Cerpen

Dua Alasan Hukuman Mati

Cerpen Koesmiyati Harsanto

Bagaikan busur raksasa, kerumunan ratusan manusia membentuk setengah lingkaran di lapangan kompleks militer yang kering dan berdebu. Mereka saling berkelisik satu sama lain seraya memandang tiang pancang yang berdiri kokoh, siap memeluk seorang  terpidana yang nantinya akan diikat di situ untuk menerima hukuman mati. Di antara tiang pancang dan penonton, sebarisan regu tembak berdiri memunggungi kerumunan, bersiap dengan senapan masing-masing.

Pengelana Muda menyelinap di antara kerumunan. Jiwa petualangnya berdebar menduga-duga apa yang akan dia lihat selanjutnya. Telah belasan negeri ia jelajahi. Banyak sudah kematian dia saksikan. Namun baru kali ini dia menjumpai prosesi hukuman mati yang dipertontonkan pada khalayak ramai. 

Dengung yang semula memenuhi udara berubah senyap tatkala dari pintu salahsatu bangunan di sana, lima orang berseragam warna khaki muncul menggiring seorang perempuan bertubuh mungil yang bagian matanya terbebat kain hitam.

“Kejahatan apa yang dilakukan perempuan itu hingga harus dihukum mati?” dengan rasa penasaran Pengelana Muda bertanya pada pemuda di sampingnya. Pemuda itu menatapnya dengan pandangan menyelidik.

“Kau pasti berasal dari negeri yang jauh,” kata pemuda itu kemudian. Pengelana Muda menelan ludah. Tak perlu usaha keras untuk tahu dia pendatang dari jauh. Meski dia bisa berbicara bahasa yang sama dan berpakaian layaknya penduduk negeri ini, matanya yang kehijauan dan kulitnya yang terang jelas menunjukkan kalau dia berbeda.

“Negeriku berjarak separuh bumi dari tempat ini,” jawab Pengelana Muda.

“Tertawa,” Si Pemuda berkata pendek. Butuh sekian detik untuk Pengelana Muda menyadari itu jawaban atas pertanyaannya sebelumnya. Keningnya berkerut. Jadi perempuan itu dihukum mati karena tertawa?  Demi bumi yang berputar, negeri macam apa yang menganggap tertawa  adalah suatu kejahatan berat?!

“Di saat pemakaman Sang Terpilih,”  lanjut pemuda itu seolah bisa membaca pikiran Pengelana Muda.

“Meskipun begitu, apa pantas dihukum mati? Bukankah itu terlalu kejam?” tanya Pengelana Muda heran. Dia tahu pemimpin negeri ini baru saja mangkat. Itulah salahsatu alasannya datang ke tempat ini, untuk melihat secara langsung pemakaman Sang Terpilih, julukan dari mendiang pemimpin negara.

“Kau tidak memikirkan orang macam apa yang bisa tertawa saat pemakaman pemimpin negara. Jenis pemberontak yang membenci pemerintahan,” jawab Si Pemuda.

“Begitukah? Jadi perempuan itu pemberontak?” Pengelana Muda tak yakin. Perempuan mungil yang sedang digelandang menuju ke tiang hukuman itu, jauh dari gambaran pembangkang. Tak ada perlawanan samasekali meski para lelaki berpakaian militer itu membawanya dengan setengah diseret. Sekadar bersuara pun tidak.

Prosesi pemakaman Sang Terpilih baru saja kemarin dilaksanakan. Dan sekarang perempuan itu sudah menghadapi hukuman mati. Jika alasannya karena dia tertawa saat pemakaman Sang Terpilih, bisa dipastikan dia dihukum tanpa proses pengadilan yang wajar.

“Dia tak terlihat berbahaya. Mungkin tawanya cuma kelepasan karena sesuatu yang lucu melintas di pikirannya saat itu,” kata Sang Pengelana. Pemuda di sampingnya hanya mengangkat bahu tampak tak peduli.

“Bagaimanapun, itu sudah cukup bagi pemerintah negeri ini untuk mencap dia sebagai pemberontak,” kata pemuda itu kemudian. Pandangannya beralih dari Pengelana Muda ke tiang pancang.

“Pemerintah? Tapi negeri ini bahkan secara resmi belum punya pemimpin baru, bagaimana bisa sudah ada yang menerima hukuman mati?” sahut Pengelana Muda makin tak mengerti.

Dipandangnya perempuan terpidana yang sekarang sudah terikat di tiang bagai benalu menempel di pohon biangnya. Dia tak bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi perempuan itu. Sepertinya dia sudah pasrah atau mungkin putus asa. Bisa jadi masih berharap keajaiban. Prosesi pemakaman Sang Terpilih kemarin begitu agung dan sakral. Bilamanakah perempuan itu terpergok saat tertawa? Tawa macam apa hingga pantas diganjar kematian? batin Sang Pengelana  Muda dipenuhi banyak tanya.

Dia ingin bertanya lebih jauh lagi pada pemuda di sampingnya, tapi diurungkan saat dilihatnya pemuda itu tampak antusias menantikan proses eksekusi yang akan segera dimulai. Sementara Pengelana Muda masih ragu apakah dia sanggup menyaksikan eksekusi ini atau tidak. Telah dijumpainya sejumlah kematian tragis. Dia pernah melihat seorang buronan ditembak polisi, seorang anak yang mati terlindas mobil, bahkan seorang perempuan yang terjun dari lantai tujuh, namun semua itu disaksikannya tanpa dia sangka sebelumnya. Kali ini situasinya beda. Apalagi menurutnya, siapa pun perempuan itu tidaklah pantas dihukum mati. Yang dirasakannya saat ini justru keinginan kuat untuk menyelamatkan perempuan malang itu. Namun bunyi senjata yang terkokang menyadarkannya bahwa keinginannya mustahil terwujud, serentetan suara letusan berikutnya memperjelas hal itu. Dia tertunduk, tak sanggup untuk menyaksikan saat peluru menerjang Si Terpidana.

Perlahan Pengelana Muda mendongak, melihat suasana usai eksekusi. Perempuan itu masih terikat di sana dengan dahi yang mengalirkan darah. Regu penembak tampak melakukan penghormatan militer purna tugas. Penghormatan yang ditujukan pada sebuah foto sebesar papan tulis berbingkai pigura warna emas. Dua orang berseragam khaki memegangi sisi kanan dan kiri pigura. Seolah mendiang Sang Terpilih bisa melihat prosesi hukuman mati lewat fotonya.

“Ini tidak adil!”  Pengelana Muda tak bisa menahan kegeramannya. “Perempuan itu mungkin hanya tertawa di tempat dan saat yang salah. Dan karena itu dia harus dihukum mati?” suara Pengelana Muda terdengar gusar. Pemuda di sampingnya menatapnya dengan sorot mata bijak dan tenang.

“Biar kuberitahukan sesuatu padamu, Tuan, di negeriku ini orang bisa saja dihukum mati karena dua alasan yang tampaknya sepele. Dan itu berlaku untuk siapa pun. Satu seperti yang kau katakan tadi, tertawa di tempat dan saat yang salah. Kau sudah menyaksikan sendiri perempuan tadi ditembak mati karena alasan itu,” Si Pemuda berbicara dengan lambat dan jelas, bagai seorang guru mengajar muridnya.

“Dan perempuan tadi adalah kakakku,” lanjut pemuda itu dengan intonasi lebih tegas. Pengelana Muda terperangah. Ditatapnya pemuda itu dengan rasa tak percaya. Matanya bertemu dengan sepasang mata dingin milik pemuda itu, dan seulas senyum yang sama dinginnya. Hati Pengelana Muda mencelos ketika dia menyadari satu hal, wajah pemuda di hadapannya bak replika dari foto mendiang Pemimpin Negara.

“Dan alasan yang satunya lagi?” tanya Pengelana Muda dengan suara bergetar.

“Bertanya pada orang yang salah,” jawab pemuda itu dengan pelan, namun sesuatu dalam diri Pengelana Muda menyuruhnya untuk segera berlari.

***

Koesmiyati Harsanto wirausaha kuliner yang belajar menulis. Giat di Komunitas Sastra Alit, Surakarta.

Cerpen

Di Atas Daun Jati, Ia Bersaksi

Cerpen Sasti Gotama

Gadis mungil itu tidur dengan tenang. Ia tergeletak di atas tumpukan daun jati kering berwarna  kuning kecokelatan. Bayang-bayang pokok jati yang menjulang terbiaskan pada tubuh yang telentang diam. Kontras dengan kulit si gadis yang  sepucat bulan. Jika bukan karena jemari Tara yang terlatih mampu merasakan denyut nadi  di lekuk leher gadis itu, mungkin para warga desa yang ikut dalam pencarian akan mengira nyawanya telah hilang.

“Nadinya lemah, tapi ia baik-baik saja,” gumam Tara, sedikit tak yakin.

Dengung lebah segera terdengar, berasal dari mulut-mulut penduduk desa yang saling berbincang,  tentang praduga-praduga, tentang kemungkinan-kemungkinan, tentang prasangka-prasangka. Seorang lelaki tua maju dan membalutkan sarung hitam yang tadi dikenakannya pada tubuh gadis mungil itu, membuatnya tampak seperti kepompong hitam. Seorang pemuda desa berbadan tegap mengangkat tubuh pucat itu dalam sekali helaan. Langkah-langkah tergesa segera terdengar dari kaki-kaki yang memijak ranting-ranting kering. Semua bergegas. Semua tergesa.

Malam masih muda dan bulan pucat bersembunyi di balik awan,  tapi Tara berfirasat malam akan terasa panjang. 

Mata gadis itu terbuka, memandang kosong ke langit-langit kamar ruang periksa. Sedetik kemudian ia mengerang. Separuh kesedihan, separuh kengerian. Suara itu menelusup ke dalam lorong telinga, menggetarkan gendangnya, dan merangsang rumah siput melepas sinyal-sinyal ke sel-sel kelabu Tara hingga ia terbangun dengan gelagapan. Hampir saja kursinya terjatuh. 

Seperti dugaannya, tadi malam memang terasa panjang. Semalaman ia membersihkan luka-luka gores di sekujur tubuh gadis mungil itu, memberinya oksigen, dan mengalirkan larutan glukosa ke dalam pembuluh darahnya yang kolaps. Gadis itu seperti baru saja diserang kera gila, atau manusia gila berotak kera. Tara tak tahu, mana yang lebih mengerikan.

Mulut mungil itu mengucap sesuatu. Tak terlalu jelas. Hampir serupa gumaman. Tara tak terlalu paham bahasanya. Ia baru seminggu menjejakkan kaki di pedalaman pulau Lombok ini demi  sebuah pengabdian.

“Bu Bidan, ia bilang apa?” tanyanya pada perempuan setengah baya yang baru saja masuk ke ruang periksa.

Bidan  itu  mendekatkan telinganya ke mulut mungil itu, lalu mengangguk-angguk perlahan. Sejenak kemudian, wajahnya berubah seolah-olah ia bertemu hantu paling seram.

Perempuan berbaju putih itu mendekat ke arah Tara yang  kebingungan. “Dok,” ucapnya bergetar, “sepertinya kita perlu memanggil polisi.”

Dari balik jendela berbingkai putih, Tara melihat tiga orang petugas berbaju cokelat mendekat. Dua diantaranya wanita. Puluhan penduduk yang tampak penasaran, membentuk setengah lingkaran di halaman puskesmas. Dengung manusia serupa suara lebah terdengar lebih tajam.

Salah seorang wanita berambut sebahu itu meminta Tara menunggu sejenak di depan ruang periksa. Ia memilih menunggu di belakang bangunan tua itu yang menghadap ke hamparan kuning sabana di kaki gunung Rinjani. Ia mendongak, memandang mendung gelap menggantung. Padahal belum musim penghujan, keluhnya. Seolah-olah alam bersekutu mengutuk peristiwa yang terjadi semalam. Sesuatu yang terlalu kejam untuk terjadi pada seorang gadis mungil berumur belasan.

Salamah namanya. Jika bukan karena peristiwa semalam, Tara tak akan memperhatikan gadis itu. Ia sama sekali tak mencolok, terlalu biasa untuk anak berusia sebelas tahun. Wajahnya bisa dibilang tak cantik dengan kulit cokelat pucat sewarna pokok jati. Rambut ikalnya berwarna hitam sedikit kemerahan dengan panjang sebatas bahu. Ia seperti gadis kampung Sasak pada umumnya. Yang membedakannya adalah tragedi yang terjadi padanya. 

Saat ia belum lagi usai menjalani masa balita, ayahnya meninggal ketika menjadi porter di gunung Rinjani. Senja itu badai, dan ia terpeleset di tebing Senaru. Ibunya menyusul pergi selamanya sebulan setelahnya, mungkin karena kepedihan yang tak bisa ditahannya. Salamah harus tinggal dengan keluarga paman jauhnya yang dipanggilnya tuaq[1]. Semua informasi ini tak tertulis di rekam medis, tapi  meluncur dengan lancar dari mulut Bu Bidan yang mengenal gadis itu semenjak ia kecil.

Tara tersentak ketika seseorang memanggil namanya. Bidan itu sudah berada di sampingnya dengan wajah setengah prihatin setengah marah. “Diminta visum, Dok. Surat permintaannya akan disusulkan nanti sore,” ucap perempuan itu sebelum berbalik badan. Baru tiga langkah, bidan itu berhenti  dan berbalik badan. “Oya, dokter tak akan percaya apa yang akan saya ceritakan nanti.”

Gadis itu terbaring di atas tempat tidur sederhana berangka kayu jati. Alas kasur yang berwarna hijau muda, senada dengan baju hijau daun khusus pasien yang dikenakannya. Wajahnya tak sepucat tadi malam. Ada rona merah muda di pipi tirusnya. Matanya memandang jauh keluar menembus kaca jendela. 

“Salamah,  saya periksa sedikit di bagian, ehm.” Tara tak bisa meneruskan kata-katanya. Biasanya ia tak pernah merasa serba salah seperti ini, terutama saat melakukan tindakan di daerah kewanitaan pasiennya. Namun, kasus ini membuat ia merasa tak nyaman. Ia memberi isyarat pada bidan yang mendampinginya untuk menjelaskan dengan bahasa daerah setempat. Perempuan setengah baya itu mengangguk, lalu berbisik lembut di telinga gadis itu. Gadis itu bereaksi. Ia mengangguk ragu, lalu memejamkan mata. Erat-erat. Terlalu erat. 

Tara berjuang memasukkan tangannya ke dalam sarung tangan lateks yang berukuran satu nomor di bawah dari yang biasa ia pakai. Namun, pikirannya bukan terpusat ke sarung tangan itu, melainkan  pada kejadian senja temaram, ketika seorang anak harus menghadapi takdir kejam.

Sepuluh menit yang lalu, bidan itu menceritakan apa yang ia dengar saat mendampingi Salamah. Katanya, dari mulut mungil Salamah yang bergetar, meluncurlah cerita tentang seorang pemuda dari keluarga terpandang dan berpendidikan yang sedang pulang dari perantauan, memaksakan hasratnya pada seorang gadis berumur belasan. Tara membayangkan teriakan gadis itu yang teredam bekapan tangan, juga tubuh mungilnya yang memberontak di tengah hutan yang temaram. Mengerikan. Terlalu kejam.

“Saya mulai periksa, ya,” ucap Tara selembut mungkin. “Lampu, Bu Bidan.” Lalu, cahaya yang kuat terarahkan tepat ke satu titik. Titik yang membuat Tara terperangah.

Sentuhan itu. Salamah merasakan sentuhan tangan berlapis karet pada bagian pangkal pahanya. Sentuhan yang membuatnya terseret ke suatu malam ketika ia masih berusia sembilan tahun.

Malam itu, ada yang membuka kelambunya. Perlahan, hampir tak terdengar, kalah dengan suara desau angin di luar dinding papan. Lalu, ia merasakan sentuhan. Perlahan, lembut, dari mata kaki kanan, lalu merayap semakin ke atas. Embusan napas yang ia dengar begitu memburu, berkejaran dengan detak jantungnya sendiri. 

“Salamah rindu Amaq[2], Inak[3]?” Suaranya berat, seperti derau badai di lereng Rinjani. Lalu ia dengar dengkusan, serupa dengusan anjing hitam yang berkeliaran di sekitar hutan. Dengkusan yang semakin lama semakin cepat, seiring rasa menyengat di sebuah titik di bagian bawah tubuhnya.

Salamah diam. Ia tak ingin diam, tapi terpaksa diam, ketika telapak yang lembab berkeringat membekap mulutnya. Ia harus diam. Saat itu, juga keesokannya, juga hari-hari selanjutnya.

Malam-malam itu selalu terulang, lalu tiba-tiba terhenti setelah pemuda yang  biasa membantu di ladang tuaq, pulang kampung. Malam-malamnya kembali hening. Namun, ia merasa ada yang hilang. Sesuatu yang tak bisa terpuaskan hanya dengan sentuhan jarinya.

Lalu pemuda itu datang. Putra tetua desa yang pulang dari perantauan. Lelaki itu tampak bersinar di bawah mentari Lombok kala ia membacakan buku-buku yang ia bawa dari kota. Buku tentang roket ataupun jenis-jenis bunga-bungaan. Puluhan anak Sasak yang mengelilinginya, mendengarkan setiap ceritanya. Termasuk Salamah. Suara lelaki itu begitu lembut. Terdengar lamat-lamat di setiap hening malam Salamah. Seperti bisikan, seperti gendam. 

“Bu Bidan,” desis Tara, “coba lihat.” Perempuan itu membungkuk dan menajamkan pandangan pada titik yang ditunjuk Tara. Tampak beberapa robekan di sana. Sesuatu yang seharusnya tak terjadi pada anak seusia Salamah.

 “Ajari aku tentang daun-daun jati yang meranggas di musim kemarau.” Lelaki itu menyanggupi permintaan Salamah, menemani ke hutan jati. 

Sore itu, Salamah sudah berhias secantik mungkin. Rambutnya yang hitam ia jepit ke belakang. Ia pilih pakaian terbaiknya, putih seperti warna bulan. Blus itu selalu berhasil menonjolkan lekuk tubuhnya yang mulai matang. Tak pernah gagal.

Seharusnya semua berjalan lancar sesuai yang ia bayangkan. Seharusnya tiap lelaki akan seperti kucing yang disodori ikan. Seharusnya. 

Namun,  lelaki itu tak menanggapinya. Ia hanya  tertawa dan malah menasihatinya. Ia akan menyesal, pikir gadis itu, geram.  Lelaki itu akan mendapat hukum adat untuk sesuatu yang ia tolak. Untuk sebuah kebohongan yang gadis itu ungkapkan pada pihak kepolisian sejam yang lalu. Seharusnya lelaki itu tak menolak. Seharusnya, jangan. 

Salamah memejamkan mata. Ia menikmati sentuhan yang begitu ia rindukan dari tangan bersarung lateks. Seperti hujan yang turun menyiram tanah kering sabana Sembalun setelah kemarau panjang. Ia menginginkan hujan ini selalu ada. Juga sentuhan itu.

Ia membuka mata dan menatap lurus pada iris cokelat gelap berbingkai kaca mata yang menatapnya. Salamah tersenyum, sekejap. Ia, rindu.

Tara memandang sorot mata sendu itu. Sekilas, mata itu berkilat, binal. Lalu redup kembali. Tara terkesiap. Ia bingung, bagaimana menuliskan laporan visumnya. Memang ada robekan pada selaput dara. Namun bukan luka baru. Tak ada luka baru. Hanya ada bekas koyakan lama. Sepertinya sangat lama.***


[1]Tuaq: paman

[2]Amaq: ayah

[3]Inak: ibu

Sasti Gotama Seorang dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan Cerita Penafsir Mimpi, Antologi Journey to Infinity, Antologi Jejak Perempuan, Antologi Perempuan di Sisi Waktu, Antologi Kampung Humor dan Antologi Rahasia Cinta Bunda.

Cerpen

Perempuan Tiga Puluh Tahunan dan Lubang Hitam yang Menganga di Dinding Kamarnya

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Sungguh, ia ragu-ragu mengayunkan langkah ke lubang hitam yang menganga di dinding kamarnya. Selain karena lubang hitam itu bergerak-gerak bak api yang menyala-nyala, lubang hitam itu juga terlihat bagai moncong sebuah lorong yang amat panjang dan menakutkan. Bahkan, peluh seni yang terus tumbuh di dahinya sebesar biji-biji jagung, berjatuhan satu demi satu. Membasahi permukaan permadani klasik karya pengrajin Persia abad ke-18 yang sangat ia sukai. Namun, permukaan permadani klasik yang lembut pemberian suaminya itu, belum cukup memberikannya ketenangan untuk melawan rasa takut yang sedari tadi membingkai pikirannya. Ia lunglai. Terjatuh. Dan tak sadarkan diri.

Dalam ketidaksadaran dirinya, perempuan tiga puluh tahunan itu siuman. Ia mendapati lubang hitam yang menganga di dinding kamarnya kian besar. Cukup untuk memasukkan seekor gajah ke dalamnya. Ia pun melihat, lubang hitam itu benar-benar moncong sebuah lorong yang amat panjang dan menakutkan. Gelap dan pengap. Serta, aroma lembap yang begitu kentara.

Ia menangis. Ada kesedihan yang maha yang menyelusup ke dalam batinnya dan melukai. Darah mengucur deras. Anyir darah yang menggenangi batinnya menyeruak menyentuh sel-sel saraf yang membuatnya mual sejadi-jadinya. Ia tak kuasa menahan. Perempuan tiga puluh tahunan itu akhirnya muntah. “Tolong jangan paksa saya masuk ke dalam sana,” racaunya. Ia coba menahan sekuat tenaga. Tapi, lagi-lagi, anyir darah yang menggenangi batinnya itu kembali menyeruak dan menyentuh sel-sel saraf yang membuatnya semakin mual. Perempuan tiga puluh tahunan itu akhirnya muntah untuk kedua kalinya. “Tolong, jangan, saya mohon….”

Dalam ketidaksadaran dirinya, perempuan tiga puluh tahunan yang tadi sempat siuman dalam ketidaksadaran dirinya itu kembali pingsan. Dan, dalam pingsannya itu ia bermimpi–sama seperti mimpi yang kerap menghantuinya sejak dulu. Di mimpinya, ia melihat dirinya berjalan menyusuri lorong gelap yang ada di lubang hitam itu. Berjalan dan terus berjalan. Ia mengendap-endap. Membuntuti dirinya sendiri yang terpaut belasan langkah di depannya. Ia merasa lelah, tapi tak mampu untuk berhenti. Terus dan terus menyusuri lorong gelap hingga secercah cahaya kemerah-merahan terlihat dari ujung sana. Ia pun cepat-cepat memacu langkah. Buru-buru ingin mengetahui cahaya apa yang ada di ujung sana. Hingga tanpa ia sadari, dirinya tidak lagi berada di depannya–bahkan tidak lagi ada di sana.

Cahaya kemerah-merahan itu ternyata senja. Ya, senja. Senja yang menyelimuti tanah landai yang cukup luas yang ditumbuhi alang-alang yang sedang berbunga. Dan, dari sela-sela alang-alang yang sedang berbunga tersebut, perempuan tiga puluh tahunan melihat aliran sungai yang agak berkelok dan panjang. Aliran sungai itu mengarah ke dalam hutan. Berada persis di hadapannya. Akan tetapi, bukan lebatnya hutan dan panjangnya aliran sungai itu yang menarik perhatiannya saat ini, melainkan sesosok gadis kecil. Gadis kecil yang bermain-main di pinggiran sungai sambil mengejar seekor kupu-kupu. Setiap kali kupu-kupu itu hinggap di pucuk bunga-bunga liar yang tumbuh di tepian sungai, gadis kecil itu mengintai lalu menyergapnya. Dan, apabila kupu-kupu itu berhasil lolos, kemudian terbang terlalu tinggi atau jauh ke tengah sungai, maka gadis kecil itu akan menari-nari seolah-olah tidak memedulikan kupu-kupu itu lagi. Sampai kupu-kupu itu terkecoh lalu kembali hinggap dan gadis kecil itu akan menyergapnya lagi.

Selangkah demi selangkah perempuan tiga puluh tahunan itu mendekat. Ia melihat gadis kecil yang mengenakan gaun panjang–berwarna putih–tanpa lengan itu sedang menari-nari di hadapannya. Rambut gadis kecil itu hitam legam agak bergelombang dan panjangnya sedikit melewati bahu. Sesekali angin menerpa rambutnya, juga rambut perempuan tiga puluh tahunan itu. “Anak manis, siapa nama kamu?” perempuan tiga puluh tahunan menyapa dengan sangat hati-hati, ia tidak ingin mengagetkan gadis kecil itu.

Alih-alih menjawab, gadis kecil malah menempelkan jari telunjuknya ke bibir. Ia lantas menunjuk kupu-kupu yang masih terbang ke sana-kemari. Perempuan tiga puluh tahunan paham maksud dari gadis kecil tersebut. Ia lalu diam. Menunggu dan terus mengamati gadis kecil itu hingga senja berangsur pekat. Dan, rembulan muncul perlahan-lahan.

“Boleh saya ikut bersama kamu, anak manis?”

Gadis kecil mengangguk, kemudian berjalan menyusuri pinggiran sungai menuju hutan. Perempuan tiga puluh tahunan bergegas menyusulnya.

“Anak manis, tunggu!”

Bagi perempuan tiga puluh tahunan, gadis kecil itu terlampau gesit. Ia kesulitan mengikuti langkah gadis kecil itu ketika melewati bebatuan licin yang besarnya tiga kali dari buah nangka paling besar yang pernah ia lihat semasa kecil dulu. Perempuan tiga puluh tahunan berhenti sejenak. Ia mengatur napas.

“Anak manis, tunggu! Jangan tinggalkan saya!”

Perempuan tiga puluh tahunan langsung mengejar tatkala bebatuan licin yang sejak tadi jadi rintangannya sudah tidak ada lagi. Ia berlari sekencang-kencangnya–saat melihat gadis kecil itu lamat-lamat tenggelam ke dalam hutan.

“Kamu di mana?”

Dengan napas tersengal-sengal, ia nekat masuk dan mencari-cari gadis kecil itu di dalam sana. Ia menatap pohon-pohon besar yang akar-akarnya berjuraian menghunjam tanah. Perempuan tiga puluh tahunan itu bergidik. Ia merasa akar-akar pohon yang berjuraian itu seolah-olah hendak menggerayangi tubuh dan merobek-robek perutnya. Matanya berkunang-kunang. Dan, hampir saja perempuan tiga puluh tahunan itu pingsan, seandainya saja gadis kecil itu tidak segera menghampiri dan menjawil tangannya.

“Anak manis, tolong, jangan jauh-jauh, saya takut.”

Gadis kecil tersenyum. Ia kembali melangkah sembari menggamit tangan perempuan tiga puluh tahunan itu. Perempuan tiga puluh tahunan cuma bisa pasrah.

“Di mana kita sekarang?”

Perempuan tiga puluh tahunan mengamati pohon-pohon besar yang kini terlihat jauh lebih tinggi dan besar daripada pohon-pohon yang ia lihat tadi. Dan, akar-akar gantung pohon-pohon besar itu tampak lebih kokoh daripada akar-akar tadi yang sempat membuatnya ngeri. Ia pun melihat, di bawahnya, daun-daun yang berguguran yang telah berwarna kuning kecokelatan itu terhampar dengan sangat tebal. Daun-daun layu itu juga terasa begitu lembap.

“Kita mau ke mana?”

Gadis kecil mengarahkan telunjuknya ke sebongkah batu yang ada di dekat tebing–batu dan tebing hutan itu berjarak tinggal beberapa langkah lagi.

“Di mana rumah kamu?” perempuan tiga puluh tahunan celingukan; ia tak melihat sebuah rumah–atau apa pun yang bisa dijadikan sebagai tempat tinggal–di sekitar situ.

Dengan ringan gadis kecil itu tersenyum.

“Di mana orangtua kamu? Saya tak melihat siapa pun di sini selain kamu,” perempuan tiga puluh tahunan langsung duduk menyandar pada batu yang tadi mereka tuju. Ia kelelahan. “Papa kamu di mana?”

Gadis kecil menggeleng. Ia tampak murung.

“Kamu tidak punya papa?”

Gadis kecil bergeming.

“Maafkan saya sudah menanyakan hal itu.”

Suasana tiba-tiba menjadi kaku. Perempuan tiga puluh tahunan menyesal telah membuat gadis kecil itu bersedih. Meskipun dalam hatinya, ia iri pada gadis kecil tersebut. Ia senantiasa iri pada tiap-tiap anak yang tidak mempunyai papa. “Beruntunglah manusia yang tidak mempunyai papa. Beruntunglah Isa putra Maryam. Beruntunglah kamu, anak manis,” gumam perempuan tiga puluh tahunan itu seraya melempar pandang ke arah langit. Memandangi bintang-bintang yang terlihat–yang tidak terhalangi oleh kerindangan pohon-pohon besar itu. Sejenak kemudian, perempuan tiga puluh tahunan memejamkan mata, “Seandainya saya seperti kamu.”

“Bagaimana dengan mama kamu? Kamu pasti punya mama, kan?” perempuan tiga puluh tahunan kembali menoleh. “Di mana dia sekarang?”

Gadis kecil tidak menjawab.

“Oh, anak manis, tolong jangan katakan kepada saya, kalau kamu tidak seberuntung itu. Setidaknya, dulu, saya pernah mempunyai seorang mama yang sangat baik,” perempuan tiga puluh tahunan menghela napas cukup panjang, “walau TBC akhirnya membuat dia mati.”

“Ta-nah.”

“Apa?” tentu saja perempuan tiga puluh tahunan itu mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh gadis kecil tersebut. Akan tetapi, mengapa gadis kecil itu berkata demikian; tanah?

“Ibuku adalah ta-nah.”

Perempuan tiga puluh tahunan terperanjat mendengar perkataan gadis kecil tersebut. Ia tatap gadis kecil itu dengan saksama. Gadis kecil lalu mendekat. Mengangsurkan tangannya pada perempuan tiga puluh tahunan. Mengajak perempuan tiga puluh tahunan itu melihat sisi sebaliknya dari batu yang ia jadikan sandaran. Dan, di situ, di sela-sela antara batu dan tebing hutan itu, perempuan tiga puluh tahunan mendapati gundukan daun yang tidak terlalu tinggi. Gadis kecil lantas menunjuk gundukan itu.

Dengan sigap perempuan tiga puluh tahunan menyibak daun-daun layu yang terasa basah dan menutupi ceruk di sela-sela batu dan tebing hutan itu. Betapa terkejutnya ia, kala mendapati kerangka bayi yang tersembunyi di balik serasah pada sebuah ceruk di lantai hutan. Bahkan, tengkorak bayi yang ia temukan itu tidak lebih besar dari kepalan tangannya. Dan, kerangka bayi yang masih terlihat utuh itu juga tampak seperti kerangka bayi yang baru saja dilahirkan.

Ia mengerang. Sesuatu berdetak dalam perutnya. Makin lama makin terasa. Dan semakin kencang. Detak itu seolah berkejar-kejaran dengan detak jantungnya sendiri. Sesuatu yang ada di perutnya itu kini berontak. Menendang-nendang. Memukul-mukulnya dari dalam. Perempuan tiga puluh tahunan mendekap perutnya yang membesar. Ia berusaha sekuat tenaga menahan rasa sakitnya. Dan tiba-tiba saja, bak menerima hantaman keras, perempuan tiga puluh tahunan itu terpekik, “… akhh!” Ia terpelanting jauh. Seketika segalanya jadi menghitam.

“Hahaha.”

“Hahaha.”

“Mari bersulang.”

“Mari kita rayakan.”

Suara ramai orang yang bercakap-cakap itu membuatnya terbangun. Samar-samar, serupa bayangan, dilihatnya dua orang yang tengah asyik bercakap-cakap itu mengangkat gelas dengan penuh sukacita. Ia masih terbujur lemah di atas permadani klasik karya pengrajin Persia abad ke-18 yang sangat ia sukai itu. Dan, mereka, dua orang laki-laki tua yang bercakap-cakap sambil tertawa-tawa itu kian menjengkelkan. Perempuan tiga puluh tahunan mengerjap-ngerjapkan mata. Berharap dua laki-laki tua yang saling berbesan itu lenyap dari penglihatannya. Perempuan tiga puluh tahunan kemudian menangis. Ia teringat seorang lelaki yang dulu pernah ia jadikan kekasih dalam khayalannya. Laki-laki yang kerap memberikannya bahu tiap-tiap ia merasakan sedih. Laki-laki yang seringkali mengusap-usapkan hidungnya ke pipi, leher, juga payudara dan selangkangannya. Laki-laki yang tidak pernah lupa mengecupkan bibirnya dengan penuh penghayatan. Dan, laki-laki itu, sayangnya mati dengan cara yang entah bagaimana. Perempuan tiga puluh tahunan tidak pernah tahu. Ia tak pernah paham. Namun, dalam lamunannya, ia meyakini, bahwasanya laki-laki itu mati dimangsa kawanan serigala lapar. Sebagaimana yang pernah diceritakan mamanya dahulu: cuma serigala laparlah yang tega menghabisi nyawa orang baik-baik. Dan serigala lapar itu tentu tidak akan melakukannya sendirian.

Dua laki-laki tua saling berbesan itu kini raib dari penglihatannya. Ia melihat lubang hitam yang menganga di dinding kamarnya masih bergerak-gerak bak api yang menyala-nyala. Dan, di depan lubang hitam yang menyala-nyala itu pula, ia menyaksikan dirinya tengah mengendap-endap membuntuti gadis kecil yang berjalan menyusuri lorong gelap dan menakutkan itu. Ia tak kuasa menahan. Perempuan tiga puluh tahunan itu menangis sejadi-jadinya.***

Abdullah Salim DalimuntheTinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.

Cerpen

Setelah Menulis Puisi Tentang Kematian Sosok M

Cerpen Wawan Kurniawan

Dia menulis sebuah nama di dalam puisinya, berinisial M. Bila kau membacanya, tentu saja itu akan membuatnya semakin mengerti, bahwa puisi itu ditulis tidak sembarangan. Ada banyak alasan mengapa dia menulis puisi untuk M, salah satunya karena sosok berinisial M itu datang menemuinya melalui mimpi. Di atas pesawat menuju Belanda, melalui racun arsenik— seseorang berhasil merenggut nyawanya. Malam kemarin, dia kembali memimpikan sosok M.

“Kau tak perlu menulis puisi tentang kematianku!” pinta sosok M dalam mimpinya.

“Mengapa?” Dia terdiam sejenak lalu kembali angkat bicara, “Saya sudah mengetahui kisahmu dari ayah saya, dia kenal siapa yang membunuhmu tapi dia telah terbunuh oleh orang bejat itu.”

“Sudahlah, jika kau masih ingin menikmati duniamu, berhentilah menulis puisi tentang kematianku.”

“Saya tak takut dengan mereka, saya bahkan ingin membalas dendam ayah saya.”

“Tunggu dulu…” belum sempat sosok M menjelaskan sesuatu, dia terbangun dengan tubuh penuh keringat.

Di dinding kamarnya, sebuah sketsa wajah sosok M terbingkai dan terpajang di samping rak buku. Dia melihat wajah sosok M dan bertanya-tanya dalam hati, “Mengapa?”

Dia tak heran melihat sosok M datang dalam mimpinya. Ini bukan kali pertama, sudah tiga bulan lamanya. Sebuah media nasional memuat puisi-puisinya dan beberapa orang menayangkan potongan puisinya di instagram. Tiap kali dia melihat puisi-puisinya, ada keberanian yang membuatnya ingin terus menulis. Dia ingin mengenang sosok M dalam puisinya. Tapi di saat yang bersamaan, dia ragu jika benar-benar menulis untuk mengenang sosok M.

Seminggu setelah mimpi terakhirnya bertemu sosok M terjadi, sebuah puisi dia tulis sepanjang tujuh halaman tanpa rima dan irama, seperti yang sering dia lakukan dalam beberapa puisi sebelumnya. Hanya ada sebuah metafora yang sulit dipahami. Bertahun-tahun setelah puisi itu ditulis, kabarnya menghilang. Tak seorang pun mengetahui keberadaan penyair kita ini. Sosok M hilang belasan tahun lalu dan kematiannya masih dikenang orang-orang yang mencari kebenaran. Penyair kita hilang dalam puisi dan di dalam mimpi, dia datang menemui seorang pelajar yang hendak ke Belanda agar tak meneguk minuman di pesawat dan dia akan selamat. Tapi seperti itulah mimpi.***

Wawan Kurniawan menulis puisi, cerpen, esai, novel dan menerjemahkan. Menerbitkan buku puisi pertamanya yang berjudul, Persinggahan Perangai Sepi (2013), Sajak Penghuni Surga (2017). Serta diundang sebagai penulis Indonesia Timur di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2015. Salah satu novel karyanya yang berjudul Seratus Tahun Kebisuan menjadi Novel Pilihan Unnes International Novel Writing Contest 2017. Twitter: @wnkurn

Cerpen

Mencatat Ibu

Cerpen Jihan Suweleh

Matahari pecah menyebar kuningnya di langit depan rumahku. Di sana aku juga melihat Ibu yang menyapu halaman dengan wajah lesu. Pada sore yang terang, daun-daun dan sampah bergumul di tangan wanita berdaster kembang. Bolak-balik ia ambil dedaunan dan sampah untuk dimasukkan ke dalam tong bercorak mawar. Lisda, adikku, ia yang menggambar mawar itu di tong sampah yang tidak lebih tinggi dari dengkulku. Ia bilang, meski hanya tong sampah tetap harus terlihat megah. Padahal gambar mawar yang berserak di seluruh tubuh tong itu justru lebih terlihat norak ketimbang indah.

Ini bukan sore yang pertama Ibu menyapu halaman rumah. Sejak masih dalam gendongannya, aku selalu melihat Ibu menyapu di sana setiap habis Asar, dengan mata yang lebih gelap dari malam, seolah menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa-siapa. Ketika masih balita, mana aku paham soal luka, tetapi aku merasakan basah air mata itu, setiap hari, setiap malam, bahkan setiap Ibu menyapu halaman rumah dengan senyum-senyum yang ia simpulkan saat membalas sapa para tetangga.

Sudah 28 tahun usiaku, dan Ibu masih saja menyapu. Entah untuk mengusir kesedihannya, atau hanya agar terlihat sibuk biar tak ditanya perihal matanya yang selalu bengkak dengan lekuk senyum yang lebar. Aku tidak tahu apa yang membuat Ibu bersedih. Tidak ada yang tahu apa saja yang pernah Ibu lalui kendati kami tinggal di bawah atap yang sama, sebab kami keluarga yang hampir tidak pernah berbagi cerita. Aku anak pertama dari lima bersaudara. Kami semua perempuan, dan memiliki Bapak berbeda.

Adik pertamaku bernama Linda, kedua Lena, ketiga Lisda, dan terakhir Lala. Aku sendiri bernama Lara. Jika kujelaskan mereka satu persatu, sungguh aku pusing sendiri, sebab sulit sekali menjabarkan pernikahan yang kawin cerai. Aku saja bingung, mengapa Ibu sampai bisa menjadi janda dari lima laki-laki.

“Kata Mamaku, kamu itu anak haram.”

“Tahu dari mana?”

“Mamakulah, kan tadi sudah kubilang.”

“Mamamu tahu dari mana?”

“Kata Mamaku dulu Ibumu itu wanita murahan.”

“Heh, buktinya apa!”

“Kamu dan adik-adikmu punya bapak beda!”

“Ibu hanya bercerai!”

“Ha ha ha, kita itu hanya anak kecil di mata orang dewasa, jadi jangan percaya-percaya amat sama mereka. Bagi mereka, menipu kita adalah hal yang paling menyenangkan.”

“Mamamu juga orang dewasa!”

“Mamaku orang baik, nggak kayak Ibu kamu!”

“Nggak ada orang baik yang ngejelek-jelekin teman sendiri!”

“Teman? Memangnya Mamaku berteman sama Ibu kamu?”

“Setiap sore Mama kamu sapa Ibuku.”

“Hiiiih, begitu saja dibilang teman. Huuu anak haram!”

Aku tidak mengerti. Sejak kecil banyak sekali yang berkata seperti itu padaku, dan bagiku mereka itu tidak lebih dari anak-anak yang cepat tua karena terlalu sibuk ikut campur urusan orang dewasa. Namun, setiap kali kuceritakan itu pada Ibu, ia menangis, tak jarang ia malah memukulku.

“Jaga mulutmu! Kamu menyakitiku!” katanya.

Sebenarnya aku tak ingin menyakitinya, bahkan aku mencoba mengerti, mungkin Ibu memang sangat sensitif, aku mesti berhati-hati setiap kali bicara padanya. Aku sangat penasaran, siapa Bapakku dan Bapak adik-adikku, sebab Ibu selalu bilang Bapak kami mati tenggelam, atau terbakar. Entah tenggelam di laut mana, terbakar di perapian apa, dan setiap kami tanya lagi, ia selalu mengalihkan pembicaraan.

Pernah suatu kali saat aku remaja, Ibu bicara padaku di dapur sambil membuat sayur sup. Ia bilang, aku tidak boleh percaya pada siapapun kecuali pada Ibu, karena sejahat apapun keluarga, mereka tetap akan melindungi keluarganya, beda dengan orang lain. Mendengar itu, lidahku langsung panas. Sontak kujawab, ada banyak teman yang seperti saudara, kudengar itu dari cerita-cerita orang di televisi. Mereka mengatakan kadang keluarga lebih jauh dari orang lain, dan orang lain justru yang selalu ada untuk mereka.

“Jaga mulutmu! Kamu menyakitiku!” Ah, entah sudah berapa kali kalimat itu kudengar dari mulutnya. Aku muak. Tapi aku bingung sebetulnya perkataanku mana yang membuatnya sakit.

“Aku menyesal punya anak sepertimu! Mestinya kamu tidak lahir dari rahimku!” Suara Ibu menggelegar di kupingku. Bahkan sayur sup seperti memaki-maki kompor, ikut mengaduhkan suasana tegang antara aku dan Ibu. Pisau yang sejak tadi terlentang di dekat cucian kotor tiba-tiba serasa melompat, lalu menancapkan dirinya ke jantungku. Begitu perih kurasakan.

“Mestinya kamu tidak tinggal bersamaku. Aku menyesal telah melahirkanmu.”

Lirih kudengar suara Ibu. Getaran suaranya begitu terasa hingga membekukan bibirku yang tak lagi mampu berucap apa-apa. Pada hening yang merobek sendu, aku melihat jelas gelap tatap matanya. Kudengar lagi suara sedih, tetapi bukan suara Ibu. Itu suaraku. Benarkah hanya perkataanku yang membuat sakit? Tidakkah kau merasakan kesakitanku selama ini, menjadi anak yang hanya diam demi menjaga rahasia yang sudah diketahui orang banyak. Aku menutup telingaku, biar tak lagi kudengar suara itu, tetapi justru suara itu semakin kencang terdengar, seperti gema dalam ruang kedap suara, dan hanya aku yang mampu mendengarnya.

Ibu meninggalkan dapur yang berantakan sambil menangis, yang sebelumnya ia lempar panci berisi sayur sup hingga tumpah hampir mengenai kakiku, ia juga mendorong piring-piring dan tumpukan gelas yang ada di dekat kompor hingga semua pecah terbelah.. Aku merasa Ibu terpukul, meski sebenarnya akulah yang merasa lebih terpukul.

Akibat pertengkaran itu, Ibu menjadi murung. Rumahku ini seperti dilanda musim pancaroba, yang sebentar-sebentar panas, sebentar-sebentar dingin, tetapi sama-sama membuat sakit. Tanpa percakapan dan tanpa ekspresi, terlebih pelukan, mustahil rasanya. Adik-adikku memihak pada Ibu, karena mereka butuh makan dan bertahan hidup. Semakin hari aku semakin terasing di rumah sendiri.

“Ibu, apa kau masih marah padaku?”

“Kelahiranmu adalah kekecewaan bagiku. Sulit untuk tidak marah.”

“Tapi Bu, bukankah dulu Ibu sayang padaku? Kau menggendongku.”

“Ya, jelas. Kalau kau tidak kugendong, tidak kususui, apa nanti kata tetangga?!”

“Ibu hanya pura-pura mencintaiku?”

“Salah bila kau berbicara cinta denganku.”

“Aku anakmu kan, Bu?”

“Kau hanya numpang lahir dari rahimku.”

Aku meneteskan air mata untuk kesekian kalinya. Entah kesedihan apa ini namanya. Darah memang tak mengucur, tapi jantungku terus menjerit bagai ingin melepaskan boroknya yang telanjur bertahan bertahun-tahun. Mendengar perkataan itu, lukaku lebih dalam ketimbang luka Ibu. Namun, ada orang yang bilang, bahwa luka dan kesedihan tak pantas dibanding-bandingkan. Kalau begitu, aku sedih, sedih yang dalam, dan Ibu tak pernah ingin mengerti luka-lukaku. Terserah bila setelah ini ada yang bilang bahwa luka memang hanya mampu dimengerti oleh diri sendiri. Aku tidak peduli lagi pada ucapan siapapun.

***

Sore ini, saat kutuliskan cerita mengenai Ibuku pada kalian, dari balik jendela kamar yang berdebu dan bau amis, dengan laptop hitam, tetapi tak sehitam mata Ibuku yang menyimpan banyak kejanggalan di hidupnya. Tepat di sore ini, aku juga melihat Ibu masih jelas menyapu halaman rumah, memasukkan daun-daun kering dan sampah yang baginya mungkin lebih berharga ketimbang aku. Di sore ini, ketika matahari meleleh dan membentuk dirinya yang lain, aku melihat.., aku melihat segalanya yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Ternyata hidup semudah ini, kita hanya perlu menerima segalanya tanpa perlu peduli omongan orang lain.

“Kak Lara, lagi apa?”

“Lihat Ibu nyapu.”

“Hah? Ibu?”

“Iya.”

“Kak Lara, ikhlaskan Kak, jangan jadi beban.”

“Maksudmu?”

“Ibu kita sudah meninggal 7 tahun yang lalu…”

“Jaga mulutmu, Linda! Ibu masih hidup! Kamu menyakiti hati Ibu!”

“Ibu sudah meninggal, Kak. Kalau Kak Lara begini terus, Ibu jadi tambah sakit.”

“Jangan macam-macam kamu, Lin! Jaga mulut kamu!”

Linda pergi dari kamarku. Kamar yang dulunya adalah kamar Ibu. Demi mampu memeluknya, aku harus tinggal di kamarnya. Mencium baunya yang menempel di ruang itu, merasakan tubuhnya yang sulit sekali kupeluk. Bukan hanya Linda yang bertingkah aneh, semua adik-adikku yang lain juga memaksaku meyakini bahwa Ibu sudah pergi dan tak akan pernah kembali, sebab Ibu bukan pergi ke warung atau pasar untuk membeli sayur. Namun, Ibu pergi menuju Tuhan, meminta ranting kering di dadanya dicabut selamanya. Ranting kering yang tumbuh sejak dulu, hingga kami tak mampu memeluknya, karena itu hanya akan melukai kami, kata mereka. Tetapi aku tak percaya. Aku tak boleh percaya pada siapapun kecuali pada Ibu.

“Ibu bunuh diri, Kak. Di kamar ini,” kata Lena sambil mengusap pundakku.

“Itu tidak benar.”

“Bahkan darahnya masih ada di kamar ini, sampai warnanya menjadi cokelat.” Aku dengar suara Lena melemah.

“Kita harus cat ulang kamar Ibu.” Lala menyahut.

“Iya, aku setuju,” sambar Lisda.

“Kalau memang benar Ibu bunuh diri, bagaimana caranya ia mati?” tanyaku pada mereka.

Mereka saling melirik seolah menyembunyikan sesuatu.

“Lebih baik Kak Lara istirahat, Kakak terlihat lelah sekali.” Lisda merangkulku.

“Tidak. Aku tidak apa. Bukankah keluarga kita memang sudah sangat lelah menjalani hidup?”

“Kak, tidak usah mengungkit hal yang mestinya tidak perlu kita masalahkan.” Lena menyakitiku dengan suaranya yang lembut.

“Bersaudara dengan lima bapak yang berbeda apa itu bukan masalah? Tidak pernah melihat bapak sejak lahir apa itu tidak masalah? Melihat Ibu menangis setiap hari apa itu tidak masalah? Disebut anak haram oleh orang-orang apa itu tidak masalah?”

“Kaaaaaak….”

“Sekarang kutanya, bagaimana cara Ibu mati?”

“Kaaaaak….”

“Kalian hanya perlu menjawab, apa susahnya?”

Hening.

Tidak lama Linda datang membawa setumpuk koran. Aku disuruh membaca pada bagian-bagian berita yang ia minta aku untuk membacanya. Darahku serasa berhenti dan dingin. Pisau di dapur seperti kembali terbang menancap jantungku.

“Ibu kita PSK?”

“Iya, Ibu kita PSK,” kata mereka.

“Ibu mati di kamar ini, di kemaluannya ada ranting kayu.” Lisda menangis. Kami semua menangis.

Ranting kering tumbuh di dada Ibu, sejak kami lahir dan berkembang sebagai anak manusia tanpa Bapak dan tanpa hangat sebuah pelukan. Setiap kali dekat Ibu, kami tertusuk. Setiap kali melihat Ibu, kami tersakiti. Ibu menangis setiap hari, matanya bengkak tetapi cantik. Ada yang tidak mampu kami ketahui pada Ibu sebelumnya, kemaluannya yang ternyata bercahaya, yang bisa membawa masuk banyak laki-laki dan melahirkan anak-anak perempuan. Kemaluan Ibu sudah ditutupnya, agar tidak ada lagi yang masuk tanpa bertanggungjawab. Pisau serasa kembali memasuki dadaku, menembus jantung atas nama Ibu. Sementara ranting kering masuk pada kemaluan Ibu, yang sebelumnya lebih dulu tumbuh di dadanya yang ranum. ***

Jihan SuwelehLahir di Gorontalo, 14 Desember 1994.

Cerpen

Tari 9 Bidadari

Cerpen S. Prasetyo Utomo

/1/

Di antara sembilan penari bedhaya, Arum tampak paling memancarkan daya pikat  memerankan bidadari. Mereka menari di panggung yang didirikan di pelataran sendang.Arum seperti menemukan kembali kegairahan hidupnya dalam  tari bedhaya: mengisahkan sembilan bidadari turun dari kahyangan, mandi di sendang, menjaga kesuburan bumi, menaungi alam lereng Gunung Merapi.

Arum mempelajari tari bedhaya sembilan bidadari dari Ki Broto yang menciptakannya selama sembilan bulan. Ia mesti belajar dari awal, seperti ketika remaja dulu, dari sembah hingga jemari menerpa dan mengibaskan ujung-ujung kain selendang. Ia mesti matang memeragakan tari ini, dan melatih delapan penari muda untuk mementaskannya di padepokan Ki Broto dan beberapa kota.

Kini umur Arum 45, seorang janda yang memutuskan bercerai dengan suami. Ia mengikuti permintaan Ki Broto untuk kembali menari bedhaya. Bukan bedhaya semang. Bukan bedhaya ketawang. Ia menarikan bedhaya sembilan bidadari. Lebih mirip dengan bedhaya srimpi. Ia suntuk berlatih, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, agar bisa tampil dengan gerakan-gerakan dan kelenturan tubuh yang luluh dalam peran bidadari. Ia berpuasa untuk bisa merasuk ke dalam peran bidadari yang dibawakannya di panggung.

Kini ia sadar benar bila setiap orang memandanginya, memerhatikan tiap jengkal langkah kaki dan gerak tubuhnya. Ia seperti kembali ke masa silam, masa remaja ketika berguru pada Retna Astuti. Ia senantiasa dipuja penonton setiap kali  menari.

Semua tamu yang datang di padepokan Ki Broto, berpusat memandangi Arum. Begitu pula dengan para tetangga  yang menonton pergelaran gladi resik pergelaran tari itu, kebanyakan berbinar-binar takjub mengagumi tarian  Arum. Mereka tak berkedip menatap janda itu menari bedhaya, dengan keagungan penari ternama.

“Apa kau masih menolak sumbangan  bosku untuk pergelaran ini?” tanya Arum pada Ki Broto, pemilik padepokan. Arum seorang manajer pemasaran sebuah hotel, yang bekerja pada seorang pengusaha.

“Aku tak mau berhutang budi pada bosmu,” tukas Ki Broto. “Pasti ada kemauan besar di balik kebaikan itu.”

“Ia tak nuntut apa pun.”

“Kali lain pasti dia nuntut agar akujual bukit di sebelah padepokan.Ia ingin dirikan hotel di bukit itu.”

“Tak ada niat jahat bos padamu.”

Dalam sepasang mata Ki Broto yang bening terbaca keteguhan pendiriannya. Ki Broto tidak membantah. Ia hanya mengusap-usap jenggotnya yang memutih. Arum sudah mengenal Ki Broto semenjak lelaki itu jejaka, sebagai sesama penari di padepokan Retna Astuti. Lelaki itu tak pernah meninggalkan keterampilannya menari.Tak pernah mencari pekerjaan yang lebih menghasilkan uang. Ia menetapkan hidupnya sebagai penari. Ia membeli tanah di lereng Gunung Merapi, lahan yang dianggap angker, dengan pohon randu gumbala tua yang dulu pernah ditebar potongan-potongan mayat Ranem, seorang penjaja cinta. Sebuah sendang bening berada di bawah pohon randu gumbala itu. Kini pohon randu gumbala tua itu sudah ditebang, ditanami pohon nangka. Sendang bening dengan air  berlimpah terus memancar, terus mengalir  melalui pancuran bambu. 

Tiap kali Ki Broto memperoleh rezeki, selalu membeli lahan di sebelah tanah yang sudah dimilikinya. Lahan itu kian luas, dan setelah ia menikah, ditempatinya, didirikan padepokan: bangunan-bangunan dari kayu jati.Ia mendirikan rumah-rumah penginapan di sekitar padepokan. Orang-orang berdatangan untuk menonton pergelaran tari, musik, teater, dan wayang. Selalu dipergelarkan pementasan seni yang dihadiri penonton dari kota dan tamu-tamu dari lain daerah yang menikmati penginapan di padepokan.

/2/

Malam sudah larut di depan panggung pergelaran tari.Masih belum beranjak, Ki Broto, Arum, para penari, dan penabuh gamelan duduk bercerita. Mereka minum kopi dan merokok, kecuali para penari. Mereka baru saja selesai melakukan latihan tari bedhaya terakhir kali, sebelum pementasan sesungguhnya besok malam dan pentas keliling ke beberapa kota. Besok malam akan banyak tamu yang hadir dari hotel tempat Arum bekerja sebagai manajer pemasaran. Sang pengusaha – pemilik hotel – membujuk Arum untuk ikut menari dalam pergelaran Ki Broto, dengan menyembunyikan hasrat menguasai padepokan di balik kebaikan-kebaikan yang dilakukannya.

“Bergabunglah dengan kegiatan di padepokan Ki Broto. Aku akan membantu biaya pergelaran. Bujuk ia agar menjual bukit sebelah padepokan itu untuk kita dirikan hotel baru. Atau, bila padepokan itu bangkrut, kita kuasai agar jatuh ke tanganku,” pinta sang pengusaha, yang senantiasa diingat Arum.

Para penari sudah berpamitan pulang, sebagian penari yang tinggal di padepokan sudah beranjak beristirahat ke dalam bilik mereka. Arum masih duduk di antara penikmat kopi. Bagaimana membujuk Ki Broto, agar bukit di sebelah padepokan itu dijual pada sang pengusaha untuk dijadikan hotel? Arum belum berani bicara. Ia merasa mesti mencari suasana yang lebih longgar dan menyenangkan. Ia membayangkan, tak cukup hanya sekali bujuk rayu agar bukit itu lepas dari kepemilikan Ki Broto.

Tengah malam itu Arum melihat kegairahan Ki Broto memperbincangkan  tari ciptaannya, sebelum besok malam bedhaya sembilan bidadari dipentaskan. Ia merasakan degup dada yang lembut, tak meletup-letup seperti masa remaja, bila menjelang naik panggung.Ketika masih berguru pada Retna Astuti, seringkali ia meredakan rasa gugup, salah tingkah dan cemas menjelang pentas.

Arum berpamitan pada Ki Broto, meski masih merindukan gurauan-gurauan di bawah panggung dengan para penabuh gamelan.

“Aku mengundang Ibu Retna Astuti untuk menyaksikan pergelaran kita besok malam. Tentu kau tak ingin mengecewakannya,” kata Ki Broto, melepas kepulangan Arum.

/3/

Menari bedhaya sembilan bidadari di atas panggung padepokan Ki Broto, Arum merasakan kepercayaan diri yang utuh.  Hampir dua jam ia menari. Lepas pergelaran tari bedhaya sembilan bidadari, Arum merasakan sambutan meriah penonton, rasa takjub yang dikumandangkan melalui tepuk tangan panjang. Seluruh penonton berdiri, dan Arum yang turun dari panggung paling depan, disalami penonton dan menerima ucapan selamat bertubi-tubi.

“Tarianmumembuat mata siapa pun tak berkedip!” sanjung sang pengusaha. “Kau pasti segera memperoleh kepercayaan Ki Broto, dan ini jangan kausia-siakan.”

Orang-orang yang mengenal Arum memangili namanya. Beberapa orang meminta foto bersama. Ia paling akhir mencapai pendapa rumah Ki Broto. Di pintu pendapa ia disambut Retna Astuti, akrab, penuh rasa kangen, dan dekapan yang hangat. Dekapan ini tak pernah dirasakan dulu, semasa ia berguru menari pada Retna Astuti, perempuan enam puluh tahun yang menyembunyikan keningratannya itu.

“Kau memang muridku yang paling berbakat,” kata Retna Astuti, dengan kewibawaan seorang guru tari, sambil memandangi tubuh Arum yang masih sempurna  dengan kelenturan dan keluwesannya. “Tapi kamu perlu belajar pada Ki Broto, yang setia pada guru, dan memiliki keteguhan hati.”

“Mohon berkenan memaafkan saya, Ibu.”

“Bukan aku yang harus memaafkanmu,” kata Retna Astuti, tegas, memandang dengan tatapan tajam. “Lihat dirimu sekarang, dikagumi semua orang. Tapi sebagai siapakah kamu? Hatimu pun kaugadaikan. Dikuasai orang lain.”

Masih tersenyum, meski memaksakan diri, Arum tak ingin luruh di hadapan guru tarinya yang bertahun-tahun menempa ketajaman perasaannya sebagai penari. Arum masih tersenyum pada siapa pun yang ditemuinya malam itu. Ia bahkan tak ingin melepas dandanan tarinya. Masih tercium wangi melati. Masih basah keringat mengaliri lekuk tubuhnya. Ia menampakkan diri sebagai penari yang paling murah senyum dan ramah malam itu. Sama sekali tak tampak bila ia tengah tersinggung dengan kata-kata guru tarinya, yang menikam begitu tajam.

“Kalau kau ingin tahu apa yang mesti kaulakukan, tanyakan pada Ki Broto!” pinta Retna Astuti, sebelum mereka berpisah.

/4/

Tengah malam itu ketika Arum melewati pintu gerbang rumah yang dibukakan satpam, masih tersisa rias tari pada wajahnya. Ia memasuki ruang tamu. Ia enggan menghapus rias tarinya. Telah lama, bertahun-tahun lamanya, ia tak mengenakan busana tari, dengan riasan dan aroma melati yang melekat pada tubuhnya.  Ia seperti menemukan kembali kebahagiaan yang lenyap.Selama ini hatinya keropos, dan tindakannya mengingkari diri sendiri.

“Lihat, kau menjelma bidadari paling cantik dalam panggung tari!”selalu diingat, guru tarinya, Retna Astuti menyanjung usai pergelaran.

Arum mencoba untuk rebah dan memejamkan mata. Tapi selalu terbayang keramaian pementasan tari di padepokan Ki Broto. Ia seperti dikembalikan pada masa kegairahan menari di masa muda, dari satu panggung pementasan ke panggung pementasan yang lain, yang penuh ketakjuban. 

Semalaman Arum tak bisa tidur. Ia tak dapat memejamkan mata. Telah lama ia hidup seorang diri di rumah ini, tanpa suami, tanpa anak. Ia hanya tinggal berdua dengan adik lelakinya yang berjalan ngesot, tak bisa bicara. Ada dua satpam dan seorang pembantu yang setia, berusia agak tua.

Apa yang mesti kutanyakan pada Ki Broto? pikir Arum. Lama ia mempertimbangkan diri untuk bertemu lelaki setengah baya yang selalu mengenakan pakaian lurik, blangkon, dan bersarung itu. Lelaki itu hidup bahagia di padepokan. Lelaki yang senantiasa tidur larut, setelah minum kopi, merokok, dan berbincang-bincang dengan orang-orang terdekat. Dalam hati Arum, ia akan menemui sahabatnya itu besok malam. Dalam waktu luang, ia akan ngobrol bersama, sebagaimana dulu semasa remaja, ia selalu mencari sahabatnya itu untuk memperoleh pertimbangan dan keputusan hati.

/5/

Masih terlalu pagi, ketika Arum turun dari ranjangnya. Ia belum memejamkan mata semalaman. Ia menanti fajar, ingin segera bertemu dengan Ki Broto. Guru tarinya, Retna Astuti, memintanya untuk bertanya pada Ki Broto, apa yang harus dilakukannya? Belum mandi, hanya cuci muka, menyisir rambut, Arum mengendarai mobil meninggalkan pelataran rumah, dengan tatapan mata satpam yang penuh tanda tanya.

Mencapai padepokan Ki Broto, Arum merasakan pagi berkabut yang tenang. Arum menemui Ki Broto yang tengah memeragakan tari bedaya sembilan bidadari di pelataran sendang, mencari gerak yang lebih indah.

“Aku ingin berhenti sebagai manajer pemasaran hotel. Sudah kuputuskan untuk  bergabung dengan padepokanmu,” kata Arum, tenang.

***

Pandana Merdeka, April 2019

S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media.Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Cerpen

Sebuah Cerita Tentang Rumah

Oleh Ardy Kresna Crenata

Hari ini pun ia begitu diam. Bahkan, aku rasanya belum sedikit pun mendengar suaranya. Ketika akan menyantap hidangan ia memang mengucapkan “itadakimasu[1] namun ia mengucapkannya dengan sangat pelan, seakan-akan ia berusaha agar tak seorang pun mendengarnya, seakan-akan ia enggan aku dan Kanae-san atau siapa pun menyadari keberadaannya. Kami membiarkannya. Ah, tidak. Aku yang membiarkannya, sementara Kanae-san sesekali mengajaknya bicara atau sekadar menyuruhnya mencoba hidangan demi hidangan. Sesekali ia mengangguk.

Kami mulai menikmati makan malam bertiga seperti ini sejak lima hari yang lalu. Saat itu, aku terkejut mendapati seseorang asing duduk di kursi yang biasa kududuki, dan ia seorang diri saja di sana dan menatapku tanpa emosi. Kanae-san saat itu sedang mempersiapkan sesuatu di dapur, dan ia lupa memberitahuku bahwa malam itu kami kedatangan “tamu”. Aku menghampirinya, duduk di sebuah kursi di hadapannya. Aku mengira ia teman-main Kanae-san dan karenanya aku mencoba bersikap ramah dengan menanyainya siapa namanya dan apa yang tengah dan akan dilakukannya di rumah kami, namun ia tak menjawabnya; ia bahkan segera mengalihkan tatapan matanya dariku, dan tingkahnya ini tentu membuatku kesal. Terang-terangan tunjukkan kekesalanku itu lewat raut mukaku. Akan tetapi, ia tak terlihat terganggu.

Beberapa belas menit kemudian aku mulai mengetahui beberapa hal tentang dirinya. Kanae-san bilang ia ditelepon seorang teman-aktivis-nya dan diminta datang ke kantor lembaga kemanusiaan tempat temannya itu bekerja, saat itu juga. “Ada orang yang butuh pertolonganku. Gitu kata temenku,” jelas Kanae-san. Seseorang yang dimaksud temannya itu konon baru saja mengalami serangkaian “kejahatan” yang mengarahkannya pada upaya bunuh diri, hanya saja ia terselamatkan sebab jumlah pil tidur yang ditelannya rupanya masih kurang banyak. (Bisa dibilang seseorang ini memiliki tingkat imun dan daya tahan tubuh yang sangat baik. Untunglah!) Kanae-san menemui seseorang itu, mendekatinya dan duduk di sampingnya, dan mulai mengajaknya bicara. Lalu tanpa diduga, seseorang itu mulai menangis. Menangis dan menangis. Teman-aktivis-nya memberitahu Kanae-san bahwa selama lebih dari setengah jam berada di sana seseorang itu hanya diam seperti mayat hidup.

Seseorang itu kemudian dibawa Kanae-san ke rumah ini, dan kini ia berada di hadapanku. Aku ingat di malam pertama ia bersama kami itu aku mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan rupanya aku masih terus melakukannya hingga detik ini. Ia begitu misterius. Begitu kesan yang kutangkap. Saat teman-aktivis Kanae-san menemukannya ia begitu kumuh dan tak membawa satu tanda pengenal pun. Sepasang suami-istri yang memanggil ambulans dan menyertainya ke rumah sakit mengatakan mereka menemukannya di kursi sebuah taman dalam keadaan sebelah tangan terkulai hingga hampir menyentuh tanah, dan semacam cairan putih mulai membusa di mulutnya. “Aku curiga dia korban human trafficking.” Begitu Kanae-san memberitahuku. Aku pun berpikir demikian.

***

Selama tiga hari kemudian Kanae-san mencoba beragam cara untuk membuat perempuan itu bicara; setidaknya mengatakan siapa namanya sesungguhnya dan di mana ia pernah tinggal. Menurutku, jika dilihat dari kulit mukanya yang masing kencang, ia masihlah di pertengahan dua puluh, dan mungkin sempat menjalani kehidupan yang cukup mewah. Mengenakan salah satu kaus leher kura-kura milikku ia tampak begitu muda meski tanpa gairah. Dulu, lebih dari lima tahun yang lalu, Kanae-san membeli kaus itu untukku.

Sesungguhnya aku mengerti mengapa ia masih sediam ini. Dulu pun, agaknya, aku tak langsung membuka diri kepada Kanae-san; aku seperti khawatir seseorang yang begitu saja menolongku dan menampungku itu hanyalah sosok busuk lain yang harus kuhadapi dalam hidupku; hidupku yang sudah kelewat suram—saat itu. Karena kesabaran Kanae-san-lah barangkali aku akhirnya membuka diri, sedikit demi sedikit. Aku mulai menjawab pertanyaan-pertanyaannya dan menceritakan apa saja yang bisa kuceritakan, demi meringankan beban Kanae-san dan bebanku sendiri. Dua-tiga bulan kemudian, aku sudah bisa tersenyum dan menyambut guyonan-guyonannya.

Kali ini pun Kanae-san agaknya akan mengulangi apa yang dilakukannya itu. Ia memang berpengalaman, dan professional. Aku tahu di dalam hatinya ia sesungguhnya kerap mengeluh dan ia melepaskan kepenatan dan tekanan-tekanan yang dirasakannya di tempat-tempat tertentu, meski kadang ia kewalahan juga. Suatu dini hari, misalnya, lima tahun yang lalu, aku terbangun dan ingin kencing, dan tak sengaja kutemukan Kanae-san sedang menangis sesenggukan di kotatsu[2]. Televisi di hadapannya ketika itu menyala namun tanpa suara.

Kembali ke perempuan itu. Sejujurnya, melihatnya mengingatkanku pada diriku sendiri. Diriku lima tahun lalu. Aku pun dulu mungkin masih semuda itu, hanya saja bentuk mukaku tak se-kawaii[3] bentuk mukanya. Aku tak akan terkejut jika di hari-hari yang dijalaninya sebelum bersama kami itu ia rupanya seorang model majalah lokal, atau ambassador sebuah produk kecantikan yang iklannya belum tayang di televisi. Sesuatu semacam itu. Tetapi membayangkan itu benar, dan menyandingkannya dengan kenyataan ia mencoba bunuh diri dan seperti tak memiliki siapa-siapa lagi, tak pelak lagi membuatku risau. Seseorang di hadapanku ini mungkin sedang menahan sesuatu yang teramat muram dan ia bisa saja memuntahkannya sewaktu-waktu dan itu, sangat mungkin, akan memengaruhi kehidupan kami.

“Besok siang bisa nemenin Mima-tan belanja? Aku akan seharian di luar. Baru pulang malam,” ujar Kanae-san.

Aku mengangguk. Besok hari libur dan aku tak punya rencana bepergian.

“Sudah saatnya Mima-tan melihat kembali dunia luar. Terlalu lama mendekam di sini bisa bikin dia lupa kalau dia itu manusia,” tambah Kanae-san.

Kembali, aku mengangguk. Kalau tidak salah lima tahun lalu aku pun mulai diajak “melihat” kembali dunia luar di hari kelimaku.

Beberapa minggu berlalu dan kondisi perempuan itu mulai membaik. (Kanae-san memanggilnya dengan namanya, tetapi aku entah kenapa selalu menghindari itu; seakan-akan di dalam diriku ada dorongan untuk menjauhkan diriku darinya meski jelas sekali ia mengingatkanku pada diriku dulu.) Sekarang, ia mulai merespons ucapan-ucapan Kanae-san dengan ucapan juga. Ia pun sesekali tersenyum meski masih terlihat memaksakan diri. Kepadaku, ia mulai menunjukkan keramahannya, seperti dengan mengangguk dan memberiku senyumnya itu. Aku mulai lega dan berharap kondisinya akan terus membaik. Tetapi di saat yang sama, sekiranya ini bukan perasaanku saja, sesuatu di dalam diriku justru berharap suatu hari nanti perempuan ini akan pergi kembali ke tempatnya yang semestinya dan meninggalkan kami.

***

Kanae-san sejauh ini telah cukup berhasil mengorek informasi tentang perempuan itu, dan ia begitu senang akan hal ini. Setidaknya itulah yang terlihat di binar matanya. Tentu saja ia tidak melakukannya seorang diri; si teman-aktivis-nya tadi (juga teman-temannya yang lain) ikut mendatangi sejumlah tempat dan menanyai sejumlah orang. Rupanya, setidaknya dari pencarian sementara, perempuan itu pernah terlibat dalam suatu produksi film porno; ia berperan sebagai si aktris dan pembuatan film itu melibatkan sebuah rumah produksi ternama dan seorang bintang porno terkenal. Kabar ini sebenarnya masih samar, tetapi jika benar, sungguh aku bersimpati padanya. Ia sesungguhnya dikontrak—sebab dibayar agaknya kelewat kasar—untuk bersetubuh dengan seorang lelaki saja, tetapi kenyataannya, saat proses pembuatan film berlangsung, ia disetubuhi juga oleh lelaki-lelaki lain. Ada yang mengatakan jumlah lelaki-di-luar-kontrak itu lima orang. Ada juga yang mengatakan tujuh orang. Pada saat pengambilan gambar itu tentulah ia tak berdaya; bagaimanapun ia satu-satunya perempuan di tempat itu dan ia dalam keadaan lemas—mungkin juga ngilu. Setelah pengambilan gambar selesai, setelah ia berada di kamar apartemennya, ia mulai menyesali apa yang telah dilakukannya itu, dan setelah lama memikirkannya ia pun memutuskan untuk tidak lagi melakukannya. (Tidak lagi! Sebab sekali saja sudah cukup!) Tetapi rupanya ia harus menerima kenyataan bahwa kontrak yang tempo hari ditandatanganinya itu mengandung sesuatu yang tidak ia ketahui, bahwa jika ia memutuskan kontrak begitu saja hanya setelah satu produksi film maka ia diharuskan membayar uang kompensasi yang begitu besar—puluhan juta Yen—dan ia harus membayarnya dalam kurun waktu yang terbilang singkat. Mau tidak mau, ia kembali menjalani produksi film yang lain, dan terus seperti itu sampai ia tidak tahu lagi apakah ketika melakukannya ia sedang bekerja atau justru diperbudak. Ia memang dibayar, sesuai yang tertera di kontrak. Tetapi ia tak lagi menikmatinya. Tak sedikit pun menikmatinya.

Dan mulailah ia akrab dengan ide-ide bunuh diri. Pernah, misalnya, ia membayangkan menyelipkan pisau lipat di belahan dadanya, dan ia mengeluarkan pisau ini saat si aktor pasangannya mulai menciuminya dan menikamkan pisau itu ke perutnya sendiri, atau ke lehernya yang tengah diciumi si aktor itu. Pernah juga, saat tengah menjalani satu produksi film, dalam keadaan menelentang dan telanjang dan sekuat tenaga menahan rasa sakit di bawah perutnya, ia menoleh ke kiri, dan melihat sebuah botol anggur. Di dalam benaknya ia memanjangkan tangan kirinya dan mengambil botol itu dan memecahkannya, lantas menikam dirinya sendiri di leher sepuas hatinya.

Ketika ia benar-benar mencoba bunuh diri (dengan menelan sekaligus sejumlah pil tidur yang ia beli dari sebuah konbini[4] dengan sisa uang terakhirnya), ia sudah beberapa lama melarikan diri dari orang-orang yang terlibat dalam produksi film-film porno yang dibintanginya tadi. Ia tak langsung menelan sejumlah pil tidur itu setelah ia membelinya; untuk beberapa lama pil-pil itu bercokol di saku celananya dan ia tak menyentuhnya. Bisa jadi, ia bimbang. Atau takut. Ia tentulah menilai hidup yang dijalaninya sudah tak berarti lagi; bahwa ia mungkin lebih baik mati saja daripada terus hidup namun menderita dan menderita. Entah di mana keluarga dan teman-temannya. Informasi yang terkumpul belum sampai menyentuh dua hal ini. Beberapa lama perempuan itu berkeliaran dari satu trotoar ke trotoar lain, dari satu taman ke taman lain, dari satu kursi ke kursi lain. Ia tak lagi makan, dan entah telah berapa hari berlalu sejak terakhir kali ia mandi. Dan begitulah ia kemudian menelan sekaligus pil-pil tidur itu, dan sepasang suami-istri yang kebetulan pulang larut dan hendak bermesraan di sekitar taman menemukannya dan menyelamatkannya dari kematian—meski ia mungkin tak mengharapkannya.

Setelah mengetahui sepenggal masa lalunya itu aku jadi melihatnya secara berbeda. Sedikit berbeda. Di dalam diriku aku memang masih merasakan dorongan untuk menjauhkan diriku darinya, dan diam-diam aku masih berharap suatu saat nanti ia akan pergi, membiarkan aku dan Kanae-san menikmati hari-hari kami berdua lagi. Tetapi sepertinya, aku juga mulai menyayanginya. Lebih tepatnya, aku kasihan padanya. Aku tak ingin sesuatu seburuk itu kembali menimpanya.

***

Enam tahun lalu, selama hampir satu tahun penuh, aku menghabiskan malam-malamku di sebuah ruas jalan di Akihabara, menawari lelaki-lelaki yang kutemui kalau-kalau mereka ingin menghabiskan satu sampai satu setengah jam denganku untuk mengobrol, hanya mengobrol, tentunya dengan imbalan sekian ribu Yen. Hampir satu tahun penuh. Selama itu aku telah berhadapan dengan dan melayani orang-orang yang berbeda, mulai dari yang menyenangkan hingga yang menjengkelkan. Semula aku kira para pelangganku itu akan lebih banyak orang-orang tua; lelaki-lelaki empat puluh tahun ke atas yang tak lagi bisa menikmati kehidupan keluarganya atau telah menyerah mencari pasangan. Rupanya, lama-kelamaan, orang-orang yang duduk dan bicara di hadapanku justru anak-anak muda; lelaki-lelaki di pertengahan dua puluh atau awal tiga puluh yang kadung malas mencari teman-ngobrol yang sesungguhnya. Suatu ketika, aku jenuh. Beberapa teman-seprofesiku kudengar menerima tawaran-tawaran yang lebih jauh dari pelanggan-pelanggan mereka seperti berkencan di luar jam kerja atau bahkan bersanggama, mungkin untuk mengatasi kejenuhan mereka. Aku sendiri? Tidak. Bagaimanapun aku bukan pelacur dan apa yang kulakukan selama hampir satu tahun itu lebih ke sebuah upaya untuk mengatasi kesunyianku sendiri, sebab baik rumah maupun sekolah sudah menjadi ruang-ruang lain di mana kesunyianku itu tumbuh. Apa yang kulakukan itu adalah rumahku. Aku seperti sedang membangun rumahku sendiri. Begitulah saat itu aku berpikir. Hingga kemudian, aku jenuh. Selama beberapa hari aku menjalani profesiku itu tanpa menikmatinya lagi, tanpa sedikit pun menikmatinya lagi. Dan di masa itulah Kanae-san muncul.

“Apa yang kamu lakukan di sini malam-malam begini? Nggak pulang?”

Itulah yang ditanyakan Kanae-san di pertemuan pertama kami. Aku menatapnya curiga. Saat itu aku sedang menengadah memandangi langit dan bertanya-tanya apa yang dilakukan makhluk-makhluk lain di luar angkasa sana—kalau memang mereka ada. Kanae-san tentu menyadari aku masih mengenakan seragam sekolahku, dan karena itulah ia menghampiriku.

Menikmati hari-hari bersama Kanae-san di rumah ini, selama lima tahun, membuatku kembali merasa hidup. Agaknya sesuatu positif ini mulai mendatangiku di tahun keduaku bersamanya. Kanae-san, meski telah tahu betul di mana orangtuaku tinggal dan seperti apa mereka, tak mendesakku untuk pulang. Ia hanya bilang bahwa aku, dan setiap orang yang merasa sendirian di dunia ini, sesungguhnya tak pernah sendirian. Akan ada orang-orang seperti dirinya yang akan menemani mereka; yang akan menerima mereka dan menemani mereka. “Kalau suatu hari nanti kamu sudah merasa ingin pulang, pulanglah,” ujarnya, hampir empat tahun yang lalu.

Di akhir tahun keduaku bersama Kanae-san aku lulus dari SMA, dan beberapa bulan setelahnya aku melanjutkan studi ke sebuah universitas di Tokyo atas dorongan darinya. (Ia bahkan ikut membiayaiku dengan menjual mobil-pribadinya yang telah digunakannya selama bertahun-tahun!) Tahun lalu, entah ini kebetulan atau apa, aku berkesempatan menjalani hari-hari sebagai mahasiswa asing di sebuah kota di Indonesia. Kanae-san menyambutku setibanya aku di bandara Haneda, beberapa bulan setelahnya. Ia merangkulku dan menangis. Ia bilang ia merindukanku.

Sejak memutuskan untuk percaya padanya, aku telah berkali-kali pulang ke rumah hanya untuk mengambil baju-baju ganti dan peralatan sekolah. Kanae-san tak sedikit pun menanyaiku apa yang terjadi di rumah dan bagaimana reaksi ayah-ibuku atas “kepindahanku”, dan ia selalu menyambutku dengan senyumannya yang terasa tulus dan hangat itu. Aku sangat menghargai pengertiannya dan, di saat yang sama, menyayanginya.

***

Kanae-san tak menikah. Setidaknya itu yang aku tahu. Umurnya saat ini empat puluh tiga dan ia sudah seperti ibuku sendiri. Apakah ia tidak kesepian? Kadang-kadang aku memikirkannya, dan selepasnya aku selalu bersyukur bahwa bisa jadi dengan ia tidak menikah itulah aku jadi bisa hidup dengannya, di rumahnya ini, layaknya ibu dan anak, atau dua orang teman dekat. Ia, pernah aku berpikir, mungkin mengisi kesunyian dan kesendirian yang dirasakannya akibat tak menikah itu dengan menampung dan merawat orang-orang seperti kami—aku dan si perempuan tadi. Bisa jadi dugaanku ini tepat sasaran.

“Malam ini menu kita sashimi[5],” teriak Kanae-san, dari dapur.

Aku merebahkan diriku di sofa, dan menyalakan televisi.

“Kerja-sambilanhari ini gimana?” teriaknya lagi. “Mima-tan katanya pengen tahu,” sambungnya, lantas tertawa.

“Lumayan ngerepotin,” balasku, sambil menoleh ke arah dapur.

Kanae-san lalu memberitahuku bahwa ofuro[6] sudah siap seandainya aku ingin menggunakannya. Kuucapkan terima kasih, tetapi ia mengoreksiku dengan berkata bahwa seseorang yang semestinya menerima ucapan terima kasih dariku itu adalah seseorang lain yang tengah berada di sampingnya, yang tengah membantunya menyiapkan makan malam; seseorang yang sampai detik ini aku masih juga enggan menyebut namanya itu.

“Ah, oke. Terima kasih ya,” ujarku.

Seseorang itu tak menjawabnya, atau mungkin ia menjawabnya tetapi dengan volume yang begitu rendah.

“Semalam katanya Mima-tan mimpiin kamu. Makanya dia penasaran dan pengen tahu kabarmu hari ini,” kata Kanae-san, hampir-hampir berteriak, dan kembali ia tertawa.

Jujur saja aku tak tahu harus meresponsnya seperti apa. Aku hanya memandangi layar televisi sambil mengganti-ganti saluran; membiarkan tawa Kanae-san—juga suara tipis perempuan itu—melayang-layang di dalam kepalaku, melayang-layang di dalam diriku.

Dan meski aku tahu betul aku tak mungkin mengganti-ganti saluran televisi selamanya, aku terus saja melakukannya seolah-olah aku berpikir aku bisa dan harus mencoba melakukannya selamanya. Seakan-akan, di titik aku berhenti melakukannya, sesuatu teramat penting yang telah susah-payah kumiliki akan terenggut dariku, begitu saja terenggut dariku, dan aku tak akan bisa lagi mendapatkannya.(*)


[1] Kata yang biasa diucapkan orang Jepang saat akan menyantap hidangan makanan ataupun minuman.

[2] Meja-kayu berkaki rendah yang dilengkapi dengan pemanas; biasa dipasang dan digunakan di musim dingin.

[3] cantik, imut.

[4] Convenient store

[5] Potongan ikan mentah. Biasanya disajikan dengan kecap.

[6] Bathtub versi orang Jepang. Sering juga diartikan kamar mandi ala Jepang yang terpisah dari toilet, di mana di dalamnya ada bathtub yang biasa diisi dengan air panas atau air hangat.

Ardy Kresna Crenata menulis esai, cerpen, dan puisi. Buku kumpulan cerpennya: Sebuah Tempat di Mana Aku Menyembuhkan Diriku (DIVA Press, 2017).

Cerpen

Penerbangan Mawar

Cerpen Kiki Sulistyo

Pesawat ini akan jatuh. Semalam pilot -setengah terpaksa- ikut pesta minum-minum bersama kawan-kawannya. Ia tidak fit di penerbangan ini, lalu panik dan tak bisa mengendalikan pesawat. Aku akan mati, hancur bersama tubuh pesawat yang jatuh ke laut. Aku bayangkan saat-saat terakhir itu. Siaran berita menyiarkan kecelakaan tersebut; mereka suka dengan berita-berita semacam itu.

Mereka akan mewawancara istriku. Dengan terbata-bata dan mata merah-basah istriku menyampaikan perasaannya, sesekali ia tak sanggup mengucapkan kata-kata, menangis tersedu-sedu. Sebelumnya, reporter itu meminta istriku menggendong anak kami; bocah dua tahun yang belum tahu apa-apa. Anak itu ikut menangis, bukan karena mengerti, tapi karena melihat ibunya menangis. Anehnya aku bisa membayangkan wawancara itu sementara di sisi lain aku membayangkan tubuhku telah hancur dan ruhku mungkin telah terisap lubang hitam yang membuat Stephen Hawking terkenal.

Pramugari, sesaat sebelum memperagakan cara menggunakan alat-alat keselamatan, menyampaikan padaku bahwa lantaran aku duduk dekat jendela darurat, aku ikut bertanggungjawab menyelamatkan penumpang lain jika terjadi situasi darurat. Andai seseorang mengatakan padaku kalimat “bila terjadi situasi darurat” aku akan langsung merasa bahwa situasi darurat pasti akan terjadi. Aku melihat jendela darurat itu dan merabanya, menduga-duga sanggupkah aku membukanya nanti. Pramugari menatapku, sekilas aku merasa pandangannya mengejek, seakan-akan mau bilang, “Tidak akan terjadi apa-apa, bodoh. Ini cuma formalitas.”

Seorang perempuan duduk di sebelahku dan di sebelahnya lagi duduk pasangannya; seorang laki-laki kurus berambut kribo. Mereka tampak acuh dan tak ambil pusing. Aku melirik, ada tato mawar di leher perempuan itu. Mawar itu mekar dan berwarna biru.

Kembali aku bayangkan pesawat ini jatuh ke laut, tapi karena cuaca cerah, aku mengubah penyebabnya; bukan lagi karena pilot mabuk, melainkan seseorang telah membajak sistem perangkatnya. Navigasi jadi kacau dan pilot kebingungan sebelum akhirnya gagal menyelamatkan pesawat. Apakah hal seperti itu mungkin terjadi? Entahlah. Aku ingin bertanya pada perempuan di sebelahku, tapi kukira itu akan terdengar konyol.

Perempuan itu mengeluarkan ponselnya. Memasang headset dan memejamkan mata, pasangannya melakukan hal yang sama. Awak pesawat menyampaikan saat lepas landas sudah tiba, dan bersiap terbang. Ada peringatan untuk mematikan semua barang elektronik. Tapi perempuan di sebelahku serta pasangannya tampak tidak peduli.

Terdengar suara gemuruh demikian keras, lalu goncangan. Ketika pesawat mulai mengudara, kurasakan seperti ada batang-batang udara memasuki telingaku. Aku tersentak seolah akan tenggelam. Biasanya setelah menelan ludah perasaan itu akan hilang, tapi kali ini tidak. Batang-batang udara terasa semakin padat menggumpal di telingaku. Untuk beberapa lama aku benar-benar merasa tenggelam.

Bobot tubuhku seakan melompat keluar, memantul-mantul di dinding pesawat. Aku membuka mata dan merasakan keheningan yang misterius. Perempuan di sebelahku masih memejamkan mata, begitu juga pasangannya. Keduanya seperti tertidur. Dan aku perhatikan semua penumpang pesawat juga tertidur. Tanda sabuk pengaman sudah dimatikan, aku berdiri dan memperhatikan lebih saksama. Aku lihat para pramugari juga tertidur tapi dalam posisi berdiri.

Tiba-tiba radio pesawat berbunyi, “Ground control to Major Tom. Ground Control to Major Tom.” Sial. Ada apa ini? Apakah pesawat akan jatuh? Aku baru ingat kalau kalimat itu seperti lirik lagu dari penyanyi yang sudah mati. “Penumpang sekalian, ini pilot Anda, David Bowie…” Aku melihat keluar jendela, langit sangat biru, tumpukan awan membuat gumpal yang berlapis-lapis. Satu bagian awan tampak seperti tebing karang, bagian yang lain mirip patung dewa yang sedang menunjuk.

Perempuan di sebelahku menggeliat, tato mawar di lehernya bergerak-gerak seperti berusaha melepaskan diri. Sebentar kemudian tato itu terkelupas dari kulit leher si perempuan. Mawarnya melayang-layang sesaat di dalam pesawat sebelum bergerak mendekati jendela, lalu perlahan-lahan menembusnya, terapung di luar, di langit yang terang, lalu membesar, membesar dan melingkupi pemandangan. Pesawat seperti berada dalam kelopak mawar. Dari celah-celah jendela, aroma mawar itu merembes masuk bagaikan air hujan di tembok orang miskin. Dalam waktu singkat pesawat sudah dipenuhi bau mawar yang wangi tapi demikian menajam hingga terasa menyesakkan dada. Tapi seluruh penumpang dan pramugari masih tertidur, seakan tak terpengaruh. Aku mengetuk-ngetuk tempat masker oksigen, namun masker itu tidak turun-turun juga. Wangi mawar semakin mencekik bagai gas bocor. Aku meronta-ronta menyadari sebentar lagi akan habis napas. Sewaktu napasku sudah demikian sesak, aku lihat para penumpang terapung-apung bagai benda di ruang hampa udara. Pandanganku pudar, aku menggapai-gapai berusaha memegang apa saja, seakan-akan aku sedang berada dalam laut.

Aku bergerak-gerak, mencoba mencari celah untuk menghirup udara. Tapi dinding atas pesawat tak bisa ditembus. Aku nyaris kehabisan napas, kalau saja aku tak melihat sebatang tangan menjulur dari atas. Segera aku memburu tangan itu, dengan upaya yang demikian keras aku berhasil menjulurkan tanganku ke arah tangan itu. Dan begitu tersentuh tangan itu segera mencengkeram tanganku dan menariknya ke atas.

Dinding atas pesawat jebol, aku keluar dan muncul di permukaan laut. Tangan tadi rupanya milik perempuan yang duduk di sebelahku. Ia berada dalam perahu, sendirian dan basah kuyup. “Kejadiannya benar-benar gila. Aku tidak bisa memahaminya. Pilot itu, siapa namanya? dia berniat menghabisi kita. Tuhan melindungi kita. Ucapkan Amin, ayo ucapkan Amin!” Perempuan itu meracau tidak karu-karuan. “Apa kau mendengarku?” teriaknya. Sementara dari dalam laut pesawat yang kami tumpangi muncul seperti seekor paus. Tiba-tiba perempuan itu melompat ke laut dan berseru, “Sampai jumpa, jaga perahu ini, aku akan kembali, aku harus mencari kekasihku.” Lalu ia lenyap.

Laut berangsur-angsur tenang. Gelombang kecil tak cukup kuat untuk menggoyangkan perahu. Aku sendirian dan tak tahu bagaimana cara mengendalikan perahu. Kubiarkan arus mengombang-ambingkannya sembari membayangkan ada satu pulau kecil di dekat sini tempat perahu ini bisa terdampar. Tiba-tiba dari dalam laut pesawat kembali muncul, kulihat perempuan tadi merangkul tubuh kekasihnya dan terlontar ke udara bagai ikan terbang. Mereka melenting jauh ke angkasa dan menghilang begitu saja. Ketika sekali lagi pesawat itu muncul, perahuku berada tepat di atasnya. Oleh desakan dari bawah perahuku terjungkal, tubuhku melayang di udara lantas jatuh menimpa air. Tamat sudah riwayatku, aku tidak akan bisa bertahan lagi, aku sungguh-sungguh akan mati. Segala ingatan tentang segala sesuatu mendesak ke dalam pikiranku seolah-olah mereka takut tak dapat bagian. Aku ingat segala tindakan buruk yang pernah kulakukan, pada saat yang sama aku juga ingat segala kebaikan yang pernah kuberikan kepada orang. Aku menimbang-nimbang, dan jika aku merasa keburukanku lebih banyak, air laut mencekikku lebih kuat bagaikan algojo, tapi bila kupikir kebaikanku lebih banyak, air laut akan mengurangi cekikannya. Situasi itu lebih menyiksa dari apapun, sebab kedua kutub pikiran ini seperti saling belit, saling banting, tak ada yang mau mengalah.

Bagaimana caranya supaya aku bisa selamat? Aku tidak pernah belajar berenang, dan di tengah-tengah samudera luas ini percuma mengharapkan ada orang datang untuk menyelamatkan.

Semuanya buyar ketika terdengar pengumuman dari awak pesawat bahwa kami sudah mendarat, aku hanya merasakan sedikit benturan ketika tadi roda pesawat menyentuh landasan pacu. Aku lega. Perempuan di sebelahku menggeliat, tato mawar di lehernya berkerut-kerut. Tapi tidak sampai terkelupas.

Setelah turun aku segera bergegas keluar bandara. Di sana sudah banyak orang berkumpul, sebagian besar menangis tersedu-sedu. Perempuan bertato mawar setengah berlari menghampiri satu kerumunan kecil. Laki-laki yang tadi duduk di sebelahnya berjalan menuju arah lain. Ternyata mereka bukan pasangan. Sirin, rekan kerjaku, kulihat di antara orang-orang. Segera ia melambaikan tangan begitu melihatku.   

“Syukurlah, Tom. Kamu sudah tiba. Kantor menelpon terus.”

“Jadi bagaimana?” tanyaku. “Kita pilih saja sekarang, yang mana menurutmu?” ucap Sirin. Aku melihat sekeliling, dalam kesedihan dan dukacita setiap orang tampak serupa. “Nah, yang itu saja,” kataku sembari menunjuk ke suatu kerumunan.

Kami segera bergerak. Sirin menyiapkan kamera, aku memegang mikrofon. “Itu putra Anda?” tanyaku pada perempuan bertato mawar di leher yang terus-menerus tersedu sembari melirik seorang bocah laki-laki yang kira-kira berusia dua tahun. Perempuan itu mengangguk. “Kami hendak mewawancarai Anda. Bisakah Anda menggendongnya?” tanyaku.

(Kekalik-Bakarti, 2018)

Kiki SulistyoMeraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Tokoh Seni TEMPO 2018 bidang puisi untuk buku Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018).  

Cerpen

De Sese

Cerpen Pangerang P. Muda

Empat wajah di depannya berubah rona, menegang menanggang amarah, sesaat ia menyatakan penolakan, “Saya tidak bisa. Saya takut kalau ketahuan.” Padahal sebelumnya, sudut-sudut bibir keempat wajah itu terangkat, melekuk ramah.

Di atas kepala mereka, dengung AC sontak terdengar lebih kencang, akibat mulut-mulut yang mendadak terkatup kehilangan kata. Penolakannya mencengutkan keempat orang di depannya.

“Betapa bodohnya kamu.” Entah berapa menit kemudian, baru ada sahut, lepas dari mulut orang yang duduk di balik meja. “Jadi kamu tidak tahu ketakmampuanmu? Kami justru mengajakmu bermain sesuai kemampuanmu. Penampilanmu yang terakhir itu, hanya kebetulan. Kami juga sempat heran, apa yang membuatmu bermain seganas itu, serupa orang kesurupan. Dari analisa tim kami yang menyaksikan permainanmu di lapangan dan dari tilikanrekaman pertandingan, kami menyimpulkan yang bermain itu bukan kamu. Itu pasti roh salah seorang bintang sepak bola yang telah mati, yang meminjam dan merasuki ragamu. Dialah sebenarnya yang mencetak gol spektakuler itu, bukan kamu.”

Menekuk batang lehernya, menundukkan kepala, De Sese merasa sedih. Penjelasan orang itu mengaduk emosinya. Jadi, permainannya dianggap tidak meningkat? Bahkan ketika berhasil mencetak gol yang diawali liuk berlari serupa penari, ternyata hanya dianggap kemahiran bermain bola se’sosok’ roh yang sedang meminjam raganya!

Ia mengangkat kepala, mendengar cecar orang di depannya, “Kenapa pula takut kalau ketahuan? Kamu takut dipecat dari klubmu? Heh, pemecatanmu hanya menunggu  waktu. Cepat atau lambat, pelatih akan menendangmu keluar dari tim, bisa jadi serupa tendangan-tendanganmu yang juga selalu melenceng dari mulut gawang. Jadi itu tidak perlu kamu khawatirkan.”

“Selama ini, penonton sudah hapal permainanmu,” mulut orang di balik meja terus nyerocos. “Kamu digelari si Spesialis Tendangan Melenceng. Kalau tidak memelesat di atas mistar, pasti mengacir ke samping tiang gawang. Jadi mau kami, tetap saja mainkan kemampuan bermainmu yang seperti itu. Tentu tidak akan ada yang curiga, toh mainmu memang begitu. Penonton sudah tahu, kok. Dan bayaran yang kami tawarkan, lebih tinggi dari gaji yang kamu terima dari klubmu. Segampang itu.”

Pada sandaran kursi, ia rapatkan kepala. Ingatannya meluncur surut ke momen dua puluh empat jam lalu, di saat-saat ia berhasil melewati dua pemain belakang sebelum mulut gawang lawan menganga di depannya, dan kata-kata pelatihnya terngiang bagai ledakan petasan, “Sudah lima kali kamu saya pasang sebagai gelandang menyerang, dan tidak sekali pun kamu mencetak gol. Ini kesempatan terakhirmu!”

Gerak tipu yang ia peragakan menurutnya biasa saja, tapi ternyata mengecoh dan membuat seorang bek kiri tim lawannya terjatuh sendiri. Sedetik takjub, lalu merasa mendapat asupan semangat, ia terus meliuk-liuk dengan bek yang tersisa terus memepet, dan tahu-tahu ia sudah berhadapan dengan penjaga gawang. Hampir ia tertawa. Kiper itu agak grogi, antara mau maju memotong laju geraknya atau tetap bersiap menyongsong kedatangan bolanya, dan di belakang kiper itu ia lihat gawang yang menganga mendadak berubah rupa menjadi nganga mulut pelatihnya setiap membentaknya, “Kalau kamu tidak juga berhasil mencetak gol, maka kamu saya keluarkan dari tim!”

Saat itulah, dengan mengayun kaki sekuatnya, ia merasa sedang menjejalkan buntalan ke dalam mulut pelatihnya yang sedang menganga. Bola memelesat deras, sedikit menyamping seakan mau keluar, tapi ternyata bergerak memuntir ke dalam gawang. Kiper hanya bisa melongo mengetahui jala di belakangnya bergetar diterpa deras laju bola.

Jeda hanya setarikan napas setelah bola masuk, sebelum ia melepas ledak teriakan. Langit malam di atas lapangan meraup gema lantang suaranya. Teriak itu ia ulang-ulang, sembari berlari ke arah pagar pembatas penonton. Gemuruh sorak ribuan pendukung timnya dari atas tribune menyambut gol itu.

Kecuali ia sendiri, tidak ada yang tahu kata apa yang ia teriakkan. Posisinya agak jauh, berlari meninggalkan kejaran teman-teman setim yang ingin berselebrasi. Yang ia teriakkan umpatan, makian pada pelatihnya, yang telah ia jejali nganga mulutnya dengan buntalan. “Nah, makan tuh bola!!”

Dan di dalam ruangan ini, empat orang sedang menatapnya seakan tak hendak berkedip. Salah seorang berujar, “Jadi,kami hanya meminta kamu kembali ke pola permainanmu sebelumnya. Jangan bersikap bodoh dengan menolak. Ingat, kami menawarimu uang, uang yang tidak sedikit!”

Dalam perasaan tertekan, ia teringat bisik-bisik temannya yang selalu mengingatkan adanya upaya mafia judi bola yang suka mengatur skor pertandingan, membuatnya memilih melunak. “Baiklah, saya terima tawarannya,” sahutnya, padahal ada ide lain sedang berkecamuk di dalam kepalanya.

***

Kernyit bingung mengerucutkan hidung polisi mendengar pelapor mengatakan seorang pemain bola hilang, dan menambahkan, “Dia hilang di lapangan.”

Sekitar sepuluh atau sebelas jam sebelum dilaporkan hilang, De Sese berhasil melewati dua pemain belakang dan terus meliuk-liuk sambil terus pula mengingat kata-kata orang yang menemuinya, “Betapa bodohnya kamu. Jadi kamu tidak tahu ketakmampuanmu? Kami justru mengajakmu bermain sesuai kemampuanmu. Penampilanmu yang terakhir itu, hanya kebetulan. Kami juga sempat heran, apa yang membuatmu bermain seganas itu, serupa orang kesurupan. Dari analisa tim kami yang menyaksikan permainanmu di lapangan dan dari tilikan rekaman pertandingan, kami menyimpulkan yang bermain itu bukan kamu. Itu pasti roh salah seorang bintang sepakbola yang telah mati, yang meminjam dan merasuki ragamu. Dialah sebenarnya yang mencetak gol spektakuler itu, bukan kamu.”

Gerak tipu yang ia peragakan menurutnya biasa saja, tapi ternyata mengecoh dan membuat seorang bek kiri tim lawannya terjatuh sendiri. Sedetik takjub, lalu merasa mendapat asupan semangat, ia terus meliuk-liuk dengan bek yang tersisa terus memepet, dan tahu-tahu ia sudah berhadapan dengan penjaga gawang. Hampir ia tertawa. Kiper itu agak grogi, antara mau maju memotong laju geraknya atau tetap bersiap menyongsong kedatangan bolanya, dan di belakang kiper itu ia lihat gawang yang menganga mendadak berubah rupa menjadi nganga mulut orang yang menemuinya itu, yang nyerocos, “Kamu takut dipecat dari klubmu? Heh, pemecatanmu hanya menunggu  waktu. Cepat atau lambat, pelatih akan menendangmu keluar dari tim, bisa jadi serupa tendangan-tendanganmu yang selalu melenceng dari mulut gawang. Kamu digelari si Spesialis Tendangan Melenceng….”

Saat itulah, dengan mengayun kaki sekuatnya, ia merasa sedang menjejalkan buntalan ke dalam mulut orang yang menemuinya itu. Bola memelesat deras, sedikit menyamping seakan mau keluar, tapi ternyata bergerak memuntir ke dalam gawang. Kiper hanya bisa melongo mengetahui jala di belakangnya bergetar diterpa deras laju bola.

Jeda hanya setarikan napas setelah bola masuk, peluit panjang akhir pertandingan melengking nyaring. Ia melepas ledak teriakan. Langit malam di atas lapangan meraup gema lantang suaranya. Teriak itu ia ulang-ulang, sembari berlari ke arah pagar pembatas penonton. Gemuruh sorak ribuan pendukung timnya dari atas tribune menyambut gol itu. 

Kecuali ia sendiri, tidak ada yang tahu kata apa yang ia teriakkan. Posisinya agak jauh, berlari meninggalkan kejaran teman-teman setim yang ingin berselebrasi. Yang ia teriakkan umpatan, makian pada pada orang-orang yang menemuinya, yang ia anggap telah suapi mulutnya dengan buntalan. “Nah, makan tuh bola, penyuap!!”

Gelegak euforia nyaris meledakkan dadanya, melipat gandakan pula tenaganya. Pagar yang mengantarai tepi lapangan dengan tribune ia panjat, dan dari puncaknya ia melemparkan tubuhnya ke arah hiruk penonton. Malam itu ia bisa buktikan bahwa se’sosok’ roh bintang sepak bola tidak sedang meminjam dan merasuki raganya, gol penentu itu ia hasilkan sendiri.

Dengan mengutip sebagian kejadian di atas, si pelapor memperjelas laporannya, “Sejak itulah ia hilang. Ia hilang di tengah sorak-sorai euforia pendukung tim kami.”

Sesaat menatap keseriusan si pelapor, polisi bertanya dengan pertanyaan standar, “Siapa namanya?”

“Seto,” jawab pelapor, yang juga pelatih tim. “Sejak jadi pemain bola, ia ganti namanya menjadi De Sese. Nama ini lebih dikenal orang daripada nama aslinya.” Sesaat, pelatih itu termangu penuh sesal. Di saat mulai merasa menyukai permainan De Sese, anak asuhnya itu malah hilang.

“Jadi, kami mesti mencari seorang pemain bola bernama De Sese yang hilang; atau seakan menguap, saat dikerumuni pendukungnya,” simpul polisi, tersenyum tapi terheran-heran.

Pelapor itu tidak tahu, bahwa di antara riuh pendukung timnya malam itu, ada empat orang sedang sesak napas menanggang amarah menyaksikan gol De Sese. Keempatnya merasa sia-sia telah membayar anak itu, dan merasa dipermainkan. Keempatnya ikut membaur dalam keriuhan penonton, ikut pula melempar-menimang tubuh De Sese sebelum menarik dan membawanya pergi. ***

Pangerang P. Muda: Menulis cerpen di beberapa media. Kumpulan cerpen terbarunya yang terbit: Tanah Orang-Orang Hilang (Basabasi, 2019). Berdomisili di Parepare.

Cerpen

Satu Menit di Neraka

Cerpen Daruz Armedian

Bandu mati suri dan ketika hidup kembali, ia menceritakan pengalamannya satu menit berada di neraka. Orang-orang setempat tidak ada yang percaya, meskipun kemudian tetap menyimak ceritanya.

Orang-orang setempat yang tidak percaya mengenai pengalaman Bandu sewaktu mati tentu saja bukan tanpa alasan. Banyak orang mati suri dan ketika hidup kembali, mereka tidak mengerti apa-apa. Mereka dibuat lupa oleh pencipta semesta ini. Pengetahuan mereka dibuat kembali dari nol lagi.

Orang-orang setempat yang penasaran cerita Bandu tentang satu menitnya di neraka juga bukan tanpa alasan. Siapa yang tidak rindu kebohongan paling asyik di tengah-tengah banjirnya kebohongan yang buruk di dunia maya? Tentu saja penasaran dengan cerita Bandu menjadi pilihan terbaik. Bandu toh memang tukang cerita yang baik. Bandu toh juga bersungguh-sungguh ingin memberikan pengalamannya.  

“Satu menit di neraka ternyata menyedihkan. Kau akan tahu bagaimana malaikat yang digambarkan terbuat dari cahaya itu menjadi begitu bengis. Persis iblis. Mereka tidak peduli ada makhluk-makhluk Tuhan paling mulia tersiksa di neraka. Malaikat itu terus membodami mereka, sampai hancur, sampai tulang-tulangnya menjadi bubur.”

Orang-orang menyimak dengan saksama. Saleho, pemuda yang kebetulan masa kecilnya sering mengoleksi buku kecil Siksa Neraka, melongo sampai pada titik terlebar. Mulutnya seperti ingin memangsa lebih banyak udara.

“Satu menit di neraka, kau akan tahu bagaimana rasanya tulang punggung meleleh, otak mendidih, dan daging matang.”

“Gimana Abang bisa tahu itu sedangkan sekarang Abang baik-baik saja? Abang masih bisa bercerita. Abang masih bernapas seperti biasa.” Celetuk Ahmad Sultan Syafi’i, mahasiswa fakultas dakwah.

“Tunggu dulu, Anak Muda. Masalah ini tidak segampang yang ada di pikiranmu.”

“Terus gimana, Bang?”

“Karena cuma satu menit, maka aku belum disiksa. Aku baru di pinggir neraka dan melihat semua kejadian-kejadian mengerikan di dalamnya.”

“Bukannya satu menit di neraka itu sudah terhitung lama?”

“Aku tidak paham soal itu. Yang jelas, aku belum disiksa. Hanya, Tuhan berencana memasukkan aku ke dalamnya lewat malaikat-malaikat yang bengis itu.”

“Tunggu dulu. Kamu jangan ngawur!” tersinggung karena malaikat dibilang bengis, Ustaz Khaliq angkat bicara, “cukupkan saja ceritamu itu.”

“Mohon maaf, Ustaz. Kalau tidak mau mendengar cerita saya, silakan Ustaz undur diri. Saya akan tetap melanjutkan cerita saya soal di neraka yang siksaannya sangat pedih.”

Ustaz Khaliq geram, alih-alih masih tetap mendengarkan cerita Bandu. Dan tepat ketika cerita itu sampai pada peristiwa yang paling mengerikan (tentu saja tidak perlu ditulis di sini), Ustaz Khaliq tergidik, lalu pergi dan tidak mau mendengarkan cerita mengenai neraka lagi. Terlalu mengerikan, bahkan walau hanya untuk dibayangkan, pikirnya. Lalu satu orang menyusul pak ustaz, lalu satu orang lagi, lalu beberapa orang, lalu semuanya pergi meninggalkan Bandu.

Bandu terbahak-bahak melihat kejadian itu. Sehingga orang-orang yang belum jauh pergi, memandangi Bandu dengan heran. Kemudian terdengar teriakan dari Bandu, “Kalau kalian takut neraka, mestinya tak perlu mengharapkan surga! Kalian menyembah Tuhan atas nama ketakutan!”

Semuanya tersentak. Tetapi, itu tentu bukan hanya karena perkataan Bandu, tapi juga karena tepat pada saat mengucapkan itu, Bandu terbang. Semakin meninggi dan meninggi dan akhirnya tak kelihatan lagi.[]


Daruz Armedian Lahir di Tuban dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Mendapatkan penghargaan cerpen terbaik tingkat remaja di DIY dari Balai Bahasa Yogyakarta tahun 2016 dan 2017.