Cerpen

Rusdiana, Rusdiana

Cerpen Mashdar Zainal

Lelaki itu menatap gunung-gunung yang menggunduk di kejauhan dan berbisik, Rusdiana, Rusdiana. Lelaki itu menatap dedaunan yang melayang-layang terlepas dari tangkainya dan berujar pelan, Rusdiana, Rusdiana. Lelaki itu menatap bebatuan yang teronggok di sembarang tempat dan berucap lirih, Rusdiana, Rusdiana. Lelaki itu menatap sebuah pohon besar dengan akar berpilin-pilin dan bergumam, Rusdiana, Rusdiana. Lelaki itu menatap segala sesuatu yang tak pernah bisa kau duga dan selalu, kau akan mendengarnya, Rusdiana, Rusdiana.

Lelaki itu punya ingatan yang baik tentang seseorang dan sebuah kejadian, maka setiap kali ia menatap sesuatu yang menggeliatkan ingatannya, atau ketika bayangan-bayangan adegan itu melintas di kepalanya, ia akan selalu bergumam: Rusdiana, Rusdiana.

Tak siapapun mengenal Rusdiana. Orang-orang di kampung ini juga tak ada yang mengenal Rusdiana. Bahkan orang tua lelaki itu pun tak tahu, siapa atau apa Rusdiana itu. Rusdiana hanya ada dalam kepala lelaki itu, dan orang-orang menyebutnya telah hilang kewarasan.

Sebenarnya ia tak benar-benar gila. Ia tak suka keluyuran sambil melempari kaca rumah orang dengan kerikil atau semacamnya. Ia tak memakai pakaian compang-camping. Pakaiannya selalu terkancing rapi. Rambutnya tersisir tampan, dan ia selalu berbau wangi. Tapi orang-orang menyebutnya gila hanya karena selalu menyebut, “Rusdiana, Rusdiana.”

Menurut riwayat yang ada, pada suatu hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan—hari pernikahannya, calon istri beserta para pengiringnya tak kunjung datang. Semuanya begitu terlambat, mengundang banyak kecemasan. Hingga seorang laki-laki tak dikenal menelusup dalam keramaian pesta dan berbisik pada seseorang. Hal itu seakan sambung-menyambung seperti permainan rahasia, hingga sampai ke telinganya. Hanya beberapa kalimat, tapi lumayan menyengat, “Bus yang mengangkut mempelai putri beserta rombongannya terperosok ke jurang.”

Ia terpaku, seperti mendengar serangga mendengung. Beberapa penumpang selamat. Beberapa penumpang terluka ringan. Beberapa penumpang mengalami patah tulang, juga beberapa penumpang tidak selamat, termasuk seorang wanita yang telah didandani sangat sempurna, bak seorang putri. Barangkali ia wanita paling cantik dalam bus itu. Dan begitulah, beberapa kalimat itu telah membuat pesta penuh bunga itu berubah menjadi penuh jeritan. Sebuah kiamat bagi lelaki itu.

Setelahnya, lelaki itu berakhir dalam kemurungan, berhari-hari. Sisa-sisa pesta yang tak jadi itu menjelma tangan-tangan berkuku hitam yang mencubiti kulitnya, mencakar-cakar wajahnya. Beberapa hari kemudian, lelaki itu menghilang begitu saja. Ia menghilang dalam kamarnya sendiri, dalam kemurungannya. Keluarganya sudah mencari ke mana-mana, tapi hasilnya tak ke mana-mana. Sebagian orang mengira lelaki itu kabur secara diam-diam untuk bunuh diri di suatu tempat, sementara lainnya berpendapat lelaki itu diculik sesuatu yang tak tampak. Namun semua pendapat-pendapat itu lenyap, begitu lelaki itu muncul pada suatu pagi, di bawah pohon trembesi di ladang belakang rumah, hanya mengenakan celana pendek. Semenjak itulah, setiap kali ia menatap sesuatu yang tak dapat diduga siapapun, ia akan berbisik, Rusdiana, Rusdiana.

Satu hal yang sedikit ganjil, jika ia gila karena calon mempelainya, tentu ia tak akan bergumam, Rusdiana, Rusdiana. Karena calon mempelainya bernama Dewi, nama lengkapnya Dewi Suciwati, bukan Rusdiana. Entahlah, siapa yang bisa menebak isi kepala lelaki itu?

“Siapa Rusdiana?” ibu lelaki itu pernah bertanya demikian.

Dan ia, dengan gerak bibir penuh dan pasti, membalas, “Rusdiana, Rusdiana.”

“Rusdiana siapa?” bapaknya yang kali ini bertanya.

Dan kau bisa menebaknya, yang didapat sang bapak hanyalah jawaban yang sama.

“Barangkali, Rusdiana adalah nama jin perempuan yang menculiknya sewaktu ia menghilang selama beberapa hari itu.” Si ibu menyimpulkan.

“Tak ada yang tahu apa yang sebenarnya dipikirkan bocah ini, isi kepalanya sudah kacau,” timpal sang bapak, penuh keputusasaan.

Si ibu menangis memandangi bujangnya yang menatap kosong. Sang bapak membatu menatap putra semata wayangnya yang pandai sekali bergumam, “Rusdiana, Rusdiana.”

Beberapa kali mereka mendatangkan orang pintar untuk memeriksa keadaan lelaki itu, tapi orang-orang pintar itu berhenti pintar ketika pada akhirnya, mereka hanya berkata, “Rusdiana, kami tak bisa menyentuhnya sama sekali.” Atau, “Rusdiana, ia bersembunyi di balik kabut.” Atau, “Rusdiana, hanya bocah ini yang tahu siapa Rusdiana.” Atau, perkataan telak yang semacam itu, yang sama sekali tidak membantu.

Pada akhirnya, orang tua lelaki itu menyerah. Ia membiarkan Rusdiana terus hidup dan mengendap dalam kepala anaknya. Mereka cukup bersyukur karena bocah itu masih tampak waras, ia tidak melempari kaca rumah orang, ia masih sudi mandi tiga kali sehari, makan seperti biasa, menyisir rambut, dan berpakaian rapi layaknya orang waras. Hanya ada satu letak ketidakwarasannya, ia tak banyak berkata-kata kecuali, Rusdiana, Rusdiana.

Seandainya orang tua lelaki itu pandai menyisir masa lalu, seharusnya mereka tak perlu mencari orang pintar atau apapun. Cukup menyisir masa lalu. Masa lalu anak lelakinya. Mereka benar-benar lupa. Sewaktu SMA, lelaki itu pernah memiliki seorang kekasih bernama Dian. Gadis itu dinyatakan hilang saat melakukan sebuah pendakian usai merayakan kelulusan. Tak ada yang tahu kalau gadis itu tidak hilang begitu saja. Gadis itu hanya menerbangkan dirinya ke ceruk jurang, lantas tubuhnya yang remuk tersangkut di sebuah batu di antara akar pepohonan yang menjulang di punggung jurang. Sampai detik ini, jasad gadis itu—yang barangkali telah menjadi tulang belulang, belum ditemukan.

Hanya lelaki itu yang tahu. Tapi ia memilih bungkam. Lelaki itu pernah mengingkari sebuah janji untuk mati. Ketika gadis itu menerbangkan dirinya, seharusnya ia menyusul terbang. Demi cinta yang sehidup semati. Tapi tidak, lelaki itu berubah pikiran dan memutuskan secara sepihak bahwa cinta di usia mereka hanya cinta main-main, dan sungguh tak masalah jika orang tua mereka tidak pernah merestui satu sama lain. Masa depan masih sangat panjang, tapi gadis itu terlalu tergegas-gesa. Seolah nyawanya berlipat ganda seperti kartu remi, bisa dilempar ke sana kemari.

Setelah melihat tubuh ringkih itu melayang ke ceruk jurang, disambut cadas dan  bebatuan, lelaki itu gemetar, hanya gemetar, lalu pergi terhuyung-huyung, dan berjanji akan membungkam mulutnya sepanjang yang ia bias, dan gadis itu tak pernah bisa menerima. Maka ia terus membuntuti lelaki itu. Mengawasi gerak-geriknya dari alam ketiadaan. Ia tak akan pernah membiarkan lelaki itu menjadi milik wanita lain, sebab janji mati itu seharusnya ditunaikan bersama. Sebab itu pula, bus mempelai perempuan itu layak masuk jurang, seperti dirinya di masa lampau.

Dan kini, ketika lelaki itu menatap gunung-gunung, ia akan mengingat tempat itu dan berbisik, Rusdiana, Rusdiana.

Ketika ia menatap sehelai daun yang gugur, ia akan mengingat seonggok tubuh yang terbang melayang di udara, dan ia akan berujar pelan, Rusdiana, Rusdiana.

Ketika ia menatap tanah keras dan bebatuan, ia akan mengingat cadas dan batu-batu yang meremukkan tubuh ringkih itu, dan ia akan berucap lirih, Rusdiana, Rusdiana.

Ketika ia menatap akar pepohonan yang berpilin, ia akan mengingat tubuh remuk yang terpaut di antara akar, dan ia akan bergumam, Rusdiana, Rusdiana.

Ketika tiba-tiba bayangan itu muncul di mana saja dan kapan saja, ia akan terus menyeru nama itu: Rusdiana, Rusdiana. ***

Madiun, 2015-2019


Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Buku terbarunya, “Gelak Tawa di Rumah Duka”, basabasi, 2020. Kini bermukim di Malang.

Cerpen

Seperti Menggunting, Namun Ini Daging

Cerpen Yosef Astono Widhi

 “Tragedi itu terjadi sekitar setahun lalu. Desa ini diteror seorang pembunuh berdarah dingin. Puluhan nyawa hilang dalam waktu kurang dari semalam. Dia melakukannya dengan gesit dan meninggalkan bagian-bagian tubuh korbannya begitu saja. Ada yang ditinggalkan dengan tanpa kepala, ada yang satu daun telinganya hilang, bahkan ada yang hanya diambil buah zakarnya. Anehnya hanya orang dewasa yang jadi korban, menyisakan bocah-bocah yang belum punya pengalaman apa-apa. Mungkin itu cara ia menghancurkan desa ini secara perlahan,” terang Yasmin.

Alif menaksir umurnya sekitar setengah darinya. Wajahnya manis, setidaknya bukan buruk. Tubuhnya terawat. Sebenarnya Yasmin cukup menarik. namun Alif datang untuk Martha.

“Nyonya salah satu korbannya, sehingga kini aku harus hidup sendiri.”

Alif tercenung mendengarnya, dan ia berpikir Yasmin anak Martha.

“Aku ikut nyonya sejak kecil. Kata beliau, aku jadi alat pembayaran orang dari Negeri Timur yang datang dan menggunakan jasanya. Mungkin ia bapakku, aku tidak tahu juga. Tapi kata nyonya, orang itu mengaku menemukanku di sesemakan. Mungkin aku buah dari perempuan yang kerap melenggang di antara lelaki kesepian.”

“Jadi kamu pemilik rumah ini sekarang?”

“Iya. Aku juga yang melanjutkan pekerjaan nyonya.”

“Kamu juga menjajakan tubuhmu?”

“Awalnya tidak berniat karena masih ada uang peninggalan nyonya. Namun banyak orang seperti Anda datang mencari nyonya. Satu dua kali kutolak, namun lama-lama kasian melihat mereka yang sudah rela datang dari jauh, namun hasratnya tertahan karena tidak menemui yang mereka cari.”

Meski sudah pernah berkunjung, rumah ini tampak berbeda bagi Alif. Lebih tertata dan rapi, dengan banyak hiasan interior. Tapi Alif sedikit terganggu dengan interior yang tidak selazimnya ada di sebuah rumah. Kaki menggantung di sudut ruang, potongan telinga dalam stoples berisi air, potongan tempurung kepala. Hal yang paling menyita perhatiannya, jantung ditaruh di atas kain bludru merah dalam kotak kaca bulat, membuat jantung itu seakan berdetak ketika dilihat dari sisi yang lain.

“Banyak orang datang berniat menggunakan jasaku, namun tidak membawa apa-apa selain berahinya. Demi tidak dianggap sundal gampangan, aku menerimanya tetap dengan bayaran, tapi dengan apa saja. Bahkan dengan potongan tubuh manusia pun kuterima.”

“Lalu untuk apa kamu menyimpannya?”

“Hidup sendiri adalah musibah bagi perempuan sepertiku. Dengan menyimpannya, aku seperti memiliki teman karena bisa merasakan kehadiran orang-orang di rumah ini. Mungkin pemilik potongan tubuh itu datang untuk melepas rindu, atau mereka tidak bisa masuk surga karena bagian tubuhnya tidak utuh, entahlah.”

Yasmin mengambil stoples berisi potongan jari manis dengan cincin kawin yang masih terpasang. Ia mengocoknya beberapa saat sampai jari itu berputar-putar. Setelah itu ia menaruhnya di meja, jari itu menggeliat seperti masih hidup.

“Ia bergerak,” seru Alif.

“Mengasyikkan, bukan? Banyak orang bilang jari manis yang dilingkari cincin kawin adalah bagian tubuh paling cepat membusuk. Tapi ini tidak, mungkin karena pemilik jari dan pasangannya kembali bertemu di alam sana hingga mereka bisa melanjutkan perjalanan cintanya. Hahaha entahlah.”

“Kenapa kamu tidak menikah saja?”­­

“Hahhh. Aku memang terlahir kesepian. Aku selalu membayangkan nikmat hidup bersama orangtua, atau pasangan sehidup semati. Namun memikirkan diri sendiri saja rumit, belum lagi jika harus mendengar keluh tentang kehidupan mereka yang berkunjung kemari. Mungkin bagi mereka, melacur satu-satunya surga yang bisa mereka tapaki. Itu pun kadang masih terselip umpatan dan kekesalan di tengah desahan mereka.”

“Gila.”

“Ini memang gila. Ada pemuda yang sering datang kemari. Pada awalnya ia membayar dengan potongan tubuh entah milik siapa. Lama kelamaan ia datang dengan tangan kosong, katanya ia sudah kehabisan persediaan. Lalu ia menawarkan tubuhnya sendiri. Ambillah apa saja asal bukan kejantananku, katanya.”

“Kamu terima?”

“Sudah kukatakan aku bukan sundal gampangan. Namun aku juga masih punya belas kasihan. Maka aku memilih memotong jarinya satu persatu agar ia tidak merasa begitu kehilangan. Namun selayaknya manusia lain, jarinya hanya dua puluh. Setelah semua hilang, ia menukar bagian tubuhnya yang lain seperti lengan, kaki, telinga. Yang tersisa kemudian hanya kepala dan kejantanannya yang menempel pada badan. Setelah itu ia tidak lagi datang.”

Yasmin tiba-tiba membuka kain atasnya, menyisakan kemban berwarna serupa kulit. Ia mengikat rambutnya sebahu dan membuat gerakan eksotis. Seketika Alif bergidik. Ia memang datang untuk menggunakan jasa seorang sundal. Namun yang ia bayangkan adalah Martha, seorang paruh baya dengan mata yang indah, mengobrol dengan secangkir teh menemani Alif di kelelahannya. Bahkan Alif rela menunggu sampai esok hari jika Martha enggan melayaninya malam itu. Atau setidaknya Alif hanya ingin menatap mata indah itu sekali lagi. Namun di hadapannya kini duduk seorang yang tidak kalah menggairahkannya.

“Jadi, Anda bermalam di sini, kan?”

Alif jelas paham, yang Yasmin maksud bermalam bersamanya di atas ranjang. Namun ini benar-benar di luar perkiraan Alif. Seorang gadis muda bertubuh indah terang-terangan mengajaknya tidur.

“Aku ke sini untuk Martha.”

“Bagaimana lagi, nyonya sudah berpulang.”

Hal ini cukup berat bagi Alif. Akal sehat dan nafsunya sedang berperang hebat. Akhirnya ia memilih untuk berkemas dan berencana meninggalkan rumah itu secepatnya.

“Aku kelelahan. Aku cuma mau menatap mata indah Martha. Kalau nggak dapat, lebih baik aku pulang. Selamat tinggal.”

Alif berdiri. Ia hendak melangkahkan kakinya menuju pintu keluar sebelum Yasmin turut berdiri, menarik dagu Alif dan mencumbuinya. Gerakan itu begitu cepat sampai-sampai Alif tidak menyadarinya. Ciuman yang begitu erat itu membuat Alif susah bernapas. Tapi ia mengakui, bibir itu terlembut yang pernah ia cicip. Ciuman itu terlepas setelah Alif mendorong Yasmin sekuat tenaga karena napasnya mulai tersengal.

“Bibir Tuan manis dan hangat. Sempurna. Setidaknya bibir yang Anda hisap barusan tidak kalah menarik ketimbang mata Nyonya Martha, bukankah begitu, Tuan?”

Tidak menunggu jawaban, Yasmin menarik tangan Alif menuju kamarnya. Seperti terhipnotis, Alif menurut saja menuju ruangan gelap dengan harum narwastu.

“Tahan sebentar Tuan, aku akan membuat permainan kita lebih menggairahkan.”

Yasmin menyalakan lilin di tiap sudut kamarnya, menyisakan suasana remang dalam kamar. Yasmin berbalik menatap Alif, ia memegang bahu Alif dan membaringkannya di ranjang. Yasmin mencium Alif singkat. Kemudian tangannya menyusuri badannya sendiri sembari berputar dan seketika kembannya sudah lolos dari badan. Yasmin berkedip sekali sebagai isyarat bahwa Alif boleh bergerak. Tanpa menunggu, Alif langsung meraih tubuh Yasmin dan menariknya ke ranjang. Mereka berguling dua kali sambil mulut saling terpaut. Dalam hitungan detik, mereka sudah sama-sama telanjang.

“Lakukanlah pelan-pelan, Tuan. Kita punya waktu sepanjang Tuan mau.”

Alif segera akan memulai permainan berikutnya. Ia menindih tubuh Yasmin, terdengar lenguhan lirih dari keduanya. Pada saat itu Alif merasa ada yang mengamati pergumulan mereka. Alif memutarkan pandangan. Tidak ada siapa-siapa. Namun ia benar-benar merasa ada orang selain mereka.

“Kita tidak sendiri?”

“Sudah kubilang Tuan, kehadiran mereka itu nyata.”

“Tidak-tidak. Baru saja kurasakan, siapa dia?”

“Tidak ada, Tuan. Sudahlah.”

Yasmin kembali merengkuh tubuh Alif hingga melupakan perasaan waspadanya. Sebelum Alif meraih puncak, ia tak sengaja melirik ke salah satu sudut ruangan. Ada sesuatu yang menyala. Sepasang bola mata yang tersimpan di dalam stoples berisi air. Alif betul-betul ingat mata itu. Ia kini mengerti siapa yang mengamatinya tadi.

“Ma-Martha..”

Jrraasssh. Belum selesai kalimat itu terucap, kepala Alif sudah menggelinding turun dari ranjang. Terlihat di atasnya, Yasmin menyeringai sambil memegang pisau.

“Terima kasih Tuan, tidak kusangka aku bisa menemukan bibir yang pas untuk bapakku.”

***

Di suatu malam menjelang pagi, seorang gadis dengan karung di punggungnya berjalan mengendap di antara rumah-rumah yang berhimpit. Ia bergerak dengan tenang sambil menengok ke setiap rumah. Setelah menentukan pilihan, ia melompat melalui jendela. Di hadapannya sepasang kekasih sedang tidur. Gadis itu mengeluarkan badik kecil yang sejak tadi menggantung di pinggangnya. Ia menunjuk muka perempuan kemudian berganti pada yang laki-laki. Ia melakukan itu beberapa kali seolah sedang memilih. Akhirnya ujung badik itu berhenti di antara wajah keduanya, lalu ia mengayunkannya ke kanan, lalu ke kiri secara cepat. Darah muncrat ke mana-mana. Nyawa mereka melayang. Gadis itu menurunkan tubuh keduanya, dan memperhatikannya lekat. Ia memejamkan mata, membayangkan betapa bahagianya kelak bila bisa bertemu orangtuanya. Lalu ia berpaling ke arah yang perempuan.

“Aku suka telingamu. Cocok dengan gambaran ibuku. Nah, kalau hidungmu, cocok untuk bapak.”

Gadis itu memotong telinga si perempuan dan hidung si laki-laki. Ia membuka karung yang di dalamnya sudah berisi potongan-potongan tubuh. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah gunting taman.

“Tak kusangka ini sangat mudah, seperti menggunting, namun ini daging.”

Ia menggunting tubuh perempuan sampai seluruh organ terpisah. Bagian yang ia suka dimasukkan ke karung dan meninggalkan yang lain menumpuk begitu saja.

“Sebentar lagi aku punya orangtua yang menyayangiku, tidak seperti si tua Martha sialan. Aku bosan diperlakukan selayaknya anjing!.”

Yogyakarta, Oktober 2019


Yosef Astono Widhi, gemar membaca dan berteater. Sedang berusaha menamatkan studinya di Sastra Indonesia UGM. Twitter: @yosefaw, Instagram: @yosefastono, Email: [email protected]

Cerpen

Surat Cinta untuk Vin

Cerpen Khumaid Akhyat Sulkhan

Vin yang terkasih,

Aku menulis surat ini setelah mampir ke perpustakaan kota yang dulu menjadi tempat favoritmu setiap kali menghabiskan akhir pekan dengan membaca kisah-kisah cinta dalam novel atau kumpulan cerita pendek. Hujan lebat yang mengguyur sepanjang hari dan hawa dingin yang menusuk sama sekali tak menyurutkan niatku untuk pergi ke sana, meski sekadar untuk menyesapi jejak-jejakmu yang tak kunjung lenyap dari lorong-lorong kenanganku.

Masih jelas dalam ingatanku, kau yang selalu menempati kursi di sebelah rak buku sastra itu setiap hari Sabtu dan Minggu. Kau terlihat begitu khusyuk ketika sudah mulai membaca, seolah sedang melakukan semacam ritual suci. Kadang, aku bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang kau rasakan ketika membaca cerita-cerita fiksi? Apakah itu bisa membuat kesadaranmu pergi sementara dari realitas yang seringkali keparat ini?

Dalam keheningan, selepas mengunjungi perpustakaan dan mengenangmu, aku tiba-tiba jadi ingin mencurahkan segenap perasaanku melalui surat, Vin. Dan mungkin ini adalah surat cinta pertama sekaligus yang terakhir dariku.

Sebentar lagi aku akan menyematkan cincin ke jari manis seorang perempuan yang telah memberiku segala-galanya. Aku mengenalnya ketika nasib yang gelap menikamku dengan cara menyakitkan selepas kau pergi. Ah, andai saja kau tahu, bagaimana aku menderita dan bahkan nyaris mati kalau saja ia tak meniupkan harapan serta daya hidup ke dalam jiwaku, berkali-kali.

Selama beberapa waktu terakhir, aku mencoba memantapkan diri. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku mencintainya dengan segenap kesungguhan yang ada pada jiwa-ragaku. Meski sampai sekarang, setiap kali menatap sepasang matanya, aku justru seperti menatapmu dan setiap membelai wajahnya, aku malah selalu teringat pada wajahmu yang senantiasa merona itu.

Genap dua tahun sudah kau pergi dan rasanya aku masih sering melihatmu berkelebat di mana-mana. Kau membayang di jalan-jalan, di baliho-baliho, di pertokoan, di pohon, di rerumputan, tiang listrik, papan jalan, dan bahkan gang-gang yang kulalui setiap saat. Haruskah aku bersyukur atau mengutuknya? Haruskah aku sekarang berlari menyongsong keberadaanmu yang seolah lenyap di persimpangan waktu?

Rasanya baru kemarin, aku bahagia karena bisa mendeskripsikan rambutmu dengan detail. Warna merah tua yang seperti warna langit ketika cahaya matahari mulai terbenam. Dan wajahmu khas pemain opera sabun di televisi dengan lesung pipit yang muncul tiap kali kau tersenyum bila menemukan hal-hal menyenangkan dalam bacaanmu dan kening yang sesekali mengerut saat menemukan hal-hal menyedihkan. Sementara kedua matamu, tajam dan menakjubkan bagai mata seekor elang. Meski mata itu tak pernah menatapku sekalipun aku sering curi-curi pandang ke arahmu.

Vin yang manis, apakah sekarang kau berbahagia dengan kehidupanmu?Aku harap demikian. Sebab akhir-akhir ini, entah mengapa, aku merasa hidup semakin rumpil dan membosankan. Setiap hari kulihat orang berlomba-lomba menyampaikan kebenaran menurut mereka lewat televisi, media sosial, koran, dan mimbar-mimbar di tempat ibadah. Klaim siapa benar, siapa salah, memekakkan telinga dan memedihkan pandanganku, hingga susah membedakan mana kebenaran sejati dan yang bukan. Telinga dan mataku, seperti tak mampu lagi mengenali siapa musuh dan siapa kawan.

Dalam kekacauan tak berkesudahan ini, aku merindukan sosokmu yang selalu bisa memberi ketenangan, hanya dengan obrolan-obrolan sederhana. Aku ingin suatu saat, kau kembali hadir dalam keadaan utuh sebagaimana di hari-hari ketika aku memandangimu dari kursi di sebelah utara diam-diam. Ajari aku melewati gerbang kata-kata untuk kemudian menjalani kehidupan alternatif dalam novel atau cerita-cerita pendek. Dalam karya sastra, suatu nasib, yang paling buruk dan menyedihkan sekalipun, selalu memiliki nilai keindahannya sendiri. Aku ingat persis kalimatmu itu, yang kau katakan pada suatu sore ketika aku bertanya banyak tentang sastra dengamu.

Dan rasanya sampai hari ini aku tidak bisa berpikir sepertimu, Vin. Bagiku, nasib buruk adalah nasib buruk. Kekacauan adalah kekacauan. Badai adalah badai. Mampukah kau menunjukkan keindahan yang betul-betul bisa kita panen dari ke semuanya itu? Atau pernyataanmu yang dulu meluncur hanya untuk menutupi kerapuhanmu sendiri?

Ah, andai saja waktu itu aku betul-betul memberanikan diri untuk mengenalmu lebih jauh. Setidaknya, dengan demikian, aku tahu di mana bisa mencarimu pada saat-saat kacau seperti sekarang ini. Tidak masalah kalaupun kau memang betul-betul telah kawin dan bahkan beranak-pinak. Aku akan tetap mengunjungimu. Melihat kau yang sehat dan tersenyum, lalu berdiskusi sebentar mengenai sastra serta realitas, itu saja sudah lebih dari cukup.

Aku tidak tahu nama lengkapmu, meski sejujurnya aku sangat ingin mengetahuinya.Vin, panggil aku Vin saja, begitu katamu. Sungguh, aku ingin memiliki kesempatan untuk mengetahui nama panjangmu. Sebab dengan begitu, rasanya aku sudah sejengkal lebih baik dalam menciptakan peluang kedetakan di antara kita. Namun aku kemudian berpikir, haruskah kita dekat? Sementara aku selalu merasa seratus persen utuh tiap kali bertemu dengamu tanpa perlu mengenalmu lebih dekat dan lebih mendalam. Sehingga waktu itu aku lebih memilih sebatas menjadi semacam teman kenalanmu saja sembari diam-diam terus memeram seluruh isi perasaanku.

Kukira, aku akan selamanya bersikap demikian.Namun cinta adalah kekuatan irasional yang sukar dibendung. Aku sempat mengalami semacam paradoks menjelang kepergianmu. Saat itu aku sangat ingin memilikimu, tapi sekaligus ingin membiarkanmu tetap tak terjangkau saja. Kau adalah keindahan dan aku berpikir, ada kalanya suatu keindahan justru menjadi rusak begitu ia dimiliki. Di sisi lain, kadang aku juga merasa bahwa harus ada sosok yang memuja serta menerjemahkan keindahan rupamu. Dan orang itu haruslah aku.

Pada titik itulah, aku lalu memutuskan untuk mencoba mengajakmu jalan. Aku rasa tidak ada salahnya mencoba mendekatimu. Soal apakah nantinya kita akan berakhir sebagai sepasang kekasih yang menjalin percintaan atau sama sekali tidak, itu urusan lain.

Namun keesokan harinya, setelah aku memantapkan keyakinan, kau tak datang ke perpustakaan. Aku masih berpikir kau mungkin sakit atau ada urusan penting barang satu-dua hari. Tapi setelah dua akhir pekan terlewati, kau tak juga muncul dan aku mulai cemas.

Lalu datanglah, Sabtu yang gelap itu…

Hari itu, kau akhirnya datang. Dengan wajah yang semakin merona, dengan kecantikan yang kian memesona. Aku sudah menyiapkan diri dengan pura-pura mencari novel di rak buku-buku sastra. Rencananya, begitu kau duduk di kursi favoritmu itu, aku akan membuka obrolan dengan mengajakmu ke sebuah pameran buku-buku sastra yang kebetulan sedang dihelat di toko buku langgananku.

Engkau perlahan membuka pintu perpustakaan dan menuju ke meja petugas untuk mengembalikan dua buah buku pinjaman. Petugas itu bertanya kenapa kau beberapa waktu terakhir tidak menyambangi perpustakaan. Dan kau tersenyum, sambil menunjukkan sebuah cincin yang telah tersemat di jari manismu. Lalu kudengar ucapan selamat dari si petugas perpustakaan. Kau mengucap terima kasih dan berkata pada si petugas, bahwa hari itu adalah kali terakhir kau menghabiskan waktu di perpustakaan dan kota ini.

Dadaku sesak, napasku tersengal. Ada kesedihan yang berusaha kuperam hari itu. Kesedihan yang mendesak keluar hingga membuat pandanganku mengabur. Masih dalam keadaan serba kacau, kau mendekat. Hendak duduk di kursi favoritmu. Dan sebelum kau duduk, kita sempat bersitatap untuk kesekian kalinya. Saat itu, kau tersenyum ke arahku dan seolah ingin mengajak bicara.

Apakah waktu itu aku membalas senyum pertama sekaligus terakhirmu, Vin? Aku lupa. Tapi jika aku tak sempat membalas lantaran jengkel bercampur sedih, sudilah kiranya engkau memaafkan.

Setelah Sabtu gelap itu, kau tidak pernah lagi mengunjungi perpustakaan di akhir pekan. Aku mungkin masih bisa berdamai dengan diriku apabila kau tetap datang ke perpustakaan—sekalipun harapan untuk menggapaimu pupus sudah. Namun pada kenyataannya, kau memang telah pergi dan sejak hari itu, aku menjadi laki-laki pemurung yang barangkali tidak akan pernah lagi bisa jatuh cinta dengan perasaan yang sama seperti padamu.

Kadang, aku masih suka membayangkan bagaimana seandainya aku tak bersikap naif dan menunda-nunda waktu untuk mendekatimu. Aku tentu tak akan berakhir hanya sebagai teman kenalan di perpustakaan. Setidaknya, kita bisa bertukar nomor telepon atau akun media sosial. Lalu kita akan menjadi akrab seiring berlalunya hari sebagaimana sepasang kekasih dalam film-film Holywood.

Kalau pun aku tetap tidak menjadi sosok yang akan melingkarkan cincin itu ke jari manismu. Setidaknya, aku pernah memiliki kesempatan untuk melakukannya. Begitu saja sudah cukup untukku.

Namun semua itu kini tinggal angan saja. Seseorang yang lebih berani telah datang dan mengajakmu membangun bahtera hidup bersama untuk berlayar mengarungi lautan nasib yang serba tak menentu. Aku cuma bisa berharap, semoga saja ia memang bukan sosok laki-laki bebal yang cuma ingin menguasai setiap jengkal lekuk tubuhmu. 

Vin, yang kucintai…

Sembari mengingat segala tentang engkaulah, surat ini kutulis. Sayang sekali aku tidak tahu kau hidup di mana dan bagaimana kondisimu sekarang. Oleh karena itu, agar sampai kepadamu, surat ini akan kulipat menjadi perahu kertas dan kularung ke sungai. Aku hanya bisa berharap, kelak, kata-kata dalam surat ini akan lebur bersama air dan merasuki ruang kesadaranmu melalui semilir angin dan derai-derai hujan.

Yogyakarta, 2020


Khumaid Akhyat Sulkhan, pemuda kelahiran Batang ini menulis esai dan cerita pendek demi mengatasi perasaan galau. Beberapa tulisannya bisa dibaca di Republika, detik.com, magdalene.co, thecolumnist.id, Mojok.co, dan lain sebagainya. Penulis bisa dihubungi di Twitter @kasulkhan atau Instagram akhyat_sulkhan.

Cerpen

Hutan itu Berwarna Kelabu, Sayang

Cerpen Y Agusta Akhir

Vila itu masih vila yang dulu juga. Bahkan setelah tigapuluh tahun berlalu, rasanya tak ada yang berubah: warna cat yang kusam dan tak bergairah, yang dulu kau berkata, kalau kabutlah yang membuatnya seperti itu. Ada begitu banyak vila di sini, tapi entah kenapa, kala itu kau lebih memilih vila itu daripada yang lain, yang kupikir lebih bagus dari vila pilihanmu. ‘Vila yang terasing’. Begitulah kau menyebut, lantaran hanya bangunan itu yang berada di anak bukit sana itu; berbeda dengan vila-vila lain yang berjajar dan berhimpit satu sama lain di kanan dan kiri jalan . Dan kita tak pernah tahu, mengapa ada orang yang sengaja membangun vila di sana. Hari ini, aku datang sengaja mengenang kebersamaan kita di sini. Kau tahu, inilah kali pertama aku kembali datang ke sini, sejak kau menghilang entah kemana, yang sampai detik ini masih jadi misteri.   

Seolah kau baru saja pamit pergi beberapa waktu lalu, dan aku menunggumu di sini, di beranda vila yang menghadap hutan yang merenggutmu dariku itu. Dan tak bisa kusangkal, sepotong peristiwa itu berbondong-bondong menyerbu ingatanku yang sesungguhnya mulai merapuh ini. 

Hutan itu berwarna kelabu, bisikmu pada sebuah pagi yang masih berkabut, tigapuluh tahun lalu. Kala itu aku sedang mencoba mengakrabi dingin yang agaknya tak ingin bersahabat denganku. Kini, kau tahu, dingin kala itu kembali menyiksaku. Meremukkan tulang belulangku. Menyesakkan napasku.

Sungguh, kesunyian ini maha panjang. Jauh lebih menyiksa dari sekadar dingin yang membekukan darahku.

Hutan itu berwarna kelabu. Kalimat pendek di pagi buta, yang bahkan mendung masih menyembunyikan matahari (atau bersembunyi di balik cakrawala?). Semula aku mengira itu akan menjadi kalimat paling romantis untukku. Rupanya aku salah. Atau, akulah yang justru membuatnya jadi salah. Aku menyangkal apa yang kau katakan perihal hutan itu. Hutan yang menghampar di hadapan kita; seperti hanya beberapa jengkal dari beranda vila itu, tempat dimana kita sedang bercakap.

Apalagi, kalau sedang turun hujan. Itu kalimatmu yang berikutnya. Masih dengan suara berbisik; kukira hanya beberapa inci saja jarak bibirmu dengan daun telingaku. Bahkan, aroma parfum yang mulai samar di tubuhmu, masih bisa kubaui sampai saat ini. Ah, wangi yang kautabur sebelum akhirnya kita bercinta habis-habisan malam itu.

“Hujan itulah yang membuatnya bertambah kelabu, Sayang!” ucapmu lagi.    

Beberapa kali aku terbatuk sebelum kusangkal ucapanmu itu. “Aku bahkan tak bisa melihat hutan itu!”

“Ayolah, Sayang. Bukan waktunya bercanda. Atau kau sedang mengolokku? Mataku tak mungkin rabun!”

Kau memelukku dari belakang. Aku bisa merasakan bagian tubuhmu yang aku yakin berukuran sama dan proposional itu menekan punggungku. Tapi itu tak cukup penting untuk dipanjang-panjangkan di sini. Sejak awal, cerita ini tidak dibangun berdasarkan asas kemesuman. Kukira kau setuju itu.

“Kukira, aku ingin pergi ke sana,” bisikmu lagi.

Aku hanya bergeming. Kau mencium tengkukku. Bibirmu yang basah dan dingin, serupa sepotong es batu kristal yang menempel di belakang leherku. Dan mendung tiba-tiba tersibak. Perlahan-lahan cahaya matahari berpendar, menerobos sela-sela antara awan hitam dan putih, jatuh di atap-atap rumah yang tampak suram oleh suasana pagi yang entah kenapa, terasa sedikit muram. Cahaya itu, lalu sampai juga di ujung-ujung daun pepohonan hutan itu.

 “Lihatlah, hutan itu berwarna kelabu!” Kau bersorak, merenggangkan pelukanmu. Mengguncangkan bahuku, seolah memintaku untuk membenarkan apa yang sedang kau saksikan.

Hutan kelabu. Dalam hujan…

Kau bersenandung lirih. Aku masih mengingatnya dan di kemudian hari tahulah aku itu penggalan puisi Sapardi.

Sungguh, aku belum sepenuhnya mengerti; ada apa dengan hutan yang berwarna kelabu itu, sehingga bisa membuatmu bergitu gembira. Tentu saja, hutan itu berwarna kelabu, terutama saat matahari pagi menyiramkan sinarnya ke bumi, ke atas hutan itu. Dan itu sesuatu yang biasa. Warna kelabu itu, entah karena oleh kabut atau hal lainnya, bagiku bukanlah suatu yang istimewa. Tapi aku tak mengatakan itu padamu. Aku tak hendak memupus kegembiraanmu. Seperti biasanya, aku lebih baik diam yang kemudian kau artikan sebagai sikap persetujuan.

“Aku ingin pergi ke sana! Ayolah. Aku bukan perempuan konyol yang menginginkan seekor anak kucing seperti dalam cerita Hemingway, yang sudah kaubaca berulang-ulang itu! Aku hanya ingin pergi ke hutan itu. Kau kira, untuk apa kita berkunjung ke sini, hah?”

“Kita baru sampai tadi malam. Setidaknya kau bisa menundanya besok,” Akhirnya aku membuka suara juga. Datar saja.

Kau bersorak. Memutar tubuhku, lalu menghujaniku dengan ciuman yang bertubi-tubi. Padahal, seandainya kau tahu, aku sungguh berharap hujan datang malam nanti atau esok pagi, sehari penuh. Tapi nyatanya, harapanku tak terkabul.

Sepanjang hari itu, kita bersepakat tak kemana-mana, kecuali hanya untuk makan di warung seberang vila. Atau membeli Koran meski kita sudah membawa beberapa novel yang belum sempat terbaca. Sepanjang hari itu, kau tampak begitu sumringah dan bersemangat. Berulang-ulang kau melihat hutan itu. Kau juga banyak bercerita tentang hutan-hutan di belahan bumi yang pernah kau kunjungi atau pernah kaubaca entah di buku apa.

Kau bercerita tentang Schwarzwald, yang oleh orang Romawi dinamai Black Forest. Kau bercerita tentang Sherwood Forest, hutan tempat bersembunyinya Robin Hood dan Merry Man, katamu. Kau bercerita tentang Aokigahara, di utara dasar Gunung Fuji,Jepang. Hutan yang mengerikan. Hutan yang sangat gelap, dipenuhi gua-gua besar, pohon-pohon raksasa tapi tak memiliki margasatwa dan menjadi tempat bunuh diri. Kau, bercerita tentang Dark Entry Forest, hutan sangat lebat di Connecticut. Hutan yang menjadi sarang hantu-hantu. Kau juga bercerita tentang  Betung Kerihun, Lore Lindu, Arfak, dan hutan-hutan lain yang ada di negeri ini.

Sungguh kau ini, perempuan pencinta hutan. Kadang aku berpikir, kau yang gila atau aku yang gila karena telah mencintai perempuan sepertimu. Mendengar ceritamu saja, nyaliku sudah ciut. Lalu, keindahan macam apa yang bisa kaunikmati dari hutan-hutan yang menakutkan itu?

 “Menulislah cerita tentang hutan, Sayang!”  

  Kau membisikkannya usai kita bercinta untuk ke tiga kalinya di malam itu. Tapi segala minat seperti menguap kecuali tidur dan memimpikanmu. Tapi dalam tidur pun kau enggan hadir. Setidaknya untuk malam itu. Mungkin hutan kelabu itu telah mencurinya dari mimpiku.

Pagi berikutnya aku tak mendapati dirimu di sampingku. Aku tak mendapatimu di beranda vila. Aku juga tak mendapati dirimu di manapun di sekitar vila itu. Maka hutan yang kausebut kelabu itu satu-satunya tempat yang menyembunyikan keberadaanmu. Dan semakin jelas ketika kubaca tulisanmu di sehelai tisu yang kutemukan di atas lantai. Mungkin terjatuh. Mungkin semula kau menaruhnya di atas bantal.

Itu hutan yang sangat indah. Penghuni kamar sebelah memberitahukan padaku. Aku duluan. Kau begitu pulas. Tampaknya kecapaian. Maaf, semalam sebagai ungkapan rasa terimakasihku padamu.

Tapi aku tak menemukan jejakmu di hutan itu. Selain suara-suara asing yang membuatku gemetar, adalah hening yang mencekam. Kuteriakkan namamu, tapi hanya gaung yang menjelaskan ketiadaanmu. Suatu kali kau pernah berkelakar, hutan itu tempat yang begitu misteri. Kalau ingin aman, simpanlah rahasiamu di dalam hutan!

Itukah yang sedang kaulakukan?

Sampai sekarang aku tak kuasa menjawabnya selain hanya menganggapmu hilang. Hutan itu telah menelanmu. Dan kukira aku sedang membuat cerita tentang hutan, sebagaimana yang pernah kaubisikkan bertahun-tahun lalu.

***

Tigapuluh tahun berlalu. Hutan itu terbakar, entah sudah ke berapa kali sejak kau menghilang di sana. Hutan itu akan tumbuh, lalu dibakar atau terbakar. Tumbang atau ditebang lalu tumbuh lagi meski butuh waktu yang panjang untuk kembali seperti sedia kala. Tapi kau?

Tigapuluh tahun berlalu. Aku kembali ke vila ini. Vila yang dulu juga. Aku memandang ke hutan yang baru saja terbakar. Memang berwarna kelabu. Kali ini aku tahu, hutan itu kelabu oleh asap pepohonan yang terbakar.  

Hutan itu berwarna kelabu, Sayang. Aku bisa merasakan bulu-bulu lembut di tengkukku tiba-tiba meremang. Aku mencium wangi tubuhmu. Aku bisa merasakan kembali bagian tubuhmu yang kuyakini berukuran sama, proporsional, yang menekan lembut punggungku. Dan belakang leherku yang dingin seperti ada sebutir es kristal. Aku mendengar suara sendiri bergetar: menyebut namamu.*** 


Y Agusta Akhir, penikmat sastra dan aktif di komunitas sastra alit, Solo. Menulis puisi, cerpen dan novel. Beberapa karyanya berupa puisi dan cerpen pernah dimuat di harian joglosemar(Solo), Solopos (Solo), buletin sastra Pawon (Solo), antologi cerpen Waktu yang Bercerita dan Secabik jejak (Alit, Solo), antologi cerpen Joglo (TBJT Surakarta), dll. Novelnya yang berjudul Requiem Musim Gugur terpilih sebagai salah satu pemenang pada lomba Grasindo Publishers tahun 2013 dan Novel Kita Tak Pernah Tahu Kemanakah Burung-burung Itu Terbang menjadi juara III sayembara novel yang diadakan oleh UNSA Press tahun 2017.

Cerpen

Binatang di Kepala Kami

Cerpen Ken Hanggara

Kelaparan membuatnya berkelakuan seperti binatang. Ia tidak malu mencari makan di selokan. Saya kasihan dan saya bawa pulang dia. Saya mandikan dan saya beri baju. Dia diam seribu bahasa saat ditanya soal nama. Saya panggil saja Kinanti.

Kinanti menemani malam-malam yang sepi. Bersama Kinanti, saya kembali paham apa kehangatan. Bersama Kinanti, saya merasa surga ada sejengkal di depan. Dia tidak tahu cara menyembah Tuhan, tetapi tidak bisa diajari mengenal-Nya. Jadi, saya ajari dia tentang surga. Dia suka dengan apa yang saya sebut surga, karena surga di rumah saya ada setiap malam.

Surga saya bukan surga Tuhan. Kinanti tidak paham, tapi tidak ada yang dia dapat pahami lebih dari segala yang fisiknya butuhkan sebagai makhluk hidup. Di sini dia bisa makan apa pun dan tidak perlu bayar atau kerja. Dia cukup ada saja di dekat saya setiap malam.

Teman-teman mencela apa yang saya kerjakan. Masa bodoh. Kinanti toh rela. Dia bahagia mendengar bisikan saya tiap kali kami selesai menyusuri surga di kasur. Kinanti bahagia dan merasa hidup sebagai makhluk paling beruntung.

Kinanti senang melolong-lolong, lalu saya katakan kepadanya bahwa kamu bukan serigala, tetapi manusia. Kinanti tak dapat saya cegah. Ia terus melolong-lolong dan ada juga saatnya mengeong jika butuh sesuatu yang sudah mulai kami sebut surga. Kinanti memang tidak bisa bicara, namun ia mengikik geli setiap kali saya bukakan tirai surga dan di sana tertabur bunga-bunga yang membuat kami tenggelam dalam mimpi paling memabukkan.

Kinanti hanya akan marah jika ia lapar dan mulai mengaduk-aduk isi kulkas dan kadang melempari gelas atau piring hingga dapur pun berantakan. Semua pembantu di sini paham Kinanti butuh semua yang membuat fisiknya bahagia, tetapi mereka tidak perlu tahu terlalu banyak binatang yang mendekam dalam kepala gadis itu.

Saya yakin, di kepala Kinanti ada binatang. Ia, binatang aneh itu, yang mengendali tindak tanduknya, berwujud gaib. Memang begitulah kenyataannya. Di kepala manusia paling waras saja kita bisa menemukan binatang tertentu yang bisa berjumlah lebih dari satu. Binatang-binatang pengendali yang membuat pemilik kepala tidak sanggup hidup tanpa perbuatan jujur. Jujur tidak harus selalu bagus. Jujur itu cara agar tidak menderita karena tuntutan-tuntutan hidup bermasyarakat.

Kejujuran Kinanti, sebagai orang sinting, adalah segalanya bagi saya. Dia serahkan sepenuh jiwa kepada saya segala yang dia miliki. Setiap inci tubuhnya dia relakan untuk saya, bahkan andai mampu, nyawa pun barangkali bakalan dia beri. Semua itu karena saya memberinya makan dan surga.

Teman-teman tahu saya kesepian sejak istri saya meninggal empat tahun lalu, dan sejak itu saya tidak pernah menyentuh wanita. Melihat Kinanti di tepi jalan, berbaju apa adanya, menggoda, membuat sisa-sisa kelelakian di tubuh ini kembali menyala dan lalu menuntut balas. Dan saya membalas dengan indah dalam surga yang saya bangun untuk Kinanti.

“Padahal kamu bisa membayar kupu-kupu untuk menghiburmu. Beberapa kupu- kupu untuk semalam, kukira kamu bisa. Tapi kamu tidak melakukan dan aku bersyukur karena ternyata kamu masih sehat,” kata seorang teman.

Saya katakan kepadanya semua itu terjadi karena saya sendiri tidak tahu. Mungkin binatang di kepala saya ketika itu menganggap bahwa ada saatnya surga saya peroleh lewat tangan perempuan tertentu, jadi binatang itu bunuh diri dan jasadnya hilang jadi debu. Ketika Kinanti datang, saya sambut dan saya jadikan dia ratu surga. Di saat yang sama, binatang lain lahir kembali dalam kepala saya.

Kinanti saya dandani seakan ia perempuan normal. Sekali waktu saya ajak ke pesta, tetapi ia tidak bisa menjadi normal. Ia mempermalukan saya. Sejak kejadian itu, sangkar khusus saya bangun untuknya dan Kinanti menikmati hidupnya yang mengenyangkan dalam sangkar, tanpa mengorek-ngorek selokan.

Kinanti tidak melawan dan binatang di kepalanya mulai jinak. Sesekali dia marah dan melolong-lolong seperti biasa, tetapi karena dia tahu saya orang yang memberinya segala yang dia butuhkan, maka mengeong adalah lebih baik.

“Kamu lebih bagus kalau mengeong, dan mengeonglah setiap hari kepadaku,” kata saya.

Kinanti mengeong setiap hari dan membuat saya bahagia. Sebab, jika ia melolong, itu membuat saya tidak terlalu berhasrat. Saya hanya akan ingat pada kematian istri saya yang dirampok oleh lelaki dengan serigala di kepalanya. Saya memang tidak mengenal lelaki biadab itu, namun saya tahu begitu saja bahwa di kepalanya yang bersemayam adalah seekor serigala.

Istri saya memiliki kucing di kepalanya, sedangkan saya adalah ayam jantan. Tidak ada waktu bermesraan bagi saya, tetapi istri saya cukup romantis dan menganggap suatu tanggal bersejarah teramat sayang untuk dilupakan.

Karena di kepala saya si ayam jantan tidak peduli tanggal, dan hanya peduli pada kepuasan surga, istri menganggap saya tidak menyenangkan dan ia pergi. Di jalan, ia mati dirampok lelaki asing. Sejak itu saya percaya, kadang-kadang kita harus mencari tahu dulu binatang macam apa yang mendekam di dalam kepala pacar kita. Itu supaya tidak terjadi penyesalan seperti yang saya alami.

Saya menggiring agar binatang di kepala Kinanti berubah wujud jadi kucing bukan karena ia bisa menjadi istri saya dan melahirkan banyak anak dan mencatat semua hal yang paling sepele; sama sekali tidak. Saya hanya ingin membuat dia sedikit lebih waras agar tidak melukai saya sewaktu kami bermain-main di surga ini.

Kinanti senang menggigit, seperti serigala, sehingga saya pikir ia bisa saja berbuat hal yang dapat menghilangkan nyawa saya jika dibiarkan begini.

Saya bilang, “Jangan gigit. Nanti aku mati!”

Selalu itu yang saya katakan. Syukurlah, Kinanti paham. Meski gila, ia bisa diajari.

Akhirnya, beginilah kisah ini berlangsung terus menerus selama ribuan tahun dan bukan hanya terkait saya dan Kinanti: bahwa para binatang berpesta pora di kepala para manusia. Semua manusia. Semua manusia yang hidup dan pernah hidup di permukaan bumi yang biru ini. Semua manusia, tak terkecuali.

Dan para manusia tidak tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan dan seberapa besar dosa telah mereka kumpulkan? Mereka tidak dapat membedakan perbuatan mana yang mereka lakukan oleh pengaruh binatang di kepala mereka dengan perbuatan mana yang benar-benar datang karena keinginan diri mereka sendiri. Kadang-kadang saya pun juga begitu, tapi saya tidak peduli. Surga ada di tangan saya dan kami bermain-main di sana setiap hari.***

Gempol, 2019

Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, puisi, esai, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (Unsa, 2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru- Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

Cerpen

Rahasia Kelam Lelaki Pencemburu

Cerpen Adam Yudhistira

Beberapa menit yang lalu, Hanz menumpahkan kopinya sedikit demi sedikit ke dalam pot geranien yang bergantungan di atap teras. Setelah isinya tandas, dia lantas duduk. Tatapan matanya menjurus tajam ke arah sulur-sulur bunga yang berwana merah cerah itu, menyiratkan sesuatu yang kejam dan penuh dendam.

“Bagaimana rasanya? Nikmat, bukan?” tanyanya entah kepada siapa. Sulur-sulur geranien berayun lembut. Hanz menyeringai dan tenggelam dalam lamunan.

Bertahun-tahun lalu, sebenarnya Hanz memiliki kehidupan normal. Dia bekerja di perusahaan periklanan dengan penghasilan yang cukup mapan. Namun semuanya berubah ketika dia jatuh cinta pada seorang perempuan bernama Quilla. Perempuan inilah yang mengubah kehidupannya.

“Aku ingin hidup bersamamu. Rasanya menyenangkan jika kita menetap di Green Mount.”

“Kenapa harus Green Mount?”

“Karena hanya di sana geranien tumbuh sepanjang tahun.”

Hanz yang sedang dimabuk cinta tak mampu menampik. Dia menguras semua tabungannya demi mewujudkan keinginan Quilla. Mereka menikah di Green Mount, kota kecil yang diimpikan Quilla. Namun selama tiga tahun berumah tangga, Hanz merasa perempuan itu tak pernah tulus mencintainya. Dia merasa dirinya cuma sebatang ranting yang dihinggapi seekor burung liar.

Anggapan itu terbukti benar. Suatu ketika, di restoran milik Nyonya Villardo, dia memergoki Quilla bersama seorang pria. Hanz tak akan dibakar api cemburu apabila mereka hanya berbincang atau sekadar saling sapa. Hanz cemburu, karena Quilla mencium pria itu dengan mesra.

Semula, Hanz tidak ingin mempersoalkannya. Pria pendiam itu mencoba memaklumi. Namun akhirnya dia menyadari jika pemakluman adalah bentuk dari cinta yang membabi buta. Cinta yang membabi buta itu pula yang menjadi bencana tak terpermanai dalam hidupnya.

Malam itu, Hanz menuju restoran Nyonya Villardo dan melihat semuanya telah berubah. Quilla ada di sana. Perempuan itu sedang bersandar di sebuah bangku, mengisap rokok dan berbincang dengan seorang pria. Dia menyugar rambutnya, tertawa kecil, dan menunjukkan seulas senyum mesra yang sama dengan senyum yang Hanz pikir selama ini hanya ditujukan kepadanya.

“Halo.” Hanz melambaikan tangan, sengaja menegaskan bahwa dia tak keberatan melihat Quilla berbicara dengan pria lain.

Perempuan itu menoleh dan ekspresinya tampak datar. Dia mengembuskan asap rokok tak acuh, lengannya membelit angkuh di bawah dada.

“Kau tak membaca pesanku?” Hanz menghampiri dan menyentuh bahu Quilla “Aku sudah berusaha menghubungimu sejak tiga jam yang lalu. Ponselmu mati. Ada yang harus kita bicarakan.”

“Kau keberatan jika aku turut mendengar?”

Hanz menoleh, melihat kerlip perak di daun telinga pria yang menegurnya. Dia adalah pria berkulit cokelat. Lengannya bertato. Rambut panjang dikuncir ekor kuda dan bahu bidang yang tampak besar oleh suntikan steroid. Terlepas dari ukuran tubuhnya, Hanz merasakan sesuatu yang lembek, seakan-akan pria itu hanya aktor yang memerankan tokoh jagoan.

“Aku tak bicara padamu,” kata Hanz menjaga intonasi suaranya setenang mungkin.

Pria itu mendengus. Quilla masih duduk sambil menjepit rokok di antara ibu jari dan telunjuk. Kedua lengannya erat berbelit, seakan menegaskan sikap keras yang sombong.

“Sejak kapan kau merokok?” Hanz menatap tajam mata biru yang dulu menjadi alasannya jatuh cinta. “Kau sering melakukannya?”

“Jangan membuatku malu.”

“Kenapa? Karena aku bicara denganmu?”

“Ini bukan waktu yang tepat.”

“Bisakah kita bicara di rumah saja? Ada beberapa hal yang harus kupahami tentang apa yang terjadi.”

“Thomas akan mengantarku,” ujar Quilla melirik pria di sampingnya. “Kau pulang saja. Satu atau dua jam lagi aku akan menyusul.”

“Hei, Bung, bisa tolong beri kami privasi?” Hanz melempar senyum bersahabat pada pria yang dimaksud Quilla. “Aku sedang bicara dengan istriku.”

Pria itu berdiri angkuh, menatap tajam seolah ada permusuhan lama di antara mereka. Quilla merentangkan tangan, menghalanginya untuk mendekati Hanz. Hanz sendiri merasa sudah sangat siap dengan segala kemungkinan.

“Kau kesal?” tanya Hanz. “Kau pasti berpikir aku sedang mengganggu kesenanganmu, bukan?”

Quilla merapatkan kaki dan menyesuaikan posturnya dengan sikap resmi—yang bagi Hanz terasa angkuh dan mengintimidasi. “Aku tak mengatakan apa-apa,” jawabnya sedikit bergetar.

“Apakah tak ada lagi harapan untuk memperbaiki semua ini?”

“Aku menyesal mengatakannya. Aku rasa semuanya sudah layak untuk diakhiri.”

Hanz mengepal tangan, merasa geram dan terhina. Quilla membuang rokok ke dalam gelas berisi soda, membuat suara desis yang dingin.

“Dengar…” Hanz menggapai bahu Quilla.

“Jangan sentuh aku!” Quilla mundur. “Pergi sajalah.”

Thomas menghampiri. Dia bersikap seolah penjaga pribadi Quilla. “Semua baik baik saja?” tanyanya pongah.

“Ya, Bung, kami baik-baik saja.” Hanz melambaikan tangan menghalau. “Mundur saja. Aku belum selesai.”

“Sepertinya sudah selesai.”

“Hei, Brengsek! Aku tak minta pendapatmu.”

“Kau membuatnya takut, Bung.”

“Dia tidak ketakutan. Quilla, bisakah kaujelaskan pada beruang yang tak punya otak ini?”

Quilla berpaling, memasang wajah beku yang tak peduli.

“Nah, jelas sekarang. Sebaiknya kaupergi.” Thomas menaruh tangannya di siku Hanz. “Biar kuantar kau keluar dari sini.”

“Jangan sentuh aku. Bedebah!”

“Tenang, Bung.”

“Oh, kau bersikeras rupanya?” Hanz mengibaskan tangan. “Hanya banci yang memanfaatkan situasi untuk meniduri perempuan bermasalah.”

“Siapa yang kausebut banci?” Pria itu mendorong tubuh Hanz.

Hanz mendengar bunyi alarm berdenging di kepalanya. Dijambaknya rambut pria itu, kemudian disentaknya sekeras mungkin untuk menghantamkan kening. Dilihatnya percikan darah melayang di udara. Ketika pandangannya jernih, dia merasa sakit kepala luar biasa. Thomas merosot di meja. Darah mengalir dari hidung dan matanya.

Hanz tak bisa lagi mundur. Dia merenggut ketel air panas di dekatnya dan mengacung-acungkannya ke wajah Thomas. Segera saja, semua orang histeris. Dua pengunjung keluar sementara yang lain menjauhkan pisau-pisau.

Rasa takut mereka membuat Hanz merasa hidup, memberinya perasaan kuat dan berkuasa. Dia seolah menegaskan bahwa sekali kaurenggut harga diri seorang pria, maka yang tersisa hanya masalah siapa yang mampu memukul lebih keras dan lebih baik.

“Apa yang kaulakukan?” teriak Nyonya Villardo histeris. Ketel sudah pasti mendarat di kepala Thomas andai saja perempuan tua itu terlambat masuk.

“Tidak apa-apa,” jawab Hanz santai. Dia meletakkan ketel kembali ke atas tungku.

Nyonya Villardo menatap Thomas yang memegangi hidung lalu beralih pada Hanz, “Kau sebaiknya pergi dari sini,” tukasnya geram. “Atau aku akan menelepon polisi.”

“Ya, aku akan pergi.”

Hanz menyentuh benjolan di kening dan menyadari masih ada sisa darah di permukaannya. Di sebuah panci rebus yang mendidih, Hanz melihat seekor kepiting berusaha keluar. Capit merahnya menjangkau tepi panci. Kepiting itu meregang, menggeliat, berjuang untuk usaha pelarian diri yang sia-sia. Namun, kepiting itu sudah terlalu lama berada di dalam panci. Dia tak punya kesempatan untuk hidup. Bagian dalam tubuhnya sudah masak. Dengan hati terbakar, Hanz menyaksikan capit itu terkulai dan memberinya sebuah ilham yang keji.

***

Sejak peristiwa di restoran itu, gundukan sabar di dada Hanz runtuh. Quilla tak pernah kembali ke rumah. Didorong rasa ingin tahu yang kuat dan kecurigaan yang berbulan-bulan, suatu malam dia membuntuti Quilla dan Thomas ketika keduanya melintasi setapak yang mengarah ke bungalow di tepi danau Devlin.

Seperti burung nazar yang lapar, Hanz menunggu. Dia mengintai dari balik jendela, menyaksikan keduanya bergumul liar di atas tempat tidur. Kenyataan itu semakin menyadarkannya, bahwa tak ada lagi yang bisa diselamatkan dari rumah tangganya.

Lelaki itu masuk lewat jendela nyaris tanpa suara. Memang awalnya ada sedikit perlawanan dari Thomas dan Quilla, namun Hanz membekal sebilah belati dan memahami titik mana saja pada tubuh Thomas dan Quilla yang mematikan. Tiga tusukan di ulu hati menyudahi semuanya.

Hanz mencium kening Quilla untuk terakhir kalinya sebelum membungkus jasad itu dengan seprai penuh darah. Dia menyeret tubuh mereka menuju kegelapan hutan pinus yang dipenuhi suara paruh pelatuk, teriakan parau gagak, dan derik jangkrik yang terdengar seperti derit engsel pintu karatan.

Setelah berjalan hampir dua jam, Hanz berhenti di antara kedua ceruk bekas dinding tanah yang runtuh, dan meletakkan tubuh-tubuh itu dan membakarnya. Saat langit berubah dari gelap lalu kemerahan, rasa sedihlah yang pertama kali mendominasi pikirannya.

Api telah padam, menyisakan gemulai asap putih tipis di atas tumpukan tubuh yang menjadi abu. Hanz mengumpulkan abu itu, menyatukannya dalam kantung plastik. Abu itu dia bawa ke rumah dan ditumbuk halus menyerupai bubuk kopi lalu disimpannya di dalam toples kaca.

Setiap pagi, abu itu diambilnya sejumput demi sejumput, lalu diaduknya bersama sesendok kopi bubuk yang asli. Kopi itulah yang dia tuang ke rumpun-rumpun geranien yang menggantung di bawah atap teras rumahnya. Bertahun-tahun begitu, tanpa ada satu orang pun yang tahu.***


Adam Yudhistira (1985). Saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain menggeluti aktivitas bersastra, ia juga mengelola Taman Baca untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Buku kumpulan cerpennya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

Cerpen

Pangeran Katak

Cerpen Gaza Manta

Jika perubahan itu bisa terjadi dalam jangka waktu yang cepat, bisakah cinta menjadi penyebabnya?

Mi terbangun dalam tidurnya dengan satu hal tergantung di benaknya. Apakah hidup telah berubah, seperti yang baru saja dia alami dalam mimpinya? Namun udara kenyataan menyergapnya untuk mengumpulkan sisa-sisa kesadaran yang tadinya melayang menembus awang-awang kamarnya. Karena sebelumnya dia terbang, berangan-angan dalam mimpi yang telah sekian lama mengendap dalam pikiran dan kehidupannya.

Dia bangkit. Lantai kamar yang dingin menguapkan hasratnya untuk menyambut pagi. Sisa-sisa mimpinya hanya terpantul di cermin. Masih ada seorang peri cantik memandangnya di balik kedalaman kaca.

Matanya beralih ke sebuah akuarium berisi separuh. Air dan tanah telah saling berbagi tempat di kotak kaca itu. Menjadi habitat yang agaknya cukup tepat untuk seekor katak yang kini telah ada di genggaman Mi.

Mi menaruh kembali katak itu dalam akuarium. Dia tersesat hampir dua jam di kamar itu, sebelum akhirnya menemukan jalan keluar. Rutinitas mandi dan bersolek menguncinya dalam mimpi yang tak ingin dia akui.

Semarang, pagi hari, adalah seorang raksasa yang menelan cinta dan mimpi yang cukup memabukkan pada malamnya. Mobil-mobil mengeluarkan sumpah serapah, senantiasa memaki yang ada di depannya. Asap knalpot mengembun di kaca-kaca rumah, di paru-paru, di gitar yang dipetik hanya untuk mengisi perut-perut yang pada akhirnya akan dipenuhi juga dengan embun-embun knalpot itu. Dan di kerongkongan raksasa itulah, Mi bergegas.

Di kantor, di tengah-tengah tumpukan kertas kerja yang menunggu diserahkan, hanya ada kesunyian. Orang-orang terbiasa bekerja dalam keheningan tanpa bicara. Seolah satu patah kata saja akan membuat semua urutan kerja yang telah tersusun secara kronologis akan hancur berantakan. Dan seorang karyawan tak mungkin begitu saja menyerahkan pecahan-pecahan itu kepada atasan.

Namun kesunyian di tempat kerja, bagi Mi, masih lebih baik daripada celotehan dan tawa yang biasanya juga terjadi. Dia tak bermaksud berburuk sangka, namun tawa orang-orang pekerja adalah suatu kemunafikan. Orang bisa saja tertawa lepas di tempat kerja dan bercanda dengan rekan-rekannya, namun itu tak lebih untuk menjaga sikap di depan atasan atau kemungkinan-kemungkinan buruk yang biasanya terjadi di kemudian hari.

Kemunafikan di tempat kerja, jauh lebih buruk daripada yang dialaminya saat dulu bersekolah di SMK. Saat itu dia seperti punya indera keenam yang bisa membedakan mana tawa yang tulus, mana yang dibuat-buat. Mana senyum yang akan sanggup membuka hatinya yang memang sulit terbuka, mana yang hanya memanfaatkannya. Dia begitu peka saat itu, hingga dia tak pernah khawatir dengan teman-temannya. Dia jadi ingat Tika, Windi, Dewi, Miftah Edo, Maruta, Sapto. Dia jadi ingat Wira. Lima yang terakhir adalah katak.

Mengapa sebelum dia bisa menyadarinya, semua telah berubah?

Saat makan siang, Mi melihat seorang temannya datang sambil menggandeng seorang lelaki yang luar biasa tampan. Mereka saling berpelukan sambil berjalan ke arahnya. Beberapa orang bersiul dan membuat bunga-bunga di udara. Namun bunga-bunga itu hanya jatuh di kaki mereka dan menghampar seolah jalan khusus bagi mereka.

Mereka duduk, tanpa dipersilakan.

“Halo, Mi! Masih sendiri?” teman perempuannya terkikik.

“Bisa kau lihat sendiri, kan?”

Yang laki-laki tersenyum. Tangannya seolah telah terlekat dengan lem pada pinggang perempuan itu. Lambung Mi tiba-tiba bergolak, makanan yang baru saja ditelannya seolah berontak.

“Perkenalkan! Ini pangeranku!”

Mi mendengus, sinis.

“Dia adalah katak yang aku ceritakan padamu, katak yang aku temukan di Stasiun Tawang. Aku menciumnya tadi padi. Dan…”

Mulut Mi pahit. Sedikit cairan lambung beserta makanan tadi telah naik. Dia ingin muntah. Tanpa permisi, dia lari ke toilet. Di sana dia memuntahkan segala makanannya, kesedihannya, air matanya, embun-embun yang menerpa wajahnya, dan kepenatannya. Pikirannya tertuju pada katak di akuarium miliknya.

Dia bergegas pulang. Kembali menyusuri udara panas Semarang yang menerpa seperti jarum-jarum jahit berkarat. Panasnya berkepanjangan dan bagi orang yang tidak kuat akan membuat jatuh pingsan.

Mi tahu, bahwa semua perempuan memiliki kataknya masing-masing. Katak-katak itu dibesarkan oleh cinta dan diberi makan dengan serangga-serangga pikiran. Harapan akan membuat mereka bertahan hidup lama yang pada akhirnya ketika waktunya tiba, katak-katak itu akan berubah menjadi pangeran-pangeran tampan yang menjadi dambaan setiap hati perempuan. Tak akan ada pangeran katak yang sama, karena hati setiap perempuan memang berbeda.

Di kamar, Mi mendapati kataknya telah keluar dari akuarium dan melompat-lompat di lantai. Lentingannya tinggi hingga menyentuh langit-langit. Dan setelah melompat ke sana-ke mari, katak itu akhirnya melompat ke ranjang dan diam di sana. Agaknya dia sedang menunggu Mi dan tahu bahwa perempuan itu sedang gelisah.

Mi mendekat dan duduk di ranjang. Jari-jari kurusnya mendekap katak itu di dadanya. Pikirannya menerawang menembus waktu kembali ke pagi hari. Pada mimpinya yang sebentar tadi masih terselip di bawah bantal dan selimut yang belum sempat dia rapikan. Mi hampir menangis, dia merasakan mulutnya sedang digarami.

Baru saja pagi tadi katak itu membawanya berjalan-jalan di punggungnya. Mereka melompat-lompat di tengah belantara Semarang. Katak itu pasti sudah tahu keinginan Mi. Karena tanpa disuruh, dia sudah memacetkan jalan tol dan membuat para pengendara kendaraan bermotor terbelalak. Mereka menuju Kota Lama.

Di Kota Lama, mereka selalu berhenti di gereja heksagonal itu—yang kubahnya setengah bola dan begitu megah. Mereka melihat Mi yang lebih kecil berlari-lari kecil dan masuk ke gereja. Atau di saat yang lain, mereka akan melihat Mi sedang berada di Taman Srigunting, membaca buku atau mengetik sesuatu di ponsel dengan lidah terjulur karena keasikan. Pemandangan itu akan berlangsung lama dan bersambung dengan Mi di depan Gedung Marba, atau Mi yang sedang makan gorengan di angkringan di depan gedung merah marun itu. Dan melihat semua itu, Mi di punggung katak akan menangis yang merupakan pertanda bahwa mimpi akan segera berakhir dan hari akan kembali berlanjut.

Bahwa setiap dia melihat katak itu, maka dia akan ingat gereja itu, Mi sudah tahu hal itu. Sungguh, dia tak pernah mengharapkan perwujudan gereja dan kotanya akan menjelma dalam bentuk seekor katak, bukannya ikan atau padi yang biasanya dia jadikan sarapan. Padahal lambang kotanya adalah ikan atau padi, bukannya katak. Dan Mi pun tak pernah tahu kalau ada katak yang menjadi lambang kota.

Katak itu sendiri tak disangkanya akan tumbuh besar juga. Awalnya dia tak terlalu bersemangat saat seorang temannya memberikan telur katak itu padanya. Sebuah telur sebesar debu yang ditaruh dalam gelas kaca yang dia dapatkan saat pesta perpisahan.

“Apa ini?”

“Telur katak.”

“Buat apa?”

“Untukmu, agar kau ingat padaku.”

“Kenapa aku harus ingat padamu?”

“Karena suatu hari, aku ingin menjadi katak itu.”

Dan seiring dengan waktu, telur katak itu menetas. Seekor kecebong lucu lahir sambil menggerakkan ekornya yang mirip kuas, memberi warna pada air. Sebenarnya saat menjadi kecebong itulah, saat dimana Mi merasa paling sayang dengan binatang itu. Namun binatang itu tetap bermetamorfosis, dan Mi hanya bisa menerimanya.

Mi menghela napas panjang. Semua begitu berat dan membingungkan. Dia ingin mengakhirinya sekarang dan merasa telah cukup siap untuk itu. Dia mengganti seragam kerjanya dengan celana pendek dan kaos singlet. Dia merasa tenang dengan pakaian itu.

Dielus-elusnya katak itu dan didekapnya berulang-ulang. Mi mendekatkannya ke bibirnya yang kini tanpa polesan, namun begitu basah. Dan saat detik-detik terakhir mulut katak itu menyentuh bibirnya, dia jadi ingat teman-temannya. Dia jadi ingat Tika, Windi, Dewi, Miftah Edo, Maruta, Sapto. Dia jadi ingat Wira. Lima yang terakhir adalah katak.

Ketika bibir mereka bersentuhan, Mi berubah menjadi katak, diikuti seluruh manusia yang juga berubah menjadi katak. Saat itu dia yakin, kalau cinta dapat membuat perubahan dalam sekejap mata.

Lombok Timur, 24 April 2016


Gaza Manta lahir di Lamongan; menyelesaikan studi di Semarang; kini tinggal di Lombok. Kumpulan cerpen terbarunya berjudul Pegasus Lilika (Rua Aksara; 2019).

Cerpen

Perempuan dengan Segelas Racun

Cerpen Aljas Sahni H

            Angin malam sedikit nakal menyelusup ke dalam kutangmu, menyerupai tentakel angin itu merabamu dalam dingin, seolah tahu akan kesepian yang menjalar dalam tubuhmu. Kamu menikmati perihal itu, tak ada niatan sedikit pun untuk menutup jendela, malah membiarkan angin menyetubuhimu dengan leluasa. 

            Untuk malam ini saja, katamu, aku ingin dibelai seperti perempuan pada umumnya. Air mata menitik dari kelopak matamu, mengalir membasahi pipi dan berakhir jatuh di atas lantai. Dadamu terasa sesak, merangsek inti dari segala nestapa. Kamu merindukan saat-saat itu, saat di mana senyum masih kerap tersungging di bibir suamimu.

            Suamimu kerap memuji rona merah pipimu, tapi sekarang pipimu adalah tempat pendaratan tangan suamimu. Akhir-akhir ini suamimu seringkali menamparmu, sehingga rona merah pipimu menjadi memar. Suamimu menyiksamu seperti binatang, seperti kusir melecitkan cambuk pada kudanya.

            Ke mana kata-kata indahmu dahulu? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membayang dalam tempurung kepalamu. Tentu nyalimu kurang berani apabila mengajukan pertanyaan itu terang-terangan pada suamimu. Kamu menerima begitu saja aniaya suamimu tanpa berkomentar apa pun. Kamu rela suamimu menjambak rambutmu, menyeretmu ke dalam kamar, lantas tamparan melayang di pipimu, dan berakhir pecut sabuk berulangkali.

            Tubuhmu remuk dengan garis-garis memar sebab ulah biadab suamimu. Tak hanya cambukan yang kamu terima, sering juga kamu gelagapan direndam di dalam air. Kamu disuruh memperagakan seekor anjing dalam keadaan telanjang, dan suamimu tertawa terbahak-bahak melihat penderitaanmu.

            Kamu merasa terhina di hadapan suamimu sendiri, menjadi tempat pelampiasan suamimu yang di kantor dibodoh-bodohi oleh bos dan teman-temannya. Tapi kamu tak berani melawan. Kamu juga tak lari dari rumah itu meninggalkan suamimu karena kamu merasa itu tak mungkin, bagaimana juga itu adalah rumahmu satu-satunya.

            Dulu, kamu lari dari orangtuamu demi menikah dengan lelaki bajingan itu, memiliki angan-angan indah hidup harmonis bersama suamimu, tapi sekarang harapan itu sirna. Kamu menyesal, dan tentu penyesalan akan selalu menjadi penyesalan.

            Ada alasan lain pula, mengapa kamu tak mau meninggalkan rumah itu. Kamu tak mau meninggalkan anakmu, dan kamu juga tak mau membagi penderitaan pada anakmu. Kamu rela menderita sendiri, asal anakmu tidak, dan takkan pernah kamu biarkan itu terjadi.

            “Hey Jalang! Di mana kamu?!” Lamunanmu buyar oleh teriakan yang berasal dari mulut suamimu. Kini dia sudah ada di ruang tamu.

            Kamu cepat-cepat menghapus sisa-sisa air matamu, keluar kamar dan menemui nafsu suamimu yang bajingan. Malam sudah larut, suamimu memang kerap datang larut malam, bahkan pagi, bahkan pula tak pulang berhari-hari. Suamimu lebih suka menyewa pelacur daripada tidur denganmu, bila pulang, pasti dalam keadaan mabuk.

            Seperti sekarang, bau alkohol menyeruak ke dalam lubang hidungmu. “Dari mana saja kamu, Jalang?! Kenapa lama sekali kamu datang?!” sentak suamimu. Tubuh suamimu agak linglung dan mata suamimu seperti tak mampu untuk terjaga.

            “Ma… maaf, tadi aku habis dari kamar mandi,” sahutmu tergagap. Kamu tahu, permintaan maafmu takkan pernah diampuni.

            Kamu meringis kesakitan, ketika suamimu menjambak rambutmu. Suamimu meradang pada kesalahanmu yang datang terlambat. “Hey Jalang! Dengarkan! Aku tak mau melihatmu seperti ini lagi! Sekarang bawakan aku air panas dan basuh kakiku! Satu lagi, buatkan aku teh hangat! Tak pakai lama! Mengerti?!”

            Kepalamu mengangguk-angguk meski agak susah. Suamimu melepaskan jambakannya dan kamu segera mungkin pergi ke belakang. Kamu memasak air namun dadamu yang mendidih. Kamu tak kuat lagi menanggung derita ini, kamu ingin mengakhiri semua ini. Kamu ingin mengakhiri penderitaan suamimu yang selalu dibodohi oleh bos dan teman-temannya. Dengan racun, kamu ingin mengirim suamimu ke neraka.

            Teh hangat yang akan kamu suguhkan pada suamimu telah dibumbui racun. Kamu berjalan dengan sedikit senyum gila ke arah suamimu. Kamu ulurkan cangkir itu di hadapan suamimu. “Minumlah, mumpung masih hangat,” ucapmu lembut.

            Suamimu menyimpan curiga atas kemanisanmu, tapi dia tak sepenuhnya memedulikan itu. Dia dengan senang hati meminum apa yang baru saja kamu suguhkan.

            Kamu melihat lekat-lekat raut suamimu saat meneguk racun itu. Racun itu bekerja cepat, tak butuh waktu lama, mulut suamimu telah berbusa. Mulut yang pernah memujimu, mulut yang pernah mencacimakimu, kini mulut itu tak lagi dapat mengeluarkan kata-kata, semua telah terselimut busa.

            Semestinya kamu senang racun membuat suamimu mati, tapi kamu malah cemas. Bukan karena suamimu, tapi karena anakmu. Anakmu melihat semua kejadian itu. Entah bagaimana anakmu bisa bangun, dan melihat kala kamu meracuni ayahnya hingga tewas. Kamu seketika menyadari kalau hidup selanjutnya akan tampak lebih sulit.

            Kamu menelepon ambulans, dan bilang, suamimu frustasi sebab kerap dibodoh-bodohi bos dan teman-temannya, sehingga ia mengakhiri hidup dengan meneguk racun. Semua orang percaya, dan anakmu tak pernah membocorkan rahasia di balik kematian suamimu. Anakmu memilih diam dengan mata penuh kebencian.

***

            Sejak kamu meracuni suamimu sendiri, anakmu tak lagi mau berbicara denganmu. Dia membencimu.  Hidupmu masih dibalut kesepian. Kamu merasa hidup sendirian di dunia ini, hanya kadang angin malam yang diam-diam menemanimu.

            Anakmu lebih suka tidur di rumah temannya daripada di rumah sendiri. Lama-lama, anakmu mulai mirip dengan suamimu. Ketika pulang, melihat wajahmu saja, dia seakan tak pernah sudi. Kamu selalu mencari kesempatan untuk mengawali pembicaraan, tapi anakmu tak pernah ingin berbicara apalagi mendengarkan celotehmu.

            Kebencian memang telah merasuki anakmu, kebencian juga mengambil alih tubuh anakmu. Kamu ingin mengakhiri semua ini, persis seperti kamu mengakhiri hidup suamimu. Tapi bagaimana bisa, tak ada ibu yang ingin anaknya menderita.

Ini bukan derita. Ini untuk melepas penderitaan itu sendiri, batinmu.

            Kamu tak kuasa melihat anakmu menanggung kebencian. Kamu ingin menyudahi penderitaanmu sendiri juga penderitaan anakmu.

Kala itu anakmu pulang, ia tampak tergesa membereskan pakaiannya ke dalam tas. Sepertinya anakmu ingin pergi, meninggalkanmu, dan takkan pernah ingin kembali.

            Dadamu sesak, ombak di dadamu semakin bergemuruh. Air matamu tak dapat lagi dibendung, lantas jatuh membasahi kedua pipimu. Kamu sudah tak sanggup hidup seperti sendiri, sekarang kamu akan benar-benar hidup sendiri tatkala anakmu lenyap di rumah ini. Sekarang bukan waktunya untuk menangis, tegasmu untuk dirimu sendiri.

            Kamu tak ingin melihat anakmu pergi, kamu harus membunuh kebencian di tubuh anakmu. Tentu, membunuh kebencian berarti membunuh pemilik kebencian itu sendiri. Kamu ingin mengirim anakmu ke surga, atau mengirim anakmu pada suamimu. Dengan segelas racun, harapan itu akan menjadi kenyataan.

            Tak ada ibu yang tega meracuni anak sendiri. Maka dari itu kamu membuat sebuah rencana, begini rencananya: setelah nanti racun itu bekerja dan membuat mulut anakmu berbusa—seperti dulu juga pernah terjadi pada suamimu—dan kamu juga akan meneguk racun itu, sehingga nanti kamu bersama suami dan anakmu bisa berbahagia di surga sana.

            Ketika sudah sampai di surga, kamu bisa mencari suamimu, meminta suamimu untuk menjelaskan pada anakmu, bahwa bukan kamu yang jahat. Ah, kamu sudah tak sabar mewujudkan impian mulia itu. Kamu sangat hati-hati membawa racun itu.

            “Minumlah susu ini, mumpung masih hangat,” suguhmu pada anakmu. Anakmu diam sejenak, memandangmu dengan mata nyalangnya. Kamu melempar senyum, kamu sudah yakin perihal ini yang terbaik. Kamu bersama suami dan anakmu bisa menjalin hidup baru di surga sana.

            Namun tak seperti harapanmu, anakmu malah menghempas segelas racun yang kamu suguhkan. Cangkir berisi racun itu terlepas dari tanganmu—jatuh—dan pecah berkeping-keping di lantai dan racun itu meruah membasahi serta mengotori lantai. Matamu dan mata anakmu saling bersitatap, setidaknya sampai anakmu mengeluarkan satu kalimat. “Aku takkan dibodohi oleh cara lama, dan aku takkan jatuh di jurang yang sama seperti bapak!”[]


Aljas Sahni H, lahir di Sumenep, Madura.Kini bergiat di Komunitas Sastra Kutub Yogyakarta. Anggota literasi IYAKA. Serta salah satu pendiri Sanggar Becak. 

Cerpen

Kunang-Kunang di Mata Julian

Cerpen Dody Wardy Manalu

Pemuda itu berdiri di bawah pohon kemboja di samping gereja. Ia menatap kupu-kupu yang hinggap di kelopak mawar. Julian, demikian namanya. Namun teman-temannya lebih sering memanggil namanya tanpa huruf N. Julia. Ia tak kuasa berontak saat mereka mengejek dirinya dengan nama itu.

“Aku ingin berbagi bekal denganmu.”

Solura menghampiri. Ia sudah lama mengintip dari balik jendela gereja. Julian tergeragap mendapati gadis pemurung itu berdiri di sebelahnya. Tangan Solura menenteng sebuah rantang.

“Aku tidak mau kalau menunya nasi goreng lagi.”

“Aku tahu kamu suka sekali roti bakar isi cokelat.”

Julian mengekor di belakang Solura. Mereka menuju batu besar tepat di depan gereja. Kelompok muda-mudi sedang latihan natal. Solura sering merasa lapar hingga terpaksa bawa bekal ke gereja. Latihan berlangsung hingga sore. Solura melepas tutup rantang. Aroma cokelat menguar di udara.

“Makan roti bakar membawaku ke masa tiga belas tahun silam. Ayahku selalu membelikannya setiap pulang dari pasar.”

Julian bercerita sembari melahap roti pemberian Solura. Persahabatan mereka sudah terjalin selama dua tahun lima bulan saat pertama kali masuk jadi anggota muda-mudi gereja. Siapa mau berteman dengan gadis pemurung dan pemuda bermata sendu? Tidak ada. Mereka dipertemukan oleh nasib serupa.

“Tampaknya kamu bahagia hari ini.”

“Dari mana kamu tahu.”

“Ribuan kunang-kunang di matamu memancarkan cahaya.”

Bibir Julian tersenyum. Gadis pemurung itu pintar sekali menggombal. Mana bisa kunang-kunang berdiam dalam bola mata.

“Apa ayahmu masih membelikan roti bakar hingga sekarang?”

Wajah Julian mendadak muram. Cahaya kunang-kunang di matanya meredup. Ayahnya berubah seiring bertambah usia Julian. Ia sering dipukul gara-gara kedapatan main boneka dengan anak perempuan tetangga.

“Salah bila laki-laki tidak suka main bola?”

Mereka saling tatap. Cahaya kunang-kunang di mata Julian benar-benar redup.

“Apa salah bila perempuan tidak suka lipstik?”

Solura balik bertanya. Julian menggeleng. Ketika masih kecil, ayahnya kerap memaksa dirinya menonton bola semalam suntuk.

“Lelaki itu harus suka nonton bola, bukan nonton kartun barbie. Duduk di samping ayah. Temani ayah nonton. Kamu tidur di luar bila mengantuk.”

Julian ketakutan. Setengah mati menahan mata untuk tidak tidur. Menonton acara TV tidak kita suka sama dengan memaksa diri menyantap makanan busuk. Julian dipaksa berteriak ketika terjadi gol, meski air mata tak henti berjatuhan.

*

Solura belajar memoles wajah, menyapukan lipstik pada bibir. Hasilnya tidak terlalu buruk. Wajahnya terlihat lebih cantik terpantul di cermin. Solura ingin berubah di mata Julian. Bukan lagi gadis pemurung ber’aroma bunga ilalang. Ia pecahkan celengan demi membeli sebotol parfum ber’aroma bunga lili. Solura malu mengakui perasaannya. Takut perasaan itu membuat kunang-kunang di mata Julian terbang dan tak kembali.

Solura menerima Julian apa adanya. Julian tidak tahu banyak hal. Ia tidak tahu main bola, memanjat kelapa, menjaring ikan dan meng’kapak kayu. Namun Julian punya kelebihan. Ia pintar membedakan bumbu masak. Ia bisa mengubah masakan sederhana menjadi bercita rasa tinggi. Julian juga pintar menggambar model pakaian. Bahkan selalu mendorong Solura untuk tampil modis.

Solura ingin memiliki Julian bukan sebagai sahabat. Ia mencintai Julian layak seorang gadis tergila-gila pada seorang pemuda. Solura sering bermimpi hadiri pesta dengan digandeng oleh Julian. Ingin tunjukkan pada orang-orang bila mereka bukan pasangan aneh.

Sebuah sms masuk di kotak pesan membuat khayalan Solura terhenti: Apa yang kamu lakukan? Kamu cantik. Tapi lipstikmu terlalu tebal. Gegas Solura berlari ke jendela. Julian tengah berdiri di halaman menatap lurus ke arah kamarnya.

“Bisa menemaniku malam ini?”

“Ke mana.”

“Menonton organ tunggal di kampung sebelah.”

“Aku segera keluar.”

“Jangan keluar sebelum lipstik tebalmu itu kamu hapus.”

Solura berlari sembari menghapus lipstik di bibir. Bersama Julian, ia bisa menikmati dunia. Ia bisa berubah menjadi gadis cerewet. Ribuan kunang-kunang di bola mata Julian seperti kerlip lampu pohon natal di bulan Desember.

*

Sehabis latihan, puluhan pemuda berlarian menuju lapangan bola. Di jalan setapak di bawah pohon pinus, Solura melihat kejadian itu. Hatinya beku bagai sebongkah salju melihat kunang-kunang di mata Julian enggan bercahaya.

“Jangan bergabung dengan kami.”

Salah satu dari mereka mendorong Julian hingga tersungkur.

“Hanya ingin melihat kalian main bola. Apa tidak boleh?”

“Kami enggan berteman dengan orang tak jelas jenis kelaminnya.”

Ribuan kunang-kunang di mata Julian tenggelam dalam pusaran air bah. Matanya berkaca-kaca. Solura menerobos kerumunan dan membawa pergi Julian. Mereka melewati koridor gereja, melintasi rumah Pendeta dan belok kiri menuju bangunan tua berada di puncak bukit.

“Apa benar aku tidak berguna?”

Julian mematung di tengah ruangan. Solura tak kuasa menatap ribuan kunang-kunang di mata Julian berdengung mirip tangisan.

“Setidaknya kamu berguna untukku.”

Julian dongakkan wajah, menatap Solura berdiri di hadapannya. Rambut Solura digerai. Ia memakai baju tipis. Bibirnya merah jambu. Polesan make up minimalis membuat Solura bagai bidadari. Ia cantik sekali. Solura meloloskan pakaian hingga jatuh ke lantai. Cahaya senja menerobos masuk dari ventilasi menyinari seluruh tubuh Solura. Julian terkesiap.

“Aku mencintaimu sejak dulu. Seperti cinta dimiliki Juliet pada Romeo dalam kisah roman itu. Bukan cinta seorang kakak pada adiknya.”

Solura meraih tangan Julian, lalu meletakkan tangan itu di atas dada membusung. Berharap pemuda itu mengelus dan mengecupnya. Ke mana hasrat itu? Tak ada niat untuk menikmati. Julian memaki diri. Buru-buru menarik tangan, lalu memungut pakaian tergeletak di lantai.

“Pakai kembali bajumu. Aku tidak bisa.” ujar Julian sembari berjalan menuju sudut ruang.

“Apa kekuranganku.”

Solura rela merendahkan diri demi cinta. Julian tetap menolak.

“Justru kekurangan itu ada di sini. Di hatiku.”

Julian menunjuk dada. Tangisnya pecah. Rasa itu tak pernah ada.

“Hatiku tidak tergerak.”

Julian memukul-mukul dada sekuat tenaga.

“Apa aku tak pernah ada di hatimu?”

“Kamu selalu ada di hatiku. Namun sebagai sahabat. Selamanya jadi sahabat.”

Ribuan balok menghantam dada Solura. Tak ada lagi kesempatan untuk dapatkan Julian. Ruang itu telah tertutup. Selamanya jadi sahabat.

“Kamu bilang, di mataku bersarang ribuan kunang-kunang. Bila kamu sedih, kunang-kunang itu akan menangis. Mereka tidak akan mengeluarkan cahaya lagi.” ujar Julian sembari menarik tangan Solura keluar. Ia tahu ke mana membawa Solura pergi. Padang ilalang!

*

Sudah tiga hari Julian tidak hadir latihan. Tidak biasanya pemuda itu absen. Pulang dari gereja, Solura gegas ke rumah Julian.

“Mau ditaro di mana muka ayahmu ini.”

Suara dari dalam rumah urungkan langkah Solura. Ayah Julian marah-marah. Solura berlari ke samping rumah mengintip dari celah jendela. Julian diikat pada sebuah tiang. Wajahnya lebam-lebam. Ada kemarahan di bola mata Julian. Ribuan kunang-kunang itu mengeluarkan cahaya api.

“Lebih baik kamu kedapatan membuntingi anak gadis orang dari pada kedapatan berciuman dengan laki-laki.” bentaknya ayahnya. Sekujur tubuh Julian lebam membiru. Solura masuk dari jendela setelah ayah Julian keluar.

“Maaf tidak bisa menolongmu.”

Solura menangis menatap wajah Julian yang hancur. Matanya bengkak.

“Aku malu dilihat olehmu dalam keadaan seperti ini. Aku ingin mati saja.”

Cahaya ribuan kunang-kunang di mata Julian meredup.

“Aku bawa makanan kesukaanmu.” ujar Solura sembari membuka plastik. Roti bakar isi cokelat. Solura mengambil satu iris, lalu menyuapkan ke mulut Julian.

“Kelak, bila kamu punya anak laki-laki, latih ia main bola. Cukup aku mengalami nasib buruk ini.”

Kembali Solura menyuapkan roti ke mulut Julian. Segerombol kunang-kunang keluar dari matanya. Seluruh ruangan dipenuhi ribuan kunang-kunang. Perlahan, kelopak mata Julian tertutup. Tertutup selamanya!***


Dody Wardy Manalu. Lahir di kota Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Menghabiskan masa remaja di kota Sibolga menjadi salah satu siswa di SMA Katolik di kota itu. Awal tahun 2015 mulai serius menulis. Beberapa karya fiksinya pernah dimuat di beberapa media.

Cerpen

Sebuah Ranting di Rambutmu

Cerpen Fina Lanahdiana

Pohon waru itu berhantu. Orang-orang memercayainya dengan alasan yang mungkin telah dirancang sedemikian masuk akal di kepala mereka, alasan yang tidak berlaku untuk kau.

“Dengar, Nelia. Pohon itu memang tampak tua karena usia, sehingga batang itu harus tampak keropos dan rapuh. Di luar itu hanyalah prasangka yang tidak pantas dipelihara oleh pikiran siapa pun. Bukan sebuah horor yang selama ini mereka, para orang lama perdengarkan.”

Kau sebut para orang tua di kampung kita sebagai orang lama, hanya sebab kau merasa lahir di zaman yang serba modern dengan aneka perangkat berbasis mesin. Mungkin kelak manusia tidak lagi dibutuhkan, dan segala pekerjaan beres dilakukan para robot buatan manusia. Lalu, bukankah pengangguran akan kian bertumbuh dan bertambah? Segala yang usang mestilah dimusnahkan, itu katamu. Termasuk cara pikir kuno memercayai segala yang tak tampak oleh mata.

Kau usapkan warna merah buah murbei ke bibirmu. Perih. Sariawan. Tapi kau tetap tak peduli meskipun jelas kau tengah meringis menahan nyeri.

Pohon waru itu tua dan tegak di sisi Kalibodri, sungai yang memisahkan dua kecamatan berbeda: Cepiring dan Patebon.

“Begitu mudah perbedaan lahir dari perpecahan,”

“Apa tidak terbalik?”

Matamu mengerjap tiga kali, memandang dengan takjub. Tertarik. Mungkin. Atau entah.

Desa Pidodo yang berkecamatan Patebon berada di satu lintasan dengan seluruh desa milik Kecamatan Cepiring. Mengapa? Katamu suatu ketika. Ibumu, sebagai orang lama merasa senang sebab kau begitu ingin tahu. Sejarah kecil yang tidak tertulis di buku mana pun. Hanya cerita dari mulut ke mulut yang sebenarnya susah dipercaya–meskipun tentu saja, masuk akal.

“Di masa lampau, Kalibodri hanyalah sungai lurus yang menuju muara. Akan tetapi, sebab peristiwa banjir besar yang menyebabkan tanggul bedah menumpahkan seluruh isi perut sungai sehingga harus menyebabkan sungai itu melebar dan berbelok ke kiri. Sementara Desa Pidodo yang semula berada di ruas kanan Kalibodri pun menyesuaikan diri, meluas sehingga bergabung dengan ruas kiri Kalibodri. Dan di antara belokan tanggul itu, bukankah kau sudah tahu perihal tanggul malang?”

Dahimu membentuk sungai-sungai kecil kering, sulit mencerna penjelasan ibumu. Bagaimana mungkin? Tapi pada akhirnya kau cepat lupa sebab bagimu cerita itu tak lebih sekadar dongeng.

Tanggul malang itu serupa bayi sungsang. Oleh sebab itu, setiap satu tahun sekali di bulan suro, dilakukan pesta rakyat dengan serangkaian acara: pasar malam, pertunjukan wayang, nyadran ke tengah laut, pertunjukan singo barong, dan ditutup kembali oleh pertunjukan wayang.

“Luka sekecil apa pun, kenapa tetap terasa sebagai luka jika dicampur dengan rasa asam dan asin?”

“Mungkin juga rasa-rasa yang lain,”

Kita duduk di bawah pohon waru. Rambutmu serupa ombak pendek yang meriap-riap menjilat pantai daratan. Mulutmu masih mengulum murbei yang semestinya belum terlalu matang itu. Menghadap sungai. Perahu-perahu berjajar, salah satunya milik ayahmu. Dan kau senang berada di atasnya. Kadang-kadang ikut berlayar hingga beberapa hari tanpa pulang. Tanpa mandi, mengusung bau ikan yang demikian menyengat di sekujur tubuhmu, dan kau merasa sebagai laki-laki yang tangguh serupa ayahmu.

“Kenapa kau suka sekali mengulum murbei?”

“Aku suka warnanya. Akan membuat bibirku merah. Kau ingin coba?”

Aku menggeleng. Tidak, dengan bisikan hampir tak terdengar olehmu.

“Mengapa? Kau perempuan,”

“Lalu kenapa jika aku perempuan?”

“Berdandanlah sedikit. Seperti ibumu. Bibirmu mesti merah segar. Kau bisa mengusapnya dengan murbei. Tidak harus beli, kan? Pipimu mesti putih dengan sapuan bedak. Dan rambutmu itu lebih menyerupai sarang burung di atas dahan. Sisirlah dengan olesan orang-aring hingga licin, dan lalat saja akan jatuh terpeleset.”

Kau tergelak sambil menepuk-nepuk lengan atasku. Sakit. Kataku. Kubilang kau pada ibuku.

“Dasar tukang ngadu.”

Tentu saja aku tak sungguh-sungguh mengatakannya. Hanya ancaman yang tak berarti apa-apa.

***

“Mau ke mana?”

“Naik,”

“Nanti jatuh,”

“Tidak akan.”

Kau memang tidak pernah jatuh hanya sebab memanjat. Kau terlalu lihai untuk sekadar terpeleset. Jatuh.

Kau petik sebuah ranting pohon waru yang masih cukup muda dan segera turun. Melompat. Dan aku kaget bukan main.

“Aku menemukan sesuatu untukmu,”

“Apa?”

“Kemarilah, Nelia. Mendekat. Lebih dekat lagi.”

Aku mendengar deru napasku sendiri. Detak jantungku yang seolah drum kaleng roti bergambar keluarga yang berulang kali dipukul ritmis. Tentang kaleng roti itu, aku pernah hampir tidak menginginkan segala jenis roti saat berkunjung sebagai tamu hanya sebab kaleng merah bergambar keluarga itu tidak kutemukan di atas meja si pemilik rumah. Tentu saja, saat itu usiaku masih lima dan belum pandai untuk mengungkapkan sesuatu dan hanya bisa merajuk dan menangis tanpa orang tuaku benar-benar tahu apa yang kuinginkan.

Mula-mula kau ambil pisau kecil di dalam saku, menyayat bagian tengah ranting. Memanjang namun belum sampai putus. Tangan kirimu cekatan mengambil helai-helai rambutku, mengumpulkannya, lantas dengan tangan kananmu memasukkannya ke dalam lubang ranting yang telah kau siapkan. Memutarnya, dan mengunci rambutku. Entah bagaimana caranya, rambutku yang katamu serupa sarang burung itu, telah rapi dengan puncak membentuk sebuah gelungan.

“Kau lebih tampak sebagai perempuan sekarang. Jangan potong rambutmu dan aku ingin melihatnya memanjang hingga pinggang. Dan jangan biarkan kepalamu dipenuhi sarang burung sialan yang kelak mengotori wajahmu dengan warna kusam.”

Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Sejak itu, aku lebih sering mandi dan menata tubuhku. Menggosok dengan batu hingga daki warna abu-abu menggumpal, bau wangi sabun yang busanya kupaksa ada hingga bergelembung-gelembung, sesekali mencuri bedak milik ibu, dan memanjangkan rambut segaris pinggang.

“Jika kau mandi, gosokkan sabun hingga kulitmu benar-benar kesat sehingga air yang kau guyurkan membentuk embun-embun kecil. Artinya kuman tidak akan lagi bisa menyerangmu dengan cara apa pun.”

Tentu saja itu hanyalah omong kosong, yang meskipun secanggih apa mesin, tidak akan pernah menghasilkan kebenaran. Kau melotot mendengar itu dari Zed, teman kita yang pengecut sebab selalu lari dan menangis untuk pulang ketika kalah dalam bermain apa pun.

Ibu begitu heran melihat perubahanku. Kau tahu benar, gara-gara kulitku yang berwarna gelap, ibuku pernah memaksaku untuk bersekolah dengan fasilitas asrama. Agar tak cuma main saja kerjaanmu, kata ibu. Entah di mana hubungannya, aku tidak tahu ketika itu. Itu alasan yang lebih masuk akal dibandingkan dengan: tinggal di asrama bisa membuat kulit penghuninya lebih cemerlang karena sering dilarang keluar meski di waktu-waktu luang. Meskipun banyak juga yang demikian.

***

Waktu cepat melahap setiap yang berada di bawahnya. Kini usiaku dua puluh dua dan tiba-tiba mengingatmu.

Lewat sebuah mimpi, kau datang. Tersenyum. Aku geli. Kau, entah tampak lebih bahagia daripada sebelum, sebelum, dan sebelumnya lagi yang sangat banyak di belakang. Bibirmu merah seperti yang kau harapkan.

“Aku tidak suka dituduh sebagai perokok hanya karena bibirku yang cokelat gelap kehitaman. Aku tidak pernah sekali pun merokok. Sebelumnya. Tapi sekarang aku merokok. Hanya untuk menuruti sifat keras kepala ayahku agar tampak sebagai kebenaran.”

“Kenapa kau melakukannya?”

“Karena ayahku yang menginginkannya.”

Kau baik-baik saja, dan bahagia setelah aku menanyakan kabar. Bagaimana kau, Nelia.

“Bagaimana menurutmu? Tidakkah aku sungguh seorang perempuan sekarang?”

“Ya. Kau cantik sekarang. Dan tidak lagi menyimpan sarang burung di atas kepalamu. Atau kutu.”

“Enak saja, aku tidak pernah sekali pun memelihara kutu.”

Kau terbahak-bahak. Mengusap rambutku, yang kini terjuntai lurus segaris pinggang serupa lintasan air terjun. Seperti keinginanmu.

Kau tentu tidak mendengarnya sebab aku hanya berkata pada diriku sendiri. Seolah gema yang memantul-mantul di sebuah ruang tanpa lubang udara.

Aku cinta kau.

Pagi menerobos kedua mataku dengan begitu sembrono. Panas. Bukan hangat. Jendela telah menampilkan warna terang. Hijau daun-daun, cokelat atap rumah tetangga, biru langit, putih awan, bening embun, bau basah. Petrikor. Bau kau.

“Apakah semalam hujan, Bu?”

“Sangat deras. Tidakkah kau mendengarnya?”

Aku hanya menggeleng. Berjalan ke meja. Mengambil gelas tengkurap, mengisinya dengan bubuk cokelat dan air panas. Tanpa cuci muka.

“Tidakkah aneh jika pagi ini matahari datang terlalu dini?”

“Kupikir kau sedang sakit demam. Jadi aku memilih tidak membangunkanmu.”

Aku diam sejenak dengan lubang mulut mengerucut bibir rapat, menahan cokelat panas yang telah menciptakan gembung di kedua pipi.

“Memangnya ini jam berapa?”

“Sembilan lebih dua puluh satu.”

Aku terkejut.  Terpaksa libur kerja dan memutuskan memungut buku di rak secara acak. Mengenakan kacamata bundar, dan membaca.  Mungkin sedikit terlambat karena buku itu telah lama kumiliki dan tidak langsung kubaca karena merasa tidak becus meluangkan waktu. Sebuah novel pemberian temanku. Berwarna biru dengan gambar seekor monyet terbalik. Lumayan tebal. Tapi cukup menarik perhatianku karena sering diperbincangkan oleh teman-temanku. Sebuah cita-cita dan cinta seekor monyet yang ingin menjadi dan mencintai seorang manusia.

Aku cinta kau. Bagaimanapun, mimpi telah dibangunkan mata yang terbuka, tapi bagaimana kalimat itu tetap melompat-lompat di dalam kepala?

Dadaku berdebar mengingatmu. Kau dengan sebuah ranting tanaman rambat di rambutmu: sebuah lingkaran seperti mahkota. Tubuhmu yang tak lagi bergerak, menghilang beberapa hari dan ditemukan dalam kondisi hampir membusuk dengan sekujur tubuh berwarna hijau kebiruan, Di arus Kalibodri. Bercampur warna pucat tanpa mengenal matahari. Mungkin vampir telah menghisap darahmu. Aku ngeri. Nyeri. Mungkin kau benar, Bama. Pohon waru itu tidak berhantu. Tapi aku.***


Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di Kendal.