Ia
ingin mati sekali lagi, tapi tidak di sini, tidak dengan keadaan seperti ini.
Ia lalu pergi–setelah menandaskan bir yang tinggal setengah. Menyisakan tanya
yang kini bersarang di kepala saya. Ada banyak pertanyaan, tetapi, yang paling
mengganggu adalah: siapa sebenarnya lelaki itu? Dan, apa tujuannya berkata
seperti itu kepada saya? Saya tidak mengenalnya. Atau, lebih tepatnya, saya tidak
mengenal orang-orang yang berada di sini. Tidak seorang pun.

Saya
kerap melihatnya tiap-tiap datang kemari–maksud dari “tiap-tiap” di sini
hanyalah beberapa kali, paling baru empat atau lima kali, karena saya memang
belum lama akrab dengan tempat semacam ini, baru sekitar dua atau tiga minggu
kemarin. Ia terbiasa duduk di bar stool
paling ujung, dekat dengan dinding. Di situ cahaya tidak terlalu terang. Mirip
dengan meja yang selalu saya pilih. Cukup remang. Di sudut yang berseberangan
dengan sudut di mana laki-laki itu terbiasa menikmati minumannya. Hanya saja,
di sini lebih hening dan cukup jauh dari konter bar. Saya tidak ingin tergoda
untuk meminum lebih dari segelas koktail. Ya, segelas koktail dan dua atau tiga
batang rokok untuk mendengarkan beberapa buah lagu yang diputar di tempat ini.
Sekadar melepas penat usai bekerja. Dan, melupakan sejenak persoalan yang terjadi
antara saya dan Bastian. Hubungan saya dengan tunangan saya itu tengah
mengalami kemunduran. Saya merasa, hubungan kami saat ini menjadi renggang.
Sangat renggang.

***

Ia
memperhatikan saya sejak saya memasuki tempat ini. Saya bisa merasakannya di
setiap langkah saya. Tatapannya seakan rekat pada saya. Bahkan, setelah berada
di meja yang selalu saya pilih, laki-laki itu tetap menatap saya. Ia tidak
mengalihkan pandangannya sedikit pun. Laki-laki itu bukan tipe lelaki yang
beraninya cuma curi-curi pandang seperti lelaki yang banyak saya temui. Ia tipe
pemburu. Tatapannya bagai tatapan seekor harimau lapar dengan ketenangan yang
purna. Ia masih menatap. Saya mencoba untuk tidak memedulikannya. Lagi pula,
saya merasa terganggu atas sikap dan ucapannya kemarin.

Masih
terekam jelas dalam ingatan, bagaimana laki-laki itu menghampiri saya. “Boleh
saya duduk di sini?” tanya lelaki itu dengan raut muka yang datar. Saya tidak
menjawab; hanya membalas tatapannya. Namun, ternyata, laki-laki itu memiliki
kesimpulannya sendiri dalam merespons tatapan saya. Dengan santai ia menarik
kursi lalu duduk. Meneguk bir yang dibawanya, kemudian menyalakan sebatang
rokok. Ia tidak berbicara sepatah kata pun. Cukup lama. Sesekali ia berangguk-angguk
mengikuti irama lagu yang sedang diputar. Hingga sebatang rokok yang ia sesapi
akhirnya kandas. “Saya ingin mati sekali lagi, tapi tidak di sini, tidak dengan
keadaan seperti ini,” katanya, lalu pergi usai menandaskan bir yang tersisa di
gelasnya.

Ia
berdiri. Dari gelagatnya, saya bisa menebak, ia akan datang menghampiri saya
seperti kemarin. Mungkin sebaiknya saya berterus terang saja kali ini. Saya
akan bilang padanya: “Saya tidak butuh ditemani siapa-siapa.” Barangkali dengan
begitu ia langsung mengurungkan niatnya untuk duduk semeja dengan saya. Dan,
seandainya pun ia tetap memaksa, tidak sulit bagi saya untuk mengusirnya. Saya
pikir di tempat ini, akan banyak laki-laki yang bersedia menolong saya. Dua
atau tiga lelaki yang sedang berada di tempat ini cukup untuk menaklukkan otot
kekar laki-laki itu dan melemparkannya ke luar sana.

 “Boleh saya duduk di sini?”

 “Maaf, saya tidak….”

 “Kau pasti ingin tahu.”

“Apa?
Maaf, tahu soal apa? Apa yang ingin saya ketahui?”

Ia
menarik kursi lalu duduk dengan cuek; membiarkan pertanyaan saya menguap begitu
saja. Ia bahkan tak menghiraukan tatapan saya yang menuntut kejelasan dari
perkataannya barusan. Di benak saya pertanyaan-pertanyaan itu kembali muncul: siapa
sebenarnya lelaki ini? Apa maunya?

“Dulu,
saya pernah mati, sekali,” ia berbicara dengan nada yang agak gusar.

Saya
diam–mencoba bersikap tenang guna mendengar penuturannya. Ia menekuri gelas
yang masih terisi penuh. Saya menunggu laki-laki itu meneruskan cerita. Hingga
berpuluh-puluh detik kemudian, ia belum juga melanjutkan ceritanya. Seolah-olah
sedang memikirkan sesuatu. Atau, boleh jadi, laki-laki itu tengah menanti
reaksi saya terlebih dahulu. Kami pun terdiam selama berpuluh-puluh detik
berikutnya. Dan, ponsel saya tiba-tiba berbunyi; sebuah pesan masuk.

Ia
tampak gelisah. Jemarinya sibuk merogoh-rogoh saku kemeja.

“Rokok?”

Ia
menolak sekotak rokok yang saya sodorkan. “Ini saja,” dengan cepat ia raih sebatang
rokok yang masih menyala dan tergeletak di atas asbak–sebatang rokok yang saya
letakkan tadi ketika hendak membalas pesan. Terpaksa saya cabut lagi sebatang
kemudian menyalakannya.

“Bukan
kematian itu yang saya sesalkan,” ujarnya seraya menatap saya, “karena setiap
orang pasti akan mati.”

Ia
menghentikan penuturannya sewaktu seorang pelayan mengantarkan pesanan. “Terima
kasih,” sambut saya lantas berdehem ke pelayan tersebut. Saya menginginkan
pelayan itu segera pergi–saya kurang nyaman dengan tatapan pelayan yang penuh
tanda tanya itu.

“Seharusnya
dia berterima kasih pada saya, bukan malah membunuh saya,” lanjutnya lagi
setelah pelayan itu menjauh.

“Kau
dibunuh? Kenapa?”

“Menurutmu
apa yang menyebabkan seseorang ingin meledakkan kepala orang lain jika bukan
karena cemburu?”

“Cemburu?”

“Ya,
sejak dia menyadari saya dan kekasihnya itu saling menyukai.”

Mendadak
saya tertawa. Bukan karena apa yang baru saja ia katakan, melainkan lebih
dikarenakan laki-laki itu jadi terlihat lucu. Ia yang mengaku-aku pernah mati,
dan kini ia mengomel karena kematiannya itu disebabkan oleh rasa cemburu orang
lain? Ternyata penilaian saya kemarin salah, ia bukan seekor harimau. Ia cuma
seekor anjing kurap yang coba-coba bermain dengan perasaan orang lain. Dan
mengeluh selepas merasakan akibatnya.

“Saya
bersungguh-sungguh,” laki-laki itu lebih mencondongkan badannya ke arah saya;
seakan tidak terima dengan reaksi saya barusan, “seharusnya dia berterima kasih.”

Saya
lalu diam–agar dirinya tak kehilangan selera untuk kembali bercerita.

“Karena
saya telah membahagiakan perempuan yang dia cintai.”

“Dengan
melukai perasaan dan harga dirinya?”

“Kenapa
harus terluka? Bukankah saya melakukan sebuah kebaikan? Saya menyukai
kekasihnya dan memberikan kesenangan buat kekasihnya itu. Apa itu salah?
Seharusnya kaulihat betapa bergembiranya kekasihnya itu ketika saya
mencumbuinya di sebuah kamar hotel. Perempuan itu menikmati setiap sentuhan
yang saya berikan.”

“Hentikan!
Kau terdengar menjijikkan.”

“Hei,
ada apa denganmu? Kenapa kau begitu marah?”

Entah
mengapa, tiba-tiba saya merasa menjadi sangat haus. Bergegas saya basahi
kerongkongan saya dengan segelas koktail sampai habis. Kemudian saya memesannya
segelas lagi.

“Padahal,
saya hanya ingin menjelaskan, bahwa laki-laki itu harusnya berterima kasih kepada
saya,” tukasnya lalu menyesapi rokok hingga tuntas.

Saya
menggeram–wajah saya memanas.

“Setidaknya
dia jadi tahu, kekasihnya itu tidak sesetia seperti apa yang kerap dia gembar-gemborkan
pada orang-orang,” pungkasnya lantas berdiri dengan wajah kesal.

Ia
beranjak meninggalkan saya yang juga merasa kesal. Bukan cuma kesal, bahkan
muak. Bahkan lebih daripada itu; terlintas dalam pikiran saya untuk
membunuhnya, kalau saja ia tidak segera lenyap dari penglihatan saya. Ia
benar-benar lenyap setelah sebelumnya berubah menjadi segumpalan awan yang
melayang-layang di udara dan lesap menerobos langit-langit. Saya tertegun beberapa
saat sebelum akhirnya terkesiap tatkala pelayan tadi kembali meletakkan segelas
koktail di meja saya. “Cepat tinggalkan meja ini!” bentak saya kepada pelayan
itu.

Saya
menenggelamkan muka pada kedua telapak tangan. Pikiran saya benar-benar kacau.

“Maaf,
saya terlambat. Kamu sudah dari tadi di sini?” seorang perempuan duduk di
hadapan saya. “Kamu tampak kusut. Kamu baik-baik saja?”

Perempuan
itu Shasha, sahabat saya sejak lama–sejak kami sama-sama kuliah.

“Sepuluh
tahun kenal sama kamu, saya baru tahu kamu suka ke tempat seperti ini.”

Ia
mengamati sekeliling. Ia juga memperhatikan apa-apa yang ada di atas meja.
Memandangi satu per satu: segelas bir yang tersisa setengah, segelas koktail yang
telah kosong, dan, segelas koktail yang masih terisi penuh. Ia juga melihat ke
arah asbak.

“Sejak
kapan kamu merokok?”

“Belum
lama.”

“Kamu
lagi ada masalah?”

“Sepertinya
begitu.”

Ia
mengernyit, kemudian menatap saya cukup lama.

“Kamu
ingin cerita?”

Saya
menggeleng, lalu meraih wristlet. Ia
menatap saya dengan heran.

“Kenapa?”

Saya
tidak menjawab. Akan tetapi, demi mengurangi kecemasan Shasha, saya tersenyum.
Kendati pikiran saya kembali sesak. Apalagi ketika indra pencium saya mengendus
sesuatu yang sangat saya akrabi. Sesuatu yang selalu membuat saya bergairah.
Sesuatu yang senantiasa saya ingat. Dan, sesuatu itu menguar dari tubuh Shasha.
Saya tetap tersenyum. Perlahan-lahan tangan saya menyelinap masuk ke dalam wristlet. Membelai sebuah revolver yang
terasa dingin di ujung jemari saya, sambil menimbang-nimbang apakah saya harus
berterima kasih padanya, atau….

*******

Catatan:
Bar stool         : kursi berkaki tinggi
Wristlet           : tas berukuran kecil menyerupai dompet

Abdullah Salim Dalimunthe,tinggal
di Bandung. Gemar menulis cerpen.