cerpen Jeli Manalu

Kini, sesudah malam penangkapan itu, cahaya hanya garis-garis dari lubang ventilasi. Tak ada detak jam dinding sebagaimana ketakutan jantungku ketika ada yang memukul gembok tempat tinggalku. Lalu yang kuingat: derit pintu, sepasang sepatu yang masuk, nasi berisi lauk berantakan, sebotol minuman, dan air pencuci tangan. Malam itu, pada pukul dua puluh dua ada yang menelepon. Ishak belum sempat mandi dan langsung mengenakan seragamnya sehabis kembali dari pertemuan penting. Telepon berdering lagi. Isyarat tubuh Ishak sangat lain. Wajahnya kaku. Tatapan matanya menuju satu titik tapi aku yakin ia tidak sedang melihat titik itu.

Aku menuang teh tak bergula ke cangkir keramik setinggi telunjuk Ishak dengan perasaan yang aku sendiri tidak tahu bagaimana menyimpulkannya, namun seluruhku seakan runtuh. Gemetaran aku mengambil nampan. Kupegang dengan tangan kiri dan segera mengepitnya. Setelahnya keningku menubruk dinding saat letusan keras seperti menombak ke ceruk dadaku dan kupikir itulah saatnya aku mati.

 Dalam keadaan kalut kupaksakan diri naik ke meja dan memegang sudut lemari agar bisa mengintip. Sosok-sosok seperti gorila mendobrak pagar, merusak bunga lalu dahan-dahan mudanya berpatahan. Lututku lemas. Jantungku memacu lebih cepat, aku segera turun meraih tangan Ishak yang dinginnya sedingin tanah malam di tepi danau, “Kutitipkan anak-anak,” kata Ishak, mencium dahi dan memeluk diriku yang juga beku, “jaga dirimu,” tutupnya. Ia kemudian berjalan tanpa pernah menoleh lagi ketika dirinya digiring ke sebuah truk berisi benda jahat yang tak kuketahui namanya.

Dari kisi jendela kutatap ia sampai yang terlihat hanya malam, hingga yang ada seperti udara dipompakan ke balon kecil hingga sesak dan balon itu adalah dadaku. Udara dalam balon itu darahku yang bergelegak panik. Lalu nyeri menjalar ke hatiku. Tolong jangan bawa suamiku. Tolong kembalikan ia padaku, ujarku.

Saat kupikirkan orang yang menganggap Ishak penghalang kariernya maka aku mulai paham tempat pengasingan itu, segera kupersiapkan diri sebaik-baiknya. Pistol di lemari khusus milik Ishak. Tinggal dor! Selesai,pikirku.Tapi itu tidak mungkin, “Tanganmu tercipta bukan untuk berperang, Sayangku. Jadi ratu dan malaikat bagi anak-anak kita, itu saja,” ujar Ishak suatu hari, sembari memetik setangkai mawar dan menyelipkannya di daun telingaku.

Karenanya kuputuskan membawa tongkat bambu. Sebilah belati. Kalung berliontin patung Kristus yang bercahaya saat bertemu gelap. Kalung itu hadiah pernikahan yang Ishak dan aku dapatkan dari Ambolas, lelaki yang kemudian benci pada suamiku. Mereka dulunya sahabat karib. Berteman sejak SD, masuk SMP dan SMA sama hingga menempuh pendidikan kemiliteran. Ambolas membantu kami di awal-awal. Meminjamkan rumahnya kutempati selama Ishak bertugas di pedalaman Sumatera. Ia bilang, “Anggap saja aku kakakmu.” Tapi karena pola pikir Ambolas dengan Ishak bertolak belakang, sejak itulah banyak hal berubah.

Menempuh perjalanan selama berjam-jam ditemani tongkat bambu, belati serta kalung berliontin patung Kristus, di tepi tebing di mana aku bertemu kepala-kepala remuk tak kudapati wajah Ishak. Apa ia berusaha melarikan diri? Apa ia rasakan sakit saat dipukuli lalu memanggil namaku dengan suara yang cuma tertahan di dalam?

Yang kulakukan saat itu, lekas-lekas meredam perasaan. Cahaya kalung berliontin patung Kristus dari leherku memperlihatkan seonggok amis berdarah-darah. Aku melepas baju seseorang itu kemudian mengenakannya di badanku. Maka kalau ada gorila atau pemuja Ambolas tak sengaja menginjakku, jika ia mengarahkan senter, aku lelaki berbaju menjijikkan yang tak menjerit bila ditendang.

Setelahnya, aku menembus kebun nanas dilanjut ladang jeruk purut di mana di tengah-tengah ladang itu ada semacam terowongan yang tidak diketahui banyak orang, seperti yang pernah diceritakan Ishak,. Di sana telingaku selalu awas. Kutahan napas tersengal-sengal karena indra penciuman ‘ular’ kupercayai tajam—tak tahu bagaimana aku memikirkan teori murahan itu. Aku tak pernah baca kisah yang membahas tentang ide semacam itu. Nyatanya, ketika aku tidak bernapas sebanyak tiga puluh tiga hitungan yang hampir membuatku mati konyol, berkat bantuan sinar liontin patung Kristus di leher, aku melihat ‘ular’ besar yang lewat namun cuek-cuek saja.

Setelah si ‘ular’ berhenti di ujung mataku, terlemparlah tubuh Ishak. Andai bisa bela diri sudah kumatikan setan-setan ini, pikirku. Aku tertawa menangis menikmati perih suamiku saat dadanya dimasuki peluru. Dan sesudah hening serta tak ada cahaya aku berlari menemui Ishak. Kudekap tubuhnya yang masih hangat. Kuciumi wajahnya. Bibir matinya kutuntun menuju keningku. Aku mengambil kedua tangannya lalu melingkarkan tangan itu ke tubuhku seolah-olah ia sendirilah yang melakukannya.

Kemudian jasad Ishak kubopong melewati sungai gelap sambil memegangi semak rumput di sekitarnya, dan hari sudah sangat siang ketika aku tiba di depan rumah. “Jo!” panggilku, keras-keras, agar pintu segera dibuka. “Sam!” teriakku lagi, sebab Jo tak kunjung menyahut tetapi ada suara di dalam sana. Elis, putri manisku berumur lima tahun itu mungkin berlama-lama di kamar mandi. Kubayangkan ia menekan odol stroberi banyak-banyak. Menggosok gigi sambil bercermin karena mamanya yang cerewet tidak ada. Mungkin ia tumpahkan sabun cair, masukkan sampo dalam ember penuh air. Ia acak-acak air itu, lalu menangkap gelembung-gelembungnya.

Ketika tubuh Ishak kusandarkan ke pintu dan pintu langsung terbuka, aku tak menyangka dengan rumah yang amat berantakan. Buku-buku berserakan. Lukisan-lukisan kesayangan Ishak pecah. Perabotan berhamburan. Di TV kulihat wajah Ambolas dan para pemujanya: ingin kukunyah rasanya orang-orang itu.

“Jo! Sam!”

Replika senapan menggeletak di kasur. Di lantai ada ceceran saos tomat mengering yang anyir. Aku turun lagi dan lekas-lekas matikan TV sebab telingaku menangkap tangisan kecil dari arah kamar mandi.

Kudobrak pintu itu. Ember besar bertutup goyang. Dari sana Elis muncul, dan dalam keadaan gemetar memeluk perutku. Pakaiannya basah. Rambutnya basah. Muka penuh sabun. Mata bengkak memerah. Aku tak tahan melihat air mata bercampur ingus meleleh ke bajunya, aku menciumi anak gadisku itu.

“Abang …,” suara Elis bergetar.

“Kenapa Abang?”

“Abang dipu-kul, di sa-na,” ia menunjuk gudang dengan suara patah-patah.

Jo dan Sam kutemukan meringkuk dalam got. Cairan merah menetes-netes dari kulit keduanya, mungkin terkoyak sesuatu saat lari untuk menyembunyi.

“Apakah sangat sakit, Nak?”

“Apa Mama masih hidup?”

Aku mengangguk. Ketiga anakku merangkulku dan mendekatkan masing-masing telinga mereka ke dadaku.

“Tapi papa kita sudah tak ada,” ujarku.

“Bila aku meniupkan udara ke mulut Papa, apa Papa akan bangun, Ma?” aku tertegun melihat pipi Elis yang membesar lalu berkali-kali mengembuskan udara ke mulut Ishak, beristirahat sebentar, mengulanginya lagi, dan saat itu kami semua menangis tersedu-sedu.

Pada hari yang sama Ambolas diangkat jadi gubernur. Kubawa jasad Ishak ke hadapannya. Para wartawan merekamnya. Orang-orang mungkin mengabadikannya dalam catatan sejarah. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Aku kini semakin tua dan kering. Aku terpenjara hati serta tubuh. Tak pernah lagi melihat pagi, siang, malam, dan setiap waktu pekerjaanku hanya menajam-najamkan ingatan akan wajah keluargaku. Kata orang-orang itu, aku menghilangkan nyawa anak-anakku dan mesti dihukum seberat-beratnya.

Kau, apa percaya hal semacam itu? **

Riau, Maret 2016-2019


Jeli Manalu Lahir di Padangsidimpuan, 2 Oktober 1983. Penikmat sastra dan menulis cerpen. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcernya Kisah Sedih Sepasang Sepatu (Basabasi, 2018)

Cerpen

Kita Memang Bukan Sepasang Kekasih

Cerpen Mawar Dani

/1/

Padahal aku tahu betul bahwa tidak ada pertemanan murni di antara dua orang dewasa lawan jenis kecuali adanya rasa saling nyaman.

Suatu masa pertemuan terjadi karena campur tangan seseorang yang sangat kita kenal. Beliau yang menjadi perantara adalah temanku juga sepupumu. Tidak jelas motifnya apa tapi setelah perkenalan itu kita menjadi akrab.

Aku wanita berusia dua puluh delapan tahun. Sudah kenyang dengan pertanyaan ‘kapan nikah?’. Khatam rasanya sesak ketika di-bully dengan ucapan jodohnya sudah mati. Hari-hariku sungguh membosankan. Dari rumah ke kantor begitu sebaliknya, rutinitas hari efektif kerja.

Kau lelaki berusia hampir sama denganku. Memiliki kemiripan kisah dalam kehidupan. Bosan dicecar pertanyaan serupa denganku dan beberapa kali pernah gagal menjelang pernikahan.

Kita sama. Mungkin karena kemiripan pengalaman tersebut obrolan kita nyambung istilah zaman sekarang.

/2/

Perkenalan di hari ke empat puluh lima. Kita sama-sama punya urusan di sebuah kota bahkan di lokasi yang sama pula. Sebagai wanita yang merasa nyaman berhubungan denganmu, aku berharap kau punya inisiatif mengajak bertemu.

Sudah selesai urusannya?

Kau jawab sudah dan dalam perjalanan pulang.

Kenapa tidak menunggu aku? Supaya kita ketemu lagi.

Sekali lagi jawabanmu membuat dadaku sesak; punya urusan lain.

Perlu kau ketahui, pada saat aku mengutarakan keinginan untuk bertemu, wajahku memanas menahan rasa malu.

Baiklah kumaafkan. Barangkali ucapan sepupumu benar, kau lelaki pemalu. Meskipun aku terluka untuk pertama kalinya atas sikap itu, kita masih seperti biasa.

/3/

Memasuki hitungan enam puluh hari. Tidak ada tanda-tanda kemajuan yang berarti. Hubungan kita sebatas obrolan aktivitas sehari-hari. Meskipun kadang kau curhat serius masalah kehidupan pribadi di antaranya tentang keluarga.

Aku berkaca dari pertemanan yang sudah-sudah, di mana aku juga pernah berteman akrab dengan seorang laki-laki. Suatu hari ketika dia mengatakan akan menikah dengan perempuan lain, hatiku terluka.

Tidak ingin lagi terjadi hal yang sama.

Aku menggiringmu untuk bercerita tentang masa depan. Kehidupan berumah tangga. Kata orang, itu salah satu cara memberikan sinyal kepada seseorang yang disukai.

Ya. Senang mendengar rencana itu tapi tidak dengan kriteria pasangan impianmu. Harusnya aku segera menyadari.

/4/

Suatu hari dan aku tak ingin lagi menghitung bilangannya, kita kembali punya urusan di kota dan lokasi yang sama.

Kita akan bertemu.

Aku tersenyum malu membaca pesanmu. Selama mengenalmu, aplikasi perpesanan milikku menjadi ramai. Tidak ada lagi yang bernama kesepian.

Baiklah. Selesai urusan kita bertemu.

Sahutku penuh semangat. Aku berharap setelah pertemuan kedua ini, hatinya menjadi peka.

Masa itu tiba. Kita masing-masing telah menyelesaikan urusan.

Jadi bertemu?

Terserah.

Yakin nggak?

Terserah.

Harusnya aku sadar dan lebih awal membaca nasihat tentang kata terserah yang keluar dari mulut lelaki. Terserah adalah ungkapan menghargai perasaan wanita yang memiliki penolakan secara halus.

/5/

Aku memang bukan seorang istri. Kita belum menikah. Tapi sudah hampir dua minggu firasatku mengatakan ada yang berbeda. Ada yang berubah dari dirimu.

Aku bertanya sesuatu boleh?

Sangat jarang aku meminta izin seperti itu. Artinya ada sesuatu yang sifatnya penting.

Silakan.

Apa kau sedang menjalin hubungan dengan seseorang?

Kenapa bertanya demikian?

Jawab saja ya atau tidak?

Iya. Aku sedang melakukan penjajakan dengan seseorang. Seperti inginku, dia cantik dan menarik. Memiliki pekerjaan yang layak diperhitungkan.

Oh, ada rencana untuk serius?

Doakan saja. Aku berharap begitu.

Baiklah. Aku senang mendengarnya.

Padahal aku tahu betul bahwa tidak ada pertemanan murni di antara dua orang dewasa lawan jenis kecuali adanya rasa saling nyaman.

Setelahnya, obrolan dari aplikasi perpesanan kuhentikan. Aku menuju cermin lalu berkaca. Wajah ini barangkali tidak memiliki nilai lebih menurut pandanganmu.

Ingin rasanya mengumpat tentang keputusan orang dalam menjatuhkan pilihan hati. Tapi menyalahkan pemberian Tuhan adalah dosa besar.

Sebagai seseorang yang sedang belajar meniti karir di dunia menulis, aku lumayan banyak membaca tulisan. Kata senior, untuk menjadi penulis hal penting selain latihan adalah banyak membaca. Dan aku pernah menemui sebuah nasihat; yang pergi akan segera mendapatkan ganti.

Entah siapa yang tepat dikatakan pergi, aku atau dirimu. Yang jelas setelah kuyakin kau benar-benar tertidur, segala aplikasi yang selama ini menjadi penghubung di antara kita kuputus. Aku dan kau pasti menemukan pengganti.

Aku tak peduli apakah kau butuh dukunganku di saat terjatuh atau tidak. Aku tidak ingin lagi menjadi pendengar setiamu tentang hobi, pekerjaan atau masalah yang menimpa.

Kita memang bukan sepasang kekasih. Meskipun kutahu aku menyimpan rindu yang besar untukmu.

BP Mandoge, 18 Februari 2019

Mawar Dani, berasal dari desa BP Mandoge Asahan. Saat ini tercatat sebagai pramubakti di KUA setempat. Penyayang kucing dan suka membaca kisah romantis

Cerpen

Apakah Kota Ini Bisa Menggambarkan Sebuah Perasaan

Cerpen Tjak S. Parlan

Kita berhenti di bagian ruas jalan yang kamu pilih. Di sepanjang jalur ini terpacak kursi-kursi taman yang nyaman bagi persinggahan para pejalan kaki. Di sisi jalan, sebuah taman kecil tertata asri. Kamu duduk di salah satu kursi itu seraya memandang ke sekitar. Udara terasa segar. Beberapa meter di depan kita, pasangan muda sedang mendorong kereta bayi. Lalu satu-dua orang yang berpapasan, tampak saling menyapa dengan ramah. Tiga orang petugas kebersihan, baru saja selesai menyapu jalanan basah. Ini bukan hari libur dan masih terlalu pagi untuk berjalan-jalan. Tapi aku begitu menikmati suasana seperti ini.

“Aku pikir tidak masalah kalau kamu duduk di sini. Kamu mau duduk di kursi ini? Di sebelahku?” tanyamu seraya tersenyum.

Aku berterima kasih padamu atas tawaran itu. Itu mungkin hal yang biasa bagi sebagian orang. Tapi agak merepotkan bagiku—dan aku tidak ingin lebih merepotkanmu lagi. Biar saja aku di kursi ini dulu. Masih terlalu pagi bagimu untuk membopong tubuhku dari kursi roda ini ke kursi yang sedang kamu duduki.

“Kamu kenapa?” tanggapmu seraya tertawa. “Kita dulu pernah sebangku, kan?”

Tentu saja. Aku masih ingat bahwa kita pernah sebangku dalam waktu yang cukup lama. Tapi kota yang berbeda akhirnya memisahkan kita sejak kita lulus SMP. Aku harus meninggalkan kota ini, mengikuti ayahku yang berpindah tugas di Kota P yang berbeda pulau.

“Selama itu, kamu tidak pernah kembali ke kota ini. Atau mungkin pernah, tapi kita tidak sempat bertemu. Apa benar begitu?”

Tidak. Memang tidak pernah. Aku juga tidak tahu mengapa kedua orangtuaku tidak pernah mengajakku menjenguk kota ini lagi. Kedua orangtuaku sepertinya terlalu sibuk di tempat tugasnya yang baru. Sementara, kami memang sudah tidak memiliki kerabat dekat yang masih tinggal di kota ini. Meskipun begitu, kedua orangtuaku tidak mau menjual rumah peninggalan kakekku. Ayahku malah mempercayakan perawatan rumah itu kepada ayahmu, kawan dekatnya sejak kecil dulu. Mungkin, ayahku diam-diam masih memendam keinginan, bahwa kelak akan kembali dan menikmati masa tuanya di kota ini.

“Aku kira kamu akan lebih lama di sini. Berapa hari lagi?”

Sebenarnya aku belum bisa memastikan akan berapa lama lagi berada di kota ini. Kamu tahu, awalnya aku iseng belaka. Tentu saja, tidak bisa dimungkiri bahwa aku juga memiliki rasa kangen pada tanah kelahiranku ini. Sekitar sebulan sebelum bencana itu, aku sempat mengikuti unggahan foto-foto di akun instagram-mu. Foto-foto yang mengingatkanku pada tempat-tempat yang pernah kukunjungi. Ada benteng Lama sehabis direstorasi, ada sekelompok seniman yang mengisi sebuah sore di kawasan Kota Tua, ada beberapa sudut yang instagramable di kawasan City Walk—di bagian ini ada kamu yang sedang duduk santai di sebuah kursi panjang yang terpacak apik di pinggir jalan, ada juga tempat-tempat tertentu yang membuatku pangling pada banyak hal di kota ini.

Tidak ada foto THR— tanggapku dalam sebuah komentar.

Butuh seminggu lebih untuk mendapatkan tanggapanmu. Sampai akhirnya, sebuah nomor yang tidak aku kenal, muncul di layar gawaiku. Aku membalas chat-mu. Lalu kita pun saling bercerita—cukup panjang sore itu. Kamu telah mendapatkan nomor WhatsApp-ku dari adikmu—Seruni— yang kerap terlihat bersamaku menaiki komidi putar pada malam-malam tertentu ketika aku masih kecil dulu.

“Kamu tidak bisa naik komidi putar lagi,” katamu seraya tertawa.

Tapi entah mengapa, ketika aku sedang berusaha memutar kursi roda—dan tersandung bagian paving block yang bergelombang karena desakan akar-akar pohon— agar lebih dekat denganmu, kamu berusaha meralat apa yang baru saja kamu katakan itu.

“Bukan, bukan. Maksudku, Taman Hiburan Rakyat itu sudah ditutup untuk selamanya,” katamu seolah merasa bersalah. “Ada yang bilang mau dipindahkan. Entahlah.”

Aku segera menepuk pundakmu. Beberapa kali tepukan kecil. Pada saat itu aku menduga-duga, mungkin inilah pertama kalinya aku melakukannya—ya, menepuk pundakmu. Atau bisa saja, sepuluh atau lima belas tahun lalu aku pernah melakukannya. Mungkin pada suatu sore, saat aku mengejutkanmu di depan benteng Lama? Apa kamu pernah mengingatnya? Apakah seseorang bisa mengingat hal-hal kecil semacam itu? Aku sendiri merasa bahwa beberapa hal terkadang memang terlintas. Beberapa cukup jelas. Sisanya samar-samar belaka.

“Oh, iya. Kamu masih ingat Jagad?”

Aku berusaha berpikir, mengingat-ingat, apa ada nama seseorang yang kamu sebutkan tadi pada masa kecilku. Samar-samar, aku menemukan sosok anak laki-laki yang paling tambun sekaligus pendiam di dalam kelas. Tapi kalau ingatanku tidak keliru, anak itu pindah ke kota lain setelah lulus SD, sehingga aku tidak pernah mendengar kabarnya sama sekali setelah itu. Ada apa dengan kawan lama kita itu?

 “Dia meninggal sewaktu menjadi relawan di Kota P. Kecelakaan,” katamu lirih.

Lalu kamu menceritakan sedikit perihal kisah duka itu. Kamu juga mengungkapkan penyesalanmu karena tidak bisa banyak membantuku sewaktu bencana itu terjadi. Aku memang telah kehilangan banyak hal. Tapi itu sudah terjadi. Sekarang aku di sini dan masih ingin melanjutkan hidup. Tentu saja, rasa kehilangan itu belum bisa hilang dari diriku. Bahkan aku yakin, perasaan semacam itu tidak akan pernah benar-benar hilang dari hidupku.

“Ya, Tuhan. Harusnya aku tidak perlu menceritakan hal semacam ini kepadamu. Sudahlah, kita nikmati saja kota ini,” katamu seraya mendorong pelan-pelan kursi rodaku. “Kita akan ke mana?”

Aku mengangkat tanganku, dan menyerahkan diriku pada tujuan berikutnya yang akan kamu pilih pagi ini. Aku mengikuti arah yang kamu kendalikan sepenuhnya. Aku tidak ingin menolak apa-apa hari ini. Udara terasa semakin segar—tubuh dan jiwaku terbuka menerimanya. Sesekali aku berusaha memejamkan mataku, seraya meyakinkan pada diriku sendiri bahwa hari ini aku masih ada di kota kelahiranku. Sesekali aku bertanya pada diriku sendiri; apakah ini hanya kunjungan sementara, atau aku harus tinggal selamanya? Apa sesungguhnya yang membuatku harus memilih antara tinggal sementara atau selamanya? Kenangan-kenangan buruk, kenangan-kenangan manis, ataukah ingatan-ingatan lama yang berdesakan dan kerap meminta diterjemahkan ulang?

“Sepertinya kita harus berhenti dulu.”

Tiba-tiba suaramu terdengar begitu dekat di telingaku. Begitu dekatnya, sehingga aku bisa merasakan embusan hangat napasmu. Aku juga bisa mencium aroma tubuhmu: wangi tipis parfum yang menguar dari balik sweater hangatmu. Wangi tipis itulah yang selanjutnya menghadirkan sesosok bayangan di kepalaku. Bayangan itu adalah seorang laki-laki yang paling merasa keberatan ketika harus menerima kenyataan bahwa aku telah kehilangan sebelah kakiku, juga suaraku.

Bukan hanya itu, aku bahkan harus kehilangan kedua orangtuaku yang jasadnya terjebak dalam reruntuhan sebuah gedung perkantoran. Aku sendiri nyaris putus asa didera kengerian yang luar biasa itu: kaki kiriku remuk terhimpit bongkahan beton dalam sebuah pusat perbelanjaan di mana aku bekerja setiap hari. Tidak ada pilihan lain setelah itu. Kaki kiriku pun diamputasi di sebuah rumah sakit. Di rumah sakit itulah aku pernah bertemu dengan laki-laki itu untuk pertama kalinya, jauh sebelum bencana itu terjadi. Dia adalah seorang perawat yang kerap aku tanyai perihal perkembangan kesehatan budeku—adiknya ibu— yang pernah menjalani rawat inap selama berhari-hari. Dia jugalah yang kerap menjengukku di saat aku nyaris tidak punya harapan di dalam sebuah kamar rawat inap di rumah sakit itu.

Akhirnya, aku pun harus menerima kenyataan bahwa aku akan menjalani hidup dengan satu kaki. Aku berusaha menerima itu dan mulai terbiasa. Sudah setahun berlalu. Aku bahkan telah membiasakan diriku dengan kruk atau kursi roda pada kesempatan yang berbeda. Tapi ingatan tentang peristiwa mengerikan itu—yang tidak pernah bisa kuceritakan secara tuntas dengan kata-kata—membuatku jadi kehilangan kemampuan berbicara.

“Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?”

Aku segera membuka mata dan tersipu manakala melihatmu sedang membungkuk tepat di depanku. Aku mencoba tersenyum, menangkap sorot matamu yang menyelidik ke wajahku.

“Kamu pasti teringat Amri,” katamu kemudian. “Tenang saja, aku sudah berjanji untuk menjagamu di sini. Nanti, kalau dia tidak bisa menjemputmu karena pekerjaannya, biar aku saja yang mengantarmu.”

Iya, aku memang sedang teringat Amri—laki-laki perawat yang pernah kukenalkan padamu lewat video call. Tapi tentu saja, ada ingatan-ingatan lain yang terus berdesak-desakan di antaranya. Tentang obrolan panjangku dengan ayah dan ibumu di hari kedua kedatanganku. Tentang sebuah alasan lain—yang tersirat—agar aku bisa kembali ke kota ini. Bukan. Bukan tentang rencana penjualan rumah peninggalan kedua orangtuaku seperti yang telah kita ketahui bersama. Tapi ada sesuatu yang lain, yang tiba-tiba terngiang-ngiang dalam ingatanku.

“Rumah ini bukan hanya menyimpan kenangan bagimu,” kata ayahmu saat itu, “tapi juga kenangan kita semua. Kita semua tumbuh dan besar di sekitar sini. Kalau ada alasan sedikit saja yang bisa menahanmu, apa kamu mau tinggal di sini?”

Aku tidak bisa menjawab apa-apa ketika itu, selain mengisyaratkan bahwa aku akan mencoba mencari alasannya.

“Kalau ada seseorang yang memang berjodoh denganmu, kamu bisa menceritakan banyak hal tentang kota ini. Ya, siapa tahu dia akan tertarik dan mau tinggal di sini bersamamu,” kata ibumu dengan nada bercanda.

Lalu tiba-tiba ayahmu menceritakan banyak hal tentangmu. Tentang apa-apa yang sudah kamu kerjakan selama ini. Tentang kegagalan-kegalanmu dalam menjalin hubungan istimewa dengan seseorang. Tentang pekerjaanmu—yang menurut orangtuamu telah mapan— namun harus kamu tinggalkan karena lebih memilih mengurusi anak-anak berkebutuhan khusus di sebuah yayasan.

“Kadang-kadang, kami merasa iba dengannya. Anak itu sulit menemukan teman perempuan yang cocok. Tapi sejak bisa menjalin kontak denganmu, dia sering menceritakan keberadaanmu. Dulu, sewaktu kecil, kalian memang tidak terpisahkan,” celetuk ibumu dalam sebuah obrolan.

Potongan-potongan percakapan itu semakin berdesakan dalam kepalaku, seolah-olah meminta untuk disimpan dan diterjemahkan ulang.

“Kamu harus diam di sini. Jangan lupa tersenyum. Aku akan mengambil gambarmu.”

Aku tersenyum. Agak canggung. Compressed keys bip38. Mengambil jarak di depanku, bidikanmu menangkap obyek dengan apik: seorang perempuan berwajah tirus sedang duduk di sebuah kursi roda, dalam naungan ranting-ranting pohon rindang yang menjalari sebuah kanopi buatan.

“Sejak lulus SMP, aku belum pernah berfoto denganmu lagi,” katamu seraya menyelidik ke sekitar.

Seorang anak berseragam sekolah melintas di dekat kita. Kamu mengucapkan sesuatu dengan nada bercanda seraya menyerahkan sebuah gawai kepadanya. Remaja usia belasan itu tersenyum. Lalu dalam beberapa jenak, tubuhmu membungkuk dan tangan kananmu memelukku dengan lembut dan hangat.

“Apa sebuah foto bisa menggambarkan sebuah perasaan?” tanyamu tiba-tiba.

Cukup lama kita memandangi foto itu. Entah untuk apa. Tapi aku memikirkan pertanyaanmu—yang kamu lontarkan dengan nada bercanda dan sambil lalu. Hingga kamu menepikan kursi rodaku di sebuah kawasan florist, aku masih memikirkan pertanyaan sederhana itu. Aku tidak tahu apa yang kamu katakan pada perempuan paruh baya yang sedang merangkai bunga. Tiba-tiba saja tanganmu sudah mengenggam sebuket krisan merah.

“Ini untukmu,” katamu, seraya kembali mendorong kursi rodaku.

Aku menerimanya begitu saja. Kini, seraya menyusuri jalanan di sepanjang City Walk yang teduh dan tenang ini, aku mendekap krisan merah pemberianmu di dadaku. Aku mendekapnya seraya memikirkan sebuah pertanyaan lainnya: apakah kota ini bisa menggambarkan sebuah perasaan?

Jember, November 2018


Tjak S. Parlan Lahir di Banyuwangi, 10 November 1975.  Cerpen dan puisinya sudah disiarkan di berbagai media. Buku kumpulan cerpennya Kota yang Berumur Panjang (Basabasi, 2017). Selain menulis, ia juga “mengerjakan” perwajahan buku, majalah, koran dan media cetak sejenis lainnya. Saat ini mukim di Ampenan-Nusa Tenggara Barat.  Email: [email protected]

Cerpen

Riwayat Asmara Irvana

Cerpen Luhur Satya Pambudi

Riwayat asmara Irvana dengan sejumlah lelaki telah menjadi bagian hidupnya. Aneka perasaan telah silih berganti dijalani. Dari waktu ke waktu, perempuan itu merasakan bahagia, susah, tawa, dan tangis seperti apa adanya. Ketika meniti kembali satu demi satu cerita cintanya, sesungguhnya ia tidak menemukan sesuatu yang sia-sia.

***

Irvana yang telah berusia empat puluhan pernah dicintai lelaki yang jauh lebih muda ketimbang dirinya. Semula ia abai, terlebih karena ia enggan mengikuti kecenderungan yang terjadi di masa kini—menjadi perempuan mapan dengan kekasih di bawah umur. Namun, pemuda berusia dua puluh tiga itu memang simpatik di matanya. Ia senantiasa mampu membuat Irvana tersenyum, pun ia pendengar yang baik.

“Aku mencintaimu, apakah kau juga mencintaiku?” tanya sang pemuda suatu kali yang membuat Irvana terkejut.

“Jangan bercanda. Aku lebih tua darimu,” ucap Irvana.

“Masalahnya? Bukankah sekarang banyak yang seperti itu?”

“Justru itu, aku tak mau dibilang ikut-ikut.”

”Maksudku, kita tidak sendirian.”

”Iya, aku tahu maksudmu, tapi…” Irvana tidak melanjutkan kata-katanya.

”Tapi, apa? Tak bisakah kau jawab tanyaku? Aku serius mencintaimu dan ingin memiliki segenap dirimu.”

“Baiklah, beri aku waktu untuk menjawabnya,” sahut Irvana.

Sekian hari berselang, Irvana memutuskan menerima cinta pemuda yang selama ini membuatnya selalu merasa nyaman. Ia terkesan melihat ketangguhan hatinya. Perbedaan usia tidak menjadi masalah berarti. Mereka pun melangkah bersama sebagai dua sejoli. Sejumlah gita bahagia berkumandang mewarnai hari-hari Irvana. Menginjak tiga bulan hubungan asmara mereka, sang pemuda berhasrat menikahinya. Namun sayang, kisah kasih mereka kandas di tengah jalan. Ibu pemuda itu tidak merestui niat anaknya menikahi perempuan yang berusia dua belas tahun lebih tua. Penolakan itu membuat sanubari Irvana terluka.

“Tolong beri aku waktu agar bisa meyakinkan ibuku. Dan jika beliau tetap tidak setuju, aku siap menikahimu tanpa restu ibu,” kata sang pemuda meyakinkan Irvana.

”Aku tidak akan menikah dengan tanpa restu orangtua. Perpisahan adalah mungkin pilihan terbaik kita,” ujar Irvana ditemani derai air mata.

Ia telanjur sakit hati dengan kata-kata ibu pemuda itu. Maka lagu-lagu sendu pun mendapat giliran menemani Irvana dalam kesendiriannya kala itu.

*

Irvana sempat menjalani sehari semalam penuh cinta dengan lelaki yang dikenalnya sejak dulu. Sekolah mereka dulu sama. Sudah lebih dari dua puluh tahun silam. Mereka bertemu di ajang reuni. Kendati mereka berdua tinggal berbeda kota,  hubungan mereka tetap berlanjut setelahnya. Lelaki itu senantiasa menyediakan kamar hotel saban kali Irvana datang ke kotanya. Sesekali ia balas mendatangi kota tempat Irvana tinggal. Tapi perjumpaan dan perbincangan mereka sebatas sahabat semata. Lelaki itu sudah memiliki keluarga yang bahagia, maka Irvana tak pernah berharap apa-apa. Hal itu terjadi beberapa kali, hingga ada sebuah hari yang berbeda dari biasanya.

”Vana, bersediakah sepanjang hari ini hingga malam nanti, kau hanya menemaniku? Aku ingin mengulangi kebersamaan kita semasa masih bocah dahulu,” ajak lelaki itu ketika mengunjungi rumah Irvana.

”Senyampang waktuku luang, tentu aku mau,” jawab Irvana dengan senyuman.

Maka lelaki itu mengajak Irvana menuju daerah pegunungan. Di sana mereka berjalan-jalan di kebun teh seraya bercanda dan bergandengan tangan. Laksana sepasang anak muda yang pacaran. Irvana menikmatinya belaka karena ia percaya, hanya sehari itu mereka melakukannya. Ia masih meyakini kemurnian persahabatan dengan teman lamanya. Mereka makan siang di sebuah tempat dengan panorama alam yang sedap dipandang mata dengan sejuk udara.

”Vana, terima kasih kau sudi menemaniku. Aku bahagia sekali.”

”Aku pun sangat senang hari ini. Tapi, apa sebenarnya maksudmu? Kau paham kan, bahwa kita sebatas teman?”

”Tentu saja, Irvana. Kau adalah sahabat terbaikku. Aku hanya ingin ada hari yang berkesan… sebelum kita berpisah.”

”Hei, memang kau mau ke mana?”

”Vana, maafkan aku.”

”Maaf untuk apa?”

”Sebenarnya di salah satu sudut hatiku selalu ada namamu.”

Irvana menjadi salah tingkah mendengarkan kalimat dari sahabatnya. Kendati ia bisa merasakan pertautan hati itu, namun ia tak menduga sahabatnya itu bakal mengungkapkan sesuatu yang membuat sanubarinya tersentuh.

”Baiklah. Terima kasih kau sudah membuatku tersanjung,” ucap Irvana menahan haru.

”Dan mungkin hari ini adalah saat terakhir kita berjumpa,” sahut sang sahabat.

”Sebenarnya kau mau pergi ke mana, sih?”

Lelaki itu membisu dan menatap wajah cantik Irvana dengan sendu.

”Jangan bilang kau sakit, ya?” ujar Irvana dengan nada cemas.

”Sayang sekali, tapi kau benar. Aku sedang dalam perawatan dokter. Aku tak bisa menjelaskan separah apa sakitku, tapi dokter bilang hidupku seperti tinggal menghitung waktu,” kata lelaki itu mencoba tegar.

Irvana tak mampu berkomentar. Hanya isak tangisnya yang terdengar, sebelum akhirnya nanti mampu kembali bersuara.

”Aku akan mohon pada Tuhan agar hidupmu panjang. Kau masih bisa hidup lebih lama. Yang jelas,  aku siap menemanimu dalam sukacita di sisa hari ini.”

Mereka berdua melanjutkan kebersamaan yang berlangsung sejak pagi hingga malam tiba. Sebagai tanda perpisahan, lelaki itu mengecup kening dan memeluk tubuh Irvana dengan penuh kehangatan. Mereka paham benar, barangkali memang tak akan ada pertemuan berikutnya. Dua bulan berselang, Irvana mendapat kabar bahwa teman lamanya melakukan pengobatan di luar negeri dengan didampingi istri dan anak-anaknya. Irvana sebatas bisa mendoakan yang terbaik bagi lelaki itu.

Belum lama ini, Irvana diperkenalkan dengan lelaki yang ditinggalkan istrinya karena telah tutup usia dua bulan yang lalu. Seorang teman beritikad baik menghubungkannya dengan duda tersebut. Irvana mengucapkan terima kasih atas maksud baik temannya, tetapi ia tidak menyanggupi tawarannya itu. Di dalam dirinya kini telah punya pilihan sendiri. Dan alangkah bahagianya Irvana ketika pilihan itu ia tentukan bukan karena keterpaksaan atas keadaan dirinya. Bahkan ia sudah bisa membayangkan bakal seperti apa riwayat asmaranya. Irvana menjalani hal itu tanpa beban dan harapan berlebih. Ia percaya segala peristiwa yang dilalui adalah wujud kekayaan hidup yang nilainya melebihi harta benda. Ia bersyukur sejauh ini mampu menjalani skenario-Nya, terlebih atas pilihannya kali ini. “Menjadi perempuan lajang bukan lantas selalu sendiri saat mengarungi bumi ini,” gumamnya.***


Luhur Satya Pambudi , lahir di Jakarta dan kini tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di Horison, Suara Merdeka, Tribun Jabar, basabasi.co, dan sejumlah media lainnya. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika).

Cerpen

IA

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Ia ingin mati sekali lagi, tapi tidak di sini, tidak dengan keadaan seperti ini. Ia lalu pergi–setelah menandaskan bir yang tinggal setengah. Menyisakan tanya yang kini bersarang di kepala saya. Ada banyak pertanyaan, tetapi, yang paling mengganggu adalah: siapa sebenarnya lelaki itu? Dan, apa tujuannya berkata seperti itu kepada saya? Saya tidak mengenalnya. Atau, lebih tepatnya, saya tidak mengenal orang-orang yang berada di sini. Tidak seorang pun.

Saya kerap melihatnya tiap-tiap datang kemari–maksud dari “tiap-tiap” di sini hanyalah beberapa kali, paling baru empat atau lima kali, karena saya memang belum lama akrab dengan tempat semacam ini, baru sekitar dua atau tiga minggu kemarin. Ia terbiasa duduk di bar stool paling ujung, dekat dengan dinding. Di situ cahaya tidak terlalu terang. Mirip dengan meja yang selalu saya pilih. Cukup remang. Di sudut yang berseberangan dengan sudut di mana laki-laki itu terbiasa menikmati minumannya. Hanya saja, di sini lebih hening dan cukup jauh dari konter bar. Saya tidak ingin tergoda untuk meminum lebih dari segelas koktail. Ya, segelas koktail dan dua atau tiga batang rokok untuk mendengarkan beberapa buah lagu yang diputar di tempat ini. Sekadar melepas penat usai bekerja. Dan, melupakan sejenak persoalan yang terjadi antara saya dan Bastian. Hubungan saya dengan tunangan saya itu tengah mengalami kemunduran. Saya merasa, hubungan kami saat ini menjadi renggang. Sangat renggang.

***

Ia memperhatikan saya sejak saya memasuki tempat ini. Saya bisa merasakannya di setiap langkah saya. Tatapannya seakan rekat pada saya. Bahkan, setelah berada di meja yang selalu saya pilih, laki-laki itu tetap menatap saya. Ia tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Laki-laki itu bukan tipe lelaki yang beraninya cuma curi-curi pandang seperti lelaki yang banyak saya temui. Ia tipe pemburu. Tatapannya bagai tatapan seekor harimau lapar dengan ketenangan yang purna. Ia masih menatap. Saya mencoba untuk tidak memedulikannya. Lagi pula, saya merasa terganggu atas sikap dan ucapannya kemarin.

Masih terekam jelas dalam ingatan, bagaimana laki-laki itu menghampiri saya. “Boleh saya duduk di sini?” tanya lelaki itu dengan raut muka yang datar. Saya tidak menjawab; hanya membalas tatapannya. Namun, ternyata, laki-laki itu memiliki kesimpulannya sendiri dalam merespons tatapan saya. Dengan santai ia menarik kursi lalu duduk. Meneguk bir yang dibawanya, kemudian menyalakan sebatang rokok. Ia tidak berbicara sepatah kata pun. Cukup lama. Sesekali ia berangguk-angguk mengikuti irama lagu yang sedang diputar. Hingga sebatang rokok yang ia sesapi akhirnya kandas. “Saya ingin mati sekali lagi, tapi tidak di sini, tidak dengan keadaan seperti ini,” katanya, lalu pergi usai menandaskan bir yang tersisa di gelasnya.

Ia berdiri. Dari gelagatnya, saya bisa menebak, ia akan datang menghampiri saya seperti kemarin. Mungkin sebaiknya saya berterus terang saja kali ini. Saya akan bilang padanya: “Saya tidak butuh ditemani siapa-siapa.” Barangkali dengan begitu ia langsung mengurungkan niatnya untuk duduk semeja dengan saya. Dan, seandainya pun ia tetap memaksa, tidak sulit bagi saya untuk mengusirnya. Saya pikir di tempat ini, akan banyak laki-laki yang bersedia menolong saya. Dua atau tiga lelaki yang sedang berada di tempat ini cukup untuk menaklukkan otot kekar laki-laki itu dan melemparkannya ke luar sana.

 “Boleh saya duduk di sini?”

 “Maaf, saya tidak….”

 “Kau pasti ingin tahu.”

“Apa? Maaf, tahu soal apa? Apa yang ingin saya ketahui?”

Ia menarik kursi lalu duduk dengan cuek; membiarkan pertanyaan saya menguap begitu saja. Ia bahkan tak menghiraukan tatapan saya yang menuntut kejelasan dari perkataannya barusan. Di benak saya pertanyaan-pertanyaan itu kembali muncul: siapa sebenarnya lelaki ini? Apa maunya?

“Dulu, saya pernah mati, sekali,” ia berbicara dengan nada yang agak gusar.

Saya diam–mencoba bersikap tenang guna mendengar penuturannya. Ia menekuri gelas yang masih terisi penuh. Saya menunggu laki-laki itu meneruskan cerita. Hingga berpuluh-puluh detik kemudian, ia belum juga melanjutkan ceritanya. Seolah-olah sedang memikirkan sesuatu. Atau, boleh jadi, laki-laki itu tengah menanti reaksi saya terlebih dahulu. Kami pun terdiam selama berpuluh-puluh detik berikutnya. Dan, ponsel saya tiba-tiba berbunyi; sebuah pesan masuk.

Ia tampak gelisah. Jemarinya sibuk merogoh-rogoh saku kemeja.

“Rokok?”

Ia menolak sekotak rokok yang saya sodorkan. “Ini saja,” dengan cepat ia raih sebatang rokok yang masih menyala dan tergeletak di atas asbak–sebatang rokok yang saya letakkan tadi ketika hendak membalas pesan. Terpaksa saya cabut lagi sebatang kemudian menyalakannya.

“Bukan kematian itu yang saya sesalkan,” ujarnya seraya menatap saya, “karena setiap orang pasti akan mati.”

Ia menghentikan penuturannya sewaktu seorang pelayan mengantarkan pesanan. “Terima kasih,” sambut saya lantas berdehem ke pelayan tersebut. Saya menginginkan pelayan itu segera pergi–saya kurang nyaman dengan tatapan pelayan yang penuh tanda tanya itu.

“Seharusnya dia berterima kasih pada saya, bukan malah membunuh saya,” lanjutnya lagi setelah pelayan itu menjauh.

“Kau dibunuh? Kenapa?”

“Menurutmu apa yang menyebabkan seseorang ingin meledakkan kepala orang lain jika bukan karena cemburu?”

“Cemburu?”

“Ya, sejak dia menyadari saya dan kekasihnya itu saling menyukai.”

Mendadak saya tertawa. Bukan karena apa yang baru saja ia katakan, melainkan lebih dikarenakan laki-laki itu jadi terlihat lucu. Ia yang mengaku-aku pernah mati, dan kini ia mengomel karena kematiannya itu disebabkan oleh rasa cemburu orang lain? Ternyata penilaian saya kemarin salah, ia bukan seekor harimau. Ia cuma seekor anjing kurap yang coba-coba bermain dengan perasaan orang lain. Dan mengeluh selepas merasakan akibatnya.

“Saya bersungguh-sungguh,” laki-laki itu lebih mencondongkan badannya ke arah saya; seakan tidak terima dengan reaksi saya barusan, “seharusnya dia berterima kasih.”

Saya lalu diam–agar dirinya tak kehilangan selera untuk kembali bercerita.

“Karena saya telah membahagiakan perempuan yang dia cintai.”

“Dengan melukai perasaan dan harga dirinya?”

“Kenapa harus terluka? Bukankah saya melakukan sebuah kebaikan? Saya menyukai kekasihnya dan memberikan kesenangan buat kekasihnya itu. Apa itu salah? Seharusnya kaulihat betapa bergembiranya kekasihnya itu ketika saya mencumbuinya di sebuah kamar hotel. Perempuan itu menikmati setiap sentuhan yang saya berikan.”

“Hentikan! Kau terdengar menjijikkan.”

“Hei, ada apa denganmu? Kenapa kau begitu marah?”

Entah mengapa, tiba-tiba saya merasa menjadi sangat haus. Bergegas saya basahi kerongkongan saya dengan segelas koktail sampai habis. Kemudian saya memesannya segelas lagi.

“Padahal, saya hanya ingin menjelaskan, bahwa laki-laki itu harusnya berterima kasih kepada saya,” tukasnya lalu menyesapi rokok hingga tuntas.

Saya menggeram–wajah saya memanas.

“Setidaknya dia jadi tahu, kekasihnya itu tidak sesetia seperti apa yang kerap dia gembar-gemborkan pada orang-orang,” pungkasnya lantas berdiri dengan wajah kesal.

Ia beranjak meninggalkan saya yang juga merasa kesal. Bukan cuma kesal, bahkan muak. Bahkan lebih daripada itu; terlintas dalam pikiran saya untuk membunuhnya, kalau saja ia tidak segera lenyap dari penglihatan saya. Ia benar-benar lenyap setelah sebelumnya berubah menjadi segumpalan awan yang melayang-layang di udara dan lesap menerobos langit-langit. Saya tertegun beberapa saat sebelum akhirnya terkesiap tatkala pelayan tadi kembali meletakkan segelas koktail di meja saya. “Cepat tinggalkan meja ini!” bentak saya kepada pelayan itu.

Saya menenggelamkan muka pada kedua telapak tangan. Pikiran saya benar-benar kacau.

“Maaf, saya terlambat. Kamu sudah dari tadi di sini?” seorang perempuan duduk di hadapan saya. “Kamu tampak kusut. Kamu baik-baik saja?”

Perempuan itu Shasha, sahabat saya sejak lama–sejak kami sama-sama kuliah.

“Sepuluh tahun kenal sama kamu, saya baru tahu kamu suka ke tempat seperti ini.”

Ia mengamati sekeliling. Ia juga memperhatikan apa-apa yang ada di atas meja. Memandangi satu per satu: segelas bir yang tersisa setengah, segelas koktail yang telah kosong, dan, segelas koktail yang masih terisi penuh. Ia juga melihat ke arah asbak.

“Sejak kapan kamu merokok?”

“Belum lama.”

“Kamu lagi ada masalah?”

“Sepertinya begitu.”

Ia mengernyit, kemudian menatap saya cukup lama.

“Kamu ingin cerita?”

Saya menggeleng, lalu meraih wristlet. Ia menatap saya dengan heran.

“Kenapa?”

Saya tidak menjawab. Akan tetapi, demi mengurangi kecemasan Shasha, saya tersenyum. Kendati pikiran saya kembali sesak. Apalagi ketika indra pencium saya mengendus sesuatu yang sangat saya akrabi. Sesuatu yang selalu membuat saya bergairah. Sesuatu yang senantiasa saya ingat. Dan, sesuatu itu menguar dari tubuh Shasha. Saya tetap tersenyum. Perlahan-lahan tangan saya menyelinap masuk ke dalam wristlet. Membelai sebuah revolver yang terasa dingin di ujung jemari saya, sambil menimbang-nimbang apakah saya harus berterima kasih padanya, atau….

*******

Catatan:
Bar stool         : kursi berkaki tinggi
Wristlet           : tas berukuran kecil menyerupai dompet

Abdullah Salim Dalimunthe,tinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.





Cerpen

Pasar Malam

Cerpen Eko Setyawan

“Kau tak ingin pulang barang sebentar untuk menilik ibumu?”

“Tidak untuk kali ini.”

“Mengapa?”

“Aku tak punya bekal untuk ke sana.”

Jalanan riuh dengan lalu-lalang kendaraan. Ia masih duduk di bangku taman dan menikmati deru motor dan mobil yang berseliweran. Gelap mulai turun dari langit. Matanya menatap jauh. Menerawang entah ke mana. Tatapannya kosong tanpa ada tujuan. Ia melamun memikirkan percakapan dengan kekasihnya. Lebih dari itu, ia sedang memikul beban di pundaknya, bahwa ia harus segera pulang. Menemui ibunya yang sedang sakit.

Ibu Jatmika sakit. Ia tak bisa menengok barang sebentar. Paling mentok hanya bisa mengirim uang. Itu pun tak seberapa jumlahnya. Di Jogja, ia sedang berusaha merampungkan kuliahnya dan berupaya mengumpulkan uang dari bekerja paruh waktu di kafé tengah kota. Jika dipikir itu cukup, maka salah besar. Uang itu habis dalam waktu sekejap. Untuk makan, membayar sewa kamar kos, juga memenuhi kebutuhan lain yang bisa dibilang tak membutuhkan banyak uang; fotokopi atau mencetak tugas kuliah.

Jatmika sendiri sebenarnya ingin segera pulang. Menemui ibunya dan memeluk dengan erat. Tapi apa boleh buat, keinginannya itu harus ditahan selama mungkin. Dipendam dalam rasa ingin yang terus bergolak. Serupa teror yang menakutkan dan selalu terngiang di kepala. Memburu tiada henti di dalam kepala. Sebuah pertemuan akan terlaksana jika ada niat dan yang paling utama adalah bekal. Karena pertemuan tanpa bekal berarti serupa masakan yang dihidangkan tanpa bumbu. Hambar dan tak dapat dinikmati. Begitulah rumitnya keinginan dan segalanya harus dipendam sedalam mungkin. Mengubur harapan dan keinginan yang lahir di dalam kepala.

“Kau tak ingin minum? Akan kubelikan,” kata Marina.

“Tidak. Lebih baik kau di sini saja menemaniku,” jawab Jatmika dengan asal. Lamunannya buyar seketika.

Di taman itu, mereka duduk berdua. Langit mulai meremang, pertanda malam mulai mengintip mereka. Tak jauh dari sana, di lapangan yang dekat dengan kantor bank sedang digelar pasar malam. Sebuah perayaan kecil untuk manusia yang sedang merindukan dan memerlukan kebahagiaan. Di pasar malam, banyak hal yang diciptakan oleh manusia. Bahkan sebuah kebahagiaan pun diciptakan dan senjaga dijajakan kepada manusia lain.

“Aku sudah lama sekali tidak mengunjungi pasar malam. Apa kau tak ingin ke sana?” tanya Jatmika pada kekasihnya itu.

“Ya. Tentu saja,” Marina mengiyakan. Diikuti langkah kaki mereka berdua menuju pasar malam.

Langkah kaki mereka berkejaran. Tak pernah bisa berbarengan. Menandakan suatu takdir yang harus diterima, bahwa cara berjalan tak lain adalah takdir manusia. Ketika bergerak bersama, maka akan lebih menyulitkan untuk berkembang. Selalu ada yang saling mendahului antara kedua kaki. Langkah kaki menunjukkan cara belajar yang paling sederhana, bahwa sebuah usaha untuk maju haruslah mengikhlaskan dan merelakan salah satu berjalan lebih dulu.

Sesampainya di sana, Marina mengajak Jatmika membeli arum manis. Aroma arum manis selalu menahan setiap hidung yang menghirupnya. Entah mengapa hal itu bisa terjadi dan selalu saja berulang. Arum manis menerbangkan manusia dewasa pada masa kekanak yang membahagiakan.

“Sebaiknya kita beli dua untuk masing-masing atau cukup membeli satu untuk berdua?” tanya Marina dengan centil. Sebuah pertanyaan basa-basi yang digunakan untuk membuka percakapan. Sebab tentu saja jawabannya sudah diputuskan oleh dirinya sendiri, yakni mereka akan membeli satu bungkus arum manis yang ukurannya besar dan akan mereka nikmati berdua.

Naluri Marina sebagai perempuan begitu kuat. Ia merasa ada yang aneh dengan Jatmika. Ya, kekasihnya itu sangat kaku dan tidak seperti biasanya, seperti ada hal yang begitu berat dipikirannya. Marina melihat kening Jatmika mengerut dan senyum terpaksa. Perempuan tahu bagaimana perasaan lelaki. Bahkan terkadang, ia malah lebih paham dari diri lelaki sendiri. Intuisi seorang perempuan adalah intuisi seorang ibu. Dari hal itu semua orang tahu bahwa seorang ibu memahami apa yang ada dipikiran suami dan anak-anaknya. Jadi jika ada perempuan yang tak memahami hati seorang lelaki, maka pantas dipertanyakan sifat keperempuannya.

“Kau kenapa?” tanya Marina. Jatmika terkaget mendengar pertanyaan yang memecah lamunannya itu.

“Kalau sedang di pasar malam begini, aku selalu mengingat ibuku.” Jatmika menjawab datar dan sedang mencoba berpikir untuk memberikan pilihan jawaban yang dirasanya tidak salah jika terdengar Marina.

“Apa karena pertanyaanku di taman tadi?” Marina merasa bersalah. Ia mencoba menyakinkan diri bahwa memang dialah yang membuat Jatmika seperti itu.

Mereka berdua berjalan menjauhi penjaja arum manis. Menyibak kerumunan manusia yang tumbuh serupa jamur di musim penghujan. Marina memutuskan untuk mengajak Jatmika duduk di dekat bianglala. Banyak orang di sana, tapi tidak duduk melainkan memilih berdiri untuk mengantre menaiki roda besar yang berputar di ketinggian itu. Sebagian lagi, segerombol keluarga menunggu bagian dari keluarga mereka yang sedang hanyut ditelan roda-roda raksasa itu. Ibu menunggu suami dan anaknya, nenek menunggu anak dan cucunya, dan segerombol lelaki yang sedang memandangi wanita-wanita yang mereka anggap berpotensi untuk mereka dekati.

Segalanya hanyalah pelengkap bagi Marina dan Jatmika. Tidak ada kebahagian yang dapat diciptakan oleh orang lain. Segala kebahagian adalah bagi mereka yang berani melahirkannya sendiri. Kebahagiaan terlahir dari buah perjalanan yang tak menjemukan. Segalanya bisa direalisasikan dengan cara yang berbeda tiap manusia dan manusia yang lain. Tak ada kesamaan. Setiap manusia adalah penguasa penuh bagi dirinya sendiri. Dengan kata lain, manusia adalah tuhan bagi dirinya sendiri.

Tentu saja hal ini tidak bertujuan untuk menyombongkan diri atau melebihi kekuasaan dan kehendak Tuhan. Hal itu tak lain adalah jalan yang sudah dirancang sedemikian rupa. Bahwa dalam tujuan penciptaan manusia, Tuhan memberikan kekuasaan penuh bagi manusia untuk memilih jalannya sendiri. Itu bukanlah hal yang melanggar, tetapi sudah digariskan. Kita tidak bisa memilih takdir, tapi dapat menentukan jalan.

“Apakah di pasar malam ini ada yang menjual bintang?” tanya Jatmika pada Marina. Ia mengulangi pertanyaan ibunya dulu. Hal itulah pertanyaan yang dari tadi mengusik pikiran Jatmika.

Ibu Jatmika pernah menanyakan hal itu padanya. Pada saat itu − ketika Jatmika baru saja masuk SD− bapaknya belum lama pergi dan tidak ia ketahui tujuannya. Ibunya hanya bilang jika bapaknya sembunyi dari kejaran orang-orang yang katanya mempertahankan negara. Dengan dalih itulah bapaknya memutuskan pergi dari rumah. Tapi saban ibunya menceritakan hal itu, selalu saja diiringi isakan dan berakhir dengan mata sembap.

Seperti ada yang tidak beres dari cerita yang meloncat dari mulut ibunya. Tetapi hal itu baru disadari Jatmika ketika sudah masuk ke perguruan tinggi. Kedewasaanlah yang mengajarkan dan menurunkan kesadaran itu. Bapaknya telah diculik oleh orang-orang utusan pemerintah. Atau paling buruk, ia tahu nama orang-orang itu dengan sebutan Petrus. Memang, hal itu ia tahu dari beberapa mulut yang pernah mengabarkan hingga sampai di telinganya.

Jatmika membuat kesimpulannya sendiri; bahwa bapaknya hilang diculik oleh orang-orang Petrus, dan yang paling buruk adalah bapaknya mati dan jasadnya entah dikuburkan di mana. Dan tentu saja yang paling buruk, bapaknya dibuang di tengah belantara hutan dan tidak ditemukan kembali. Semua tetangganya tahu itu. Dulu, kata mereka, bapak Jatmika adalah orang yang menguasai parkir Pasar Kliwon. Ia memeroleh uang dari sana. Selain itu, bapak Jatmika juga meminta jatah pada pedagang pasar. Tak banyak memang, tetapi meminta dengan memaksa. Jika boleh dikatakan dengan sejujurnya, bapak Jatmika memalak pedagang pasar.

Tapi hal itu tidak dipedulikan Jatmika. Yang ia tahu, kini ia hanya hidup bersama ibunya. Ia hanya berpikir cara bagaimana agar dirinya dapat menyelesaikan kuliah dan dapat mengirimkan uang ke ibunya yang sudah sepuh.  Bapaknya tak pernah kembali lagi setelah pertanyaan terakhir ibunya di pasar malam. Pertanyaan tentang apakah di pasar malam menjual bintang. Kini pertanyaan itu dilemparkan pada Marina. Dengan pertanyaan yang sama. Tanpa menambah dan mengurangi.

“Apakah di pasar malam ini ada yang menjual bintang?” Jatmika mengulangi pertanyaannya pada Marina, kekasihnya kini yang berada di tempat yang jauh dari ibunya.

“Apa kau mengigau?” Marina terheran dengan pertanyaan itu.

“Kuharap ada yang menjual bintang di pasar malam,” kata Jatmika dengan sebongkah harapan, “aku ingin membelinya lantas memanjatkan harapan agar bapak kembali. Begitulah yang kurasakan ketika ibuku mengajukan pertanyaan itu padaku. Dan kini aku menginginkannya juga. Ingin bertemu bapak dan juga mengunjungi ibu.”

***

EKO SETYAWAN, lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (2017). Karya-karyanya tersiar di media lokal dan nasional. Surel: [email protected]

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Cerpen

Mimpi-Mimpi Erina

Cerpen Ardy Kresna Crenata

Kali ini pun perempuan itu kembali mengenakan kemeja putih. Lehernya yang terbuka lebar jadi terlihat lebih putih, dan semakin lama mengamatinya Erina semakin yakin ia benar-benar menyukainya. Ia bisa mencium bau laut, dan merasakan angin yang datang membawa rahasia ikan-ikan. Ia pun bisa mencecap asin yang berubah pahit di lidah, dan mendengar suara-suara parau yang tersapu dari tempat-tempat jauh. Dan perempuan itu, si perempuan yang tengah duduk di samping pengacaranya yang buruk rupa itu, berada di sana, berdiri di sana, di pantai itu, bersamanya. Erina membayangkan ia dan perempuan itu berdekatan, bersisian, dalam jarak yang membuat mereka bisa menangkap gumaman masing-masing, dalam kesunyian yang membuat mereka bisa mengkhidmati degup jantung masing-masing. Ingin sekali Erina meraih tangan perempuan itu, dan menggenggamnya. Erat. Namun dalam bayangan sekalipun, rupanya ia masih saja sulit melakukannya.

***

Pertama kali Erina menyadari ia menyukai perempuan itu adalah sebelas hari yang lalu. Ia sedang lelah dan malas melakukan apa pun, dan televisi yang dinyalakannya menyajikan sebuah persidangan kasus pembunuhan yang sedang ramai dibahas di mana-mana. Ia bukannya tak tahu apa pun tentang kasus ini; justru, ia tahu cukup banyak sebab sekali waktu, karena kelewat penasaran, ia sempat membaca-baca sejumlah tulisan di media-media daring yang membahas kasus itu. Ia tahu seperti apa akar permasalahannya, siapa-siapa saja yang mungkin terlibat dan siapa-siapa saja yang mungkin dirugikan—atau diuntungkan. Bahkan, yang satu ini adalah kebiasaannya ketika sedang begitu memikirkan sesuatu, ia sempat mencatat beberapa hal penting tentang kasus tersebut di sebuah kertas HVS kosong, dan seperti seorang detektif amatiran ia mencari-cari keterhubungan antara satu hal dengan hal lain, dan mengolah semua itu di dalam benaknya sampai ia tiba pada satu kesimpulan: perempuan itu memang bersalah. Pada saat itu Erina merasakan semacam kepuasan dan ia tersenyum. Tetapi tak lama kemudian, senyumnya itu lenyap. Erina menyadari apa yang baru saja dilakukannya itu tak ada gunanya; ia bukanlah siapa-siapa dalam kasus itu dan penilaiannya sama sekali tak akan mengubah apa pun. Dan begitulah ia memutuskan untuk tak lagi ambil pusing soal kasus tersebut.

Akan tetapi malam itu, barangkali karena Erina sedang kehabisan tenaga sehingga memindahkan channel pun tak juga dilakukannya, hal-hal tentang kasus tersebut kembali bermunculan di hadapannya, dan seperti membuncah menghampirinya. Untuk pertama kalinya ia menyaksikan perempuan itu di sebuah persidangan, dan ia bisa melihat betapa perempuan itu merasa tak nyaman dan terancam. Cara perempuan itu mendekatkan tubuhnya pada si pengacara, bagaimana ia menggerakkan bibirnya yang tebal dan sesekali menutupi dengan tangannya, serta sorot matanya yang selalu redup seolah-olah tak lama lagi akan padam, mengarahkan Erina pada penilaiannya itu. Dulu, saat ia masih tinggal di Jepang, ia pernah begitu menggandrungi serial televisi Amerika berjudul Lie to Me; sebuah film yang mengangkat penggunaan ilmu membaca gestur dan mimik muka dalam penyelidikan suatu kasus kejahatan. Erina melakukan analisis tadi berdasarkan apa-apa yang diingatnya dari menonton serial televisi tersebut.

Sejujurnya Erina tak peduli akan menjadi seperti apa persidangan itu. Kendatipun memang banyak informasi terhantar begitu saja padanya, tidak lantas berarti Erina memikirkannya. Informasi-informasi itu datang seperti kerumunan yang tak dibutuhkannya dan tak membutuhkannya, dan Erina bertahan di posisinya berada seakan-akan kerumunan itu tak berarti apa-apa baginya. Kalaupun ada yang menarik perhatiannya, itu adalah si perempuan tadi. Ya, si perempuan yang menjadi terdakwa di kasus tersebut. Si pembunuh. Erina mendapati dirinya telah cukup lama mengamati si perempuan, dan ia yang semula hanya membaca raut muka dan gerak-geriknya telah tanpa disadarinya mengamati juga tampilan fisiknya. Tulang pipi perempuan itu, misalnya, menurutnya sedikit terlalu menonjol, sementara dagunya lumayan runcing dan rahangnya terkesan maskulin. Perempuan ini diberkahi sejumlah kekurangan, pikir Erina, saat ia memandangi leher perempuan itu yang kurang panjang dan sedikit gemuk. Satu-satunya yang dianggap kelebihan oleh Erina adalah buah dada perempuan itu yang tampak menonjol dan berisi. Agaknya kemeja putih yang dikenakan perempuan itu berbahan tipis sehingga Erina, ketika kamera difokuskan dan didekatkan pada si perempuan, bisa melihat bra putih yang tersembunyi di baliknya.

Itu adalah awal, dan bisa jadi awal yang buruk. Erina terus mencermati hal-hal tentang perempuan itu dan ketika ia meraih ponsel untuk melihat jam ia mendapati ia sudah bersandar di sofa dan tak melakukan apa-apa selain memandangi televisi selama sembilan belas menit. Erina semakin tak ingin melakukan apa pun. Ia hanya ingin bertahan dalam posisi itu dan tertidur, dan mungkin bermimpi indah. Dan beberapa menit kemudian keinginan pertamanya terkabul, meski yang kedua sayangnya tidak.

Erina bermimpi berada di sebuah pantai. Ia tak tahu nama pantai itu, tetapi ia merasa mengenalnya. Laut sedang tenang, dan hari belum malam; Erina masih bisa melihat sisa warna-warna terang jauh di hadapannya, membuatnya merasakan di dalam dirinya ada semacam rasa hangat yang menjalar, dan menular. Telapak tangannya terasa hangat, dan kehangatan ini lebih terasa lagi ketika Erina menekankan kedua telapak tangannya ke pipinya. Telapak kakinya pun begitu, meski itu mungkin lebih disebabkan oleh pasir yang menyimpan apa yang telah diberikan cahaya kepadanya.

Lalu tiba-tiba, tanpa pernah ia duga, seseorang sudah berdiri di sampingnya, di sebelah kirinya. Dari aroma tubuh seseorang itu Erina bisa menebak ia perempuan, dan ketika ia menoleh ia mendapati tebakannya ini benar. Satu hal yang tak pernah terpikirkan oleh Erina: perempuan itu adalah si perempuan yang tadi dilihatnya di televisi; si pembunuh itu.

“Aku suka pemandangan seperti ini. Langit yang belum gelap, laut yang belum hitam. Tak ada siapa pun di pantai ini selain kita berdua. Kita bisa melakukan apa saja. Kita bisa meneriakkan apa saja. Sesuatu yang buruk terjadi di sebuah tempat yang jauh dan kita tak perlu memikirkannya. Di sini, kita bisa bahagia.”

Si perempuan di sampingnya mengatakan semua itu, dengan tenang, dengan intonasi yang seperti membawa misi damai dan dengan suara yang mampu mencairkan yang telah beku. Erina, dalam diam, memandangi perempuan itu.

***

Erina terlahir di sebuah keluarga yang tak menginginkannya. Ibunya seorang politikus yang percaya terlahir sebagai perempuan di negeri itu adalah sebuah kesalahan, sedangkan ayahnya seorang novelis gagal yang batal menikahi ibunya dengan alasan yang hanya ia sendiri dan Tuhan yang tahu. Sejak kecil, Erina dibesarkan oleh adik kandung ibunya, seorang perempuan penggila takarakuji—lotere—yang di masa mudanya pernah berkarier sebagai aidoru—dari idol. Ia sebenarnya tak menyukai perangai perempuan gemuk-pendek ini—menurutnya perempuan ini terlalu banyak mengoceh dan hampir mengeluhkan apa saja—dan ia juga merasa suami perempuan itu bukanlah lelaki baik-baik seperti yang ditunjukkannya di rumah. Tetapi pasangan suami-istri ini memiliki seorang anak perempuan yang baik; seorang anak berkulit pucat yang setiap hari mengajaknya bicara dan menghabiskan waktu dengannya. Kelak anak ini menjelma sesosok cahaya yang kehadirannya selalu membuat orang-orang di sekitarnya mengamatinya; aura yang memancar darinya mengingatkan orang-orang akan sosok ibunya semasa muda. Erina menyadari ia jatuh cinta pada perempuan ini, di tahun keduanya di SMA. Lima tahun kemudian ia berusaha mengutarakan apa yang dirasakannya ini dan itu adalah awal dari masa-masa paling suram dalam hidupnya.

Erina memanggil perempuan itu Mai. Kendati mereka sudah sangat dekat, bahkan kerap melakukan hal-hal intim yang pastilah akan membuat orang-orang menggigit bibir seandainya mereka tahu, Mai rupanya tak melihat Erina sebagaimana Erina melihatnya. Mereka pernah tidur dalam satu ranjang dan berpelukan, tetapi bagi Mai ini tak lebih dari sebuah upaya untuk mengatasi dinginnya malam. Mereka juga pernah menggunakan ofuro—bak mandi untuk berendam—bersama-sama dan tentunya saat itu keduanya sama-sama telanjang, tetapi bagi Mai ini hanyalah sesuatu yang dilakukan untuk membuat aktivitas mandinya sedikit berbeda. Semacam penyegaran. Katakanlah begitu. Erina kecewa mendapati Mai berkata tak bisa membalas perasaannya. Tetapi Erina tak membencinya, tak bisa membencinya, bahkan tak bisa menjauhkan diri darinya, sebab Mai masihlah sosok yang sama setelah pengungkapan tadi; seolah-olah di mata Mai pengungkapan tersebut tak pernah ada. Erina menghabiskan waktu-waktu luangnya dengan Mai seperti biasa. Kedekatan mereka, yang justru semakin intim saja, dianggap Erina sebuah perangkap yang mengekangnya sekaligus membuainya.

Setidaknya sampai tiga tahun lalu, Erina menikmatinya. Tentu ia berharap suatu hari Mai akan membalas perasaannya, tetapi kalaupun hari itu tidak datang juga ia merasa akan bisa menerimanya. Yang penting kami jadi semakin dekat dan melakukan hal-hal menyenangkan bersama-sama, pikir Erina. Satu hal yang luput diperhitungkannya adalah bagaimana seandainya Mai menemukan seseorang yang kepadanya ia ingin menyerahkan seluruh dirinya. Dan sialnya, pada akhirnya, itulah yang terjadi.

Hari itu mereka berada di sebuah pantai. Musim panas. Mereka mengenakan bikini dan berdiri bersisian dengan tangan saling menggenggam dan kaki terpacak pada pasir—air laut secara berkala menyentuhnya. Orang-orang lain di pantai itu sibuk dengan urusannya masing-masing, dan mereka tak peduli. Ketika mereka saling menatap satu sama lain, mereka akan tersenyum seolah-olah itu sesuatu paling istimewa di dunia.

Lalu tiba-tiba Mai berkata, “Aku jatuh cinta pada seseorang. Dia lelaki yang baik, dan dia mencintaiku.”

Erina merasa di dalam dirinya sebuah gelas seketika pecah dan air yang semula mengisinya semuanya tumpah. Gelas itu sendiri, mungkin, sudah ada di sana sejak lama.

“Aku akan menikahinya. Aku akan mendampinginya dan kami akan membangun sebuah rumah tangga dan keluarga yang hangat. Kami akan membangun kebahagiaan yang akan kami rasakan berdua, selamanya.”

Erina meyakini di dalam dirinya sesuatu kembali pecah, tetapi bukan gelas itu.

“Kamu tahu, di kehidupan ini seseorang akan menyakiti seseorang yang lain. Tak mungkin tidak, seseorang akan menyakiti seseorang yang lain. Dengan cara itulah kita manusia bertahan. Pada akhirnya kita ini makhluk egois; kita akan mementingkan kebahagiaan kita sendiri dan mengabaikan kebahagiaan orang lain. Sedari dulu, kita selalu seperti itu.”

Erina tahu, ia semestinya berhenti menatap Mai; berhenti mendengarnya.

“Kamu mungkin akan menilai aku mempermainkanmu, memanfaatkanmu, memperalatmu. Silakan. Aku tak keberatan. Mulai besok, kita akan menjadi dua orang yang saling asing.”

Erina merasakan genggaman Mai yang begitu kuat di tangannya. Perempuan itu kembali tersenyum, tetapi kali ini matanya berkaca-kaca. Erina tak tahu apakah ia sendiri tersenyum atau tidak, apakah matanya sendiri berkaca-kaca atau tidak. Sore itu, di perjalanan pulang, mereka tak saling bicara dan tak saling menatap.

***

Dalam sebelas hari terakhir ini Erina sudah mengalami mimpi itu delapan kali. Garis besarnya sama: ia mendapati dirinya berada di sebuah pantai dan tak lama kemudian perempuan itu muncul; setelah beberapa saat perempuan itu mengatakan beberapa hal dan ia selalu terpukau oleh apa-apa yang dilihatnya dan dirasakannya selama itu; dan ia akan terbangun tanpa sempat mengatakan apa pun kepada perempuan itu. Saat terbangun itu, Erina merasa begitu lemas; seakan-akan ia baru saja melakukan sesuatu yang benar-benar menguras pikiran dan tenaga. Ia selalu butuh waktu kira-kira setengah jam untuk menelentang dan tak melakukan apa pun selain menatap langit-langit kamar. Tadi pagi, ia hanya bisa melakukannya sebelas menit saja. Seorang teman yang juga kliennya menelepon dan memintanya mengirimkan hasil terjemahan pesanannya sebelum pukul empat.

Kini sambil menonton persidangan perempuan itu di televisi, Erina mencoba mengingat-ingat apa saja yang telah dilakukannya dalam tiga tahun terakhir. Ia keluar dari perusahaan periklanan tempat ia bekerja; ia tinggalkan kamar apartemennya dan berkelana selama tiga bulan dengan berbekal tiga potong baju saja; ia bertemu beberapa orang baru namun segera melupakan mereka; ia mencoba peruntungannya di mesin pachinko dan takarakuji; ia pindah ke sebuah pedesaan dan memelihara seekor kucing yang diberinya nama Nyanko; ia mengajar bahasa Inggris di sebuah bimbel lokal dengan bayaran rendah; ia menerjemahkan tulisan-tulisan dari bahasa Inggris ke bahasa Jepang dan sebaliknya; ia dikejar-kejar seorang lelaki yang adalah ayah dari seorang muridnya; ia mencoba mengiris pergelangan tangannya yang kiri; ia mencoba membekap dirinya sendiri dengan bantal di tempat tidur; ia mencoba membenamkan dirinya begitu lama di sebuah pemandian air panas yang sedang sepi; ia mencoba penampilan baru dengan memotong pendek rambut hitamnya dan mewarnainya; dan tahun lalu, ia mencoba membuka lembaran baru dengan mengambil kesempatan berkarier di negeri ini, Indonesia, sebagai pengajar bahasa Jepang dan penerjemah-awal.

Ia telah banyak berubah. Semestinya begitu. Sebelum memutuskan untuk hijrah ke Indonesia ia melakukan sejumlah penelusuran yang membawanya pada kesimpulan bahwa orang-orang di negara yang akan ditujunya itu cenderung sulit menerima hal-hal “baru”, terutama sesuatu yang dianggap bertentangan dengan norma dan agama, dan Erina melihat ini sebagai sesuatu yang menguntungkannya. Terkesan tidak toleran, memang, tetapi justru Erina berharap lingkungan seperti itu akan memaksanya berubah, menjadi normal—meski sesungguhnya ia sadar itu hanya alasan belaka sebab yang sebenarnya diinginkannya adalah melupakan apa-apa yang pernah dialaminya dulu. Kini, setelah ia lumayan menguasai bahasa Indonesia, dan setelah ia memiliki sejumlah teman dan klien orang-orang Indonesia yang kebanyakan adalah laki-laki, apa yang diinginkannya itu, semestinya, terwujud. Ia menjadi dirinya yang baru, yang normal. Namun begitulah sebelas hari yang lalu ia tersadar: ia, ternyata, masihlah sosok yang sama.

“Kamu tahu, kita manusia tak bisa bertahan hidup tanpa menyakiti manusia lain. Pada akhirnya begitu,” ujar si perempuan di televisi, dalam mimpinya tiga hari yang lalu. Ketika terbangun Erina langsung teringat pada Mai, dan ia berusaha membayangkan sosoknya, tetapi gagal; sosok yang kemudian terbayang jelas di benaknya justru si perempuan di televisi tadi, si pembunuh itu, dan ia menjadi kesal namun di saat yang sama bergairah. Erina jadi membayangkan ia dan perempuan itu di sebuah ranjang dalam keadaan telanjang, dan mereka berpelukan, dan mereka berciuman, dan mereka berciuman ….

***

Perempuan di televisi itu kembali menggigit bibir bawahnya. Saat ia menegakkan tubuh untuk membenarkan ikatan rambut, mata Erina tertuju pada buah dada perempuan itu yang membusung, lalu pada leher perempuan itu yang terbuka lebar. Aku ingin memeluknya. Aku ingin menciumnya. Ingin sekali, pikir Erina. Ia lantas memejamkan mata, membayangkan ia tengah berada di pantai itu, mengkhidmati sisa siang yang kian tersamarkan kesunyian, membiarkan tubuh rapuhnya terbuka menyerap setiap warna dan suara.

“Barangkali,” gumam Erina, “hidup bagiku adalah tentang menyakiti diri sendiri. Pada akhirnya begitu.” (*)

Bogor-Cianjur, 2016-2019

Ardy Kresna Crenata, menulis cerpen, esai, dan puisi. Ia bergiat di Pembacaan Baru; sebuah komunitas ngobrol-ngobrol di Bogor.

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Cerpen

JANE

Cerpen Ken Hanggara

Aku ingin tenggelam dan hilang selamanya di sebuah kolam atau danau atau apa pun itu. Kubayangkan tubuhku mengecil tanpa ada yang tahu, lalu dengan segenap ilmu sihir, seseorang mengubahku menjadi seukuran semut. Tidakkah itu menakjubkan?

Kalau aku benar-benar menjadi sekecil semut, aku harap bisa tenggelam dan hilang selamanya karena malu. Aku tidak sanggup menatap wajah Jane. Pacar terbaikku sejauh ini dia, tapi karena kesalahan yang kulakukan, dia layak mendapat yang lebih baik.

“Aku tidak peduli walau kamu orang paling dibenci di dunia ini atau orang yang paling berpenyakit. Selama kita bisa bersama, aku tetap di sini!” katanya.

Jane sangat mencintaiku dan kurasa aku tidak bisa mengubah perasaan itu semudah orang-orang membongkar kebusukan masa laluku. Dulu aku sangat amoral dan saat ada kesempatan untuk memperbaiki diri, aku berkenalan dengannya. Ini terjadi sekitar satu tahun yang lalu. Aku dan Jane berpapasan di lorong mini market, seperti dalam adegan- adegan klise murahan kegemaran remaja kebanyakan. Saat itu kami sama-sama butuh pembasmi serangga yang kebetulan tinggal sebotol di sebuah rak.

“Buatmu saja,” kataku ketika itu. “Perempuan lebih butuh. Serangga mengganggu perempuan, sedang lelaki bisa mengatasi itu tanpa pembasmi.”

“Kamu dulu yang dapat dan tidak sengaja kurebut botolnya darimu. Jadi, kamulah yang berhak,” sahutnya.

Karena kami terus menerus berdebat, sedangkan seorang pramuniaga tidak berdaya oleh karena habisnya stok pembasmi serangga tersebut, pada akhirnya kami berjalan ke kasir dengan membawa barang belanjaan masing-masing dan memutuskan untuk bicara soal siapa yang lebih berhak membawa pulang benda tadi di tempat parkir.

Aku tidak tahu bagaimana perkenalan dengan cara seaneh ini terjadi. Yang kutahu, saat itu, semua terjadi begitu saja. Mengalir seperti air dan aliran itu terasa menyegarkan, karena sejauh yang aku tahu, aku tidak pernah merasakan getaran tertentu di dada saat bicara dengan perempuan mana pun, kecuali kali itu.

Jane orang pertama yang menggugah hatiku. Dia cinta pertama. Saat dia datang tepat di pintu gerbang kesadaranku atas dosa-dosa masa lalu, aku mengira, “Barangkali ini yang Tuhan maksud. Barangkali aku dilahirkan untuk berbuat jahat sementara waktu, sebelum jatuh cinta kepada gadis ini dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.”

Kubayangkan itulah yang terjadi. Takdir bagus yang kudapat bukan tanpa tujuan. Mungkin Tuhan membuatnya begitu agar aku dapat berbagi kisah menakjubkan suatu hari nanti ke telinga banyak orang. Sayangnya, khayalan itu tidak nyata. Orang-orang dari masa laluku datang dan mengejarku atas bekas-bekas dosa yang dulu kukerjakan. Mereka menuntut balas, meski penjara sudah mengurangi banyak waktuku.

Balasan itu, tentu saja, kematianku. Tapi, polisi tak tinggal diam. Orang-orang lain yang juga punya masalah denganku di masa lalu, sebagian tak ingin aku tewas dihakimi pihak-pihak yang tidak puas dengan putusan hakim yang menjebloskanku ke jeruji besi selama belasan tahun. Meski kemungkinanku tidak mati dihakimi itu besar, keberadaan orang-orang itu membuat Jane membaca segala yang sejauh ini aku sembunyikan.

“Penjahat itu sebaiknya dikirim ke neraka!”

“Tidak pantas diberi kesempatan!”

Dengarlah suara-suara itu. Hampir setiap hari teror bingkisan berisi bangkai tikus, lemparan batu ke jendela kamarku, membuatku tidak lagi bisa menutup-nutupi ini dari Jane.

Ketika akhirnya gadis itu tahu masa laluku, aku merasa malu. Sejak kami kenalan, kesan baik selalu kubuat agar dia percaya aku lelaki serius yang tepat untuk dia jadikan pendamping hidup. Setelah kebusukan dari masa laluku terkuak, aku merasa tak pantas berdiri di sisinya Alangkah baiknya aku tenggelam di suatu tempat yang dalam dan tak terlacak, lalu hilang selamanya.

Hanya saja, Jane pikir masa lalu adalah lembaran yang sudah tertutup dan tak dapat dibuka untuk diisi ulang dengan tindakan-tindakan baru. Ia tahu semua yang kulalui saat itu telah lama berlalu.

“Kini saatnya bertindak untuk lembaran yang sama sekali kosong,” tutupnya, sama seperti saat kami berdebat soal siapa yang membawa pulang sebotol pembasmi serangga setahun lalu.

Jane menutup perdebatan tentang apakah aku harus pergi sejauh yang kubisa atau tetap menjalani hidupku bersamanya. Demi menjauh dari orang-orang yang dahulu anak mereka kusakiti hanya demi sedikit uang, hingga sebagian di antara mereka mendapat trauma, Jane mengajakku pindah ke luar kota.

“Kita hidup di sana. Ada rumah peninggalan almarhumah Tante. Beliau tak pernah menikah dan tentunya tak punya anak. Saat kecil, aku sering dititipkan Mama ke sana,” jelas Jane ketika mengemasi barang-barangku ke dalam koper.

Aku tidak dapat menjawab dan membisu.

“Ayolah,” lanjutnya, “jangan dipikir aku bakal mengubah pandanganku soal dirimu hanya karena masa lalumu! Bagiku kamu tetap sama. Kamu adalah kamu yang kukenal. Kecuali kamu belum benar-benar berubah.”

“Aku sudah berubah! Tidak sama seperti dulu!”

Jane memeluk dan mengecup keningku. Ia memelukku bagai sosok ibu memeluk anak remajanya yang bertubuh besar. Gadisku ini sangat kurus dan terbilang pendek jika dibandingkan denganku yang jangkung.

Saat momen pelukan ini berlangsung, aku rasa kehangatan sekaligus getaran aneh di dada, dan di kepalaku, semut yang kuharapkan hilang ditelan limpahan air di suatu kolam, selokan, atau waduk, kini berenang-renang menepi. Kubayangkan semut malang itu menjemur diri di tengah terik matahari, persis di tepian genangan air yang baru saja nyaris membunuhnya.

Itu bukan semut. Itulah aku, dalam ukuran kecilku setelah disihir oleh seseorang. Dan makhluk kecil itu membesar seiring waktu. Kembali ke ukuran normal untuk terus melanjutkan hidup.

Aku tidak tahu bagaimana cara berterima kasih pada Jane-ku. Penerimaannya pada masa laluku, juga cintanya, membuatku bersyukur pernah secara sadar membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu kubutuhkan: pembasmi serangga. Kalau saja dulu aku tak pergi membeli itu, kami tidak akan ketemu dan entah bakal berakhir dengan cara apa diriku kelak. [ ]

Gempol, 2017-2019

KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Buku terbarunya Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).



Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Cerpen

Rahasia Sepotong Rendang

Cerpen Era Ari Astanto

/1/

Istriku asli orang Padang. Dia lahir dan tumbuh di sana. Dia begitu mahir memasak masakan khas Solo-Jogja sampai ala Amrik dan Eropa, tapi selalu gagal memasak Rendang, masakan khas Padang. Berbagai cara dan resep sudah dia coba. Dari buku memasak, dari acara panduan memasak—baik dari televisi atau dari Youtube. Bahkan belajar dari koki rumah makan Padang yang terkenal. Dan, masih gagal.

Walaupun memang bisa terjadi tapi tetap aneh menurutku. Aku yakin istriku menyimpan suatu rahasia. Kecurigaanku semakin menguat dan kuputuskan untuk mengetahui sebab-musababnya setelah aku merasa ada keanehan yang layak dicurigai. Aku mengingat dan memperhatikan setelah beberapa kali aku temani, dia berhasil memasak rendang yang lezat. Padahal dengan resep dan cara yang sama.  Karena itulah aku yakin dia sengaja memasaknya sembarangan walaupun dia tahu kegemaranku akan rendang.

Tapi mengapa? Ada alasan apa? Setiap kali aku bertanya begitu dia selalu mengatakan tidak tahu mengapa bisa terjadi? Sebab itu, aku harus menemukan cara membuatnya mengaku tanpa aku paksa.

/2/

Aku tahu suamiku sangat suka rendang. Aku juga tahu dia mulai curiga tentang kepura-puraanku. Kecurigaannya itu benar. Aku memang sengaja membuat rendang yang gagal. Aku terpaksa. Ada perasaan getir, sedih, dan perih tiap kali memasak rendang. Kenangan hitam itu tak bisa kuenyahkan. Begitu pula perasaanku jika tidak menuruti permintaan suamiku untuk dimasakkan rendang. Aku sangat menyayanginya.

Aku menggagalkan kelezatan masakan rendangku dengan harapan agar suamiku memaklumi kelemahanku dan tidak memintaku memasakkannya lagi. Tapi, harapanku sekiranya akan sia-sia. Suamiku mencurigaiku dan sedang mencari cara membuatku mengatakan penyebab aku membohonginya. Bukan tidak mau mengatakan atau membohonginya, tapi itu aib. Aku khawatir dia menceraikanku setelah mengetahui siapa aku sebenarnya.

Haruskah aku mengatakannya dengan resiko dia memarahiku, lantas rumah tangga kami berantakan? Ataukah aku memasakkan rendang setiap dia minta meski hatiku tersayat tapi rahasiaku aman?

/3/

Lelaki tua pemilik rumah makan padang itu digelandang ke kantor polisi. Mereka menemukan sabu-sabu tersimpan dalam daging sapi miliknya. Pembantunya yakin barang itu bukan milik tuannya. Dia tahu tuannya itu dijadikan korban.

Lelaki tua itu tak bisa mengelak dan divonis tembak sampai mati karena tidak bisa membuktikan itu bukan miliknya. Anak perempuan lelaki itu meraung atas nasib yang menimpa ayahnya.

“Aku tahu siapa pemilik barang itu. Tapi, makanlah rendang ini dulu. Seharian kau menangis dan tak makan sedikitpun,” kata pembantunya, “Kita bisa balas dendam, jika kau mau.”

Sebentar berpikir, si gadis menyetujui ide balas dendam itu. Dia pun makan sepotong rendang itu. Beberapa jenak kemudian dia merasa pusing. “Kau beri apa rendang ini?”

“Sabu-sabu. Aku pemilik barang itu.”

Si gadis hendak marah. Tapi, pusing yang terlalu membuatnya terjatuh tak sadarkan diri. Ketika bangun dia sudah berada di kasur tanpa pakaian dan selangkangnya terasa perih.

/4/

Kita berjumpa di warung makanku dekat salah satu kampus di Jogja. Kita saling jatuh cinta dan akhirnya menikah. Hingga kau mencurigaiku menyimpan rahasia. Tapi, akan aku katakan sejujurnya rahasia sepotong rendang itu sekarang.

Kau terbelalak setelah mendengar kisahku dan tak bisa berucap. Pandanganmu lantas menunduk. Cukup lama. Aku khawatir kau tak terima, memarahiku, dan rumah tangga kita berantakan.

Ketakutanku serasa melebar dan tak terkendali. Aku khawatir kau akan selingkuh. Cerai mungkin lebih baik daripada kau menggunakan alasan tidak terima atas masa laluku.

Aku menunggumu berkata sesuatu sambil menunduk menahan air mata.

“Lihat aku, Ahli Rendang,” kau memang sering memanggilku Ahli Rendang.

Aku menatapmu sebentar lantas menunduk lagi. Kudengar kau melanjutkan bicara.

“Jangan pikirkan masa lalumu. Tapi, maukah kau memasak rendang yang lezat untukku, Sayang?”

Aku mendongak. Menatapmu nyaris tak percaya mendengar keputusan itu. Kau tersenyum.

Hujan pun turun di sudut mataku.

Nusukan, Solo.

Era Ari Astanto lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo. Aktif di komunitas Sastra Alit. Karya yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul The Artcult of Love (2014), Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (2013). Novel terbarunya “Bertutur Sang Gatholoco” terbit 2018, dan yang akan terbit “Di Pasujudan Bonang”.


Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI